0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan7 halaman

Chapter 6

Sierra, seorang gadis muda, tiba di kediaman Hastings setelah perjalanan panjang dan merasa bersemangat meskipun merindukan rumahnya di Oak Kecil. Ia bertemu dengan pengasuh barunya, Mathilda Hammel, yang tampak serius dan menakutkan baginya, tetapi akhirnya menawarkan kesempatan untuk belajar dan kembali ke Oak Kecil. Sierra beradaptasi dengan lingkungan barunya, menunjukkan bakatnya dan bersemangat untuk bertemu ayahnya, sementara Mathilda mulai memahami pentingnya membiarkan Sierra menjadi anak-anak.

Diunggah oleh

Dyah Rizky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan7 halaman

Chapter 6

Sierra, seorang gadis muda, tiba di kediaman Hastings setelah perjalanan panjang dan merasa bersemangat meskipun merindukan rumahnya di Oak Kecil. Ia bertemu dengan pengasuh barunya, Mathilda Hammel, yang tampak serius dan menakutkan baginya, tetapi akhirnya menawarkan kesempatan untuk belajar dan kembali ke Oak Kecil. Sierra beradaptasi dengan lingkungan barunya, menunjukkan bakatnya dan bersemangat untuk bertemu ayahnya, sementara Mathilda mulai memahami pentingnya membiarkan Sierra menjadi anak-anak.

Diunggah oleh

Dyah Rizky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 5 : Rumah dan Penyihir

Sebuah kereta kuda baru saja tiba di kediaman Hastings. Perjalanan yang panjang lebih dari lima jam lamanya,
berangkat dari wilayah pinggiran Oak Kecil menuju Bernabes, membuat badan yang menumpang kereta pastilah
pegal-pegal dan sakit.

Walau sebagus apapun kereta kuda yang baru datang ini, tetap saja, mereka yang didalamnya sudah tidak sabar
untuk keluar dari kotak kecil berjalan itu. Terkecuali seorang nona muda yang kelewat semangat.
Sedari mereka memasuki Bernabes, ia setengah berdiri, melongokkan kepalanya keluar jendela. Melambai pada
orang-orang yang tak dikenalnya lewat. Terpana, pada keramaian dan suasana kota yang tak pernah dilihat.
Semua tampak asing dan baru, pasti sungguh mengasyikkan menjadi anak kecil, begitu pikir orang dewasa yang
melihat anak perempuan ini.
Bahkan setelah diomeli oleh kakeknya sekalipun, untuk tidak mengeluarkan kepalanya seperti itu karena berba‐
haya, anak itu cuma tersenyum lebar dan mengulangi hal yang sama.
Benar-benar membuat pening kepala.
Melihat bangunan yang menjulang tinggi di depan matanya, Sierra menanyakan hal ini itu pada kakeknya. Ia in‐
gin tahu apa yang mereka jual di pinggir jalan, apa yang dibawa oleh sebuah kereta kuda besar, atau apa saja
yang ada di dalam gedung-gedung selama mereka melewatinya.
Kakeknya hanya bisa menghembuskan nafas lelah, tetapi dengan sabar menjelaskan setiap pertanyaan cu‐
cunya. Ia menyadari sejak awal mereka bertemu, mengurus seorang anak kecil bukanlah perkara yang mudah.
Namun sebuah sunggingan senyum tak juga hilang dari bibirnya.
Dan sesampainya mereka di kediaman Hastings, sesaat ketika kuda berhenti berjalan, kusir membuka pintu,
Sierra meloncat keluar kereta, tak sabar.
"Apa ini rumah kakek?" tanyanya dengan mata hijau yang berbinar.
Erasmus mengelus kepala cucunya, merapikan rambutnya yang berantakan karena tertiup angin tiap ia men‐
geluarkan kepalanya di jendela.
"Ini juga rumah Sierra mulai sekarang. Ayo, kita lihat kamarmu. Kau pasti akan menyukainya. Kakek mendeko‐
rasinya dengan baik,"
Sierra mencengkram boneka kelincinya dengan erat. Rumah. Apa bisa ia menyebutnya ini rumah, bukankah ia
sudah memiliki rumah?
Belum apa-apa ia sudah rindu Oak Kecil.
"Sierra?"
Mendengar namanya dipanggil, ia mendongak, tersenyum dan memutuskan akan memikirkan nanti saja soal
rumah.
****
"Waah... Kakek, ini indah sekali!" ujar Sierra di depan pintu masuk kamarnya dengan dinding berwarna pastel
dan langit-langit yang berhias lukisan cupid sedang terbang menari di antara awan.
"Kau suka? Lihat ini, ada banyak sekali pakaian baru dan mainan,"
Sierra berlari mengelilingi ruangan besar yang kini menjadi kamarnya. Ia tidak tahu seberapa besar, tapi yang je‐
las jauh lebih besar dari miliknya di Oak Kecil. Ah, ia jadi ingat lagi soal rumah.
"Sierra, kakek perkenalkan, ini adalah Hammel yang akan menjadi pengasuh Sierra,"
Ia mendongak, melihat seorang wanita berkacamata dengan rambut gelap yang terikat rapi, licin tanpa ada se‐
buah rambut pun yang keluar dari ikatannya, sama rapi dan sempurnanya dengan pakaiannya yang tanpa cela.
Ia tidak semuda Amy tapi juga tidak setua Dorothy. Apa ia akan galak seperti Dorothy, begitu pikir Sierra.
"Selamat datang nona Illiard, perkenalkan saya adalah Mathilda Hammel yang akan mengurus keperluan nona
sekaligus mengajar pada pelajaran tata krama," wanita itu tersenyum kaku, membungkukkan badannya pelan.
Sierra juga sudah belajar memperkenalkan diri. Dorothy yang mengajarinya.
Sierra membungkukkan diri, mengikuti sembari menarik ujung gaun pendeknya dengan tangan kanan semen‐
tara tangan lainnya memeluk boneka kelinci yang tak dilepasnya sedari tadi.
"Sierra Illiard,"
Kali ini ia sudah bisa menyebutkan namanya dengan baik. Sierra tersenyum bangga. Ayah seharusnya melihat‐
nya, ia selalu senang jika Sierra bisa memperkenalkan diri dengan baik.
"Ah, mohon maafkan saya. Kaki anda seharusnya, tertekuk agak ke belakang seperti ini, nona"
Sierra membeku, tertegun. Karena gerakan tiba-tiba pengasuh barunya yang mendekat, membuat Sierra ragu
dan malah mundur ke belakang, tempat Franz berdiri.
Sebelah tangan Sierra mencengkram celana milik Franz. Count Hastings tertawa.
"Kau betul-betul guru yang serius. Ini adalah pertemuan pertama kalian, akan lebih banyak kesempatan untuk
memperbaiki postur tubuhnya, Hammel"
Wanita bernama Mathilda Hammel itu menundukkan kepala sedikit kepada Count, "anda benar. Mohon maafkan
saya, tuan."

Sierra menatap perempuan berkacamata bulan sabit yang berwajah serius itu takut. Bagaimana ini, ada yang
lebih menyeramkan dari Dorothy disini, pikir Sierra cemas.
****
Langkah Mathilda Hammel dengan sepatu pantofel hitam tuanya bergema di lorong-lorong kediaman Hastings.
Wajahnya yang tegas, sedikit mengeluarkan keringat. Ia berusaha sebisa mungkin, tidak berlari, karena seorang
lady tidak akan berlari dalam situasi sepanik apapun terlebih didalam rumah. Ia sedang mencari seseorang.
Sementara itu, Sierra mengintip dari dahan-dahan pepohonan di belakang kediaman Hastings. Ia bertekad tidak
akan ditemukan hari ini. Ini adalah tempat persembunyiannya yang baru. Tidak ada yang akan menemukannya,
para pelayan, Franz dan terutama wanita penyihir yang berkacamata itu.
Yang menjadi masalah hanya Mogi yang terus menerus mengitari pohon di bawah sana. Sierra jadi teringat dulu
ia ditemukan Dorothy karena Mogi. Walaupun, sekarang ia sudah berhasil melatih anjing kecilnya agar tidak
menggonggong kalau ia sedang bersembunyi. Tetap saja, mungkin wanita penyihir itu akan tahu Sierra ada di
atas.

Karena itu, Sierra mengeluarkan bola kecil dari saku pakaiannya.


"Mogi..."bisik Sierra.

Anjing corgi itu mengibaskan ekornya kencang, melihat bola berwarna putih yang Sierra lambaikan.
Begitu bola dilemparkan jauh, Mogi berlari kencang mengejarnya, membuat Sierra lega.

"Nyonya Hammel, apa anda belum menemukan nona Sierra?"


Seorang pelayan wanita berjalan bersama dengan Mathilda menuju ke pohon tempat Sierra bersembunyi.

Mathilda menggelengkan kepala, sembari mengelap keningnya dengan sapu tangan, menghela nafas.
"Saya tidak menyangka, anak itu benar-benar membenci saya. Padahal dia anak yang cemerlang. Saya sangat
menyukai mengajarnya. Kalau begini terus, mungkin saya harus mengundurkan diri dan pulang ke Lind"

"Oh, sayang sekali. Anda baru saja mengajar nona selama lima bulan dan harus pergi lagi,"
Sierra tersenyum lebar mendengarnya. Benar, wanita penyihir itu harusnya pulang saja. Kalau Mathilda pergi, ia
akan katakan pada ayah kalau ia kini bebas bertemu dengan ayahnya kapan saja. Karena selama ia datang ke
Bernabes, Sierra hanya bisa bertemu dengan ayahnya tiap dua minggu sekali.
Mathilda selalu saja bilang mereka akan belajar, mulai dari berhitung, menulis, membaca, melukis, menjahit, tata
krama, piano, biola, ia bahkan diajari berdansa. Kenapa ia harus belajar semua itu. Sierra tidak mengerti. Bukan
berarti ia tidak menyukainya.
Karena itu, Sierra mulai kabur dari kelas Mathilda. Ia bersembunyi di balik tempat tidur, lemari, kandang kuda,
bahkan di dalam tungku perapian tua yang membuat seluruh badannya menghitam. Tapi Mathilda selalu saja
menemukannya. Karena itu, Sierra mulai menyebutnya sebagai seorang penyihir wanita.
Seperti yang ada di dalam buku-buku dongeng. Penyihir wanita selalu berusaha menculik anak-anak. Sierra
yakin, Mathilda pernah menculik seorang anak dan ia menaruhnya di dalam lemari. Sierra pernah tidak sengaja
mendengar para pelayan yang bilang kalau mereka tidak boleh merapikan lemari milik Mathilda. Bukankah itu
aneh, tidak salah lagi, ia pasti menyembunyikan sesuatu di dalamnya. Mungkin saja seorang anak yang diculik.
Memikirkannya saja sudah membuat buku kuduk Sierra bergidik ngeri.
"Sayang sekali, padahal saya berniat akan membawanya ke Little Oak kalau saja ia berhasil mengerjakan semua
tugas dari saya akhir bulan ini,"
Apa? Sierra membelalak.

Penyihir itu akan membawanya pulang? Tidak, ini pasti hanya akal-akalannya saja. Kakeknya bahkan tidak per‐
nah membawanya ke Oak Kecil bahkan ketika ia merengek ingin pergi kesana. Atau ayahnya yang datang kesini
pun tidak pernah mengijinkannya ikut ketika ia menangis.

"Wah, sayang sekali ya..."pelayan wanita yang bersamanya ikut mendesah, menyesal.
Siapa ya namanya, Sierra belum terlalu lama tinggal. Karena itu ia belum hapal semua nama pelayan di kedia‐
man Hastings yang berjumlah puluhan itu. Terlalu banyak jika dibandingkan dengan rumahnya di Oak Kecil yang
hanya memiliki tiga pelayan, Dorothy, Greg dan Amy.
Ah, Sierra jadi semakin merindukan mereka.

Guk! Suara gonggongan terdengar dari kejauhan.


Oh, tidak. Mogi kembali. Anjing bodoh itu.. kenapa kembali begitu cepat.

Terlambat. Anjing corgi berwarna cokelat bercampur putih itu sudah berada di depan Mathilda dan pelayan den‐
gan bola putih di mulutnya. Mogi menaruh bola itu di depan mereka berdua. Dan mulai mengibaskan ekornya
lagi sambil menggonggong riang, mengitari pohon tempat Sierra yang panik sedang berpegangan pada
dahannya.
"Mogi?"

Pelayan wanita itu berjongkok sedikit. Merogoh kantung pakaiannya dan mengeluarkan sebuah camilan. Mogi
yang melihatnya mendekat dengan semangat.
Saat sedang makan camilannya, tiba-tiba badan Mogi terangkat. Mathilda mengangkat anjing kecil itu sambil
menatapnya serius.
"Mogi, apa kau tau dimana tuanmu?"

Sierra menggelengkan kepala kuat-kuat. Mogi, aku percaya padamu, jangan beritahukan wanita itu!

Tentu saja Mogi yang tidak mengerti hanya bisa menggonggong senang, seakan mengajak bermain.

"Kalau kau tidak mau mengatakannya, apa boleh buat. Aku akan membawamu ke dapur dan memasakmu untuk
makan malam,"

"Jangan!"

Sierra tidak mampu menahan suaranya. Mendengar suara kecilnya yang berteriak, membuat dua wanita di
bawahnya mendongakkan kepala. Wajah Mathilda tersenyum. Baru kali ini, Sierra melihat wajah senyumnya.
Mengerikan. Ia tidak pernah tahu ada senyum yang membuat orang lain takut.

"Akhirnya anda mau belajar, sekarang, nona?" tanya Mathilda masih tersenyum. Sierra benar-benar berpikir kalau
Mathilda Hammel adalah orang yang menyeramkan.

****

Dengan wajah siaga, Sierra melirik ke arah Mathilda sesekali dan sesekali ke arah Mogi yang sedang tidur di
ujung ruangan. Biasanya mereka tidak memperbolehkan Mogi masuk kalau ia sedang belajar. Tapi berkat
perkataan Mathilda yang bilang akan memasak Mogi, ia jadi takut, tiba-tiba Mogi hilang karena itu ia merengek
agar memperbolehkan Mogi masuk bersamanya selagi ia belajar.

"Saya tidak akan memasak Mogi, nona,"

Seakan bisa membaca pikirannya, Mathilda tiba-tiba berkata demikian. Sierra tidak menjawab dan terus menulis
apa yang diminta oleh Mathilda barusan. Ia sedang belajar membuat kalimat lengkap dengan kaligrafi menggu‐
nakan pena bulu dan tinta. Sierra memutuskan akan menulis surat untuk ayahnya. Ia akan mengatakan betapa
mengerikannya Mathilda Hammel yang berniat membuat Mogi menjadi makan malam.
"Kalau anda mendengar percakapan saya dengan Bertha, anda pasti sangat bersemangat untuk akhir bulan ini"
lanjut Mathilda sambil membuka lembaran bukunya. Merasa puas, anak didiknya kini dengan tenang, duduk
mengerjakan tugas dengan baik.

Pena bulu Sierra terhenti. Ia menatap Mathilda ragu.


"Apa itu benar? Ma.. Mathilda akan membawa Sierra pulang?"

Mathilda menatap tajam ke arah anak perempuan yang kini bermuka takut.

"Bukankah sudah berulang kali saya katakan, nona? Anda harus memperbaiki cara berbicara"

Sierra menunduk, Mathilda tidak pernah suka jika ia memanggilnya begitu. Karena ia adalah gurunya, seharus‐
nya Sierra memanggilnya dengan lebih sopan, begitu wanita itu menjelaskan.

"Baik, Madam Hammel. Saya mengerti," ujar Sierra masam.

Madam Hammel mengangguk, puas.


"Tuan Hastings telah mengijinkan saya membawa anda ke Oak Kecil akhir bulan ini agar kita bisa belajar di alam
sekaligus mengunjungi tuan Illiard. Tuan Viscount pasti akan sangat bangga jika anda bisa menunjukkannya
cara berhitung dan menulis yang baik. Bahkan anda bisa menunjukkannya lagu yang baru anda pelajari kemarin
atau jika anda selesai mengerjakannya sebelum kita berangkat, kita bisa membawa lukisan anda sebagai
hadiah,"

Mendengarnya, wajah Sierra berbinar.


"Benar! Ayah pasti senang!"

Walau hanya kali ini saja, Sierra mengakui kalau ide Madam Hammel adalah ide yang cemerlang.
*****

"Selamat datang di Oak Kecil, Nyonya Hammel"

"Tolong panggil saja saya, Mathilda, tuan Viscount"


"Oh, bagaimana saya bisa memanggil seorang baronness dengan sebutan yang terlalu santai seperti itu,"

Madam Hammel tersenyum. "Saya senang bisa membawa nona Illiard pulang sementara waktu,"

Bahkan sebelum kereta kuda berhenti di depan kediaman Illiard, Sierra sudah membuka jendela dari kejauhan
dan berteriak memanggil setiap orang di dalam rumah. Dan ketika kusir mengehentikan kudanya, tepat pada
saat itu juga, Sierra membuka sendiri pintunya dan menghambur berlari ke arah ayahnya yang menyambut dide‐
pan. Mereka berpelukan lama sekali.

Melihatnya, membuat Madam Hammel menelan semua omelannya tentang tata krama hari itu. Ia memutuskan
untuk membiarkan gadis kecil ini menjadi anak-anak lebih banyak di tempat ini.

Walaupun sebenarnya sebisa mungkin ia membiarkan Sierra menjadi dirinya sendiri di kediaman Hastings, tapi
tetap saja, tata krama bangsawan akan meredam banyak dari kepribadian dan kebebasan seseorang.

Karena itu, anak itu sedari tadi tidak berhenti berlari kesana kemari di dalam rumah, berceloteh tentang apa saja
yang ia pelajari bersama Madam Hammel, dengan bangganya Sierra menunjukkan kemampuannya kini
memainkan piano dan biola. Dan menunjukkan lukisan anjingnya.

Harus diakui, Mogi bukanlah model idaman. Karena anjing itu sama dengan tuannya yang tidak mau diam.
Beberapa kali, mereka harus meminta pelayan untuk membuat Mogi diam di satu tempat agar bisa Sierra lukis.

Dan hasilnya, Ayahnya memutuskan akan menggantung lukisannya di kamar Sierra. Sierra bertekad akan
melukis ayahnya untuk lukisan berikutnya.

Dan setelah lelah melakukan ini itu seharian, akhirnya nona muda itu tidur dengan pulas sambil menggu‐
mamkan Pai apel kesukaannya. Mendengarnya, membuat orang tertawa dan Dorothy berkata kalau begitu, sara‐
pan untuk besok sudah diputuskan. Semua orang mengangguk, setuju.
"Rumah dan wilayah yang sangat indah, tuan. Mengingatkan saya pada Lind, kampung halaman saya,"

"Lind adalah wilayah yang tidak kalah indah, nyonya. Saya pernah pergi kesana dulu sekali bersama mendiang
ayah saya. Pasti berat sekali harus meninggalkan Lind dan mengurus anak seperti Sierra. Walaupun anda juga
seorang lulusan terbaik akademi dan seorang Baronnes, tetap saja mengurus anak kecil yang begitu aktif pasti
tidak mudah"
Madam Hammel menggelengkan kepala pelan, tersenyum, mengangkat cangkir berisi teh miliknya.

"Sierra adalah anak yang cemerlang dan lincah. Anak yang begitu sehat. Anda pasti bangga sekali memiliki anak
secerdas itu. Saya tidak pernah mengajar anak yang begitu mudah mempelajari hal baru, sebaik putri anda,"

Madam Hammel tersenyum sendu,


"Berulang kali mengingatkan saya pada, Bella, anak yang dulu pernah menjadi murid saya,"

Ayah Sierra ikut tersenyum, "anak itu pasti anak yang istimewa jika anda begitu mengingatnya hingga kini."

Madam Hammel mengangguk.

"Sangat istimewa dan sangat saya rindukan. Karena itu saya senang bisa mengajar nona Sierra"
Senyum Hammel terhenti dan menaruh cangkirnya kembali di atas meja.

"Anda pasti sangat ingin bertemu dengan putri anda tiap hari seperti ini. Maafkan saya baru dapat mem‐
bawanya kali ini."

Anthony menggelengkan kepala, "Tuan Hastings dan saya yang memutuskan agar Sierra bisa pulang sebelum
pesta musim panas. Di kemudian hari, ada hal penting yang harus Sierra lakukan dan mungkin lama saya tidak
bisa datang menemuinya lagi."

Anthony menatap dalam madam Hammel.


"Nyonya, saya mohon, berjanjilah pada saya, apapun yang terjadi, tolong lindungi putri saya di Bernabes"

Entah apa yang membuat Hammel membeku, terpana. Ia ingin menanyakan hal penting apa yang Viscount
Illiard maksud, akan tetapi wajah pucat pria itu yang kontras dengan mata cokelatnya yang serius seakan mena‐
han apapun yang ada di ujung lidahnya dan membuat wanita ini mengangguk saja.

Tanpa mereka berdua sadari, di malam itu, sepasang kaki kecil menyelinap masuk kembali ke kamarnya, kem‐
bali memanjat tempat tidurnya setelah baru saja mencuri dengar percakapan orang dewasa.

****

Setelah lebih dari tiga minggu lamanya mereka berada di Oak Kecil, Sierra yakin sudah memperlihatkan semua
tempat miliknya pada madam Hammel dan bermain dengan ayahnya sepanjang hari. Mereka sudah pergi me‐
mancing, menanam tanaman obat, bahkan Sierra juga ikut menanam bunga bersama Greg dan ikut memasak
bersama Dorothy dan membantu mencuci pakaian dengan Amy.

Sementara madam Hammel hanya menonton dari kejauhan atau pada beberapa waktu, ia akan ikut nimbrung
dan mengomentari cara Sierra memecahkan telur karena ia baru belajar, sehingga memasukkan telur dengan
sisa cangkang ke dalamnya. Mendengar ia dikomentari seperti itu, membuat Sierra bertekad untuk membuat
telur dadar yang sempurna.
Ia bahkan memilih sendiri telurnya di kandang ayam, membawanya dan dengan beberapa kali latihan saja,
Sierra bisa membuat telur dadar tanpa cangkang di dalamnya. Kali ini ia menghidangkannya pada madam
Hammel dengan bangga.

Dorothy berbisik, tapi Sierra bisa mendengar. "Anda luar biasa, nyonya. Nona Sierra yang seorang anak tunggal
itu tidak suka jika dikritik. Tapi anda malah bisa membuatnya bertekad untuk mengerjakannya dengan
sempurna."
Madam Hammel tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya, menjawab sambil ikutan berbisik, "saya kenal
dengan anak yang seperti itu dulu. Anak seperti Sierra akan lebih baik jika diberikan tantangan."

Sierra diam menggerutu sambil menyendokkan telur hasil karya ke dalam mulutnya. Apakah yang dibicarakan
wanita penyihir itu, adalah anak yang sama yang dikatakan pada ayahnya, seorang anak yang bernama Bella.
Sierra membeku.

Jangan-jangan anak itulah yang ada di dalam lemari miliknya seperti yang dikatakan oleh para pelayan. Lemari
misterius milik Mathilda Hammel. Sierra memutuskan akan mencari tahu tentang lemari ini jika mereka pulang
ke Bernabes.
Lagi-lagi Sierra diam di tempatnya duduk. Pulang? Bukankah ia sudah ada di rumah sekarang?

*****
Hari itu adalah hari terakhir sebelum Sierra dan madam Hammel kembali ke Bernabes. Karena itu, Sierra dan
ayahnya memutuskan untuk pergi ke pohon oak kecil dan mengunjungi ibunya. Mereka membawakan bunga
Poppy merah dan sebuah bekal roti lapis berisi daging asap. Sierra sangat menyukai roti lapis Greg. Dorothy
sangat ahli membuat Pie Apel, tapi roti lapis Greg adalah yang terbaik, bahkan lebih baik daripada koki di rumah
kakeknya, pikir Sierra.

"Sierra... Coba lihat itu... Ada awan yang berbentuk kelinci"


Sierra dan ayahnya yang berbaring di bawah pohon oak, memandang langit yang berwarna biru. Musim panas di
Oak Kecil selalu menjadi musim favorit Sierra. Ia sangat menyukai burung Jay biru yang mulai memperlihatkan
bayi-bayi mereka dan mengajarinya anak-anaknya untuk terbang.
"Ayah benar! Lihat itu, ayah. Ada yang berbentuk seperti Mogi juga."
"Ah, yang itu mirip Ron."

Sierra mencari-mencari yang ditunjuk oleh ayahnya. "Awan mirip paman Ronald?"
"Mirip dengan asap yang keluar dari cerutu miliknya,"lanjut ayahnya sambil terkekeh.
Sierra ikut tertawa lalu berubah serius, "ayah tidak merokok lagi kan? Paman Ron tidak datang membawa cerutu
lagi kan?"
Anthony tertawa.
"bagaimana mungkin ayah akan merokok kalau ada putri ayah yang galak seperti ini, selalu saja mengomel
dalam suratnya tentang cerutu."
Sierra tersenyum senang.
"Benar karena ayah harus sehat,"

"Memangnya ayah sakit, sampai Sierra khawatir seperti itu?"


Sierra menggeleng, "tidak. Ayah sangat sehat. Karena itu, ayah harus datang terus ke Bernabes untuk bertemu
Sierra lagi ya, ayah?"

Ayahnya tidak menjawab.


"Ayah berjanji akan datang terus kan? Ayah yang bilang kalau Sierra sudah jadi pintar, nanti Sierra tidak perlu lagi
tinggal dengan kakek."

Mendengar ayahnya yang juga tidak menjawab, air mata di pelupuk Sierra mulai mengembang.
"Jadi kenapa, ayah bilang, ayah tidak akan datang lagi? Apa... Apa ayah benci Sierra seperti dulu ayah yang juga
jarang pulang? Sekarang ayah mau buang Sierra sama kakek?"

Isak tangis Sierra membuat Anthony terbangun, dan memeluk Sierra dengan wajah tersiksa.
"Oh, putriku yang malang. Pasti berat sekali harus tinggal jauh dari ayah. Ayah juga sangat berat meninggalkan
Sierra seperti ini. Tapi ada hal yang tidak bisa kita kendalikan, sayang."
Tangan Anthony mengelus punggung Sierra sembari memeluknya karena anak itu tidak berhenti menangis.

"Sierra mungkin tidak bisa mengerti sekarang. Tapi nanti ketika Sierra dewasa, Sierra pasti tahu ayah sangat
menyayangi Sierra. Maka dari itu, Sierra harus tinggal dengan kakek, belajar dengan baik dan pergi temui ayah."
Anthony tidak mau Sierra melihatnya menangis juga, karena itu ia memeluk Sierra lebih erat, mendekapnya
dalam pelukannya, menciumi kepalanya.
"Ayah berjanji akan bertemu Sierra kalau Sierra jadi anak yang baik, tinggal dengan kakek, menjadi wanita yang
hebat seperti ibu. Karena ayah adalah pria yang lemah."

Anthony menadahkan wajahnya pada langit, membuat air matanya mengalir di pipinya. Kalau saja Suzanna
masih disini, mungkin dia tahu bagaimana mengatasinya. Dia selalu tahu.
"Tidak seperti ibu, ayah adalah pria yang sangat lemah. Karena itu, Sierra harus kuat dan datang pada ayah
ketika Sierra sudah jauh lebih kuat."
Sierra mengangguk lemah sambil membenamkan kepalanya pada pundak ayahnya. Ia adalah anak berumur tu‐
juh tahun, tidak mengerti kenapa ia harus pergi, kenapa ayahnya harus pergi dan kenapa ia harus menjadi kuat.
Tapi kalau itu yang ia butuhkan untuk tinggal kembali bersama ayahnya, maka itulah yang akan ia lakukan.
Sierra memutuskan akan menanyakan pada madam Hammel bagaimana cara menjadi kuat. Bukankah wanita
itu penyihir, ia pasti tahu caranya.

Anda mungkin juga menyukai