0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan19 halaman

Bab Ii

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, adalah kondisi di mana tekanan darah melebihi batas normal, yang dapat dikendalikan tetapi tidak disembuhkan. Penyebab hipertensi dapat dibedakan menjadi hipertensi esensial yang multifaktorial dan hipertensi sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain. Komplikasi dari hipertensi yang tidak terkelola dengan baik termasuk stroke, infark miokard, dan penyakit ginjal kronis.

Diunggah oleh

nursimah.pi25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan19 halaman

Bab Ii

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, adalah kondisi di mana tekanan darah melebihi batas normal, yang dapat dikendalikan tetapi tidak disembuhkan. Penyebab hipertensi dapat dibedakan menjadi hipertensi esensial yang multifaktorial dan hipertensi sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain. Komplikasi dari hipertensi yang tidak terkelola dengan baik termasuk stroke, infark miokard, dan penyakit ginjal kronis.

Diunggah oleh

nursimah.pi25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Hipertensi

2.1.1 Definisi Hipertensi

Hipertensi atau yang biasa dikenal dengan darah tinggi adalah suatu

keadaan dimana tekanan darah seseorang melebihi batas normal atau optimal,

yaitu 120 mmHg pada rentang sistolik dan 80 mmHg pada rentang diastolik.

Hipertensi tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan dengan

pengobatan yang tepat.

Hal ini mencakup peningkatan pengetahuan tentang hipertensi dan

menjaga pola makan. Hipertensi merupakan penyakit multifaktorial yang

disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor individu seperti usia,

jenis kelamin, dan faktor genetik. Faktor lingkungan seperti stres juga

mempengaruhi tekanan darah tinggi.(Martini et al., 2019)

Definisi umum hipertensi adalah tekanan darah sistolik minimal 120

mmHg dan tekanan darah diastolik minimal 80 mmHg. Namun, batasan ini dapat

bervariasi tergantung pada pedoman kesehatan tertentu yang digunakan oleh

lembaga kesehatan. Jika seseorang memiliki tekanan darah di atas batas normal,

langkah-langkah pengelolaan seperti perubahan gaya hidup dan terapi obat

mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Hipertensi adalah masalah kesehatan masyarakat yang jarang

menimbulkan gejala atau keterbatasan nyata terhadap kesehatan fungsional

pasien. Menurut data WHO tahun 2015 menunjukkan sekitar 1,13 miliar orang di

dunia menderita hipertensi, yang berarti setiap 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis

5
6

hipertensi, hanya 36,8% di antaranya yang menjalani pengobatan. Jumlah

penderita hipertensi di dunia terus meningkat setiap tahunnya. (Purwono et al.,

2020)

2.1.2 Etiologi Hipertensi

Berdasarkan etiologinya, ada dua faktor penyebab tekanan darah tinggi.

Salah satunya adalah faktor yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin,

dan keturunan. Faktor lain yang meningkat seiring bertambahnya usia, yaitu

kemampuan dan mekanisme tubuh yang perlahan meningkat dan menyebabkan

penurunan berat badan.

Orang dewasa merupakan kelompok risiko terkena tekanan darah tinggi,

dan tekanan darah dapat meningkat seiring bertambahnya usia.

Oleh karena itu, penelitian mengenai hipertensi sebaiknya dilakukan pada

kelompok lanjut usia, yang secara teoritis mempunyai risiko paling tinggi.

(Ekarini et al., 2020)

Etiologi hipertensi bisa bermacam-macam, tapi paling sering,

penyebabnya sulit ditentukan pasti. Berikut merupakan perbedaan etiologi

hipertensi :

1. Hipertensi Esensial

Penyebab hipertensi esensial atau primer bersifat multifaktorial, yaitu

hasil interaksi dari faktor-faktor tersebut. Faktor penyebab hipertensi antara lain

faktor risiko, aktivitas sistem saraf simpatis, keseimbangan antara vasodilatasi

dan vasokonstriksi pada pembuluh darah, serta aktivitas sistem renin-angiotensin.

Faktor risikonya meliputi usia, jenis kelamin, dan faktor genetik. Selain itu, gaya
7

hidup yang tidak sehat seperti minum alkohol, merokok, kurang olahraga, dan

mengonsumsi makanan tinggi lemak juga dapat menyebabkan tekanan darah

tinggi. Seiring bertambahnya usia, elastisitas dinding pembuluh darah semakin

menurun. Faktor lain yang menyebabkan tekanan darah tinggi adalah rangsangan

pada sistem saraf simpatis. Berbagai kondisi yang menyebabkan stres baik fisik

maupun psikis dapat menimbulkan aktivitas simpatik. Efek merangsang sistem

saraf simpatis adalah penyempitan pembuluh darah dan peningkatan denyut

jantung. Faktor kedua ini menyebabkan peningkatan resistensi perifer pada

pembuluh darah sistemik sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Selain itu, rangsangan pada sistem saraf simpatis menyebabkan aktivitas sistem

renin-angiotensin-aldosteron, yang bertanggung jawab untuk meningkatkan

tekanan darah. Sistem renin-angiotensin-aldosteron sebenarnya berfungsi secara

mandiri tergantung keadaan tubuh.

2. Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder merupakan dampak dari penyakit tertentu.

Angka kejadiannya berkisar antara 10-20% saja.

Beberapa penyakit atau kelainan yang dapat menimbulkan hipertensi

sekunder antara lain:

a. Glomerulonefritis akut

Hipertensi terjadi secara tiba-tiba dan memburuk dengan cepat. Jika

tidak segera ditangani maka dapat menyebabkan gagal jantung

b. Sindrom nefrotik

Penyakit ini berkembang perlahan dan menyebabkan gejala klinis

sindrom nefrotik, termasuk proteinuria berat, hipoproteinemia, dan


8

edema berat. Sekalipun fungsi ginjal baik pada tahap awal, lama

kelamaan kapasitas filtrasi glomerulus menurun, fungsi ginjal

menurun, dan tekanan darah meningkat.

c. Pielonefritis

Terdapat hubungan antara pielonefritis dan adanya hipertensi.

Peradangan ginjal sering dikaitkan dengan kelainan struktural bawaan

pada ginjal atau batu ginjal. Membuat diagnosis klinis seringkali sulit.

Namun, gejalanya biasanya berupa sakit punggung, kelelahan, dan

perasaan lemah. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan proteinuria

dalam urin, terkadang disertai hematuria.

2.1.3 Faktor Risiko Hipertensi

Penyakit hipertensi diakibatkan oleh interaksi beberapa faktor. Faktor-

faktor ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok: faktor penjamu, patogen, dan

faktor lingkungan (fisik dan sosial). Penyebab tekanan darah tinggi dibedakan

menjadi dua jenis: faktor yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin, dan

riwayat keluarga, serta faktor yang dapat diubah seperti kebiasaan merokok dan

pola makan tinggi kolesterol. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan

antara faktor yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat

keluarga dengan frekuensi hipertensi. Selain itu, faktor perilaku seperti kebiasaan

merokok, perilaku, dan kebiasaan minum juga berperan. Merokok dapat

meningkatkan tekanan darah melalui pelepasan noradrenalin dari ujung saraf

adrenergik yang dirangsang oleh nikotin. Orang yang merokok satu bungkus atau

lebih dalam sehari mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar terkena tekanan

darah tinggi dibandingkan orang yang tidak merokok.(Tumanduk et al., 2019)


9

Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah

seseorang, antara lain :

Faktor yang tidak dapat dikontrol (Putri Dafriani, 2019)

1. Faktor genetik

Adanya faktor genetik pada suatu keluarga tertentu meningkatkan

risiko keluarga tersebut terkena tekanan darah tinggi. Orang yang memiliki

orang tua dengan penyakit darah tinggi mempunyai kemungkinan dua kali

lebih besar untuk menderita penyakit darah tinggi dibandingkan dengan

orang yang tidak memiliki anggota keluarga yang menderita

penyakit darah tinggi.

2. Usia

Kerentanan terhadap hipertensi meningkat seiring bertambahnya

[Link] antara orang yang berusia di atas 60 tahun, 50-60% memiliki

tekanan darah minimal 140/90 mmHg. Ini adalah efek degeneratif yang

terjadi pada manusia seiring bertambahnya usia.

3. Jenis Kelamin

Terkait tekanan darah tinggi, pria memiliki risiko lebih tinggi

terkena tekanan darah [Link]-laki juga memiliki tingkat morbiditas dan

mortalitas penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi.

Sebaliknya, wanita yang berusia di atas 50 tahun umumnya lebih rentan

terkena tekanan darah tinggi.


10

Faktor yang dapat dikontrol

1. Obesitas

Kelebihan berat badan (obesitas) juga menjadi faktor penyebab

berbagai penyakit serius, termasuk tekanan darah [Link] epidemiologi

menunjukkan hubungan antara berat badan dan tekanan darah pada pasien

hipertensi dan [Link] benar-benar mempengaruhi tekanan darah

adalah obesitas pada tubuh bagian atas dengan peningkatan jumlah lemak

perut, atau obesitas langsung.

2. Nutrisi

Satu hal yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi adalah

asupan [Link] banyak garam melepaskan kelebihan hormon

natriuretik, yang secara langsung meningkatkan tekanan

[Link] lebih dari 14 gram garam, atau lebih dari 2 sendok

makan per hari, dapat menyebabkan perubahan tekanan darah

yang terdeteksi

3. Merokok dan mengkonsumsi alkohol

Nikotin yang terkandung dalam rokok sangat berbahaya bagi

kesehatan. Nikotin dapat menyebabkan pengapuran dinding pembuluh

darah. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa merokok merupakan faktor

risiko tekanan darah tinggi dan dapat [Link] alkohol berlebihan

juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.

4. Stress

Hubungan antara stres dan tekanan darah tinggi diduga disebabkan

oleh aktivitas saraf simpatis. Saraf simpatis merupakan saraf yang bekerja
11

ketika ada aktivitas. Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat

menyebabkan peningkatan tekanan darah sementara (tidak teratur). Jika

stres berlanjut dalam jangka waktu lama, tekanan darah anda

mungkin tetap tinggi.

5. Kurang olahraga

Dengan adanya kesibukan yang luar biasa, seseorang akan merasa tidak

memiliki waktu untuk berolahraga. Akibatnya, kita menjadi kurang gerak dan

kurang olahraga. Kondisi inilah yang memicu kolesterol tinggi dan juga adanya

tekanan darah yang terus menguat sehingga mengakibatkan hipertensi.

Seringkali, kombinasi dari faktor ini yang menyebabkan hipertensi.

Penting untuk diingat bahwa menjaga gaya hidup sehat, seperti pola makan

seimbang, olahraga teratur, dan mengelola stres, dapat membantu

mengurangi risiko hipertensi. (Putri Dafriani, 2019)

2.1.4 Tanda Gejala Hipertensi

Berdasarkan etiologi tanda gejala Hipertensi dibedakan menjadi dua, yaitu

Hipertensi Primer yang penyebabnya tidak diketahui dan tidak menunjukkan

tanda gejala. Sedangkan Hipertensi Sekunder disertai tanda gejala seperti nyeri

kepala, mual dan pingsan. Pola hidup modern menjadi faktor yang berpengaruh

terhadap tekanan darah. (Lali et al., 2022)

Berikut merupakan beberapa tanda gejala hipertensi :

1. Sakit kepala

Sakit kepala adalah gejala tekanan darah tinggi yang paling umum.

Keluhan ini terutama dirasakan pada pasien yang tekanan darahnya sebesar

180/120 mmHg atau lebih tinggi. Jika mengalami sakit kepala mendadak
12

satu kali atau sering, sebaiknya segera periksakan ke dokter agar tekanan

darah tinggi bisa cepat terdeteksi.

2. Gangguan penglihatan

Gangguan penglihatan merupakan salah satu komplikasi dari tekanan

darah tinggi. Tanda darah tinggi ini bisa muncul secara tiba-tiba atau

perlahan. Salah satu gangguan penglihatan yang dapat terjadi adalah

retinopati hipertensi. Peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan

pembuluh darah di mata pecah. Hal ini menyebabkan hilangnya penglihatan

secara parah dan tiba-tiba.

3. Sesak nafas

Penderita tekanan darah tinggi juga bisa mengalami sesak nafas.

Kondisi ini terjadi ketika jantung membesar dan tidak dapat membentuk

bekuan darah. Jika hal ini sering terjadi, jangan ragu untuk

berkonsultasi dengan dokter.

4. Mimisan

Mimisan biasanya terjadi ketika tekanan darah sangat tinggi. Jika

mimisan Anda disertai dengan salah satu tanda tekanan darah tinggi di atas,

ini merupakan keadaan darurat medis dan anda harus segera pergi ke

unit gawat darurat.

5. Nyeri dada

Kondisi ini terjadi akibat adanya penyumbatan pembuluh darah pada

organ jantung. Nyeri dada seringkali merupakan tanda serangan jantung dan

bisa juga disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Jika memiliki gejala-gejala

ini, segera dapatkan bantuan medis.


13

6. Mual dan muntah

Mual dan muntah merupakan gejala tekanan darah tinggi yang

disebabkan oleh meningkatnya tekanan di kepala. Penyebabnya bisa

bermacam-macam, termasuk pendarahan di kepala. Salah satu faktor risiko

terjadinya pendarahan kepala adalah tekanan darah tinggi. Orang yang

mengalami pendarahan otak mungkin mengeluh muntah secara tiba-tiba.

2.1.5 Klasifikasi Hipertensi

Hipertensi terbagi menjadi hipertensi esensial (90-95%) dan hipertensi

sekunder (5-10%).Tekanan darah tinggi, yang dikenal sebagai hipertensi primer

atau esensial, adalah tekanan darah tinggi tanpa [Link] primer

merupakan penyakit multifaktorial yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan

lingkungan.(Patel & Goyena, 2019)

1. Hipertensi esensial (primer)

Merupakan 90% dari Kasus penderita hipertensi. Dimana saat ini belum

diketahui penyebabnya secara pasti. Ada beberapa faktor yang

mempengaruhi berkembangnya hipertensi esensial, antara lain genetik, stres,

faktor psikologis, faktor lingkungan, dan kebiasaan makan (peningkatan

asupan garam, penurunan asupan kalium dan kalsium). Peningkatan tekanan

darah seringkali merupakan satu-satunya tanda hipertensi primer. Pada

umumnya gejala baru terlihat setelah terjadi komplikasi pada organ target

seperti ginjal, mata, otak, dan jantung.

2. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder berasal dari penyebab dan patofisiologi yang dapat

diketahui dengan jelas sehingga dapat dikendalikan melalui terapi


14

farmakologi dengan tepat. Hipertensi berasal dari penyakit lain. Sehingga

tatalaksananya dapat direncanakan dengan baik.

2.1.6 Komplikasi Hipertensi

Beberapa komplikasi yang timbul akibat hipertensi yang tidak tertangani

dengan baik diantaranya transient ischemic attack, infark miokard, diabetes

melitus, chronic kidney disease dan kebutaan. Diperkirakan 46% penderita

hipertensi dewasa tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi, dan hipertensi

dapat menimbulkan komplikasi yang sangat berbahaya bagi [Link]

komplikasi hipertensi dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan.

Pengetahuan yang kurang membuat pasien hipertensi tidak mampu mengatasi

kekambuhan atau mengambil tindakan pencegahan untuk mencegah

terjadinya komplikasi. (S et al., 2021)

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat memicu berbagai

komplikasi [Link] bawah ini adalah beberapa komplikasi yang dapat terjadi

akibat tekanan darah tinggi yang tidak dapat diobati: (Widiyanto et al., 2020)

1. Stroke

Stroke adalah gangguan fungsi otak akut lokal atau global yang berlangsung

lebih dari 24 jam dan disebabkan oleh gangguan sirkulasi serebral dan

bukan disebabkan oleh gangguan peredaran darah. Stroke mendadak dengan

defisit neurologis dapat disebabkan oleh iskemia atau pendarahan otak.

Stroke iskemik disebabkan oleh tersumbatnya 24 pembuluh darah lokal,

sehingga mengakibatkan berkurangnya pasokan oksigen dan glukosa ke

bagian otak yang tersumbat. Stroke dapat terjadi karena adanya perdarahan
15

bertekanan tinggi pada area rambut rontok atau akibat keluarnya emboli dari

pembuluh darah di otak dalam kondisi bertekanan tinggi. Pada hipertensi

kronis, stroke dapat terjadi ketika arteri yang memasok darah ke otak

membesar dan menebal sehingga membatasi aliran darah ke area yang

menerima darah. Arteri serebral aterosklerotik menjadi lebih lemah,

meningkatkan kemungkinan pembentukan anurisma.

2. Infark miokardium

Infark miokard terjadi ketika arteri koroner yang mengeras tidak lagi

memberikan cukup oksigen ke otot jantung, atau ketika gumpalan darah

terbentuk dan menghalangi aliran darah melalui pembuluh tersebut.

Hipertensi kronis dan hipertensi ventrikel mengakibatkan ketidakmampuan

memenuhi kebutuhan oksigen miokard, yang dapat menyebabkan iskemia

jantung dan infark. Demikian pula, hipertrofi dapat menyebabkan perubahan

waktu konduksi listrik di dalam ventrikel, menyebabkan aritmia, hipoksia

jantung, dan peningkatan risiko pembentukan bekuan darah..

3. Gagal Ginjal

Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang

progresif dan irreversible dari berbaga penyebab, salah satunya pada bagian

25 yang menuju ke kardiovaskular. Mekanisme terjadinya hipertensi

padagagal ginjal kronik oleh karena penimbunan garam dan air ata system

renin angiotensin aldosteron (RAA) (Mitasari, 2019). Hipertensi berisiko 4

kali lebi besar terhadap kejadian gagal ginjal bila dibandingkan

denganborang yangtidak mengalami hipertensi


16

4. Ensefalopati ( Kerusakan Otak)

Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi, terutama pada hipertensi

maligna (penyakit dimana tekanan darah tinggi meningkat dengan cepat).

Tekanan yang sangat tinggi pada penyakit ini menyebabkan peningkatan

tekanan darah, yang menembus ruang interstisial di seluruh sistem saraf

pusat. Neuron di sekitarnya bisa rusak, menyebabkan gangguan

pendengaran, kebutaan, bahkan koma dan kematian mendadak. Hubungan

antara tekanan darah tinggi dan kerusakan otak berarti bahwa pada orang

tanpa tekanan darah tinggi, risikonya empat kali lebih tinggi dibandingkan

pada orang dengan tekanan darah tinggi.

2.1.7 Penatalaksanaan Medis

Pengobatan darah tinggi dapat dilakukan dengan metode nonfarmakologis

(perubahan gaya hidup) dan farmakologis (terapi obat). [Link], al berpendapat

hanya 30% penderita hipertensi yang melakukan perubahan gaya hidup untuk

mengontrol tekanan darahnya. Orang yang menderita penyakit kardiovaskular

wajib menjaga dirinya sendiri. Berikut ini adalah cara untuk mengobati penyakit

dan meningkatkan kualitas hidup. Perubahan gaya hidup juga mengharuskan

pasien belajar membaca label makanan dan menentukan pilihan makanan sehat.

Dalam hal ini secara khusus memuat informasi tentang pengobatan dan

penatalaksanaan tekanan darah tinggi. Pengelolaan hipertensi secara mandiri

diharapkan dapat memperdalam pengetahuan lansia mengenai hipertensi serta

meningkatkan sikap dan kepatuhan terhadap pengobatan penyakitnya. Untuk

membantu lansia penderita hipertensi dalam mengelola hipertensinya, profesional

kesehatan harus memberikan pendidikan kesehatan hipertensi dan mendidik


17

mereka tentang hipertensi, pengobatannya, dan prognosisnya. Setelah itu,

merupakan tanggung jawab pasien untuk memahami dan mengikuti pengobatan

tekanan darah tinggi sesuai resep untuk memastikan keberhasilan pengobatan dan

pengendalian tekanan darah tinggi. (Suprayitno & Huzaimah, 2020)

Penatalaksanaan pada penderita hipertensi dapat dilakukan dengan cara

farmakologis dan non farmakologis. (Putri Dafriani, 2019)

1. Penatalaksanaan Farmakologi

Tujuan pengobatan hipertensi adalah untuk mencegah kesakitan dan

kematian akibat hipertensi. Artinya tekanan darah harus diturunkan

semaksimal mungkin tanpa mempengaruhi fungsi ginjal, otak, jantung, atau

kualitas hidup, sekaligus mengendalikan faktor risiko kardiovaskular

lainnya. Menurunkan tekanan darah dengan obat antihipertensi (AH) telah

terbukti mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat penyakit

kardiovaskular seperti stroke, iskemia jantung, gagal jantung, dan

eksaserbasi hipertensi. Kurangnya efektivitas A dalam menurunkan kejadian

penyakit arteri koroner (CAD) disebabkan oleh komplikasi aterosklerosis,

dan pengobatan yang dini dan cukup lama dapat menghambat proses

aterosklerotik. Hal ini karena AH belum pernah digunakan sebelumnya, dan

dosisnya tinggi. Hal ini menyebabkanefek samping metabolik yang

meningkatkan risiko koroner.

2. Diuretik

Hydrochlorothiazide adalah diuretik yang paling sering diresepkan

untuk mengobati hipertensi ringan. Hydrochlorothiazide dapat diberikan

sendiri kepada pasien dengan hipertensi ringan atau baru.


18

Banyak obat antihipertensi yang dapat menyebabkan retensi cairan. Oleh

karena itu, diuretik seringkali diberikan bersamaan dengan obat antihipertensi.

Efek samping dari diuretik adalah hipokalemia, hipomagnesemia, hiponatremia,

hiperurisemia, hiperkalsemia, hiperglikemia, hiperkolesterolemia dan

hipertrigliseridemia.

3. Simpatolitik

Penghambat (penghambat simpatis terdistribusi adrenergik),

penghambatalfa, dan penghambat neuron adrenergik diklasifikasikan

sebagai obat simpatolitik atau penghambat beta simpatolitik. Efek samping

obat ini adalah meningkatkan sekresi asam lambung.

4. Antagonis angiotensin

Obat dalam golongan ini menghambat enzim pengubah angiotensin

(ACE), yang nantinya akan menghambat pembentukan angiotensin II

(vasokonstriktor) dan menghambat pelepasan aldosteron. Aldosteron

meningkatkan retensi natrium dan ekskresi kalium. Jika aldosteron

dihambat, natrium diekskresikan bersama sama dengan air. Kaptopril,

enalapril, dan lisinopril adalah ketiga antagonis angiotensin.

5. Penatalaksanaan Non Farmakologi

Penatalaksanaan hipertensi dengan nonfarmakologis terdiri dari

berbagai macam cara modifikasi gaya hidup untuk menurunkan tekanan

darah yaitu :

a. Mempertahankan berat badan ideal

Mengatasi Obesitas (kegemukan) juga dapat diatasi dengan pola

makan yang rendah kolesterol serta kaya serat dan protein.


19

Penurunan berat badan yang sukses 2,5 sampai 5 kg dapat

menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 5 [Link]

orang menyukai makanan asin. Oleh karena itu, seseorang perlu

mengurangi [Link] natrium (garam meja) telah terbukti

membantu menurunkan tekanan darah pada 60% orang.

b. Pendekatan diet

Mengkonsumsi makanan yang kaya akan buah-buahan dan

rendah lemak atau yang berasal dari hewani. Menurut penelitian dari

NIH (National Institutes of Health) di Amerika Serikat, pola makan

ini sangat efektif dalam mengatasi tekanan darah tinggi. Konsumsilah

segera makanan kaya potasium, magnesium, kalsium, dan [Link]

itu juga mengurangi asupan makanan yang mengandung lemak jenuh,

kolesterol, daging merah, serta minuman tinggi gula dan garam.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mengurangi asupan garam

menurunkan tekanan darah. Efek asupan natrium terhadap hipertensi

terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung,

dan tekanan darah.

c. Menurunkan stress

Stress merupakan masalah psikososial yang mempunyai

dampak fisik. Kemampuan tubuh dalam merespons stres menentukan

kesehatan seseorang.

Tingginya kadar hormon adrenal meningkatkan tekanan darah,

denyut nadi, dan fungsi pernafasan. Jika stres tidak dikelola dengan

baik, maka dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik.


20

2.1.8 Peran Keluarga

Anggota keluarga dapat menjaga dan merawat anggota keluarga agar tetap

sehat. Keluarga dapat mengenali apakah anggota keluarga lainnya mempunyai

masalah dalam perkembangan kesehatannya, misalnya memiliki gejala darah tinggi.

Keluarga dapat mengambil keputusan yang tepat mengenai intervensi medis,

memberikan pelayanan medis, membantu biaya pengobatan, mengingatkan untuk

minum obat, serta memberikan dan memelihara suasana rumah yang selalu sehat dan

bermanfaat bagi perkembangan emosi. Keluarga dapat berkolaborasi dalam

mengadopsi gaya hidup sehat, dengan memantau pola makan yang rendah garam,

berolahraga yang teratur, dan menghindari minuman yang mengandung alkohol.

Dengan ini dapat mendorong perubahan positif dan menciptakan lingkungan yang

mendukung. Selain itu keluarga juga harus memantau tekanan darah secara teratur

supaya mengetahui bagaimana kondisinya. Jika anggota keluarga membutuhkan

pengobatan untuk mengontrol hipertensi, keluarga dapat membantu memastikan

bahwa obat yang diminum sesuai anjuran dokter. Keluarga juga bisa mengingatkan

untuk melakukan jadwal kunjungan ke dokter. (Lali et al., 2022)

2.1.9 Asuhan Keperawatan Pasien Hipertensi

Asuhan keperawatan penderita hipertensi meliputi : (Ramadhan, 2021)

1. Pengkajian

a. Biodata

Detail data lengkap pasien meliputi: Nama Lengkap, Usia, Jenis

Kelamin, Menikah/Belum Menikah, Agama, Etnis, Pendidikan,

Pekerjaan, Pendapatan dan Alamat Identitas (termasuk) Nama, Jenis


21

Kelamin, usia, etnis, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, hubungan

dengan pasien, dan alamat.

b. Keluhan utama

Keluhan darah tinggi biasanya diawali dengan rasa sakit kepala yang

disebabkan oleh peningkatan tekanan darah ke otak.

c. Riwayat kesehatan

1) Riwayat kesehatan Sekarang

Keadaan yang didapatkan pada saat pengkajian Misalnya, pusing

dan terkadang jantung berdebar, kelelahan, kelainan pada

pembuluh darah di retina (retinopati hipertensi), pusing atau

kemerahan pada wajah, dan mimisan spontan.

2) Riwayat kesehatan masa lalu

Berdasarkan penyebab hipertensi dibagi menjadi dua golongan:

a) Hipertensi esensial(primer)

Banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetik, lingkungan,

hiperaktif, sistem sarafsimpatik dan faktor yang meningkatkan

risiko seperti obesitas, alkohol, merokok, polisitemia.

b) Hipertensi renal (sekunder) atau hipertensi renal, penyebabnya

antara lain : Penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi

vascular, dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.

d. Riwayat kesehatan keluarga

Hipertensi lebih banyak menyerang perempuan dibandingkan

laki-laki, dan penyakit ini sangat dipengaruhi oleh faktor genetik.


22

Faktanya, jika orang tua memiliki riwayat penyakit darah tinggi, maka

anak pun akan lebih berisiko terkena penyakit darah tinggi.

2. Diagnosis Keperawatan

Diagnosis keperawatan menjelaskan faktor-faktor yang

mempertahankan respons tidak sehat dan menyebabkan perubahan yang

tidak terduga:

a. Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan

peningkatan afterload, vasokonstriksi, hipertrofi, dan iskemia miokard.

b. Nyeri (akut): Sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan

serebrovaskular di daerah suboksipital 33.

c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keseimbangan antara suplai

dan kebutuhan oksigen.

3. Intervensi keperawatan

Resiko tinggi penurunan curah jantung karena peningkatan afterload,

vasokonstriksi, hipertrofi, dan iskemia miokard. Diharapkan curah jantung

tidak menurun setelah dilakukan intervensi keperawatan. Kriteria Hasil

a. Tekanan darah dalam batas normal/kontrol (110/70-120/80 mmHg)

b. Irama jantung dan detak jantung stabil (HR=60-100x/i)

c. Acral hangat

d. Kulit tidak pucat.

e. Pengisian ulang kapiler (capillary refill) baik dan kembali dalam

waktu 2-3 detik


23

2.1.10 Dampak Hipertensi terhadap kualitas hidup pasien

Kualitas hidup penderita hipertensi harus dipantau sejak saat terdiagnosa.

Pasalnya, dampak tekanan darah tinggi dapat menyebabkan perubahan fisik dan

psikologis mulai dari rasa tidak nyaman hingga kecemasan dan depresi yang dapat

memengaruhi kemampuan Anda untuk beraktivitas. Karena hipertensi merupakan

penyakit kronis, diharapkan dapat meningkatkan fungsi kesehatan, meminimalkan

keluhan fisik dan mental penderita, meminimalkan hipertensi, mengembangkan

fungsi sosial penderita. Kegagalan untuk mematuhi perubahan gaya hidup dan

pengobatan akan mengakibatkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Perubahan

gaya hidup seperti mengonsumsi makanan rendah natrium, menurunkan berat

badan, meningkatkan aktivitas fisik, dan membatasi asupan alkohol sangat sulit

diterapkan jika penyakit tidak menunjukkan gejala hingga timbul masalah

sekunder. Akses yang tidak memadai terhadap layanan kesehatan dan tingginya

biaya pengobatan menyebabkan buruknya pengendalian tekanan [Link]

hidup yang berhubungan dengan kesehatan didefinisikan sebagai ukuran status

fungsional, dampak, keterbatasan, kondisi, dan perspektif pelayanan yang

dirasakan yang mengintegrasikan pasien dengan penyakit kronis ke dalam konteks

budaya dan Kesehatan. Oleh karena itu, kondisi kesehatan dan penyakit terus

terjadi dan berkaitan dengan ekonomi, sosial budaya, pengalaman, dan gaya

hidup. Menurut definisi WHO, kesehatan tidak hanya berarti terbebasnya penyakit

tetapi juga kesejahteraan fisik, mental dan sosial. (Laili & Purnamasari, 2019)

Anda mungkin juga menyukai