0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan82 halaman

PROLOG

Xie Yan, seorang CEO muda, terjebak dalam mimpi tentang seorang wanita yang tidak pernah ia lihat wajahnya, tetapi selalu diingat melalui aroma bunga Linghua. Sementara itu, Lin Qingyu, yang terjebak dalam situasi berbahaya akibat racun yang diberikan oleh ibu tirinya, akhirnya mati dan jiwanya diambil alih oleh Ning Zhen, seorang pengembara dari dimensi lain. Kini, Ning Zhen bertekad untuk hidup kembali dan mengembalikan kekuatan tubuh barunya sambil menghadapi tantangan di dunia yang asing.

Diunggah oleh

Kennaddy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan82 halaman

PROLOG

Xie Yan, seorang CEO muda, terjebak dalam mimpi tentang seorang wanita yang tidak pernah ia lihat wajahnya, tetapi selalu diingat melalui aroma bunga Linghua. Sementara itu, Lin Qingyu, yang terjebak dalam situasi berbahaya akibat racun yang diberikan oleh ibu tirinya, akhirnya mati dan jiwanya diambil alih oleh Ning Zhen, seorang pengembara dari dimensi lain. Kini, Ning Zhen bertekad untuk hidup kembali dan mengembalikan kekuatan tubuh barunya sambil menghadapi tantangan di dunia yang asing.

Diunggah oleh

Kennaddy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROLOG: MIMPI YANG TAK PERNAH PUDAR

Setiap malam, selama tujuh tahun, Xie Yan bermimpi tentang seorang wanita.

Ia tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas—hanya siluet ramping berdiri di tepi sungai yang
memantulkan cahaya emas. Rambutnya bergerak lembut ditiup angin.

Dan sebelum mimpi itu buyar, selalu ada satu hal yang tertinggal.

Linghua. Bunga abadi.

Xie Yan sangat mengenal bau itu—bukan karena ia pernah menciumnya, tetapi karena sesuatu di dalam
dirinya selalu bereaksi setiap kali aroma itu muncul.

Dulu ia mencoba memahami arti mimpi ini. Membayar ahli mimpi, memetakan pola tidur, menguji
sugesti dan trauma. Ia bahkan mendatangi seorang pendeta Tao tua, hanya untuk mendengar satu
kalimat yang sama diulang dengan cara berbeda.

Itu bukan petanda apa-apa, kamu hanya kelelahan.

Di usia dua puluh tujuh, Xie Yan berhenti mencari jawaban. Ia membiarkan saja mimpi itu datang dan
pergi, seperti hujan yang tidak bisa ia hentikan. Di siang hari ia tetap menjadi pewaris Klan Xie, CEO
termuda yang disegani. Di malam hari, ia mempunyai nama lain yang bergerak di dunia bawah tanah.

Dua wajah, satu tubuh.

Tapi di antara keduanya, ada ruang kosong yang tak pernah bisa ia isi.

“Hanya seorang wanita dengan jiwa dari Langit Pertama yang bisa membuka pintu Immortal,” kata
neneknya dulu, seolah mengetahui sesuatu yang lebih dalam. “Kamu akan mengenalnya bukan dari
wajahnya. Tapi dari baunya. Dan saat kamu menciumnya… kamu akan tahu, hidupmu sudah tidak bisa
kembali seperti semula.”

Xie Yan tidak pernah melupakan kalimat itu.


Tapi ia juga tidak pernah benar-benar mempercayainya.

BAB 1 — DINGIN YANG TAK BERUJUNG


Lantai ubin gudang begitu dingin seperti es yang menusuk tulang. Lin Qingyu gemetar, napasnya putus-
putus, sementara suara ibu tirinya terdengar dari luar pintu.

“Biarkan saja ia di gudang. Aku tak mau tertular kalau demamnya menular.

Nada suaranya dingin.

Lin Qingyu tahu: malam ini, ia akan mati. Karena teh Bunga Salju yang ia minum setiap malam selama
setahun terakhir.

Lady Su bilang teh Bunga Salju bagus untuk tubuhnya yang sering sakit-sakitan sejak kecil.

Namun teh yang seharusnya menguatkan tubuh, ternyata membawa racun yang sangat samar. Tidak
membunuh cepat, tapi membuat korban terlihat memiliki sakit bawaan sejak lahir.

Lebam-lebam di kulitnya. Sesak di dada yang tidak kunjung reda. Kelelahan yang tidak pernah benar-
benar hilang.

Tiga bulan lalu, ia mulai curiga.

Tapi kecurigaan tanpa bukti hanya akan membuat Lady Su tersenyum lebih lebar dan berkata, “Kau
terlalu banyak berpikir, Qingyu. Istirahatlah.”

Saat ini tak ada yang bisa menolongnya.

Ayahnya sedang keluar kota. Dan setiap kali ia pergi, rumah ini berubah menjadi penjara kecil.

Lady Su tidak pernah memukulnya. Di depan ayah dia sangat perhatian. Namun di belakang, ia berubah
dingin tak peduli. Membatasi segala kebutuhan dan kegiatan Qingyu.

Malam ini demam yang datang membuatnya menggigil hebat. Tubuhnya mulai menyerah.

Lady Su menyuruh dua pelayan kepercayaannya memindahkannya ke gudang.

“Jangan sampai mengotori kamar,” katanya, seolah Qingyu sudah tidak mendengar.

Pelayan-pelayan itu mengira ia pingsan. Tapi kesadarannya masih ada—cukup untuk merasakan setiap
guncangan saat tubuhnya diangkat. Dan merasakan saat ia diletakkan di atas lantai gudang begitu saja.

Kemudian, hanya suara langkah kaki yang menjauh.


Pintu tertutup.

Sunyi.

Napas Lin Qingyu semakin tipis. Dadanya naik turun semakin lambat, seperti lilin yang hampir habis.

“Ayah…”

Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.

Matanya menutup.

---

Pada saat yang sama, sebuah garis cahaya tipis melintas cepat di langit malam tanpa suara.

Cahaya itu begitu halus hingga mata manusia biasa mengira mungkin itu hanya meteor kecil.

Ia tidak bergerak mengikuti hukum gravitasi. Cahaya itu justru berbelok, menyasar langsung ke arah
gudang kecil di sisi timur rumah keluarga Lin.

Atap genteng bergetar dan sebuah sinar tipis menembus celahnya, turun merambat di udara.

Sinar ini tidak panas atau menyilaukan, tapi… hidup.

Lin Qingyu mati.

Dan di antara satu napas terakhir dan kehampaan yang mengikuti, ia melihat sesosok wanita berdiri di
hadapannya.

Wajahnya samar bercahaya kabut tipis, tapi garis tubuhnya jelas: ramping, kokoh, dan membawa
ketenangan yang aneh, ketenangan milik seseorang yang telah melihat banyak hal.

Lin Qingyu ingin bertanya, tetapi suaranya tertahan.

Wanita itu menunduk, memberikan penghormatan mendalam.

Sesuatu yang belum pernah Lin Qingyu terima dari siapa pun di rumah ini.

Lin Qingyu tersenyum halus dan ikhlas. Takdir lain datang menggantikannya—dengan jiwa yang baru.

“Teruslah hidup.”
Ia tidak minta balas dendam, atau menuntut keadilan.

Ruh itu memeluk dirinya. Sebentar saja. Namun pelukan ini membuat Lin Qingyu merasa diperhatikan,
untuk pertama kalinya, justru oleh seorang yang asing.

Air matanya pun menetes. Dan ia tersenyum lembut seiring tubuh cahayanya yang memudar, seperti
embun pagi yang hilang sebelum matahari muncul.

Jiwa asing itu melayang turun, masuk ke tubuh Qingyu yang rusak, seperti telah ditakdirkan dari awal.

Tak lama, tubuh di lantai batu itu bergetar pelan. Kelopak mata dan mulutnya sedikit bergerak.

Dan ketika mata itu akhirnya terbuka, tangannya yang dingin mengejang sebentar—bukan karena rasa
sakit, tapi karena merasakan racun yang bersarang di jantung.

Tanpa kata, ia mengalirkan sedikit qi yang masih tersisa, memisahkan racun dari otot jantung,
menyimpannya dalam meridian sementara. Bukan untuk dibersihkan. Tapi sebagai pengingat.

Ia menarik napas. Paru-parunya masih sesak, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, napas
itu terasa... miliknya sendiri. Matanya menghangat.

Takdir membawanya ke tubuh ini.

Ia telah kembali, bukan sebagai Qingyu. Tapi Ning Zhen, pengembara dua dimensi yang bertekad untuk
hidup kembali.

Ning Zhen menatap telapak tangannya yang pucat. Racun di nadinya masih berdenyut, tapi itu bukan
masalah.

Baginya, racun hanyalah obat yang salah penempatan—dan ia punya banyak waktu untuk
mengembalikan pada pemilik aslinya.

Tak lama kelopak matanya memberat. Tubuh ini perlu istirahat. Ia pun memejamkan mata.

---

Di pusat kota, Xie Yan sedang menelusuri laporan keuangan ketika jari-jarinya berhenti di tengah
halaman.

Entah kenapa, dadanya sesak sesaat. Ada denyut asing yang muncul lalu menghilang.
Ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela. Lampu kota menyala seperti biasa, jalanan sibuk,
dunia tampak sama seperti kemarin.

Namun insting yang telah menemaninya bertahun-tahun tidak berbohong.

Sesuatu baru saja terjadi. Sesuatu yang sangat penting.

Xie Yan menatap ke arah distrik selatan. Ingatan akan gadis Linghua dalam mimpinya kembali memenuhi
benaknya.

Tangannya mengepal pelan, lalu mengendur kembali. Setelah beberapa detik, ia kembali ke mejanya
dan menutup laporan itu.

Mungkin ini firasatnya saja.

BAB 2 — DI ANTARA DUA NAPAS

Kesadaran Ning Zhen awalnya kabur, lalu menjadi jelas. Aroma kayu lembap dan bau apek tercium dari
tumpukan barang gudang yang jarang dipakai.

Ia membiarkan kesadarannya menetap di tubuh baru beberapa saat. Pusing menyerang ketika memori
lain mulai bercampur.

Siapa…?

Sebuah nama muncul dari ingatan yang bukan miliknya.

Lin Qingyu.

Satu persatu ingatan asing ini memenuhi pikirannya.

Wajah seorang gadis yang selalu menunduk, kesepian dan tidak percaya diri. Lalu memori menyedihkan
lainnya.

Rasa nyeri memenuhi dadanya. Dengan rasa hormat ia berkata:

“Aku akan menjaga memorimu,” janjinya singkat dalam hati.

Ia mencoba menggerakkan jari. Gerakannya lambat tapi berhasil.


Di tubuh ini aku sangat rapuh, pikir Ning Zhen. Ia tidak meremehkan tubuh Qingyu, tapi rasa sedih
datang tanpa ia sadari.

Ning Zhen akhirnya mengangkat tangan ke dada.

Di bawah tulang rusuk kiri, tepat di tempat jantung berada—ada sesuatu selain jantung yang berdenyut
teratur.

Seperti bara yang hampir mati, tetapi masih menyimpan panas terakhir.

Resonansi itu sangat familiar.

“Titik Naga… masih bersamaku...”

Ayahnya benar—jiwanya tidak hancur oleh dimensi.

Ia menatap sekitarnya.

Semua tampak asing, bahkan udara di sini berbeda. Ia berusaha tidak panik. Ia sudah pernah kehilangan
dunia sebelumnya. Dunia ini hanyalah awal yang baru.

Ning Zhen mencoba duduk, dan hampir saja terjatuh kembali. Namun ia tetap bergerak. Sedikit demi
sedikit, dan berhasil.

Begitu duduk dengan tegak, ia mengalirkan sedikit qi untuk mengevaluasi kondisi fisiknya.

“Qingyu telah melewati banyak hal. Ini bukan tubuh sembarangan...”

Ia menelusuri jalur meridian, membandingkan tubuh barunya dengan aliran qi tubuhnya dulu. Meskipun
beberapa titik meridian masih tersegel, tubuh Qingyu seolah beresonansi harmonis dengan jiwa Ning
Zhen. Ini aneh.

Tubuh Qingyu sangat sesuai dengan energi miliknya.

Sebuah pemahaman muncul dalam pikirannya sendiri.

“Tubuh ini belum hancur. Selama belum hancur, ia masih bisa dibentuk ulang.”

Di luar, angin fajar mulai bergerak, menembus pintu gudang dan mendorong debu tipis di lantai.

Dari kaca jendela gudang, langit terlihat mulai bergeser dari gelap ke abu-abu.
Ning Zhen memejamkan mata. Gema suara ayahnya terdengar, tegas seperti baja namun hangat bagai
pelukan:

“Kalau kamu mati, jangan pergi sebagai korban.

Jadikan kematianmu sebagai permulaan yang baru.”

Ia menghela napas panjang. Tubuh ini belum kuat menghadapi dunia asing yang menanti, tetapi jiwanya
—jiwanya selalu siap memulai lagi dari awal.

Kelopak matanya terbuka, dunia di hadapannya tampak tajam dan jelas untuk pertama kali sejak ia
mendiami raga ini.

Aturan dunia baru ini belum begitu ia mengerti. Namun tekadnya membara untuk bertahan dan
mengembalikan kekuatan pada tubuh barunya.

Sebuah suara kecil dari luar membuatnya menoleh: Burung pertama pagi ini yang menyambut hari.
Nyanyian burung di dunia ini juga terdengar berbeda.

Tak berapa lama, suara lain muncul dari dalam perutnya.

“Baik,” bisiknya.

“Saatnya mencari makan...”

BAB 3 — TEKAD KUAT BERTAHAN

Ingatan Lin Qingyu memberi tahu Ning Zhen akan rumah kaca di halaman belakang. Tempat itu—
warisan dari ibu Qingyu, seorang herbalis yang dulu merawat setiap helai daun dengan penuh kasih.

Rumah kaca itu masih berdiri, meski kini terabaikan.

Jemari Ning Zhen meraba papan kayu terdekat, mencari tumpuan. Meski lututnya gemetaran,
genggamannya pada kayu itu lebih kuat, cukup untuk membantunya berdiri.

Rasa dingin menembus hingga ke tulang. Tubuh ini bisa ambruk kapan saja. Namun pikiran Ning Zhen
tetap jernih.

Ia mengumpulkan kekuatan di kakinya. Pintu gudang terbuka, diiringi derit engsel tua.
Ia berhenti sejenak di ambang pintu.

Udara pagi menggigit kulit, namun dibandingkan dengan nyeri yang menjalar di tubuhnya, dingin itu
seperti menyapa ringan.

Kabut tipis melayang rendah, mengubah halaman belakang menjadi dunia yang masih setengah
bermimpi.

Matanya menelusuri rumah tempat Lin Qingyu menghabiskan tahun-tahun kehidupan—dan


kematiannya.

Di Azura, pemandangan gunung-gunung melayang di antara awan, dan naga-naga tidur bergerak di
bawah tanah adalah hal biasa.

Di sini, ia berdiri di belakang rumah yang kontras dengan Azura—megah dan besar, namun dingin oleh
ketidakpedulian.

Ia tidak merasa asing. Malah... ini seperti awal yang menjanjikan.

“Bertahan hidup. Itu yang utama.”

Langkah pertamanya sangat berat, namun setelah beberapa tapak kecil, tubuhnya mulai beradaptasi.

Ning Zhen memandang halaman yang sunyi, masih berkilau oleh embun pagi. Rumah utama masih gelap
gulita. Semua penghuninya masih terlelap. Waktu yang tepat.

“Aku harus mencapai rumah kaca sebelum mereka bangun.”

Dengan langkah goyah namun mantap, ia bergerak di antara bayangan pepohonan, menuju tempat yang
terlupakan itu.

Ia tersandung dan jatuh di tengah perjalanan. Untungnya, tangan dan lututnya cukup sigap menahan,
sehingga jatuhnya tidak fatal.

Ning Zhen tak menyerah. Ia bangkit kembali dan melanjutkan perjalanan, meski gerakannya kini lebih
lambat.

Siluet rumah kaca mulai tampak di ujung halaman.

“Hampir sampai...”
Titik Naga berdenyut sekali, lebih kuat dari sebelumnya.

Seolah merespon— ia sedang mendekati sesuatu yang penting.

BAB 4— RUMAH KACA

Rumah kaca terletak di sisi paling belakang halaman, berupa rumpun bangunan kaca dengan rangka
kayu yang sudah menghitam dimakan waktu. Rumput liar mengelilinginya, dan beberapa menjulur ke
pintu yang terbuka setengah.

Ning Zhen berhenti di depan pintu. Tempat ini berantakan tak terawat, namun tidak mati.

Ning Zhen mendorong pintunya.

Cahaya fajar samar memantul pada kaca yang sebagian pecah, sebagian buram oleh lumut.

Di dalamnya, tanaman liar tumbuh bersama sisa-sisa tanaman berharga yang ditanam ibu Lin Qingyu.

Ning Zhen menghirup udara. Ada aroma tanah…dan berbagai wangi daun yang ditanam. Aroma yang
mengingatkannya pada ruang penyimpanan herbal di Azura.

Ia berjalan masuk, hati-hati menghindari pot pecah dan batang kering. Daun-daun kecil bergetar saat ia
lewat. Mungkin karena sentuhan angin pagi.

Atau karena tubuh ini membawa jejak aura naga.

Ia memeriksa satu tanaman berdaun ungu. Bukan herbal tingkat tinggi, tapi cukup untuk membersihkan
darah beku. Sekilas beberapa tanaman mirip dengan tanaman di Azura.

Di sisi kanan tak jauh dari tubuhnya ia menemukan buah beri hitam. Ia mengangkatnya dan memeriksa:

Tidak beracun, penuh air, dan cukup manis untuk memberi energi cepat. Ia memakannya. Rasa manis
mengalir di lidah, lalu menghilang dengan cepat. Tanpa ragu ia memakan lagi beri itu.

Beberapa genggam beri telah masuk, dan energi naik sedikit saja, tapi cukup untuk membuat
langkahnya lebih stabil.

Ning Zhen lalu berjalan ke belakang rumah kaca.


Di sanalah ingatan Lin Qingyu berkata ada tanaman yang lebih berharga. Dan benar saja.

Di bawah pohon apel yang buahnya menggantung berat oleh embun pagi, seekor ular perak kecil
melingkar di antara rumput liar, daun kering, buah apel yang jatuh dan sebagian membusuk.

Ular itu sedang tidur. Tapi saat Ning Zhen mendekat, kepalanya terangkat —mata kecilnya memantulkan
cahaya fajar. Tanduk kecil di kepalanya membuatnya terlihat angkuh dan lucu.

Ular itu memandang Ning Zhen waspada. Desisnya terdengar halus.

Ia merasakan aura naga dari Titik Naga, walau samar, mengalir lembut dari tubuh Ning Zhen.

Aura ini tidak menakutkan, tapi cukup untuk memberi kesan “status lebih tinggi” pada makhluk kecil.

Ular itu tidak menyerang. Sebaliknya ia menyingkir ke samping, tak jauh dari tempat istirahatnya
semula.

Saat ular berpindah itulah Ning Zhen melihat ujung Umbi Api yang muncul sedikit dari permukaan tanah.
Walau tidak sekuat versi Azura, tapi untuk tubuh manusia yang hampir mati, ini adalah anugerah.

Ning Zhen berpaling menghadap ular perak dan berlutut, napasnya masih goyah.

“Terima kasih,” bisiknya pada ular kecil itu.

Ning Zhen mencabut Umbi Api dengan hati-hati. Kulit umbinya keras dan hangat.

Rasa lapar menusuk lagi. Buah apel yang menggantung tidak dihiraukannya. Ia mengupas kulit Umbi Api
dengan giginya dan menggigit bagian dalamnya.

Rasa pahit menusuk lidahnya. Ia mengernyit dan menahan napas sejenak. Pahit berarti murni.

Rasa panas menjalar cepat dari perut ke dadanya, menunjukkan khasiat efektif umbi ini. Namun, tak
berapa lama, tekanan dari dada tak terelakkan. Ning Zhen terbatuk dan mengeluarkan darah hitam.

Dadanya sesak. Ia berhenti sejenak, berusaha menstabilkan pernapasan. Darah hitam tanda racun di
peredaran darah keluar. Tubuh ini sudah terlalu lama rusak. Racun yang menetap di organ dalam tidak
langsung hilang

“Qi di dunia ini…sangat tipis. Bahkan kekuatan tanaman tingkat dua tidak seberapa dibanding kekuatan
aslinya.” Ning Zhen menenangkan diri kembali sambil menyeka sisa darah dari mulutnya.
Walau begitu, umbi ini cukup untuk membuka aliran darah dan memperbaiki luka dalam.

Ia duduk bersila di lantai tanah, membiarkan panas itu menyebar . Tetapi sebelum ia benar-benar
tenggelam dalam pemulihan, datang suara kecil dari samping.

Ular perak tadi mendekatinya. Kali ini membawa sesuatu di mulutnya. Sebuah batu hitam, seukuran bola
kecil.

Ular itu meletakkannya di depan Ning Zhen, kemudian mundur, tubuhnya merendah seolah memberi
hormat pada sesuatu…yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya paham.

Ning Zhen menatap batu itu. Bentuknya tidak menarik, permukaannya kasar. Tapi…

Titik Naga berdenyut kuat. Satu kali. Kemudian dua kali. Seperti memanggil dan mengenalinya. Ada
sesuatu dalam batu itu— yang pernah ia kenal sejak dulu. Ning Zhen mengulurkan tangannya.

BAB 5 — HADIAH ULAR & BATU YANG BERDENYUT

Batu hitam itu tampak kusam, tidak berkilau. Terlihat seperti batu yang biasa ditemukan di pinggir
sungai mana pun.

Namun, saat tangan Ning Zhen mendekatinya—Titik Naga bergetar. Getaran itu pelan di awal, lalu
semakin cepat, seolah sedang memanggil sesuatu yang sangat familiar.

Den…Den…Den…

Titik Naga dan batu itu seperti dua potongan yang selama ini hilang berabad-abad, akhirnya kembali
bertemu.

Jemari Ning Zhen gemetar saat menyentuh batu itu. Dunia dalam dirinya seolah berhenti.

Batu itu retak dengan suara halus...krkkk. Retakan membelah permukaannya seperti garis cahaya tipis.
Dalam sekejap, kulit kerasnya terkelupas jatuh seperti debu hitam, mengungkapkan inti yang
tersembunyi di dalamnya:

Permata ungu jernih.


Sebuah cahaya violet mengalir keluar, menyentuh wajah Ning Zhen. Hangat, namun menimbulkan rasa
perih halus yang menyentuh kedalaman hatinya.

Tubuh baru Ning Zhen bergetar. Rasa sesak memenuhi dadanya. Itu adalah Batu Naga Ungu, sebuah
fragmen kecil dari jiwa ayahnya, Naga Putih. Dibuat di saat-saat terakhir hidupnya, untuk mengiringi jiwa
Ning Zhen.

Matanya perih. Ia menggenggam batu itu erat. Kepalanya menunduk dalam.

“Ayah...” bisiknya lirih.

Ular perak merayap pelan, naik ke pangkuan Ning Zhen.

“Rupanya kamu yang memungut batu ini. Batu ini sebenarnya datang bersama jiwaku,” ucap Ning Zhen
sambil menatap ular itu. Ular perak mengangguk seolah mengerti.

Ning Zhen mengangkat permata sebesar kelereng itu. Membiarkannya berpendar di telapak tangan.

Cahayanya membawa ingatan Ning Zhen ke suatu pengorbanan, dan akhir dari sebuah kehidupan.

---

Ingatan pun datang tanpa bisa dihindari.

Langit Azura dulu selalu berwarna emas saat matahari tenggelam. Taman di bawah kuil diterangi ribuan
lentera qi.

Dan seorang ayah—sosok yang tubuhnya besar namun tatapannya selalu hangat—Mengikat rambut
putrinya yang masih kecil sambil tertawa.

“Kamu harus belajar berjalan di dua dunia,”

Katanya suatu hari.

“Dunia yang terlihat… dan dunia yang tersembunyi.”

Hari itu ia tidak memahami maksudnya. Tapi sekarang ia mengerti.

Ingatan lain muncul, lebih tajam seperti pecahan kaca: Tubuh ayahnya penuh luka, ia berdiri di tepi
jurang Kuil Naga. Badai qi hitam berputar di belakangnya.
Ning Zhen sendiri terluka dengan tusukan pedang, terduduk di samping ayah.

Mo Xian, hanya berdiri tertawa, tanpa air mata, atau rasa menyesal, setelah menyebabkan semua ini.

Akhirnya ingatan Ning Zhen berhenti seperti pintu tertutup.

---

Tetes hangat mengalir tak terbendung. Ning Zhen menyentuh pipinya, seolah heran dengan air mata itu.
Ia sebenarnya bukan wanita yang gampang menangis, tapi tubuh manusia ini tidak mampu menahan
kilasan emosi yang begitu besar.

“Terima kasih… Ayah.” Bisiknya lirih.

Ia telah belajar bahwa kesedihan tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi tekad yang kuat bisa mengubah
masa depan.

Ning Zhen mendekatkan Batu Naga Ungu di dada.

Tepat di atas Titik Naga. Cahaya violet menyatu dengan tubuhnya, membentuk lapisan pelindung tipis di
sekitar Titik Naga.

Dan resonansi kecil muncul.

Den… den… den…

Aliran qi mengalir sangat sedikit, namun cukup untuk memberi percikan kehidupan pada jalur meridian
yang hancur.

Tak lama, rasa lemahnya menurun, tenaga mulai mengalir hanya ke meridian yang terbuka, sangat kecil
tapi cukup.

Ning Zhen mengambil Umbi Api yang tersisa dan mengunyahnya lagi. Energi di tubuhnya bertambah
sedikit lagi. Setelah dirasakan cukup, walau lambat, ia harus berhenti di sini. Memaksa lebih jauh akan
merusak tubuh ini.

Ia menyeka wajahnya dan menatap rumah kaca yang sunyi itu.

“Aku akan kembali,” ujarnya pada ular perak, yang hanya berkedip seolah memahami bahasanya.
Ular itu merayap turun dari pangkuan Ning Zhen.

Ning Zhen menyembunyikan permata itu yang sekarang berhenti bersinar di balik kantong pakaian
lusuh.

Ia berdiri dan melangkah keluar.

Matahari baru mulai muncul di ufuk, tanda waktu hampir habis. Lady Su dan Lin Xue akan segera
bangun.

Ning Zhen berjalan menuju gudang. Langkahnya masih sedikit lemas, tapi mantap, dengan satu hal baru
yang tidak dimiliki tubuh ini sebelumnya:

Kehendak untuk hidup. Titik Naga di dadanya berdenyut sekali lagi. Seperti jantung kedua yang mulai
bangun.

Di pusat kota, Xie Yan terjaga sebelum fajar. Aroma Linghua masih tertahan di udara—tipis, tapi nyata—
seolah menempel pada napasnya.

Ia duduk diam, menunggu detak di dadanya mereda, namun reaksi tubuhnya justru lebih waspada
daripada biasanya.

Mimpi yang terus mengiringinya selama tujuh tahun, kali ini berbeda. Gadis itu dengan wajah masih
tertutup kabut samar, tidak hanya berdiri di tepi sungai—ia berbicara. Suaranya terlalu samar, seperti
ditelan angin.

BAB 6— NAPAS YANG TIDAK DIHARAPKAN

Gudang masih gelap ketika Ning Zhen kembali.

Ia menutup pintu hati-hati, memastikan tidak ada suara yang mengundang kecurigaan.

Begitu ia duduk di sudut, semua energi dari Umbi Api menguap begitu saja. Namun perubahan kecil
sudah terjadi pada tubuh yang ia tempati.

Ia memejamkan mata sejenak. Sisa panas dari Umbi Api ia alirkan di sekitar jantung, untuk memperkuat
sedikit demi sedikit meridian yang retak.
Saat ia membuka mata lagi, langit di luar sudah berubah dari gelap ke pucat.

Ning Zhen memiringkan kepala. Melihat ruangan penuh bayangan—gudang kecil dengan rak tua,
tumpukan kotak dan barang usang, jendela kecil yang ditutupi serabut sarang laba-laba.

Ingatan Qingyu menjelaskan gudang ini tadinya sebuah kabin taman belakang. Dibangun ibunya untuk
beristirahat sebentar, setelah mengurus rumah kaca dan tanaman di halaman belakang.

Di dinding gudang yang suram, sebuah kotak putih menempel—mendengung pelan, meniup udara
dingin yang kering. Ning Zhen mengernyit.

Benda itu tampak asing... ia heran, mengapa kotak itu bisa mengeluarkan udara dingin? Dinginnya
berbeda dengan udara sekitar.

Ia lalu melihat ke sekeliling ruangan.

Ruangan ini sungguh memalukan untuk dijadikan tempat hidup anak perempuan siapa pun, apalagi
untuk putri naga. Namun, ia tidak merasa terganggu.

Tak berapa lama, terdengar langkah kaki dan pintu gudang dibuka. Lady Su berdiri di sana—Wajahnya
dilumuri riasan pagi.

Ekspresi kaget melihat Qingyu masih hidup disembunyikan dengan cepat, dan wajah khawatir muncul
agar terlihat seperti “kepedulian seorang ibu”.

Lin Xue berdiri di belakangnya, memeluk lengannya sendiri seperti seseorang yang menonton tontonan
gratis.

“Kau sudah bangun rupanya?” suara Lady Su berusaha terdengar wajar.

“Ayahmu akan menyalahkanku nanti bila kau terlihat seperti ini.”

Nada itu bukan benar-benar marah. Lebih seperti seseorang yang sedang memeriksa apakah mangsanya
masih bisa dimanipulasi lagi.

Ning Zhen membuka mata dengan sinar mata berbeda, bukan dengan ketakutan seperti Lin Qingyu dulu.
Tapi dengan kelelahan yang bersumber dari tubuh yang sudah lama bertahan—Dan ketenangan dari
jiwa yang jauh lebih kuat dari siapa pun di rumah ini.
“Aku… pusing,” ujarnya singkat. Ia tidak berakting, hanya mengucapkan fakta.

Lady Su mengerling, bingung sesaat. Ada sesuatu yang berbeda. Lin Qingyu biasanya gemetar ketakutan.

Yang ini… terlalu tenang. Atau mungkin dia terlalu sakit, bahkan untuk gemetar? Semalam ia terlihat
hampir mati.

“Kamu memang penuh drama Qingyu!” Lin Xue tertawa mengejek.

Ning Zhen menoleh dengan tatapan singkat tanpa emosi. Tapi cukup membuat Lin Xue berhenti tertawa.

Matanya berkedip cepat, seolah ia baru melihat sesuatu yang tidak pernah ada pada Lin Qingyu
sebelumnya.

Ning Zhen menunduk sedikit, suaranya tidak keras, cukup jelas.

“Mengapa aku ada di gudang? Apakah Ibu yang menyuruh pelayan memindahkanku ke sini?”

Lady Su tak menduga pertanyaan itu dari Lin Qingyu. Ia tertegun beberapa detik, lalu dengan cepat
menjawab,

“Tadi malam kau demam hebat. Kami tidak ingin terjangkit bila demammu karena penyakit menular.”

Ia dan Lady Su tahu alasan sebenarnya. Tapi Ning Zhen diam memandang ibu tirinya, mengikuti
permainan Lady Su. Suasana jadi hening tanpa disadari.

Lady Su memotong keheningan itu segera.

“Ayahmu akan pulang tiga hari lagi. Kau harus terlihat lebih baik dan bersih. Jangan bikin malu .”

“ Kalau ingin ayah melihatku membaik, aku perlu makan...” Ujar Ning Zhen pelan.

Logikanya sederhana, namun Lady Su tidak punya ruang untuk menyerang tanpa terlihat kejam.

Wajah Lady Su menegang. Ia hendak bicara lagi, lalu menahan diri. Tiga hari lagi suaminya pulang. Ia
tidak boleh gegabah.

“Kau bisa sarapan pagi ini. Masih ada makanan di dapur!”

Ning Zhen mengangguk pelan.


“Terima kasih, Ibu.”

Lady Su merinding tanpa alasan. Nada bicaranya terlalu berbeda. Seperti berbicara pada seseorang yang
tidak mudah dikontrol lagi.

Ia buru-buru pergi sambil menyeret Lin Xue. Seperti seseorang yang takut jika terlalu lama di situ, wajah
aslinya akan kelihatan.

Begitu pintu tertutup, Ning Zhen menghela napas tipis. Ia berdiri, menahan rasa lemas dan lapar yang
kembali datang. Jalan menuju dapur pendek, tapi tubuh ini tetap gemetar.

Di dapur, Auntie Yue, kepala pelayan rumah ini telah menyiapkan di piring sesuatu yang belum pernah
dilihatnya.

Namun ingatan Lin Qingyu mengatakan itu adalah roti, sosis, serta telur orak arik. Di samping piring itu
segelas susu hangat.

Makanan ini jarang Lin Qingyu dapatkan saat ayah tidak di rumah. Biasanya hanya bubur hambar, atau
roti kering di bawah kontrol ibu.

Ia mendongak menatap Auntie Yue, tak mengerti. Ini bukan makanan biasanya. Auntie Yue hanya
mengangguk kecil. Tatapannya menunjukkan rasa khawatir dan peduli.

Lalu sekilas ingatan lain terlintas, di mana Auntie Yue lah yang sering diam-diam memberinya makanan
yang pantas. Kadang diantar ke kamar, kadang saat ibu dan Lin Xue pergi.

Ning Zhen terpaku, lalu mengucapkan terima kasih dan duduk. Masih ada orang di rumah ini yang peduli
pada Qingyu.

Suapan pertama, rasa yang asing namun juga familiar. Sosis ini mirip daging yang diawetkan di Azura.
Energi yang masuk dari makanan ini cukup untuk menopang tubuh manusia setengah hari.

Lin Xue lewat sambil memegang smartphone mahalnya.

Ia berhenti sejenak. Menatap Qingyu dengan sinis.

“Kau seperti gelandangan! Kotor dan bau! Seharusnya kau tidak tinggal di rumah! Bikin malu saja!”
Ning Zhen tidak menoleh. “Aku bisa tetap tidur di gudang… kalau kau ingin Ayah bertanya siapa yang
menyuruhku ke sana.”

Lin Xue tercekat. Auntie Yue berhenti sedetik dari aktifitasnya.

Logika sederhana itu seperti jarum kecil yang menancap tepat di titik rapuh Lin Xue. Qingyu yang
biasanya hanya menunduk dan patuh, seperti berubah.

Ia ingin membalas, tapi ingat bahwa Ayah mereka memang mudah curiga. Akhirnya Lin Xue pergi
dengan menghentakkan kaki, tanpa berkata apa-apa.

Auntie memandang Qingyu dari belakang sedikit lebih lama.

Lady Su muncul beberapa menit kemudian, saat Ning Zhen baru saja selesai di suapan terakhir. Ia
berpura-pura sibuk mengatur sesuatu.

“Kau boleh ke kamar. Istirahat yang cukup. Ayahmu tidak boleh melihatmu seperti ini.”

Nada itu terdengar seperti perintah dan peduli, tapi Ning Zhen tahu itu pengakuan. Perlu waktu agar
dirinya terlihat lebih baik.

Mereka takut pada kemungkinan Lin Qingyu akhirnya mulai berpikir untuk melawan.

Lady Su tidak bisa berbuat sekehendak hati di depan para pelayan. Hampir semua adalah kepercayaan
suaminya. Untungnya hanya Auntie Yue yang menetap, sedang pelayan lain masuk sesuai jadwal
mereka.

Dan dua hari lalu, Auntie Yue tidak ada di tempat karena urusan keluarga. Pagi ini baru kembali. Lady Su
merasa aman, karena tidak ada yang tahu apa yang terjadi tadi malam, selain pelayan kepercayaannya.

Ning Zhen naik ke lantai dua. Tangga begitu berat, napasnya mulai sesak, kakinya masih gemetaran. Ia
berjalan sambil menumpu tangannya di pegangan tangga.

Akhirnya ia sampai di kamar Qingyu tanpa ada insiden.

Kamar Lin Qingyu masih sama seperti dalam ingatan:

Bersih, rapi, tapi kosong.

Ning Zhen duduk di tepi tempat tidur.


Informasi penting pertama. Ia harus memetakan rumah ini. Dan memetakan manusia di dalamnya.

Ia membutuhkan satu hal dulu. Kekuatan yang tidak terlihat, yang tidak bisa diremehkan atau diinjak
oleh siapa pun.

Bertahan dulu, menang nanti.

BAB 7 — LANGKAH PERTAMA DALAM SUNYI

Ia mengamati ruangan itu. Semua tampak asing.

Kamar Lin Qingyu terlalu sederhana untuk seorang gadis muda. Selain furnitur dasar, tidak ada dekorasi
apapun layaknya kamar seorang gadis.

Ning Zhen berdiri dekat meja belajar, meraba permukaannya sekilas. Ia membuka laci pertama.

Di sana hanya ada kertas kosong, pulpen yang kehabisan tinta, dan buku catatan dengan halaman
belakang robek—tanda pernah dicabut dengan paksa.

Ingatan Lin Qingyu muncul samar.

Lin Xue merobek buku latihannya dan berkata dengan nada meremehkan,

“Berhenti bermimpi. Kamu bahkan tidak punya bakat. Buku seperti ini hanya membuang waktu.”

Ning Zhen menutup laci itu.

Pandangannya beralih ke sudut ruangan, tempat beberapa buku herbal lama disusun rapi, bersama
buku kuliah Qingyu. Buku-buku itu berbeda dari yang lain, tertata bersih dan terjaga. Satu-satunya hal
yang pernah dijaga Lin Qingyu dengan sepenuh hati.

Ia mengambil salah satu buku dan membukanya.

Tulisan tangan perempuan dewasa memenuhi halaman, rapi dan teratur. Dibumbui gambar akar dan
daun berwarna tinta hitam.

Catatan Ibu Lin Qingyu. Saat menyentuh halaman itu, ingatan kecil masuk. Tangan ibu yang menuntun
jari kecil Lin Qingyu menyentuh daun peppermint. Suara lembutnya menjelaskan khasiat tiap tanaman.
Dan senyum hangat yang memenuhi hatinya.
Entah mengapa, Ning Zhen bisa membaca tulisan-tulisan itu. Memori Qingyu membantunya memahami
bahasa dunia ini, termasuk cara membaca tulisannya.

Ning Zhen menutup buku itu. Ia bukan Lin Qingyu. Namun ia menghargai warisan kecil ini. Bukan sebagai
kenangan, tapi untuk digunakan nanti. Karena herbal adalah kekuatan, uang, dan juga jaringan.

Ia berdiri di depan cermin kecil yang digantung di dinding.

Bayangan yang kembali padanya adalah wajah Lin Qingyu yang agak kurus, pucat, dengan rambut kusam
yang menempel di pipinya.

Tidak ada kecantikan yang tersisa. Hanya wajah seseorang yang bertahan sendirian sampai napas
terakhir.

Namun mata itu… Mata yang kini dimiliki Ning Zhen—membawa kedalaman yang bukan milik gadis ini.

“Tubuh ini tidak seburuk yang aku kira. Yang menghancurkannya bukan kekurangan makan, tapi sesuatu
yang lain.”

Ingatannya beralih pada teh yang selalu disediakan Lady Su. Teh yang membuat Qingyu ‘mati perlahan’.

Ia mencoba bernapas, otot dadanya hanya sedikit sakit. Tubuh ini sekarang lebih stabil berkat Umbi Api
dan sentuhan qi dari Batu Naga Ungu.

Ia meraba titik nadi di leher.

Detaknya konstan, belum normal, tetapi lebih baik dari subuh tadi.

Ia menggerakkan bahunya, lalu leher, siku, pergelangan tangan. Seluruh persendiannya kaku dan ngilu.
Wajar untuk seorang yang lebih banyak berbaring selama ini.

Ning Zhen duduk di tepi tempat tidur dan mulai latihan napas, membuka sedikit aliran qi. Panas kecil
dari Umbi Api masih bisa ia sirkulasikan ke titik-titik tertentu.

Ia tidak melakukan teknik Naga Putih penuh. Tubuh ini belum kuat menahannya.

Jadi ia memilih teknik minimal, berupa Teknik Pemulihan Dasar. Aliran lambat, stabil, hanya menyasar
darah dan pernapasan.

Ia menutup mata.
Mengalirkan panas dari perut ke rusuk kiri dan kanan… Ke jalur lengan… Ke pangkal leher…

Setiap kali aliran tersendat, ia tidak memaksa.

Ia memutar jalur itu, mencari jalan kecil yang lebih aman.

Tubuh Lin Qingyu merespon cukup baik.

Setelah beberapa menit, ia membuka mata. Hanya satu kata muncul dalam pikirannya:

“Cukup.”

Ia harus menjaga tubuh ini sampai Ayah Qingyu pulang.

Dan saat itu, ia harus menutup semua bukti bahwa tubuh ini baru… terlahir kembali.

Sekarang saatnya membersihkan tubuh ini. Ia melirik ke pintu dekat lemari pakaian. Ingatan Qingyu
memberi tahu itu adalah pintu ke kamar mandi.

Ning Zen berdiri dan berjalan ke arah pintu itu dan membukanya. Tubuh ini seperti otomatis sudah
mengetahui.

Ia bangkit, membuka lemari kecil di sudut kamar.

Pakaian Lin Qingyu rapi, sederhana, tanpa kemewahan. Namun modelnya begitu asing bagi Ning Zhen.

Beberapa sudah sangat usang. Ning Zhen memilih pakaian paling bersih:

Blus biru pucat dan celana longgar warna krem. Ia menatap pakaian itu sebentar. Dalam dunia asalnya,
ia mengenakan jubah Naga, berupa kain putih dengan rajutan yang berkilau…

Di sini, ia mengenakan pakaian murahan seorang gadis yang tidak dianggap. Aneh dan ironis.

Ia mengganti pakaian tanpa tergesa. Kainnya kasar dan terasa gatal di kulit.

Setelah itu, ia mengikat rambutnya dengan karet hitam kecil di meja. Tidak rapi. Tapi cukup pantas
untuk anak seorang pengusaha.

Saat ia selesai, ia berjalan ke jendela, membuka tirai sedikit. Cahaya masuk mengenai wajahnya yang
pucat.
Ia memandang bayangan di kaca jendela.

Dunia ini mengenalnya sebagai Lin Qingyu.

Dan mulai hari ini… ia tidak berniat membantahnya.

Ia menutup tirai dan berbalik.

“Aku masih Ning Zhen. Tapi nama ini akan aku kubur dalam-dalam.”

Ia menatap kedua tangannya yang terbuka, lalu mengepalnya kuat.

“Mulai hari ini, aku adalah Lin Qingyu.”

Langkah berikutnya—bagaimana tinggal di rumah ini tanpa terlalu menarik perhatian.


BAB 8 — HARI BIASA YANG TIDAK LAGI BIASA

Pagi itu, rumah keluarga Lin berjalan seperti biasa.

Setidaknya… di mata orang lain. Pelayan keluar-masuk dapur, suara panci beradu, aroma kaldu tipis
memenuhi ruang makan.

Di lantai dua, kamar Lin Xue sudah ramai dengan suara hair dryer dan musik dari ponselnya.

Lady Su memeriksa jadwalnya, memilih kalung yang paling cocok dengan gaun hari ini.

Hanya satu hal yang tidak sama—pemilik kamar di ujung koridor bukan lagi Qingyu yang dulu.

Qingyu membuka mata dengan pelan. Ia tidur di kasur dunia ini untuk pertama kalinya.

Di Azura para kultivator terbiasa tidak tidur. Kalaupun tidur, mereka tidur di dipan dengan alas tipis. Di
sini, tubuh ini perlu tidur yang cukup. Dan tidur semalam membuatnya jauh lebih segar

Ia mengangkat tangannya. Sendi-sendi sudah tidak sekaku kemarin. Qi dari Umbi Api dan sentuhan Batu
Naga Ungu telah melakukan tugasnya, meski sedikit.

Titik Naga berdenyut di bawah tulang rusuk kiri. Cukup kuat dan stabil.

“Dengan istirahat cukup, ramuan herbal dan qi, tubuh ini akan kembali normal dalam waktu sekitar tiga
minggu. Namun meridian perlu waktu lebih lama untuk terbuka seluruhnya,” pikirnya.
“Setelah itu, aku akan berlatih diam-diam...”

Ia duduk di tepi tempat tidur, kakinya menyentuh karpet. Lantai kamar tidak sedingin lantai gudang.

Kontras itu membuat ingatan malam-malam terakhir Lin Qingyu berkilat sebentar, tapi ia tidak
tenggelam di sana, dalam rasa sedih dan belas kasihan.

Baginya fokus kesembuhan lebih utama. Lin Qingyu pantas dihormati dengan menjaga tubuh ini sebaik
mungkin.

Ia berdiri. Kakinya tidak gemetaran lagi.

Tak lama ada ketukan di pintu. Tiga kali, berirama, dan sopan.

“Nona Qingyu? Boleh saya masuk?” terdengar suara perempuan dewasa dan sopan.

Ia mengenali namanya dari ingatan lama Qingyu.

“Auntie Yue.”

Ia berjalan ke pintu dengan stabil dan membukanya.

Perempuan itu berdiri di luar, membawa nampan kecil berisi bubur, telur rebus, dan segelas susu
hangat.

Rambutnya digelung rapi. Ada keriput halus di sekitar [Link] bertahun-tahun ia bekerja di rumah
ini dengan segala masalah yang ada.

Mata Auntie Yue sedikit melebar saat melihat Qingyu berdiri tegak.

Hanya sedetik, lalu ia kembali menunduk sopan.

“Selamat pagi, Nona,” ujarnya. “Saya pikir… Anda masih perlu makan di kamar.”

“Terima kasih, Auntie.”

Qingyu memiringkan tubuh, memberi ruang agar perempuan itu bisa masuk.

Auntie Yue melangkah masuk, meletakkan nampan di meja belajar.

Matanya melirik cepat ke wajah Qingyu, lalu ke punggung dan cara ia berdiri.
“Tidur Anda… lebih baik dari kemarin?” tanyanya pelan.

“Lebih baik,” jawab Qingyu.

Jujur, tapi singkat.

Auntie Yue mengangguk pelan, tetapi ada sesuatu di tatapannya — sejenis kebingungan yang dipenuhi
harapan.

“Makan dulu, Nona.”

Qingyu mengambil sendok dan mengaduk bubur.

Teksturnya lembek, rasanya pasti hambar, tapi bahan-bahannya bersih. Namun saat suapan pertama,
bubur ini berbeda dari biasanya. Ada rasa gurih dari kaldu ayam. Potongan dadu kecil wortel, sedikit
seledri, membuat kombinasi rasa yang hangat dan nikmat.

“Ini Auntie yang masak?” tanyanya.

Kedipan kaget muncul singkat di mata perempuan itu. Qingyu biasanya hanya makan tanpa bertanya.

“Ya, Nona,” jawabnya. “Saya pikir… tubuh Anda belum siap untuk makanan berat.”

“Terima kasih. Rasanya enak,” kata Qingyu jujur.

Ia tidak memuji berlebihan. Ini hanya pengakuan kecil atas usaha yang sangat jarang dihargai oleh
penghuni lain di rumah ini.

Sekilas, bahu Auntie Yue mengendur.

Kalimat sederhana itu seperti meringankan beban yang sudah bertahun-tahun.

“Kalau Nona butuh sesuatu, panggil saja,” katanya.

“Lady Su bilang Anda tidak boleh terlalu banyak berjalan hari ini. Katanya, Ayah akan sering menelpon
untuk memastikan kondisi Anda sebelum—”

Sebelum ayah pulang.

Kalimat itu menggantung di udara, tidak diselesaikan.


Tapi Qingyu tidak butuh sisanya.

“Aku mengerti,” jawabnya.

“Terima kasih sudah merawatku saat… aku bahkan tidak ingat semuanya.”

Ada kilatan sesuatu di mata Auntie Yue. Keheranan dan rasa nyeri kecil. Nona Qingyu sebelumnya tidak
pernah mengucapkan kalimat seperti itu.

Auntie Yue mengangguk sebagai balasan, lalu pamit dengan hormat dan menutup pintu pelan.

“Aku tidak butuh simpati. Namun aku harus tahu di mana posisiku berada,” pikir Qingyu realistis.

Ia makan tanpa tergesa. Setiap suapan adalah energi yang berharga untuknya saat ini, dan nanti.

Selesai makan, ia berjalan ke jendela dan membuka tirai sedikit. Dari sini, ia bisa melihat halaman depan
dan sebagian pagar rumah.

Di kejauhan, di luar pagar, jalan raya kota mulai ramai— suara mobil, motor, bus, dan orang-orang yang
bergegas.

“Dunia ini terlihat...sibuk dan berisik” pikirnya.

Suara televisi terdengar samar dari lantai bawah.

Nada pembawa berita yang awalnya datar berubah menjadi lebih antusias.

“…Xie Group kembali mengumumkan ekspansi besar di sektor farmasi dan teknologi medis. CEO
termuda mereka, Xie Yan, dengan julukan ‘CEO Devil’ oleh media keuangan karena gaya negosiasinya
yang tanpa kompromi…”

Qingyu berhenti.

“CEO Devil?”

Ingatannya belum pernah mendengar nama itu.

Tapi nada suara pembawa berita mengandung sesuatu yang menarik.

Ia mendekatkan diri ke dinding, mendengarkan.


“…meski jarang muncul di publik, pengaruhnya di dunia bisnis dan… kabarnya, di dunia bawah tanah…
tidak bisa diremehkan. Para analis menilai, dalam lima tahun ke depan, Xie Group bisa menguasai
hampir seluruh jalur distribusi logistik medis di wilayah timur…”

Logistik medis... Herbal... Farmasi.

Semuanya bergulir ke satu kata kunci di kepala Qingyu, “Jalur suplai.”

Jika dunia ini punya naga, mereka sekarang berpindah tempat.

Bukan lagi di gunung atau di langit—tapi di jalur distribusi barang vital.

Ia menutup tirai itu. Namanya tidak penting sekarang. Yang penting adalah peta kekuatan.

Ayah Qingyu di bisnis herbal dan logistik. Ada keluarga lain yang memegang kekuatan di ranah yang
sama. Dan suatu hari nanti, jalur-jalur ini akan bersilangan.

Titik Naga di dadanya berdenyut pelan.

Batu Naga Ungu merasa hangat di bawah pakaian.

“Baik,” gumamnya pelan.

“Jika naga di dunia ini memakai jas dan dasi, aku akan mempelajari bahasa mereka.”

Pintu kamar terdengar diketuk lagi, kali ini tanpa ritme sopan.

Lebih cepat dan tajam.

“Qingyu!” suara Lin Xue. “Ibu bilang kau harus turun. Kita sarapan bersama. Jangan membuat suasana
canggung saat Ayah menelpon nanti!”

Qingyu menatap pintu sejenak. Ia barusan sarapan ringan. Menambah makan sedikit lagi bukan hal yang
buruk.

Ia merapikan rambutnya di depan cermin kecil.

Wajah di hadapannya masih pucat, tapi mata itu berbeda. Sinar matanya tidak patuh atau juga tidak
menantang secara terang-terangan. Hanya ada… kesadaran di sana.

Ia membuka pintu.
Lin Xue berdiri dengan piyama sutra mahal dan wajah sempurna dengan riasan tipis meski ini masih
pagi.

Ia mengernyit.

“Kau terlihat agak… kurang menyedihkan hari ini,” komentarnya.

“Terima kasih,” sahut Qingyu tanpa ekspresi apapun.

Lin Xue terdiam sedetik. Matanya membesar sedikit sebelum ia memalingkan wajah. “Cepat turun!”

Ia berbalik, langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Qingyu mengikuti dari belakang.

Tangga rumah keluarga Lin tetap sama seperti kemarin, lusa, dan tahun-tahun sebelumnya.

Namun bagi Qingyu, setiap anak tangga yang ia turuni hari ini adalah sesuatu yang tidak pernah
dilakukan Lin Qingyu dengan kepala tegak.

BAB 9 — MEJA MAKAN YANG PENUH BAYANGAN

Bau sup sayur dan roti panggang menyambut mereka di lantai bawah.

Ruang makan keluarga Lin tampak seperti iklan keluarga harmonis: meja panjang, taplak rapi, peralatan
makan mengkilap, vas bunga segar di tengah.

Sayangnya, orang-orang yang duduk di sekitarnya tidak seharmonis itu.

Lady Su sudah berada di ujung meja, mengenakan gaun pastel dan kalung mutiara yang terlalu mencolok
untuk sarapan. Senyumnya tersusun rapi, seperti bagian dari dekorasi.

“Qingyu,” suara itu terdengar, penuh perhatian.

“Ternyata kau sudah bisa turun sendiri.”

Lin Xue menimpali ringan,

“Iya, kelihatan lebih… hidup dari biasanya.”

Qingyu duduk tanpa berkata apa pun.


Ia sudah terbiasa dengan kalimat yang terdengar seperti pujian, tapi berlawanan dengan maksud
sebenarnya. Ia juga tidak tersinggung.

Baginya, ketenangan adalah bentuk penolakan paling halus. Pelayan mengisi mangkuknya dengan sup
hangat.

Auntie Yue berdiri sedikit di belakang, memperhatikan tanpa mencolok.

“Bagaimana tidurmu?” tanya Lady Su, mengangkat cangkir tehnya.

Tak ada kekhawatiran di matanya, hanya pengawasan.

“Lebih baik,” jawab Qingyu pelan.

“Ranjang terasa....lebih hangat,” lanjut Qingyu sambil melirik tangannya sendiri. Dibanding gudang.

Suasana membeku sepersekian detik. Lin Xue hampir tersedak air minum. Pelayan yang sedang
menuang susu ke gelas berhenti sepersekian detik sebelum kembali bergerak seolah tidak mendengar
apa-apa.

Lady Su mengabaikan rasa tegang itu dengan tertawa datar.

“Apa maksudmu?” katanya sambil menatap Qingyu dengan senyum dipaksakan.

“Kalau orang lain mendengar, ia mungkin akan salah paham. Qingyu memang suka berlebihan kalau
sakit. Jangan dengarkan.” Lanjutnya, menoleh ke pelayan yang hanya bisa mengangguk kecil.

Qingyu menunduk sedikit, menyendok sup.

Ia tidak menambahkan apa pun. Ia membiarkan kata-katanya menggantung.

Membiarkan siapapun yang mendengarnya berpikir dengan asumsi mereka sendiri.

Pelayan yang membantu Lady Su mengangkatnya ke gudang malam itu tidak kelihatan hari ini.

Televisi di ruang tengah menyala, suaranya terdengar sampai ke ruang makan.

“…ditemukan kembali korban keracunan. Kali ini di distrik selatan. Pihak Rumah Sakit sampai sekarang
masih belum berhasil menemukan jenis racun yang terdapat di tubuh korban...”

Remote ditekan, dan suara TV langsung menghilang.


“Berisik,” gumam Lady Su. “Berita pagi selalu dramatis.”

Qingyu menelan suapan supnya dan bertanya.

“Dramatis karena menyangkut racun ya, Bu?”

Seolah pertanyaan sederhana, namun mengagetkan semua yang mendengar. Terutama Lady Su.

Qingyu dikenal pendiam. Tidak pernah memulai pembicaraan lebih dulu.

Lady Su menatapnya sedikit terlalu lama sebelum menjawab.

“Racun atau berita menyedihkan lainnya, tak pantas diberitakan di pagi hari. Dan sepertinya kamu
tertarik dengan berita menyedihkan?”

“Tidak. Berita barusan hanya membuatku berpikir,” jawab Qingyu.

Lady Su memicingkan mata sepersekian detik. Tangannya mengepal erat di bawah meja makan.

“Oh, apa yang kau pikirkan?

“Sepertinya obat yang aku minum... tidak sesuai. Racun dan obat itu mirip. Aku jadi tertarik belajar
medis dan herbal.”

Lady Su menatapnya tajam. Tidak mungkin..

“Sejak kapan kau punya kesimpulan begitu?” Nada suaranya lebih terdengar menguji.

“Sejak kesehatanku menurun drastis, dan aku hampir mati.” jawab Qingyu ringan.

Kali ini, Lin Xue benar-benar kehilangan kata-kata.

Pelayan di samping hampir menjatuhkan sendok, dan Auntie Yue menunduk lebih rendah, seolah
sedang menahan sesuatu di wajahnya.

Lady Su menggenggam cangkir teh lebih erat.

Sejak kapan anak ini berubah? Apakah selama ini dia hanya berpura-pura? Tapi tadi malam... dia terlihat
sekarat. Aku memeriksanya sendiri. Teh itu...

“Kau terlalu sensitif, Qingyu,” ujarnya setelah beberapa saat.


Lady Su menyadari bahwa setiap kalimat dari “anak rapuh” ini kini terkesan menyerang balik setiap
ucapannya.

Ia mengalihkan topik.

“Karena ayahmu akan pulang,” ujarnya sambil menatap Qingyu tajam,

“Pastikan wajahmu tidak terlihat seperti hantu. Xue’er, nanti temani dia ke salon. Minta mereka
merapikan rambutnya.”

“Itu buang-buang—” Lin Xue hendak protes, tapi tatapan ibunya menghentikannya.

“…baiklah,” ia menggedikkan bahu. “Asal dia tidak malu-maluin aku di luar.”

Salon, rambut, dan penampilan.

Hal-hal yang dulu tidak pernah dipedulikan Lin Qingyu,

Tapi sekarang, semua itu adalah alat yang bisa dipakai untuk menegaskan keberadaannya.

“Aku akan pergi,” kata Qingyu. “Terima kasih atas saran Ibu.”

Ucapan terima kasih itu terdengar tulus, tapi justru membuat Lady Su merasa sangat tidak nyaman.

Setelah sarapan, pelayan membersihkan meja. Dan tak lama ponsel Lady Su berbunyi, telepon dari ayah.

Lady Su beranjak ke ruang tamu, menjawab telepon dengan suara manis yang dibuat-buat.

“Apa kabar, Suamiku? Kami baik saja.”

“Qingyu? Oh, tadi dua hari lalu kondisinya parah. Tapi pagi ini sudah membaik.” Mata Lady Su melirik
Qingyu.

Beberapa detik kemudian, “Qingyu, Ayah ingin bicara.” Dengan nada manis Lady Su memanggil Qingyu.

Lin Xue menggulir ponselnya, duduk di sofa dengan gaya elegan yang tampak dipaksakan.
Qingyu berdiri di ambang ruang makan, lalu mendekat dan menerima ponsel Lady Su.

Dengan ingatan Qingyu ia memahami ini adalah alat komunikasi bumi

“ Halo, Ayah...” katanya pelan.


“Qingyu...bagaimana kabarmu hari ini?” suara laki-laki di seberang terdengar kaku.

“Aku baik, Ayah...untuk hari ini” jawabnya, tanpa perlu menjelaskan kejadian tadi malam. Lady Su
sempat menegang

Namun ayah merasakan sedikit sesak saat mendengar jawaban putrinya. Kalimat ‘untuk hari
ini’...menandakan betapa hari-hari lain Qingyu justru sebaliknya.

“Ayah akan pulang lusa. Sampai ketemu nanti.”

“Baik Ayah.”

Ayah menutup pembicaraan. Dan Qingyu menyerahkan kembali ponsel itu. Lady Su menatap Qingyu
sebentar.

“ Aku ada acara hari ini. Kamu diam di rumah,” ujar Lady Su sambil beranjak ke lantai atas untuk
bersiap-siap.

“ Ibu, aku tidak akan pulang sampai nanti malam,” Lin Xue bergegas menyusul ke atas. Lady Su berhenti
sebentar di tengah tangga dan menoleh, menatap Lin Xue dengan kasih.

“Baik sayang. Hati-hati di luar.”

Dulu, saat melihat interaksi ibu dan anak ini selalu membuat Qingyu perih. Namun bagi Qingyu
sekarang, hal tersebut tidak mempengaruhinya sama sekali.

Hari ini waktu yang tepat untuk mengamati rumah ini.

Kepulangan ayah akan menjadi kesempatan pertama untuk mengukur seberapa jauh ia bisa menjangkau
dunia ayah Qingyu…

Tanpa membuat Lady Su menutup jalan itu sebelum terbuka.

Qingyu menatap bayangannya di kaca jendela.

Tubuh ini masih jauh dari kuat. Pengaruhnya belum ada, dan qi-nya tidak sampai lima persen.

Namun satu hal sudah terjadi:

Ia telah duduk di meja yang sebelumnya tidak mengakui keberadaannya.


Dan meja itu telah merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda.

BAB 10 — RITUAL AIR & BAYANGAN IBU

Ketika Lady Su dan Lin Xue pergi, Qingyu menetap sebentar di ruang keluarga.

Matanya mengamati sekeliling. Di dinding, ada rak kecil berisi beberapa pigura foto. Salah satunya
menarik perhatiannya.

Ayah Lin, jauh lebih muda, berdiri di depan gudang penyimpanan besar dengan logo perusahaannya di
belakang. Tangan kirinya memegang seikat daun herbal kering, dan tangan kanan, selembar kontrak.

Herbal, logistik, dan kontrak... Qingyu mencatatnya dalam hati.

Papan nama kecil di rak itu bertuliskan:

“Pembukaan Cabang Distribusi Herbal & Medis Lin Group—10 Tahun Lalu.”

Qingyu menghafalnya—tanggal, lokasi dan nama.

Auntie Yue lewat, membawa keranjang kecil berisi handuk bersih.

“Nanti siang saya akan menyiapkan ramuan mandi hangat untuk Anda, Nona,” katanya pelan.

“Ramuan ini berkhasiat untuk melancarkan darah. Ibumu dulu sering menggunakannya.”

Ia menatap sekilas ke keranjang.

Daun yang diselipkan di sisi handuk bukan daun biasa.

Ada dua tangkai tanaman yang ia lihat di rumah kaca—Tanaman kelas rendah, tapi cukup untuk
membantu sirkulasi darah. Rupanya rumah kaca masih ada yang merawat diam-diam.

Pantas tanahnya waktu itu sedikit basah. Walau banyak tanaman liar, tapi beberapa tanaman utama
tetap tumbuh subur dan disekitarnya tak terlihat rumput pengganggu.

Rumah kaca sengaja dibiarkan berantakan, tapi tetap dirawat. Biar tidak diketahui.

“Boleh,” kata Qingyu pelan. “Kalau tidak merepotkan.”


“Tidak akan merepotkan, Nona.”

“Terima kasih, Auntie.”

“Sama-sama.” Auntie Yue menunduk, lalu berlalu.

Ini bukan lagi sekadar perhatian pelayan. Melainkan sebuah dukungan.

Di ujung ruangan, suara TV menyala kembali. Pelayan lain lupa menurunkan volumenya.

“…dengan ekspansi perusahaan-perusahaan besar di sektor suplai medis, banyak pengusaha kelas
menengah dikhawatirkan akan tersingkir jika tidak memperbarui sistem distribusi mereka…”

Qingyu membiarkan kalimat itu menempel di kepalanya.

Ayah di sektor menengah. Ada perusahaan raksasa yang memperluas cengkeramannya.

Rumah ini penuh konflik, baik di dalam maupun di luar. Dan di tengah semua itu, ia—Jiwa dari dunia
lain, berdiri dalam tubuh gadis rapuh yang sering diacuhkan, diracuni diam-diam tanpa seorang pun
peduli.

Siangnya, kamar mandi Qingyu dipenuhi uap hangat saat pintu diketuk.

“Nona, ramuan mandinya sudah siap,” suara Auntie Yue terdengar halus.

“Apa saya boleh masuk?”

“Masuk saja, Auntie,” jawab Qingyu sambil duduk di bangku kecil, menggulung lengan bajunya.
Auntie Yue masuk membawa ember kayu besar berisi air hangat yang memancarkan aroma herbal.
Uapnya memenuhi ruangan, menciptakan suasana seperti ruang sauna kecil.

Di antara air, mengambang daun hijau pucat, akar tipis berwarna coklat, serta kelopak bunga kecil yang
Qingyu kenali langsung.

Daun Kecubung Muda. Akar Purnama. Bunga Embun Pagi.

Herbal tingkat rendah—Namun cukup efektif untuk tubuh manusia yang terlalu lama sakit.

Auntie Yue menuangkan ramuan ke bak mandi.


“Nona…tubuh Anda terlihat rapuh,” katanya pelan, tak berani menatap langsung. Lengan Lin Qingyu
menampakkan tubuh ringkih dan lebam di beberapa tempat..

“Saya khawatir angin dingin masuk ke tulang jika tidak dirawat.”

Angin dingin, istilah dunia ini masuk akal bagi Qingyu.

“Tidak apa.”

Qingyu mengulurkan tangan, menyentuh air.

“Terima kasih sudah menyiapkannya.”

Auntie Yue menunduk.

“Ini… kewajiban saya, Nona. Dan… permintaan terakhir Nyonya dulu sebelum beliau meninggal adalah
memastikan Anda tidak sendirian.”

Qingyu membeku sejenak. Ingatan lama Qingyu datang pelan:

Seorang ibu yang lemah, batuk darah, menggenggam tangan anaknya dengan penuh kasih—Tapi
bayangan sosok itu selalu kabur dalam ingatan.

“Beliau berkata,” lanjut Auntie Yue, suaranya sedikit bergetar,

“‘Jika… aku tidak ada… jangan biarkan Qingyu merasa rumah ini membencinya.”

Hening memenuhi ruangan.

Qingyu menyentuhkan jemarinya ke air, membiarkan suara gemericik memecah keheningan.

“Aku mengerti,” katanya hampir berbisik.

“Terima kasih… sudah menepati janji itu selama ini.”

Auntie Yue menunduk semakin dalam, seperti menahan emosi.

“Kalau begitu, saya permisi dulu,” katanya sebelum keluar, menutup pintu dengan hati-hati.

Saat uap memenuhi ruangan, Qingyu membuka kancing pakaian satu per satu.

Ketika ia melihat bayangan tubuhnya di cermin kamar mandi yang lebih besar…
Ia terdiam.

Tubuh ini… memang tidak seharusnya bertahan sejauh ini. Lebam-lebam di beberapa bagian tubuh
petanda luka dalam berat dan menurunnya fungsi sistem sirkulasi darah akibat racun kronis.

Qingyu bertahan sejauh ini dengan tubuh seperti ini? Gadis itu jauh lebih kuat daripada yang mereka
pikirkan.

Ia masuk ke dalam air.

Saat kulitnya menyentuh ramuan, rasa panas menyengat menusuk tulang. Bukan sakit yang
membuatnya meringis, melainkan panas yang membangunkan jalur darah yang tertutup.

Tak lama air berubah warna, bercampur dengan sisa herbal yang larut. Qingyu memejamkan mata.

Teknik Pemulihan Dasar

Ia mulai mengalirkan qi, pelan dan stabil.

Panas bergerak dari kulit ke otot, dari otot ke tulang.

Ia mengarahkan energi itu ke meridian paling rusak:

Tengah dada.

Punggung kiri bawah.

Perut kanan atas.

Setiap titik yang disentuh energi membuatnya merasa lebih ringan.

Bukan pulih sepenuhnya—

Tapi cukup untuk memperbaiki kerusakan dalam secara bermakna. Racun yang diminum Qingyu selama
ini berhasil merusak sebagian fungsi organ tubuhnya.

Qi dalam dirinya saat ini belum cukup untuk memberi kesembuhan total. Kadarnya masih terlalu rendah.

Titik Naga berdenyut pelan.

Den… den… den…


Semakin stabil dan aktif.

Potensinya bangun sedikit demi sedikit, menerima energi herbal yang melewati sirkulasi darah manusia.

Setengah jam berlalu sebelum Qingyu akhirnya membuka mata.

Ia berdiri dari bak mandi. Cara ia berdiri tidak lagi seperti pasien kronis. Bahunya seimbang dan
gerakannya stabil.

Ia mengenakan gaun rumah bersih, rambut basahnya ditarik ke belakang. Ketika ia melihat bayangan
dirinya di cermin, wajahnya masih pucat, tapi garis tajam di matanya semakin dalam.

Lebam tubuhnya mulai berubah warna. Tidak lagi biru. Sudah muncul warna kemerahan di tepi lebam.
Tanda jalur sirkulasi kecil mulai lancar dan membaik.

Qingyu membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke kamar.

Lin Xue muncul tanpa mengetuk, menjulurkan kepala.

“Hah! Masih hidup rupanya.”

Qingyu menatapnya. Hanya satu detik. Tapi itu cukup membuat Lin Xue mundur setengah langkah.

“…bb-besok pagi kita ke salon,” katanya terbata.

“Pakai pakaian yang sopan. Jangan memalukan.”

“Baik,” jawab Qingyu.

“Tolong pilihkan pakaian yang sesuai untukku. Kau lebih paham soal penampilan.”

Lin Xue tertegun. Itu bukan sindiran, tapi sebuah permintaan jujur yang membuat Lin Xue kehilangan
kesempatan membalas.

“Terserah deh. Kau bisa memilihnya sendiri!” sahutnya ketus sebelum berlalu.

Saat malam akhirnya turun, Qingyu duduk di kursi dekat jendela. Cahaya lampu kota memantul di kaca,
memantulkan bayangan dirinya dan dunia di luar.

Ia menyentuh nadi tangannya, denyutnya semakin stabil dan berisi.


Hari ini ia berhasil bertahan, dan mendapatkan sekutu. Sebuah pencapaian yang berarti. Ia pun
memutuskan tidur lebih awal malam ini.

BAB 11 — SALON, KOTA, DAN ATURAN YANG TAK TERTULIS

Pagi itu Lin Xue berjalan di depan dengan gaya seolah dunia berpusat pada dirinya.

Sepatunya berbunyi di lantai marmer foyer, langkahnya ringan, bahunya tegak—seakan udara pun harus
memberi jalan.

Ia mengenakan setelan kasual mahal, rambutnya sudah rapi, parfum tipisnya tertinggal di lorong seperti
jejak yang sengaja dipamerkan.

Qingyu mengikuti dari belakang.

Tubuhnya jauh lebih kuat dibanding kemarin. Ia memakai pakaian yang akhirnya ia pilih sendiri: blus
putih bersih, jaket tipis warna krem, dan celana panjang yang membuatnya terlihat “normal”. Tidak
seperti anak sakit yang baru keluar dari gudang.

Lady Su mengawasi mereka dari ruang tamu.

Ia duduk dengan anggun, seolah adegan ini bagian dari jadwalnya. Tetapi matanya tidak santai. Sorotnya
tajam, menimbang setiap gerakan Qingyu, tiap langkahnya.

“Jangan bikin masalah,” kata Lady Su tanpa menoleh sepenuhnya. Suaranya biasa, tapi kalimatnya
dingin.

Lin Xue menghela napas. “Ibu, aku ini cuma bawa dia ke salon. Bukan ke medan perang.”

Qingyu menunduk sedikit. “Aku akan menurut.”

Lady Su menatapnya sesaat—lebih lama, dengan rasa curiga—lalu mengangkat cangkir teh seolah tidak
terjadi apa-apa.

Auntie Yue datang membawa tas kecil dan sebotol air. “Nona Qingyu, bawa ini. Jangan sampai pusing di
luar.”

Qingyu menerimanya dengan dua tangan. “Terima kasih, Auntie.”


Lin Xue memasang muka masam.

Auntie Yue hanya mengangguk singkat, tetapi Qingyu menangkap sesuatu di balik ketegasan itu:
perhatian yang sudah lama dipendam.

Mereka keluar. Begitu pintu rumah tertutup, dunia berubah.

Udara di luar berbeda—lebih padat oleh suara. Mesin kendaraan, klakson, langkah orang, percakapan
cepat yang bercampur-baur.

Qingyu berhenti sebentar di depan rumah.

Lin Xue menoleh, alisnya naik. “Kenapa berhenti? Jangan bilang kamu mau pingsan.”

“Aku hanya... sudah lama tidak keluar rumah,” jawab Qingyu.

Lin Xue mendecih. “Itu karena kamu sering sakit! Ayo!”

Mobil keluarga menunggu di depan. Supir membuka pintu. Qingyu masuk dengan hati-hati,
memperhatikan cara pintu menutup sendiri dengan bunyi halus.

“Benda ini seperti kereta tanpa kuda,” pikirnya singkat.

Lin Xue sibuk mengetik di ponselnya. Dan Qingyu dengan memori Lin Qingyu dulu masih ingat cara
memasang sabuk pengaman.

Mobil pun mulai melaju.

Di kaca jendela, Qingyu melihat dunia bergerak cepat. Orang-orang berjalan tanpa saling menatap.
Mereka memegang benda kecil di tangan—ponsel—dan seolah hidup di dalamnya.

Pakaian mereka pun beragam dengan berbagai gaya.

Di atas jalan, kabel dan papan iklan saling menumpuk. Warna-warna menyala di siang hari.

Bumi tidak punya qi yang padat… tapi punya aliran lain, pikirnya. Informasi, uang, dan suplai sangat
berharga di sini.

Di layar kecil di dashboard, berita diputar. Pembawa berita berbicara datar.


“…kasus keracunan kembali ditemukan di distrik barat. Pihak rumah sakit menyatakan gejala pasien
menunjukkan paparan zat asing yang belum teridentifikasi. Masyarakat diminta—”

Lin Xue menyuruh supir mematikan TV dengan galak. “Matikan TV-nya! Berita pagi bikin mood jelek.”

Qingyu tidak menentang. Ia hanya menyimpan kalimat-kalimat itu. Racun asing lagi, dan tidak
teridentifikasi. Sepertinya ada gerakan tersembunyi yang sedang melancarkan aksi ini.

Mobil berhenti di depan salon kecil dalam komplek pertokoan. Plang namanya elegan, kaca depannya
bening, orang-orang keluar-masuk dengan wajah percaya diri.

Lin Xue turun duluan dan langsung berbicara pada resepsionis seperti pelanggan langganan.

Qingyu melangkah masuk, lalu berhenti. Cermin besar menunggu di dalam.

Dalam satu langkah, ia melihat dirinya dari berbagai sudut—wajah pucat, tubuh kurus, rambut yang
kusam. Tapi sinar matanya berbeda dengan Qingyu yang dulu.

“Kenapa kamu berdiri kayak patung?” Lin Xue menoleh, kesal.

Qingyu berjalan lagi. Cermin sepertinya sangat penting di dunia ini, catatnya dalam hati.

Lin Xue mendecih, tapi kali ini ia tidak sempat mengejek. Hair stylist datang menyambut, menuntun
Qingyu ke kursi.

“Nama, Miss?” tanya stylist itu ramah.

“Lin Qingyu,” jawabnya.

Stylist itu tersenyum. “Mau potong model apa? Ada referensi?”

Referensi. Tanpa sadar ia menyentuh ujung rambutnya, sambil menatap layar ponsel pegawai yang
penuh gambar. Wajah-wajah perempuan dengan rambut berkilau, gaya yang berubah-ubah seperti
musim.

Di Azura, rambut adalah mahkota. Di sini… rambut adalah bahasa sosial, dan penampilan sangat
berpengaruh.

“Aku ingin terlihat segar,” kata Qingyu akhirnya.


Hair stylist berkedip, lalu tertawa kecil sopan. “Oke. Kita buat model yang bikin wajah Miss lebih hidup
ya. Sedikit layer, rapihin ujung, tambahin volume.”

Lin Xue duduk di kursi tunggu sambil menggulir ponsel. “Jangan aneh-aneh. Jangan bilang kamu mau
gaya ‘putri kerajaan’.”

Qingyu menutup mata sebentar. Aku tidak punya kerajaan lagi, batinnya.

Hair stylist mulai bekerja. Dengan cekatan ia menggunting rambut Qingyu. Pengalaman yang rasanya
sangat berbeda. Di Azura rambut wanita dibiarkan panjang dan fokus pada hiasan kepala.

Di sini model rambut lebih sederhana tapi... rumit.

“Apakah kakak ingin rambutnya diganti warna juga? Kulit kakak akan cocok dengan warna rambut
coklat,” tiba-tiba hair stylist itu bertanya.

“Ganti warna?” Qingyu teringat foto referensi dengan berbagai model. Ternyata warna rambut bisa
diubah.

Diliriknya Lin Xue yang tetap asyik dengan ponselnya. Ia tidak mendengar.

“Ayahku bilang warna hitam yang terbaik,” jawab Qingyu pelan.

Ingatannya kembali ke Azura, saat Ayah membelai rambutnya waktu kecil, dan berkata rambut hitamnya
sangat indah.

Stylist tersenyum mengerti. Qingyu memperhatikan bagaimana penampilannya mulai berubah di depan
cermin besar.

Potongan demi potongan rambut jatuh ke lantai, membuat kepalanya lebih ringan, tapi bukan
kehilangan. Pengering rambut berdengung, udara hangat mengalir.

Untuk pertama kalinya, Qingyu merasakan tubuh ini diperlakukan seperti manusia—bukan sebagai
beban orang lain.

Saat selesai, stylist tersenyum.

“Bagaimana Miss?”
Wajah itu masih pucat. Tetapi garis rambutnya rapi, poni tipis menutupi dahi, bentuk wajahnya lebih
terbuka. Bukan cantik seperti Lin Xue, namun jauh dari “hantu gudang”.

Qingyu menatap pantulannya lama.

“Aku tampak… lebih rapi. Aku suka,” katanya.

Ia tidak memuji hasilnya berlebihan. Namun nada mantapnya membuat stylist merasa dihargai.

Lin Xue mendengus. “Ya. Minimal sekarang kamu gak bikin malu.”

Qingyu hanya menatapnya sekilas. Tidak perlu membalas.

Saat keluar salon, mereka berjalan ke arah parkir.

Di seberang jalan, mata Qingyu menangkap sesuatu.

Toko kecil dengan plang kayu tua.

“Apotek Herbal Shun He.”

Plangnya tidak mencolok. Catnya sebagian sudah pudar.

Namun tanaman yang digantung di pintu—akar kering, daun hijau keabu-abuan, bunga kecil berwarna
biru, membuatnya berhenti sebentar.

“Kenapa?” tanya Lin Xue, mengikuti arah pandangnya.

“Ngapain kamu melihat toko itu? Obatnya kuno dan pahit semua!”

Pahit dan kuno, terdengar menjanjikan.

Titik Naga di dadanya bergetar kecil.

Ada sesuatu di toko itu, yang selaras dengan sesuatu di dalam dirinya.

“Tidak apa,” katanya, melanjutkan langkah.

“Hanya teringat sesuatu.”

Lin Xue mendecih. Sopir membuka pintu mobil.


Saat mereka masuk, ia menoleh sekali lagi.

Di jendela toko herbal itu, ia melihat sosok laki-laki tua berkacamata, merapikan stoples berisi akar dan
daun.

Gerakannya tidak terburu, dan ada ketelitian dalam setiap jari.

“Suatu hari,” batin Qingyu, “aku akan datang ke situ. Bukan sebagai pasien. Tapi sebagai seseorang yang
paham dengan ilmu yang sama.”

Mobil pun melaju. Plang kayu “Shun He” menghilang di belakang tikungan, namun tertinggal jelas dalam
ingatannya.

BAB 12 — KEPULANGAN AYAH, DAN SEORANG GADIS BERNAMA XIAO LAN


Besok paginya, rumah keluarga Lin berubah sejak matahari terbit.

Pelayan bergerak lebih cepat. Vas bunga diganti. Tirai dirapikan. Aroma pengharum ruangan
disemprotkan sampai sedikit menusuk hidung.

Lady Su mengenakan gaun yang terlalu sempurna untuk pagi hari, dan Lin Xue berkali-kali memeriksa
rambutnya sendiri di cermin.

Qingyu berdiri di kamar, membiarkan semua persiapan itu terjadi seperti angin lalu.

Ia mengenakan pakaian yang rapi, rambutnya sudah tertata, wajahnya masih pucat tapi tidak lagi
“terlalu buruk”. Ia menelan ramuan hangat yang Auntie Yue beri, lalu mengatur napas, menahan qi agar
tidak memantul di permukaan.

Ia tidak boleh terlihat terlalu berbeda.

Di bawah, sekitar hampir jam sebelas, suara mobil berhenti di halaman.

Beberapa detik kemudian, pintu utama terbuka. Suara langkah pria terdengar, berat dan tenang.

“Ayah!”

Lin Xue berlari lebih dulu. Lady Su menyusul dengan senyum seperti istri yang selalu setia.
Lin Feng—Ayah Lin—masuk membawa koper kecil. Usianya belum tua, tetapi wajahnya menyimpan
lelah seorang yang lama hidup di jalur bisnis.

Sudah hampir satu bulan ayah meninggalkan rumah. Matanya tetap tajam, tetapi tidak dingin.

Ia memeluk Lin Xue singkat, menepuk pundaknya, lalu menoleh ke Lady Su.

“Kau mengurus rumah dengan baik?” tanyanya, ramah.

“Tentu,” jawab Lady Su manis. “Aku selalu berusaha.” Tangan Lady Su berusaha merangkul lengan ayah
dengan gaya gemulai dibuat-buat.

Lalu, seolah mata ayah mencari-cari seseorang, tatapan Ayah Lin bergerak ke arah tangga.

Qingyu turun dengan kepala tegak.

Ia berhenti di anak tangga terakhir dan menatap pria itu.

Mata Ayah Lin melebar sedikit. Ekspresinya tidak dramatis—hanya terkejut kecil. Seolah seorang yang
baru sadar selama ini ia punya ‘anak’ yang lain

“Qingyu,” panggilnya pelan.

Qingyu melangkah mendekat. “Ayah.”

Hanya satu kata itu, tapi cukup membuat ruang tamu hening.

Lady Su menegang sesaat—hampir tak terlihat—lalu cepat-cepat tersenyum. “Qingyu sudah membaik
beberapa hari ini. Aku benar-benar lega.”

Ayah Lin tidak langsung menjawab. Ia menatap Qingyu dari ujung rambut sampai ujung kaki, seolah
memastikan ia tidak sedang melihat ilusi.

“Kamu sudah bisa berjalan tanpa pegangan?”

Bukan bertanya, suara Ayah lebih ke pernyataan rasa tak percaya, namun matanya sedikit bersinar.
Putrinya telah ada kemajuan.

Qingyu mengangguk. “Aku berusaha.”

Ia tidak berkata “aku diracun”, atau “aku dibuang di gudang”. Ia tidak ingin merusak suasana saat ini.
Ayah Lin menarik napas panjang. “Bagus.” Tangannya menyentuh kepala Qingyu pelan. Qingyu hanya
diam. Ada gejolak samar jauh di lubuk hatinya

Ayah memalingkan wajah sebentar, menahan sesuatu yang hampir muncul di matanya, lalu menoleh
kembali.

“Aku bawa seseorang,” katanya.

Dari balik pintu depan, seorang gadis muda masuk dengan ragu-ragu, membawa tas kecil dan berdiri
terlalu tegak seperti murid baru. Pakaiannya sederhana, rambutnya dikuncir rapi, dan matanya bergerak
cepat membaca ruangan.

“Ini Xiao Lan,” kata Ayah Lin. “Mulai hari ini, dia akan membantu mengurus Qingyu.”

Lady Su tersenyum, tetapi senyum itu tidak sampai ke mata. “Oh? Kita sudah punya pelayan yang cukup,
suamiku.”

Lin Xue terkejut. Mengapa Qingyu diistimewakan dengan pelayan baru?

“Aku sudah memutuskan,” jawab Ayah Lin, nadanya menutup ruang debat.

Xiao Lan membungkuk cepat. “Selamat pagi, Tuan. Selamat pagi, Nyonya. Selamat pagi, Nona Lin Xue.
Dan… Selamat pagi, Nona Qingyu.”

Qingyu menatap gadis itu, “Selamat pagi,” balasnya dengan sedikit mengangguk. Lalu ia melanjutkan,
“Terima kasih, Ayah.”

Ayah sedikit terkejut, lalu mengangguk sebagai balasan. Qingyu terlihat begitu berbeda, dan berbicara
dengan lebih percaya diri. Tidak seperti dulu yang sering menunduk.

Xiao Lan menatap balik—sepersekian detik—lalu buru-buru menunduk lagi, seolah takut salah.

Lin Xue memicingkan mata, rasa iri tak dapat dihindari. Sedang Lady Su menahan perubahan wajahnya.
Tangannya mengepal erat, membayangkan kuasanya ke Qingyu akan berkurang.

“Xiao Lan, kamu bisa bertanya pada Auntie Yue mengenai aturan rumah ini. Dan Auntie Yue, tolong
tunjukkan kamar Xiao Lan,” perintah Ayah tegas dan jelas.
Xiao Lan dan Auntie Yue menjawab hampir bersamaan sambil membungkuk kecil, “Baik, Tuan.” Auntie
Yue lalu berjalan ke bagian belakang rumah, diikuti Xiao Lan.

Lady Su menatap Qingyu cepat, tajam, lalu mengalihkan perhatian pada Ayah Lin. “Kamu pasti lelah. Aku
sudah siapkan makan siang kesukaanmu.”

Ayah Lin mengangguk, tapi matanya masih kembali ke Qingyu.

“Kita makan bersama,” ajak ayah.

Qingyu mengangguk. “Baik, Ayah.”

Lin Xue merengut cemburu.

Di ruang makan hidangan sudah tersedia dan kali ini lebih banyak dari biasanya. Qingyu duduk di dekat
ayah di sebelah kiri. Lady Su di sebelah kanan ayah dan Lin Xue disampingnya.

Saat makan, beberapa kali Ayah melirik Qingyu yang melahap makanannya tanpa terburu-buru, dengan
porsi yang lebih banyak dari biasanya.

“Qingyu, besok aku akan membawamu ke rumah sakit,” kata ayah tiba-tiba.

Tangan Qingyu yang sedang memegang sendok berhenti sebentar. Ditatapnya wajah ayah tanpa
ekspresi apapun.

Lady Su tersenyum kaku. “Untuk apa? Qingyu sudah membaik—”

“Aku mau dokter memeriksa langsung kondisinya sekarang,” jawab Ayah Lin. “Aku tidak mau hanya
mendengar laporan. Aku mau melihat sendiri perkembangannya.”

Kata-kata itu jatuh seperti palu.

Lalu ia menoleh ke Xiao Lan, yang sudah kembali dan berdiri di belakang Qingyu.

“Besok kamu ikut.”

Xiao Lan tergagap. “I-iya, Tuan.”

Dari sudut ruangan, Auntie Yue berdiri seperti biasa. Namun kali ini, saat mata Qingyu meliriknya, Auntie
Yue memberi anggukan kecil. Bukan salam, namun kode dukungan.
Arah politik rumah mulai berbalik.

“Baik, Ayah,” jawab Qingyu.

Kali ini dengan senyum kecil yang hampir tidak ketara, namun cukup membuat ayah tertegun dan Lady
Su menegang dengan tangannya yang meremas ujung bajunya di bawah meja.

BAB 13 — DI RUANG KERJA AYAH

Qingyu sedang melakukan teknik pernapasan ringan ketika pintu kamarnya diketuk

“Nona, saya Xiao Lan.”

“Masuklah,” sahut Qingyu singkat.

Saat pintu dibuka wajah Xiao Lan terlihat canggung dan takut. Hari pertama bekerja masih banyak yang
belum diketahuinya.

“Maaf Nona Qingyu. Tuan menyuruh nona ke ruang kerjanya sekarang.”

Qingyu menatap Xiao Lan yang segera menundukkan wajah.

“Terima kasih. Aku akan segera ke sana.” Qingyu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.

“Satu lagi Nona... Auntie Yue juga menyuruhku membersihkan kamar Nona.”

“Besok saja. Kamu istirahat atau belajar hal lain dari Auntie Yue.”

“Hah? Oh, t-tapi...” Xiao Lan tidak mengira Qingyu berucap demikian.

“Tak apa,” Qingyu tersenyum singkat, yang membuat Xiao Lan lebih panik lagi. Nona Qingyu tidak
seperti kata pelayan lain—canggung, pendiam, rapuh, tak pernah tersenyum.

Di depannya adalah nona Qingyu yang berbeda. Suara yang kalem tapi dominan. Dan mata itu... mata
orang yang percaya diri.

“Baik Nona,” Xiao Lan pun keluar kamar setelah membungkuk hormat.
Kesan pertamanya dengan nona Qingyu tidak sesuai ekspektasi. Tapi ia... menyukainya. Nona bahkan
peduli padanya!

Qingyu akhirnya bergerak menuju ruang kerja ayah.

Ruang kerja Ayah Lin juga berada di lantai dua, terpisah dari kamar tidur dan ruang keluarga. Pintu
kayunya tebal, gagangnya dingin saat disentuh. Qingyu mengetuk sekali, menunggu.

“Masuk.”

Ayah Lin duduk di balik meja kerja besar dari kayu gelap. Beberapa map tersusun rapi di sisi kanan,
laptop tertutup di kiri. Jendela di belakangnya setengah terbuka, membiarkan cahaya sore masuk tanpa
menyilaukan.

Qingyu melangkah masuk dan menutup pintu.

“Duduklah,” kata Ayah Lin.

Ia duduk di kursi yang disediakan di seberang meja. Posturnya lurus, tangan diletakkan di pangkuan.
Tidak gugup atau ketakutan.

Ayah Lin memperhatikannya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.

“Kamu terlihat… berbeda,” katanya akhirnya.

“Jauh lebih baik. “

Qingyu mengangguk tipis. “Aku sudah sedikit lebih sehat.”

Ayah Lin menyandarkan punggung ke kursinya. Tatapannya beralih sejenak ke jendela, lalu kembali.

“Auntie Yue bilang kau makan lebih teratur,” katanya. “Dan tidak lagi pusing di pagi hari.”

“Ramuan hangat membantuku,” jawab Qingyu singkat.

Hening sejenak menyusul. Bukan hening yang canggung, melainkan seperti dua orang yang sedang
menimbang kata.

Ayah Lin lalu membungkuk sedikit, menarik laci meja dan mengeluarkan sesuatu. Tangannya memegang
sebuah kotak kayu kecil, permukaannya halus, warnanya tua.
Ayah Lin membuka kotak itu. Di dalamnya, sebuah gelang kayu terbaring rapi. Serat kayunya padat,
warnanya gelap, dengan aroma samar yang sulit dikenali—bukan harum, tapi bersih.

“Ini milik ibumu,” kata Ayah Lin. “Dulu dia sering memakainya. Aku berniat memberikannya padamu.”

Ia menyerahkan gelang itu tanpa basa-basi.

Qingyu menerimanya dengan kedua tangan.

Gelang itu hangat. Tidak ada reaksi mencolok. Namun Titik Naga berdenyut halus, bereaksi dengan
gelang itu.

“Terima kasih, Ayah,” katanya.

Ayah Lin mengangguk. “Pakai saja kalau mau. Atau simpan. Itu pilihanmu.”

Ia tidak bertanya apakah Qingyu menyukainya. Kalimat itu berhenti di sana.

“Apakah ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Ayah Lin.

Pertanyaan itu tidak terdengar mendesak, tapi jelas membuka ruang.

Qingyu mengangkat pandangan. Ini kesempatan. “Ada.”

Ayah Lin mengangguk, memberi izin tanpa kata.

“Rumah kaca di belakang,” kata Qingyu. “Yang sudah lama tidak dipakai.”

Alis Ayah Lin sedikit terangkat. “Kenapa dengan rumah kaca?”

“Aku ingin menggunakannya kembali.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa nada memohon

Ayah Lin tidak langsung menjawab. Ia memutar pena di jarinya, gerakan kecil yang hampir tak terlihat.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Aku ingin merawat tanaman,” jawab Qingyu. “Dan membuat beberapa ramuan sendiri.”

“Untuk kesehatanmu?”
“Itu salah satunya.”

“Apakah kamu mengerti herbal?”

“Aku belajar pelan-pelan.” Ia tidak bohong.

Ayah Lin menatapnya lagi. Kali ini lebih dalam. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah itu.

Apakah putrinya mewarisi bakat ibunya dulu? Selama ini tidak pernah terlihat, atau dirinya yang tidak
pernah tahu?

“Kau tahu,” katanya pelan, “rumah kaca itu dulu dibangun ibumu. Setelah dia pergi… tidak ada yang
benar-benar mengurusnya.”

“Aku tahu,” jawab Qingyu. Ia tidak menunjukkan sisi emosional Qingyu yang dulu.

Ayah Lin menghela napas pendek. “Ibu tirimu pernah bilang rumah kaca itu hanya menghabiskan biaya
perawatan.”

Qingyu diam.

Beberapa detik berlalu.

“Apa kau yakin bisa mengurusnya?” tanya Ayah Lin. “Tubuhmu belum sepenuhnya pulih.”

“Aku tidak akan memaksakan diri,” kata Qingyu. “Aku hanya butuh tempat untuk bergerak dan berpikir.”

Jawaban itu membuat Ayah Lin berhenti memutar pena.

“Bergerak dan berpikir,” ulangnya pelan.

Ia menyandarkan siku ke meja. “Sejak kapan kau memikirkan hal-hal seperti ini?”

Qingyu menjawab setelah jeda singkat. “Sejak aku sadar tubuh ini tidak akan pulih kalau hanya
berbaring.”

Ayah Lin menatapnya lama. Di wajahnya, ada sesuatu yang bergerak—bukan kemarahan, atau
penyesalan penuh. Lebih seperti kesadaran yang terlambat.

“Baik,” kata Ayah akhirnya.


“Aku izinkan rumah kaca dibuka kembali,” lanjutnya. “Tapi dengan syarat. Jangan bekerja sendirian. Xiao
Lan akan membantumu. Dan kalau tubuhmu merasa tidak enak, kau berhenti.”

Qingyu mengangguk. “Baik, Ayah.”

Di luar pintu, langkah kaki terdengar samar.

Ayah Lin melirik ke arah pintu sebentar, lalu kembali menatap Qingyu. “Ada hal lain?”

Qingyu berpikir sejenak. Berita televisi kemarin begitu menarik perhatiannya.

“Aku ingin tahu… tentang bisnis Ayah.”

Pertanyaan itu membuat Ayah Lin sedikit terkejut. Bukan karena topiknya, tapi karena waktunya.

“Bisnis?” ulangnya.

“Herbal dan logistik,” kata Qingyu. “Aku mendengar berita pagi beberapa hari ini. Jalur distribusi obat
dan bahan mentah sedang berubah.”

Ayah Lin tersenyum tipis. “Kau menonton berita sekarang?”

“Kadang,” jawab Qingyu.

“Dan apa yang kau pikirkan?”

“Bisnis Ayah berada di tengah,” kata Qingyu. “Bukan yang paling besar, tapi juga bukan yang kecil.”

Ayah Lin tertawa pelan. Bukan untuk mengejek Qingyu. Tapi lebih seperti terkejut menemukan sudut
pandang baru.

“Kau tidak salah,” katanya. “Dan posisi tengah itu… rawan.”

Qingyu mengangguk. “Itu sebabnya rumah kaca penting.”

“Bagaimana bisa?” tanya Ayah Lin.

“Rumah kaca itu bukan untuk produksi, Ayah,” kata Qingyu.

“Tapi untuk memastikan kualitas bahan mentah yang masuk ke jalur distribusi Ayah tidak turun.”

“Kalau kualitas stabil,” lanjutnya,


“Ayah tidak perlu bersaing dengan raksasa. Ayah hanya perlu dipercaya.”

“Jadi kalau bahan mentah langka,” lanjut Qingyu, “yang punya kendali bukan hanya yang punya uang,
tapi yang tahu kualitas.”

Ayah Lin terdiam.

Beberapa detik berlalu, tapi kali ini berbeda. Tatapannya berubah—lebih fokus, lebih waspada.

“Kau tidak hanya ingin sehat,” katanya pelan. “Kau juga ingin mengerti.”

Qingyu tidak membantah.

“Aku akan memikirkan itu,” kata Ayah Lin akhirnya. “Kita bicara lagi lain waktu.”

Ia berdiri, menandakan percakapan selesai.

Qingyu ikut berdiri. “Terima kasih, Ayah.”

Saat ia membuka pintu, ia melihat Lady Su berdiri beberapa langkah dari sana, seolah baru saja lewat.

Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.

Lady Su tersenyum tipis. “Sudah selesai?”

“Sudah,” jawab Qingyu.

Ia melangkah pergi tanpa menunggu respons.

Di belakangnya, pintu ruang kerja menutup pelan. Di dalam, Ayah Lin berdiri diam beberapa saat,
menatap meja kerjanya yang rapi—lalu ke arah jendela, tempat cahaya siang jatuh tanpa suara.

“Qingyu terlihat lebih dewasa sekarang...” batin Ayah sambil menghela napas dalam.

BAB 14 — RUANG PUTIH DAN ANGKA YANG BERGESER

Rumah sakit terkesan lebih sunyi dari yang Qingyu bayangkan.


Bukan karena tiada pengunjung, melainkan karena cara suara dikendalikan—langkah kaki teredam,
pintu ditutup terkendali. Dinding putih memantulkan cahaya tanpa bayangan tajam. Segalanya rapi,
bersih, dan… terukur.

Di Azura tidak ada rumah perawatan orang sakit seperti ini. Di sana cukup datang ke rumah tabib, atau
memanggilnya ke rumah. Karena di sana hanya sedikit orang yang sakit.

Ayah Lin berjalan di sampingnya, langkahnya stabil. Xiao Lan mengikuti setengah langkah di belakang.

Mereka menuju lab rumah sakit untuk pengambilan darah atas rekomendasi dokter sebelumnya.

Lady Su pamit sebentar untuk ke kamar kecil.

“Jangan tegang,” kata Ayah Lin tanpa menoleh. “Ini hanya pemeriksaan rutin.”

Qingyu mengangguk. “Aku mengerti.”

Ia memang tidak tegang. Tapi tubuh ini, sudah terlalu lama hidup dalam keterbatasan, dan jarang keluar,
sehingga merespons tempat ini dengan caranya sendiri yang sedikit bingung.

Ia melihat darahnya diambil oleh perawat lewat jarum kecil yang terhubung tabung penghisap.

Dokter di Bumi bisa mendeteksi kondisi tubuh dari mengambil sedikit darah dan memeriksanya secara
khusus. Cara yang lambat tapi akurat, catatnya secara mental.

Mereka lalu lanjut dan berhenti di depan pintu bertuliskan Pemeriksaan Internal—Dr. Ming. Dokter
penyakit dalam sekaligus juga direktur rumah sakit ini. Ayah sudah mengenalnya lama.

Seorang pria paruh baya keluar lebih dulu, mengenakan jas dokter yang sederhana. Rambutnya mulai
memutih di pelipis, matanya tajam tapi tidak menusuk.

“Tuan Lin,” sapanya sambil menjabat tangan Ayah Lin. “Sudah lama.”

“Kali ini aku membawa putriku,” jawab Ayah Lin.

Dr. Ming menoleh. Tatapannya berhenti di wajah Qingyu lebih lama dari sopan santun biasa—bukan
karena kagum, melainkan seperti membaca halaman yang sulit.

“Silakan masuk, Qingyu,” katanya akhirnya.


Nada suaranya netral.

Di dalam, ruangan dipenuhi alat-alat yang Qingyu kenali dari memori lama saat pernah dirawat dulu,
sebagai versi modern dari fungsi dasar pengamatan tubuh. Monitor denyut, sensor oksigen, panel data
yang bergerak teratur.

Ia duduk di ranjang pemeriksaan.

“Tarik napas biasa,” kata perawat.

Qingyu mengikuti. Napasnya stabil, alur qi-nya ditahan di lapisan terdalam—cukup untuk menahan
racun, tapi tidak cukup untuk bergerak keluar.

Monitor menyala.

Angka-angka muncul, bergerak teratur.

Lalu—

Grafik denyut jantung bergeser sedikit.

Bukan lonjakan atau gangguan.

Hanya satu ketukan yang terlambat sepersekian detik, lalu kembali sinkron.

“Qi yang kutahan menabrak sensor—jadi begini cara teknologi mendengar tubuh.” Pikir Qingyu sambil
terus memperhatikan semua tindakan perawat dan peralatan yang digunakan.

Perawat melirik layar. Mengetuknya ringan dengan ujung jari.

“Sensor agak sensitif hari ini,” gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.

Dr. Ming memperhatikan tanpa berkata apa-apa.

Pengukuran dilanjutkan. Oksigen dan suhu tubuh normal. Tekanan darah rendah tapi stabil.

“Ulangi lagi,” kata Dr. Ming.

Perawat mengulang. Kali ini grafik berjalan mulus, seolah tidak pernah ada masalah apa pun.
Ayah Lin berdiri di samping, tangannya disilangkan di dada. Wajahnya tidak menunjukkan kegelisahan,
tapi matanya tidak pernah lepas dari layar.

“Secara umum,” kata Dr. Ming setelah beberapa menit, “kondisinya lebih baik dari laporan sebelumnya.
Lebam juga mulai menipis. Kita tunggu hasil lab.”

Lady Su masuk saat itu, membawa senyum yang pas ukurannya.

“Dokter Ming,” sapanya. “Saya harap Qingyu tidak merepotkan.”

“Tidak,” jawab Dr. Ming singkat.

Ia menutup map sementara. “Kami masih menunggu hasil lab.”

Lady Su mengangguk.

Tak lama kemudian, seorang staf membawa hasil awal. Dr. Ming membacanya sekilas. Alisnya sedikit
berkerut.

“Hasil ini,” katanya, “menunjukkan kadar tertentu masih di bawah standar.”

Lady Su mendekat setengah langkah. “Itu yang saya khawatirkan. Qingyu sejak kecil memang sering drop
mendadak. Kadang hasil pemeriksaan terlihat baik, tapi kondisinya tiba-tiba memburuk. Kami sudah
terbiasa dengan itu.”

Ayah Lin menoleh. “Tapi pemeriksaan fisik barusan—”

“Bisa saja fluktuasi,” potong Lady Su lembut. “Anak ini memang sering begitu.”

Dr. Ming tidak langsung menimpali. Ia membaca ulang, lalu meletakkan berkas itu di meja.

“Saya ingin mengulang tes tertentu besok pagi,” katanya. “Beberapa parameter tidak konsisten dengan
pengamatan langsung.”

Lady Su tersenyum, tapi kali ini lebih tipis. “Kalau dokter merasa perlu.”

Qingyu tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk dengan punggung lurus, tangannya terletak di atas
selimut putih.

Dr. Ming menatapnya sekali lagi.


“Qingyu,” katanya, “kalau kamu merasa tidak nyaman atau ada keluhan lain setelah hari ini, tolong beri
tahu.”

“Baik, Dokter,” jawab Qingyu.

Pemeriksaan akhirnya selesai.

Di lorong luar, Ayah Lin berjalan sedikit lebih lambat.

“Kita ulangi besok,” katanya. “Aku mau hasil yang jelas.”

Lady Su mengangguk. “Tentu. Demi kebaikan Qingyu.”

Xiao Lan memandang Qingyu sekilas, lalu menunduk lagi.

Saat mereka menuju lift, Dr. Ming berdiri di depan ruangannya, memeriksa catatan di tangannya. Ia
menambahkan satu baris kecil:

Lebam tidak konsisten dengan anemia.

Tapi juga tidak cocok dengan racun standar.

Lokasinya hampir sama… seperti pola.

Kemungkinan paparan toksin kronis. Uji marker X.

Ia lalu menutup map itu.

Laporan hasil lab tadi tidak menunjukkan perubahan drastis.

Namun di antara angka-angka hasil lab yang terlalu rapi, sesuatu telah bergeser—terlalu kecil untuk
dicurigai.

BAB 15 — ALAT BARU, RASA PAHIT

Pulang dari rumah sakit, Ayah Lin berjalan lebih dulu ke ruang tamu. Ia melepas jasnya,
menyerahkannya pada pelayan, lalu menoleh.

“Qingyu.”
Qingyu mendekat.

Ayah Lin mengeluarkan dua benda dari sakunya dan meletakkannya di meja tamu: sebuah ponsel baru
dengan layar besar dan bodi tipis, serta sebuah amplop coklat kecil.

“Ini untukmu,” katanya.

Qingyu menatap benda-benda itu. Dari ingatan lama, ia tahu ponsel seperti ini bukan barang biasa.
Mungkin model terbaru. Mahal, yang berarti juga... kebebasan.

“Aku jarang di rumah,” lanjut Ayah Lin tanpa basa-basi. “Kalau kamu butuh apa pun, beli sendiri. Jangan
menunggu izin.”

Ia mendorong amplop itu sedikit ke depan. “ATM ini atas namamu. Aku sudah aktifkan.”

Lady Su yang berdiri tak jauh dari situ menegang sepersekian detik, lalu tersenyum.

“Suamiku terlalu memanjakan Qingyu,” katanya lembut. “Anak itu belum terbiasa—”

“ Ia akan terbiasa, sudah saatnya.” potong Ayah Lin singkat.


Tidak keras. Tapi cukup membuat Lady Su tersenyum hambar, dan mengangguk kecil.
Qingyu menerima ponsel dan amplop itu dengan dua tangan. “Terima kasih, Ayah.”

Ayah Lin mengangguk dan hanya berkata, “Istirahatlah.”

Lalu pergi ke ruang kerjanya.

Di belakang mereka, Lady Su berdiri menatap punggung Qingyu dengan tajam.

Di kamar, Qingyu duduk di tepi tempat tidur dan menatap ponsel di tangannya.

Layarnya menyala begitu disentuh. Cahaya terang memenuhi ruangan, memunculkan ikon-ikon
berwarna yang bergerak halus.

“…Benda ini hidup,” gumamnya dengan alis sedikit mengerut.

Xiao Lan yang berdiri di dekat pintu terkejut, lalu bertanya. “Nona, belum pernah punya ponsel selama
ini?

Qingyu menggeleng.
Xiao Lan tertegun, dan tiba-tiba, matanya berkaca-kaca

“Nona kasihan sekali...” pikir Xiao Lan.

Lalu dihapusnya air mata yang hampir mengalir. Qingyu hanya diam menyaksikan Xiao Lan yang
dramatis ini.

“Aku akan mengajari Nona!” dengan tekad seperti ingin berperang.

Qingyu, “... bagaimana caranya?”

Xiao Lan berkedip. “Disentuh saja.”

“...”

Qingyu lalu menyentuh layar dengan satu jari, terlalu keras. Sebuah aplikasi video musik dengan suara
keras terbuka,

Ia meletakkan ponselnya seketika. Sedikit terkejut.

“Suara dari dalam,” katanya serius. “Berisik.”

Xiao Lan akhirnya tertawa kecil. “Nona… pelan-pelan. Begini.”

Ia mendekat, menunjukkan cara menggeser layar, membuka menu, menurunkan volume.

Qingyu memperhatikan dengan seksama, ekspresinya netral, seperti mempelajari formasi baru.

“Kalau aku ingin mengetahui sesuatu?”

“Gunakan AI, ini aplikasinya. Nona bisa bertanya apa saja.”

“Apa saja?”

“Ya...berita, bahasa, ilmu apapun. Ini adalah gudang ilmu! Bahkan Nona bisa belajar menggunakan
benda apapun dengan bertanya pada AI!” mata Xiao Lan berbinar-binar saat menjelaskan.

Alis Qingyu terangkat sebelah. Menarik.

Ia pun mengangguk. “Aku mengerti garis besarnya.”

Xiao Lan ragu. “Nona benar-benar… tidak pernah pakai ponsel sebelumnya?”
“Tidak.”

“…”

Xiao Lan memandang wajah Qingyu. Tidak ada rasa malu atau kebingungan berlebihan di sana. Hanya
kejujuran yang berkata—aku belum tahu, jadi aku belajar.

“Kalau begitu,” kata Xiao Lan hati-hati, “saya bisa bantu kalau Nona ingin tau lebih lanjut. ”

“Baik,” jawab Qingyu.

Ia menatap layar sekali lagi. “Tapi tidak sekarang. Terlalu banyak.”

Xiao Lan mengangguk cepat. “Iya, Nona. Pelan-pelan saja.”

Di lantai bawah, Lady Su masuk ke kamar tidurnya dan menutup pintu.

Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menekan nomor yang sudah dihafalnya.

“Dokter Li,” katanya begitu panggilan tersambung. “Ini aku.”

Suara di seberang terdengar samar.

“Hasil lab hari ini,” lanjut Lady Su, nadanya tetap tenang. “Apakah benar tidak ada yang mencurigakan?”

Ia berhenti sejenak, mendengarkan.

“Besok Dokter Ming minta pemeriksaan ulang. Pastikan parameter yang sensitif tidak… menimbulkan
salah tafsir.”

Ia menutup panggilan tanpa menunggu jawaban panjang.

Di cermin, wajahnya tampak sempurna.

“Kau tidak akan bebas dengan mudah, Qingyu...” desisnya sambil tersenyum dingin.

Sore berganti malam.


Di kamar, Qingyu duduk di meja kecil dekat jendela. Lampu meja menyala temaram. Di depannya,
sebuah cangkir porselen berisi cairan bening keabu-abuan: Teh Bunga Salju.

Auntie Yue baru saja mengantarkannya seperti biasa, atas perintah Lady Su.

Qingyu tidak meminumnya

Ia mengangkat cangkir itu, menghirup aromanya.

Dari luar, teh ini tampak sempurna. Wanginya ringan, bersih, menenangkan. Teh yang cocok untuk anak
dengan kondisi seperti Qingyu.

Namun di balik aroma itu, Qingyu menangkap sesuatu yang sangat tipis. Bukan bau racun tajam. Justru
sebaliknya—terlalu samar.

Ia menurunkan cangkir, lalu menyentuh cairan itu dengan ujung jarinya.

Qi tipis mengalir. Tidak ada reaksi langsung.

Ia mengerutkan alis sedikit.

“Cerdik,” gumamnya.

Ini bukan racun yang menyerang cepat. Tapi tipe yang menyesuaikan diri. Mengikis perlahan. Jika
diminum teratur dan lama, tubuh akan hancur tanpa pernah tampak “diracuni”.

Qingyu mengambil botol kecil dari laci—bekas botol ramuan kosong yang Auntie Yue berikan siang tadi.

Ia menuangkan sedikit teh ke dalamnya, lalu menutup rapat.

Bukti pertama.

Sisa teh di cangkir ia minum seteguk kecil.

Tidak pahit di lidah. Tapi di dalam tubuh, ada sensasi samar—seperti lapisan dingin yang mencoba
melekat pada meridian yang sudah rusak.

Qingyu menahan qi-nya dengan presisi.

Racun itu berhenti


Ia meletakkan cangkir kosong dan bersandar ke kursi.

“Racun ini bukan untuk membunuh secara cepat,” pikirnya, “tapi untuk melemahkan tubuh, dan
mengontrol kematian dengan pelan.”

Di meja, ponsel barunya bergetar pelan. Layar menyala: pesan notifikasi pertama—pengaturan akun
selesai. Disamping ponsel, ATM hitam bertuliskan nama Qingyu.

Qingyu menatap layar itu, lalu botol kecil di tangannya.

Alat dunia ini sudah di tangannya.

Dan racun dunia ini… akhirnya memperlihatkan wajahnya.

Ia mematikan lampu meja dan berbaring.

BAB 16 — SAMPEL KEDUA DAN JEJAK TAK TERLIHAT

Esok harinya, di ruang pemeriksaan, Dr. Ming sudah menunggu. Ia tidak banyak bicara, hanya
mengangguk singkat pada Ayah Lin dan Qingyu.

Lady Su tidak ikut. Ia merasa semuanya sudah diatur.

“Kita ulangi tes,” kata Dr. Ming, “Dua kali.”

Xiao Lan mengangkat kepala sedikit. “Dua kali, Dokter?”

Dr. Ming menoleh padanya sebentar. “Satu untuk lab rumah sakit. Satu lagi… untuk tempat lain.

Ia tidak menyebut nama.

Ayah Lin menatapnya. “Kenapa?”

“Untuk pembanding,” jawab Dr. Ming. “Ada data yang… terlalu sempurna kemarin.”

Ia tidak menuduh atau menjelaskan lebih lanjut. Tapi cukup jelas bagi orang yang paham.

Qingyu duduk di kursi pemeriksaan tanpa bicara. Lengan bajunya digulung rapi. Iamemperhatikan jarum,
tabung kecil yang terisi darah, lalu tabung kedua.
Darahnya terlihat sama.

Namun alirannya—berbeda.

Ia sengaja tidak menahan qi sepenuhnya kali ini. Ia biarkan sedikit qi dari meridian yang terpapar racun
mengalir ke arah tempat suntikan. Tidak mencolok. Tapi cukup untuk terbaca oleh alat lab nanti.

Dr. Ming sedang mengamati layar monitor. Tidak bereaksi. Tapi jemarinya berhenti sepersekian detik
sebelum memberi isyarat pada perawat.

“Yang kedua,” katanya.

Tabung kedua diisi.

“Yang ini,” lanjut Dr. Ming, mengambil tabung itu sendiri, “tidak lewat sistem rumah sakit.”

Ayah Lin tidak bertanya ke mana. Ia hanya mengangguk.

“Berapa lama?” tanyanya

“Lebih lama,” jawab Dr. Ming jujur. “Beberapa hari.”

“Tidak apa,” kata Ayah Lin. “Aku mau hasil yang benar.”

Dr. Ming menatap Qingyu. “Kalau kamu merasa pusing, mual, atau nyeri dada setelah ini—”

“Aku akan bilang,” jawab Qingyu.

Pemeriksaan selesai tanpa drama

Saat mereka keluar ke koridor, suasana berubah.

Lorong rawat inap lebih ramai dari kemarin. Beberapa perawat berjalan cepat. Seorang dokter muda
berdiri di dekat pintu, wajahnya tegang.

Di ujung lorong, sebuah ranjang didorong oleh dua orang perawat

Di atasnya, seorang pria muda terbaring. Kulitnya abu-abu pucat penuh lebam. Bibirnya membiru samar.
Selang oksigen terpasang, tapi dadanya naik turun tidak teratur.

“Kenapa pasien itu?” bisik Xiao Lan tanpa sadar.


Seorang perawat menjawab lirih, lebih pada rekannya daripada mereka. “Kasus racun lagi. Yang pertama
minggu lalu.”

Qingyu berhenti melangkah.

Ia mengenali pola itu.

Tubuh pria itu tidak menunjukkan reaksi alergi. Tidak ada kejang atau pendarahan luar. Dan lebam itu...
mirip seperti Qingyu dulu.

Namun racun pada korban ini lebih kuat.

“Ditemukan di mana?” tanya Ayah Lin singkat.

“Selatan kota,” jawab perawat.

Qingyu mencatat info itu.

Selatan.

Di benaknya, peta kecil mulai terbentuk. Sebuah peta pergerakan.

“Mari pulang,” kata Ayah Lin.

Mereka berjalan lagi.

Di parkiran, sebuah mobil hitam mewah berhenti di jalur seberang. Kaca mobilnya hitam, membuat
siapapun sulit melihat siapa yang ada di dalamnya.

Xie Yan duduk di kursi belakang. Ia tidak melihat keluar.

Namun saat mobil keluarga Lin bergerak, jendela mobil hitam itu turun sedikit, untuk membiarkan
cahaya masuk.

Di antara dua kendaraan yang berpapasan, sesuatu yang sangat samar terjadi.

Di dalam mobil hitam, seekor rubah kecil mengangkat kepala dari pangkuan Xie Yan dan menggeram
pelan.
“Tenanglah,” bisik Xie Yan, mengelusnya. Ia sudah biasa merasakan keberadaan kultivator di bumi.

Namun kali ini dadanya terasa hangat tanpa alasan jelas. Ia menoleh sesaat ke mobil Qingyu.

Mobil itu berlalu.

Qingyu sendiri merasakan ada makhluk spiritual di dalam mobil yang barusan lewat. Dan juga seorang
kultivator. Titik Naga berdetak hangat di dadanya.

Sepertinya dunia ini tidak seperti yang ia bayangkan.

Qingyu bersandar ke kursi dan menatap kejauhan.

Hari ini, satu kebenaran telah terungkap.

Dan satu takdir… baru saja lewat di sampingnya.

BAB 17 — POLA YANG MUNCUL DI BAWAH KULIT

(POV — XIE YAN)

Ruang isolasi itu dingin, bahkan bagi standar rumah sakit swasta kelas atas.

Bau antiseptik menempel di udara—bersih dan kuat. Di balik kaca transparan, seorang pria muda
terbaring tak bergerak. Dadanya naik turun tidak beraturan, seperti mesin yang lupa ritmenya sendiri.

Xie Yan berdiri dengan tangan di saku jas hitamnya.

Ia tidak mendekat.

Dokter yang berdiri di sampingnya berbicara pelan.

“Kondisinya menurun cepat sejak semalam. Gagal napas ringan, gangguan sirkulasi, dan… lebam yang
muncul tidak wajar.”

Xie Yan tidak menoleh.

Matanya tertuju pada kulit pasien.

Lebam itu tidak seperti memar akibat benturan. Lokasinya tidak menyebar acak. Ada jarak di antaranya.
“Buka rekam medis korban sebelumnya,” katanya.

Seorang asistennya menggeser tablet ke hadapannya. Beberapa foto muncul di layar—korban pertama,
lalu kedua. Waktu berbeda. Lokasi berbeda.

Namun lebamnya…

Xie Yan memperbesar gambar.

Hampir sama.

Tidak identik, tapi mengikuti logika yang sama. Seperti seseorang yang mengulang eksperimen, hanya
dengan dosis berbeda.

“Bukan racun biasa,” ucapnya datar.

Dokter mengangguk. “Kami juga berpikir begitu. Jenis toksinnya aneh. Tidak terdaftar di data resmi.
Racun ini tidak menyerang langsung organ vital, tapi menggerogoti diam-diam.”

“Lalu apa yang diserang?”

Dokter ragu sepersekian detik. “Sistem regulasi tubuh. Seolah tubuh dipaksa… melemah sendiri.”

Xie Yan tersenyum tipis.

“Racun yang bergerak lambat,” katanya.

Ia menatap korban lagi.

Di balik jas dan jam tangan mahal, Xie Yan telah melihat banyak metode pembunuhan—langsung, cepat,
brutal. Racun kali ini berbeda.

Kasus ini bukan untuk membunuh cepat, tapi untuk mengontrol.

Sumbernya dari selatan kota?” tanyanya.

“Iya.

“Siapa pemasok terakhir yang korban hubungi sebelum gejala muncul?”

Asistennya menjawab cepat. “Distributor kecil. Produk herbal campuran. Legal di atas kertas.”
Xie Yan mengangguk. “Tarik semuanya diam-diam.”

Ia berbalik pergi tanpa menunggu respon asistennya.

Sesuatu sedang bergerak di kota. Ia harus mencegah gerakan ini, namun firasatnya mengatakan ini awal
dari sesuatu yang lebih besar. Sangat besar.

(POV QINGYU)

Rumah kaca dibuka kembali pagi itu.

Qingyu ditemani Xiao Lan yang memegang sapu, dan Auntie Yue. Mereka semua memakai sarung
tangan, dan boot khusus untuk berkebun, kecuali Qingyu yang menolak memakainya.

Qingyu mendorong pintu kayu tua yang berderit saat terbuka. Cahaya matahari hangat sangat
mendukung kegiatan pagi itu.

Auntie Yue berdiri di ambang pintu, menatap ke dalam dengan sedikit melankolis .

“Sudah lama…” gumamnya pelan. “Akhirnya dibuka lagi.”

Xiao Lan melangkah masuk lebih dulu, matanya membesar. “Di sini… hangat ya. Aku dulu terbiasa
bekerja di pertanian herbal kecil, tapi tidak sehangat di sini...”

Qingyu menoleh, menatap Xiao Lan yang sedang asyik membungkuk—mencoba mengenali tanaman
herbal di depannya.

“Tapi sekilas banyak tanaman di sini yang aku tidak tahu,” lanjut Xiao Lan.

“Tentu saja. Ibu Qingyu yang dulu menanamnya. Beliau bukan herbalist biasa,” ujar Auntie Yue,
pandangannya seperti mengingat nostalgia yang dulu memenuhi rumah kaca ini.

Qingyu berdiri di tengah rumah kaca, membiarkan telapak kakinya merasakan tanah.

Tanah ini hidup. Tidak subur seperti di Azura. Qi-nya tipis. Tapi yang penting banyak ruang untuk diisi.

Tanaman di rumah kaca ini terbagi tiga, tanaman herbal bumi yang umum, tanaman herbal bumi yang
cukup langka, dan terakhir—sangat langka, yang mungkin bukan berasal dari dunia ini
“Terima kasih Auntie, karena telah merawat tanaman ini diam-diam.” Qingyu menatap Auntie Yue
dalam. Auntie Yue terkejut.

“Nona tahu?”

“Ya, meski rumah kaca ini tampak berantakan dan tak terurus, setelah sekian lama, tanaman herbal ibu
tetap hidup dan subur.”

“Tapi... saya hanya mengurus sebagian saja, agar tidak mencurigakan.” Auntie Yue menunduk.

“Itu sangat cukup,” ujar Qingyu pelan.

“Baiklah...kita mulai dari yang sederhana,” katanya untuk mengubah suasana. “Bersihkan tanaman dan
rumput pengganggu.”

Xiao Lan mengangguk cepat. Auntie Yue menatap Qingyu dalam, lalu mengangguk dan bergerak tanpa
banyak bicara. Mereka bekerja dalam harmoni yang menenangkan—membersihkan rumput liar,
menyingkirkan pot-pot yang pecah, menyapu daun kering. Seolah mereka memang sudah terbiasa
bekerja di rumah kaca ini.

Qingyu berlutut di sisi bedengan lama. Ia menyentuh tanah, mengalirkan qi tipis, hanya cukup untuk
membaca kondisi sekitar.

Beberapa tanaman mati, lainnya tertidur.

Dan satu sudut… berdenyut halus.

Ia mengangkat kepala.

Ular perak kecil muncul dari balik pot retak. Tubuhnya berkilau di bawah cahaya pagi. Ia tidak mendesis
namun bergerak mendekati Qingyu.

Xiao Lan yang melihat kemunculan ular itu terkejut ketakutan

“Nona! Awas ular!”

“Tenanglah. Ia tidak berbahaya.” Ucap Qingyu singkat sambil membungkuk menghadap ular.
“Tt-tapi...” Dilihatnya ular perak itu berhenti di depan Qingyu.

Mulutnya menggenggam sesuatu


Umbi kecil, berlapis tipis, dengan urat merah keemasan samar di permukaannya.

Qingyu membeku.

Umbi Raga Putih grade tiga.

Bukan herbal tingkat tinggi di Azura. Tapi di dunia ini—manfaatnya setara obat tingkat tinggi.

Ular itu meletakkan umbi itu di tanah, tepat di depan Qingyu. Lalu mundur setengah badan, menunduk.

“Ini bukan kebetulan,” gumam Qingyu.

Ia menatap umbi itu lama. Lalu menatap ular perak.

Khasiat tanaman ini... tepat.

Menetralkan racun kronis. Memperbaiki jalur sirkulasi yang terkikis pelan.

Seolah alam sedang menjawab masalah tubuhnya.

“Terima kasih,” katanya pada ular perak itu

Ular itu mendesis pelan, seakan mengerti.

Xiao Lan yang mengintip dari belakang terdiam. “Nona, tanaman apa itu ?

“Ini Umbi Raga Putih.”

“Apakah umbi ini langka? Karena aku belum pernah mendengarnya.”

Qingyu tersenyum tipis. “Iya.”

Ia menanam umbi itu dengan hati-hati di sudut yang paling terlindung dari cahaya langsung.

“Umbi ini dengan perawatan yang benar bisa tumbuh subur dan dipanen tiap lima bulan.”

Auntie Yue yang melihat semua kejadian ini hanya diam, namun matanya memandang Qingyu dengan
penghormatan yang lebih dalam. Kepalanya mengangguk tipis.

Di kejauhan, suara kota mulai terdengar. Dunia bergerak tanpa tahu apa yang sedang tumbuh diam-
diam di rumah kaca kecil ini.
Qingyu berdiri saat sore menjelang.

“Hari ini cukup sampai di sini,” katanya, “kita istirahat dulu.”

Ia menatap tanaman kecil yang baru ditanam.

“Tanaman ini akan tumbuh kuat dan hidup...”

Seperti juga dirinya.


BAB 18 — DEMAM YANG MEMBERSIHKAN

Rumah kaca lebih hangat dari biasanya.

Kehangatan ini bukan karena matahari sore—melainkan karena udara di dalamnya bergerak pelan,
seperti sedang bernapas. Daun-daun yang baru disiram berkilau lembap, dan tanah hitam di pot-pot
besar masih menyimpan panas.

Kini rumah kaca sudah rapi. Di sisi kanan ada dapur kecil yang kini berfungsi kembali, cukup untuk
mengolah ramuan sederhana.

Qingyu duduk di bangku kayu rendah, di sudut dekat dapur mini. Punggungnya lurus, matanya tertuju
pada sesuatu.

Di atas meja kecil di depannya, terletak satu pot tanah liat. Di dalamnya tumbuh tanaman berdaun gelap
dengan urat merah samar—tanaman grade dua. Tidak langka di Azura, tapi di dunia ini… tanaman ini
tidak pernah muncul secara alami.

Qingyu semakin merasa betapa misterius ibu gadis ini.

Setelah dibersihkan, Qingyu menemukan banyak tanaman unik yang sebenarnya hanya ada di Azura.
Salah satunya tanaman yang ada di hadapannya ini.

Daun Sirah Raga.

Salah satu bahan anti racun yang cukup kuat. Satu level di bawah Umbi Raga Putih. Dipetiknya daun
bagian bawah yang berwarna paling gelap.

“Aku akan membuat ramuan sederhana dari daun ini,” ucap Qingyu pelan.

Xiao Lan berdiri di sampingnya, memegang botol air. Wajahnya tegang.


“Nona... kamu ingin membuat obat untuk menyembuhkan kondisi Nona?” katanya ragu.

Auntie Yue yang paham langsung berkata, ”Apakah Nona ingin merebusnya?

“Ya,” jawab Qingyu singkat, sambil menatap Auntie Yue sesaat. Mungkin dulu Auntie Yue sering
membantu ibu Qingyu. Ia juga yang merawat tanaman ini diam-diam.

Ia tidak menjelaskan lebih lanjut.

Auntie Yue langsung bergerak ke dapur kecil, membawa daun itu, mencucinya sebentar. Ia melakukan
semuanya tanpa ragu

Daun itu akhirnya direbus singkat, lalu disaring. Cairan yang tersisa berwarna hijau gelap, dengan aroma
getir yang bahkan membuat Xiao Lan mundur setengah langkah.

“Nona yakin?” tanyanya lagi.

Qingyu mengangguk.

Ia minum tanpa ragu.

Rasa pahitnya hanya menyerang lidah. Tak lama efek panas menyebar cepat, jauh lebih kuat dari Umbi
Api sebelumnya. Tidak liar, tapi dalam.

Beberapa detik berlalu.

Lalu tubuhnya bereaksi.

Qingyu menutup mulutnya dan membungkuk tajam. Cairan gelap keluar bersama muntahan pahit—
darah hitam berbau logam samar.

Xiao Lan panik. “Nona!”

“Tidak apa,” potong Qingyu pendek, napasnya berat. “Biarkan.”

Tubuhnya seketika menggigil. Keringat dingin membasahi pelipis. Demam naik cepat, seperti api yang
dinyalakan dari dalam.

Auntie Yue mendekat cepat, wajahnya pucat. “Nona Qingyu!”


“Tak apa… ini reaksi pemulihan,” kata Qingyu, suaranya terputus-putus tapi jernih. “Bantu aku balik ke
kamar.”

Auntie Yue tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia melihat satu hal: lebam di pergelangan tangan Qingyu—
mulai berubah warna. Tepinya mulai memudar.

Bersama Xiao Lan ia membantu Qingyu kembali ke rumah lewat pintu belakang.

“Lady Su sedang keluar, dan ayah belum balik dari kantor,” katanya dengan mata penuh cemas. “Kami di
sini.”

Mereka sudah berada di kamar Qingyu. Xiao Lan duduk di lantai dekat tempat tidur, tidak berani
menjauh.

“Aku tak apa...” ujar Qingyu. Namun tak lama dirinya tertidur.

Malam itu panjang.

Demam Qingyu naik turun. Kadang napasnya berat, kadang normal. Tubuhnya memuntahkan sisa racun
lama sedikit demi sedikit. Sebuah proses yang melelahkan.

Xiao Lan setia mendampinginya malam itu. Auntie Yue beberapa kali mengusap keringat di tubuh
Qingyu.

Di saat kesadarannya tenggelam, sesuatu di sekitarnya berubah.

Artefak yang selama ini diam—Batu Naga Ungu—yang selalu Qingyu bawa di kantong bajunya bereaksi
samar.

Alur qi di sekitarnya bergeser. Seperti medan yang menyesuaikan diri.

Dan di pergelangan tangan Qingyu, gelang kayu menjadi lebih hangat dari biasanya.

Menjelang subuh, demamnya turun.

Qingyu terbangun saat cahaya pertama menyentuh kaca rumah. Tubuhnya lelah, tapi lebih ringan dan
bersih.
Ia duduk.

Lebam di kulitnya masih ada, tapi semakin samar. Seperti bayangan yang hampir hilang.

Meridiannya sedikit terbuka.

Qi di tubuhnya mengalir lebih lancar. Masih sedikit, tapi stabil.

“Naik menjadi sepuluh persen,” pikirnya tenang.

Kekuatan yang sudah ada sejak dulu, namun menunggu jalurnya bersih kembali.

Xiao Lan tertidur bersandar di bangku. Auntie Yue duduk dengan mata setengah terpejam, tangannya
masih menggenggam kain hangat.

Qingyu tidak membangunkan mereka. Rasa hangat mengalir di dada. Rasanya seperti menemukan...
keluarga baru

Ia menatap tangannya [Link] ia yakin.

Racun yang ada di tubuh Qingyu selama ini… bukan racun jalanan.

Itu versi halus yang sudah dimurnikan. Disesuaikan dengan tubuh manusia biasa. Dirancang untuk
membunuh dengan lambat.

Sedangkan korban di rumah sakit—

“Itu versi kasar,” pikirnya. “Efeknya lebih cepat dan kuat. Mungkin untuk uji lapangan.”

Dua racun. Satu sistem.

Satu dibuat untuk mengendalikan.

Satunya lagi untuk menguji dunia.

Ia belum akan bertindak.

Namun setidaknya, tubuh ini akhirnya berdiri di sisi yang sama dengan kebenaran.

BAB 19 — KONTRAS YANG MULAI TERLIHAT


Cahaya kemerahan di ufuk timur mulai berganti, dan suara burung meramaikan pagi itu.

Qingyu duduk bersandar pada bantal, selimut menutupi pinggangnya. Wajahnya masih pucat—tidak
bisa disebut segar—namun ada sesuatu yang jelas berbeda: napasnya semakin dalam dan lancar, gerak
matanya tidak lagi seperti orang yang selalu menahan sakit.

Di meja samping tempat tidur, secangkir air hangat diletakkan rapi. Di kursi dekat jendela, Xiao Lan
tertidur setengah duduk, kepalanya miring, rambutnya sedikit berantakan.

Auntie Yue sudah bangun tak lama sejak Qingyu terjaga. Ia mengurus dapur, namun sempat kembali
beberapa kali untuk menyentuh dahi Qingyu, memastikan demam benar-benar turun.

Qingyu menyentuh pergelangan tangannya pelan.

Lebam yang kemarin masih nyata kini tinggal bayangan tipis. Tidak hilang sepenuhnya, tapi cukup untuk
membuktikan satu hal: racun lama mulai tercabut dari akar.

Ia tidak merasa euforia. Hanya… lebih ringan. Dan itu cukup.

Pintu kamar diketuk.

“Masuk,” kata Qingyu.

Auntie Yue muncul, membawa nampan kecil: bubur hangat, telur rebus, dan beberapa potong buah.

“Nona. Makan sedikit,” katanya tegas namun lembut. “Perut tidak boleh kosong setelah demam.”

Qingyu mengangguk. “Terima kasih, Auntie.”

Xiao Lan tersentak bangun, langsung berdiri terlalu cepat. “Nona! Kamu… kamu sudah bisa duduk?”

“Aku sudah bisa duduk dari tadi,” jawab Qingyu.

Xiao Lan berkedip, lalu wajahnya memerah. “Oh… saya… saya kira Nona masih—”

“Masih sekarat?” Qingyu melanjutkan kalimatnya dengan santai.

Xiao Lan panik. “Bukan begitu!”

Auntie Yue menahan senyum yang hampir muncul. “Kalau sudah bangun, bantu Nona makan. Jangan
berdiri seperti tiang bendera.”
Xiao Lan mengangguk keras, lalu buru-buru merapikan dirinya sebentar, dan mengambil sendok. Sedang
Auntie Yue kembali ke dapur.

Qingyu menerima suapan pertama, merasakan hangatnya bubur masuk tanpa menimbulkan mual. Itu
tanda tubuhnya tidak lagi memberontak.

Ia menatap Xiao Lan sebentar.

Gadis ini cepat panik, cepat bicara, mudah terharu, tapi… tulus. Dan tulus adalah hal yang jarang di
rumah ini.

“Terima kasih sudah berjaga semalam,” kata Qingyu.

Xiao Lan membeku. “Saya… saya cuma—”

“Kamu tidak lari,” potong Qingyu sederhana.

Itu bukan pujian besar. Tapi cukup membuat Xiao Lan menunduk, menahan mata yang tiba-tiba menjadi
panas.

Di lantai bawah, rumah keluarga Lin berjalan seperti biasa.

Namun “biasa” di rumah ini selalu punya makna sendiri.

Lady Su duduk di ruang tamu sambil memeriksa jadwal belanja dan jadwal pertemuan sosialnya.
Ponselnya bergetar dua kali, lalu ia menekan layar tanpa tergesa.

“Dokter Li?” suaranya sopan.

Di seberang, suara pria menjawab cepat.

Lady Su mendengarkan beberapa detik, lalu mengangguk.

“Bagus,” katanya. “Jadi, hasil yang sensitif tidak akan keluar cepat.”

Ia tersenyum tipis, “Tidak perlu gegabah. Anak itu demam tadi malam. Ayahnya akan mengira seperti
biasa, hanya tubuh lemah… dan sedikit reaksi dramatis.”

Ia mematikan panggilan.
Dalam pikirannya, semuanya sudah kembali ke jalur yang ia mau.

Qingyu adalah anak rapuh. Demam datang dan pergi. Lebam memudar lalu muncul lagi. Ayah Lin akan
sibuk dengan bisnis. Dan rumah ini akan kembali menjadi tempat yang bisa ia kendalikan dengan aman.

Lady Su menyesap teh.

Teh yang berbeda dari teh Bunga Salju, yang tidak meninggalkan bukti.

Siang menjelang.

Ayah Lin pulang lebih cepat dari biasanya.

Ia tidak bisa fokus bekerja saat mengetahui Qingyu demam hebat tadi malam.

Ia melangkah masuk dengan langkah cepat, lalu menoleh ke Auntie Yue.

“Qingyu bagaimana?” tanyanya langsung.

“Demam turun subuh tadi,” jawab Auntie Yue. “Sekarang sudah bisa makan. Tapi masih lemas.”

Ayah Lin menarik napas panjang, lalu naik ke lantai dua.

Ia berhenti di depan kamar Qingyu, mengetuk sekali.

“Qingyu.”

Qingyu membuka pintu. Ia berdiri di ambang, rambutnya rapi, wajahnya masih pucat, namun matanya
tenang.

Ayah Lin membeku sepersekian detik.

Ia merasakan… ada “kehadiran” yang tidak pernah ia rasakan dari Qingyu sebelumnya.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Ayah Lin, suaranya sedikit lebih pelan.

“Lebih baik,” jawab Qingyu.

Ayah Lin mengangguk, lalu matanya turun ke pakaian yang Qingyu kenakan.
Blus krem yang sederhana. Celana panjang yang terlihat sudah sering dicuci. Tidak jelek… tapi jelas
bukan pakaian anak dari keluarga berada.

Ayah Lin menatapnya lebih lama dari yang diperlukan.

Baru sekarang ia sadar.

Selama ini, putrinya… mungkin hanya memakai apa yang tersisa.

Sementara Lin Xue…

Ayah Lin menahan sesuatu yang ingin naik ke wajahnya. Ia menoleh sedikit ke koridor, untuk mencegah
mata yang mulai memanas. Setelah menarik napas dalam, ia menatap Qingyu.

“Qingyu,” katanya, suaranya lebih berat, “kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu membutuhkan
sesuatu, apapun itu?”

Qingyu menatapnya.

Jawaban yang jujur adalah: karena Qingyu tidak punya tempat untuk bicara.

Tapi Qingyu memilih jawaban yang tidak meledakkan rumah sekarang.

“Aku tidak ingin merepotkan,” katanya.

Kalimat itu sederhana, tapi menusuk lebih dalam.

Ayah Lin terdiam, lalu berkata, “Kamu perlu udara luar.”

Lady Su yang baru naik beberapa anak tangga berhenti mendengar kalimat itu.

Ayah Lin melanjutkan, “Tubuhmu tidak bisa pulih kalau hanya di kamar.”

Qingyu mengangguk.

“Dan…” Ayah Lin menatap pakaian itu sekali lagi, lalu menutup pembicaraan yang belum sempat ia
pahami sendiri, “kamu perlu beberapa baju baru.”

Di belakang, Lady Su menyela cepat. “Suamiku, itu tidak perlu. Qingyu kan—”

“Perlu,” potong Ayah Lin.


Nada suaranya tetap biasa, namun berupa nada keputusan.

Ia menoleh ke Qingyu. “Nanti kalau kamu sudah merasa baikan, pergilah keluar. Belanja apapun yang
kau butuhkan.”

“Tidak perlu yang mahal,” tambahnya, seolah ingin menyelamatkan wajahnya sendiri karena baru sadar
begitu terlambat. “Yang penting layak.”

Lady Su menegang. Tak ada yang memperhatikan ekspresinya. Garis di sudut bibirnya mengeras.

Qingyu menunduk sedikit. “Baik, Ayah.”

Ayah Lin melirik Auntie Yue yang berdiri di dekat tangga.

“Auntie Yue, temani ia nanti,” katanya.

Auntie Yue menjawab tegas, “Baik, Tuan.”

Ayah Lin menoleh ke Xiao Lan yang berdiri ragu di belakang pintu kamar.

“Kamu juga ikut,” katanya. “Jaga dia.”

Xiao Lan mengangguk cepat. “Baik, Tuan!”

Ayah Lin menambahkan satu kalimat yang membuat udara di rumah berubah.

“Aku akan suruh sopir mengantar.”

Sopir keluarga.

Simbol bahwa ini bukan “izin Lady Su”, tapi perintah langsung pemilik rumah.

Lady Su mencoba tersenyum. “Kamu terlalu khawatir, suamiku. Qingyu tidak biasa keluar.”

“Harus dibiasakan dari sekarang,” jawab Ayah Lin.

Kalimat itu jatuh seperti batu yang dilempar ke dalam air tenang. Tidak ada cipratan besar, tapi
gelombangnya menyebar pelan.

Ayah Lin menatap Qingyu sekali lagi. “Istirahatlah. Kalau ada apa-apa, bilang langsung.”

Qingyu mengangguk. “Baik.”


Ayah Lin berbalik, turun tangga. Saat ia melewati Lady Su, matanya berhenti sepersekian detik di wajah
istrinya. Tidak ada tuduhan di sana, tapi ada sesuatu yang baru: pengamatan.

Seperti seorang pria yang tiba-tiba sadar, selama ini ia terlalu lama menutup mata akan kondisi rumah
tangganya.

Begitu Ayah Lin masuk ke ruang kerjanya, Lady Su berdiri diam beberapa detik.

Auntie Yue menunduk, lalu kembali ke dapur seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Xiao Lan buru-buru
masuk kamar Qingyu, menutup pintu pelan.

Koridor menjadi sunyi.

Lady Su menatap pintu ruang kerja suaminya. Punggungnya tetap tegak. Tapi di dalam dirinya, sesuatu
bergerak cepat.

Kontrolnya… retak.

Ia lalu berjalan ke kamarnya sendiri. Begitu pintu tertutup, tangannya meraih ponsel.

Nomor yang ia simpan dengan nama biasa, bukan nama asli

Ia menekan panggilan.

“Kirimkan aku salah satu orangmu,” katanya begitu tersambung. Suaranya berubah, tidak lagi seperti
biasa. “Yang bisa bekerja tanpa menarik perhatian.”

Di seberang, seseorang tertawa kecil.

Lady Su menutup mata sebentar, lalu membuka lagi

“Aku tidak bisa menunggu,” katanya. “Ayahnya mulai memperhatikan.”

Ia memutus panggilan.

Di meja rias, pantulan wajahnya tampak sempurna.

Ia sudah mengambil keputusan.


Jika Qingyu mulai keluar dari rumah…

Maka dunia luar akan menjadi alat.

Atau… perangkap.


Di kamar, Qingyu duduk kembali, menatap jendela yang memantulkan cahaya sore.

Ia tidak mendengar percakapan telepon Lady Su.

Tapi ia merasakan sesuatu yang sama pentingnya.

Perubahan arah di rumah ini yang mulai bergeser. Orang-orang mulai bergerak. Dan ketika seorang yang
selama ini mengendalikan mulai panik, ia tidak akan diam.

Qingyu memegang lebam samar di tangannya.

Lalu ia menatap botol kecil berisi Teh Bunga Salju yang tersimpan rapi di laci.

Bukti pertama.

Dan sekarang… ia akan mendapatkan akses ke dunia luar.

“Kalau mereka membuka pintu…” gumamnya setengah berbisik, “…aku akan berjalan keluar—dengan
caraku sendiri.”

BAB 20 — GETARAN YANG TAK DIHIRAUKAN

Dua hari berlalu sejak malam demam itu.

Perubahan pada tubuh Qingyu tidak mencolok—namun nyata bagi siapa pun yang benar-benar
memperhatikan. Wajahnya kini memiliki kesegaran tipis, seperti seseorang yang baru pulih dari sakit
panjang. Gerakannya lebih stabil. Langkahnya tidak lagi ragu saat turun tangga.

Lebam di pergelangan dan lengan—yang dulu selalu tersembunyi di balik pakaian panjang—hampir
sepenuhnya menghilang. Hanya tersisa bayangan samar.

Ayah Lin memperhatikan semuanya.


Ia tidak berkata apa-apa. Tapi matanya mengikuti Qingyu lebih sering dari sebelumnya, mulai dari cara ia
duduk, cara ia mengambil air minum sendiri, sampai cara ia berdiri tanpa harus berpegangan.

Perubahan kecil, namun konsisten.

Pagi itu, televisi menyala di ruang makan.

“…kasus darurat kembali terjadi di distrik selatan dan barat kota. Beberapa pasien mengalami kondisi
kritis akibat paparan zat toksik yang belum dapat diidentifikasi. Pihak berwenang menyatakan belum ada
bukti keterkaitan antar kasus—”

Ayah Lin mematikan suara TV.

Bukan karena bosan. Tapi karena ekspresinya berubah. Ia teringat pasien di rumah sakit, dengan lebam
di tubuhnya...

Ayah memandang Qingyu sekilas.

Mungkinkah?

Qingyu duduk tenang, menyendok bubur hangat. Ia mendengar semuanya tanpa reaksi apapun. Berita
itu belum cukup untuk membuat masyarakat panik. Kasusnya terlalu terpisah. Terlalu “acak” bagi orang
awam. Tapi baginya, pola itu semakin jelas.

“Qingyu,” kata Ayah Lin tiba-tiba. “Kita ke rumah sakit lagi hari ini. Dokter Ming menghubungiku tadi.”

Qingyu mengangguk. “Baik, Ayah.”

Lady Su yang duduk di seberang meja menoleh. “Apakah perlu? Bukankah dokter bilang kondisinya
membaik?”

“Hasil lab kedua sudah keluar,” jawab Ayah Lin singkat. “Aku mau dengar langsung.”

Lady Su menunduk mengambil cangkir tehnya, menutupi perubahan sekilas di matanya.

Rumah sakit terlihat sama—putih, bersih, dan terukur.


Namun kali ini, Qingyu merasakan sesuatu yang berbeda. Beberapa perawat bergerak lebih cepat.
Seorang dokter berdiskusi dengan suara ditekan di ujung lorong.

Dr. Ming menunggu mereka di ruangannya.

Ia tidak langsung duduk.

“Data dari lab eksternal sudah masuk,” katanya setelah pintu tertutup. “Dan… hasilnya tidak
sepenuhnya cocok dengan laporan internal.”

Ayah Lin berdiri. Tangannya terlipat di dada. “Tolong jelaskan.”

Dr. Ming membuka berkas dan menunjuk grafik tertentu. “Parameter ini—dan ini—menunjukkan
paparan zat asing jangka panjang. Bukan infeksi. Ini juga bukan kelainan bawaan.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, suaranya lebih pelan.

“Dan ini bukan perubahan biasa.

Ruangan hening.

Ayah Lin tidak langsung bereaksi. Namun rahangnya mengeras sedikit

“Apakah itu berbahaya?” tanyanya.

“Dalam jangka panjang?” Dr. Ming mengangguk pelan. “Ya. Tubuh akan melemah tanpa sebab yang
jelas. Sangat… rapi.”

Rapi.

Kata itu menggantung di udara.

Qingyu duduk dengan punggung lurus. Ia tidak terlihat terkejut. Hanya mendengarkan

“Aku sarankan pemeriksaan lanjutan,” kata Dr. Ming. “Dan menghentikan semua asupan yang tidak bisa
dilacak sumbernya.”

Ayah Lin mengangguk. “Aku mengerti.”


Mereka keluar dari ruang dokter dan berjalan menyusuri koridor.

Di tikungan dekat lift, seseorang melangkah dari arah berlawanan.

Langkahnya tegap. Jasnya rapi. Wajah tampannya tampak serius. Auranya cukup untuk membuat orang
lain secara naluriah memberi jalan.

Qingyu mendongak.

Tatapan mereka bertemu.

Hanya sesaat. Tanpa ekspresi apapun.

Namun di dada Qingyu—ia merasakan getaran halus, dan fluktuasi samar.

Di saat yang sama, di balik jas hitam itu, Xie Yan merasakan sesuatu yang sama—hangat, samar, dan
tidak penting… setidaknya begitu ia menganggapnya.

Mereka melewati satu sama lain, tanpa menoleh.

Ayah Lin yang juga menyadari menoleh ke punggung pria yang baru lewat itu.

Ia berhenti melangkah sejenak.

“Qingyu,” katanya pelan, setelah pria itu menjauh. “Lelaki barusan… itu Xie Yan.”

Qingyu menoleh. “Xie Yan?

“CEO Xie Grup,” lanjut Ayah Lin. “Perusahaan terbesar di negara ini.

Nada suaranya bukan kagum. Lebih seperti pengakuan akan keberadaan seseorang yang berada di
puncak dunia lain.

Qingyu mengangguk kecil. Jadi ia CEO Devil yang dimaksud dalam berita beberapa hari lalu. Dan juga
kultivator yang dirasakannya beberapa hari lalu.

Tidak ada reaksi lebih lanjut.

Getaran di dadanya telah menghilang—seperti sesuatu yang tidak perlu dipikirkan sekarang.
Mereka melanjutkan langkah menuju lift.

Anda mungkin juga menyukai