SATUAN ACARA PENYULUHAN
“DIABETES MELITUS”
Disusun Oleh:
KELOMPOK 1 PKL PROFESI BIDAN
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTAN TIMUR
JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN PROFESI
2025
SATUAN ACARA PENYULUHAN
DISMENOREA (NYERI HAID)
Topik : Diabetes Melitus
Hari/ tanggal : Minggu, 6 Juli 2025
Lokasi : RT 13 JL Air Terjun Pinang Seribu
Sasaran : Lansia
A. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan selama 10 menit, diharapkan
kepada lansia dapat mengetahui tentang Diabetes Melitus
2. Tujuan Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan peserta diharapkan dapat
memahami mengenai nyeri haid atau dismenorea.
1) Memahami Pengertian Diabetes Melitus
2) Memahami Jenis-jenis Diabetes Melitus
3) Memahami Faktor resiko Diabetes Melitus
4) Memahami Gejala Diabetes Melitus
5) Memahami Pengendalian Diabetes Melitus
6) Memahami Cara Pencegahan Diabetes Melitus
B. Sasaran
Lansia
C. Materi
Terlampir
D. Metode
1. Ceramah
E. Media
1. Leaflet
F. Pelaksanaan Kegiatan
No Tahap Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1. Pembukaan 5 menit 1. Memperkenalkan 1. Mendengarkan/
diri memperhatikan
2. Menjelaskan maksud 2. Mendengarkan/
dan tujuan memperhatikan
3. Menyampaikan 3. Menjawab/merespon
tujuan penyuluhan
4. Meminta klien
mengisi pretest
2. Kegiatan inti 15 1. Menyampaikan materi Merespon / Mendengarkan/
menit Menjelaskan memperhatikan
tentang difinisi
Diabetes Melitus
Menjelaskan jenis
– jenis Diabetes
Melitus
Menjelaskan
tentang Penyebab
Diabetes Melitus
No Tahap Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
Menjelaskan
tentang
penanganan
Diabetes Melitus
3. Penutup 5 menit 1. Menyimpulkan 1. Mendengarkan/
materi penyuluhan memperhatikan
2. Melakukan evaluasi 2. Merespon/ menjawab
dengan meminta 3. Merespon/ menjawab
klien mengisi post
test
3. Menutup dengan
salam
G. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Peserta berada di tempat penyuluhan
b. Penyelenggara penyuluhan dilaksanakan di wilayah RT 13 Pinang
Seribu
2. Evaluasi Proses
a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
b. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar
3. Evaluasi Hasil
Setelah diberi penyuluhan, peserta mampu mengetahui mengenai Diabetes
Melitus
MATERI PENYULUHAN
DIABETES MELITUS
1. Pengertian Diabetes
Diabetes Melitus (DM) atau yang biasa disebut dengan kencing
manis merupakan penyakit gangguan metabolisme tubuh yang menahun
akibat hormon insulin dalam tubuh yang tidak dapat digunakan secara
efektif dalam mengatur keseimbangan gula darah sehingga meningkatkan
konsentrasi kadar gula di dalam darah (hiperglikemia).
Kencing manis merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan
tingginya gula darah akibat kerusakan sel beta pankreas (pabrik yang
memproduksi insulin). Diabetes melitus adalah masalah kesehatan
masyarakat yang penting dan menjadi salah satu dari empat penyakit tidak
menular prioritas yang menjadi target tindak lanjut oleh para pemimpin
dunia. Jumlah kasus dan prevalensi diabetes melitus terus meningkat
selama beberapa dekade terakhir. Berdasarkan uraian diatas, dapat
disimpulkan bahwa diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular
dengan gangguan metabolisme tubuh dalam waktu lama yang ditandai
dengan tingginya kadar gula di dalam darah.
2. Jenis-Jenis Diabetes Melitus
1) Diabetes Melitus Tipe 1
- Terjadi karena sel beta di pankreas mengalami kerusakan, sehingga
memerlukan insulin ekstrogen seumur hidup.
- Umumnya muncul pada usia muda.
- Penyebabnya bukan karena faktor keturunan melainkan faktor autoimun.
2) Diabetes Melitus Tipe 2
- Tipe DM umum, lebih banyak penderitanya di bandingkan Tipe 1
- Munculnya saat usia dewasa
- Disebabkan beberapa faktor seperti obesitas dan keturunan.
- Dapat menyebabkan terjadinya komplikasi apabila tidak dikendalikan.
3) Diabetes Gestasional
- Timbul saat kehamilan
- Penyebab riwayat DM dari keluarga, obesitas, usia ibu saat hamil, riwayat
melahirkan bayi besar dan riwayat penyakit lainnya.
- Gejalanya sama seperti DM pada umumnya
- Jika tidak ditangani secara dini akan beresiko komplikasi pada persalinan,
dan menyebabkan bayi lahir dengan berat badan > 4000gram serta kematian bayi
dalam kandungan.
4) Diabetes Melitus Tipe Lain
- Terjadi karena kelainan kromosom dan mitokondria DNA
- Disebabkan karena infeksi dari rubella congenital dan cytomegalovirus
- Penyakit eksokrin pankreas (fibrosis kistik, pankreatitis)
- Disebabkan oleh obat atau zat kimia (misalnya penggunaan glukokortikoid
pada terapi HIV/AIDS atau setelah transplantasi organ)
- Disebabkan sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM
3. Faktor Resiko Diabetes Melitus
Seseorang lebih berisiko terkena penyakit diabetes melitus (DM)
apabila memiliki beberapa faktor risiko. Faktor risiko ini dibagi menjadi
faktor risiko yang tidak dimodifikasi dan yang dapat dimodifikasi. Faktor
risiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain ras dan etnik, riwayat
keluarga dengan DM, umur > 45 tahun (meningkat seiring dengan
peningkatan usia), riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi
> 4000gram atau riwayat menderita DM saat masa kehamilan (DM
gestasional), riwayat lahir dengan berat badan rendah (<2500 gram).
Sedangkan, faktor yang dapat dimodifikasi mengandung makna
bahwa faktor tersebut dapat diubah, salah satunya dengan pola hidup
sehat. Faktor-faktor tersebut adalah berat badan lebih (IMT ≥ 23 kg/m2 ),
kurangnya aktivitas fisik, tekanan darah tinggi/hipertensi (> 140/90
mmHg), gangguan profil lemak dalam darah (HDL < 35 mg/dL, dan atau
trigliserida > 250 mg/dL), dan diet yang tidak sehat (tinggi gula dan
rendah serat).1,2 Penelitian juga menunjukkan bahwa perokok aktif
memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena DM dibandingkan dengan orang
yang tidak merokok. Selain itu, seseorang yang mengalami gangguan pada
glukosa darah puasa dan toleransi glukosa, menderita sindrom metabolik
(tekanan darah tinggi, peningkatan kolesterol darah, gula darah tinggi,
obesitas) atau memiliki riwayat penyakit stroke atau penyakit jantung
koroner, dan memiliki risiko terkena diabetes melitus lebih tinggi.
4. Gejala Diabetes Melitus
Seseorang yang menderita DM dapat memiliki gejala antara lain
poliuria (sering kencing), polidipsia (sering merasa haus), dan polifagia
(sering merasa lapar), serta penurunan berat badan yang tidak diketahui
penyebabnya. Selain hal-hal tersebut, gejala penderita DM lain adalah
keluhkan lemah badan dan kurangnya energi, kesemutan di tangan atau
kaki, gatal, mudah terkena infeksi bakteri atau jamur, penyembuhan luka
yang lama, dan mata kabur.
Namun, pada beberapa kasus, penderita DM tidak menunjukkan
adanya gejala. Apabila seseorang merasakan gejala-gejala tersebut,
hendaknya memeriksakan diri ke dokter. Apabila terdapat kecurigaan
terhadap DM, dokter akan menyarankan pemeriksaan gula darah.
Pemeriksaan gula darah terdiri atas gula darah setelah berpuasa (minimal 8
jam), gula darah 2 jam setelah makan, dan gula darah sewaktu. Selain
ketiga pemeriksaan tersebut, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan
laboratorium lainnya. Dari hasil pemeriksaan dan didukung oleh hasil
laboratorium, dokter akan menentukan apakah pasien terkena DM atau
tidak.
5. Pengendalian Diabetes Melitus
Diabetes Melitus (DM) memang penyakit yang tidak dapat
disembuhkan, namun dapat dikendalikan sehingga penderita dapat
menjalani hidupnya dengan normal. Pengendalian tersebut meliputi
pengaturan pola makan (diet), olahraga, dan pengobatan pemeriksaan gula
darah.
1) Pengaturan makan
Pengaturan makan atau diet pada penderita DM prinsipnya hampir
sama dengan pengaturan makanan pada masyarakat umumnya
yaitu dengan mempertimbangkan jumlah kebutuhan kalori serta
gizi yang seimbang. Penderita DM ditekankan pada pengaturan
dalam 3 J yakni keteraturan jadwal makan, jenis makan, dan umlah
kandungan kalori. Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari
karbohidrat yang tidak lebih dari 45-65% dari jumlah total asupan
energi yang dibutuhkan, lemak yang dianjurkan 20-25% kkal dari
asupan energi, protein 10-20% kkal dari asupan energi.
2) Olahraga
Olahraga atau latihan jasmani seharusnya dilakukan secara rutin
yaitu sebanyak 3-5 kali dalam seminggu selama kurang lebih 30
menit dengan jeda latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut.
Kegiatan sehari-hari atau aktivitas sehari-hari bukan termasuk
dalam olahraga meskipun dianjurkan untuk selalu aktif setiap hari2
. Olahraga selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan
berat badan guna untuk memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga
dapat mengedalikan kadar gula darah.
Olahraga yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang
bersifat aerobik seperti: jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan
berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan
status kesegaran jasmani. Kegiatan yang kurang gerak seperti
menonton televisi perlu dibatasi atau jangan terlalu lama1 . Apabila
kadar gula darah < 100 mg/dl maka pasien DM dianjurkan untuk
makan terlebih dahulu, dan jika kadar gula darah > 250 mg/dl
maka latihan harus ditunda terlebih dahulu. Kegiatan fisik sehari-
hari bukan dikatakan sebagai latihan jasmani.
3) Pengobatan
Pengobatan pada penderita DM diberikan sebagai tambahan
jika pengaturan diet serta olahraga belum dapat mengendalikan
gula darah. Pengobatan disini berupa pemberian obat hiperglikemi
oral (OHO) atau injeksi insulin. Dosis pengobatan ditentukan oleh
dokter.
4) Pemeriksaan Gula Darah
Pemeriksaan gula darah digunakan untuk memantau kadar
gula darah. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan
kadar gula darah puasa dan glukosa 2 jam setelah makan yang
bertujuan untuk mengetahui keberhasilan terapi. Selain itu pada
pasien yang telah mencapai sasaran terapi disertai dengan kadar
gula yang terkontrol maka pemeriksaan tes hemoglobin
terglikosilasi (HbA1C) bisa dilakukan minimal 1 tahun 2 kali.
Selain itu pasien DM juga dapat melakukan pemeriksaan gula
darah mandiri (PGDM) dengan menggunakan alat yang sederhana
serta mudah untuk digunakan (glukometer). Hasil pemeriksaan
gula darah menggunakan alat ini dapat dipercaya sejauh kalibrasi
dilakukan dengan baik dan teratur serta pemeriksaan menggunakan
sesuai dengan standar yang telah dianjurkan.
6. Pencegahan Diabetes Melitus
Pencegahan penyakit Diabetes Melitus (DM) terutama ditujukan kepada
orang-orang yang memiliki risiko untuk menderita DM. Tujuannya adalah
untuk memperlambat timbulnya DM, menjaga fungsi sel penghasil insulin
di pankreas, dan mencegah atau memperlambat munculnya gangguan pada
jantung dan pembuluh darah. Faktor risiko DM dapat dibedakan menjadi
faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi.
Usaha pencegahan dilakukan dengan mengurangi risiko yang dapat
dimodifikasi.
Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi contohnya ras dan
etnik, riwayat anggota keluarga menderita DM, usia lebih dari 45 tahun
(risiko menderita DM meningkat seiring bertambahnya usia), riwayat
melahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi > 4000gram atau riwayat
pernah menderita DM gestasional (DMG), dan riwayat lahir dengan berat
badan rendah (kurang dari 2,5 kg).
Faktor risiko yang dapat dimodifikasi contohnya berat badan berlebih
(IMT ≥ 23 kg/m2 ), kurangnya aktivitas fisik, hipertensi (>140/90 mmHg),
gangguan profil lipid dalam darah (HDL < 35 mg/dL dan/atau trigliserida
> 250 mg/dL), dan diet tidak sehat yang tinggi gula dan rendah serat.
Pencegahan DM juga harus dilakukan oleh pasien-pasien pre-diabetes
yakni mereka yang mengalami intoleransi glukosa [glukosa darah puasa
terganggu (GDPT) dan toleransi glukosa terganggu (TGT)] dan berisiko
tinggi mederita DM [mereka yang memiliki riwayat penyakit
kardiovaskular, seperti stroke, penyakit jantung koroner, atau PAD
(Peripheral Arterial Diseases)].
Pencegahan DM pada orang-orang yang berisiko pada prinsipnya
adalah dengan mengubah gaya hidup yang meliputi olah raga, penurunan
berat badan, dan pengaturan pola makan. Berdasarkan analisis terhadap
sekelompok orang dengan perubahan gaya hidup intensif, pencegahan
diabetes paling berhubungan dengan penurunan berat badan. Menurut
penelitian, penurunan berat badan 5-10% dapat mencegah atau
memperlambat munculnya DM. Dianjurkan pula melakukan pola makan
yang sehat, yakni terdiri dari karbohidrat kompleks, mengandung sedikit
lemak jenuh, dan tinggi serat larut. Asupan kalori ditujukan untuk
mencapai berat badan ideal.
Akitivitas fisik harus ditingkatkan dengan berolahraga rutin, minimal 150
menit per minggu, dibagi 3-4 kali seminggu.
Olahraga dapat memperbaiki resistensi insulin yang terjadi pada
pasien pre-diabetes, meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik), dan
membantu mencapai berat badan ideal. Selain olah raga, dianjurkan juga
lebih aktif saat beraktivitas sehari-hari, misalnya dengan memilih
menggunakan tangga dari pada elevator, berjalan kaki ke pasar daripada
menggunakan mobil, dan lain-lain. Merokok, walaupun tidak secara
langsung menimbulkan intoleransi glukosa, dapat memperberat
komplikasi kardiovaskular dari intoleransi glukosa dan DM. Oleh karena
itu, pasien juga dianjurkan berhenti merokok.
1) Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada kelompok
yang memiliki faktor risiko, yakni mereka yang belum terkena,
tetapi berpotensi untuk menderita DM dan intoleransi glukosa.
Identifikasi dan pemeriksaan penyaring kelompok risiko tinggi
diabetes dan pre-diabetes dapat dilihat pada penjelasan bab
sebelumnya. Pencegahan primer DM dilakukan dengan tindakan
penyuluhan dan pengelolaan yang ditujukan untuk kelompok
masyarakat yang mempunyai risiko tinggi DM dan intoleransi
glukosa.
Upaya pencegahan dilakukan terutama melalui perubahan gaya
hidup. Berbagai bukti yang kuat menunjukkan bahwa perubahan
gaya hidup dapat mencegah DM. Perubahan gaya hidup harus
menjadi intervensi awal bagi semua pasien terutama kelompok
risiko tinggi. Perubahan gaya hidup juga dapat sekaligus
memperbaiki komponen faktor risiko diabetes dan sindroma
metabolik lainnya seperti obesitas, hipertensi, dislipidemia, dan
hiperglikemia.
Perubahan gaya hidup yang dianjurkan untuk individu risiko tinggi
DM dan intoleransi glukosa adalah:
1. Pengaturan pola makan
a. Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan
ideal.
b. Karbohidrat kompleks merupakan pilihan dan diberikan
secara terbagi dan seimbang sehingga tidak menimbulkan
puncak (peak) glukosa darah yang tinggi setelah makan.
c. Komposisi diet sehat mengandung sedikit lemak jenuh dan
tinggi serat larut.
2. Meningkatkan aktifitas fisik dan latihan jasmani Latihan
jasmani yang dianjurkan:
a. Latihan dikerjakan sedikitnya selama 150 menit/minggu
dengan latihan aerobik sedang (mencapai 50 - 70% denyut
jantung maksimal) atau 90 menit/minggu dengan latihan
aerobik berat (mencapai denyut jantung > 70% maksimal).
b. Latihan jasmani dibagi menjadi 3 – 4 kali aktivitas/minggu
3. Menghentikan kebiasaan merokok
4. Pada kelompok dengan risiko tinggi diperlukan intervensi
farmakologis
Tidak semua individu dengan risiko tinggi dapat
menjalankan perubahan gaya hidup dan mencapai target
penurunan berat badan seperti yang diharapkan, oleh karena itu
dibutuhkan intervensi lain yaitu dengan penggunaan
obatobatan. Intervensi farmakologis untuk pencegahan DM
direkomendasikan sebagai intervensi sekunder yang diberikan
setelah atau bersamasama dengan intervensi perubahan gaya
hidup.
2) Pencegahan Sekunder terhadap Komplikasi Diabetes Melitus
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat
timbulnya penyulit pada pasien yang telah terdiagnosis DM.
Tindakan pencegahan sekunder dilakukan dengan pengendalian
kadar glukosa sesuai target terapi serta pengendalian faktor risiko
penyulit yang lain dengan pemberian pengobatan yang optimal.
Melakukan deteksi dini adanya penyulit merupakan bagian dari
pencegahan sekunder. Tindakan ini dilakukan sejak awal
pengelolaan penyakit DM. Program penyuluhan memegang peran
penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani
program pengobatan sehingga mencapai target terapi yang
diharapkan. Penyuluhan dilakukan sejak pertemuan pertama dan
perlu selalu diulang pada pertemuan berikutnya.
Menurut Kushartanti, kegiatan yang tepat untuk mencapai program
pencegahan sekunder pada penderita DM yaitu:
1. Diet yaitu menkonsumsi makanan yang berserat tinggi, rendah
gula, dan banyak air putih.
2. Olahraga yang teratur
a. Olahraga intermiten (1 – 3 – 1) untuk mengelola kadar
glukosa darah dan memperbaiki profil lipid. Perbandingan
irama gerak 1-3-1 artinya 1 (anaerob), 3 (aerob), dan 1
(anaerob)
b. Stretching dan loosening untuk kelenturan sendi dan
lancarnya aliran darah tepi.
c. Meditasi dan senam pernafasan.
Olahraga yang dianjurkan untuk penderita diabetes adalah
olahraga aerobic low impact dan ritmis seperti senam, jogging,
berenang dan naik sepeda. Porsi latihan juga harus diperhatikan,
latihan yang berlebihan akan merugikan kesehatan, sedangkan
Latihan yang terlalu sedikit tidak begitu bermanfaat. Penentuan
porsi latihan tersebut harus memperhatikan intensitas latihan, lama
latihan dan frekuensi Latihan.
3) Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes
yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya
kecacatan lebih lanjut serta meningkatkan kualitas hidup. Upaya
rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum
kecacatan menetap. Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan
penyuluhan pada pasien dan keluarga. Materi penyuluhan termasuk
upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas
hidup yang optimal.
Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan komprehensif
dan terintegrasi antar disiplin yang terkait, terutama di rumah sakit
rujukan. Kerjasama yang baik antara para ahli di berbagai disiplin
(jantung, ginjal, mata, saraf, bedah ortopedi, bedah vaskular,
radiologi, rehabilitasi medis, gizi, pediatris, dan lain-lain.) sangat
diperlukan dalam menunjang keberhasilan pencegahan tersier.