0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan8 halaman

LP RBD

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang risiko bunuh diri pada pasien di Panti Rehabilitas Griya Bhakti Medika 1, yang disusun sebagai tugas stase keperawatan jiwa. Laporan ini mencakup pengertian, faktor predisposisi, presipitasi, mekanisme koping, dan rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah bunuh diri. Penekanan diberikan pada pentingnya intervensi keperawatan dan lingkungan yang aman untuk mencegah perilaku bunuh diri.

Diunggah oleh

widayati.290891
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan8 halaman

LP RBD

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang risiko bunuh diri pada pasien di Panti Rehabilitas Griya Bhakti Medika 1, yang disusun sebagai tugas stase keperawatan jiwa. Laporan ini mencakup pengertian, faktor predisposisi, presipitasi, mekanisme koping, dan rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah bunuh diri. Penekanan diberikan pada pentingnya intervensi keperawatan dan lingkungan yang aman untuk mencegah perilaku bunuh diri.

Diunggah oleh

widayati.290891
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

DI PANTI REHABILITAS GRIYA BHAKTI MEDIKA 1

Disusun Untuk Menyelesaikan Tugas Stase Keperawatan Jiwa


Program Studi Profesi Ners

Dosen Pembimbing :

Ns. Ayu Pratiwi, [Link]., [Link]

Disusun Oleh

Widayati

25030145

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS YATSI MADANI

2025/2026
LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI (RBD)

A. Kasus (Masalah Utama)


Resiko Bunuh Diri
B. Proses Terjadinya Masalah
a. Pengertian
Bunuh diri adalah kematian yang disebabkan oleh melukai diri sendiri
dengan maksud untuk mati. Upaya bunuh diri adalah ketika seseorang melukai
diri sendiri dengan maksud untuk mengakhiri hidup mereka, tetapi mereka
tidak mati sebagai akibat dari tindakan mereka Tidak ada penyebab tunggal
untuk bunuh diri. Bunuh diri paling sering terjadi disebabkan adanya stresor
dan masalah kesehatan sehingga menyebabkan keputusasaan. Depresi adalah
kondisi paling umum yang terkait dengan bunuh diri, dan seringkali tidak
terdiagnosis atau tidak diobati. Kondisi seperti depresi, kecemasan, dan
masalah zat, terutama bila tidak ditangani, meningkatkan risiko bunuh diri
(Panjaitan et al., 2023)
Bunuh diri adalah suatu tindakan yang ingin disengaja oleh seseorang
untuk mengakhiri hidupnya, bunuh diri juga merupakan masalah social
dimana terjadi ketidakselarasan dengan norma masyarakat dan agama Bunuh
diri telah dipandang menjadi satu satunya menyelesaikan masalah untuk
sebagian orang, bunuh diri menjadi satu-satunya jalan untuk menuju solusi
dari masalah yang telah menekan hidupnya. Tanpa melihat celah apapun, tidak
ada harapan, dan jalan lain yang tersisa mengacu untuk melakukan bunuh diri.
Mereka yang mau melakukan bunuh diri tidak bisa melihat titik terang di masa
depan dan bagi mereka sangat sulit untuk menemukan alasan untuk hidup
bertahan lebih lama bagi seseorang yang ingin melaksanakan percobaan
sucide. Mengakhiri hidupnya sudah menjadi satu-satunya cara untuk bebas
dari masalah hidup saat ini bunuh diri diduga akan menjadi suatu masalah
global (Novitayani & Nurhidayah, 2023).
1. Faktor Predisposisi
Lima faktor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku destruktif
diri sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut:
Sifat Kepribadian
a) Diagnosis Psikiatrik Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri
hidupnya dengan cara bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa.
Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk
melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif,
penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
b) Tiga kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko
bunuh diri adalah antipati, impulsif, dan depresi
c) Lingkungan Psikososial Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh
diri, diantaranya adalah pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan
sosial, kejadian-kejadian negatif dalam hidup, penyakit kronis,
perpisahan, atau bahkan perceraian Kekustan dukungan sosial sangat
penting dalam menciptakan intervensi yang terapeutik, dengan terlebih
dahulu mengetahui penyebab maslah, respon seseorang dalam
menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
d) Riwayat keluarga Riwayat keluarga yang pemah melakukan bunuh diri
merupakan faktor penting yang dapat menyebabkan seseorang
melakukan tindakan bunuh diri.
e) Faktor biokimia Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko
bunuh diri terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam
otak seperti serotinin dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat
dilihat melalui rekaman gelombang otak Electro Encephalo Graph
(EEG).
2. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami
oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang
memalukan. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau
membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri ataupun
percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal tersebut menjadi
sangat rentan (Puspita & Erawati, 2020).
3. Mekanisme Koping
Seorang klien mungkin memakai berbagai variasi mekanisme koping
yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial,
rasionalization, dan magical thinking. Mekanisme pertahanan diri yang ada
seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping alternatif.
Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping.
Ancaman bunuh diri mungkn menunjukkan upaya terakhit untuk mendapatkan
pertolongan agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan
kegagalan koping dan mekanisme alaptif pada diri seseorang (Gusmunardi et
al., 2023).
4. Rentang Respons

Respon Adaptif Respon Maladaptif

 Peningkatan Prilaku destruktif  Pencederaan


diri diri tak langsung diri

 Pertumbuhan  Bunuh diri


peningkatan
berisiko
- Respon Adaptif
Merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-norma manusia dan
kebudayaan secara umum yang berlaku, Individu yang tidak berhasil
memecahkan masalah akan meninggalkan masalah, karena merasa tidak mampu
mengembangkan koping yang bermanfaat sudah tidak berguna lagi, tidak
mampu mengembangkan koping yang baru serta yakin tidak ada yang
membantu (Panjaitan et al., 2023).
a. Peningkatan din. Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan
diri secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri.
Sebagai contoh seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya yang
berbeda mengenai loyalitas terhadap pimpinan ditempat kerjanya
b. Beresiko destruktif. Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko
mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap
situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang
merasa patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal
terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
c. Destruktif diri tidak langsung. Seseorang telah mengambil sikap yang
kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya
untuk mempertahankan diri. Misalnya, karena pandangan pimpinan
terhadap kerjanya tidak loyal, maka seorang karyawan menjadi tidak
masuk kantor atau berkerja seenaknya dan tidak optimal.

- Respon Maladatif
Merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang
kurang tepat diterima oleh norma-norma sosial budaya setempat, Individu yang
mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak realistis akan Merasa gagal dan
kecewa jika cita-citanya tidak tercapai. Misalnya kehilangan pekerjaan dan
kesehatan, perceraian, perpisahan individu akan merasa gagal dan kecewa,
rendah diri yang semuanya dapat berakhir dengan bunuh diri.
a. Pencederaan diri. Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau
pencederaan 1 diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada
b. Bunuh diri Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai
dengan nyawanya hilang (Panjaitan et al., 2023).
5. Klasifikasi Jenis Dan Sikap
1. Ancaman bunuh diri: adanya peringatan verbal dan nonverbal, ancaman
ini menunjukkan ambivalensi seseorang terhadap kematian, jika tidak
mendapat respon maka akan ditafsirkan sebagai dukungan untuk
melakukan tindakan bunuh diri.
2. Upaya bunuh diri: semua tindakan yang dilakukan individu terhadap diri
sendiri yang dapat menyebabkan kematian jika tidak dicegah.
3. Bunuh diri: terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau diabaikan,
orang yang melakukan upaya bunuh diri walaupun tidak benar-benar ingin
mati mungkin akan mati.
 Penyebab resiko bunuh diri yaitu :
a) Stress yang berlebihan.
b) Gangguan konsep diri.
c) Kehilangan dukungan sosial.
d) Kejadian negatif dalam hidup.
e) Penyakit kritis.
f) Perpisahan atau perceraian
g) Kesulitan ekonomi.
h) Korban kekerasan.
i) Riwayat bunuh diri dari individu/keluarga (Kwon et al., 2020).

C. Pohon Masalah

Effect Resiko perilaku kekerasan

Masalah Utama Resiko bunuh diri

Penyebab Isolasi sosial

Harga diri rendah

D. Masalah Keperawatan Dan Data Yang Perlu Dikaji


 Data subjektif.
a) Mengungkapkan keinginan bunuh diri
b) Mengungkapkan keinginan untuk mati
c) Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
d) Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri sebelumnya dari keluarga
e) Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis obat yang mematikan
f) Mengungkapkan adanyanya konflik interpersonal
g) Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil

 Data objektif
a) Impulsif
b) Menunjukkan perilaku yang mencurigakan biasaya menjadi sangat patuh
c) Ada riwayat penyakit mental (depresi, psikosis, dan penyalahgunaan alkohol)
d) Ada riwayat penyakit fisik (penyakit kronis atau penyakit terminal
e) Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau kegagalan karier)
E. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko Prilaku Bunuh Diri
b. Bunuh Diri
c. Isolasi Sosial
d. Harga Diri Rendah Kronis (Lestari, 2021).
F. Rencana Tindakan Keperawatan
Terapi Lingkungan pada Kondisi Bunuh Diri
 Ruangan aman dan nyaman, terhindar dari alat yang dapat digunakan untuk
mencederai diri sendiri atau orang lain.
 Alat-alat medis, obat-obatan, dan jenis cairan medis di lemari dalam keadaan
terkunci.
 Ruangan fiarus ditempatkan di lantai satu dan keseluruhan ruanagn mudah
dipantau oleh petugas kesehatan.
 Ruangan yang menarik, misalnya dengan wemah, ade poster dil.
 Hadirkan musik yang ceria, televisi, film komedi, bacaan ringan dan lucu.
 Adanya lemari khusus untuk menyimpan barang pribadi klien.
 Lingkungan sosial komunikasi terapeutik dengan cara semua petugas menyapa
pasiien sesering mungkin, memberikan penjelasan setiap akan melakukan
tindakan keperawatan atau kegiatan medis lainnya, menerima pasien apa adanya
tanpa ejekan atau merendahkan, meningkatakan harga diri pasien, membantu
menilai dan meningkatkan hubungan sosial bertahap, membantu pasien dalam
berinteraksi dengan keluarga, sertakan keluarga dalam rencana asuhan
keperawatan, jangan biarkan pasien sendiri dalam waktu yang lama.

1. Intervensi pada pasien


Tindakan keperawatan: Melindabgi pasien dengan cara
a. Temani pasien terus-menerus sampai pasein dapat dipindahkan ke tempat
yang aman
b. Jauhkan semua benda yang berbahaya (misalnya: pisau, silet, gelas, dan tali
pinggang)
c. Periksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya jika pasien
mendapatkan obatnya.
d. Dengan lembut, jelaskan pada pasien bahwa anda akan melindungi pasien
sampai tidak ada keinginan bunuh diri (Maulana et al., 2021)
DAFTAR PUSTAKA

Gusmunardi, Safrika, R., & Sasmita, H. (2023). Faktor Resiko Dan Faktor Protektif Resiko
Bunuh Diri Pada Remaja. Jurnal Ilmiah STIKES Kendal, 13(Januari), 75–82.
[Link]

Kwon, H., Hong, H. J., & Kweon, Y. S. (2020). Classification of adolescent suicide based on
student suicide reports. Journal of the Korean Academy of Child and Adolescent
Psychiatry, 31(4), 169–176. [Link]

Lestari, oktalia afandi. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn. N Masalah Utama
Resiko Perilaku Kekerasan Dengan Diagnosa Medis Skizofrenia Undifferentiated Di
Ruang Gelatik Rumah Sakit Jiwa Menur Provinsi Jawa Timur Oleh. Pharmacognosy
Magazine, 75(17), 399–405.

Maulana, I., Eriyani, T., & Shalahuddin, I. (2021). Intervensi Keperawatan untuk Pencegahan
Klien Risiko Bunuh Diri: Telaahan Literature. Jurnal Keperawatan Jiwa, 9(3), 569–578.
[Link]

Novitayani, S., & Nurhidayah, I. (2023). Analisis Risiko Bunuh Diri pada Mahasiswa
Kesehatan di Kota Banda Aceh. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas, 8(1), 61–
68. [Link]

Panjaitan, R. U., Wardani, I. yulia, Nasution, R. A., Primananda, M., & Arum, D. O. R. S.
(2023). Keeratan Keluarga dan Kemampuan Pemecahan Masalah Berhubungan Dengan
Ide Bunuh Diri Pada Mahasiswa. Jurnal Keperawatan, 15 Nomor 3(September), 1045–
1052.

Puspita, I. W., & Erawati, E. (2020). Asuhan Keperawatan Jiwa pada Klien Skizofrenia
dengan Risiko Bunuh Diri. Jurnal Keperawatan Jiwa, 8(2), 211.
[Link]

Anda mungkin juga menyukai