0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan22 halaman

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Dokumen ini membahas tentang diabetes mellitus, termasuk konsep dasar, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, penatalaksanaan, komplikasi, dan pemeriksaan penunjang. Diabetes mellitus adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan dapat mengakibatkan kerusakan organ jangka panjang. Penanganan diabetes melibatkan edukasi, terapi nutrisi, latihan fisik, dan terapi farmakologis untuk mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

oki atosanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan22 halaman

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Dokumen ini membahas tentang diabetes mellitus, termasuk konsep dasar, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, penatalaksanaan, komplikasi, dan pemeriksaan penunjang. Diabetes mellitus adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan dapat mengakibatkan kerusakan organ jangka panjang. Penanganan diabetes melibatkan edukasi, terapi nutrisi, latihan fisik, dan terapi farmakologis untuk mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

oki atosanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS

A. Konsep Dasar Penyakit


Diabetes mellitus (DM) yaitu suatu gangguan metebolik dengan karakteristik
hiperglokemia (ADA,2017). Diabetes militus merupakan sekumpulan gangguan metabolik
yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat kerusakan sekresi insulin,
kerja insulin atau keduanya. (Smelzer,2015)
Diabetes mellitus yaitu suatu penyakit yang ditandai dengan adanyahiperglikemia
yang terjadi karena pancreas tidak mampu mensekresi insulin, gangguan kerja insulin,
ataupun keduanya. Diabetes mellitus dapat menyebabkan terjadinya kerusakan jangka
panjang dan kegagalan pada organ seperti mata, ginjal, syaraf, jantung, serta pembuluh
darah apabila dalam keadaan hiperglikemia kronis (American Diabetes Assosiation, 2020).

B. Klasifikasi Diabetes Mellitus


Klasifikasi Diabetes Melitus menurut Tandra(2020:18) adalah sebagai berikut:
1. Diabetes Melitus type 1
Diabetes tipe 1 disebabkan karena pankreas tidak dapat atau kurang mampu
membuat insulin yang mengakibatkan insulin dalam tubuh mengalami kekurangan atau
tidak ada sama sekali insulin. Kemudian gula akan menumpuk dalam peredaran darah
dikarenakan tidak dapat diangkut ke dalam sel. Diabetes tipe ini biasanya timbul pada
anak atau remaja serta memerlukan suntik insulin.
2. Diabetes Mellitus type II
Pada type II ini pankreas masih bisa membuat insulintetapi karena kualitas
insulinnya buruk dan tidak dapat berfungsi dengan baik yang menyebabkan gula darah
meningkat. Diabetes tipe ini biasanya tidak perlu diberi suntikkan insulin tetapi perlu
obat yang bekerja untuk memperbaiki fungsi insulin dalam menurunkan gula darah.
Insulin tidak peka atau biasa disebut resitensi insulin, dimana kualitas insulinnya buruk
dan pada akhirnya gula tertimbun dalam peredaran darah. Keadaan ini umumnya terjadi
pada orang yang gemuk atau obesitas dan berusia diatas 40 tahun.
3. Diabetes Mellitus Gestational
Diabetes Mellitus Gestational atau Diabetes pada masa kehamilan diakibatkan
karena pembentukan beberapa hormon pada wanita hamil yang menyebabkan resitensi
insulin. Diabetes ini biasanya baru diketahui setelah kehamilan bulan ke empat ke atas,
kebanyakan pada trimester ketiga (tiga bulan terakhir kehamilan). Setelah persalinan,
pada umumnya gula darah akan kembali normal.
4. Diabetes Mellitus Tipe Lain
Diabetes ini terjadi karena sekunder atau akibat dari penyakit lain yang
mengganggu produksi insulin atau mempengaruhi kerjanya insulin. Contohnya pada
pasien dengan pankreatitis, pasien dengan infeksi berat akhirnya memicu kenaikkan
gula darah dan menjadi penderita diabetes.

B. Etiologi
Menurut American Diabetes Association(2021),etiologi atau penyebab diabetes
mellitus adalah sebagai berikut:
1. Diabetes mellitus tipe I
Diabetes tipe 1 atau IDDM (Insulin Dependent Diabetes Millitus) sangat
tergantung pada insulin. Disebabkan oleh kerusakan sel beta pankreas sehingga tubuh
tidak dapat memproduksi insulin alami untuk mengontrol kadar glukosa darah,
penyebabnya bukan karena factor keturunan melainkan karena factor autoimun.
2. Diabetes mellitus tipe II
Diabetes tipe 2 atau NIDDM (Non-Insulin Dependent Diabetes Millitus) tidak
tergantung insulin. Disebabkan oleh gangguan metabolisme dan penurunan fungsi
hormon insulin dalam mengontrol kadar glukosa darah dan hal ini bisa terjadi karena
faktor genetik dan juga dipicu oleh pola hidup yang tidak sehat. Selain itu tedapat pula
faktor risiko tertentu yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe 2.
Faktor-faktor ini adalah:
1) Usia : Resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun.
2) Obesitas: Orang yang mengalami obesitas, tubuhnya memilikikadarlemak yang
tinggi atau berlebihan sehingga jumlah cadangan energy dalam tubuhnya banyak
begitupun dengan yang tersimpan dalam hati dalam bentuk glikogen.
3. Diabetes mellitus gestasional
Diabetes gestational terjadi karena kelainan yang dipicu oleh Kehamilan,
diperkirakan karena terjadinya perubahan pada metabolisme glukosa (hiperglikemia
akibat sekresi hormone-hormon plasenta). Teori yang lain mengatakan bahwa diabetes
tipe ini disebut sebagai “unmasked” atau baru ditemukan saat hamil dan patut dicurigai
pada wanita yang memiliki ciri gemuk, riwayat keluargadiabetes,riwayat
melahirkanbayi > 4 kg, riwayat bayi lahir mati, dan riwayat abortus berulang.
4. Diabetes tipe lain
Diabetes yang terjadi sekunder atau akibat penyakit lain, yang mengganggu
produksi insulin atau mempengaruhi kerja insulin, seperti radang pankreas
(pankreatitis), gangguan kelenjar adrenal atau hipofisis, penggunaan hormon
kortikosteroid, pemakaian obat-obatan antihipertensi atau antikolesterol, malnutrisi atau
infeksi, pasien stroke, pasien infeksi berat, penderita yang dirawat dengan berbagai
keadaan kritis, akhirnya memicu kenaikan gula darah dan menjadi penderita diabetes.

C. Manifestasi Klinis
Berikut tanda dan gejala diabetes mellitus yang sering muncul adalah sebagai berikut:
a. Penurunan berat badan
Penurunan berat badan terjadi ketika sel-sel dalam tubuh tidak mendapatkan
glukosa dan energi yang diperoleh dari makanan sehingga tubuh akan memecah lemak
untuk memenuhi kebutuhanenergi (Pamungkas, 2021).
b. Poliuri (peningkatan pengeluaran urin)
Poliuri terjadi apabila peningkatan glukosa melebihi nilai ambang ginjal untuk
reabsorpsi glukosa, maka akan terjadi [Link] ini menyebabkan diuresisosmotik
yang secara klinis bermanifestasi sebagai poliuri (Rahmasari, 2019).
c. Polidipsi (peningkatan rasa haus)
Polidipsi terjadi karena tingginya kadar gula darahyang menyebabkan dehidrasi
berat pada sel di seluruh tubuh. Hal ini terjadi Karena glukosa tidak dapat dengan
mudah berdifusi melewati pori-porimembran sel (Rahmasari, 2019).
d. PoIifagi (peningkatan rasa lapar)
Polifagi terjadi karena penurunan aktivitas kenyang di hipotalamus. Glukosa
sebagai hasil metabolisme karbohidrat tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga
menyebabkan terjadinya kelaparan sel (Rahmasari, 2019).

D. Patofisiologi
Pada diabetes mellitus tipe II masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu
jumlah insulim kurang (defisiensi insulin) dan jumlah reseptor insulin dipermukaan sel
berkurang, sehingga terjadinya resistensi insulin karena glukosa yang masuk ke dalam sel
berkurang. Dalam keadaan normal, kurang lebih 50% glukosa yang dimakan mengalami
metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air, 10% menjadi glikogen dan 20% samapi 40%
diubah menjadi lemak, tetapi proses tersebut terganggu karena defisiensi insulin.
Penyerapan glukosa kedalam sel macet dan metabolismenya terganggu, sehingga terjadi
kerusakan pada sel beta dan menyebabkan ketidakseimbangan produksi insulin. Kelainan
ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi darah dantidak dapat
dibawa masuk ke dalam sel sehingga terjadi hiperglikemia dan mengakibatkan terjadinya
ketidakstabilan kadar glukosa darah. (Anggit, 2017)
Saat terjadi hiperglikemia, ginjal tidak dapat menahannya karena ambang batas
reabsorpsi ginjal untuk gula darah adalah180 mg/dL, bila melibihi ambangbatas tersebut,
maka ginjal tidak bias menyaring dan mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah.
Sehingga kelebihan glukosa dalam tubuh dikeluarkan bersama dengan urin yang disebut
dengan glukosauria. (Anggit, 2017).
Glukosa menyebabkan terjadinya diuresis osmotic yang ditandai dengan pengeluaran
urin yang berlebihan (Poliuria). Poliuria pada pasien mengabkibatkan terjadinya dehidrasi
intraseluler. Hal ini merangsang pusat haus sehingga pasien merasakan haus secara terus
menerus sehingga pasienakan banyak minum (Polidipsi). Glukosa yang hilang melalui urin
dan resistensi insulin menyebabkan kurangnya glukosa yang akan diubah menjadi energy.
Cara seluntuk mempertahankan fungsinya maka sel akan mengkompensasi hal tersebut
dengan caramemecah lemak (lipolisis) dalam tubuh menjadi glukosa dan energi, selain
memecah lemak untuk kompensasinya sel juga akan memecah protein yang tersimpan
dalam tubuh sehingga mengakibatkan penurunan penyimpanan protein dalam tubuh.
Karena digunakan untukmelakukan pembakaran dalam tubuh, maka pasien akan merasa
lapar secara terus-menerus sehingga menyebabkan banyak makan yang disebut (Polifagia).
Pada Diabetes Melitus tipe II pasien mengalamipenurunan berat badan, cepat merasa
lemas, dan lelah, hal ini karena tubuh kehabisan glikogen yang telah dilebur menjadi
glukosamakatubuhakanberusahamendapatkanpeleburanzatdari bagian tubuh lain yaitu
protein dimana akanterjadi katabolisme protein meningkat yang menyebabkan pasien
diabetes mellitus sering mengalami kelelahan dan kelemahan otot dan mengakibatkan
terjadinya intoleransi aktivitas. Tetapi tubuh akan merasa terus kekurangan bahan untuk
metabolisme sehingga tubuh akan memecah cadangan makanan yang ada termasuk jaringan
otot dan lemak sehingga akan terjadi penurunan berat badan dan mengakibatkan terjadinya
defisit nutrisi.
Pada seseorang yang mengidap diabetes mellitus, gula darah yang meningkat dalam
jangka waktu lama akan menyebabkan kelainan pada sistem saraf atau neuropati diabetik
dan kelainan pembuluh darah (angiopati). Kelainan pembuluh darah terjadi karena
tingginya kandungan gula dalam darah pada penderita DM.
Phatway

Bagan 2.1

PhatwayDiabetesMilitus

Faktor
Sel B Ketidak
resikodan
seimbangan
faktor
Terganggu produksi insulin
Glukosa
tidak dapat Ketidak setabilan
masuk glukosa darah
kedalam sel hiperglikemia

Resistensi Glukosoria
insulin
Kelainan
Melebihibatas pembuluh
Kelainan reabsorpsi darah
Insulin tdk efektif untukmenstimul us glukosa
kalori ginjal

Protein dan Viskositas


Sel darah
kekurangan lemakdibakar
meningkat
Poliuri bahan untuk
dimalamhari metabolisme
Kelemahan
Sering terbangun mlm hari Alirandarah
Merangsang melambat
hipotalamus
Intoleransi
aktivitas
Iskemia
Kualitastidur Polidipsidan jaringan
mrnurun polipagi Penggunaanalat bantu

Perfusi
Gangguan Penurunanberat perifer
pola tidur badan tidak
Resiko jatuh
efektif
E. Penatalaksanaan
Menurut Perkeni (2021), pengelolaan penyakit Diabetes Melitus dikenal dengan
empat pilar yaitu edukasi, terapi nutrisi medis, latihan jasmani dan terapi farmakologis.
Keempat pilar pengelolaan tersebut dapat diterapkan pada semuajenis Diabetes Melitus
termasuk Diabetes Melitus tipe 2.
a. Edukasi
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan sebagai
bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting dari
pengelolaan DM secara holistik.
b. Terapi Nutrisi Medis(TNM)
Terapi nutrisi medis (TNM) merupakan bagian penting dari pelaksanaan DM
secara komprehensif. Prinsip pengaturan makan pada pasien DM hampir sama dengan
anjuran makan untuk masyarakat umum, yaitu makanan yang seimbang dan sesuai
dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Pasien DM perlu
diberikan penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal, jenis dan jumlah
kandungan kalori, terutamapada mereka yang menggunakan obat yang meningkatkan
sekresi insulin atau terapi itu [Link] makanan yang dianjurkan yaitu
Karbohidrat, Lemak, Protein, Natrium, Serat, dan Pemanis Alternatif
c. LatihanFisik
Latihan fisik merupakan salah satu pilar dalampengelolaan DMT2. Program
latihan fisik secara teratur dilakukan 3-5 hari serminggu selama seikitar 30-45 menit,
dengan total 150 menit per minggu. Jeda antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-
turut. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan glukosa darah sebelum latihan fisik.
Apabila kadar glukosa darah<100 mg/dL,pasienharusmengkonsumsi karbohidrat
terlebih dahuludan bila >250 mg/dL, dianjurkan untuk menunda latihan fisik.
d. Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan
jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis ini terdiri dari obatoral dan bentuk
suntikan.

F. Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penderita Diabetes Mellitus menurut
(Subiyanto, 2019) adalah:
a. Komplikasi Akut
1) Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan seseorang dengan kadar glukosa darah kurang atau
di bawah nilai normal (<60 mg / Dl). Gejala ini awalnya akan berkeringat dengan
munculnya rasalapar, gemetar, mengeluarkan keringat, berdebar-debar, pusing,
pusing, dan penderita bisa menjadi tidak sadar.
2) Hiperglikemia
Hiperglikemia adalah apabila kadar gula darah meningkat secara tiba-tiba.
Gejala hiprglikemia adalah poliuria, polidipsia, polifagia, kelelahan yang parah dan
pandangan yang kabur. Hiperglikemia yang berlangsung lama dapat menjadi
keadaan metabolisme yang berbahaya, antara lain ketoasidosis diabetik yaitu dimana
tubuh sangat kekurangan insulin secara mendadak.

G. Pemeriksaan Penunjang.
Berikut cara pemeriksaan kadar glukosa darah untuk menegakkan diagnosa DM
berdasarkan konsensus pengelolaandan pencegahan DM di indonesia (Kardiyudiani & Dwi,
2019) adalah:
a. Tes gula darah(A1C).
Tes darah ini menunjukkan tingkat gula darah rata-rata selama dua hingga tiga
bulan terakhir. Tes ini mengukur persentase gula darah yang melekat pada hemoglobin
dan protein pembawa oksigen dalam sel darah merah. TingkatA1C 6.5% atau lebih
tinggi pada dua tes terpisah menunjukkan pasien menderita diabetes. Hasil antara 5.7-
6.4% dianggap prediabetes, yang menunjukkan risiko tinggi terkena diabetes. Tingkat
normal dari A1C adalah dibawah 5.7%. Jika tes A1C tidak dapat dilakukan karena
kondisi tertentu yang dapat membuat tes A1C tidak akurat, seperti hamil atau kelainan,
dokter akan menggunakan tes berikut untuk mendiagnosis diabetes:
b. Tes gula darah acak.
Sampel darah di ambil pada waktu acak. Nilai gula darah dinyatakan dalam
milligram per desiliter (mg/dL) atau milimoles per liter (mmol/L). Kadar gula darah
acak 200 mg/dL(11.1 mmol/L) atau lebih tinggi menunjukkan diabetes, terutama bila
digabungkan dengan salah satu tanda dan gejala diabetes, seperti sering buang air kecil
dan haus ekstrem.
c. Tes gula darah puasa.
Sampel darah diambil setelah pasien menjalani puasa dalam semalam. Tingkat
gula darah puasa normal adalah kurang dari 100 mg/dL (5.6 mmol/L). Tingkat gula
darah puasa dari 100 hingga 125 mg/dL (5.6 hingga 6.9 mmol/L) dianggap prediabetes,
sedangkan hasil pengukuran126mg/dL (7 mmol/L) atau lebih tinggi pada dua
testerpisah adalah indikasi diabetes.
d. Tes toleransi glukosa oral.
Untuk tes ini, pasien akan diminta berpuasa dalam semalam dan kadar gula
darah puasa diukur keesokan harinya. Pasien akan diminta minum cairan bergula dan
kadar gula darah diuji secara berkala selama dua jam kedepan. Kadar gula darah kurang
dari140 mg/dL (7.8 mmol/ L) dikatakan normal. Hasil antara 140 dan 199 mg/Dl (7.8
mmol/ L dan 11,0 mmol/ L) menunjukkan pre diabetes. Sementara itu,pasien dikatakan
menderita diabetes bila memiliki hasil tes 200mg / Dl (11,1 mmol/ L) atau lebih tinggi
setelah dua jam.

H. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


Menurut PPNI (2017), dalam buku Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia data
fokus yang perlu dikaji pada klien dengan Diabetes Melitus antara lain meliputi:
a. Identitas Pasien
1) Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, agama,
suku, alamat, status, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medis).
2) Identitas penanggung jawab (nama, umur, pekerjaan, alamat, hubungandengan
pasien).
b. Riwayat kesehatan pasien
1) KeluhanUtama
Cemas, lelah, anoreksia, mual, muntah, nyeri abdomen, nafas pasien
mungkin berbau aseton, pernapasan kussmaul, gangguanpola
tidur,poliuri,polidipsi,penglihatan yangkabur, kelemahan, dan sakit kepala.
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Berisi tentang kapan terjadinya penyakit, penyebab terjadinya penyakit serta
upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya.
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya riwayat penyakit diabetes mellitus atau penyakit- penyakit lain yang
ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pancreas, Adanya riwayat
penyakit jantung, obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah
didapat maupun obat- obatan yang biasa digunakanoleh penderita.
4) Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat atau adanya faktor resiko, riwayat keluarga tentang penyakit,
obesitas, riwayat pankreatitis kronik, riwayat melahirkan anak lebih dari 4 kg,
riwayat glukosuria selama stres (kehamilan, pembedahan, trauma, infeksi, penyakit)
atau terapi obat (glukokortikosteroid, diuretik tiasid, kontrasepsi oral).

c. Aktivitas Hidup Sehari-hari (ADL)


1) Pola nutrisi dan cairan
Pola aspek ini dikaji mengenai kebiasaan makan klien,peningkatan nafsu makan,
mual, muntah, penurunan ataupeningkatanberatbadan,banyakminumdanperasaan
haus. (Tarwoto dkk, 2017) Pola eliminasi Dikaji mengenai frekuensi, konsistensi,
warna dan kelainan eliminasi, kesulitan-kesulitan eliminasi dankeluhan-keluhan
yang dirasakan klien pada saat BAK dan BAB. Perubahan pola berkemih (polyuria),
nokturia, kesulitan berkemih, diare. (Tarwoto dkk, 2017)
2) Pola istirahat tidur
Biasanya klien sering BAK pada malam hari yang mengakibatkan terganggunya
pola istirahat tidur dan sering merasa cemas sehingga berdampak pada gangguan
tidur (insomnia).
3) Pola personal Hygiene
Dikaji mengenai kebiasaan mandi, gosok gigi, mencuci rambut, dan di kaji
apakah memerlukan bantuan orang lain atau dapat secara mandiri.
4) Pola aktivitas
Pada pasien DM, menunjukkan gejala seing merasa lemah, nyeri atau kelemahan
pada otot, tidak mampu beraktivitas atau bekerja. Tanda yang ditunjukkan adalah
penurunan rentang gerak sendi.
d. Pemeriksaan Fisik
1) Status Kesehatan Umum
Meliputi keadaan umum penderita, kesadaran, tinggi badan, berat badan,
dan tanda-tanda vital.
B. DiagnosaKeperawatan
a. Ketidak stabilan Kadar Glukosa Darah berhubungan dengan Resistensi
Insulin (D. 0027)
b. Perfusi Perifer Tidak Efektif berhubungan dengan Hiperglikemia (D. 0009)
c. Defisit Nutrisi berhubungan dengan Peningkatan Kebutuhan
Metabolisme (D. 0019)
d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurang control tidur (D.0055)
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Kelemahan (D. 0056)
TABEL 2.7
RENCANA KEPERAWATAN

PERENCANAAN KEPERAWATAN
DIAGNOSA
NO. KEPERAWATAN TUJUAN DAN
INTERVENSI RASIONAL
KRITERIA HASIL
1. SDKI (D. 0027) SLKI (L.03022) SIKI (I. 03115) Observasi
Ketidak setabilan Kadar Kestabilan Kadar Glukosa Manajemen Hiperglikemia a. Sebagai acuan untuk
Glukosa Darah Darah menentukan nilai kadar
Definisi: Variasi kadar glukosa Observasi
Setelah dilakukan intervensi gula darah
darah naik/ turun dari rentang keperawatan selama …x … a. Identifikasi kemungkinan b. Agar kadar glukosa darah
normal. jam maka Kestabilan Kadar penyebab hiperglikemia dapat terkontrol
Penyebab: Glukosa Darah meningkat b. Monitor kadar glukosa c. Menghindari terjadinya
a. Disfungsi pancreas dengan kriteria hasil: darah hiperglikemia
a. Koordinasi meningkat c. Monitor tanda dan gejala d. Menjaga intake dan output
b. Resistens iInsulin b. Kesadaran meningkat hiperglikemia (mis. stabil
c. Gangguan toleransi c. Mengantuk menurun Polyuria, polydipsia, e. Agar tidak terjadi
glukosa darah d. Pusing menurun polifagia, kelemahan, komplikasi ketaodosis
d. Gangguan glukosa darah e. Lelah/ lesu menurun malaise, pandangan kabur, metabolic
f. Keluhan lapar menurun sakit kepala).
Gejala dan Tanda Mayor g. Gemetar menurun
Hiperglikemia d. Monitor intake dan output Terapeutik
h. Berkeringat menurun
Subjektif cairan f. Mempertahankan
i. Mulutkering menurun
[Link]/ Lesu e. Monitor keton urin, kadar hidrasi/volume sirkulasi
j. Rasa haus menurun
Objektif analisagasdarah,elektrolit, g. Untuk mencegah
k. Kesulitan bicara
a. Kadar glukosa dalam tekanandarahortostatikdan hypokalemia
menurun
darah/ urin tinggi frekuensi nadi. h. Untuk mencegah terjadinya
l. Kadar glukosa dalam
Gejala dan Tanda Minor Terapeutik komplikasi akibat dari
darah membaik
Hiperglikemia f. Berikan asupan cairan oral hiperglikemi
m. Kadar glukosa dalam
Subjektif g. Konsultasi dengan medis Edukasi
urine membaik
a. Mulut Kering jika tanda dan gejala i. Untuk mencegah kerusakan
n. Palpitasi membaik
b. HausMeningkat hiperglikemia tetap ada dan pada sistem organ tubuh
o. Perilaku membaik
Objektif memburuk yang lain
p. Jumlah urine membaik
a. Jumlah urin meningkat h. Fasilitasi ambulasi jika ada j. Agar klien mampu
hiotensi ortostatik mengendalikan kadar
Edukasi glukosa darah
i. Anjurkan menghindari olah k. Membantu agar pasien
raga saat kadar glukosa patuh pada diet dan
darah lebih dari 250 mg/dL olahraga
l. Menginformasikan cara
pengelolaan diabetes
j. Anjurkan monitor kadar Kolaborasi
glukosa darah secara m. Pemberiani nsulin berfungsi
mandiri untuk mempertahankan
k. Anjurkan kepatuhan jumlah glukosa dalam darah
terhadap diet dan olahraga tetap normal
l. Anjurkan pengelolaan n. Untuk memudahkan
diabetes memberikan tambahan
Kolaborasi cairan ke pasien
m. Kolaborasi pemberian o. Pemberian cairan parental
insulin, jika perlu akan membantu dan
n. Kolaborasi pemberian mengembalikan jumlah
cairan IV, jika perlu normal cairan serta
o. Kolaborasi pemberian keseimbangan elektrolit
kalium,jika perlu
2. SDKI(D.0009) SLKI(L.02011) SIKI(I. 02079) Observasi
Perfusi Perifer Tidak Efektif Perfusi Perifer PerawatanSirkulasi a. Mengetahui kondisi
Definisi: Penurunan sirkulasi Setelah dilakukan intervensi Observasi: sirkulasi perifer pada pasien
darah pada level kapiler yang keperawatan selama…x… a. Periksa sirkulasi perifer b. Mengetahui penyebab
gangguan sirkulasi
dapat mengganggu jammaka Perfusi Perifer (mis. Nadi perifer, edema, c. Mengetahui dan mengontrol
metabolisme tubuh meningkat, dengan kriteria pengisian kapiler, warna, panas, kemerahan atau
Penyebab: hasil: suhu,ankle-brachialindex) bengkak pada ekstremitas
a. Hiperglikemia a. Denyut nadi perifer b. Identifikasi factor resiko Terapeutik
b. Penurunan konsentrasi meningkat gangguan sirkulasi (mis. d. Menghindari terjadinya
hemoglobin b. Penyembuhan luka Diabetes, perokok, orang infiltrasi
c. Peningkatan tekanan darah meningkat tua, hipertensi, dan kadar e. Mencegah terjadinya nyeri
d. Kekurangan volume cairan c. Sensasi meningkat kolestrol tinggi) pada pasien
e. Penurunan aliran arteri dan d. Warna kulit pucat c. Monitor panas, kemerahan, f. Mengontrol tekanan darah
atau vena menurun nyeri, atau bengkak pada agar dalam kondisi
f. Kurang terpapar informasi e. Edema perifer menurun ekstremitas normal
tentang factor pemberat f. Nyeri ekstremitas Terapeutik g. Mencegah terjadinya luka
(mis. Merokok, gaya hidup menurun d. Hindari pemasangan infus pada kaki
monoton, trauma, obesitas, g. Parastesia menurun atau pengambilan darah di Edukasi
asupan garam, imobilisasi) h. Kelemahan otot area keterbatasan perfusi h. Untuk memperlancar
g. Kurang terpapar informasi menurun e. Hindari pengukuran sirkulasi perfusi perifer
tentang prosese penyakit i. Pengisian kapiler tekanan darah pada i. Mengontrol tekanan darah
(mis. Diabetes mellitus, membaik ekstremitas dengan agar dalam keadaan
hiperlipedemia) j. Turgor kulit membaik keterbatasan perfusi normal
j. Agar tekanan darah dapat
terkontrol secara efektif
h. Kurang aktivitas fisik f. Hindari penekanan dan k. Mencegah terjadinya luka
Gejaladan Tanda Mayor pemasangan tourniquiet l. Untuk memperbaiki
Objektif pada area yang cedera sirkulasi
a. Pengisian kapiler > 3detik g. Lakukan perawatan kaki m. Mengetahui dan
b. Nadi perifer menurun atau dan kuku memberikan petunjuk dalam
tidak teraba Edukasi memberikan penanganan
c. Akral teraba dingin h. Anjurkan berolahraga yang lebih lanjut.
d. Warna kulit pucat secara rutin
e. Turgor kulit menurun i. Anjurkan menggunakan
Subjektif obat penurun tekanan
a. Parastesia darah, antikoagulan, dan
b. Nyeri ekstremitas penurun kolestrol, jika
(klaudikasi interniten) perlu.
Objektif j. Anjrkan meminum obat
a. Edema pengontrol tekanan darah
b. Penyembuhan luka lambat secara teratur
c. Indeksankle-brachial<0,90 k. Anjurkan melakukan
d. Bruit femoral perawatan kulit yang tepat
(mis. melembabkan kulit
kuring pada kaki)
l. Anjurkan program diet
untuk memperbaiki
sirkulasi (mis. Rendah
lemak jenuh, minyak ikan,
omega 3)
m. Informasikan tanda dan
gejala darurat yang harus
dilaporkan ([Link] sakit
yang tidak hilang saat
istirahat,luka tidak sembuh,
hilangnya rasa.
3. SDKI (D.0019) SLKI (L.03026) SIKI (I. 03119) Observasi
Defisit Nutrisi Status Nutrisi Manajemen Nutrisi a. Untuk mengetahui
Definisi: Asupan nutrisi tidak Setelah dilakukan intervensi Observasi kebutuhan nutrisi klien
cukup untuk memenuhi keperawatan selama … x … a. Identifikasi Status snutrisi b. Mencukupi kalori sesuai
kebutuhan metabolisme jam maka status nutrisi b. Identifikasi makanan yang kebutuhan pasien dan dapat
Penyebab: membaik, dengan kriteria disukai membantu proses
a. Ketidak mampuan menelan hasil: c. Identifikasi kebutuhan penyembuhan pada pasien
kalori dan jenis nutrien
b. Ketidak mampuan a. Porsi makanan yang d. Monitiorasupanmakanan c. Untuk mengetahui asupan
mencerna makanan dihabiskan meningkat e. Monitorberatbadan makanan apa saja yang
c. Ketidakmampuan b. Kekuatan otot Terapeutik dibutuhkan klien
mengabsorbsi nutrient pengunyah meningkat f. Lakukan oral hygiene d. Mengetahui frekuensi
d. Peningkatan kebutuhan c. Kekuatan otot menelan sebelum makan makan pasien
metabolisme meningkat g. Fasilitasi menetukan e. Untuk mengetahui berat
e. Factor ekonomi (mis. d. Pengetahuan tentang pedoman diet (mis. badan klien
finansial tidak mencukupi) pilihan makanan yang Piramida makanan) Terapeutik
f. Factor psikologis (mis. sehat meningkat h. Berikan makanan tinggi f. Untuk memberikan rasa
stress, keengganan untuk e. Pengetahuan tentang serat untuk mencegah nyaman pada mulut klien
makan) pilihan minuman yang konstipasi dan meningkatkan nafsu
Gejala dan Tanda Mayor sehat meningkat i. Berikan makanan tinggi makan
Objektif f. Pengetahuan tentang protein dan kalori. g. Karena status gizi
a. Berat badan menurun standar asupan nutrisi Edukasi seseorang menunjukkan
minimal 10% di bwah yang tepat meningkat j. Anjurkan posisi duduk saat seberapa besar kebutuhan
rentang ideal g. Perasaan cepat kenyang makan fisiologis individu
Gejaladan Tanda Minor menurun k. Ajarkan diet yang h. Karena serat dalam
Subjektif h. Nyeri abdomen menurun diprogramkan makanan akan membentuk
i. Sariawan menurun
a. Cepat kenyang setelah j. Rambut rontok menurun feses sehingga mudah
makan k. Diare menurun dikeluarkan.
b. Kram/ nyeri abdomen l. Berat badan membaik i. Memenuhi kebutuhan
c. Nafsu makan menurun m. IMT membaik protein yang hilang dan
Objektif n. Frekuensi makan membantu meringkan kerja
a. Bising usus hiperaktif membaik hepar dalam memproduksi
b. Otot pengunyah lemah o. Nafsu makan membaik protein.
c. Otot menelan lemah p. Bising usus membaik Edukasi
d. Membrane mukosa pucat q. Tebal lipatan kulit trisep j. Memudahkan proses
e. Sariawan membaik menelan dan menurunkan
f. Serumal bumin turun r. Membran mukosa terjadinya resiko aspirasi
g. Rambut rontok berlebihan membaik k. Untuk menjaga asupan
h. Diare makanan yang dibutuhkan
4. SDKI (D.0055) SLKI (L.05045) SIKI (I. 0055) Observasi
Gangguan pola tidur Pola tidur Dukungan tidur a. Mengetahui kualitas tidur
Definisi: gangguan kualitas Setelah dilakukan tindakan Observasi dan frekuensi tidur
dan kuwantitas waktu tidur keperawatan selama …x… a. Identifikasi pola aktivitas
akibat faktor eksternal jam maka pola tidur dan tidur
Faktor Resiko: membaik, dengan kriteria b. Identifikasi b. Untuk mengetahui
a. Hambatan lingkungan hasil: faktor faktor pengganggu tidur
b. Kurang kontrol tidur pengganggu tidur Terapeutik
a. Keluhan sulit tidur
c. Restraint fisik Terapeutik c. Memenuhui kualitas tidur
b. Keluhan sering terjaga
d. Ketiadaanteman tidur c. Modifikasi lingkungan terjaga
c. Keluhan tidak puas tidur
e. Tidak familiar d. Batasi tidur siang d. Memudahkan tidur
d. Keluhan pola tidur
dengan peralatan berubah e. Fasilitasi dimalam hari
tidur menghilangkan stres
e. Keluhan istirahat e. Pemenuhan kebutuhan
a. Gejala dan Tanda Mayor sebelum tidur
tidak cukup
f. Tetapkanjadwal rutin kualitas tidur
Objektif
g. Lakukan prosedur untuk f. Tidurlebih teratur
i) Mengeluh sulit tidur
j) Mengeluh sulit terjaga meningkatakan kenyamanan g. Pijat sebelum tidur secara
mandiri
k) Mengeluh pola Edukasi
tidur berubah Edukasi
h. Jelaskan pentingnya tidur
l) Mengeluh istirahat tidak h. Untuk pemenuhan
cukup cukup
kebutuhan tidur
i. Anjurkan menepati
i. Tidurlebih teratur
kebiasaan waktu tidur
SDK (D.0056) SLKI (L.05047) SIKI (I.05178) Observasi
Intoleransi aktivitas Toleransi aktivitas Manejemen energi a. Untuk mengetahui gg
Definisi: Ketidak cukupan Setelah dilakukann tindakan a. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang dialami
energy untuk melakukan keperawatan selama …x … fungsi tubuh yang pasien akibat kelelahan
aktivitas sehari-hari. jam maka Toleransi mengakibatkan kelelahan b. Untuk mengetahui tingkat
Penyebab: Aktivitas meningkat, b. Monitor kelelahan fisik dan kelelahan fisik dan
a. Ketidakseimbangan antara dengan kriteria hasil: emosional emosional pasien
suplai dan kebutuhan a. Frekuensi nadi c. Monitorpola jamtidur c. Untuk mengetahui pola
oksigen meningkat d. Monitor lokasi dan tidur pasien apakah teratur
b. Tirah baring b. Saturasi oksigen ketidaknyamanan selama atau tidak
c. Kelemahan meningkat melakukan aktivitas d. Untuk mengetahui lokasi
d. Imobilitas c. Kemudahan dalam Terapeutik dan tingkat
e. Gaya hidup monoton melakukan aktivitas e. Sediakan lingkungan yang ketidanyamanan pasien
Gejala dan Tanda Mayor sehari-hari meningkat nyaman dan rendah selama melakukan aktivitas
Subjektif d. Kecepatan berjalan stimulus (mis. cahaya, Terapeutik
a. Mengeluh lelah meningkat suara, kunjungan) e. Untuk memberikan rasa
b. Objektif e. Jarak berjalan meningkat f. Lakukan latihan rentang nyaman bagi pasien
c. Frekuensi jantung f. Kekuatan tubuh bagian gerak pasif atau aktif f. Untuk meningkatkan dan
meningkat > 20%dari atas meningkat g. Berikan aktivitas distraksi melatih massa otot dan
kondisi istirahat g. Kekuatan tubuh bagian yang menenangkan gerak ektremitas pasien
Gejala dan Tanda Minor bawah meningkat i. Fasilitasi duduk di sisi g. Untuk mengalihkan rasa
Subjektif h. Toleransi dalam menaiki
tempat tidur, jika tidak ketidaknyamanan yang
a. Dispnea saat/ tangga meningkat
dapat berpindah atau dialami pasien
setelah aktivitas i. Keluhan lelah menurun
berjalan. h. Untuk melatih gerak
b. Merasa tidak nyaman j. Dyspnea saat aktivitas
Edukasi mobilisasi pasien selama
setelah beraktivitas menurun
j. Anjurkan tirah baring dirawat
c. Merasa lemah k. Dyspnea setelah
k. Anjurkan melakukan Edukasi
Objektif aktivitas menurun
aktivitas secara bertahap i. Memberikan kenyamanan
a. Tekanan darah berubah l. Perasaan lemah menurun
l. Anjurkan strategi koping pasien saat beristirahat
>20%dariistirahat m. Sianosis menurun
untuk mengurangi j. Menunjang proses
b. Gambaran EKG n. Warnakulit membaik
kelelahan kesembuhan pasien secara
menunjukan aritmia o. Tekanan darah membaik
Kolaborasi bertahap
saat/setelah beraktivitas Frekuensi napas [Link] dengan ahli gizi
k. Agar pasien dapat
c. Gambaran EKG membaik tentang cara meningkatkan
mengatasi kelelahannya
menunjukkan iskemia asupan makanan
secara mandiri.
d. Sianosis
Kolaborasi
l. Untuk memaksimalkan
proses penyembuhan
DAFTARPUSTAKA

ADA. (2020). Classifacation and diagnosis of diabetes: Standards of Medical


Carein Diabetes-2020. Diabetes Care, 43(January), S14-
[Link]://[Link]/10.2337/dc20-S002
Dinata, I. (2022). Gambaran Pemberian Terapi Senam Kaki DiabetesPada Lansia
Dengan Diabetes Mellitus Tipe Ii Di Desa Banjar Anyar Kecamatan Kediri
Kabupaten Tabanan (Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes
DenpasarJurusan Keperawatan 2022).
Essinta,R.F.(2022).PengaruhChairBasedExerciseTerhadapNeuropati Perifer Pada
Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 (Doctoral dissertation, Poltekkes
Kemenkes Yogyakarta)
Febrinasari, R. P., Maret, U.S., Sholikah, T. A., Maret, U. S., Pakha, D. N.,
Maret,U. S (2020). Buku Saku Diabetes Mellitus Untuk Awam. BukuSaku,
(November), 21.
International Diabetes Federatio. (2019). International Diabetes Federation. In The
Lancet (Vol. 266, Issue 6881). [Link]
6736(55)92135-8
Insana Maria. 2021. Asuhan Keperawatan Diabetes Mellitus dan Asuhan
Keperawatan Stroke. Cetakan Pertama. Yogyakarta: NuhaMedika.
JurnalpenderitadmdikabgarutPutra,J.R.,Rahayu,U.,&Shalahuddin,
I. (2021). Self Care Of Patients With Diabetes Mellitus Complementary
Diseases of Hypertension in Public HealthCenter.

Karyudiani, Ni Ketut & Susanti, Brigitta A.Y. 2019. Keperawatan Medikal Bedah
I. Yogyakarta. Pustaka Baru.

Anda mungkin juga menyukai