0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Fraud Control Plan

Makalah ini membahas tentang Fraud Control Plan (FCP) sebagai upaya pencegahan tindak kecurangan dan ketidakpatutan dalam organisasi, terutama di sektor publik. FCP dirancang untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mendeteksi kecurangan yang dapat merugikan organisasi secara finansial dan reputasi. Tujuan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang definisi, ruang lingkup, serta penanganan fraud.

Diunggah oleh

Nazwa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Fraud Control Plan

Makalah ini membahas tentang Fraud Control Plan (FCP) sebagai upaya pencegahan tindak kecurangan dan ketidakpatutan dalam organisasi, terutama di sektor publik. FCP dirancang untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mendeteksi kecurangan yang dapat merugikan organisasi secara finansial dan reputasi. Tujuan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang definisi, ruang lingkup, serta penanganan fraud.

Diunggah oleh

Nazwa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FRAUD CONTROL PLAN; SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN TINDAK

KECURANGAN DAN KETIDAKPATUTAN

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Seminar

Akuntansi Sektor Publik

Dosen Pengampu:

H. Tedi Rustendi., S.E., [Link]., Ak., CA., Asean CPA

Disusun Oleh:

Kelompok 9 (B)

Rila Sephia 223403089

Silmi Azzahra E 223403091

Ida Widaningsih 223403189

Naila Larisa 223403201

Putri Aulia 223403204

Nazwa Salsa Bila 223403292

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SILIWANGI

2025
Kata Pengantar

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena telah

melimpahkan Rahmat dan juga hidayah-Nya sehingga kami dapat

menyelesaikan tugas makalh yang berjudul “Fraud Control Plan; Sebagai

Upaya Pencegahan Tindak Kecurangan dan Ketidakpatutan” dengan

tepat waktu.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah

Seminar Akuntansi Sektor Publik. Selain itu, makalah ini bertujuan untuk

menambah wawasan serta pengalaman tentang pentingnya sistem

pengendalian kecurangan dalam suatu organisasi terutama di sektor

publik.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak H. Tedi Rustendi,

SE., [Link]., Ak., CA., Asean CPA selaku dosen pengampu mata kuliah

Seminar Akuntansi Sektor Publik dan juga kepada seluruh pihak yang

telah ikut serta dalam mengerjakan makalah ini dengan begitu baik.

Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini

terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna karena keterbatasan

pengetahuan dan pengalaman kami. Maka dari itu, kritik dan saran yang

membangun sangat kami harapkan demi tercapainya kesempurnaan

makalah ini di masa yang akan datang.

Tasikmalaya, 15 Oktober 2025


Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam organisasi publik maupun swasta, tindak kecurangan

(fraud) merupakan ancaman serius yang dapat merusak integritas,

mengurangi kepercayaan publik, serta menimbulkan kerugian finansial

yang signifikan. Association of Certified Fraud Examiners (ACFE)

mendefinisikan fraud sebagai tindakan yang disengaja untuk

memperoleh keuntungan tidak sah, baik secara langsung maupun tidak

langsung dengan cara menipu pihak lain(kutipan 1).

Fenomena kecurangan kerap terjadi diberbagai sektor, mulai dari

penyalahgunaan aset, manipulasi laporan keuangan, hingga korupsi yang

melibatkan pejabat publik. Berdasarkan Report to the Nations (kutipan

2), rata-rata organisasi kehilangan sekitar 5% dari pendapatan

tahunannya akibat tidak kecurangan. Kondisi ini menunjukan pentingnya

penerapan sistem pengendalian yang komprahensif untuk mencegah

terjadinya fraud.

Salah satu pendekatan yang mulai banyak digunakan adalah Fraud

Control Plan (FCP). FCP merupakan kerangka sistematis yang dirancang

untuk mengidentifikasi, mencegah, mendeteksi, dan menindaklanjuti


kecurangan serta ketidakpatutan dalam organisasi (kutipan 3). Dengan

adanya rencana pengendalian yang terstruktur, organisasi dapat

memperkuat tata kelola (governance), meningkatkan transparansi dan

menumbuhkan budaya anti fraud di seluruh tingkan manajemen. Dengan

demikian, makalah akan ini akan membahas mengenai Fraud Control

Plan; Sebagai Upaya Pencegahan Tindak Kecurangan dan

Ketidakpatutan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan

masalah dalam pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana definisi dan tujuan Fraud?

2. Bagaimana ruang lingkup Fraud?

3. Bagaimana Fraud dapat terjadi?

4. Bagaimana pencegahan dan penanganan bila terjadi fraud?

5. Apa kasus yang terjadi mengenai fraud?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam

pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui definisi dan tujuan fraud

2. Untuk mengetahui ruang lingkup fraud

3. Untuk mengetahui faktor-faktor terjadinya fraud

4. Untuk mengetahui penanganan dan pencegahan bila terjadi fraud

5. Untuk mengetahui kasus yang terjadi mengenai fraud


1.4 Manfaat

Makalah ini diharapkan mampu memberikan manfaat secara

teoritis maupun praktis mengenai tujuan dan ruang lingkup fraud serta

penanganan dan pencegahan terjadi fraud.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Definisi dan Tujuan Fraud

Istilah fraud diartikan sebagai penipuan atau kecurangan di bidang

keuangan untuk memperoleh keuntungan sepihak bagi pelakunya. Fraud

pada dasarnya merupakan konsep hukum yang memiliki cakupan yyang

luas, The IIA (2016) mendefinisikan fraud sebagai tindakan ilegal yang

bercirikan penipuan, penyembunyian, atau penyalahgunaan kepercayaan,

yang dilakukan oleh pihak tertentu dan organisasi dengan maksud untuk

mendapat uang, aset, jasa; atau menghindari pembayaran atau kerugian

atas jasa; atau untuuk memperoleh keuntungan pribadi atau bisnis.

Sementara COSO (2016) menyatakan bahwa fraud merupakan tindakan

yang disengaja atau kelalaian yang dirancang untuk menipu pihak lain,

sehingga korbannya menderita kerugian dan atau pelaku mendapatkan


keuntungan. Dengan demikian, fraud merupakan suatu tindakan yang

dilakukan secara sengaja guna untuk memperoleh keuntungan baik

untuk pribadi ataupun organisasi, dengan cara melakukan penipuan

ataupun kecurangan terhadap pihak lain yang dapat merugikan pihak

tersebut.

Fraud adalah tindakan ilegal yang ditandai dengan penipuan,

penyembunyian, atau pelanggaran kepercayaan. Fraud bukan

bergantung pada ancaman kekerasan atau paksaan fisik. Fraud adalah

tindakan yang disengaja, dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang

tidak adil atau melanggar hukum.

2.1.2 Ruang Lingkup

Dalam perspektif akuntansi, fraud memiliki sifat merembes

(pervasive), sedangkan tindak kejahatan selain memiliki sifat merembes

juga berdasarkan penuntuta (prosecution). Dalam perspektif organisasi,

tindak kecurangan yang dilakukan oleh unsur pegawai atau manajemen

dalam suatu organisasi secara umum dikategorikan fraud, kemudian bila

ditemukan bukti hukum yang cukup sehingga dapat memunculkan

tuntutan terhadap pelaku maka tindak kecurangan tersebut

dikategorikan kejahatan. Dalam persfektif hukum yang mendahulukan

kepentingan umum (sosial), bila pihak eksternal organisasi (individu atau

koperasi) melakukan fraud yang merugikan suatu organisasi, atau suatu

organisasi melakukan fraud yang merugikan pihak eksternal (individu,

korporasi, atau pemerintah), maka fraud demikian langsung dikatakan

sebagai tindak kejahatan (crime). Tindak kecurangan dalam pengertian


umum baik tanpa unsur pidana maupun terdapat undur pidana dengan

atau manajemen dalam suatu organisasi, sehingga terminologi yang

digunakan adalah fraud.

Dengan demikian, fraud pada dasarnya meliputi tindakan

penyimpangan (irregulaties dan atau tindakan ilegal illegal acts) yang

mengandung unsur kesengajaan, penipuan, dan dilakukan secara

terorganisir dan tersamar. ACFE (2016) mengkategorikan fraud:

1. Fraud Laporan Keuangan, yaitu skema kecurangan dengan sengaja

melakukan manipulasi informasi akuntansi atau keuangan sehingga

mengakibatkan salah saji materil pada laporan keuangan, di mana

pelaku memperoleh manfaat langsung atau tidak langsung yang

bersifat keuangan atau jasa.

2. Penyalahgunaan Aset, yaitu skema kecurangan yang memanfaatkan

sumber daya berupa aset organisasi untuk kepentingan individu.

3. Korupsi, yaitu skema kecurangan yang menyalahgunakan

kewenangan atau kepercayaan dengan melakukan tindakan yang

melanggar ketentuan hukum dan regulasi untuk memperoleh

manfaat langsung atau tidak langsung bagi pelaku.

Berdasarkan subjek pelaku, fraud dibedakan dalam dua kelompok

subjek, yaitu:

1. Fraud yang dilakukan oleh pegawai (employee fraud) relatif

sederhana, di mana pelaku mengakali sistem pengendalian, dan

atau menyalahgunakan kepercayaan untuk kepentingan pribadi,

misalnya mencuri aset berharga. Tujuan pelaku biasanya hanya


mengkonversi aset atau kas untuk kepentingan pribadi. Oleh

karena itu, fraud yangdilakukan oleh pegawai biasanya focus

kepada penyalahgunaan aset, dan korupsi (biasanya dilakukan

dengan berkolusi).

2. Fraud yang dilakukan oleh manajemen umunya bersifat kompleks

karena terkait dengan sistem organisasi secara keseluruhan atau

beberapa sub-sistem dalam sistem organisasi dan mungkin

melibatkan beberapa pihak termasuk pegawai. Tujuan pelaku

utamanya lenih luas, misalnya: untuk memperoleh keuntungan bagi

individu atau kelompok manajemen, atau menguntungkan

perusahaan secara langsung dan pelaku secara tidak langsung.

Guna mencapai tujuan tersebut, pelaku umumnya melakukan

tindakan eksepsi terhadap pengendalian untuk memutuskan

kecurangannya, pelanggaran regulasi dan atau hukum, mengambil

kebijakan atau keputusan menyimpang karena konflik kepentingan.

Dengan demikian fraud yang dilakukan oleh manajemen dapat

meliputi fraud laporan keuangan, penyalahgunaan aset, dan

korupsi.

Golden (2006) menyatakan bahwa pelaku fraud umumnya memiliki

tingkat kecerdasan di atas rata-rata, berpendidikan, tipe orang yang

mengambil risiko, tetapi rasa khawatir dan empatinya sangat kurang.

Selanjutnya dia mengemukakan hasil studi para ahli yang menujukkan

bahwa perilaku pelaku fraud umumnya tidak dapat mengendalikan diri,


memiliki rasa percaya diri, memiliki rasa percaya diri, dan ingin dihargai,

sertatermotivasi berdasarkan hasrat untuk menjadi bagian dan diterima

dengan kata lain pelaku ingin dipandang suksesoleh pihak lain.

Pelaku fraud melakukan tindak kecurangannya berdasarkan situasi

tertentu, terdorong oleh keserakahan (ekonomi, kekuasaan/politik),

hasrat ingin merusak, dendam, atau motif paling mendasarterdesak

kebutuhan secara ekonomi

Anda mungkin juga menyukai