0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan5 halaman

Script Bindo2

Naskah drama 'Malin Kundang' mengisahkan perjalanan Malin yang merantau untuk mengubah nasib, namun setelah sukses, ia melupakan ibunya. Ketika bertemu kembali, Malin menolak ibunya, yang menyebabkan kutukan dan mengubahnya menjadi batu. Cerita ini menekankan pentingnya menghormati orang tua dan konsekuensi dari kesombongan.

Diunggah oleh

Intan Permaidani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan5 halaman

Script Bindo2

Naskah drama 'Malin Kundang' mengisahkan perjalanan Malin yang merantau untuk mengubah nasib, namun setelah sukses, ia melupakan ibunya. Ketika bertemu kembali, Malin menolak ibunya, yang menyebabkan kutukan dan mengubahnya menjadi batu. Cerita ini menekankan pentingnya menghormati orang tua dan konsekuensi dari kesombongan.

Diunggah oleh

Intan Permaidani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

NASKAH DRAMA TEATER – MALIN KUNDANG

Durasi: ±15–20 menit

Jumlah Pemain: 6 orang

Tokoh:

• Malin Kundang

• Ibu Malin

• Istri Malin

• Nahkoda

• Sari sahabat Malin (peran kecil)

• Narator

ADEGAN 1 – RUMAH SEDERHANA

SETTING:

• Panggung kiri: rumah sederhana (kursi, kain jahit)

• Lighting: kuning hangat

MUSIK:
Instrumental lembut (suasana desa)

(Lampu menyala perlahan)

Narator:
Di sebuah desa kecil, hiduplah Malin Kundang dan ibunya dalam kesederhanaan.

"Di bawah temaram lampu yang terlihat redup, ada doa yang dijahit rapi dalam setiap helai kain. Ibu
merajut sabar, sementara Malin memintal angan. Antara tarikan jarum dan sunyinya ruang, sebuah
janji mulai tumbuh mencari jalan menuju samudera di balik garis takdir yang belum terbaca."

(Ibu duduk menjahit, Malin duduk termenung di depan panggung)

Sari masuk dari samping kanan panggung

Sari:
Malin, kenapa kamu terlihat murung?

Malin (bangkit, pelan):


Aku ingin merubah nasib… aku, ingin merantau.

Ibu (berhenti menjahit, menatap Malin):


Merantau? Ibu hanya punya kamu, Nak…

Sari (menenangkan):
Kalau itu pilihanmu, jangan lupa ibumu.
Malin (meyakinkan):
Tenang, Bu… aku akan kembali.

(Ibu berdiri, memeluk Malin)

"Di balik pelukan itu, takdir mulai menuliskan ceritanya sendiri cerita tentang kepulangan yang
mungkin tak lagi sama."

Lighting perlahan redup → pindah adegan

ADEGAN 2 – PELABUHAN

SETTING:

• Panggung tengah (tambahkan properti tali/kapal sederhana)

• Sound effect: ombak & burung laut

Lighting: biru terang

Narator:
Malin pun pergi merantau.

(Malin berdiri di tengah, Ibu & Sari di depan panggung)

Ibu (menahan tangis):


Jaga dirimu ya Nak…

Malin:
Iya, Bu. Aku akan baik bak saja disana

Sari (singkat):
Hati-hati, Malin.

(Malin berjalan perlahan ke belakang panggung seolah naik kapal)

"Layar mulai terkembang, membawa Malin pergi mengejar janji. Namun di tepi pantai ini, doa Ibu
tertinggal, hanyut bersama ombak yang tak pernah tenang. Ia melangkah membawa tekad,
meninggalkan Ibu yang kini hanya berteman sepi."

MUSIK: naik sedikit (petualangan)


Lighting fade out

ADEGAN 3 – KESUKSESAN MALIN

SETTING:

• Panggung kanan (kursi mewah/simbol kapal)

• Lighting: terang putih

Narator:
"Waktu telah mengubah segalanya. Debu kemiskinan kini berganti kilau permata, dan gubuk tua
telah terlupa oleh megahnya istana di atas samudera".
Tahun demi tahun berlalu, Malin pun kini menjadi saudagar kaya.

(Malin masuk dengan kostum rapi, percaya diri)

Nahkoda:
Tuan Malin, kita sebentar lagi akan tiba di kampung halaman Anda.

Malin (datar):
Baik.

Istri masuk, berdiri di samping Malin

Istri:
suamiku, Apakah itu tempat asalmu?

Malin:
Ya.

(Malin terlihat dingin dan sombong)

Lighting sedikit redup → transisi

ADEGAN 4 – PERTEMUAN

SETTING:

• Panggung tengah

• Lighting: kuning senja

MUSIK: pelan, mulai sedih

(Ibu masuk perlahan dari kiri, melihat Malin)

Ibu (bahagia, berjalan cepat):


Malin! Anakku!

(Malin mundur sedikit)

Malin (dingin):
Siapa kamu?!

Ibu (terkejut, gemetar):


Aku ibumu, Nak…

Istri (sinis):
Tidak mungkin.

Malin (marah, menunjuk keluar):


Pergi! Aku tidak punya ibu seperti kamu!

(Ibu jatuh berlutut di depan panggung)

"Dunia seketika runtuh dalam satu kalimat sangkal. Bukan badai yang menghancurkan hati Ibu,
melainkan lidah anak yang dulu ia timang dengan doa."
MUSIK: semakin sedih

Lighting fokus ke ibu (spotlight)

ADEGAN 5 – KUTUKAN

SETTING:

• Tetap di panggung tengah

• Lighting: gelap + efek kilat

SOUND: petir, angin

Narator:
Hati seorang ibu pun terluka…

Ibu (menangis, mengangkat tangan):


Ya Tuhan… jika benar dia anakku… hukum dia!

SFX: suara petir

(Malin mulai bergerak kaku, perlahan membeku)

"Ketika sumpah seorang ibu terucap, semesta pun patuh. Darah yang dulu mengalir hangat, kini
membeku menjadi sedingin batu.”

Malin (panik):
Apa ini?! Tolong”!

(Gerakan Malin berhenti → posisi patung/batu)

Lighting: freeze + warna dingin

ADEGAN 6 – PENUTUP

SETTING:

• Panggung tengah

• Lighting: redup kebiruan

(Sari masuk perlahan dari samping)

Sari (pelan):
Malin… kamu lupa janji itu…

(Ibu memeluk “batu” Malin sambil menangis)

Ibu (menangis, merangkul):


malin maafkan ibu nakk...

MUSIK: sangat sedih (piano/biola)


Narator:
Kesombongan membuat manusia lupa asalnya. Durhaka kepada orang tua membawa penyesalan
abadi.

"Kini hanya ada sunyi dan penyesalan yang membatu. Malin telah kembali ke tanah kelahirannya,
bukan untuk membawa kejayaan, tapi sebagai peringatan bagi mereka yang lupa jalan pulang.
Karena pada akhirnya, doa ibu adalah tempat kita berlabuh, dan durhaka hanya akan meninggalkan
kehampaan."

ENDING

• Semua pemain diam (freeze)

• Lighting perlahan mati

Anda mungkin juga menyukai