BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Perilaku Konsumen
A. Definisi Perilaku Konsumen
Perilaku Konsumen merupakan proses pengambilan keputusan & kegiatan
fisik yang dilakukan individu dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan /
menghabiskan barang & jasa. Menurut Griffin dalam Sopiah dan Sangadji
(2013:8), perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses
psikologi yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika
membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal- hal
diatas atau kegiatan mengevaluasi.
Menurut American Marketing Association atau disingkat AMA (Sunyoto,
2013:2) mendefenisikan bahwa perilaku konsumen (consumer behaviour) sebagai
interaksi dinamis antara pengaruh dan kognisi, perilaku dan kejadian di sekitar kita
di mana manusia melakukan aspek dalam hidup mereka. Menurut Sopiah dan
Sangadji (2013:9) menyimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah:
1. Disiplin ilmu yang mempelajari perilaku individu, kelompok atau
organisasi dan proses-proses yang digunakan konsumen untuk menyeleksi,
menggunakan produk, pelayanan, pengalaman (ide) untuk memuaskan
kebutuhan dan keinginan konsumen, dan dampak dari proses-proses
tersebut pada konsumen dan masyarakat.
2. Tindakan yang dilakukan oleh konsumen guna mencapai dan
memenuhi kebutuhannya baik dalam penggunaan, pengonsumsian, dan
penghabisan barang dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului
dan yang menyusul.
3. Tindakan atau perilaku yang dilakukan konsumen yang dimulai dengan
merasakan adanya kebutuhan dan keinginan, kemudian berusaha
mendapatkan produk yang diinginkan, mengonsumsi produk tersebut, dan
berakhir dengan tindakan-tindakan pasca pembelian, yaitu perasaan puas
atau tidak puas.
B. Ruang Lingkup Kajian Perilaku Konsumen
Pemikiran mengenai ruang lingkup kajian perilaku konsumen (Rini
Dwiastuti, 2013:12) terdiri atas :
1). Tingkatan unit analisis yang terdiri atas :
a. Masyarakat
b. Segmen Pasar
c. Organisasi
d. Individu
Menurut Solomon dalam Dwiastuti (2013:12) tingkatan unit analisis
perilaku konsumen terdiri atas 5 tipe yaitu :
a) Konsumen di pasar
Konsumen memahami hal-hal yang terjadi dalam pasar saat ini yang
berkaitan dengan perilaku konsumen (misalnya : perubahan harga, inflasi,
dll.)
b) Konsumen sebagai Individu
Konsumen sebagai individu yang terdiri dari :
Persepsi (menciptakan pemahaman oleh Individu itu sendiri terkait
perilaku konsumen)
Pembelajaran dan Memory (mengetahui hal-hal positif maupun
negatif dari perilaku konsumen)
Nilai dan Motivasi (mengetahui makna adanya tingkatan-
tingkatan dalam perilaku konsumen)
Kepribadian dan Gaya Hidup (gaya hidup mempengaruhi
kepribadian masing- masing individu dalam perilaku konsumen)
Komunikasi interaktif (komunikasi antar 2 individu yang
memiliki makna tersendiri)
c) Konsumen sebagai pengambilan keputusan terdiri dari keputusan
individu Pengambilan keputusan masing-masing Individu
mempengaruhi Perilaku Konsumen yang terjadi dalam suatu pasar.
d) Konsumen dan budaya yang terdiri dari pendapatan dan kelas sosial,
etnik, rasial, kebudayaan, serta agama Berbagai macam tingkatan kelas
sosial, etnik, rasial, kebudayaan, maupun agama menjadi faktor pembeda
dalam perilaku konsumen itu sendiri.
e) Konsumen dan budaya yang terdiri dari Culture Influences dalam
perilaku konsumen
Pengaruh budaya (Culture Influences) dalam perilaku konsumen memiliki
peran tersendiri dalam tingkatan perilaku konsumen.
2). Arah kajian perilaku konsumen terdiri atas :
a. Kajian perilaku konsumen yang digunakan sebagai dasar
pengembangan strategi pemasaran. Dalam penerapan lebih lanjut kajian ini
membutuhkan alat analisis, salah satunya berupa analisis SWOT yang
dikaitkan pula dengan bidang ilmu lainnya seperti manajemen, manajemen
strategi, pemasaran hasil pertanian dan lain sebagainya.
b. Evaluasi strategi pemasaran yang sudah dimiliki perusahaan / organisasi
dikaitkan dengan kajian perilaku konsumen sehingga perusahaan dapat
terus meningkatkan kinerjanya di mata konsumen.
c. Gabungan dari arah kajian perilaku konsumen sebagai dasar pengembangan
strategi pemasaran dan kajian perilaku konsumen yaitu proses yang
dilakukan konsumen baik individu maupun organisasi dalam rangka
mendapatkan suatu produk melalui tahapan kognisi dan afeksi dan aspek
eksternal yang berakibat konsumen melakukan tindakan apakah membeli
atau tidak membeli suatu produk, sekaligus tindakan setelah pembelian
produk tersebut. Arah kajian perilaku konsumen tersebut dapat digunakan
untuk mengembangkan maupun mengevaluasi strategi pemasaran.
2.1.2. Keputusan Pembelian Konsumen
A. Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian
Kotler (2012:173), perilaku konsumen dalam membeli sangat dipengaruhi
oleh faktor-faktor kebudayaan, sosial, pribadi, dan psikologi. Berikut penjelasan
lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
pembelian oleh konsumen.
1. Faktor Kebudayaan
a) Kebudayaan
Kebudayaan adalah faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang yang
paling mendasar. Jika makhluk yang paling rendah perilakunya sebagian besar
diatur oleh naluri, maka perilaku manusia sebagian besar adalah dipelajari.
b) Sub-budaya
Setiap budaya mempunyai kelompok-kelompok sub-budaya yang lebih
kecil, yang merupakan identifikasi dan sosialisasi yang khas untuk perilaku
anggotanya.
c) Kelas sosial
Sebenarnya semua masyarakat manusia menampilkan lapisan-lapisan sosial.
Lapisan-lapisan sosial ini kadang-kadang berupa sebuah sistem kasta dimana
para anggota kasta yang berbeda memikul peranan tertentu dan mereka tak
dapat mengubah keanggotaan kastanya. Kelas sosial mempunyai ciri-ciri, yaitu
orang berada dalam setiap kelas sosial cenderung berperilaku serupa daripada
orang yang berasal dari dua kelas sosial yang berbeda dan seseorang dipandang
mempunyai pekerjaan yang rendah atau tinggih sesuai dengan kelasnya, serta
kelas sosial seseorang dinyatakan dengan beberapa variabel seperti jabatan,
pendapatan, kekayaan, pendidikan dan orientasi terhadap nilai, daripada hanya
berdasarkan sebuah variabel. Kelas sosial menunjukan perbedaan pilihan
produk dan merek dalam suatu bidang tertentu seperti pakaian, perabot rumah
tangga, aktivitas waktu senggang dan mobil.
2. Faktor Sosial
a) Kelompok Referensi
Perilaku seseorang amat dipengaruhi oleh berbagai kelompok. Sebuah
kelompok referensi bagi seseorang adalah kelompok-kelompok yang
memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan
perilaku seseorang.
b) Keluarga
Para anggota keluarga dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku
pembeli. Keluarga dalam kehidupan pembeli dapat juga disebutkan dengan
keluarga sebagai sumber orientasi yang terdiri dari orang tua, dimana dari orang
tua seseorang dapat sumber orientasi terhadap agama, politik, ekonomi, ambisi
pribadi, harga diri serta cinta kasih. Sedangkan sebagai sumber keturunan yakni
pasangan-pasangan suami istri beserta anak-anaknya. Keluarga adalah
organisasi konsumen pembeli yang terpenting dalam masyarakat.
c) Peranan dan Status
Sepanjang kehidupannya, seseorang terlibat dalam beberapa kelompok, yakni
keluarga, klub dan organisasi, dimana kedudukan seseorang dalam
kelompok dapat ditentukan dengan peranan dan status.
3. Faktor Pribadi
a) Usia dan Tahap Daur Hidup
Orang membeli suatu barang dan jasa yang berubah-ubah selama
hidupnya, mereka makan makanan bayi pada waktu tahun-tahun awal
kehidupannya, memerlukan makanan paling banyak pada waktu meningkat
besar dan menjadi dewasa serta memerlukan diet khusus pada waktu menginjak
usia lanjut. Selera orang dalam pakaian, perabot, dan rekreasi berhubungan
dengan usia.
b) Pekerja
Pola konsumsi seseorang juga dipengaruhi oleh pekerjaannya, dimana seseorang
pekerja kasar akan membeli pakaian kerja, sepatu kerja, kotak makanan.
Sedangkan seorang manajer perusahaan akan membeli pakaian yang lebih baik
dan mahal serta rekreasi dengan pesawat terbang, dan menjadi anggota suatu
perkumpulan.
c) Keadaan Ekonomi
Keadaan ekonomi seseorang akan besar sekali pengaruhnya terhadap pilihan
produk. Keadaan ekonomi seseorang terdiri dari pendapatan yang dapat
dibelanjakan (tingkatan, kestabilannya, dan pola waktu), tabungan dan milik
kekayaan (termasuk presentase yang sudah diuangkan) kemampuan meminjam
dan sikapnya terhadap pengeluaran lawan menabung.
d) Gaya hidup
Gaya hidup seseorang adalah pola hidup seseorang dalam dunia kehidupan
sehari- hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapat (opini) yang
bersangkutan. Gaya hidup mencerminkan sesuatu yang lebih dari sub-
budaya kelas sosial, bahkan dari pekerjaan yang sama mungkin memiliki gaya
hidup yang berbeda, misalnya dengan gaya hidup yang serasi dengan
lingkungan, dalam mengenakan pakaian yang konservatif, menghabiskan
sebagian waktunya bersama keluarga, aktif dalam kegiatan organisasi,
kebiasaan bekerja keras.
e) Kepribadian dan Konsep Diri
Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda yang akan mempengaruhi
perilaku pembeli, dimana kepribadian tersebut adalah ciri-ciri psikologis yang
membedakan seseorang, yang menyebabkan terjadinya jawaban yang secara
relatif tetap dan bertahan lama terhadap lingkungannya. Kepribadian seseorang
biasanya digambarkan dalam istilah seperti : percaya diri, gampang
mempengaruhi, berdiri sendiri, menghargai orang lain, bersifat sosial, sifat
membela diri.
4. Faktor Psikologis
a) Motivasi
Motif (dorongan) adalah suatu kebutuhan yang cukup kuat mendesak untuk
mengarahkan seseorang agar dapat mencari pemuasan terhadap kebutuhan itu,
dimana pemuasan kebutuhan dapat mengurangi rasa ketegangan.
b) PersepsI
Seseorang yang termotivasi siap untuk melakukan suatu perbuatan, bagaimana
seseorang yang termotivasi berbuat sesuatu adalah dipengaruhi oleh persepsinya
terhadap situasi yang dihadapinya. Dua orang yang mengalami keadaan
dorongan yang sama dan tujuan situasi yang sama mungkin akan berbuat
sesuatu yang agar berbeda karena mereka menanggapi situasi secara berbeda.
c) Belajar
Sewaktu orang berbuat, mereka belajar-belajar menggambarkan perubahan
dalam perilaku seseorang individu yang bersumber dari pengalaman.
Kebanyakan perilaku manusia diperoleh dengan mempelajarinya.
d) Kepercayaan dan Sikap
Melalui perbuatan dan belajar, orang memperoleh kepercaaan dan sikap dimana
hal ini selanjutnya mempengaruhi tingkah laku membeli mereka, dimana suatu
kepercayaan adalah suatu gagasan deskriptif yang dianut oleh seseorang tentang
sesuatu.
B. Definisi Keputusan Pembelian Konsumen
Philip Kotler (2012:161) mengemukakan keputusan pembelian adalah
perilaku yang timbul karena adanya rangsangan atau hubungan dari pihak lain.
Menurut Kotler dan Keller (2016:188), ada 5 (lima) tahap yang dilalui konsumen
dalam proses pembelian, yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi
alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian, berikut
penjelasannya:
Tahapan Proses Keputusan Pembelian
Pengenalan Pencarian Evaluasi Perilaku
Keputusan Pasca
Masalah Informasi Alternatif Pembelian Pembelian
Sumber : Kotler dan Keller (2016:188)
1) Pengenalan Masalah
Proses pembelian diawali dengan adanya masalah / kebutuhan yang
dirasakan oleh konsumen. Konsumen mempersepsikan perbedaan antara
keadaan yang diinginkan dengan situasi saat ini guna membangkitkan dan
mengaktifkan proses keputusan.
2) Pencarian Informasi
Setelah konsumen merasakan adanya kebutuhan akan suatu barang atau
jasa, selanjutnya konsumen mencari informasi baik yang disimpan dalam
ingatan (internal) maupun informasi yang didapat dari lingkungan (eksternal).
Sumber- sumber informasi konsumen terdiri dari:
Sumber pribadi: keluarga, tetangga, kenalan
Sumber niaga/ komersial: iklan, tenaga penjual, kemasan,dan
pemajangan
Sumber umum: media massa dan organisasi konsumen
Sumber pengalaman: pemeriksaan, penggunaan produk
3) Evaluasi Alternatif
Setelah informasi diperoleh, konsumen mengevaluasi berbagai alternatif
pilihan dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
4) Keputusan Pembelian
Konsumen yang telah melakukan pilihan terhadap berbagai alternatif
biasanya membeli produk yang paling disukai yang membentuk suatu
keputusan untuk membeli. Ada 3 (tiga) faktor yang menyebabkan timbulnya
keputusan untuk membeli yaitu:
Sikap orang lain: keluarga, tetangga, teman, orang kepercayaan, dll.
Situasi tak terduga: harga, pendapatan keluarga, manfaat yang
diharapkan.
Faktor yang dapat diduga: faktor situasional yang dapat diantisipasi
oleh konsumen.
5) Perilaku Pasca Pembelian
Kepuasaan atau ketidakpuasan konsumen terhadap suatu produk atau jasa
akan berhubungan terhadap perilaku pembelian berikutnya. Jika konsumen
puas, kemungkinan besar konsumen tersebut akan melakukan pembelian ulang
begitu juga sebaliknya. Ketidakpuasan konsumen terjadi jika konsumen
mengalami penghargaan yang tidak terpenuhi sehingga sangat penting bagi
perusahaan untuk dapat memberikan pelayanan terbaik.
2.1.3. Kualitas Produk
A. Definisi Kualitas
Kualitas merupakan totalitas fitur dan karakteristik suatu produk atau jasa
yang menanggung kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan secara langsung
(tampak) atau tersirat. Hal ini jelas merupakan definisi yang berpusat pada
pelanggan. Kita bisa mengatakan bahwa setiap penjual memberikan suatu kualitas
setiap kali produk atau jasa yang ditawarkannya memenuhi atau melampaui
harapan pelanggan.
Tjiptono dan Sunyoto (2012) mengatakan bahwa Kualitas merupakan
sebuah kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses,
dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Sunyoto (2012) menyatakan bahwa kualitas merupakan suatu ukuran
untuk menilai bahwa suatu barang atau jasa telah mempunyai nilai guna seperti
yang dikehendaki atau dengan kata lain suatu barang atau jasa dianggap telah
memiliki kualitas apabila berfungsi atau mempunyai nilai guna seperti yang
diinginkan.
B. Definisi Produk
Menurut Kotler dan Keller (2016 : 325) Produk adalah segala sesuatu yang
dapat ditawarkan ke pasar untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan, termasuk
barang fisik, jasa, pengalaman, peristiwa, orang, tempat, properti, organisasi,
informasi, dan ide-ide.
Produk didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada
pasar agar menarik perhatian, akuisisi, penggunaan, atau konsumsi yang dapat
memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan (Kotler dan Amstrong, 2014 : 248).
Menurut Stanton (2014) Produk secara sempit dapat diartikan sebagai
sekumpulan atribut fisik yang secara nyata terkait dalam sebuah bentuk dapat
diidentifikasikan. Sedangkan secara luas, produk merupakan sekumpulan atribut
yang nyata dan tidak nyata yang didalamnya mencakup warna, kemasan, harga,
prestige pengecer, dan pelayanan dari pabrik dan pengecer yang mungkin
diterima oleh pembeli sebagai sebuah hal yang dapat memberikan kepuasan atas
keinginannya.
Menurut Lupiyoadi (2013 : 92) Produk merupakan keseluruhan konsep
objek atau proses yang memberikan sejumlah nilai kepada konsumen. Perlu
diperhatikan dalam produk adalah konsumen tidak hanya membeli fisik dari
produk saja, tetapi membeli manfaat dan nilai dari produk tersebut yang disebut
“the offer”.
Menurut Kotler dan Keller (2016:390) produk memiliki 5 tingkatan,
diantaranya :
1) Manfaat Inti (Core Benefit)
Layanan atau manfaat yang benar-benar dibutuhkan oleh pelanggan.
2) Produk Dasar (Basic Product)
Pemasar harus mengubah manfaat inti menjadi produk dasar.
3) Produk yang Diharapkan (Expected Product)
Seperangkat atribut dan ketentuan yang biasanya diharapkan
pembeli saat mereka membeli suatu produk.
4) Produk Tambahan (Augmented Product)
Pemasar menyiapkan sebuah produk tambahan yang melebihi
harapan pelanggan.
5) Produk Potensial (Potential Product)
Meliputi semua kemungkinan augmentasi dan transformasi suatu
produk atau penawaran di masa depan.
Klasifikasi produk menurut Kotler dibagi menjadi 2 yaitu :
a) Menurut Wujudnya yang terdiri dari
Barang yaitu produk berwujud fisik yang bisa dilihat dan disentuh.
Jasa yaitu tidak berwujud fisik namun merupakan suatu aktivitas,
manfaat, dan kepuasan yang dapat dijual / dikonsumsi pihak lain.
b) Berdasarkan Daya Tahan yang terdiri dari :
Barang tidak tahan lama (non-durable goods) ADALAH Barang
yang habis dikonsumsi satu atau beberapa kali pemakaian. Contoh :
Roti, Sabun
Barang tahan lama (durable goods) ADALAH Barang yang bisa
bertahan lama dengan banyak pemakaian. Contoh : Lemari, Meja
Klasifikasi Produk menurut Tjiptono terbagi menjadi 2 yaitu :
a) Barang Konsumen
Convenience Goods adalah Barang yang sering dibeli yang
umumnya dapat ditemui dalam kehidupan sehari- hari. Contoh :
Pasta Gigi, Shampoo
Shopping Goods adalah Barang yang dibeli dengan proses
pemilihan dan pembeliannya dibandingkan dengan berbagai
alternatif yang tersedia (membeli dengan membandingkan). Contoh :
Baju, Celana, Sepatu
Specialty Goods adalah Barang yang memiliki karakteristik merek
yang unik & konsumen bersedia melakukan usaha khusus / ekstra
untuk membelinya / memilikinya. Contoh : Mobil Mewah, Barang
Antik
Unshought Goods adalah Barang yang tidak diketahui oleh
konsumen dan jika diketahui maka belum tentu tertarik untuk
membelinya. Contoh : Batu Nisan
b) Barang Industri
Material & Part adalah Barang yang seluruhnya / sepenuhnya masuk
ke produk yang terbagi menjadi 2 kelas yaitu produk jadi dan produk
suku cadang (bahan baku).
Capital Items adalah Barang tahan lama yang memberi kemudahan
dalam mengembangkan produk yang sudah jadi. Contoh : Barang
Modal (Uang)
Supplies & Services adalah Barang tidak tahan lama atau jasa yang
memberi kemudahan dalam mengelola produk yang sudah jadi.
Contoh : Penyuplai Jasa (supplier)
C. Definisi Kualitas Produk
Menurut Kotler dan Amstrong (2014:121) Kualitas Produk adalah
kemampuan suatu produk untuk melaksanakan fungsinya, meliputi daya tahan,
keandalan, ketepatan, kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai
lainnya. Kualitas produk merupakan hal penting yang harus diusahakan oleh
setiap perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat bersaing dipasar untuk
memuaskan kebutuhan dan keininan konsumen. Pendapat ini menyatakan kualitas
produk adalah karakteristik suatu produk atau jasa yang menunjang
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan.
Kualitas produk merupakan pemahaman bahwa produk merupakan
peluang yang ditawarkan oleh penjual yang mempunyai nilai jual lebih yang tidak
dimiliki oleh produk pesaing. Oleh karena itu, perusahaan berusaha memfokuskan
pada kualitas produk dan membandingkannya dengan produk yang ditawarkan oleh
perusahaan pesaing.
D. Indikator Kualitas Produk
Menurut Garvin yang dikutip oleh Tjiptono (2012 : 121) kualitas produk
memiliki indikator-indikator yaitu sebagai berikut :
1) Kinerja
Berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan
karakterisitik utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli
barang tersebut. Misalnya bahan baku yang digunakan dalam produk tersebut
serta cara pembuatan / prosedur pembuatan produk tersebut.
2) Fitur
Karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi produk
atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk. Misalnya desain
kemasan yang menarik pada produk sehingga membuat konsumen akan tertarik
untuk membeli dan mengonsumsi produk tersebut.
3) Kesesuaian dengan spesifikasi
Sejauh mana karakteristik desain dan operasi dasar dari sebuah produk
memenuhi standar dan spesifikasi tertentu dari konsumen yang telah ditetapkan
sebelumnya serta ditemukan atau tidak ditemukannya cacat pada suatu produk.
Misalnya apakah produk tersebut sudah sesuai standar BPOM dan sudah
tersetifikasi halal oleh MUI.
4) Ketahanan
Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan.
Misalnya seperti berapa lama masa kadaluwarsa / umur pemakaian produk yang
dikonsumsi / digunakan serta bagaimana penyimpanan produk yang baik dan
benar jika tidak dikonsumsi / digunakan di hari yang sama.
5) Keandalan
Persepsi pelanggan terhadap keandalan produk yang dinyatakan dengan
kualitas produk yang diproduksi oleh perusahaan. Misalnya penggunaan
bahan baku khusus dalam pembuatan produk yang tidak ditemukan di
perusahaan pesaing lainnya (contoh : susu nabati dalam pembuatan pudding) .
6) Serviceability
Meliputi penanganan keluhan terhadap suatu produk. Pelayanan yang
diberikan terdiri dari adanya pelayanan Customer Service dan tanggapan
keluhan / saran melalui E-mail atau Social Media perusahaan yang
bersangkutan.
7) Estetika
Daya tarik produk yang berhubungan dengan bagaimana penampilan
produk bisa dilihat dari tampak, rasa, aroma, dan bentuk serta desain yang
artistik pada kemasan warna dari suatu produk.
8) Kualitas yang dipersepsikan
Merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau
keunggulan suatu produk, citra dan reputasi produk serta tanggung jawab
perusahaan tersebut terhadap konsumennya. Karena kurangnya pengetahuan
pembeli akan atribut atau ciri-ciri produk yang akan dibeli, maka pembeli
mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, iklan, reputasi perusahaan,
maupun negara pembuatnya.
2.1.4. Lokasi
A. Definisi Lokasi
Lokasi merupakan letak toko atau pengecer pada daerah yang strategis
sehingga dapat memaksimumkan laba. Memilih lokasi berdagang merupakan
keputusan penting untuk bisnis yang harus membujuk pelanggan untuk datang ke
tempat bisnis dalam pemenuhan kebutuhannya. Pemilihan lokasi mempunyai
fungsi yang strategis karena dapat ikut menentukan tercapainya tujuan badan
usaha. Lokasi dalam hubungannya dengan pemasaran adalah tempat yang khusus
dan unik dimana lahan tersebut dapat digunakan untuk berbelanja. Fleksibilitas
sebuah lokasi merupakan ukuran sejauh mana sebuah usaha mampu bereaksi
terhadap situasi perekonomian yang berubah.
Menurut Levy dan Weitz (2014:213) lokasi merupakan perencanaan dan
pelaksanaan program penyaluran produk atau jasa melalui tempat atau lokasi yang
tepat. Levy dan Weitz (2014:185) mengatakan bahwa pemilihan lokasi sangat
penting dalam industri ini dikarenakan:
a) Lokasi merupakan faktor utama yang menjadi pertimbangan konsumen
dalam pemilihan toko atau penyedia jasa yang mereka inginkan.
b) Pemilihan lokasi merupakan hal yang penting karena faktor ini bisa
digunakan untuk menciptakan keunggulan kompetitif yang mapan.
c) Pemilihan Lokasi sangat beresiko. Lokasi atau tempat tidak hanya
merepresentasikan suatu kemudahan yang akan didapat oleh konsumen.
B. Karakteristik Lokasi
Dalam memilih suatu lokasi harus dipertimbangkan banyak hal. Ada
beberapa karakteristik dari lokasi yang bisa mempengaruhi penjualan dari suatu
toko atau retail, menurut Levy & Weitz (2014:212), yaitu :
1) Arus lalu lintas dan aksesibilitas
Salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan penjualan dalam toko
yaitu arus lalu lintas yang memadai. Ketika arus lalu lintas mudah
terjangkau, maka semakin banyak konsumen yang akan tertarik untuk
mengunjungi toko tersebut. Retailer sering menggunakan perhitungan
ukuran suatu lalu lintas untuk menilai ketertarikan suatu lokasi.
Perhitungan tersebut bermanfaat untuk perusahaan tertentu seperti
supermarket, plaza / mall dan juga tempat pencucian mobil. Namun
tidak semuanya menggunakan arus lalu lintas sebagai suatu ketertarikan
terhadap lokasi seperti lokasi untuk pelabuhan.
2) Tempat parker
Jumlah dan kualitas suatu fasilitas parkir merupakan hal kritis untuk
evaluasi terhadap tempat perbelanjaan. Di satu sisi, jika tempat parkir
tidak memadai atau jauh dari lokasi toko, maka kemungkinan kecil
pelanggan akan mau mengunjungi toko tersebut. Di sisi lainnya, jika
terlalu banyak lapangan terbuka, maka terkesan seperti toko yang tidak
populer. Aturan standard tempat parkir yaitu 5,5 spaces per 1.000 meter
persegi untuk toko retail dan 10-15 spaces per 1.000 meter persegi
untuk supermarket.
3) Visibilitas
Visibilitas mengacu pada kemampuan pelanggan untuk melihat suatu
toko dari ujung jalan. Visibilitas yang baik dianggap kurang penting bagi
toko-toko dengan basis pelanggan yang mapan dan setia (loyal), tetapi
sebagian besar retailer menginginkan pandangan secara langsung dan
tanpa hambatan pada toko mereka. Di daerah dengan populasi yang
sangat transien, seperti pusat wisata atau kota besar, jarak pandang yang
baik dari suatu jalan merupakan hal yang sangat penting.
4. Penyewa yang berdekatan
Lokasi dengan pelengkap yaitu penyewa lokasi yang berdekatan memicu
pembangunan arus lalu lintas yang baik. Retailer pelengkap menargetkan
segmen pasar yang sama tetapi mempunyai penawaran produk non-
competing yang berbeda.
5. Pembatasan dan biaya
Retailer bisa saja menempatkan pembatasan pada jenis penyewaan pusat
perbelanjaan yang diizinkan dalam perjanjian sewa mereka. Beberapa
pembatasan ini dapat membuat pusat perbelanjaan lebih menarik bagi
Retailer.
C. Indikator Lokasi
Menurut Santoso dan Widowati dalam Gugun (2015 : 16) variabel lokasi
lebih memakai indikator berikut :
1) Keterjangkauan lokasi
2) Kelancaran akses menuju lokasi
3) Kedekatan lokasi
Indikator lokasi menurut Tjiptono dalam Kuswatiningsih (2016:15) yaitu
sebagai berikut :
a) Ekspansi
Tersedianya tempat yang cukup luas apabila ada perluasan di kemudian
hari. Seperti penambahan cabang outlet / stand di daerah jabodetabek maupun
diluar jabodetabek.
b) Lingkunga
Daerah sekitar yang mendukung produk yang ditawarkan. Sebagai contoh,
stand / outlet berdekatan dengan daerah pondokan, asrama, kampus,
sekolah, perkantoran, dan sebagainya.
c) Persaingan
Sebagai contoh, dalam menentukan stand / outlet perlu dipertimbangkan
apakah di jalan atau daerah yang sama terdapat stand / outlet pesaing yang
serupa.
d) Peraturan Pemerintah
Misalnya ketentuan yang melarang stand / outlet berlokasi terlalu
berdekatan dengan pemukiman penduduk atau tempat ibadah.
2.1.5. Citra Merek
A. Definisi Citra Merek
Keterkaitan konsumen pada suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi
pada banyak pengalaman atau penampakkan untuk mengkomunikasikannya
sehingga akan terbentuk citra merek (brand image). Citra merek yang baik akan
mendorong untuk meningkatkan volume penjualan dan citra perusahaan.
Citra merek dapat dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul di benak
konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu. Asosiasi tersebut secara
sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu yang dikaitkan
pada merek tertentu, sama halnya ketika kita berpikir mengenai orang lain.
Citra Merek adalah jenis asosiasi yang muncul di benak konsumen ketika
mengingat sebuah merek tertentu (Shimp, 2013:39). Dari sebuah produk dapat lahir
sebuah brand jika produk itu menurut persepsi konsumen mempunyai keunggulan
fungsi (functional brand), menimbulkan asosiasi dan citra yang diinginkan
konsumen dan membangkitkan pengalaman tertentu saat konsumen berinteraksi
dengannya (experiental brand).
Citra produk dan makna asosiasi brand dikomunikasikan oleh iklan dan
media promosi lainnya, termasuk public relation dan event sponsorship. Iklan
dianggap mempunyai peran terbesar dalam mengkomunikasikan citra sebuah
brand dan sebuah brand image juga dapat dibangun hanya menggunakan iklan yang
menciptakan asosiasi dan makna simbolik yang bukan merupakan ekstensi dari
fitur produk.
B. Indikator Citra Merek
Biel, 2004 dalam Sulistyari (2012:4) menyebutkan bahwa terdapat
indikator-indikator yang membentuk brand image, antara lain adalah :
a) Citra Korporat
Citra korporat merupakan citra yang ada dalam perusahaan itu sendiri.
Perusahaan sebagai organisasi berusaha membangun imagenya dengan
tujuan tak lain agar nama perusahaan ini bagus, sehingga akan
mempengaruhi segala hal mengenai apa yang dilakukan oleh perusahaan
tersebut.
b) Citra Produk
Citra konsumen terhadap suatu produk yang dapat berdampak positif
maupun negatif yang berkaitan dengan kebutuhan, keinginan, dan harapan
konsumen. Image dari produk dapat mendukung terciptanya sebuah brand
image atau citra dari merek tersebut.
c) Citra Pemakai
Citra pemakai dapat dibentuk langsung dari pengalaman dan kontak
dengan pengguna merek tersebut. Manfaatnya adalah nilai pribadi
konsumen yang diletakkan terhadap atribut dari produk atau layanan yaitu
apa yang konsumen pikir akan mereka dapatkan dari produk atau layanan
tersebut.
Menurut Shimp, 2009 dalam Bastian (2014:2), citra merek diukur dari 3
hal, yaitu :
a) Atribut
Atribut adalah ciri-ciri atau berbagai aspek dari merek yang diiklankan.
Atribut juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu hal-hal yang tidak
berhubungan dengan produk (contoh : harga, kemasan,pengguna, citra
penggunaan), dan hal-hal yang berhubungan dengan produk (contoh :
warna, ukuran, desain).
b) Manfaat
Manfaat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
Fungsional, yaitu manfaat yang berusaha menyediakan solusi
bagi masalah- masalah konsumsi atau potensi permasalahan
yang dapat dialami oleh konsumen, dengan mengasumsikan
bahwa suatu merek memiliki manfaat spesifik yang dapat
memecahkan masalah tersebut.
Simbolis, yaitu diarahkan pada keinginan konsumen dalam
upaya memperbaiki diri, dihargai sebagai anggota suatu
kelompok, afiliasi, dan rasa memiliki.
Pengalaman, yaitu konsumen merupakan representasi dari
keinginan mereka akan produk yang dapat memberikan rasa
senang, keanekaragaman, dan stimulasi kognitif.
c) Evaluasi keseluruhan
Evaluasi keseluruhan, yaitu nilai atau kepentingan subjektif dimana
konsumen menambahkannya pada hasil konsumsi. Ukuran yang menjadi
pertimbangan konsumen dalam memilih atau menilai citra merek adalah
merek harus memiliki kesan positif dibidangnya, reputasi tinggi, dan
keunggulan mudah dikenali. Citra dipengaruhi oleh banyak faktor yang di
luar kontrol perusahaan. Citra yang efektif akan berpengaruh terhadap
tiga hal yaitu : Pertama, memantapkan karakter produk dan usulan nilai.
Kedua, menyampaikan karakter itu dengan cara yang berbeda sehingga
tidak dikacaukan dengan karakter pesaing. Ketiga, memberikan kekuatan
emosional yang lebih dari sekadar citra mental. Supaya bisa berfungsi citra
harus disampaikan melalui setiap sarana komunikasi yang tersedia dan
kontak merek.
Indikator citra merek menurut Keller (2013:97) yaitu :
a) Brand Identity (Identitas Merek)
b) Brand Personality (Personalitas Merek)
c) Brand Association (Asosiasi Merek)
d) Brand Attitude dan Behavior (Sikap dan Perilaku Merek)
e) Brand Benefit and Competence (Manfaat dan Keunggulan Merek)
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan suatu sumber yang dijadikan acuan dalam
melakukan penelitian. Penelitian terdahulu yang digunakan berasal dari jurnal dan
skripsi dengan melihat hasil penelitianya dan akan dibandingkan dengan
penelitian selanjutnya dengan menganalisa berdasarkan keadaan dan waktu yang
berbeda, adapun ringkasan penelitian terdahulu akan dijabarkan pada tabel di
bawah ini.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
N NAMA DAN
VARIABEL HASIL
O JUDUL
Variabel keragamanproduk
berpengaruh signifikan secara
independen :
Liliana Dewi, Wihan individual terhadap variabel
Keragaman dan
Sindarko (2018) keputusan pembelian konsumen
Kualitas
Pengaruh Keragaman Cherie
Produk
1 dan Kualitas Produk Variabel kualitas produk
Dependen :
Terhadap Keputusan berpengaruh signifikan secara
Keputusan
Pembelian Konsumen individual terhadap variabel
Pembelian
La Cherie keputusan pembelian konsumen
Konsumen
La Cherie
Puspitasari, Dian Eka,
Welly Nailis (2018) independen :
Pengaruh Lokasi dan Lokasi dan Citra Secara simultan maupun secara
Citra Merek Terhadap Merek parsial Lokasi dan Citra Merek
Keputusan Pembelian dependen : berpengaruh positif dan
2
Konsumen (Studi Keputusan signifikan terhadap Keputusan
Kasus Pada Pembelian Pembelian pada Konsumen
Konsumen KFC Konsumen KFC Dermaga Point Palembang
Dermaga Point
Palembang)
Citra merek memiliki pengaruh
Mohammad Rizan,
yang positif dan signifikan
Basrah Saidani,
independen : terhadap loyalitas merek Teh
Yusiyana Sari (2012)
Brand Image dan Botol Sosro
Pengaruh Brand
3 Brand Trust Kepercayaan merek memiliki
Image dan Brand
dependen : pengaruh yang positif dan
Trust Terhadap Brand
Brand Loyalty signifikan terhadap loyalitas
Loyalty Teh Botol
merek Teh Botol Sosro
Sosro
4 Suci Dwi Puspita, independen : Harga dan citra merek
Taslim, Anita Fitriani Harga, Kualitas berpengaruh secara nyata
(2014)
Pengaruh Harga,
terhadap keputusan pembelian
Kualitas Produk, dan Produk DAN
Yoghurt Youjell
Citra Merek Terhadap Citra Merek
Kualitas produk tidak
Keputusan Pembelian dependen :
mempengaruhi secara nyata
Yoghurt (Survey pada Keputusan
terhadap keputusan pembelian
Konsumen Yoghurt Pembelian
Yoghurt Youjell
Youjell PT. Insan
Muda Berdikari)
Ferdy Zoel
Kurniawan (2012)
independen : Secara parsial maupun simultan
Pengaruh Harga,
Harga, Produk, variabel harga, produk, lokasi
Produk, Lokasi dan
Lokasi, dan dan pelayanan berpengaruh
Pelayanan Terhadap
5 Pelayanan positif dan signifikan terhadap
Keputusan Pembelian
dependen : keputusan pembelian di Soto
Pada Soto Angkring
Keputusan Angkring “Mas Boed” Spesial
“Mas Boed” Spesial
Pembelian Ayam Kampung Semarang
Ayam Kampung
Semarang
C. Kerangka Pemikiran
ROTI QUEN
KUALITAS LOKASI CITRA MEREK
PRODUK
KEPUTUSAN
PEMBELIAN
UJI KUALITAS DATA
CV
UJI KLASIK
UJI HIPOTESIS
UJI REGRESI LINIER
BERGANDA
UJI KOEFISIEN
DETERMINASI
KESIMPULAN DAN
SARAN
2.4. Hipotesis
Hipotesis dapat terbukti dan tidak terbukti setelah didukung oleh fakta-fakta dari
hasil penelitian lapangan.
Ho 1 : Tidak ada pengaruh signifikan antara variabel Kualitas Produk terhadap
keputusan pembelian konsumen.
Ha 1 : Ada pengaruh signifikan antara variabel Kualitas Produk terhadap keputusan
pembelian konsumen.
Ho 2 : Tidak ada pengaruh signifikan antara variabel Lokasi terhadap keputusan
pembelian konsumen.
Ha 2 : Ada pengaruh signifikan variabel Lokasi terhadap keputusan pembelian
konsumen.
Ho 3 : Tidak ada pengaruh signifikan antara variabel Citra Merek terhadap
keputusan pembelian konsumen.
Ha 3 : Ada pengaruh signifikan antara variabel Citra Merek terhadap keputusan
pembelian konsumen.
Ho 4 : Tidak ada pengaruh signifikan antara variabel Kualitas Produk, Lokasi, dan
Citra Merek terhadap keputusan pembelian konsumen secara simultan.
Ha 4 : Ada pengaruh signifikan antara variabel Kualitas Produk, Lokasi, dan Citra
Merek terhadap keputusan pembelian konsumen secara simultan.