0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan48 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang drainase, termasuk definisi, jenis, dan sistem drainase perkotaan yang penting untuk mengelola kelebihan air di kawasan perkotaan. Terdapat penjelasan mengenai sistem drainase mayor dan mikro, serta berbagai pola jaringan drainase yang digunakan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang hidrologi dan analisis yang diperlukan dalam perencanaan bangunan sipil terkait pengelolaan air.

Diunggah oleh

muthiatetania25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan48 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang drainase, termasuk definisi, jenis, dan sistem drainase perkotaan yang penting untuk mengelola kelebihan air di kawasan perkotaan. Terdapat penjelasan mengenai sistem drainase mayor dan mikro, serta berbagai pola jaringan drainase yang digunakan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang hidrologi dan analisis yang diperlukan dalam perencanaan bangunan sipil terkait pengelolaan air.

Diunggah oleh

muthiatetania25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Drainase

Drainase yang berasal dari bahasa Inggris “drainage” yang


mempunyai arti mengalirkan, menguras,membuang,atau mengalihkan
air. Dalam bidang Teknik Sipil, drainase dapat didefinisikan sebagai
suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air, baik yang berasal
dari air hujan, rembesan, maupun kelebihan air irigasi dari suatu
kawasan/lahan, sehingga fungsi kawasan/lahan tidak terganggu. Jadi,
drainase menyangkut tidak hanya air permukaan tetapi juga air tanah.
Drainase yaitu suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak
diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penangggulangan akibat
yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut. Dari sudut pandang yang
lain, drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang
dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang
aman, nyaman, bersih, dan sehat. Prasarana drainase disini berfungsi
untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan
dan bawah permukaan tanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu
juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan
tindakan untuk memperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir.

2.1.1 Drainase Perkotaan

Sebagai salah satu sistem dalam perencanaan perkotaan, maka


sistem drainase yang ada dikenal dengan istilah sistem drainase
perkotaan. Berikut definisi drainase perkotaan (Hasmar, 2002) :

1. Drainase perkotaan yaitu ilmu drainase yang mengkhususkan


pengkajian pada kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan
kondisi lingkungan sosial-budaya yang ada di kawasan kota.

7
8

2. Drainase Perkotaan merupakan sistem pengeringan dan pengaliran air


dari wilayah perkotaan yang meliputi :
a. Permukiman
b. Kawasan industri dan perdagangan
c. Kampus dan sekolah
d. Rumah sakit dan fasilitas umum
e. Lapangan olahraga
f. Lapangan parkir
g. Instalasi militer, listrik, telekomunikasi
h. Pelabuhan udara.

2.1.2 Sistem Drainase Perkotaan


Standar dan sistem penyediaan drainase kota sistem
penyediaan jaringan drainase terdiri dari empat macam, yaitu
(Hasmar, 2002) :

1. Sistem drainase utama merupakan sistem drainase perkotaan


yang melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat
kota.
2. Sistem drainase lokal merupakan sistem drainase
perkotaan yang melayani kepentingan sebagian kecil
warga masyarakat kota.
3. Sistem drainase terpisah merupakan sistem drainase yang
mempunyai jaringan saluran pembuangan terpisah untuk air
permukaan atau air limpasan.
4. Sistem gabungan merupakan sistem drainase yang mempunyai
jaringan saluran pembuangan yang sama, baik untuk air
genangan atau air limpasan yang telah diolah.
9

2.1.3 Sarana Drainase Perkotaan

Sarana penyediaan sistem drainase dan pengendalian banjir


adalah (Hasmar, 2002) :

1. Penataan sistem jaringan drainase primer, sekunder dan tersier


melalui normalisasi maupun rehabilitasi saluran guna
menciptakan lingkungan yang aman dan baik terhadap
genangan, luapan sungai, banjir kiriman, maupun hujan lokal.
Berdasarkan masing-masing jaringan dapat didefinisikan sebagai
berikut:
a. Jaringan primer merupakan saluran yang memanfaatkan
sungai dan anak sungai.

b. Jaringan sekunder merupakan saluran yang menghubungkan


saluran tersier dengan saluran primer (dibangun dengan
beton/plesteran semen).
c. Jaringan tersier merupakan saluran untuk mengalirkan
limbah rumah tangga ke saluran sekunder, berupa plesteran,
pipa dan tanah.

2. Memenuhi kebutuhan dasar (basic need) drainase bagi kawasan


hunian dan kota.
3. Menunjang kebutuhan pembangunan (development need) dalam
menunjang terciptanya skenario pengembangan kota untuk
kawasan andalan dan menunjang sektor unggulan yang
berpedoman pada Rencana Umum Tata Ruang Kota.
Sedangkan arahan dalam pelaksanaannya adalah :
a. Harus dapat diatasi dengan biaya ekonomis.
b. Pelaksanaannya tidak menimbulkan dampak sosial yang berat.
c. Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana.
d. Memanfaatkan semaksimal mungkin saluran yang ada.
10

2.1.4 Sistem Jaringan Drainase Perkotaan


Sistem jaringan drainase perkotaan umumnya dibagi atas 2 bagian, yaitu :
1. Sistem Drainase Mayor
Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran atau badan air yang
menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan

(Catchment Area). Pada umumnya sistem drainase mayor ini disebut juga
sebagai sistem saluran pembuangan utama (major system) atau drainase
primer. Sistem jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas
seperti saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai.
Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang
antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografi yang detail mutlak
diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini.

2. Sistem Drainase Mikro


Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap
drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan
hujan. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase mikro
adalah saluran di sepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di sekitar
bangunan, gorong-gorong, saluran drainase kota dan lain sebagainya
dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar. Pada
umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang
2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna lahan yang ada. Sistem
drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai sistem
drainase mikro.
11

2.2 Jenis Drainase

Drainase memiliki banyak jenis dan jenis drainase tersebut dilihat dari
berbagai aspek. Adapun jenis-jenis saluran drainase dapat dibedakan sebagai
berikut (Hasmar, 2002:3) :

2.2.1 Menurut Sejarah Terbentuknya


Drainase menurut sejarahnya terbentuk dalam berbagai cara
berikut ini cara terbentuknya drainase :

1. Drainase alamiah (natural drainage)


Yakni drainase yang terbentuk secara alami dan tidak
terdapat bangunan- bangunan penunjang seperti bangunan pelimpah,

pasangan batu / beton, gorong-gorong dan lain-lain. Saluran ini


terbentuk oleh gerusan air yang bergerak karena gravitasi yang
lambat laun membentuk jalan air yang permanen seperti sungai.

Gambar 2.1 Drainase Alamiah pada Saluran Air


(Sumber : ISBN 979-8382-49-8)
12

2. Drainase buatan (artificial drainage)


Drainase ini dibuat dengan maksud dan tujuan tertentu
sehingga memerlukan bangunan-bangunan khusus seperti selokan
pasangan batu/ beton, gorong- gorong, pipa-pipa dan sebagainya.

Gambar 2.2 Drainase Buatan


Sumber : ISBN 979-8382-49-8

1. Menurut letak saluran


Saluran drainase menurut letak bangunannya terbagi dalam beberapa
bentuk, berikut ini bentuk drainase menurut letak bangunannya:

Yakni saluran yang berada diatas permukaan tanah yang berfungsi


mengalirkan air limpasan permukaan. Analisa alirannya merupakan
analisa open chanel flow.

a. Drainase bawah permukaan tanah (sub surface drainage)


Saluran ini bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui
media dibawah permukaan tanah (pipa-pipa) karena alasan-alasan
tertentu. Alasan itu antara lain Tuntutan artistik, tuntutan fungsi
permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya saluran di
permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang,
taman dan lain-lain.
13

2. Menurut fungsi drainase


Drainase berfungsi mengalirkan air dari tempat yang
tinggi ke tempat yang rendah, berikut ini jenis drainase
menurut fungsinya :

a. Single purpose
Yakni saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air
buangan, misalnya air hujan saja atau jenis air buangan
yang lain.

b. Multi purpose
Yakni saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis
air buangan baik secara bercampur maupun bergantian,
misalnya mengalirkan air buangan rumah tangga dan air
hujan secara bersamaan.

3. Menurut konstruksi
Dalam merancang sebuah drainase terlebih dahulu harus
tahu jenis kontruksi apa drainase dibuat, berikut ini drainase
menurut konstruksi :

a. Saluran terbuka
Yakni saluran yang konstruksi bagian atasnya terbuka dan
berhubungan dengan udara luar. Saluran ini lebih sesuai
untuk drainase hujan yang terletak di daerah yang
mempunyai luasan yang

cukup, ataupaun drainase non-hujan yang tidak


membahayakan kesehatan/ mengganggu lingkungan.
14

b. Saluran tertutup
Yakni saluran yang konstruksi bagian atasnya tertutup dan
saluran ini tidak berhubungan dengan udara luar. Saluran
ini sering digunakan untuk aliran air kotor atau untuk
saluran yang terletak di tengah kota.

2.3 Pola Jaringan Drainase


Jaringan drainase memiliki beberapa pola, yaitu (Hasmar,
2002:5)
2.3.1 Siku

Pembuatannya pada daerah yang mempunyai topografi


sedikitlebih tinggi dari pada sungai. Sungai sebagai saluran
pembuang akhir berada akhir berada di tengah kota.

Saluran cabang Saluran cabang

Saluran utama Saluran utama

Saluran cabang Saluran cabang

Gambar 2.3 Pola Jaringan Drainase Siku


Sumber : ISBN 979-8382-49-8
15

2.3.2 Pararel
Saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang. Dengan saluran
cabang (sekunder) yang cukup banyak dan pendek-pendek, apabila terjadi
perkembangan kota, saluran-saluran akan dapat menyesuaikan diri.

Saluran cabang
Saluran
cabang

Saluran utama
Saluran utama

Gambar 2.4 Pola Jaringan Drainase Pararel


Sumber : ISBN 979-8382-49-8

2.3.3 Grid Iron


Untuk daerah dimana sungainya terletak di pinggir kota, sehingga saluran-
saluran cabang dikumpulkan dulu pada saluran pengumpulan.

Cabang pengumpul saluran

Gambar 2.5 Pola Jaringan Drainase Grid Iron


Sumber:ISBN979-8382-49-8
16

2.3.4 Alamiah
Sama seperti pola siku, hanya beban sungai pada pola alamiah lebih besar.

Saluran cabang
Saluran cabang

Saluran utama
Saluran utama

Saluran cabang

Saluran cabang

Gambar 2.6 Pola Jaringan Drainase Alamiah


Sumber : ISBN 979-8382-49-8

2.3.5 Radial
Pada daerah berbukit, sehingga pola saluran memencar ke segala arah.

Gambar 2.7 Pola Jaringan Drainase Radial


Sumber : ISBN 979-8382-49-8
17

2.3.6 Jaring-jaring
Mempunyai saluran-saluran pembuang yang mengikuti arah jalan raya dan
cocok untuk daerah dengan topografi datar.

Saluran utama Saluran cabang

Gambar 2.8 Pola Jaringan-Jaring-Jaring


Sumber : ISBN 979-8382-49-8
18

2.4 Hidrologi

Hidrologi adalah suatu ilmu yang menjelaskan tentang kehadiran gerakan


air di alam ini, yang meliputi berbagai bentuk air yang menyangkut
perubahan- perubahannya antara lain : keadaan zat cair, padat dan gas dalam
atmosfer di atas dan di bawah permukaan tanah, di dalamnya tercakup pula air
laut yang merupakan sumber dan penyimpanan air yang mengaktifkan
kehidupan di bumi. Tanpa kita sadari bahwa sebagian besar perencanaan
bangunan sipil memerlukan analisis hidrologi.

2.4.1 Siklus Hidrologi

Dalam perencanaan suatu bangunan air yang berfungsi untuk pengendalian


penggunaan air antara lain yang mengatur aliran sungai, pembuatan waduk-waduk
dan saluran-saluran yang sangat diperlukan untuk mengetahui perilaku siklus yang

disebut dengan siklus hidrologi. Siklus hidrologi adalah proses yang diawali oleh
evaporasi / penguapan kemudian terjadinya kondensasi dari awan hasil evaporasi.
Awan terus terproses, sehingga terjadi salju atau hujan yang jatuh ke permukaan
tanah. Pada muka tanah air hujan ada yang mengalir di permukaan tanah, sebagai
air run off atau aliran permukaan dan sebagian (infiltrasi) meresap kedalam
lapisan tanah. Besarnya run off dan infiltrasi tergantung pada parameter tanah atau
jenis tanah dengan pengujian tanah di laboratorium. Air run off mengalir di
permukaan muka tanah kemudian kepermukaan air di laut, danau, sungai. Air
infiltrasi meresap kedalam lapisan tanah, akan menambah tinggi muka air tanah
didalam lapisan tanah, kemudian juga merembes didalam tanah kearah muka air
terendah, akhirnya juga kemungkinan sampai dilaut, danau, sungai. .
19

Gambar 2.9 Siklus Hidrologi


Sumber : ISBN 979-8382-49-8

2.4.2 Analisis Hidrologi

Secara umum analisis hidrologi merupakan satu bagian analisis awal


dalam perancangan bangunan-bangunan hidraulik. Pengertian yang terkandung di
dalamnya adalah bahwa informasi dan besaran-besaran yang diperoleh dalam
analisis hidrologi merupakan masukan penting dalam analisis selanjutnya.
Bangunan hidraulik dalam bidang teknik sipil dapat berupa gorong-gorong,
bendung, bangunan pelimpah, tanggul penahan banjir, dan sebagainya.

Ukuran dan karakter bangunan-bangunan tersebut sangat tergantung dari


tujuan pembangunan dan informasi yang diperoleh dari analisis hidrologi. Sebelum

informasi yang jelas tentang sifat-sifat dan besaran hidrologi diketahui, hampir
tidak mungkin dilakukan analisis untuk menetapkan berbagai sifat dan besaran
hidrauliknya. Demikian juga pada dasarnya bangunan- bangunan tersebut harus
dirancang berdasarkan suatu standar perancangan yang benar sehingga diharapkan
akan dapat menghasilkan rancangan yang memuaskan.
20

2.4.3 Analisis Frekuensi Curah Hujan

Analisis frekuensi atau distribusi frekuensi digunakan untuk memperoleh


probabilitas besaran curah hujan rencana dalam berbagai periode ulang. Dasar
perhitungan distribusi frekuensi adalah parameter yang berkaitan dengan analisis
data yang meliputi ratarata, simpangan baku, koefisien variasi, dan koefisien
skewness (kecondongan atau kemiringan).

Hujan merupakan komponen yang sangat penting dalam analisis hidrologi.


Pengukuran hujan dilakukan selama 24 jam baik secara manual maupun otomatis,
dengan cara ini berarti hujan yang diketahui adalah hujan total yang terjadi selama
satu hari. Berdasarkan ilmu statistik dikenal beberapa macam distribusi frekuensi
yang banyak digunakan dalam bidang hidrologi. Berikut ini empat jenis distribusi
frekuensi yang paling banyak digunakan dalam bidang hidrologi:

a. Distribusi Normal
b. Distribusi Log Normal
c. Distribusi Log Person III
d. Distribusi Gumbel.
Berikut ini empat jenis distribusi frekuensi yang paling banyak digunakan
dalam bidang hidrologi:

a. Distribusi Normal
Distribusi normal atau kurva normal disebut juga distribusi Gauss.
Perhitungan curah hujan rencana menurut metode distribusi normal, mempunyai
persamaan sebagai berikut:
XT = X + KTS ..............................................................................(2.1)
21

XT− Xrata−rata
KT= .............................................................(2.2)
S

Keterangan:

XT = Perkiraan nilai yang diharapkan


terjadi dengan periode ulang T
tahunan,

Xrata−rata = Nilai rata-rata


hitung variat, S = Deviasi standar
nilai variat,
KT = Faktor frekuensi

Untuk mempermudah perhitungan, nilai faktor frekuensi (KT) umumnya


sudah tersedia didalam tabel, disebut sebagai tabel nilai variable reduksi
gauss (Variable reduced Gauss), seperti ditunjukkan dalam tabel 2.2
22

Tabel 2.1 Nilai Variabel Reduksi Gauss

No. T
Periode ulang Peluang KT
(tahun)
1 1,001 0,999 -3,05

2 1,005 0,995 -2,58

3 1,010 0,990 -2,33

4 1,050 0,950 -1,64

5 1,110 0,900 -1,28

6 1,250 0,800 -0,84

7 1,330 0,750 -0,67

8 1,430 0,700 -0,52

9 1,670 0,600 -0,25

10 2,000 0,500 0

11 2,500 0,400 0,25

12 3,330 0,300 0,52

13 4,000 0,250 0,67

14 5,000 0,200 0,84

15 10,000 0,100 1,28

16 20,000 0,050 1,64

17 50,000 0,020 2,05

18 100,000 0,010 2,33

19 200,000 0,005 2,58

20 500,000 0,002 2,88

21 1000,000 0,001 3,09


(Sumber : Suripin ,2004)
23

b. Distribusi Log Normal

Dalam distribusi log normal data X diubah kedalam bentuk logaritmik Y =


log X. Jika variabel acak Y = log X terdistribusi secara normal, maka X dikatakan
mengikuti Distribusi Log Normal. Untuk distribusi Log Normal perhitungan curah
hujan rencana menggunakan persamaan berikut ini :

YT=Yratarata+KTS .......................................................................................(2.3)

KT= XT− Xrata−rata


.............................................................(2.4)
S

Keterangan :
YT = perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T-tahun
Yrata−rata = nilai rata-rata hitung variat

S = deviasi standar nilai variat

KT = faktor frekuensi

a. Distribusi Gumbel
Faktor frekuensi untuk distribusi ini dapat dihitung dengan mempergunakan
persamaan sebagai berikut :

1. Besarnya Curah hujan Rata-Rata dengan Rumus :

................................................................. (2.5)

2. Hitung Standar Deviasi Dengan Rumus :

3. Hitung besarnya Curah hujan Untuk periode ulang t tahun dengan Rumus :

............................................... (2.7)
24

Xt = Besarnya curah hujan untuk t tahun (mm)


Yt = Besarnya curah hujan rata-rata untuk t tahun (mm)
Yn = Reduce mean deviasi berdasarkan sampel n
σn = Reduce standar deviasi berdasarkan sampel n

n = Jumlah tahun yang ditinjau

Sd = Standar Deviasi (mm)

X = Curah Hujan rata-rata (mm)


Xi = Curah hujan maximum (mm)
Harga Yn berdasarkan banyaknya sampel n dapat dilihat pada tabel
2.2 berikut ini :
Tabel 2.2 Hubungan reduce mean (Yn) dengan banyaknya sampel (n)

n. 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

10 0,495 0,449 0,503 0,507 0,510 0,512 0,515 0,518 0,520 0,522

20 0,523 0,525 0,526 0,528 0,529 0,530 0,532 0,533 0,534 0,535

30 0,536 0,537 0,538 0,538 0,539 0,540 0,541 0,541 0,542 0,543

40 0,543 0,544 0,544 0,545 0,545 0,546 0,546 0,547 0,547 0,548

50 0,548 0,549 0,549 0,549 0,550 0,550 0,550 0,551 0,551 0,551

60 0,552 0,552 0,552 0,553 0,553 0,553 0,553 0,554 0,554 0,554

70 0,554 0,555 0,555 0,555 0,555 0,555 0,555 0,556 0,556 0,556

80 0,556 0,557 0,557 0,557 0,557 0,558 0,558 0,558 0,558 0,558

90 0,558 0,558 0,558 0,559 0,559 0,559 0,559 0,559 0,559 0,559

100 0,560

(Sumber : Tata Cara Perencanaan Sistem Drainase Perkotaan, Nomor 12/Prt/M/2014)


25

Tabel 2.3 Periode ulang untuk Tahun

Kala ulang (tahun) Faktor reduksi (Yt)

2 0,3665
5 1,4999

10 2,2504

25 3,1985

50 3,9019

100 4,6001

(Sumber : Tata Cara Perencanaan Sistem)


Drainase Perkotaan, Nomor 12/Prt/M/2014)

Harga reduce
standar deviasi (σn) dapat dilihat pada tabel 2.4

Tabel 2.4 Hubungan reduce standar deviasi (σn) dengan banyaknya sampel (n)

n. 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

10 0,94 0,96 0,98 0,99 1 1,02 1,03 1,04 1,04 1,05

20 1,06 1,06 1,07 1,08 1,08 1,09 1,09 1,1 1,1 1,1

30 1,11 1,11 1,11 1,12 1,12 1,12 1,13 1,13 1,13 1,13

40 1,14 1,14 1,14 1,14 1,14 1,15 1,15 1,15 1,15 1,15

50 1,16 1,16 1,16 1,16 1,16 1,16 1,16 1,16 1,16 1,16

60 1,17 1,17 1,17 1,17 1,17 1,17 1,17 1,17 1,17 1,17

70 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18

80 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19

90 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2

100 1,2

(Sumber : Tata Cara Perencanaan Sistem Drainase Perkotaan, Nomor 12/Prt/M/2014)


26

a. Distribusi Log Person III


1. Hitung rata-rata logaritma dengan rumus :

G=

1. Hitung logaritma curah hujan rencana dengan periode ulang tertentu :


Log Xr = log X + K. Sd

Keterangan:
Log X = Rata-rata logaritma data
N = Banyaknya tahun pengamatan
Sd = Standar deviasi
G = Koefisien kemencengan
K =Variabel standar ( standardized variable) untuk X yang besarnya
tergantung koefisien kemiringan G (Tabel 2.4)

Besarnya harga K berdasarkan nilai G dan tingkat probabilitasnya dapat


dilihat pada Tabel 2.5

Tabel 2.5. Distribusi Log Pearson Type III untuk Koefisien Kemencengan G

Interval kejadian (Recurrence interval), tahun (periode ulang)

1,0101 1,2500 2 5 10 25 50 100


27

Koef, G Persentase peluang terlampaui (Percent chance of being exceeded)

99 80 50 20 10 4 2 1
3,0 -0,667 -0,636 -0,396 0,420 1,180 2,278 3,152 4,051
2,8 -0,714 -0,666 -0,384 0,460 1,210 2,275 3,114 3,973
2,6 -0,769 -0,696 -0,368 0,499 1,238 2,267 3,071 2,889
2,4 -0,832 -0,725 -0,351 0,537 1,262 2,256 3,023 3,800
2,2 -0,905 -0,752 -0,330 0,574 1,284 2,240 2,970 3,705
2,0 -0,990 -0,777 -0,307 0,609 1,302 2,219 2,192 3,605
1,8 -1,087 -0,799 -0,282 0,643 1,318 2,193 2,848 3,499
1,6 -1,197 -0,817 -0,254 0,675 1,329 2,163 2,780 3,388
1,4 -1,318 -0,832 -0,225 0,705 1,337 2,128 2,706 3,271
1,2 -1,449 -0,844 -0,195 0,732 1,340 2,087 2,626 3,149
1,0 -1,588 -0,852 -0,164 0,758 1,340 2,043 2,542 3,022
0,8 -1,733 -0,856 -0,132 0,780 1,336 1,993 2,453 2,891
0,6 -1,880 -0,857 -0,099 0,800 1,328 1,939 2,359 2,755
0,4 -2,029 -0,855 0,066 0,816 1,317 1,880 2,261 2,615
0,2 -2,178 -0,850 -0,033 0,830 1,301 1,818 2,159 2,472
0,0 -2,326 -0,842 0,000 0,842 1,282 1,751 2,051 2,326
-0,2 -2,472 -0,830 0,033 0,850 1,258 1,680 1,945 2,178
-0,4 2,615 -0,816 0,066 0,855 1,231 1,606 1,834 2,029
-0,6 -2,755 -0,800 0,099 0,857 1,200 1,528 1,720 1,880
-0,8 -2,891 -0,780 0,132 0,856 1,166 1,448 1,606 1,733
-1,0 -3,022 -0,758 0,164 0,852 1,128 1,366 1,492 1,588
-1,2 -2,149 -0,732 0,195 0,844 1,086 1,282 1,379 1,449
-1,4 -2,271 -0,705 0,225 0,832 1,041 1,198 1,270 1,318
-1,6 -2,388 -0,675 0,254 0,817 0,994 1,116 1,166 1,197
-1,8 -3,499 -0,643 0,282 0,799 0,945 1,035 1,069 1,087
-2,0 -3,605 -0,609 0,307 0,777 0,895 0,959 0,980 0,990
-2,2 -3,705 -0,574 0,330 0,752 0,844 0,888 0,900 0,905
-2,4 -3,800 -0,537 0,351 0,725 0,795 0,823 0,830 0,832
-2,6 -3,889 -0,490 0,368 0,696 0,747 0,764 0,768 0,769
-2,8 -3,973 -0,469 0,384 0,666 0,702 0,712 0,714 0,714
-3,0 -7,051 -0,420 0,396 0,636 0,660 0,666 0,666 0,667

(Sumber : Suripin, 2004:43)


28

2.4.4 Curah Hujan Wilayah


Curah hujan yang diperlukan untuk mengetahui profil muka air sungai dan
rancangan suatu drainase adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang
bersangkutan , bukan curah hujan pada suatu titik tertentu. Curah hujan ini disebut
curah hujan wilayah atau daerah dan dinyatakan dalam milimeter (mm).

Menentukan curah hujan rerata harian maksimum daerah dilakukan


berdasarkan pengamatan beberapa stasiun pencatat hujan. Perhitungan curah
hujan rata-rata maksimum ini dapat menggunakan beberapa metode,
diantaranya menggunakan metode rata -rata aljabar, garis Isohiet, dan poligon
Thiessen.

A. Cara rata-rata Aljabar


Cara ini menggunakan perhitungan rata-rata secara aljabar, tinggi curah hujan
diambil dari harga rata-rata dari stasiun pengamatan di dalam daerah yang ditinjau.

Persamaan rata-rata aljabar:

R = ( R1 + R2 +...+ Rn ) ................................................................................. (2.12)

Dimana :
R = Curah hujan rata-rata rendah.
N = Jumlah titik atau pos pengamatan.
R1 + R2 + + Rn = curah hujan ditiap titik pengamatan.

B. Cara garis Isohiet


Peta isohiet digambarkan pada peta topografi dengan perbedaan (interval)
10 mm sampai 20 mm berdasarkan data curah hujan pada titik-titik pengamatan
didalam dan di sekitar daerah yang dimaksud. Luas daerah antara dua garis
isohiet yang berdekatan diukur dengan planimeter. Demikian pula harga rata-rata
dari garis-garis isohiet yang berdekatan yang termasuk bagian-bagian daerah itu
dapat dihitung.
29

Curah hujan daerah itu dapat dihitung menurut persamaan sebagai


berikut:

A 1 R 1+ A 2 R 2+ A 3 R 3+…+ AnRn
R=
A 1+ A 2+ A 3+… An
…………………………………………………(2.13)

Keterangan :

R = Curah hujan daerah


A1, A2, , An = Luas daerah yang mewakili titik pengamatan
R1, R2, ,Rn = Curah hujan setiap titik pengamatan.

Gambar 2.10 Garis Isohiet


Sumber : ISBN 979-8382-49-8
30

C. Metode Poligon Thiessen

Cara ini bardasar rata-rata timbang (weighted average). Metode ini sering
digunakan pada analisis hidrologi karena lebih teliti dan obyektif dibanding
metode lainnya, dan dapat digunakan pada daerah yang memiliki titik pengamatan
yang tidak merata. Cara ini adalah dengan memasukkan faktor pengaruh daerah
yang mewakili oleh stasiun hujan yang disebut faktor pembobotan atau Koefisien
Thiessen. Untuk pemilihan stasiun hujan yang dipilih harus meliputi daerah aliran
sungai yang akan dibangun. Besarnya Koefisien Thiessen tergantung dari luas
daerah pengaruh stasiun hujan yang dibatasi oleh poligon-poligon yang memotong
tegak lurus pada tengah-tengah garis penghubung stasiun. Setelah luas pengaruh
tiap-tiap stasiun didapat, maka Koefisien Thiessen dapat dihitung dengan
persamaan di bawah ini dan diilustrasikan pada Gambar 2.10

Rumus yang digunakan :

.…………………………(2.13)

Keterangan :

A = luas areal

R = tinggi curah hujan di pos 1,2,3,…n


R1,R2,R3,… Rn = tinggi curah hujan pada pos penakar 1,2,3,…n
A1,A2,A3,… An = luas daerah di areal 1,2,3,…n

2.4.5 Cara Memilih Metoda


Pemilihan metode mana yang cocok dipakai pada suatu DAS dapat
ditentukan dengan mempertimbangkan tiga faktor, terlepas dari kelebihan
dan kelemahan kedua metoda yang tersebut di atas. Faktor – faktor tersebut
adalah sebagai berikut (Suripin ,2004:31):

a) Jaring-jaring pos penakar hujan dalam DAS

b) Luas DAS
c) Topografi DAS
31

No Faktor-Faktor Syarat-Syarat Jenis Metode

1 Jaringan-Jaringan Pos Jumlah Pos Penakar Hujan Metode Isohiet, Thiessen


Penakar Hujan Dalam DAS Cukup atau Rata-Rata Aljabar
dapat diapakai

Jumlah Pos Penakar Hujan Metode Rata-Rata


Terbatas Aljabar atau Thiessen

Pos Penakar Hujan Metode Hujan Titik


Tunggal

2 Luas DAS DAS Besar (>5000 km²) Metode Isohiet

DAS Sedang (500 s/d Metode Thiessen


5000 km²)

DAS Kecil (<500 km²) Metode Rata-Rata


Aljabar
3 Topografi DAS Dataran Metode Rata-Rata
Aljabar
Pegunungan Metode Thiessen

Berbukit tidak Beraturan Metode Isohiet

(Sumber : Suripin, 2004)

2.4.6 Daerah Tangkapan Hujan (Catchment Area)


Catchment area adalah suatu daerah tadah hujan dimana air yang mengalir
pada permukaannya ditampung oleh saluran yang bersangkutan. Sistem drainase
yang baik yaitu apabila ada hujan yang jatuh di suatu daerah harus segera dapat
dibuang, untuk itu dibuat saluran yang menuju saluran utama.

Untuk menentukan daerah tangkapan hujan tergantung kepada kondisi lapangan


suatu daerah dan situasi topografinya / elevasi permukaan tanah suatu wilayah disekitar
saluran yang bersangkutan yang merupakan daerah tangkapan hujan dan mengalirkan
air hujan kesaluran drainase. Untuk menentukan daerah tangkapan hujan (Cathment
area) sekitar drainase dapat diasumsikan dengan membagi luas daerah yang akan
ditinjau.
32

2.4.7 Waktu Konsentrasi


Waktu konsentrasi adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan air
dari titik yang paling jauh pada daerah aliran ke titik kontrol yang ditentukan di
bagian hilir suatu saluran. Waktu konsentrasi dibagi atas 2 bagian :

a. Inlet time ( to ) yaitu waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir di atas
permukaan tanah menuju saluran drainase.

b. Conduit time ( td ) yaitu waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir di
sepanjang saluran sampai titik kontrol yang ditentukan di bagian hilir.
(Hasmar 2009:11)

Sehingga waktu konsentrasi dapat dihitung dengan ( Suripin, 2004):

Keterangan :
S = Kemiringansaluran,
L = panjang saluran(m),
Lo = jarak dari titik terjauh ke fasilitas drainase (m),
V = kecepatan rata-rata didalam saluran (m/det) berdasarkan tabel2.7
nd = Koefisien hambatan berdasarkan tabel 2.6

Tabel 2.6 Kemiringan Saluran Memanjang (S) Berdasarkan Jenis Material

Kemiringan Saluran (S) (%)


No Jenis Material

1 Tanah Asli 0-5

2 Kerikil 5 - 7,5

3 Pasangan 7,5
33

Tabel 2.7 Koefisien Manning

No Baik
Tipe Saluran Baik Jelek
Sekali
Saluran Buatan
1 Saluran tanah,lurus teratur 0,017 0,020 0,025

2 Saluran tanah yang dibuat dengan excavator 0,023 0,028 0,040

3 Saluran pada dinding batuan,lurus dan teratur 0,020 0,030 0,035


Saluran pada dinding batuan tidak lurus dan
4 0,035 0,040 0,045
tidak teratur
Saluran batuan yang diledakkan ada tumbuh-
5 0,025 0,030 0,040
tumbuhan

Tabel 2.8 Kecepatan Aliran Air yang Diizinkan

Kecepatan Aliran Air Yang


Jenis Bahan
Diizinkan (m/detik)
Pasir Halus 0,45

Lempung Kepasiran 0,5

Lanau Alluvial 0,6

Kerikil Halus 0,75

Lempung Kokoh 0,75

Lempung Padat 1,1

Kerikil Kasar 1,3

Batu-Batu Besar 1,5

Pasangan Batu 1,5

Beton 1,5

Beton Bertulang 1,5


34

2.4.8 Analisa Intensitas Hujan

Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan persatuan waktu.
Sifat umum hujan adalah makin singkat hujan berlangsung intensitasnya
cenderung makin tinggi dan makin besar periode ulangnya makin tinggi pula
intensitasnya.
Intensitas hujan diperoleh dengan cara melakukan analisis data hujan baik
secara statistik maupun secara empiris. Biasanya intensitas hujan dihubungkan
dengan durasi hujan jangka pendek misalnya 5 menit, 30 menit, 60 menit dan
jamjaman. Data curah hujan jangka pendek ini hanya dapat diperoleh dengan
menggunakan alat pencatat hujan otomatis. Apabila data hujan jangka pendek
tidak tersedia, yang ada hanya data hujan harian, maka intensitas hujan dapat
dihitung dengan rumus Mononobe.

....................................................................(2.18)

dimana:
I = Intensitas hujan (mm/jam)
T = lamanya hujan (jam)
R24 = curah hujan maksimum harian (selama 24 jam)(mm).

2.4.9 Debit Air Hujan / Limpasan

Debit air hujan / limpasan adalah volume air hujan per satuan waktu
yang tidak mengalami infiltrasi sehingga harus dialirkan melalui saluran
drainase. Debit air limpasan terdiri dari tiga komponen yaitu koefisien run off

(C), data intensitas curah hujan (I), dan catchment area (Aca).
35

Koefisien yang digunakan untuk menunjukkan berapa banyak


bagian dari air hujan yang harus dialirkan melalui saluran drainase
karena tidak mengalami penyerapan ke dalam tanah (infiltrasi).
Koefisien ini berkisar antara 0-1 yang disesuaikan dengan kepadatan
penduduk di daerah tersebut. Semakin padat penduduknya maka
koefisien run-offnya akan semakin besar sehingga debit air yang harus
dialirkan oleh saluran drainase tersebut akan semakin besar pula.

Rumus debit air hujan / limpasan:


Q = 0,278.C.I.A ........................................................(2.19)
Dimana :

Q = Debit aliran air limpasan (m3/detik)

C = Koefisien run off (berdasarkan standar baku)


I = Intensitas hujan (mm/jam)
A = Luas daerah pengaliran (km2)
0,278 = Konstanta
Dalam perencanaan saluaran drainase dapat dipakai standar
yang telah ditetapkan, baik debit rencana (periode ulang) dan cara
analisis yang dipakai, tinggi jagaan, struktur saluran, dan lain-lain.
Tabel 2.9 berikut merupakan kala ulang yang dipakai berdasarkan luas
daerah pengaliran saluran dan jenis kota yang akan direncanakan sistem
drainasenya.
Tabel 2.9 Kala Ulang Berdasarkan Tipologi Kota
Daerah Tangkapan Air (ha)
Tipologi Kota
< 10 10 - 100 101 - 500 > 500

Kota
2 Th 2 - 5 Th 5 - 10 Th 10 - 25 Th
Metropolitan
Kota Besar 2 Th 2 - 5 Th 2 - 5 Th 5 - 20 Th

Kota Sedang 2 Th 2 - 5 Th 2 - 5 Th 5 - 10 Th

Kotak Kecil 2 Th 2 Th 2 Th 2-5 Th


36

Deskripsi Lahan / Karakter Permukaan Koefisien Impasan, C

Business
Perkotaan 0,70 - 0,95
Pinggiran 0,50 - 0,70

Perumahan
Rumah Tunggal 0,30 - 0,50
Multiunit , Terpisah 0,40 - 0,60
Multiunit , Tergabung 0,60 - 0,75
Perkampungan 0,25 - 0,40
Apartemen 0,50 – 0,70

Industri
Ringan 0,50 – 0,80
Berat 0,60 – 0,90
Perkerasan
Aspal dan Beton 0,70 – 0,65
Batu bata , Paving 0,50 – 0,70
Atap 0,75 - -0,95
Halaman, Tanah Berpasir
Datar 2% 0,05 – 0,10
Rata-rata 2-7% 0,10 – 0,15
Curam, 7% 0,15 – 0,20
Halaman, Tanah Berat
Datar 2% 0,13 – 0,17
Rata-rata 2-7% 0,18 – 0,22
Curam, 7% 0,25 – 0,35
Halaman Kereta Api
Taman tempat bermain 0,10 – 0,35
Taman, Perkebunan 0,20 – 0,35
Hutan 0,10 – 0,25
Datar, 0-5% 0,10 – 0,40
Bergelombang, 5-10% 0,25 – 0,50
Berbukit, 10-30% 0,30 – 0,60
37

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik
industri maupun domestik (rumah tangga, yang lebih dikenal sebagai sampah),
yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki
lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi,
limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik. Dengan konsentrasi
dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap
lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan
penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh
limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.

Sumber air limbah dari kegiatan rumah tangga seperti dari urine, kegiatan
mandi, mencuci peralatan rumah tangga, mencuci pakaian serta kegiatan dapur
lainnya. Idealnya sebelum air limbah dibuang ke saluran air harus diolah terlebih
dahulu dalam tangki peresapan. Prinsip dasarnya adalah bahwa air limbah yang
dilepas ke lingkungan sudah tidak berbahaya lagi bagi kesehatan lingkungan. Air
Limbah yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak sangat luas, misalnya
dapat meracuni air minum, meracuni makanan hewan, menjadi penyebab
ketidakseimbangan ekosistem sungai dan sebagainya.
Pada umumnya air limbah dapat menimbulkan dampak, yaitu dampak
terhadap kehidupan biota air, dampak terhadap kualitas air tanah, dampak
terhadap kesehatan, dampak terhadap estetika lingkungan. Pada wilayah
perkotaan mudah terlihat adanya sarana air limbah yang dialirkan melalui saluran-
saluran, dimana air limbah dari rumah tangga tersebut segera dialirkan ke saluran-
saluran yang ada di sekitar wilayah permukiman sampai ke badan air anak sungai
dan sungai terdekat. Selain dialirkan ke saluran-saluran yang ada, terdapat satu
pendekatan dalam usaha pengolahan air limbah rumah tangga adalah dengan
menggunakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Komunal.

Untuk menentukan jumlah air limbah dapat dilakukan dengan mengacu


pada besaran People Equivalent (PE) yaitu untuk rumah biasa perkiraan jumlah
air limbah adalah 120 liter/[Link].
38

2.4.10 Proyeksi Penduduk


Proyeksi penduduk merupakan perhitungan ilmiah jumlah penduduk yang
didasarkan pada asumsi dari komponen-komponen laju pertumbuhan penduduk,
yaitu kelahiran, kematian dan perpindahan (migrasi). Ketiga komponen inilah
yang menentukan besarnya jumlah penduduk dan struktur umur penduduk di masa
yang akan datang. Untuk menghitung proyeksi jumlah penduduk dapat
menggunakan metode -metode di bawah ini :

1. Metode Aritmatika
Pn = Po + n r .............................................................................................. (2.20)

Po−Pt
R = ………………...………………………….……………. (2.21)
t
Keterangan :
Pn = Jumlah Penduduk tahun ke - n (jiwa)
Po = Jumlah penduduk pada awal tahun proyeksi (jiwa)

Pt = Jumlah penduduk akhir tahun proyeksi (jiwa)


n = Periode waktu yang ditinjau (buah)
r = Angka pertumbuhan penduduk / tahun (%)
t = Banyaknya tahun sebelum analisis (buah)

2. Metode Geometrik
Pn = Po ( 1 + r ) n .................................................................................... ......(2.22)

Keterangan :

Pn = Jumlah Penduduk tahun ke - n (jiwa)


Po = Jumlah penduduk pada awal tahun proyeksi (jiwa)

r = Presentase pertumbuhan geometrical penduduk tiap tahun (%)

n = Periode waktu yang ditinjau (buah)


39

2.5 Analisa Hidrolika


Banyaknya debit air hujan yang ada dalam suatu kawasan harus
segera di alirkan agar tidak menimbulkan genangan air. Untuk dapat
mengalirkannya diperlukan saluran yang dapat menampung dan
mengalirkan air tersebut ke tempat penampungan. Sehingga penentuan
kapasitas tampung harus berdasarkan atas besarnya debit air hujan.

2.5.1 Penampang Melintang Saluran


Penampang melintang saluran perlu direncanakan untuk mendapatkan
penampang yang ideal dan efisien dalam penggunaan lahan. Penggunaan lahan
yang efisien berarti dengan memperhatikan ketersediaan lahan yang ada. Hal ini
perlu diperhatikan karena pada daerah pemukiman padat lahan yang dapat
dipergunakan sangat terbats. Penampang saluran yang ideal sangat dipengaruhi
oleh faktor bentuk penampang. Dengan Q banjir rencana yang ada, kapasitas
penampang akan tetap walaupun bentuk penampang diubah- ubah, sehingga perlu
diperhatikan bentuk penampang saluran yang stabil. Bentuk penampang saluran
berdasarkan kapasitas saluran yaitu :

a. Penampang tunggal trapesium

Gambar 2.11 Saluran bentuk trapesium (SNI 03-3424-1990).


40

Keterangan :

Q = Debit aliran (m3/dt)


V = Kecepatan aliran (m/dt
m = Kemiringan penampang
n = Koefisien kekasaran manning
P = Keliling penampang basah (m)
A = Luas penampang basah (m2)
R = Jari-jari hidrolis (m)
I = Kemiringan saluran
Menurut Suripin (2004:189) dalam bukunya yang berjudul Sistem
Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan, menyarankan kemiringan dinding saluran
berdasarkan tanah seperti tabel 2.10 Di bawah ini :

Tabel 2.10 Kemiringan Dinding Saluran Berdasarkan Tipe Tanah


Nilai m

Kedalaman
No Tipe Tanah Kedalaman
Saluran Sampai
Saluran > 1,2 m
1,2 m

1 Turf 0

2 Lempung keras 0,5 1

Geluh
kelempungan dan
3 geluh keliatan 1 1,5

4 Geluh kepasiran 1,5 2

5 Pasir 2 3
41

b. Penampang tunggal segi empat

Gambar 2.12 Saluran bentuk empat persegi panjang (SNI 03-3424-1990).

Q = A x V…………………………….……………………………,… ......... (2.28)


R=
A …………………………………………...….................................(2.29)
P

1 2 1
V= ( ) x R 3 x I 2 m/detik…………………….............................(2.30)
n

A = B x H ....................................................................................................... (2.31)

P = 2H + B… .................................................................................................. (2.32)

Keterangan :
Q = Debit aliran (m3/dt)
V = Kecepatan aliran (m/dt)
m = Kemiringan penampang
n = Koefisien kekasaran manning
P = Keliling penampang basah (m)
2
A = Luas penampang basah (m )
R = Jari-jari hidrolis (m)
I = Kemiringan saluran
42

2.5.2 Desain Saluran


Prosedur pelaksanaan dalam mendesain saluran drainase adalah sebagai berikut :
a. Tentukan jenis penampang saluran yang akan digunakan, kemudian
tentukan juga bahan material dari saluran yang akan dibuat
b. Tetapkan kecepatan izin yang tergantung dari bahan saluran berdasarkan
tabel berikut :
Tabel 2.11 Kecepatan aliran yang diizinkan pada bahan dinding dan dasar saluran

Kecepatan Aliran Ijin


No Jenis Bahan (m/dt)

1 Pasir halus 0,45

2 Lempung kepasiran 0,50

3 Lanau alluvial 0,60

4 Kerikil halus 0,75

5 Lempung keras/kokoh 0,75

6 Lempung padat 1,10

7 Kerikil kasar 1,20

8 Batu-batu besar 1,50

9 Beton-beton bertulang 1,50


(Sumber : SNI 03-3424-1994)

a. Hitung luas penampang desain (Ad) dengan rumus :

b. Hitung luas penampang ekonomis (Ae) berdasarkan kriteria penampang


ekonomis dan menggunakan rumus yang sesuai dengan bentuk penampang.
Contoh : Untuk Penampang Persegi

A = b x y →b=2 y
A = 2 y x y=2 y2
Ae = Ad
2y2 = Ad
43

c. Hitung Free Board (w)

d. Hitung kemiringan kemiringan saluran dengan menggunakan rumus :


1. Rumus Chezy

Dengan :

V = Kecepatan rata-rata aliran (m/dt)

C = Koefisien Chezy

R = Jari-jari Hidrolik

I = Kemiringan dasar saluran

Koefisien Chezy dapat dihitung melalui :

saluran N = Koefisien Kutter

a. Rumus Bazin

R = Jari- jari Hidrolik


I = Kemiringan dasar saluran
m = Koefisien Bazin

2. Rumus Manning – Gaukler – Strikler


2 1
1 3 2
V= xRxI
n

Dengan :
n = Koefisien manning, berdasarkan tabel berikut
Tabel 2.12 Nilai Koefisien Manning
44

Baik Sedan
No. Tipe Saluran Baik Jelek
Sekali g

Saluran Buatan
0,017 0,020 0,023 0,025
1 Saluran tanah, lurus teratur

Saluran tanah yang dibuat dengan


0,023 0,028 0,030 0,040
2 Excavator

3 Saluran pada dinding batuan,


0,020 0,030 0,033 0,035
lurus, teratur

Saluran pada dinding batuan, tidak


4 0,035 0,040 0,045 0,045
lurus,tidak teratur

Saluran batuan yang diledakan, ada


5 0,025 0,030 0,035 0,040
tumbuh – tumbuhan

Dasar saluran dari tanah, sisi saluran


6 0,028 0,030 0,033 0,035
Berbatu

7 Saluran lengkung, dengan kecepatan 0,020 0,025 0,028 0,030


aliran rendah
8 Saluran Alam 0,025 0,028 0,030 0,033

Bersih, lurus, tidak berpasir, tidak


bergelombang
Seperti no.8 tetapi ada timbunan atau
9 0,030 0,033 0,035 0,040
Kerikil

Melengkung, bersih, berlubang dan


0,033 0,045 0,050 0,055
10 berdinding pasir

11 Seperti no.10, dangkal, tidak teratur 0,040 0,045 0,050 0,055

Seperti no.10 berbatu dan ada


12 tumbuh - 0,035 0,040 0,045
Tumbuhan 0,050

13 Seperti no. 11, sebagian berbatu 0,045 0,050 0,055 0,060

Aliran pelan, banyak tumbuh –


14 tumbuhan 0,050 0,060 0,070 0,080
dan berlubang
45

15 Banyak tumbuh - tumbuhan 0,075 0,0100 0,0125 0,0150

Saluran Buatan, Beton atau Batu kali


Saluran pasangan batu, tanpa
16 penyelesaian 0,025 0,030 0,033 0,035
Seperti no.16 tapi dengan
17 0,017 0,020 0,025 0,030
penyelesaian

18 Saluran beton 0,014 0,016 0,019 0,021

19 Saluran beton halus dan rata 0,010 0,011 0,012 0,013

Saluran beton pracetak dengan acuan


20 0,013 0,014 0,014 0,015
baja

Saluran beton pracetak dengan acuan


21 0,015 0,016 0,016 0,018
kayu
(Sumber : SNI 03-3424-1994)

2.6 Pengelolaan Proyek


Menurut [Link] (1982), pengelolaan proyek atau manajemen proyek
adalah merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan
sumber daya perusahaan untuk sasaran yang telah ditentukan.

2.6.1 Dokumen Tender


Dokumen tender adalah suatu dokumen yang dibuat oleh konsultan
perencana atas permintaan klien. Dokumen tender akan memberikan
penjelasan kepada peserta lelang, karena terdiri dari sistem tender yaitu suatu
cara yang dilakukan pemilik proyek untuk menjual pelaksanaan proyek
tersebut agar dapat dilakukan dengan harga yang serendah-rendahnya dan
wajar dengan waktu sesingkat-singkatnya melalui sistem kompetisi. Adapun
proyek tersebut dilaksanakan dengan sistem kontrak. Syarat-syarat atau
ketentuan-ketentuan yang akan memberikan informasi dengan jelas. Oleh
karena itu, setiap kontraktor yang mengikuti pelelangan harus memiliki
dokumen proyek tersebut, karena hal ini akan mempengaruhi harga
penawaran.
46

Dokumen proyek ini juga penting bagi semua pihak yang terlibat dalam
pelaksanaan pekerjaan suatu proyek. Dokumen tender ini terdiri dari gambar kerja
atau hal-hal lain yang harus diikiuti dan dikerjakan dalam RKS. Adapun dokumen
proyek ini, yaitu:

a) Rencana Kerja dan Syarat (RKS)


Rencana kerja dan syarat-syarat administrasi berupa instruksi kepada
penyedia jasa dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Instruksi ini berisi tentang informasi yang diperlukan oleh pelaksana-


pelaksana kontraktor untuk menyiapkan penawarannya sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan oleh pengguna jasa. Informasi tersebut berkaitan
dengan penyusunan, penyampaian, pembukaan, evaluasi penawaran dan
penunjukan penyedia jasa.

2) Hal-hal berkaitan dengan pelaksanaan kontrak oleh penyedia jasa, termasuk


hak, kewajiban, dan resiko dimuat dalam syarat-syarat umum kontrak.
Apabila terjadi perbedaan penafsiran / pengaturan pada dokumen.

lelang,penyedia jasa harus mempelajari dengan seksama untuk menghindari


pertentangan pengertian.

3) Data proyek memuat ketentuan, informasi tambahan, atau perubahan


atas instruksi kepada pelaksana – kontraktor sesuai dengan kebutuhan
paket pekerjaan yang akan dikerjakan.

RKS sebagai kelengkapan gambar kerja yang didalamnya memuat


uraian tentang:

a. Syarat-syarat umum
Berisi keterangan mengenai pekerjaan, pemberi tugas dan
pengawas bangunan.
47

b. Syarat-syarat administrasi
- Jangka waktu pelaksanaan
- Tanggal penyerahan pekerjaan
- Syarat-syarat pembayaran
- Denda keterlambatan
- Besarnya jaminan penawaran
- Besarnya jaminan pelaksanaan
c. Syarat-syarat teknis

- Syarat dan jenis uraian pekerjaan yang harus dilaksanakan


- Jenis dan mutu bahan yang digunakan

b) Gambar Kerja
Gambar kerja adalah gambaran acuan yang digunakan untuk
merealisasikan antar ide ke dalam wujud fisik. Gambar kerja harus dipahami
oleh semua personel yang terlibat dalam proses pembangunan fisik. Gambar
kerja pun terdiri dari berbagai unsur, yang memuat informasi mengenai
dimensi, bahan, dan warna.

c) Rencana Anggaran Biaya (Bill of Quantity)


Anggaran biaya merupakan salah satu unsur fungsi perencanaan proyek
konstruksi. Penyusunan anggaran merupakan perencanaan secara detail
perkiraan biaya bagian atau keseluruhan kegiatan proyek, yang selanjutnya
digunakan untukmenerapkan fungsi pengawasan dan pengendalian biaya
dan waktu pelaksanaan. Anggaran biaya proyek dapat didefinisikan sebagai
perencanaan biaya yang akan dikeluarkan sehubungan adanya suatu proyek
dengan rencana kerja dan syarat-syarat (RKS) tertentu, yang dihitung oleh
cost estimator dan disetujui oleh pemberi tugas (pemilik).

Pada tahap perencanaan selain gambar rencana dan spesifikasi, konsultan


perencana juga menghitung rencana anggaran biaya bangunan demikian
juga kontraktor akan membuat rencana anggaran biaya (RAB) konstruksi
untuk penawaran.
48

2.6.2 Network Planning

Metode Network Planning atau metode jaringan kerja di perkenalkan pada


tahun 50 an oleh tim perusahaan dupont dan rand corporation untuk
mengembangkan sistem kontrol manajemen. Badri (1983) menyatakan jaringan
kerja (network planning) adalah satu model yang banyak digunakan dalam
penyelengaraan proyek,yang produknya berupa informasi mengenai kegiatan-
kegiatan yang ada dalam diagram jaringan kerja yang bersangkutan. Dengan
perencanaan jaringan kerja dapat dilakukan analisis terhadap jadwal waktu
probabilitas selesainya proyek, biaya yang diperlukan dalam rangka mempercepat
penyelesaian proyek, dan sebagainya
Metode ini dimaksudkan untuk merencanakan dan mengendalikan sejumlah
besar kegiatan yang memiliki hubungan ketergantungan yang kompleks dalam
masalah desain engineering, kontruksi, dan pemeliharaan. Metode ini relatif lebih
sulit, hubungan antar kegiatan jelas, dan dapat memperlihatkan kegiatan kritis
Dari segi penyusn jadwal, jaringan kerja di pandang sebagai suatu langkah
penyempurnaan metode barchart, karena dapat memberikan jawaban atas
pertanyaan pertanyan yang belum terpecahkan oleh metode tersebut. Jaringan
kerja merupakan metode yang mampu menyuguhkan teknik dasar dalam
menentukan urutan dan kurun waktu kegiatan proyek, dan selanjutnya dapat
memperkirakan waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan (Soeharto, 1999)
Dalam penyusunan suatu jaringan kerja proyek, terdapat tiga unsur penting

1. Inventarisasi kegiatan proses inventarisasi kegiatan ini adalah pemecahan


suatu proyek menjadi beberapa komponen utama proyek. Komponen utama
ini selanjutnya dipecah lagi menjadi beberapa komponen, sehingga pada
akhirnya di peroleh paket-peket pekerjaan. Proses ini dikenal dengannama
work breakdown structure (WBS).
2. Logika ketergantungan pemecahan proyek menjadi paket – paket
pekerjaan,harus memperhatikan urutan pekerjaan yang akan dilakukan.
Pekerjaan yang mana yang mendahului, pekerjaan mana yang mengikuti
dan pekerjaan mana yang dapat dilakukan bersamaan (tidak tergantung pda
kegiatan lainnya)
49

3. Perkirraan waktu perkiraan waktu ini merupakan jangka waktu yang


dibutuhkan untuk menyelesaikan setiapkegiatan. Waktu ini berhubungan
dengan biaya proyek. Pada umumnya bila waktu pelaksaan bertambah
panjang, maka biaya proyek bertambah besar, hal ini disebabkan oleh biaya
overhead yang bergantung pada waktu pelaksanaan.

Beberapa faktor yang menentukan lamanya kegiatan yaitu:


a. Volume pekerjaan

Suatu pekerjaan yang volumenya besar membutuhkan waktu


pekerjaan yang lebih lama. Apabila ingin mempercepat pelaksanaan,
biasanya diadakan penambahan tenaga kerja, waktu dan peralatan atau
bisa juga dengan merubah metode pelaksanaan.
b. Tenaga kerja

Tenaga kerja sangat berpengaruh terhadap lamanya penyelesaian


setiap kegiatan. Hal ini dikaitkan dengan produktifitas kerja para pekerja
tersebut, yang dipengaruhi oleh :
1. Kualitas pengawasan
2. Kondisi alam disekitar proyek
3. Efisiensi rencana kerja
4. Kualitas tenaga kerja
5. Jumlah jam kerja per hari
c. Cuaca, cuaca yang buruk dapat mempengaruhi kecepatan peyelesaian
proyek, juga dapat menurunkan kualitas hasil kerja.

d. Lokasi proyek berhubungan dengan kemudahan dan kesukaran dalam


mendapatkan dan mentranformasikan sumber daya. Hal ini secara
langsung mempengaruhi waktu pelaksanaan proyek.
e. Prosedur perkiraan waktu
1. Setiap pekerjaan di evaliuasi secara terpisah untuk setiap kegiatan.
Perkiraan jumlah material, tenaga kerja, dan peralatanyang dipakai
dapat diperkirakanberdasarkan pengalaman
50

2. Hitung durasi kegiatan dengan membagi volume kegiatan dengan


produktifitas tenaga kerja dan peralatan. Biasanya durasi kegiatan
dinyatakan dalam hari kerja.
3. Tambahan faktor ketidak pastian waktu terhadap durasi yang
diperoleh. Fsktor ketidakpastian ini disebabkan oleh keterlambatan
pelaksanaan.

Ada beberapa macam metode analisis jaringan kerja yang dapat digunakan
dalam penjadwalan waktu proyek, antara lain (Soeharto, 1999) :
a. Critical path method (CPM)
b. Precedence diagaram method (PDM)
c. Project evaluation and review technique (PERT)
Adapun istilah istilah yang digunakan dalam network diagram adalah
sebagai berikut :
a. Earliest Star Time (ES) adalah waktu paling awal suatu kegiatan dapat
dimulai, dengan memperhitungkan waktu kegiatan yang diharapkan dan
persyaratan urutan kegiatan
b. Latest Star Time (LS) adalah waktu paling lambat untuk dapat memulai

suatu kegitan tanpa penundaan keseluruhan proyek.


c. Earlist Finish Time (EF) adalah waktu paling awal suatu kegiatan dapat
diselesaikan.
d. Latest Finish Time (LF) adalah waktu paling lambat untuk dapat
menyelsaikan suatu kegiatan tanpa penundaan penyelesaian proyek
secara keseluruhan.
e. Duration (D) adalah kurun waktu kegiatan

2.3.1 Keuntungan Metode Network Planning

Menurut Drs. Sofwan Badri (1983) menyeatakan secara umum langkah


yang perlu ditempuh dalam pembuatan diagram jaringan kerja (network planning)
adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan visi (vision) dan tujuan (goals) dari proyek, visi dan tujuan

proyek akan menjadi dasar perumusan kegiatan.


51

2. Mengidentifikasi pekerjaan yang harus diselesaikan pada proyek yang

bersangkutan.
3. Mengidentifikasi urutan pelaksanaan pekerjaan sehingga pengerjaan
berlangsung secara sistematis.
4. Mengidentifikasi waktu pengerjaan setiap pekerjaan yang ada.
5. Membuat diagram pengerjaan proyek.
6. Menetapkan jalur kritis proyek.
7. Menghiting standar deviasi jalur kritis proyek.
8. Menghitung probabilitas penyelesaian proyek sesuai yang diminta oleh
pemilik proyek.
9. Menghitung biaya nyata proyek.
10. Mengevaluasi alternatif percepatan yang mungkin
Adapun diagram network planning merupakan sebuah bagan yang
sistematis dari kegiatan kegiatan serta kejadian kejadian di dalam melaksankan
proses produksi, dan dalam penggambarannya menggunakan simbol simbol.
a. Simbol anak panah ()
Simbol anak panah ini menunjukan sebuah kegiatan atau aktifitas.
Yang dimaksud kegiatan disini adalah segala tindakan yang memakan
waktu tertentu dalam pemakaian atau penggunaan sejumlah material,
tenaga kerja, serta peralatan produksi (resources) yang ada.
Perlu diketahui panjang pendeknya garis anak panah tersebut
tidaklah menunjukan atau tidak identik dengan jangka waktu yang
dipergunaakan oleh kegiatan tersebut. Oleh karena itu maka tidaklah perlu
menggunakan skala dalam menggambarkan garis anak panah tersebut.
Kepala anak panah menunjukan arah jalur atau urutan proses produksi.
b. Simbol lingkatan ( )
Simbol lingkaran menunjukan suatu kejadian (event), baik kejadian
atas berakhir atau selesainya suatu kegiatan tertentu atau kejadian
dimulainya kejadian yang lain jadi dalam hal ini berarti bahwa satu
simbol lingkaran tiu sekaligus menunjukan dua buah kejadian yaitu,
kejadian selesainya kegiatan yang satu serta dimulainya kegiatan yang
lain.
52

c. Simbol anak panah terputus putus / dummy ( )


Simbol anak panah yang terputus-putus menunjukan kegiatan semu
(dummy activity), yang di gunakan untuk memperbaiki logika
ketergantungan dari gambar diagram network, jadi sebnarnya kegiatan
tersebut tidak ada, akan tetapi hanya digunakan untuk mengalihkan arus
abak panah guna memperbaiki kebenaran logika urutan kegiatan proses
produksi. Jadi kegiatan semua memiliki 3 buah sifat, yaitu :
1. Waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan tersebut
adalah relative sangat pendek dibandingkan dengan kegiatan
biasa. Oleh karena itu maka kegiatan semu ini dianggap tidak
memerlukan waktu.

2. Menentukan boleh tidaknya kegiatan selanjutnya dilakukan. Hal


ini berarti bahwa apabila kegiatan semu itu belum selesai
dikerjakan maka kegiatan selanjutnya belum boleh dimulai
3. Dapat mengubah jalur kritis.

2.7 CPM (Critical Path Method)


CPM dikembangkan pada tahun 1957 oleh [Link] dari Remington rand
dan M.R Walker dan dupont untuk membantu pembangunan dan pemeliharaan
pabrik kimia di dupont. Solusi CPM yang di adopsi oleh kelly pada dasarnya
berasal dari “Lincar Programming” dan menggunakan notasi “I-J” untuk
menggambarkan hubungan antar kegiatan. Sekarang inin penjadwalannya dengan
menggunakan CPM sudah jarang dijumpai, dan pada umumnya hanya ditemukan
di paper-paper akademik yang perhitungannya dilakukan secara manual.
2.7.1 Teknik Perhitungan CPM

Activity on arrow atau sering disebut dengan CPM (Critical Path Method)
terdiri atas anak panah dan lingkaran /segi empat. Anak panah menggambarkan
kegiatan atau aktifitas, sedangkan lingkaran / segi empat menggambarkan
kejadian (event). Kejadian (event) diawal anak panah disebut “I’’, sedangkan
kejadian (event) di akhir anak panah disebut ‘’J” (Badri, 1983).
53

Setiap activity on arrow merupakan satu kesatuan dari seluruh kegiatansehingga


kejadian (event) ‘’J” kegiatan sebelumnya juga merupakan kejadian (event) ‘’I”
kegiatan berikutnya.

(Sumber : Husen, 2008 : 139)


Dimana :
i,j = Nomor peristiwa
X = Nama kegiatan
EET = Earliest Event time (Saat paling Awal kegiatan)
LET = Latest Event Time (Saat paling lambat kegiatan)
Y = Durasi kegiatan

E = Earliest start Time (Saat paling cepat untuk mulai kegiatan)

EF = Earliest Finish Time (Saat paling cepat untuk akhir kegiatan)


LS = Latest Start Time (Saat paling lambat untuk mulai kegiatan)
LF = Latest finish Time (Saat palig Lambat Untuk akhir kegiatan)
Metode ini mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a. Diagram networ dibuat dengan menggunakan anak panah untuk
menggambar kegiatan dan node-nya menggambarkan
peristiwanya/event. Node pada permulaan anak panah di tentukan
sebagai I-Node, sedangkan pada akhir anak panah ditentukan sebagai
J-Node
b. Menggunakan perhitungan maju untuk memperoleh waktu mulai
paling awal (EETi) pada I-Node dan waktu mulai paling awal (EETj)
pada J-Node dari seluruh kegiatan bahwa waktu paling awal peristiwa
terjadi adalah = 0. Adapun perhitungannya adalah : EETj = EETi +
Durasi X.
54

Menggunakan perhitungan mundur untuk memperoleh waktu selesai


paling lambat (LETi) pada I-Node dan waktu selesai paling lambat

(LETj) pada J-Node dari seluruh kegiatan dengan mengambil nilai


minimumnya. Adapun perhitungannya adalah : LETi = LETj – Durasi
X
c. Diantara dua peristiwa tidak boleh ada 2 kegiatan, sehingga untuk
menghindarinya digunakan kegiatan semu atau dummy yang tidak
mempunyai durasi.
d. Menggunakan CPM (Critical path method ) atau metode lintasan kritis,
di mana pendekatan yang dilakukan deterministik hanya menggunakan
satu jenis durasi pada kegiatannya. Lintasan kritis adalah lintasan
dengan kumpulan kegiatan yang mempunyai durasi terpanjang yang
dapat diketahui bila kegiatannya mempunyai Total Float ) TF = 0
e. Float : batas toleransi keterlambatan suatu kegiatan yang dapat di
manfaatkan untuk optimisi waktu dan alokasi sumber daya.

Anda mungkin juga menyukai