0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan12 halaman

Skala Likert

Dokumen ini membahas kebijakan Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia yang bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah dan mengurangi stunting, dengan prevalensi stunting mencapai 21,6% pada 2022. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan menganalisis proses formulasi kebijakan, tantangan, serta rekomendasi untuk implementasi yang efektif. Rekomendasi meliputi desentralisasi distribusi makanan, kolaborasi dengan sektor swasta, dan pemantauan digital untuk keberlanjutan program.

Diunggah oleh

constansiayuliana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan12 halaman

Skala Likert

Dokumen ini membahas kebijakan Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia yang bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah dan mengurangi stunting, dengan prevalensi stunting mencapai 21,6% pada 2022. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan menganalisis proses formulasi kebijakan, tantangan, serta rekomendasi untuk implementasi yang efektif. Rekomendasi meliputi desentralisasi distribusi makanan, kolaborasi dengan sektor swasta, dan pemantauan digital untuk keberlanjutan program.

Diunggah oleh

constansiayuliana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link] Vol. 8, No.

1 (2025)

DOI: [Link]
[Link]

Formulasi Kebijakan Pemerintah Tentang Program Makan


Bergizi Gratis di Indonesia

Andri Kusuma Jati1, Azhar2, Atrika Iriani3


1
Magister Administrasi Publik, Universitas Sriwijaya, 07012682428006@[Link].
2
Magister Administrasi Publik, Universitas Sriwijaya, azhar@[Link].
3
Magister Administrasi Publik, Universitas Sriwijaya, atrikairiani@[Link].

Corresponding Author: 07012682428006@[Link].id1

Abstract: The Free Nutritious Meal Program is a government policy aimed at improving the
nutritional status of school children, reducing stunting, and supporting educational success.
This study employs a descriptive qualitative method, with data obtained through digital
observation and documentary analysis. Data analysis is conducted using the interactive
model of Miles and Huberman, along with the policy process model by William Dunn (2016),
which includes problem identification, agenda setting, formulation, adoption, and
implementation. The findings indicate that this policy emerged in response to the high
stunting rate (21.6% in 2022) and limited access to nutritious food among children from
underprivileged families. The government adopted a combined strategy of in-school meal
provision and partnerships with local SMEs. Key challenges include infrastructure
limitations, budget efficiency, and supervision. Recommended strategies involve
decentralized food distribution, collaboration with the private sector, and digital monitoring
to ensure the program runs effectively and sustainably.

Keyword: Policy Formulation, Free Nutritious Meal Program, Stunting.

Abstrak: Program Makan Bergizi Gratis merupakan kebijakan pemerintah untuk


meningkatkan gizi anak sekolah, menekan stunting, dan mendukung keberhasilan
pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data yang
diperoleh melalui observasi digital dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan menggunakan
model interaktif Miles dan Huberman, serta pendekatan model proses kebijakan menurut
William Dunn (2016) yang mencakup identifikasi masalah, agenda setting, formulasi,
adopsi, dan implementasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan ini muncul karena
tingginya angka stunting (21,6% pada 2022) dan keterbatasan akses pangan bagi anak dari
keluarga kurang mampu. Pemerintah mengadopsi kombinasi penyediaan makanan di sekolah
dan kemitraan dengan UMKM. Tantangan utama meliputi infrastruktur, efisiensi anggaran,
dan pengawasan. Rekomendasi strategi mencakup desentralisasi distribusi, kolaborasi
swasta, dan pemantauan digital agar program berjalan efektif dan berkelanjutan.

Kata Kunci: Formulasi Kebijakan, Program Makan Bergizi Gratis, Stunting.

700 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)

PENDAHULUAN
Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas merupakan salah satu prioritas
utama dalam kebijakan nasional Indonesia. Salah satu aspek fundamental dalam mewujudkan
hal tersebut adalah pemenuhan kebutuhan gizi yang cukup, terutama bagi anak-anak usia
sekolah. Asupan gizi yang memadai memiliki peran krusial dalam perkembangan fisik,
kognitif, dan emosional anak, yang pada akhirnya akan menentukan daya saing generasi
mendatang (Anggara, 2014).
Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas
gizi masyarakat, tantangan dalam pemenuhan gizi anak sekolah masih cukup signifikan.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di
Indonesia masih berada di angka 21,6%, meskipun sudah mengalami penurunan
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (Setiyawati, 2024). Selain itu, angka gizi buruk dan
gizi kurang masih cukup tinggi, terutama di daerah pedesaan dan wilayah dengan tingkat
kemiskinan yang tinggi. Kekurangan gizi pada anak usia sekolah dapat menyebabkan
berbagai dampak negatif, seperti rendahnya daya tahan tubuh, penurunan konsentrasi belajar,
serta gangguan pertumbuhan yang bersifat permanen (Kementerian Kesehatan RI, 2024).
Dalam konteks pendidikan, anak-anak yang mengalami kekurangan gizi sering kali
mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran, lebih mudah lelah, dan memiliki risiko
tinggi untuk putus sekolah. Studi menunjukkan bahwa asupan gizi yang cukup dapat
meningkatkan daya ingat, konsentrasi, serta kemampuan kognitif yang berpengaruh terhadap
prestasi akademik mereka (Dunn, 2016). Oleh karena itu, diperlukan intervensi kebijakan
yang dapat memastikan setiap anak mendapatkan akses terhadap makanan bergizi secara
merata, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin dan rentan.
Sejumlah penelitian terdahulu, baik di tingkat internasional maupun nasional,
menunjukkan bahwa program makan bergizi di sekolah memiliki dampak signifikan terhadap
peningkatan status gizi dan capaian pendidikan anak. Di India, program Mid-Day Meal
Scheme terbukti menurunkan angka kelaparan dan meningkatkan angka partisipasi sekolah
(Dreze & Khera, 2017). Di Brasil, National School Feeding Programme berkontribusi besar
dalam mendukung ketahanan pangan dan perbaikan gizi anak sekolah (Silva et al., 2020).
Jepang bahkan telah lama menerapkan program makan siang sekolah (gakkō kyūshoku) yang
efektif menjaga asupan gizi seimbang sekaligus membentuk kebiasaan makan sehat
(Takahashi, 2019). Di Indonesia, penelitian Wulandari (2021) menemukan bahwa program
makan siang bergizi meningkatkan konsentrasi belajar siswa di Lombok Timur, sementara
kajian UNICEF (2023) menunjukkan intervensi serupa mampu menekan anemia dan
meningkatkan kehadiran siswa di wilayah dengan angka stunting tinggi. SMERU Research
Institute (2022) juga menekankan pentingnya keterlibatan UMKM lokal dalam keberhasilan
penyelenggaraan program makan bergizi.
Namun demikian, penelitian spesifik mengenai formulasi kebijakan Program Makan
Bergizi Gratis di Indonesia masih sangat terbatas. Sebagian besar studi lebih banyak berfokus
pada implementasi program gizi di daerah atau analisis dampak kesehatan dan pendidikan,
tetapi belum secara komprehensif membahas proses formulasi kebijakan di level pusat, aktor
yang terlibat, serta tantangan kelembagaan yang muncul. Dengan demikian, penelitian ini
bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis secara mendalam proses
formulasi kebijakan Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia.

METODE
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif,
karena bertujuan memahami secara mendalam proses formulasi kebijakan Program Makan
Bergizi Gratis di Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada periode Juni–Agustus 2024 dengan
fokus data tahun 2022–2024. Lokasi penelitian bersifat virtual/digital, melalui kanal resmi
pemerintah dan dokumen regulasi terkait. Sumber data primer diperoleh dari observasi digital

701 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)

terhadap pernyataan Presiden, Menteri, dan pejabat Badan Gizi Nasional, sedangkan data
sekunder berasal dari dokumen kebijakan, laporan SSGI, data BPS, serta kajian UNICEF dan
WHO. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi digital dan studi dokumentasi,
kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman (reduksi data,
penyajian data, penarikan kesimpulan) serta model proses kebijakan Dunn (2016). Validasi
data ditempuh melalui triangulasi sumber untuk menjamin keabsahan temuan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kebijakan publik merupakan keputusan atau tindakan yang diambil oleh pemerintah
untuk menyelesaikan permasalahan publik melalui berbagai instrumen regulasi, program,
atau strategi implementasi (Dunn, 2016). Menurut Thomas Dye (2017), kebijakan publik
dapat diartikan sebagai "apa yang pemerintah pilih untuk dilakukan atau tidak dilakukan",
yang mencakup proses formulasi, implementasi, hingga evaluasi kebijakan. Menurut Weimer
dan Vining (2017), kebijakan publik bersifat kompleks karena melibatkan berbagai aktor,
termasuk pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan organisasi internasional. Alaslan (2021)
menyebutkan bahwa kebijakan publik yang menyentuh kepentingan masyarakat luas harus
mempertimbangkan daya dukung sosial dan kesiapan infrastruktur, hal ini juga menjadi
tantangan dalam implementasi Program Makan Bergizi Gratis, terutama di daerah terpencil.
Dalam konteks kebijakan sosial seperti Program Makan Bergizi Gratis, kebijakan publik
berperan dalam memastikan akses yang adil terhadap sumber daya, seperti makanan bergizi
bagi anak-anak sekolah untuk mendukung kesehatan dan pendidikan mereka.
Menurut Mustopadidjaja dalam Tachjan (2006:21), kebijakan publik terdiri dari tiga
tahap utama, yaitu formulasi kebijakan (perumusan keputusan berdasarkan masalah dan
alternatif solusi), implementasi kebijakan (pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan),
serta pengawasan dan evaluasi kebijakan (penilaian efektivitas dan perbaikan kebijakan jika
diperlukan).
Formulasi kebijakan merupakan tahap penting dalam proses kebijakan, di mana
masalah publik diidentifikasi, dianalisis, dan diberikan alternatif solusi sebelum diadopsi
menjadi kebijakan resmi (Dunn, 2016). Kingdon (2011) dalam teorinya mengenai multiple
streams framework menjelaskan bahwa formulasi kebijakan dipengaruhi oleh tiga aliran
utama:
1) Problem stream, yaitu masalah yang diakui sebagai prioritas oleh pemerintah.
2) Policy stream, yaitu alternatif solusi yang dirancang oleh para ahli dan pembuat kebijakan.
3) Politics stream, yaitu tekanan politik, opini publik, dan dukungan aktor-aktor kunci.
Dalam konteks formulasi kebijakan publik, Septiana et al. (2022) menekankan
pentingnya tahapan sistematis dan perumusan indikator yang tepat sebagai dasar dalam
merancang program yang berorientasi pada pelayanan publik, seperti halnya Program Makan
Bergizi Gratis. Dalam Program Makan Bergizi Gratis, formulasi kebijakan melibatkan
identifikasi permasalahan gizi anak, penyusunan alternatif kebijakan seperti subsidi pangan
atau penyediaan makanan di sekolah, serta mempertimbangkan dukungan politik dan
pendanaan untuk memastikan keberlanjutan program.
Model proses merupakan pendekatan yang digunakan untuk memahami tahapan dalam
penyusunan dan penerapan kebijakan. Dunn (2016) mengembangkan model proses kebijakan
publik yang mencakup:
1) Identifikasi masalah, yaitu mengenali isu yang memerlukan intervensi kebijakan.
2) Agenda setting, yaitu menentukan apakah masalah tersebut akan menjadi prioritas
kebijakan.
3) Formulasi kebijakan, yaitu menyusun alternatif solusi dan analisis dampak kebijakan.
4) Adopsi kebijakan, yaitu pengesahan kebijakan melalui regulasi atau peraturan resmi.
5) Implementasi kebijakan, yaitu pelaksanaan kebijakan oleh instansi terkait.

702 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)

Model proses ini relevan dalam Program Makan Bergizi Gratis, di mana kebijakan
dirancang berdasarkan data gizi anak, didukung oleh agenda nasional terkait kesehatan dan
pendidikan, serta diimplementasikan melalui koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan
sektor swasta.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan
asupan gizi anak sekolah guna mengurangi angka stunting dan gizi buruk. Berdasarkan data
Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, angka stunting di Indonesia masih mencapai
21,6%, melebihi batas WHO sebesar 20% (Setiyawati, 2024). Oleh karena itu, program ini
menjadi salah satu strategi untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu
mendapatkan akses makanan bergizi yang cukup. Kebijakan ini didukung oleh berbagai
regulasi, seperti:(1) Peraturan Badan Gizi Nasional No. 3 Tahun 2024, yang menetapkan
standar teknis pelaksanaan program, (2) Instruksi Presiden Tahun 2025, yang
mengamanatkan implementasi program secara nasional, (3) APBN dan APBD Tahun 2025,
yang mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung keberlanjutan program.
Kebijakan publik dalam Program Makan Bergizi Gratis diformulasikan berdasarkan
model proses kebijakan, yang mencakup tahapan dari identifikasi masalah hingga
implementasi kebijakan. Dengan strategi implementasi yang tepat, program ini diharapkan
dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan, sehingga mampu meningkatkan kesehatan,
pendidikan, dan ketahanan pangan nasional.
Dalam konteks ini, kerangka pemikiran berperan penting untuk mengindentifikasi
variabel-variabel yang saling berhubungan dan bagaiamana keterkaitannya dengan
mempengaruhi hasil yang diinginkan maka kerangka pemikiran ini disusun untuk
memberikan landasan konseptual dalam memahami dan menganalisis permasalahan yang
ada, dengan mengacu pada teori-teori yang relevan, dan diharapkan dapat dihasilkan
pemahaman yang lebih mendalam mengenai topik yang diteliti, serta memberikan arah yang
jelas bagi penelitian. Berikut Kerangka Pemikiran dalam penelitian ini :
Formulasi Program
Makan Bergizi Gratis

Identifikasi Masalah :
1. Ketidakjelasan distribusi makanan yang
menyebabkan ketimpangan akses.
2. Tidak ada sistem baku identifikasi aktor
pelaksana.
3. Pengawasan dan evaluasi yang belum
sistematis.
4. Ketergantungan pada APBN/APBD tanpa
strategi pembiayaan berkelanjutan.
5. Lemahnya koordinasi antarinstansi yang
menghambat efektivitas pelaksanaan.

Model Formulasi Kebijakan Menurut William


Faktor Pendukung Dunn (2016) :
Faktor Penghambat
Kebijakan Model Proses :
Kebijakan
Pemerintah 1. Identifikasi Masalah
Pemerintah Tentang
Tentang Program 2. Agenda Setting
3. Formulasi kebijakan Program Makan
Makan Bergizi Bergizi Gratis
4. Adopsi kebijakan
Gratis
5. Implementasi kebijakan

Formulasi Kebijakan Pemerintah Tentang


Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia
Gambar 1. Kerangka Berpikir
Sumber : Diolah oleh penulis (2025)

703 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)

Identifikasi Masalah
Tahap identifikasi masalah merupakan langkah awal dalam formulasi kebijakan untuk
memahami akar permasalahan yang ingin diselesaikan. Program Makan Bergizi Gratis
dirancang untuk mengatasi berbagai tantangan dalam pemenuhan gizi anak sekolah, terutama
bagi kelompok rentan. Beberapa permasalahan utama yang melatarbelakangi kebijakan ini
meliputi:
1. Tingginya Angka Stunting dan Malnutrisi
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting nasional
masih berada di angka 21,6%, atau sekitar 5,33 juta balita, melebihi batas toleransi yang
ditetapkan oleh WHO yakni <20% (Kemenkes RI, 2023). Walaupun menunjukkan tren
penurunan dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 21,6% pada 2022, angka tersebut masih
jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024,
yaitu menurunkan prevalensi stunting menjadi 14% pada 2024.
Selain itu, terdapat kesenjangan antarwilayah. Provinsi dengan prevalensi stunting
tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (35,3%), Sulawesi Barat (35%), dan Papua
(34,6%), sementara provinsi dengan angka terendah adalah Bali (8%) dan DI Yogyakarta
(12,8%) (SSGI, 2022). Ketimpangan ini menunjukkan bahwa masalah gizi tidak hanya
terkait dengan nasional, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonomi,
budaya, dan ketersediaan pangan di tingkat daerah.
Di sisi lain, masalah gizi buruk dan gizi kurang juga masih menjadi perhatian. Data
SSGI 2022 mencatat prevalensi balita gizi buruk sebesar 3,5% dan gizi kurang 7,7%.
Kondisi ini berdampak serius terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta
produktivitas anak di masa depan, sehingga mengancam kualitas sumber daya manusia
Indonesia.
2. Ketimpangan Akses Pangan
Ketimpangan akses terhadap pangan bergizi masih menjadi masalah serius, terutama
bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin dan tinggal di wilayah pedesaan
maupun daerah tertinggal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, rata-rata
konsumsi energi per kapita penduduk miskin hanya sekitar 1.846 kkal per hari, jauh di
bawah standar kecukupan energi 2.100 kkal per hari yang direkomendasikan Kementerian
Kesehatan. Sebaliknya, kelompok non-miskin memiliki rata-rata konsumsi energi yang
lebih tinggi, yakni sekitar 2.225 kkal per hari.
Indeks Ketahanan Pangan 2022 yang dirilis oleh Badan Pangan Nasional
menunjukkan masih terdapat 64 kabupaten/kota dengan status rawan pangan, yang
sebagian besar berada di kawasan Indonesia Timur dan daerah terpencil. Kondisi ini
mencerminkan adanya kesenjangan signifikan dalam ketersediaan, aksesibilitas, dan
keterjangkauan pangan bergizi antarwilayah.
Selain itu, faktor ekonomi juga sangat berpengaruh terhadap kualitas konsumsi
pangan rumah tangga. Data Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) 2021 mencatat
bahwa sekitar 7,2% rumah tangga di Indonesia tergolong rawan pangan, dengan proporsi
tertinggi pada rumah tangga berpendapatan rendah dan tinggal di pedesaan. Keterbatasan
daya beli ini menyebabkan anak-anak dari keluarga miskin lebih rentan mengalami gizi
buruk dan stunting dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga mampu.
3. Dampak Kekurangan Gizi terhadap Prestasi Akademik
Kekurangan gizi pada anak memiliki implikasi yang signifikan terhadap
perkembangan kognitif dan prestasi akademik. Penelitian UNICEF (2023) menunjukkan
bahwa anak dengan status gizi memadai cenderung memiliki kemampuan memori,
konsentrasi, dan penyelesaian masalah yang lebih baik dibandingkan anak dengan gizi
kurang atau stunting. Kondisi gizi yang tidak optimal dapat menghambat proses belajar,
meningkatkan kelelahan, serta berisiko menurunkan motivasi dan partisipasi sekolah.

704 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)

Hasil analisis Kemendikbudristek (2022) mengindikasikan bahwa sekolah dengan


prevalensi stunting ≥30% memiliki rata-rata skor Asesmen Kompetensi Minimum dan
Literasi (AKMI) 15–20 poin lebih rendah dibandingkan sekolah dengan prevalensi
stunting <15%. Data ini menunjukkan adanya korelasi negatif antara tingkat kekurangan
gizi dan prestasi akademik. Selain itu, angka ketidakhadiran dan putus sekolah pada
kelompok anak dengan gizi buruk lebih tinggi, yang secara tidak langsung memperburuk
capaian pendidikan di wilayah tersebut.
4. Tantangan Infrastruktur dalam Distribusi Makanan
Pelaksanaan program makan bergizi di sekolah menghadapi hambatan signifikan
terkait infrastruktur, khususnya di wilayah terpencil dan daerah 3T (Terdepan, Terpencil,
dan Tertinggal). Berdasarkan data BPS (2023), sekitar 42% jalan desa di Indonesia masih
berupa tanah atau kerikil, sehingga akses transportasi untuk distribusi makanan bergizi
menjadi sulit dan tidak stabil. Selain itu, banyak sekolah di daerah terpencil belum
memiliki fasilitas penyimpanan makanan yang memadai, seperti lemari pendingin atau
dapur yang layak, yang berdampak pada kualitas dan keamanan pangan yang diterima
siswa.
Data dari Kemendikbudristek (2022) menunjukkan bahwa sekitar 18% sekolah di
wilayah 3T tidak memiliki akses listrik, yang membatasi kemampuan sekolah untuk
menyimpan dan mengolah bahan makanan segar. Ketidakteraturan dalam logistik
distribusi dan keterbatasan fasilitas ini dapat menyebabkan ketidakmerataan pelaksanaan
program, di mana anak-anak di daerah terpencil menerima manfaat lebih sedikit
dibandingkan anak-anak di perkotaan.
5. Keberlanjutan Pendanaan
Keberlanjutan pendanaan menjadi faktor krusial dalam pelaksanaan program Makan
Bergizi Gratis. Program ini memerlukan alokasi dana yang stabil untuk memastikan
penyediaan makanan bergizi bagi seluruh siswa secara berkesinambungan. Menurut
perhitungan kasar, biaya program mencapai sekitar Rp15.000–20.000 per anak per hari.
Dengan jumlah sasaran lebih dari 30 juta siswa, estimasi kebutuhan anggaran tahunan
berada pada kisaran Rp164–197 triliun (Kemenkeu, 2023).
Sumber pendanaan program berasal dari APBN, APBD, partisipasi sektor swasta
melalui CSR, serta dukungan organisasi internasional. Namun, fluktuasi anggaran
pemerintah, perubahan prioritas kebijakan, serta ketergantungan pada kontribusi pihak
ketiga berpotensi mengganggu kelangsungan program. Hal ini sejalan dengan temuan
OECD (2022) bahwa program gizi sekolah di negara berkembang sering terhambat oleh
alokasi dana yang tidak konsisten dan mekanisme penganggaran yang terbatas.

Agenda Setting
Setelah permasalahan teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah memasukkan isu ini
ke dalam agenda kebijakan nasional agar mendapatkan perhatian dan prioritas dalam
perumusan kebijakan. Beberapa faktor utama yang mendorong Program Makan Bergizi
Gratis menjadi bagian dari agenda pemerintah meliputi:
1. Dukungan dari Presiden dan Pemerintah Pusat
Program Makan Bergizi Gratis mendapatkan perhatian langsung dari pemerintah
pusat, khususnya Presiden, sebagai bagian dari strategi percepatan penurunan stunting
yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2020–2024. RPJMN menetapkan target penurunan prevalensi stunting menjadi 14% pada
tahun 2024, dengan salah satu intervensi utama melalui penyediaan makanan bergizi bagi
anak sekolah (Bappenas, 2020). Dukungan ini diwujudkan melalui kebijakan lintas sektor
yang melibatkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi,
Kementerian Kesehatan, serta pemerintah daerah.

705 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)

Dalam pelaksanaannya, pemerintah menargetkan cakupan program sebesar 30 juta


anak usia sekolah di seluruh Indonesia, yang tersebar di lebih dari 250 ribu sekolah
(Kemenkes, 2022). Alokasi anggaran APBN untuk program gizi sekolah mencapai sekitar
Rp12 triliun per tahun, yang dialokasikan untuk penyediaan makanan bergizi,
transportasi, dan monitoring kualitas makanan.
Keterpaduan lintas sektor menjadi faktor kunci keberhasilan, di mana koordinasi
antara kementerian, pemerintah daerah, dan mitra lokal memastikan program berjalan
efektif dan menjangkau anak-anak dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi.
Dukungan Presiden dan pemerintah pusat tidak hanya memberikan legitimasi politik,
tetapi juga memastikan ketersediaan sumber daya dan prioritas anggaran, sehingga
program ini dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dan terukur.
2. Tekanan dari Lembaga Internasional
Program Makan Bergizi Gratis mendapatkan dukungan dan tekanan dari lembaga
internasional seperti WHO dan UNICEF, yang merekomendasikan intervensi gizi
berbasis sekolah sebagai strategi utama peningkatan kesehatan anak. Laporan UNICEF
(2022) menunjukkan bahwa intervensi gizi di sekolah secara signifikan meningkatkan
asupan mikronutrien, status gizi, dan kemampuan belajar anak, terutama di wilayah
dengan prevalensi stunting tinggi. WHO menekankan pentingnya cakupan program yang
luas untuk menjamin efektivitas intervensi gizi bagi seluruh anak usia sekolah.
Dukungan internasional ini diwujudkan melalui pendampingan teknis, penyusunan
modul gizi, serta pengembangan standar operasional dalam pelaksanaan program. Studi
komparatif menunjukkan bahwa negara-negara seperti Brasil dan India berhasil
menurunkan prevalensi stunting melalui program makan di sekolah dengan cakupan luas
dan pemantauan kualitas makanan secara berkala (World Bank, 2021).
Tekanan dari lembaga internasional mendorong pemerintah Indonesia untuk
menyelaraskan kebijakan nasional dengan praktik terbaik global, memperluas cakupan
program, meningkatkan kualitas gizi, dan memastikan keberlanjutan pelaksanaan
program secara efektif.
3. Komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Program Makan Bergizi Gratis juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam
mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Zero Hunger dan
SDG 3: Good Health and Well-being. SDG 2 bertujuan untuk mengakhiri kelaparan serta
memastikan akses terhadap pangan yang aman, bergizi, dan cukup, sementara SDG 3
menekankan pentingnya kesehatan yang optimal bagi setiap individu. Program ini
diarahkan untuk memastikan setiap anak usia sekolah memperoleh asupan gizi yang
memadai, sehingga dapat mendukung pertumbuhan fisik dan kognitif secara optimal.
Selain itu, intervensi berbasis sekolah ini juga mencerminkan penerapan kebijakan
berbasis komunitas, di mana keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan
pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat lokal. Studi Yandri et al. (2024) menunjukkan
bahwa program berbasis komunitas yang terintegrasi dengan kebijakan nasional dapat
meningkatkan keberlanjutan dan efektivitas intervensi gizi. Dengan demikian,
implementasi Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menurunkan angka stunting dan
malnutrisi, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan sumber daya manusia yang lebih
sehat, cerdas, dan produktif, sesuai dengan visi jangka panjang pemerintah.
4. Tekanan dari Masyarakat dan Akademisi
Program Makan Bergizi Gratis mendapat perhatian dan dorongan signifikan dari
masyarakat sipil dan kalangan akademisi. Organisasi masyarakat dan lembaga swadaya
masyarakat, seperti Save the Children Indonesia dan Yayasan Sayangi Tunas Cilik, secara
rutin mengadvokasi perluasan akses pangan bergizi bagi anak-anak sekolah untuk
menurunkan prevalensi stunting dan malnutrisi (Save the Children, 2022). Advokasi ini

706 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)

mencakup publikasi laporan, kampanye kesadaran publik, serta rekomendasi kebijakan


yang disampaikan kepada pemerintah pusat dan daerah.
Di ranah akademik, penelitian yang dilakukan oleh para pakar gizi dan pendidikan
menekankan bahwa intervensi gizi di sekolah berkontribusi positif terhadap pertumbuhan
fisik, kemampuan kognitif, dan prestasi akademik anak. Misalnya, studi Kemenkes
(2021) menunjukkan bahwa anak yang menerima intervensi gizi secara rutin memiliki
skor literasi dan numerasi lebih tinggi dibanding anak yang tidak mendapat intervensi.
Studi lain oleh Rahman et al. (2020) menegaskan bahwa keterlibatan akademisi dalam
evaluasi program membantu pemerintah merancang kebijakan berbasis bukti yang lebih
tepat sasaran.
Dorongan dari masyarakat dan akademisi ini mendorong pemerintah untuk
melakukan kajian ilmiah, pengumpulan data empiris, dan pelibatan pemangku
kepentingan, sehingga perumusan kebijakan makan bergizi gratis dapat disesuaikan
dengan kebutuhan riil masyarakat dan terukur secara ilmiah. Tekanan ini juga
memastikan bahwa program memiliki legitimasi sosial dan didukung oleh bukti
akademik, yang penting untuk keberlanjutan dan efektivitas intervensi gizi di sekolah.
Pada tahap ini, pemerintah mulai mengumpulkan data, melakukan kajian akademik,
serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan guna merancang kebijakan yang efektif
dan sesuai dengan kebutuhan Masyarakat.

Policy Formulation (Formulasi Kebijakan)


Pada tahap ini, pemerintah menyusun berbagai alternatif kebijakan yang dapat
diterapkan untuk mengatasi permasalahan gizi pada anak sekolah. Beberapa skema yang
dipertimbangkan dalam Program Makan Bergizi Gratis meliputi:
1. Penyediaan Makanan Siap Saji di Sekolah
Salah satu alternatif kebijakan yang dipertimbangkan dalam Program Makan Bergizi
Gratis adalah penyediaan makanan siap saji langsung di sekolah. Skema ini dirancang
untuk memastikan setiap anak menerima asupan makanan bergizi secara rutin di
lingkungan sekolah, sehingga dapat mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan
kognitif, dan kesehatan secara optimal (Kemenkes, 2022).
Studi Pratita et al. (2023) menekankan bahwa formulasi kebijakan berbasis kebutuhan
lapangan merupakan kunci dalam menyusun program sosial yang responsif, termasuk
program gizi anak sekolah. Program ini dapat menjangkau kelompok rentan, terutama
anak-anak dari keluarga kurang mampu dan wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.
Namun, implementasi skema ini menghadapi beberapa tantangan operasional.
Distribusi makanan ke sekolah terpencil memerlukan sistem logistik yang efisien,
termasuk transportasi yang memadai dan fasilitas penyimpanan makanan yang aman,
seperti lemari pendingin atau dapur standar higienis. Keterbatasan infrastruktur ini dapat
menghambat meratanya distribusi makanan dan memengaruhi kualitas gizi yang diterima
siswa (BPS, 2023).
Untuk menjamin keberhasilan program, diperlukan koordinasi lintas sektor antara
pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan penyedia layanan pangan. Monitoring dan
evaluasi secara berkala juga penting untuk memastikan bahwa jumlah porsi, kandungan
gizi, dan frekuensi penyediaan makanan sesuai dengan standar yang ditetapkan
Kementerian Kesehatan. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas
intervensi gizi di sekolah sekaligus memberikan dampak positif terhadap prestasi
akademik dan kesehatan jangka panjang anak-anak.
2. Bantuan Tunai kepada Keluarga Miskin untuk Membeli Makanan Bergizi
Alternatif kebijakan lainnya adalah pemberian bantuan tunai langsung kepada
keluarga miskin, yang dapat digunakan untuk membeli makanan bergizi bagi anak-anak
mereka. Skema ini memberikan fleksibilitas bagi orang tua dalam memilih jenis makanan

707 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)

sehat yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak, sehingga memungkinkan penyesuaian pola
konsumsi berdasarkan preferensi lokal dan ketersediaan bahan pangan (World Bank,
2021).
Namun, implementasi program ini memiliki tantangan terkait penggunaan dana secara
tepat sasaran. Beberapa studi menunjukkan bahwa bantuan tunai tanpa mekanisme
pengawasan yang memadai berisiko tidak digunakan untuk tujuan gizi (Gentilini et al.,
2020). Oleh karena itu, diperlukan sistem monitoring dan evaluasi, seperti pendataan
penerima manfaat, audit penggunaan dana, dan pelaporan rutin, untuk memastikan
bantuan tunai benar-benar dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas gizi anak.
Selain itu, efektivitas skema ini juga bergantung pada literasi gizi keluarga. Program
pendampingan dan edukasi gizi menjadi penting agar orang tua memahami kebutuhan
nutrisi anak sesuai usia dan aktivitas, serta memilih makanan yang seimbang. Pendekatan
ini diharapkan tidak hanya meningkatkan asupan gizi anak, tetapi juga memperkuat
kesadaran masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat secara berkelanjutan.
3. Kemitraan dengan Sektor Swasta dan UMKM Lokal
Skema kemitraan dengan sektor swasta dan UMKM lokal menjadi salah satu
alternatif dalam formulasi Program Makan Bergizi Gratis. Pendekatan ini bertujuan untuk
memanfaatkan bahan pangan lokal, meningkatkan keterlibatan masyarakat, serta
memberdayakan ekonomi lokal melalui peningkatan permintaan produk pertanian dan
kuliner UMKM (Wafa, 2024). Dengan demikian, kebijakan ini tidak hanya meningkatkan
akses gizi bagi anak sekolah, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan
masyarakat setempat.
Pelaksanaan skema ini menghadapi beberapa tantangan, terutama terkait pengawasan
kualitas makanan. Makanan yang disediakan harus memenuhi standar gizi, kebersihan,
dan keamanan pangan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes,
2022). Oleh karena itu, regulasi yang jelas dan mekanisme pengawasan yang efektif
diperlukan, termasuk sertifikasi penyedia, inspeksi rutin, dan pelatihan bagi pelaku
UMKM dalam pengolahan makanan bergizi.
Keunggulan utama skema ini adalah sinergi antara pemerintah dan sektor lokal, yang
memungkinkan distribusi makanan lebih merata sekaligus mendorong pertumbuhan
ekonomi berbasis komunitas. Evaluasi awal menunjukkan bahwa keterlibatan UMKM
lokal dapat meningkatkan ketersediaan menu bergizi di sekolah sekitar 20–25% lebih
tinggi dibandingkan jika hanya mengandalkan distribusi pusat (Pratita et al., 2023).
Dengan kombinasi kemitraan lokal dan penyediaan makanan siap saji di sekolah,
pemerintah dapat mengoptimalkan cakupan program, menjaga kualitas gizi, dan
memberdayakan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

Policy Adoption (Adopsi Kebijakan)


Setelah tahap formulasi kebijakan selesai, langkah berikutnya adalah adopsi kebijakan,
yaitu proses pengesahan dan penerapan program melalui regulasi yang sah. Adopsi kebijakan
menjadi tahap penting untuk memastikan bahwa rancangan kebijakan memiliki dasar hukum
yang kuat dan dukungan dari berbagai lembaga terkait, sehingga pelaksanaannya dapat
efektif, akuntabel, dan berkelanjutan.
Beberapa regulasi utama yang mendukung implementasi Program Makan Bergizi
Gratis antara lain:
1. Peraturan Badan Gizi Nasional No. 3 Tahun 2024, peraturan ini menetapkan pedoman
teknis pelaksanaan program, termasuk standar gizi, mekanisme distribusi, dan sistem
pemantauan serta evaluasi. Dokumen ini menjadi acuan resmi bagi pemerintah pusat dan
daerah serta pihak terkait dalam merancang menu, frekuensi pemberian makanan, dan
prosedur pengawasan kualitas makanan (Badan Gizi Nasional, 2024).

708 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)

2. Instruksi Presiden Tahun 2025, Instruksi ini mewajibkan pemerintah pusat dan daerah
untuk menjalankan program secara nasional dengan koordinasi lintas sektor antara
Kementerian Pendidikan, Kesehatan, dan Dinas Pendidikan daerah. Instruksi ini juga
menekankan monitoring implementasi secara rutin, sehingga setiap provinsi dan
kabupaten memastikan distribusi makanan bergizi tepat waktu dan sesuai standar
(Sekretariat Negara, 2025).
3. Revisi APBN dan APBD 2025, pemerintah mengalokasikan anggaran khusus untuk
Program Makan Bergizi Gratis dalam APBN dan APBD 2025, sebagai jaminan
keberlanjutan program. Alokasi ini mencakup biaya penyediaan makanan, transportasi,
penyimpanan, serta pengawasan dan evaluasi. Misalnya, total anggaran yang dialokasikan
untuk program ini mencapai sekitar Rp12 triliun pada tingkat nasional (Kemenkeu, 2025).
4. Nota Kesepahaman (MoU) dengan UMKM dan Petani Lokal, pemerintah
menandatangani MoU dengan pelaku UMKM dan petani lokal untuk menjamin pasokan
bahan pangan berkualitas bagi sekolah. Kerja sama ini juga bertujuan mendukung
ekonomi lokal dan memperkuat ketahanan pangan nasional, sehingga program makan
bergizi tidak hanya meningkatkan gizi anak, tetapi juga memberdayakan masyarakat
setempat (Kementerian Pertanian, 2025).
Dengan regulasi yang jelas dan dukungan lintas sektor, Program Makan Bergizi
Gratis dapat diimplementasikan secara lebih efektif, terstruktur, dan berkelanjutan. Selain itu,
adopsi kebijakan ini memberikan legitimasi hukum dan mempermudah mekanisme
koordinasi serta pemantauan, sehingga program dapat mencapai target nasional dalam
meningkatkan status gizi dan kualitas pendidikan anak usia sekolah.

Policy Implementation (Implementasi Kebijakan)


Tahap terakhir dalam proses kebijakan adalah implementasi, yang mencakup
mekanisme pelaksanaan, tantangan yang dihadapi, dan strategi penyempurnaan program
untuk memastikan efektivitasnya.
1. Mekanisme Pelaksanaan Program
Dalam Program Makan Bergizi Gratis, sekolah berperan sebagai titik distribusi utama,
di mana makanan bergizi diberikan langsung kepada siswa setiap hari. Skema ini
dirancang untuk menjangkau anak-anak usia sekolah secara merata, khususnya mereka
yang berasal dari keluarga kurang mampu, guna mendukung pertumbuhan fisik dan
perkembangan kognitif (Kemenkes, 2022).
Pemerintah menerapkan sistem monitoring berbasis digital untuk meningkatkan
transparansi dan efektivitas program. Sistem ini memungkinkan pemantauan real-time
distribusi makanan, ketepatan sasaran, serta pengukuran kepuasan penerima manfaat.
Studi pilot yang dilakukan oleh BPS (2023) menunjukkan bahwa penggunaan sistem
digital meningkatkan kepatuhan sekolah dalam distribusi makanan hingga 85%
dibandingkan metode manual.
Selain itu, program ini memberdayakan UMKM dan petani lokal dengan memastikan
bahan pangan bersumber dari produsen lokal. Pendekatan ini tidak hanya menjamin
kualitas dan ketersediaan makanan, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi daerah
dan ketahanan pangan nasional (Wafa, 2024).
2. Tantangan dalam Implementasi
Meskipun Program Makan Bergizi Gratis telah dirancang dengan baik, masih terdapat
beberapa tantangan dalam pelaksanaannya yang perlu mendapat perhatian, di antaranya:
a. Ketimpangan infrastruktur, Sekolah di daerah terpencil menghadapi kesulitan
distribusi akibat keterbatasan transportasi dan fasilitas penyimpanan makanan (BPS,
2023).

709 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)

b. Efisiensi anggaran, Pengawasan ketat diperlukan untuk mencegah kebocoran dana


dan memastikan alokasi anggaran digunakan sesuai tujuan program (Kemenkeu,
2025).
c. Evaluasi dan pemantauan, Audit berkala dan survei penerima manfaat diperlukan
untuk mengukur efektivitas dan kepuasan terhadap program, serta untuk
memperbaiki implementasi di lapangan (Pratita et al., 2023).
3. Strategi Penyempurnaan Program
Untuk mengatasi berbagai tantangan dalam implementasi Program Makan Bergizi
Gratis, diperlukan strategi yang efektif guna meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan
program. Beberapa langkah yang dapat diterapkan meliputi:
a. Desentralisasi distribusi pangan, Melibatkan pemerintah daerah dalam mengelola
distribusi makanan untuk mengatasi masalah keterlambatan.
b. Kerja sama dengan sektor swasta, untuk memastikan keberlanjutan pendanaan dan
memperluas cakupan program.
c. Peningkatan pengawasan dan transparansi, dengan sistem laporan real-time dari
sekolah ke pemerintah pusat.
Dengan penerapan strategi-strategi ini, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan
berjalan lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan, serta memberikan manfaat maksimal
bagi peningkatan gizi dan kualitas pendidikan anak-anak di Indonesia (Kemenkes, 2022;
Wafa, 2024).

KESIMPULAN
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah
Indonesia untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, menekan angka stunting, dan
mendukung capaian pendidikan nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi
kebijakan ini lahir dari urgensi tingginya prevalensi stunting (21,6% pada tahun 2022),
ketimpangan akses pangan, serta dampak malnutrisi terhadap prestasi akademik anak.
Proses formulasi kebijakan mengikuti model Dunn (2016), meliputi tahapan
identifikasi masalah, agenda setting, formulasi, adopsi, dan implementasi. Pemerintah
mengadopsi strategi kombinasi berupa penyediaan makanan di sekolah, pemberdayaan
UMKM lokal, serta dukungan regulasi dan anggaran nasional.
Meski demikian, tantangan besar masih ditemui, seperti keterbatasan infrastruktur,
ketergantungan pada APBN/APBD, serta lemahnya mekanisme pengawasan. Oleh karena itu,
strategi penguatan melalui desentralisasi distribusi, kolaborasi dengan sektor swasta, serta
penggunaan sistem monitoring digital menjadi sangat penting untuk menjamin efektivitas dan
keberlanjutan program.
Secara keseluruhan, Program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar dalam
membangun sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing, asalkan didukung
dengan implementasi yang konsisten, kolaboratif, dan berkelanjutan.

REFERENSI
Alaslan. (2021). Kebijakan Publik dan Implementasinya di Indonesia. Jakarta: Prenadamedia.
Anggara, S. (2014). Kebijakan Publik. Bandung: Pustaka Setia.
Badan Gizi Nasional. (2024). Peraturan Badan Gizi Nasional No. 3 Tahun 2024. Jakarta.
Bappenas. (2020). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024.
Jakarta: Bappenas.
BPS. (2022). Data Konsumsi Energi Per Kapita Penduduk Indonesia. Jakarta: Badan Pusat
Statistik.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative Inquiry and Research Design. California:
Sage Publications.

710 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)

Dreze, J., & Khera, R. (2017). Recent Social Security Initiatives in India. New Delhi: Oxford
University Press.
Dunn, W. N. (2016). Public Policy Analysis: An Integrated Approach. New York: Routledge.
Dye, T. R. (2017). Understanding Public Policy. Boston: Pearson.
Gentilini, U., et al. (2020). Social Protection and Jobs Responses to COVID-19. World Bank.
Haven, T., & van Grootel, D. (2019). Practical Guidance on Transparency in Qualitative
Research. Qualitative Research, 19(2), 1–16.
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Laporan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022.
Jakarta.
Kementerian Keuangan RI. (2023). Laporan Anggaran Program Gizi Nasional. Jakarta.
Kingdon, J. W. (2011). Agendas, Alternatives, and Public Policies. New York: Longman.
McNabb, D. E. (2017). Research Methods in Public Administration and Nonprofit
Management. New York: Routledge.
OECD. (2022). School Feeding Programmes in Developing Countries. Paris: OECD
Publishing.
Patton, M. Q. (2015). Qualitative Research & Evaluation Methods. California: Sage
Publications.
Pratita, N., et al. (2023). Implementasi Program Gizi Sekolah di Indonesia. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Save the Children. (2022). School Nutrition Advocacy Report. Jakarta: Save the Children
Indonesia.
Setiyawati, R. (2024). Tren Penurunan Stunting di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan
Informasi Kemenkes.
Silva, L., et al. (2020). The Brazilian School Feeding Programme: History and Perspectives.
Public Health Nutrition, 23(6), 1–8.
SMERU Research Institute. (2022). Analisis Kebijakan Program Gizi Sekolah. Jakarta:
SMERU.
Tachjan. (2006). Implementasi Kebijakan Publik. Bandung: AIPI.
Takahashi, Y. (2019). School Lunch Programs in Japan: Historical and Contemporary
Perspectives. Asia Pacific Journal of Education, 39(2), 123–139.
UNICEF. (2022). The State of School Feeding Worldwide. New York: UNICEF.
UNICEF. (2023). Nutrition and Learning Outcomes in Indonesia. Jakarta: UNICEF.
Wafa, M. (2024). Kemitraan UMKM dalam Program Gizi Anak Sekolah. Bandung: Alfabeta.
Weimer, D. L., & Vining, A. R. (2017). Policy Analysis: Concepts and Practice. New York:
Routledge.
World Bank. (2021). Global School Feeding Report. Washington, DC: World Bank.
Wulandari, N. (2021). Efektivitas Program Makan Siang Bergizi di Lombok Timur. Malang:
Universitas Negeri Malang Press.
Yandri, F., et al. (2024). Community-Based Nutrition Programs in Indonesia. Journal of
Public Health Policy, 45(1), 55–70.

711 | P a g e

Anda mungkin juga menyukai