Skala Likert
Skala Likert
1 (2025)
DOI: [Link]
[Link]
Abstract: The Free Nutritious Meal Program is a government policy aimed at improving the
nutritional status of school children, reducing stunting, and supporting educational success.
This study employs a descriptive qualitative method, with data obtained through digital
observation and documentary analysis. Data analysis is conducted using the interactive
model of Miles and Huberman, along with the policy process model by William Dunn (2016),
which includes problem identification, agenda setting, formulation, adoption, and
implementation. The findings indicate that this policy emerged in response to the high
stunting rate (21.6% in 2022) and limited access to nutritious food among children from
underprivileged families. The government adopted a combined strategy of in-school meal
provision and partnerships with local SMEs. Key challenges include infrastructure
limitations, budget efficiency, and supervision. Recommended strategies involve
decentralized food distribution, collaboration with the private sector, and digital monitoring
to ensure the program runs effectively and sustainably.
700 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)
PENDAHULUAN
Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas merupakan salah satu prioritas
utama dalam kebijakan nasional Indonesia. Salah satu aspek fundamental dalam mewujudkan
hal tersebut adalah pemenuhan kebutuhan gizi yang cukup, terutama bagi anak-anak usia
sekolah. Asupan gizi yang memadai memiliki peran krusial dalam perkembangan fisik,
kognitif, dan emosional anak, yang pada akhirnya akan menentukan daya saing generasi
mendatang (Anggara, 2014).
Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas
gizi masyarakat, tantangan dalam pemenuhan gizi anak sekolah masih cukup signifikan.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di
Indonesia masih berada di angka 21,6%, meskipun sudah mengalami penurunan
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (Setiyawati, 2024). Selain itu, angka gizi buruk dan
gizi kurang masih cukup tinggi, terutama di daerah pedesaan dan wilayah dengan tingkat
kemiskinan yang tinggi. Kekurangan gizi pada anak usia sekolah dapat menyebabkan
berbagai dampak negatif, seperti rendahnya daya tahan tubuh, penurunan konsentrasi belajar,
serta gangguan pertumbuhan yang bersifat permanen (Kementerian Kesehatan RI, 2024).
Dalam konteks pendidikan, anak-anak yang mengalami kekurangan gizi sering kali
mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran, lebih mudah lelah, dan memiliki risiko
tinggi untuk putus sekolah. Studi menunjukkan bahwa asupan gizi yang cukup dapat
meningkatkan daya ingat, konsentrasi, serta kemampuan kognitif yang berpengaruh terhadap
prestasi akademik mereka (Dunn, 2016). Oleh karena itu, diperlukan intervensi kebijakan
yang dapat memastikan setiap anak mendapatkan akses terhadap makanan bergizi secara
merata, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin dan rentan.
Sejumlah penelitian terdahulu, baik di tingkat internasional maupun nasional,
menunjukkan bahwa program makan bergizi di sekolah memiliki dampak signifikan terhadap
peningkatan status gizi dan capaian pendidikan anak. Di India, program Mid-Day Meal
Scheme terbukti menurunkan angka kelaparan dan meningkatkan angka partisipasi sekolah
(Dreze & Khera, 2017). Di Brasil, National School Feeding Programme berkontribusi besar
dalam mendukung ketahanan pangan dan perbaikan gizi anak sekolah (Silva et al., 2020).
Jepang bahkan telah lama menerapkan program makan siang sekolah (gakkō kyūshoku) yang
efektif menjaga asupan gizi seimbang sekaligus membentuk kebiasaan makan sehat
(Takahashi, 2019). Di Indonesia, penelitian Wulandari (2021) menemukan bahwa program
makan siang bergizi meningkatkan konsentrasi belajar siswa di Lombok Timur, sementara
kajian UNICEF (2023) menunjukkan intervensi serupa mampu menekan anemia dan
meningkatkan kehadiran siswa di wilayah dengan angka stunting tinggi. SMERU Research
Institute (2022) juga menekankan pentingnya keterlibatan UMKM lokal dalam keberhasilan
penyelenggaraan program makan bergizi.
Namun demikian, penelitian spesifik mengenai formulasi kebijakan Program Makan
Bergizi Gratis di Indonesia masih sangat terbatas. Sebagian besar studi lebih banyak berfokus
pada implementasi program gizi di daerah atau analisis dampak kesehatan dan pendidikan,
tetapi belum secara komprehensif membahas proses formulasi kebijakan di level pusat, aktor
yang terlibat, serta tantangan kelembagaan yang muncul. Dengan demikian, penelitian ini
bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis secara mendalam proses
formulasi kebijakan Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia.
METODE
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif,
karena bertujuan memahami secara mendalam proses formulasi kebijakan Program Makan
Bergizi Gratis di Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada periode Juni–Agustus 2024 dengan
fokus data tahun 2022–2024. Lokasi penelitian bersifat virtual/digital, melalui kanal resmi
pemerintah dan dokumen regulasi terkait. Sumber data primer diperoleh dari observasi digital
701 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)
terhadap pernyataan Presiden, Menteri, dan pejabat Badan Gizi Nasional, sedangkan data
sekunder berasal dari dokumen kebijakan, laporan SSGI, data BPS, serta kajian UNICEF dan
WHO. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi digital dan studi dokumentasi,
kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman (reduksi data,
penyajian data, penarikan kesimpulan) serta model proses kebijakan Dunn (2016). Validasi
data ditempuh melalui triangulasi sumber untuk menjamin keabsahan temuan.
702 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)
Model proses ini relevan dalam Program Makan Bergizi Gratis, di mana kebijakan
dirancang berdasarkan data gizi anak, didukung oleh agenda nasional terkait kesehatan dan
pendidikan, serta diimplementasikan melalui koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan
sektor swasta.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan
asupan gizi anak sekolah guna mengurangi angka stunting dan gizi buruk. Berdasarkan data
Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, angka stunting di Indonesia masih mencapai
21,6%, melebihi batas WHO sebesar 20% (Setiyawati, 2024). Oleh karena itu, program ini
menjadi salah satu strategi untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu
mendapatkan akses makanan bergizi yang cukup. Kebijakan ini didukung oleh berbagai
regulasi, seperti:(1) Peraturan Badan Gizi Nasional No. 3 Tahun 2024, yang menetapkan
standar teknis pelaksanaan program, (2) Instruksi Presiden Tahun 2025, yang
mengamanatkan implementasi program secara nasional, (3) APBN dan APBD Tahun 2025,
yang mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung keberlanjutan program.
Kebijakan publik dalam Program Makan Bergizi Gratis diformulasikan berdasarkan
model proses kebijakan, yang mencakup tahapan dari identifikasi masalah hingga
implementasi kebijakan. Dengan strategi implementasi yang tepat, program ini diharapkan
dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan, sehingga mampu meningkatkan kesehatan,
pendidikan, dan ketahanan pangan nasional.
Dalam konteks ini, kerangka pemikiran berperan penting untuk mengindentifikasi
variabel-variabel yang saling berhubungan dan bagaiamana keterkaitannya dengan
mempengaruhi hasil yang diinginkan maka kerangka pemikiran ini disusun untuk
memberikan landasan konseptual dalam memahami dan menganalisis permasalahan yang
ada, dengan mengacu pada teori-teori yang relevan, dan diharapkan dapat dihasilkan
pemahaman yang lebih mendalam mengenai topik yang diteliti, serta memberikan arah yang
jelas bagi penelitian. Berikut Kerangka Pemikiran dalam penelitian ini :
Formulasi Program
Makan Bergizi Gratis
Identifikasi Masalah :
1. Ketidakjelasan distribusi makanan yang
menyebabkan ketimpangan akses.
2. Tidak ada sistem baku identifikasi aktor
pelaksana.
3. Pengawasan dan evaluasi yang belum
sistematis.
4. Ketergantungan pada APBN/APBD tanpa
strategi pembiayaan berkelanjutan.
5. Lemahnya koordinasi antarinstansi yang
menghambat efektivitas pelaksanaan.
703 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)
Identifikasi Masalah
Tahap identifikasi masalah merupakan langkah awal dalam formulasi kebijakan untuk
memahami akar permasalahan yang ingin diselesaikan. Program Makan Bergizi Gratis
dirancang untuk mengatasi berbagai tantangan dalam pemenuhan gizi anak sekolah, terutama
bagi kelompok rentan. Beberapa permasalahan utama yang melatarbelakangi kebijakan ini
meliputi:
1. Tingginya Angka Stunting dan Malnutrisi
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting nasional
masih berada di angka 21,6%, atau sekitar 5,33 juta balita, melebihi batas toleransi yang
ditetapkan oleh WHO yakni <20% (Kemenkes RI, 2023). Walaupun menunjukkan tren
penurunan dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 21,6% pada 2022, angka tersebut masih
jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024,
yaitu menurunkan prevalensi stunting menjadi 14% pada 2024.
Selain itu, terdapat kesenjangan antarwilayah. Provinsi dengan prevalensi stunting
tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (35,3%), Sulawesi Barat (35%), dan Papua
(34,6%), sementara provinsi dengan angka terendah adalah Bali (8%) dan DI Yogyakarta
(12,8%) (SSGI, 2022). Ketimpangan ini menunjukkan bahwa masalah gizi tidak hanya
terkait dengan nasional, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonomi,
budaya, dan ketersediaan pangan di tingkat daerah.
Di sisi lain, masalah gizi buruk dan gizi kurang juga masih menjadi perhatian. Data
SSGI 2022 mencatat prevalensi balita gizi buruk sebesar 3,5% dan gizi kurang 7,7%.
Kondisi ini berdampak serius terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta
produktivitas anak di masa depan, sehingga mengancam kualitas sumber daya manusia
Indonesia.
2. Ketimpangan Akses Pangan
Ketimpangan akses terhadap pangan bergizi masih menjadi masalah serius, terutama
bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin dan tinggal di wilayah pedesaan
maupun daerah tertinggal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, rata-rata
konsumsi energi per kapita penduduk miskin hanya sekitar 1.846 kkal per hari, jauh di
bawah standar kecukupan energi 2.100 kkal per hari yang direkomendasikan Kementerian
Kesehatan. Sebaliknya, kelompok non-miskin memiliki rata-rata konsumsi energi yang
lebih tinggi, yakni sekitar 2.225 kkal per hari.
Indeks Ketahanan Pangan 2022 yang dirilis oleh Badan Pangan Nasional
menunjukkan masih terdapat 64 kabupaten/kota dengan status rawan pangan, yang
sebagian besar berada di kawasan Indonesia Timur dan daerah terpencil. Kondisi ini
mencerminkan adanya kesenjangan signifikan dalam ketersediaan, aksesibilitas, dan
keterjangkauan pangan bergizi antarwilayah.
Selain itu, faktor ekonomi juga sangat berpengaruh terhadap kualitas konsumsi
pangan rumah tangga. Data Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) 2021 mencatat
bahwa sekitar 7,2% rumah tangga di Indonesia tergolong rawan pangan, dengan proporsi
tertinggi pada rumah tangga berpendapatan rendah dan tinggal di pedesaan. Keterbatasan
daya beli ini menyebabkan anak-anak dari keluarga miskin lebih rentan mengalami gizi
buruk dan stunting dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga mampu.
3. Dampak Kekurangan Gizi terhadap Prestasi Akademik
Kekurangan gizi pada anak memiliki implikasi yang signifikan terhadap
perkembangan kognitif dan prestasi akademik. Penelitian UNICEF (2023) menunjukkan
bahwa anak dengan status gizi memadai cenderung memiliki kemampuan memori,
konsentrasi, dan penyelesaian masalah yang lebih baik dibandingkan anak dengan gizi
kurang atau stunting. Kondisi gizi yang tidak optimal dapat menghambat proses belajar,
meningkatkan kelelahan, serta berisiko menurunkan motivasi dan partisipasi sekolah.
704 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)
Agenda Setting
Setelah permasalahan teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah memasukkan isu ini
ke dalam agenda kebijakan nasional agar mendapatkan perhatian dan prioritas dalam
perumusan kebijakan. Beberapa faktor utama yang mendorong Program Makan Bergizi
Gratis menjadi bagian dari agenda pemerintah meliputi:
1. Dukungan dari Presiden dan Pemerintah Pusat
Program Makan Bergizi Gratis mendapatkan perhatian langsung dari pemerintah
pusat, khususnya Presiden, sebagai bagian dari strategi percepatan penurunan stunting
yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2020–2024. RPJMN menetapkan target penurunan prevalensi stunting menjadi 14% pada
tahun 2024, dengan salah satu intervensi utama melalui penyediaan makanan bergizi bagi
anak sekolah (Bappenas, 2020). Dukungan ini diwujudkan melalui kebijakan lintas sektor
yang melibatkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi,
Kementerian Kesehatan, serta pemerintah daerah.
705 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)
706 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)
707 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)
sehat yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak, sehingga memungkinkan penyesuaian pola
konsumsi berdasarkan preferensi lokal dan ketersediaan bahan pangan (World Bank,
2021).
Namun, implementasi program ini memiliki tantangan terkait penggunaan dana secara
tepat sasaran. Beberapa studi menunjukkan bahwa bantuan tunai tanpa mekanisme
pengawasan yang memadai berisiko tidak digunakan untuk tujuan gizi (Gentilini et al.,
2020). Oleh karena itu, diperlukan sistem monitoring dan evaluasi, seperti pendataan
penerima manfaat, audit penggunaan dana, dan pelaporan rutin, untuk memastikan
bantuan tunai benar-benar dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas gizi anak.
Selain itu, efektivitas skema ini juga bergantung pada literasi gizi keluarga. Program
pendampingan dan edukasi gizi menjadi penting agar orang tua memahami kebutuhan
nutrisi anak sesuai usia dan aktivitas, serta memilih makanan yang seimbang. Pendekatan
ini diharapkan tidak hanya meningkatkan asupan gizi anak, tetapi juga memperkuat
kesadaran masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat secara berkelanjutan.
3. Kemitraan dengan Sektor Swasta dan UMKM Lokal
Skema kemitraan dengan sektor swasta dan UMKM lokal menjadi salah satu
alternatif dalam formulasi Program Makan Bergizi Gratis. Pendekatan ini bertujuan untuk
memanfaatkan bahan pangan lokal, meningkatkan keterlibatan masyarakat, serta
memberdayakan ekonomi lokal melalui peningkatan permintaan produk pertanian dan
kuliner UMKM (Wafa, 2024). Dengan demikian, kebijakan ini tidak hanya meningkatkan
akses gizi bagi anak sekolah, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan
masyarakat setempat.
Pelaksanaan skema ini menghadapi beberapa tantangan, terutama terkait pengawasan
kualitas makanan. Makanan yang disediakan harus memenuhi standar gizi, kebersihan,
dan keamanan pangan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes,
2022). Oleh karena itu, regulasi yang jelas dan mekanisme pengawasan yang efektif
diperlukan, termasuk sertifikasi penyedia, inspeksi rutin, dan pelatihan bagi pelaku
UMKM dalam pengolahan makanan bergizi.
Keunggulan utama skema ini adalah sinergi antara pemerintah dan sektor lokal, yang
memungkinkan distribusi makanan lebih merata sekaligus mendorong pertumbuhan
ekonomi berbasis komunitas. Evaluasi awal menunjukkan bahwa keterlibatan UMKM
lokal dapat meningkatkan ketersediaan menu bergizi di sekolah sekitar 20–25% lebih
tinggi dibandingkan jika hanya mengandalkan distribusi pusat (Pratita et al., 2023).
Dengan kombinasi kemitraan lokal dan penyediaan makanan siap saji di sekolah,
pemerintah dapat mengoptimalkan cakupan program, menjaga kualitas gizi, dan
memberdayakan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
708 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)
2. Instruksi Presiden Tahun 2025, Instruksi ini mewajibkan pemerintah pusat dan daerah
untuk menjalankan program secara nasional dengan koordinasi lintas sektor antara
Kementerian Pendidikan, Kesehatan, dan Dinas Pendidikan daerah. Instruksi ini juga
menekankan monitoring implementasi secara rutin, sehingga setiap provinsi dan
kabupaten memastikan distribusi makanan bergizi tepat waktu dan sesuai standar
(Sekretariat Negara, 2025).
3. Revisi APBN dan APBD 2025, pemerintah mengalokasikan anggaran khusus untuk
Program Makan Bergizi Gratis dalam APBN dan APBD 2025, sebagai jaminan
keberlanjutan program. Alokasi ini mencakup biaya penyediaan makanan, transportasi,
penyimpanan, serta pengawasan dan evaluasi. Misalnya, total anggaran yang dialokasikan
untuk program ini mencapai sekitar Rp12 triliun pada tingkat nasional (Kemenkeu, 2025).
4. Nota Kesepahaman (MoU) dengan UMKM dan Petani Lokal, pemerintah
menandatangani MoU dengan pelaku UMKM dan petani lokal untuk menjamin pasokan
bahan pangan berkualitas bagi sekolah. Kerja sama ini juga bertujuan mendukung
ekonomi lokal dan memperkuat ketahanan pangan nasional, sehingga program makan
bergizi tidak hanya meningkatkan gizi anak, tetapi juga memberdayakan masyarakat
setempat (Kementerian Pertanian, 2025).
Dengan regulasi yang jelas dan dukungan lintas sektor, Program Makan Bergizi
Gratis dapat diimplementasikan secara lebih efektif, terstruktur, dan berkelanjutan. Selain itu,
adopsi kebijakan ini memberikan legitimasi hukum dan mempermudah mekanisme
koordinasi serta pemantauan, sehingga program dapat mencapai target nasional dalam
meningkatkan status gizi dan kualitas pendidikan anak usia sekolah.
709 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)
KESIMPULAN
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah
Indonesia untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, menekan angka stunting, dan
mendukung capaian pendidikan nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi
kebijakan ini lahir dari urgensi tingginya prevalensi stunting (21,6% pada tahun 2022),
ketimpangan akses pangan, serta dampak malnutrisi terhadap prestasi akademik anak.
Proses formulasi kebijakan mengikuti model Dunn (2016), meliputi tahapan
identifikasi masalah, agenda setting, formulasi, adopsi, dan implementasi. Pemerintah
mengadopsi strategi kombinasi berupa penyediaan makanan di sekolah, pemberdayaan
UMKM lokal, serta dukungan regulasi dan anggaran nasional.
Meski demikian, tantangan besar masih ditemui, seperti keterbatasan infrastruktur,
ketergantungan pada APBN/APBD, serta lemahnya mekanisme pengawasan. Oleh karena itu,
strategi penguatan melalui desentralisasi distribusi, kolaborasi dengan sektor swasta, serta
penggunaan sistem monitoring digital menjadi sangat penting untuk menjamin efektivitas dan
keberlanjutan program.
Secara keseluruhan, Program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar dalam
membangun sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing, asalkan didukung
dengan implementasi yang konsisten, kolaboratif, dan berkelanjutan.
REFERENSI
Alaslan. (2021). Kebijakan Publik dan Implementasinya di Indonesia. Jakarta: Prenadamedia.
Anggara, S. (2014). Kebijakan Publik. Bandung: Pustaka Setia.
Badan Gizi Nasional. (2024). Peraturan Badan Gizi Nasional No. 3 Tahun 2024. Jakarta.
Bappenas. (2020). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024.
Jakarta: Bappenas.
BPS. (2022). Data Konsumsi Energi Per Kapita Penduduk Indonesia. Jakarta: Badan Pusat
Statistik.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative Inquiry and Research Design. California:
Sage Publications.
710 | P a g e
[Link] Vol. 8, No. 1 (2025)
Dreze, J., & Khera, R. (2017). Recent Social Security Initiatives in India. New Delhi: Oxford
University Press.
Dunn, W. N. (2016). Public Policy Analysis: An Integrated Approach. New York: Routledge.
Dye, T. R. (2017). Understanding Public Policy. Boston: Pearson.
Gentilini, U., et al. (2020). Social Protection and Jobs Responses to COVID-19. World Bank.
Haven, T., & van Grootel, D. (2019). Practical Guidance on Transparency in Qualitative
Research. Qualitative Research, 19(2), 1–16.
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Laporan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022.
Jakarta.
Kementerian Keuangan RI. (2023). Laporan Anggaran Program Gizi Nasional. Jakarta.
Kingdon, J. W. (2011). Agendas, Alternatives, and Public Policies. New York: Longman.
McNabb, D. E. (2017). Research Methods in Public Administration and Nonprofit
Management. New York: Routledge.
OECD. (2022). School Feeding Programmes in Developing Countries. Paris: OECD
Publishing.
Patton, M. Q. (2015). Qualitative Research & Evaluation Methods. California: Sage
Publications.
Pratita, N., et al. (2023). Implementasi Program Gizi Sekolah di Indonesia. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Save the Children. (2022). School Nutrition Advocacy Report. Jakarta: Save the Children
Indonesia.
Setiyawati, R. (2024). Tren Penurunan Stunting di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan
Informasi Kemenkes.
Silva, L., et al. (2020). The Brazilian School Feeding Programme: History and Perspectives.
Public Health Nutrition, 23(6), 1–8.
SMERU Research Institute. (2022). Analisis Kebijakan Program Gizi Sekolah. Jakarta:
SMERU.
Tachjan. (2006). Implementasi Kebijakan Publik. Bandung: AIPI.
Takahashi, Y. (2019). School Lunch Programs in Japan: Historical and Contemporary
Perspectives. Asia Pacific Journal of Education, 39(2), 123–139.
UNICEF. (2022). The State of School Feeding Worldwide. New York: UNICEF.
UNICEF. (2023). Nutrition and Learning Outcomes in Indonesia. Jakarta: UNICEF.
Wafa, M. (2024). Kemitraan UMKM dalam Program Gizi Anak Sekolah. Bandung: Alfabeta.
Weimer, D. L., & Vining, A. R. (2017). Policy Analysis: Concepts and Practice. New York:
Routledge.
World Bank. (2021). Global School Feeding Report. Washington, DC: World Bank.
Wulandari, N. (2021). Efektivitas Program Makan Siang Bergizi di Lombok Timur. Malang:
Universitas Negeri Malang Press.
Yandri, F., et al. (2024). Community-Based Nutrition Programs in Indonesia. Journal of
Public Health Policy, 45(1), 55–70.
711 | P a g e