MODUL PERKULIAHAN
Financial
Technology
Pemetaan Industri Fintech
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
Ekonomi dan Bisnis Manajemen S1 190271201 Dr. Kharisya Ayu Effendi, S.E., M.S.M
03
Abstract Kompetensi
Revolusi Industri 4.0 tidak hanya berpotensi luar biasa dalam Mahasiswa diharapkan dapat memahami mengenai
merombak industri, tapi juga mengubah berbagai aspek industri 1.0 hingga 4.0, serta inovasinya.
kehidupan manusia. Kita telah melihat banyak negara, baik
negara maju maupun negara berkembang, yang telah
memasukkan gerakan ini ke dalam agenda nasional mereka
sebagai salah satu cara untuk meningkatkan daya saing di
kancah pasar global.
A. Indonesia Fintech Landscape
Dengan penetrasi Internet yang mencapai 67% dan inklusi keuangan masih menjadi
tantangan utama, Indonesia menawarkan lahan subur untuk inovasi [Link]
fintech yang berkembang pesat di Indonesia sebagian besar didorong oleh pemerintah
proaktif yang telah memperkenalkan aturan di berbagai bidang termasuk pinjaman peer-
to-peer (P2P), pembayaran digital, dan yang terbaru dari perbankan terbuka, dengan
harapan dapat mendorong inovasi dan meningkatkan inklusi [Link] yang
menguntungkan ini telah menarik perhatian investor lokal dan internasional, banyak di
antaranya bertaruh besar pada prospek layanan keuangan digital di negara ini.
Landscape dan Pengembangan Fintech Hingga Mei 2019, terdapat 249 perusahaan
fintech di Indonesia, mulai dari deposito dan pinjaman, untuk pembayaran dan
peningkatan modal, seperti yang diilustrasikan pada Gambar [Link] area fintech dengan
pertumbuhan tercepat di Indonesia adalah pinjaman peer-to-peer (P2P) dan pembayaran
elektronik. Berdasarkan statistik Bank Indonesia, nilai transaksi uang elektronik tumbuh
enam kali lipat antara tahun 2012 dan 2017 menjadi Rp12,3 triliun ($ 840 juta).
Perkembangan pelayanan jasa-jasa perbankan yang dilakukan melalui internet semakin
berkembang seiring dengan pertumbuhan teknologi informasi yang semakin cepat. Faktor
inovasi produk dan perkembangan teknologi sudah merupakan bagian yang tak
terpisahkan dengan perkembangan industri perbankan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan sehingga menjadi lebih cepat, bagus dan efisien (Atrorf et al, 2002). Salah satu
contoh perkembangan perbankan yang memudahkan nasabah adalah dengan adanya
fasilitas pembiayaan teknologi, fasilitas pembiayaan yang dibutuhkan oleh para pencari
dana menjadi lebih mudah dengan dukungan teknologi.
Masyarakat dimudahkan karena didukung oleh kemajuan teknologi dan fasilitas
elektronik. Masyarakat tidak lagi menerima informasi dari media massa yang harus
menunggu waktu lama, sehingga kehadiran teknologi ini membuat informasi yang
diinginkan dapat diperoleh dalam hitungan menit atau detik, yaitu dengan media internet
atau melalui teknologi informasi (Riswandi, 2006). Saat ini, era digital merupakan
tantangan yang harus dirubah menjadi peluang karena memberikan lebih banyak
fleksibilitas dan fungsionalitas di beberapa aspek (Inna & Marina, 2016).
Sektor keuangan menjadi salah satu sektor usaha yang mengalami perubahan signifikan,
yang dikenal dengan istilah teknologi finansial atau financial technology. Perkembangan
financial technology yang sangat pesat perlu diatur oleh hukum untuk pengembangan
industri itu sendiri juga untuk melindungi masyarakat selaku pengguna. Pemerintah
melalui Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan sebagai badan yang berwenang
mengatur financial technology sesuai dengan kategorinya, telah mengeluarkan peraturan
teknis dalam regulasi terkait financial technology, diantaranya yakni
1. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam
Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dan Peraturan Bank Indonesia No.
19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial.
2. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No. 19/12/PBI/2017
tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial, berbunyi sebagai berikut:
“Teknologi Finansial adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang
menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat
berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi,
kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran”.
3. Menurut Hsueh dan Kuo (2017) bahwa financial technology (fintech) dapat
digolongkan menjadi 3 (tiga) tipe, yaitu:
a. Third-party payment systems merupakan sistem pembayaran melalui
pihak ketiga. Contohnya sistem pembayaran mobile, platform pembayaran
yang menyediakan jasa seperti transfer dan pembayaran bank.
b. Peer to Peer (P2P) Lending merupakan platform yang mempertemukan
pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang 3 membutuhkan dana
melalui internet. Jadi platform ini memberikan jasa kepada kreditur dan
debitur untuk membantu memenuhi kebutuhannya masing-masing secara
efisien.
c. Crowdfunding merupakan sebuah konsep suatu program yang
dipublikasikan secara umum melalui internet, yang mana jika masyarakat
tertarik dengan konsep tersebut akan memberikan dukungan secara
finansial dan investor akan mendapatkan imbalan sesuai kesepakatan.
Jenis Fintech di indonesia
Perkembangan teknologi digital turut serta mengubah pola hidup masyarakat termasuk
dalam hal bertransaksi, kini masyarakat dapat menikmati layanan jasa keuangan dimana
saja dan kapanpun hanya dalam satu genggaman melalui smartphone, dimana masyarakat
dapat melakukan beragam hal seperti pembayaran, melakukan investasi, asuransi hingga
mengajukan pinjaman uang. Hadirnya produk layanan jasa keuangan berbasis teknologi
ini, kini mulai populer dimasyarakat dengan istilah financial technology atau teknologi
finansial (Bachman, 2011). Menurut International Organization of Securities Commision
(IOSCO) istilah financial technology digunakan untuk menggambarkan berbagai model
bisnis yang inovatif dan teknologi yang muncul yang memiliki potensi untuk mengubah
industri jasa keuangan (Vieqi Rakhma Wulan, 2017:178).
Berdasarkan Pasal 1 angka (1) Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 tentang
Penyelenggaraan Teknologi Finansial: “Teknologi Finansial adalah penggunaan
teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi,
dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas
sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem
pembayaran” (Jurnal Pagaruyuang, Vol. 2, Juli 2018:25). Proses financial technology
berkisar dari menciptakan software untuk memproses kegiatan yang biasa dilakukan
lembaga keuangan untuk meningkatkanpengalaman konsumen dan mempersingkat
proses pembayaran menjadi lebih efisien, atau memungkinkan konsumen memenuhi
kebutuhan finansial mereka (Ian Pollar, 2016:15).
Menurut The National Digital Research Centre (NDRC), financial technology adalah
istilah yang digunakan untuk menyebut suatu inovasi di bidang jasa finansial, di mana
istilah tersebut berasal dari kata “financial” dan “technology” yang mengacu pada inovasi
finansial dengan melalui teknologi modern (Ernama Santi, Budiharto, Hendro Saptono,
2017:2). Transaksi keuangan melalui financial technology ini meliputi pembayaran,
investasi, pinjaman uang, transfer, rencana keuangan dan pembanding produk keuangan.
Industri financial technology merupakan salah satu metode layanan jasa keuangan yang
mulai populer di era digital sekarang ini. Sektor inilah yang kemudian paling diharapkan
oleh pemerintah dan masyarakat untuk mendorong peningkatan jumlah masyarakat yang
memiliki akses kepada layanan keuangan (Huaiqing, 2015).
Financial technology merupakan implementasi dan pemanfaatan teknologi untuk
peningkatan layanan jasa perbankan dan keuangan yang umumnya dilakukan oleh
perusahaan rintisan (start-up) yang memanfaatkan teknologi software, internet, dan
komunikasi (Nofie Iman, 2016). Pengaturan dan pengawasan bisnis financial technology
di Indonesia dilakukan oleh dua lembaga negara independen yaitu Bank Indonesia dan
Otoritas Jasa Keuangan (Jurnal Legislasi Indonesia, Vol.1, September 2017:346).
Jenis-Jenis Financial Technology
Berikut ini dijelaskan beberapa jenis financial technology yang telah berkembang di
Indonesia (Departemen Perlindungan Konsumen: 2017), antara lain :
1) Digital Payment
Perusahaan financial technology digital payment memberikan manfaat layanan berupa
pembayaran transaksi secara online sehingga proses tersebut menjadi lebih praktis, cepat
dan murah. Perusahaan penyedia layanan ini pada umumnya berbentuk dompet virtual
yang dilengkapi dengan berbagai fitur untuk mempermudah transaksi secara online antara
konsumen dan pemilik usaha atau antar pelaku usaha. Dalam praktiknya di Indonesia,
biasanya perusahaan financial technology digital payment bekerjasama dengan berbagai
pihak dalam memberikan tawaran promosi termasuk perusahaan telekomunikasi,
merchant atau took, maupun bank-bank konvensional untuk dapat memberikan pelayanan
transaksi online dengan lebih bervariasi.
Gambar 1.1 Bagan proses bisnin digital payment
2) Financing and Investment
Perusahaan financial technology financing and investment meliputi perusahaan fintech
yang memberikan layanan crowdfunding dan peer to peer lending. financial technology
crowdfunding pada umumnya melakukan penghimpunan dana untuk suatu proyek
maupun untuk penggalangan dana sosial, sedangkan financial technology peer to peer
lending biasanya memfasilitasi pihak yang membutuhkan dana pinjaman dengan para
pihak yang ingin berinvestasi dengan cara memberikan pinjaman. Pinjaman yang
diberikan oleh perusahaan fintech peer to peer lending di Indonesia sangat bervariasi,
mulai dari pinjaman modal usaha, pinjaman kendaraan bermotor, kredit tanpa agunan
(KTA), kredit perumahan rakyat (KPR), pinjaman renovasi rumah, biaya pernikahan,
pinjaman persalinan, dan pinjaman perjalanan umroh.
Gambar 1.2 Bagan proses bisnis crowdfunding & peer to peer lending
3) Market / Account Aggregator
Perusahaan financial technology account aggregator ini akan menawarkan layanan yang
dapat mengakomodasi seluruh transaksi perbankan tersebut melalui satu platform saja.
Pengguna platform ini diberikan kemudahan dalam melakukan verifikasi transaksi
pelaporan keuangan karena prosesnya cepat dan singkat. Mekanismenya, konsumen yang
memiliki banyak akun perbankan dapat mendaftarkan akunnya ke dalam platform ini,
yang kemudian dapat digunakan untuk memantau seluruh transaksi perbankan melalui
satu platform tersebut.
Gambar 1.3 Bagan proses bisnis market aggregator
4) Information and Feeder Site
Perusahaan financial technology ini memberikan layanan mengenai informasi yang
dibutuhkan oleh para calon konsumen yang ingin menggunakan suatu produk dan layanan
sektor jasa keuangan. Informasi yang diberikan dapat berupa informasi seperti kartu
kredit, tingkat suku bunga, reksa dana, premi asuransi, dan sebagainya. Sistem dari
perusahaan financial technology ini dapat memfilter maupun menyajikan informasi yang
diinginkan oleh calon konsumen. Perusahaan ini juga memberikan layanan pendaftaran
hingga pembelian produk dan/atau layanan sektor keuangan, seperti pembelian premi
asuransi.
5) Personal Finance
Perusahaan financial technology personal finance melalui platform-nya dapat membantu
konsumen dari mulai pembuatan laporan keuangan yang baik hingga pemilihan
pengelolaan dana yang bijaksana, sehingga menghemat waktu dan akan mendapatkan
laporan sistem pembukuan yang komprehensif. Dalam perkembangannya di Indonesia,
perusahaan-perusahaan financial technology dalam bidang ini belum mencapai tingkatan
sebagaimana financial technology robo-adviser seperti yang ada di negara-negara maju
B. Peer To Peer(P2P) Lending dan Crowd Funding
1. Pengertian Peer to Peer Lending
Peer to peer lending adalah praktik atau metode memberikan pinjaman uang kepada
individu atau bisnis dan juga sebaliknya. Peer to peer lending merupakan salah satu
produk dari financial technology yang mempertemukan pemilik dana atau yang biasa
disebut sebagai peminjam dengan melalui sistem elektronik atau teknologi informasi.
Dengan cara inilah yang menghilangkan fungsi intermediasi yang selama ini dilakukan
oleh lembaga perbankan di Indonesia. Pada dasarnya, sistem peer to peer lending ini
sangat mirip dengan konsep marketplace online, yang menyediakan wadah sebagai
tempat pertemuan antara pembeli dengan penjual. Dalam hal peer to peer lending, sistem
yang ada akan mempertemukan pihak peminjam dengan pihak yang memberikan
pinjaman. Jadi, boleh dikatakan bahwa peer to peer lending merupakan marketplace
untuk kegiatan pinjam meminjam uang.
Peer to peer lending merupakan pola kerjasama antara satu pihak dengan pihak yang lain.
Peer to peer lending melibatkan pemberi pinjaman atau investor yang memberikan uang
secara langsung kepada peminjam tanpa proses dan struktur lembaga tradisional (Jurnal
Islamic Economics, Vol. 4, Desember 2018:258). Ketimbang mengajukan pinjaman
melalui lembaga resmi sepertibank, koperasi, jasa kredit, pemerintah dan sebagainya
yang prosesnya jauh lebih kompleks, sebagai alternatif masyarakat bisa mengajukan
pinjaman yang didukung oleh orang-orang awam sesama pengguna sistem peer to peer
lending dan oleh karena itulah maka disebut dengan peer to peer.
2. Pihak-Pihak Peer to Peer Lending
a. Penyelenggara Penyelenggara peer to peer lending telah diatur dalam
Pasal 1 angka (6) POJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan
Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Penyelenggara
dalam ketentuan tersebut adalah badan hukum Indonesia yang
menyediakan, mengelola, dan mengoperasikan layanan pinjam meminjam
uang berbasis teknologi informasi. Bentuk badan hukum penyelenggara
dapat berupa perseroan terbatas atau koperasi. Berdasarkan ketentuan
tersebut diatas, maka penyelenggara peer to peer lending harus berbentuk
badan hukum dan tidak dapat dilakukan oleh orang-perorangan maupun
kegiatan usaha non-badan hukum seperti Maatschap, Firma ataupun CV.
Badan hukum yang dapat bertindak sebagai penyelenggara peer to peer
lending hanyalah perseroan terbatas yang telah mendapatkan pengesahan
dari Kementerian Hukum dan HAM atau Koperasi. Ditinjau dari kapasitas
hukum, tentu badan hukum memiliki kedudukan yang lebih baik jika
dibandingkan dengan perusahaan nonbadan hukum mengingat badan
hukum merupakan subjek hukum atau pendukung hak dan kewajiban yang
dapat dimintai pertanggungjawaban atas nama badan hukum tersebut.
Dengan ketentuan ini, jelas bahwa Yayasan maupun badan hukum lainnya
tidak dapat menjalankan kegiatan peer to peer lending. Persyaratan
penyelenggara dalam bentuk badan hukum perseroan terbatas atau
koperasi ini telah sesuai dengan tujuan kepastian hukum bagi para pihak
dalam kegiatan usaha peer to peer lending dimana peer to peer lending
merupakan kegiatan usaha yang bersifat mencari keuntungan (profit
oriented) dan melibatkan banyak pihak.
b. Penerima Pinjaman Penerima pinjaman sebagaimana diatur dalam Pasal 1
angka (7) POJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam
Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi adalah orang dan/atau
badan hukum yang mempunyai utang karena perjanjian layanan pinjam
meminjam uang berbasis teknologi informasi. Penerima pinjaman dalam
sistem peer to peer lending harus berasal dan berdomisili di wilayah
hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penerima pinjaman dapat
berupa orang perseorangan Warga Negara Indonesia atau badan hukum
Indonesia.
Berdasarkan ketentuan diatas, penerima pinjaman dalam peer to peer
lending bukanlah perorangan WNA ataupun badan hukum asing. Namun,
ketentuan tersebut belumlah cukup mengingat dalam ketentuan tersebut
hanya disebutkan bahwa penerima pinjaman adalah pihak yang
mempunyai utang tanpa menyebutkan dengan siapa penerima pinjaman
mengikatkan diri dalam perjanjian utang piutang atau pinjam meminjam.
Hal ini seolah-olah penerima pinjaman memiliki perjanjian pinjam
meminjam dengan penyelenggara peer to peer lending dimana hal tersebut
mirip dengan kegiatan usaha perbankan dalam menerima dan
menyalurkan dana ke masyarakat.
c. Pemberi Pinjaman Pemberi pinjaman sebagaimana diatur dalam Pasal 1
angka (8) POJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam
Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi adalah orang, badan
hukum dan/atau badan usaha yang mempunyai piutang karena perjanjian
layanan pinjam meminjam berbasis teknologi informasi. Pemberi
pinjaman dapat berasal dari dalam dan/atau luar negeri. Pemberi pinjaman
terdiri dari orang perseorangan warga negara Indonesia, orang
perseorangan warga negara asing, badan hukum Indonesia/asing, dan/atau
lembaga internasional. Pemberi pinjaman dalam skema peer to peer
lending lebih luas jika dibandingkan dengan penyelenggara peer to peer
lending. Dalam hal ini, orang perorangan baik warga negara Indonesia
maupun warga negara asing dapat bertindak selaku pemberi pinjaman. Hal
yang perlu diperhatikan agar kegiatan usaha peer to peer lending
memberikan kepastian hukum bagi para pihak yaitu diperlukan
pemberlakuan sistem know your customer guna menghindari tindakan
pencucian uang.
3. Cara Kerja Peer to Peer Lending
a. Sebagai Penerima Pinjaman
Sebagai penerima pinjaman atau peminjam, yang perlu dilakukan
hanyalah mengunggah semua dokumen yang dibutuhkan untuk
mengajukan pinjaman secara online (yang relatif cepat prosesnya), yang
diantaranya merupakan dokumen berisi laporan keuangan dalam jangka
waktu tertentu dan juga tujuan dalam meminjam tersebut. Permohonan
peminjaman bisa diterima ataupun ditolak, tentunya tergantung dari
beragam faktor. Jika permohonan ditolak, maka harus memperbaiki segala
hal yang menjadi alasan penolakan. Kemudian jika diterima, maka suku
bunga pinjaman akan diterapkan dan pengajuan pinjaman akan
dimasukkan ke dalam marketplace atau platform yang tersedia agar semua
pendana bisa melihat pengajuan pinjaman.
b. Sebagai Pemberi Pinjaman
Sebagai pemberi pinjaman atau investor, nantinya memiliki akses untuk
menelusuri data-data pengajuan pinjaman di dashboard yang telah di
sediakan. Pemberi pinjaman dapat melihat data mengenai setiap
pengajuan pinjaman, terutama data relevan mengenai si peminjam seperti
pendapatan, riwayat keuuangan, tujuan peminjaman (bisnis, kesehatan,
pendidikan atau sebagainya) beserta alasan dan sebagainya.
Peer-to-Peer (P2P) merupakan suatu sistem (platform) yang mempertemukan pemberi
pinjaman (kreditur) dengan peminjam (debitur). Dalam P2P, uang yang dipinjam juga
dikenakan sejumlah bunga yang per bulannya bersaing dengan bunga Kredit Tanpa
Agunan (KTA).Dalam praktiknya, kegiatan pinjam-meminjam di P2P dilakukan secara
online. Pemberi pinjaman dan peminjam tidak bertemu satu sama lain. Di samping itu,
Anda bisa mendapatkan pinjaman tanpa perlu menjaminkan apa pun (tanpa agunan).
Setelah pinjaman disetujui, Anda akan terikat perjanjian mengenai kewajiban kepada
pemberi pinjaman.
Perbedan dengan sistem peminjaman lainnya, dalam crowdfunding atau urun dana, Anda
justru mendapatkan sejumlah dana dalam bentuk donasi. Mirip-mirip dengan P2P,
crowdfunding melibatkan tiga pihak: pemilik project, pemberi dana, dan penyedia
platform. Anda hanya perlu menceritakan ide bisnis Anda dan berbagai peluang bisnis
tersebut ke depannya. Jika ada yang tertarik, pemberi dana akan beramairamai atau
patungan memberikan dana bagi jalannya bisnis Anda. Di sisi lain, crowdfunding juga
dimanfaatkan sebagai aksi penggalangan dana untuk tujuan [Link], dalam
Crowdfunding, Anda setidaknya harus sebaik mungkin menyampaikan cerita mengenai
project Anda. Jika pemberi dana tertarik dan senang dengan cerita yang disampaikan,
kemungkinan Anda akan mendapatkan dana atas project yang Anda punya Perbedaan
antara Peer-to-Peer (P2P) dan Crowdfunding. Pada dasarnya, Peer-to-Peer (P2P) sama
dengan utang, sedangkan Crowdfunding tak ubahnya seperti sumbangan/donasi.
Persamaannya, dana didapatkan secara online melalui penyedia platform. Perbedaan
lainnya antara Peer-to-Peer (P2P) dan Crowdfunding, yaitu: Dalam P2P, Anda akan
dihadapkan pada perjanjian tertulis terkait sejumlah dana yang Anda pinjam dari para
investor dan kewajiban pengembaliannya. Hal ini juga mewajibkan Anda untuk
memberikan informasi yang rinci terkait dengan bisnis tersebut sesuai kesepakatan.
Sementara Crowdfunding tidak memerlukan perjanjian tertulis karena sifatnya yang
sukarela.
Crowdfunding membutuhkan kemampuan Anda dalam mempresentasikan ide project
dengan baik melalui penyedia platform agar banyak yang tertarik memberi dananya.
Sementara P2P tidak mensyaratkan hal tersebut. Meski keduanya dapat menjadi sumber
modal bagi bisnis Anda, tetapi penting bagi Anda untuk mempertimbangkan dan memilih
salah satu yang paling tepat. Sesuaikan jenis bisnis Anda serta pertumbuhannya saat ini
dan pada masa yang akan datang. Dengan begitu, modal yang Anda dapatkan bisa
berdampak maksimal pada bisnis tersebut
C. Market Agregator
Fintech Market Aggregator merupakan salah satu layanan fintech yang menyediakan
informasi mengenai layanan keuangan sehingga memudahkan penggunanya untuk
membandingkan biaya/harga antara biaya keuangan yang dapat digunakan
penggunannya. Sebagian Fintech Market Aggregator dapat digunakan untuk membantu
penggunanya untuk langsung mengakses layanan keuangan melalui platform mereka.
Fintech market aggregator ini dapat dimanfaatkan oleh konsumen pada saat akan
membeli produk, dimana konsumen bisa dengan mudah membandingkan beberapa
produk sejenis untuk selanjutnya dapat memilih mana yang dinilai paling sesuai dengan
kebutuhan atau preferensi individu. Beberapa contoh Fintech kategori Market Agregator
yang diantaranya ada layanan Fintech Market Aggregator umumnya dapat diakses secara
langsung melalui browser atau web untuk menggunakan layanannya namun terdapat
beberapa Market Aggregator layanannya dapat diakses melalui aplikasi mobile. Beberapa
contoh Fintech kategori Market Agregator yang diantaranya:
1. [Link]
Merupakan portal layanan informasi dan perbandingan yang netral dan terpercaya untuk
membantu masyarakat Indonesia membuat keputusan finansial yang cerdas. [Link]
memberikan pilihan produk finansial dan asuransi secara cepat, mudah, dan singkat.
Karena itu, produk dan layanan [Link] senantiasa diperbaharui dan diperluas untuk
mencakup segala jenis kredit, asuransi, tabungan, investasi, dan produk konsumen
lainnya.
2. [Link]
Menyediakan berbagai macam informasi untuk membantu masyarakat Indonesia
menemukan produk keuangan terbaik. Cermati juga menyediakan akses data ke ribuan
produk keuangan secara gratis untuk memudahkan masyarakat Indonesia membuat
keputusan finansial yang [Link] di platform ini dapat membandingkan layanan
keuangan kartu kredit, pinjaman (tanpa agunan, KPR, dll) dan asuransi.
3. [Link]
Merupakan media promosi, informasi dan edukasi dan menyediakan platform saja. Bukan
merupakan pemberi pinjaman atau agen dari lembaga keuangan. Pengguna Duitpintar
dapat membandingkan berbagai jenis pinjaman, asuransi dan kartu kredit. Duitpintar
hanya sebatas informasi saja untuk layanan keuangan.
Market Aggregator dibuat untuk membantu memudahkan konsumen untuk mencari
produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan. Konsumen dapat mencari informasi
secara lebih detail dibandingkan sebelumnya sehingga dapat mengambil keputusan yang
tepat untuk memenuhi kebutuhan keuangan mereka. Contohnya, ketika seseorang ingin
membuat kartu kredit atau mengajukan KTA (Kredit Tanpa Agunan), maka anda bisa
mengunjungi situs Cekaja, KreditGogo, atau Cermati. Kemudian, market aggregator
tersebut akan menampilkan seluruh penyedia layanan kartu kredit serta memberikan data
aspek dan keunggulan dari setiap bank penerbit kartu kredit. Dengan begitu, pengguna
bisa menimbang dan memilih produk yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.
D. Manfaat dan Risiko Fintech
Financial Technology dengan layanan keuangan seperti crwonfunding, mobile payments,
dan jasa transfer uang memberikan perubahan dalam bisnis start-up. Selain itu, fintech
juga dapat memberikan fasilitas transfer uang baik secara global maupun internasional.
Adapaun crownfunding yang mana seseorang dapat melakukannya dengan mudah.
Menurut (Alwi, 2018) layanan jasa pinjam-meminjam fintech memiliki kelebihan utama
yaitu:
a. Menyediakan berbagai dokumen kontrak (perjanjian) dalam bentuk elektronik
secara online guna kepentingan berbagai pihak yang terlibat dalam transaksi.
b. Dapat menilai berbagai risiko terhadapl para pihakl yang bersangkutan secara
lonline.
c. Dapat mengetahui informasi tagihanl (collection) dengan efektif dan efesien
dikirim secara online.
d. Menyediakan informasi dan status pinjaman kepada pihak yang bersangkutan
secara online.
e. Tersedianya escrow account dan ritual account pada perbankan kepada pihak
yang bersangkutan.
Dari beberapa kelebihan tersebut fintech dapat digunakan untuk memberikan kemudahan
diantara peminjam dan pemberi pinjaman. Kehadiran fintech tentunya sangat membantu
masyarakat di suatu Negara. Masyarakat yang membutuhkan financial tersebut dengan
mudah mengakses dan mengajukan permohonan secara online. Adanya kemudahan
tersebutmeunjukan bahwa pelayanan finansial ini merupakan mekanisme yang dapat
digolongkan cepat dan mudah untuk memnuhi kebutuhan dan mendapatkan produk
finansial dan dapat di minimalkan.
Daftar Pustaka
Setiyono, Wisnu Panggih , Sriyono dan Prapanca, Detak ( 2021 ) Financial Technology.
Umsida Press ISBN : 978-623-6292-68-6.