NASKAH FILM PENDEK
EKSPERIMEN HUBUNGAN
Ditulis oleh:
Kelompok Film Pendek
Pemeran:
Dewa | Sofwan | Fina | Afifah | Christina
Genre : Romansa Horor / Psikologi
Durasi : +/- 7 Menit
Format : Landscape HD
Musik : No Copyright
TEMA: KISAH SELINGKUH DI KAMPUS / ROMANSA HOROR
DAFTAR PERAN
DEWA sebagai Kevin — Mahasiswa psikologi, ambisius,
dingin, manipulatif. Antagonis utama.
SOFWAN sebagai Rian — Teman kampus yang hangat dan
tulus. Polos. Tanpa sadar jadi bagian eksperimen.
FINA sebagai Maya — Pacar Kevin. Perempuan lembut
dan tulus. Korban utama eksperimen.
AFIFAH sebagai Sari — Sahabat Maya. Kritis, perhatian,
curiga sejak awal pada Kevin.
CHRISTINA sebagai Dinda — Teman kampus. Ceria dan santai.
Tanpa sadar menjadi target Kevin berikutnya.
SINOPSIS
Kevin, mahasiswa psikologi yang dingin dan ambisius, secara
diam-diam menjadikan hubungannya dengan Maya sebagai bahan
eksperimen pribadi. Dengan bantuan tak disadari dari Sari dan
Dinda — dua sahabat Maya — Kevin secara sistematis menciptakan
jarak emosional dan memperkenalkan Rian sebagai figur pengganti.
Saat Maya akhirnya menyandar pada Rian, Kevin tidak marah. Ia
mencatat. Kebenaran yang terungkap jauh lebih mengerikan dari
selingkuh biasa: semua ini adalah rencananya sejak awal. Dan
Dinda adalah subjek berikutnya.
BABAK I — SETUP ( +/- 2 MENIT )
SCENE 1 — INT. RUANG KULIAH — SIANG
[IN FRAME: Dewa, Sofwan, Fina, Afifah, Christina — semua 5 pemeran]
Kelas ramai sebelum dosen datang. MAYA, SARI, dan DINDA masuk
bersama dari pintu kiri, tertawa kecil. KEVIN sudah duduk
sendiri di pojok kanan, menulis serius di buku catatannya. RIAN
masuk dari pintu lain, melihat Kevin, dan berjalan
menghampirinya.
SARI (AFIFAH)
(berbisik ke Maya, melirik Kevin)
Pacar kamu udah dari tadi sendirian lagi
tuh. Nggak diajak duduk bareng?
MAYA (FINA)
(sedikit menghela napas, tersenyum kecil)
Kamu tau sendiri dia gimana, Sa. Lebih
suka fokus sendiri.
DINDA (CHRISTINA)
(cuek, duduk sambil langsung buka HP)
Serius banget hidupnya. Refreshing dong
sekali-kali.
Maya memisahkan diri dari Sari dan Dinda, berjalan menghampiri
Kevin.
RIAN (SOFWAN)
(duduk di sebelah Kevin, santai)
Kev, kamu udah ngerjain resume buat Pak
Hendra?
KEVIN (DEWA)
(tanpa mengangkat kepala dari buku)
Sudah dari semalam.
MAYA (FINA)
(tiba, tersenyum, duduk di sisi Kevin)
Kamu nggak mau duduk bareng kita? Sari
sama Dinda di sana.
KEVIN (DEWA)
(datar)
Nggak perlu. Di sini lebih kondusif.
Maya sedikit terluka. Ia meraih tangan Kevin — Kevin
membiarkannya sebentar, lalu perlahan menarik tangannya kembali.
Di kejauhan, Sari mengamati. Alisnya naik.
SARI (AFIFAH)
(berbisik ke Dinda, cemas)
Kamu lihat itu nggak? Kevin tarik
tangannya lagi.
DINDA (CHRISTINA)
(lirik sebentar, kembali ke HP)
Mungkin dia lagi mood-nya gitu kali, Sa.
Jangan lebay.
SARI (AFIFAH)
(pelan, pada dirinya sendiri)
Semoga aja...
CLOSE-UP: Buku catatan Kevin. Tertulis — "Hari ke-12. Jarak
emosional ditingkatkan. Respons subjek: mencari afirmasi. Sesuai
prediksi."
SCENE 2 — INT. KANTIN KAMPUS — SIANG
[IN FRAME: Semua 5 pemeran di satu meja panjang]
Semua lima orang makan bersama. Kevin di ujung meja, Maya di
sebelahnya. Rian duduk di seberang. Sari dan Dinda di sisi lain,
sesekali mengobrol. Suasana hangat — kecuali Kevin.
DINDA (CHRISTINA)
(antusias, mulut setengah penuh)
Eh, kalian denger nggak? Minggu depan
ada nonton bareng di lapangan. Gratis
lagi!
SARI (AFIFAH)
Serius? Film apa?
DINDA (CHRISTINA)
Entah. Yang penting gratis!
RIAN (SOFWAN)
(tertawa kecil)
Logika Dinda. Film apapun asal gratis
oke.
MAYA (FINA)
(menoleh ke Kevin, bersemangat)
Kev, kita ikut yuk? Kayaknya seru.
KEVIN (DEWA)
(tidak menatap Maya, datar)
Aku ada keperluan lain.
Senyum Maya pudar. Sari memperhatikan, menggigit bibir.
SARI (AFIFAH)
(cepat mencairkan suasana)
Kalau gitu kita berlima aja. Rian ikut
kan?
RIAN (SOFWAN)
Bisa sih, tergantung jadwal. Kev, kamu
beneran nggak bisa?
KEVIN (DEWA)
(akhirnya menatap — ekspresi analitis, bukan sungkan)
Kalian pergi saja. Lebih menyenangkan
tanpa aku.
Kalimat itu terdengar seperti kerendahan hati, tapi nadanya
terlalu datar. Maya menunduk. Kevin melirik — bukan ke Maya,
tapi ke Rian. Ia mengamati bagaimana Rian diam-diam mencuri
pandang ke Maya. Kevin menulis sesuatu di bawah meja.
CLOSE-UP: "Variabel pengganti (Rian) menunjukkan respons empati
terhadap subjek. Fase berikutnya: isolasi emosional dimulai."
BABAK II — KONFRONTASI ( +/- 3 MENIT )
SCENE 3 — INT. KORIDOR KAMPUS — SORE
[IN FRAME: Fina, Afifah, Christina — Sofwan muncul — Dewa di latar jauh]
Maya, Sari, dan Dinda berjalan bersama di koridor setelah kelas.
Maya terlihat gelisah, berkali-kali melirik HP-nya.
DINDA (CHRISTINA)
(ngobrol santai)
Mau ke perpus dulu nggak? Aku butuh buku
referensi buat minggu depan.
SARI (AFIFAH)
(melirik Maya yang diam)
May, kamu baik-baik aja?
MAYA (FINA)
(tersadar, memaksakan senyum)
Iya, aku baik. Cuma Kevin dari tadi
nggak angkat telepon.
SARI (AFIFAH)
(menahan diri dari komentar negatif)
Mungkin lagi sibuk. Coba lagi nanti aja.
DINDA (CHRISTINA)
(polos)
Atau HP-nya mati? Kevin kan jarang
ngecek HP.
Rian muncul dari sudut koridor, membawa dua cup kopi. Ia melihat
mereka dan melambai.
RIAN (SOFWAN)
(ramah)
Eh, kalian habis kelas juga? Mau ke
mana?
DINDA (CHRISTINA)
Perpus! Mau ikut?
RIAN (SOFWAN)
(mengangkat dua cup kopi, sedikit salah tingkah)
Ini tadi aku beliin kopi dua, eh teman
yang mau diajarin malah cancel. Kalian
mau nggak? Sayang kalau dibuang.
SARI (AFIFAH)
(tersenyum)
Aku boleh dong.
RIAN (SOFWAN)
(matanya beralih ke Maya yang diam)
Maya? Kamu kelihatan capek. Minum dulu
mungkin?
MAYA (FINA)
(terkejut diperhatikan, agak canggung)
Oh... makasih, Ri.
Rian menyerahkan kopi ke Maya. Sari melirik momen itu — antara
lega Maya diperhatikan, tapi juga sedikit waspada. Dinda sudah
berjalan duluan, tidak menyadari apapun. Di ujung koridor, Kevin
berdiri — ia melihat semuanya. Ekspresinya bukan cemburu. Puas.
KEVIN (DEWA)
(sangat pelan, hanya untuk dirinya)
Tepat seperti yang aku prediksi.
Ia berbalik pergi tanpa suara.
SCENE 4 — INT. PERPUSTAKAAN — SORE
[IN FRAME: Semua 5 pemeran — Kevin sengaja memisahkan diri]
Sari, Dinda, dan Rian duduk bersama mengerjakan tugas. Maya
duduk sedikit terpisah, melamun. Kevin masuk, melewati meja
mereka, dan memilih duduk di pojok berbeda — tidak menyapa Maya
sama sekali.
SARI (AFIFAH)
(berbisik ke Rian)
Ri, kamu perhatiin nggak Maya belakangan
ini? Dia kayak nggak fokus terus.
RIAN (SOFWAN)
(berbisik balik, ikut melirik Maya)
Iya, aku juga nyadar. Kevin lagi gimana?
SARI (AFIFAH)
(menghela napas)
Entah. Tapi aku nggak enak liat Maya
kayak gitu.
DINDA (CHRISTINA)
(tiba-tiba menyela, nggak sadar mereka berbisik)
Kalian ngomongin apa? Aku ketinggalan—
SARI (AFIFAH)
(cepat)
Nggak ada. Fokus tugasnya dulu.
Maya melihat Kevin masuk — matanya menyala sebentar. Tapi Kevin
tidak mendekatinya. Ia duduk jauh di pojok, membuka buku. Maya
menunduk lagi. Rian memperhatikan ini semua dengan perasaan yang
sulit diartikan.
RIAN (SOFWAN)
(berbisik ke Sari)
Dia nggak ngehampirin Maya...
SARI (AFIFAH)
(menggigit bibir, pelan)
Aku tau.
SCENE 5 — INT. KAMAR KOS KEVIN — MALAM
[IN FRAME: Dewa solo — bisa difilmkan terpisah]
Kamar yang rapi tapi dingin. Kevin duduk di meja belajar,
dikelilingi kertas penelitian dan buku-buku psikologi. Laptop
terbuka — layarnya menampilkan judul: "Teori Perselingkuhan:
Studi Kasus Pribadi — Kevin Pratama". Papan di dinding penuh
diagram dengan nama-nama: MAYA, RIAN, SARI, DINDA. Kevin
berdiri, menatap langsung ke kamera — fourth wall break.
KEVIN (DEWA)
(ke kamera, tenang dan dingin)
Orang-orang bilang cinta itu tidak bisa
diprediksi.
Ia tersenyum tipis.
KEVIN (DEWA)
Mereka salah. Cinta adalah variabel. Dan
setiap variabel... bisa diuji. Bisa
dimanipulasi. Bisa diarahkan ke hasil
yang sudah kamu tentukan sejak awal.
Ia berdiri, menunjuk papan di dinding.
KEVIN (DEWA)
Maya mudah percaya. Rian terlalu baik.
Sari terlalu protektif — tapi tidak
cukup berani bertindak. Dan Dinda...
Jeda. Kevin melirik ke nama DINDA di papan.
KEVIN (DEWA)
Terlalu tidak peduli untuk jadi
penghalang.
Ia kembali ke meja. Di atas meja ada foto Kevin dan Maya yang
tersenyum bahagia. Kevin memandanginya sebentar — lalu membalik
foto itu menghadap ke bawah.
KEVIN (DEWA)
(berbisik)
Semua sudah berjalan sesuai rencana.
SCENE 6 — EXT. TAMAN KAMPUS — SORE (BEBERAPA HARI KEMUDIAN)
[IN FRAME: Semua 5 pemeran — Kevin di background jauh]
Sore yang hangat. SARI dan DINDA duduk di rerumputan mengerjakan
tugas, sesekali mengobrol. Tidak jauh dari mereka, MAYA dan RIAN
duduk di bangku — lebih berdua, lebih intim. KEVIN terlihat
sangat jauh di background.
DINDA (CHRISTINA)
(sambil nulis, tidak terlalu memperhatikan)
Sa, menurut kamu jawaban nomor empat itu
A atau C?
SARI (AFIFAH)
(menjawab otomatis, matanya justru melirik Maya dan Rian)
C. Eh, Sa... lihat Maya sama Rian deh.
DINDA (CHRISTINA)
(angkat kepala, lirik sebentar)
Kenapa? Mereka lagi ngobrol biasa aja
kan?
SARI (AFIFAH)
(pelan, khawatir)
Kamu nggak ngerasa itu... terlalu dekat?
Di bangku, Rian mengeluarkan earphone dari tasnya.
RIAN (SOFWAN)
Dengerin ini. Aku suka putar ini kalau
lagi banyak pikiran.
MAYA (FINA)
(menerima earphone, menutup mata sesaat)
Ini... tenang banget. Indah.
RIAN (SOFWAN)
(menatap Maya dengan tulus)
Kamu kelihatan lebih rileks sekarang.
MAYA (FINA)
(membuka mata, menatap Rian — ada sesuatu yang berbeda)
Makasih, Ri. Kamu... selalu ada di saat
yang tepat.
Perlahan Maya menyandarkan kepalanya ke bahu Rian. Rian kaku
sebentar — lalu membiarkannya.
SARI (AFIFAH)
(berbisik ke Dinda, cemas)
Dinda. Sekarang kamu lihat nggak?
DINDA (CHRISTINA)
(akhirnya melihat serius, ekspresi berubah)
Oh... oh. Itu... hmm.
SARI (AFIFAH)
(tidak tahu harus berbuat apa)
Harusnya aku bilang sesuatu nggak ya...
Dari kejauhan, Kevin memotret momen Maya dan Rian dengan
ponselnya. Wajahnya lega — seperti ilmuwan yang melihat hasil
eksperimennya berhasil. Ia menyimpan ponsel dan pergi tanpa
suara. Dinda sempat menoleh.
DINDA (CHRISTINA)
(bingung)
Eh... itu Kevin tadi? Dia lihat tapi
pergi gitu aja?
SARI (AFIFAH)
(menatap arah kepergian Kevin, tidak nyaman)
Iya. Dan aku makin nggak enak perasaan.
BABAK III — RESOLUSI ( +/- 2 MENIT )
SCENE 7 — INT. RUANG KULIAH — PAGI
[IN FRAME: Semua 5 pemeran — KONFRONTASI UTAMA]
Kelas kosong, belum dimulai. Kevin sudah duduk sendiri. Maya
masuk dengan langkah berat, wajah pucat. Sari mengikuti dari
belakang. Rian dan Dinda sedang mengobrol di kursi mereka —
berhenti saat melihat ekspresi Maya.
SARI (AFIFAH)
(memegang lengan Maya sebelum mendekati Kevin)
Maya, kamu yakin mau ngomong sekarang?
MAYA (FINA)
(mengangguk, tegas meski gemetar)
Aku harus, Sa.
Maya mendekati Kevin dan duduk di hadapannya. Sari berdiri
beberapa langkah di belakang. Rian dan Dinda saling pandang.
MAYA (FINA)
(suara bergetar, mencoba tenang)
Kev... aku harus jujur sama kamu. Aku
sama Rian—
KEVIN (DEWA)
(memotong, tenang seperti biasa)
Aku tahu.
MAYA (FINA)
(terkejut)
Kamu... tahu?
KEVIN (DEWA)
Aku yang membuatnya terjadi.
Senyap. Sari mengernyit. Rian bangkit dari kursinya. Dinda
berhenti mengetik.
SARI (AFIFAH)
(tidak bisa menahan diri)
Maksudnya apa itu?
KEVIN (DEWA)
(membuka buku catatannya dan menyerahkan ke Maya)
Baca halaman pertama.
Maya mengambil buku itu dengan tangan gemetar. Ia membaca.
Wajahnya perlahan hancur. Sari melangkah maju, membaca dari
balik bahu Maya. Ekspresi Sari berubah dari bingung — ke marah.
SARI (AFIFAH)
(suara meninggi, menahan amarah)
Kevin... ini apa? Kamu jadiin Maya bahan
penelitian?!
KEVIN (DEWA)
(datar)
Bukan sekadar penelitian. Ini pembuktian
hipotesis. Hasilnya valid.
RIAN (SOFWAN)
(bangkit berdiri, tidak percaya)
Kev, kamu serius? Aku... aku bagian dari
ini juga?
KEVIN (DEWA)
(menatap Rian tanpa penyesalan)
Kamu variabel yang paling mudah
diprediksi, Rian. Orang baik selalu
mengisi kekosongan emosional yang aku
ciptakan.
RIAN (SOFWAN)
(terpukul, mundur selangkah)
Gila kamu.
DINDA (CHRISTINA)
(berdiri, ekspresi syok bercampur jijik)
Kamu manfaatin semua orang? Maya, Rian,
bahkan kita semua yang ada di sini?
KEVIN (DEWA)
(melirik Dinda — tatapannya satu detik terlalu lama)
Observasi tidak memerlukan persetujuan
subjek.
MAYA (FINA)
(menjatuhkan buku catatan, air mata jatuh)
Selama ini kamu nggak pernah sayang sama
aku? Semuanya... cuma data?
KEVIN (DEWA)
(jeda — untuk pertama kalinya ada sesuatu yang retak di
wajahnya, tapi ia cepat menyembunyikannya)
Data tidak berbohong.
Maya berdiri dan pergi. Sari langsung mengikuti, merangkul
bahunya. Rian berdiri kaku menatap Kevin — antara marah dan
tidak percaya. Dinda melewati Kevin dengan tatapan tajam.
DINDA (CHRISTINA)
(pelan, hampir berbisik saat melewati Kevin)
Kamu sakit, Kevin.
Kevin tidak menjawab. Ia menatap kepergian mereka semua. Lalu ia
mengambil buku catatannya yang terjatuh, meletakkannya di meja,
dan membuka halaman baru.
SCENE 8 — INT. PERPUSTAKAAN KAMPUS — SIANG
[IN FRAME: Dewa, Christina — dalam satu frame lebar]
Kevin duduk tenang di pojok perpustakaan. Di mejanya ada buku
catatan baru dan sebuah foto — foto Dinda yang diambil dari
kejauhan tanpa ia sadari. Dinda duduk tidak jauh dari Kevin,
membaca buku, tidak tahu sedang diamati.
KEVIN (DEWA)
(monolog internal — voice over, berbicara ke kamera)
Setiap orang punya pola. Setiap hubungan
bisa diprediksi. Yang perlu kamu lakukan
hanyalah... menemukan celahnya.
CLOSE-UP buku catatan: "Subjek baru: Dinda. Hari ke-1.
Kepribadian: ceria, tidak waspada, mudah percaya. Observasi
dimulai."
Kevin menutup buku catatannya. Ia melirik Dinda dari balik
kacamatanya — dan tersenyum tipis. Dinda menoleh sebentar ke
arah Kevin. Mereka bertatapan. Dinda tersenyum sopan, lalu
kembali ke bukunya. Kevin membalas senyum itu — tapi senyumnya
tidak sampai ke matanya.
KEVIN (DEWA)
(berbisik, hampir tidak terdengar)
Eksperimen berikutnya... dimulai.
FADE TO BLACK.
"Bagi sebagian orang, cinta adalah eksperimen.
Dan kamu mungkin adalah subjek berikutnya."
— T A M A T —
CATATAN UNTUK PEMERAN
DEWA sebagai Kevin
Mainkan Kevin dengan ketenangan yang mengganggu. Jangan
tunjukkan Kevin sebagai villain yang jelas jahat — ia percaya
dirinya sedang melakukan sesuatu yang logis dan ilmiah.
Tatapannya selalu satu detik lebih lama dari normal. Tidak ada
tawa terbuka, tidak ada ekspresi berlebihan. Bahkan saat Maya
menangis, reaksinya hanya "sesuai prediksi". Momen paling
penting: saat ada sesuatu yang HAMPIR retak di wajahnya sebelum
ia cepat menyembunyikannya.
FINA sebagai Maya
Maya harus terasa 100% tulus di setiap adegan awal. Penonton
harus ikut merasakan betapa ia benar-benar mencintai Kevin, agar
pengungkapan di akhir terasa seperti pukulan keras. Arc emosi
Maya: bahagia -> gelisah -> nyaman dengan Rian -> hancur. Saat
membaca buku catatan Kevin, tangannya bisa sedikit gemetar.
SOFWAN sebagai Rian
Rian adalah orang baik yang tidak tahu apa-apa. Ia bukan pelakor
— ia korban kedua. Mainkan dengan kehangatan yang polos dan
tulus, bukan dengan kesan menggoda. Saat Kevin berkata 'kamu
variabel yang paling mudah diprediksi', Rian harus terlihat
terpukul bukan hanya marah.
AFIFAH sebagai Sari
Sari adalah suara penonton — ia yang paling awal curiga tapi
tidak cukup yakin untuk bertindak. Tunjukkan kekhawatirannya
lewat gestur kecil: alis naik, bibir digigit, tatapan panjang.
Di babak 3, emosinya pecah — ia yang paling reaktif saat membaca
buku catatan Kevin bersama Maya.
CHRISTINA sebagai Dinda
Dinda adalah kontras komedi ringan di babak 1-2 — yang paling
santai dan tidak waspada. Tapi di babak 3 saat ia berkata 'Kamu
sakit, Kevin', kalimat itu harus keluar dengan berat dan tulus,
bukan dramatis. Di Scene 8, saat Dinda menoleh dan tersenyum
sopan ke Kevin tanpa curiga — itu adalah shot paling chilling
dalam film.
CATATAN TEKNIS PRODUKSI
FORMAT & VISUAL
Landscape HD (1920x1080 minimum). Setiap scene group wajib
memiliki minimal satu wide shot yang menangkap semua anggota in
frame sekaligus.
MUSIK NO COPYRIGHT (Rekomendasi)
Babak 1 & adegan observasi Kevin : Dark ambient /
psychological (Pixabay Music / Epidemic Sound)
Babak 2 adegan Maya-Rian di taman : Emotional acoustic / lo-
fi sad
Babak 3 konfrontasi & akhir : Cinematic dark strings /
thriller
DURASI TARGET
7 - 8 menit. Scene 5 (kamar Kevin) dapat difilmkan terpisah
karena hanya melibatkan Dewa.