0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan14 halaman

Program Manajemen Risiko Lab

Dokumen ini membahas program manajemen risiko di Rumah Sakit Umum Madani Medan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan tenaga kesehatan melalui identifikasi, analisis, dan pengelolaan risiko. Tujuannya adalah untuk mengurangi insiden berbahaya dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Program ini mencakup kegiatan evaluasi dan pelaporan yang dilakukan secara berkala untuk memastikan efektivitas manajemen risiko.

Diunggah oleh

Mey'iLh Sammy II
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan14 halaman

Program Manajemen Risiko Lab

Dokumen ini membahas program manajemen risiko di Rumah Sakit Umum Madani Medan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan tenaga kesehatan melalui identifikasi, analisis, dan pengelolaan risiko. Tujuannya adalah untuk mengurangi insiden berbahaya dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Program ini mencakup kegiatan evaluasi dan pelaporan yang dilakukan secara berkala untuk memastikan efektivitas manajemen risiko.

Diunggah oleh

Mey'iLh Sammy II
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM MANAJEMEN RISIKO

UNIT LABORATORIUM KLINIK


RUMAH SAKIT UMUM MADANI

RUMAH SAKIT UMUM MADANI MEDAN


TAHUN 2024
1. PENDAHULUAN
Pelayanan kesehatan merupakan sektor yang sangat cepat
berkembangnya. Di US terdapat 18 juta pekerja terlibat didalamnya,
dan wanita merupakan 80% darinya. Bahaya (Hazard) dan insiden
yang terlibat dalam aktifitas ini sangat beragam, seperti needlestick
injuries, back injuries, latex allergy, violence, dan stres. Walaupun hal
ini sangat mungkin dicegah, namun kejadian injury maupun infeksi
tetap saja terjadi. Upaya pelayanan kesehatan seperti pemeriksaan
kesehatan selama bekerja belum banyak dilakukan.
Menurut WHO, dari 35 juta petugas kesehatan, ternyata 3 juta
diantaranya terpajan oleh bloodborne pathogen, dengan 2 juta
diantaranya tertular virus hepatitis B, dan 170.000 diantaranya tertular
virus HIV/AIDS. Menurut NIOSH, untuk kasus-kasus yang non-fatal
baik injury maupun penyakit akibat kerja, sarana kesehatan sekarang
semakin meningkat, berbanding terbalik dengan sektor konstruksi dan
agriculture yang dulu paling tinggi, sekarang sudah sangat menurun.
Selain itu Infeksi nosokomial masih menjadi isu cukup signifikan
dikalangan pelayanan kesehatan, sehingga pengembangan program
patient safety sangat relevan untuk [Link] itu
pengembangan program keselamatan dan kesehatan kerja di sarana
kesehatan seperti rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya harus
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dalam upaya melindungi baik
tenaga kesehatan sendiri maupun pasien.
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah suatu program
yang dibuat sebagai upaya mencegah timbulnya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi
menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta tindakan
antisipatif apabila terjadi kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Upaya penanganan faktor potensi berbahaya yang ada di rumah
sakit serta metode pengembangan program kesehatan dan
keselamatan kerja perlu dilaksanakan, seperti misalnya :
• perlindungan baik terhadap penyakit infeksi maupun non-infeksi,
• penanganan limbah medis,
• penggunaan alat pelindung diri dan lain sebagainya.
Selain terhadap pekerja di fasilitas medis/klinik maupun rumah
sakit, kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit juga “concern”
keselamatan dan hak-hak pasien, yang masuk kedalam program
patient safety. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang
Kesehatan, Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja,
khususnya tempat kerja yang : mempunyai risiko bahaya kesehatan,
mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10
orang.
Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa
Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan
berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak
kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di
RS, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Sehingga
sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya
penanganan risiko-risiko di Rumah Sakit.

2. LATAR BELAKANG
Rumah Sakit Umum Madani Medan merupakan suatu organisasi
yang memberikan layanan kesehatan pada pasien, dalam hal ini
adalah memberikan usaha jasa kesehatan yang akan berhadapan
dengan tantangan yang setara antara pertumbuhan pendapatan dan
pengelolaan risiko, sebab setiap keputusan usaha yang diambil
mengandung elemen risiko didalamnya.
Terdapat risiko yang saling meniadakan satu sama lain, ada juga
yang tidak saling terkait, namun ada yang saling menguatkan. Untuk
dapat mengelola risiko secara efektif, maka kita tidak hanya harus
mengenali risiko-risiko yang mendasar, tetapi juga keterkaitan antar
risiko-risiko tersebut. Pada dasarnya risiko (potensi risiko klinik – non
klinik) tidak dapat dihindari dari setiap aktivitas kegiatan
perumahsakitan, oleh karenanya diperlukan suatu manajemen risiko
yang cukup komprehensif untuk mengelolanya karena Rumah Sakit
sebagai corporat dan sebagai pengelola pasien, penuh dengan risiko.
Oleh karena itu Rumah Sakit Umum Madani Medan
melaksanakan program manajemen risiko di tiap unit dilingkup rumah
sakit melalui tahapan : Identifikasi Daftar Risiko, Penyusunan Prioritas
Risiko, Melakukan Analisis, pengelolaan risiko unit dan evaluasi,
Pengumpulan laporan managemen Risiko unit ke komite PMKP dan
Rapat koordinasi dengan komite PMKP, PPI dan K3 mengenai risiko
di rumah sakit.

3. TUJUAN
A. Tujuan Umum
Meningkatkan keselamatan pasien Rumah Sakit Umum Madani
Medan melalui pendekatan proaktif dan pengendalian risiko-
risiko yang ada di lingkungan kerja rumah sakit.
B. Tujuan Khusus
1) Instalasi Laboratorium Klinik mampu melakukan identifikasi
risiko unit.
2) Instalasi Laboratroium Klinik mampu melakukan analisis
risiko unit.
3) Instalasi Laboratroium Klinik mampu melakukan evaluasi
risiko unit.
4) Instalasi Laboratorium Klinik mampu melakukan kelola risiko
unit.
5) Instalasi Laboratorium Klinik mampu melakukan pelaporan
pelaksanaan program manajemen risiko unit ke komite
PMKP RSU Madani Medan

4. KEGIATAN
Manajemen risiko adalah pendekatan proaktif untuk
mengidentifikasi, menilai (risk assesment) dan menyusun prioritas
risiko, dengan tujuan untuk menghilangkan atau meminimalkan
dampaknya.
Proses identifikasi risiko adalah usaha mengidentifikasi situasi
yang dapat menyebabkan cedera, tuntutan atau kerugian secara
finansial. Identifikasi akan membantu langkah-langkah yang akan
diambil manajemen terhadap risiko tersebut. Identifikasi risiko bisa
diperoleh dari :
a. Laporan Kejadian (KTD, KNC, Kejadian Sentinel, dan lain-lain)
b. Review Rekam Medik (Penyaringan Kejadian untuk memeriksa dan
mencari penyimpangan-penyimpangan pada praktik dan prosedur)
c. Pengaduan (Complaint) pelanggan
d. Survey atau Self Assesment, dan lain-lain
Penilaian risiko (Risk Assesment) merupakan proses untuk
membantu unit di rumah sakit menilai tentang luasnya risiko yang
dihadapi, kemampuan mengontrol frekuensi dan dampak dari risiko.
Semua risiko yang telah diidentifikasi unit-unit rumah sakit akan
dimasukan oleh komite PMKP RS dalam Program Risk Assessment
tahunan, yakni Risk Register:
a. Risiko yang teridentifikasi dalam 1 tahun
b. Informasi Insiden keselamatan Pasien, klaim litigasi dan komplain,
investigasi eksternal dan internal, asesmen eksternal dan
Akreditasi
c. Informasi potensial risiko maupun risiko aktual (menggunakan
RCA&FMEA).
Penilaian risiko dilakukan oleh seluruh unit rumah sakit RSU
Madani. Aspek yang dinilai meliputi :
1. Operasional/kegiatan unit sehari-hari
2. Finansial
3. Sumber daya manusia
4. Strategik
5. Hukum/Regulasi
6. Teknologi
Setelah tahap penilaian risiko, maka tahap berikutnya adalah
menyusun prioritas risiko dengan menggunakan alat bantu risk
matrix grading. Dilakukan pendekatan dengan menentukan prioritas
risiko pada proses-proses risiko tinggi, mengutamakan keselamatan
pasien dan staf untuk kemudian secara proaktif melakukan analisis
risiko dengan FMEA (Failure Mode and Effect Analysis).
Dengan mengikuti analisa dan hasil yang didapatkan rumah sakit
menentukan rancang ulang proses atau tindakan yang sama untuk
mengurangi risiko dalam proses tersebut.
Keseluruhan tahapan manajemen risiko ini dilaksanakan paling
sedikit satu kali dalam satu tahun disertai dengan pendokumentasian
kegiatan yang baik.

5. CARA PELAKSANAAN KEGIATAN


1. Identifikasi Daftar Risiko
2. Penyusunan Prioritas Risiko
3. Melakukan Analisis, pengelolaan risiko unit dan evaluasi
4. Pengumpulan laporan managemen Risiko unit ke komite PMKP
5. Rapat koordinasi dengan komite PMKP, PPI dan K3 mengenai
risiko di rumah sakit

6. SASARAN DAN TARGET


Sasaran kegiatan program managemen risiko meliputi : seluruh
unit di lingkup RSU Madani tahun 2024. Tercapainya >80%
program managemen risiko dalam tiap waktu 1 tahun.
7. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Tahun 2024 Penanggun


No Kegiatan Bulan g
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 jawab
Identifikasi Daftar Risiko unit dan koordinasi dengan komite
1
PMKP, PPI dan K3 rumah sakit
[Link]…
Penyusunan Prioritas Risiko unit koordinasi dengan komite [Link]….
2
PMKP, PPI dan K3 rumah sakit
Melakukan Analisis, pengelolaan risiko unit dan evaluasi unit Unit….
3
koordinasi dengan komite PMKP, PPI dan K3 rumah sakit
Pengumpulan laporan managemen Risiko unit ke komite Unit…
4 PMKP
8. EVALUASI
Evaluasi program dilaksanakan pada tiap akhir tahun dan rapat
koordinasi tiap tribulan dengan komite PMKP rumah sakit

9. PENCATATAN DAN PELAPORAN


Hasil program dicatat dan hasilnya dilaporkan kepada komite
PMKP RSU Madani setiap akhir tahun.

Medan, 2 Januari 2024

Kepala Bidang Pelayanan


Penunjang Kepala Instalasi Unit
RSU Madani

dr. H. Tommy Hendra, MKM Maya SARI Br Ginting, [Link]


LAMPIRAN 1. RISK REGISTER RUANG ....... TAHUN ...... (CONTOH....)

IDENTIFIKASI RISIKO ANALISIS RISIKO EVALUASI RISIKO KELOLA RISIKO

PENGON
TROLAN P
DAMPAK FREKUENSI (SKOR X E

RANGKING TRISIKO
RISIKO)

SKOR RISIKO
N L
O A

SANGAT JARANG
SANGAT RINGAN

SANGAT SERING
M PENGENDALIAN P

AGAK MUDAH
KATEGORI RENCANA TINDAK K

SGT BERAT
E

AGAK SULIT
DAMPAK PENYEBAB YANG TELAH I

KADANG
SEDANG
S

JARANG
RINGAN

SERING
RISIKO LANJUT

MUDAH
R

SULIT
BERAT
DILAKUKAN C A
N
A
A
N
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4
1 Komplain  Penurunan citra  prosedur 2 5 10 3 1 1. Menjelaskan 1. Usulan kepada IPS
keluarga pasien RS perawatan fasilitas 0 kepada pasien RS agar jadwal
tentang  Kepercayaan RS yang kurang Ba tentang pemeliharaan
pemeliharaan masyarakat turun optimal nd prosedur alat/fasilitas
sarana yang ke RS  kurang nya edukasi hija komplain yang dibagikan kepada
kurang  Tuntutan hukum ke pasien dan u benar unit masing-masing J
2. Melaporkan agar permudah A
ke RS atau keluarga tentang
K N
petugas fasilitas yang ada di kerusakan evaluasi A U
ruangan alat/fasilitas 2. Usulan kepada R A
kepada unit IPS HUMAS RS agar U RI
RS sesuai membuat publikasi 2
prosedur yang melalui banner, 01
benar pamflet dan 6
sebagainya tentang
alur komplain di RS
2 Komplain dari  Penurunan citra  kurang nya edukasi 2 4 8 2 2 1. Menjelaskan 1. Melaporkan kejadian
pasien dan RS ke pasien dan Ba 4 kepada pasien kepada bidang
keluarga tentang  Kepercayaan keluarga tentang nd tentang pelayanan medis
dokter yang tidak masyarakat turun kebijakan visite hija prosedur dan keperawatan
visite ke RS pasien oleh dokter u komplain yang 2. Usulan kepada F
 Tuntutan hukum benar HUMAS RS agar E
ke RS atau 2. Menjelaskan membuat publikasi B
K
R
petugas kepada pasien melalui banner, A
U
tentang SPO pamflet dan R
A
visite dokter sebagainya tentang U
RI
3. Melakukan alur komplain di RS 2
konfirmasi 01
kepada dokter 6
yang bertugas
sesuai alur yang
berlaku
3 Tertusuk jarum  infeksi silang  petugas tidak 2 2 4 1 3 1. Melakukan 1. Usulan kepada K
petugas dari mematuhi SPO 6 penanganan komite PMKP dan A M
pasien pembuangan Ba pertama pasca bidang pelayanan R A
benda tajam nd pajanan sesuai medis dan U R
biru E
SPO keperawatan T
tatalaksana penggantian jarum 2
pasca pajanan infus lama menjadi 01
2. Menjelaskan jarum infus yang 6
ulang kepada safety, sehingga
petugas tentang tidak berisiko
spo menusuk petugas
pembuangan setelah digunakan.
BENDA TAJAM 2. Sosialisasi ulang
3. Melaporkan dengan intensif
kepada komite tentang SPO
K3RS/PPI RS tatalaksana sampah
agar dilakukan tajam, sampah
tindaklanjut rumahsakit
pemeriksaan
pasca pajanan
benda tajam
4 Kepatuhan  Peningkatan  Kurangnya 2 5 10 2 4 1. Edukasi ke  Melakukan edukasi
cucitangan 6 infeksi pemahaman ban 0 petugas tentang kepada petugas tiap
langkah dan 5 nosokomial (hais) petugas tentang d cucitangan tiap operan jaga dengan
moment petugas  Lama rawat inap pentingnya Hija rapat ruangan menyebutkan 5
(MRS) pasien cucitangan sesuai u 2. Penyediaan momen cucitangan
memanjang standar sarana dan praktek 6
 Cost perawatan  Rendahnya prasarana langkah cucitangan A
meningkat kepatuhan petugas cucitangan  Melakukan audit K P
 Penurunan citra dalam melakukan secara lengkap kepatuhan oleh A RI
RS cuci tangan dan kepala ruang atau R L
berkelanjutan, wakil kepala ruang U 2
meliputi cairan 01
handrub, cairan 6
hand wash, tisu
cuci tangan,
gambar cuci
tangan.

Anda mungkin juga menyukai