BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Asam Basa
Terdapat tiga teori umum tentang asam-basa yangdikemukakakn oleh,
Arrhenius, bronsted-lowry, dan lewis. Dalam teori yang dikemukakakn oleh
Svante Arrhenius, mendefinisikan asam merupakan zat yang terionisasi
menghasilkan ion hidrogen (H+) ketika dilarutkan dalam air, ssedangkan basa
merupakan zat yang terionisasi menghasilkan ion hidroksida (OH-) ketika
dilarutkan dalam air (Chang & Overby, 2019). Menurut Arrhenius dalam bukunya
Chang & Overby (2019), asam dan basa diklasifikasikan zat-zat yang sifat-
sifatnya dalam dalam larutan air sebagai berikut. Asam memiliki rasa yang asam,
merubah kertas lakmus dari biru menjadi merah, Larutan asam dalam air dapat
menghantarkan listrik, Asam yang bereaksi dengan logam tertentu, seperti seng,
magnesium, dan besi, untuk menghasilkan gas hidrogen. Contoh reaksinya seperti
reaksi antara asam klorida dengan magnesium:
2HCl(aq) + Mg(s) ⟶ MgCl2(aq) + H2(g)
Serta Asam bereaksi dengan karbonat dan bikarbonat, seperti Na₂CO₃, CaCO₃,
dan NaHCO₃, untuk menghasilkan gas karbon dioksida. Contohnya:
2HCl(aq) + CaCO3(s) ⟶ CaCl2(aq) + H2O(l) + CO2(g)
Sedangkan basa memiliki rasa yang pahit, terasa licin seperti sabun, merubah
kertas lakmus dari merah menjadi biru, dan larutan basa dalam air dapat
menghantarkan listrik.
Dalam teori yang dikemukakan oleh Johannes Brønsted (1879–1947),
seorang kimiawan Denmark, dan Thomas Lowry (1874–1936), seorang ilmuwan
Inggris, menyadari bahwa peristiwa penting dalam sebagian besar reaksi asam-
basa hanyalah transfer proton dari satu partikel ke partikel lain. Oleh karena itu,
mereka mendefinisikan ulang asam sebagai zat yang menyumbangkan/donor
proton dan basa sebagai zat yang menerima/akseptor proton. Intisari konsep asam-
basa Brønsted–Lowry adalah bahwa reaksi asam-basa adalah reaksi transfer
proton (Jasperen, et al., 2012). Dalam reaksi CH3COOH dalam larutan air:
H 3COOH(aq) + H2O(l) CH3COO (aq) + H3O
(aq)
Acid Base Base Acid
Dalam reaksi (16.1), asam asetat (CH₃COOH) berfungsi sebagai asam dengan
mendonorkan proton (H⁺), yang kemudian diterima oleh molekul air (H₂O).
Akibatnya, air bertindak sebagai basa dalam konteks ini. Sebaliknya, dalam proses
kebalikannya, ion hidronium (H₃O⁺) berfungsi sebagai asam, sedangkan ion
asetat (CH₃COO⁻) berfungsi sebagai basa. Ketika asam asetat kehilangan proton,
ia berubah menjadi ion asetat, dengan rumus kimianya berbeda hanya satu proton.
Senyawa yang berbeda oleh satu proton (H) membentuk pasangan asam-basa
konjugat. Dalam pasangan ini, senyawa yang memiliki proton tambahan (H)
adalah asam, dan senyawa yang tidak memiliki proton (H) adalah basa (Brown, et
al., 2012).
Pada tahun 1923, G. N. Lewis mengemukakan teori asam-basa yang erat
kaitannya dengan ikatan dan struktur. Asam Lewis adalah spesies (atom, ion, atau
molekul) yang bertindak sebagai penerima/akseptor pasangan elektron, sedangkan
basa Lewis adalah spesies yang bertindak sebagai pemberi/donor pasangan
elektron. Reaksi antara asam Lewis (A) dan basa Lewis menghasilkan
pembentukan ikatan kovalen di antara keduanya. Produk reaksi asam-basa Lewis
disebut adduct (atau senyawa adisi). Reaksi ini dapat diwakili sebagai
B: + A ⟶ B – A
Dimana B:A adalah adduct. Pembentukan ikatan kimia kovalen
oleh satu spesies yang menyumbangkan sepasang elektron ke
spesies lain disebut koordinasi, dan ikatan yang menghubungkan
asam Lewis dan basa Lewis disebut ikatan kovalen koordinasi.
Contohnya reaksi Bf3 dengan NH3:
Atom boron dalam BF₃ memiliki kulit valensi yang hanya terisi 6 elektron
(kekurangan elektron), sehingga memiliki orbital kosong yang dapat menerima
pasangan elektron. Atom nitrogen dalam NH₃ memiliki sepasang elektron bebas
yang dapat didonorkan. Ketika bereaksi, pasangan elektron bebas dari nitrogen
pada NH₃ disumbangkan untuk mengisi orbital kosong pada atom boron dari
BF₃, membentuk ikatan koordinasi dan menghasilkan aduk H₃N–BF₃ (Petrucci,
et al., 2017).
2.2 Derajat Keasaman
Derajat keasaman secara universal dinyatakan dengan skala pH (Potential of
hydrogen) yang dikemukakan oleh ahli biokimia denmark Søren Sørensen pada
tahun 1909. Dia mendefinisikan pH sebagai negatif dari logaritma konsentrasi ion
hidrogen [H+]. Diungkapkan kembali dalam istilah [H3O+],
pH = -log[H+]
dimana [H+] adalah konsentrasi molar ion hidrogen. Larutan dengan pH kurang
dari 7 diklasifikasikan sebagai asam pada suhu 25°C, pH sama dengan 7 netral,
dan pH lebih dari 7 bersifat basa pada suhu 25°C. Kebalikannya berlaku untuk
pOH, di mana nilai pOH kurang dari 7 menunjukkan larutan basa, dan lebih dari 7
menunjukkan larutan asam (Chang & Overby, 2018). Sedangkan skala pOH yang
serupa dengan skala pH dapat dibuat menggunakan logaritma negatif konsentrasi
ion hidroksida [OH-] dalam suatu larutan. Oleh karena itu, kita mendefinisikan
pOH sebagai
pOH = -log[OH-]
dimana [OH-] adalah konsentrasi molar ion hidroksida (Chang & Overby, 2018).
Skala pH dan pOH dihubungkan secara ketat melalui tetapan kesetimbangan
autoprotolisis air (Kw). Tetapan kesetimbangan untuk reaksi ini, yang
disebut tetapan hasil kali ion air (KwKw), pada suhu 25°C bernilai:
Kw=[H3O+][OH−]=1.0×10−14
Dengan menerapkan operasi negatif logaritma pada kedua sisi persamaan ini,
diperoleh hubungan linier yang fundamental antara pH dan pOH (Petrucci et al.,
2017):
−log(Kw)=−log[H3O+]+(−log[OH−])⇒pKw=pH+pOH
2.3 Derajat Ionisasi
Derajat ionisasi atau derajat disosiasi (α) merupakan besaran yang mengukur
fraksi molekul atau satuan rumus suatu zat terlarut yang telah terionisasi menjadi
ion-ionnya dalam suatu larutan. Nilai derajat ionisasi berada pada rentang 0 ≤ α ≤ 1, di
mana nilai mendekati 1 menunjukkan ionisasi hampir sempurna, sedangkan nilai yang
kecil menunjukkan ionisasi yang hanya berlangsung sebagian (Petrucci et al., 2017).
Derajat ionisasi dapat dinyatakan sebagai:
Konsep derajat ionisasi menjadi dasar klasifikasi kekuatan asam dan basa. Asam
kuat dan basa kuat didefinisikan sebagai elektrolit yang terionisasi sempurna (α
≈ 1) dalam larutan air encer. Contohnya, HCl, HNO₃, H₂SO⁴ (disosiasi proton
pertama) tergolong asam kuat, sedangkan NaOH, KOH, dan Ca(OH)₂ tergolong
basa kuat. Sebaliknya, asam lemah dan basa lemah hanya terionisasi sebagian
dalam air, dengan nilai α yang lebih kecil dari 1 dan bergantung pada konsentrasi.
Asam asetat (CH₃COOH) dan amonia (NH₃) adalah contoh klasik (Petrucci et al.,
2017). Berikut merupakan Reaksi Asam-Basa Berdasarkan Kekuatan Relatif:
1. Asam Kuat + Basa Kuat: Reaksi ini menghasilkan garam netral karena baik
kation (dari basa kuat) maupun anion (dari asam kuat) tidak mengalami hidrolisis
yang signifikan di dalam air (Harris, 2016).
1. Asam Kuat + Basa Lemah: Reaksi ini menghasilkan garam bersifat asam
karena kation (asam konjugat dari basa lemah) terhidrolisis dan
melepaskan ion H⁺ ke dalam larutan (Harris, 2016).
2. Asam Lemah + Basa Kuat: Reaksi ini menghasilkan garam bersifat basa
karena anion (basa konjugat dari asam lemah) terhidrolisis dan melepaskan
ion OH⁻ ke dalam larutan (Harris, 2016).
3. Asam Lemah + Basa Lemah: Reaksi ini menghasilkan garam yang sifat
keasamannya (pH) bergantung pada kekuatan relatif antara asam lemah
dan basa lemah awalnya, karena kedua ion garam dapat terhidrolisis
(Harris, 2016).
2.4 Titrasi
Titrasi asam–basa merupakan metode analisis volumetrik yang digunakan untuk
menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa melalui reaksi netralisasi
dengan larutan standar yang konsentrasinya telah diketahui. Prinsip dasar titrasi
asam–basa adalah reaksi antara ion hidrogen (H⁺) dan ion hidroksida (OH ⁻) yang
menghasilkan air. Dengan mengukur volume larutan standar yang diperlukan
untuk mencapai kondisi stoikiometri, konsentrasi larutan analit dapat ditentukan
secara kuantitatif. Proses ini memungkinkan penentuan kuantitatif konsentrasi
larutan yang tidak diketahui (Chang & Overby, 2018).
Proses titrasi menggunakan umumnya menggunakan buret dan erlenmeyer.
Larutan dengan konsentrasi yang telah diketahui disebut larutan standar atau
titran, sedangkan larutan yang konsentrasinya akan ditentukan disebut larutan
analit/titrat. Titran ditambahkan secara bertahap ke dalam analit hingga reaksi
mencapai kondisi stoikiometri, yaitu saat jumlah mol asam setara dengan jumlah
mol basa yang bereaksi. Kondisi ini disebut sebagai titik ekuivalen (Brown et al.,
2018). Penentuan titik ekuivalen umumnya dilakukan dengan bantuan indikator
asam–basa.
Proses titasi dapat divisualisasikan melalui kurva titrasi, yaitu plot antara pH
larutan (sumbu Y) terhadap volume titran yang ditambahkan (sumbu X). Bentuk
kurva ini sangat khas dan bergantung pada kekuatan asam dan basa yang bereaksi.
Untuk titrasi asam kuat dengan basa kuat, kurva dimulai pada pH rendah,
menunjukkan perubahan bertahap, kemudian mengalami lonjakan pH yang
sangat tajam di sekitar titik ekuivalen (pH = 7). Titik ekuivalen merupakan titik
teoritis dimana jumlah ekivalen asam sama dengan jumlah ekivalen basa. Secara
visual pada kurva, titik ini seringkali diestimasi sebagai titik belok (infleksi)
paling curam dari lonjakan pH. Sementara itu, titrasi yang melibatkan asam lemah
atau basa lemah menghasilkan kurva dengan daerah penyangga yang jelas
sebelum titik ekuivalen dan lonjakan pH yang lebih pendek, dengan titik
ekuivalen yang tidak netral (pH > 7 untuk asam lemah-basa kuat, pH < 7 untuk
basa lemah-asam kuat) (Harris, 2016; Brown et al., 2018).
2.5 Jenis titrasi asam basa
Berdasarkan sifat spesifik dari zat yang bereaksi, reaksi asam-basa dapat
diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis. Dua jenis reaksi asam-basa yang
fundamental dan banyak ditemui dalam konteks analisis laboratorium adalah
reaksi alkalimetri dan reaksi asidimetri. Sedangkan alkalimetri adalah suatu cara
penetapan konsentrasi larutan yang sifatnya asam secara kuantitatif dengan
menggunakan larutan baku basa (Faiqah, etal., 2023). Asidimetri adalah suatu
cara penentuan konsentrasi larutan yang sifatnya basa secara kuantitatif dengan
menggunakan larutan baku asam (Faiqah, etal., 2023).
2.6 Indikator asam-basa
Indikator asam-basa adalah senyawa organik kompleks, umumnya berupa asam
atau basa lemah, yang berfungsi sebagai penanda visual dalam analisis kimia,
khususnya untuk menentukan titik akhir titrasi atau mengestimasi nilai pH suatu
larutan. Fungsi utamanya adalah memberikan sinyal yang jelas dan tajam berupa
perubahan warna ketika kondisi larutan mencapai suatu rentang pH tertentu,
sehingga menghubungkan titik ekuivalen yang bersifat teoritis dengan titik akhir
yang dapat diamati secara praktis (Sajin et al., 2020). Cara kerjanya didasarkan
pada dua teori utama: Teori Ostwald yang menjelaskan pergeseran
kesetimbangan disosiasi indikator (sebagai asam/basa lemah) akibat perubahan
konsentrasi ion H⁺ atau OH⁻, dan Teori Quinonoid yang menjelaskan perubahan
warna tersebut sebagai akibat dari peralihan struktur molekul indikator antara
bentuk tautomer benzenoid (warna terang) dan quinonoid (warna gelap) yang
dominan pada pH berbeda (Sajin et al., 2020).
Phenolphthalein (PP) bekerja pada rentang pH 8.0–10.0, berubah dari tidak
berwarna dalam asam menjadi merah muda dalam basa. Oleh karena itu, PP
sangat ideal untuk titrasi yang titik ekuivalennya berada di daerah basa, seperti
titrasi asam lemah dengan basa kuat. Sebaliknya, Methyl Orange
(MO) (rentang pH 3.0–6.3; merah ke kuning) dan Methyl Red (MR) (rentang pH
4.2–6.2; merah muda ke kuning) lebih sesuai untuk titrasi yang titik ekuivalennya
bersifat asam, seperti basa lemah dengan asam kuat. Pemilihan di antara MO
dan MR dapat dipertimbangkan berdasarkan ketajaman perubahan warna yang
diinginkan dan pH spesifik titik ekuivalen. Ketiganya dapat digunakan dalam
titrasi asam kuat dengan basa kuat karena lonjakan pH-nya yang lebar
mencakup rentang perubahan semua indikator tersebut, namun PP sering menjadi
pilihan standar karena perubahan warna dari tidak berwarna menjadi berwarna
lebih mudah diamati (Sajin et al., 2020).