0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan12 halaman

Journal

Dokumen ini membahas perancangan ulang jembatan girder komposit kelas A di Rantau Bakula, Kabupaten Banjar, untuk mendukung kendaraan dengan beban lebih besar. Analisis beban meliputi berbagai faktor seperti beban mati, beban hidup, dan gaya gempa, dengan metode perancangan mengacu pada standar RSNI. Hasil perancangan mencakup spesifikasi struktur atas dan bawah jembatan, termasuk dimensi dan material yang digunakan.

Diunggah oleh

Riyan Noor Cahyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan12 halaman

Journal

Dokumen ini membahas perancangan ulang jembatan girder komposit kelas A di Rantau Bakula, Kabupaten Banjar, untuk mendukung kendaraan dengan beban lebih besar. Analisis beban meliputi berbagai faktor seperti beban mati, beban hidup, dan gaya gempa, dengan metode perancangan mengacu pada standar RSNI. Hasil perancangan mencakup spesifikasi struktur atas dan bawah jembatan, termasuk dimensi dan material yang digunakan.

Diunggah oleh

Riyan Noor Cahyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERANCANGAN ULANG JEMBATAN GIRDER KOMPOSIT KELAS A (STUDI

KASUS JEMBATAN GIRDER KOMPOSIT KELAS C+) RANTAU BAKULA,


KABUPATEN BANJAR

Riyan Noor Cahyo, Dr. Ir. Syahril Taufik, [Link]

Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Lambung


Mangkurat
Jalan Jenderal A. Yani Km. 36
Banjarbaru
Telp. (0511) 47738568-4781730 Fax. (0511)
4781730 email: ryannc.2010@[Link]

ABSTRA
K

Pada desa Rantau Bakula terdapat jembatan yang konstruksi utamanya yaitu girder
komposit. Dikarenakan kondisi jembatan yang ada dirasa tidak di desain untuk kendaraan
dengan beban muatan yang besar maka dilakukan perancangan ulang jembatan girder komposit
dengan bentang 25 m dan lebar jembatan 9 m.
Pada perencanaan ini akan dilakukan analisis beban meliputi: berat sendiri, beban mati
tambahan (berat aspal dan genangan air hujan), beban lajur “D”, beban hidup pedestrian, gaya
rem, beban truk “T”, beban angin dan beban gempa. Metode pembebanan mengacu pada
Standar Pembebanan Untuk Jembatan RSNI T-02-2005 sedangkan metode perancangan struktur
jembatan komposit mengacu pada RSNI T-03-2005 Perencanaan Struktur Baja Untuk Jembatan
dan SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Baja.
Dari hasil perencanaan diperoleh tulangan pada trotoar menggunakan tulangan pokok D
13 – 150 mm dengan tulangan geser D 13 – 90 mm. Gelagar utama digunakan profil WF 900 x
300 x 16 x 32 dan diafragma WF 400 x 200 x 8 x 13, shear connector digunakan stud dengan
ukuran 12 x 190 mm. Sambungan antar gelagar menggunakan baut dengan diameter 20 mm.
Abutment memiliki tinggi 2,75 m dan panjang 10 m. Dan Digunakan pondasi sumuran
berjumlah 2 buah dengan panjang 2 meter dan diameter 3,5 m.

Kata kunci: Rantau Bakula, Jembatan, girder komposit, abutment, sumuran.

1. PENDAHULUAN Selatan) LS. Pada Kecamatan Sungai


Pinang terdapat Desa Rantau Bakula
1.1 Latar Belakang yang mana disana terdapat jembatan
Kecamatan Sungai Pinang yang menghubungkan Desa Rantau
merupakan salah satu kecamatan di Bakula dengan Desa Belimbing. Di Desa
Kabupaten Banjar. Secara geografis Belimbing itu sendiri terdapat
Kecamatan Sungai Pinang terletak di perkebunan sawit dan tambang batubara.
115° 7’ 50” – 115° 5’ 43” (Bujur Timur) Jembatan yang ada itu sepanjang 25 m
BT dan 3° 9’ 34” – 3° 17’ 58” (Lintang dengan menggunakan konstruksi girder
komposit kelas C+ yang digunakan
1
masyarakat untuk sarana berbagai konstruksi yang sama tetapi dengan kelas
aktifitas sehari – hari tetapi tidak untuk A. Jembatan yang dirancang ulang ini
aktifitas perkebunan sawit dan tambang memiliki beberapa keunggulan yaitu bisa
batubara karena jembatan yang ada tidak di lewati kendaraan dengan beban yang
dirancang untuk sarana tersebut. lebih besar dari yang direncanakan
Untuk perancangan ini akan sebelumnya. Untuk struktur bawah
dirancang ulang dengan menggunakan menggunakan pondasi sumuran karena
kedalaman tanah kerasnya < 6 m.

2
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas
dalam perancangan ini adalah sebagai
berikut :
1. Perancangan ulang jembatan Rantau
Bakula dengan girder komposit
menggunakan profil yang berbeda. 2.2 Material
2. Perhitungan volume konstruksi Material yang akan digunakan pada
jembatan Rantau Bakula hasil desain perancangan ini mengambil asumsi
ulang. penggunaan material yang umum digunakan
untuk perencanaan jembatan dan memenuhi
1.3 Tujuan Perancangan syarat perencanaan struktur beton untuk
Tujuan perancangan ini adalah jembatan.
sebagai berikut : Mutu Baja = BJ 55
1. Merancang ulang struktur atas dan Mutu Beton (f’c) = 35 MPa
struktur bawah jembatan Rantau Bakula Berat Jenis Beton (Wc) = 2500 kg/m3
berdasarkan peraturan RSNI T-02-2005 Modulus Elastis (Ec) = 27805,575 MPa
Pembebanan untuk Jembatan,RSNI T-
03-2005 Struktur Baja untuk Jembatan 2.3 Data Penyelidikan Tanah
dan RSNI T-12-2004 Struktur Beton Penyelidikan lapangan berupa data
untuk Jembatan yang sesuai kondisi sondir pada dua titik. Hasil sondir
serta situasi daerah bersangkutan. didapatkan tahanan konus 250 kg/cm2 pada
2. Mendapatkan volume dari alternative kedalaman 4,40 m dan 5,20 m, dengan
perancangan jembatan pada struktur atas jumlah hambatan pelekat (JHP) 281,40
dan struktur bawah. kg/cm dan 349,60 kg/cm.
1.4 Batasan Masalah 3. METODE PERANCANGAN
1. Rangka jembatan dirancang dengan 3.1 Tahapan Perancangan
bahan konstruksi yang terbuat dari baja
dan lantai kendaraan terbuat dari beton
bertulang.
2. Perancangan struktur atas jembatan.
3. Perancangan struktur bawah jembatan.
4. Tidak merencanakan metode
pelaksanaan jembatan.
5. Panjang jembatan yang akan dirancang
ulang yaitu sepanjang 25 m.
6. Lebar jembatan yang akan dirancang
ulang yaitu 1 + 7 + 1 m (kelas A).
7. Perencanaan lapis perkerasan dan
drainase tidak diperhitungkan.

2. DATA PERANCANGAN
2.1 Dimensi Bangunan
Dimensi jembatan yang
direncanakan dapat dilihat pada Tabel 2.1 :
3
3.2.1 Beban Primer
Beban primer terdiri dari :
a. Berat sendiri
b. Beban mati tambahan
c. Pengaruh penyusutan dan
rangkak
d. Tekanan tanah
3.2.2 Beban Lalulintas
Beban lalulintas terdiri dari :
a. Beban lajur “D”
b. Beban truk “T”
c. Gaya rem
d. Pembebanan untuk pedestrian
3.2.3 Beban Sekunder
Beban sekunder terdiri dari :
a. Beban Angin
b. Gaya akibat perbedaan suhu
c. Gaya akibat gempa

3.3 Struktur Atas Jembatan


3.3.1 Pelat Lantai Kendaraan
a. Pembebanan pelat lantai
kendaraan
Menurut standar pembebanan
untuk jembatan,pembebanan
pelat lantai kendaraan meliputi :
1. Beban hidup
2. Beban mati
b. Penulangan pelat lantai
kendaraan
1. Tinggi efektif
d=h−s−0 , 5 x ϕtp
2. Momen akibat beban
berfaktor
Mu=¿deadload) + ¿liveload)
3. Penulangan pelat lantai
kendaraan
Mu
Mn=
0 ,8
'
Gambar 3.1 Diagram Alir Perencanaan 0 , 85 x f c x a x b
As '=
As
3.2 Pembebanan Jembatan Astulangan x 1000
s=
Beban dan gaya bekerja pada As
jembatan dihitung berdasarkan Standar 3.3.2 Rangka Baja
Pembebanan untuk Jembatan RSNI T-02- a. Komponen struktur tarik
2005. Ada 3 macam keruntuhan
4
yang munkin terjadi : serat atas/bawah slab beton
1. Leleh M . Yca
fca=
2. Fraktur leleh n. Itr
3. Geser Blok M . Ycb
fca=
b. Komponen struktur tekan n. Itr
Syarat desain komponen b. Tegangan lentur tarik yang terjadi pada
struktur tekan : Nu < ϕc x Nn serat atas/bawah profil baja
M . Yts
fsa=
3.3.3 Gelagar Memanjang n . Itr
Syarat desain : ϕMn > Mu M . Ybs
1. Badan fsa=
n . Itr
H = d – 2 (tf + r)
h 1680 3.4 Struktur Bawah Jembatan

tw √ ❑ 3.4.1 Penulangan Abutment
2. Sayap Penulangan abutmen berdasarkan
b 170 Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan

2tf √ ❑ RSNI T-12-2004. Perhitungan penulangan /
Mnx = Mpx pembesian lentur abutmen adalah sebagai
Mp = Zx x fy berikut :
ϕMn ≥ Mu a. Menghitung tebal efektif d’ dan d

3.3.4 Gelagar Melintang d’ = ds – Øs-1/2 * D


Syarat desain ϕMn > Mu d = h - d’
a. Bentang pendek b. Menghitung momen nominal rencana
Syarat L < Lp
Mu
b. Bentang menengah M n=
Syarat Lp < L < Lr ϕ
c. Bentang Panjang c. Menghitung faktor tahanan momen
Syarat Lr < L M n .10
−6
Rn = 2
3.3.5 Sambungan Baut b.d
Tahanan Baut : d. Jika sudah memenuhi syarat, kemudian
Geser : menghitung rasio tulangan perlu
ϕ Rn=ϕ x m x r 1 xfub x Ab '
Tumpu : 0.85 f c
ρ= ¿
ϕ Rn=ϕ x 2 , 4 x db x fu x tp fy
Tarik : e. Menghitung luas tulangan perlu,
ϕ Rn=ϕ x fub x Ab
Pu=1 , 2 Pdl +1 ,6 Pu A s=ρ . b . d
Pu f. Menghitung jarak tulangan diperlukan,
Jumlah total baut =
ϕRn π .D .b
2
s=
4 As
3.3.6 Tegangan Gelagar Utama
g. Untuk tulangan bagi digunakan 20 %
Tegangan lentur yang terjadi pada
gelagar utama sebelum komposit : As,Sedangkan untuk penulangan geser,
a. Tegangan lentur tekan yang terjadi pada
5
adalah sebagai berikut: Ketahanan struktur terhadap
a. Menghitung gaya geser berfaktor kemungkinan struktur bergeser dihitung
berdasarkan penampang kritis (dari berdasarkan persamaan berikut :
hasil perhitungan beban ultimit) ΣFR
SF guling =
b. Menghitung kemampuan beton Σ FD
(ΣV )tan θ2+ Bc 2+ P p
memikul gaya geser SF geser=
Ph
1 [Link] Daya Dukung Tanah Dasar
V c= ¿
6
1 Tekanan yang disebabkan oleh gaya-
c. Jika V u < ϕ V c maka tidak perlu
2 gaya yang terjadi pada dasar pondasi
tulangan geser sumuran harus dipastikan lebih kecil dari
1 daya dukung ijin tanah. Daya dukung tanah
d. Jika V u > ϕ V c maka perlu tulangan
2
pada dasar pondasi sumuran ditentukan
geser minimum
dengan cara yang sama seperti dalam
Vs = Vu - Vc
menentukan daya dukungpondasi dangkal.
e. Tentukan tulangan yang akan dipakai
Digunakan rumus Terzaghi :
dan jarak arah y,
Qult =1.3 xcxNc+ Dx γ x Nq + 0.3 x R x γ x
f. Menghitung luas tulangan perlu geser,

2
π . D .b
A v=
4. S y
g. Menghitung jarak tulangan geser arah 4. Hasil Perancangan

x, 4.1 Struktur Atas Jembatan

A v . f y .d 1. Trotoar
S x=
Vs
3.4.2 Pondasi Sumuran
[Link] Kestabilan Terhadap Guling
Kestabilan struktur terhadap
kemungkinan terguling dihitung dengan
persamaan berikut :

ΣMR Gambar 4.1 Dimensi Trotoar


SF guling =
Σ MO Momen Ultimit Rencana trotoar
M u=(1 ,3 x M Ms)+(1 ,8 x M TP )
[Link] Ketahanan Terhadap Geser
6
¿(1, 3 x 9,393)+(1 ,8 x 0,609) dengan dimensi 900 x 300 x 16 x 32 dan
¿ 13,307 kNm profil WF 400 x 200 x 8 x 13 untuk
Didapat tulangan pokok D13-150
diafragma. Dengan mutu SM490 YA/YB
mm pada trotoar dengan tulangan geser D-
Cek penampang kompak :
13-90 mm.
hw 1680
2. Pelat Lantai Kendaraan Badan ≤ = 50 ≤ 84 , 33 (Ok)
t w √❑
Pelat lantai kendaraan dengan mutu b 170
Sayap ≤ = 4 , 68≤ 8 , 96 (Ok)
beton f’c = 35 MPa dan fy = 390 MPa. 2t f √ ❑
Lebar pelat lantai kendaraan 7 m dengan Lebar efektif slab beton
ketebalan 20 mm. 2500
b e= =416,667 cm
6
Dengan metode bittner didapat nilai
b e =160 cm
momen total ultimit pada pelat jembatan
yaitu : Diambil lebar efektif b e =160 cm

M u xm =M xm maks+ M xm3 Setelah gelagar utama menjadi komposit


¿ 32,8891+0,5352 lihat Gambar 4.4.
¿ 33,4243 kNm
M u ym =M ymmaks + M ym3
¿ 19,7651+0,3359
¿ 20,101 kNm
Didapat tulangan melintang D13-
150 mm dan tulangan memanjang D13-250
mm. Lihat Gambar 4.2 dan Gambar 4.3.

Gambar 4.4 Gelagar Utama Setelah


Gambar 4.2 Penulangan Arah Melintang Komposit
Ʃ Ay 59270 ,5
ȳ= = =76,638 cm
ƩA 773 ,38
ȳ = y bs=76,638 cm
y tc =(tp+d )− y bs=33,362cm
y ts = y tc −tp=13,362 cm
Gambar 4.3 Penulangan Arah Memanjang Momen inersia gelagar komposit
3. Gelagar Utama I tr =1030451,286 c m
4

Gelagar utama dipilih profil WF Resume gaya-gaya pada gelagar


7
utama komposit dilihat pada tabel 4.1 : kNm dan Vmax = 442,220 kNm.
Tabel 4.1 Gaya Pada Gelagar Komposit Tegangan lentur pada pada gelagar
Sebelum komposit :
6 800
940,156 x 10 ×( )
2
f sa= 4
444000 x 10
¿ 84,699 MPa
f sb=f sa =84,699 MPa
Setelah komposit :
6
3131,188 ×10 ×333 , 62
Grafik momen dan gaya geser dari f ca=
7,193 ×1030451,286
beban-beban gelagar utama komposit pada ¿ 14,094 MPa
6
Gambar 4.5 dan Gambar 4.6. 3131,188 x 10 ×133 ,62
f cb=
7,193 ×1030451,286
¿ 5,645 MPa
6
3131,188 x 10 ×133 , 62
f sa =
1030451,286
¿ 40,602 MPa
6
3131,188 x 10 ×766 , 38
f sb=
1030451,286
¿ 232,877 MPa
Tegangan lentur total
f sa=84,699+ 40,602=125,301 MPa
Gambar 4.5 Diagram Momen f sb=84,699+ 232,877=317,576 MPa
Diagram tegangan lentur pada
gelagar utama komposit dapat dilihat pada
Gambar 4.7.

Gambar 4.6 Diagram Gaya Geser


Dari diagram didapat nilai momen
dan gaya geser maksimum Mmax = 3131,188

8
Gambar 4.7 Diagram Tegangan Lentur mutu baut A325 dengan jumlah 4 buah.
Dari Gambar 4.7 didapat : 5. Shear Connector
Kuat lentur nominal Pada shear connector digunakan
Sebelum komposit stud dengan ukuran 12 x 190 mm dengan
ϕ M n=0 , 90 × 4032=3628 , 8 kNm mutu baja konektor BJ-41.
M u=1 , 3× 940,156=1222,203 kNm V h=C=9520000 N
M u <ϕ M n ¿OK) Gaya geser rencana :
V h 9520000
V L= = =12693333 , 33 N
φ 0 , 75
Kekuatan geser satu konektor stud :
Qn=0 ,5 ×283,529 × √ ❑
¿ 139851,604 N
Jumlah stud yang diperlukan :
12693333 , 33
N=
0 , 55 ×139851,604
¿ 164,023 ≈ 166 buah
Gambar 4.8 Diagram Kuat Lentur
Rencanakan 1 baris konektor stud 83 buah
' 200
d =(900−401,960)+ sepanjang gelagar 25 m.
2
¿ 598 , 04 mm Jarak antar stud adalah :
'' 200 10,676 2496 cm
d =598 , 04− − s= =31 cm<40 cm( OK )
2 2 83 buah
¿ 492,702 mm
6. Lendutan Pada Gelagar Utama
M n=9520000 × 598 ,04 +1153000× 492 , 70
¿ 6261,1426 kNm Lendutan ijin :

ϕ M n=0 , 90 ×6261,1426=5635,028 kNm 25000


δ ijin= =104,167 mm
M u=5213,092 kNm 240
M u <ϕ M n ¿OK) Hasil perhitungan lendutan dapat dilihat
pada Tabel 4.2.
4. Sambungan Baut
Tabel 4.2 Perhitungan Lendutan
Sambungan antar gelagar
menggunakan baut dengan diameter 20 mm
mutu baut A325 dengan jumlah 36 buah di
bagian web dan 24 buah di bagian flens.
Sambungan pada diafragma
menggunakan baut dengan diameter 16 mm

9
2. Pondasi Jembatan
Pondasi menggunakan sumuran
yang berjumlah 2 dengan panjang 2 m
berdiameter 3,5 m. Lihat Gambar 4.10

4.2 Struktur Bawah Jembatan


1. Abutment
Abutment memiliki dimensi dengan
Gambar 4.10 Dimensi Sumuran
tinggi 2,75 m dan panjang 10 m. Lihat
Gambar 4.9.
5. KESIMPULAN
Dari hasil analisa perhitungan
jembatan di Desa Rantau Bakula Kabupaten
Banjar, maka dapat diambil kesimpulan:
1. Penulangan pada trotoar
menggunakan tulangan pokok D13-
150 mm dengan tulangan geser D13-
90 mm.
2. Pelat lantai kendaraan dengan lebar
Gambar 4.9 Dimensi Abutment
7,0 m memakai sistem pelat satu
a. Backwall
arah dengan ketebalan 20 mm
Tulangan pokok D16-100 mm,
menggunakan tulangan melintang
tulangan pembagi D12-200 dan
D13-150 mm dan tulangan
tulangan geser ϕ10-300 (arah y)
memanjang D13-150 mm.
ϕ10-150 (arah x).
3. Pada gelagar utama digunakan profil
b. Pile Cap
WF 900 x 300 x 16 x 32 dan profil
Tulangan pokok D25-150 mm,
WF 400 x 200 x 8 x 13 untuk
tulangan pembagi D16-200 dan
diafragma.
tulangan geser ϕ10-300 (arah y)
4. Pada shear connector digunakan
ϕ10-150 (arah x).
10
stud dengan ukuran 12 x 190 mm sebagai tulangan pembagi dan
dengan jumlah 166 buah. digunakan tulangan Ø 10-300 (arah
5. Sambungan antar gelagar sumbu y) Ø 10 – 150 (arah sumbu x)
menggunakan baut dengan diameter untuk tulangan gesernya. Pada
20 mm dengan jumlah 36 buah di bagian pondasi sumuran, digunakan
bagian web dan 24 buah di bagian tulangan D25-50 mm sebagai
flens. tulangan pokok, dan tulangan D16 -
6. Abutment menggunakan beton f’c = 100 sebagai tulangan pembagi dan Ø
30 MPa dan mutu baja fy = 390 10 – 300 (arah sumbu y) serta Ø 10
MPa. – 150 (arah sumbu x).
7. Pembebanan struktur bangunan atas 11. Analisa bahan struktur jembatan
mengacu berdasarkan standar didapatkan:
pembebanan untuk Jembatan RSNI- a. Volume beton pada
T-02-2005 , Departemen Pekerjaan struktur jembatan 244,44
Umum. m3,
8. Pada kombinasi pembebanan b. Volume baja pada struktur
abutmen, beban vertikal terbesar jembatan 49,49295 m3,
adalah 5483,336 kNm. Beban c. Banyaknya shear
horizontal terbesar adalah 1408,698 connector 996 buah dan
kNm. Beban momen terbesar adalah baut diameter 20 mm 360
9591,25 kNm. buah,
9. Daya dukung pondasi sumuran, d. Banyak tulangan
diperoleh sebsesar 1432,33 ton, terpasang yang digunakan
lebih besar dari beban yang terjadi untuk D25 = 114 batang,
sebesar 801,738 ton . Jadi dapat D19 = 92 batang, D16 =
dikatakan pondasi sumuran aman. 61 batang, D13 = 219
10. Untuk abutmen, untuk per meter batang, dan ø12 = 88
lebarnya pada bagian potongan back batang.
wall abutmen akan menggunakan 6. DAFTAR PUSTAKA
tulangan D16-150 sebagai tulangan
Badan Standarisasi Nasional. 2004.
pokok,dan tulangan D12-500
11
Perencanaan Struktur Beton untuk [Link] Bittner.
Jembatan. RSNI-T-12-2004 [Link]
Badan Standarisasi Nasional. 2004. Tabel-Bittner.
Perencanaan Struktur Baja untuk diakses tanggal 7 februari 2016
Jembatan. RSNI-T-02-2005
Badan Standarisasi Nasional. 2005.
Pembebanan untuk Jembatan. RSNI-
T-02-2005
Bowles, J.E. 1991. Analisis dan Desain
Pondasi. Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Bowles, J.E., John K. Hainim. 1991. Sifat-
sifat Fisis dan Geoteknis Tanah.
Erlangga. Jakarta.
Das, Braja, M. 1985. Mekanika Tanah. Jilid
1. Erlangga. Jakarta.
Das, Braja, M. 1987. Mekanika Tanah. Jilid
2. Erlangga. Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, Dirjen Bina
Marga. 1992. Peraturan Perencanaan
Teknik Jembatan (Bridge
Management System).
Fadillah, H. 2012. Desain Struktur
Jembatan Rangka Baja Sungai Sangar
Hulu, Desa Lambakan, Kabupaten
Paser, Kalimantan Timur. Skripsi. FT.
Unlam. Banjarbaru.
Jakirin, Noor. 2015. Perancangan
Jembatan Rangka Baja Bentang 60
Meter Lingkar Kurau Kabupaten
Tanah Laut. Skripsi. FT. Unlam.
Banjarbaru.
12

Anda mungkin juga menyukai