Chapter II 6
Chapter II 6
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Umum
fungsi dari sebelumnya. Beberapa hal lain yang membuat suatu struktur perlu diperkuat
Dalam suatu bangunan, ada beberapa bagian struktur yang mendapat perkuatan,
tergantung dari tujuan perubahan fungsi. Bukan hanya struktur bagian atas yang
mendapat perkuatan, struktur bagian bawah, seperti pondasi juga lazim mendapat
perkuatan. Tetapi yang paling sering mendapat perkuatan adalah bagian balok yang
memiliki deformasi lentur yang cukup besar. Dikarenakan sering adanya penambahan
beban pada balok sebelumnya, maka penambahan profil baja dibawah balok menjadi
salah satu solusi memperkuat balok dan memperkecil deformasi akibat lentur.
dianggap mendukung sebagai perkuatan balok. Selain kelebihan utama yang tahan
terhadap tarik, material baja juga relatif lebih ringan dan mudah dipabrikasi
Profil baja dengan beton balok harus disatukan agar menghasilkan kekuatan
yang diharapkan. Penyatuan profil baja dengan beton yang sudah ada dapat kita
7
Universitas Sumatera Utara
8
2.2 Perkuatan
memperbaiki struktur yang sudah ada. Bukan hanya untuk memperkuat, metode ini
juga digunakan dalam renovasi struktur. Dengan harapan struktur yang mengalami
retrofitting akan menjadi lebih kuat dan dalam segi biaya juga lebih hemat
diantaranya:
digunakan.
Salah satu metode perkuatan struktur adalah dengan penambahan elemen, baik
dari material yang sama atau berbeda dengan material elemen eksisting terhadap
elemen eksisting tersebut. Dalam pembahasan ini adalah penambahan material baja
pada elemen beton yang merupakan elemen eksisting, dimana untuk menyatukan
kedua elemen tersebut digunakan angkur dari material baja pada elemen beton
eksisting.
atau bearing dan disebut sebagai penghubung geser atau shear connectors (Galambos,
1998). Penghubung geser secara umum bekerja untuk mentransfer gaya ke struktur dan
sebagai alat penyatu material baja dan beton agar tidak terpisah. Alat penyambung
geser menghasilkan interaksi yang diperlukan untuk aksi komposit antara balok baja
dan plat beton, yang sebelumnya hanya dihasilkan oleh lekatan untuk balok yang
(penghubung geser tipe-T atau blok), flexible (welded headed shear studs atau
penghubung paku berkepala dan penghubung geser berbentuk baja kanal), dan bond-
type (penghubung berbentuk lurus, bengkok atau spiral yang dibuat dari baja tulangan).
Tipe lain dari penghubung geser terbuat dari baut bermutu tinggi yang digunakan
Alat penyambung geser yang umum digunakan dapat dilihat pada Gambar 2.1.
umumnya untuk peralatan mekanikal elektrikal seperti tiang listrik, AC, rambu lalu
lintas, furing plafon dan sebagainya. Belakangan ini para engineer banyak
mempergunakan angkur pada konstruksi, seperti: angkur pada retaining wall, angkur
pada tiang pedestal baja, dan pada sambungan-sambungan konstruksi baja. Baut
penyedia jasa. Baut angkur yang dibautkan pada stuktural harus diberi chemical anchor
sebagai bahan aditif agar daya rekat antara baut angkur dan struktural semakin kuat
dan mengurangi pull out pada sambungan tersebut. Produk bahan aditif yang biasanya
digunakan antara lain bermerk dagang Hilti, Ramset, Dia-Kress, Sormat, Simpson.
Wayne Clendennen (1994), berdasarkan klasifikasi ini, angkur terbagi menjadi baut
a. Expansion.
b. Undercut.
Baut angkur tipe ini dipasang sesuai disain pada bagian struktur beton yang
beberapa tipe angkur cor di tempat, yaitu: headed bolt, L-bolt, J-bolt dan Headed stud.
Baut angkur tipe ini dipasang pada beton yang telah mengeras atau beton
eksisting. Pemasangan tipe ini dapat digunakan pada konstruksi baru ataupun
expansion anchors.
2. Undercut anchors.
1. Expansion Anchor
Angkur tipe ini sangat baik untuk digunakan di area yang memiliki rongga,
atau area yang sering mengalami getaran, seperti di stadium atau bangunan
Setelah pemasangan, muncul gaya gesekan antara angkur dan beton yang
Expansion anchor terbagi atas dua tipe, yaitu: Torque controlled dan
2. Undercut Anchor
Tipe angkur ini adalah tipe angkur yang cukup kuat dalam mengikat masing
– masing elemen dibandingkan tipe lainnya. Karena itu angkur ini biasa
tenaga nuklir, dan struktur lainnya yang menuntut keamanan tinggi. Angkur
ini biasa digunakan pada struktur beban dinamik dan perkuatan bangunan
gempa. Undercut anchor sangat kuat sehingga tidak akan runtuh terlebih
dahulu daripada betonnya, maka tipe ini lebih banyak dipilih oleh para
insinyur.
3. Bonded Anchor
Bonded anchor dapat terbagi atas adhesive dan grouted anchor. Adhesive
angkur akan mengikat dengan beton. Grouted anchor ditanam pada beton
yang sama dengan adhesive anchor. Angkur tipe ini mengharuskan lubang
yang akan ditanam bersih dan kering agar kekuatan mengikat antara pasta,
Perbedaan mendasar pada kedua tipe ini adalah jika diameter lubang sama
dengan 1 kali diameter angkur atau lebih kecil, maka dapat dikategorikan
Mekanisme penyaluran gaya geser horizontal yang terjadi dari balok baja ke
pelat beton ditransfer seluruhnya oleh penghubung geser, dalam hal ini adalah angkur
besi beton. Yang mana kekuatan dan luas bidang kontak tulangan angkur beton tersebut
dengan beton sangat mempengaruhi kapasitas suatu angkur besi beton untuk dapat
penghubung.
3. Ukuran.
6. Derajat kebebasan dari setiap dasar pelat untuk bergerak secara lateral dan
kemungkinan terjadinya gaya tarik ke atas (up lift force) pada penghubung.
8. kekuatan pelat beton dan tingkat kepadatan pada beton disekeliling pada
angkur besi beton yaitu: bentuk dan ukurannya, lokasinya pada balok, lokasi momen
Dalam perencanaan pemasangan angkur besi beton pada beton, ACI mengenai
Anchorage to Concrete secara umum dapat menjadi acuan, peraturan lain dapat kita
adopsi dari European Organisation for Technical Approvals (EOTA) yang juga telah
pembebanan (tarik, geser) antara lain sebagai berikut: steel failure, pull-out failure,
concrete cone failure, splitting failure. Model keruntuhan dapat dilihat pada
Gambar 2.5.
Secara umum, beban tarik yang terjadi pada suatu angkur bisa dihitung
1. Plat dari angkur haruslah kaku sehingga tidak akan berdeformasi sebelum
dibebani.
baja.
3. Pada daerah yang tertekan, angkur tidak ikut menyalurkan gaya normal.
Jika besaran gaya tarik yang berbeda – beda ( ) diberikan pada masing –
masing angkur yang berada pada suatu grup angkur, maka eksentrisitas eN dari gaya
angkur.
Berbeda dengan beban tarik, distribusi beban geser pada suatu pengangkuran
terkena gaya geser bila diameter angkur tidak lebih besar dari diameter
lubang angkur. Jika diameter angkur lebih kecil dari lubang angkur dalam
beton, maka di sela-sela rongga sisa harus diisi mortar atau bahan aditif.
Jika besaran gaya geser yang berbeda – beda ( ) diberikan pada masing –
masing angkur yang berada pada suatu grup angkur, maka eksentrisitas e V dari gaya
tarik grup ( ) harus diperhitungkan sesuai Gambar 2.6 dan 2.7 untuk mendapatkan
Gambar 2.6 Contoh distribusi beban ketika semua angkur diberi beban geser
Gambar 2.7 Contoh distribusi beban ketika hanya sebagian angkur yang mendapat
beban geser
beda dalam hal keruntuhannya. Berikut ketahanan beban tarik berdasarkan tipe
berikut:
, = (2.1)
,
, = , Ψ , .Ψ , .Ψ , (2.2)
,
a. Nilai awal ketahanan angkur untuk beton retak dan tidak retak.
.
, = . , .ℎ (2.3)
Dimana:
150x150mm (N/mm2).
kuat geser.
Ψ , = 0.5 + ≤1 (2.5)
100 mm, maka shell spalling factor Ψre,N =1.0 dapat diaplikasikan.
e. Faktor Ψec,N akan berpengaruh ketika beban tarik bekerja pada masing-
Ψ , = ≤1 (2.6)
/ ,
Untuk mendapatkan kekuatan nominal baut angkur terhadap beban geser dapat
berikut:
, = 0.5 . (2.7)
,
, = , Ψ , .Ψ , .Ψ , .Ψ , .Ψ , (2.8)
,
a. Nilai awal ketahanan angkur untuk beton retak dan tidak retak.
.
, = . .ℎ . , . (2.9)
Dimana:
.
= 0,1 . (2.11)
b. Faktor jarak antara angkur terluar dengan ujung beton dan ketebalan
4. Grup dari empat buah angkur yang berada di ujung beton tipis.
Seperti pada faktor jarak angkur terluar, posisi angkur dalam faktor Ψs,V
Ψ , = 0.7 + 0.3 .
≤1 (2.12)
, ⁄ , .
. /
Ψ , = ≥1 (2.13)
Vsd, dan tegak lurus terhadap beton terluar seperti pada Gambar 2.9.
Ψ , = ≥1 (2.14)
( )
.
Gambar 2.9 Angkur yang dibebani oleh beban yang arahnya bersudut
Ψ , = ≤1 (2.15)
/( )
Ψre,V = 1.0 untuk pengangkuran pada beton retak dan tidak retak
Untuk angkur multiple atau angkur dalam satu grup, jarak minimum angkur
harus diperhatikan. Angkur yang tidak memenuhi jarak minimum akan mengalami
Penelitian dalam tesis ini menggunakan penghubung geser dari besi beton.
Maka itu penulis membahas sedikit mengenai besi beton, jenis – jenisnya, dan juga
Besi beton biasa dikenal dengan baja tulangan beton, merupakan baja yang
berbentuk bulat sebagai fillet pada penampang beton dengan bahan dasar terbuat dari
billet. Bahan baku dari billet ini sendiri adalah tua, skrap, serta bahan penolong seperti
kokas, grafit, lime, ferro alloys yang dilebur dengan berbagai metode. Bahan penolong
tadi digunakan untuk mendapatkan unsur carbon (C), Si (silicon), Mn (Mangan) yang
Besi beton ini adalah sejenis logam yang kini banyak digunkana didalam
pembuatan gedung-gedung, rumah, pabrik dan lain sebagainya. Dimana sifat besi
beton ini sangat kuat untuk menahan hasil coran, cetakan dan bersifat ulet.
yaitu:
Baja tulangan beton sirip adalah baja tulangan beton dengan bentuk khusus
membujur dari batang secara relatif terhadap beton disingkat BjTS, seperti
Tulangan jenis ini memiliki sirip-sirip seperti pada ruas-ruas ikan, dapat
Tulangan jenis ini memiliki sirip-sirip yang curam, seperti pada Gambar
2.15.
1. Baja tulangan beton polos, harus rata dan tidak mempunyai sirip.
a. Sirip harus teratur serta usuk memanjang yang searah dan sejajar
sama.
d. Sirip melintang tidak boleh membentuk sudut < 450 terhadap sumbu
batang.
e. Apabila mempunyai sudut 450 < α < 700, arah sirip melintang pada satu
Sifat mekanis baja berbeda antara baja tulangan beton polos dengan baja
tulangan beton sirip. Untuk mengetahui perbedaan sifat mekanis tersebut, maka
dilakukan beberapa pengujian dan didapat hasil masing-masing dari baja tulangan beton
yang dilakukan meliputi uji tarik dan uji lengkung. Hasil klasifikasi dan
Kelas Nomor
Batas
Baja Batang Kuat tarik
ulur Regangan Sudut Diameter
Tulangan Uji Kgf/mm2
Kgf/mm2 (%) lengkung Lengkung
(N/mm2)
(N/mm2)
No.2 20
Minimum Minimum
BjTP 24 1800 3xd
24 (235) 39 (380)
No.3 24
d > 16 =
No.2 Minumum 18
Minimum 3xd
BjTP 30 30 1800
45 (440) d > 16 =
No.3 (295) 20
4xd
Pada baja tulangan beton sirip juga dilakukan pengujian yang sama dengan
baja tulangan beton polos. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 2.2.
angkur pada beton dan memiliki relevansi terhadap eksperimen yang akan dilakukan
bonded anchor dan undercut anchor yang dipasang pada balok dan kolom suatu
struktur beton dalam suatu percobaan, kemudian di uji menggunakan shake table test
dan didapat bahwa pembebanan geser siklik dengan penambahan amplitudo akan
menunjukkan beban ultimit dan redaman histeretik bergantung pada tipe angkur,
dimana untuk sleeve type menunjukkan kemampuan lebih besar dalam menahan beban
ultimit pada tes monotonik daripada bolt type. Pada kasus pembebanan aksial dan
pembebanan geser, tipe undercut anchor menghasilkan deformasi yang lebih kecil dari
bonded anchor. Tujuan mengetahui perilaku angkur terhadap kondisi gempa ini
nantinya berguna untuk menghitung ketahanan antara beton eksisting dengan elemen
tambahannya.
kolom beton baja. Eksperimen pada angkur yang ditanam memiliki pola seri dan
gabungan seri dan paralel. Hasil eksperimen pada pola paralel adalah keruntuhan
terjadi pada angkur saat beban ultimitnya tercapai. Untuk pola seri diketahui kekuatan
geser pada angkur paling bawah adalah yang paling kecil sehingga disimpulkan bahwa
pola pengangkuran seri ini dapat menurunkan kemampuan struktur secara keseluruhan
dalam menahan beban. Sedangkan pada pola gabungan seri dan paralel diketahui
bahwa distribusi beban yang terjadi tidak merata pada pada masing – masing angkur