Teras, Kopi, dan Jam yang Terlalu Cepat
Setiap sore aku pulang kerja dengan perasaan yang sama, lelah, tapi
tidak tahu oleh apa.
Bukan lelah fisik yang membuat tubuh ingin rebah, melainkan lelah
yang lebih halus lelah karena hari ini tidak berbeda dari kemarin,
dan besok kemungkinan besar tidak akan berbeda dari hari ini. Aku
memarkir motor di halaman kecil rumah kontrakan kami. Mesin
dimatikan. Suara dunia ikut meredup.
Aku membuka pintu. Istriku di dapur. Anakku di ruang tengah,
bermain sesuatu yang tak benar-benar kupahami. Aku
menanggalkan sepatu, meletakkannya di sudut. Tak ada dialog
besar. Tak ada pertanyaan tentang bagaimana hariku. Dan aku juga
tak menanyakan apa pun. Bukan karena kami tidak peduli, tapi
karena hidup kami sudah terlalu akrab dengan diam.
Aku melangkah ke teras.
Ritual itu selalu sama.
Kopi tanpa gula.
Rokok.
Kursi plastik yang sedikit miring, dan catnya yang mulai
terkelupas.
Langit yang selalu terasa terlalu cepat berubah menjadi gelap.
1
Aku menyeduh kopi dengan air panas yang baunya selalu
mengingatkanku pada pagi-pagi di desa dulu saat aku masih
percaya hidup akan menjadi sesuatu yang lain. Aku tidak
menambahkan gula. Entah sejak kapan aku memutuskan rasa pahit
mejadi lebih jujur dalam merasakan dunia ini.
Aku duduk.
Menghisap rokok.
Memandang jalan sempit di depan rumah.
Orang-orang yang lewat, motor yang melintas, anak-anak kecil
bermain sambil berteriak, terdengar suara adzan dari kejauhan,
semua seolah bergerak lalu menuju menuju ke suatu tempat.
Aku tidak.
Aku hanya duduk, menunggu sesuatu yang bahkan tidak kutahu
apa.
Kadang aku bertanya,
apakah hidupku memang tidak ke mana-mana,
atau aku saja yang tidak pernah benar-benar berjalan?
Aku bekerja di kampus swasta yang tidak terlalu besar. Staf biasa.
Tidak ada jabatan penting. Tidak ada ruangan sendiri. Meja kecil di
sudut. Komputer yang lambat. Tumpukan berkas yang selalu terasa
seperti simbol dari hidupku sendiri, banyak, membosankan, dan
tidak pernah selesai.
2
Setiap pagi aku datang tepat waktu.
Setiap sore aku pulang tepat waktu.
Aku tidak pernah bolos.
Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang benar-benar salah.
Aku juga tidak pernah melakukan sesuatu yang benar-benar berani.
Aku hanya… ada.
Aku melihat dosen-dosen muda berbicara tentang penignya
kehidupan, tentang masa depan mereka, tentang eksistensi, kata-
kata yang juga kubaca diam-diam di rumah, di malam hari, ketika
anakku sudah tidur. Kadang aku merasa aku mengerti lebih banyak
dari yang mereka ucapkan. Kadang aku merasa aku tidak pantas
merasa seperti itu.
Aku ingin mengajar.
Aku ingin menulis.
Aku ingin eksis.
Tapi setiap kali keinginan itu muncul, sesuatu yang lain muncul
bersamaan, keraguan, ketakutan. Suara kecil di kepalaku yang
selalu berkata.
Siapa kamu?
Kamu bukan siapa-siapa.
Kamu staf biasa.
Kamu dari desa.
3
Kamu tidak punya gelar yang cukup.
Kamu terlalu tua untuk memulai.
Kamu terlalu pengecut untuk gagal.
Aku selalu kalah oleh suara itu.
Aku menghisap rokok lebih dalam, asap keluar pelan, dan udara
senja menelannya.
Aku sering berpikir terlalu Panjang, terlalu dalam, terlalu jauh. Aku
membedah hidupku seperti seorang filsuf miskin yang tidak pernah
benar-benar melakukan apa pun selain menganalisis dirinya sendiri
sampai lumpuh.
Aku sadar aku overthinking.
Aku sadar aku ragu-ragu.
Aku sadar aku emosi ku selalu mendahului logika rasional.
Dan anehnya, kesadaran itu tidak menyelamatkanku dari apa pun.
Kadang aku marah di kantor, tersinggung oleh hal kecil, seperti
nada bicara atasan, tatapan rekan kerja. Kalimat yang sebenarnya
biasa saja. Aku membalas dengan dingin, atau sinis, atau diam
terlalu lama.
Lalu malamnya ketika aku memulai ritual ku diteras menikmati
kopi tanpa gula dan menghisap rokok aku baru menyesal.
4
Aku memutar ulang percakapan itu di kepalaku.
Aku memperbaikinya.
Aku mengulangnya dengan versi diriku yang lebih tenang.
Lebih dewasa.
Lebih bijak.
Tapi itu semua terjadi terlalu terlambat.
Aku selalu datang ke hidupku sendiri setelah semuanya selesai.
Aku membaca buku-buku filsafat seolah-olah itu akan
menyelamatkanku.
Nietzsche, Camus, Kierkegaard, buku-buku tentang jiwa, tentang
eksistensi, ataupun tentang makna. Aku menggarisbawahi kalimat-
kalimat yang terasa seperti ditulis khusus untukku.
Manusia dikutuk untuk bebas.
Kehidupan adalah absurditas.
Kita bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.
Aku mengangguk.
Aku setuju.
Aku merasa tercerahkan.
Lalu besok paginya aku tetap berangkat kerja seperti biasa.
Tidak ada yang berubah.
5
Aku tahu teorinya.
Aku tahu konsepnya.
Aku tahu kata-katanya.
Aku hanya tidak pernah berani mempraktikkannya.
Aku menatap cangkir kopi yang sudah setengah dingin.
Aku punya keluarga.
Istri yang tabah.
Anak yang polos.
Dan justru itu yang sering membuatku lebih takut.
Aku tidak bisa berjudi dengan hidup.
Aku tidak bisa nekat seperti orang bujang yang bisa gagal berkali-
kali tanpa konsekuensi besar. Aku tidak bisa mengejar mimpi tanpa
memikirkan sewa rumah, uang sekolah, beras, listrik, dan masa
depan anakku.
Dan di situlah paradoksnya.
Aku tidak cukup miskin untuk nekat.
Aku tidak cukup kaya untuk bebas.
Aku terjebak di tengah.
Langit makin gelap. Lampu jalan menyala satu per satu.
6
Aku menghabiskan rokokku. Menyisakan puntung di asbak plastik
yang sudah penuh puntung-puntung lama seperti hari-hari yang
sudah lewat dan tidak pernah benar-benar pergi.
Aku bertanya pada diriku sendiri, untuk entah yang keberapa
kalinya.
Apakah hidupku memang tidak istimewa?
Atau aku saja yang tidak pernah mengizinkannya menjadi apa
pun?
Aku tidak tahu jawabannya.
Yang kutahu hanya ini.
Besok pagi aku akan bangun.
Berangkat kerja.
Duduk di meja kecilku.
Menjalani hari yang hampir sama.
Dan sore nanti aku akan kembali ke teras ini.
Menyeduh kopi tanpa gula.
Merokok.
Merenung.
Seolah-olah hidupku adalah lingkaran yang tidak pernah kuterobos.
Aku mengangkat cangkir kopi. Menyesap pahitnya.
7
Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku berpikir.
Mungkin tragedi hidupku bukan karena sesuatu yang terjadi.
Tapi karena tidak ada apa-apa yang pernah benar-benar terjadi.
Aku duduk lebih lama di teras.
Menunggu sesuatu.
Yang tidak pernah datang.