0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan8 halaman

Proposal

Dokumen ini membahas tentang persalinan dan komplikasi yang dapat terjadi, khususnya ruptur perineum, yang merupakan robekan pada perineum saat melahirkan. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia meningkat, dengan penyebab utama kematian ibu termasuk hipertensi dan perdarahan obstetrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ruptur perineum pada persalinan normal di RS Aura Syifa Kediri.

Diunggah oleh

Heni Puji Lestari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan8 halaman

Proposal

Dokumen ini membahas tentang persalinan dan komplikasi yang dapat terjadi, khususnya ruptur perineum, yang merupakan robekan pada perineum saat melahirkan. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia meningkat, dengan penyebab utama kematian ibu termasuk hipertensi dan perdarahan obstetrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ruptur perineum pada persalinan normal di RS Aura Syifa Kediri.

Diunggah oleh

Heni Puji Lestari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran fetus dan plasenta dari uterus melalui
jalan lahir, ditandai dengan peningkatan aktivitas myometrium (frekuensi dan in-
tensitas kontraksi) yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks serta
keluarnya lendir bercampur darah (bloody show) dari vagina. Lebih dari 80%
proses persalinan terjadi secara normal dan 15-20% terjadi komplikasi selama per-
salinan (Hutomo, dkk, 2023). Komplikasi selama persalinan bila tidak ditangani
dengan benar akan mengakibatkan kesakitan bahkan kematian pada ibu.

Pada tahun 2023 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 189 per
100.000 kelahiran hidup (Kementrian Kesehatan RI, 2024), berdasarkan data dari
pencatatan program Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak di Kementerian Kesehatan
tahun 2023, jumlah AKI mengalami peningkatan dari 3.572 kematian ibu pada
tahun 2022 menjadi 4.482 pada tahun 2023. Penyebab kematian ibu terbanyak
pada tahun 2023 adalah hipertensi dalam kehamilan sebanyak 412 kasus, perdara-
han obstetrik sebanyak 360 kasus dan komplikasi obstetrik lain sebanyak 204 ka-
sus (Kementrian Kesehatan RI, 2024).

Perdarahan masih merupakan masalah utama dalam bidang obstetri sampai saat
ini. Bersama-sama dengan preeklampsia/eklampsia dan infeksi merupakan trias
penyebab kematian maternal utama baik dinegara maju maupun dinegara sedang
berkembang. Penyebab perdarahan postpartum meliputi atonia uteri, retensio
plasenta, laserasi jalan lahir, sisa plasenta dan gangguan pembekuan darah
(Simanjuntak, L., 2020).

Laserasi jalan lahir atau ruptur perineum merupakan suatu kondisi robeknya per-
ineum akibat proses persalinan per vaginam, baik secara spontan maupun dengan
tindakan (Junior.H.A, dkk, 2025). Perlukaan pada perineum umumnya terjadi di
garis tengah dan bisa meluas bila persalinan terlalu cepat, dan ukuran bayi lahir
yang semakin besar (Anggraini,T., 2024). Menurut World Health Organization
(WHO) tahun 2020, terdapat 2,7 juta kasus rupture perineum pada ibu bersalin,
diperkirakan akan mencapai 6,3 juta di tahun 2050. Pada tahun 2020 di ketahui di
Indonesia angka kejadian rupture perineum pada ibu bersalin di alami oleh 83%
ibu melahirkan pervaginam, ditemukan dari total 3.791 ibu yang melahirkan spon-
tan pervaginam, 63% ibu mendapatkan jahitan perineum yaitu 42% karena epi-
siotomy dan 38% karena robekan spontan (Nurhayati, D, dkk, 2023). Ruptur per-
ineum terjadi sekitar 90% pada kelompok primipara dan tidak jarang berkaitan
dengan morbiditas dan mortalitas setelah kelahiran. Morbiditas dari kejadian rup-
tur perineum adalah salah satu masalah besar yang terjadi pada ribuan wanita.
Lebih dari 60% wanita mengalami ruptur perineum pada persalinan spontan per-
vaginam, dan sekitar 1000 wanita setiap harinya mendapat perawatan perineum
setelah proses persalinan (Abedzadeh-Kalahroudi, M. et al. ,2018).

Klasifikasi yang paling terkenal dari ruptur perineum adalah yang diadaptasi oleh
Royal Collegen of Obstetricians and Gynecologist (RCOG), yang membagi ruptur
perineum menjadai empat derajat. Derajat pertama dimana robekan hanya pada
mukosa vagina; derajat kedua dimana robekan terjadi pada mukosa vagina dan
otot-otot perineum; derajat ketiga dimana robekan terjadi pada mukosa vagina,
otot perineum, dan sfingter anal; derajat keempat dimana robekan mulai dari
mukosa vagina, otot perineum, sfingter anal, sampai ke mukosa rektum. Derajat
ketiga ruptur perineum dibagi menjadi tiga : 3A jika robekan kurang dari 50% sf-
ingter anal eksterna, 3B jika lebih dari 50% sfingter anal eksterna, dan 3C jika
robekan sampai ke sfingter anal interna (Lenden,A.P., dkk., 2020).

Sebuah jurnal menyatakan bahwa ruptur perineum berkaitan dengan faktor ibu,
faktor janin, dan faktor persalinan. Umur ibu, ras asia, nulipara, persalinan per-
vaginam setelah section caesaria (VBAC) dan ukuran perineum yang pendek <25
mm merupakan faktor dari ibu yang mempengaruhi ruptur perineum. Berat bayi
lahir besar (>4000 gr), distosia bahu, dan posisi occipitoposterior yang persisten
merupakan faktor dari janin, sedangkan faktor dari persalinan meliputi bantuan
persalinan pervaginam (vacuum dan forceps), kala II memanjang (>60 menit), sta-
tus pemberian analgesik, episisotomi, dan persalinan dalam posisi litotomi atau
jongkok (Goh, R., Goh, D. and Ellepola, H., 2018).

Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil peneltian yang dilakukan oleh Airin
Priskah Lenden (2018) di RSUP Sanglah Denpasar, dari 96 pasien pasien yang
mengalami kejadian ruptur perineum sebagian besar merupakan
primipara (61,5%), melahirkan dengan jarak kelahiran <2 tahun (67,7%),
melahirkan bayi dengan berat lahir 2500-4000 gram (76%), berada pada kelom-
pok usia 20-35 tahun (79,2%), memiliki durasi kala II normal (96,6%) dan
melahirkan bayi dengan lingkar kepala ≤35 cm (97,9%). Dapat disimpulkan
bahwa kejadian ruptur perineum terbanyak pada pasien dengan paritas primipara,
memiliki jarak kelahiran <2 tahun, melahirkan bayi dengan berat normal, berada
pada kelompok usia produktif, memiliki durasi kala II normal dan melahirkan
bayi dengan lingkar kepala normal.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Deti Nurhayati (2023) di wilayah
kerja puskesmas kecamatan Sobang kabupaten Lebak provinsi Banten, dari 108
orang diketahui bahwa ibu bersalin yang mengalami rupture perineum yaitu se-
banyak 45 orang (41,7%), hasil uji chi square menunjukan adanya hubungan yang
bermakna antara berat badan lahir bayi (p value=0,009), jarak persalinan (p
value=0,002), dukungan suami (p value=0,035), dan dukungan bidan (p
value=0,015)dengan kejadian ruptur perineum pada ibu bersalin.
Ruptur perineum perlu mendapatkan perhatian karena dapat menyebabkan dis-
fungsi organ reproduksi wanita seperti perdarahan, infeksi yang kemungkinan da-
pat menyebabkan kematian karena perdarahan atau sepsis. Dampak terjadinya
rupture perineum pada ibu antara lain terjadinya infeksi pada luka jahitan dimana
dapat berakibat munculnya infeksi kandung kemih maupun infeksi pada jalan
lahir. Selain itu juga dapat terjadinya perdarahan bahkan jika penanganannya lam-
bat dapat menyebabkan kematian (Nurhayati, D, dkk, 2023).

Perhatian harus lebih difokuskan terhadap pencegahan dan intervensi dari ruptur
perineum, sehingga dapat meminimalisir kejadian ruptur perineum atau pun kom-
plikasi yang bisa ditimbulkan. Bidan dapat memberikan promosi kesehatan
kepada masyarakat terutama kepada pasangan usia subur agar lebih waspada ter-
hadap faktor-faktor resiko terjadinya rupture perineum seperti usia hamil dan
jarak kelahiran yang optimal. Bidan juga dapat memberi edukasi kepada ibu hamil
agar melakukan senam hamil dan mengajari cara meneran dan posisi bersalin
yang aman dan nyaman. Bidan juga harus senantiasa megikuti perkembangan
ilmu kebidanan berdasarkan evidence base dan meningkatkan skill agar dapat
memberikan pelayanan Asuhan Persalinan Normal yang berkualitas.

Berdasarkan data yang di peroleh dari RS Aura Syifa Kediri pada bulan Juli 2024
s/d Juni 2025, ibu yang bersalin sebanyak 410 orang dan terdapat 220 orang ibu
yang mengalami ruptur perineum dalam persalinan (Rekam Medis RS Aura Syifa
Kediri, 2025). Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan peneli-
tian mengenai Gambaran Faktor-Faktor Penyebab Ruptur Perineum Pada Persali-
nan Normal di RS Aura Syifa Kediri Tahun 2025.

Rumusan masalah

1) Bagaimana gambaran kejadian robekan jalan lahir pada persalinan normal


di RS Aura Syifa Kediri?
2) Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian robekan jalan
lahir pada persalinan normal di RS Aura Syifa Kediri?
Tujuan penelitian

1) Tujuan umum

Mengetahui gambaran faktor-faktor kejadian robekan jalan lahir pada per-


salinan normal di RS Aura Syifa Kediri

Mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan robekan jalan


lahir pada persalinan normal di RS Aura Syifa Kediri

2) Tujuan khusus
Mengetahui hubungan antara paritas dengan kejadian robekan jalan lahir
pada persalinan normal di RS Aura Syifa Kediri

Mengetahui hubungan antara usia ibu dengan kejadian robekan jalan lahir
pada persalinan normal di RS Aura Syifa Kediri

Mengetahui hubungan antara jarak persalinan sebelumnya dengan kejadian


robekan jalan lahir pada persalinan normal di RS Aura Syifa Kediri

Mengetahui hubungan antara berat bayi lahir dengan kejadian robekan


jalan lahir pada persalinan normal di RS Aura Syifa Kediri

Mengetahui hubungan antara lingkar kepala bayi dengan kejadian robekan


jalan lahir pada persalinan normal di RS Aura Syifa Kediri

Mengetahui hubungan antara lama kala II persalinan dengan kejadian


robekan jalan lahir pada persalinan normal di RS Aura Syifa Kediri

Manfaat penelitian

1) Hasil penelitian ini dapat memberikan pemahaman lebih mendalam men-


genai faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya robekan jalan lahir.
2) Penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dan referensi bagi peneliti
lain yang tertarik pada topik serupa.
3) Bagi tenaga kesehatan, hasil penelitian dapat meningkatkan kewaspadaan
terhadap faktor-faktor risiko robekan perineum, sehingga dapat mengam-
bil tindakan pencegahan yang lebih efektif.
4) Penelitian ini dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas
pelayanan persalinan, khususnya dalam hal penanganan robekan per-
ineum
5) Ibu hamil dapat memperoleh informasi mengenai faktor risiko robekan
perineum dan cara mengantisipasinya, sehingga dapat lebih siap dalam
menghadapi persalinan
6) Hasil penelitian dapat membantu ibu hamil dan tenaga kesehatan dalam
mengambil keputusan yang tepat terkait dengan penanganan persalinan.
BAB II

DAFTAR PUSTAKA

Definisi Rupture Perineum

Ruptur adalah robek atau koyaknya jaringan secara paksa. Sedangkan perineum

merupakan ruang bentuk jajaran genjang yang terletak dibawah dasar panggul.

Perineum adalah jaringan antara vestibulum vulva dan anus dan panjang kira-kira

4 cm. Ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik se-

cara spontan maupun dengan menggunakan alat atau tindakan. Rupture perineum

terjadi hampir pada semua primipara. Pada dasarnya, rupture perineum dapat

dikurangi dengan menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui kepala janin ter-

lalu cepat (Nurhayati, D, dkk, 2023).

Klasifikasi Rupture Perineum

Menurut Royal Collegen of Obstetricians and Gynecologist (RCOG) (2025) klasi-

fikasi rupture perineum ada empat, yaitu :

Rupture perineum derajat I

Apabila robekan hanya terjadi pada kulit perinium dan/atau mukosa vagina

Rupture perineum derajat II

Apabila robekan terjadi pada mukosa vagina dan otot-otot perineum, tidak sampai
ke sfingter anal

Rupture perineum derajat III

Apabila robekan terjadi pada mukosa vagina, otot perineum, dan sfingter anal.
Rupture derajat III dibagi menjadi tiga, yaitu :

3A : jika robekan kurang dari 50% sfingter anal eksterna

3B : jika lebih dari 50% sfingter anal eksterna

3C : jika robekan sampai ke sfingter anal interna


Rupture perineum derajat IV

Apabila robekan mulai dari mukosa vagina, otot perineum, sfingter anal, sampai
ke mukosa rektum.

Faktor-faktor yang memepengaruhi terjadinya rupture perineum

Ruptur perineum umumnya terjadi ketika berlangsungnya persalinan, diantaranya

adalah persalinan kala 2 yang panjang atau adanya penggunaan alat bantu untuk

persalinan yang pada akhirnya juga memerlukan episiotomi untuk memudahkan

jalan lahir. Ada pula beberapa faktor risiko yang meningkatkan terjadinya ruptur

perineum, yaitu faktor maternal, faktor janin, dan faktor persalinan (Goh, R., Goh,

D. and Ellepola, H., 2018).

Faktor maternal

Usia ibu

Pada umur <20 tahun, organ-organ reproduksi belum berfungsi dengan sempurna,
sehingga bila terjadi kehamilan dan persalinan akan lebih mudah mengalami
komplikasi. Selain itu, kekuatan otot-otot perineum dan otot-otot perut belum
bekerja secara optimal, sehingga sering terjadi persalinan lama atau macet yang
memerlukan tindakan. Faktor resiko untuk persalinan sulit pada ibu yang
belum pernah melahirkan pada kelompok umur ibu dibawah 20 tahun dan pada
kelompok umur di atas 35 tahun adalah 3 kali lebih tinggi dari kelompok umur
reproduksi sehat (20-35 tahun) (Oky Somang, 2017).
Etnis asia

Etnis Asia ditemukan memiliki perineum dengan bentuk, karakteristik jaringan

(elastisitas, lengkungan persalinan), serta lama persalinan kala 2 yang cenderung

meningkatkan risiko ruptur perineum (Homer, C. and A. Wilson, 2018).

Paritas

Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan lebih dari 500 gram yang pernah
dilahirkan hidup maupun mati bila berat badan tidak diketahui maka dipakai umur
kehamilan lebih dari 24 minggu. Paritas dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a. Nulipara yaitu Primipara yaitu wanita yang telah melahirkan seorang bayi
dengan cukup umur dan hidup sehat.
b. Multipara/multigravida yaitu wanita yang telah melahirkan seorang bayi hidup
lebih dari satu kali
c. Grande multipara yaitu wanita yang pernah melahirkan sebanyak lima kali atau
lebih dan biasanya mengalami kesulitan dalam kehamilan dan persalinannya
Paritas disebut mempunyai pengaruh terhadap kejadian ruptur perineum. Pada ibu
dengan paritas satu atau primipara akan memiliki risiko lebih besar untuk
mengalami robekan perineum daripada ibu dengan paritas lebih dari satu. Hal ini
dikarenakan karena jalan lahir yang belum pernah dilalui oleh kepala bayi
sehingga otot-otot perineum belum meregang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
robekan perineum terjadi hampir pada semua persalinan pertama dan tidak jarang
juga pada persalinan berikutnya (Oky Somang, 2017).
Jarak persalinan
Jarak kelahiran adalah rentang waktu antara kelahiran anak sekarang dengan
kelahiran anak sebelumnya. Jarak kelahiran kurang dari dua tahun tergolong
resiko tinggi karena dapat menimbulkan komplikasi pada persalinan. Jarak
kelahiran 2-3 tahun merupakan jarak kelahiran yang lebih aman bagi ibu dan
janin. Begitu juga dengan keadaan jalan lahir yang mungkin pada persalinan
terdahulu mengalami robekan perineum derajat tiga dan empat, sehingga proses
pemulihan belum sempurna dan robekan perineum dapat terjadi.
Riwayat persalinan
Riwayat persalinan merupakan cara persalinan serta kondisi pada kehamilan
sebelumnya yang tercantum dalam status ibu. Ibu yang ingin melahirkan
pervaginam dengan riwayat persalinan sectio caesaria (SC) dianggap seperti
nulipara dan beresiko mengalami rupture perineum karena jalan lahir yang belum
pernah dilalui oleh kepala bayi sehingga otot-otot perineum belum meregang
(Goh, R., Goh, D. and Ellepola, H., 2018).
ukuran perineum yang pendek <25 mm
Ukuran perineum yang pendek, menyebabkan tekanan pada perineum tidak dapat
ditoleransi dengan maksimal dan meningkatkan kemungkinan ruptur perineum,
yang juga dapat mengakibatkan perdarahan postpartum.
Faktor janin

Berat bayi lahir

Berat badan janin dapat mengakibatkan terjadinya ruptur perineum yang pada
berat badan janin diatas 3500 gram, karena resiko trauma partus melalui vagina
seperti distosia bahu dan kerusakan jaringan lunak pada ibu. Berat badan bayi
lahir dapat dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :
Makrosomia yaitu bayi dengan berat lebih dari 4000 gram
Berat bayi cukup yaitu bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 – 4000 gram
Berat bayi lahir rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat lahir <2500 gram
distosia bahu, dan posisi occipitoposterior yang persisten

Faktor persalinan

persalinan dengan instrumen

yaitu persalinan pervaginam dengan bantuan alat seperti vacuum dan forceps.

Penggunaan instrumen pada persalinan biasanya berhubungan dengan penarikan,


sehingga menyebabkan tekanan dan regangan yang lebih tinggi pada perineum

saat proses persalinan sehingga meningkatkan risiko terjadinya rupture perineum.

kala II memanjang (>60 menit)

Persalinan kala dua >60 menit : menandai persalinan yang sulit dan berhubungan

dengan ukuran janin serta kapasitas jalan lahir ibu yang tidak seimbang

Status pemberian oksitosin

peningkatan kontraksi uterus menyebabkan tekanan pada perineum yang lebih

tinggi

episisotomi

Episiotomi juga merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ruptur perineum.

Prinsip tindakan episiotomi adalah pencegahan kerusakan yang lebih hebat pada

jaringan lunak akibat daya regang yang melebihi kapasitas adaptasi atau elastisitas

jaringan tersebut. Pertimbangan untuk melakukan episiotomi harus mengacu

kepada pertimbangan klinis yang tepat dan teknik yang paling sesuai dengan kon-

disi yang dihadapi. Episiotomi midline memiliki 7 kali lipat risiko rupture per-

ineum dibandingkan dengan mediolateral.

persalinan dalam posisi litotomi atau jongkok

Anda mungkin juga menyukai