0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan24 halaman

Chapter II 6

Dokumen ini membahas tentang perkuatan struktur bangunan, terutama melalui metode retrofitting yang melibatkan penggunaan profil baja dan penghubung geser untuk meningkatkan kekuatan balok dan pondasi. Selain itu, dijelaskan juga tentang berbagai jenis baut angkur yang digunakan dalam konstruksi, termasuk klasifikasi dan aplikasinya, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan dan ketahanan angkur terhadap beban tarik dan geser. Penekanan pada pentingnya analisis struktur sebelum dan setelah retrofitting juga menjadi fokus utama dalam dokumen ini.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan24 halaman

Chapter II 6

Dokumen ini membahas tentang perkuatan struktur bangunan, terutama melalui metode retrofitting yang melibatkan penggunaan profil baja dan penghubung geser untuk meningkatkan kekuatan balok dan pondasi. Selain itu, dijelaskan juga tentang berbagai jenis baut angkur yang digunakan dalam konstruksi, termasuk klasifikasi dan aplikasinya, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan dan ketahanan angkur terhadap beban tarik dan geser. Penekanan pada pentingnya analisis struktur sebelum dan setelah retrofitting juga menjadi fokus utama dalam dokumen ini.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

7

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Umum

Banyak alasan yang membuat perlunya dilakukan perkuatan struktur. Pada

umumnya perkuatan struktur dilakukan pada bangunan yang mengalami perubahan

fungsi dari sebelumnya. Beberapa hal lain yang membuat suatu struktur perlu diperkuat

adalah adanya kerusakan akibat kegagalan struktur dan renovasi bangunan.

Dalam suatu bangunan, ada beberapa bagian struktur yang mendapat perkuatan,

tergantung dari tujuan perubahan fungsi. Bukan hanya struktur bagian atas yang

mendapat perkuatan, struktur bagian bawah, seperti pondasi juga lazim mendapat

perkuatan. Tetapi yang paling sering mendapat perkuatan adalah bagian balok yang

memiliki deformasi lentur yang cukup besar. Dikarenakan sering adanya penambahan

beban pada balok sebelumnya, maka penambahan profil baja dibawah balok menjadi

salah satu solusi memperkuat balok dan memperkecil deformasi akibat lentur.

Bahan profil baja digunakan karena memiliki beberapa kelebihan yang

dianggap mendukung sebagai perkuatan balok. Selain kelebihan utama yang tahan

terhadap tarik, material baja juga relatif lebih ringan dan mudah dipabrikasi

dibandingkan material beton.

Profil baja dengan beton balok harus disatukan agar menghasilkan kekuatan

yang diharapkan. Penyatuan profil baja dengan beton yang sudah ada dapat kita

lakukan dengan menggunakan penghubung geser berupa besi beton.

7
Universitas Sumatera Utara
8

2.2 Perkuatan

Perkuatan atau retrofitting adalah suatu proses untuk memperkuat atau

memperbaiki struktur yang sudah ada. Bukan hanya untuk memperkuat, metode ini

juga digunakan dalam renovasi struktur. Dengan harapan struktur yang mengalami

retrofitting akan menjadi lebih kuat dan dalam segi biaya juga lebih hemat

dibandingkan dengan membangun kembali struktur yang baru.

Tidak semua struktur yang pernah mengalami kerusakan dapat diperkuat.

Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum memulai proses retrofitting,

diantaranya:

1. Peninjauan struktur ke lapangan, memungkinkan kita menganalisa sebab

kerusakan yang terjadi.

2. Pemilihan jenis material dan pemeriksaan mutu bahan yang akan

digunakan.

3. Melakukan analisa terhadap bangunan yang akan diperkuat, apakah masih

mampu menahan beban atau tidak.

4. Setelah bangunan dianalisa dan dianggap masih mampu menahan beban,

maka tidak perlu dilakukan retrofitting, namun jika struktur bangunan

dianggap tidak mampu, maka perlu dilakukan perkuatan. maka perbaikan

terhadap struktur yang rusak harus dilakukan, dapat berupa menambahkan

material lain misalnya pemakaian wrap/fiber, penambahan struktur baja,

pemasangan external prestress, dan lain sebagainya.

5. Setelah proses retrofitting selesai dilakukan dilapangan, maka struktur

harus dianalisa kembali, apakah sudah aman dan layak ditempati.

Universitas Sumatera Utara


9

2.3 Penghubung Geser

Salah satu metode perkuatan struktur adalah dengan penambahan elemen, baik

dari material yang sama atau berbeda dengan material elemen eksisting terhadap

elemen eksisting tersebut. Dalam pembahasan ini adalah penambahan material baja

pada elemen beton yang merupakan elemen eksisting, dimana untuk menyatukan

kedua elemen tersebut digunakan angkur dari material baja pada elemen beton

eksisting.

Penggabungan kedua material diatas untuk memanfaatkan keunggulan sifat

material pembentuknya dibutuhkan penghubung yang memiliki sifat adhesion, friction

atau bearing dan disebut sebagai penghubung geser atau shear connectors (Galambos,

1998). Penghubung geser secara umum bekerja untuk mentransfer gaya ke struktur dan

sebagai alat penyatu material baja dan beton agar tidak terpisah. Alat penyambung

geser menghasilkan interaksi yang diperlukan untuk aksi komposit antara balok baja

dan plat beton, yang sebelumnya hanya dihasilkan oleh lekatan untuk balok yang

ditanam seluruhnya dalam beton.

Ada beberapa alternatif lain untuk penghubung geser. Diantaranya rigid

(penghubung geser tipe-T atau blok), flexible (welded headed shear studs atau

penghubung paku berkepala dan penghubung geser berbentuk baja kanal), dan bond-

type (penghubung berbentuk lurus, bengkok atau spiral yang dibuat dari baja tulangan).

Tipe lain dari penghubung geser terbuat dari baut bermutu tinggi yang digunakan

dalam balok komposit .

Universitas Sumatera Utara


10

Alat penyambung geser yang umum digunakan dapat dilihat pada Gambar 2.1.

e) Alat penyambung baut

Gambar 2.1 Alat penyambung komposit yang umum


Sumber: Salmon, dkk, 1991

Universitas Sumatera Utara


11

2.4 Aplikasi Baut Angkur

Penggunaan baut angkur sebagai penghubung geser banyak digunakan

umumnya untuk peralatan mekanikal elektrikal seperti tiang listrik, AC, rambu lalu

lintas, furing plafon dan sebagainya. Belakangan ini para engineer banyak

mempergunakan angkur pada konstruksi, seperti: angkur pada retaining wall, angkur

pada tiang pedestal baja, dan pada sambungan-sambungan konstruksi baja. Baut

angkur yang digunakan sudah dipabrikasi dengan spesifikasi produk masing-masing

penyedia jasa. Baut angkur yang dibautkan pada stuktural harus diberi chemical anchor

sebagai bahan aditif agar daya rekat antara baut angkur dan struktural semakin kuat

dan mengurangi pull out pada sambungan tersebut. Produk bahan aditif yang biasanya

digunakan antara lain bermerk dagang Hilti, Ramset, Dia-Kress, Sormat, Simpson.

2.5 Klasifikasi Baut Angkur Pada Beton

Baut angkur dapat diklasifikasikan menjadi berbagai macam tipe klasifikasi,

salah satunya adalah pengklasifikasian pada cara pemasangannya. Menurut Wiston

Wayne Clendennen (1994), berdasarkan klasifikasi ini, angkur terbagi menjadi baut

angkur cor ditempat (cast-in-place) dan baut angkur dipasang (post-installed).

Berikut adalah sistem pembagian angkur:

1. Cast-in place, terdiri dari Headed, J&L Bolts, dan Studs.

2. Post-installed, terbagi atas:

2.1 Bonded, terbagi atas:

a. Adhesive, terdiri dari: Polymer dan Hybrid system.

Universitas Sumatera Utara


12

b. Grouted, terdiri dari : Cementitious dan Polymer.

2.2 Mechanical, terbagi atas:

a. Expansion.

b. Undercut.

2.5.1 Baut Angkur Cor Ditempat (cast–in–place)

Baut angkur tipe ini dipasang sesuai disain pada bagian struktur beton yang

akan di cor,sehingga penggunaannya hanya terbatas pada konstruksi baru. Berikut

beberapa tipe angkur cor di tempat, yaitu: headed bolt, L-bolt, J-bolt dan Headed stud.

2.5.2 Baut Angkur Dipasang (post-installed)

Baut angkur tipe ini dipasang pada beton yang telah mengeras atau beton

eksisting. Pemasangan tipe ini dapat digunakan pada konstruksi baru ataupun

rehabilitasi konstruksi lama. Berikut beberapa tipe angkur dipasang:

1. Expansion anchors terdiri dari: Torque-controlled expansion anchors;

deformation-controlled expansion anchors dan Displacement-controlled

expansion anchors.

2. Undercut anchors.

3. Bonded anchor terbagi atas: Adhesive dan Grouted anchors.

Berikut penjelasan dari masing – masing pembagian angkur:

1. Expansion Anchor

Angkur tipe ini sangat baik untuk digunakan di area yang memiliki rongga,

atau area yang sering mengalami getaran, seperti di stadium atau bangunan

Universitas Sumatera Utara


13

bandara. Expansion anchor didisain untuk mengembang setelah dipasang.

Setelah pemasangan, muncul gaya gesekan antara angkur dan beton yang

kemudian menimbulkan kekuatan gaya tarik angkur terhadap beton.

Expansion anchor terbagi atas dua tipe, yaitu: Torque controlled dan

Displacement controlled, yang dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Expansion anchors; (a) Torque-controlled, (b) Deformation


controlled

2. Undercut Anchor

Tipe angkur ini adalah tipe angkur yang cukup kuat dalam mengikat masing

– masing elemen dibandingkan tipe lainnya. Karena itu angkur ini biasa

digunakan di tempat-tempat yang beresiko, seperti: roller coaster, bangunan

tenaga nuklir, dan struktur lainnya yang menuntut keamanan tinggi. Angkur

ini biasa digunakan pada struktur beban dinamik dan perkuatan bangunan

gempa. Undercut anchor sangat kuat sehingga tidak akan runtuh terlebih

dahulu daripada betonnya, maka tipe ini lebih banyak dipilih oleh para

insinyur.

Universitas Sumatera Utara


14

Angkur ini terbagi dua, yaitu:

a. Undercut drilled bit, dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Undercut drilled bit anchor

b. Undercut drilled hole, dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Undercut drilled hole

3. Bonded Anchor

Bonded anchor dapat terbagi atas adhesive dan grouted anchor. Adhesive

anchor memerlukan adhesive chemical untuk pemasangannya sehingga

angkur akan mengikat dengan beton. Grouted anchor ditanam pada beton

yang sebelumnya telah dilubangi dengan langkah – langkah pemasangan

yang sama dengan adhesive anchor. Angkur tipe ini mengharuskan lubang

yang akan ditanam bersih dan kering agar kekuatan mengikat antara pasta,

angkur dan beton menjadi maksimal.

Perbedaan mendasar pada kedua tipe ini adalah jika diameter lubang sama

dengan 1 kali diameter angkur atau lebih kecil, maka dapat dikategorikan

Universitas Sumatera Utara


15

sebagai adhesive anchor, sebaliknya jika diameter lubang lebih besar

1 kali diameter angkur, maka dapat dikategorikan sebagai grouted anchor.

2.6 Kekuatan Baut Angkur Pada Beton

Mekanisme penyaluran gaya geser horizontal yang terjadi dari balok baja ke

pelat beton ditransfer seluruhnya oleh penghubung geser, dalam hal ini adalah angkur

besi beton. Yang mana kekuatan dan luas bidang kontak tulangan angkur beton tersebut

dengan beton sangat mempengaruhi kapasitas suatu angkur besi beton untuk dapat

mentransfer geser horizontal.

Pada Pedoman Perencanaan Lantai Jembatan Rangka Baja Dengan

Menggunakan CSP (Pd T-12-2005-B), disebutkan bahwa kekuatan sistem penghubung

geser dipengaruhi oleh beberapa hal seperti:

1. Jumlah penghubung geser.

2. Tegangan longitudinal rata-rata dalam pelat beton di sekeliling

penghubung.

3. Ukuran.

4. Penataan dan kekuatan tulangan pelat di sekitar penghubung.

5. Ketebalan beton di sekeliling penghubung.

6. Derajat kebebasan dari setiap dasar pelat untuk bergerak secara lateral dan

kemungkinan terjadinya gaya tarik ke atas (up lift force) pada penghubung.

7. Daya lekat pada antar muka beton-baja.

Universitas Sumatera Utara


16

8. kekuatan pelat beton dan tingkat kepadatan pada beton disekeliling pada

setiap dasar penghubung geser.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya deformasi pada

angkur besi beton yaitu: bentuk dan ukurannya, lokasinya pada balok, lokasi momen

maksimum, dan cara pemasangannya pada balok baja.

Dalam perencanaan pemasangan angkur besi beton pada beton, ACI mengenai

Anchorage to Concrete secara umum dapat menjadi acuan, peraturan lain dapat kita

adopsi dari European Organisation for Technical Approvals (EOTA) yang juga telah

menetapkan pedoman teknisnya “Guideline for European Technical Appropal of

Metal Anchors for Use in Concrete (ETAG-001)”.

Berbagai macam kegagalan yang mungkin terjadi diakibatkan oleh berbagai

pembebanan (tarik, geser) antara lain sebagai berikut: steel failure, pull-out failure,

concrete cone failure, splitting failure. Model keruntuhan dapat dilihat pada

Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Tipe Keruntuhan Angkur pada Beton

Universitas Sumatera Utara


17

2.6.1 Beban Tarik

Secara umum, beban tarik yang terjadi pada suatu angkur bisa dihitung

berdasarkan teori elastisitas menggunakan asumsi berikut:

1. Plat dari angkur haruslah kaku sehingga tidak akan berdeformasi sebelum

dibebani.

2. Kekakuan dan modulus elastisitas angkur sama dengan modulus elastisitas

baja.

3. Pada daerah yang tertekan, angkur tidak ikut menyalurkan gaya normal.

Jika besaran gaya tarik yang berbeda – beda ( ) diberikan pada masing –

masing angkur yang berada pada suatu grup angkur, maka eksentrisitas eN dari gaya

tarik grup ( ) harus diperhitungkan untuk mendapatkan kekuatan nominal grup

angkur.

2.6.2 Beban Geser

Berbeda dengan beban tarik, distribusi beban geser pada suatu pengangkuran

bergantung pada model keruntuhan yang terbagi atas:

1. Steel failure dan concrete pry-out failure.

Diasumsikan bahwa semua angkur dalam suatu grup pengangkuran akan

terkena gaya geser bila diameter angkur tidak lebih besar dari diameter

lubang angkur. Jika diameter angkur lebih kecil dari lubang angkur dalam

beton, maka di sela-sela rongga sisa harus diisi mortar atau bahan aditif.

Universitas Sumatera Utara


18

2. Concrete edge failure.

Pada model kegagalan ini, berdasarkan metode kesetimbangan, angkur di

bagian ujung dan saling paralel yang terkena gaya geser.

Jika besaran gaya geser yang berbeda – beda ( ) diberikan pada masing –

masing angkur yang berada pada suatu grup angkur, maka eksentrisitas e V dari gaya

tarik grup ( ) harus diperhitungkan sesuai Gambar 2.6 dan 2.7 untuk mendapatkan

kekuatan nominal grup angkur.

Gambar 2.6 Contoh distribusi beban ketika semua angkur diberi beban geser

Gambar 2.7 Contoh distribusi beban ketika hanya sebagian angkur yang mendapat
beban geser

2.6.3 Ketahanan terhadap beban tarik

Untuk mendapatkan kekuatan nominal angkur terhadap beban tarik berbeda –

beda dalam hal keruntuhannya. Berikut ketahanan beban tarik berdasarkan tipe

Universitas Sumatera Utara


19

keruntuhan menurut ETAG-001 (Annex C: Design Methods for Anchorage) sebagai

berikut:

1. Keruntuhan yang terjadi pada angkur.

, = (2.1)

2. Keruntuhan yang terjadi pada beton .

,
, = , Ψ , .Ψ , .Ψ , (2.2)
,

Dimana penjelasan untuk masing – masing variabel sebagai berikut:

a. Nilai awal ketahanan angkur untuk beton retak dan tidak retak.

.
, = . , .ℎ (2.3)

Dimana:

Fck,cube = kuat desak beton karakteristik kubus ukuran

150x150mm (N/mm2).

hef = kedalaman efektif baut angkur (mm).

k1 = 7.2 diaplikasikan pada beton yang retak.

k1 = 10.1 diaplikasikan pada beton yang tidak retak.

b. Pengaruh lebar dan jarak pada angkur terhadap beton.

c. Faktor Ψs,N mempengaruhi distribusi penyaluran tegangan pada beton.

Untuk pemasangan angkur dengan jarak yang berbeda-beda, jarak yang

paling dekat ke ujung beton yang perlu dimasukkan dalam perhitungan

kuat geser.

Ψ , = 0.7 + 0.3 ≤1 (2.4)


,

Universitas Sumatera Utara


20

d. Shell Spalling factor Ψre,N memberi pengaruh pada penulangan.

Ψ , = 0.5 + ≤1 (2.5)

Jika dalam area pengangkuran terdapat penulangan dengan jarak ≥ 150

mm (diameter berapa saja) atau dengan diameter ≤ 10 mm dan jarak ≥

100 mm, maka shell spalling factor Ψre,N =1.0 dapat diaplikasikan.

e. Faktor Ψec,N akan berpengaruh ketika beban tarik bekerja pada masing-

masing angkur dalam suatu grup.

Ψ , = ≤1 (2.6)
/ ,

2.6.4 Ketahanan Terhadap Beban Geser

Untuk mendapatkan kekuatan nominal baut angkur terhadap beban geser dapat

dihitung berdasarkan keruntuhannya. Berikut ketahanan beban geser berdasarkan tipe

keruntuhan menurut ETAG-001 (Annex C: Design Methods for Anchorage) sebagai

berikut:

1. Keruntuhan yang terjadi pada angkur.

, = 0.5 . (2.7)

2. Keruntuhan yang terjadi pada beton.

,
, = , Ψ , .Ψ , .Ψ , .Ψ , .Ψ , (2.8)
,

Dimana penjelasan untuk masing – masing variabel sebagai berikut:

a. Nilai awal ketahanan angkur untuk beton retak dan tidak retak.

.
, = . .ℎ . , . (2.9)

Universitas Sumatera Utara


21

Dimana:

Fck,cube = kuat desak beton kubus 150×150mm (N/mm2).

hef = kedalaman efektif baut angkur (mm).

dnom = diameter terluar baut angkur (mm).

k1 = 1.7 diaplikasikan pada beton yang retak.

k1 = 2.4 diaplikasikan pada beton yang tidak retak.


.
= 0,1 . (2.10)

.
= 0,1 . (2.11)

b. Faktor jarak antara angkur terluar dengan ujung beton dan ketebalan

beton mempengaruhi karakteristik beban.

Posisi angkur terluar dan ketebalan beton akan memberikan pengaruh

dalam disain suatu pemasangan angkur. Pengaruh posisi angkur terluar

ini akan berdampak pada kekuatan dari suatu proses pengangkuran.

Beberapa posisi beban posisi angkur dan ketebalan beton yang

diperhitungakan antara lain:

1. Posisi angkur dipinggir yang ideal pada beton.

2. Angkur tunggal diujung beton.

3. Grup dua buah angkur yang berada di ujung beton tipis.

4. Grup dari empat buah angkur yang berada di ujung beton tipis.

Universitas Sumatera Utara


22

Nilai perhitungan Ac,N yang berbeda-beda pada beban geser dapat

dilihat pada Gambar 2.8.

Gambar 2.8 Contoh luasan aktual Ac,N dari kerucut beton

c. Faktor Ψs,V mempengaruhi distribusi tegangan pada beton.

Seperti pada faktor jarak angkur terluar, posisi angkur dalam faktor Ψs,V

juga memberikan pengaruh. Pengaruh jarak tersebut tidak pada

karakteristik beton, akan tetapi akan mempengaruhi distribusi beban

pada beton. Untuk pengangkuran dengan jarak yang berbeda-beda,

jarak yang paling dekat ke ujung beton yang dimasukkan.

Ψ , = 0.7 + 0.3 .
≤1 (2.12)

Universitas Sumatera Utara


23

d. Faktor Ψh,V mempengaruhi kekuatan geser yang mana tidak akan

berkurang dikarenakan ketebalan beton yang diasumsikan dengan rasio

, ⁄ , .

. /
Ψ , = ≥1 (2.13)

e. Faktor Ψα,V berpengaruh pada sudut αV diantara beban yang diberikan,

Vsd, dan tegak lurus terhadap beton terluar seperti pada Gambar 2.9.

Ψ , = ≥1 (2.14)
( )
.

Gambar 2.9 Angkur yang dibebani oleh beban yang arahnya bersudut

f. Faktor Ψec,V berpengaruh ketika besar gaya geser yang berbeda-beda

bekerja pada masing – masing angkur dalam satu grup.

Ψ , = ≤1 (2.15)
/( )

g. Faktor Ψre,V berpengaruh terhadap tipe penulangan yang digunakan

pada beton yang retak.

Ψre,V = 1.0 untuk pengangkuran pada beton retak dan tidak retak

tanpa penulangan ujung.

Universitas Sumatera Utara


24

Ψre,V = 1.2 untuk pengangkuran pada beton retak dengan

penulangan ujung (≥ Ø12 mm).

Ψre,V = 1.4 untuk pengangkuran pada beton retak dengan

penulangan ujung (a ≤ 100 mm).

Untuk angkur multiple atau angkur dalam satu grup, jarak minimum angkur

harus diperhatikan. Angkur yang tidak memenuhi jarak minimum akan mengalami

kerusakan yang berlapis seperti pada Gambar 2.10.

Gambar 2.10 Efek grup angkur

2.7 Besi Beton

2.7.1 Definisi dan Komposisi Besi Beton

Penelitian dalam tesis ini menggunakan penghubung geser dari besi beton.

Maka itu penulis membahas sedikit mengenai besi beton, jenis – jenisnya, dan juga

komposisinya terlebih dahulu.

Besi beton biasa dikenal dengan baja tulangan beton, merupakan baja yang

berbentuk bulat sebagai fillet pada penampang beton dengan bahan dasar terbuat dari

Universitas Sumatera Utara


25

billet. Bahan baku dari billet ini sendiri adalah tua, skrap, serta bahan penolong seperti

kokas, grafit, lime, ferro alloys yang dilebur dengan berbagai metode. Bahan penolong

tadi digunakan untuk mendapatkan unsur carbon (C), Si (silicon), Mn (Mangan) yang

akan sangat berpengaruh pada kualitas besi beton.

Besi beton ini adalah sejenis logam yang kini banyak digunkana didalam

pembuatan gedung-gedung, rumah, pabrik dan lain sebagainya. Dimana sifat besi

beton ini sangat kuat untuk menahan hasil coran, cetakan dan bersifat ulet.

2.7.2 Jenis Besi Beton

Berdasarkan bentuknya, baja tulangan beton dibedakan menjadi 2 (dua) jenis

yaitu:

1. Baja tulangan beton polos

Baja tulangan beton polos adalah baja tulangan beton berpenampang

bundar dengan permukaan rata dimana permukaan sekelilingnya tidak

bersirip disingkat BjTP, seperti pada Gambar 2.11.

Gambar 2.11 Besi Beton Polos SNI 10 mm

2. Baja tulangan beton sirip.

Universitas Sumatera Utara


26

Baja tulangan beton sirip adalah baja tulangan beton dengan bentuk khusus

yang permukaannya memiliki sirip melintang dan rusuk memanjang yang

dimaksudkan untuk meningkatkan daya lekat dan guna menahan gerakan

membujur dari batang secara relatif terhadap beton disingkat BjTS, seperti

pada Gambar 2.12.

Gambar 2.12 Besi beton ulir

Beberapa bentuk baja tulangan beton sirip, yaitu:

a. Jenis Bambu (Bamboo type).

Tulangan jenis ini memiliki sirip-sirip seperti pada ruas-ruas pohon

bambu, seperti pada Gambar 2.13.

Gambar 2.13 Baja tulangan beton sirip jenis bamboo

b. Jenis tulangan ikan (Fish bone type)

Tulangan jenis ini memiliki sirip-sirip seperti pada ruas-ruas ikan, dapat

dilihat pada Gambar 2.14.

Gambar 2.14 Baja tulangan beton sirip jenis tulangan ikan

Universitas Sumatera Utara


27

c. Jenis sirip curam (Tor type)

Tulangan jenis ini memiliki sirip-sirip yang curam, seperti pada Gambar

2.15.

Gambar 2.15 Baja tulangan beton sirip jenis sirip curam

2.7.3 Persyaratan Mutu

Sifat fisik dari besi beton adalah:

1. Tidak boleh mengandung serpihan, lipatan, retakan,gelombang.

2. Hanya diperkenankan berkarat ringan pada permukaan.

Ditinjau dari bentuknya terbagi atas:

1. Baja tulangan beton polos, harus rata dan tidak mempunyai sirip.

2. Baja tulangan beton sirip.

a. Sirip harus teratur serta usuk memanjang yang searah dan sejajar

dengan sumbu batang.

b. Terdapat sirip-sirip lain arah melintang sumbu batang.

c. Sirip-sirip melintang harus mempunyai bentuk, ukuran dan jarak yang

sama.

d. Sirip melintang tidak boleh membentuk sudut < 450 terhadap sumbu

batang.

Universitas Sumatera Utara


28

e. Apabila mempunyai sudut 450 < α < 700, arah sirip melintang pada satu

sisi atau kedua sisi dibuat berlawanan.

f. Bila α > 700, sirip arah yang berlawanan tidak diperlukan.

2.7.4 Sifat Mekanis

Sifat mekanis baja berbeda antara baja tulangan beton polos dengan baja

tulangan beton sirip. Untuk mengetahui perbedaan sifat mekanis tersebut, maka

dilakukan beberapa pengujian dan didapat hasil masing-masing dari baja tulangan beton

polos dan baja tulangan beton sirip.

1. Sifat mekanisme baja tulangan beton polos.

Setelah dilakukan beberapa pengujian terhadap baja tulangan beton polos,

baja tulangan ini diklasifikasikan menjadi dua kelas. Dimana pengujian

yang dilakukan meliputi uji tarik dan uji lengkung. Hasil klasifikasi dan

pengujian dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Properti besi beton polos


Uji Tarik Uji Lengkung

Kelas Nomor
Batas
Baja Batang Kuat tarik
ulur Regangan Sudut Diameter
Tulangan Uji Kgf/mm2
Kgf/mm2 (%) lengkung Lengkung
(N/mm2)
(N/mm2)

No.2 20
Minimum Minimum
BjTP 24 1800 3xd
24 (235) 39 (380)
No.3 24

d > 16 =
No.2 Minumum 18
Minimum 3xd
BjTP 30 30 1800
45 (440) d > 16 =
No.3 (295) 20
4xd

Universitas Sumatera Utara


29

2. Sifat mekanisme baja tulangan beton sirip.

Pada baja tulangan beton sirip juga dilakukan pengujian yang sama dengan

baja tulangan beton polos. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Properti besi beton sirip


Uji Tarik Uji Lengkung

Kelas Nomor Batas ulur Kuat tarik Regangan Sudut Diameter


Baja Batang Kgf/mm2 Kgf/mm2 (%) Lengkung Lengkung
Tulangan Uji (N/mm2) (N/mm2)

BjTS No.2 Minimum 30 Minimum 45 18 1800 d < 16 =


30 (295) (490) 3xd
d > 16 =
No.3 20
4xd
BjTS No.2 Minimum 30 Minimum 50 18 1800 d > 16 =
35 (345) (490) 3xd
No.3 20 16 <d<40
=4xd
BjTS No.2 Minimum 40 Minimum 57 16 1800 5xd
40 (390) (500)
No.3 18

BjTS No.2 Minimum 50 Minimum 57 12 1800 d < 25 =


50 No.3 (490) (620) 14 5xd
d > 25 =
6xd
Catatan : Batang uji Tarik no.2 untuk diameter < 25 mm dan batang uji Tarik no.3 untuk
diameter > 25 mm.

2.8 Beberapa Penelitian Terdahulu

Berikut penelitian – penelitian sebelumnya yang banyak membahas tentang

angkur pada beton dan memiliki relevansi terhadap eksperimen yang akan dilakukan

dan dapat dijadikan pertimbangan dalam proses penulisan ini.

Universitas Sumatera Utara


30

Anton Rieder (2008), membahas tentang retrofitting structure menggunakan

bonded anchor dan undercut anchor yang dipasang pada balok dan kolom suatu

struktur beton dalam suatu percobaan, kemudian di uji menggunakan shake table test

dan didapat bahwa pembebanan geser siklik dengan penambahan amplitudo akan

menunjukkan beban ultimit dan redaman histeretik bergantung pada tipe angkur,

dimana untuk sleeve type menunjukkan kemampuan lebih besar dalam menahan beban

ultimit pada tes monotonik daripada bolt type. Pada kasus pembebanan aksial dan

pembebanan geser, tipe undercut anchor menghasilkan deformasi yang lebih kecil dari

bonded anchor. Tujuan mengetahui perilaku angkur terhadap kondisi gempa ini

nantinya berguna untuk menghitung ketahanan antara beton eksisting dengan elemen

tambahannya.

Iswandi (2013), melakukan eksperimen terhadap angkur pada sambungan

kolom beton baja. Eksperimen pada angkur yang ditanam memiliki pola seri dan

gabungan seri dan paralel. Hasil eksperimen pada pola paralel adalah keruntuhan

terjadi pada angkur saat beban ultimitnya tercapai. Untuk pola seri diketahui kekuatan

geser pada angkur paling bawah adalah yang paling kecil sehingga disimpulkan bahwa

pola pengangkuran seri ini dapat menurunkan kemampuan struktur secara keseluruhan

dalam menahan beban. Sedangkan pada pola gabungan seri dan paralel diketahui

bahwa distribusi beban yang terjadi tidak merata pada pada masing – masing angkur

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai