Sejarah Perkembangan Tahsin: Pandangan Tokoh Ulama Serta Dalil Pendukungnya
Sejarah Perkembangan Tahsin: Pandangan Tokoh Ulama Serta Dalil Pendukungnya
“Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Tahfidz Al-Qur‟an.”
Disusun oleh:
Kelompok 6
MEDAN
T.A 2026
KATA PENGANTAR
Assalamu‟alaikum wr. wb
Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul “Sejarah Perkembangan Tahsin:
Pandangan Tokoh Ulama serta Dalil Pendukungnya” ini dapat diselesaikan dengan baik.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga,
sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.
Makalah ini disusun untuk menambah wawasan dan pemahaman mengenai sejarah
perkembangan tahsin dalam Islam, mulai dari masa Rasulullah Saw. hingga
perkembangannya di kalangan ulama dan lembaga pendidikan Islam pada masa kini. Selain
itu, makalah ini juga membahas pandangan para tokoh ulama mengenai pentingnya tahsin
dalam membaca Al-Qur‟an, serta dalil-dalil yang menjadi landasan dalam memperbaiki
bacaan Al-Qur‟an sesuai kaidah tajwid.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan, baik dari segi isi maupun penyajiannya. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan
makalah ini di masa yang akan datang.
Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
para pembaca, khususnya dalam memahami pentingnya tahsin sebagai upaya menjaga
kemurnian bacaan Al-Qur‟an dan meningkatkan kualitas tilawah sesuai tuntunan syariat.
Pemakalah,
Kelompok 6
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I ......................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 1
Rumusan Masalah............................................................................................................... 2
BAB II........................................................................................................................................ 3
PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 3
PENUTUP................................................................................................................................ 15
Kesimpulan ....................................................................................................................... 15
Saran ................................................................................................................................. 16
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur‟an merupakan pedoman hidup bagi umat Islam yang diturunkan Allah
Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. melalui perantara Malaikat Jibril. Sebagai kitab
suci yang menjadi sumber utama ajaran Islam, Al-Qur‟an tidak hanya dipahami dari
segi maknanya, tetapi juga harus dibaca dengan benar sesuai kaidah yang telah
diajarkan Rasulullah Saw. Oleh karena itu, kemampuan membaca Al-Qur‟an dengan
baik dan benar menjadi suatu hal yang sangat penting bagi setiap muslim.
Perkembangan tahsin tidak terlepas dari peran besar para ulama yang
memberikan perhatian khusus terhadap cara membaca Al-Qur‟an. Banyak tokoh
ulama yang menjelaskan pentingnya tahsin sebagai bentuk penghormatan terhadap
Kalamullah sekaligus sarana menjaga kesalahan dalam membaca Al-Qur‟an. Mereka
juga menyusun berbagai metode dan kaidah yang menjadi pedoman dalam
pembelajaran tahsin sampai saat ini.
Selain itu, pentingnya tahsin juga didukung oleh dalil-dalil dari Al-Qur‟an dan
hadis. Allah Swt. memerintahkan umat Islam untuk membaca Al-Qur‟an dengan tartil
sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Muzzammil ayat 4: “Wa rattilil qur‟āna
tartīlā” yang berarti “Dan bacalah Al-Qur‟an itu dengan perlahan-lahan (tartil).”
1
Hadis-hadis Rasulullah Saw. juga banyak menjelaskan keutamaan membaca Al-
Qur‟an dengan baik dan benar.
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tahsin
Secara istilah Tahsin memiliki banyak arti dari berbagai pendapat di antaranya
sebagai berikut:
a. Ali Muntahar mengatakan, arti Tahsin sama dengan Tajwid yakni memperbaiki,
penyempurnaan. Bisa juga dikatakan Tahsin lebih melebar dari Tajwid, karena
dalam Tahsin selain hukum-hukumnya, juga diperindah dengan Tartil.
b. Menurut Ahmad Muaffaq Tahsin adalah metode pembelajaran Al-Qur'an pada
bahasa Arab yang disebut tata bahasa atau linguistik untuk mempelajari,
memeriksa, menganalisis, bunyi yang diucap manusia serta penggunaannya.
c. Tahsin adalah melengkapi atau memperbaiki pelafalan huruf serta sifatnya, aturan
antara huruf-hurufnya misalnya menyangkut ikhfa, iqlab, idgham serta yang
lainnya dan ketika diterapkan dalam bacaan Al-Qur'an maka akan mendapat
pahala.
d. Menurut Ashim Yahya Tahsin merupakan ilmu yang mempelajari pelafalan huruf-
huruf Al-Qur'an, meliputi ciri-ciri, makhraj, ahkamul huruf, dan lainnya.
e. Dari pendapat di atas, dapat dikatakan bawa Tahsin memiliki arti yaitu berbagai
cara memperindah membaca Al-Qur'an dan memahami aturannya dengan benar
dan baik serta salah satu cara manggapai kesempurnaan pahala saat mempelajari
Al-Qur'an.
f. Dalam hal ini, penulis sangat menyetujui beberapa pengertian tersebut namun
sangat lebih tertarik dan sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Ali Muntahar
yang menyamakan Tajwid dan Tahsin karena memang pembahasannya sama atau
3
tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain, misalnya ketika belajar Tajwid
dengan mengetahui dan mempelajari hukum-hukum bacaan maka secara otomatis
harus juga ditahsin, di praktikan serta diperbaiki dengan ucapan (Tajwid dengan
teorinya dan Tahsin pengaplikasian teori tersebut).
Sejarah Tahsin Alquran, dimulai sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Yakni
ketika Nabi Muhammad Saw menerima wahyu dari malaikat Jibril As. Muhammad
Sameh Said menjelaskan bahwa pada salah satu rutinitas rohaninya di bulan
Romadhon, yakni pada 6 Agustus 610 Masehi tepat di saat itu usia Nabi Muhammad
shallallahu alaihi wasallam pada usia 40 tahun.
Di suatu malam yang dikenal dengan malam Lailatul Qadar, yang diagungkan
hingga hari akhir yang Suasananya sangat tenang dan senyap, Nabi Muhammad Saw
melaksanakan ibadahnya. Ketika Nabi bersiap untuk tidur lalu terjadilah peristiwa
dimana la mendengar suara yang berkata kepadanya "bacalah". Dan nabi
mengisahkan bahwa "ketika aku sedang tidur tiba-tiba datang kepadaku sesosok
membawa sesuatu dari sutra yang didalamnya terdapat sebuah kitab. Kemudian, Iya
berkata "bacalah" Aku menjawab "Aku tidak bisa membaca" dia pun memelukku
sangat erat seakan aku hamper mati. Lalu dia melepaskan ku dan berkata "bacalah".
Aku menjawab "Aku tidak bisa membaca". Lalu ia merangkulku yang kedua kali
sampai aku kepayahan. Kemudian ia melepaskannya lagi dan berkata "bacalah". Aku
menjawab "Aku tidak bisa membaca". Maka dia merangkulku yang ketiga kalinya.
sampai kukira akan mati lalu dia melepaskan dan berkata lagi "bacalah" Aku
menjawab "apa yang aku baca" aku berkata seperti itu agar dia tidak mengulangi apa
1
Nadia Humaira, STRATEGI PEMBELAJARAN TAHSIN DAN TAHFIDZ AL QURAN, (Jawa
Barat: Mega Press Nusantara, 2023), hlm. 15-16.
4
yang sebelumnya dia lakukan terhadap diriku, dia Lalu berkata: Yang diterangkat
dalam QS. Al-Alaq ayat 1-5 yakni:
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah, Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Mulia, yang mengajar
manusia dengan pena dan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Maka aku membacanya hingga selesai lalu dia meninggalkanku aku seperti di
berikan mimpi seolah-olah tertulis di hatiku sebuah kitab.
Hal ini menjelaskan terjadinya proses tahsin dari malikat Jibril As. dengan
Nabi Muhammad Saw. Dan terus berlanjut sampai wahyu yang terakhir kalinya turun.
Ketika Nabi Muhammad terus menyebarkan ajaran Islam seiring dengan sampainya
Alquran kepada para sahabat Nabi dan terus berkembang sampai Nabi Muhammad
Saw wafat, ternyata Alquran terus berkembang pada masa kalangan sahabat Nabi
Saw. Hingga yang terkenal dengan keahliannya dalam bidang qiroat dan tajwid
Alquran, di antaranya ada 10 orang yaitu:
Ilmu tajwid ini terus berkembang hingga sampai masa tabi'in yaitu orang-
orang yang ada pertemuan zamannya dengan sahabat Nabi Saw. tetapi tidak dengan
zaman Nabi Saw. Beberapa ahli-ahli qiraat yang termashur di zaman itu terbagi
5
menurut negeri ataupun daerahnya masing-masing yaitu Madinah, Mekah, kaufah dan
Basrah.2
Pembelajaran tahsin memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur‟an dan hadis
Nabi Saw. Salah satu dalil yang menjadi landasan utama adalah firman Allah Swt.
dalam Surah Al-Muzzammil ayat 4:
2
Ahmad Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur‟an dan Ilmu Tajwid (Jakarta: Pustaka Al-
Kautsar, 2010), hlm. 15.
6
Oleh sebab itu, pembelajaran tahsin menjadi bagian penting dalam menjaga
kemurnian bacaan Al-Qur‟an.3
1. IMAM AL-JAZARI
Nama penuh beliau ialah Abu Khayr Syams al-Din Muhammad bin Muhammad
bin Muhammad bin „Ali bin Yusuf al-„Umri al-Dimasyqi al-Syirazi al-Syafi„i dan
dikenali dengan gelaran Ibn al-Jazari.4 Beliau dilahirkan pada malam di bulan
Ramadan selepas solat Tarawih pada Sabtu 25 Ramadhan 751 Hijrah bersamaan
dengan 30 November atau awal September tahun 1350 Masihi di Damsyik, Syam. Di
Damsyik inilah beliau dibesarkan dan menjadi tempat beliau tamat menghafaz al-
Quran ketika beliau berusia 14 tahun lagi. Apabila beliau membesar beliau lebih
cenderung untuk mendalami ilmu al-Qiraat daripada masyayikh-masyayikh yang ada
pada ketika itu.
Imam Al-Jazari merupakan seorang ulama yang sangat berpengaruh dalam bidang
Al-Quran dan qiraat. Beliau yang berasal dari Negeri Syam mempunyai kelebihan
dalam ilmu tajwid.5 Ramai yang ingin berguru dengan beliau dek keilmuannya
sehingga beliau digelar al-Mujawwid (ahli tajwid). Sehingga kini, kitab-kitab beliau
telah menjadi sumber utama dalam mempelajari ilmu Al-Quran dan qiraat.6
3
Ahmad Fathoni, Metode Maisura: Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an (Jakarta:
Yayasan Bengkel Metode Maisura, 2017), hlm. 15.
4
Muhammad Basori Alwi, Tokoh-Tokoh Qiraat Terkemuka (Malang: Literasi Nusantara,
2019), hlm. 112.
5
Ahmad Fathoni, Kaidah Qiraat Tujuh (Jakarta: IIQ Press, 2005), hlm. 45.
6
Muhammad Salim Muhsin, Ilmu Qira‟at al-Qur‟an (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2007), hlm. 134.
7
dengan berkat kesabarannya, maka lahirlah Imam Al-Jazari, seorang yang sangat alim
dalam ilmu agama dan Al-Quran.
Ibn Al-Jazari juga telah menyelesaikan hafalan Al-Qurannya pada usia 13 tahun
dan menjadi imam solat pada usia 14 tahun. Setelah itu, beliau melanjutkan pelajaran
dalam ilmu Qira‟at pada beberapa guru di Syam hingga mengkhatamkan Qiraat
Sab„ah pada tahun 768 Hijrah di usianya yang ke-17 tahun. Kemudian beliau
melakukan perjalanan mencari sanad yang tinggi serta menyempurnakan bacaan Al-
Qurannya. Selain daripada pengajian ilmu hadis, beliau sangat menonjol dalam
bidang ilmu qiraat. Dikatakan bahawa beliau telah menjadi kadi di Damsyik dan Siraz
pada tahun 793 Hijrah.
Guru utamanya dalam bidang Al-Quran adalah Syeikh Hasan al-Saruji. Syeikh al-
Saruji merupakan guru dari ayah al-Jazari. Ulama ahli qiraat terkenal di Damsyik,
Syria. Setelah belajar dengan Syeikh al-Saruji, al-Jazari pergi ke Madinah al-
Munawwarah untuk bermulazamah dengan Syeikh Muhammad bin Abdullah al-
Khatib, seorang imam Masjid Nabawi. Ibnu Al-Jazari belajar dengannya ilmu qiraat.
Selain itu, beliau dikatakan pernah berguru dengan Syeikh Abu Muhammad „Abd al-
Wahab bin Yusof bin al-Sallar pada 698–782 Hijrah, Syeikh Ahmad bin Ibrahim bin
al-Tahhan al-Manbaji pada tahun 702–782 Hijrah serta ramai lagi. Beliau telah
menuntut ilmu di beberapa tempat seperti Basrah, Kufah, Mesir, Yaman, Hijaz dan
Syam. Berkat kesungguhannya, beliau telah berjaya menguasai qiraat yang berbeza
daripada 14 orang imam.
Selain itu, beliau juga sangat aktif dalam bidang penulisan dan sering mengarang
kitab. Karangan beliau merangkumi pelbagai bidang dan kitabnya telah berjaya
diterbitkan sebanyak 78 buah. Di antara kitabnya yang terkenal ialah Ithaf al-Maharah
fi Tatimmah al-„Asyrah, Usul al-Qiraat, Tahbir al-Taysir dan banyak lagi.
Ramai orang yang ingin berguru dengan beliau dan antara murid yang terkenal
ialah ketiga-tiga orang anaknya, iaitu Syeikh Abu al-Fath Muhammad, Syeikh Abu
Bakr Ahmad dan Syeikh Abu Al-Khayr Muhammad. Muridnya yang lain ialah Syeikh
al-Khatib Mu‟min bin „Ali al-Rumi, Syeikh „Abd al-Qadir bin Tallah al-Rumi dan
Syeikh Jamal al-Din Muhammad bin Muhammad.
8
Disebabkan oleh kehebatan beliau dalam bidang agama, beliau telah diberi
pengiktirafan dalam mengeluarkan fatwa oleh mufti Mesir yang terkemuka pada
waktu itu, iaitu Al-Qadhi Abdul Fida‟ (774 H), Al-Qadhi Diauddin (778 H) dan
Syeikh Al-Islam Al-Baqilani (785 H) ketika beliau berusia 34 tahun. Beliau telah
berjaya menubuhkan sebuah pusat pengajian yang diberi nama Dar Al-Quran dan
mengajarkan ilmu Al-Quran di sini.
Pada waktu dhuha hari Jumaat bertepatan 5 Rabi„ul Awwal 833 Hijriah, beliau
telah pulang mengadap Rabul „Izzati. Beliau telah disemadikan di Darul-Quran yang
diasaskan olehnya. Jenazah beliau telah diiringi oleh seluruh umat tanpa mengira
darjat dan pangkat. Ini memberi bukti beliau benar-benar dikasihi umat.7
Antara pesanan Imam Al-Jazari yang menjadi pegangan para ulama sehingga kini
ialah:
“Lazimilah (wajiblah) tenang dan beradab ketika bersama dengan syeikh (guru) bagi
sesiapa yang ingin berjaya.”
Pada masa itu, beliau menyertai Institut Sains Syariah Al-Furqan di Damsyik dan
memperoleh ijazahnya, kemudian beliau menyertai fakulti Bahasa Arab di Universiti
Al-Azhar. Doktor Aiman Rusydi Suwaid menamatkan pengajiannya pada tahun 1982.
Seterusnya, Doktor Aiman Rusydi Suwaid juga menyertai pengajian di tahap
pascasiswazah di Universiti Umm Al-Qura di Makkah Al-Mukarramah dan
memperoleh ijazah antarabangsa peringkat sarjana pada tahun 1411 Hijrah. Setelah
7
Abdul Djalal H.A., Ulumul Qur‟an (Surabaya: Dunia Ilmu, 2013), hlm. 168.
8
Aiman Rusydi Suwaid, At-Tajwid al-Mushawwar, terj. Abu Umar Basyir (Solo: Zamzam
Mata Air Ilmu, 2017), hlm. 9.
9
itu, beliau memperoleh ijazah antarabangsa yang tinggi peringkat doktor falsafah pada
tahun 1419 Hijrah.9
a. Ijazah Tajwid dari Maahad Qiraat, di Kaherah pada tahun 1981 Masihi.
b. Ijazah Sarjana Muda dari Fakulti Bahasa Arab, Universiti Al-Azhar, Kaherah,
pada tahun 1982 Masihi.
c. Ijazah Sarjana dengan keputusan cemerlang dari Fakulti Bahasa Arab,
Universiti Umm Al-Qura, di Makkah Al-Mukarramah pada tahun 1411 Hijrah.
d. Ijazah Kedoktoran dengan cemerlang, dengan kepujian, dari Fakulti Bahasa
Arab, Universiti Umm Al-Qura, di Makkah Al-Mukarramah pada tahun 1419
Hijrah.
e. Ijazah Kedoktoran dengan cemerlang, dengan kepujian pertama, dari Fakulti
Pengajian Islam dan Arab, Universiti Al-Azhar, di Kaherah pada tahun 1420
Hijrah.
Selain ijazah formal yang berkaitan dengan keahlian akademik beliau, beliau juga
memperoleh ijazah dari para masyaikh qurra dalam bidang qiraat. Antaranya:
a. Ijazah riwayat Hafs „an „Aasim dengan thariqah asy-Syaatibiyyah dari asy-
Syeikh Muhyiddin al-Kurdiy di Damsyiq.
b. Ijazah qiraah assyarah kecil juga dari gurunya asy-Syeikh Muhyiddin al-
Kurdiy.
c. Ijazah qiraah assyarah besar dari thariqah asy-Syathibiyyah dan ad-Durrah
juga dari gurunya yang sama iaitu asy-Syeikh Muhyiddin al-Kurdiy.
Serta ijazah dari masyaikh qurra lainnya dari thariqah yang berbeza dengan di atas.
9
Ibid., hlm. 11.
10
Syeikh Aiman Hafiz. Terkenal sebagai seorang ulama yang “tegas” dalam bab
pemberian ijazahnya, antaranya beliau memberi satu syarat kepada para penghafal
yang mana diberikan ijazah itu harus menghafal 30 juz dengan mutqin, bahkan jika
ada satu huruf sahaja yang murid tersebut terlupa atau tidak lancar dan dilatih terus-
menerus masih juga tidak lancar, meskipun murid tersebut berjaya memperoleh ijazah
daripadanya pasti akan ditulis pada ijazah tersebut kelemahan pelajar tersebut pada
tempat-tempat yang tertentu. Dengan ini kita dapat lihat betapa amanahnya ulama
dalam memelihara disiplin ilmu supaya tidak jatuh ke atas orang yang tidak
berkelayakan dalam menyampaikannya.10
Syeikh Mahmud Khalil al-Husari merupakan seorang tokoh yang hebat dalam
bidang Al-Quran dan Qiraat yang sangat terkenal pada zaman beliau hidup sehingga
sekarang. Beliau merupakan orang yang pertama sekali melakukan rakaman bacaan
al-Quran secara Murattal dan Mujawwad dengan bacaan riwayat Hafs „an „Asim
secara lengkap 30 juzuk pada tahun 1961 bersamaan 1361H.11
Biodatanya bermula dengan nama iaitu Mahmud Ibnu Khalil Al-Husairi. Gelaran
Al-Husairi merupakan daripada bapanya iaitu Khalil. Beliau dilahirkan di sebuah
perkampungan bernama Shubra al-Namlah di daerah Tanta di negeri barat Mesir.
Ayahnya berasal dari Al-Fayyum, Mesir kemudian berpindah ke Shubra al-Namlah
Tanta sebelum anaknya Shaykh Mahmud dilahirkan. Pada umur empat tahun telah
mula menghafaz Al-Quran dan selesai 30 juzuk pada umur lapan tahun. Selepas itu,
beliau berguru dengan seorang syaikh di tempat beliau iaitu ilmu tajwid sebelum
memasuki alam persekolahan iaitu dua belas tahun.
10
Aiman Rusydi Suwaid, Panduan Ilmu Tajwid Bergambar (Jakarta: Qaf Media Kreativa,
2016), hlm. 24.
11
Ahmad Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur‟an dan Ilmu Tajwid (Jakarta: Al-Kautsar,
2010), hlm. 88.
11
seorang wanita yang bernama al-Sayyidah Su„ad Binti Muhammad al-Sharbini pada
tahun 1938 ketika beliau berumur 21 tahun dan dikurniakan tujuh orang anak.12
Syeikh Mahmud Khalil al-Husairi mula menempa nama dalam bidang penyiaran
di saluran radio 1944 ketika berumur 27 tahun. Pada tahun 1960 M, Syeikh Mahmud
Khalil memperoleh satu cadangan untuk melakukan rakaman bacaan ayat-ayat suci
Al-Quran al-Karim dengan bacaan secara Murattal. Pada mulanya beliau hanya
merakam bacaan untuk beberapa surah sahaja dari Al-Quran kemudian telah
dikemukakan kepada badan Kementerian Wakaf Mesir disukai pihak kementerian,
maka dicadangkan kepada beliau iaitu membuat rakaman bacaan ayat-ayat Al-Quran
sehingga sempurna 30 juz. Oleh itu, Syeikh Mahmud Khalil al-Husairi telah menjadi
orang pertama di dunia melakukan rakaman bacaan Al-Quran secara lengkap 30 juzuk
selama 10 tahun. Akhirnya beliau berjaya memasukkan rakaman bacaan beliau ke
dalam kaset dan piring hitam supaya dapat dijaga dan disebarkan kepada masyarakat
seluruh dunia.
Hasil daripada rakaman tersebut ada sebahagian agamawan dan qurra yang kurang
bersetuju dengan Syeikh Mahmud Khalil al-Husairi tentang rakaman bacaan lengkap
30 juzu kerana ada yang beranggapan rakaman itu adalah untuk mendapat hasil diri
sendiri beliau. Selepas itu, Syeikh Mahmud Khalil al-Husairi menyerahkan hasil
rakaman kepada Majlis Tertinggi Hal Ehwal Islam Mesir untuk dipelihara dan
diedarkan kepada dunia.
Setelah daripada itu, nama Syeikh Mahmud Khalil al-Husairi semakin terkenal
sehingga luar dari mesir, maka beliau selalu menerima jemputan tilawah, penulisan-
penulisan berkenaan ilmi al-Qiraat dari luar negara antaranya pernah datang ke
Malaysia dan bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia yang pertama iaitu Tunku
Abdul Rahman di Majlis Musabaqah al-Quran Peringkat Antarabangsa. Semasa
beliau di Malaysia, ketika itu dilanda banjir kerana musim hujan dan menyebabkan
Syeikh Mahmud Khalil sukar untuk bergerak ke satu-satu destinasi. Oleh yang
demikian, kerajaan Malaysia telah memberi kemudahan kepada beliau dengan
menaiki helikopter untuk pergi menemui ribuan rakyat Malaysia yang telah sedia
menunggu kedatangan Syeikh Mahmud Khalil ke negara ini.
12
Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur‟an (Jakarta: Amzah, 2012), hlm. 127.
12
Semasa hayatnya, beliau pernah menanam hasrat ingin membina sebuah masjid di
kampung iaitu di Shubra al-Namlah dan sebuah lagi masjid di tempat yang lain.
Selepas itu, ingin menanam hasrat membina sebuah Ma‟ahad Tahfiz al-Quran tetapi
tidak sempat semasa hayat beliau. Maka, beliau mewasiatkan hasratnya itu kepada
anaknya untuk melaksanakan pembinaan ma‟ahad tahfiz. Dua buah masjid yang telah
dibina oleh Syakh Mahmud Khalil al-Husairi diserahkan kepada Al-Azhar untuk
menguruskannya sehingga sekarang.13
13
Muhammad Ahmad Ma„bad, Nafahat min „Ulum al-Qira‟at, terj. M. Abdul Ghoffar
(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2014), hlm. 205.
13
kesalahan bacaannya. Melalui metode ini, guru dapat mengetahui secara langsung
kesalahan setiap murid dan memberikan koreksi yang tepat terhadap bacaan mereka.14
14
Ahmad Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur‟an dan Ilmu Tajwid (Jakarta: Pustaka Al-
Kautsar, 2010), hlm. 21.
14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan berbagai pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa tahsin
merupakan upaya memperbaiki dan memperindah bacaan Al-Qur‟an sesuai dengan
kaidah tajwid, makharijul huruf, sifat huruf, serta hukum-hukum bacaan lainnya agar
bacaan menjadi benar dan tartil. Tahsin tidak dapat dipisahkan dari ilmu tajwid kerana
keduanya saling berkaitan, yaitu tajwid sebagai teori dan tahsin sebagai praktik
penerapan bacaan yang benar. Melalui pembelajaran tahsin, seorang muslim dapat
membaca Al-Qur‟an dengan lebih baik, menjaga keaslian lafaz Al-Qur‟an, serta
memperoleh pahala dalam membacanya. Oleh sebab itu, mempelajari teori tahsin dan
tajwid hukumnya fardu kifayah, sedangkan menerapkannya dalam membaca Al-
Qur‟an menjadi fardu „ain bagi setiap muslim.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa sejarah tahsin Al-
Qur‟an bermula sejak turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Saw.
melalui Malaikat Jibril As. Proses penyampaian wahyu secara langsung tersebut
menjadi dasar lahirnya pembelajaran tahsin dan tajwid dengan metode talaqqi, yaitu
pembelajaran bacaan Al-Qur‟an secara langsung dari guru kepada murid. Setelah
Nabi Muhammad Saw. menyebarkan ajaran Islam, pembelajaran Al-Qur‟an terus
berkembang di kalangan para sahabat yang terkenal ahli dalam bidang qiraat dan
tajwid, kemudian diteruskan oleh generasi tabi„in di berbagai wilayah Islam seperti
Madinah, Mekah, Kufah, dan Basrah. Hal ini menunjukkan bahwa tahsin memiliki
peranan penting dalam menjaga kemurnian bacaan Al-Qur‟an agar tetap sesuai
dengan bacaan yang diajarkan Rasulullah Saw. hingga sampai kepada umat Islam
pada masa sekarang.
Berdasarkan dalil Al-Qur‟an, hadis, dan pendapat para ulama, dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran tahsin memiliki landasan yang sangat kuat dalam
ajaran Islam. Perintah membaca Al-Qur‟an secara tartil dalam QS. Al-Muzzammil
ayat 4 menunjukkan pentingnya membaca Al-Qur‟an dengan benar sesuai kaidah
tajwid dan makharijul huruf. Selain itu, hadis Rasulullah Saw. tentang keutamaan
belajar dan mengajarkan Al-Qur‟an menegaskan bahawa mempelajari tahsin
15
merupakan amalan yang mulia. Dengan mempelajari tahsin, seorang muslim dapat
menjaga keaslian bacaan Al-Qur‟an, menghindari kesalahan yang dapat mengubah
makna ayat, serta membaca Al-Qur‟an sesuai tuntunan yang diajarkan Rasulullah
Saw. sehingga pembelajaran tahsin menjadi bagian penting dalam menjaga kemurnian
Kalamullah.
Berdasarkan uraian tentang Imam Al-Jazari, Dr. Aiman Rusydi Suwaid, dan
Syeikh Mahmud Khalil al-Husari, dapat disimpulkan bahwa ketiga tokoh tersebut
memiliki peranan besar dalam perkembangan ilmu tahsin, tajwid, dan qiraat Al-
Qur‟an dari masa ke masa. Imam Al-Jazari dikenal sebagai ulama besar yang
meletakkan dasar-dasar ilmu qiraat dan tajwid melalui karya-karyanya yang menjadi
rujukan hingga kini. Dr. Aiman Rusydi Suwaid berperan dalam mengembangkan
pembelajaran tahsin secara modern dengan tetap menjaga ketelitian sanad dan kualitas
bacaan Al-Qur‟an. Sementara itu, Syeikh Mahmud Khalil al-Husari berjasa dalam
menyebarluaskan bacaan Al-Qur‟an melalui rakaman murattal yang menjadi pedoman
umat Islam di seluruh dunia. Ketiga tokoh ini menunjukkan bahwa menjaga
kemurnian bacaan Al-Qur‟an memerlukan kesungguhan, disiplin, serta
kesinambungan pembelajaran dari generasi ke generasi agar bacaan Al-Qur‟an tetap
terpelihara sesuai ajaran Rasulullah Saw.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tahsin
Al-Qur‟an menggunakan berbagai metode yang saling melengkapi untuk membantu
peserta didik membaca Al-Qur‟an dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid.
Metode talaqqi dan musyafahah menekankan pembelajaran secara langsung antara
guru dan murid, metode tikrar melatih kefasihan melalui pengulangan bacaan, metode
sima‟i membantu peserta didik memperbaiki bacaan melalui pendengaran, sedangkan
metode sorogan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengoreksi kesalahan
bacaan secara individu. Dengan penerapan metode-metode tersebut, proses
pembelajaran tahsin menjadi lebih efektif dalam membentuk bacaan Al-Qur‟an yang
fasih, tartil, dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.
B. Saran
16
mempelajari tahsin Al-Qur‟an agar bacaan yang dilafalkan sesuai dengan kaidah
tajwid dan tuntunan Rasulullah Saw. Kedua, para pendidik dan lembaga pendidikan
Islam diharapkan dapat menerapkan metode pembelajaran tahsin yang efektif seperti
talaqqi, musyafahah, sima‟i, dan sorogan agar peserta didik lebih mudah memahami
dan mempraktikkan bacaan Al-Qur‟an dengan benar. Ketiga, kajian tentang tahsin
perlu terus dikembangkan melalui penelitian dan pembelajaran yang berkelanjutan
sehingga ilmu tajwid dan qiraat tetap terjaga serta dapat diwariskan kepada generasi
berikutnya. Dengan demikian, kemurnian bacaan Al-Qur‟an akan tetap terpelihara
sepanjang zaman.
17
DAFTAR PUSTAKA
Annuri, Ahmad. Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur‟an dan Ilmu Tajwid. Jakarta: Pustaka Al-
Kautsar, 2010.
Fathoni, Ahmad. Metode Maisura: Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an. Jakarta:
Yayasan Bengkel Metode Maisura, 2017.
Humaira, Nadia. Strategi Pembelajaran Tahsin dan Tahfidz Al-Qur‟an. Jawa Barat: Mega
Press Nusantara, 2023.
Ma„bad, Muhammad Ahmad. Nafahat min „Ulum al-Qira‟at. Diterjemahkan oleh M. Abdul
Ghoffar. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2014.
Suwaid, Aiman Rusydi. At-Tajwid al-Mushawwar. Diterjemahkan oleh Abu Umar Basyir.
Solo: Zamzam Mata Air Ilmu, 2017.
Suwaid, Aiman Rusydi. Panduan Ilmu Tajwid Bergambar. Jakarta: Qaf Media Kreativa,
2016.
18