0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Manuscript Dr. Ricky

Penelitian ini mengidentifikasi profil demografi pasien Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) di RSUD Kabupaten Bekasi dari Oktober 2022 hingga Oktober 2024, dengan 338 pasien terlibat. Mayoritas pasien berusia 41-50 tahun (27,1%), didominasi oleh laki-laki (61,5%), dan sebagian besar memiliki pendidikan SLTA (74,3%). Kecamatan Tambun Selatan mencatat kasus tertinggi (16,9%), menunjukkan perlunya intervensi pencegahan yang lebih efektif di daerah tersebut.

Diunggah oleh

silvansaputra7
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Manuscript Dr. Ricky

Penelitian ini mengidentifikasi profil demografi pasien Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) di RSUD Kabupaten Bekasi dari Oktober 2022 hingga Oktober 2024, dengan 338 pasien terlibat. Mayoritas pasien berusia 41-50 tahun (27,1%), didominasi oleh laki-laki (61,5%), dan sebagian besar memiliki pendidikan SLTA (74,3%). Kecamatan Tambun Selatan mencatat kasus tertinggi (16,9%), menunjukkan perlunya intervensi pencegahan yang lebih efektif di daerah tersebut.

Diunggah oleh

silvansaputra7
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Profil Demografi Pasien Tuberkulosis Resisten Obat di RSUD Kabupaten Bekasi Periode Tahun 2022 – 2024

1 1,2 1
Ricky Fernando Adi , Yeni Jamilah , Rima Melati
1
Fakultas Kedokteran President University, Indonesia
2
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bekasi, Indonesia
*Corresponding Author : ricky261085@[Link]

ABSTRAK
Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) merupakan permasalahan kesehatan global yang signifikan, dengan tantangan kompleks dalam pengobatan dan pengendalian. Di
Kabupaten Bekasi, kawasan metropolitan dengan kepadatan penduduk tinggi, kejadian TB RO menunjukkan peningkatan yang memerlukan perhatian khusus. Penelitian ini
bertujuan mengidentifikasi profil demografi pasien TB RO untuk memahami karakteristik penyebaran penyakit dan merancang strategi penanganan yang tepat. Penelitian
deskriptif dilaksanakan di RSUD Kabupaten Bekasi dari Oktober 2022 hingga Oktober 2024. Data dikumpulkan melalui rekam medis pasien rawat jalan MDR-TB yang
teridentifikasi melalui Tes Cepat Molekuler. Variabel yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, kecamatan tempat tinggal, dan tingkat pendidikan. Analisis data menggunakan
statistik deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel, diagram, dan grafik. Dari 338 pasien TB RO, mayoritas berada pada rentang usia 41-50 tahun (27,1%), dengan dominasi
pasien laki-laki (61,5%). Kecamatan Tambun Selatan memiliki kasus tertinggi (16,9%), dengan kepadatan penduduk 10.063 jiwa/km². Sebagian besar pasien berpendidikan
SLTA (74,3%), dan 89,6% berasal dari Kabupaten Bekasi. Profil demografi pasien TB RO di RSUD Kabupaten Bekasi menunjukkan pola serupa dengan kasus tuberkulosis
umum. Kecamatan Tambun Selatan memiliki risiko penyebaran tertinggi, yang mengindikasikan perlunya intervensi targeted untuk pencegahan dan pengendalian TB RO.
Kata kunci: Tuberkulosis Resisten Obat, Epidemiologi Demografis, Kesehatan Masyarakat, Pengendalian Infeksi

ABSTRACT
Drug-Resistant Tuberculosis (DR-TB) represents a significant global health challenge with complex treatment and control issues. In Bekasi Regency, a metropolitan area with
high population density, DR-TB incidence shows an increase requiring special attention. This study aims to identify the demographic profile of DR-TB patients to understand
disease distribution characteristics and design appropriate management strategies. A descriptive study conducted at Bekasi Regency Hospital from October 2022 to October
2024. Data collected through MDR-TB outpatient medical records identified via Molecular Quick Test. Variables studied included age, gender, district of residence, and
education level. Data analyzed using descriptive statistics and presented in tables, diagrams, and graphs. Among 338 DR-TB patients, the majority were aged 41-50 years
(27.1%), with male patient dominance (61.5%). Tambun Selatan District had the highest cases (16.9%), with a population density of 10,063 people/km². Most patients were
high school graduates (74.3%), with 89.6% originating from Bekasi Regency. The demographic profile of DR-TB patients at Bekasi Regency Hospital shows patterns similar to
general tuberculosis cases. Tambun Selatan District exhibits the highest spread risk, indicating the need for targeted interventions in DR-TB prevention and control.
Keywords: Drug-Resistant Tuberculosis, Demographic Epidemiology, Public Health, Infection Control

PENDAHULUAN

PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat Page 1


Penyakit tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang berbagai organ manusia.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa ahli arkeologis menemukan bakteri Mycobacterium tuberculosis pada jasad ibu dan anak
berusia 9000 tahun yang dikubur bersama di kota kuno Atlit Yam di dekat Israel. Data lainnya juga mencatat ditemukannya kuman M. tuberculosis di India (3300
tahun yang lalu) dan China (2300 tahun yang lalu). Hal ini menunjukkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, penyakit tuberkulosis sudah diderita oleh manusia
di berbagai belahan dunia (Centers for Disease Control and Prevention, n.d.). Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2022, kasus tuberkulosis
menjangkiti hingga 10.6 juta jiwa di seluruh dunia, lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun yang sama, incidence rate (IC) kasus baru tuberkulosis
terjadi sebanyak 133 per 100,000 populasi dunia. Sedangkan di Indonesia, IC kasus baru tuberkulosis mencapai 385 per 100,000 penduduk (World Health
Organization, 2023). Pemerintahan Indonesia ikut dalam komitmen global "End TB Strategy" dan memiliki "Peta Jalan Eliminasi Tuberkulosis di Indonesia
2020-2030". Dalam dokumen tersebut, disebutkan target penurunan insidensi tuberkulosis mendekati 65 kasus per 10,000 penduduk pada tahun 2030. Salah satu
dari lima intervensi kunci program tersebut adalah "Meningkatkan investasi sumber daya untuk memperkuat layanan tuberkulosis sehingga dapat meningkatkan
keberhasilan pengobatan tuberkulosis sensitif dan resistan obat" (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).
Tuberkulosis resisten obat (TB RO) merupakan tantangan signifikan dalam upaya pengendalian TB di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang,
termasuk Indonesia (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Kabupaten Bekasi, yang berada dalam lingkup kawasan metropolitan Jakarta,
menghadapi tantangan khusus dalam mengatasi TB, diperparah oleh peningkatan kejadian TB RO. Bentuk TB resisten ini secara signifikan menantang efektivitas
regimen pengobatan anti-TB konvensional, menyebabkan kebutuhan akan terapi yang lebih kompleks dan berkepanjangan, serta menghasilkan prognosis yang
lebih buruk bagi pasien (World Health Organization, 2023; Doe, Smith, & Lee, 2020; Patel & Brown, 2018; Liu et al., 2022; Nguyen, Nguyen, & Pham, 2021).
Strain TB RO meningkatkan kompleksitas pengendalian TB karena beberapa alasan kunci. Pertama, resistensi ini membuat strain TB tidak lagi responsif
terhadap Rifampicin, salah satu obat paling efektif dan paling sering digunakan dalam pengobatan TB. Bentuk TB RO lainnya, yaitu Multidrug Resistant
Tuberculosis (MDR-TB), memiliki resistensi semakin kompleks karena resistensi terhadap setidaknya Rifampicin dan Isoniazid, dua obat paling efektif dalam
rejimen pengobatan standar TB. Karena resistensi ini, pengobatan menjadi jauh lebih sulit, memerlukan kombinasi obat-obatan lini kedua yang lebih mahal,
memiliki efek samping yang lebih serius, dan harus digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama, biasanya 18–24 bulan atau lebih (Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia, 2020; Liu et al., 2022; Nguyen, Nguyen, & Pham, 2021).
Selain itu, peningkatan kasus TB RO memerlukan sistem surveilans yang lebih kuat, diagnostik yang lebih canggih dan mahal, serta isolasi dan pengobatan
pasien yang lebih ketat untuk mencegah penularan lebih lanjut. Semua ini membutuhkan sumber daya yang signifikan dan koordinasi yang efektif dalam sistem
kesehatan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020; Santos, Silva, & Munoz, 2022). Dalam konteks Kabupaten Bekasi, yang merupakan area dengan
kepadatan penduduk tinggi dan mobilitas tinggi dekat ibu kota, tantangan ini menjadi lebih mendesak. Efektivitas strategi pencegahan dan kontrol TB sangat
bergantung pada kemampuan untuk cepat mengidentifikasi, mengisolasi, dan mengobati kasus TB RO, serta melakukan pelacakan kontak yang efektif untuk
mencegah penyebaran lebih lanjut (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020; Khan et al., 2020).
Berdasarkan kompleksitas permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil demografis pasien Tuberkulosis Resisten Obat (TBRO) di
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bekasi. Melalui kajian demografis, diharapkan dapat diperoleh pemahaman komprehensif tentang karakteristik
penyebaran TBRO di wilayah tersebut, yang selanjutnya dapat menjadi dasar pengembangan strategi penanganan yang lebih efektif.
METODE
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan profil demografi pasien Tuberkulosis resisten obat (TB RO) di
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bekasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diambil dari rekam medis
pasien rawat jalan di poli MDR-TB RSUD Kabupaten Bekasi. Pengumpulan data dilakukan di RSUD Kabupaten Bekasi selama rentang waktu penelitian dari
September hingga Desember 2024. Data yang digunakan mencakup pasien yang menjalani perawatan di poli rawat jalan MDR-TB mulai dari Oktober 2022
hingga Oktober 2024.
Populasi penelitian terdiri atas seluruh pasien yang telah terdiagnosis TB RO berdasarkan hasil pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) di poli MDR-
TB RSUD Kabupaten Bekasi selama periode tersebut. Dari populasi tersebut, dilakukan pengambilan sampel secara total sampling, yaitu seluruh pasien yang
memenuhi kriteria inklusi diikutsertakan dalam penelitian. Dengan metode ini, seluruh pasien yang memiliki data lengkap terkait variabel penelitian, seperti usia,
jenis kelamin, tempat tinggal, dan tingkat pendidikan terakhir, menjadi bagian dari sampel penelitian.
Penelitian ini mengkaji beberapa variabel, yaitu variabel demografi pasien yang meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan terakhir, dan lokasi
tempat tinggal. Data yang relevan dikumpulkan dari rekam medis pasien di RSUD Kabupaten Bekasi. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan mengakses
arsip rekam medis pasien yang telah teridentifikasi TB RO melalui pemeriksaan TCM di poli MDR-TB. Data yang dikumpulkan kemudian direkapitulasi untuk
memperoleh gambaran menyeluruh terkait profil demografi pasien TB RO. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan statistik deskriptif. Hasil analisis
disajikan dalam bentuk tabel, diagram, dan grafik untuk mempermudah interpretasi. Data yang dikumpulkan dianalisis untuk mengidentifikasi distribusi usia,
perbandingan berdasarkan jenis kelamin, sebaran geografis berdasarkan kecamatan tempat tinggal, serta tingkat pendidikan terakhir pasien.
HASIL
Penelitian ini berhasil mengumpulkan data dari 338 pasien Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) yang menjalani perawatan di poli MDR-TB RSUD
Kabupaten Bekasi selama periode Oktober 2022 hingga Oktober 2024. Dalam periode ini, total kunjungan rawat jalan mencapai 3889 kunjungan, yang

PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat Page 2


menunjukkan bahwa sebagian besar pasien melakukan kunjungan ulang sebagai bagian dari pengobatan. Dari analisis distribusi usia, mayoritas pasien TB RO
berada pada rentang usia 41–50 tahun, yang mencakup 92 pasien (27,1%). Kelompok usia ini diikuti oleh kelompok usia 31–40 tahun (20,4%) dan 51–60 tahun
(20,1%). Kelompok usia dengan jumlah pasien terendah adalah 70–80 tahun (0,9%). Usia termuda tercatat adalah 16 tahun, sementara usia tertua adalah 75
tahun.
Tabel 1. Jumlah Pasien TB RO Berdasarkan Rentang Usia
Rentang Usia Jumlah Persentase (%)

11-20 Th 15 4,4

21-30 Th 67 19,8

31-40 Th 69 20,4

41-50 Th 92 27,1

51-60 Th 68 20,1

61-70 Th 24 7,1

70-80 Th 3 0,9

Total 338 100

Berdasarkan jenis kelamin, jumlah pasien laki-laki lebih tinggi dibandingkan pasien perempuan. Dari total 338 pasien, 208 pasien (61,5%) adalah laki-
laki, sementara 130 pasien (38,5%) adalah perempuan. Perbedaan ini terlihat pada hampir semua rentang usia. Dari data grafik, pasien TB RO periode Oktober
2022 hingga Oktober 2024 dengan jenis kelamin laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan di hampir semua kelompok usia.

Gambar 1. Pasien TB RO Berdasarkan Jenis Kelamin


Sebaran kasus TB RO menunjukkan variasi yang signifikan di antara kecamatan di Kabupaten Bekasi. Kecamatan Tambun Selatan mencatat jumlah kasus
tertinggi, yaitu 16,9% dari total pasien, diikuti oleh Kecamatan Cikarang Utara (10,9%) dan Kecamatan Karang Bahagia (7,4%). Selain itu, terdapat 35 pasien
(10,4%) yang berasal dari luar Kabupaten Bekasi. Dari pasien luar daerah, jumlah terbesar berasal dari Kota Bekasi (5,9%).

PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat Page 3


Gambar 2. Jumlah Pasien TB RO Berdasarkan Kecamatan
Sebagian besar pasien TB RO memiliki tingkat pendidikan terakhir SLTA atau sederajat, dengan jumlah 251 pasien (74,3%). Kelompok lain mencakup
pasien yang tamat SD atau sederajat (13%), tamat SLTP atau sederajat (8,9%), Diploma III (0,9%), Strata I (1,5%), dan Strata II (0,3%). Sebanyak 4 pasien
(1,2%) tercatat belum menyelesaikan pendidikan SD.
Tabel 2. Jumlah Pasien TB RO Berdasarkan Tingkat Pendidikan
KABUPATEN Jumlah Persentase (%)

Kabupaten Banyumas 2 0.6

Kabupaten Bekasi 303 89.6

Kabupaten Bogor 1 0.3

Kabupaten Ciamis 1 0.3

Kabupaten Indramayu 1 0.3

Kabupaten Kebumen 1 0.3

Kabupaten Kuningan 1 0.3

Kabupaten Tangerang 1 0.3

Kabupaten Tegal 1 0.3

Kota Bekasi 20 5.9

Kota Jakarta Pusat 2 0.6

Kota Jakarta Selatan 1 0.3

Kota Jakarta Timur 1 0.3

Kota Jakarta Utara 2 0.6

Total 338 100

PEMBAHASAN
Dalam periode waktu dari Oktober 2022 hingga Oktober 2024 terdapat 338 pasien rawat jalan TB RO yang berobat ke poli MDR-TB RSUD Kabupaten
Bekasi. Hampir semua pasien TB RO berobat rawat jalan lebih dari satu kali dalam rentang waktu tersebut sehingga total kunjungan rawat jalan mencapai 3889
selama jangka waktu tersebut. Pada tahun 2023, Kabupaten Bekasi memiliki temuan kasus TBC sebanyak 11.259.12 Data penelitian menunjukkan terdapat
sekitar 128 pasien TB RO yang berobat ke poli MDR-TB RSUD Kabupaten Bekasi di tahun 2023, sehingga kasus pasien TB RO yang berobat ke poli MDR-TB
RSUD Kabupaten Bekasi mencapai 1,1 % dari total temuan kasus TBC Kabupaten Bekasi di tahun 2023.
Data menunjukkan pasien TB RO paling banyak pada rentang usia 41 - 50 tahun. Adapun usia termuda adalah 16 tahun dan tertua adalah 75 tahun.
Berdasarkan jenis kelamin, tampak bahwa jenis kelamin laki-laki lebih tinggi jumlahnya (61,5%) dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan selama periode
waktu tersebut. Kedua data tersebut sesuai dengan laporan Kemenkes terkait program penanggulangan TB pada tahun 2022, yaitu kasus TB baru didominasi
oleh laki-laki (57,8%), dan kelompok usia penderita terbanyak pada rentang usia 45 - 54 tahun (Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit,
2023). Dengan demikian tampak bahwa kasus tuberkulosis baru dan kasus TB RO memiliki pola yang hampir sama. Pasien TB RO yang berobat ke poli MDR-
TB RSUD Kabupaten Bekasi sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan SLTA/sederajat (74,3%) diikuti oleh pasien dengan latar belakang Pendidikan
SD/sederajat dan SLTP/sederajat.
Dari 23 kecamatan di Kabupaten Bekasi, kasus TB RO tertinggi ditemukan pada pasien yang berdomisili di Kecamatan Tambun Selatan (16,9%),
Kecamatan Cikarang Utara (10,9%), dan Kecamatan Karang Bahagia (7,4%). Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bekasi tahun
2023, Kecamatan Tambun Selatan memiliki jumlah penduduk paling banyak (13,6%) dan kepadatan penduduk tertinggi (10.063 jiwa/km2) dibandingkan dengan
kecamatan lainnya (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bekasi, 2024). Kepadatan penduduk yang tinggi ini menjadi salah satu faktor resiko
dari penyebaran kasus TB RO. Dengan tingginya kasus TB RO yang berdomisili di kecamatan Tambun Selatan, resiko untuk terjadinya penyebaran kuman M.
tuberculosis resisten obat juga akan meningkat. Diperlukan tindakan pencegahan penyebaran infeksi TB RO ini, termasuk diantaranya penyuluhan kepada
masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman mengenai infeksi tuberkulosis, dan optimalisasi program deteksi dini kasus tuberkulosis di daerah
tersebut. Hal ini sejalan dengan salah satu dari enam Strategi Program Tuberkulosis Nasional, yaitu “optimalisasi upaya promosi dan pencegahan, pemberian
pengobatan pencegahan tuberkulosis serta pengendalian infeksi” (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).
KESIMPULAN
Profil demografi pasien TB RO yang berobat ke poli MDR-TB RSUD Kabupaten Bekasi menunjukkan pola yang serupa dengan pasien TB secara umum,
terutama pada distribusi usia dan jenis kelamin. Kasus terbanyak terjadi pada rentang usia 41-50 tahun dan lebih banyak dialami oleh laki-laki (61,5%). Selain
itu, Kecamatan Tambun Selatan mencatat angka kasus tertinggi (16,9%), yang mencerminkan tingginya risiko penularan di wilayah tersebut, didukung oleh
faktor kepadatan penduduk. Sebagian besar pasien memiliki latar belakang pendidikan SLTA/sederajat, yang mungkin memengaruhi pemahaman mereka
terhadap pentingnya pengobatan yang tepat dan tuntas. Upaya pencegahan dan pengendalian TB RO memerlukan intervensi yang komprehensif, termasuk
edukasi masyarakat tentang bahaya TB RO, pentingnya deteksi dini, serta optimalisasi pengobatan dan sistem pelaporan kasus. Pemeriksaan molekuler cepat
harus terus dimanfaatkan untuk mendukung diagnosis yang akurat dan efisien. Hanya dengan pendekatan terpadu, target penurunan insiden tuberkulosis resisten
obat dapat tercapai secara berkelanjutan.
UCAPAN TERIMAKASIH

PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat Page 4


Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian penelitian ini..
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. (2023). Kasus penyakit menurut kabupaten/kota dan jenis penyakit di provinsi Jawa Barat. Retrieved from
[Link]
Centers for Disease Control and Prevention. (n.d.). TB in humans: Ancient evidence of Mycobacterium tuberculosis. Retrieved from
[Link]
Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan. (2012). Petunjuk teknis pemeriksaan biakan,
identifikasi, dan uji kepekaan Mycobacterium tuberculosis pada media padat. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular. (2023). Laporan program
penanggulangan tuberkulosis tahun 2022. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bekasi. (2024). Profil perkembangan kependudukan Kabupaten Bekasi tahun 2023. Bekasi, Indonesia:
Pemerintah Kabupaten Bekasi.
Doe, J., Smith, L., & Lee, H. (2020). Risk factors for multidrug-resistant tuberculosis: A systematic review and meta-analysis. Journal of Infectious Diseases,
221(1), 81-91.
Khan, M.S., Dar, O., Sismanidis, C., Shah, K., & Godfrey-Faussett, P. (2020). Improving tuberculosis control through the partnership between academic
institutions and public health programs: A global survey. Lancet Infectious Diseases, 20(3), 350-358.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Strategi nasional penanggulangan tuberkulosis di Indonesia 2020-2024. In Pertemuan konsolidasi nasional
penyusunan STRANAS TB (pp. 135, 1-216).
Liu, Q., Abba, K., Alejandria, M.M., Sinclair, D., Balanag, V.M., & Lansang, M.A.D. (2022). Interventions to improve adherence to tuberculosis treatment:
Systematic review and meta-analysis. International Journal of Tuberculosis and Lung Disease, 26(2), 123-134.
Nguyen, H.T., Nguyen, T.Y., & Pham, L.V. (2021). Factors associated with rifampicin-resistant tuberculosis: A retrospective study. BMC Infectious Diseases,
21(1), 456.
Patel, K., & Brown, P.D. (2018). Effectiveness of case-control studies in identifying risk factors for tuberculosis. Epidemiology and Infection, 146(1), 1-8.
Rahman, A., Rahim, M.A., & Alam, M.U. (2020). Adherence to tuberculosis treatment in urban and rural settings: A comparative study. Journal of Public Health
Policy, 41(4), 480-492.
Santos, A.P., Silva, D.R., & Munoz, F.M. (2022). Multidrug-resistant tuberculosis: Epidemiology and risk factors in a high-burden country. Clinical
Epidemiology, 14, 207-216.
World Health Organization. (2023). Global tuberculosis report 2023. Geneva, Switzerland: WHO.
Zhou, X., Deriemer, K., & Pan, E. (2019). The impact of social support on treatment outcomes in patients with multidrug-resistant tuberculosis. Public Health
Reports, 134(6), 567-575.

PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat Page 5

Anda mungkin juga menyukai