IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN PPKN
MELALUI KURIKULUM MERDEKA
Implementation of Character Education Through Civic Education Learning in the
Merdeka Curriculum
Oleh: Fajriyah
e-mail: fajriyah3105@[Link]
ABSTRAK
Pendidikan karakter menjadi salah satu aspek penting dalam menghadapi perkembangan
teknologi dan perubahan sosial pada eraSociety 5.0. Perkembangan teknologi yang semakin
pesat memberikan dampak positif sekaligus tantangan terhadap pembentukan karakter peserta
didik. Artikel ini disusun berdasarkan sintesis lima jurnal ilmiah yang membahas implementasi
pendidikan karakter melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn),
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), serta penerapan Kurikulum Merdeka dalam
menghadapi tantangan era Society 5.0. metode yang digunakan adalah studi kepustakaan
dengan menganalisis berbagai hasil penelitian terkait pendidikan karakter. Hasil kajian
menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat diimplementasikan melalui pembelajaran
PPKn, penerapan Kurikulum Merdeka, dan Kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
(P5). Pendidikan karakter berperan penting dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya
cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki moral, etika, tanggung jawab, dan kemampuan
beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Dengan demikian, pendidikan karakter menjadi
fondasi penting dalam menciptakan generasi yang unggul, berakhlak mulia, dan mampu
menghadapi tantangan era Society 5.0.
Kata Kunci : Pendidikan Karakter, Society 5.0, Kurikulum Merdeka, PPKn, Profil
Pelajar Pancasila.
ABSTRACT Commented [Z1]: ABSTRAK BAHASA INGGRIS
Character education stands as a crucial element in addressing the advancements in
technology and the transformations in society during the Society 5.0 period. The swift progress
in technology brings both benefits and obstacles to the development of students' character. This
paper is based on a composite review of five different scholarly articles that examine character
education, the execution of the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5), Civic
Education pedagogy, and the significance of character cultivation in the Society 5.0 context.
The methodology employed in this research is library research, focusing on evaluating diverse
findings related to character education. The findings indicate that character education can be
effectively integrated through Civic Education instruction, the application of the Merdeka
Curriculum, and the execution of the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5).
Character education is vital for developing students who are not only intellectually capable but
also morally upright, ethically aware, responsible, and adaptable to technological changes.
Consequently, character education establishes a fundamental basis for nurturing an exceptional
generation endowed with admirable values that can confront the challenges presented in the
Society 5.0 era.
Keyword : Character Education, Society 5.0, Merdeka
1 Curriculum, Civic Education,
Pancasila Student Profile.
1
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan proses yang tidak menyatakan bahwa Kurikulum Merdeka me
hanya bertujuan mengembangkan kemampuan mberikan ruang yang lebih luas bagi sekolah
intelektual peserta didik, tetapi juga membentuk untuk mengintegrasikan pendidikan karakter
kepribadian dan karakter yang sesuai dengan melalui pembelajaran yang berpusat pada
nilai-nilai moral dan sosial yang berlaku dalam peserta didik. Implementasi Projek Penguat
masyarakat. Dalam konteks pendidikan nasional, an Profil PelajarPancasila (P5) menjadi salah
pembentukan karakter menjadi bagian penting satu sarana utama untuk menanamkan nilai
dari tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan karakter seperti gotong royong, kreativitas,
dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 kemandirian, dan bernalar kritis. Melalui
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu mengem kegiatan proyek, peserta didik memperoleh
bangkan peserta didik agar menjadi manusia yang pengalaman nyata yang membantu mereka
beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, memahami pentingnya nilai karakter dalam
mandiri, dan bertanggung jawab. Dengan demi kehidupan sehari-hari.
kian, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur Rofiqi (2023) menegaskan bahwa pen
dari pencapaian akademik, tetapi juga dari guatan karakter melalui Profil Pelajar Panca
kualitas karakter yang dimiliki peserta didik. sila merupakan strategi yang relevan dalam
Menurut Dianti (2014), pendidikan mempersiapkan generasi muda menghadapi
karakter merupakan proses yang terintegrasi tantangan era Society 5.0. Enam dimensiPro
dalam seluruh kegiatan pembelajaran untuk me fil Pelajar Pancasila mencerminkan karakter
nanamkan nilai-nilai seperti tanggung jawab, ideal yang diharapkan dimiliki peserta didik
disiplin, kejujuran, demokrasi, dan cinta tanah Indonesia, yaitu beriman dan bertakwa
air. Pendidikan karakter tidak dapat dipahami kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebineka
sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, an global, gotong royong, mandiri, bernalar
melainkan sebagai proses pembiasaan yang kritis, dan kreatif. Dimensi tersebut menunj
dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. ukkan bahwa pendidikan karakter menjadi
Dalam hal ini, sekolah memiliki peran penting inti dari proses pembelajaran dalam Kurikul
dalam menciptakan budaya belajar yang um Merdeka.
mendukung internalisasi nilai-nilai karakter. Sari (2023) menjelaskan bahwa pemiki
Prahesvira, Darmawan, dan Robiansyah ran Ibnu Miskawaih menekankan pentingnya
(2024) menjelaskan bahwa pendidikan karakt pembentukan akhlak melalui pembiasaan dan
er akan berjalan efektif apabila diterapkan keteladanan. Menurutnya, karakter yang baik
melalui proses pembelajaran yang aktif dan tidak terbentuk secara instan, tetapi melalui
kontekstual. Guru tidak hanya berperan seba proses pendidikan yang berlangsung terus-
gai penyampai materi, tetapi juga sebagai tela menerus. Pandangan ini relevan dengan
dan yang menunjukkan sikap dan perilaku ya pendidikan modern, terutama ketika peserta
ng dapat dicontoh oleh peserta didik. Oleh didik dihadapkan pada tantangan moral
karena itu, keberhasilan pendidikan karakter akibat perkembangan teknologi dan arus
sangat dipengaruhi oleh strategi pembelajar, informasi yang sangat cepat.
keteladanan guru, serta budaya sekolah yang Perkembangan teknologi dan informasi
konsisten dalam menerapkan nilai-nilai pada era digital telah membawa perubahan
positif. besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk
Putri, Setiani, dan Al Fath (2023) 2 bidang pendidikan. Di tengah perkemb
dalam
2
angan tersebut, persoalan pendidikan karakter karakter siswa melalui penanaman nilai
menjadi perhatian penting karena semakin demokrasi, tanggung jawab, nasionalisme,
banyak ditemukan perilaku peserta didik yang toleransi, dan sikap menghargai
menunjukkanpenurunan moral, seperti kurang keberagaman. Artikel ini bertujuan untuk me
disiplin, rendahnya rasa tanggung jawab, nganalisis dan menyintesis lima jurnal ilmiah
perilaku tidak jujur, hingga kurangnya rasa yang membahas pendidikan karakter melalui
hormat terhadap guru maupun orang tua. pembelajaran PPKn, implementasi Kurikulum
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendi Merdeka, penguatan Profil Pelajar Pancasila,
dikan tidak cukup hanya menekankan aspek serta relevansi pendidikan karakter dalam
akademik, tetapi juga harus memperhatikan menghadapi tantangan era Society 5.0. Fokus
pembentukan karakter peserta didik secara utama artikel ini Adalah bagaimana pendidik
menyeluruh. an karakter dapat diterapkan secara efektif
Era Society 5.0 ditandai dengan pemanf untuk membentuk peserta didik yang memili
aatan teknologi berbasis artificial intelligence ki moral, etika, dan kepribadian yang baik.
big data, dan internet of things yang memper Pendidikan karakter menjadi isu yang
mudah berbagai aktivitas manusia. Namun, semakin penting karena berbagai permasalah
kemajuan teknologi tersebut juga membawa an sosial yang melibatkan generasi muda
dampak negatif berupa menurunnya moral menunjukkan bahwa aspek moral masih
dan karakter generasi muda, seperti meningk memerlukan perhatian serius. Fenomena
atnya perilaku bullying, penyalahgunaan me seperti menurunnya etika berkomunikasi,
dia sosial, kekerasan, serta rendahnya kurangnya rasa hormat terhadap guru,
sikap disiplin dan tanggung jawab. Pendidika meningkatnya perilaku individualistis, hingga
n karakter menjadi solusi penting dalam penyalahgunaan media sosial merupakan
menghadapi tantangan tersebut karena indikasi bahwa peserta didik membutuhkan
mampu membentuk peserta didik yang tidak penguatan karakter yang lebih sistematis.
hanya cerdas secara akademik, tetapi juga Dalam konteks ini, sekolah memiliki
memiliki moral dan tanggung jawab sosial. tanggung jawab untuk membentuk peserta
Pendidikan karakter bertujuan membentuk didik yang tidak hanya unggul secara
individu yang memiliki akhlak mulia, akademik, tetapi juga memiliki integritas dan
tanggung jawab, disiplin, jujur, toleran, dan kepedulian sosial. Pembentukan karakter
mampu hidup berdampingan dalam tidak dapat dilakukan hanya melalui
masyarakat. penyampaian materi secara teoritis.
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, Peserta didik perlu mendapatkan
penguatan pendidikan karakter diwujudkan pengalaman belajar yang memungkinkan
melalui implementasi Kurikulum Merdeka mereka mempraktikkan nilai-nilai karakter
dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam situasi nyata. Oleh karena itu, proses
(P5). Kurikulum Merdeka memberikan ruang pembelajaran harus dirancang agar
bagi peserta didik untuk berkembang sesuai mendorong siswa untuk bekerja sama,
potensi yang dimiliki dengan tetap bertanggung jawab, jujur, disiplin, serta
menanamkan nilai-nilai karakter Pancasila. mampu menghargai pendapat orang lain.
Selain itu, mata pelajaran Pendidikan Pembelajaran yang aktif dan kontekstual
Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) menjadi sarana yang efektif untuk
3
memiliki peran strategis dalam membentuk menanamkan nilai karakter secara lebih
3
bermakna. Mata pelajaran Pendidikan lima jurnal ilmiah yang menjadi dasar artikel
Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) ini, terdapat temuan menarik mengenai
memiliki kontribusi besar dalam efektivitas strategi pendidikan karakter.
pembentukan karakter karena substansi Misalnya, penelitian Dianti (2014)
materinya berkaitan langsung dengan nilai- menunjukkan bahwa integrasi nilai karakter
nilai Pancasila, demokrasi, hak dan kewajiban dalam PPKn meningkatkan kesadaran siswa
warga negara, serta kehidupan bermasyarakat. terhadap tanggung jawab sosial hingga 25
Dianti (2014) menegaskan bahwa integrasi persen melalui observasi kelas.
pendidikan karakter dalam pembelajaran Sementara itu, Prahesvira dkk. (2024)
PPKn dapat membantu peserta didik menemukan bahwa pembelajaran kontekstual
memahami dan menerapkan nilai moral di sekolah dasar berhasil menurunkan tingkat
secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. kenakalan siswa sebesar 30 persen setelah
Dengan demikian, PPKn tidak hanya satu semester penerapan. Putri dkk. (2023)
berfungsi sebagai mata pelajaran menyoroti bagaimana P5 dalam Kurikulum
pengetahuan, tetapi juga sebagai wahana Merdeka mendorong kemandirian siswa
pembinaan karakter. Selain itu, penerapan melalui proyek berbasis masyarakat, di mana
Kurikulum Merdeka memperkuat peran 80 persen peserta didik melaporkan
sekolah dalam mengembangkan karakter peningkatan rasa percaya diri. Rofiqi (2023)
peserta didik. Kurikulum ini menekankan menambahkan bahwa dimensi Profil Pelajar
pentingnya pembelajaran yang berpusat pada Pancasila relevan untuk Society 5.0 karena
siswa dan memberikan ruang bagi sekolah melatih literasi digital yang etis, dengan bukti
untuk menyesuaikan strategi pembelajaran peningkatan kemampuan bernalar kritis di
sesuai kebutuhan peserta didik. Melalui kalangan siswa SMA.
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Sari (2023) melengkapi dengan
(P5), peserta didik memperoleh kesempatan perspektif historis Ibnu Miskawaih, yang
untuk mengembangkan karakter melalui menekankan pembiasaan harian sebagai kunci
kegiatan yang menuntut kolaborasi, akhlak, dan ini terbukti efektif dalam program
kreativitas, kepemimpinan, dan kepedulian sekolah yang menggabungkan teladan guru
terhadap lingkungan sosial. dengan kegiatan ekstrakurikuler. Sintesis dari
Era Society 5.0 juga menuntut peserta kelima jurnal tersebut menggarisbawahi
didik memiliki kemampuan literasi digital bahwa pendidikan karakter paling optimal
yang disertai dengan karakter yang kuat. ketika terintegrasi secara holistik, bukan
Kemampuan menggunakan teknologi secara parsial.
bijak, memilah informasi yang benar, serta Berdasarkan uraian tersebut, pendidikan
menjaga etika dalam berinteraksi di ruang karakter merupakan kebutuhan mendasar
digital merupakan bagian penting dari dalam proses pendidikan. Integrasi
pendidikan karakter masa kini. Tanpa karakter pendidikan karakter melalui pembelajaran
yang baik, perkembangan teknologi justru PPKn, Kurikulum Merdeka, dan Projek
dapat menimbulkan berbagai persoalan sosial Penguatan Profil Pelajar Pancasila menjadi
dan moral. Oleh karena itu, pendidikan strategi yang relevan untuk membentuk
karakter harus menjadi fondasi utama dalam peserta didik yang berpengetahuan, berakhlak
mempersiapkan generasi muda menghadapi mulia, serta mampu berkontribusi secara
4
tantangan masa depan. Berdasarkan analisis positif dalam kehidupan bermasyarakat,
4
berbangsa, dan bernegara. Ke depan, Putri, Setiani, dan Al Fath (2023), Rofiqi
diperlukan komitmen bersama dari (2023), serta Sari (2023).
pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua Pengumpulan data dilakukan melalui
untuk memperkuat implementasi ini agar teknik studi dokumentasi. Peneliti membaca
generasi muda Indonesia tidak hanya siap secara mendalam setiap jurnal, kemudian
secara intelektual, tetapi juga secara moral mengidentifikasi informasi krusial yang
menghadapi dinamika era digital yang penuh mencakup tujuan penelitian, metode yang
godaan. Tanpa penguatan karakter yang digunakan, temuan utama, strategi penerapan
berkelanjutan, potensi kemajuan teknologi pendidikan karakter, serta nilai-nilai karakter
justru berisiko memperburuk degradasi moral, yang dikembangkan. Data yang terkumpul
sehingga pendidikan harus tetap menjadikan kemudian dikelompokkan berdasarkan tema-
nilai-nilai luhur sebagai pondasi utama. tema spesifik untuk memperlancar proses
analisis.
Analisis data dilaksanakan dengan
METODE PENELITIAN teknik analisis isi (content analysis). Tahapan
Penelitian ini menerapkan metode analisis meliputi: (1) reduksi data, yakni
studi kepustakaan (library research) dengan pemilihan informasi yang sesuai dengan fokus
pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan penelitian; (2) penyajian data, yaitu
tersebut dimanfaatkan untuk menganalisis dan penyusunan hasil kajian dalam narasi
menyusun sintesis dari berbagai hasil deskriptif; dan (3) penarikan kesimpulan,
penelitian terkait penerapan pendidikan yaitu penyusunan sintesis dari temuan kelima
karakter dalam pembelajaran Pendidikan jurnal untuk memperoleh gambaran
Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) komprehensif mengenai penerapan
melalui Kurikulum Merdeka. Berdasarkan pendidikan karakter. Guna menjamin validitas
pendekatan ini, data dikumpulkan dari data, peneliti menerapkan triangulasi sumber
sumber-sumber tulisan yang relevan, melalui perbandingan hasil dan temuan dari
kemudian diolah secara sistematis guna seluruh jurnal yang dikaji.
menghasilkan pemahaman yang menyeluruh
terhadap tema yang diteliti.
Sumber data penelitian terdiri atas HASIL PENELITIAN DAN
lima jurnal ilmiah yang dipilih secara purposif PEMBAHASAN
sesuai dengan kesesuaian topiknya terhadap Hasil analisis terhadap lima jurnal
fokus studi. Kriteria seleksi sumber mengungkapkan bahwa keseluruhan
mencakup: (1) jurnal yang menjadikan penelitian menjadikan pendidikan karakter
pendidikan karakter sebagai tema pokok; (2) sebagai elemen krusial dalam proses
jurnal yang membahas pembelajaran PPKn, pendidikan. Walaupun masing-masing jurnal
Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila, memiliki fokus kajian yang berbeda,
atau Society 5.0; (3) jurnal yang diterbitkan semuanya sepakat bahwa pembentukan
dalam media ilmiah yang kredibel; serta (4) karakter peserta didik dapat dicapai melalui
jurnal yang menyajikan data atau pembahasan pembelajaran terstruktur yang terstruktur,
yang relevan untuk dianalisis. Kelima jurnal pembiasaan positif, serta keteladanan guru.
tersebut adalah Dianti (2014), Prahesvira, Dianti (2014) menekankan peran strategis
5
Darmawan, dan Robiansyah (2024), pembelajaran PPKn dalam menanamkan
5
nilai-nilai karakter, seperti tanggung jawab, diskusi, bermain peran, dan praktik langsung
demokrasi, disiplin, dan nasionalisme. memfasilitasi pemahaman serta penerapan
Prahesvira, Darmawan, dan Robiansyah nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari.
(2024) membuktikan bahwa metode Putri, Setiani, dan Al Fath (2023) menjelaskan
pembelajaran aktif, seperti diskusi kelompok, bahwa Kurikulum Merdeka menyediakan
bermain peran, serta praktik langsung, efektif ruang fleksibel bagi sekolah untuk
dalam membantu peserta didik memahami membangun karakter melalui pembelajaran
dan menginternalisasi nilai-nilai karakter. siswa-sentris. Rofiqi (2023) memperkokoh
Putri, Setiani, dan Al Fath (2023) argumen ini dengan menyatakan efektivitas
menyatakan bahwa Kurikulum Merdeka P5 dalam menginternalisasi nilai gotong
membuka peluang lebih besar bagi sekolah royong, kemandirian, kreativitas, dan bernalar
untuk mengembangkan karakter melalui kritis. Sari (2023) melengkapi dengan
pendekatan pembelajaran berpusat pada penekanan pada pembiasaan dan keteladanan
siswa. Temuan ini diperkuat oleh Rofiqi ala Ibnu Miskawaih, yang tetap relevan di
(2023), yang menyebutkan bahwa Projek tengah kemajuan teknologi dan tantangan
Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) moral era Society 5.0.
merupakan sarana ampuh untuk menanamkan Secara keseluruhan, sintesis hasil
nilai gotong royong, kemandirian, kreativitas, analisis mengindikasikan bahwa keberhasilan
dan bernalar kritis. Sementara itu, Sari (2023) pendidikan karakter akan optimal jika
menyoroti bahwa pembentukan karakter didukung oleh pembelajaran PPKn yang
mulia terjadi melalui pembiasaan dan kontekstual, implementasi Kurikulum
keteladanan, sebagaimana dirumuskan dalam Merdeka, program P5, serta kerjasama antara
pemikiran Ibnu Miskawaih. Pandangan ini sekolah, keluarga, dan masyarakat.
menggarisbawahi bahwa pendidikan karakter
bukan hanya penyampaian pengetahuan,
melainkan proses pembentukan akhlak yang KESIMPULAN Commented [Z2]: TERDIRI DARI KESIMPULAN DAN
SARAN
berkelanjutan. Berdasarkan analisis terhadap lima
Analisis terhadap lima jurnal dalam jurnal yang diteliti, dapat dirangkum bahwa
penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan pendidikan karakter menjadi elemen dasar
karakter merupakan komponen tak dalam proses pembelajaran, yang bertujuan
terpisahkan dari proses pendidikan, yang membentuk peserta didik agar memiliki
bertujuan membentuk peserta didik yang akhlak mulia, kejujuran, disiplin, tanggung
disiplin, jujur, bertanggung jawab, serta jawab, kepedulian sosial, serta semangat cinta
peduli terhadap sosial. Kelima jurnal tanah air. Pendidikan karakter ini tidak
menegaskan bahwa pembentukan karakter terbatas pada penguasaan pengetahuan
tidak bersifat instan, melainkan melalui semata, melainkan juga menekankan
pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman pembentukan kebiasaan dan perilaku yang
belajar yang konsisten. Dianti (2014) kembali selaras dengan nilai-nilai moral dalam
menegaskan kontribusi strategis PPKn dalam kehidupan sehari-hari.
menanamkan nilai demokrasi, tanggung Di dalam kerangka pendidikan nasional,
jawab, dan nasionalisme. Prahesvira, pendidikan karakter memegang peran krusial
Darmawan, dan Robiansyah (2024) untuk mewujudkan cita-cita pendidikan dalam
6
menambahkan bahwa metode aktif seperti mencetak generasi yang cerdas, berintegritas,
6
serta berkepribadian luhur sesuai dengan DAFTAR PUSTAKA Commented [Z3]: MINIMAL 15 REFERENSI DAN 80%
MENGGUNAKAN REFERENSI TERBARU
nilai-nilai Pancasila. Dianti, P. (2014). Integrasi Pendidikan
Sintesis hasil penelitian mengungkapk Karakter dalam Pembelajaran Pendidi
an bahwa pembelajaran Pendidikan Pancasila kan Kewarganegaraan untuk Mengem
dan Kewarganegaraan (PPKn) memainkan bangkan Karakter Siswa. JPIS: Jurnal
peran strategis dalam penerapan pendidikan Pendidikan Ilmu Sosial.
karakter, sebab materi yang disampaikan Prahesvira, H., Darmawan, D., &Robiansyah,
secara langsung terkait dengan nilai-nilai F. (2024). Implementasi Pendidikan
demokrasi, toleransi, nasionalisme, hak serta Karakter dalam Pembelajaran PPKn di
kewajiban kewarganegaraan, dan tanggung Sekolah Dasar. Didaktika.
jawab sosial. Penerapan Kurikulum Merdeka Putri, N. S. E., Setiani, F., & Al Fath, M. S.
melalui Projek Penguatan Profil Pelajar (2023). Membangun Pendidikan
Pancasila (P5) pun terbukti membuka peluang Karakter Berbasis Kurikulum Merdeka
luas bagi peserta didik untuk mengasah Menuju Era Society 5.0. Pedagogik
karakter melalui aktivitas yang kontekstual, Jurnal Pendidikan.
kolaboratif, serta berbasis pengalaman Rofiqi, A. (2023). Penguatan Pendidikan
langsung. Lebih lanjut, keberhasilan Karakter melalui Projek Penguatan
pembentukan karakter sangat bergantung Profil Pelajar Pancasila menuju Era
pada teladan guru, lingkungan sekolah yang Society 5.0. Jurnal Pendidikan Karakter.
kondusif, serta dukungan dari keluarga dan Sari, H. P. (2023). Pendidikan Karakter di Era
masyarakat. Society 5.0: Analisis Pemikiran Ibnu
Menghadapi dinamika era Society 5.0, Miskawaih. Jurnal Pendidikan Agama
pendidikan karakter semakin esensial untuk Islam Al-Thariqah.
membekali peserta didik dengan kemampuan
memanfaatkan kemajuan teknologi secara
bijaksana dan bertanggung jawab.
Keterampilan berpikir kritis, kreatif, mandiri,
dan beretika harus diperkuat dengan nilai-
nilai moral agar peserta didik tidak kehilangan
jati diri serta orientasi hidupnya. Karenanya,
pelaksanaan pendidikan karakter perlu
dilakukan secara terpadu dan
berkesinambungan melalui kolaborasi antara
sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan
komitmen yang konsisten, pendidikan
karakter diharapkan melahirkan generasi yang
tidak hanya berprestasi secara akademik,
tetapi juga berintegritas tinggi, berakhlak
mulia, serta siap memberikan kontribusi
positif bagi kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
7
8