Faculty iof iEducation
Journal iof iInnovative iand iCreativity University iof iPahlawan iTuanku iTambusai
Journal iHomepage: i[Link] ISSN i2775-771X i(Online)
ISSN i2962-570X i(Printed)
e-mail: ijournaljoecy@[Link] 5 (2) i2025, iPage: 14739-14753
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Remaja Terhadap
Penyakit Menular Seksual (PMS) di SMPN 21 Pekanbaru
Tahun 2025
Chaira Maharani1, Ika Putri Damayanti2, Hastuti Marlina3, Rina Yulviana4, Bd. Liva Maita5
1 Mahasiswa Program Studi Sarjana Kebidanan, 2, 3,4,5 Dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana
dan Profesi Bidan Fakultas Kesehatan Universitas Hang Tuah Pekanbaru, Indonesia
Corresponding Author:Chaita Maharani, e-mail: chairamaharani00@[Link]
Published: July , 2025
ABSTRAK
Penyakit Menular Seksual (PMS) merupakan salah satu permasalahan kesehatan reproduksi yang
berdampak luas, terutama pada kelompok remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri dan sangat
rentan terhadap pengaruh lingkungan. Pengetahuan dan sikap remaja terhadap PMS sangat penting untuk
mencegah penyebaran dan dampak negatif dari penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap Penyakit Menular Seksual di SMPN 21
Pekanbaru tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional.
Sampel terdiri dari 222 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 151 responden (56,8%) memiliki pengetahuan yang kurang, dan
dari jumlah tersebut, 113 orang (74,5%) mengalami gejala PMS. Sedangkan dari 71 responden (43,2%) yang
memiliki pengetahuan baik, hanya 27 orang (38,0%) yang mengalami gejala PMS. Pada variabel sikap,
60,4% responden memiliki sikap yang kurang, dan 39,6% memiliki sikap baik. Hasil analisis bivariat
menggunakan uji chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan (p = 0,000; OR
= 4,8) dan sikap (p = 0,001; OR = 2,8) terhadap kejadian PMS. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan
bahwa pengetahuan dan sikap remaja berpengaruh terhadap kejadian PMS. Oleh karena itu, pendidikan
kesehatan reproduksi yang komprehensif sangat diperlukan di lingkungan sekolah untuk meningkatkan
pemahaman dan kesadaran remaja, guna menurunkan risiko PMS dan menciptakan generasi muda yang
sehat secara fisik dan mental.
Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Remaja, Penyakit Menular Seksual (PMS)
© The Author(s). 2021 Open Access This article is licensed under a Creative Commons Atibution 4.0 International License, which
permits use, sharing, adaptation, distribution and reproduction in any medium or format, as long as you give appropriate credit to the
original author(s) and the source, provide a link to the Creative Commons licence, and indicate if changes were made. The images or
other third party material in this article are included in the article's Creative Commons licence, unless indicated otherwise in a credit
line to the material. To view a copy of this licence, visit [Link]
PENDAHULUAN
Menurut (WHO, 2022), masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-
kanak ke masa dewasa, yang berkisar antara usia 10 hingga 19 tahun. Namun, setelah
seorang remaja menikah, ia dianggap sudah dewasa dan bukan lagi remaja. Sebaliknya,
jika seseorang sudah tidak lagi remaja tetapi masih bergantung pada orang tuanya
(belum mandiri), ia masih dianggap remaja. Sarwono menyatakan bahwa terdapat tiga
rentang usia dalam proses menjadi dewasa, yaitu: (1) masa remaja awal, yaitu antara
umur 10 sampai 12 tahun, (2) masa remaja pertengahan, yaitu antara umur 13 sampai 15
tahun, dan (3) masa remaja akhir, yaitu antara umur 16 sampai 19 tahun. (Dwiyono, 2021)
Menurut survei yang dilakukan (Pusat Data dan Informasi Kemenrian Kesehatan
RI, 2020) remaja usia 15 sampai dengan 19 tahun mulai berpacaran sebelum berusia 15
tahun, dengan 33,3% remaja perempuan dan 34,5% remaja laki-laki mulai berpacaran
sebelum berusia 15 tahun. Di antara mereka yang telah melakukan hubungan seks
14739 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
pranikah, 0,7% remaja perempuan dan 4,5% remaja laki-laki melaporkan telah
melakukannya. Perilaku tersebut meningkatkan risiko kehamilan yang tidak diinginkan,
bahkan penularan infeksi menular seksual (IMS) (Kemenkes RI, 2020)
Menurut penelitian yang dilakukan di Kanada, 33,7% anak laki-laki dan 35% anak
perempuan berhubungan seks dengan 21,4% anak laki-laki dan 21,4% anak perempuan
dengan 21,4% anak laki-laki. Terbukti 40,5% anak perempuan telah berhubungan seks.
Menurut data tahun 2022 dari Centers for Disease Control (CDC), infeksi menular seksual
yang paling umum di seluruh dunia adalah sifilis (termasuk sifilis kongenital), klamidia,
gonore, chancroid, dan HIV (Human Immunodeficiency Virus) (Koray et al., 2022)
Remaja merupakan salah satu kelompok yang berisiko tinggi tertular Penyakit
Seksual (PMS) yang menyimpang dari norma sosial dan berujung pada perilaku negatif .
Pada tahun 2022 Kemenkes RI mengemukakan bahwa angka kejadian IMS pada remaja
di Indonesia cenderung terjadi peningkatan, hal ini terlihat dari data IMS pada tahun
2022 yang berjumlah 19.973 kasus di Indonesia. Dari pemeriksaan laboratorium
prevalensi IMS terdapat 11.133 kasus, ada 2.976 kasus sifilis dini, 892 kasus sifilis lanjut,
1.482 kasus gonore, 1.004 kasus urethritis nongonore, 143 kasus herpes digital, 342 kasus
trichomoniasis,7.650 kasus HIV dan 1.677 kasus AIDS. Jumlah kasus yang dilaporkan
hanya sebagian kecil dari total kasus yang benar-benar terjadi (Rosita, 2023)
PMS adalah sindrom klinis atau penyakit yang disebabkan oleh patogen yang
ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui hubungan seks tanpa kondom
(Arismawati, 2022). PMS terutama ditularkan melalui hubungan seksual, baik melalui
vagina, anal, atau oral. Selain itu, infeksi ini dapat menyebar melalui pertukaran cairan
tubuh seperti air mani, darah, atau cairan genital. Hal ini dapat mempengaruhi kesehatan
reproduksi dan keseluruhan orang yang terinfeksi. Penyakit menular seksual antara lain
gonore, klamidia, sifilis, maag saat lahir, granuloma inguinale, dll. Kalau penyebabnya
bakteri, maka gonore, klamidia, sifilis, maag saat melahirkan, granuloma inguinale, dll.
Kalau penyebabnya virus, maka AIDS, herpes genital, kutil kelamin, hepatitis virus, dll.
Moluskum kontagiosum: Trikomoniasis dapat disebabkan oleh protozoa. Kandidiasis
mungkin disebabkan oleh jamur. Kandidiasis mungkin disebabkan oleh parasit. Kutu
kemaluan dan kudis mungkin disebabkan oleh parasit. (Saenong & Sari, 2021).
Ancaman HIV/AIDS telah memusatkan perhatian pada perilaku seksual dan
kesehatan reproduksi remaja: diperkirakan 20–25% dari seluruh infeksi HIV di seluruh
dunia terjadi di kalangan remaja. Demikian pula, kejadian sindrom pramenstruasi lebih
tinggi di kalangan remaja, terutama anak perempuan berusia antara 15 dan 20 tahun.
Perilaku seksual berisiko di kalangan remaja di luar nikah berkontribusi terhadap
meningkatnya kejadian infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS di kalangan remaja.
Terdapat berbagai macam perilaku seksual pranikah yang umum dilakukan oleh remaja,
14740 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
seperti berpelukan, berciuman, mengobrol, dan berhubungan seksual (Vanesa Agatha,
2024)
Menurut (Nurafriani et al., 2022), pada tahun 2020, sekitar 150.000 remaja usia 10-
19 tahun di seluruh dunia terjangkit infeksi menular seksual (IMS). Data terakhir
menunjukkan bahwa sekitar 25% remaja perempuan dan 17% remaja usia 15 hingga 19
tahun mengalami penurunan infeksi menular seksual. Selain itu, sekitar 10 juta kehamilan
yang tidak diinginkan terjadi setiap tahun di kalangan gadis remaja berusia 15 hingga 19
tahun. Dari jumlah tersebut, diperkirakan 5,6 juta terjadi setiap tahun di kalangan wanita
muda berusia antara 15 dan 19 tahun.
Menurut (Khairunnisa, 2021), penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa
pengetahuan kesehatan reproduksi remaja merupakan faktor utama yang mempengaruhi
perilaku seksual pranikah remaja. Penelitian tersebut mendukung hasil tersebut dengan
menunjukkan bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi menyumbang
72,3% dari 47 responden, lebih tinggi dibandingkan seluruh faktor lainnya. Menurut
Ariska dan Yuliana (Vanesa Agatha, 2024) penelitian sebelumnya juga menyimpulkan
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan reproduksi. hubungan
antara pemahaman anak-anak dewasa tentang kesehatan dan sikap mereka terhadap
seks.
Meningkatnya IMS di kalangan remaja juga disebabkan oleh kurangnya kursus
yang dirancang khusus untuk mendidik dan memberikan informasi kepada siswa sekolah
menengah pertama dan menengah atas, dan juga disebabkan oleh kurangnya pendidikan
dari pemerintah dan lembaga layanan kesehatan lainnya. (Veftisia, 2023)
Menurut (Badan Pusat Statistik Riau, 2023), 27 kasus IMS baru dilaporkan di
Kabupaten Indragiri Hilir, 17 kasus baru di Bengkalis, dan sebanyak 122 kasus IMS baru
di Kota Pekanbaru. Sedangkan menurut Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, pada tahun
2024 terdapat 316 remaja yang tertular Penyakit Menular Seksual (PMS) di Puskesmas RI
Sidumulyo, terbanyak kedua yaitu 297 remaja di Puskesmas Sapta Taruna. Jumlah
tertinggi ketiga sebanyak 276 remaja, termasuk di Puskesmas Tenayan Raya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bagian P2P bahwa di wilayah Puskesmas RI
Sidomulyo terdapat 5 sekolah swasta dan 1 sekolah negeri yang mana remaja yang
paling beresiko terinfeksi di SMPN 21 karena faktor lingkungan yang kurang kondusif.
Studi pendahuluan juga sudah dilakukan oleh penulis dengan mewawancari 5 orang
siswa di SMPN 21, diperoleh informasi bahwa siswa belum mengetahui tentang penyakit
menular seksual (PMS) namun mereka pernah mengalami infeksi tersebut seperti BAK sakit,
keputihan gatal dan berbau.
14741 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMPN 21 Pekanbaru yang memiliki rentang usia 12-15
tahun, dengan julah sampel sebanyak 222 remaja laki-laki dan perempuan yang dipilih
melalui teknik stratified random dari total populasi 873 remaja laki-laki dan perempuan.
Desain penelitian menggunakan metode analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-
sectional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstandar yang telah diuji validitas
dan reliabilitasnya (α=0,514). Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat
signifikansi 0,05. Penelitian ini mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian
Universitas Hang Tuah Pekanbar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Karakteristik Responden
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di SMPN 21 Pekanbaru tahun 2025
n=222
PMS
Karakteristik N Persentase %
Ya n(%) Tidak n(%)
Umur
- 12 tahun 21 9.5 10(47.6) 11(52.4)
- 13 tahun 67 30.2 46(68.7) 21(31.3)
- 14 tahun 81 36.5 47(58.0) 34(42.0)
- 15 tahun 53 23.9 37(69.8) 16(30.2)
Jenis Kelamin
- Perempuan 114 51.4 70(61.4) 44(38.6)
- Laki-laki 108 48.6 70(64.8) 38(35.2)
Total 222 100.0 44(41.1) 63(58.9)
Pada tabel 4.3 diketahui bahwa dari 222 orang siswa/ siswi yang menjadi
responden didapatkan mayoritas berumur 14 tahun sebanyak 81 (36.5%) orang,
Dimana sebanyak 58% terpapar PMS. Pada usia 13 tahun mendominasi kejadian PMS.
Sebanyak 68.7% dari kelompok umur tersebut mengalami PMS.
Mayoritas responden sebanyak 114 (51.4%) orang adalah perempuan,
dimana 61.4% diantaranya terpapar PMS sedangkan pada laki-laki lebih 64%
mengalami PMS.
14742 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
b. Variabel Penelitian
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Variabel Dependen Dan Independen Terhadap PMS di Sekolah
Menengah Pertama (SMPN) 21 di Kota Pekanbaru tahun 2025
n=222
Variabel n Persentase (%)
PMS
- Mengalami PMS 140 63.1
- Tidak Mengalami PMS 82 36.9
Pengetahuan
- Kurang Baik 151 68.0
- Baik 71 32.0
Sikap
- Kurang Baik 124 55.9
- Baik 98 44.1
Total 222 100.0
Berdasarkan hasil penelitian yang disajikan dalam tabel 4.4 diatas diketahui bahwa
dari 222 responden didapatkan mayoritas sebanyak 140(63.1%) orang terpapar PMS,
sebanyak 151(68%) memiliki pengetahuan kurang baik, dan 124(55.9%) orang memiliki
sikap dalam kategori kurang baik.
c. Analisis Bivariat
1. Hubungan Pengetahuan Remaja Terhadap PMS di Sekolah Menengah
Pertama (SMPN) 21 di Kota Pekanbaru
Tabel 4.5
Hubungan Pengetahuan Remaja Terhadap PMS di Sekolah Menengah Pertama
(SMPN) 21 di Kota Pekanbaru
n=222
PMS
Pengetahua Total POR
Mengalam Tidak
n P 95%
i Mengalami
value CI
F (%) F (%) N %
Kurang 113 74.5 38 25.2 151 100 4.846
Baik 0,000 (2.649-
Baik 27 38.0 44 62.0 71 100 8.864)
Total 140 63.1 82 36.9 222 100
Berdasarkan tabel 4.5 di atas, diketahui dari 151 responden yang memiliki
pengetahuan kurang baik terdapat 113 (74.5%) orang diantaranya mengalami PMS. Dari
71 responden yang berpengetahuan baik terdapat 27 (38.0%) orang diantaranya
mengalami PMS.
14743 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji chi-square, diperoleh nilai p value
0,000 ≤ ɑ 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang
signifikan antara pengetahuan dengan kejadian PMS di SMPN 21 Kota Pekanbaru
pada tahun 2025.
Analisis keeratan hubungan dua variabel didapatkan nilai Odss Ratio (OR) = 4.846
(CI 95%; 2.649-8.864) artinya responden yang berpengetahuan kurang baik berisiko 4.8
kali mengalami PMS. dibandingkan dengan responden yang berpengetahuan baik di
Sekolah Menengah Pertama (SMPN) 21 di Kota Pekanbaru tahun 2025.
2. Hubungan Sikap Remaja Terhadap PMS di Sekolah Menengah Pertama (SMPN)
21 di Kota Pekanbaru
Tabel 4.6
Hubungan Sikap Remaja Terhadap PMS di Sekolah Menengah Pertama (SMPN) 21 di
Kota Pekanbaru
n=222
PMS
Sikap Total POR
Mengalam Tidak
P 95% CI
i Mengalami
value
f (%) F (%) N %
Kurang 91 73.4 33 26.6 124 100 2.758
Baik 0,001 (1.573-
Baik 49 50.0 49 50.0 98 100 4.835)
Total 140 63.1 82 36.9 222 100
Berdasarkan Tabel 4.6, diketahui bahwa dari 124 responden dengan sikap kurang
baik, sebanyak 91 orang (73,4%) mengalami PMS. Sementara itu, dari 98 responden yang
memiliki sikap baik, terdapat 49 orang (50,0%) yang mengalami PMS.
Hasil analisis statistik menggunakan uji chi-square menunjukkan nilai p value
0,001 ≤ ɑ 0,05. Dengan demikian, secara statistik dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara sikap dengan kejadian PMS di SMPN 21 Kota Pekanbaru
pada tahun 2025.
Hasil analisis tingkat keeratan hubungan antara dua variabel menunjukkan nilai
Odds Ratio (OR) sebesar 2,758 dengan interval kepercayaan 95% (1,573–4,835). Ini
berarti bahwa responden yang memiliki sikap kurang baik memiliki risiko 2,8 kali lebih
besar untuk mengalami PMS dibandingkan dengan responden yang memiliki sikap baik
di SMPN 21 Kota Pekanbaru pada tahun 2025.
Pembahasan
a. Hubungan Pengetahuan dengan Penyakit Menular Seksual (PMS)
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan lebih 74.5% responden yang memiliki
pengetahuan kurang baik mengalami PMS yaitu oleh responden berumur 13 tahun, Hasil
14744 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
uji statistik dengan menggunakan uji chi square diperoleh p value 0,000 ≤ ɑ 0,05.
Menunjukan ada hubungan pengetahuan terhadap kejadian PMS. Responden yang
berpengetahuan kurang baik berisiko 4.8 kali mengalami PMS dibandingkan dengan
responden yang berpengetahuan baik di Sekolah Menengah Pertama (SMPN) 21 di Kota
Pekanbaru. Dilihat dari struktur umur didapatkan mayoritas responden 13 tahun
sebanyak 81 (36.5%) orang, Dimana sebanyak 58% terpapar PMS. Pada usia 13 tahun
mendominasi kejadian PMS. Sebanyak 68.7% dari kelompok umur tersebut mengalami
PMS.
Teori pengetahuan yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh setelah
seseorang melakukan proses penginderaan terhadap suatu objek melalui pancaindra,
yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Sebagian besar
informasi yang diketahui manusia diperoleh melalui indera penglihatan dan pendengaran.
Menurut (Notoadmodjo, 2022) pengetahuan merupakan hasil dari proses penginderaan
seseorang terhadap suatu objek melalui alat indera seperti mata, hidung, dan telinga.
Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan “tahu” adalah kemampuan remaja dalam
mengenali dan memahami berbagai informasi terkait infeksi menular seksual (IMS).
Remaja perlu tahu tentang infeksi meular seksual agar mereka dapat menjaga diri
dari pergaulan bebas dan berperilaku seks yang sehat. Menurut (Notoadmodjo, 2022)
“Seiring dengan perkembangan zaman, kehidupan sosial remaja saat ini semakin
memprihatinkan. Pengetahuan tentang kesehatan infeksi menular seksual yang dimiliki
oleh remaja sangat penting untuk menghindari pergaulan bebas”.
Pengetahuan sering kali mencakup kemampuan prediktif, yang mengacu pada
kemampuan untuk memprediksi atau meramalkan hasil berdasarkan pengenalan pola
atau pengalaman sebelumnya. Namun, Muhammad (2021, dalam Vanesa Agatha, 2024)
menyatakan bahwa “pengetahuan juga mencakup kemampuan untuk memahami dan
menerapkan informasi ini dalam konteks yang relevan”. Pengetahuan merupakan salah
satu faktor yang berperan dalam pembentukan karakter seseorang. Teori Lawrence
Green menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang
mempengaruhi pembentukan suatu perilaku.
Menurut (Khairunnisa, 2021) pengetahuan kesehatan reproduksi remaja
merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah remaja.
Penelitian tersebut mendukung hasil tersebut dengan menunjukkan bahwa pengetahuan
remaja tentang kesehatan reproduksi menyumbang 72,3% dari 47 responden, lebih tinggi
dibandingkan seluruh faktor lainnya. Menurut Ariska dan Yuliana dalam (Vanesa Agatha,
2024) penelitian sebelumnya juga menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan terhadap kesehatan reproduksi. hubungan antara pemahaman anak-anak
dewasa tentang kesehatan dan sikap mereka terhadap seks.
14745 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
Remaja yang memiliki pengetahuan tinggi mengenai infeksi menular seksual
cenderung lebih berhati-hati dalam menjaga diri agar tidak terlibat dalam pergaulan
bebas. Pengetahuan tersebut dapat menjadi upaya pencegahan awal terhadap penularan
infeksi menular seksual. Dengan pemahaman yang baik, remaja akan berusaha
menghindari tindakan-tindakan yang dapat meningkatkan risiko tertular infeksi menular
seksual (Priyanti, 2021)
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Lia Susanti et al.,
2023) menunjukan bahwa tingkat pengetahuan remaja terhadap PMS bahwa dari 82
reponden, sebanyak 60 orang (73,2%) memiliki Tingkat penegtahuan baik, sedangkan
yang mempunyai pengetahuan kurang sebanyak 22 orang (26,8%). Hasil analisis
menggunakan uji chi-square dengan α 0,05 di peroleh p value sebesar 0,029 maka p
velue < 0,05
Penelitian (Mustiana Kartika Sari, 2023) , menemukan bahwa pemahaman remaja
tentang kesehatan reproduksinya merupakan faktor kunci yang mempengaruhi perilaku
seksual pranikah. Studi tersebut menemukan bahwa pengetahuan remaja tentang
kesehatan reproduksi memiliki dampak yang lebih besar pada perilaku seksual
dibandingkan semua faktor lainnya, meliputi 72,3% dari 47 orang yang disurvei.
Menurut peneliti, pengetahuan remaja berhubungan kejadian PMS. Secara umum,
semakin baik pengetahuan seseorang, maka semakin rendah kecenderungannya untuk
terlibat aktivitas seksual berisiko. Remaja cenderung meniru atau mencoba hal baru
untuk menjawab keingintahuannya. Hal ini dapat mendorong remaja untuk melakukan
perilaku seksual berisiko, juga dapat menimbulkan penyimpangan seksual yang dapat
menyebabkan remaja yang bersangkutan terpapar penyakit menular seksual. Karenanya
perlu dilakukan kerja sama lintas sektoral dan melakukan intervensi terhadap remaja
berupa pendidikan kesehatan reproduksi dengan menggabungkan elemen-elemen cerita
dengan materi pendidikan kesehatan reproduksi, guru dapat menciptakan pengalaman
belajar yang mendalam dan berkesan bagi siswa.
b. Hubungan sikap dengan Penyakit Menular Seksual (PMS)
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan lebih 73% responden yang memiliki sikap
kurang baik mengalami PMS. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square
diperoleh p value 0,001 ≤ ɑ 0,05 didapatkan ada hubungan sikap terhadap kejadian PMS.
Analisis keeratan hubungan dua variabel didapatkan nilai Odss Ratio (OR) = 2.758 (CI
95%; 1.573-4.835) artinya responden yang bersikap kurang baik berisiko 2.8 kali
mengalami PMS dibandingkan dengan responden yang bersikap baik di Sekolah
Menengah Pertama (SMPN) 21 di Kota Pekanbaru tahun 2025.
Hasil analisis jawaban yang diberikan responden didapatkan mereka yang
mengalami PMS sebagian besar diantara tidak takut dengan informasi tentang dampak
14746 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
buruk PMS. Mereka tidak peduli dengan penyebab PMS karena meyakini PMS tidak akan
terjadi pada mereka. Menurut mereka cukup dengan menjaga kebersihan tubuh dalam
mencegah terjadinya PMS dan hanya sebagian kecil dari mereka yang mau
memeriksakan kesehatan reproduksi secara berkala. Disamping itu mereka merasa malu
untuk mencari informasi tentang PMS dari sumber terpercaya seperti tenaga medis atau
website resmi kesehatan.
Menurut Notoatmodjo yang dikutip oleh (Rizqa Haerani et al., 2020) , “Sikap
merupakan reaksi tertutup seseorang, meliputi pendapat dan emosi (senang atau tidak,
baik atau buruk, dan sebagainya), terhadap suatu stimulus atau objek tertentu.” Sikap
merupakan suatu keinginan atau hasrat untuk bertindak, tetapi bukan merupakan suatu
alasan tertentu. Fungsi dari hubungan tersebut merupakan suatu tindakan (respon
terbuka) atau kegiatan, tetapi merupakan dasar dari tindakan atau respon terbuka.
Menurut (Husna Farhana Salsabila, 2025) , pemahaman dan sikap terhadap infeksi
menular seksual (IMS) memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dan
pengendalian penyakit tersebut. Pengetahuan yang baik mengenai IMS dapat
memengaruhi sikap individu dalam menghindari perilaku berisiko serta membantu
mereka mengambil keputusan yang dapat mengurangi kemungkinan tertular IMS. Di
tengah arus perubahan zaman yang pesat, pengendalian terhadap pergaulan bebas
menjadi semakin menantang. Oleh karena itu, sikap yang positif terhadap kesehatan
reproduksi, khususnya mengenai IMS, sangat penting untuk mencegah keterlibatan
dalam perilaku seksual bebas sebelum menikah. Banyak pakar menyatakan bahwa
pengetahuan berperan besar dalam membentuk sikap seseorang. Kurangnya pemahaman
yang memadai tentang kesehatan reproduksi, terutama terkait IMS, dapat menyebabkan
remaja lebih rentan terhadap perilaku seksual berisiko, mengingat masa remaja
merupakan tahap perkembangan yang sangat krusial.
(Azwar, 2022) menyatakan bahwa sikap seseorang dipengaruhi oleh berbagai
faktor seperti pengalaman pribadi, lingkungan sosial, budaya, media massa, serta
lembaga pendidikan dan keagamaan. Mayoritas siswa menunjukkan sikap yang positif,
yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh informasi yang mereka peroleh dari media
massa seperti majalah dan surat kabar. Sikap positif ini mencerminkan persetujuan siswa
terhadap pentingnya memahami penyakit menular seksual.
Berdasarkan hasil kuesioner, lebih banyak siswa yang memberikan tanggapan
setuju terhadap pernyataan terkait topik penyakit menular seksual. Sebaliknya, sikap
negatif tercermin dari ketidakpedulian terhadap upaya pencegahan atau cara
menghindari penularan penyakit tersebut. Secara keseluruhan, hasil analisis
menunjukkan bahwa sikap siswa terhadap infeksi menular seksual tergolong cukup baik,
14747 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
di mana sebagian besar remaja bersikap positif dalam menyikapi isu seks bebas dan
upaya pencegahan penyakit menular seksual.
Penelitian ini sejalan dengan temuan (Gomes & Suariyani, 2023) yang
menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dan sikap responden
dengan perilaku berisiko terhadap infeksi menular seksual (IMS). Hasil ini juga didukung
oleh penelitian Erald et al (2021) yang mengungkapkan adanya keterkaitan antara sikap
remaja dan kejadian penyakit menular seksual.
Penelitian sejenis juga dilakukan (Khoirun Nisa & Sunarti, 2023) dengan sampel 62
responden. Menunjukkan bahwa Responden dengan sikap positif 87%. Responden
dengan sikap negatif yaitu sebesar 13%. Hasil uji statistik diperoleh p value< 0,05 (p
value = 0,043, dan 0,033) artinya ada pengaruh antara sikap responden dengan IMS.
Menurut peneliti ada hubungan sikap dengan PMS. Hal ini dimungkinkan karena
mereka yang bersikap baik akan menolak melakukan seks berisiko sehingga potensensi
mereka terpapar PMS menjadi berkurang. Sikap dapat dipengaruhi pengetahuan,
pengalaman pribadi, pengaruh lingkungan, budaya, media massa, serta lembaga
pendidikan dan agama. Karena perlu dilakukan intervensi terhadap remaja berupa
pendidikan kesehatan reproduksi.
Peneliti berasumsi bahwa pengetahuan dan sikap remaja terhadap infeksi menular
seksual (IMS) memiliki pengaruh signifikan terhadap penyakit menular seksual (PMS).
Remaja dengan pengetahuan yang rendah dan sikap yang kurang baik cenderung lebih
berisiko melakukan perilaku seksual berisiko, yang dapat meningkatkan tertular PMS.
Pengetahuan dan sikap ini tidak terbentuk secara mandiri, melainkan dipengaruhi oleh
berbagai faktor seperti usia, lingkungan sosial, media massa, lembaga pendidikan, dan
keagamaan. Selain itu, asumsi lain dalam penelitian ini adalah bahwa meskipun data
diperoleh melalui kuesioner, terdapat kemungkinan bahwa jawaban responden tidak
sepenuhnya mencerminkan keadaan yang sebenarnya, karena perbedaan pemahaman,
persepsi, atau tingkat kejujuran dalam mengisi kuesioner.
KESIMPULAN
1. Bahwa dari 222 orang siswa/ siswi yang menjadi responden didapatkan mayoritas
berumur 14 tahun sebanyak 81 (36.5%) orang, Dimana sebanyak 58% terpapar PMS. Pada
usia 13 tahun mendominasi kejadian PMS. Sebanyak 68.7% dari kelompok umur tersebut
mengalami PMS. Mayoritas responden sebanyak 114 (51.4%) orang adalah perempuan,
dimana 61.4% diantaranya terpapar PMS sedangkan pada laki-laki lebih 64% mengalami
PMS.
14748 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
2. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan terhadap kejadian PMS di
Sekolah Menengah Pertama (SMPN) 21 di Kota Pekanbaru tahun 2025. dengan p value
0,000 ≤ ɑ 0,05. Remaja yang berpengetahuan kurang baik berisiko 4.8 kali mengalami
PMS
3. Terdapat hubungnan yang signifikan antara sikap terhadap kejadian PMS di Sekolah
Menengah Pertama (SMPN) 21 di Kota Pekanbaru tahun 2025. dengan p value 0,001 ≤ ɑ
0,05. Remaja yang memiliki sikap kurang baik berisiko 2.8 kali mengalami PMS.
Saran
1. Bagi SMP Negeri 21 Pekanbaru
Perlu dilakukan intervensi terhadap remaja berupa pendidikan kesehatan reproduksi
berbasis syariah dengan menggabungkan elemen-elemen cerita dengan materi
pendidikan kesehatan reproduksi, pendekatan edukasi melalui pelajaran dan melalui
media yang menarik sehingga dapat menciptakan pengalaman belajar yang mendalam
dan berkesan bagi siswa.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau sumber informasi bagi
penelitian-penelitian selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan hubungan antara
pengetahuan dan sikap remaja terhadap penyakit menular seksual (PMS).
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Hang Tuah Pekanbaru,
SMPN 21 Pekanbaru, pembimbing serta penguji dan seluruh pihak yang telah membantu
terlaksananya penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anita Alawiah. (2020). Faktor Risiko Kejadian Infeksi Menular Seksual di Balai Kesehatan
Kulit dan Kelamin Kota Makasar Tahun 2019 .
Ariska, A. & Y. N. (2021). Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan
Reproduksi Dengan Sikap Terhadap Perilaku Seksual Pranikah Di Smp N 2 Jatipuro .
Arismawati, R. , M. M. , & W. W. (2022). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Perilaku
Pencegahan Penyakit Menular Seksual Pada Wanita Usia Subur Yang Sudah Menikah Di
Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Alam Kota Banda Aceh .
Azwar, S. (2022). Perilaku Sikap terhadap PMS pada remaja wanita di Puskesmas Banda
Aceh. Sikap Manusia Teori Dan Pengukuran.
14749 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
Badan Pusat Statistik Riau. (2023). Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru angka kejadian IMS
Pada Remaja.
Benyamin Bloom. (2019). Pengetahuan Dalam Ranah Kognitif.
Bhattacharya, S. , S.-T. S. , & F. B. C. (2020). Candidiasis and mechanisms of antifungal
resistance. Antibiotics.
CDC. (2022). Sexually Transmitted Diseases (STDs).
Crimi, S., Fiorillo, L., Bianchi, A., D’amico, C., Amoroso, G., Gorassini, F., Mastroieni, R.,
Marino, S., Scoglio, C., Catalano, F., Campagna, P., Bocchieri, S., De Stefano, R.,
Fiorillo, M. T., & Cicciù, M. (2019). Herpes virus, oral clinical signs and qol:
Systematic review of recent data. In Viruses (Vol. 11, Issue 5). MDPI AG.
[Link]
Dinas Kesehatan. (2024). Badan Pusat Statistik. Kejadian IMS pada Remaja
Dr Maria Demetria, Rsud Ba’, U., Rote, K., Sumber, N., Dokumen, :, Maria, / Dr, & Bria, D.
(2022). STOP HIV/AIDS : Kenali Penyakitnya, Hindari Penularannya dengan
ABCDE!!
Dwiyono. (2021). Kategori usia remaja, Volume 14 Nomor 1 Mei.
Eni, R. (2022). The Relationship Of Internal Factors With Adolescent Risky Sexual
Behavior.
Initium Medica Journal, 2(1), 63-71.
Eravianti (2021). (2021). Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif.
Fijianto. (2020). Analisis Data. Metolodi Penelitian Kuantitatif
Ghozali. (2021). Validitas dan Rehabilitas Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
Gomes, J. N. D. R., & Suariyani, N. L. P. (2023). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan
Sikap
Dengan Perilaku Terhadap Infeksi Menular Seksual Pada Remaja Di Comoro Dili Timor-
Leste. Archive Of Community Health, 10(1), 18.
[Link]
Hardani et, al. (2020). Metodologi Penelitian Kuantitatif. [Link]
Hasibuan, E. E. (2023). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Herpes Simpleks
Pada
Ibu Usia 30-40 Tahun Di Lingkungan I Kelurahan Sidangkal. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Darmais (JKMD)
Husna Farhana Salsabila. (2025). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Remaja
Terhadap Infeksi Menular Seksual Pada Siswa Di SMAN 7 Makasar. Jurnal Manajemen
Bisnis Dan Kesehatan 1 (3), 144-158, 2025.
Ida Ekawati, Putu wayan, Bintari, Desi, Damayanti, & Manik. (2023). Gambaran Jamur
Candida Albicans Pada Urin Pra-Menstruasi Mahasiswi Stikes Wira Medika Bali (The
14750 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
Description Of Candida Albicans In Pre Menstrual Urine Of Female Students At Stikes
Wira Medika Bali). [Link]
Jihan Nazirah, & Wizar Putri Mellaratna. (2024). Chancroid: Infeksi Menular Seksual
Chancroid : Sexually Transmitted Infecttions. Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan, 4(2), 98–
107. [Link]
Kartikasari, R. I., Ummah, F., & Wahyu, D. I. (2022). Hubungan Peran Orang Tua Dengan
Kejadian Kehamilan Remaja Di Desa Blimbing Kecamatan Paciran Kabupaten
Lamongan. Jurnal Surya, 14(2), 69–76. [Link]
Kemenkes RI. (2020). Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI (2020).
Khairunnisa, A. , & L. L. I. (2021). (2021). Tingkat Pengetahuan Tentang Infeksi Menular
Seksual (IMS) Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Angkatan 2019 Tahun 2020.
Khoirun Nisa, N., & Sunarti,. (2023). Identifikasi Pengetahuan Dan Sikap Remaja Tentang
Infeksi Menular Seksual. Jurnal Edunursing, 7(1). [Link]
Koray, M. H., Adomah-Afari, A., Punguyire, D., & Naawa, A. (2022). Knowledge of
sexually t
transmitted infections among senior high school adolescents in the Wa Municipality of
Ghana. Global Health Journal, 6(2), 95–101.
[Link]
Lanes, E. J., Mongan, S. P., & Wantania, J. J. E. (n.d.). Perbedaan Pengetahuan dan Sikap
Remaja tentang Infeksi Menular Seksual di SMA/SMK Perkotaan dan Pedesaan.
[Link]
Mustiana Kartika Sari. (2023). Pengaruh Vidio Edikuasi Kekerasan Seksual Terhadap
Pengetahuan dan Sikap Remaja Di SMPN 03 Kartasura. Universitas Kusuma Husada
Surakarta, 2023.
Nawawi, F. , N. A. , & W. I. R. (2023). Breaking the stigma: increasing comprehensive
HIV
knowledge to end discrimination against people living with HIV.
Notoadmodjo. (2022). Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Terhadap IMS pada
siswa
pendidikan dokter. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku Rineka Cipta ; 2022. 90-130 p.
Notoatmodjo. (2020). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.
Nurafriani, N., Mahmud, S., & Anggeraeni, A. (2022). Pendidikan Kesehatan Reproduksi
terhadap Sikap Remaja tentang Seksual Pranikah. Jurnal Keperawatan Silampari,
6(1), 377–386. [Link]
Nursalam. (2020). Teknik Sampling. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
Pradyandari, et al. (2024). Syphilis Infection.
14751 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
Priyanti. (2021). Edukasi Seksual dan Konseling Remaja upaya Pengetahuan remaja
Terhadap
PMS di Bumi Desa Lombok Barat. Jurnal Pengabdian UNDIKMA 6 (1).
Rivai Nakoe, & Moh. (2021). Faktor Resiko Penularan Infeksi Menular Seksual Pada
Remaja Kelompok Lelaki Seks Lelaki {Lsl} Risk Factors Of Transmission Of Sexual
Transmitted Infection In Adolescent Male Sex Group {MSM}. Journal Health and
Science ; Gorontalo Journal Health & Science Community, 5.
Rizqa Haerani, Studi, P., Dokter, P., Kedokteran, F., & Kesehatan, D. (2020). Hubungan
Tingkat
Pengetahuan Dengan Sikap Terhadap Infeksi Menular Seksual Pada Mahasiswa Program
Studi Pendidikan Dokter Universitas Muhammadiyah Jakarta 2020.
Rosita, R. , H. Y. , K. I. , I. O. S. , & T. D. (2023). F. D. I. M. S. D. H. / A. D. P. T. 2022.
1(2).
(2023). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Melalui Media Tentang Bahaya Infeksi Menular
Seksual (Ims) Terhadap Pengetahuan Remaja. [Link]
[Link]/[Link]/SJNR/index
Saenong, R. H., & Sari, L. P. (2021). Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap
Terhadap
Infeksi Menular Seksual pada Mahasiswa Pendidikan Dokter. Muhammadiyah Journal of
Midwifery, 1(2), 51. [Link]
Saputra, Dwi Helynarti Syurandhari, Hari Kuswanto, & Asih Media Yuniarti. (2023).
Pendidikan Kesehatan Tentang Reproduksi Remaja Terhadap Pengetahuan dan Sikap
pada Siswa SMK Pacet Kabupaten Mojokerto. Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan
Masyarakat, 2(3), 361–368. [Link]
Sugiyono. (2022). Sugiyono, S. (2022). Metode Penelitian:Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
ALFABETA.
Sugiyono, S. (2021). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (M. Dr. Ir. Sutopo. S.
Pd
PD Sugiyono - ALFABETA, cv, 2021.
Susanti, L., Kebidanan Bhakti Husada Bekasi, A., & Puja Bangsa Bekasi, S. (2023).
Hubungan
Tingkat Pengetahuan Remaja Dengan Sikap Remaja Dalam Pencegahan Penyakit Menular
Seksual Siswa-Siswi Kelas XI Di SMK Puja Bangsa Utara.
Syukur, S. B., Asnawati, R., Hidayat, E. H., & Pelealu, A. (2023). Edukasi Manajemen
Pencegahan Dini Penyakit Menular Seksual (PMS) pada Remaja di Smk Teknologi
Muhammadiyah Limboto. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM),
6(1), 319–326. [Link]
14752 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025
Vanesa Agatha. (2024). Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Kelas X Tentang Infeksi
Menular Seksual di SMA Santo Yoseph Medan Tahun 2024.
Veftisia, V. (2023). Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Pengetahuan Remaja The
Influence of Health Education on Adolescent Knowledge. Indonesian Journal of
Midwifery, 6, 1–8.
Veleria. (2020). Kondiloma Akuminata. In Online) Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya
Kusuma
(Vol. 5, Issue 2).
Whiting, G. (2023). Faktor-Faktor Risiko Yang Memengaruhi Kejadian Sifilis Di Rsud Dr.
H.
Abdul Moeloek Provinsi Lampung.
WHO. (2022). Adolescent health & Medicine.
Wiratna Sujarweni. (2022). Variabel Penelitian Metodologi Penelitian Kuantitatif dan
Kualitatif.
Yanti. (2020). Sifilis. 15(2), 156–162.
14753 | Journal of Innovative and Creativity , 5(2) 2025