0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan4 halaman

Google

Tumpeng adalah bagian penting dari kebudayaan Jawa, khususnya di Keraton Yogyakarta, dengan berbagai ragam, fungsi, dan filosofi. Terdapat 17 jenis tumpeng yang disajikan dalam momen tertentu, termasuk tumpeng biru sebagai simbol permintaan maaf dan tumpeng monco warno yang terdiri dari tujuh warna untuk mewujudkan berbagai keinginan. Penyajian tumpeng mencerminkan permohonan perlindungan dan ridha dari Tuhan dalam setiap hajat hidup.

Diunggah oleh

fii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan4 halaman

Google

Tumpeng adalah bagian penting dari kebudayaan Jawa, khususnya di Keraton Yogyakarta, dengan berbagai ragam, fungsi, dan filosofi. Terdapat 17 jenis tumpeng yang disajikan dalam momen tertentu, termasuk tumpeng biru sebagai simbol permintaan maaf dan tumpeng monco warno yang terdiri dari tujuh warna untuk mewujudkan berbagai keinginan. Penyajian tumpeng mencerminkan permohonan perlindungan dan ridha dari Tuhan dalam setiap hajat hidup.

Diunggah oleh

fii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ragam dan Makna Tumpeng

Keraton Yogyakarta
By Admin Program - 16 February 2021

Tumpeng menjadi hal tak terpisahkan dalam kebudayaan Jawa.


Tumpeng juga merupakan kekayaan kuliner di Keraton Yogyakarta
yang mempunyai banyak ragam, fungsi, dan filosofi.
Seperti dikenal dalam masyarakat pada umumnya, tumpeng yang
ada di keraton juga memiliki wujud dasar berupa nasi yang dibentuk
kerucut dengan menggunakan kukusan atau cetakan. Kata ‘tumpeng’
konon merupakan akronim dari ‘tumapaking penguripan-tumindak
lempeng-tumuju Pangeran’ yang bermakna bahwa manusia itu harus
menuju jalan Tuhan Yang Maha Esa. Penyajian tumpeng menjadi
salah satu simbol permohonan atas perlindungan, keselamatan, dan
ridha dari Tuhan untuk setiap hajat dalam hidup.

Di Keraton Yogyakarta, terdapat tidak kurang dari 17 jenis tumpeng


yang umumnya disajikan dalam momentum tertentu. Nama, bentuk,
dan jenisnya pun bermacam-macam tergantung cara pembuatan,
lauk pauk pendamping, cara penyajian, serta berbagai bahan
pelengkap lainnya.
Di keraton terdapat tumpeng dengan warna selain putih dan kuning
seperti lazimnya tumpeng dalam masyarakat. Tumpeng biru atau
disebut juga tumpeng kapuranto terbuat dari nasi putih yang diberi
pewarna makanan berwarna biru. Tumpeng ini biasa dihadirkan
sebagai simbol atau media permintaan maaf dari pembuat kepada
orang yang diberi.

Selain itu, ada juga tumpeng monco warno yang berarti aneka
warna. Pawon keraton biasa menyiapkan tumpeng yang berukuran
relatif kecil dalam tujuh warna, seperti merah, biru, hijau, cokelat,
dan hitam. Tumpeng ini disajikan di atas ancak atau wadah persegi
dari tangkai daun pisang dan potongan bambu yang merupakan
simbol agar berbagai keinginan terwujud dengan baik. Tumpeng
Kapuranto disajikan bersamaan dengan jenis tumpeng lain pada saat
upacara Sugengan Ageng. Tumpeng monco warna dibuat untuk acara
rutin, atau disebut Sugengan Patuh setiap Kamis Wage dan Senin
Wage.

source: @kratonjogja

Admin Program
[Link]
Bagi yang berminat untuk menampilkan event/kegiatan yang berkaitan dengan
pariwisata di website [Link] dapat menghubungi via email
visitingjogjadiy@[Link]

    

Anda mungkin juga menyukai