1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyelenggaraan pendidikan tidak lepas dari kegiatan
belajar dan mengajar (KBM). Menurut Witherington dalam Marno
(2008: 37), Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses
yang dilakukan oleh guru dalam mengembangkan kegiatan
belajar siswa. Hal ini mengandung pengertian bahwa proses
mengajar oleh guru menghadirkan proses belajar pada pihak
siswa yang berwujud perubahan tingkah laku, meliputi
perubahan ketrampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan,
pemahaman, dan apresiasi. Sehingga tampak bahwa titik berat
peran guru bukan saja sebagai pengajar melainkan sebagai
pembimbing belajar, pemimpin belajar dan fasilitator belajar.
Untuk mencapai tujuan pengajaran guru harus mempunyai cara
atau strategi dalam memilih metode pengajaran yang tepat.
Hal ini sangat penting karena dengan penggunaan metode
yang tepat dalam pembelajaran akan memaksimalkan dalam
proses dan hasil belajar. Berdasarkan pengamatan yang
dilakukan di kelas V SDN 03 Kembang Tanjung Kecamatan Abung
Selatan Kabupaten Lampung Utara semester II tahun ajaran
2016/2017 diperoleh beberapa masalah yang membuat hasil
belajar siswa rendah. Pertama, kegiatan pembelajaran masih
didominasi oleh guru. Kedua, penyampaian materi masih
menggunakan metode konvensional. Ketiga, pemanfaatan media
belum dilakukan secara maksimal saat pembelajran IPA dengan
materi struktur bumi dan matahari seperti, karton tebal, tiga
potong penjepit kayu, gunting, cermin datar yang besar, sendok
makan yang masih mengkilap dan bolpoin. Keempat, kurangnya
2
antusias siswa saat mengikuti pelajaran karena saat KBM
berlangsung ada beberapa siswa tidur. Kelima, banyak siswa
yang tidak memperhatikan penjelasan guru melainkan
bersendau gurau dengan temannya sendiri dibelakang. Secara
umum pembelajaran yang dilakukan guru terhadap siswa hanya
menghafalkan konsep, teori dan istilah.
Sehingga pelajaran IPA yang seharusnya sebagai proses,
sikap dan aplikasi terabaikan. Siswa tidak dibiasakan untuk
mengembangkan potensi yang dimilikinya, sehingga siswa tidak
dapat berpikir secara kreatif dan mandiri yang 2 pada akhirnya
siswa malas saat mengikuti pelajaran. Data hasil observasi dari
peneliti di kelas V SDN 03 Kembang Tanjung Kecamatan Abung
Selatan Kabupaten Lampung Utara terdapat 17 dari 30 siswa
kurang memahami pelajaran IPA khususnya materi tentang
struktur bumi dan matahari. Hal ini dilihat dari nilai tes IPA 60,
nilai 60 merupakan batas tuntas atau KKM. Dari 30 siswa
diketahui hanya 13 siswa nilainya 60 yang dapat mencapai
diatas KKM dan 17 siswa belum tuntas dalam belajarnya yaitu
memperoleh nilai 60. Berdasarkan data menunjukan bahwa,
yang mencapai KKM adalah 43% sedangkan yang belum dapat
memenuhi KKM adalah 57% yaitu dengan niai rata-rata 58.
Penggunaan metode pembelajaran seharusnya disesuaikan
dengan materi yang akan disampaikan, khususnya dalam hal ini
adalah pada mata pelajaran IPA. Salah satunya yaitu dengan
menerapkan metode eksperimen. Metode eksperimen menurut
Soemantri (2001: 136) adalah merupakan cara belajar mengajar
yang melibatkan peserta didik dengan mengalami dan
membuktikan sendiri proses dan hasil percobaan itu.
Dalam proses belajar mengajar, dengan metode
eksperimen, siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri
3
atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati
suatu objek, keadaan atau proses sesuatu. Dengan demikian,
siswa dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran,
atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik
kesimpulan dari proses yang dialaminya itu.
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas,
peneliti ingin memeperbaiki proses pembelajaran yang
berlangsung dalam kelas dengan menerapkan metode
eksperimen. Dengan metode eksperimen ini, diharapkan siswa
sepenuhnya dapat terlibat secara langsung dalam proses
pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemecahan
masalah hingga penarikan simpulan. Melalui proses yang dialami
siswa secara langsung akan mempermudah pemahaman dan
hasil belajar siswa akan meningkat.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan informasi yang diperoleh peneliti dari
berbagai pihak dan observasi pada kegiatan pembelajaran pada
kelas V SDN 03 Kembang Tanjung Kecamatan Abung Selatan,
Kabupaten Lampung Utara ternyata masih ada beberapa
masalah diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru (teacher-
centered)
2) Penyampaian materi masih menggunakan metode
konvensional (ceramah)
3) Pemanfaatan media belum dilakukan secara maksimal
4) Kurangnya antusias siswa dalam mengikuti pelajaran
5) Banyak siswa yang tidak memperhatikan pejelasan guru
melainkan bersendau gurau dengan temannya sendiri
dibelakang.
4
2. Analisis Masalah
Penelitian ini dibatasi pada siswa kelas V semester II SDN
03 Kembang Tanjung Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten
Lampung Utara dengan permasalahan yang akan diteliti
mengenai penggunaan metode eksperimen terhadap hasil
belajar IPA.
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Dalam penelitian ini upaya yang dilakukan guru untuk
meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 03 Kembang
Tanjung Kecamatan Abung Selatan menjadi alternatif dan
prioritas pemecahan masalah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan
masalah nyata yang terjadi di SDN 03 Kembang Tanjung siswa
kelas V yang berjumlah 30 siswa, hasil dari mata pelajaran IPA
berdasarkan rata-rata kelas tergolong masih rendah walaupun
sudah diusahakan dengan maksimal. Dengan demikian dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut:
“Apakah penerapan metode ekspserimen dapat meningkatkan
hasil belajar IPA pada siswa kelas V SDN 03 Kembang Tanjung
Kecamatan Abung Selatan Kabupaten Lampung Utara Tahun
Ajaran 2016/2017”.
C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil
belajar IPA dengan menggunakan metode eksperimen pada
siswa kelas V SDN 03 Kembang Tanjung Kecamatan Abung
Selatan, Kabupaten Lampung Utara Tahun Ajaran 2016/2017.
5
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Adapun manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1) Manfaat Akademis.
Secara akademis penelitian ini berguna untuk menambah
teori atau pengetahuan tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar serta
memberi informasi tentang penggunaan metode eksperimen
dalam pembelajaran IPA.
2) Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Peneliti dapat mengetahui tingkat pemahaman pelajaran IPA
siswa kelas V SDN 03 Kembang Tanjung dengan pokok
bahasan struktur bumi dan matahari serta dapat
mengetahui bagaimana cara menggunakan metode
eksperimen. Sehingga peneliti dapat memperkaya teknik-
teknik dan metode dalam mengajar.
b. Bagi Siswa
Siswa dapat meningkatkan pemahamannya terhadap materi
dengan mengalami dan menemukan sendiri konsep yang
ada pada materi. Meningkatkan hasil belajar Ilmu
Pengetahuan Alam. Meningkatkan minat belajar Ilmu
Pengetahuan Alam.
c. Bagi Guru
Sebagai bahan informasi bagi guru untuk menggunakan
metode eksperimen sehingga dapat digunakan untuk
6
meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi.
Mempermudah guru dalam penyampaian materi khususnya
mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
d. Bagi Sekolah
Sekolah mendapatkan pengalaman dan sumbangan tentang
bagaimana mengimplementasikan metode eksperimen dan
bagaimana membuat siswa aktif didalam pembelajaran.
alam sekitar, mempunyai minat untuk mengenal dan
mempelajari benda-benda serta kejadian dilingkungan
sekitar, bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas
diri, bertanggung jawab, bekerja sama dan mandiri, mampu
menerapakan berbagai konsep IPA, mamapu menggunakan
teknologi sederhana, mengenal dan memupuk rasa cinta
terhadap alam sekitar, sehingga menyadari kebesaran dan
keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Ilmu Pengetahuan Alam
Puskur, Balitbang Depdiknas (2009: 4) menyatakan bahwa
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari
tahu tentang alam secara sistematis, sehingga ilmu pengetahuan
alam bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang
berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja
tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan ilmu
pengetahuan alam diharapkan dapat menjadi wahana bagi
peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar,
serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya
di dalam kehidupan sehari-hari. merujuk pada pengertian ilmu
pengetahuan alam itu maka disimpulkan bahwa hakikat ilmu
pengetahuan alam meliputi empat unsur utama yaitu:
a. Sikap
Rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk
hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan
masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang
benar.
b. Proses
Prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode
ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan
eksperimen atau percobaan, evaluasi pengukuran dan
penarikan kesimpulan.
c. Produk
Produk berupa fakta, prinsip, teori dan hukum atau dalil.
8
d. Aplikasi
Penerapan metode ilmiah dan konsep ilmu pengetahuan alam
dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat unsur tersebut merupakan cirri-ciri ilmu pengetahuan
alam yang utuh yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu
sama lain. Dalam kegiatan proses pembelajaran di sekolah
pelajaran ilmu pengetahuan alam keempat unsur itu
diharapkan dapat muncul sehingga peserta didik dapat
mengalami proses pembelajaran secara utuh, memehami
fenomena alam melalui pemecahan masalah, metode ilmiah,
dan meniru cara ilmuan bekerja dalam menemukan fakta baru.
B. Tujuan Pengajaran IPA
Menurut Dede Awan (2009: 1) tujuan pengajaran IPA
adalah untuk memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya
dengan pengetahuan seharihari, memiliki ketrampilan proses
untuk mengembangkan pengetahuan gagasan alam sekitar,
mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-
benda serta kejadian dilingkungan sekitar, bersikap ingin tahu,
tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerja
sama dan mandiri, mampu menerapakan berbagai konsep IPA,
mamapu menggunakan teknologi sederhana, mengenal dan
memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari
kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam Permen no 22 Tahun 2006 Mata Pelajaran IPA di SD
bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai
berikut.
1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang
Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan
keteraturan alam ciptaan-Nya
9
2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-
konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari
3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran
tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara
IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat
4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki
alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam
memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam
6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala
keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan
7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan
IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
C. Mengajar dan Metode Pembelajaran
Mengajar adalah memberikan pelajaran kepada anak didik,
jadi guru bertugas untuk memberikan sejumlah bahan pelajaran
ke dalam otak anak didiknya. Mengajar selalu berlangsung dalam
suatu kondisi yang disengaja diciptakan untuk mengantarkan
anak didiknya ke arah kemajuan dan kebaikan. Oleh karena itu,
keefektifan guru dalam mengajar akan banyak tergantung pada
bagaimana guru mampu melaksanakan aktivitas mengajar
secara baik. Sedangkan menurut Gulq W (2002: 8), mengajar
adalah usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang
memungkinkan terjadinya proses belajar itu secara optimal.
Sistem lingkungan ini terdiri terdiri atas beberapa komponen,
termasuk guru, yang saling berinteraksi dalam menciptakan
proses belajar yang terarah pada tujuan tertentu.
10
Menurut Witherington dalam Marno (2008: 37), Kegiatan
mengajar pada hakikatnya adalah proses yang dilakukan oleh
guru dalam mengembangkan kegiatan belajar siswa. Hal ini
mengandung pengertian bahwa proses mengajar oleh guru
menghadirkan proses belajar pada pihak siswa yang berwujud
perubahan tingkah laku, meliputi perubahan ketrampilan,
kebiasaan, sikap, pengetahuan, pe haman, dan apresiasi. Dari
beberapa pengertian di atas bahwa fungsi mengajar
menyediakan kondisi yang kondusif pada proses belajar,
sedangkan yang berperan aktif adalah siswa sebagai perubahan
tingkah laku.
Metode menurut Mulyani Soemantri (2001: 114)
merupakan cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan
situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan
mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya
prestasi belajar anak yang memuaskan. Wina Sanjaya (2006:
145) menyatakan metode adalah cara yang digunakan untuk
mengiplementasikan rencana yang sudah disusun dalam
kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara
optimal.
Menurut Zainal Aqib (2002: 41-42) pembelajaran adalah upaya untuk
mengorganisasikan lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta
didik. Upaya tersebut bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik untuk
menjadi warga masyarakat yang baik, sehingga dapat menghadapi kehidupan di
lingkungan masyarakat. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan
kegiatan belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar
peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya
dalam rangka pencapaian kompetensi dasar (BSNP, 2006: 17).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran adalah upaya untuk mengorganisasikan lingkungan untuk
11
menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik, yang kegiatannya dirancang
melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta
didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka
pencapaian kompetensi dasar.
Aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk
sikap, pikiran, perhatian, dan aktivitas dalam kegiatan
pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar
mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut.
Peningkatan aktivitas siswa yaitu meningkatnya jumlah siswa
yang terlibat aktif belajar, meningkatnya jumlah siswa yang
bertanya dan menjawab, meningkatnya jumlah siswa yang saling
berinteraksi membahas materi pembelajaran.
D. Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan
kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih
melakukan suatu proses atau percobaan. Dalam proses belajar
mengajar, dengan metode eksperimen, siswa diberi kesempatan
untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti
suatu proses, mengamati suatu obyek, keadaan atau proses
sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami
sendiri , mencari kebenaran, atau mencoba mencari suatu
hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan dari proses yang
dialaminya itu.
Dalam Soemantri (2001: 136) metode eksperimen adalah
merupakan cara belajar mengajar yang melibatkan peserta didik
dengan mengalami dan membuktikan sendiri proses dan hasil
percobaan itu. Tujuan metode eksperimen dalam pembelajaran
adalah sebagai berikut :
12
1) Agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai
jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan
mengadakan percobaan sendiri.
2) Agar peserta didik mampu menyimpulkan fakta-fakta,
informasi atau data yang diperoleh.
3) Melatih peserta didik merancang, mempersiapkan,
melaksanakan dan melaporkan percobaan.
4) Melatih peserta didik menggunakan logika berfikir induktif
untuk menarik kesimpulan dari fakta, informasi atau data
yang terkumpul melalui percobaan.
Adapun alasan penggunaan metode eksperimen menurut
Soemantri (2001:136) adalah sebagai berikut :
a. Metode eksperimen diberikan untuk memberi kesempatan
kepada peserta didik agar dapat mengalami sendiri,
mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek,
menganalis, membuktikan, dan menarik kesimpulan sendiri
tentang suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu.
b. Metode eksperimen dapat menumbuhkan cara berfikir
rasional dan ilmiah. Metode eksperimen memiliki kelebihan
dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan metode
eksperimen menurut Soemantri (2001:136-137) adalah
sebagai berikut:
a. Membuat peserta didik lebih percaya atas kebenaran atau
kesimpulan berdasarkan percobaan sendiri daripada hanya
menerima kata guru atau buku.
b. Peserta didik aktif terlibat mengumpulkan fakta, informasi ,
atau data yang diperlukan melalui percobaan yang
dilakukannya.
13
c. Dapat menggunakan dan melaksanakan prosedur metode
ilmiah dan berfikir ilmiah.
d. Memperkaya pengalaman dengan hal-hal yang bersifat
obyektif, realistis, dan menghilangkan verbalisme.
e. Hasil belajar menjadi kepemilikan peserta didik yang
bertalian lama.
Pembelajaran dengan metode eksperimen menurut
Palendeng (2003: 82) meliputi tahap-tahap sebagai berikut : (1)
percobaan awal, pembelajaran diawali dengan melakukan
percobaan yang didemonstrasikan guru atau dengan mengamati
fenomena alam. Demonstrasi ini menampilkan masalah-masalah
yang berkaitan dengan materi fisika yang akan dipelajari. (2)
pengamatan, merupakan kegiatan siswa saat guru melakukan
percobaan. Siswa diharapkan untuk mengamati dan mencatat
peristiwa tersebut. (3) hipoteis awal, siswa dapat merumuskan
hipotesis sementara berdasarkan hasil pengamatannya. (4)
verifikasi, kegiatan untuk membuktikan kebenaran dari dugaan
awal yang telah dirumuskan dan dilakukan melalui kerja
kelompok. Siswa diharapkan merumuskan hasil percobaan dan
membuat kesimpulan, selanjutnya dapat dilaporkan hasilnya. (5)
aplikasi konsep, setelah siswa merumuskan dan menemukan
konsep, hasilnya diaplikasikan dalam kehidupannya. Kegiatan ini
merupakan pemantapan konsep yang telah dipelajari. (6)
evaluasi, merupakan kegiatan akhir setelah selesai satu konsep.
Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen akan
membantu siswa untuk memahami konsep.
Pemahaman konsep dapat diketahui apabila siswa mampu
mengutarakan secara lisan, tulisan maupun aplikasi dalam
kehidupannya. Dengan kata lain, siswa memiliki kemampuan
untuk menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh, dan
14
menerapkan konsep terkait dengan pokok bahasan. Menurut
Mujiono dan Moh. Dimyati (2001:78) untuk mendapatkan hasil
yang optimal dalam memakai metode eksperimen, langkah-
langkah berikut ini dapat diikuti:
1) Mempersiapkan pemakaian metode eksperimen, yang
mencakup kegiatankegiatan sebagai berikut:
a) Menetapkan kesesuaian metode eksperimen terhadap
tujuan-tujuan yang hendak dicapai.
b) Menetapkan kebutuhan peralatan, bahan, dan sarana lain
yang dibutuhkan dalam eksperimen sekaligus memeriksa
ketersediannya di sekolah.
c) Mengadakan uji eksperimen (guru mengadakan
eksperimen sendiri untuk menguji ketepatan proses dan
hasilnya) sebelum menugaskan kepada siswa, sehingga
dapat diketahui secara pasti kemungkinankemungkinan
yang akan terjadi.
d) Menyediakan peralatan, bahan, dan sarana lain yang
dibutuhkan untuk eksperimen yang akan dilakukan.
e) Menyediakan lembaran kerja (bila dirasa perlu)
2) Melaksanakan pemakaian metode eksperimen, dengan
kegiatan-kegiatan.
a) Mendiskusikan bersama seluruh siswa mengenai prosedur,
peralatan dan bahan untuk eksperimen serta hal-hal yang
perlu diamati dan dicatat selama eksperimen.
b) Membantu, membimbing dan mengawasi eksperimen yang
dilakukan oleh para siswa dimana para siswa mengamati
serta mencatat hal-hal yang dieksperimenkan.
c) Para siswa membuat kesimpulan dan laporan tentang
eksperimennya.
15
3) Tindak-lanjut pemakaian metode eksperimen, meliputi
kegiatan-kegiatan.
a) Mendiskusikan hambatan dan hasil-hasil eksperimen.
b) Membersihkan dan menyimpan peralatan, bahan atau
sarana lainnya.
c) Evaluasi akhir eksperimen oleh guru.
E. Pengertian Belajar
Menurut Sri Rumini (2006: 59) belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relatif
menetap, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara
langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam
interaksinya dengan lingkungan. Sedangkan Arnie Fajar (2005: 10) mengatakan
bahwa belajar adalah suatu proses perubahan dalam diri seseorang yang
ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti
peningkatan pengetahuan, kecakapan, daya pikir, sikap, kebiasaan, dan lain-lain.
Menurut M. Sobry Sutikno (2007: 5) belajar merupakan suatu proses usaha yang
dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut Nana Sudjana (1989:28) belajar adalah proses yang diarahkan
kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, melihat, mengamati
dan memahami sesuatu. Oemar Hamalik (1999:37) berpendapat belajar adalah
suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan
lingkungan. Sedangkan menurut Gulo W (2004:8) belajar adalah suatu proses
yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah laku dalam
berfikir, bersikap dan berbuat.
Dari beberapa uraian diatas dapat kita ketahui bahwa belajar adalah suatu
proses perubahan tingkah laku yang diarahkan pada tujuan mengubah tingkah
laku dalam berfikir, bersikap dan berbuat pada individu yang belajar. Jika
demikian, apakah ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar?
Seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-
16
kurangnya ia merasakan telah tejadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. Jadi perubahan tingkah
laku yang terjadi karena mabuk atau keadaan tidak sadar, tidak termasuk
perubahan dalam pengertian belajar, karena tidak termasuk perubahan dalam
pengertian belajar, karena orang yang bersangkutan tidak menyadari akan
perubahan itu.
Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional Sebagai hasil
belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara
berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan
perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar
berikutnya.
Misalnya jika seorang anak belajar menulis, maka ia akan mengalami
perubahan dari tidak dapat menulis menjadi dapat menulis. Perubahan ini
berlangsung terus hingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik dan
sempurna. Ia dapat menulis indah, dapat menulis dengan pulpen, dapat menulis
dengan kapur, dan sebagainya. Di samping itu dengan kecakapan menulis yang
telah dimilikinya ia dapat memperoleh kecakapan-kecakapan lain misalnya, dapat
menulis surat, menyalin catatan, mengerjakan soal-soal dan sebagainya.
Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah
dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan
demikian makin banyak usaha belajar itu ilakukan, makin banyak dan makin baik
perubahan yang diperoleh. perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan
itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu scndiri.
Misalnya perubahan tingkah laku karena usaha orang yang bersangkutan.
Misalnya perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan
sendirinya karena dorongan diri dalam, tidak termasuk perubahan dalam belajar.
Perubahan yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk
beberapa saat saja, seperti berkeringat, keluar air mata, bersin, menangis, dan
sebagainya, tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam arti belajar.
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap dan permanen. Ini
berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.
17
Misalnya kecakapan seorang anak dalam memainkan piano setelah belajar, tidak
akan hilang begitu saja melainkan akan terus dimiliki bahkan akan makin
berkembang kalau terus dipergunakan atau dilatih.
Jenis-jenis belajar pun bermacam-macam, antara lain :
1) Belajar bagian (part learning, fractionet)
Umumnya belajar bagian dilakukan oleh seseorang bila ia dihadapkan
pada materi belajar yang bersifat luas atau ekstensif, misalnya mempelajari
gerakan-gerakan motoris seperti bermain silat. Dalam hal ini individu memecah
seluruh materi pelajaran menjadi bagian-bagian yang satu sama lain berdiri
sendiri. Sebagai lawan dari cara, belajar bagian adalah cara belajar keseluruhan
atau belajar global.
2) Belajar dengan wawasan (learning by insight)
Konsep ini diperkenalkan oleh W. Kohler, salah seorang tokoh psikologi
Gestat pada permulaan tahun 1971. Sebagai suatu konsep, wawasan (insight) ini
merupakan pokok utama dalam pembicaraan psikologi belajar dan proses berfikir.
Meskipun W. Kohler sendiri dalam menerangkan wawasan berorientasi pada data
yang bersifat tingkah laku (perkembangan yang lembut dalam menyelesaikan
suatu persoalan dan kemudian secara tiba-tiba terjadi reorganisasi tingkah laku)
namun tidak urung wawasan ini merupakan konsep yang secara prinsipil ditentang
oleh penganut aliran, neobehaviorisme. Menurut Gestalt teori wawasan
merupakan proses mereorganisasikan pola-pola tingkah laku yang telah terbentuk
menjadi satu tingkah laku yang ada hubungannya dengan penyelesaian suatu
persoalan. Sedangkan bagi kaum neobehaviorisme (antara lain C.E Osgood)
menganggap wawasan sebagai salah satu bentuk atau wujud dari asosiasi
stimulus-respon (S-R).
3) Belajar diskriminatif (discrimicatif learning)
Belajar diskriminatif diartikan sebagai suatu usaha untuk memilih
beberapa sifat situasi/stimulus dan kemudian menjadikannya sebagai pedoman
18
dalam bertingkah laku. Dengan pengertian ini maka dalam eksperimen, subjek
diminta untuk berespon secara berbeda-beda terhadap stimulus yang berlainan.
4) Belajar global/keseluruhan (global whole learning)
Disini bahan pelajaran dipelajari secara keseluruhan berulang sampai
pelajar menguasai: lawan dari belajar bagian. Metode belajar ini sering juga
disebut metode Gestalt.
5) Belajar insidental (insidental learning)
Konsep ini bertentangan dengan anggapan bahwa belajar itu selalu
berarah-tujuan (intensional). Sebab dalam belajar incidental pada individu tidak
ada sama sekali kehendak untuk balajar. Atas dasar ini maka untuk kepentingan
penelitian, disusun perumusan operasional sebagai berikut: belajar disebut
insidental bila tidak ada intruksi atau petunjuk yang diberikan pada individu
mengenai materi belajar yang akan diujikan kelak. Dalam kehidupan sehari-hari,
belajar incidental ini merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu di antara
para ahli, belajar insidental ini merupakan bahan pembicaraan yang sangat
menarik, khususnya sebagai bentuk belajar yang bertentangan dengan belajar
intensional. Dari salah salu penelitian ditemukan bahwa dalam belajar insidental
(dibandingkan dengan belajar intensional), jumlah frekuensi materi belajar yang
diperlihatkan tidak memegang peranan penting, prestasi individu menurun dengan
meningkatnya motivasi
6) Belajar Instrumental (instrumental learning)
Pada belajar instrumental, reaksi-reaksi seseorang siswa yang
diperlihatkan diikuti oleh tanda-tanda yang mengarah pada apakah siswa tersebut
akan mendapat hadiah, hukuman, berhasil atau gagal. Oleh karena itu cepat atau
lambatnya seseorang belajar dapat diatur dengan jalan memberikan penguat
(reinforcement) atas dasar tingkattingkat kebutuhan. Dalam hal ini maka salah
satu bentuk belajar instrumental yang khusus adalah “pembentukan tingkah laku”.
Di sini individu diberi hadiah bila ia bertingkah laku sesuai dengan tingkah laku
yang dikehendaki, dan sebaliknya ia dihukum bila memperlihatkan tingkah laku
19
yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki. Sehingga akhirnya akan terbentuk
tingkah laku tertentu.
7) Belajar Intensional (intentional learning)
Belajar dalam arah tujuan, merupakan lawan dari belajar insidental.
8) Belajar Laten (latent learning)
Dalam belajar laten, perubahan-perubahan tingkah laku yang terlihat tidak
terjadi secara segera, dan oleh karena itu disebut laten. Selanjutnya eksperimen
yang dilakukan terhadap binatang mengenai belajar laten, menimbulkan
pembicaraan yang hangat di kalangan penganut behaviorisme, khususnya
mengenai peranan faktor penguat (reinforcement) dalam belajar. Rupanya penguat
dianggap oleh penganut behaviorisme ini bukan faktor atau kondisi yang harus
ada dalam belajar. Dalam penelitian mengenai ingatan, belajar laten ini diakui
memang ada yaitu dalam bentuk belajar insidental.
9) Belajar mental (mental learning)
Perubahan kemungkinan tingkah laku yang terjadi di sini tidak nyata
terlihat, melainkan hanya perubahan proses kognitif karena ada bahan yang
dipelajari. Ada tidaknya belajar mental ini sangat jelas terlihat pada tugas-tugas
yang sifatnya motoris. Sehingga perumusan operasional juga menjadi sangat
berbeda. Ada yang mengartikan belajar mental sebagai belajar dengan cara
melakukan observasi dari tingkah laku orang lain, membayangkan gerakan-
gerakan orang lain dan lain-lain.
10) Belajar produktif (productive learning)
R. Bergius (1964) memberikan arti belajar produktif sebagai belajar
dengan transfer yang maksimum. Belajar adalah mengatur kemungkinan uatuk
melakukan transfer tingkah laku dari satu situasi lain. Belajar disebut produktif
bila individu mampu mentrasfer prinsip menyelesaikan satu persoalan dalam satu
situasi ke situasi lain.
20
11) Belajar Verbal (verbal learning)
Belajar verbal adalah belajar mengenai materi verbal dengan melalui
latihan dan ingatan. Dasar dari belajar verbal diperlihatkan dalam eksperimen
klasik dari Ebbighaus. Sifat eksperimen ini meluas dari belajar asosiatif mengenai
hubungan dua kata yang tidak bermakna sampai pada belajar dengan wawasan
mengenai penyelesaian persoalan yang harus diungkapkan secara verbal.
Dalam setiap kegiatan manusia untuk mencapai tujuan, selalu diikuti
dengan pengukuran dan penilaian. Demikian halnya di dalam proses belajar.
Sutratinah Tirtonegoro (1988: 43) mengemukakan bahwa “Hasil dari pengukuran
serta penilaian usaha belajar disebut hasil belajar atau prestasi belajar”. Menurut
Winkel (1996: 17) mengemukakan, prestasi belajar adalah suatu bukti
keberhasilan belajar atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan
belajarnya sesuai bobot yang dicapainya. S. Nasution (1996: 17) mengemukakan,
prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir,
merasa dan berbuat.
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam usaha belajar
sebagaimana yang dinyatakan dalam rapor. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia
(2002: 895) menjelaskan prestasi adalah penguasaan pengetahuan dan ketrampilan
yang dikembangkan di mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau
angkat yang diberikan oleh guru.
Dari beberapa uraian di atas dapat kita ketahui bahwa prestasi adalah suatu
bukti keberhasilan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat
yang lazimnya ditunjukkan dengan nilai atau angka yang diberikan guru.
F. Kerangka Pikir
Penyesuaian metode belajar yang sesuai dengan materi
pelajaran sangat berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar.
Seperti pada pendidikan mata pelajran IPA yang banyak
berorientasi pada penumbuh sikap ilmiah dan wawasan serta
Keterampilan proses sangat besar hubungannya dalam
21
pemilihan metode dan hasil. Lingkungan anak menyediakan
fenomena alam yang menarik dan penuh misteri, maka sebagai
anak “young scients” (penelitian muda) mempunyai rasa ke ingin
tahuan (coriosity) yang tinggi. Adalah keharusan bagi guru untuk
menggunakan metode eksperimen dalam pendekatan
pembelajaran demi membina keingintahuan anak.
Memotivasinya sehingga mendorong siswa untuk mengajukan
keragaman pertanyaan seperti “apa, mengapa dan bagaimana”
terhadap objek dan peristiwa yang ada di alam.
Pada perkembangan lebih lanjut pertanyaan itu
ditingkatkan menjadi pertanyaan yang menanyakan hubungan
seperti “bagaimana”, sebagai hasil eksplorasi terhadap
lingkungan siswa diharapkan membentuk dirinya dengan sikap
seorang ilmuan muda. Selama melakukan berbagai kegiatan,
perlu ditumbuhkembangakan kemampuan untuk menggunakan
keterampilan proses seperti mengajukan pertanyaan, menduga
jawaban, merancang penyelidikan, melakukan percobaan,
mengelola data, mengevaluasi hasil dan mengkomunikasikan
temuannya kepada beragam orang dengan berbagai cara yang
dapat memberi pemahaman dengan baik.
Melalui pendekatan dan penggunaan metode eksperimen
guru dapat menciptakan pembelajran yang menantang sehingga
melahirkan interkasi antara gagasan yang diyakini siswa
sebelumnya dengan suatu bukti baru dari hasil percobaan untuk
mencapai pemahaman baru yang lebih saintifik melalui proses
eksplorasi atau pengujian gagasan baru lewat sebuah percobaan,
sudah barang tentu hal tersebut melibatkan beragam sikap
ilmiah seperti menghargai gagasan orang lain, terbuka terhadap
gagasan baru, berpikir kritis, jujur, kreatif, dan berfikir lateral
(berfikir tak lazim, diluar kebiasaan, atau yang mungkin
22
dianggap aneh), masalah yang dikemukakan tersebut sesuai
dengan apa yang dikemukakan Roestiyah (2001:80). Dengan
demikian tehnik eksperimen merupakan metode mengajar yang
dapat menghasilkan pengalaman belajar, meningkatkan motivasi
dan hasil belajar anak.
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek, Tempat, Waktu Penelitian, Pihak yang
Membantu
1. Subjek Penelitian
23
Subyek penelitian dilakukan di SDN 03 Kembang Tanjung
Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten Lampung Utara
dengan jumlah peserta didik kelas V 30 siswa. Peneliti
sebagai pelaku tindakan dan siswa sebagai pembelajar.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SDN 03 Kembang Tanjung
Kecamatan Abung Selatan Kabupaten Lampung Utara
Tahun Pelajaran 2016/2017
3. Waktu Penelitian
Peneliti merencanakan penelitian pada semester genap
tahun ajaran 2016/2017 yaitu dari tanggal 17 – 24 April
2017 dan dilakukan sebanya dua siklus.
4. Pihak yang Membantu
Penelitian ini terlaksana atas bantuan pihak-pihak,
diantaranya kepala sekolah, dewan guru, siswa dan
pembimbing
[Link] Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Ebbut
dalam Kasihani Kasbolah (2001: 9) mendefinisikan penelitian
tindakan merupakan studi yang sistematis yang dilakukan dalam
upaya memperbaiki praktik-praktik dalam pendidikan dengan
melakukan tindakan praktis serta refleksi dari tindakan tersebut.
Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti berkerja sama dengan
guru kelas dengan menerapkan metode eksperimen.
Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model spiral
dengan siklus yang berisi tahapan-tahapan perencanaan,
24
tindakan, observasi dan refleksi (model Kemmis & Mc Taggart)
dalam Kasbolah (2001: 63). Model tersebut digambarkan sebagai
berikut: Tahapan-tahapan ini berlangsung secara berulang-ulang,
sampai tujuan penelitian tercapai.
Siklus I
a. Perencanaan
Peneliti mengidentifikasi data baik dari dokumentasi
maupun dari observasi serta wawancara dengan guru kelas lima
maupun kepala sekolah. Menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) mata pelajaran IPA dengan menerapkan
metode eksperimen pada pokok bahasan Cahaya dan
Sifatsifatnya dengan sub pokok bahasan sifat-sifat cahaya.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti melaksanakan proses pembelajaran
berdasarkan rencana (RPP) yang telah disusun. Adapun langkah-
langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:
1. Peneliti dan guru mengadakan tanya jawab tentang cahaya-
cahaya yang sering dilihat oleh siswa.
2. Peneliti dan guru memberikan konsep materi tentang cahaya
dan sifatsifatnya.
3. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mencari
informasi tentang fakta tentang konsep sifat cahaya.
4. Peneliti dan guru membagi lembar pengamatan.
5. Peneliti dan guru menjelaskan cara melaksakan kegiatan.
6. Masing-masing kelompok mengadakan pengamatan.
7. Siswa melaksanakan eksperimen.
8. Peneliti dan guru membimbing pelaksanaan eksperimen.
9. Masing-masing kelompok menuliskan hasil pengamatan.
25
10. Masing-masing kelompok melaporkan hasil pengamatannya
dan kelompok lain menanggapinya.
11. Peneliti bersama guru dan siswa menyimpulkan hasil
pengamatannya.
c. Pengamatan (observasi)
Pengamatan dilakukan oleh observer (peneliti) dengan
mengamati kegiatan pembelajaran dengan lembar observasi.
Pada kegiatan ini peneliti melakukan pengamatan terhadap:
1. Kegiatan guru dalam pelaksanaan perbaikan pembelajran
siklus I
2. Kemampuan guru dalam mengelola kelas.
3. Kegiatan peserta didik dalam pelaksanaan perbaikan
pembelajran siklus I.
4. Proses pembelajaran menerapkan metode eksperimen.
5. Kemampuan guru dalam meningkatkan keaktifan peserta
didik dalam proses pengamatan dan percobaan.
6. Hasil belajar peserta didik dalam evaluasi pembelajaran
siklus.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi guru dapat merefleksi tentang
kegiatan pembelajaran. Dengan demikian peneliti akan dapat
mengetahui efektivitas kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan. Hasil analisis yang dikumpulkan pada tahap perbaikan
pembelajaran siklus I didiskusikan dengan guru kelas kemudian
didiskripsikan. Hasilnya digunakan untuk mengetahui kelemahan
dan kelebihan hasil pembelajaran siklus I melalui metode
eksperimen yang kemudian dijadikan sebagai bahan
perencanaan untuk melaksanakan tindakan pada siklus
selanjutnya guna mencapai hasil yang lebih baik.
26
Siklus II
a. Perencanaan
Peneliti mengidentifikasi data baik dari dokumentasi
maupun dari observasi serta wawancara dengan guru kelas lima
maupun kepala sekolah. Menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) mata pelajaran IPA dengan menerapkan
metode eksperimen pada pokok bahasan Cahaya dan
Sifatsifatnya dengan sub pokok bahasan sifat-sifat cahaya.
b. Pelaksanaan Tindakan
Peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran sesuai
dengan scenario pembelajaran yang telah direncanakan. Adapun
langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Peneliti dan guru mengadakan tanya jawab tantang kegiatan
yang telah dilakukan sebelumnya.
2. Peneliti dan guru memberikan konsep materi tentang cahaya
dan sifatsifatnya.
3. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
4. Peneliti dan guru menjelaskan cara melaksanakan tugas.
5. Siswa melakukan eksperimen.
6. Peneliti bersama guru dan siswa menarik kesimpulan dari
hasil kegiatan.
7. Peneliti dan guru memberikan evaluasi secara individu.
c. Pengamatan (observasi)
Pengamatan dilakukan oleh observer (peneliti) dengan
mengamati kegiatan pembelajaran dengan lembar observasi.
Pada kegiatan ini peneliti melakukan pengamatan terhadap:
27
1. Kegiatan guru dalam pelaksanaan perbaikan pembelajran
siklus II
2. Kemampuan guru dalam mengelola kelas.
3. Kegiatan peserta didik dalam pelaksanaan perbaikan
pembelajran siklus II.
4. Proses pembelajaran menerapkan metode eksperimen.
5. Kemampuan guru dalam meningkatkan keaktifan peserta
didik dalam proses pengamatan dan percobaan.
6. Hasil belajar peserta didik dalam evaluasi pembelajran siklus.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi, guru dapat merefleksi tentang
kegiatan pembelajaran. Dengan demikian peneliti akan dapat
mengetahui efektivitas kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan. Hasil analisis yang dikumpulkan pada tahap perbaikan
pembelajaran siklus II, didiskusikan dengan guru kelas kemudian
didiskripsikan. Hasilnya digunakan untuk mengetahui kelemahan
dan kelebihan hasil perbaikan pembelajaran siklus II melalui
metode eksperimen yang kemudian dijadikan sebagai bahan
perencanaan untuk melaksanakan tindakan untuk siklus
selanjutnya guna mencapai hasil yang lebih baik.
C. Teknik Analisis Data
Sumber data penelitian adalah nilai Ilmu Pengetahuan
Alam siswa kelas V SDN 03 Kembang Tanjung Kecamatan Abung
Selatan, Kabupaten Lampung Utara Tahun Pelajaran 2016/2017,
hasil observasi, tes hasil belajar, dokumentasi.
1) Observasi
28
Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data
yang sangat menentukan dalam pelaksanaan penelitian tindakan
kelas. Observasi berarti pengamatan dengan tujuan tertentu.
Dalam penelitian ini terdapat dua pedoman observasi yaitu
observasi keaktifan siswa dan observasi pelaksanaan dengan
metode eksperimen. Observasi keaktifan siswa difokuskan pada
pengamatan keaktifan siswa selama proses pembelajaran.
Sedangkan observasi pelaksanaan pembelajaran dengan metode
eksperimen difokuskan pada aktifitas guru maupun siswa selama
proses pembelajaran. Observasi dilakukan secara langsung oleh
peneliti pada saat pembelajaran di kelas dilangsungkan, dengan
tujuan untuk menggumpulkan data secara kualitatif mengenai
aktivitas guru dan siswa. Tujuannya untuk mencatat masalah
yang terjadi pada saat tindakan yang kemudian akan menjadi
refleksi sebagai tindakan lanjut.
2) Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar diperlukan untuk mengukur tingkat
ketercapaian penerapan metode eksperimen dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam selain itu tes hasil belajar
digunakan untuk mengukur pemahaman materi serta
peningkatan hasil belajar siswa setelah tindakan dilakukan.
3) Dokumentasi
Dokumentasi digunakan sebagai bukti penelitian telah
dilaksanakan. Dokumentasi berupa nilai ulangan Ilmu
29
Pengetahuan Alam dan bukti proses belajar mengajar pada siklus
I dan siklus II berupa foto.
Kriteria Ketuntasan Minimal untuk Mata Pelajaran IPA di
SDN 03 Kembang Tanjung Kecamatan Abung Selatan adalah 60.
Pada kondisi sebelum pelaksanaan tindakan prosentase
ketuntasan belajar siswa kelas V dalam mata pelajaran IPA hanya
43%. Untuk siklus I ketuntasan yang dicapai minimal 70%,
sedangkan untuk siklus II ketuntasan minimal yang dicapai
adalah 85%.
30
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Penelitian dilakukan di kelas V SDN 03 Kembang Tanjung
Kecamatan Abung Selatan Kabupaten Lampung Utara yang
berjumlah 30 siswa pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
Diperoleh data hasil pembelajaran sebelum dilakukan tindakan
pembelajaran oleh peneliti.
Berdasarkan perolehan dari prosentase ketuntasan belajar
siswa dalam pra siklus masih rendah. Hal tersebut dikarenakan
cara guru dalam mengajar IPA masih menggunakan model
konvensional, dimana metode ceramah masih mendominasi
proses kegiatan pembelajaran. Kurangnya memanfaatkan
sumber pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran,
sehingga pembelajaran menjadi kurang menarik yang berakibat
siswa bosan, tidak aktif, kurang memperhatikan pelajaran, dan
malas mengerjakan tugas yang diberikan guru pada saat
pembelajaran berlangsung.
Hasil belajar siswa pada siklus I dari 25 siswa kelas V
menunjukan hasil pada rentang nilai 90-100 dengan presentase
sebanyak 3,3% atau 1 siswa, 80-89 dengan presentase sebanyak
17% atau 5 siswa, 70-79 dengan presentase sebanyak 36,6%
atau 11 siswa, 4 siswa memperoleh nilai pada rentang nilai 60-69
dengan persentase sebanyak 13%, 2 siswa memperoleh nilai
pada rentang 50-59 dengan persentase sebanyak 7%, 6 siswa
memperoleh nilai pada rentang 40-49 dengan prosentase 20%,
dan terdapat nilai pada rentang 30-39 dengan presentase 3,3%.
Berdasarkan hasil dari pembelajaran pada siklus I kemudian
31
dilanjutkan dengan penyempurnaan guna untuk memperbaiki
proses pembelajaran pada siklus II ini agar terjadi peningkatan
hasil belajar siswa.
Hasil belajar siswa pada siklus II dari 30 siswa kelas V
menunjukan hasil sebaran bahwa ada 13 siswa yang
memperoleh nilai pada rentang nilai 90-100 dengan persentase
sebanyak 4,3%, 10 siswa memperoleh nilai pada rentang nilai
80-89 dengan persentase sebanyak 30%, 2 siswa memperoleh
nilai pada rentang 70-79 dengan persentase sebanyak 7%, 3
siswa memperoleh nilai pada rentang 60-69 dengan persentase
10%, 1 siswa memperoleh nilai pada rentang 50-59 dengan
persentase 3%, dan terdapat 1 siswa memperoleh nilai pada
rentang 40-49 dengan persentase 3%.
B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Berdasarkan paparan hasil penelitian di atas maka dapat di
ketahui peningkatan hasil belajar siswa setelah mengikuti proses
belajar mengajar dengan menerpakan metode eksperimen.
Setelah peneliti melaksanakan tindakan siklus I dan siklus II, hasil
yang diperoleh sangat memuaskan, hal itu ditunjukan melalui
hasil belajar pada siklus I sampai dengan siklus II terjadi
peningkatan ketuntasan belajar siswa dari siklus I, dan pada
siklus II sudah mencapai 100%, dapat diketahui melalui kondisi
awal setelah diadakan siklus I meningkat menjadi 21 siswa yang
memenuhi KKM 60 tetapi setelah diadakan siklus II meningkat
menjadi 25 siswa yang memenuhi KKM 60.
Hasil belajar dipengaruhi oleh proses pembelajaran, ini
berarti pada proses pembelajaran guru perlu melakukan
penilaian untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa.
Keberhasilan proses belajar siswa ditunjukkan oleh kinerja siswa
selama mengikuti proses pembelajaran. Berdasarkan penerapan
32
tindakan pada siklus I dan siklus II dapat dikatakan bahwa
metode eksperimen dapat digunakan sebagai usaha
meningkatkan hasil belajar dalam proses pembelajaran.
Pada penelitian prasiklus jumlah siswa tuntas 10 orang siswa dengan nilai
rata-rata 46,4 dan persentase siswa tuntas sebesar 40%, kemudian dilakukan
penelitian siklus I yang bertujuan untuk meningkatkan hasil penelitian, setelah
dilakukan penelitian maka di dapatkan nilai rata-rata siswa 62,4 dengan jumlah
siswa tuntas sebanyak 20 orang siswa dan persentase siswa tuntas sebesar 80%.
Setelah bermusyawarah dengan teman sejawat untuk meningkatkan hasil belajar
siswa maka diadakan penelitian siklus II dengan hasil nilai rata-rata siswa 73,6
dan jumlah siswa tuntas sebanyak 24 orang siswa dengan persentase siswa tuntas
sebesar 96%. Adapun rekapitulasi hasil penelitian prasiklus, siklus I dan siklus II
dapat dilihat pada tabel berikut.
TABEL
REKAPITULASI HASIL PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
PADA PRASIKLUS, SIKLUS I DAN SIKLUS II
Pra Siklus Siklus
No Nama Siswa
siklus I II
1 Adinda Romadani 60 80 100
2 Anisa Febyola 60 80 80
3 Ahmad Dani 40 60 80
4 Asti Ramadani 40 40 60
5 A. Priyatna Surya 80 80 100
6 Aziz Maulana 60 60 80
7 Dwi Asih 40 60 80
8 Febriyansyah Pratama 60 60 80
9 Gading Witono Waluyo 20 40 60
10 Heri Saputra 40 40 40
11 Lulu Nifisah 60 40 60
12 Mega Kartika Handoyo 20 60 60
13 Melisa Pratiwi 60 80 80
14 M. Risky Ramadani 40 60 80
15 Nabila Azahra 40 60 60
16 Nanda Marsela 60 80 80
33
17 Olga Oktivia 40 40 60
18 Padila Panca Satria 60 80 80
19 Ratu Balqis Aqila 40 60 80
20 Raihan Agung Shiryo 60 80 80
21 Ramadani Mukmin 40 60 80
22 Rizki Akbar Wahyu 20 60 80
23 Wanda Arif Hidayah 40 80 80
24 Yohandi 40 60 60
25 Chelsia Amanda Putri 40 60 60
Jml. Nilai 1160 1560 1840
Jml. Siswa Tuntas 10 20 24
Nilai Rata-Rata 46,4 62,4 73,6
Persentase 40% 80% 96%
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada pra
siklus menunjukkan dari 30 siswa diketahui terdapat 13 siswa
yang mencapai KKM 60 dengan persentase 43% dan 17 siswa
belum tuntas dalam belajarnya dengan persentase 57% dan nilai
rata-rata 58. Dengan melaksanakan perbaikan pembelajaran
melalui siklus I menunjukkan dari 30 siswa diketahui terdapat 21
siswa yang mencapai KKM 60 dengan persentase 70% dan 9
siswa belum tuntas dalam belajarnya dengan persentase 30%
dan nilai rata-rata 65, pada siklus II menunjukkan dari 30 siswa
diketahui terdapat 28 siswa yang mencapai KKM 60dengan
persentase 93% dan 2 siswa belum tuntas dalam belajarnya
dengan persentase 7% dan nilai rata-rata 84. Dari data tersebut
maka penulis dapat menyimpulkan bahwa melalui metode
34
eksperimen penguasaan siswa pada mata pelajaran IPA pokok
bahasan struktur bumi dan matahari di Kelas V SDN 03 Kembang
Tanjung Kecamatan Abung Selatan Kabupaten Lampung Utara
Semester II Tahun Ajaran 2016/2017 dapat ditingkatkan.
B. Saran Tindak Lanjut
Sesuai dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas di
SDN 03 Kembang Tanjung Kecamatan Abung Selatan Kabupaten
Lampung Utara penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Bagi Sekolah hendaknya memberikan kesempatan yang luas
bagi guru untuk mengembangkan kemampuan melalui
seminar maupun pendidikan lanjutan, sehingga guru mampu
melaksanakan pembelajaran dengan baik.
2. Kepada Guru hendaknya tidak ragu-ragu dalam menerapkan
metode eksperimen dan menggunakan media pembelajaran
yang menarik agar siswa dapat belajar secara aktif dan hasil
belajarnya dapat meningkat serta memotivasi siswa,
memfasilitasi belajar, mengorganisasi kelas,
mengembangkan bahan pengajaran, menilai program hasil
pembelajaran, dan memonitor hasil belajar siswa.
3. Bagi Siswa hendaknya selalu berpartisipasi aktif dalam
kegiatan pembelajaran, dan siswa yang belum tuntas belajar
untuk lebih giat lagi dalam belajar agar hasil belajar yang
dicapai dapat meningkat.
35