PROMOTOR Jurnal Mahasiswa Kesehatan Masyarakat
Vol. 4 No. 1, Februari 2021
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN
ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTA BOGOR TAHUN 2019
Enih Maryanih1, Husnah Maryati2, Indira Chotimah3
1Mahasiswa Konsentrasi Manajemen Pelayanan Kesehatan, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu
Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun Bogor. Jl. K.H Sholeh Iskandar Raya Km. 2, Kedung Badak, Bogor 16162, Jawa
Barat. Email : enih@[Link]
2Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun Bogor. Jl. K.H
Sholeh Iskandar Raya Km. 2, Kedung Badak, Bogor 16162, Jawa Barat. Email : husnah@[Link]
3Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun Bogor. Jl. K.H
Sholeh Iskandar Raya Km. 2, Kedung Badak, Bogor 16162, Jawa Barat. Email : [Link]@[Link]
Abstrak
ASI Eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi
berumur nol sampai enam bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang Faktor -
Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Mekarwangi
Kota Bogor Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan populasi berjumlah
796 bayi dari data di wilayah kerja Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor pada bulan oktober
2019. Teknik sampling yang di gunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 89
responden. Alat pengumpulan data berupa kuesioner, dan teknik analisa data menggunakan
cross sectional. Dari hasil penelitian terhadap 89 responden didapatkan faktor yang
mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif yaitu adanya faktor usia 59 responden (66,3%),
faktor pendidikan 59 responden (66,3%), faktor pekerjaan 71 responden (79,8%), faktor
penghasilan 48 responden (53,9%), faktor pengetahuan 58 responden (65,2%), faktor sikap
58 responden (65,2%), faktor perilaku 61 responden (68,5%), dan faktor riwayat pemberian
ASI 85 responden (95,5%). Hasil penelitian merekomendasi untuk penelitian selanjutnya
diharapkan menindak lanjuti faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif.
Kata kunci :ASI Eksklusif, makanan dan minuman tambahan, Teknik sampling.
PENDAHULUAN
Angka Kematian Bayi menurut Sustainanble Depelovment Goals (SDGs) tahun 2015
berjumlah 40 per 1000 kelahiran hidup dan masih menempati peringkat ke-4 tertinggi
kematian bayi se- ASEAN. Angka kematian bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi dalam
usia 28 hari pertama kehidupan per 1.000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan RI, 2015)
Penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia adalah kematian neonatal dan dua pertiga dari
kematian neonatal adalah pada satu minggu pertama dimana daya imun bayi masih sangat
rendah. Angka kematian bayi yang cukup tinggi dapat dihindari dengan pemberian air susu
ibu (ASI).
Banyak penelitian yang dilakukan, tehnologi canggih digunakan, namun tindakan
preventif yang paling ampuh dilakukan untuk menyelamatkan bayi-bayi Indonesia adalah
melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan memberikan ASI eksklusif (Moascara, 2011).
Beberapa faktor yang menyebabkan bayi tidak diberikan ASI dengan baik. Faktor tersebut
47
[Link]
adalah faktor karakteristik ibu, faktor bayi, lingkungan, dukungan keluarga, pendidikan
kesehatan, sosial ekonomi dan budaya (Budiharjo, 2013).
Pengetahuan, sikap, dan motivasi ibu masih menjadi faktor-faktor utama perilaku
pemberian ASI eksklusif. Selain itu, dukungan keluarga baik orang tua, mertua, dan suami,
serta dukungan tenaga kesehatan masih menjadi faktor eksternal penting dalam pemberian
ASI secara eksklusif. Saya menyajikan temuan dari sejumlah riset yang menjelaskan
rendahnya cakupan ASI eksklusif tersebut.
Pemberian ASI eksklusif berarti hanya menjadikan ASI sebagai makanan bayi hingga
usia 6 bulan, tanpa tambahan apapun, termasuk air minum dan susu formula. Namun dalam
keadaan mendesak, diperbolehkan memberi vitamin, mineral, dan obat-obatan kepada bayi.
Selain itu, terdapat kondisi medis tertentu, baik pada ibu maupun bayi, yang
memperbolehkan pemberian susu formula untuk memenuhi nutrisi bayi. Sifat ASI yang kaya
nutrisi dan mencegah bayi dari gizi buruk dan stunting telah diketahui oleh sebagian besar
ibu. Terutama yang bekerja sebagai tenaga kesehatan. Selain memiliki pengetahuan yang baik,
umumnya tenaga kesehatan memiliki sikap yang positif terhadap ASI eksklusif. Namun,
penelitian di Kota Bandar Lampung pada 2017 menunjukkan bahwa tidak semua tenaga
kesehatan, hanya 57,4%, memberikan ASI secara eksklusif
kepada bayinya, Pemberian ASI eksklusif tidak hanya mengandalkan pengetahuan dan
sikap positif. Ketersediaan fasilitas dan waktu untuk memberikan ASI pada bayi menjadi hal
lain yang perlu dipertimbangkan. Besarnya campur tangan keluarga dalam perawatan bayi
juga mempengaruhi ibu dalam praktik pemberian ASI eksklusif ini.
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ASI adalah air susu ibu yang
diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan tanpa menambahkan dan/atau
mengganti dengan makanan atau minuman lain. UNICEF menyatakan bahwa sebanyak 30.000
kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian balita di dunia pada setiap tahunnya, bisa
dicegah dengan pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan sejak tanggal kelahirannya
tanpa harus memberikan makanan dan minuman tambahan kepada bayi. UNICEF, Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan merekomendasikan bahwa bayi
disusui segera setelah lahir dan tidak diberi makanan apapun selain ASI selama 6 bulan
pertama kehidupan, tidak diberikan air, ataupun makanan lain, hanya ASI saja. Dari 6 bulan
hingga setidaknya 2 tahun, ASI harus tetap diberikan bersama dengan makanan pendamping
ASI yang aman dan bergizi. Namun di Indonesia, meskipun sejumlah perempuan sebesar 96%
menyusui anak mereka dalam kehidupan mereka, hanya 42% dari bayi yang berusia di bawah
6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif. Pada saat anak-anak mendekati ulang tahunnya
yang ke dua, hanya 55% yang masih diberi ASI.
Cakupan program ASI eksklusif di Indonesia sangat fluktuatif. Data Survey Demografi
Indonesia (SDKI) 1997-2007 menyebutkan bahwa prevalensi ASI eksklusif turun dari 40,2%
menjadi 39,5% pada tahun 1997 dan 32% pada tahun 2007, hasil laporan sementara hasil
Survey Demografi Indonesia tahun 2012 sebesar 42% dan tahun 2013 hanya mencapai
32,2%. Kesadaran para ibu untuk memberikan Air Susu Ibu (ASI) Esklusif di Kota Bogor
masih rendah. Hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bogor mengungkapkan dari
sekitar 9.000 ibu-ibu menyusui di kota itu, hanya 20% yang menyusui anaknya tanpa
memberikan makanan lainnya pada usia 6 bulan pertama sang bayi.
48
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian
cross sectional yaitu
HASIL PENELITIAN
Hasil Analisis Univariat Analisis univariat pada penelitian terdiri dari karakteristik
responden, Pengetahuan, Sikap, studi yang mempelajari prevalensi, distribusi, maupun hubungan
umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, ekonomi dengan pemberian ASI Eksklusif (faktor
penelitian) dengan cara mengamati status pemberian ASI Eksklusif, atau karakteristik terkait
kesehatan lainnya, secara serentak pada individu-individu dari suatu populasi pada satu saat
(Notoatmodjo, 2010). Data kuantitatif dilakukan dengan metode survei, yaitu melalui kuesioner
sebagai instrumen utama penelitian. Rancangan penelitian ini digunakan untuk mengetahui factor-
faktor yang mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Mekarwangi Kota
Bogor Tahun 2019.
Perilaku, Riwayat Pemberian ASI.
Karakteristik responden Analisis univariat dari karakteristik responden meliputi nomor
responden, umur responden, pendidikan terakhir responden, pekerjaan responden, jumlah
keseluruhan anak, jumlah bayi, usia anak terakhir dan penghasilan responden.
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia
Usia Frekuensi %
20-25 tahun 59 66,3
26-30 tahun 30 33,7
Total 89 100
Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa umur responden lebih banyak yang berusia 20-25 tahun
yaitu berjumlah 59 responden (66,3%), sedangkan responden yang berusia 26-30 tahun
berjumlah 30 responden (33,7%).
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan
Pendidikan Frekuensi %
SD 2 2,2
SLTP 12 13, 5
SLTA 59 66,3
Perguruan tinggi 16 18,0
Total 89 100
Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa pendidikan terakhir responden lebih banyak
pendidikan SLTA yaitu berjumlah 59 responden (66,3%), sedangkan pendidikan perguruan
tinggi berjumlah 16 responden (18,0%), pendidikan SLTP berjumlah 12 responden (13,5%),
dan pendidikan SD berjumlah 2 responden (2,2%).
49
Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Frekuensi %
Tidak Bekerja 71 79,8
Bekerja 18 20,2
Total 89 100
Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa berdasarkan pekerjaan responden lebih banyak Tidak
Bekerja yaitu berjumlah 71 responden (79,8%), sedangkan responden yang Bekerja
berjumlah 18 responden (20,2%).
Tabel 4 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anak
Jumlah anak Frekuensi %
1-2 83 93,3
3-4 6 6,7
Total 89 100
Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa jumlah anak lebih banyak 1-2 yaitu berjumlah 83
responden (93,3%), dan jumlah anak 3-4 berjumlah 6 responden(6,7%).
Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Bayi
Jumlah bayi Frekuensi %
1 86 96,6
2 3 3,4
Total 89 100
Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa jumlah bayi lebih banyak 1 yaitu berjumlah 86
responden (96,6%), dan jumlah bayi 2 Berjumlah 3 responden (3,4%).
Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Anak Terakhir
Usia anak terakhir Frekuensi %
0-6 bulan 21 23,6
7 bulan- 1 tahun 12 13,5
>1 tahun 56 62,9
Total 89 100
Berdasarkan tabel 5.13 diketahui bahwa usia anak terakhir lebih banyak >1 tahun yaitu
berjumlah 56 responden (62,9%), sedangkan usia anak terakhir 0-6 bulan berjumlah 21
responden (23,6%), dan usia anak terakhir 7 bulan-1 tahun berjumlah12 responden (13,5%).
Tabel 7. Distribusi Responden Berdasarkan Penghasilan
Penghasilan Frekuensi %
Tidak Mampu 9 10,1
Mampu 80 89,9
Total 89 100
50
Berdasarkan tabel 7 diketahui bahwa berdasarkan penghasilan responden lebih banyak yang
Mampu yaitu berjumlah 80 responden (89,9%), sedangkan yang Tidak Mampu yaitu
berjumalh 9 responden (10,1).
Variabel Independen
Tabel 8. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan
Pengetahan Frekuensi %
Kurang baik 31 34,8
Baik 58 65,2
Total 89 100
Berdasarkan tabel 8 Diketahui bahwa pengetahuan responden lebih banyak yang baik yaitu
berjumlah 58 responden (65,2%), dan pengetahuan responden yang kurang baik berjumlah
31 responden (34,8%).
Tabel 9. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap
Sikap Frekuensi %
Kurang baik 31 34,8
Baik 58 65,2
Total 89 100
Berdasarkan tabel 9 diketahui bahwa sikap responden lebih banyak yang baik yaitu
berjumlah 58 responden (65,2%), dan sikap responden yang kurang baik berjumlah 31
responden (34,8%).
Tabel 10. Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku
Perilaku Frekuensi %
Kurang baik 28 31,5
Baik 61 68,5
Total 89 100
Berdasarkan tabel 10 diketahui bahwa perilaku responden lebih banyak yang baik yaitu
berjumlah 61 responden (68,5%), dan perilaku responden yang kurang baik berjumlah 28
responden (31,5%).
51
Variabel Dependen
Tabel 11. Distribusi Responden Berdasarkan Riwayat Pemberian ASI
Riwayat pemberian ASI Frekuensi %
Tidak 4 4,5
Ya 85 95,5
Total 89 100
Berdasarkan tabel 11 diketahui bahwa riwayat pemberian ASI lebih banyak yang menjawab
ya yaitu berjumlah 85 responden (95,5%), dan riwayat pemberian ASI yang menjawab tidak
berjumlah 4 responden (4,5%).
- Analisis Bivariat
Analisis bivariat pada penelitian ini terdiri dari hubungan umur dengan riwayat
pemberian asi, hubungan pendidikan dengan riwayat pemberian asi, hubungan pekerjaan
dengan riwayat pemberian asi, hubungan penghasilan dengan riwayat pemberian asi,
hubungan pengetahuan dengan riwayat pemberian asi, hubungan sikap dengan riwayat
pemberian asi, dan hubungan perilaku dengan riwayat pemberian asi.
Dapat diketahui bahwa hubungan umur terhadap riwayat pemberian asi adalah
sebanyak 59 responden yang berumur 20-25 tahun yaitu sebanyak 57 responden yang
memberikan asi dan 2 responden tidak memberikan asi. Sedangkan umur terhadap riwayat
pemberian asi adalah sebanyak 30 responden yang berumur 26- 30 tahun yaitu sebanyak 28
responden yang memberikan asi dan 2 responden yang tidak memberikan asi.
Dari hasil uji statistik maka diperoleh nilai Pvalue = 0,601 sehingga nilai p > α (0,05),
maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak sehingga tidak ada hubungan
antara umur dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang berumur 20-25 tahun dan
tidak ada hubungan antara umur dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang
berumur 26- 30 tahun.
Dapat diketahui bahwa hubungan pendidikan terhadap riwayat pemberian asi adalah
sebanyak 2 responden yang berpendidikan SD yaitu sebanyak 2 responden yang memberikan
asi dan 0 responden tidak memberikan asi. Hubungan pendidikan terhadap riwayat
pemberian asi adalah sebanyak 12 responden yang berpendidikan SLTP yaitu sebanyak 11
responden yang memberikan asi dan 1 responden tidak memberikan asi. Hubungan
pendidikan terhadap riwayat pemberian asi adalah sebanyak 59 responden yang
berpendidikan SLTA yaitu sebanyak 59 responden yang memberikan asi dan 0 responden
tidak memberikan [Link] pendidikan terhadap riwayat pemberian asi adalah
sebanyak 16 responden yang berpendidikan perguruan tinggi yaitu sebanyak 13 responden
yang memberikan asi dan 3 responden yang tidak memberikan asi.
Dapat diketahui bahwa hubungan pekerjaan terhadap riwayat pemberian asi adalah
sebanyak 18 responden yang bekerja yaitu sebanyak 16 responden yang memberikan asi dan
2 responden tidak memberikan asi. Sedangkan pekerjaan terhadap riwayat pemberian asi
adalah sebanyak 71 responden yang tidak bekerja yaitu sebanyak 69 responden yang
memberikan asi dan 2 responden yang tidak memberikan asi.
52
Dari hasil uji statistik maka diperoleh nilai Pvalue = 0,181 sehingga nilai p > α (0,05),
maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak sehingga tidak ada hubungan
antara pekerjaan dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang bekerja dan tidak ada
hubungan antara pekerjaan dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang tidak
bekerja.
Dapat diketahui bahwa hubungan penghasilan terhadap riwayat pemberian asi adalah
sebanyak 80 responden yang mampu yaitu sebanyak 76 responden yang memberikan asi dan
4 responden tidak memberikan asi. Sedangkan penghasilan terhadap riwayat pemberian asi
adalah sebanyak 9 responden yang tidak mampu yaitu sebanyak 9 responden yang
memberikan asi dan 0 responden yang tidak memberikan asi.
Dari hasil uji statistik maka diperoleh nilai Pvalue = 1,000 sehingga nilai p > α (0,05),
maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak sehingga tidak ada hubungan
antara penghasilan dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang mampu dan tidak
ada hubungan antara penghasilan dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang tidak
mampu.
Dapat diketahui bahwa hubungan pengetahuan terhadap riwayat pemberian asi adalah
sebanyak 58 responden yang berpengetahuan baik yaitu sebanyak 54 responden yang
memberikan asi dan 4 responden tidak memberikan asi. Sedangkan pengetahuan terhadap
riwayat pemberian asi adalah sebanyak 31 responden yang berpengetahuan kurang baik
yaitu sebanyak 31 responden yang memberikan asi dan 0 responden yang tidak memberikan
asi.
Dari hasil uji statistik maka diperoleh nilai Pvalue = 0,293 sehingga nilai p > α (0,05),
maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak sehingga tidak ada hubungan
antara pengetahuan dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang berpengetahuan
baik dan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan riwayat pemberian ASI pada
responden yang berpengetahuan kurang baik.
Dapat diketahui bahwa hubungan sikap terhadap riwayat pemberian asi adalah
sebanyak 58 responden yang bersikap baik yaitu sebanyak 55 responden yang memberikan
asi dan 3 responden tidak memberikan asi. Sedangkan sikap terhadap riwayat pemberian asi
adalah sebanyak 31 responden yang bersikap kurang baik yaitu sebanyak 30 responden yang
memberikan asi dan 1 responden yang tidak memberikan asi.
Dari hasil uji statistik maka diperoleh nilai Pvalue = 1,000 sehingga nilai p > α (0,05),
maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak sehingga tidak ada hubungan
antara sikap dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang bersikap baik dan tidak ada
hubungan antara sikap dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang bersikap kurang
baik.
Dapat diketahui bahwa hubungan perilaku terhadap riwayat pemberian asi adalah
sebanyak 61 responden yang berperilaku baik yaitu sebanyak 61 responden yang
memberikan asi dan 0 responden tidak memberikan asi. Sedangkanperilaku terhadap riwayat
pemberian asi adalah sebanyak 28responden yang berperilaku kurang baik yaitu sebanyak 24
responden yang memberikan asi dan 4 responden yang tidak memberikan asi.
Dari hasil uji statistik maka diperoleh nilai Pvalue = 0,008 sehingga nilai p < α (0,05),
maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima sehingga ada hubungan antara
53
perilaku dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang berprilaku baik dan ada
hubungan antara perilaku dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang berperilaku
kurang baik.
KESIMPULAN DAN SARAN
- Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Mekarwangi
Kota Bogor dan penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
Hasil analisis chi square antara umur dengan riwayat pemberian ASI pada responden
umur 20- 30 tahun menunjukkan nilai signifikansi dari penelitian ini adalah sebesar 0,601 dan
lebih besar dari nilai α (0,05). Maka tidak adanya hubungan antara umur dengan riwayat
pemberian ASI, sehingga hipotesis penelitian ini ditolak.
Hasil analisis chi square antara pendidikan dengan riwayat pemberian ASI pada responden
pendidikan SD-Perguruan Tinggi menunjukkan nilai signifikansi dari penelitian ini adalah sebesar
0,601 dan lebih besar dari nilai α (0,05). Maka tidak adanya hubungan antara umur dengan
riwayat pemberian ASI, sehingga hipotesis penelitian ini ditolak.
Hasil analisis chi square antara pekerjaan dengan riwayat pemberian ASI pada responden
yang bekerja dan tidak bekerja menunjukkan nilai signifikansi dari penelitian ini adalah
sebesar 0,181 dan lebih besar dari nilai α (0,05). Maka tidak adanya hubungan antara
pekerjaan dengan riwayat pemberian ASI, sehingga hipotesis penelitian ini ditolak.
Hasil analisis chi square antara penghasilan dengan riwayat pemberian ASI pada
responden yang berpenghasilan mampu dan kurang mampu menunjukkan nilai signifikansi dari
penelitian ini adalah sebesar 1,000 dan lebih besar dari nilai α (0,05). Maka tidak adanya
hubungan antara penghasilan dengan riwayat pemberian ASI, sehingga hipotesis penelitian ini
ditolak.
Hasil analisis chi square antara pengetahuan dengan riwayat pemberian ASI pada
responden yang berpengetahuan baik dan kurang baik menunjukkan nilai signifikansi
dari penelitian ini adalah sebesar 0,293 dan lebih besar dari nilai α (0,05). Maka tidak
adanya hubungan antara pengetahuan dengan riwayat pemberian ASI, sehingga hipotesis
penelitian ini ditolak.
Hasil analisis chi square antara sikap dengan riwayat pemberian ASI pada responden yang
bersikap baik dan kurang baik menunjukkan nilai signifikansi dari penelitian ini adalah sebesar
1,000 dan lebih besar dari nilai α (0,05). Maka tidak adanya hubungan antara sikap dengan
riwayat pemberian ASI, sehingga hipotesis penelitian ini ditolak.
Hasil analisis chi square antara perilaku dengan riwayat pemberian ASI pada responden
berperilaku baik dan kurang baik menunjukkan nilai signifikansi dari penelitian ini
adalah sebesar 0,008 dan lebih kecil dari nilai α (0,05). Maka adanya hubungan antara
perilaku dengan riwayat pemberian ASI, sehingga hipotesis penelitian ini diterima.
- Saran
1. Bagi Puskesmas
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dalam melakukan perbaikan sekaligus
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ,masyarakat.
Perlu adanya monitoring dan evaluasi terkait adanya kegiatan pemberian PMT ASI berupa
54
biskuit dan susu kotak yang merupakan donasi dari perusahaan agar pemberiannya dibatasi dan
tepat sasaran dalam setiap kegiatan posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Mekar Wangi Kota
Bogor sehingga tidak mempengaruhi perilaku ibu dalam memberikan ASI Eksklusif.
Perlu adanya kebijakan dari puskesmas kepada setiap posyandu agar buku KIA yang
selama ini disimpan di posyandu di kembalikan kepada pemiliknya agar buku tersebut bisa
dimanfaatkan oleh ibu untuk memperoleh pengetahuan terkait menyusui. Serta menambahkan
sesi penyuluhan dalam setiap kegiatan posyandu agar manfaat ASI dapat tersampaikan kepada
ibu menyusui. Sehingga ibu lebih termotivasi untuk melakukan pemberian ASI Eksklusif kepada
bayinya.
2. Bagi ibu dan keluarga
Begitu pentingnya manfaat dari pemberian ASI Eksklusif, maka penting bagi ibu yang
melahirkan perlu untuk memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya. Untuk meningkatkan
kesadaran ibu dalam hal tersebut, maka hal yang dapat dilakukan adalah:
Selama kehamilan, ibu perlu aktif melakukan konsultasi bidan yang melakukan
pemeriksaan kehamilannya guna memperoleh informasi terkait menyusui dan mendapat
motivasi dari tenaga kesehatan untuk terus melakukan pemberian ASI Eksklusif kepada
bayinya.
Selama kehamilan, penting bagi keluarga terutama suami untuk terus mendampingi ibu saat
melakukan konsultasi kehamilan dengan bidan. Sehingga setelah kelahiran bayi, suami dapat
memberikan dukungan kepada ibu untuk memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya karena
suami merupakan individu terdekat bagi ibu menyusui.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Berdasarkan informasi yang diperoleh dalam hasil ini diharapkan agar penelitian
selanjutnya dapat menganalisis faktor-faktor lainnya yang belum diteliti yang mungkin
dapat berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif yang tidak tergambarkan dalam penelitian
ini dengan desain studi yang berbeda dan jumlah sampel yang lebih banyak.
Peneliti selanjutnya harus lebih teliti dalam memodifikasi kuesioner penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Afidah, Nur. 2012. (Analisis Sistem Manajemen Program Pemberian Asi Eksklusif di Wilayah
Kerja Puskesmas Candilama Kota Semarang). Jurnal Kesehatan Masyarakat.
Amir, Aswita, Nursalim, Aliffiani Widyansyah. 2018. (Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pemberian ASI Pada Bayi Neonatal Di RSIA Pertiwi Makassar). Alumni Prodi D-IV,
Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes, Makassar.
Arifati, Nurce. 2017. (Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi
Di Kelurahan Warnasari Kecamatan Citangkil Kota Cilegon). STIKES Faletehan Serang
Banten.
Astuti, Isroni. 2013. (Determinan Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Menyusui). Dosen Jurusan
Kebidanan Poltekes Kemenkes Jakarta 1.
Chotimah, I., Oktaviani, S., & Madjid, A. (2018). Evaluasi Program Tb Paru Di Puskesmas
Belong Kota Bogor Tahun 2018. PROMOTOR, 1(2), 87-95.
Chotimah, I., Anggraini, D. (2018). Pemberdayaan Masyarakat Melalui Peningkatan Kualitas
Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan Dan Lingkungan. ABDIDOS 2 (1), 62-72.
Chotimah, I. (2017). Gambaran Perilaku Merokok Mahasiswa Universitas Ibn Khaldun Bogor
55
2013. HEARTY 5 (1).
Dian Pangesti, Kharisma. 2015. (Gambaran Pemberian Air Susu Ibu Pada Ibu Dengan Bayi
Usia 6-12 Bulan Di Desa Kadilangu Kecamatan Bakti Kabupaten Sukoharjo). Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Fikawati, Sandra, Ahmad Syafiq. 2010. (Kajian Implementasi Dan Kebijakan Air Susu Ibu
Eksklusif Dan Inisiasi Menyusui Dini Di Indonesia). Pusat Kajian Gizi Dan Kesehatan,
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia.
Fitriani. 2017. (Fungsi Manajemen Dalam Pelaksanaan Program ASI Eksklusif Di Puskesmas
Jeuram Kabupaten Nagan Raya). Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Teuku
Umar, Aceh Barat-Indonesia.
Isnawati, Dina. 2018. (Gambaran Pemberian ASI Eksklusif Pada Pekerja Wanita Di CV. Media
Printika Kabupaten Sleman. Program Kebidanan Program Sarjana Terapan Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Jaljuli. 2007. (Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kelangsungan Pemberian ASI
Eksklusif Di Tiga Kabupaten Cirebon,Cianjur,Ciamis Provinsi Jawa Barat Tahun 2003.
Analisis Survey Data Dasar Asuh-KAP 2). TESTI. FKM-UI.
Kartika. 2015. (Hubungan Lamanya Jam Kerja Ibu Menyusui Dengan Pemberian ASI Pada Bayi
0-6 Bulan Di Desa Bangsir Kecamatan Bangsir Kabupaten Jepara). Jurnal Kesehatan Dan
Budaya.
[Link]
s_sdt=0&as_vis=1&oi=scholart#d=gs_qabs&u=%23p%3Ds1a1u8vin2MJ
Prasetya, E. (2018). Pemberdayaan Masyarakat Tentang Kesehatan, Pendidikan dan
Kreatifitas. Abdi Dosen: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat 2 (1), 19-25.
Rahmawati, Meiyana Dianning. 2010. (Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian ASI
Eksklusif Pada Ibu Menyusui Di Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Kota
Semarang). Staf Pengajar Program Studi D-III Keperawatan STIKES Kusuma Husada
Surakarta.
Roesli, Utami. 2005. (Mengenal ASI Eksklusif). Jakarta : Tubulus Agriwidya
Sanda. 2011. (Gambaran Pengetahuan, Pekerjaan Dan Dukungan Keluarga Terhadap
Pemberian ASI Eksklusif pada bayi Umur 6-11 bulan di Puskesmas Antang Perumnas
Kota Makasar). Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin Makasar.
(Online 7 Februari 2015): [Link]/ha ndle/5546/[Link].
Siregar, Arifin. 2004. (Pemberian ASI Eksklusif Dan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhinya).
Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Sihombing, Setia. 2018. (Hubungan Pekerjaan Dan Pendidikan Ibu Dengan Pemberian Asi
Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Hinai Kiri). Jurnal Bidan “Midwife Journal”.
Siti Rayhani Fadhila, Lina Ninditya. 2016. (Dampak Dari Tidak Menyusui Di Indonesia).
Sustainable Development Goals (SDGs).
Nur Halimah, Irna. 2010. (Cakupan Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi 0-6 Bulan). Humas
Dinas Kesehatan Kota Bogor.
Nuraini. 2017. (Separuh Bayi Di Indonesia Tidak Dapat ASI Eksklusif). Direktur Jenderal
Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono.
56