BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Hipertensi
2.1.1 Definisi Hipertensi
Hipertensi atau yang biasa dikenal dengan darah tinggi adalah suatu
keadaan dimana tekanan darah seseorang melebihi batas normal atau optimal,
yaitu 120 mmHg pada rentang sistolik dan 80 mmHg pada rentang diastolik.
Hipertensi tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan dengan
pengobatan yang tepat.
Hal ini mencakup peningkatan pengetahuan tentang hipertensi dan
menjaga pola makan. Hipertensi merupakan penyakit multifaktorial yang
disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor individu seperti usia,
jenis kelamin, dan faktor genetik. Faktor lingkungan seperti stres juga
mempengaruhi tekanan darah tinggi.(Martini et al., 2019)
Definisi umum hipertensi adalah tekanan darah sistolik minimal 120
mmHg dan tekanan darah diastolik minimal 80 mmHg. Namun, batasan ini dapat
bervariasi tergantung pada pedoman kesehatan tertentu yang digunakan oleh
lembaga kesehatan. Jika seseorang memiliki tekanan darah di atas batas normal,
langkah-langkah pengelolaan seperti perubahan gaya hidup dan terapi obat
mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Hipertensi adalah masalah kesehatan masyarakat yang jarang
menimbulkan gejala atau keterbatasan nyata terhadap kesehatan fungsional
pasien. Menurut data WHO tahun 2015 menunjukkan sekitar 1,13 miliar orang di
dunia menderita hipertensi, yang berarti setiap 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis
5
6
hipertensi, hanya 36,8% di antaranya yang menjalani pengobatan. Jumlah
penderita hipertensi di dunia terus meningkat setiap tahunnya. (Purwono et al.,
2020)
2.1.2 Etiologi Hipertensi
Berdasarkan etiologinya, ada dua faktor penyebab tekanan darah tinggi.
Salah satunya adalah faktor yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin,
dan keturunan. Faktor lain yang meningkat seiring bertambahnya usia, yaitu
kemampuan dan mekanisme tubuh yang perlahan meningkat dan menyebabkan
penurunan berat badan.
Orang dewasa merupakan kelompok risiko terkena tekanan darah tinggi,
dan tekanan darah dapat meningkat seiring bertambahnya usia.
Oleh karena itu, penelitian mengenai hipertensi sebaiknya dilakukan pada
kelompok lanjut usia, yang secara teoritis mempunyai risiko paling tinggi.
(Ekarini et al., 2020)
Etiologi hipertensi bisa bermacam-macam, tapi paling sering,
penyebabnya sulit ditentukan pasti. Berikut merupakan perbedaan etiologi
hipertensi :
1. Hipertensi Esensial
Penyebab hipertensi esensial atau primer bersifat multifaktorial, yaitu
hasil interaksi dari faktor-faktor tersebut. Faktor penyebab hipertensi antara lain
faktor risiko, aktivitas sistem saraf simpatis, keseimbangan antara vasodilatasi
dan vasokonstriksi pada pembuluh darah, serta aktivitas sistem renin-angiotensin.
Faktor risikonya meliputi usia, jenis kelamin, dan faktor genetik. Selain itu, gaya
7
hidup yang tidak sehat seperti minum alkohol, merokok, kurang olahraga, dan
mengonsumsi makanan tinggi lemak juga dapat menyebabkan tekanan darah
tinggi. Seiring bertambahnya usia, elastisitas dinding pembuluh darah semakin
menurun. Faktor lain yang menyebabkan tekanan darah tinggi adalah rangsangan
pada sistem saraf simpatis. Berbagai kondisi yang menyebabkan stres baik fisik
maupun psikis dapat menimbulkan aktivitas simpatik. Efek merangsang sistem
saraf simpatis adalah penyempitan pembuluh darah dan peningkatan denyut
jantung. Faktor kedua ini menyebabkan peningkatan resistensi perifer pada
pembuluh darah sistemik sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Selain itu, rangsangan pada sistem saraf simpatis menyebabkan aktivitas sistem
renin-angiotensin-aldosteron, yang bertanggung jawab untuk meningkatkan
tekanan darah. Sistem renin-angiotensin-aldosteron sebenarnya berfungsi secara
mandiri tergantung keadaan tubuh.
2. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder merupakan dampak dari penyakit tertentu.
Angka kejadiannya berkisar antara 10-20% saja.
Beberapa penyakit atau kelainan yang dapat menimbulkan hipertensi
sekunder antara lain:
a. Glomerulonefritis akut
Hipertensi terjadi secara tiba-tiba dan memburuk dengan cepat. Jika
tidak segera ditangani maka dapat menyebabkan gagal jantung
b. Sindrom nefrotik
Penyakit ini berkembang perlahan dan menyebabkan gejala klinis
sindrom nefrotik, termasuk proteinuria berat, hipoproteinemia, dan
8
edema berat. Sekalipun fungsi ginjal baik pada tahap awal, lama
kelamaan kapasitas filtrasi glomerulus menurun, fungsi ginjal
menurun, dan tekanan darah meningkat.
c. Pielonefritis
Terdapat hubungan antara pielonefritis dan adanya hipertensi.
Peradangan ginjal sering dikaitkan dengan kelainan struktural bawaan
pada ginjal atau batu ginjal. Membuat diagnosis klinis seringkali sulit.
Namun, gejalanya biasanya berupa sakit punggung, kelelahan, dan
perasaan lemah. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan proteinuria
dalam urin, terkadang disertai hematuria.
2.1.3 Faktor Risiko Hipertensi
Penyakit hipertensi diakibatkan oleh interaksi beberapa faktor. Faktor-
faktor ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok: faktor penjamu, patogen, dan
faktor lingkungan (fisik dan sosial). Penyebab tekanan darah tinggi dibedakan
menjadi dua jenis: faktor yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin, dan
riwayat keluarga, serta faktor yang dapat diubah seperti kebiasaan merokok dan
pola makan tinggi kolesterol. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan
antara faktor yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat
keluarga dengan frekuensi hipertensi. Selain itu, faktor perilaku seperti kebiasaan
merokok, perilaku, dan kebiasaan minum juga berperan. Merokok dapat
meningkatkan tekanan darah melalui pelepasan noradrenalin dari ujung saraf
adrenergik yang dirangsang oleh nikotin. Orang yang merokok satu bungkus atau
lebih dalam sehari mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar terkena tekanan
darah tinggi dibandingkan orang yang tidak merokok.(Tumanduk et al., 2019)
9
Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah
seseorang, antara lain :
Faktor yang tidak dapat dikontrol (Putri Dafriani, 2019)
1. Faktor genetik
Adanya faktor genetik pada suatu keluarga tertentu meningkatkan
risiko keluarga tersebut terkena tekanan darah tinggi. Orang yang memiliki
orang tua dengan penyakit darah tinggi mempunyai kemungkinan dua kali
lebih besar untuk menderita penyakit darah tinggi dibandingkan dengan
orang yang tidak memiliki anggota keluarga yang menderita
penyakit darah tinggi.
2. Usia
Kerentanan terhadap hipertensi meningkat seiring bertambahnya
[Link] antara orang yang berusia di atas 60 tahun, 50-60% memiliki
tekanan darah minimal 140/90 mmHg. Ini adalah efek degeneratif yang
terjadi pada manusia seiring bertambahnya usia.
3. Jenis Kelamin
Terkait tekanan darah tinggi, pria memiliki risiko lebih tinggi
terkena tekanan darah [Link]-laki juga memiliki tingkat morbiditas dan
mortalitas penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi.
Sebaliknya, wanita yang berusia di atas 50 tahun umumnya lebih rentan
terkena tekanan darah tinggi.
10
Faktor yang dapat dikontrol
1. Obesitas
Kelebihan berat badan (obesitas) juga menjadi faktor penyebab
berbagai penyakit serius, termasuk tekanan darah [Link] epidemiologi
menunjukkan hubungan antara berat badan dan tekanan darah pada pasien
hipertensi dan [Link] benar-benar mempengaruhi tekanan darah
adalah obesitas pada tubuh bagian atas dengan peningkatan jumlah lemak
perut, atau obesitas langsung.
2. Nutrisi
Satu hal yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi adalah
asupan [Link] banyak garam melepaskan kelebihan hormon
natriuretik, yang secara langsung meningkatkan tekanan
[Link] lebih dari 14 gram garam, atau lebih dari 2 sendok
makan per hari, dapat menyebabkan perubahan tekanan darah
yang terdeteksi
3. Merokok dan mengkonsumsi alkohol
Nikotin yang terkandung dalam rokok sangat berbahaya bagi
kesehatan. Nikotin dapat menyebabkan pengapuran dinding pembuluh
darah. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa merokok merupakan faktor
risiko tekanan darah tinggi dan dapat [Link] alkohol berlebihan
juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.
4. Stress
Hubungan antara stres dan tekanan darah tinggi diduga disebabkan
oleh aktivitas saraf simpatis. Saraf simpatis merupakan saraf yang bekerja
11
ketika ada aktivitas. Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah sementara (tidak teratur). Jika
stres berlanjut dalam jangka waktu lama, tekanan darah anda
mungkin tetap tinggi.
5. Kurang olahraga
Dengan adanya kesibukan yang luar biasa, seseorang akan merasa tidak
memiliki waktu untuk berolahraga. Akibatnya, kita menjadi kurang gerak dan
kurang olahraga. Kondisi inilah yang memicu kolesterol tinggi dan juga adanya
tekanan darah yang terus menguat sehingga mengakibatkan hipertensi.
Seringkali, kombinasi dari faktor ini yang menyebabkan hipertensi.
Penting untuk diingat bahwa menjaga gaya hidup sehat, seperti pola makan
seimbang, olahraga teratur, dan mengelola stres, dapat membantu
mengurangi risiko hipertensi. (Putri Dafriani, 2019)
2.1.4 Tanda Gejala Hipertensi
Berdasarkan etiologi tanda gejala Hipertensi dibedakan menjadi dua, yaitu
Hipertensi Primer yang penyebabnya tidak diketahui dan tidak menunjukkan
tanda gejala. Sedangkan Hipertensi Sekunder disertai tanda gejala seperti nyeri
kepala, mual dan pingsan. Pola hidup modern menjadi faktor yang berpengaruh
terhadap tekanan darah. (Lali et al., 2022)
Berikut merupakan beberapa tanda gejala hipertensi :
1. Sakit kepala
Sakit kepala adalah gejala tekanan darah tinggi yang paling umum.
Keluhan ini terutama dirasakan pada pasien yang tekanan darahnya sebesar
180/120 mmHg atau lebih tinggi. Jika mengalami sakit kepala mendadak
12
satu kali atau sering, sebaiknya segera periksakan ke dokter agar tekanan
darah tinggi bisa cepat terdeteksi.
2. Gangguan penglihatan
Gangguan penglihatan merupakan salah satu komplikasi dari tekanan
darah tinggi. Tanda darah tinggi ini bisa muncul secara tiba-tiba atau
perlahan. Salah satu gangguan penglihatan yang dapat terjadi adalah
retinopati hipertensi. Peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan
pembuluh darah di mata pecah. Hal ini menyebabkan hilangnya penglihatan
secara parah dan tiba-tiba.
3. Sesak nafas
Penderita tekanan darah tinggi juga bisa mengalami sesak nafas.
Kondisi ini terjadi ketika jantung membesar dan tidak dapat membentuk
bekuan darah. Jika hal ini sering terjadi, jangan ragu untuk
berkonsultasi dengan dokter.
4. Mimisan
Mimisan biasanya terjadi ketika tekanan darah sangat tinggi. Jika
mimisan Anda disertai dengan salah satu tanda tekanan darah tinggi di atas,
ini merupakan keadaan darurat medis dan anda harus segera pergi ke
unit gawat darurat.
5. Nyeri dada
Kondisi ini terjadi akibat adanya penyumbatan pembuluh darah pada
organ jantung. Nyeri dada seringkali merupakan tanda serangan jantung dan
bisa juga disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Jika memiliki gejala-gejala
ini, segera dapatkan bantuan medis.
13
6. Mual dan muntah
Mual dan muntah merupakan gejala tekanan darah tinggi yang
disebabkan oleh meningkatnya tekanan di kepala. Penyebabnya bisa
bermacam-macam, termasuk pendarahan di kepala. Salah satu faktor risiko
terjadinya pendarahan kepala adalah tekanan darah tinggi. Orang yang
mengalami pendarahan otak mungkin mengeluh muntah secara tiba-tiba.
2.1.5 Klasifikasi Hipertensi
Hipertensi terbagi menjadi hipertensi esensial (90-95%) dan hipertensi
sekunder (5-10%).Tekanan darah tinggi, yang dikenal sebagai hipertensi primer
atau esensial, adalah tekanan darah tinggi tanpa [Link] primer
merupakan penyakit multifaktorial yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan
lingkungan.(Patel & Goyena, 2019)
1. Hipertensi esensial (primer)
Merupakan 90% dari Kasus penderita hipertensi. Dimana saat ini belum
diketahui penyebabnya secara pasti. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi berkembangnya hipertensi esensial, antara lain genetik, stres,
faktor psikologis, faktor lingkungan, dan kebiasaan makan (peningkatan
asupan garam, penurunan asupan kalium dan kalsium). Peningkatan tekanan
darah seringkali merupakan satu-satunya tanda hipertensi primer. Pada
umumnya gejala baru terlihat setelah terjadi komplikasi pada organ target
seperti ginjal, mata, otak, dan jantung.
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder berasal dari penyebab dan patofisiologi yang dapat
diketahui dengan jelas sehingga dapat dikendalikan melalui terapi
14
farmakologi dengan tepat. Hipertensi berasal dari penyakit lain. Sehingga
tatalaksananya dapat direncanakan dengan baik.
2.1.6 Komplikasi Hipertensi
Beberapa komplikasi yang timbul akibat hipertensi yang tidak tertangani
dengan baik diantaranya transient ischemic attack, infark miokard, diabetes
melitus, chronic kidney disease dan kebutaan. Diperkirakan 46% penderita
hipertensi dewasa tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi, dan hipertensi
dapat menimbulkan komplikasi yang sangat berbahaya bagi [Link]
komplikasi hipertensi dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan.
Pengetahuan yang kurang membuat pasien hipertensi tidak mampu mengatasi
kekambuhan atau mengambil tindakan pencegahan untuk mencegah
terjadinya komplikasi. (S et al., 2021)
Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat memicu berbagai
komplikasi [Link] bawah ini adalah beberapa komplikasi yang dapat terjadi
akibat tekanan darah tinggi yang tidak dapat diobati: (Widiyanto et al., 2020)
1. Stroke
Stroke adalah gangguan fungsi otak akut lokal atau global yang berlangsung
lebih dari 24 jam dan disebabkan oleh gangguan sirkulasi serebral dan
bukan disebabkan oleh gangguan peredaran darah. Stroke mendadak dengan
defisit neurologis dapat disebabkan oleh iskemia atau pendarahan otak.
Stroke iskemik disebabkan oleh tersumbatnya 24 pembuluh darah lokal,
sehingga mengakibatkan berkurangnya pasokan oksigen dan glukosa ke
bagian otak yang tersumbat. Stroke dapat terjadi karena adanya perdarahan
15
bertekanan tinggi pada area rambut rontok atau akibat keluarnya emboli dari
pembuluh darah di otak dalam kondisi bertekanan tinggi. Pada hipertensi
kronis, stroke dapat terjadi ketika arteri yang memasok darah ke otak
membesar dan menebal sehingga membatasi aliran darah ke area yang
menerima darah. Arteri serebral aterosklerotik menjadi lebih lemah,
meningkatkan kemungkinan pembentukan anurisma.
2. Infark miokardium
Infark miokard terjadi ketika arteri koroner yang mengeras tidak lagi
memberikan cukup oksigen ke otot jantung, atau ketika gumpalan darah
terbentuk dan menghalangi aliran darah melalui pembuluh tersebut.
Hipertensi kronis dan hipertensi ventrikel mengakibatkan ketidakmampuan
memenuhi kebutuhan oksigen miokard, yang dapat menyebabkan iskemia
jantung dan infark. Demikian pula, hipertrofi dapat menyebabkan perubahan
waktu konduksi listrik di dalam ventrikel, menyebabkan aritmia, hipoksia
jantung, dan peningkatan risiko pembentukan bekuan darah..
3. Gagal Ginjal
Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang
progresif dan irreversible dari berbaga penyebab, salah satunya pada bagian
25 yang menuju ke kardiovaskular. Mekanisme terjadinya hipertensi
padagagal ginjal kronik oleh karena penimbunan garam dan air ata system
renin angiotensin aldosteron (RAA) (Mitasari, 2019). Hipertensi berisiko 4
kali lebi besar terhadap kejadian gagal ginjal bila dibandingkan
denganborang yangtidak mengalami hipertensi
16
4. Ensefalopati ( Kerusakan Otak)
Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi, terutama pada hipertensi
maligna (penyakit dimana tekanan darah tinggi meningkat dengan cepat).
Tekanan yang sangat tinggi pada penyakit ini menyebabkan peningkatan
tekanan darah, yang menembus ruang interstisial di seluruh sistem saraf
pusat. Neuron di sekitarnya bisa rusak, menyebabkan gangguan
pendengaran, kebutaan, bahkan koma dan kematian mendadak. Hubungan
antara tekanan darah tinggi dan kerusakan otak berarti bahwa pada orang
tanpa tekanan darah tinggi, risikonya empat kali lebih tinggi dibandingkan
pada orang dengan tekanan darah tinggi.
2.1.7 Penatalaksanaan Medis
Pengobatan darah tinggi dapat dilakukan dengan metode nonfarmakologis
(perubahan gaya hidup) dan farmakologis (terapi obat). [Link], al berpendapat
hanya 30% penderita hipertensi yang melakukan perubahan gaya hidup untuk
mengontrol tekanan darahnya. Orang yang menderita penyakit kardiovaskular
wajib menjaga dirinya sendiri. Berikut ini adalah cara untuk mengobati penyakit
dan meningkatkan kualitas hidup. Perubahan gaya hidup juga mengharuskan
pasien belajar membaca label makanan dan menentukan pilihan makanan sehat.
Dalam hal ini secara khusus memuat informasi tentang pengobatan dan
penatalaksanaan tekanan darah tinggi. Pengelolaan hipertensi secara mandiri
diharapkan dapat memperdalam pengetahuan lansia mengenai hipertensi serta
meningkatkan sikap dan kepatuhan terhadap pengobatan penyakitnya. Untuk
membantu lansia penderita hipertensi dalam mengelola hipertensinya, profesional
kesehatan harus memberikan pendidikan kesehatan hipertensi dan mendidik
17
mereka tentang hipertensi, pengobatannya, dan prognosisnya. Setelah itu,
merupakan tanggung jawab pasien untuk memahami dan mengikuti pengobatan
tekanan darah tinggi sesuai resep untuk memastikan keberhasilan pengobatan dan
pengendalian tekanan darah tinggi. (Suprayitno & Huzaimah, 2020)
Penatalaksanaan pada penderita hipertensi dapat dilakukan dengan cara
farmakologis dan non farmakologis. (Putri Dafriani, 2019)
1. Penatalaksanaan Farmakologi
Tujuan pengobatan hipertensi adalah untuk mencegah kesakitan dan
kematian akibat hipertensi. Artinya tekanan darah harus diturunkan
semaksimal mungkin tanpa mempengaruhi fungsi ginjal, otak, jantung, atau
kualitas hidup, sekaligus mengendalikan faktor risiko kardiovaskular
lainnya. Menurunkan tekanan darah dengan obat antihipertensi (AH) telah
terbukti mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat penyakit
kardiovaskular seperti stroke, iskemia jantung, gagal jantung, dan
eksaserbasi hipertensi. Kurangnya efektivitas A dalam menurunkan kejadian
penyakit arteri koroner (CAD) disebabkan oleh komplikasi aterosklerosis,
dan pengobatan yang dini dan cukup lama dapat menghambat proses
aterosklerotik. Hal ini karena AH belum pernah digunakan sebelumnya, dan
dosisnya tinggi. Hal ini menyebabkanefek samping metabolik yang
meningkatkan risiko koroner.
2. Diuretik
Hydrochlorothiazide adalah diuretik yang paling sering diresepkan
untuk mengobati hipertensi ringan. Hydrochlorothiazide dapat diberikan
sendiri kepada pasien dengan hipertensi ringan atau baru.
18
Banyak obat antihipertensi yang dapat menyebabkan retensi cairan. Oleh
karena itu, diuretik seringkali diberikan bersamaan dengan obat antihipertensi.
Efek samping dari diuretik adalah hipokalemia, hipomagnesemia, hiponatremia,
hiperurisemia, hiperkalsemia, hiperglikemia, hiperkolesterolemia dan
hipertrigliseridemia.
3. Simpatolitik
Penghambat (penghambat simpatis terdistribusi adrenergik),
penghambatalfa, dan penghambat neuron adrenergik diklasifikasikan
sebagai obat simpatolitik atau penghambat beta simpatolitik. Efek samping
obat ini adalah meningkatkan sekresi asam lambung.
4. Antagonis angiotensin
Obat dalam golongan ini menghambat enzim pengubah angiotensin
(ACE), yang nantinya akan menghambat pembentukan angiotensin II
(vasokonstriktor) dan menghambat pelepasan aldosteron. Aldosteron
meningkatkan retensi natrium dan ekskresi kalium. Jika aldosteron
dihambat, natrium diekskresikan bersama sama dengan air. Kaptopril,
enalapril, dan lisinopril adalah ketiga antagonis angiotensin.
5. Penatalaksanaan Non Farmakologi
Penatalaksanaan hipertensi dengan nonfarmakologis terdiri dari
berbagai macam cara modifikasi gaya hidup untuk menurunkan tekanan
darah yaitu :
a. Mempertahankan berat badan ideal
Mengatasi Obesitas (kegemukan) juga dapat diatasi dengan pola
makan yang rendah kolesterol serta kaya serat dan protein.
19
Penurunan berat badan yang sukses 2,5 sampai 5 kg dapat
menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 5 [Link]
orang menyukai makanan asin. Oleh karena itu, seseorang perlu
mengurangi [Link] natrium (garam meja) telah terbukti
membantu menurunkan tekanan darah pada 60% orang.
b. Pendekatan diet
Mengkonsumsi makanan yang kaya akan buah-buahan dan
rendah lemak atau yang berasal dari hewani. Menurut penelitian dari
NIH (National Institutes of Health) di Amerika Serikat, pola makan
ini sangat efektif dalam mengatasi tekanan darah tinggi. Konsumsilah
segera makanan kaya potasium, magnesium, kalsium, dan [Link]
itu juga mengurangi asupan makanan yang mengandung lemak jenuh,
kolesterol, daging merah, serta minuman tinggi gula dan garam.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mengurangi asupan garam
menurunkan tekanan darah. Efek asupan natrium terhadap hipertensi
terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung,
dan tekanan darah.
c. Menurunkan stress
Stress merupakan masalah psikososial yang mempunyai
dampak fisik. Kemampuan tubuh dalam merespons stres menentukan
kesehatan seseorang.
Tingginya kadar hormon adrenal meningkatkan tekanan darah,
denyut nadi, dan fungsi pernafasan. Jika stres tidak dikelola dengan
baik, maka dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik.
20
2.1.8 Peran Keluarga
Anggota keluarga dapat menjaga dan merawat anggota keluarga agar tetap
sehat. Keluarga dapat mengenali apakah anggota keluarga lainnya mempunyai
masalah dalam perkembangan kesehatannya, misalnya memiliki gejala darah tinggi.
Keluarga dapat mengambil keputusan yang tepat mengenai intervensi medis,
memberikan pelayanan medis, membantu biaya pengobatan, mengingatkan untuk
minum obat, serta memberikan dan memelihara suasana rumah yang selalu sehat dan
bermanfaat bagi perkembangan emosi. Keluarga dapat berkolaborasi dalam
mengadopsi gaya hidup sehat, dengan memantau pola makan yang rendah garam,
berolahraga yang teratur, dan menghindari minuman yang mengandung alkohol.
Dengan ini dapat mendorong perubahan positif dan menciptakan lingkungan yang
mendukung. Selain itu keluarga juga harus memantau tekanan darah secara teratur
supaya mengetahui bagaimana kondisinya. Jika anggota keluarga membutuhkan
pengobatan untuk mengontrol hipertensi, keluarga dapat membantu memastikan
bahwa obat yang diminum sesuai anjuran dokter. Keluarga juga bisa mengingatkan
untuk melakukan jadwal kunjungan ke dokter. (Lali et al., 2022)
2.1.9 Asuhan Keperawatan Pasien Hipertensi
Asuhan keperawatan penderita hipertensi meliputi : (Ramadhan, 2021)
1. Pengkajian
a. Biodata
Detail data lengkap pasien meliputi: Nama Lengkap, Usia, Jenis
Kelamin, Menikah/Belum Menikah, Agama, Etnis, Pendidikan,
Pekerjaan, Pendapatan dan Alamat Identitas (termasuk) Nama, Jenis
21
Kelamin, usia, etnis, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, hubungan
dengan pasien, dan alamat.
b. Keluhan utama
Keluhan darah tinggi biasanya diawali dengan rasa sakit kepala yang
disebabkan oleh peningkatan tekanan darah ke otak.
c. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan Sekarang
Keadaan yang didapatkan pada saat pengkajian Misalnya, pusing
dan terkadang jantung berdebar, kelelahan, kelainan pada
pembuluh darah di retina (retinopati hipertensi), pusing atau
kemerahan pada wajah, dan mimisan spontan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
Berdasarkan penyebab hipertensi dibagi menjadi dua golongan:
a) Hipertensi esensial(primer)
Banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetik, lingkungan,
hiperaktif, sistem sarafsimpatik dan faktor yang meningkatkan
risiko seperti obesitas, alkohol, merokok, polisitemia.
b) Hipertensi renal (sekunder) atau hipertensi renal, penyebabnya
antara lain : Penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi
vascular, dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Hipertensi lebih banyak menyerang perempuan dibandingkan
laki-laki, dan penyakit ini sangat dipengaruhi oleh faktor genetik.
22
Faktanya, jika orang tua memiliki riwayat penyakit darah tinggi, maka
anak pun akan lebih berisiko terkena penyakit darah tinggi.
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan menjelaskan faktor-faktor yang
mempertahankan respons tidak sehat dan menyebabkan perubahan yang
tidak terduga:
a. Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan
peningkatan afterload, vasokonstriksi, hipertrofi, dan iskemia miokard.
b. Nyeri (akut): Sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan
serebrovaskular di daerah suboksipital 33.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen.
3. Intervensi keperawatan
Resiko tinggi penurunan curah jantung karena peningkatan afterload,
vasokonstriksi, hipertrofi, dan iskemia miokard. Diharapkan curah jantung
tidak menurun setelah dilakukan intervensi keperawatan. Kriteria Hasil
a. Tekanan darah dalam batas normal/kontrol (110/70-120/80 mmHg)
b. Irama jantung dan detak jantung stabil (HR=60-100x/i)
c. Acral hangat
d. Kulit tidak pucat.
e. Pengisian ulang kapiler (capillary refill) baik dan kembali dalam
waktu 2-3 detik
23
2.1.10 Dampak Hipertensi terhadap kualitas hidup pasien
Kualitas hidup penderita hipertensi harus dipantau sejak saat terdiagnosa.
Pasalnya, dampak tekanan darah tinggi dapat menyebabkan perubahan fisik dan
psikologis mulai dari rasa tidak nyaman hingga kecemasan dan depresi yang dapat
memengaruhi kemampuan Anda untuk beraktivitas. Karena hipertensi merupakan
penyakit kronis, diharapkan dapat meningkatkan fungsi kesehatan, meminimalkan
keluhan fisik dan mental penderita, meminimalkan hipertensi, mengembangkan
fungsi sosial penderita. Kegagalan untuk mematuhi perubahan gaya hidup dan
pengobatan akan mengakibatkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Perubahan
gaya hidup seperti mengonsumsi makanan rendah natrium, menurunkan berat
badan, meningkatkan aktivitas fisik, dan membatasi asupan alkohol sangat sulit
diterapkan jika penyakit tidak menunjukkan gejala hingga timbul masalah
sekunder. Akses yang tidak memadai terhadap layanan kesehatan dan tingginya
biaya pengobatan menyebabkan buruknya pengendalian tekanan [Link]
hidup yang berhubungan dengan kesehatan didefinisikan sebagai ukuran status
fungsional, dampak, keterbatasan, kondisi, dan perspektif pelayanan yang
dirasakan yang mengintegrasikan pasien dengan penyakit kronis ke dalam konteks
budaya dan Kesehatan. Oleh karena itu, kondisi kesehatan dan penyakit terus
terjadi dan berkaitan dengan ekonomi, sosial budaya, pengalaman, dan gaya
hidup. Menurut definisi WHO, kesehatan tidak hanya berarti terbebasnya penyakit
tetapi juga kesejahteraan fisik, mental dan sosial. (Laili & Purnamasari, 2019)