0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan24 halaman

LP Inpartu

Dokumen ini menjelaskan tentang persalinan, termasuk definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, faktor-faktor yang mempengaruhi, mekanisme, dan tahap-tahap persalinan. Persalinan normal terjadi pada usia kehamilan cukup bulan tanpa komplikasi, dipengaruhi oleh hormon dan faktor fisik serta psikologis ibu. Proses persalinan dibagi menjadi beberapa tahap, dimulai dari pembukaan serviks hingga kelahiran bayi.

Diunggah oleh

auliaajeng27
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan24 halaman

LP Inpartu

Dokumen ini menjelaskan tentang persalinan, termasuk definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, faktor-faktor yang mempengaruhi, mekanisme, dan tahap-tahap persalinan. Persalinan normal terjadi pada usia kehamilan cukup bulan tanpa komplikasi, dipengaruhi oleh hormon dan faktor fisik serta psikologis ibu. Proses persalinan dibagi menjadi beberapa tahap, dimulai dari pembukaan serviks hingga kelahiran bayi.

Diunggah oleh

auliaajeng27
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Definisi
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi dengan usia
cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pelepasan dan pengeluaran plasenta serta
selaput janin dari tubuh ibu. Persalinan dianggap normal jika terjadi pada usia cukup bulan >37
minggu dan tanpa ada penyulit.. (Kumalasari, 2015).
Dari kesimpulan diatas dapat di kemukakan bahwa persalinan normal adalah proses
pengeluaran janin yang cukup bulan, lahir secar asepontan dengan presentasi belakang kepala,
disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput ketuban dari tubuh, tanpa komplikasi baik ibu
maupun janin. Persalinan berdasarkan Teknik :
- Persalinan spontan, yaitu persalinan yang berlangsung dengan kekuatan ibu melalui jalan
lahir
- Persalinan buatan, yaitu persalinan dengan tenaga dari luar dengan ekstraksi forceps,
ekastraksi vakum dan section caesaria
- Persalinan anjuran, yaitu persalinan tidak dimulai dengan sendirinya tetapi berlangsung
setelah memecahkan ketuban, pemberian Pitocin prostaglandin (Ai yeyeh dkk, 2014)
B. Etiologi
Etiologi dipengaruhi oleh dua hormone yang dominan yaitu hormone estrogen dan
progesterone. Hormone estrogen memyebabkan peningkatan sensitifitas otot Rahim dan
memudahkan penerimaan rangsangan dari kuar seperti oxitocyn, prostaglandin, dan rangsangan
mekanisme. Sedangkan hormone progesterone menurunkan sesnsitifitas otot Rahim, menghambat
rangsangan dari luar menyebabkan relaksasi. Beberapa teori disebutkan dapat menimbulkan
adanya persalinan, diantaranya :
1. Penurunan Kadar Progesteron
Hormon estrogen berfungsi untuk meningkatkan kerentanan otot rahim, sedangkan hormon
progesteron berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot rahim. Pada masa kehamilan terdapat
keseimbangan antar kedua hormon tersebut di dalam darah. Pada masa persalinan kadar
progesterone menurun sehingga menimbulkan HIS dan inilah yang digunakan sebagai tanda
mulainya persalinan.
2. Teori Oxytocin
Oxytocin berfungsi untuk mesntimulasi kontraksi uterus dengan bekerja secara langsung pada
miometrium dan secara tidak langsung meningkatkan produksi prostaglandin di dalam
desidua. Pada akhir usia kehamilan, kadar oxytocin meningkat sehingga menimbulkan
kontraksi otot-otot rahim.
3. Ketegangan Otot-Otot
Semakin bertambahnya usia kehamilan atau bertambahnya ukuran perut maka, otot rahim
akan semakin teregang dan akan semakin rentan.
4. Pengaruh Janin
Kelenjar adrenal janin menyekresi kortikosteroid yang memicu mekanisme persalinan.
Steroid tadi merangsang pelepasan prekusor ke prostaglandin, yang menyebabkan kotraksi
pada uterus.
5. Teori Prostaglandin
Prostagladin F2 atau E2 yng diberikan secara intravena dan extra amnial menimbulkan
kontrak myometrium. Hal ini terbukti dengan meningkatnya prosaglandin pada sebelum
melahirkan atau selama persalinan.
C. Patofisiologi
Pada ssat 1-2 minggu sebelum melahirkan, mulai terjadi penurunan kadar hormone estrogen
dan progesterone. Progesterone bekerja sebagai penenang otot-otot polos Rahim. Karena itu,
akan terjadi kekejangan pembuluh darah yang menimbulkan his jika kadar progesterone
turun. Sedangkan penurunan plasenta akan menyebabkan tuunnya kadar estrogen dan
progesterone sehingga terjadi kekejangan pembuluh darah. Hal tersebut menimbulkan
kontraksi rahim
D. Menifestasi klinis
1. Tanda Persalinan Sudah Dekat
Menurut (Fitriana, 2018), tanda persalinan sudah dekat terdiri dari :
a. Lightening
Beberapa minggu sebelum persalinan, ibu merasakan badan terasa enteng, sesak
berkurang, tetapi saat berjalan terasa sedikit susah dan terasa nyeri pada anggota
tubuh bagian bawah.
b. Pollakisuria
Pada usia kehamilan mendekati persalinan didapatkan hasil pemeriksaan epigastrium
kendor, fundus uteri lebih rendah daripada kedudukannya, dan kepala janin sudah
mulai masuk ke dalam pintu atas panggul. Hal ini menyebabkan tekanan pada
kandung kemih dan ibu akan sering kencing/pollakisuria. (Apriza, et al., 2020)

c. False Labor
Ibu yang mendekati persalinan akan merasakan his 3-4 minggu sebelum persalinan..
His yang dirasakan ini hanya peningkatan dari kontraksi Braxton Hicks. His
pendahuluan bersifat :
1) Nyeri hanya di bagian bawah perut.
2) Nyeri tidak teratur.
3) Lamanya his pendek dan tidak bertambah kuat, apabila dibawa berjalan akan
sering berkurang.
4) Tidak ada pembukaan serviks.
d. Perubahan Serviks
Sebelum mendekati persalinan kondisi serviks tertutup, panjang dan kurang lunak.
Setelah mendekati persalinan kondisinya berubah menjadi lebih lembut, beberapa
telah terjadi pembukaan dan penipisan. Pada ibu multipara terjadi pembukaan 2 cm,
namun pada primipara biasanya masih tertutup.
e. Energi Spurt
Saat mendekati persalinan beberapa ibu mengalami peningkatan energi 24-28 jam
sebelum peralinan mulai. Hal ini karena beberapa hari sebelumnya ibu merasa
kelelahan fisik karena usia kehamilan yang tua, maka ibu mendapati satu hari
sebelum persalinan dengan energi yang penuh. Peningkatan energi ini tampak dari
aktivitas yang dilakukan melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel,
memasak, dan lainnya sehingga ibu merasa kelelahanmenjelang persalinan dan
persalinan menjadi panjang dan sulit.
f. Gastrointestinal Upsets
Ibu bisa mengalami diare, obstipasi/sembelit, mual dan muntah karena efek
penurunan hormon terhadap sistem pencernaan.
2. Tanda awal persalinan
Tanda awal persalinan menurut (Lombogia, 2017) yaitu :
a. Kontraksi tidak berkembang
Kontraksi cenderung terjadi panjang, kekuatan dan frekueni yang sama. Kontraksi
sebelum persalinan dapat berlangsung singkat atau terus menerus selama beberapa jam
sebelum berhenti atau mulai berkembang
b. Keluarnya darah
Adanya lender bercampur darah dari vagina
c. Rembesan cairan ketuban dari vagina
Hasil ini terjadi karena robekan kecil pada membrane.
3. Tanda positif Persalinan
Menurut (Lombogia, 2017) tanda positif persalinan terdiri dari :
a. Kontraksi yang berkembang
Kontraksi menjadi lebih lama, lebih kuat, dan lebih intens. Biasanya terasa sakit di
daerah perut pinggang, atau keduanya.
b. Aliran cairan ketuban yang deras dari vagina
Hal ini terjadi karena robekan membran yang besar (ROM).
c. Pelebaran leher rahim
Kontraksi yang meningkat menyebabkan peleberan pada leher rahim.

E. Faktor-Faktor yang memperngaruhi persalinan


Menurut (Karjatin, 2016) dan (Saragih, 2017), beberapa faktor yang mempengaruhi proses
persalinan normal ada 5P, yaitu: Power, Passage, Passenger, Psikis ibu bersalin, dan Penolong
persalinan.
1. Power (tenaga)
Power (tenaga) merupakan kekuatan yang mendorong janin untuk lahir. Dalam proses
kelahiran bayi terdiri dari 2 jenis tenaga, yaitu primer dan sekunder.
a. Primer : berasal dari kekuatan kontraksi uterus (his) yang berlangsung sejak muncul
tanda-tanda persalinan hingga pembukaan lengkap.
Pengkajian his :
1) Frekuensi: jumlah his dalam waktu tertentu
2) Durasi : lamanya kontraksi berlangsung dalam satu kontraksi
3) Intensitas : kekuatan kontraksi diukur dalam satuan mmhg dibedakan menjadi kuat,
sedang dan lemah
4) Interval: masa relaksasi (diantara dua kontraksi)
5) Datangnya kontraksi: dibedakan menjadi; kadang-kadang, sering, teratur. Cara
mengukur kontraksi selama 10 menit. Contoh hasil pengukuran: 3x/10’/40-50”/kuat
dan teratur.
b. Sekunder : usaha ibu untuk mengejan yang dibutukan setelah pembukaan lengkap
2. Passenger (Janin)
Passenger/janin dan hubungannya dengan jalan lahir, merupakan faktor utama dalam proses
melahirkan. Hubungan antara janin dan jalan lahir termasuk tengkorak janin, sikap janin,
sumbu janin, presentasi janin, posisi janin dan ukuran janin. Pada persalinan normal yang
berkaitan dengan passenger antara lain: janin bersikap fleksi dimana kepala tulang punggung,
dan kaki berada dalam keadaan fleksi, dan lengan bersilang di dada. Taksiran berat janin
normal adalah 2500-3500 gram dan DJJ normal yaitu 120-160x/menit.
3. Passage (Jalan lahir)
Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yaitu bagian tulang padat, dasar panggul, vagina dan
introitus vagina (lubang luar vagina). Meskipun jaringan lunak, khususnya lapisan-lapisan
otot dasar panggul ikut menunjang keluarnya bayi, tetapi panggul ibu jauh lebih berperan
dalam proses persalinan. Oleh karena itu, ukuran dan bentuk panggul harus ditentukan
sebelum persalinan dimulai. Bentuk panggul ideal untuk dapat melahirkan secara pervaginam
adalah ginekoid
4. Psikis ibu bersalin
Umumnya persalinan normal dianggap hal yang menakutkan karena disertai nyeri hebat,
bahkan terkadang menimbulkan kondisi fisik dan mental yang mengancam jiwa. Nyeri
merupakan fenomena yang subjektif, sehingga keluhan nyeri persalinan setiap wanita tidak
akan sama, sehingga persiapan psikologis penting dalam menjalani persalinan. Dalam proses
persalinan normal, pemeran utamanya adalah ibu, sehingga ibu harus meyakini bahwa ia
mampu menjalani proses persalinan dengan lancar. Karena, jika ibu sudah mempunyai
keyakinan positif maka keyakinan tersebut akan menjadi kekuatan yang sangat besar saat
mengeluarkan bayi. Sebaliknya, jika ibu tidak semangat atau mengalami ketakutan yang
berlebih maka akan membuat proses persalinan menjadi sulit.
5. Penolong persalinan
Orang yang berperan sebagai penolong persalinan adalah petugas kesehatan yang mempunyai
legalitas dalam menolong persalinan, antara lain : dokter, bidan, perawat maternitas dan
petugas kesehatan yang mempunyai kompetensi dalam pertolongan persalinan, menangani
kegawatdaruratan serta melakukan rujukan jika diperlukan. Petugas kesehatan yang memberi
pertolongan persalinan dapat menggunakan alat pelindung diri, serta melakukan cuci tangan
untuk mencegah terjadinya penularan infeksi dari pasien.
F. Mekanisme Persalinan
Menurut (Karjatin, 2016) dan (Kurniarum, 2016), mekanisme persalinan terdiri dari 7 langkah,
yaitu :
1. Engagement (fiksasi)
Masuknya kepala dengan lingkaran terbesar (diameter Biparietal) melalui PAP. Pada
primigravida kepala janin mulai turun pada umur kehamilan kira–kira 36 minggu, sedangkan
pada multigravida pada kira– kira 38 minggu kadang–kadang permulaan partus. Engagement
lengkap terjadi bila kepala sudah mencapai Hodge III. Bila engagement sudah terjadi maka
kepala tidak dapat berubah posisi lagi, sehingga posisinya seolah–olah terfixer di dalam
panggul, oleh karena itu engagement sering juga disebut fiksasi. Pada kepala masuk PAP,
maka kepala dalam posisi melintang dengan sutura sagitalis melintang sesuai dengan bentuk
yang bulat lonjong.
Pada waktu kepala masuk PAP, sutura sagitalis akan tetap berada di tengah yang disebut
Synclitismus. Tetapi kenyataannya, sutura sagitalis dapat bergeser kedepan atau kebelakang
disebut Asynclitismus. Asynclitismus dibagi 2 jenis :
a. Asynclitismus anterior : naegele obliquity yaitu bila sutura sagitalis bergeser mendekati
promontorium.
b. Asynclitismus posterior : litzman obliquity yaitu bila sutura sagitalis mendekati
symphysis.
2. Descencus
Penurunan kepala lebih lanjut kedalam panggul. Faktor yang mempengaruhi descensus :
tekanan air ketuban, dorongan langsung fundus uteri padabokong janin, kontraksi otot– otot
abdomen, ekstensi badan janin.
3. Fleksi
Menekannya kepala dimana dagu mendekati sternum sehingga lingkaran kepala menjadi
mengecil suboksipito bregmatikus (9,5 cm). Fleksi terjadi pada waktu kepala terdorong His
kebawah kemudian menemui jalan [Link] waktu kepala tertahan jalan lahir, sedangkan
dari atas mendapat dorongan, maka kepala bergerak menekan kebawah.
4. Putaran paksi dalam (internal rotation)
Berputarnya oksiput ke arah depan, sehingga ubun -ubun kecil berada di bawah symphisis
(HIII). Faktor-faktor yang mempengaruhi : perubahan arah bidang PAP dan PBP, bentuk
jalan lahir yang melengkung, kepala yang bulat dan lonjong.
5. Defleksi
Mekanisme lahirnya kepala lewat perineum. Faktor yang menyebabkan terjadinya hal ini
ialah : lengkungan panggul sebelah depan lebih pendek dari pada yang belakang. Pada waktu
defleksi, maka kepala akan berputar ke atas dengan suboksiput sebagai titik putar
(hypomochlion) dibawah symphisis sehingga berturut – turut lahir ubun – ubun besar, dahi,
muka dan akhirnya dagu
6. Putaran paksi luar (external rotation)
Berputarnya kepala menyesuaikan kembali dengan sumbu badan (arahnya sesuai dengan
punggung bayi).
7. Expulsi
Lahirnya seluruh badan bayi.
G. Tahap-Tahap Persalinan
Tahap-tahap persalinan menurut (Kurniarum, 2016), dibedakan menjadi kala I sampai IV yaitu :
1. Kala I
Kala ini dimulai saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini
terbagi dalam 2 fase, fase laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7 jam)
serviks membuka dari 4 sampai 10 cm. Kontraksi lebih kuat dan sering selama fase aktif.
Tanda dan gejala kala I :
- His sudah teratur, frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit
- Penipisan dan pembukaan serviks
- Keluar cairan dari vagina dalam bentuk lendir bercampur darah
a. Kala I dibagi menjadi 2 fase :
1) Fase Laten
Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan servik
secara bertahap,pembukaan servik kurang dari 4 cm,biasanya berlangsung hingga
8 jam.
2) Fase Aktif
Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap
adekuat jika terjadi tiga kali atau lebih), serviks membuka dari 4 cm ke 10 cm,
biasanya kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap (10 cm)
dan terjadi penurunan bagian terbawah janin.
2. Kala II (pengeluaran janin)
Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir
dengan lahirnya bayi. Wanita merasa ingin buang air besar karena tekanan pada rektum.
Perinium menonjol dan menjadi besar karena anus membuka. Labia menjadi membuka dan
tidak lama kemudian kepala janin tampak pada vulva pada waktu his. Pada primigravida kala
II berlangsung 1,5-2 jam, pada multi 0,5-1 jam.
Tanda dan gejala kala II :
- Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
- Perineum terlihat menonjol.
- Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginanya.
- Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginanya.
- Vulva-vagina dan sfingkter ani terlihat membuka.
- Peningkatan pengeluaran lendir dan darah.
3. Kala III (kala uri)
Kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak
lebih dari 30 menit. Penatalaksanaan aktif pada kala III (pengeluaran aktif plasenta)
membantu menghindarkan terjadinya perdarahan pascapersalinan. Tanda-tanda pelepasan
plasenta :
- Perubahan bentuk dan tinggi fundus.
- Tali pusat memanjang
- Semburan darah tiba–tiba
a. Manajemen aktif kala III :
Tujuannya adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat
memperpendek waktu kala III dan mengurangi kehilangan darah dibandingkan dengan
penatalaksanaan fisiologis, serta mencegah terjadinya retensio [Link] langkah
manajemen aktif kala III :
1) Berikan oksitosin 10 unit IM dalam waktu dua menit setelah bayi lahir, dan
setelah dipastikan kehamilan tunggal.
2) Lakukan peregangan tali pusat terkendali.
3) Segera lakukan massage pada fundus uteri setelah plasenta lahir
4. Kala IV
Pada kala IV terjadi proses plasenta lahir. Setelah plasenta lahir, kontraksi rahim tetap kuat
dengan amplitudo 60 sampai 80 mmHg, kekuatan kontraksi ini tidak diikuti oleh interval
pembuluh darah tertutup rapat dan terjadi kesempatan membentuk trombus. Melalui
kontraksi yang kuat dan pembentukan trombus terjadi penghentian pengeluaran darah post
partum. Kekuatan his dapat dirasakan ibu saat menyusui bayinya karena pengeluaran
oksitosin oleh kelenjar hipofise posterior.
Tanda dan gejala kala IV adalah bayi dan plasenta telah lahir, tinggi fundus uteri 2 jari
bawah pusat. Pemantauan Selama 2 jam pertama pascapersalinan yaitu, Pantau tekanan
darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih dan perdarahan yang terjadi setiap 15 menit
dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua kala IV. (Kurniarum,
2016)
H. Komplikasi Persalinan
1. Komplikasi kala I
Komplikasi yang dialami ibu melahirkan kala I adalah :
a. Partus lama, biasanya terkait kontraksi uterus yang tidak adekuat atau dilatasi serviks
yang tidak sempurna
b. Ketuban pecah dini (KPD), yaitu pecahnya ketuban sebelum ada tanda persalinan
Komplikasi kala I juga dapat terjadi pada janin, sehingga penting bagi petugas Kesehatan
untuk memastikan keselamatan dan kondisi janin. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu :
a. Asfiksia, yang dapat menyebabkan intrauteri fetal death (IUFD)
b. Sepsis neonatorum. Dapat terjadi karena infeksi akibat ketuban pecah dini.
2. Komplikasi kala II
Komplikasi pada ibu melahirkan di kala II yaitu distosia atau persalinan kala II yang
memanjang. Dimana waktu pwesalinan pada primipara lebih dari 2 jam, atau pada multipara
lebih dari 1 jam tanpa anastesi epidural. Kondisi ini dapat menyebabkan risiko
korioamnionitis, endometritis, infeksi saluran kemih, dan retensi urin.
Distosia dapat terjadi akibat lilitan talli pussat atau bayi besar/makrosomia. Setelah lahir,
kepala bayi perlu diperiksa apakah ada llitan tali pusat di leher, karena dapat menyebabkan
komplikasi pada janin seperti hypovolemia, anemia, syok hipoksis-iskemik, bahkan
ensefalopati. Janin makrosomia dapat menyebabkan distosia bahu.
3. Komplikasi kala III
Pada kala III komplikasi yang terjadi adalah retensis plasenta, yaitu plasenta tidak lahir
spontan dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir. Pada keadaan ini perlu dilakukan Tindakan
manual plasenta. Retensio plasenta dapat menyebabkan perdarahan post partum.
4. Komplikasi kala IV
Pada kala IV, komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan post partum, yaitu jumlah
perdarahan pervagina setelah bayi lahir lebih dari 500 cc atau dapat memper=ngaruhi
hemodinamik pasien. Penyenan perdarahan post partum terdiri dari 4T, yaitu tone (atonia
uteri), tissue (sisa jaringan plasenta), trayna (rupture uteri, serviks atau vagina), dan thrombin
(gangguan factor koagulopati).
a. Atonoa uteri
Atonia uteri segera terlihat setelah bayi lahir. Tanda kontraksi uterus tidak baik
adalah uterus teraba lembek, kondisi ini dapat enyebabkan perdarahan massif
sehingga pasien mengalami syok hipovolemik.
b. Sisa jaringan plasenta
Plasenta yang dikeluarkan tidak lengkap dan tertinggal di dalam uterus, dapat
menyebabkan perdarahan pervagina hingga 6-10 hari setelah melahirkan.
I. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan USG kehamilan
2. Pemeriksaan laboraturiu rutin (Hb dan urinalisis serta protein urine)
3. Cardiotocography
4. Amniosentesis
J. Penatalaksanaan medis
1. Ibu
a) Oksitosin 1 ml atau 10 iu
b) Lidokokain 1% tanpa epinefrin atau 10 ml lidokain 2% tanpa epinefrin
c) Infus RL
d) Metal ergometrin maleat
2. Bayi
a) Salep kolamprenikol
b) Vit K 1 mg
K. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
1) Identitas
1) Nama suami dan istri
Agar dalam melakukan komunikasi dengan pasien keluarga dapat terjalin
komunikasi dengan baik.
2) Usia
Penyulit dalam kehamilan remaja lebih tinggi dibanding umur 20 sampai 30
tahun.
3) Alamat
Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan / informasi bila diperlukan.
Bila keadaan mendesak, dengan diketahuinya alamat tersebut bidan dapat
mengetahui tempat tinggal pasien/klien dan lingkungannya.
4) Pekerjaan
Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap
permasalahan kesehatan pasien.
5) Agama
Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan
kesehatan pasien/klien.
6) Pendidikan
Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya tingkat pendidikan
mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.
7) Status perkawinan
Ditanyakan kepada ibu atau calon ibu, untuk mengetahui kemungkinan pengaruh
status perkawinan terhadap masalah kesehatan, bila diperlukan ditanyakan
tentang keberapa kalinya.
8) Lama Perkawinan
Kalau orang hamil sudah lama menikah, nilai anak tentu besar sekali dan ini
harus diperhitungkan dalam pimpinan (anak mahal)
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Ditanyakan untuk mengetahui perihal yang mendorong pasien/klien datang mencari
pertolongan.
b. Riwayat keluhan utama
P : Provokasi / palatif (penyebab)
Q : Quality / bagaimana gejala dirasakan
R : Region / dimana gejala dirasakan
S : Skala keadaan / seberapa parah yang dialami pasien
T : Time / sejak kapan keluhan terjadi dan sampai kapan
c. Riwayat kesehatan sekarang
Yang perlu dikaji : sejak kapan ibu merasakan pergerakan anak, umur kehamilan, ANC
berapa kali, dimana imunisasi TT didapatkan, teraphie yang didapatkan, penyuluhan
yang didapatkan, bila mulai didapatkan gerakan anak,kalau kehamilan masih muda
adalah mual, muntah, sakit kepala, [Link] kehamilan tua adalah bengkak di
kaki/muka, sakit kepala, perdarahan, sakit pinggang dan lain-lain.
d. Riwayat kesehatan dahulu
1) Riwayat kesehatan klien
Menarche pada usia berapa, haid teratur atau tidak, siklus haid berapa hari, lama
haid, warna darah haid, HPHT kapan, terdapat sakit waktu haid atau tidak.
2) Riwayat kehamilan, persalinan dan nipas yang lalu
Hamil dan persalinan berapa kali, anak hidup atau mati, usia, sehat atau tidak,
penolong siapa, nifas normal atau tidak.
3) Pengalaman Menyusui
Menyusui merupakan cara yang optimal dalam memberikan nutrisi bagi bayi.
Menanyakan riwayat menyusui bertujuan untuk mengetahui ibu hamil telah
memiliki pengalaman menyusui dan terdapat masalah saat menyusui atau tidak
4) Riwayat pemakaian alat kontrasepsi
Perlu dicatat bagi ibu yang mengikuti atau pernah mengikuti KB. Hal ini penting
diketahui apakah kehamilan sekarang direncanakan atau tidak.
5) Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit keturunan dalam keluarga, anak kembar atau penyakit menular yang dapat
mempengaruhi persalinan.
e. Riwayat Kehamilan Saat ini
1) Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT)
Untuk menentukan usia kehamilan dan taksiran persalinan.
2) Taksiran partus
Taksiran partus atau taksiran persalinan dapat ditemukan dengan menggunakan
hukum naegele.
3) BB sebelum hamil
Berat badan sebelum hamil sangat berpengaruh terhadap nutrisi ibu hamil. Ibu hamil
biasanya mengalami peningkatan berat badan ketika hamil. Ibu hamil yang tidak
mengalami peningkatan berat badan memilki kemungkinan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh sehingga sangat berppengaruh terhadap berat janin.
4) Berapa kali periksa kehamilan
Tempat periksa kehamilan
0. Data Umum Saat ini
a. Status obstetric (G,P,A,H)
b. Keadaan umum
c. Tanda-tanda vital

● Tekanan darah pada ibu hamil tidak boleh melebihi 120/80 mmHg. Ibu hamil

dengan tekanan darah tinggi sangat beresiko terhadap kehidupan dirinya serta
janinnya.

● Nadi pada ibu hamil biasanya meningkat yaitu 80-90 kali per menit.
● Suhu normal pada ibu hamil yaitu 36,5 – 37,5 derajat celcius.

● Pernafasan normal pada ibu hamil yaitu 16 – 23 kali per menit.

d. Pemeriksaan fisik dan pengkajian fungsional


1) Kepala Leher
- Kepala: kebersihan kepala, simetris, tidak ada benjolan, tidak ada lesi
- Mata: kesimetrisan, warna konjungtiva normal yaitu merah muda, warna sklera
putih, pupil mengecil jika terkena cahaya
- Hidung: kesimetrisan, tidak ada lesi, tidak ada sumbatan, tidak ada perdarahan
dan tanda infeksi.
- Mulut: mukosa bibir lembab, tidak ada lesi dan stomatis
- Telinga: kesimetrisan, tidak ada gangguan pendengaran, tanda infeksi, tidak
ada lesi dan sebagainya.
- Leher: tidak ada pembesaran kelenjar tiroyd
2) Dada
- Jantung: terdengar bunyi S1 (Lub) dan bunyi S2 (Dub) serta tidak ada bunyi
jantung tambahan S3 dan S4.
- Paru: bunyi paru vesicular dan tidak ada bunyi tambahan.
- Payudara: puting susu tampak menonjol, areola hiperpigmentasi (kehitaman
atau kecoklatan) serta pengeluaran ASI pertama atau kolostrum.
3) Abdomen
a) Palpasi
Untuk menentukan besarnya Rahim, untuk menentukan usia kehamilan dan untuk
menentukan letaknya anak dalam Rahim
- Menentukan usia kehamilan menurut [Link]
Umur kehamilan dalam bulan di ukur dari panjang antara simfisis pubis dan
puncak fundus uteri dalam sentimeter dibagi 3 ½ cm.
- Menentukan usia kehamilan menurut perhitungan TFU secara internasional

● Kurang dari 12 minggu – belum dapat diraba di atas simpisis.

● 12 minggu – 1-2 jari di atas sisfisis.

● 16 minggu – pertengahan antara sisfisis dan pusat

● 24 minggu – setinggi pusat

● 28 minggu – 3 jari diatas pusat


● 32 minggu – pertengahan antara pusat dan px

● 36 minggu – 3 jari dibawah px

● 40 minggu – pertengahan px dan pusat (3 jari diatas pusat)

- Menurut Leopold

● Leopold I

Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian yang terletak di fundus uteri.
Jika teraba bagian tidak melenting, dapat digoyangkan, lunak maka itu
adalah bokong. Sedangkan jika teraba bagian melennting, keras, tidak
dapat digoyangkan, bundar maka itu adalah kepala.

● Leopold II

Menentukan bagian yang terletak di bagian samping atau menentukan


letak punggung. Letak membujur dapat ditetapkan punggung anak yang
mana teraba keras, memanjang seperti papan dan sisi yang berlawanan
teraba bagian kecil janin. Pada letka lintang dapat ditetapkan dimana
kepala janin. Dikatakan normal apabila teraba punggung di bagian kiri
atau kanan.

● Leopold III

Menetapkan bagian yang terdapat di atas simfisis pubis. Untuk


mengetahui bagian terendah janin. Kepala akan teraba bulat, keras dan
melenting. Sedangkan bokong akan teraba tidak keras dan tidak bulat.
Dikatakan normal apabila teraba kepala, bagian yang bulat dan keras.

● Leopold IV

Menetapkan bagian terendah janin telah masuk pintu atas panggul


(PAP) atau belum. Bila divergen makan bagian depan telah masuk PAP,
bila sejajar maka separuh bagian depan telah masuk PAP.
- Linea nigra
Linea nigra merupakan garis gelap pada abdomen yang berada pada bagian
tengah hingga membelah pusar ke bawah. Umumnya semua wanita hamil
memilki garis linea nigra.
- Striae gravidarum
Striae gravidarum merupakan garis yang terlihat pada kulit wanita hamil
atau disebut juga guratan putih pada bagian perut ibu hamil. Tidak semua
wanita hamil memilki striae gravidarum.
b) Auskultasi
- DJJ terdengar dimana,frekwensi, irama, dengan cara 5 detik berselang, 30
menit dikalikan 2/dihitung selama 1 menit penuh.
- Kalau bunyi jantung janin kurang dari 120/menit atau lebih dari 160/menit
atau tidak teratur,maka anak dalam keadaan asphyxial (kekurangan O2).
d. Periuneum dan Genitalia
Untuk mengetahui kebersihan vagina, keputihan pada vagina serta hemoroid. Pada
wanita hamil sering mengeluh mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak.
Keadaan ini merupakan keadaan yang normal pada ibu hamil.
e. Ekstremitas
Untuk mengetahui refleks patela, terdapat edema atau tidak, terdapat varises atau
tidak.
f. Eliminasi
Untuk mengetahui frekuensi BAB dan BAK teratur. Pada ibu hamil mengeluh sering
kencing. Keadaan ini merupakan keadaan yang normal.
g. Mobilisasi dan Latihan
Imobilisasi dapat digerakan secara bebas atau tidak.
h. Istirahat dan kenyamanan
Tidak ada keluhan sulit tidur dan gangguan pola tidur.
i. Nutrisi dan cairan
Asupan nutrisi cukup atau tidak. Asupan cairan cukup atau tidak. Serta nafsu makan
meningkat atau tidak. Kebutuhan nutrisi pada ibu hamil meningkat dibandingkan
sebelum hamil.
j. Keadaan mental
Adaptasi psikologis ibu hamil dan penerimaan terhadap kehamilan sangat
berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin.
k. Pola hidup yang meningkatkan resiko kehamilan

L. Diagnosa Keperawatan
1. Kala I
- Nyeri melahirkan berhubungan dengan adanya dilatasi serviks
- Risiko cedera janin ditandai dengan persalinan lama kala I
2. Kala II
- Risiko cedera ibu ditandai dengan penyakit penyerta
- Risiko cedera janin ditandai dengan persalinan lama kala II
3. Kala III
- Risiko perdarahan ditandai dengan komplikasi pasca partum
4. Kala IV
- Risiko perdarahan ditandai dengan komplikasi pasca partum
- Nyeri akut berhubungan dengan Agen pencedera fisik (mis: abses, amputasi,
terbakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, Latihan fisik
berlebihan).
- Risiko infeksi diandai dengan efek prosedur invasif
M. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi

1. Nyeri melahirkan Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri (I08238)


keperawatan selama 1 x 30 menit, Observasi
● Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
Tingkat nyeri menurun,
intensitas nyeri
dengan kriteria : ● Identifikasi skala nyeri

1. Keluhan nyeri menurun ● Idenfitikasi respon nyeri non verbal

2. Perineum terasa tertekan ● Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
menurun ● Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
3. Meringis menurun ● Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
4. Berfokus pada diri sendiri ● Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
menurun
● Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah
5. Uterus teraba membulat
diberikan
menurun
● Monitor efek samping penggunaan analgetic

Terapeutik

● Berikan Teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri


(mis: TENS, hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedback,
terapi pijat, aromaterapi, Teknik imajinasi terbimbing,
kompres hangat/dingin, terapi bermain)

● Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis: suhu


ruangan, pencahayaan, kebisingan)
● Fasilitasi istirahat dan tidur

● Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan


strategi meredakan nyeri

Edukasi

● Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

● Jelaskan strategi meredakan nyeri

● Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri

● Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat

● Ajarkan Teknik farmakologis untuk mengurangi nyeri

Kolaborasi

● Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

2. Risiko cedera ibu Setelah dilakukan intervensi Perawatan Persalinan Resiko Tinggi
keperawatan selama 1 x 15 menit Observasi
● Identifikasi kondisi umum pasien
maka tingkat cedera menurun,
dengan kriteria hasil : ● Monitor tanda-tanda vital

1. Kejadian cedera menurun ● Monitor kelainan tanda vital pada ibu dan janin
2. Luka/lecet menurun ● Monitor tanda-tanda persalinan
● Monitor denyut jantung janin
● Identifikasi posisi janin dengan USG
● Identifikasi perdarahan pasca persalinan

Terapeutik

● Sediakan peralatan yang sesuai, termasuk monitor janin,


ultrasound, mesin anestesi, persediaan resusitasi neonatal,
forceps, dan penghangat bayi ekstra
● Dukung orang terdekat mendampingi pasien
● Gunakan Tindakan pencegahan universal
● Lakukan perineal scrub
● Fasilitasi rotasi manual kepala janin dari oksiput posterior ke
posisi anterior
● Lakukan amniotomy selaput ketuban
● Fasilitasi Tindakan forceps atau ekstraksi vakum, jika perlu
● Lakukan resusitasi neonatal, jika perlu
● Fasilitasi ibu pulih dari anestesi, jika perlu
● Motivasi interaksi orang tua dengan bayi baru lahir segera
setelah persalinan
● Dokumentasikan prosedur (mis: anestesi, forsep, ekstraksi
vakum, tekanan suprapubic, manuver McRobert, resusitasi
neonatal)

Edukasi

● Jelaskan prosedur Tindakan yang akan dilakukan

● Jelaskan karakteristik bayi baru lahir yang terkait dengan


kelahiran berisiko tinggi (mis: memar dan tanda forceps)
Kolaborasi

● Koordinasi dengan tim untuk standby (mis: neonatologis,


perawat intensif neonatal, anetesiologis)

● Kolaborasi pemberian anestesi maternal, sesuai kebutuhan

3. Risiko cedera janin Setelah dilakukan intervensi Pemantauan denyut jantung janin (I02056)
keperawatan selama 1 x 15 menit Observasi
● Identifikasi status obstetrik
maka tingkat cedera menurun,
dengan kriteria hasil : ● Identifikasi Riwayat obstetrik

1. Kejadian cedera menurun ● Identifikasi adanya penggunaan obat, diet, dan merokok
2. Luka/lecet menurun ● Identifikasi pemeriksaan kehamilan sebelumnya
● Periksa denyut jantung janin selama 1 menit
● Monitor denyut jantung ibu
● Monitor tanda vital ibu

Terapeutik

● Atur posisi pasien

● Lakukan manuver leopold untuk menentukan posisi janin

Edukasi

● Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan


● Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

4. Risiko perdarahan Setelah dilakukan intervensi Pencegahan Perdarahan (I.02067)


keperawatan selama 1 x 30 menit Observasi
maka tingkat perdarahan menurun, ● Monitor tanda dan gejala perdarahan
dengan kriteria hasil :
● Monitor nilai hematokrit/hemoglobin sebelum dan setelah
1. Membran mukosa lembab kehilangan darah
meningkat
● Monitor tanda-tanda vital ortostatik
2. Kelembaban kulit meningkat
3. Hemoptisis menurun ● Monitor koagulasi (mis: prothrombin time (PT), partial
4. Hematemesis menurun thromboplastin time (PTT), fibrinogen, degradasi fibrin
dan/atau platelet)
5. Hematuria menurun
Terapeutik
6. Hemoglobin membaik
● Pertahankan bed rest selama perdarahan
7. Hematokrit membaik

● Batasi tindakan invasive, jika perlu

● Gunakan kasur pencegah decubitus

● Hindari pengukuran suhu rektal

Edukasi

● Jelaskan tanda dan gejala perdarahan

● Anjurkan menggunakan kaus kaki saat ambulasi


● Anjurkan meningkatkan asupan cairan untuk menghindari
konstipasi

● Anjurkan menghindari aspirin atau antikoagulan

● Anjurkan meningkatkan asupan makanan dan vitamin K

● Anjurkan segera melapor jika terjadi perdarahan

Kolaborasi

● Kolaborasi pemberian obat pengontrol perdarahan, jika perlu

● Kolaborasi pemberian produk darah, jika perlu

● Kolaborasi pemberian pelunak tinja, jika perlu

5. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri (I08238)


keperawatan selama 1 x 30 menit, Observasi
● Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
Tingkat nyeri menurun,
intensitas nyeri
dengan kriteria : ● Identifikasi skala nyeri

1. Keluhan nyeri menurun ● Idenfitikasi respon nyeri non verbal

2. Meringis menurun ● Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

3. Sikap protektif menurun ● Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri

4. Gelisah menurun ● Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri


● Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
5. Kesulitan tidur menurun
● Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah
6. Frekuensi nadi membaik diberikan
● Monitor efek samping penggunaan analgetic

Terapeutik

● Berikan Teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri


(mis: TENS, hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedback,
terapi pijat, aromaterapi, Teknik imajinasi terbimbing,
kompres hangat/dingin, terapi bermain)

● Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis: suhu


ruangan, pencahayaan, kebisingan)

● Fasilitasi istirahat dan tidur

● Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan


strategi meredakan nyeri

Edukasi

● Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

● Jelaskan strategi meredakan nyeri

● Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri

● Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat

● Ajarkan Teknik farmakologis untuk mengurangi nyeri

Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

6. Risiko infeksi Setelah dilakukan tindakan Pencegahan Infeksi (I.12539)


keperawatan selama 1 x 30 menit, Observasi
● Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
Tingkat infeksi menurun,
Terapeutik
dengan kriteria :
● Batasi jumlah pengunjung
1. Demam menurun
2. Kemerahan menurun ● Berikan perawatan kulit pada area edema

3. Nyeri menurun ● Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan
4. Bengkak menurun lingkungan pasien

5. Kadar sel darah putih membaik ● Pertahankan teknik aseptic pada pasien berisiko tinggi

Edukasi

● Jelaskan tanda dan gejala infeksi

● Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar

● Ajarkan etika batuk

● Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi

● Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi

● Anjurkan meningkatkan asupan cairan

Kolaborasi
● Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu

Anda mungkin juga menyukai