0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan28 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang hak cipta dan penggunaan kembali karya, serta memberikan penjelasan mendalam mengenai proyek dan manajemen proyek. Terdapat juga penjelasan tentang penjadwalan proyek dan metode analisis seperti PERT dan CPM yang digunakan untuk perencanaan dan pengendalian proyek. Keseluruhan informasi ini bertujuan untuk memahami bagaimana mengelola dan menyelesaikan proyek secara efektif dan efisien.

Diunggah oleh

BenniGinsu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan28 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang hak cipta dan penggunaan kembali karya, serta memberikan penjelasan mendalam mengenai proyek dan manajemen proyek. Terdapat juga penjelasan tentang penjadwalan proyek dan metode analisis seperti PERT dan CPM yang digunakan untuk perencanaan dan pengendalian proyek. Keseluruhan informasi ini bertujuan untuk memahami bagaimana mengelola dan menyelesaikan proyek secara efektif dan efisien.

Diunggah oleh

BenniGinsu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Hak cipta dan penggunaan kembali:

Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah,


memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk
kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama
penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat
yang serupa dengan ciptaan asli.

Copyright and reuse:


This license lets you remix, tweak, and build upon work
non-commercially, as long as you credit the origin creator
and license it on your new creations under the identical
terms.

Team project ©2017


Dony Pratidana S. Hum | Bima Agus Setyawan S. IIP
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Pada bab ini penulis akan menjabarkan beberapa teori yang berhubungan

dengan penelitian ini

2.1.1 Proyek (Project)

Tampubolon (2004:233) mendefinisikan proyek sebagai suatu rangkaian

kegiatan yang hanya terjadi sekali, dimana pelaksanaannya sejak awal sampai

akhir dibatasi oleh kurun waktu tertentu. Selain itu Heizer and Render (2011)

menjelaskan bahwa proyek dapat didefinisikan sebagai sederetan tugas yang

diarahkan kepada satu hasil utama.

Seoharto (dikutip oleh Raharja, 2014) dalam jurnal Analisa Penjadwalan

Proyek dengan Metode PERT di PT HDP Yogyakarta pada Proyek Perumahan

Tirta Sani, mengemukakan bahwa proyek dapat diartikan sebagai suatu kegiatan

yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu dengan alokasi sumber daya

terbatas dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk (deliverable) yang kriteria

mutunya telah digariskan dengan jelas.

Sedangkan dalam buku PMBOK Guide (dikutip oleh Sahid, 2012) dalam

jurnal Implementasi Critichal Path Method dan PERT Analysis pada proyek

GTLC menyatakan bahwa sebuah proyek adalah suatu usaha keras yang diambil

dengan waktu sementara untuk membuat suatu unit produk, jasa maupun hasil

unit lainnya.

12
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
2.1.2 Manajemen Proyek

Sahid (2012), dalam jurnal Implementasi Critichal Path Method dan PERT

Analysis pada proyek GTLC menyatakan bahwa manajemen proyek adalah

pengaplikasian pengetahuan, keahlian, tools, dan teknik lainnya ke dalam semua

aktivitas proyek untuk mencapai/memenuhi tiga batasan proyek dengan

melakukan pengelolaan yang seimbang antara batasan biaya, batasan waktu,

maupun batasan lingkup pekerjaan.

Berbeda dengan Sahid (2012), Seoharto (dikutip oleh Raharja, 2014)

dalam jurnal Analisa Penjadwalan Proyek dengan Metode PERT di PT HDP

Yogyakarta pada Proyek Perumahan Tirta Sani, mengatakan bahwa manajemen

proyek dapat diartikan sebagai penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam suatu

kegiatan proyek, dengan kata lain merupakan suatu kegiatan yang mengatur

jalannya kegiatan-kegiatan dalam pelaksanaan proyek untuk semua tahapan-

tahapan proyek.

Sedangkan Sunita dan Snigdha (2013) dalam jurnal CPM Analysis of

Rolai-Rinjlai Road Construction menjelaskan bahwa “Project management

consists of planning, designing, and implementing a set of activities in order to

accomplish a particular goal or task.” Dalam jurnal tersebut Sunita dan Snigdha

(2013) menjelaskan bahwa “Manajemen proyek terdiri dari perencanaan,

perancangan, dan pelaksanaan serangkaian kegiatan guna mencapai suatu tujuan

maupun pekerjaan tertentu.”

Selain itu dalam buku PMBOK Giude (dikutip oleh Omar, 2011) dalam

jurnal A Linear Programing Technique for the Optimization of the Activities in

13
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
Maintenance Projects mengemukakan bahwa “Project management as the

application of knowledge, skills, tools, and technique to project acvtivities in

order to meet project requirements.” Dalam pendapat tersebut dikatakan bahwa

manajemen proyek sebagai penerapan pengetahuan, keterampilan, peralatan, dan

teknik untuk dapat digunakan dalam kegiatan proyek agar dapat memenuhi

kebutuhan proyek.

Selanjutnya Menurut Heizer and Render (2011:90) dalam manajemen

proyek sebelum sebuah proyek dikerjakan perlu adanya tahapan pengelolaan

proyek yang meliputi :

 Pertama tahap perencanaan (planning) yaitu menetapkan tujuan proyek.

 Kedua tahap penjadwalan (scheduling) yaitu menghubungkan manusia,

uang, serta sumber daya secara spesifik ke dalam setiap aktivitas yang

saling berhubungan, dan

 Terakhir tahap pengendalian (controlling) yaitu mengontrol semua

penggunaan sumber daya, biaya, kualitas, maupun budget.

Dari ketiga tahapan ini, tahap perencanaan dan penjadwalan adalah tahap

yang paling menentukan berhasil atau tidaknya suatu proyek, karena penjadwalan

adalah tahap ketergantungan antar aktivitas yang membangun proyek secara

keseluruhan. Penjadwalan sendiri harus disusun secara sistematis dengan

penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien agar tujuan proyek bisa

tercapai secara optimal. Pemecahan masalah penjadwalan yang baik dari suatu

proyek merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam pelaksanaan proyek untuk

14
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
selesai tepat pada waktunya yang merupakan tujuan pokok dan utama, baik bagi

kontraktor maupun pemiliknya (Heizer and Render, 2011).

2.1.3 Penjadwalan (Scheduling)

Dalam setiap perusahaan maupun organisasi memiliki penjadwalan

(scheduling), baik penjadwalan produksi, penjadwalan perbaikan, penjadwalan

perawatan, maupun penjadwalan aktivitas sebuah proyek. Penjadwalan sendiri

merupakan hal yang sangat memengaruhi terhadap operasional atau proses

produksi dalam suatu perusahan.

Tampubolon (2004:233) berpendapat bahwa penjadwalan proyek

merupakan sesuatu yang lebih spesifik dan menjadi bagian dari perencanaan

proyek. Penjadwalan proyek dicantumkan tentang penetapan waktu, tahapan

pelaksanaan kegiatan-kegiatan seperti yang telah direncakan semula.

Evans dan Collier (2007:782) mengemukakan bahwa sebuah jadwal

menentukan kapan suatu kegiatan harus dilakukan. Sebuah jadwal memungkinkan

manajer untuk menetapkan sumber daya secara efektif, untuk memantau

kemajuan, dan mengambil tindakan korektif bila diperlukan karena ketidakpastian

dalam tugas, penundaan yang tidak dapat dihindari, atau masalah lain. Sebuah

proyek jarang jika selesai lebih awal dari waktu penyelesaian yang sudah

ditentukan.

Krajewski, Ritzman, dan Malhotra (2007:648) menyatakan bahwa

penjadwalan mengalokasikan sumber daya dari waktu ke waktu untuk

menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Penjadwalan yang efektif sangat penting

15
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
untuk keberhasilan operasional. Penjadwalan adalah kegiatan yang membawa

semua kegiatan desain dan perencanaan tersebut ke dalam hasil.

Menurut Pinto (2010:311) penjadwalan proyek merupakan konversi dari

tujuan proyek menjadi metodologi yang mampu dicapai untuk proyek tersebut,

membuat jadwal, dan menggambarkan jaringan logika yang berhubungan dengan

kegiatan proyek satu sama lain dengan cara yang masuk akal. Selain itu Heizer

and Render (2011:93) berpendapat bahwa penjadwalan proyek melibatkan

pengurutan waktu dan pengalokasian semua kegiatan proyek. Pada tahap ini

seorang manajer memutuskan berapa lama kegiatan akan memakan waktu dan

menghitung berapa banyak orang dan bahan yang akan dibutuhkan di setiap

tahapan produksi. Manajer juga memetakan jadwal yang terpisah untuk kebutuhan

personil menurut jenis keterampilan. Selain itu, seorang manajer juga bisa

mengembangkan diagram untuk bahan penjadwalan.

Selanjutnya menurut Dadang (2012) dalam jurnal Implementasi Critical

Path Method Analysis pada Proyek GTLC bahwa ada banyak tools dan aplikasi

pendukung yang bisa digunakan dalam perencanaan dan penjadwalan aktivitas-

aktivitas sebuah proyek yang semuanya bertujuan untuk optimalisasi pekerjaan

sebuah proyek sehingga akan ada efisiensi dari sisi biaya maupun waktu

pelaksanaan. Beberapa metode yang telah dikembangkan untuk mengatasi hal ini,

diantaranya adalah metode Jaringan Kerja (Netrwork Planning).

Metode Network Planning merupakan salah satu teknik yang dapat

digunakan seorang manajer proyek dalam membantu mengatasi berbagai masalah,

khususnya dalam perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian proyek. Network

16
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
Planning memperlihatkan hubungan antara kegiatan satu dengan yang lainnya

untuk pencapaian tujuan, yaitu mengusahakan waktu yang optimal dalam

penyelesaian suatu proyek dan mengefisiensikan penggunaan biaya-biaya yang

diharapkan (Heizer and Render, 2011).

2.1.4 PERT dan CPM

Terdapat dua metode dasar yang biasa digunakan dalam Network Planning

yaitu, Metode Jalur Kritis atau Critical Path Method (CPM) dan Program

Tinjauan Evaluasi dan Teknik atau Program Evaluation Review and Technique

(PERT), kedua metode ini berorientasi pada waktu. Perbedaan terpenting antara

kedua metode ini yaitu, pada asumsi estimasi waktu, dimana pada PERT bersifat

probabilistik dan CPM bersiat determistik (Heizer and Render, 2011).

Evans dan Collier (2007:780) mengemukakan bahwa metode jalur kritis

(CPM) merupakan sebuah pendekatan untuk penjadwalan dan pengendalian

kegiatan proyek. Jalur kritis adalah urutan kegiatan yang membutuhkan waktu

terlama dan mendefinisikan total penyelesaian proyek. Pendekatan lain yang

dikembangkan untuk manajemen proyek PERT (Evaluasi Proyek dan Ulasan

Teknik). PERT diperkenalkan pada akhir 1950-an khusus untuk perencanaan,

penjadwalan, dan pengendalian proyek rudal Polaris.

Sedangkan Anderson, Sweeney, Williams, and Martin (2008:518)

menyatakan bahwa meskipun PERT dan CPM memiliki tujuan umum yang sama

dan memanfaatkan banyak terminologi yang sama, tetapi masing-masing teknik

yang digunakan dikembangkan secara mandiri. CPM dikembangkan untuk

kegiatan yang saat itu diketahui berupa proyek-proyek industri. Jadi hal signifikan

17
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
yang membedakan CPM dari PERT yaitu, CPM digunakan untuk

mengidentifikasi trade-off antara waktu dan biaya dalam berbagai kegiatan

proyek.

Selanjutnya Pinto (2010:285) juga menyatakan bahwa pada dasarnya

PERT dan CPM adalah sama. Hanya saja PERT menggunakan tiga estimasi

waktu, sedangkan CPM mengasumsikan waktu dalam nilai kostan. Pendapat ini

hampir sama dengan pendapat Handoko (2012:401) yang menyatakan bahwa

PERT dan CPM secara mendasar adalah sama. Kedua istilah tersebut dapat

digunakan dengan saling dapat dipertukarkan tanpa perbedaan konsep dasarnya.

Terakhir Heizer and Render (2011:95) meskipun PERT dan CPM berbeda untuk

beberapa hal, tetapi dalam terminologi dan dalam membangun jalur kritis, tujuan

mereka adalah sama. Selanjutnya, analisis yang digunakan dalam kedua teknik ini

sangat mirip satu sama lain.

[Link] Program Evaluation and Review Technique (PERT)


Evan dan Collier (2007:791) dalam buku Operations Management : An

Integrated Goods And Services Approach menjelaskan bahwa PERT dibuat pada

tahun 1958 untuk program rudal POLARIS oleh Program Evaluasi Cabang

Proyek Khusus kantor Angkatan Laut AS, dibantu oleh Lockheed Missile Divisi

Sistem dan perusahaan Konsultan Booz Allen &-Hamilton. Hasil perhitungan

begitu diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat melakukan penelitian pada

IBM Naval Ordinance Komputer (NORC) di Dahlgren, Virginia.

Menurut Tampubolon (2004:236) langkah-langkah dalam pembuatan

PERT adalah sebagai berikut :

18
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
1. Seluruh kegiatan proyek harus diidentifikasi dengan jelas.

2. Urutan antar kegiatan yang diperlukan harus ditetapkan.

3. Pembuatan diagram yang mencerminkan hubungan antar kegiatan sesuai

urutannya.

4. Perkiraan lama waktu setiap kegiatan.

5. Membuat evaluasi jaringan kerja dengan cara mengevaluasi jalur kritis dan

variable-variabel keputusan manajemen yang sama. Evaluasi tersebut

merupakan jadwal dan rencana untuk pengawasan berikutnya.

6. Perbaikan dan evaluasi ulang dapat dilakukan terhadap jadwal.

Anderson, Sweeney, Williams, and Martin (2008:518) mengatakan bahwa

“PERT was develop to handle uncertain activity times.” Dalam pendapat tersebut

mereka menjeleskan bahwa PERT dibuat untuk mengatasi masalah ketidakpastian

pada waktu. Pinto (2010:285) juga menjelaskan bahwa “Program Evaluation and

Review technique (PERT) is an event and probability based network analysis

system generally used in projects where activities and their durations are difficult

to define. PERT is often used in large programs where the projects involve

numerous organizations at widely different locations.”

Selanjutnya Stockhausen (2010) dalam jurnal Examining probabilities of

Completion to Time/Cost Tradeoff, a Critical Analysis of PERT/CPM Procedures

mengatakan bahwa PERT digunakan untuk menentukan peluang dalam

menyelesaikan sebuah proyek atau bahkan resiko yang harus diterima jika tidak

menyelesaikan proyek pada waktu sudah yang ditetapkan. Sedangkan menurut

Heizer and Render (2011:95) “PERT employs three time estimates for each

19
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
activity. These time estimates are used to compute expected values and standard

deviation for the activity.”

Terakhir menurut Handoko (2012:401-402) PERT merupakan suatu

metode analitik yang dirancang untuk membantu dalam scheduling dan

pengawasan kompleks yang memerlukan kegiatan-kegiatan tertentu yang harus

dijalankan dalam urutan tertentu, dan mungkin tergantung pada kegiatan-kegiatan

lain. Analisa jaringan kerja (network) ini secara umum sangat menolong dalam :

1. Perencanaan suatu proyek yang kompleks.

2. Scheduling pekerjaan-pekerjaan sedemikian rupa dalam urutan yang

praktis dan efisien.

3. Mengadakan pembagian kerja dari tenaga kerja dan dana yang tersedia.

4. Scheduling ulangan untuk mengatasi hambatan dan keterlambatan.

5. Menentukan “trade-off’” (kemungkinan pertukaran) antara “waktu” dan

“biaya”.

6. Menentukan probabilitas penyelesaian suatu proyek tertentu.

Menurut Evans and Collier (2007:792) di dalam PERT terdapat 3 estimasi

waktu yang digunakan untuk menghitung waktu masing-masing kegiatan,

diantaranya :

1. Optimistic Time (a) : waktu dimana semua kegiatan berjalan sesuai

rencana.

2. Most Probable Time (m) : waktu yang paling mungkin suatu aktivitas

berjalan pada kondisi normal.

20
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
3. Pessimistic Time (b) : waktu aktvitas bila terjadi kerusakan yang signifikan

dan/atau terjadi penundaan.

Hampir sama dengan pendapat Anderson, Sweeney, Williams, and Martin

(2008:529) yang menyatakan bahwa untuk memasukkan waktu aktivitas yang

pasti dalam analisis, kita perlu untuk mendapatkan tiga perkiraan waktu untuk

setiap kegiatan. Handoko (2012:403) juga menjelaskan bahwa dalam PERT

menggunakan tiga estimasi waktu penyelesaian suatu kegiatan. Estimasi ini

diperoleh dari orang-orang yang mempunyai kemampuan tentang pekerjaan yang

akan dilaksanakan dan berapa lama waktu pengerjaannya, tiga estimasi waktu

tersebut adalah :

1. Waktu optimistik (a) : waktu aktivitas minimum jika semuanya

berlangsung secara ideal.

2. Waktu yang paling mungkin (m) : waktu aktivitas yang paling mungkin

terjadi pada kondisi normal.

3. Waktu Pesimis (b) : waktu aktivitas maksimum penundaan yang signifikan

yang dihadapi.

Menurut Islam, Draghici, dan Uddin dalam jurnal Project Completion

Probability After Crashing PERT/CPM Network mengemukakan bahwa PERT

adalah sebuah teknik dalam manajemen yang digunakan untuk memperkirakan

peluang sebuah proyek akan selesai tepat pada waktunya.

[Link] Critical Path Method (CPM)


CPM ditemukan oleh MR Walker EI Du Pont de Nemours & Co dan JE

Kelly dari Remington Rand, sekitar tahun 1957. Perhitungan ini dirancang untuk

21
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
UNIVAC I-komputer. Tes pertama dilakukan pada tahun 1958, ketika itu CPM

diterapkan pada pembangunan pabrik kimia baru. Pada Maret 1959, metode ini

diterapkan untuk pemeliharaan shut-down di Du Pont, di Louisville, Kentucky,

dimana waktu yang tidak produktif diturunkan 125-93 jam. Berikut ini adalah

beberapa pendapat para ahli tentang CPM itu sendiri, yaitu :

Menurut Evans and Collier (2007) “The critical path method (CPM) is an

approach to scheduling and controlling project activities. The critical path is the

sequence of activity that takes the longest time and defines the total project

completion. CPM assumes that activity times are constant.” Anderson, Sweeney,

Williams, and Martin (2008:518) berpendapat bahwa “CPM offered the option of

reducing activity times by adding more workers and/or resources, usually at an

increased cost.”

Selanjutnya menurut Pinto (2010:285) “Critical Path Method (CPM) is a

network analysis technique used to determine which sequence of activities (which

path) has the least amount of scheduling flexibility (the last amount of float) and

therefore will most likely determine when the project can be completed.” Dalam

pendapat tersebut Pinto menjelaskan bahwa CPM adalah teknik analisis jaringan

yang digunakan untuk menentukan urutan aktivitas, jalur mana yang memiliki

waktu paling sedikit dari penjadwalan dan aktivitas-aktivitas mana yang bisa

ditunda pengerjaannya. Sedangkan Heizer and Render (2011:95) mengatakan

bahwa“CPM makes the assumptions that activity times are known with certainty

and hence requires only one time factor for each activity.” Yang mana CPM

mengetahui secara pasti waktu dari masing-masing aktivitas.

22
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
Raharja (2014) dalam jurnal Analisa Penjadwalan Proyek dengan Metode

PERT di PT HDP Yogyakarta pada Proyek Perumahan Tirta Sani mengemukakan

bahwa persoalan-persoalan perencanaan proyek pada umumnya timbul karena

ruang lingkup mengembangkannya dibatasi oleh kondisi yang serba terbatas dan

kelangkaan teknik serta prosedur yang cukup sistematis untuk merencanakan,

menjadwalkan, mengendalikan proyek serta mengevaluasinya. Salah satu sistem

yang berkembang dengan baik dari konsep Network Planning adalah Metode

Lintasan Kritis (CPM).

2.1.5 Key Terminology of PERT dan CPM

Berikut ini adalah hal-hal penting yang perlu diketahui dalam mendukung

metode PERT dan CPM.

[Link] Gantt Charts


Menurut Evans dan Collier (2007:784) gantt chart adalah alat yang sangat

berguna untuk menggambarkan sebuah jadwal. Gantt chart diambil dari nama

Henry L. Gantt, salah satu pelopor manajemen ilmiah. Grafik gantt

memungkinkan manajer proyek untuk tahu persis apa kegiatan harus dilakukan

pada waktu tertentu dan yang lebih penting, untuk memantau kemajuan harian

proyek sehingga tindakan korektif dapat diambil bila diperlukan.

Anderson, Sweeney, Williams, and Martin (2008:518) juga menyatakan

bahwa grafik gantt dapat digunakan sebagai alat untuk memantau kemajuan

pekerjaan dan untuk melihat beban pada workstation. Gantt chart membutuhkan

dua bentuk dasar, yaitu pekerjaan atau grafik kemajuan kegiatan dan grafik

23
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
workstation. Grafik kemajuan gantt chart menampilkan status setiap pekerjaan

atau kegiatan dibandingkan dengan tanggal penyelesaian yang sudah dijadwalkan.

A
B
C
A D
C E
T F
I G
T
H
Y
I
J
K
0 5 10 15 20 25
Time (Weeks)

Sumber : Evans dan Collier, 2011

Gambar 2.1 Gantt Chart

[Link] Network Diagrams and Approaches


Langkah pertama yang harus dilakukan dalam metode PERT dan CPM

adalah untuk membagi seluruh proyek menjadi kegiatan yang signifikan sesuai

dengan struktur rincian kerja. Ada dua pendekatan untuk menggambar jaringan

proyek, yaitu activity on node (AON) dan activity on arrow (AOA) (Heizer dan

Render, 2011).

[Link].1 Activity on Node (AON)


Evans dan Collier (2007:778) mengemukakan bahwa activity on node

(AON) menunjukan yang mana node adalah kegiatan atau aktivitas dalam proyek.

Pendapat ini hampir sama dengan pendapat Heizer and Render (2011:95) yang

24
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
juga menyatakan bahwa activity on node (AON) adalah diagram jaringan di mana

node sebagai penanda kegiatan.

Selain itu Pinto (2010:285) mengatakan bahwa “in methodology activity

on node, the node represent an activity and the path arrows demonstrate the

logical sequencing from node to node through the network.” Dalam pendapat

tersebut Pinto menjelaskan bahwa dalam AON node merupakan suatu kegiatan

dan panah menunjukan urutan logis dari node ke node melalui jaringan.

A adalah aktivitas sebelum


aktivitas B, dan B adalah
A B C
aktivitas sebelum aktivitas
C

A
Aktivitas A dan B harus
C
diselesaikan terlebih
dahulu sebelum memulai
B
aktivitas C

Sumber : Heizer & Render, 2011

Gambar 2.2 AON

[Link].2 Activity on Arrow (AOA)


Evans dan Collier (2007:778) mengemukakan bahwa activity on arrow

(AOA) menunjukan yang mana panah adalah kegiatan atau aktivitas dalam suatu

proyek. Pendapat tersebut hampir sama dengan pendapat Heizer and Render

25
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
(2011:995) yang juga menyatakan bahwa activity on arrow (AOA) adalah

diagram jaringan dimana panah sebagai penanda kegiatan.

Selanjutnya Pinto (2010:285) berpendapat bahwa “In the activity on arrow

method, the arrow represent the task, or activity, and the node significant a link

between events that suggests completion of one activity and potential to start the

next.” Dalam pendapat tersebut Pinto menjelaskan bahwa dalam AOA panah

merupakan suatu kegiatan dan node menunjukan hubungan antara peristiwa yang

secara signifikan menunjukan penyelesaian satu kegiatan dan potensi untuk

memulai kegiatan selanjutnya.

A B A adalah aktivitas sebelum


aktvitas B, dan B adalah
aktivitas sebelum aktivitas
C

A Aktivitas A dan B harus


C diselesaikan terlebih
dahulu sebelum memulai
B aktivitas C

Sumber : Heizer & Render, 2011

Gambar 2.3 AOA

[Link].3 Dummy Activity


Tampubolon (2004:235) mengatakan bahwa kegiatan dummy hanya

merupakan pemberitahuan berpindahnya suatu kejadian ke kejadian lain. Dummy

tidak mempunyai duration, karena tidak menggunakan input.

26
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
Menurut Heizer and Render (2011:96) “dummy activity is an activity

having no time that is inserted into network to maintain the logic of the network.”.

Dalam pendapat tersebut mereka berpendapat bahwa kegiatan semu adalah

kegiatan yang tidak memiliki waktu yang digambarkan ke dalam jaringan untuk

mempertahankan logika dalam jaringan tersebut.

Selanjutnya Handoko (2012:402) menyatakan bahwa kegiatan semu

(dummy activity) merupakan suatu kegiatan yang bukan kegiatan senyatanya.

Kegiatan semu ditunjukan dengan tanda panah putus-putus. Adapun kegunaannya

adalah untuk menunjukkan urutan pekerjaan yang lebih tepat bila suatu kegiatan

tidak secara langsung tergantung pada suatu kegiatan lain, menghindari diagram

jaringan kerja dimulai atau diakhiri oleh lebih dari satu peristiwa dan menghindari

terjadinya dua kejadian dihubungkan lebih dari satu kegiatan.

Aktivitas D tidak

dapat dimulai sebelum


C E aktivitas A dan B
A
diselesaikan. Aktivitas

C tidak dapat dimulai


B D F sebelum aktivitas A
diselesaikan. D adalah
aktivitas semu.

Sumber : Heizer & Render, 2011

Gambar 2.4 Dummy Activity

27
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
[Link].4 Activity

Evans dan Collier (2007:777) mendeskripsikan aktivitas sebagai pekerjaan

terpisah yang mengkonsumsi sumber daya dan waktu. Sedangkan Handoko

(2012:402) menyatakan bahwa kegiatan (activity) yaitu bagian dari keseluruhan

pekerjaan yang dilaksanakan, kegiatan mengkonsumsi waktu dan sumber daya

serta mempunyai waktu mulai dan waktu berakhirnya.

[Link].5 Event

Menurut Pinto (2010:285) “event is a point when an activity is either

started or completed. Often used the conjuction with AOA networks, events

consume no resources and have no time to completion associated with them”.

Handoko (2012:403) menyatakan bahwa peristiwa (event) menandai permulaan

dan akhir suatu kegiatan. Biasanya peristiwa digambarkan dengan suatu lingkaran

atau “nodes” dan juga diberi nomor. Dalam jaringan PERT, setiap kegiatan

menghubungkan dua peristiwa.

[Link].6 Predecessors

Hamilton (1997) menyatakan bahwa predecessor adalah aktivitas sebelum

atau yang mendahului aktivitas yang bersangkutan. Selanjutnya Evans dan Collier

(2007:777) mengatakan bahwa “immediate predecessors those activities that must

be completed immediately before an activity may star.” Selanjutnya Pinto

(2010:285) berpendapat bahwa “predecessors is those activities that must be

completed prior to initiation of a later activity in the network.” Dalam pendapat

tersebut Pinto menjelaskan bahwa kegiatan atau aktivitas pendahulu adalah

28
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
aktivitas-aktivitas yang harus selesai terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas

selanjutnya dalam jaringan.

[Link].7 Successors

Hamilton (1997) menyatakan bahwa successors/followers adalah semua

aktivitas sesudah atau yang terjadi setelah aktivitas yang bersangkutan. Sedangkan

Pinto (2010:285) berpendapat bahwa “successors is activities that cannot be

started until previous activities have been completed. These activities follow

predecessors tasks.” Dimana dalam pendapat tersebut Pinto mengatakan bahwa

aktivitas pengikut atau selanjutnya addalah aktivitas-aktivitas yang tidak dapat

dimulai pengerjaannya sampai aktivitas-aktivitas sebelumnya sudah diselesaikan.

Aktivitas-aktivitas ini mengikuti aktivitas pendahulu.

[Link].8 Early Start Date (ES)

Menurut Anderson, Sweeney, Williams, and Martin (2008:521)

menyatakan bahwa earliest time adalah waktu yang paling awal untuk suatu

kegiatan. Waktu mulai paling awal untuk kegiatan adalah sama dengan yang

terbesar dari waktu selesai paling awal untuk semua pendahulunya.

Selanjutnya Pinto (2010:285) mengemukakan bahwa “early start date is

the earlies possible date on which the uncompleted portions of an activity (or the

project) can start, based on the network logic and any schedule constraints. Early

dates can change as the project progresses and changes are made to the project

plan.” Dalam pendapat tersebut Pinto menjelaskan bahwa tanggal awal mulai

adalah tanggal awal yang paling mungkin suatu aktivitas dapat dimulai

berdasarkan logika jaringan dan berbagai kendala dalam jadwal proyek. Tanggal

29
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
awal aktivitas dapat berubah sesuai progress proyek maupun perubahan rencana

dalam proyek tersebut.

Handoko (2012:404) mengatakan bahwa earliest start time (ES) adalah

waktu paling awal/tercepat suatu kegiatan dapat dimulai, dengan memperhatikan

waktu kegiatan yang diharapkan dan persyaratan urutan pengerjaan.

[Link].9 Early Finish (EF)

Anderson, Sweeney, Williams, and Martin (2008:521) menyatakan bahwa

earliest finish time (EF) adalah waktu selesai paling awal untuk suatu kegiatan

(EF = ES + t). Penyataan yang hampir sama juga dikemukakan oleh Handoko

(2012:404) yang menyatakan bahwa earliest finish time (EF) adalah waktu paling

awal suatu kegiatan dapat diselesaikan (EF = ES + t). Selain itu Heizer dan

Render (2011:101) juga berpendapatyang sama bahwa earliest finish (EF) adalah

waktu awal dimana suatu kegiatan dapat diselesaikan.

[Link].10 Late Start (LS)

Anderson, Sweeney, Williams, and Martin (2008:522) menyatakan bahwa

latest start is latest start time an activity (LS = LF – t). Dalam pendapat tersebut

mereka menjelaskan bahwa waktu paling lama adalah waktu paling lama suatu

kegiatan dapat dimulai. Menurut Pinto (2010:285) “late start date is the latest

possible date that an activity may begin without delaying a specified milestone

(usually the project finish date).” Dimana maksudnya adalah tanggal paling lama

adalah tanggal paling lama kemungkinan suatu proyek dapat dimulai tanpa

menunda tanggal selesai proyek.

30
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
Selanjutnya Handoko (2012:404) menyatakan bahwa latest start time (LS)

adalah waktu paling lambat untuk dapat memulai suatu kegiatan tanpa penundaan

keseluruhan proyek. Sedangkan menurut Heizer and Render (2011:101) latest

start adalah waktu paling lama sebuah aktivitas dapat dimulai pelaksanaannya

tanda menunda waktu keseluruhan proyek.

[Link].11 Late Finish (LF)

Anderson, Sweeney, Williams, and Martin (2008:524) menyatakan bahwa

latest finish time (LF) adalah waktu paling akhir selesai yang terkecil dari waktu

mulai terbaru untuk semua kegiatan yang segera mengikuti kegiatan tersebut.

Menurut Handoko (2012:404) latest finish time (LF) adalah waktu paling lambat

untuk dapat menyelesaikan suatu kegiatan tanpa penundaan penyelesaian proyek

secara keseluruhan, dimana (LF = LS + t). Selanjutnya Heizer dan Render

(2011:101) mengemukakan bahwa latest finish (LF) adalah waktu paling lama

sebuah aktivitas dapat diselesaikan tanpa memperpanjang waktu penyelesaian

proyek.

[Link].12 Slack/Float

Menurut Anderso Sweeney, Williams, and Martin (2008:522) “slack is the

length of time an activity can be delayed without increasing the project

completion time.” (Slack = LS – ES = LF – EF). Selanjutnya Pinto (2010:285)

mengemukakan bahwa “float is the amount of time an activity may be delayed

from its early start without delaying the finish of the project. Float is

mathematical calculation and can change as the project progresses and changes

are made in the project plan. Float is the difference between the late start date

31
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
and the early start date.” Dalam pendapat tersebut Pinto menjelaskan bahwa float

adalah jumlah waktu kegiatan dapat ditunda dari awal tanpa menunda

penyelesaian proyek. Float adalah perhitungan matematis dan dapat berubah

sesuai jalannya proyek dan perubahan yang dibuat dalam rencana proyek. Float

adalah perbedaan waktu mulai dan berakhir suatu proyek (LS - ES).

Selain itu Handoko (2012:412) menjelaskan bahwa Slack merupakan

waktu suatu kegiatan dapat ditunda mulainya tanpa menunda proyek secara

keseluruhan. Slack biasanya digunakan untuk jaringan yang disusun berdasarkan

peristiwa, sedangkan float bila disusun berdasarkan kegiatan.

[Link].13 Critical Path

Badri (1997) menyatakan bahwa lintasan kritis adalah lintasan yang paling

menentukan waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan. Sedangkan Menurut

Seoharto (1999) kritis (critical path) dibuat melalui aktivitas-aktivitas yang

jumlah waktu pelaksanaannya paling lama.

Selanjutnya Anderson, Sweeney, Williams, and Martin (2008:519)

berpendapat bahwa untuk menentukan waktu penyelesaian proyek, kita harus

menganalisis jaringan tersebut dan mengidentifikasi apa yang disebut jalur kritis

untuk jaringan. Jalan terpanjang ini menentukan total waktu yang dibutuhkan

untuk menyelesaikan proyek tersebut, jika kegiatan di jalan terpanjang tertunda

maka seluruh proyek akan tertunda. Dengan demikian, jalan terpanjang adalah

jalur kritis.

Evans dan Collier (2007:780) menjelaskan bahwa lintasan kritis (critichal

path) adalah rangkaian kegiatan yang mengambil waktu yang paling lama serta

32
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
yang menentukan total waktu penyelesaian proyek. Selain itu Pinto (2010:285)

mengatakan bahwa jalur kritis adalah jalur melalui jaringan proyek dengan durasi

terpanjang. Jalur kritis dapat berubah dari waktu ke waktu sebagai kegiatan yang

selesai dan maju atau kegiatan yang tertinggal dari jadwal jadwal. Kegiatan jalur

kritis memiliki paling sedikit float dalam proyek. Terakhir Handoko (2012:407)

menyatakan bahwa jalur kritis (critical path) adalah jalur terpanjang pada network

dan waktunya menjadi waktu penyelesaian minimum yang diharapkan untuk

masing-masing alternatif.

[Link] Crashing Activity Times

Salah satu manfaat dari PERT dan CPM adalah kemampuan untuk

mempertimbangkan mempersingkat kegiatan waktu dengan menambahkan

sumber daya tambahan untuk kegiatan yang dipilih dan dengan demikian

mengurangi keseluruhan waktu penyelesaian proyek. Hal ini sering disebut

sebagai "crashing”.

Evans dan Collier (2007:788) mengemukakan bahwa crashing proyek

mengacu pada menurunkan total waktu untuk menyelesaikan proyek demi

memenuhi tenggat waktu yang sudah diperbaiki. Yang terdiri dari :

 Crash Time : waktu sesingkat mungkin kegiatan dapat diselesaikan secara

realistis.

 Crash Cost : biaya tambahan jumlah yang terkait dengan penyelesaian.

Sedangkan Anderson, Sweeney, Williams, and Martin (2008:536)

menyatakan bahwa mempersingkat satu waktu aktivitas biasanya dapat dicapai

dengan menambahkan sumber daya. Hal ini disebut sebagai crashing. Untuk

33
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
menentukan dimana dan berapa banyak crash activity times, kita memerlukan

informasi tentang seberapa banyak setiap aktivitas yang bisa di crashed dan

berapa banyak crashing process costs.

2.1.6 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Jenis Nama Judul Methodology Hasil

Penelitian

1. Research Khurana CPM Analysis Network Ditemukan


Journal of Sunita dan of Rolai – Analysis, jaringan kerja
Mathematical Banerjee Rinjlai Road
CPM, yang paling
and Statistical Snigdha Construction
Sciences. Vol Crashing cost, efektif setelah
1(20), 7-5, slope dilakukan
March (2013)
percepatan waktu
dan biaya
2. Proceedings of Mckenna Examining PERT membantu
The National Stockhausen Probabilities
Conference On of Completion PERT/CPM menemukan
Undergraduate to Time/Cost
waktu proyek,
Research Tradeoff, A
(NCUR), April Critical sedangkan CPM
(2010) Analysis of
PERT/CPM membantu
procedures
menganalisa

tradeoff waktu

dan biaya

3. International Thaeir Fuzzy PERT PERT/CPM, Menemukan total


Journal of Ahmed For Project
Advances in Saadoon Al Management Fuzzy Logic biaya minimum
Engineering & Samman dan
untuk
Technique. Vol Ramadan M.
7, Issue 4. Sept Ramo Al menyelesaikan
(2014) Brahemi
proyek, dan

34
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
membantu

menyelesaikan

aktivitas di jalur

kritis

4. International Siddharth Application of PERT/CPM Membantu dalam


Journal of Chatwal Project menentukan
Advanced Scheduling In
waktu optimum
research in A Bottling
Engineering and Startup Using dan
Applied PERT/CPM menyelesaikan
Sciences. Vol 3. Techniques
aktivitass dalam
No 6. June
(2014) jalur kritis
5. The Paritosh Analysis and PERT/CPM Membantu
International Tamrakar Improvement menentukan waku
Journal of by the
dalam
Engineering and Application of
Sciences. Vol 2. Network penjadwalan
Issue 1. January Analysis proyek
(2013). (PERT/CPM)
6. Journal M. Nazrul Project PERT/CPM, Dengan PERT
International of Islam, Eugen completion Algorithmic dapat diktahui
PERT/CPM Draghici, Probability
kemungkinan
and M Sharif After Crashing
Uddin PERT/CPM proyek dapat
Network diselesaikan tepat
waktu dengan
beberapa pilihan.
7. International Omar M. A Linear PERT/CPM, Membantu
Journal of Elmabrouk programming Linear menentukan
Engineering & Technique for
Programing berapa banyak
Technology the
IJET-IJENS. Optimization masing-masing
Vol 11. No 01. of the aktivitas dapat
February (2011). Activities in
dilakukan
Maintenance
Project percepatan
dengan biaya
proyek yang
minimal.
8. Jurnal Teknik Christian, STUDI PERT/CPM PERT membantu
Sipil Cefiro, dan KASUS mendapatkan
Sentosa PENERAPAN

35
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
METODE perhitungan
PADA durasi pekerjaan
PROYEK
gudang 32
GUDANG X
minggu
9. Jurnal Teknologi Dadang Implementasi PERT/CPM Implementasi
Informasi dan Syarif Critical Path CPM membuat
Telematika. Vol Sihabudin Method dan
waktu
5. Desember Sahid PERT
(2012) Analysis Pada penyelesaian
Proyek Global proyek lebih cepat
Technology
5 minggu dari
for Local
Community yang
direncanakan,
tetapi
memberikan jalur
kritis yang lebih
banyak.
Implementasi
PERT
menghasilkan
waktu
penyelesaian lebih
lama
dibandingkan
dengan CPM
tetapi dengan
jalur kritis lebih
sedikit

10. Jurnal Bentang. Iwan Implementasi PERT/CPM Diketahui


Vol 2. No 1. Raharja Penjadwalan besarnya waktu
Januari (2014) Proyek
yang dibutuhkan,
Dengan
Metode PERT dengan terjadi
di PT. Hasana efisiensi waktu
Damai Putra
Yogyakarta
Pada Proyek
Perumahan
Tirta Sani
Sumber : Penulis, 2015

36
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
2.1.7 Kerangka Pemikiran

Penelitian ini diawali dengan mengevaluasi kebijakan perusahaan dalam

perencanaa, penjadwalan, dan pengkoordinasian dari kelima segment yang ada

dalam proyek Pembanguna New Surabaya Cement Terminal Road and Drainage.

Setelah mengetahui penjadwalan aktivitas dalam proyek ini, tahap berikutnya

adalah melakukan analisis sumber daya seperti biaya, para pekerja, peralatan, dan

material yang akan digunakan selama proyek tersebut berlangsung. Kemudian

dilakukan analisis proyek dengan menggunakan metode CPM. Langkah pertama

yang dilakukan adalah mengidentifikasi daftar aktivitas dan aktivitas yang

menjadi predeccessors serta durasi dari setiap aktivitas, lalu digambarkan diagram

jaringan kerja menggunakan Activity on Arrow (AOA) untuk mengetahui berapa

banyak jalur kritis yang ada, setelah itu dilakukan analisa ES, LS, EF, dan LF

sehingga dapat diketahui aktivitas yang berada di jalur kritis (critical path) dan

aktivitas yang memiliki kelonggaran waktu pelaksanaan (float), kemudian

menentukan aktivitas dalam jalur kritis mana yang akan dilakukan percepatan

berdasarkan aktivitas dengan biaya percepatan waktu yang paling kecil.

Selanjutnya mengidentifikasi rencana anggaran biaya dan penggunaan biaya

aktual dalam pelaksanaan proyek, serta menghitung penambahan biaya dari

aktivitas-aktivitas yang dilakukan percepatan waktu. Tahap terakhir adalah

melakukan perbandingan total biaya sebelum dan sesudah dilakukan percepatan

waktu pada. Dari kelima segment ini, dua diantaranya tidak dilakukan percepatan

waktu karena dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan.

Kerangka pemikiran operasional penelitian ini terdapat pada gambar di bawah ini.

37
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015
Daftar Aktivitas, Predecessors, dan
Durasi

Gambar Diagram Jaringan Kerja

Analisa ES, LS, EF, LF

Percepatan Waktu Aktivitas

Crash Cost berdasarkan Crash Activity

Rencana Anggaran Biaya

Biaya Aktual

RAB, Total Biaya, dan Biaya Percepatan

Menghitungan Perbandingan Total RAB


dan Biaya Aktual Sebelum dan Sesudah
Percepatan

Sumber : Penulis, 2015

Gambar 2.5 Kerangka Pemikiran

38
Analisis Pelaksanaan..., Livia Walesasi, FB UMN, 2015

Anda mungkin juga menyukai