0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan25 halaman

SEDIMEN

Laporan ini merupakan tugas besar dalam mata kuliah Transpor Sedimen yang membahas analisis sedimentasi di beberapa sungai menggunakan berbagai metode. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses sedimentasi dan dampaknya terhadap pengelolaan sumber daya air. Selain itu, laporan ini juga mencakup landasan teori, metodologi, dan analisis perhitungan terkait sedimentasi.

Diunggah oleh

BINTANG HERDADI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan25 halaman

SEDIMEN

Laporan ini merupakan tugas besar dalam mata kuliah Transpor Sedimen yang membahas analisis sedimentasi di beberapa sungai menggunakan berbagai metode. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses sedimentasi dan dampaknya terhadap pengelolaan sumber daya air. Selain itu, laporan ini juga mencakup landasan teori, metodologi, dan analisis perhitungan terkait sedimentasi.

Diunggah oleh

BINTANG HERDADI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PROJECT BASED LEARNING

SI25-40312TRANSPOR SEDIMEN

PROJECT BASED LEARNING


Diajukan sebagai salah satu syarat kelulusan
Mata Kuliah SI25-40312 (Transpor Sedimen)

Dosen Pengampu
Dr. Miskar Maini, S.T., [Link].
Rahma Yanda, [Link]., Ph.D.

Oleh

Priyo Akhmad Zacky 121210039


Bintang Febriano Herdadi 122210007
Muhammad Razak 122210043
Olivia Mora Venesie Gultom 122210092

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNOLOGI INFRASTRUKTUR DAN KEWILAYAHAN
INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
2025
LEMBAR PENGESAHAN

i
LEMBAR ACC JILID

ii
LEMBAR ASISTENSI

iii
PROJECT BASED LEARNING REKAYASA HIDROLOGI | 2024

LEMBAR SOAL

Muhammad Razak–122210043 iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan Tugas Besar Tranpor Sedimen.
Adapun tujuan saya dalam menyelesaikan laporan ini adalah untuk memenuhi
tugas mata kuliah Transpor Sedimen Tahun ajaran 2025/2026 di Institut
Teknologi Sumatera (ITERA). Dalam menyelesaikan laporan ini, saya
mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya
ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi saya kelancaran dalam setiap
langkahnya.
2. Orang tua dan keluarga saya, yang sudah memberi dukungan dalam
menyelesaikan laporan ini.
3. Dr. Miskar Maini, S.T., [Link]. selaku dosen pengampu mata kuliah
Transpor Sedimen.
4. Rahma Yanda, [Link]., Ph.D. selaku dosen pengampu mata kuliah Transpor
Sedimen.
5. Teman teman Teknik Sipil Institut Teknologi Sumatera yang telah
memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas Besar
Transpor Sedimen.

Saya menyadari bahwa terdapat banyak kesalahan dan kekurangan dalam laporan
ini, kritik dan saran sangat diperlukan agar penyusunan laporan ini lebih baik dan
dapat bermanfaat bagi semua orang.

Lampung Selatan, Desember 2025

Penulis

v
DAFTAR ISI

vi
DAFTAR GAMBAR

vii
DAFTAR TABEL

viii
DAFTAR GRAFIK

ix
TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia, sebagai negara dengan populasi besar, menghadapi tantangan besar


dalam pengelolaan limbah, salah satunya yaitu limbah sedimentasi. Objek vital
seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), termasuk PLTA Way Besai, secara
rutin menghadapi masalah sedimentasi yang menurunkan kapasitas tampung
waduk. Material hasil pengerukan (dredging) ini seringkali hanya ditimbun dan
menjadi limbah baru.

Sedimentasi adalah sebuah proses terjadinya (sediment trasport) yang terbawa


oleh aliran sungai dalam kaitannya dengan debit sungai, mempunyai arti penting
dalam kegiatan pengembangan sumber daya air. Sedimentasi terbagi menjadi 2
proses yaitu, degradasi dan agradasi. Degradasi adalah penurunan dasar sungai
secara keseluruhan atau sebagian akibat adanya penggerusan terhadap dasar
sungai oleh aliran dimana jumlah sediment transport yang tergerus dan hayut ke
hilir sungai lebih besar dari pada jumlah sediment transport yang datang dari hulu
sungai. Agredasi sebaliknya dimana jumlah sediment transport yang hayut ke hilir
lebih kecil dibandingkan sediment transport yang datang dari hulu dan
mengendap. (Khairunnisa, 2021).

Prediksi laju sedimentasi merupakan elemen fundamental dalam perencanaan


struktur hidraulik sungai dan manajemen sistem perairan, sebab informasi ini
sangat krusial untuk pengelolaan gerusan (scouring) dan penyelesaian berbagai
masalah hidraulik lainnya di sungai. Untuk mengestimasi laju sedimentasi,
beragam metode empiris dan analitis telah dikembangkan, termasuk Formula
Duboys, Formula Meyer-Peter, Fungsi Beban Dasar Einstein, Prosedur Einstein
yang Dimodifikasi, serta Metode Colby (1957 dan 1964). Pada dasarnya,
keakuratan prediksi laju sedimentasi sangat bergantung pada karakteristik fisik
sedimen, yang meliputi ukuran butiran (size), bentuk butiran (shape), berat
volume (specific weight), berat jenis (specific gravity), dan kecepatan jatuh (fall
velocity), di mana dengan mengidentifikasi dan menganalisis variabel-variabel

Muhammad Razak – 122210043 1


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

tersebut, laju sedimentasi di lokasi tinjauan dapat diperkirakan secara terperinci.


[1]

Proses sedimentasi yang terjadi di sungai merupakan fenomena simultan yang


signifikan karena dapat memicu pendangkalan dasar sungai dan perubahan
elevasi, yang pada akhirnya berdampak langsung pada morfologi sungai.
Perubahan morfologi ini memiliki implikasi serius terhadap ketersediaan air di
lingkungan sekitar; saat musim kemarau, hal ini dapat menyebabkan kekurangan
air, sementara pada musim penghujan, potensi banjir akan meningkat. Oleh karena
itu untuk melakukan analisis angkutan sedimen total yang terjadi di Sungai, maka
perlu mengaplikasikan tiga metode perhitungan, yaitu Metode Yang, Metode
Bagnold, dan Metode Shen and Hung.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam tugas besar sebagai berikut:
1. Bagaimana analisis sedimentasi suspended load di sungai Chi Canal
(Chitale,1966), Chop Canal (Chaudry,1970), Middle Loup River (Hubbel
and Matejka,1959), dan Mississippi River (Toffaleti,1968) dengan
menggunakan metode Rouse, Tanaka dan Sugimoto?
2. Bagaimana analisis sedimentasi bed load di sungai Chi Canal
(Chitale,1966), Chop Canal (Chaudry,1970), Middle Loup River (Hubbel
and Matejka,1959), dan Mississippi River (Toffaleti,1968) dengan
menggunakan metode Yang, Bagnold, England-Hansen, Ackers and White?

1.3. Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dalam project based learning sebagai berikut:
1. Menganalisis sedimentasi suspended load di sungai Chi Canal (Chitale,
1966), Chop Canal (Chaudry, 1970), Middle Loup River (Hubbel and
Matejka, 1959), dan Mississippi River (Toffaleti, 1968) dengan
menggunakan metode Rouse, Tanaka dan Sugimoto.
2. Menganalisis sedimentasi bed load di sungai Chi Canal (Chitale, 1966),
Chop Canal (Chaudry, 1970), Middle Loup River (Hubbel and Matejka,
1959), dan Mississippi River (Toffaleti, 1968) dengan menggunakan metode
Yang, Bagnold, England-Hansen, Ackers and White.

Muhammad Razak – 122210043 2


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

1.4. Ruang Lingkup


Adapun ruang lingkup dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Data sungai Chi Canal (Chitale,1966), Chop Canal (Chaudry, 1970), Middle
Loup River (Hubbel and Matejka, 1959), dan Mississippi River (Toffaleti,
1968).
2. Metode suspended load menggunakan persamaan metode Rouse, Tanaka
dan Sugimoto.
3. Metode bed load menggunakan persamaan metode Yang, Bagnold, England-
Hansen, Ackers and White.

1.5. Sistematika Penulisan


Adapun sistematika penulisan pada tugas besar ini sebagai berikut:
1. BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisikan latar belakang, rumusan masalah, maksud dan tujuan,
ruang lingkup serta sistematika penulisan.
2. BAB II LANDASAN TEORI
Landasan teori berisikan materi-materi yang diperlukan dalam penelitian
yang berguna untuk melaksanakan Tugas Besar Transpor Sedimen .
3. BAB III METODOLOGI
Bab ini berisi metode pengerjaan serta flowchart.
4. BAB IV ANALISIS PERHITUNGAN
Bab ini berisi perhitungan, pengolahan data, analisis data dari Tugas Besar
yang diberikan.
5. BAB V PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran

Muhammad Razak – 122210043 3


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Sedimentasi

Sedimentasi didefinisikan sebagai salah satu proses pemisahan campuran padatan


dan cairan (slurry) menjadi cairan beningan dan sludge (Rumbini & Kezia, 2020).
Pada sedimentasi, terjadi proses pengendapan secara alami partikel-partikel padat
yang tersuspensi di dalam zat cair karena dipengaruhi gaya gravitasi. Proses
pengendapan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, konsentrasi, ukuran
butir, jenis partikel, densitas dan sebagainya (Suryani & Guskarnali, 2020). Hasil
dari proses sedimentasi terbagi menjadi dua bagian, yakni slurry dan supernatant.
Slurry didefinisikan sebagai bagian yang memiliki konsentrasi partikel terbesar
dan supernatant yaitu bagian cairan yang bening. Proses sedimentasi
memanfaatkan gaya gravitasi, yakni dengan mendiamkan suspensi hingga
membentuk endapan yang terpisah dari beningnya. Ketika suatu partikel padatan
berada pada jarak yang cukup jauh dari dinding atau partikel padatan lainnya
kecepatan jatuhnya tidak dipengaruhi oleh gesekan dinding atau partikel lainnya,
peristiwa ini disebut free settling. Ketika partikel padatan berada pada keadaan
saling berdesakan maka partikel akan mengendap pada kecepatan rendah
peristiwa ini disebut hinder shelting titik guna menghasilkan proses sedimentasi
yang optimum maka perlu menentukan waktu pengendapan yang efektif. waktu
pengendapan yang efektif dapat diasumsikan sebagai batas saat terjadi perubahan
pengendapan dari free settling ke hindered settling (L et al., 2014) dalam
(Fahni dkk., 2023)

2.1.1. Karakteristik Sedimen

Ukuran partikel merupakan karakteristik sedimen yang dapat diukur secara nyata.
Abdul Ghani, dkk. (2012) menggunakan klasifikasi berdasarkan standar U.S.
Army Corps Engineer (USACE) untuk analisa saringan sampel sedimen. Syahrul
Purnawan, dkk. (2011) menngunakan teknik analisis penyaringan dengan metode
ayak basah yang menggunakan saringan sedimen bertingkat dengan diameter
berbeda-beda (4,75 mm, 1,7 mm, 250 µm, 850 µm, 150 µm). Beberapa ahli

Muhammad Razak – 122210043 4


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

hidraulika menggunakan klasifikasi ukuran butiran menurut AGU (American


Geophysical Union) sebagaimana yang ditunjukkan pada Tabel 1. Ponce (1989)
menyatakan bahwa batu besar (boulders) dan krakal (cobbles) dapat diukur
tersendiri, kerikil (gravel) dapat diukur tersendiri atau dengan ayakan, dan pasir
diukur dengan ayakan. Ayakan nomor 200 digunakan untuk memisahkan partikel
pasir dari partikel yang lebih halus seperti lumpur dan lempung, sedangkan
lumpur dan lempung dipisahkan dengan mengukur perbedaan kecepatan jatuhnya
pada air diam. (Hambali dkk., t.t.)

2.1.2. Klasifikasi Sedimen


Pada bidang pengolahan air, sedimentasi diklasifikankan menjadi beberapa tipe
mengacu pada SNI 3423:2008 yaitu:

1. Tipe I (Partikel Diskrit)


Partikel mengendap secara individual (terpisah), pengendapan terjadi bebas
tanpa interaksi antar partikel. Dipengaruhi oleh berat jenis partikel dan
kekentalan air.

Muhammad Razak – 122210043 5


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

2. Tipe II (Partikel Flokulan)


Partikel saling berinteraksi dan bergabung membentuk flok, hal ini terjadi
dengan penambahan koagulan, di mana partikel yang lebih kecil berkumpul
menjadi flok yang lebih besar dan lebih cepat mengendap.
3. Tipe III (Pengendapan Terhalang / Zona)
Konsentrasi partikel tinggi, partikel turun sebagai zona massa, partikel ini
saling berdekatan sehingga pergerakan satu partikel menghambat pergerakan
partikel lain, terbentuk antarmuka yang jelas antara lumpur dan air bersih.
4. Tipe IV (Pengendapan Pemampatan)
Konsentrasi partikel sangat tinggi (paling padat), terjadi pada zona terendah di
bak, di mana pengendapan terhenti karena berat dari partikel di atasnya
memampatkan partikel di bawahnya.

2.2. Angkutan Total Beban Sedimen (Total Load Transport Function)


Angkutan sedimen total (Total Load) didefinisikan sebagai kuantitas material
sedimen yang dipindahkan oleh aliran air dalam periode waktu tertentu, mencakup
keseluruhan sedimen yang bergerak di dalam badan air. Konsep ini merupakan
penjumlahan dari dua mekanisme utama: angkutan beban dasar (bed load), yaitu
material yang menggelinding, meluncur, atau melompat-lompat di sepanjang
dasar saluran, dan angkutan beban layang (suspended load), yaitu partikel halus
yang terbawa dan tersuspensi dalam kolom air karena turbulensi. Analisis
angkutan sedimen total memegang peranan krusial dalam rekayasa hidraulika dan
pengelolaan sumber daya air. Pemahaman yang akurat mengenai laju angkutan
total sangat diperlukan untuk memprediksi fenomena erosi dan deposisi (agradasi)
di sungai, yang berdampak pada stabilitas morfologi saluran, perencanaan
bangunan air, dan estimasi umur waduk. Oleh karena itu, berbagai model prediktif
telah dikembangkan untuk mengestimasi besarnya angkutan sedimen total.

2.2.1. Persamaan Angkutan Sedimen


a) Persamaan Einstein-original
Angkutan sedimen dasar per satuan lebar untuk suatu fraksi ukuran butiran dapat
dinyatakan sebagai:

Muhammad Razak – 122210043 6


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

[ ]
-1/2
ρ
i B q B = * i B ρs g (2.1)
( ρs - ρ ) gd 3
Angkutan sedimen suspensi per satuan lebar untuk suatu fraksi dapat diperoleh
sbb:
i s q s = iB q b [ P E I1 + I2 ] (2.2)

Angkutan sedimen total (Total Load) untuk suatu fraksi it, adalah:
i t q t = i B q b [ 1+P E I 1 + I 2 ] (2.3)

Angkutan sedimen, qt, dinyatakan dalam berat kering per satuan lebar per satuan
waktu, dan dapat digunakan berbagai sistim satuan yang konsisten. Meskipun
Persamaan Einstein (Einstein Bed-Load Function) diakui memiliki tingkat
kompleksitas tinggi sehingga menyulitkan aplikasinya secara praktis, dari sudut
pandang teoritis, persamaan ini memegang peranan esensial. Persamaan tersebut
memuat berbagai konsep dasar dalam bidang angkutan sedimen yang
fundamental, menjadikannya tonggak penting dalam hidraulika sungai. Oleh
karena itu, kerangka teori yang diperkenalkan oleh Einstein telah menjadi dasar
kajian, modifikasi, dan penyederhanaan yang intensif oleh para peneliti
berikutnya, memengaruhi perkembangan formulasi angkutan sedimen yang lebih
lanjut.

b) Persamaan Einstein-modifikasi

Persamaan Einstein (original) dirancang untuk mengestimasi angkutan sedimen di


sungai dengan mempertimbangkan berbagai kondisi aliran dan karakteristik
sedimen, sehingga berpotensi digunakan untuk tujuan perencanaan teknis
(design). Namun, hasil penerapan di lapangan pada beberapa sungai di Amerika
Serikat menunjukkan adanya deviasi yang signifikan antara prediksi persamaan
Einstein-original dengan data observasi aktual. Atas dasar perbedaan ini, Colby
dan Hembree (1955)—seperti yang dikutip oleh Garde dan Raju (1977)—
mengusulkan suatu modifikasi terhadap Persamaan Einstein. Modifikasi ini secara
spesifik bertujuan untuk mengestimasi angkutan sedimen total (total load), yang
mencakup wash load, untuk suatu debit aliran tertentu, dengan memanfaatkan
parameter aliran dan sedimen yang terukur di lapangan, seperti data debit aliran
dan data pengukuran sedimen suspensi.

Muhammad Razak – 122210043 7


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

Langkah pertama adalah menghitung debit sedimen suspensi untuk berbagai


fraksi ukuran tiap satuan lebar, pada lokasi pengambilan sampel, qsi. Debit
sedimen per satuan lebar pada zone(kedalaman) sampel adalah:

qs' = ∑ q si ' = C's γ Q'/B (2.4)

dimana Q adalah debit aliran pada zone (kedalaman) tempat pengambilan


sampel. Hubungan antara Q dan Q adalah :

∫u dy
Q' a'
= D (2.5)
Q
∫u dy
a'

dimana a : jarak dari dasar sampai dengan lubang pengambil sampel terendah
yang dapat dicapai alat. Dengan asumsi bahwa distribusi kecepatan mengikuti
persamaan logaritmik, dapat diperoleh:

'
Q' E logE'
= (1-E')-2.3 (2.6)
Q P m -1

Dimana E’ = a’/D

30.2×D
P m ≈ 2.3 log (2.7)
d 65

dimana x dapat diperoleh dari pembahasan angkutan sedimen dasar bersama


dengan persamaan kecepatan logaritmik, Dari persamaan di atas, dapat diperoleh:

[
q 'B = i s γ Cs 'q ( 1-E' ) -2.3
E'logE'
Pm -1 ] (2.8)

Langkah berikutnya adalah menghitung angkutan sedimen dasar (bed load), iBqB,
menggunakan persamaan:

[ ]
−1 /2
γs 3 1 /2
i B q B = 1/2 ❑¿ i b γ s −1 (g d i ) (2.9)
γ

Nilai * secara sembarang dibagi dengan faktor 2 untuk mendapatkan hasil


hitungan yang mendekati dengan kondisi yang sebenarnya di lapangan. Langkah

Muhammad Razak – 122210043 8


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

berikutnya adalah menghitung eksponen Zi dalam persamaan sedimen suspensi, .


Dalam hal ini, nilai Zi harus diperoleh untuk setiap fraksi butiran. Akan tetapi,
Colby dan Hembree (1955) menemukan bahwa nilai Zi dapat dihubungkan
dengan nilai kecepatan endap dari partikel sedimen menurut persamaan:

( )
0.7
Zi ' w
= i (2.10)
Z i ' w1

Dengan berdasarkan persamaan yang ada, angkutan sedimen total pada suatu
tampang saluran, Qti, selanjutnya dapat diperoleh dengan persamaan:

'
Pm J 1 ' +J 2 ' '
Qti =Qsi ' ' (2.11)
Pm J 1 +J 2 '

untuk partikel berukuran halus. Sementara untuk partikel berukuran kasar dapat
digunakan :

Qti =i B QB [ Pm J '1' + J '2' +1 ] (2.12)

Persamaan Einstein-modifikasi, oleh Colby dan Hembree (1955) pertama kali


dikembangkan pada sungai Niobrara, dekat Cody, Nebraska (USA), yang
kemudian diterapkan pula pada sungai Five Mile, sungai Middle Loup, sungai
Snake, dan sungai Mississippi, yang kesemuanya di USA. Hasil penerapan
persamaan Einstein-modifikasi menunjukkan bahwa angkutan sedimen yang
dihitung dengan metode ini memberikan perbedaan berkisar antara 8 sampai
dengan 108 % (rata-rata 34 %) lebih besar dari angkutan sedimen yang
sebenarnya. Tampak bahwa metode ini menerapkan suatu koreksi yang
dipaksakan , yaitu dengan membagi hasil hitungan dengan faktor 2 agar diperoleh
kesesesuaian yang lebih baik dengan kondisi lapangan. Namun demikian metode
ini, oleh U. S. Bureau of Reclamation dan U. S. Geological Survey, dianggap
cukup dapat diandalkan untuk investigasi angkutan sedimen di sungai.

2.3. Angkutan Sedimen Suspensi (Suspended Load)

Angkutan Sedimen Suspensi (Suspended Load) didefinisikan sebagai material


sedimen yang bergerak tanpa menyentuh dasar saluran air. Fenomena ini terjadi
setelah tegangan geser dasar yang disebabkan oleh aliran melampaui tegangan

Muhammad Razak – 122210043 9


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

geser kritik butiran. Ketika tegangan geser meningkat secara signifikan, partikel
sedimen yang awalnya bergerak sebagai beban dasar (bed load) atau lompatan
(saltation) akan terangkat dan mulai bergerak secara melayang (suspensi).

Metode rouse hal 123-124


Metode tanaka dan Sugimoto hal

Muhammad Razak – 122210043 10


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

BAB III
METODOLOGI

3.1 Soal Project Based Learning


Untuk merencanakan suatu bangunan air pada suatu daerah diperlukan
perencanaan yang tepat berdasarkan kondisi daerah tersebut. Adapun soal project
based learning rekayasa hidrologi sebagai berikut:
1. Jenis peta DAS C
2. Analisis hujan rata-rata daerah (CH Wilayah)
a. Thiessen
b. Isohyet
3. Analisis curah hujan harian maksimum tahunan
Thiessen atau isohyet
4. Penentuan jenis uji analisis frekuensi
Jenis uji analisis frekuensi yang digunakan yaitu Normal, Log Normal, Log
Pearson III dan Gumbel.
5. Uji kecocokan distribusi
a. Chi-kuadrat
b. Smirnov Kolmogorov
6. Analisis curah hujan
Analisis curah hujan berdasarkan distribusi dengan kala ulang yaitu dengan
R2, R5, R10, R20, R25, R50 dan R100
7. Analisis intensitas hujan dan kurva IDF (I2-I100)
a. Mononobe
b. Shearman
c. Ishiguro
8. Analisis debit
Analisis debit dengan kala ulang R2, R5, R10, R20, R25, R50 dan R100

Muhammad Razak – 122210043 11


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

3.2 Peta DAS dan Metode Pengerjaan


Adapun peta DAS yang digunakan adalah peta DAS C dengan luas 53,49 Ha
sebagai berikut:

Gambar 3.1. Peta DAS C


Sumber: Soal Project Based Learning
Adapun langkah-langkah pengerjaan project based learning sebagai berikut:

1. Mencari data curah hujan maksimum pada setiap tahun, dimasing-masing


pos hujan (PH).
2. Menggambar kontur DAS dan menghitung luasannya.
3. Menghitung curah hujan setiap tahun menggunakan metode Thiessen.
4. Menghitung distribusi curah hujan menggunakan nilai curah hujan
maksimum pertahun dan curah hujan Isohyet.
5. Melakukan analisis frekuensi dengan metode distribusi normal, Log
Normal, Log Pearson III dan Gumbel.
6. Menentukan curah hujan rencana untuk kala R 2, R5, R10, R20, R25, R50 dan
R100 menggunakan metode distribusi.
7. Menguji keselarasan data menggunakan uji Chi-Squared dan uji Smirnof
Kolmogorov.

Muhammad Razak – 122210043 12


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

8. Jika data tidak memenuhi syarat, maka periksa kembali data tersebut.
9. Menentukan intensitas hujan dengan menggunakan metode Mononobe,
Talbot dan Ishiguro.
10. Menghitung debit rencana dengan menggunakan data yang diperoleh
dengan metode rasional.

Muhammad Razak – 122210043 13


TUGAS BESAR TRANSPOR SEDIMEN | 2025

3.3 Flowchart
Adapun flowchart project based learning ini sebagai berikut:
Gambar 3.2. Flowchart
Sumber : Data Pribadi

Muhammad Razak – 122210043 14


DAFTAR PUSTAKA

[1] Y. A. Roby Hambali, ”STUDI KARAKTERISTIK SEDIMEN DAN LAJU


SEDIMENTASI SUNGAI DAENG –KABUPATEN BANGKA BARAT,”
Jurnal Fropil, p. Vol 4 Nomor 2, 2016.

[2] F. D. Ezza Qodriatullah Ajr, Menentukan stasiun hujan dan curah hujan
dengan metode polygon thissen daerah kabupaten lebak, Kota Serang, Banten:
universitas banten jaya, 2019.

[3] B. A. Ade Syahputra, Pengembangan Alat Peraga Edukasi Proses Siklus Air
(Hidrolohi) Menggunakan Teknologi Augmented Reality, Yogyakarta:
Seminar Nasional TEknologi Informasi dan Multimedia, 2018.

[4] G. Gunawan, ”ANALISIS DATA HIDROLOGI SUNGAI AIR BENGKULU


MENGGUNAKAN,” jurnalisa inersia, p. 51, 2017.

[5] A. Andriawan, ”Kajian Hidrologi Pada Sistem Pengendalian Banjir,” Rancang


Bangun, p. 36, 2021.

[6] D. Mulyono, ”Analisis karakteristik Curah Hujan di Wilayah Kabupaten Garut


Selatan,” Kontruksi, p. 3, 2014.

Anda mungkin juga menyukai