0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan31 halaman

Asma

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai asma bronkial yang disusun sebagai tugas Stase Keperawatan Medikal Bedah. Laporan ini mencakup latar belakang, tujuan, manfaat, dan tinjauan teori tentang asma, termasuk definisi, anatomi fisiologi, etiologi, serta manajemen keperawatan untuk pasien dengan gangguan pernapasan akibat asma. Data menunjukkan prevalensi asma yang signifikan di Indonesia dan pentingnya penanganan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Diunggah oleh

Tri Irsa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan31 halaman

Asma

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai asma bronkial yang disusun sebagai tugas Stase Keperawatan Medikal Bedah. Laporan ini mencakup latar belakang, tujuan, manfaat, dan tinjauan teori tentang asma, termasuk definisi, anatomi fisiologi, etiologi, serta manajemen keperawatan untuk pasien dengan gangguan pernapasan akibat asma. Data menunjukkan prevalensi asma yang signifikan di Indonesia dan pentingnya penanganan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Diunggah oleh

Tri Irsa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASMA BRONKIAL

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Stase Keperawatan Medikal Bedah

Dosen Pembimbing:

Disusun Oleh :
Tri Irsa Nirmala Sari
NIM: 252FK04045

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA BANDUNG
TAHUN 2026
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................
B. Tujuan .........................................................................................
1. Tujuan Umum.........................................................................
2. Tujuan Khusus........................................................................
C. Manfaat .......................................................................................
1. Manfaat Teoritis......................................................................
2. Manfaat Praktis.......................................................................
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Asma.................................................................... 6
1. Definisi................................................................................... 6
2. Anatomi Fisiologi................................................................... 7
3. Etiologi................................................................................... 10
4. Tanda dan Gejala.................................................................... 12
5. Patofisiologi............................................................................ 14
6. Pemeriksaan Diagnostik........................................................ 15
7. Penatalaksanaan Medik........................................................... 16
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan........................................... 16
1. Pengkajian ............................................................................ 16
2. Analisa Data.......................................................................... 20
3. Diagnosa Keperawatan.......................................................... 21
4. Rencana Keperawatan........................................................... 21
5. Implementasi Keperawatan................................................... 22
6. Evaluasi Keperawatan........................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Asma merupakan penyakit yang mempunyai menifestasi sangat banyak
bervariasi. Ada yang mungkin bebas dari serangan jangka waktu yang lama ada juga
yang mengalami gejala secara terus - menerus. Pola gejala antar pasien juga
berbeda, ada yang mengalami batuk secara terus menerus pada waktu malam hari,
dan ada juga yang mengalami rasa sesak di dada dan bersin- bersin pada siang
ataupun malam hari. Pada penyakit asma, terjadi inflamasi pada saluran, yang
disebut bronkospasme. Bronkospasme terjadi akibat meningkatnya responsitivitas
otot polos bronkus terhadap adanya rangsangan dari luar, yang disebut alergen.
Alergen yang terhirup masuk kedalam sistem pernafasan akan merangsang otot –
otot di sekeliling saluran pernafasan. Sehingga, menyebabkan penyempitan saluran
pernafasan yang terjadi akibat pengerutan dan tertutupnya saluran nafas karena
dahak yang diproduksi secara berlebihan. Pada waktu yang sama, dahak yang
berlebihan tidak bisa dikeluarkan melalui batuk dan akan mengakibatkan kebersihan
jalan nafas penderita menjadi tidak efektif (Masriadi, 2016).

Asma merupakan jenis penyakit kronis yang bersifat tidak menular. Menurut
world health organization (WHO) penyakit asma merupakan penyakit kronis yang
terjadi pada saluran udara dari paru – paru yang meradang kemudian menyempit.
WHO menyebutkan bahwa penduduk bumi pada tahun 2016 yang mencapai 7,3
milyar diantaranya 235 juta orang yang menderita asma (National Center for Health
Statistics, 2016). Mengacu pada data dari WHO, saat ini ada sekitar 300 juta orang
yang menderita asma di seluruh dunia. Terdapat sekitar 250.000 kematian yang
disebabkan oleh serangan asma setiap tahunnya, dengan jumlah terbanyak di negara
dengan ekonomi rendah-sedang. Prevalensi asma terus meningkat terutama di
negara – negara berkembang akibat perubahan gaya hidup dan peningkatan polusi
udara. Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, melaporkan prevalensi asma di Indonesia
adalah 4,5% dari populasi, dengan jumlah kumulatif kasus asma sekitar 11.179.032.
Asma berpengaruh pada disabilitas dan kematian dini terutama pada anak usia 10-14
tahun dan orang tua usia 75-79 tahun. Diluar usia tersebut kematian dini berkurang
(KEMENKES, 2018).

1
2

Provinsi Jawa Barat memiliki kasus terbesar (7.942 kasus) dan papua
memiliki kasus rawat inap terendah (15 kasus). Pada kasus asma rawat jalan, yang
tertinggi ada di provinsi Jawa Barat (369.180) dan terendah di Papua Barat (31
kasus). Data asma yang bersumber dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS)
mencakup kategori asma dan status asmatikus (Hr et al., 2019). Prevalensi penyakit
asma di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia
tahun 2018 didapatkan prevalensi asma di Indonesia 2,4% dengan kejadian
terbanyak pada perempuan sebesar 2,5%. Prevalensi asma tertinggi terdapat di DI
Yogyakarta (4,59%), Kalimantan Timur (4,0%), dan Bali (3,9%). Obesitas sebagai
salah satu faktor risiko terjadinya asma mempunyai prevalensi yang cukup besar di
Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, tercatat obesitas pada
perempuan dewasa sebesar 32,9%. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017
menyatakan bahwa prevalensi obesitas pada penduduk dewasa sebesar 33,5%.
Sedangkan pada tahun 2018 mengalami sedikit penurunan menjadi 29,3%. Angka
ini bernilai 2 kali lipat persentase obesitas pada laki-laki yaitu sebesar 14,5%.

Manajemen pasien dengan serangan asma diawali dengan menentukan


beratnya serangan. Penilaian awal yang tepat pada pasien akan sangat menentukan
keberhasilan penatalaksanaan serangan asma yang dikerjakan. Penilaian beratnya
serangan asma ini berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan
penunjang berupa tes faal paru serta analisis gas darah. Pada anamnesis juga harus
dicari data mengenai lama dan beratnya keluhan, obat-obatan yang dikonsumsi
sebelumnya, kemungkinan pencetus serangan, serta adanya faktor risiko untuk
terjadinya kematian akibat asma. Pada kasus yang datang ke praktek swasta, maka
penilaian yang tepat sangat penting untuk dilakukan.

Manajemen serangan asma di unit gawat darurat secara umum yang


dipublikasi oleh GINA tahun 2015. Pada algoritma ini, pasien serangan asma sudah
secara tegas dibagi berdasarkan tingkat keparahan serangannya menjadi serangan
sedang atau serangan berat. Pada serangan asma yang berat diberikan penambahan
terapi dengan magnesium intravena dan inhalasi kortikosteroid dosis tinggi.
Pemberian oksigen di IGD ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan saturasi
O2 93-95%.
3

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan secara rinci, maka permasalahan
utama dalam proses pelaksanaan asuhan keperawatan ini adalah mengenai “Asuhan
Keperawatan pada pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan Akibat Asma
Bronkial”.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan Sistem
Pernapasan ; Asma Bronkial di Ruang Rawat Inap RSUD Bedas Tegalluar.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian pada pasien yang mengalami Asma
b. Menentukan masalah dan diagnosa keperawatan pada pasien yang
mengalami Asma
c. Menentukan intervensi keperawatan pada pasien yang mengalami Asma
d. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada pasien yang mengalami
Asma
e. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami
Asma

C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari studi kasus ini, diharapkan dapat memberikan ilmu pengetahuan
khususnya dalam hal asuhan keperawatan pada pasien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan ; Asma Bronkial
2. Manfaat Praktik
a. Bagi Pelayanan Kesehatan
Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukan bagi pelayanan di
masyarakat agar dapat melakukan asuhan keperawatan dengan kasus
Asma dengan baik.
b. Bagi Peneliti
Menjadi masukan dalam pengembangan asuhan keperawatan dengan
Asma
c. Bagi Profesi Kesehatan
4

Sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan dan memberikan


pemahaman yang lebih baik tentang asuhan keperawatan pada kasus
Asma.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Penyakit Asma


1. Definisi
Asma adalah suatu keadaan kondisi paru – paru kronis yang ditandai
dengan kesulitan bernafas, dan menimbulkan gejala sesak nafas, dada terasa
berat, dan batuk terutama pada malam menjelang dini hari. Dimana saluran
pernafasan mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap
rangsangan tertentu, yang menyebabkan penyempitan atau peradangan yang
bersifat sementara (Masriadi, 2016).

Asma merupakan penyakit inflamasi kronik pada jalan nafas dan


dikarakteristikkan dengan hiperresponsivitas, produksi mukus, dan edema
mukosa. Inflamasi ini berkembang menjadi episode gejala asma yang
berkurang yang meliputi batuk, sesak dada, mengi, dan dispnea. Penderita
asma mungkin mengalami periode gejala secara bergantian dan berlangsung
dalam hitungan menit, jam, sampai hari (Brunner & Suddarth, 2017).

Gambar 1 Sistem Pernafasan (sumber : Reece et al, 2010)

2. Anatomi Fisiologi
Menurut andarmoyo (2012) anatomi fisiologi pernafasan dibagi atas
beberapa bagian, antara lain:

5
6

a. Hidung = Naso = Nasal


Merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang yang
disebut kavum nasi dan dipisahkan oleh sekat hidung yang disebut septum
nasi. Didalamnya terdapat bulu-bulu hidung yang berfungsi untuk menyaring
udara, debu dan kotoran yang masuk didalam lubang hidung.

Fungsi hidung, terdiri dari:

1) Sebagai saluran pernafasan.


2) Sebagai penyaring udara yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung.
3) Menghangatkan udara pernafasan malalui mukosa.
4) Membunuh kuman yang masuk melalui leukosit yang ada dalam salaput .

b. Tekak = Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan
makanan. Terdapat dibawah dasar tulang tengkorak, dibelakang rongga
hidung dan mulut sebelah dalam ruas tulang leher. Hubungan faring dengan
organ – organ lain ke atas berhubungan dengan rongga hidung, ke depan
berhubugan dengan rongga mulut, ke bawah depan berhubungan dengan
laring, dan ke bawah belakang berhubungan dengan esophagus. Rongga tekak
dibagi dalam tiga bagian:

1) bagian sebelah atas sama tingginya dengan koana disebut nasofaring.


2) bagian tengah yang sama tingginya dengan itsmus fausium disebut
dengan osofaring.
3) Bagian bawah sekali dinamakan laringofarin mengelilingi mulut,esofagus,
dan laring yang merupakan ngerbang untuk sistem respiratorik selanjutnya.
c. Pangkal Tenggorokan (Faring)
Merupakan saluran udara dan bertindaksebagai pembentukan suara.
Laring (kontak suara) menghubungkan faring dengan trakea. Pada
tenggorokan ini ada epiglotis yaitu katup kartilago tiroid. Saat menelan
epligotis secara otomatis menutupi mulut laring untuk mencegah masuknya
makanan dan cairan.
7

d. Batang Tenggorokkan (Trakea)


Trakea (pipa udara) adalah tuba dengan panjang 10 cm sampai 12 cm
dan diameter 2,5 cm serta terletak di atas permukaan anterior esofagus yang
memisahkan trakhea menjadi bronkhus kiri dan kanan. Trakea dilapisi
epitelium fespiratorik (kolumnar bertingkat dan bersilia) yang mengandung
banyak sel goblet. Sel-sel bersilia ini berfungsi untuk mengeluarkan benda-
benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara saat bernafas.

e. Cabang Tenggorokkan (Bronkhus)


Merupakan kelanjutan dari trakhea, yang terdiri dari dua bagian
bronkhus kanan dan kiri. Bronkus kanan berukuran lebih pendek, lebih tebal,
dan lebih lurus dibandingkan bronkus primer sehingga memungkinkan objek
asing yang masuk ke dalam trakea akan ditempatkan dalam bronkus kanan.
Sedangkan bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping, bronkus bercabang
lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi yang disebut bronkhiolus
(bronkhioli)

f. Paru-paru
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari
gelembung-gelembung (gelembung hawa = alveoli). Pembagian paru-paru :

1) paru kanan: terdiri dari 3 lobus, lobus pulmo dekstra superior, lobus media
dan lobus inferior. Masing-masing lobus ini masih terbagi lagi menjadi
belahan- belahan kecil yang disebut segtment. Paru-paru kanan memiliki 10
segtment, 5 buah pada lobus superior, 2 buah pada lobus medialis, dan 3
buah pada lobus inferior.
2) paru kiri: terdiri atas 2 lobus, lobus pulmo sinistra superior, dan lobus
inferior. Paru-paru kiri memiliki 10 segtment, 5 buah pada lobus superior,
dan 5 buah pada lobus inferior.

Menurut Syaifuddin (2007), fungsi paru adalah tempat pertukaran


gas oksigen dan karbondioksida pada pernafasan melalui paru/pernafasan
eksterna. Tubuh melakukan usaha memenuhi kebutuhan O2 untuk proses
metabolisme dan mengeluarkan CO2 sebagai hasil metabolisme dengan
8

perantara organ paru dan saluran napas bersama kardiovaskuler sehingga


dihasilkan darah yang kaya oksigen. Terdapat 3 tahapan dalam proses
respirasi, yaitu:

1) Ventilasi
Proses keluar dan masuknya udara ke dalam paru, serta keluarnya
karbondioksida dari alveoli ke udara luar. Alveoli yang sudah
mengembang tidak dapat mengempis penuh karena masih adanya udara
yang tersisa didalam alveoli yang tidak dapat dikeluarkan walaupun
dengan ekspirasi kuat. Volume udara yang tersisa ini disebut dengan volume
residu. Volume ini penting karena menyediakan O2 dalam alveoli untuk
menghasilkan darah (Guyton & Hall, 2008).

2) Difusi
Proses berpindahnya oksigen dari alveoli ke dalam darah, serta
keluarnya karbondioksida dari darah ke alveoli. Dalam keadaan beristirahan
normal, difusi dan keseimbangan antara O2 di kapiler darah paru dan
alveolus berlangsung kira-kira 0,25 detik dari total waktu kontak selama
0,75 detik. Hal ini menimbulkan kesan bahwa paru normal memiliki cukup
cadangan waktu difusi (Price dan Wilson, 2007).

3) Perfusi

Yaitu distribusi darah yang telah teroksigenasi di dalam paru untuk


dialirkan ke seluruh tubuh (Siregar & Amalia, 2007).

3. Etiologi

Penyebab utama penyakit Asma belum diketahui sampai saat ini. Faktor
risiko paling utama untuk memicu asma adalah kombinasi dari kecenderungan
genetik dengan paparan lingkungan terhadap zat dan partikel yang dihirup
yang dapat memicu reaksi alergi atau mengiritasi saluran udara, seperti:

1. alergen dalam ruangan (misalnya tungau, debu rumah, polusi, dan bulu
hewan peliharaan)
2. alergen luar ruangan (contohnya serbuk sari dan jamur)
3. batuk
9

4. asap rokok
5. iritasi kimia ditempat kerja

Pemicu lain dapat termasuk udara dingin, kondisi emosional yang


ekstrem seperti kemarahan atau ketakutan, dan latihan fsik. Bahkan obat-
obatan tertentu dapat memicu asma, seperti aspirin dan obat anti inflamasi
non-steroid lainnya, dan beta-blocker (yang digunakan untuk mengobati
tekanan darah tinggi, kondisi jantung, dan migrain). Secara umum, allergen
menimbulkan reaksi yang hebat pada mukosa bronkus yang mengakibatkan
kontriksi otot polos, hyperemia, serta sekresi lender putih yang tebal.
Mekanisme reaksi ini telah diketahui 7 dengan baik, tetapi sangat rumit.
Penderita yang telah disensitisasi terhadap satu bentuk allergen yang spesifik,
akan membuat antibody terhadap allergen yang dihirup tersebut. Antibodi
yang merupakan imunoglobin jenis IgE ini kemudian melekat dipermukaan sel
mast pada mukosa bronkus. Sel mast tersebut tidak lain adalah basofil yang
kita gunakan pada saat menghitung leukosit Bila satu molekul IgE terdapat
pada permukaan sel mast menangkap satu permukaan allergen, maka sel mast
tersebut akan memisahkan diri dan melepaskan sejumlah bahan yang
menyebabkan kontriksi bronkus. Salah satu contohnya adalah histamine dan
prostaglandin. Pada permukaan sel mast juga terdapat reseptor beta-2
adrenergik, sedangkan pada jantung mempunyai reseptor beta-1 (Naga, 2012).

Apabila reseptor beta-2 dirangsang dengan obat antiasma salbutamol,


maka pelepasan histamine akan terhalang. Tidak hanya itu, aminofilin obat
antiasma yang sudah terkenal, juga menghalangi pembebasan histamine. Pada
mukosa bronkus dan dalam darah tepi, terdapat banyak eosinofil. Adanya
eosinofil dalam sputum dapat dengan mudah terlihat. Pada mulanya fungsi
eosinofil di dalam sputum tidak dikenal, tetapi baru-baru ini diketahui bahwa
dalam butir-butir granula eosinofil terdapat enzim yang dapat menghancurkan
histamine dan prostaglandin. Jadi eosinofil ini memberikan perlindungan
terhadap serangan asma (Naga, 2012).

Penyebab penyakit asma ini dibagi menjadi 4 yaitu:


10

1. faktor intrinsik
Yaitu psikologi dapat mencetuskan suatu serangan asma, karena
rangsangan tersebut dapat mengaktivitas sistem parasimpatis yang diaktifkan
oleh emosi rasa takut dan cemas. Karena rangsangan parasimpatis ini juga
dapat mengaktifkan otot polos bronkious, maka apapun yang meningkatkan
aktifitas parasimpatis dapat mencetuskan asma. Dengan demikian dapat
mengalami asma mungkin serangan terjadi akibat gangguan emosi.

2. Kegiatan jasmani
Yaitu asma yang timbul karena bergerak badan atau olahraga terjadi bila
seseorang mengalami gejala – gejala asma selama atau setelah olahraga atau
melakukan gerak badan. Pada saat penderita sedang istirahat, ia bernafas
melalui hidung, udara dipanaskan dan akan menjadi lembab. Saat melakukan
gerak badan pernafasan terjadi melalui mulut, nafasnya semakin cepat dan
volume udara yang dihirup semakin banyak, hal ini lah yang menyebabkan
otot yang peka disaluran pernafasan mengencang sehingga saluran udara
menjadi lebih sempit, yang menyebabkan bernafas menjadilebih sulit sehingga
terjadilah gejala asma.

3. Faktor Ekstrinsik
Yaitu allergen yang merupakan faktor pencetus asma yang sering
dijumpai. Seperti debu, bulu, polusi udara dan sebagainya yang dapat
menimbulakn serangan asma pada penderita yang peka. Dan juga terdapat
pada obat – obatan yang sering mencetus serangan asma adalah reseptor
beta, atau biasanya disebut dengan data beta blocker.

4. Faktor lingkungan
Seperti cuaca yang lembab serta hawa gunung sering mempengaruhi
asma. Atmosfir yang mendadak menjadi dingin sering merupakan faktor
provokatif untuk serangan. Kadang – kadang asma berhubungan dengan satu
musim. Lingkungan lembab yang disertai dengan banyaknya debu rumah atau
berkembanganya virus infeksi saluran pernafasan, merupakan pencetus
serangan asma yang perlu diwaspadai (Hasdianah,2014).

4. Tanda dan Gejala


11

Gejala dan tanda mayor


Subjektif :
1. Dispnea

Objektif :
1. Penggunaan otot bantu pernafasan
2. Fase ekspirasi memenjang
3. Pola nafas abnormal (mis. Takipnea, bradipnea, hiperventilasi,
kussmaul, cheyne stoke)
Gejala dan Tanda Minor

Subjektif :

1) Orthopnea
Objektif :
1. Pernafasan pursed/lip
2. Pernafasan cuping hidung
3. Diameter thorax anterior/posterior meningkat
4. Ventilasi semenit menurun
5. Kapasitas vital menurun
6. Tekanan ekspirasi menurun
7. Tekanan inspriras menurun
8. Ekskursi dada berubah
Gejala asma sering terjadi pada malam atau pagi hari. Gejala yang
ditimbulkan diantaranya batuk – batuk, sesak nafas, bunyi saat bernafas
(wheezing atau mengi), rasa tertekan pada dada, dan gangguan tidur pada
malam hari karena batuk yang berlebihan dan adanya rasa sesak nafas. Gejala
ini bersifat reversibel dan episodik berulang (Brunner & Suddart, 2011). Gejala
asma dapat diperburuk oleh keadaan lingkungan seperti adanya debu, polusi,
asap rokok, bulu binatang, uap kimia, perubahan temperatur, obat (aspirin, beta
– blocker), olahraga berat, infeksi saluran pernafasan, serbuk bunga dan stres.
Gejala asma dapat menjadi lebih buruk akibat adanya komplikasi terhadap asma
tersebut sehingga bertambahnya gejala terhadap distres pernafasan atau yang
lebih dikenal dengan Status Asmaticus (Brunner & Suddart, 2011).
12

Pada pasien asma, keluhan yang sering dirasakan adalah berupa sesak
napas. Sesak yang dialami dikarenakan oleh obstruksi saluran pernapasan akibat
dari hipersensitivitas bronkus terhadap berbagai macam rangsang yang
menyebabkan perubahan struktur patologis yang terjadi seperti spasme otot
polos bronkus, hipersekresi dari bronkus berupa mukus kental dan keputihan,
hiperinflasi alveoli akibat udara terperangkap pada bagian distal tempat
penyumbatan. Patologis anatomis tersebut menyebabkan kesulitan utama yang
dialami oleh pasien asma saat ekspirasi (Bararah 2013). Kesulitan saat
melakukan eskpirasi mengakibatkan penurunan aliran puncak ekspirasi yang
dapat menyebabkan peningkatan dan penumpukan CO2 pada alveolus.
Terjebaknya CO2 dalam alveolus menyebabkan penurunan perbedaan tekanan
parsial alveoli kapiler yang berdampak pada proses difusi. Proses difusi
terganggu akan menyebabkan terjadinya hipoksemia, hipoksia, dan hiperkapnia.
Terjadinya hipoksia akibat hipoksemia akan menyebabkan terjadinya transfer
oksigen ke otot otot menurun sehingga energi akan berkurang. Metabolisme
anaerob akan memproduksi asam laktat yang dapat menyebabkan kelelahan
pada otot pernapasan (Sudoyo, 2010).
Status Asmaticus ditandai dengan adanya suara nafas wheezing, yang
kemudian berlanjut menjadi pernafasan labored (perpanjang ekshalasi),
perbesar vena leher, hipoksemia, respirasi alkalosis, repspirasi sianosis,
dyspnea, kemudian berakhir tachypnea. Namun besarnya obstruksi di bronkus
maka suara wheezing akan menghilang dan akan menjadi pertanda bahaya gagal
pernafasan (Brunner & Suddart, 2011).

5. Patofisiologi
Secara umum, allergen menimbulkan reaksi yang hebat pada mukosa
bronkus yang mengakibatkan kontriksi otot polos, hyperemia, serta sekresi
lender putih yang tebal. Mekanisme reaksi ini telah diketahui 7 dengan baik,
tetapi sangat rumit. Penderita yang telah disensitisasi terhadap satu bentuk
allergen yang spesifik, akan membuat antibody terhadap allergen yang dihirup
tersebut. Antibodi yang merupakan imunoglobin jenis IgE ini kemudian
melekat dipermukaan sel mast pada mukosa bronkus. Sel mast tersebut tidak
lain adalah basofil yang kita gunakan pada saat menghitung leukosit Bila satu
molekul IgE terdapat pada permukaan sel mast menangkap satu permukaan
13

allergen, maka sel mast tersebut akan memisahkan diri dan melepaskan
sejumlah bahan yang menyebabkan kontriksi bronkus. Salah satu contohnya
adalah histamine dan prostaglandin. Pada permukaan sel mast juga terdapat
reseptor beta-2 adrenergik, sedangkan pada jantung mempunyai reseptor beta-1
(Naga, 2012).
Apabila reseptor beta-2 dirangsang dengan obat antiasma salbutamol,
maka pelepasan histamine akan terhalang. Tidak hanya itu, aminofilin obat
antiasma yang sudah terkenal, juga menghalangi pembebasan histamine. Pada
mukosa bronkus dan dalam darah tepi, terdapat banyak eosinofil. Adanya
eosinofil dalam sputum dapat dengan mudah terlihat. Pada mulanya fungsi
eosinofil di dalam sputum tidak dikenal, tetapi baru-baru ini diketahui bahwa
dalam butir-butir granula eosinofil terdapat enzim yang dapat menghancurkan
histamine dan prostaglandin. Jadi eosinofil ini memberikan perlindungan
terhadap serangan asma (Naga, 2012).

6. Pemeriksaan Diagnostik
Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan pada penderita asma
diantaranya (Amin Huda Nurarif & Hardhi Kusuma, 2015) :

a. Spirometer

Dilakukan sebelum dan sesudah bronkodilator hirup (nebulizer / inhaler),

b. Sputum

Eosinofil meningkat.

c. RO dada

yaitu patologis paru/ komplikasi asma.

d. AGD

Terjadi pada asma berat, pada fase awal terjadi hipoksemia dan hipokapnia
(PCO2 turun) kemudian pada fase lanjut nomokapnia dan hiperkapnia
(PCO2 naik).

e. Uji alergi kulit, IgE.


14

7. Penatalaksanaan Medik

Menurut (Bruner & Suddarth, 2017) yaitu :

a. Agonis adrenergik – beta 2 kerja –pendek.


b. Antikolinergik.
c. Kortikosteroid : inhaler dosis – terukur (MDI)
d. Inhibitor pemodifikasi leukotrien / antileukotrien.
e. Metilxatin.
Penatalaksanaan non farmakologis menurut (BTS,2014; GINA,2015)
a. Berhenti merokok.
b. Aktifitas fisik secara teratur.
c. Mencegah paparan alergen ditempat kerja, di dalam maupun di luar
ruangan.
d. Mencegah penggunaan obat yang dapat memperberat asma.
e. Tekinik pernapasan yang benar (Breathing Exercise, yoga dan senam
asma).
f. Diet sehat dan menurunkan berat badan.
g. Mengatasi sres emosional.
h. Imunoterapi allergen

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan
untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien, agar dapat
mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan
keperawatan pasien, baik fisik, mental, sosial dan dalam lingkungan menurut
(Dermawan, 2016) adalah :

a. Pengumpulan data
Menurut Nuraruf & Kusuma (2015), meliputi :

1) Biodata
Identitas pasien berisikan nama pasien, tempat tanggal lahir, jenis kelamin,
tanggal masuk sakit, rekam medis.
2) Keluhan utama
15

Keluhan utama yang timbul pada klien dengan asma adalah dispnea (sampai
bisa berhari-hari atau berbulan-bulan), batuk, dan mengi (pada beberapa
kasus lebih banyak paroksimal).

3) Riwayat Kesehatan Dahulu

Terdapat data yang menyatakan adanya faktor prediposisi timbulnya


penyakit ini, di antaranya adalah riwayat alergi dan riwayat penyakit saluran
nafas bagian bawah (rhinitis, utikaria, dan eskrim).

4) Riwayat Kesehatan Keluarga

Klien dengan asma sering kali didapatkan adanya riwayat penyakit turunan,
tetapi pada beberapa klien lainnya tidak ditemukan adanya penyakit yang
sama pada anggota keluarganya.

5) Pemeriksaan fisik

a) Inspeksi

 Pemeriksaan dada dimulai dari torak posterior, klien pada posisi


duduk

 Dada diobservasi

 Tindakan dilakukan dari atas (apeks) sampai kebawah

 Inspeksi torak posterior, meliputi warna kulit dan kondisinya, lesi,


massa, dan gangguan tulang belakang, seperti kifosis, skoliosis, dan
lordosis.

 Catat jumlah, irama, kedalaman pernapasan, dan kesimetrisan


pergerakkan dada.

 Observasi tipe pernapasan, seperti pernapasan hidung pernapasan


diafragma, dan penggunaan otot bantu pernapasan.

 Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi (I) dan
fase eksifirasi (E). Rasio pada fase ini normalnya 1:2. Fase ekspirasi
16

yang memanjang menunjukkan adanya obstruksi pada jalan napas


dan sering ditemukan pada klien Chronic Airflow Limitation (CAL) /
Chornic obstructive Pulmonary Diseases (COPD)

 Kelainan pada bentuk dada

 Observasi kesimetrisan pergerakkan dada. Gangguan pergerakan atau


tidak adekuatnya ekspansi dada mengindikasikan penyakit pada paru
atau pleura

 Observasi trakea abnormal ruang interkostal selama inspirasi, yang


dapat mengindikasikan obstruksi jalan nafas.

b) Palpasi

 Dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan


mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasikan keadaan kulit, dan
mengetahui vocal/ tactile premitus (vibrasi)

 Palpasi toraks untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat


inspeksi seperti : massa, lesi, bengkak.

 Vocal premitus, yaitu gerakan dinding dada yang dihasilkan ketika


berbicara(Nuraruf & Kusuma, 2015)

c) Perkusi

Suara perkusi normal :

 Resonan (sonor) : bergaung, nada rendah. Dihasilkan pada jaringan paru


normal.

 Dullnes : bunyi yang pendek serta lemah, ditemukan diatas bagian


jantung, mamae, dan hati

 Timpani : musical, bernada tinggi dihasilkan di atas perut yang berisi


udara

 Hipersonan (hipersonor) : berngaung lebih rendah dibandingkan dengan


resonan dan timbul pada bagian paru yang berisi darah.
17

 Flatness : sangat dullnes. Oleh karena itu, nadanya lebih tinggi. Dapat
terdengar pada perkusi daerah hati, di mana areanya seluruhnya berisi
jaringan. (Nuraruf & Kusuma, 2015)

d) Auskultasi

 Merupakan pengkajian yang sangat bermakna, mencakup


mendengarkan bunyi nafas normal, bunyi nafas tambahan (abnormal).

 Suara nafas abnormal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui


jalan nafas dari laring ke alveoli, dengan sifat bersih.

 Suara nafas normal meliputi bronkial, bronkovesikular dan vesikular.

 Suara nafas tambahan meliputi wheezing : peural friction rub, dan


crackles.(Nuraruf & Kusuma, 2015)

2. Analisa Data
18

Gambar 2 Sumber : Dilruba Umi, 2017

3. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan
napas dan mukus berlebih
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen.
c. Ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan.
d. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya terpapar informasi

4. Rencana Keperawatan
Rencana keperawatan merupakan rencana tindakan yang akan diberikan
kepada klien sesuai dengan kebutuhan berdasarkan diagnosa keperawatan yang
muncul. Rencana keperawatan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia (SIKI, 2018) dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(SLKI,2019).
19

Tabel 1 Rencanaan
Keperawatan

NO DIAGNOSA
SLKI SIKI
KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan napas Setelah dilakukan tindakan asuhan Manajement Asma
tidak efektif keperawatan diharapkan klien mampu Observasi
berhubungan dengan memberikan perawatan kepada anggota 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
hipersekresi jalan napas yang sakit dengan kriteria hasil : 2. Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi,
dan mukus berlebih 1. Batuk efektif meningkat, wheezing, ronkhi)
2. Produksi sputum menurun 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
3. Mengi (wheezing) menurun Terapeutik
4. Frekuensi napas membaik 16-20 kali 1. Pertahankan kepatenan jalan napas
permenit 2. Posisikan semi-fowler atau fowler
5. Dypsnea (sesak napas) membaik 3. Berikan minum hangat
6. Ortopnea (rasa tidak nyaman saat 4. Lakukan fisioterapi dada, jika diperlukan
bernapas sambil berbaring) membaik 5. Lakukan hiperoksigenasi dan berikan oksigen
7. Sianosis membaik Edukasi
8. Gelisah membaik 1. Jelaskan Health Education terkait asma
9. Sulit bicara membaik 2. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari
10. Pola napas membaik 3. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
20

f. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,atau


mukolitik

Intoleransi Setelah dilakukan tindakan asuhan Manajemen Energi


2.
aktivitas keperawatan diharapkan klien mampu Observasi
berhubungan mengambil keputusan untuk melakukan 1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang
dengan tindakan yang tepat, dengan kriteria hasil : mengakibatkan kelelahan
kelemahan, 1. Kemudahan dalam melakukan 2. Monitor kelelahan fisik dan emosional
ketidakseimbanga aktivitas meningkat 3. Monitor pola dan jam tidur
n antara suplai dan 2. Dispnea saat/setelah aktivitas menurun 4. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama
kebutuhan oksigen 3. Perasaan lemah menurun melakukan aktivitas
4. Tekanan darah membaik Terapeutik
5. Frekuensi napas membaik 1. Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus
2. Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
3. Berikan fasilitas duduk disisi tempat tidur, jika tidak
dapat berpindah atau berjalan
4. Berikan aktivitas distraksi yang
menenangkan
Edukasi
1. Anjurkan tirah baring
2. Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
3. Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan
21

gejala kelelahan tidak berkurang

Terapi Relaksasi
Setelah dilakukan tindakan asuhan Observasi
3. Ansietas keperawatan diharapkan klien mampu 1. Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan
berhubungan memberikan perawatan mandiri, dengan berkonsentrasi atau gejala lain yang menggangu
dengan kriteria hasil : kemampuan kognitif
kekhawatiran 1. Kekhawatir akibat kondisi yang 2. Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif
mengalami dihadapi menurun digunakan
kegagalan 2. Perilaku gelisah menurun 3. Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi,tekanan
3. Frekuensi pernapasan membaik darah dan suhu tubuh
4. Frekuensi nadi membaik
5. Tekanan darah membaik Terapeutik
6. Konsentrasi membaik 1. Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan
7. Pola tidur membaik dengan pencahayaan dan suhu ruangan nyaman
2. Anjurkan menggunakan pakaian longgar
3. Gunakan nada suara lembut
4. Gunakan relaksasi sebagai trategi penunjang
dengan analgetik atau tindakan medis lain jika
sesuai
22

Edukasi
g. Jelaskan tujuan, manfaat, b atasan, dan jenis relaksasi
yang tersedia (mis. Musik, meditasi, napas dalam
relaksasi otot progresif)
h. Anjurkan mengambil posisi nyaman
i. Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
j. Anjurkan sering mengulangi atau melatih teknik yang
dipilih
k. Demonstrasikan dan latihan teknik relaksasi (mis. Napas
dalam, peregangan, atau imajinasi termbimbing)

Edukasi Perilaku Upaya Kesehatan


Setelah dilakukan asuhan keperawatan Observasi
4. Defisit Pengetahuan diharapkan tingkat pengetahuan pasien 1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima
berhubungan meningkat dengan kriteria hasil : informasi Terapeutik
dengan kurangnya 1. Perilaku sesuai anjuran meningkat 2. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
terpapar informasi 2. Kemampuan menjelaskan 3. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
pengetahuan tentang suatu topik 4. Berikan kesempatan untuk bertanya
meningkat 5. Gunakan variasi mode pembelajaran
3. Kemampuan menggambarkan 6. Gunakan pendekatan promosi kesehatan dengan
23

pengalaman sebelumnya yang sesuai memperhatikan pengaruh dan hambatan dari


dengan topik meningkat lingkungan, sosial serta budaya.
4. Perilaku sesuia dengan pengetahuan 7. Berikan pujian dan dukungan terhadap usaha positif
meingkat dan pencapaiannya
5. Pertanyaan tentang masalah yang Edukasi
dihadapi menurun 1. Jelaskan penanganan masalah kesehatan
6. Presepsi yang keliru terhadap masalah 2. Informasikan sumber yang tepat yang tersedia di
menurun masyarakat
3. Anjurkan menggunakan fasilitas kesehatan
4. Anjurkan menentukan perilaku spesifik yang akan
diubah (mis. keinginan mengunjungi fasilitas
kesehatan)
5. Ajarkan mengidentifikasi tujuan yang akan dicapai
6. Ajarkan program kesehatan dalam kehidupan sehari
hari

Setelah dilakukan asuhan keperawatan Observasi


5.
Gangguan Pola diharapkan kualitas dan kuantitas tidur 1. Identifikasi pola aktivitas dan tidur
Tidur berhubungan pasien adekuat dengan kriteria hasil : 2. Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau
dengan 1. Keluhan sulit tidur menurun psikologis)
dypsnea/sesak dan 2. Keluhan sering terjaga menurun 3. Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu
batuk
24

3. Keluhan tidak puas tidur menurun tidur (mis. kopi, teh, alkohol)
4. Istirahat cukup 4. Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
5. Kemampuan beraktivitas meningkat Terapeutik
1. Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, kebisingan,
suhu, matras, dan tempat tidur)
2. Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur
3. Tetapkan Jadwal tidur rutin
4. Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan
(mis. pijat, pengaturan posisi, terapi
akupresur)
5. Sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan
untuk menunjang siklus tidur terjaga
Edukasi
1. Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
2. Anjurkan menepati keblasaan waktu tidur,
3. Anjurkan menghindari makenar/minuman yang
mengganggu tidur
4. Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak
mengandung supresor terhadap tidur REM
5. Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap
gangguan pola tidur (mis. psikologis, gaya
25

hidup, sering berubah shift bekerja)


6. Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara
nonfarmakologi lainnya
26

5. Implementasi keperawatan

Pelaksanaan keperawatan adalah pemberian asuhan keperawatan yang


dilakukan secara langsung kepada pasien. Kemampuan yang harus dimiliki
perawat pada tahap implementasi adalah kemampuan komunikasi yang
efektif, kemampuan untuk menciptakan hubungan saling percaya dan saling
membantu, kemampuan teknik psikomotor, kemampuan melakukan
observasi sistematis, kemampuan memberikan pendidikan kesehatan,
kemampuan advokasi dan evaluasi. Tahap pelaksanaan keperawatan
meliputi: fase pesiapan (preparation), tindakan dan dokumentasi.

6. Evaluasi keperawatan
Menurut Dion dan Betan (2013) evaluasi keperawatan adalah tahap
akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan sistematis dan
terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kiteria hasil yang
dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan
dengan melibatkan klien dan keluarga. Evaluasi bertujuan untuk melihat
kemamouan keluarga dalam mencapai tujuan. Evaluasi terbagi atas dua jenis,
yaitu:

a. Evaluasi formatif
Evaluasi formatif berfokus pada aktivitas proses keperawatan dan hasil
tindakan keperawatan. Evaluasi ini dilakukan segera setelah perawat
mengimplementasikan rencana keperawatan guna menilai keefektifan
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Perumusan evaluasi
formatif ini meliputi empat komponen yang dikenal dengan istilah
SOAP, yakni subjektif (data berupa keluhan klien), objektif (data
hasilpemeriksaan), analisa data (perbandingan data dengan teori), dan
Planning (perencanaan).
27

b. Evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah semua aktifitas proses
keperawatan selesai dilakukan. Evaluasi sumatif ini bertujuan menilai dan
memonitor kualitas asuhan keperawatan yang telah diberikan. Metode yang
dapat digunakan pada evaluasi jenis ini adalah melakukan wawancara pada
akhir layanan, menanyakan respon pasien dan keluarga terkait layanan
keperawatan, mengadakan pertemuan pada akhir pelayanan
28

DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo, Sulistyo. (2012). Kebutuhan dasar Manusia


(Oksigenasi). Tangerang : Graha Ilmu.

Brunner et al. 2011. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :


Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Brunner et al. 2017. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Buku


Kedokteran EGC.

Dion et al. (2013). Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep dan


Praktik. Yogyakarta : Nuha Salemba
Friedman, M. M., 2013. Buku ajaran Keperawatan Keluarga Riset Teori
dan Praktik. Edisi 5. Jakarta: EGC.

Harmoko. 2012. Asuhan Keperawatan Keluarga. Penerbit: Pustaka


Belajar.
Yogyakarta

Harnilawati. 2013. Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Sulawesi:


Penerbit Pustaka As Salam.

Hr, et al. (2019). Di indonesia.


KEMENKES, R. (2018). Asma penting diwaspadai (never too early never
too late).

Naga. 2012. Buku Panduan Lengkap Ilmu Penyakit Dalam. Jogjakarta :


Diva Press

Nurarif, et al. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis dan NANDA NIC NOC JILID 1. Yogyakarta : MediAction.

Padila.(2012). Buku Ajar: Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Nuha medika.


Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2018). Badan Penelitian dan
Pengembangan

Kesehatan Kementerian RI tahun 2018.


29

Suprajitno. 2012. Asuhan Keperawatan Keluarga Aplikasi dalam Praktik.


Jakarta

: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Stuart,G.W.,Sundden, S. J. (2014). Buku Saku Keperawatan Jiwa (5th


ed.).EGC. Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosa
Keperawatan Indonesia:

Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed). Jakarta: Dewan Pengurus


Pusat PPNI.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan


Indonesia.

Definisi dan Tindakan Keperawatan (1st ed). Jakarta:Dewan


Pengurus pusat PPNI.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed). Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Anda mungkin juga menyukai