0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan44 halaman

Pengaruh Terhadap Kinerja Keuangan Perbankan Syariah Di Indonesia

Penelitian ini menguji pengaruh modal intelektual terhadap kinerja keuangan perbankan syariah di Indonesia, dengan fokus pada komponen-komponen modal intelektual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen modal intelektual tidak memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan perbankan syariah saat ini maupun di masa depan. Penelitian ini menekankan perlunya perbankan syariah untuk mengadopsi manajemen berbasis pengetahuan untuk meningkatkan kinerja keuangan.

Diunggah oleh

rinifikariaharahap
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan44 halaman

Pengaruh Terhadap Kinerja Keuangan Perbankan Syariah Di Indonesia

Penelitian ini menguji pengaruh modal intelektual terhadap kinerja keuangan perbankan syariah di Indonesia, dengan fokus pada komponen-komponen modal intelektual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen modal intelektual tidak memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan perbankan syariah saat ini maupun di masa depan. Penelitian ini menekankan perlunya perbankan syariah untuk mengadopsi manajemen berbasis pengetahuan untuk meningkatkan kinerja keuangan.

Diunggah oleh

rinifikariaharahap
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan

Perbankan Syariah Di Indonesia


Nurdina Sureta1), Kamaludin2), Paulus S. Kananlua3)
Mahasiswa PS Magister Manajemen, Universitas Bengkulu1)
Dosen PS Magister Manajemen, Universitas Bengkulu2)3)
Corresponding Author kamaludin@[Link]

Abstract: The objectives of this research is to test the effect of Intellectual Capital components on the
financial performance of Syariah banking, to verify the Intellectual Capital component with the most
significant effect on the financial performance of Syariah banking, and also to verify the role of the
average growth of Intellectual Capital in the financial performance of Syariah banking in Indonesia.
The population of this study were all of Syariah public banking (BUS) which were listed in BEI from
2014-2018. The type of research used in this study was applied research. The sampling type employed
was purposive sampling. Through purposive sampling, 10 banking companies were taken as samples
with a total of 50 research observations. This study found that Intellectual Capital components did not
at all have positive effects on both the financial performance and the increase of financial performance
of Syariah banking in the present and future, and the average growth of Intellectual Capital will not all
affect the financial performance of Syariah banking in the future.

Keywords: Intellectual Capital, Financial Performance, Syariah Banking

Pendahuluan
Dalam Akuntansi, IC dikategorikan masuk dalam Intangible Asset (aset
tidak berwujud). Hal ini dilihat faktanya masih sedikit perusahaan yang mempunyai
perencanaan karir untuk semua karyawan sudah lama mengorbankan dirinya pada
perusahaan. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam penilaian dan pengukuran
Intangible Asset tersebut adalah IC yang telah menjadi fokus perhatian dalam bidang
baik manajemen dan akuntansi.
Menurut Rivai (2010), SDM yang berkualitas cenderung memiliki
kemampuan yang sangat besar jika dikembangkan, selain itu pada dasarnya mereka
memiliki sifat yang dinamis dan bergerak, maju, tumbuh dan berkembang. Pada masa
sekarang IC memang masih baru dan belum banyak ditanggapi oleh pengelola bisnis
global, namun secara umum adanya perbedaan antara nilai buku dengan nilai pasar
saham menunjukkan adanya missing value berupa IC.
Kondisi tersebut menurut Widiyaningrum (2004) mengindikasikan bahwa

92
pentingnya penilaian terhadap jenis aktiva tak berwujud tersebut, misalnya IC.
Selanjutnya, perusahaan-perusahaan tersebut belum bisa memberikan perhatian yang
lebih terhadap human capital, structural capital, dan customer capital.
Sedangkan hal tersebut merupakan bagian dari pembangun modal intelektual
perusahaan.
Penjelasan hal di atas bisa diperoleh karena kurangnya informasi mengenai
modal intelektual di Indonesia. Hal ini akan memaksa terciptanya produk-produk
yang bertambah menarik di mata konsumen. Keterbatasan laporan keuangan dalam
menjelaskan nilai perusahaan menunjukkan beberapa fakta bahwa sumber nilai
ekonomi tidak lagi didasarkan pada produksi barang-barang material, tetapi pada
kepada penciptaan modal intelektual, modal intelektual yang terdiri modal sumber
daya manusia (SDM) dan modal struktural yang terwujud dalam aspek pelanggan,
proses, database, merek, dan system, telah menciptakan peranan yang lebih penting
dalam menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan yang berkesinambungan
(Chen, 2005). Hal ini mampu membuat suatu tantangan para akuntan dalam
mengidentifikasi, mengukur dan mengungkapkannnya dalam pelaporan keuangan.
Dalam PSAK 19 (revisi 2000) secara implisit menyinggung tentang IC telah
mulai sejak tahun 2000, namun dalam prakteknya IC masih kurang dikenal secara
luas di Indonesia (Abidin, 2007:82). Perusahaan – perusahaan di Indonesia juga
cenderung menggunakan conventional based dalam menciptakan bisnisnya. Hal ini
produk yang dihasilkan masih kurang dalam kandungan teknologi (Abidin, 2000 :
77). Di samping itu perusahaan tersebut juga belum dapat menunjukkan perhatian
lebih terhadap human capital, structural capital, dan customer capital, akan tetapi hal
tersebut merupakan bagian pembangun IC perusahaan (Sawarjuwono, 2003).
Pengukuran IC secara langsung cenderung tidak mudah, hal ini menyebabkan
keberadaannya didalam perusahaan sulit untuk dipahami dan diketahui.
Pulic (1998) mengungkapkan bahwa tujuan utama dalam ekonomi yang
berbasis pengetahuan adalah untuk menciptakan nilai tambah. Sedangkan untuk dapat

93
menciptakan nilai tambah dibutuhkan ukuran yang tepat mengenai physical capital
dan intellectual potential (direpresentasikan oleh karyawan dengan segala potensi dan
kemapuan yang melekat pada mereka). Pulic (1998) juga mengungkapkan bahwa
kapabilitas intelektual yang kemudian disebut dengan VAIC™ menunjukkan
bagaimana kedua sumber daya tersebut (physical capital dan intellectual potential)
telah dimanfaatkan oleh perusahaan secara efisien.
Kategori VAIC yang termasuk value creation efficiency analysis merupakan
suatu indikator yang digunakan dalam menghitung efisiensi nilai yang diperoleh dari
perusahaan dengan cara mengestimasi CEE (capital employed efficiency), HCE
(human capital efficiency), dan SCE (structural capital efficiency). Ulum (2007)
mengungkapkan bahwa di Indonesia untuk penelitian yang menggunakan secara
khusus tentang VAIC sebagai proksi atas IC belum banyak ditemukan.
Penelitian yang mengkaji hubungan VAIC dengan kinerja perusahaan juga
masih jarang. Menurut Firer dan William (2003), sektor perbankan dipilih karena
industri perbankan adalah salah satu komponen sektor yang paling intensif IC nya .
Selain itu, menurut Ulum (2007) aspek intelektual, secara keseluruhan karyawan
disektor perbankan lebih homogen dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya.
Penilaian kinerja bisnis dapat mempengaruhi keberlanjutan perusahaan di masa depan
sehingga dapat berkembang serta meningkatkan kerjasama antara perusahaan satu
dengan perusahaan yang lainnya. Keterbatasan pada laporan keuangan dalam
menjelaskan nilai perusahaan menunjukan bahwa fakta dari sumber nilai ekonomi
tidak lagi didasarkan pada produksi barang material tetapi pada penciptaan modal
intelektual.
Chen (2005) mengungkapkan bahwa IC yang terdiri atas sumber daya modal
manusia dan modal struktural yang terwujud dalam aspek pelanggan, proses,
database, merk dan sistem. Sumber daya tersebut dapat memicu suatu tantangan bagi
para akuntan untuk dapat mengidentifikasi, mengukur dan mengungkapkannya dalam
financial performance. Firer dan William (2003) mengungkapkan bahwa industri

94
perbankan merupakan salah satu sektor yang memiliki IC paling intensif. Jika dilihat
dari sudut pandang intelektual, secara keseluruhan karyawan di sektor perbankan
lebih homogen dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya (Abidin, 2007).
Selama lima tahun terakhir terdapat penurunan kinerja keuangan perbankan
syariah. Hal ini ditunjukkan oleh nilai ROA Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit
Usaha Syariah (UUS) yang tidak hanya mengalami kenaikan, tetapi juga mengalami
penurunan. Pada Statistik Perbankan Syariah tahun 2018 dapat dilihat bahwa pada
tahun 2014, ROA BUS dan UUS menunjukkan angka 1,67. Pada tahun 2014 dan
2015, ROA mengalami peningkatan menjadi 1,79 dan 2,14. Mulai pada tahun 2016
mengalami penurunan sampai dengan tahun 2017. Tapi ditahun 2018 ROA
mengalami kenaikan kembali sebesar 2.00 persen.
Perbankan syariah perlu untuk meningkatkan strategi yang dijalankan.
Perbankan syariah perlu mengubah pola manajemen perusahaan dari pola
manajemen berdasarkan tenaga kerja (labor based business) menjadi pola
manajemen berdasarkan pengetahuan (knowledge based business). Pola manajemen
berdasarkan pengetahuan mendorong perusahaan untuk dapat mengelola IC secara
efektif. IC merupakan bagian dari aset tidak berwujud yang dimiliki perusahaan.
Aset tidak berwujud perusahaan seperti IC memiliki potensi untuk meningkatkan
nilai tambah perusahaan.
Pengukuran IC belum secara khusus ditetapkan secara pasti. Pertemuan forum
Organisation For Economic Co Operation and Development (OECD) pada bulan Juni
1999 menyebutkan bahwa IC merupakan aset yang penting bagi perusahaan dalam
menciptakan nilai dan memenangkan nilai (value). Di Indonesia, IC diatur dalam
banyaknya perbankan syariah yang belum menjalankan bisnis sesuai prinsip syariah
merupakan salah satu masalah yang menyebabkan perkembangan perbankan syariah
terhambat. Perlu digaris bawahi bahwa perbankan syariah memiliki perbedaan dengan
perbankan konvensional, dan dikarenakan terdapat banyak perbankan syariah yang
belum menjalankan bisnis sesuai dengan prinsip syariah, maka terdapat masalah pula

95
pada ketersediaan produk dan standarisasi produk perbankan syariah. Melihat adanya
masalah ketidaksesuaian pelaksanaan dengan prinsip syariah, maka dari itu
perbankan syariah perlu diukur dari segi tujuan syariah.
Dengan begitu, akan diketahui apakah kinerja perbankan yang telah dijalankan
sesuai dengan prinsip syariah dapat meningkatkan kinerja keuangan syariah.
Penelitian yang berkaitan dengan IC telah dilakukan oleh Astuti dan Sabeni
(2005) yang menguji hubungan IC terhadap kinerja perusahaan di Jawa Tengah
dengan menggunakan instrument kuesioner yang dibentuk oleh (N. Bontis, 1998).
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa (1) Human capital memiliki hubungan
positif dan signifikan terhadap customer capital; (2) Human capital memiliki
hubungan positif dan signifikan terhadap structural capital; (3) Customer capital
berhubungan positif dan tidak signifikan dengan business performance; dan (4)
Structural capital berhubungan positif dan signifikan dengan business performance.
Ulum (2007) menguji pengaruh IC terhadap terhadap kinerja keuangan
perusahaan perbankan. Berdasarkan hasil pengujian dengan PLS dapat diketahui
bahwa secara statistik (baik nilai t-statistics seluruh path antara VAIC dan PERF
maupun nilai R-square) terbukti terdapat pengaruh IC (VAICTM) terhadap kinerja
keuangan perusahaan selama tiga tahun pengamatan 2004-2006.
Permasalahan yang paling dominan yaitu bagaimana kualitas kinerja bank
syariah yang ada, dimana Bank syariah harus dapat memberi kegunaan yang
maksimal bagi masyarakat. Peranan dan tanggung jawab bank syariah tidak hanya
terbatas pada kebutuhan akan keuangan dari berbagai pihak yang bekepentingan,
akan tetapi kepastian seluruh aktivitas yang dilaksanakan oleh bank syariah harus
sesuai dengan prinsip syariah yang berlaku di Indonesia (Hameed, Wirman, Alrazi,
Nazli, & Pramono, 2004). Penelitian yang secara khusus menggunakan VAIC™
sebagai proksi atas IC masih belum konsisten hasilnya. Penelitian ini dilakukan untuk
menguji pengaruh IC yang diproksikan dengan VAIC™ terhadap kinerja keuangan
perusahaan pada sektor perbankan syariah di Indonesia.

96
Tinjauan Pustaka
Modal Intelektual (Intellectual Capital)
Secara khusus modal intelektual adalah ilmu pengetahuan atau daya pikir,
yang dimliki oleh perusahaan, tidak memiliki bentuk fisik, dengan adanya modal
intelektual tersebut perusahaan mendapatkan tambahan keuntungan atau
kemapanan proses usaha serta memberikan perusahaan suatu nilai lebih
dibanding dengan kompetitor atau perusahaan lain (Puspita, 2011). Modal
intelektual adalah sebuah istilah yang diberikan untuk dapat mengkombinasikan asset
yang tidak berwujud (intangible asset). Pada penelitian ini konsep IC diusulkan
berdasarkan penelitian Edvinson (1997), Stewart (1998), Bontis (2002), Ting dan
Lean (2009) yang mengelompokkan IC ke dalam 3 (tiga) bagian, yaitu: 1. Human
capital (HC), 2. Structural capital (SC), 3. Relational capital (RC) atau customer
capital (CC).
Klasifikasi Intellectual Capital (IC)
Pengungkapan model secara empiris dalam lingkup penelitian ini sesuai
konsep Balanced Scorecard (Kaplan dan Norton, 1992), the value platform model
(Petrash, 1996), the intangible asseets monitor (Sveiby, 1997), dan VAIC (Pulic,
1998). Model VAIC yang diungkapkan oleh Pulic (1998) adalah model empiris yang
dijadikan acuan dalam penelitian ini dan dijabarkan secara lebih detail pada Tabel 1.

Tabel 1 Kerangka Kerja Pengklasifikasian IC


Dikembangkan Oleh Kerangka Kerja Klasifikasi
Kaplan dan Norton Balanced Scorecard Internal process perspectives
(1992) Customer perspectives
Learning and growth perspectives
Financial perspectives
Petrash (1996) Value Platform Human capital
Customer capital
Organisational capital

97
Edvinsson dan Malone Skandia Value Human capital
(1997) Scheme Structural capital
Customer Capital
Sveiby (1997) Intangible Asset Internal structure
Monitor External structure
Competence of personnel
Lowendahl (1997) ClassifICation of Competence
Resources Relational
Haanes dan Lowendahl ClassifICation of Competence
(1997) Resources Relational
Danish Confederation of Three categories of People
Trade Unions (1999) “Knowledge” System
Market
Pulic (1999) VAIC™ EffICiency of human capital
Structural capital effICiency
Capital employed effICiency
Sumber: Brennan dan Connell (2000); Petty dan Guthrie (2000); Pulic (1999)

Stakeholder Theory
Teori stakeholder diungkapkan oleh Freeman dan Reed (1983) yang
menyatakan bahwa stakeholder adalah any identifiable group or individual who can
affect the achievement of an organisation’s objectives, or is affected by the
achievement of an organisation’s objectives. Berdasarkan teori stakeholder tersebut,
manajemen organisasi diharapkan dapat melakukan aktivitas yang dianggap penting
oleh stakeholder dan melaporkan kembali aktivitas-aktivitas tersebut pada
stakeholder. Teori ini mengungkapkan bahwa seluruh stakeholder memiliki hak
untuk disediakan informasi tentang bagaimana aktivitas organisasi mempengaruhi
mereka, misalnya sponsorship dan inisiatif prosedur keamanan.
Tujuan utama dari teori stakeholder adalah untuk membantu manajer memahami
lingkungan bisnis dan melakukan pengelolaannya dengan lebih efektif di lingkungan
perusahaan mereka. Secara umum tujuan yang lebih luas dari teori stakeholder adalah

98
untuk membantu manajer dalam meningkatkan nilai dari dampak aktifitas-aktifitas
mereka, dan meminimalkan kerugian-kerugian bagi stakeholder. Secara khusus
pembahasan teori stakeholder terletak pada apa yang akan terjadi ketika korporasi
dan stakeholder menjalankan hubungan mereka.
Dalam konteks penelitian ini, teori stakeholder lebih tepat digunakan sebagai
basis utama untuk menjelaskan hubungan VAIC™ dengan kinerja perusahaan. Dalam
pandangan teori stakeholder, perusahaan memiliki stakeholders, bukan sekedar
shareholder (Riahi-Belkaoui, 2003). Kelompok-kelompok „stake’ tersebut, menurut
Riahi-Belkaoui, meliputi pemegang saham, karyawan, pelanggan, pemasok, kreditor,
pemerintah, dan masyarakat. Konsensus yang berkembang dalam konteks teori
stakeholder adalah bahwa laba akuntansi hanyalah merupakan ukuran return bagi
pemegang saham (shareholder), sementara value added adalah ukuran yang lebih
akurat yang diciptakan oleh stakeholders dan kemudian didistribusikan kepada
stakeholders yang sama (Meek dan Gray, 1988).

Legitimacy Theory
Teori legitimasi berhubungan erat dengan teori stakeholder. Teori legitimasi
menyatakan bahwa organisasi secara berkelanjutan mencari cara untuk menjamin
operasi mereka berada dalam batas dan norma-norma yang berlaku pada kelompok
masyarakat (Deegan, 2004). Menurut Deegan (2004), dalam perspektif teori
legitimasi, suatu perusahaan akan secara sukarela melaporkan aktifitasnya jika
manajemen menganggap bahwa hal ini adalah yang diharapkan komunitas.
Teori legitimasi sangat erat berhubungan dengan pelaporan IC dan juga erat
hubungannya dengan penggunaan metode content analysis sebagai ukuran dari
pelaporan tersebut. Perusahaan sepertinya lebih cenderung untuk melaporkan IC
mereka jika mereka memiliki kebutuhan khusus untuk melakukannya. Hal ini
mungkin terjadi ketika perusahaan menemukan bahwa perusahaan tersebut tidak

99
mampu melegitimasi statusnya berdasarkan tangible assets yang umumnya dikenal
sebagai simbol kesuksesan perusahaan.
Teori legitimacy menempatkan persepsi dan pengakuan publik sebagai
dorongan utama dalam melakukan pengungkapan suatu informasi di dalam laporan
keuangan. Pada penelitian ini teori legitimacy menjadi pijakan kedua dalam
mendasari penelitian ini. Menurut pandangan teori legitimacy, perusahaan akan
terdorong untuk menunjukkan kapasitan IC-nya dalam laporan keuangan untuk
memperoleh legitimasi dari publik atas kekayaan intelektual yang dimilikinya.
Pengakuan legitimasi publik ini menjadi penting bagi perusahaan untuk
mempertahankan eksistensinya dalam lingkungan sosial perusahaan.
Ingtangible Assets
Bukh (2003) mengungkapkan bahwa IC dan aset tidak berwujud adalah sama
dan seringkali saling menggantikan (overlap). Sementara peneliti lainnya (misalnya:
Edvinsson dan Malone, 1997; Boekestein, 2006) menyatakan bahwa IC adalah bagian
dari aset tidak berwujud (intangible assets). Paragraph 08 PSAK 19 (revisi 2000)
mendefinisikan aktiva tidak berwujud sebagai aktiva non-moneter yang dapat
diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam
menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya,
atau untuk tujuan administratif.
Value Added Intellectual Capital (VAIC)
VAIC merupakan alat ukur kinerja IC perusahaan, metode ini memiliki
keunggulan karena data yang dibutuhkan relatif mudah diperoleh dari berbagai
sumber dan jenis perusahaan. Data yang dibutuhkan untuk mengukur berbagai rasio
tersebut adalah angka-angka keuangan yang standar yang umumnya tersedia dari
laporan keuangan perusahaan (Ulum, 2007).
Karakteristik Bank Syariah
Bank syariah di Indonesia adalah sebuah transformasi dan pengembangan dari
bank modern yang didasarkan pada hukum Islam yang sah yang dikembangkan pada

100
abad pertama Islam dengan menggunakan konsep berbagi resiko sebagai metode
utama dan meniadakan keuangan berdasarkan kepastian serta keuntungan yang di
tentukan sebelumnya (Schaik, 2001). Dalam UU No.21 tahun 2008 tentang
perbankan Syariah di Indonesia. Dijelaskan bahwa bank syariah dibagi menjadi 3
Jenis:
1) Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya memberikan
Jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2) Unit Usaha Syariah adalah unit kerja dari kantor pusat Bank Umum
Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang
melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau unit kerja di
kantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri yang
melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor
induk dari kantor cabang pembantu syariah dan/atau unit syariah.
3) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yaitu Bank Syariah yang dalam kegiatannya
tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Kinerja Keuangan Bank Syariah Masa Sekarang
Pengukuran kinerja keuangan bank umum syariah masa kini merupakan
gabungan formulasi dari rasio-rasio bank umum syariah yang dihitung berdasarkan
metode VAIC (Pulic, 1998), untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
PERT = PSR+ZPR+EDR
Kinerja Keuangan Bank Syariah Masa Depan
Pengukuran kinerja keuangan bank umum syariah masa depan hampir sama
dengan pengukuran kinerja keuangan masa kini, adapun perbedaan pengukuran
kinerja keuangan masa depan yaitu dengan menggunakan t+1 yang berarti periode
tahun selanjutnya, yang dapat dijelaskan seperti berikut:
PERFt+1 = PSRt+1+ZPRt+1+EDRt+1

101
Pengembangan Hipotesis Penelitian
Pengaruh IC (VAIC™) terhadap Kinerja Keuangan Perbankan Syariah
Penelitian ini menggunakan sebuah indeks yang dinamakan Islamicity Index
yang dikembangkan oleh Hameed (2004), sehingga kinerja dari lembaga keuangan
Islam dapat benar-benar diukur. Dengan menggunakan VAIC yang diformulasikan
oleh Pulic (2000) sebagai ukuran kemampuan intelektual perusahaan (corporate
intellectualability), diajukan hipotesis sebagai berikut.
H1: Komponen-komponen dalam IC (VAIC) berpengaruh positif terhadap kinerja
keuangan perbankan syariah di masa kini.
Pengaruh IC (VAIC™) terhadap Kinerja Keuangan Perbankan Syariah Masa
Depan
Chen et al. (2005) mengungkapkan bahwa IC (VAIC™) dapat menjadi salah
satu indikator untuk memprediksi kinerja perusahaan di masa mendatang. Senada
dengan Chen et al. (2005), Tan et al. (2007) menunjukkan hasil yang signifikan
adanya pengaruh IC (VAIC™) terhadap kinerja perusahaan masa depan. IC
(VAIC™) dapat merupakan indikator yang paling tepat untuk memprediksi kinerja
keuangan perusahaan di masa mendatang (Bontis dan Fitz-enz, 2002). Untuk menguji
kembali proposisi tersebut, maka hipotesis kedua penelitian ini adalah:
H2: Secara khusus komponen-komponen pembentuk IC (VAIC™) berpengaruh
positif terhadap peningkatan kinerja keuangan perbankan syariah di masa
depan.
Pengaruh IC (VAIC™) terhadap Kinerja Keuangan Perbankan Syariah Masa
Mendatang
Jika perusahaan yang memiliki IC (VAIC) lebih tinggi akan cenderung
memiliki kinerja masa datang yang lebih baik, maka logikanya, rata – rata
pertumbuhan dari IC (rate of growth of IC – ROGIC) juga akan memiliki hubungan
positif dengan kinerja keuangan masa depan. Penelitian Tan et al. (2007) telah
membuktikan bahwa ROGIC memiliki pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan

102
di masa mendatang. Temuan ini memperkuat penganjur IC sebagai sarana kompetisi
dan bahwa perusahaan harus mengelola dan meningkatkan IC-nya untuk
mempertahankan posisi kompetitifnya (Bontis, 1998; Brennan dan Connell, 2000).
Hipotesis ketiga yang diuji dalam penelitian adalah:
H3: Rata-rata pertumbuhan IC (ROGIC) berpengaruh positif terhadap kinerja
keuangan perbankan syariah masa depan.

Kerangka Analisis

Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dengan menggunakan Intellectual


Capital yang diukur dengan model VAIC sebagai variabel independen. Dalam
Metode VAIC (Value Added Intellectual Coefficient) yang dikembangkan oleh Pulic
(1998) disajikan informasi yang berkaitan tentang efisiensi nilai tambah dari aset
berwujud (tangible asset) dan aset tidak berwujud (intangible asset) yang dimiliki
perusahaan. Tan et al., (2007) mengungkapkan komponen utama ini terdiri dari VAIC
dapat dilihat dari sumberdaya perusahaan, yaitu physical capital (VACA), human
capital (VAHU), dan relational capital atau structural capital (STVA). Kerangka
analisis dalam penelitian ini seperti gambar 1 berikut:

Variabel independen Variabel dependen

IC (VAIC) Kinerja Keuangan Perbankan


VACA Syariah Masa Kini (PERF)
VAHU H1
STVA
H2

Rate of growth of Kinerja Keuangan Perbankan


intellectual capital
H3 Syariah Masa Depan (PERF+1)
(ROGIC)

Gambar 1. Kerangka Analisis

103
Pada penelitian ini kinerja keuangan perbankan syariah diukur menggunakan
index yang dikembangkan oleh Hameed et al. (2004) yaitu indeks kinerja keuangan
syari‟ah sebagai variabel dependen. Islamicity Index tersebut terdiri dari tujuh rasio
yaitu Profit Sharing Ratio (PSR), Zakat Performance Ratio (ZPR), Equitable
Distribution Ratio (EDR), Income Vs Non Islamic Income, Islamic Investment Vs
Non Islamic Investment Islamic ratio. AAOFI index dan Welfare Ratio.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian konfirmatori dengan menggunakan
analisis kuantitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dengan cara dokumentasi dan data panel. Data panel merupakan gabungan
antara data individual (cross sectional) dan data berkala (time series). Periode
pengamatan yang diambil oleh peneliti adalah 5 (lima) tahun, yaitu tahun 2014 -
2018 menggunakan data triwulan dengan sampel yang digunakan sebanyak 10 Bank
Umum Syariah. Untuk menguji hipotesis penelitian digunakan analisis regresi
berganda.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive
sampling, yang merupakan teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan atau
kriteria tertentu. Penentuan sampel berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut:
1) Bank Umum Syariah (BUS) yang terdaftar di Bank Indonesia dalam periode 2014
– 2018.
2) Menyajikan laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan dalam periode 2014 –
2018.
3) Memiliki data lengkap berdasarkan PSAK 101 tentang penyajian laporan
keuangan syariah.
Definisi Operasional dan Variabel Penelitian
Penelitian ini bertujuan menguji hipotesis, untuk mengetahui pengaruh
antarvariabel dengan mengacu pada rumusan masalah yang telah ditetapkan serta
tujuan penelitian yang diharapkan. Berdasarkan uraian tersebut maka dalam

104
penelitian ini IC dan Rate of Growth of IC (ROGIC) sebagai variabel bebas atau
independent, serta Financial Performance Perbankan Syariah Masa Sekarang (Y1)
dan Financial Performance Perbankan Syariah Masa yang akan datang (Y2) sebagai
variable terikat atau dependen.
Variabel Independen
Variabel independen merupakan variabel bebas yang dapat mempengaruhi
variabel lainnya. pada penelitian ini, variabel independen yang digunakan yaitu IC
(VAIC) dan Rate of Growth of IC (ROGIC).
Intellectual Capital (VAIC)
Adapun pengukuran IC dalam penelitian ini menggunakan metode moneter
VAICTM yang dikembangkan oleh Pulic (1998) yang secara umum terdiri dari
physical capital (VACA), human capital (VAHU), dan structural capital
(STVA), adapun untuk menghitung value added IC melalui tahapan sebagai
berikut: menghitung Value Added (VA), menghitung Value Added Capital
Employed (VACA), menghitung VAHU (Value Added Human Capital), menghitung
STVA (Structural Capital value Added), penjumlahan seluruh komponen IC
(VAIC), selanjutnya kelima tahapan hitungan IC dijelaskan sebagai berikut:
Tahap Pertama: menghitung Value Added (VA)
VA dihitung sebagai selisih antara output dan input (Pulic, 1999).
VA = OUT – IN
Output (OUT) = Total penghasilan dan pendapatan lain
Input (IN) = Beban penjualan dan biaya lain-lain (selain beban karyawan)

Tahap Kedua: menghitung Value Added Capital Employed (VACA)


VACA merupakan perbandingan antara value added (VA) dengan ekuitas
perusahaan (CE), rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap unit dari
CE terhadap value added organisasi. Pemanfaatan ekuitas perusahaan (CE) madalah
bagian dari pemanfaatan IC perusahaan, hal ini menjadi indikasi bahwa VACA

105
merupakan indikator kemampuan intelektual perusahaan dalam mengelola dan
memanfaatkan modal fisik secara lebih baik.

VACA =

VA = Value Added
Capital Employed (CE) = Dana yang tersedia (ekuitas)

Tahap Ketiga: menghitung VAHU (Value Added Human Capital)


VAHU menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap rupiah yang
diinvestasikan dalam HC terhadap value added organisasi. Hubungan antara VA dan
HC mengindikasikan kemampuan HC dalam menciptakan nilai bagi.

VAHU =

Tahap Keempat: menghitung STVA (Structural Capital value Added)


STVA mengukur jumlah modal struktural (SC) yang dibutuhkan untuk
menghasilkan 1 rupiah dari value added (VA) dan merupakan indikasi bagaimana
keberhasilan modal struktural (SC) dalam penciptaan nilai.

STVA =

STVA = Structural Capital Value Added: rasio dari SC terhadap VA.


SC = Structural Capital: VA – HC
VA = Value Added

Tahap Kelima yaitu penjumlahan seluruh komponen IC (VAIC)


VAIC = VACA + VAHU + STVA

106
VAIC mengindikasikan kemampuan intelektual organisasi yang dapat juga dianggap
sebagai BPI (Business Performance Indicator).

Rata-Rata Pertumbuhan Intellectual Capital (ROGIC)


Ulum (2007) mengungkapkan bahwa perusahaan yang memiliki IC (VAIC)
lebih tinggi akan cenderung memiliki kinerja masa datang yang lebih baik, maka
logikanya, rata-rata pertumbuhan dari IC juga akan memiliki hubungan positif
dengan kinerja keuangan masa depan. Pengukuran rata-rata pertumbuhan IC
(ROGIC) merupakan selisih (Δ) antara nilai IC dari tahun ke-t (sekarang) dengan
nilai IC tahun ke-t-n(sebelumnya), jadi pengukuran rata rata pertumbuhan IC dapat
dirumuskan sebagai berikut:

ROGIG = VAICTt + VAICT t-1

ROGIC= Rata-rata pertumbuhan intelellectual capital setiap tahun

Variabel Dependen
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi oleh, atau terikat
dengan variabel lainnya. Pada penelitian ini terdapat dua variabel dependen, yaitu
financial performance perbankkan Syariah di masa sekarang dan financial
performance perbankkan Syariah di masa yang akan datang. Hameed (2004) berhasil
mengembangkan indeks yang sesuai dengan sifat bank syari‟ah dalam mengukur
kinerja keuangan yang dinamakan Islamicity index, Indeks ini dapat digunakan untuk
mengukur rasio–rasio yang merupakan cerminan dari kinerja keuangan bank syariah
masa kini adalah sebagai berikut:

Tahap Pertama: menghitung Profit Sharing Ratio (PSR)


Untuk mengidentifikasi seberapa jauh bank syariah telah berhasil mencapai

107
tujuan eksistensi mereka atas bagi hasil melalui rasio ini.
Mudarabah + Murabahah + Musyarakah
PSR =
Total Financing

Tahap Kedua: menghitung Zakat Performance Ratio (ZPR)


Kekayaan bank harus didasarkan pada aktiva bersih (net asset) daripada
laba bersih (net profit) yang ditekankan oleh metode konvensional. Oleh karena itu,
jika aktiva bersih bank semakin tinggi, maka tentunya akan membayar zakat yang
tinggi pula.
Zakat
ZPR =
Net Asset

Tahap Ketiga: Equietable Distribution Ratio (EDR)


Rasio ini merupakan bagian dari jumlah dana yang dikeluarkan untuk dana
kebajikan, upah karyawan dan lain-lain. Untuk setiap item, akan dihitung
jumlah yang didistribusikan dari total pendapatan setelah dikurangi zakat dan
pajak.

EDR =

Tahap Keempat: Pengukuran kinerja keuangan bank umum syariah masa kini
merupakan formulasi dari rasio-rasio bank umum syariah yang dihitung berdasarkan
metode VAIC (Pulic, 1998), untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

PERT = PSR + ZPR + EDR

Tahap Kelima: Pengukuran kinerja keuangan bank umum syariah masa depan

108
menggunakan pertimbangan hasil dari kinerja tahun sebelumnya untuk dijadikan
pedoman dalam melakukan kegiatannya. Adapun perbedaan pengukuran kinerja
keuangan masa depan yaitu dengan t1 yang berarti periode tahun selanjutnya, yang
dapat dijelaskan seperti berikut:
PERTt-1 = PSRt+1 + ZPRt+1 + EDRt+1 ……………………………….….. (3.11)

Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi
linier berganda. Analisis regresi ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang
menyeluruh mengenai hubungan antara variabel independen dan variabel dependen
untuk kinerja pada masing-masing perusahaan baik secara parsial maupun secara
simultan. Sebelum melakukan uji linier berganda, metode mensyaratkan untuk
melakukan uji asumsi klasik guna mendapatkan hasil yang terbaik (Ghozali, 2011:
105). Tujuan pemenuhan asumsi klasik ini dimaksudkan agar variabel bebas sebagai
estimator atas variabel terikat tidak bias. Pengujian asumsi klasik atas data yang
akan diolah sebagai berikut:

Uji Asumsi Klasik


Uji Normalitas Data
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t
dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau
asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel
kecil. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak
yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik. Untuk menguji apakah data
berdistribusi normal atau tidak dilakukan uji statistik Kolmogorov-Smirnov Test.
Residual berdistribusi normal jika memiliki nilai signifikansi >0,05 (Imam Ghozali,
2011).

109
Uji Multikolinieritas
Menurut Imam Ghozali (2011) uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji
apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).
Untuk menguji multikolinieritas dengan cara melihat nilai VIF masing-masing
variabel independen, jika nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan data bebas dari
gejala multikolinieritas.

Uji Autokorelasi
Untuk mendeteksi autokorelasi, dapat dilakukan dengan uji Durbin Watson
(dW test). Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi ditentukan sebagai
berikut: Jika nilai durbin Watson (dW) berada di antara nilai dU hingga 4-dU berarti
asumsi tidak terjadinya autokorelasi terpenuhi. Sementara apabila nilai dW<dL
terjadi autokorelasi yang positif dan apabila nilai dW>4-dL terjadi autokorelasi
negatif. Sementara apabila nilai dW berada di antara dL sampai dengan dU
(dL<dW<dU) atau nilai dW berada di antara 4-dU sampai dengan 4-dL (4-
dU<dW<4-dL) maka hal ini menunjukkan tidak ada kesimpulan.

Tabel 2. Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi

Hipotesis Nol Keputusan Jika

Tidak ada autokorelasi positif Ditolak 0<d<dl


Tidak ada korelasi negatif Ditolak 4-dl ≤d ≤4-dl
Tidak ada autokorelasi, positif Tidak Du <d< 4-du
maupun negatif ditolak

Sumber: Imam Ghozali (2011)


Persamaan Regresi Linier Berganda
Analisis linier berganda dilakukan dengan uji koefisien determinasi (R2), uji
t, dan uji F. Model regresi dalam penelitian ini sebagai berikut:
Y1 = α + β1.X1 + β2.X2 + β3.X3 + e

110
Y2 = α + β1.X1 + β2.X2 + β3.X3 + β4.X4 + e
Keterangan:
Y1: Kinerja Keuangan Perbankan Syariah masa kini.
Y2: Kinerja Keuangan Perbankan Syariah masa depan.
β1, β2, β3: Koefisien regresi variable Independen.
X1 = Value Added of Capital Employed (VACA)
X2 = Value Added Human Capital (VAHU)
X3 = Structural Capital Value Added (STVA)
X4 = Rata-rata pertumbuhan IC (ROGIC)
e = error.

Hasil Penelitian dan Pembahasan


Statistik Deskriptif Penelitian
Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran dari masing-
masing variabel yang digunakan dalam penelitian. Dari analisis tersebut, dapat
diketahui nilai minimum, maksimum, mean, dan standar deviasi dari masing-
masing variabel. Hasil dari pengujian statistik deskriptif dari variabel VAICTM yang
terdiri dari variabel VACA, VAHU, dan STVA dengan variabel dependent kinerja
(PERF) yang terdiri dari PSR, ZPR dan EDR.

IC (VAIC) Terhadap Kinerja keuangan (PERF)


Guna mengidentifikasi tiga konstruk utama dari IC, yaitu: human capital
(HC), structural capital (SC), dan customer capital (CC) maka pengukuran IC dalam
penelitian ini menggunakan metode moneter VAIC TM yang dikembangkan oleh
Pulic (1998) yang secara umum terdiri dari physical capital (VACA), human
capital (VAHU), dan structural capital (STVA), adapun untuk menghitung
value added IC melalui tahapan sebagai berikut: menghitung Value Added (VA),
menghitung Value Added Capital Employed (VACA), menghitung VAHU (Value

111
Added Human Capital), menghitung STVA (Structural Capital Value Added),
penjumlahan seluruh komponen IC (VAIC).
Tabel 3. Statistik Deskriptif Data Penelitian Tahun 2014-2018
2014 2015 2016 2017 2018
Standar Standar Standar Standar Standar
Mea Mea Mea Mea Mea
Deviati Deviati Deviati Deviati Deviati
n n n n n
on on on on on
VACA 0.002 0.157 0.076 0.553 0.921 0.603 0.932 0.663 0.875 0.713
VAH
U 0.174 0.433 1.142 0.432 2.712 1.692 2.332 2.865 2.096 1.846
STVA 0.535 0.414 1.203 0.195 1.406 6.754 3.883 6.991 0.986 1.572
VAIC 0.459 0.712 0.854 0.935 0.589 0.556 5.209 6.841 2.976 2.421
ROGI 10.98 16.98 21.32 23.53 23.91
C 4 11.453 2 18.675 1 21.765 3 25.982 2 31.779

Sumber: Data sekunder diolah, 2019.

Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai rata-rata (mean). VAIC pada


perbankan di Indonesia untuk tahun 2014 dan 2015 adalah sebesar 0.459 dan 0.854
dengan standard deviation 0.712 dan 0.935. Untuk tahun 2016 nilai mean
VAICTM turun menjadi 0.589 dengan standar deviation 0,556, sedangkan tahun 2017
nilai mean VAICTM meningkat menjadi 5.209 dengan standard deviation 6.841
dan pada tahun 2018 nilai mean VAIC mengalami penurunan sebesar 2.976
dengan standar deviation 2.421. Hal ini menunjukkan bahwa untuk tahun 2014
dan 2018, sebaran data VAICTM memiliki variasi yang relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan tahun 2017.
Nilai mean VAICTM tahun 2014 ini sedikit lebih besar daripada nilai mean
semua jenis industri di Taiwan yang menunjukkan angka 5.494 (Chen et al.,
2005), juga lebih besar dibandingkan dengan industri perbankan di Jepang yang
mean VAICTM -nya hanya 1.07 (Mavridis, 2005) dan India yang sebesar 4.112
(Kamath, 2007). Hal yang sama ditunjukkan oleh nilai mean STVA sebesar 0.535,

112
jauh lebih besar dari Taiwan (0.488) dan Afrika Selatan senilai -0.313.
Komposisi yang fluktuatif tampak dari nilai mean VACA yang
menunjukkan angka 0.02, sedikit lebih kecil daripada keseluruhan jenis industry
perbankan di Taiwan (0.080) dan Jepang (0.16), tetapi lebih kecil dari Afrika
Selatan (0.468) dan India (0.615). Demikian juga dengan nilai mean VAHU yang
sebesar 0.741, lebih kecil dari Taiwan (4.627) dan India (3.497), namun lebih
besar dari Afrika Selatan (2.078) dan Jepang (0.91).

Kinerja Keuangan
Secara umum, kinerja IC perusahaan perbankan di Indonesia tahun 2014
masuk dalam kategori “top performers” berdasarkan klasifikasi yang dibuat
oleh Mavridis (2005) dan Kamath (2007). Menurut Kamath (2007), suatu bank akan
masuk dalam kelompok “top performers” bila memiliki skor VAICTM di atas
5.00. Jika skornya antara 4.00 sampai dengan 5.00, maka masuk kategori “good
performers” dan kategori “common performers” untuk yang memiliki skor antara
2.5 sampai 4.00. Sedangkan perusahaan dengan skor VAICTM di bawah 2.5 masuk
dalam kategori “bad performers.” Sedangkan Mavridis (2005) dalam
penelitiannya mengelompokkan beberapa bank di Negara Jepang berdasarkan
kinerja IC-nya menyatakan bahwa skor VAICTM minimal untuk masuk dalam
kategori “top performers” adalah 2,02. Kategori “good performers” untuk skor
antara 1.04 sampai 1.97. Perusahaan dengan skor antara 0.03 sampai 0.97 masuk
dalam kelompok “common performers”, dan kategori “bad performers” untuk
perusahaan yang memiliki skor di bawah 0.03.

113
Tabel 4. Kategori kinerja VAICTM 2014 -2018

PERF PERF+1 KATEGORI KINERJA IC


NILAI
VAIC
No Nama Bank Tahun VERSI VERSI
log log
KAMATH MAVRIDIS
1 Mandiri 2014 7,40 5,29 1.761 Bad performance Good performance
2015 7,41 5,21 2.142 Bad performance Top performance
2016 7,45 6,47 2.148 Bad performance Top performance
2017 Common
7,50 6,52 3.42 Top performance
performance
2018 Common
7,55 6,56 3.615 Top performance
performance
2 BCA 2014 6,25 6,32 1.837 Bad performance Good performance
2015 6,41 5,90 1.691 Bad performance Good performance
2016 Common
6,66 6,30 2.909 Top performance
performance
2017 Common
6,39 6,33 3.445 Top performance
performance
2018 6,42 5,27 1.67 Bad performance Good performance
3 BRI 2014 Common
6,88 6,56 2.805 Top performance
performance
2015 Common
6,96 6,16 3.53 Top performance
performance
2016 7,01 6,08 2.91 Bad performance Good performance
2017 Good
7,06 6,05 4.601 Top performance
Performance
2018 7,13 6,33 1.917 Bad performance Good performance
4 BNI 2014 6,86 6,60 2.136 Bad performance Top performance
2015 6,93 6,10 1.482 Bad performance Good performance
2016 Common
7,02 6,27 0.775 Bad performance
performance
2017 7,10 6,35 3.523 Common Top performance

114
performance
2018 7,17 6,33 1.718 Bad performance Good performance
5 MEGA 2014 Common
6,46 6,04 2.729 Top performance
performance
2015 6,36 5,76 2.488 Bad performance Good performance
2016 6,39 5,17 2.024 Bad performance Good performance
2017 Common
6,44 5,48 3.052 Top performance
performance
2018 6,46 5,15 2.197 Bad performance Top performance
6 PANIN 2014 6,38 5,69 2.223 Bad performance Top performance
2015 Common
6,42 5,38 2.585 Top performance
performance
2016 6,50 5,75 1.76 Bad performance Top performance
2017 6,52 4,95 2.014 Bad performance Good performance
2018 Common
6,51 4,32 2.572 Top performance
performance
7 BUKOPIN 2014 6,29 5,88 2.363 Bad performance Top performance
2015 6,34 5,31 1.854 Bad performance Good performance
2016 Common
6,45 5,82 2.827 Top performance
performance
2017 Common
6,44 4,85 3.338 Top performance
performance
2018 6,41 5,27 2.401 Bad performance Top performance
8 MAYBANK 2014 6,05 6,32 1.928 Bad performance Good performance
2015 5,87 5,57 2.281 Bad performance Top performance
2016 5,83 4,82 1.619 Bad performance Good performance
2017 Common
5,82 4,17 0.864 Bad performance
performance
2018 5,58 5,45 1.726 Bad performance Good performance
9 BTN 2014 Common
6,40 6,38 2.879 Top performance
performance
2015 6,55 6,02 2.356 Bad performance Top performance
2016 6,57 5,27 2.174 Bad performance Top performance

115
2017 6,77 6,34 1.896 Bad performance Good performance
2018 6,66 6,11 1.928 Bad performance Good performance
10 VICTORIA 2014 6,40 5,87 2.093 Bad performance Top performance
2015 Common
6,45 5,52 3.247 Top performance
performance
2016 Common
6,32 5,86 3.465 Top performance
performance
2017 Good
6,42 5,70 5.481 Top performance
performance
2018 6,12 6,11 2.314 Bad performance Top performance
Sumber: Data diolah 2019, Kamath (2007); Mavridis (2005).

Berdasarkan sajian Tabel 4 dapat diketahui bahwa kategori Bank Syariah


berdasarkan kinerja tiap Bank selama tahun 2014 sampai dengan 2018 menunjukkan
kinerja buruk (bad performance) pada Bank Syariah Mandiri selama tahun 2014-
2016 dan mengalami peningkatan kinerja pada tahun 2017 dan 2018 menjaadi
peringkat common performance (Kamath, 2007), sedangkan berdasarkan Mavridis
(2005) Bank Mandiri memiliki kinerja yang Baik pada tahun 2014 dan meningkat
menjadi Top performance hingga tahun 2018. kinerja Bank BCA Syariah
menujukkan kriteria kinerja buruk pada tahun 2014 dan 2015 kemudian meningkat
kinerjanya menjadi baik (common performance) pada tahun 2016 dan 2017 lalu
menurun lagi memjadi buruk pada tahun 2018.
Kinerja Bank BRI Syariah, BNI Syariah, dan Mega Syariah menunjukkan
kinerja buruk pada tahun 2014, 2015, 2016 dan meningkat kinerjanya pada kategori
common performance pada tahun 2017. Kinerja Bank Syariah BTN, PANIN,
MAYBANK, dan BUKOPIN tergolong memiliki kinerja buruk (bad performance)
selama lima tahun pengamatan, sedangkan Bank syariah Victoria mengalami
peningkatan kinerja pada tahun 2017 kemudian menurun lagi pada tahun 2018. Jika
kriteria kinerja dilihat berdasarkan versi Mavridis (2005) maka seluruh Bank yang
diamati dalam penelitian ini tergolong memiliki kinerja yang baik (good

116
performance) dan performa puncak (top performance).
Tabel 5. Statistik Deskriptif Kinerja Keuangan Tahun 2014-2018
2014 2015 2016 2017 2018
Standar Standar Standar Standar Standar
Mean Mean Mean Mean Mean
Deviation Deviation Deviation Deviation Deviation
PSR 1.532 1.754 1.744 6.537 1.715 1.956 1.754 0.832 0.665 0.535
ZPR 0.801 0.203 0.322 0.308 0.811 0.209 0.651 3.441 4.154 4.032
EDR 0.643 2.221 0.409 0.332 0.252 0.857 2.153 2.857 1.557 0.643

* signifikan pada p < 0.10; ** p < 0.05; *** p < 0.01 (1-tailed)
Secara umum, dalam kurun waktu 2014-2018, kinerja keuangan industri
perbankan di Indonesia mengalami naik turun dari tahun ke tahun, kecuali PSR
yang selalu meningkat setiap tahunnya, tapi ditahun 2018 PSR mengalami penurunan
sebesar [Link] untuk ZPR nilai mean 0.801 untuk tahun 2014,0.322 untuk
tahun 2015 mengalami penurunan di bandingkan tahun 2014. Tahun 2016 dan 2017
mengalami juga mengalami penurunan sebesar 0.811 dan 0.651 tp di tahun 2018 nilai
mean nya mengalami peningkatan sebesar 4.154. untuk kinerja EDR ditahun 2014
sebesar 0.643 sedangkan tahun 2015 dan 2016 EDR mengalami penurunan
dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 0.409 dan 0.252, ditahun 2017 EDR
mengalami kenaikan di tahun 2018 EDR mengalami penurunan lagi sebesar 1.557.
Nilai EDR pada tahun 2014 sebesar 0.049 dan meningkat menjadi 0.875 pada
tahun 2016. Nilai PSR dan ZPR menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
memanfaatkan aset yang dimiliki untuk menghasilkan return bagi pemilik. EDR
menggunakan ukuran laba bersih, sedangkan ZPR memakai total pendapatan sebagai
pembanding dari total aset. Angka yang positif sudah cukup menunjukkan hasil yang
tidak buruk, semakin besar angkanya menunjukkan kinerja yang lebih baik.
Hasil Uji Asumsi Klasik
Hasil Uji Normalitas Data
Pengujian normalitas data dalam penelitian ini menggunakan uji
Kolmogorov-Smirnov dengan alpha (α)= 0,05. Jika nilai signifikansi dari hasil

117
uji Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari 0,05 maka asumsi normalitas
terpenuhi.
Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Data One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Model VACA VAHU STVA ROGIC PERF

N 50 50 50 50 50
a
Normal Parameters Mean .34990 2.4368 1.4228 .3507 6.4200

Std. Deviation .228974 1.05959 1.27043 .20389 .53795

Most Extreme Differences Absolute .150 .088 .191 .184 .383

Positive .150 .088 .191 .081 .383

Negative -.090 -.068 -.134 -.184 -.260

Kolmogorov-Smirnov Z 1.064 .622 1.349 1.298 2.705

Asymp. Sig. (2-tailed) .207 .834 .053 .069 .052

a. Test distribution’s Normal


Sumber: data diolah, 2020.
Berdasarkan pada Tabel 6 dapat diketahui bahwa nilai besaran
[Link]. (2-tailed) tiap variabel penelitian menunjukkan nilai signifikansi
lebih besar dari 0,05 hasil ini menunjukkan bahwa variabel yang diuji dalam
penelitian ini berdistribusi normal.
Uji Multikolinieritas
Menurut Ghozali (2011), uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji
apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).
Metode yang digunakan adalah metode tolerance dan variance inflation factor (VIF),
jika nilai tolerance < 0,10 dan nilai VIF < 10 maka tidak terdapat indikasi
multikolinieritas. Hasil uji multikolinieritas disajikan pada Tabel 4.6 berikut ini.

118
Tabel 7. Hasil Uji Multikolinieritas Variabel Penelitian
Coefficientsa

Collinearity StatistICs
Model
Tolerance VIF

1 (Constant)

VACA .091 1.091

VAHU .092 1.086


STVA .099 1.010

PERF .090 1.065


ROGIC .928 1.078

Sumber: data diolah 2020.


Berdasarkan hasil uji multikolinieritas pada Tabel 4.6 dapat diketahui
bahwa nilai tolerance tiap variabel penelitian lebih kecil dari 0,1 dan VIF tiap
variabel lebih kecil dari 10, hasil uji ini mengindikasikan bahwa tidak ada
gejala multikolinieritas pada data penelitian.

Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier
ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan
pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka
dinamakan ada problem autokorelasi (Imam Ghozali, 2011). Untuk mendeteksi
autokorelasi, dapat dilakukan dengan uji Durbin Watson (dW test).
Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi ditentu kan sebagai berikut:
Jika nilai Durbin Watson (dW) berada di antara nilai dU hingga 4-dU berarti
asumsi tidak terjadinya autokorelasi terpenuhi. Hasil uji autok orelasi disajikan
pada Tabel 8 berikut ini.

119
Tabel 8. Hasil Uji Autokorelasi
Persamaan Regresi Berganda 1
K DL DU DW KRITERIA KETERANGAN
3 1,4206 1,6739 1,7065 1,6739<DW<2,326 Tidak ada
autokorelasi positif
maupun negatif
Persamaan Regresi Berganda 2
K DL DU DW KRITERIA KETERANGAN
4 1,3779 1,7214 1,837 1,7214<DW<2,2786 Tidak ada
autokorelasi positif
maupun negatif
Sumber: data diolah 2020 .
Berdasarkan hasil uji autokorelasi pada Tabel 8 didapatkan nilai Durbin
- Watson pada persamaan regresi pertama (1) sebesar 1,7065 dan persamaan
regresi kedua (2) sebesar 1,837, nilai tersebut lebih kecil dari DU maka dapat
disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak terindikasi
masalah autokorelasi atau bebas dari autokorelasi.

Hasil Uji Penelitian


Hasil Uji Model Penelitian
Pada penelitian ini terdapat dua macam model penelitian sesuai dengan hipotesis
yang diuji, secara matematis model penelitian tersebut tertulis sebagai berikut.
Y1 = α + β1.X1 + β2.X2 + β3.X3 + e
Y2 = α + β1.X1 + β2.X2 + β3.X3 + β4.X4 + e
Keterangan:
Y1: Kinerja Keuangan Perbankan Syariah masa kini (PERF).
Y2: Kinerja Keuangan Perbankan Syariah masa depan (PERF+1).
Β1, β2, β3: Koefisien regresi variable Independen.
X1 = Value Added of Capital Employed (VACA)

120
X2 = Value Added Human Capital (VAHU)
X3 = Structural Capital Value Added (STVA)
X4 = Rata-rata pertumbuhan IC (ROGIC)
e = error.
Pengujian model penelitian dilakukan secara bertahap dan berurutan. Hasil uji
secara statistik pada model pertama disajikan pada Tabel 9 yang menunjukkan bahwa
nilai F statistik sebesar 3,517 pada tingkat signifikansi 0.022 (p < 0,05) hal ini
menunjukkan bahwa secara menyeluruh model dalam penelitian ini memiliki
Goodness of fit (GOF) yang cukup baik dengan nilai signifikansi dibawah 5%. Nilai
GOF baik menunjukkan kesesuaian yang cukup baik antara data empiris dalam
penelitian ini dengan model yang diprediksi pada model pertama.

Tabel 9. Hasil Uji F Statistik Model 1


Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 2.646 3 .882 3.517 .022a

Residual 11.534 46 .251

Total 14.180 49

Sumber:data diolah, 2020.


Analisis pada uji model penelitian pertama selanjutnya adalah dengan
melihat nilai koefisien determinasi (R2). Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan
variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat
terbatas. Nilai R2 yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen
memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi
variabel dependen (Imam Ghozali, 2011). Pada Tabel 10 disajikan ringkasan hasil
uji model pertama dalam penelitian ini.

Tabel 10. Ringkasan Hasil Uji Koefisien Determinasi dan F-statistik

121
Model Summaryb

Change Statistics

Std. Error F
Mo R Adjusted of the R Square Chang Sig. F Durbin-
del R Square R Square Estimate Change e df1 df2 Change Watson

1 .432a .387 .334 .50075 .387 3.517 3 46 .022 1.706


a. Predictors: (Constant), STVA, VACA, VAHU

b. Dependent Variable: PERF


Sumber: data diolah, 2020.
Hasil uji model penelitian menunjukkan bahwa nilai R2 sebesar 0,387 artinya
bahwa kemampuan variabel independen yang diuji dalam penelitian ini (STVA,
VACA, dan VAHU) mampu memprediksi nilai variabel dependen (PERF) sebesar
38,7 persen sedangkan sisanya dapat diprediksi oleh variabel selain dalam penelitian
ini.
Hasil uji secara statistik pada model kedua disajikan pada Tabel 11 yang
menunjukkan bahwa nilai F statistik sebesar 2,455 pada tingkat signifikansi 0.032 (p
< 0,05) hal ini menunjukkan bahwa secara menyeluruh model dalam penelitian ini
memiliki Goodness of fit (GOF) yang cukup baik dengan nilai signifikansi dibawah
5%. Nilai GOF baik menunjukkan kesesuaian yang cukup baik antara data empiris
dalam penelitian ini dengan model yang diprediksi pada model kedua.
Tabel 11. Hasil Uji F Statistik Pada Model 2
Sum of
Model Df Mean Square F Sig.
Squares

1 Regression 2.745 4 .686 2.455 .032a

Residual 21.225 45 .472

Total 23.970 49

Sumber:data diolah, 2020.

122
Analisis selanjutnya pada uji model penelitian yang kedua adalah dengan
melihat nilai koefisien determinasi (R2). Pada Tabel 12 disajikan ringkasan hasil uji
model pertama dalam penelitian ini.
Tabel 12. Hasil Uji Koefisien Determinasi dan F-statistik

Std. Error Change Statistics


R Adjusted R Durbin-
Model R of the
Square Square Watson
Estimate R Square F Sig. F
Change Change df1 df2 Change

1
.638a .615 .436 .68678 .615 1.455 4 45 .032 a 1.837

a.) PredICtors: (Constant), ROGIC, STVA, VAHU, VACA. b.) Dependent Variable: PERF_1
Hasil uji model penelitian menunjukkan bahwa nilai R2 sebesar 0,615 artinya
bahwa kemampuan variabel independen yang diuji dalam penelitian ini (STVA,
VACA, VAHU, dan ROGIC) mampu memprediksi nilai variabel dependen
(PERF+1) sebesar 61,5 persen sedangkan sisanya dapat diprediksi oleh variabel
selain dalam penelitian ini.
Hasil Uji Hipotesis Penelitian
Hasil Uji Hipotesis Penenlitian Pada Model 1
Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier
berganda secara bertahap guna menguji variabel independen yang terdiri dari VACA,
VAHU, STVA, dan ROGIC terhadap variabel dependen yaitu kinerja Bank syariah
saat ini (PERF) dan kinerja Bank syari‟ah di masa depan (PERF+1).
H1: Komponen-komponen dalam Intellectual Capital (VAIC) berpengaruh positif
terhadap kinerja keuangan perbankan syariah di masa kini.
H01: Komponen-komponen dalam Intellectual Capital (VAIC) tidak berpengaruh
positif terhadap kinerja keuangan perbankan syariah di masa kini.
Uji hipotesis penelitian dilakukan dengan uji t statistik untuk mengetahui
seberapa jauh pengaruh dari variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y)

123
secara khusus. Pengujian hipotesis akan dilakukan dengan menggunakan tingkat
signifikansi sebesar 0,05 (α =5%) atau tingkat keyakinan sebesar 95%. Uji t-statistik
digunakan untuk mengetahui secara khusus apakah komponen VAIC yaitu VACA,
VAHU, STVA, dan ROGIC) secara individual/parsial dapat memeengaruhi variabel
dependen kinerja keuangan saat ini (PERF) dan kinerja keuangan di masa depan
(PERF+1). Hasil uji t statistik dengan menggunakan pengukuran regresi linier
berganda disajikan pada Tabel 13 berikut ini.
Tabel 13 Hasil Uji t-Statistik
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) 5.718 .257 22.285 .000

VACA .356 .322 .151 1.105 .275

VAHU .153 .070 .301 2.201 .033

STVA .144 .057 .340 2.539 .015


Dependent Variable: PERF
Sumber: data diolah, 2020.
Berdasarkan Tabel 13 hasil uji secara statistik menunjukkan bahwa
komponen-komponen IC (VAIC) yang secara khusus terdiri dari physical capital
(VACA), human capital (VAHU), dan structural capital (STVA) tidak seluruhnya
memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan Bank syariah. Hanya terdapat
dua komponen dari IC yang memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan
Bank Syariah yaitu Human Capital (VAHU) yang memiliki nilai t-statistik sebesar
2,201 (sig.0,033, p<0,05) dan structural capital (STVA) yang memiliki nilai t-
statistik sebesar 2,539 (sig.0,015, p<0,05).
Secara khusus variabel physical capital (VACA) tidak memiliki pengaruh
positif terhadap kinerja keuangan Bank Syariah saat ini, hal ini dikarenakan nilai uji

124
t-statistik tidak mendukung dan tidak signifikan, yaitu sebesar 1,105 dengan nilai
signifikansi (sig. 0,275 dan p value 0,275). Hasil uji t-statistik ini secara khusus dapat
diketahui bahwa hanya terdapat dua komponen dalam IC yang dapat mempengaruhi
kinerja keuangan Bank Syariah yaitu komponen human capital (VAHU) dan
structural capital (STVA). Hasil uji penelitian ini dapat mengungkapkan bahwa
hipotesis 1 dalam penelitian ini dapat diterima secara khusus yaitu hanya komponen
human capital (VAHU) dan structural capital (STVA) dalam VAIC yang
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan Bank Syariah di masa
kini. Secara khusus persamaan regresi linier dalam uji statistik penelitian ini dapat
dituliskan pada persamaan berikut.
Y1 = 5.718+0.151VACA+0.301VAHU+0.340STVA+0.257
Keterangan:
Y1: Kinerja Keuangan Perbankan Syariah masa kini.
X1 = Value Added of Capital Employed (VACA)
X2 = Value Added Human Capital (VAHU)
X3 = Structural Capital Value Added (STVA)
e = error.
Hasil Uji Hipotesis Penelitian Pada Model 2
Berdasarkan Tabel 14 hasil uji secara statistik menunjukkan bahwa
komponen-komponen IC (VAIC) yang secara khusus terdiri dari physical capital
(VACA), human capital (VAHU), dan structural capital (STVA) tidak seluruhnya
memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan Bank syariah di masa depan.
Hanya terdapat satu (1) komponen dari IC yang memiliki pengaruh positif terhadap
kinerja keuangan Bank Syariah di masa depan (PERF+1) yaitu physical capital
(VACA) yang memiliki nilai uji t-statistik mendukung dan signifikan, yaitu sebesar
2,332 dengan nilai signifikansi (sig. 0,024 dan p value < 0,05).
H2: Secara khusus komponen-komponen pembentuk IC (VAIC) berpengaruh positif
terhadap peningkatan kinerja keuangan perbankan syariah di masa depan.

125
H02: Secara khusus komponen-komponen pembentuk IC (VAIC) tidak
mempengaruhi peningkatan kinerja keuangan perbankan syariah di masa depan.
Hasil uji t-statistik ini secara khusus dapat diketahui bahwa hanya komponen
VACA yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan Bank Syariah di masa depan,
sedangkan dua komponen lainnya yaitu human capital (VAHU) dan structural
capital (STVA) tidak dapat mempengaruhi kinerja keuangan Bank Syariah di masa
depan (PERF+1).
Tabel 14. Hasil Uji t-Statistik
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 5.885 .402 14.635 .000

VACA 1.044 .448 .342 2.332 .024


VAHU .014 .097 .020 .140 .890

STVA .018 .078 .032 .224 .823

ROGIC -.040 .500 -.012 -.080 .937

a. Dependent Variable: PERF_1


Sumber: data diolah, 2020.
Hasil uji dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa hipotesis kedua dapat
diterima secara khusus hanya pada komponen physical capital (VACA) yang dapat
mempengaruhi kinerja keuangan Bank Syariah di masa depan. Secara khusus
persamaan regresi linier dalam uji statistik penelitian ini dapat dituliskan pada
persamaan berikut:
Y2=5.885+0,342VACA+0.020VAHU+0.032STVA-0.012ROGIC+0.402…(4.4)
Keterangan:
Y2: Kinerja Keuangan Perbankan Syariah masa depan.
X1 = Value Added of Capital Employed (VACA)
X2 = Value Added Human Capital (VAHU)

126
X3 = Structural Capital Value Added (STVA)
X4 = Rata-rata pertumbuhan IC (ROGIC)
e = error.
Hasil Uji Hipotesis Ketiga (H3)
H3: Rata-rata pertumbuhan IC (ROGIC) berpengaruh positif terhadap kinerja
keuangan perbankan syariah masa depan.
H03: Rata-rata pertumbuhan IC (ROGIC) tidak mempengaruhi kinerja
keuangan perbankan syariah masa depan.

Berdasarkan Tabel 15 hasil uji secara statistik menunjukkan bahwa rata-rata


pertumbuhan capital (ROGIC) memiliki nilai t-statistik sebesar -0,080 dengan nilai
signifikansi sebesar 0,937 (p > 0.05). Hasil uji ini mengindikasikan bahwa rata-rata
pertumbuhan capital (ROGIC) tidak memiliki pengaruh positif terhadap kinerja
keuangan Bank Syariah di masa depan.

Tabel 15. Hasil Uji t-Statistik


Standardized
Unstandardized Coefficients
Model Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 5.885 .402 14.635 .000

VACA 1.044 .448 .342 2.332 .024

VAHU .014 .097 .020 .140 .890

STVA .018 .078 .032 .224 .823

ROGIC -.040 .500 -.012 -.080 .937


a. Dependent Variable: PERF_1
Sumber: data diolah, 2020.

127
Pembahasan Hasil Penelitian
Pengaruh Komponen-Komponen IC (VAIC) terhadap Kinerja Keuangan
Bank Syariah Pada Saat ini (PERF)
Hasil uji regresi linier berganda pada model pertama dapat diketahui bahwa
nilai t-statistik yang signifikan hanya terdapat pada dua komponen dari IC yang
memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan Bank Syariah yaitu Human
Capital (VAHU) yang memiliki nilai t-statistik sebesar 2,201 (sig.0,033, p<0,05) dan
structural capital (STVA) yang memiliki nilai t-statistik sebesar 2,539 (sig.0,015,
p<0,05). Semakin baik nilai komponen human capital dan structural capital dalam
konsep IC maka dapat mendukung kinerja keuangan pada perbankan syariah akan
semakin baik.
Dalam konteks identifikasi kekuatan varian pada hubungan IC dan kinerja
keuangan, maka temuan ini sesuai temuan Tan et al. (2007) dan Chen et al. (2005),
serta secara parsial mendukung hasil penelitian Firer dan Williams (2003). Hasil
uji pada nilai koefisien regresi dan signifikansi masing – masing indikator
menunjukkan bahwa temuan penelitian ini tidak konsisten terhadap temuan Tan et al.
(2007) dan Chen et al. (2005), hal ini desebabkan oleh seting penelitian yang berbeda
dan kondisi perekonomian yang berbeda pula.
Tan et al. (2007) dan Chen et al. (2005) mengungkapkan bahwa tiga
komponen VACA, VAHU, dan STVA secara statistik signifikan untuk menjelaskan
konstruk IC dan juga signifikan berpengaruh terhadap kinerja keuangan
perusahaan. Sementara hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa hanya human
capital efficiency (VAHU) dan structural capital (STVA) yang secara statistik
signifikan berpengaruh terhadap kinerja keuangan selama lima tahun
pengamatan. Sedangkan pengaruh VACA terhadap kinerja keuangan Bank Syariah
secara statistik tidak signifikan dalam (t=1,1 dan p= 0,275) pada p < 0.05.
Hasil penelitian ini berkaitan dengan teori stakeholders yang diumgkapkan
Riahi-Belkaoui (2003), Meek dan Gray (1988) serta teori legitimasi yang

128
diungkapkan oleh Nielsen et al. (2006); Riahi-Belkaoui (2003); dan Guthrie et al.
(2006) yang mengungkapkan bahwa Bank Syariah perlu mendorong atau
meningkatkan kapasitas IC-nya dalam laporan keuangan untuk memperoleh
legitimasi dari publik atas kekayaan intelektual yang dimiliki. Pada penelitian ini
diungkapkan bahwa kapasitas IC yang harus ditingkatkan adalah komponen VAHU
(human capital) dan STVA (structural capital).
VACA merupakan nilai tambah yang diciptakan oleh satu unit dari modal fisik
(physical capital) yang mendukung kemampuan organisasi atau perusahaan dalam
memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya untuk menghasilkan kinerja
intelektual yang optimal serta kinerja bisnis secara menyeluruh (Ulum, 2009). VACA
membandingkan Value Added (VA) dengan jumlah Capital Employed (CE). CE
dapat dilihat pada jumlah dana yang tersedia pada perusahaan atau ekuitas yang
dimiliki perusahaan. Rasio ini menunjukkan kontribusi dari CE terhadap VA
perusahaan. Semakin besar nilai VACA maka semakin baik bagi perusahaan, karena
hal tersebut menunjukkan semakin besar kontribusi dari CE untuk meningkatkan nilai
perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bank syariah memiliki
karakteristik operasional bisnis yang berbeda dengan perusahaan lainnya sehingga
secara khusus rasio VACA dan nilai tambahnya belum dapat mendukung kinerja
Bank Syariah.

Pengaruh Komponen-komponen Pembentuk IC (VAIC) terhadap peningkatan


kinerja keuangan perbankan syariah di masa depan.
Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya pengaruh IC (VAIC) yang
signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan dimasa depan selama lima tahun
pengamatan 2014-2018. Nilai R-square pada model penelitian pertama sebesar
0.615, hasil uji ini menunjukkan bahwa kekuatan IC (VAIC) secara menyeluruh
dapat menjelaskan konstruk kinerja keuangan Bank Syariah di masa depan sebesar
61.5 persen. Namun ketika melihat nilai t-statistik tiap komponen dan signifikansi

129
masing- masing variabel, temuan penelitian ini relatif tidak konsisten terhadap hasil
penelitian Chen et al. (2005).
Hasil penelitian ini sesuai pada hipotesis pertama pada penelitian ini yang
mengindikasikan bahwa nilai tambah dari ekuitas fisik yang dimiliki oleh Bank
Syariah di Indonesia belum mendukung kinerja keuangan saat ini akan tetapi
apabila Bank Syariah dapat meningkatkan nilai tambah pada ekuitas fisik di masa
depan, maka kinerja keuangan Bank Syariah di masa depan akan meningkat.
Secara umum, hasil pengujian terhadap H1 dan H2 penelitian ini relatif mirip
dengan temuan Firer dan Williams (2003) untuk kasus perusahaan publik di
Afrika Selatan. Persamaan yang dimaksud adalah bahwa (1) tidak seluruh
komponen VAIC memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan
perusahaan, dan (2) tidak semua ukuran kinerja keuangan yang digunakan
berkorelasi dengan komponen-komponen VAIC, hanya VACA yang secara
statistik signifikan berhubungan positif dengan ukuran kinerja keuangan
perusahaan.
Hasil uji hipotesis pertama pada penelitian ini menunjukan bahwa hanya
VAHU dan STVA yang secara statistik signifikan untuk menjelaskan konstruk
VAIC terhadap kinerja keuangan Bank Syariah di masa kini dan hasil uji hipotesis
kedua pada penelitian ini menunjukan hanya VACA yang signifikan untuk
menjelaskan variabel kinerja keuangan Bank Syariah di masa depan.
Tujuan dari pengelolaan perusahaan yang baik adalah adanya peningkatkan
penciptaan nilai (value creation) dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki
perusahaan. Teori stakeholder mengungkapkan bahwa kekuatan stakeholder untuk
mempengaruhi manajemen korporasi harus dipandang sebagai fungsi dari tingkat
pengendalian stakeholder atas sumber daya yang dibutuhkan organisasi (Watts dan
Zimmerman, 1986).
Pengelolaan yang baik atas seluruh potensi ini akan menciptakan value added
bagi perusahaan (VAIC) yang kemudian dapat mendorong kinerja keuangan

130
perusahaan untuk kepentingan stakeholder. Pengelolaan sumber daya Bank Syariah
di bidang aset fisik dan modal struktural dapat mempengaruhi kinerja Bank syariah di
masa depan. Aktifitas peningkatan fasilitas fisik, misalnya perbaikan pada fasilitas
gedung dan fasilitas ATM atau penambahan layanan mobile/internet banking pada
Bank Syariah dapat meningkatkan kinerja keuangan Bank syariah di masa depan,
selain itu manfaat positif juga dapat dirasakan oleh stakeholders di masa yang akan
datang.

Pengaruh Rata-rata Pertumbuhan IC (ROGIC) terhadap kinerja keuangan


perbankan syariah masa depan.
Hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa rerata
pertumbuhan IC (ROGIC) berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan
masa depan. Hipotesis ini mengacu pada penelitian Tan et al. (2007) yang
melogikakan bahwa jika IC dapat berpengaruh terhadap kinerja keuangan
perusahaan masa depan, maka rata-rata pertumbuhan IC (ROGIC) juga akan
berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan masa depan.
Hal ini mengindikasikan tidak adanya pengaruh ROGIC terhadap kinerja
keuangan perusahaan masa depan. Sehingga dengan demikian maka berarti H3
ditolak, karena dalam pengujian dengan regresi linier berganda secara khusus
variabel rata-rata pertumbuhan IC (ROGIC) memiliki nilai negatif dan tidak
signifikan.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua komponen IC memiliki pengaruh
positif terhadap peningkatan keuangan Bank Syariah di masa depan, hal ini sudah
terkonfirmasi pada Hipotesis pertama dan kedua yang mengungkapkan bahwa tidak
semua komponen IC tetapi hanya sebagian komponen yang mempengaruhi kinerja
keuangan Bank syariah.
Temuan penelitian ini bertentangan dengan Tan et al. (2007) yang
menunjukkan adanya pengaruh signifikan ROGIC terhadap kinerja keuangan masa

131
depan. Hal ini berarti bahwa untuk konteks industri perbankan di Indonesia,
perusahaan belum secara maksimal mengelola dan mengembangkan kekayaan
intelektualnya untuk memenangkan kompetisi. IC belum menjadi tema yang menarik
untuk dikembangkan agar dapat menciptakan nilai bagi perusahaan. Perusahaaan
masih lebih banyak terfokus pada kepentingan jangka pendek, yaitu meningkatkan
return keuangan. Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi ukuran kinerja
keuangan PSR yang berada di atas 2.326, artinya signifikan pada p < 0.01 (1-
tailed).
Teori stakeholder secara khusus dapat dilihat dari kedua bidang yaitu bidang
etika (moral) dan bidang manajerial, misalnya teori Guthrie et al. (2006) yang
mengungkapkan bahwa laporan keuangan merupakan cara yang paling efisien bagi
organisasi untuk berkomunikasi dengan kelompok stakeholder. Penyampaian
pelaporan keuangan yang baik merupakan pengungkapan transparansi oleh organisasi
dan Bank Syariah harus mengelola nilai tambah yang baik bagi pemegang
kepentingan. Deegan (2004) mengungkapkan bahwa manajer dapat berupaya agar
mampu mengelola organisasi secara maksimal khususnya dalam upaya penciptaan
nilai tambah bagi perusahaan yang artinya bahwa manajer dapat memenuhi aspek
etika.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil uji hipotesis dan pembahasan sebagaimana telah
disajikan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Berdasarkan
hasil pengujian dengan regresi linier berganda diketahui bahwa secara statistik
terdapat beberapa komponen VAIC yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan
perusahaan di masa kini . Komponen IC (VAIC) yang berpengaruh terhadap kinerja
keuangan Bank Syariah di masa kini adalah VAHU dan STVA. Komponen IC
(VAIC) memiliki pengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan masa-depan adalah
komponen VACA. Komponen IC diuji terhadap kinerja bank syariah dengan lag 1

132
tahun. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa pengelolaan VACA yang baik
dapat meningkatkan profitabilitas dan nilai ekuitas perusahaan di masa depan. 2.
Hasil uji menunjukkan bahwa VACA dan VAHU memiliki nilai t-statistik yang
signifikan dalam menjelaskan konstruk VAICTM. Hasil penelitian ini konsisten
dengan temuan Mavridis (2005) dan Kamath (2007) yang menyatakan bahwa untuk
kasus industri perbankan, komponen VAICTM yang relevan adalah VACA dan
VAHU.
Hasil Penelitian ini sesuai pernyataan Pulic (1998) ketika pertama kali
memperkenalkan metode VAICTM yang menyatakan bahwa intellectual ability suatu
perusahaan dibangun oleh physical capital (VACA) dan intellectual potential
(VAHU). 3. Berdasarkan hasil pengujian dengan regresi linier berganda secara
khusus variabel rata-rata pertumbuhan IC (ROGIC) memiliki nilai negatif dan tidak
signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa Rata-Rata Pertumbuhan IC (ROGIC) tidak
berpengaruh terhadap kinerja keuangan Bank Syariah masa depan, hal ini sudah
terkonfirmasi pada Hipotesis pertama dan kedua yang mengungkapkan bahwa tidak
semua komponen IC tetapi hanya sebagian komponen yang mempengaruhi kinerja
keuangan Bank syariah.

Saran
Saran penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut: 1. Penelitian
selanjutnya dapat menggunakan ukuran kinerja yang berbasis market value. 2.
Penggunaan ukuran kinerja yang berbasis market value diharapkan memiliki
pemilihan sampel yang sesuai, tujuannya adalah agar dapat memperoleh data
tentang kinerja pasar, maka perusahaan yang menjadi objek penelitian yang
merupakan perusahaan publik. 3. Pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan tidak
dalam selisih 1 tahun, tetapi 2 atau 3 tahun berikutnya, maka penelitian selanjutnya
disarankan untuk menguji pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan dengan lag 5
tahun.

133
Referensi
Abidin. (2000). Pelaporan MI : Upaya Mengembangkan Ukuran – ukuran Baru.
Jurnal Media Akuntansi, Edisi 7. Tahun VII pp. 46-47.
Astuti, Partiwi Dwi dan Arifin Sabeni. (2005). Hubungan IC dan Bussiness
Performance dengan Diamond Spesification: Sebuah Perspektif Akuntansi.
Jurnal SNA VIII Solo.
Bontis, N. (1998). IC: an exploratory study that develops measures and models.
Management Decision, 36(2), 63–76.
[Link]
Brennan, N. 1999. “Reporting and managing IC: evidence from Ireland”, Paper
presented at the International Symposium Measuring and Reporting IC:
Experiences, Issues and Prospects. June. Amsterdam.
Chen, Ming-Chin. (2005). An Empirical Investigation of The Relationship Between
IC and Firms’s Market Value and Financial Performance.
[Link]/[Link]
Danish Confederation of Trade Unions. 1999. “Your knowledge – can you book it?”.
Paper presented at the International Symposium Measuring and Reporting IC:
Experiences, Issues and Prospects. June. Amsterdam
Deegan, C. 2004. Financial Accounting Theory. McGraw-Hill Book Company.
Sydney.
Edvinsson, L. and M. Malone. 1997. IC: Realizing Your Company’s True Value by
Finding Its Hidden Brainpower. Harper Collins, New York, NY.
Firer, S., and S.M. Williams. 2003. “IC and traditional measures of corporate
performance”. Journal of IC. Vol. 4 No. 3. pp. 348-360.
Freeman, R.E., and Reed. 1983. “Stockholders and stakeholders: a new perspective
on corporate governance”. Californian Management Review. Vol 25. No. 2. pp.
88-106.
Guthrie, J., and L.D. Parker. 1989. “Corporate social reporting: a rebuttal of
legitimacy theory”. Accounting and Business Research. Vol. 19 No. 76. pp.
343-52.
Ghozali, Imam. (2011). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS
19, Edisi 5. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hameed, Imam dan Anis Chairi. (2009). IC dan Kinerja Keuangan Perusahaan:
Suatu Analisis dengan Pendekatan Partial Least Square.
Meek, G.K., and S.J. Gray. 1988. “The value added statement: an innovation for the
US companies”. Accounting Horizons. Vol. 12 No. 2. pp. 73-81.
Petty, P. and J. Guthrie. 2000. “IC literature review: measurement, reporting and
management”. Journal of IC. Vol. 1 No. 2. pp. 155-75.
Petrash, G. 1996. “Dow’s journey to a knowledge value management culture”,
European Management Journal. Vol. 14 No. 4. pp. 365-73.

134
Pulic, Ante. (1998). Measuring the Performance of Intellectual Potential in
Knowledge Economy. Pape Presented at the 2nd McMaster Word Congress on
Measuring and Managing IC by the Austrian Team for Intellectual Potential.
Riahi-Belkaoiu, A. 2003. “IC and firm performance of US multinational firms: a
study of the resource-based and stakeholder views”. Journal of IC. Vol. 4 No.
2. pp. 215-226.
Rivai, Veithzal. (2010). Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan: Dari
Teori ke Praktik. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sawarjuwono, Tjiptohadi dan Agustine Prihatin Kadir. (2003). IC Perlakuan,
Pengukuran dan Pelaporan (Sebuah Library Research). Jurnal Akuntansi dan
Keuangan. Vol. 5 No. 1 Mei. Surabaya : UK. Petra..
Schaik. (2001). Pengertian Bank syariah. Diakses pada tanggal 15 Agustus 2019
pukul 20.47 dari [Link]
Stewart, T.A. (1997). IC:The New Wealth of Organizations. London, United
Kingdom: Nicholas Brealey Publishing.
Sveiby, K.E. 2001. “Method for measuring intangible assets”. available online at:
[Link]/artICles (accessed September 2019)
Tan et al. (2007). IC and financial returns of companies. Journal of IC. Vol. 8 No. 1,
2007 pp. 76-95.
Ulum, Ihyaul. (2007). Model Pengukuran Kinerja IC dengan IB- VAIC di Perbankan
Syariah. Jurnal Inferensi Penelitian Sosial dan Keagamaan. Vol. 7 No. 1.
Ulum, Ihyaul. (2008). IC Performance Sektor Perbankan di Indonesia. Jurnal
Akuntansi dan Keuangan. Vol. 10 No. 2. Universitas Muhammadiyah Malang.
Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 tentang Bank Umum Syariah.
Watts, R.L. and J.L. Zimmerman. 1986. Positive Accounting Theory. Prentice-Hall.
Englewood Cliffs. NJ
Widiyaningrum, Novia. (2010). Pengaruh IC Terhadap Kinerja Keuangan dan Nilai
Pasar Perusahaan Perbankan dengan Metode Value Added Intellectual
Coefficient. Jurnal Bisnis dan Akuntansi. Vol. 14 No. 3.

135

Anda mungkin juga menyukai