Asma
Asma
ASMA BRONKIAL
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Stase Keperawatan Medikal Bedah
Dosen Pembimbing:
Disusun Oleh :
Tri Irsa Nirmala Sari
NIM: 252FK04045
HALAMAN SAMPUL................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................
B. Tujuan .........................................................................................
1. Tujuan Umum.........................................................................
2. Tujuan Khusus........................................................................
C. Manfaat .......................................................................................
1. Manfaat Teoritis......................................................................
2. Manfaat Praktis.......................................................................
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Asma.................................................................... 6
1. Definisi................................................................................... 6
2. Anatomi Fisiologi................................................................... 7
3. Etiologi................................................................................... 10
4. Tanda dan Gejala.................................................................... 12
5. Patofisiologi............................................................................ 14
6. Pemeriksaan Diagnostik........................................................ 15
7. Penatalaksanaan Medik........................................................... 16
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan........................................... 16
1. Pengkajian ............................................................................ 16
2. Analisa Data.......................................................................... 20
3. Diagnosa Keperawatan.......................................................... 21
4. Rencana Keperawatan........................................................... 21
5. Implementasi Keperawatan................................................... 22
6. Evaluasi Keperawatan........................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asma merupakan penyakit yang mempunyai menifestasi sangat banyak
bervariasi. Ada yang mungkin bebas dari serangan jangka waktu yang lama ada juga
yang mengalami gejala secara terus - menerus. Pola gejala antar pasien juga
berbeda, ada yang mengalami batuk secara terus menerus pada waktu malam hari,
dan ada juga yang mengalami rasa sesak di dada dan bersin- bersin pada siang
ataupun malam hari. Pada penyakit asma, terjadi inflamasi pada saluran, yang
disebut bronkospasme. Bronkospasme terjadi akibat meningkatnya responsitivitas
otot polos bronkus terhadap adanya rangsangan dari luar, yang disebut alergen.
Alergen yang terhirup masuk kedalam sistem pernafasan akan merangsang otot –
otot di sekeliling saluran pernafasan. Sehingga, menyebabkan penyempitan saluran
pernafasan yang terjadi akibat pengerutan dan tertutupnya saluran nafas karena
dahak yang diproduksi secara berlebihan. Pada waktu yang sama, dahak yang
berlebihan tidak bisa dikeluarkan melalui batuk dan akan mengakibatkan kebersihan
jalan nafas penderita menjadi tidak efektif (Masriadi, 2016).
Asma merupakan jenis penyakit kronis yang bersifat tidak menular. Menurut
world health organization (WHO) penyakit asma merupakan penyakit kronis yang
terjadi pada saluran udara dari paru – paru yang meradang kemudian menyempit.
WHO menyebutkan bahwa penduduk bumi pada tahun 2016 yang mencapai 7,3
milyar diantaranya 235 juta orang yang menderita asma (National Center for Health
Statistics, 2016). Mengacu pada data dari WHO, saat ini ada sekitar 300 juta orang
yang menderita asma di seluruh dunia. Terdapat sekitar 250.000 kematian yang
disebabkan oleh serangan asma setiap tahunnya, dengan jumlah terbanyak di negara
dengan ekonomi rendah-sedang. Prevalensi asma terus meningkat terutama di
negara – negara berkembang akibat perubahan gaya hidup dan peningkatan polusi
udara. Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, melaporkan prevalensi asma di Indonesia
adalah 4,5% dari populasi, dengan jumlah kumulatif kasus asma sekitar 11.179.032.
Asma berpengaruh pada disabilitas dan kematian dini terutama pada anak usia 10-14
tahun dan orang tua usia 75-79 tahun. Diluar usia tersebut kematian dini berkurang
(KEMENKES, 2018).
1
2
Provinsi Jawa Barat memiliki kasus terbesar (7.942 kasus) dan papua
memiliki kasus rawat inap terendah (15 kasus). Pada kasus asma rawat jalan, yang
tertinggi ada di provinsi Jawa Barat (369.180) dan terendah di Papua Barat (31
kasus). Data asma yang bersumber dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS)
mencakup kategori asma dan status asmatikus (Hr et al., 2019). Prevalensi penyakit
asma di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia
tahun 2018 didapatkan prevalensi asma di Indonesia 2,4% dengan kejadian
terbanyak pada perempuan sebesar 2,5%. Prevalensi asma tertinggi terdapat di DI
Yogyakarta (4,59%), Kalimantan Timur (4,0%), dan Bali (3,9%). Obesitas sebagai
salah satu faktor risiko terjadinya asma mempunyai prevalensi yang cukup besar di
Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, tercatat obesitas pada
perempuan dewasa sebesar 32,9%. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017
menyatakan bahwa prevalensi obesitas pada penduduk dewasa sebesar 33,5%.
Sedangkan pada tahun 2018 mengalami sedikit penurunan menjadi 29,3%. Angka
ini bernilai 2 kali lipat persentase obesitas pada laki-laki yaitu sebesar 14,5%.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan secara rinci, maka permasalahan
utama dalam proses pelaksanaan asuhan keperawatan ini adalah mengenai “Asuhan
Keperawatan pada pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan Akibat Asma
Bronkial”.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan Sistem
Pernapasan ; Asma Bronkial di Ruang Rawat Inap RSUD Bedas Tegalluar.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian pada pasien yang mengalami Asma
b. Menentukan masalah dan diagnosa keperawatan pada pasien yang
mengalami Asma
c. Menentukan intervensi keperawatan pada pasien yang mengalami Asma
d. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada pasien yang mengalami
Asma
e. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami
Asma
C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari studi kasus ini, diharapkan dapat memberikan ilmu pengetahuan
khususnya dalam hal asuhan keperawatan pada pasien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan ; Asma Bronkial
2. Manfaat Praktik
a. Bagi Pelayanan Kesehatan
Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukan bagi pelayanan di
masyarakat agar dapat melakukan asuhan keperawatan dengan kasus
Asma dengan baik.
b. Bagi Peneliti
Menjadi masukan dalam pengembangan asuhan keperawatan dengan
Asma
c. Bagi Profesi Kesehatan
4
2. Anatomi Fisiologi
Menurut andarmoyo (2012) anatomi fisiologi pernafasan dibagi atas
beberapa bagian, antara lain:
5
6
b. Tekak = Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan
makanan. Terdapat dibawah dasar tulang tengkorak, dibelakang rongga
hidung dan mulut sebelah dalam ruas tulang leher. Hubungan faring dengan
organ – organ lain ke atas berhubungan dengan rongga hidung, ke depan
berhubugan dengan rongga mulut, ke bawah depan berhubungan dengan
laring, dan ke bawah belakang berhubungan dengan esophagus. Rongga tekak
dibagi dalam tiga bagian:
f. Paru-paru
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari
gelembung-gelembung (gelembung hawa = alveoli). Pembagian paru-paru :
1) paru kanan: terdiri dari 3 lobus, lobus pulmo dekstra superior, lobus media
dan lobus inferior. Masing-masing lobus ini masih terbagi lagi menjadi
belahan- belahan kecil yang disebut segtment. Paru-paru kanan memiliki 10
segtment, 5 buah pada lobus superior, 2 buah pada lobus medialis, dan 3
buah pada lobus inferior.
2) paru kiri: terdiri atas 2 lobus, lobus pulmo sinistra superior, dan lobus
inferior. Paru-paru kiri memiliki 10 segtment, 5 buah pada lobus superior,
dan 5 buah pada lobus inferior.
1) Ventilasi
Proses keluar dan masuknya udara ke dalam paru, serta keluarnya
karbondioksida dari alveoli ke udara luar. Alveoli yang sudah
mengembang tidak dapat mengempis penuh karena masih adanya udara
yang tersisa didalam alveoli yang tidak dapat dikeluarkan walaupun
dengan ekspirasi kuat. Volume udara yang tersisa ini disebut dengan volume
residu. Volume ini penting karena menyediakan O2 dalam alveoli untuk
menghasilkan darah (Guyton & Hall, 2008).
2) Difusi
Proses berpindahnya oksigen dari alveoli ke dalam darah, serta
keluarnya karbondioksida dari darah ke alveoli. Dalam keadaan beristirahan
normal, difusi dan keseimbangan antara O2 di kapiler darah paru dan
alveolus berlangsung kira-kira 0,25 detik dari total waktu kontak selama
0,75 detik. Hal ini menimbulkan kesan bahwa paru normal memiliki cukup
cadangan waktu difusi (Price dan Wilson, 2007).
3) Perfusi
3. Etiologi
Penyebab utama penyakit Asma belum diketahui sampai saat ini. Faktor
risiko paling utama untuk memicu asma adalah kombinasi dari kecenderungan
genetik dengan paparan lingkungan terhadap zat dan partikel yang dihirup
yang dapat memicu reaksi alergi atau mengiritasi saluran udara, seperti:
1. alergen dalam ruangan (misalnya tungau, debu rumah, polusi, dan bulu
hewan peliharaan)
2. alergen luar ruangan (contohnya serbuk sari dan jamur)
3. batuk
9
4. asap rokok
5. iritasi kimia ditempat kerja
1. faktor intrinsik
Yaitu psikologi dapat mencetuskan suatu serangan asma, karena
rangsangan tersebut dapat mengaktivitas sistem parasimpatis yang diaktifkan
oleh emosi rasa takut dan cemas. Karena rangsangan parasimpatis ini juga
dapat mengaktifkan otot polos bronkious, maka apapun yang meningkatkan
aktifitas parasimpatis dapat mencetuskan asma. Dengan demikian dapat
mengalami asma mungkin serangan terjadi akibat gangguan emosi.
2. Kegiatan jasmani
Yaitu asma yang timbul karena bergerak badan atau olahraga terjadi bila
seseorang mengalami gejala – gejala asma selama atau setelah olahraga atau
melakukan gerak badan. Pada saat penderita sedang istirahat, ia bernafas
melalui hidung, udara dipanaskan dan akan menjadi lembab. Saat melakukan
gerak badan pernafasan terjadi melalui mulut, nafasnya semakin cepat dan
volume udara yang dihirup semakin banyak, hal ini lah yang menyebabkan
otot yang peka disaluran pernafasan mengencang sehingga saluran udara
menjadi lebih sempit, yang menyebabkan bernafas menjadilebih sulit sehingga
terjadilah gejala asma.
3. Faktor Ekstrinsik
Yaitu allergen yang merupakan faktor pencetus asma yang sering
dijumpai. Seperti debu, bulu, polusi udara dan sebagainya yang dapat
menimbulakn serangan asma pada penderita yang peka. Dan juga terdapat
pada obat – obatan yang sering mencetus serangan asma adalah reseptor
beta, atau biasanya disebut dengan data beta blocker.
4. Faktor lingkungan
Seperti cuaca yang lembab serta hawa gunung sering mempengaruhi
asma. Atmosfir yang mendadak menjadi dingin sering merupakan faktor
provokatif untuk serangan. Kadang – kadang asma berhubungan dengan satu
musim. Lingkungan lembab yang disertai dengan banyaknya debu rumah atau
berkembanganya virus infeksi saluran pernafasan, merupakan pencetus
serangan asma yang perlu diwaspadai (Hasdianah,2014).
Objektif :
1. Penggunaan otot bantu pernafasan
2. Fase ekspirasi memenjang
3. Pola nafas abnormal (mis. Takipnea, bradipnea, hiperventilasi,
kussmaul, cheyne stoke)
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif :
1) Orthopnea
Objektif :
1. Pernafasan pursed/lip
2. Pernafasan cuping hidung
3. Diameter thorax anterior/posterior meningkat
4. Ventilasi semenit menurun
5. Kapasitas vital menurun
6. Tekanan ekspirasi menurun
7. Tekanan inspriras menurun
8. Ekskursi dada berubah
Gejala asma sering terjadi pada malam atau pagi hari. Gejala yang
ditimbulkan diantaranya batuk – batuk, sesak nafas, bunyi saat bernafas
(wheezing atau mengi), rasa tertekan pada dada, dan gangguan tidur pada
malam hari karena batuk yang berlebihan dan adanya rasa sesak nafas. Gejala
ini bersifat reversibel dan episodik berulang (Brunner & Suddart, 2011). Gejala
asma dapat diperburuk oleh keadaan lingkungan seperti adanya debu, polusi,
asap rokok, bulu binatang, uap kimia, perubahan temperatur, obat (aspirin, beta
– blocker), olahraga berat, infeksi saluran pernafasan, serbuk bunga dan stres.
Gejala asma dapat menjadi lebih buruk akibat adanya komplikasi terhadap asma
tersebut sehingga bertambahnya gejala terhadap distres pernafasan atau yang
lebih dikenal dengan Status Asmaticus (Brunner & Suddart, 2011).
12
Pada pasien asma, keluhan yang sering dirasakan adalah berupa sesak
napas. Sesak yang dialami dikarenakan oleh obstruksi saluran pernapasan akibat
dari hipersensitivitas bronkus terhadap berbagai macam rangsang yang
menyebabkan perubahan struktur patologis yang terjadi seperti spasme otot
polos bronkus, hipersekresi dari bronkus berupa mukus kental dan keputihan,
hiperinflasi alveoli akibat udara terperangkap pada bagian distal tempat
penyumbatan. Patologis anatomis tersebut menyebabkan kesulitan utama yang
dialami oleh pasien asma saat ekspirasi (Bararah 2013). Kesulitan saat
melakukan eskpirasi mengakibatkan penurunan aliran puncak ekspirasi yang
dapat menyebabkan peningkatan dan penumpukan CO2 pada alveolus.
Terjebaknya CO2 dalam alveolus menyebabkan penurunan perbedaan tekanan
parsial alveoli kapiler yang berdampak pada proses difusi. Proses difusi
terganggu akan menyebabkan terjadinya hipoksemia, hipoksia, dan hiperkapnia.
Terjadinya hipoksia akibat hipoksemia akan menyebabkan terjadinya transfer
oksigen ke otot otot menurun sehingga energi akan berkurang. Metabolisme
anaerob akan memproduksi asam laktat yang dapat menyebabkan kelelahan
pada otot pernapasan (Sudoyo, 2010).
Status Asmaticus ditandai dengan adanya suara nafas wheezing, yang
kemudian berlanjut menjadi pernafasan labored (perpanjang ekshalasi),
perbesar vena leher, hipoksemia, respirasi alkalosis, repspirasi sianosis,
dyspnea, kemudian berakhir tachypnea. Namun besarnya obstruksi di bronkus
maka suara wheezing akan menghilang dan akan menjadi pertanda bahaya gagal
pernafasan (Brunner & Suddart, 2011).
5. Patofisiologi
Secara umum, allergen menimbulkan reaksi yang hebat pada mukosa
bronkus yang mengakibatkan kontriksi otot polos, hyperemia, serta sekresi
lender putih yang tebal. Mekanisme reaksi ini telah diketahui 7 dengan baik,
tetapi sangat rumit. Penderita yang telah disensitisasi terhadap satu bentuk
allergen yang spesifik, akan membuat antibody terhadap allergen yang dihirup
tersebut. Antibodi yang merupakan imunoglobin jenis IgE ini kemudian
melekat dipermukaan sel mast pada mukosa bronkus. Sel mast tersebut tidak
lain adalah basofil yang kita gunakan pada saat menghitung leukosit Bila satu
molekul IgE terdapat pada permukaan sel mast menangkap satu permukaan
13
allergen, maka sel mast tersebut akan memisahkan diri dan melepaskan
sejumlah bahan yang menyebabkan kontriksi bronkus. Salah satu contohnya
adalah histamine dan prostaglandin. Pada permukaan sel mast juga terdapat
reseptor beta-2 adrenergik, sedangkan pada jantung mempunyai reseptor beta-1
(Naga, 2012).
Apabila reseptor beta-2 dirangsang dengan obat antiasma salbutamol,
maka pelepasan histamine akan terhalang. Tidak hanya itu, aminofilin obat
antiasma yang sudah terkenal, juga menghalangi pembebasan histamine. Pada
mukosa bronkus dan dalam darah tepi, terdapat banyak eosinofil. Adanya
eosinofil dalam sputum dapat dengan mudah terlihat. Pada mulanya fungsi
eosinofil di dalam sputum tidak dikenal, tetapi baru-baru ini diketahui bahwa
dalam butir-butir granula eosinofil terdapat enzim yang dapat menghancurkan
histamine dan prostaglandin. Jadi eosinofil ini memberikan perlindungan
terhadap serangan asma (Naga, 2012).
6. Pemeriksaan Diagnostik
Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan pada penderita asma
diantaranya (Amin Huda Nurarif & Hardhi Kusuma, 2015) :
a. Spirometer
b. Sputum
Eosinofil meningkat.
c. RO dada
d. AGD
Terjadi pada asma berat, pada fase awal terjadi hipoksemia dan hipokapnia
(PCO2 turun) kemudian pada fase lanjut nomokapnia dan hiperkapnia
(PCO2 naik).
7. Penatalaksanaan Medik
a. Pengumpulan data
Menurut Nuraruf & Kusuma (2015), meliputi :
1) Biodata
Identitas pasien berisikan nama pasien, tempat tanggal lahir, jenis kelamin,
tanggal masuk sakit, rekam medis.
2) Keluhan utama
15
Keluhan utama yang timbul pada klien dengan asma adalah dispnea (sampai
bisa berhari-hari atau berbulan-bulan), batuk, dan mengi (pada beberapa
kasus lebih banyak paroksimal).
Klien dengan asma sering kali didapatkan adanya riwayat penyakit turunan,
tetapi pada beberapa klien lainnya tidak ditemukan adanya penyakit yang
sama pada anggota keluarganya.
5) Pemeriksaan fisik
a) Inspeksi
Dada diobservasi
Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi (I) dan
fase eksifirasi (E). Rasio pada fase ini normalnya 1:2. Fase ekspirasi
16
b) Palpasi
c) Perkusi
Flatness : sangat dullnes. Oleh karena itu, nadanya lebih tinggi. Dapat
terdengar pada perkusi daerah hati, di mana areanya seluruhnya berisi
jaringan. (Nuraruf & Kusuma, 2015)
d) Auskultasi
2. Analisa Data
18
3. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan
napas dan mukus berlebih
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen.
c. Ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan.
d. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya terpapar informasi
4. Rencana Keperawatan
Rencana keperawatan merupakan rencana tindakan yang akan diberikan
kepada klien sesuai dengan kebutuhan berdasarkan diagnosa keperawatan yang
muncul. Rencana keperawatan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia (SIKI, 2018) dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(SLKI,2019).
19
Tabel 1 Rencanaan
Keperawatan
NO DIAGNOSA
SLKI SIKI
KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan napas Setelah dilakukan tindakan asuhan Manajement Asma
tidak efektif keperawatan diharapkan klien mampu Observasi
berhubungan dengan memberikan perawatan kepada anggota 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
hipersekresi jalan napas yang sakit dengan kriteria hasil : 2. Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi,
dan mukus berlebih 1. Batuk efektif meningkat, wheezing, ronkhi)
2. Produksi sputum menurun 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
3. Mengi (wheezing) menurun Terapeutik
4. Frekuensi napas membaik 16-20 kali 1. Pertahankan kepatenan jalan napas
permenit 2. Posisikan semi-fowler atau fowler
5. Dypsnea (sesak napas) membaik 3. Berikan minum hangat
6. Ortopnea (rasa tidak nyaman saat 4. Lakukan fisioterapi dada, jika diperlukan
bernapas sambil berbaring) membaik 5. Lakukan hiperoksigenasi dan berikan oksigen
7. Sianosis membaik Edukasi
8. Gelisah membaik 1. Jelaskan Health Education terkait asma
9. Sulit bicara membaik 2. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari
10. Pola napas membaik 3. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
20
Terapi Relaksasi
Setelah dilakukan tindakan asuhan Observasi
3. Ansietas keperawatan diharapkan klien mampu 1. Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan
berhubungan memberikan perawatan mandiri, dengan berkonsentrasi atau gejala lain yang menggangu
dengan kriteria hasil : kemampuan kognitif
kekhawatiran 1. Kekhawatir akibat kondisi yang 2. Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif
mengalami dihadapi menurun digunakan
kegagalan 2. Perilaku gelisah menurun 3. Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi,tekanan
3. Frekuensi pernapasan membaik darah dan suhu tubuh
4. Frekuensi nadi membaik
5. Tekanan darah membaik Terapeutik
6. Konsentrasi membaik 1. Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan
7. Pola tidur membaik dengan pencahayaan dan suhu ruangan nyaman
2. Anjurkan menggunakan pakaian longgar
3. Gunakan nada suara lembut
4. Gunakan relaksasi sebagai trategi penunjang
dengan analgetik atau tindakan medis lain jika
sesuai
22
Edukasi
g. Jelaskan tujuan, manfaat, b atasan, dan jenis relaksasi
yang tersedia (mis. Musik, meditasi, napas dalam
relaksasi otot progresif)
h. Anjurkan mengambil posisi nyaman
i. Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
j. Anjurkan sering mengulangi atau melatih teknik yang
dipilih
k. Demonstrasikan dan latihan teknik relaksasi (mis. Napas
dalam, peregangan, atau imajinasi termbimbing)
3. Keluhan tidak puas tidur menurun tidur (mis. kopi, teh, alkohol)
4. Istirahat cukup 4. Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
5. Kemampuan beraktivitas meningkat Terapeutik
1. Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, kebisingan,
suhu, matras, dan tempat tidur)
2. Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur
3. Tetapkan Jadwal tidur rutin
4. Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan
(mis. pijat, pengaturan posisi, terapi
akupresur)
5. Sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan
untuk menunjang siklus tidur terjaga
Edukasi
1. Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
2. Anjurkan menepati keblasaan waktu tidur,
3. Anjurkan menghindari makenar/minuman yang
mengganggu tidur
4. Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak
mengandung supresor terhadap tidur REM
5. Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap
gangguan pola tidur (mis. psikologis, gaya
25
5. Implementasi keperawatan
6. Evaluasi keperawatan
Menurut Dion dan Betan (2013) evaluasi keperawatan adalah tahap
akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan sistematis dan
terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kiteria hasil yang
dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan
dengan melibatkan klien dan keluarga. Evaluasi bertujuan untuk melihat
kemamouan keluarga dalam mencapai tujuan. Evaluasi terbagi atas dua jenis,
yaitu:
a. Evaluasi formatif
Evaluasi formatif berfokus pada aktivitas proses keperawatan dan hasil
tindakan keperawatan. Evaluasi ini dilakukan segera setelah perawat
mengimplementasikan rencana keperawatan guna menilai keefektifan
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Perumusan evaluasi
formatif ini meliputi empat komponen yang dikenal dengan istilah
SOAP, yakni subjektif (data berupa keluhan klien), objektif (data
hasilpemeriksaan), analisa data (perbandingan data dengan teori), dan
Planning (perencanaan).
27
b. Evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah semua aktifitas proses
keperawatan selesai dilakukan. Evaluasi sumatif ini bertujuan menilai dan
memonitor kualitas asuhan keperawatan yang telah diberikan. Metode yang
dapat digunakan pada evaluasi jenis ini adalah melakukan wawancara pada
akhir layanan, menanyakan respon pasien dan keluarga terkait layanan
keperawatan, mengadakan pertemuan pada akhir pelayanan
28
DAFTAR PUSTAKA
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed). Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia