[Link]
php/great
Global Research and Innovation Journal (GREAT)
Volume 1, Nomor 3, 2025, Hal. 868-874
ISSN : 3090-3289
IMPLEMENTASI SURAT EDARAN DIRJEN BIMAS ISLAMNO. 2 TAHUN 2024 TENTANG
BIMBINGAN PRA-NIKAH (Studi Kasus di KUA Kecamatan Gunung Sindur)
Muhammad Ismail Abdurrahman Shaleh
Hukum Keluarga Islam, Universitas Darunnajah , Jakarta
E-mail: *ismailbinahmad2697@[Link]
ABSTRAK Pernikahan adalah ikatan sakral dalam Islam yang digambarkan sebagai Mitsaqon
Gholidzan (perjanjian yang kuat). Namun, tingginya angka perceraian di Kabupaten
Bogor mengindikasikan adanya permasalahan dalam ketahanan keluarga. Untuk
mengatasi fenomena tersebut, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gunung
Sindur mengimplementasikan Surat Edaran Dirjen Bimas Islam No. 2 Tahun 2024
tentang bimbingan pra-nikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi
efektivitas pelaksanaan bimbingan pra-nikah di KUA Kecamatan Gunung Sindur.
Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan kepala desa,
masyarakat, dan pihak terkait di KUA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penyesuaian durasi bimbingan menjadi 2-3 jam per hari untuk mengakomodasi calon
pengantin yang bekerja mengurangi efektivitas materi. Materi yang terbatas pada
aspek agama, administratif, dan kesehatan dasar, serta penggunaan metode ceramah
yang monoton, mengurangi optimalisasi bimbingan. Oleh karena itu, diperlukan
perpanjangan durasi, keterlibatan narasumber yang lebih beragam, dan metode yang
lebih interaktif untuk meningkatkan efektivitas program ini.
Kata kunci Bimbingan Pra-Nikah, Kantor Urusan Agama, Implementasi, Efektivitas
ABSTRACT Marriage is a sacred bond in Islam, described as Mitsaqon Gholidzan (a strong
covenant). However, the high divorce rate in Bogor Regency indicates significant issues
in family resilience. To address this phenomenon, the Office of Religious Affairs (KUA)
of Gunung Sindur Subdistrict implemented the Circular Letter of the Director General
of Islamic Guidance No. 2 of 2024 on premarital counseling. This study aims to evaluate
the effectiveness of premarital counseling implementation at KUA Gunung Sindur.
Using a descriptive qualitative approach, the study involved village heads, the
community, and relevant parties at KUA. The results showed that the adjustment of
counseling hours to 2-3 hours per day, to accommodate working brides and grooms,
reduced the effectiveness of the material delivered. The counseling content, limited to
religious, administrative, and basic health aspects, and the monotonous lecture
method, hindered the optimal impact of the program. Therefore, extending the
counseling duration, involving a wider range of resource persons, and adopting more
interactive methods are necessary to enhance the effectiveness of this program.
Keywords Premarital Counseling, Office of Religious Affairs, Implementation, Effectiveness
1. PENDAHULUAN
Agama Islam memandang pernikahan sebagai miitsaqon gholiidhan, yaitu merupakan
janji atau akad yang menjalin antara dua insan secara lahir dan batin dengan komitmen
untuk saling menjaga, bertanggung jawab, dan mengasihi demi terciptanya keluarga yang
Sakinah mawaddah wa rahmah. Perkara ini bukan hanya sekedar kesepakatan duniawi
untuk menghubungkan dua keluarga atau meneruskan keturunan, namun juga menjadi
ibadah seumur hidup. Karena tujuan yang mulia inilah, maka hendaknnya akad nikah
hanya dilaksanakan sekali untuk selama-selamanya sehingga setiap pasangan merasakan
kesakralan sebuah pernikahan, memenuhi hak-hak maupun kewajibannya, dan istikamah
868
Muhammad Ismail Abdurrahman Shaleh
Global Research and Innovation Journal (GREAT) Vol 1, No. 3, 2025, Hal 868-874
dalam Syariah Islam.
Momentum pernikahan yang diharapkan hanya terjadi sekali seumur hidup bagi setiap
pasangan ini membutuhkan persiapan yang matang agar mampu menghadapi segala
permasalahan setelah menikah. Tanpa sebuah pemahaman mendalam tentang esensi, arah,
dan tanggung jawab yang melekat pada hubungan suami istri ini, suatu pasangan berisiko
akan sulit melewati permasalahan yang dapat menggerus keutuhan rumah tangga mereka.
Persiapan yang dibutuhkan bagi setiap pasangan mencangkup kesiapan mental, kesiapan
ilmu, dan kesiapan emosional. Maka dari itu dibutuhkan edukasi pra-nikah yang efektif
agar pernikahan lebih matang, dan tidak berakhir dengan perceraian. Karenanya
menciptakan ketahanan keluarga bukan pilihan, melaikan kewajiban bagi setiap pasangan.
Tercatat 442.231 gugatan cerai di Indonesia dan perharinya 1.212 perceraian yang
terdata oleh Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI tahun 2023. Sedangkan di
Kabupaten Bogor sendiri terdapat 12.586 perceraian di tahun 2024, jumlah yang lebih
banyak dari pada tahun sebelumnya dengan total 8.842 kasus dengan rata-rata terjadi di
fase perkawinan berusia 0-5 tahun disebabkan gagal menghadapi masa adaptasi awal
pernikahan. Terlebih lagi, kurang siapnya psikologis dan komukasi yang baik oleh
pasangan suami-istri menjadi faktor tumbuhnya konflik – konflik sehingga berakhir
dengan perceraian. Jika hal ini sering terjadi maka dapat berdampak banyak pada ekonomi
nasional karena perceraian mengakibatkan produktivitas seorang menurun akibat stres
dan tekanan sosial.
Menyikapi data krisis ketahanan keluarga sebelumnya maka Kementerian Agama
Republik Indonesia (Kemenag RI) merespons secara strategis dalam menanggulanginya
dengan mengadakan bimbingan pra-nikah bagi para calon pengantin. Bimbingan ini
dilaksanakan dan dikelola oleh Kantor Urusan Agama (KUA) di setiap kecamatan di
Indonesia. Hal ini merupakan salah satu tugas utama KUA untuk bertanggung jawab
memberikan program bimbingan pra-nikah bagi para calon pengantin dengan tujuan
menciptakan keluarga yang harmoni, kokoh, sehat, dan berkelanjutan sesuai keputusan
Menteri Agama nomor 727 Tahun 2023.
Kementrian Agama memberikan kebijakan dengan Keputusan Dirjan Bimas
IslamNomor 189 Tahun 2021 dan Surat Edaran terkait mewajibkan bimbingan
perkawinan (binwin) selama 16 jam pelajaran (JPL) dalam dua hari. Kemudian di beberapa
tahun setelahnya dalam Surat Edaran Dirjen Bimas IslamNomor 2 Tahun 2024, waktu
minimal disesuaikan menjadi 10 JPL yang terbagi ke dalam 5 sesi selama dua hari, agar
memberikan sedikit kebebasan operasional bagi KUA. Namun pelaksanaan yang terjadi di
KUA kecamatan Gunung Sindur sendiri menggunakan waktu lebih singkat, hanya diadakan
Bimbingan Pra Nikah dengan durasi 2 – 3 jam dalam satu hari padahal semestinya
menghabiskan 10 – 16 JPL. Durasi yang lebih pendek dari pada kebijakan yang berlaku
mengakibatkan materi tidak tersampaikan dengan optimal sehingga tidak dapat diketahui
apakah peserta Bimbingan Pra Nikah mampu menerimanya dengan efektif.
Dalam Surat Edaran Dirjen Bimas IslamNo. 2 Tahun 2024 menjelaskan bahwasanya
harus menghadirkan minimal dua narasumber atau fasilitator bersertifikat dan dapat
menambahnya dari tenaga Kesehatan Puskesmas untuk sesi kesehatan reproduksi dan
pencegahan stunting. Terlebih lagi dalam Panduan Pelaksanaan Bimbingan Pra Nikah
ditegaskan bahwasanya idealnya kegiatan ini perlu meghadirkan beberapa tokoh seperti;
konsultan keluarga, tokoh agama, psikolog/konselor keluarga, praktisi hukum dan praktisi
ekonomi Syariah agar materi bimbingan mencangkup menyeluruh dari sisi agama,
psikologi, komunikasi, ekonomi, dan hukum. Namun fakta di KUA kecamatan Gunung
Sindur hanya menghadirkan penyuluh agama, perwakilan dari puskesmas, Kepala KUA,
869
Muhammad Ismail Abdurrahman Shaleh
Global Research and Innovation Journal (GREAT) Vol 1, No. 3, 2025, Hal 868-874
dan tanpa kehadiran tokoh lainnya. Dampaknya penyampaian materi tidak maksimal dan
wawasan para Calon Pengantin (CATIN) terbatas pada aspek agama, administratif, dan
Kesehatan dasar saja. Maka pelaksanaan Bimbingan Pra Nikah ini masih ditemukan
keadaan para CATIN belum memperoleh bekal ilmu yang komprehensif sebelum menikah
sehingga belum optimal dalam upaya menciptakan keluarga Sakinah dan menekan angka
perceraian.
Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, peneliti terdorong untuk menyelidiki peran
KUA kecamatan Gunung Sindur dalam bimbingan pra-nikah KUA dalam mempersiapkan
pasangan menuju pernikahan sakinah Penelitian ini akan ditulis dalam jurnal yang
berjudul “IMPLEMENTASI SURAT EDARAN DIRJEN BIMAS ISLAMNO 2 TAHUN 2024
TENTANG BIMBINGAN PRA-NIKAH: Studi Kasus KUA Kecamatan Gunung Sindur”
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk meningkatkan
pemahaman tentang Implementasi Surat Edaran Dirjen Bimas IslamNo 2 Tahun 2024
mengenai Bimbingan Pra-Nikah Kantor Urusan Agama (KUA) di Kecamatan Gunung
Sindur, Kabupaten Bogor, dalam Mempersiapkan Pasangan Menuju Pernikahan Sakinah.
Subjek penelitian ini yaitu calon pengantin di kec. Gunung Sindur dan KUA Kecamatan
Gunung Sindur. Adapun sumber data dari penelitia ini terdiri dari, Data primer berasal
dari informasi yang dikumpulkan secara langsung dari Kantor Urusan Agama (KUA)
Kecamatan Gunung Sindur, Ketua KUA, staf Administrasi KUA, Penyuluh Agama, dan 5
Pasang Calon Pengantin yang ada di KUA Kec. Gunung Sindur. Kedua, Data Sekunder yang
diperoleh dari Al-Qur'an, Hadist, jurnal, media internet, dan sumber informasi lain yang
mendukung penelitian ini disebut data sekunder. Data sekunder juga dapat diperoleh
dari dokumen, data, dan buku referensi yang berkaitan dengan masalah efektifitas
bimbingan pra-nikah oleh kantor urusan agama (kua).CRISP-DM memiliki enam fase,
namun pada penelitian ini berbatas pada fase kelima yaitu fase evaluasi.
Dalam suatu penelitian dan pengumpulan data, maka perlu dilakukan wawancara,
observasi dan juga dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan
analisis deksriptif dengan menjelaskan proses pelacakan dan hasilnya. Transkip-transkip
wawancara, catatan lapangan, dan sumber lain diakses melalui internet dan pustaka.
Validitas data pada penelitian kualitatif terukur berdasarkan sejauh mana hasilnya,
dianggap sesuaikah dengan yang dibutuhkan dan murni dari perspektif peneliti,
partisipan, atau pembaca pada umumnya. Untuk mencapai hal ini, data yang akurat
dikumpulkan melalui penyajian gambaran yang jujur dan mendalam tentang pengalaman
hidup subjek penelitian. Menurut Creswell, sebutan validitas dalam konteks penelitian
kualitatif juga disebut dengan istilah trustworthiness (kepercayaan), authenticity
(keaslian), dan credibility (kredibilitas).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dari penelitian ini pelaksanaan bimbingan pra-nikah di KUA Kecamatan
Gunung Sindur telah mengalami penyesuaian untuk menyesuaikan dengan perubahan
sosial dan kebutuhan calon pengantin. Sebelum pandemi COVID-19, bimbingan ini
berlangsung selama dua hari penuh, dari pukul 8 pagi hingga jam 2 siang. Namun, sejak
pandemi, durasi bimbingan dipadatkan menjadi satu hari, mengingat banyak calon
pengantin yang bekerja, terutama di sektor pabrik, dan sulit untuk mendapatkan izin cuti
870
Muhammad Ismail Abdurrahman Shaleh
Global Research and Innovation Journal (GREAT) Vol 1, No. 3, 2025, Hal 868-874
lebih dari satu hari. Penyesuaian durasi ini dilakukan agar lebih banyak calon pengantin
yang dapat mengikuti bimbingan tanpa terhambat oleh kendala waktu kerja. Perubahan
ini bukan hanya untuk menyesuaikan dengan waktu yang terbatas, namun juga untuk
memastikan bahwa materi yang disampaikan tetap utuh dan bermanfaat bagi calon
pengantin. Meskipun durasi dipadatkan, KUA Kecamatan Gunung Sindur tetap
mempertahankan substansi materi yang dianggap pentiing dalam mempersiapkan calon
pengantin untuk kehidupan rumah tangga.
Materi yang diberikan dalam bimbingan pra-nikah di KUA Kecamatan Gunung
Sindur dirancang dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam kepada
calon pengantin tentang berbagai aspek pentiing dalam kehidupan berumah tangga. Di
antara materi yang dibahas adalah hak dan kewajiban suami istri, cara berkomunikasi
yang efektif dalam rumah tangga, manajemen emosi, serta kesehatan reproduksi dan
pengelolaan keuangan keluarga. Materi ini disusun untuk memberikan bekal yang
komprehensif agar calon pengantin dapat memulai kehidupan berumah tangga yang
harmonis.
Dengan mengintegrasikan berbagai topik, KUA Kecamatan Gunung Sindur tidak
hanya memberikan pemahaman agama semata, tetapi juga keterampilan praktis dalam
mengelola rumah tangga secara efektif. Selain itu, bimbingan ini juga melibatkan pihak
puskesmas untuk memberikan informasi terkait kesehatan reproduksi yang pentiing
bagi calon pengantin.
Kendala utama yang dihadapi dalam pelaksanaan bimbingan pra-nikah di KUA
Kecamatan Gunung Sindur adalah waktu terbatas. Banyak calon pengantin yang bekerja,
sehingga mereka kesulitan mengikuti bimbingan selama dua hari penuh. Meskipun
penyesuaian durasi sudah dilakukan, masalah waktu tetap menjadi kendala yang besar.
Selain itu, terdapat tantangan dalam memotivasi peserta agar mereka sepenuhnya
menyadari pentiingnya bimbingan ini, meskipun bimbingan sudah menjadi kewajiban
bagi setiap calon pengantin.
Tantangan terbesar adalah mengubah persepsi beberapa calon pengantin yang
masih menganggap bimbingan ini hanya sebagai formalitas, bukan sebagai bagian
pentiing dari persiapan pernikahan. Hal ini mengharuskan KUA untuk terus berupaya
meningkatkan kesadaran peserta mengenai pentiingnya bimbingan pra-nikah dalam
rangka membangun rumah tangga yang sehat. KUA Kecamatan Gunung Sindur tetap
berkomitmen untuk mengikuti pedoman yang ditetapkan dalam Surat Edaran Dirjen
Bimas IslamNo. 2 Tahun 2024, meskipun ada penyesuaian dalam durasi bimbingan.
Setiap materi yang diatur dalam surat edaran tetap diberikan kepada calon pengantin,
meskipun dengan waktu yang lebih singkat.
Secara keseluruhan, bimbingan pra-nikah di KUA Kecamatan Gunung Sindur
menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan kesiapan calon pengantin untuk
memasuki kehidupan berumah tangga. Materi yang diberikan, meskipun sudah
mencakup banyak aspek pentiing seperti kewajiban suami istri, kesehatan, dan
manajemen keuangan, masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan praktis pasangan.
Kendala utama yang dihadapi adalah waktu yang terbatas dan kurangnya interaksi dalam
sesi bimbingan. Meskipun demikian, upaya KUA untuk memperbaiki kualiitas bimbingan
melalui pendekatan yang lebih interaktif dan memperhatikan kebutuhan calon pengantin
sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas program ini ke depan.
KUA Kecamatan Gunung Sindur telah berupaya mengimplementasikan program
bimbingan pra-nikah, terdapat kesenjangan signifikan yang menghambat pencapaian
standar kebijakan. Kesenjangan ini mencakup inkonsistensi durasi, keterbatasan
871
Muhammad Ismail Abdurrahman Shaleh
Global Research and Innovation Journal (GREAT) Vol 1, No. 3, 2025, Hal 868-874
narasumber, dan penggunaan metode yang kurang inovatif. Berbagai kendala ini pada
akhirnya berpotensi mengurangi efektivitas bimbingan dalam membekali calon
pengantin untuk membangun keluarga yang harmonis dan sesuai dengan tujuan hukum
positif serta syariat.
Efektivitas program bimbingan di KUA Kecamatan Gunung Sindur masih belum
optimal. Rendahnya kesadaran peserta, materi yang tidak komprehensif, dan metode
yang kurang interaktif menjadi kendala utama. Kesenjangan ini berisiko melemahkan
ketahanan keluarga yang seharusnya menjadi benteng dari perceraian dan masalah
sosial. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan yang mendesak. Rekomendasi konkret
seperti perpanjangan durasi, penambahan narasumber yang kompeten, dan penggunaan
metode interaktif, yang disimpulkan dari seluruh analisis, menjadi langkah krusial untuk
mewujudkan bimbingan yang efektif sesuai dengan pedoman hukum dan ajaran agama.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, berikut adalah
beberapa kesimpulan utama:
a. Implementasi kebijakan bimbingan pra-nikah di KUA Kecamatan Gunung Sindur
menunjukkan adanya adaptasi yang signifikan dari pedoman ideal. Waktu
bimbingan yang seharusnya dilaksanakan selama dua hari dengan durasi 10-16
jam pelajaran (JPL) dipadatkan menjadi hanya 2-3 jam per sesi. Penyesuaian ini
dibuat untuk mengakomodasi mayoritas calon pengantin yang terkendala izin
cuti dari pekerjaan mereka sebagai buruh pabrik. Akibatnya, materi yang
disampaikan menjadi kurang mendalam dan tidak mampu memberikan bekal
yang komprehensif bagi para peserta. Materi yang diberikan terbatas pada
aspek agama dan kesehatan reproduksi, sementara topik penting lainnya seperti
manajemen keuangan keluarga dan psikologi anak tidak sempat dibahas secara
[Link] peserta., suhu udara tinggi, curah hujan rendah, dan jumlah
hotspot yang tinggi.
b. Efektivitas program bimbingan pra-nikah di KUA Kecamatan Gunung Sindur
dinilai belum optimal karena beberapa faktor penghambat. Narasumber yang
dihadirkan terbatas pada staf KUA dan petugas puskesmas, tanpa melibatkan
ahli lain seperti psikolog atau konselor keluarga yang dapat memperkaya
wawasan peserta. Selain itu, metode pembelajaran yang dominan adalah
ceramah, yang mengakibatkan rendahnya partisipasi aktif dan membuat
bimbingan sering dianggap sebagai formalitas belaka, bukan proses edukasi
yang substansial. Meskipun demikian, bimbingan ini tetap memberikan dampak
positif dalam meningkatkan pemahaman dasar peserta. Namun, secara
keseluruhan, program ini belum sepenuhnya efektif dalam membekali calon
pengantin dengan keterampilan praktis yang krusial untuk menghadapi
tantangan kehidupan berumah tangga.
5. DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, A. (2012). Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta: Rajagrafindo
Persada.
Alamsyah, dkk. (2021). Implementasi Kebijakan Penyelenggaraan Program Jaminan
872
Muhammad Ismail Abdurrahman Shaleh
Global Research and Innovation Journal (GREAT) Vol 1, No. 3, 2025, Hal 868-874
Kesehatan Daerah Kota Bekasi. Jurnal Ilmu Administrasi, 12(2), 110.
Amin, Samsul Munir. (2015). Bimbingan dan Konseling Islam. Jakarta: Amzah.
Andri. (2020). Implementasi Bimbingan Perkawinan Sebagai Bagian Dari Upaya
Membangun Keluarga Muslim Yang Ideal. Jurnal Adil Indonesia, 2(2), 6.
Arifin. (1998). Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama. Jakarta: PT.
Golden Trayon Press.
Bagong, Suyanto. (2010). Masalah Sosial Anak. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Baker, Anton. (1984). Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Balai Aksara.
BPBD, “Visi dan Misi BPBD Provinsi Sumatera Selatan”,
[Link]
El Fiah, R. (2017). Bimbingan dan Konseling Anak Usia Dini. Jakarta: Raja Grafindo.
Fahlia, dkk. (2022). Prinsip Toleransi Layanan Umat; Blended Learning Bimbingan
Pranikah sebagai Model Pembelajaran Aplikatif. Jurnal Bimas Islam, 15(1), 105.
Fatimah, Nurul. (2018). Kesiapan Pasangan dalam Menghadapi Kehidupan Pernikahan:
Pengaruh Bimbingan Pra-Nikah. Jakarta: Penerbit Cendekia.
Ghazali, A., Hernawati, R., & Ramdani, A. (Eds.). (2012). Persiapan Mental dan Spiritual
Menjelang Pernikahan. Bandung: Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan
Informal Regional I.
Grindle, M. S. (1980). Politics and Policy Implementation in the Third World. Princeton
University Press.
Hadi, dkk. (2022). Bimbingan Pranikah dan Dampaknya terhadap Pemahaman Kehidupan
Rumah Tangga di Kecamatan Curup Tengah Kabupaten Rejang Lebong. Jurnal
Literasiologi, 8(2), 141.
Haryadi, S. (2020). Pengaruh Pelatihan Pra-Nikah terhadap Kehidupan Rumah Tangga.
Jurnal Pendidikan Islam, 22(3), 152.
Hasanudin, Dkk. (2024). Implementasi Program Bimbingan Perkawinan Pranikah Di KUA
Kecamatan Sungai Pandan Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jurnal Kebijakan Publik,
1(3), 655.
Irfan, Muhammad. (2024). Revitalisasi Bimbingan Pranikah Dalam Mewujudkan
Ketahanan Keluarga Era Society 5.0. Jurnal [Nama Jurnal Tidak Tersedia].
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.
Kaendung. (2021). Implementasi Kebijakan Tentang Rencana Induk Teknologi Informasi
dan Komunikasi di Kota Manado. Jurnal Governance, 1(2), 3.
Kementerian Agama RI. (2018). Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Dirjen
Bimas Islam.
Khusufmawati, dkk. (2021). Implementasi Kebijakan Standarisasi Sarana dan Prasarana
Kerja di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung. Jurnal Moderat, 7(4),
717.
Kurniati. (2022). Pelaksanaan Bimbingan Pranikah oleh Penyuluh Bagi Calon Pengantin
Di KUA Tanjung Mutiara Kabupaten Agam. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 4(5), 5.
Kurniawan, Dkk. (2024). Peran Kantor Urusan Agama (KUA) Dalam Memberikan
Orientasi Keluarga Sakinah Bagi Calon Pasangan Pengantin di Dusun IX Rukun
Serdang Bedagai. Jurnal Penelitian dan Ilmu Komunikasi, 1(2), 75.
Laela, Faizah Noer. (2017). Bimbingan Konseling Keluarga dan Remaja. Surabaya: UIN
Sunan Ampel.
Mona. (2012). Implementasi Kebijakan Program Desa Fokus Di Desa Nekan Kecamatan
Entikong Kabupaten Sanggau. Jurnal Mahasiswa Prodi IP Fisip UNTAN, 1(1), 3.
Mulyadi, D. (2017). Manajemen Kebijakan Publik. Bandung: Penerbit Nusantara.
873
Muhammad Ismail Abdurrahman Shaleh
Global Research and Innovation Journal (GREAT) Vol 1, No. 3, 2025, Hal 868-874
Musyafa’ah, dkk. (2021). Efektivitas Pelaksanaan Bimbingan Perkawinan di Kantor
Urusan Agama Gedangan Sidoarjo. Journal of Islamic Family Law, 5(2), 85.
Pratama Putra, Nangameka. (2018). Implementasi Kebijakan Pelayanan Administrasi
Terpadu Kecamatan (PATEN) Di Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang
Provinsi Jawa Barat. Jurnal Manajemen Pemerintahan, 10(1), 45.
Putri. (2023). Strategi Peningkatan Kualitas Hubungan Keluarga dalam Situasi Suami
Bekerja di Luar Negeri. Jurnal Hukum Keluarga Islam, 3(2), 228.
Qomariah. (2021). Implementasi Program Bimbingan Perkawinan di Kota Tasikmalaya.
Jurnal Cendekiawan Ilmiah, 6(1).
Saha, Dkk. (2024). Implementasi Program Bimbingan Pra Nikah oleh Kantor Urusan
Agama Kecamatan Tidore Utara Kota Tidore Kepulauan. Social Humaniora Jurnal,
1(1), 23.
Sarwono, S. (2018). Pengantar Ilmu Manajemen. Jakarta: Penerbit Ilmu.
Shihab, M. Quraish. (2007). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an, Vol.
2. Jakarta: Lentera Hati.
Siregar, N. (2022). Menentukan Model Implementasi Kebijakan dalam Menganalisis
Penyelenggaraan Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA). Jurnal Ilmu Sosial,
1(7), 719.
Solihin, Abdul Wahab. (2008). Analisis Kebijakan: Dari Formulasi ke Implementasi
Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.
Sukidin, dkk. (2010). Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendekia.
Tahir. (2012). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan Transparansi
Penyelenggaraan Pemerintahan di Kota Gorontalo. Jurnal Akuntansi, 16(3), 415.
Van Meter, D., & Van Horn, C. E. (1975). The Policy Implementation Process: A Conceptual
Framework. Administration & Society, 6(4), 445-488.
Wahab, Solihin Abdul. (2008). Implementasi Kebijakan Bimbingan Perkawinan dalam
Masyarakat Indonesia. Bandung: Penerbit Mandiri.
Wahid, M. Abdul. (2020). Fiqh Perkawinan Kontemporer. Jakarta: Gema Insani Press.
Warda, dkk. (2024). Bimbingan Pra Nikah dan Implikasinya terhadap Pembentukan
Keluarga Maslahah. Jurnal Multidisiplin Teknologi dan Arsitektur, 2(1), 362.
Yakin, Rahman, dkk. (2024). Mitigasi Dampak Konflik Rumah Tangga: Upaya Mengatasi
Tingginya Kasus Perceraian di Desa Kertosuko, Krucil Probolinggo. Jurnal Ilmu
Teknologi, Kesehatan, dan Humaniora, 5(1), 136.
Yusuf, dkk. (2022). Dampak Bimbingan Perkawinan KUA terhadap Kehidupan Sakinah
bagi Pengantin. Journal of Islamic Family Law, 2(2), 86.
874