0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan25 halaman

Bab Ii

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang menular melalui hubungan seksual dan dapat tanpa gejala. Epidemiologi IMS menunjukkan peningkatan prevalensi dengan berbagai faktor yang mempengaruhi, termasuk perilaku seksual dan faktor sosial. Pencegahan IMS melibatkan pemutusan rantai penularan dan penanggulangan faktor risiko melalui perilaku sehat dan sanitasi lingkungan.

Diunggah oleh

Erwin Adhari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan25 halaman

Bab Ii

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang menular melalui hubungan seksual dan dapat tanpa gejala. Epidemiologi IMS menunjukkan peningkatan prevalensi dengan berbagai faktor yang mempengaruhi, termasuk perilaku seksual dan faktor sosial. Pencegahan IMS melibatkan pemutusan rantai penularan dan penanggulangan faktor risiko melalui perilaku sehat dan sanitasi lingkungan.

Diunggah oleh

Erwin Adhari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Infeksi Menular Seksual (IMS)

A.1 Pengertian

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah berbagai infeksi yang dapat

menular dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan seksual dengan

pasangan yang sudah tertular sehingga menyebabkan infeksi pada alat

reproduksi laki-laki dan wanita, baik melalui mulut (oral), hubungan seks

senggama (vaginal) ataupun lewat dubur (anal). Beberapa IMS dapat

menyebar melalui kontak seksual kulit ke kulit. Organisme yang

menyebabkan IMS klamidia, gonore, hepatitis B, HIV, HPV, HSV-2 dan

sifilis-juga dapat ditularkan ke ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan.

Seseorang dapat memiliki IMS tanpa gejala yang jelas dari penyakit. Oleh

karena itu, istilah infeksi menular seksual adalah istilah yang lebih luas dari

penyakit menular seksual/sexual transmitted disease (STD), sehingga pada

tahun 1998 istilah STD ,ulai berubah menjadi STI (sexual transmitted

infection) agar dapat menjangkau penderita asimtomatik (9)

A.2 Epidemiologi Infeksi Menular Seksual

Penyakit kelamin ( veneral diseases) sudah lama dikenal dan beberapa

diantaranya sangat popular di Indonesia yaitu sifilis dan gonore. Dengan

semakin majunya ilmu pengetahuan, seiring dengan perkembangan peradaban

6
7

masyarakat, banyak ditemukan penyakit-penyakit baru, sehingga istilah

tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi Sexually Transmitted Diseases

(STD) atau Penyakit Menular Seksual (PMS) (10)

Perubahan istilah tersebut memberikan dampak terhadap spectrum PMS

yang semakin luas karena selain penyakit-penyakit yang termasuk dalam

kelompok penyakit kelamin (VD) yaitu sifilis, gojnore, ulkus mole,

limfogranuloma venereum dan granuloma inguinale juga termasuk urethritis

non gonore (UNG), kondilomata akuminata, herpes genitalis, kandidosis,

trikomoniasis, bacterial vaginosis, hepatitis, moluskom kontagiosum, scabies,

pedikolosis dan lain-lain.

A.3 Faktor-Faktor yang Berpengaruh

Perubahan pola distribusi maupun pola prilaku penyakit tersebut diatas

tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu:

1. Faktor dasar

a. Adanya penularan penyakit

b. Berganti-ganti pasangan seksual

2. Faktor medis

a. Gejala klinis pada wanita dan homoseksual yang asimtomatis

b. Pengobatan modern

c. Pengobatan yang mudah, murah, cepat dan efektif, sehingga risiko

rewistensi tinggi, dan bila salahgunakan akan meningkatkan risiko

penyebaran infeksi.
8

3. Alat kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) dan pil KB hanya vermanfaat

bagi pencegahan kehamilan saja, berbeda dengan kondom yang juga

dapat digunakan sebagai alat pengcegahan terhadap penularan IMS.

4. Faktor sosial

a. Mobilitas penduduk

b. Prositusi

c. Waktu yang santai

d. Kebebasan individu

e. Ketidaktahuan

Selain faktor-faktor tersebut diatas masih ada beberapa faktor lain

yang mempengaruhi perbedaan prevalensi (10)

A.4 Gejala – Gejala IMS

IMS sering kali tidak menampakkan gejala, terutama pada wanita. Namun

ada pula IMS yang menunjukkan gejala gejala umum sebagai berikut: (11)

1. Keluarnya cairan dari vagina, penis atau dubur yang berbeda dari

biasanya. Pada wanita, terjadi peningkatan keputihan. Warnanya bisa

menjadi lebih putih, kekuningan, kehijauhan, atau kemerah mudaan.

Keputihan bisa memiliki bau yang tidak sedap dan berlendir.

2. Rasa perih, nyeri atau panas saat kencing atau setelah kencing, atau

menjadi sering kencing.

3. Adanya luka terbuka, luka basah disekitar kemaluan atau sekitar mulut

(nyeri ataupun tidak).


9

4. Tumbuh seperti jengger ayam atau kutil di sekitar alat kelamin, tonjolan

kecil-kecil atau lecet disekitar alat kelamin.

5. Gatal-gatal di sekitar alat kelamin.

6. Terjadinya pembengkakan kelenjar limfa yang terdapat lipatan paha.

7. Pada pria, kantung pelir menjadi bengkak, kemerahan, dan nyeri.

8. Pada wanita, sakit perut bagian bawah yang kambuhan (tetapi tidak ada

hubungannya dengan haid), vagina bengkak dan kemerahan, pendarahan

diluar seks.

9. Mengeluarkan darah setelah berhubungan seks, dan

10. Secara uamum merasa tidak enak badan, lemah, kulit menguning, nyeri

sekujur tubuh, atau demam.

IMS Tidak Dapat Dicegah Dengan:

1. Meminum minuman berakohol seperti bird an lain-lainnya.

2. Meminum antibiotic seperti supertetra, penisilin dan lain-lain, sebelum

atau sesudah berhubungan seks, tidak ada satu obat pun yang ampuh

untuk membunuh semua jenis kuman IMS secara bersamaan. Semakin

sering meminum obat-obatan secara sembarangan, akan semakin

menyulitkan penyembuhan IMS karena kumannya menjadi kebal terhadap

obat.

3. Mendapatkan suntikan antibiotic secara teratur, pencegahan penyakit

hanya dapat dilakukan oleh antibiotic di dalam tubuh.

4. Memilih pasangan seks berdasarkan penampilan luar (misalnya, yang

berkulit putih dan bersih) atau berdasarkan usia (misalnya, yang masih
10

muda), anak kecilpun dapat terkena dan menghidap bibit IMS, karena

penyakit tidak membeda-bedakan usia dan tidak pandang bulu.

5. Membersihkan atau mencuci alat kelamin bagian luar (dengan cuka, air

soda, alcohol, air jahe, dan lain-lain) dan bagian dalam ( dengan odol,

betadine, atau jamu) segera setelah berhubungan seks (11).

A.5 Penularan IMS

Penularan IMS dapat melalui hubungan seks yang tidak aman, yaitu;

1. Hubungan seks lewat liang senggama tanpa kondom ( zakar masuk ke

vagina atau liang senggama)

2. Hubungan seks lewat dubur tanpa kondom ( zakar masuk ke dubur)

3. Seks oral (zakar dimasukkan ke mulut tanpa zakar di tutupin kondom)

Penularan IMS juga dapat terjadi dengan cara lain, yaitu, Melalui darah:

1. Trafunsi darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV

2. Saling tukar jam suntik akan terinfeksi.

3. Tertusuk jam suntik yang tidak steril secara sengaja atau tidak sengaja.

4. Menindik telinga atau tato dengan jarum yang tidak steril.

5. Penggunaan pisau cukur secara bersama-sama ( khususnya jika terluka

dan menyisakan darah pada alat)

6. Dari ibu hamil kepada bayi: bisa terjadi saat hamil, saat melahirkan, dan

saat menyusui (11)


11

A.6 Jenis- Jenis Infeksi Menular Seksual

1. Gonorrhoe

a. Definisi

Gonorrhoe adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh

Neisseria gonorrhoeae yang bersifat diplococcus. Neisseria

gonorrhoeae dapat memasukin selaput lender yang utuh dan

berkembang biak intra dan subepitel.

b. Gejala

Pria: pada koitus maka ejakulat yang mengandung gonococcus

berhubungan dengan vulva, vagina dan portio. Gonococcus dapat

memasuki muara urethra, saluran bartholini, canalis cervikalis dan

rectum

Wanita: pada wanita biasanya tidak sanggup memasuki selaput

lendir epitel gepeng berlapis banyak dari vulva dan vagina. Hanya

anak-anak, pada wanita tua dan dalam kehamilan dapat menimbulkan

vaginitis dan vulvitis.

2. HIV/AIDS

a. Definisi

HIV/AIDS adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus,

yaitu virus yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency

Syndrome). AIDS adalah tahap lanjut dari infeksi HIV yang

menyebabkan beberapa infeksi lainnya. Virus akan memburuk


12

system kekebalan tubuh, dan penderita HIV/AIDS akan berakhir

dengan kematian dalam waktu 5-10 menit kemudian jika tanpa

pengobatan yang cukup. Penyakit ini merupakan IMS yang

disebabkan infeksi virus HIV (12)

b. Gejala

Riwayat alamiah infeksi HIV dari tahap awal hingga tahap akhir

AIDS tergantung pada kekebalan dan kondisi individu, yang

memerlukan waktu 2-15 tahun. Orang yang hidup dengan HIV

umumnya tidak menyadari tentang status HIV mereka tanpa tes HIV

karena mereka terlihat sehat dan setelah beberapa minggu terinfeksi,

mereka mungkin mengalami tanda-tanda dan gejala atau hanya

penyakit seperti demam, sakit kepala, ruam atau sakit tenggorokan.

3. Ulkus Mole

a. Definisi

Ulkus mole adalah penyakit akut yang disebabkan oleh bacillus H.

Ducreyi. Penyakit ini ditularkan secara langsung melalui hubungan

seks.

b. Gejala

Gejala klinis muncul 1-5 hari sesudah infeksi, ditandai lesi

pertama berupa bercak atau benjolan kecil yang segera berubah jadi

benjolan berisi nanah lalu pecah menjadi tukak yang bersifat:

a) Ganda (multiple)
13

b) Lunak

c) Sangat nyeri tekan

d) Kotor dan mudah berdarah

e) Menggaung ditepi ulkus

f) Merah dikulit sekitar ulkus

Adanya ulkus dapat diikuti oleh pembesaran kelenjar limfa disalah

satu lipat paha pada 30 persen disertai radang akut. Kelenjar

kemudian melunak dan pecah membentuk sinus yang nyeri disertai

badan panas (13)

4. Sifilis

a. Definisi

Sifilis adalah penyakit kelamin mengerikan yang disebabkan oleh

bakteri spiroseta, trepomena palladium. Penyakit yang menginfeksi

daerah kelamin, bibir, mulut, atau anus baik pria maupun wanita.

Sifilis adalah penyakit seksual yang sangat menular, dan

penularannya tersebut didapat dari kontak seksual dengan individu

yang terinfeksi sifilis, selama proses kehamilan dari ibu kebayinya,

prilaku penyimpang (homoseksual), bergonta-ganti pasangan seksual,

dan individu yang terinfeksi HIV.

b. Gejala

Gejala atau tanda sifilis meliputi luka kecil, bulat dan sakit

pada kelamin, anus dan mulut, serta menyebabkan ruam pada


14

tubuh, terutama pada telapak tangan atau kaki. Pembengkakan

pada kelenjar getah bening di dekatnya kadang-kadang terjadi.

Banyak penderita tidak menyadari gejalanya selama bertahun-

tahun, karena gejala ini bisa datang dan pergi. Dalam tahap atau

stadium yang parah, sifilis dapat menyebabkan kerusakan otak,

saraf, mata, jantung, pembuluh darah, hati, tulang, sendi (14)

5. Klamidia

a. Definisi

Klamidia atau chanydia adalah penyakit menular seksual yang

disebabkan oleh bakteri, yang disebut chlamydia trachomatis.

Penyakit tersebut menginfeksi pria maupun wanita malalui hubungan

seksual yang terinfeksi bakteri tersebut. Penyakit tersebut mempunyai

gejala ringan, bahkan tidak disadari oleh si penderitanya,dan

komplikasi serius dapat menyebabkan kerukan permanen serta

infertilitas.

b. Gejala

Gejala klamidia meliputi keputihan yang abdormal, terasa nyeri

seperti terbakar saat berkemih, terasa nyeri perut bagian bawah perut,

nyeri pungung bawah, mual, demam, sakit ketika berhubungan

seksual dan lain-lain. Pada pria, gejalanya adalah cairan yang

berlebihan pada penis, perasaan terbakar dan gatal pada sekitar


15

pembukaan penis. Cara terbaik untuk menghindari bakteri

chalamydia adalah menjauhkan (14)

6. Herpes Genitalis

a. Definisi

Herpes merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus

herpes yang ditandai dengan rasa gatal dan sakit disekitar alat

kelamin. Penyakit herpes genital merupakan salah satu jenis herpes

yang umum terjadi dan termasuk penyakit menular yang perlu

diwaspadai penularannya. (15)

b. Gejala

a) Muncul retakan kemerahan di sekitar alat kelamin tanpa rasa

sakit, rasa gatal, ataupun kesemutan.

b) Muncul rasa gatal atau kesemutan disekitar alat kelamin atau

anus.

c) Muncul gelombang kecil yang melepuh dan menyebabkan luka

menyakitkan di sekitar alat kelamin, bokong, paha atau anus.

d) Muncul rasa sakit saat buang air kecil terutama terjadi pada

wanita.

e) Sekit kepala dan sakit pungungg.

f) Gejala mirip flu seperti demam, lelah, dan pembengkakan

kelenjar getah bening.


16

7. Trichomoniasis

a. Definisi

Trichomoniasis adalah salah satu jenis penyakit menular seksual

yang disebabkan oleh infeksi parasite trichomonas vaginalis.

Trachomonaas vaginalis kelenjar paraurethral (16)

Penyebab adanya trichomoniasis adalah hidupnya parasite pada

trichomonas vaginalis hingga menimbulkan infeksi parasite jenis ini

tersebar melalui hubungan seksual dengan seseorang yang telah

terjangkit. Faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang terserang

trichomoniasis, adalah:

a) PSK (Pekerjs Seks Komersial).

b) Orang yang pernah terjangkit.

c) Tidak memakai alat pelindung saat berhubungan seksual.

d) Gaya hidup dengan seringnya berganti pasangan

b. Gejala

Seorang wanita yang positif menderita trichomoniasis akan

memiliki gejala-gejala yang mirip dengan penderita vaginitis, yaitu:

a) Rasa gatal area vulva.

b) Bau busuk di area genitalia.

c) Iritasi dalam vagina

d) Iritasi sekitar introitus vagina.

e) Beberapa pasien asimptomatik

f) Nyeri saat berhubungan seksual.


17

g) Pendarahan pasca senggama

h) Nyeri perut bagian bawah

i) Keputihan yang banyak, berwarna pucathingga keputihan

berwarna hijau dan berbusa pada seseorang yang telah kronis.

A.7 Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular

Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular dilakukan dengan cara

memutuskan rantai penularan. Hal itu dapat dilakukan dengan cara

menghentikan kontak agent penyakit dengan pejamu. Faktor pencegahan

penularan penyakit menitikberatkan pada penanggulangan faktor resiko

penyakit seperti lingkungan dan perilaku. Sanitasi lingkungan yang tidak

higienis mempermudah penularan penyakit.

Perilaku seseorang merupakan akumulasi pengetahuan dan sikap terhadap

kesehatan seperti, sumber air minum yang bersih tidak cukup bagi seseorang

untuk terbebas dari penyakit akan tetapi tangan yang digunakan untuk minum

atau makan harus bersih. Selain tangan, peralatan makan juga harus terbebas

dari kontaminasi. Sumber air minum, peralatan, dan tangan sudah bersih,

perilaku untuk merebus air sampai medidih tetap diperlukan untuk menjamin

sterilitas. Sebagian besar status kesehatan masyarakat sangat ditentukan oleh

faktor lingkungan dan perilaku. Faktor pelayanan kesehatan dan keturunan

(herediter) hanya menyumbang sedikit bagi status kesehatan masyarakat (17)

Menurut penelitian Martha dkk (2022) pendidikan kesehatan tentang IMS

penting untuk remaja mengetahui dan meningkatkan pengetahuan tentang


18

cara menjaga kesehatan reproduksi dan mengetahui penyakit-penyakit yang

terjadi jika tidak menjaga kesehatan repeoduksi (18)

B. Remaja

B.1 Infeksi Menular Seksual Pada Remaja

Pada masa remaja adalah masa yang rentang kehidupan terjadinya

reproduksi. Adanya perubahan remaja dengan mulai merasakan dorongan

seksual serta menunjukan ketertarikan dengan lawan jenis. Akibat hal

tersebut remaja sudah mulai mencoba-coba dalam hal seksualitas. Tindakan

remaja dalam seksual menyimpang, yang sering dilakukan remaja ialah onani,

mastrubasi petting dan berhubungan seksual. Akibat perilaku remaja dapat

membawa dampak yang merugikan bagi remaja itu sendiri seperti tertular

Infeksi Menular Seksual, HIV dan AIDS, kehamilan diluar nikah, aborsi,

gangguan secara fisik, sosial maupun psikologi (19)

Menurut penelitian solehati dkk (2019) permasalahan kesehatan

reproduksi remaja berhubungan dengan informasi yaitu media, remaja

memakai media massa sebagai sumber informasi seksual, karena memberikan

gambaran kebutuhan seksual remaja (20)

Menurut penelitian Ayu (2021) pengalaman-pengalaman yang diperoleh

dari orang lain dapat menjadikan pengetahuan, permasalahan pada remaja

terkait reproduksi remaja yaitu perilaku seks bebas masalah kehamilan yang

terjadi pada remaja diluar nikah dan terkenanya Infeksi Menular Seksual (21)
19

Menurut penelitian Purwanti (2022) orang tua berperan penting untuk

memberikan masukan kepada remaja tentang pendidikan seks dan

pencegahan seks agar menghindari terjadinya kehamilan diluar nikah (22)

B.2 Pengertian Remaja

Remaja (adolescence) merupakan masa transisi atau peralihan dari masa

anak-anak menuju masa dewasa yang ditandai adanya perubhan fisik, psikis

dan psikososial. Istilah adolescence atau berasal dari kata latin yang

berarti”tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”, sehingga memiliki arti yang

luas, meliputi kemantangan mental, emosional, sosial, dan fisik (23)

B.3 Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja

Pada tahap ini remaja berada pada rentang usia 11-12 tahun. Masa remaja

ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu periode perubahan seorang anak

menjadi dewasa muda. Pertumbuhan biologis yang terjadi selama masa

pubertas mencangkup pemantangan seksual, peningkatan berat badan dan

tinggi badan, pemadatan masa tulang, dan perubahan komposisi tubuh (24)

Usia pubertas, lamanya dan waktu terjadinya pubertas sangat bervariasi

antar individu sehingga tampilan fisik remaja pada usia kronologis yang sama

mempunyai rentang variasi yang luas. Variasi ini secara langsung memberi

efek pada kebutuhan nutrisi remaja. Remaja laki-laki 14 tahun yang telah

mengalami pertumbuhan cepat dan perkembangan otot akan membutuhkan

energi dan nutrisi yang berbeda dengan remaja laki-laki usia 14 tahun yang
20

belum memasuki pubertas. Oleh karena itu, kematangan seksual dapat

digunakan untuk memeriksa pertumbuhan dan perkembangan biologis dan

kebutuhan nutrisi setiap remaja dari pada menggunakan umur kronologi (24)

B.4 Klasifikasi Remaja

Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah

diantaranya 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya

dibedakan atas tiga, yaitu:

1. Masa remaja awal (12-15 tahun)

Ditandai dengan munculnya ketidakstabilan keadaan perasaan dan

emosi. Yang pada umumnya sesekali bergairah dalam bekerja tiba-tiba

saja berhenti lesu, kegembiraan yang berlebihan kemudian bertukar rasa

sedih yang sangat, rasa percaya diri berganti ragu-ragu, dan tidaktentuan

menentukan cita-cita.

Status remaja awal yang membingungkan denga perlakuan orang tua

terhadap dirinya yang masih terkadang mengganggap seperti kanak-

kanak. Namun ketika sifat kekanak-kanakan muncul akan mendapatkan

teguran dan perlakuan sebagai orang dewasa (25)

Banyak masalah yang dihadapi oleh remaja. Hal ini dipicu oleh

emosionalitas yang kurang mampu menerima pendapat dari orang lain.

Yang ditandai dengan munculnya perasaan yang menganggap mereka

merasa lebih mampu dari pada orang tua.


21

2. Masa remaja pertengahan (15-18 tahun)

Pada usia ini pengumulan remaja biasanya berkaitan dengan

penerimaan lingkungan teman-temannya terhadap dirinya ini. Apakah

teman-temannya bisa menerimanya sebagai seseorang yang masuk dalam

kelompok mereka. Ini sering kali menjadi dilemma buat orang tua, karena

dakalanya kelompok anak akan memaksakan seorang anak melakukan

hal-hal yang tidak disetujui oleh orang tua. Orang tua harus berhati-hati

dalam merespon hal ini, ada kalanya orang tua terlalu terburu-buru

memisahkan anak dari lingkungannya sehingga anak ini tidak pernah

benar-benar bergumul dengan tantangan yang ada di depannya atau ada

anak yang justru kebalikannya terjun masuk kedalam kelompoknya dan

menanggalkan nilai-nilai supaya teman-teman bisa menerimanya.

a. Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri

b. Adanya keinginan untuk berkencan atau tertarik pada lawan jenis.

c. Timbul perasaan cinta yang mendalam

d. Mampu berpikir abstrak (berkhayal) makin berkembang berkhayal

mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual (25)

3. Masa remaja akhir (18-21 tahun)

Pada masa ini proses penyempurnaan pertumbuhan fisik dan

berkembangan psikis. Serta titandai dengan stabilitas mulai timbul dan

meningkat aspek psikis. Mulai menunjukan kemantapan dan tidak

berubah pendirian.
22

Perasaan lebih tenang. Karena sudah tidak lagi menampakkam strom

and stress, sehingga lebih tenang. Tetapi monks, knoers, dan haditono

membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja

10-12 tahun, masa remaja awal 12-15 tahun, masa remaja pertengahan 15-

18 tahun, dan masa remaja akhir 18-21 tahun.

C. Pengetahuan

C.1 Pengetahuan Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual

Pengetahuan yang baik pada remaja dapat mencegah terjadinya Infeksi

Menular Seksual. Berpengetahuan cukup membuat remaja bertanggung jawab

dalam berperilaku dan dapat melindungi dirinya sendiri dari Infeksi Menular

Seksual. Dalam pengetahuan seksual remaja (faktor predisposing) akan

menimbulkan implikasi perilaku negative seperti kehamilan tidak diinginkan

dan Infeksi Menular Seksual. Untuk awal pencegahan dengan meningkatkan

pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dengan materi

komunikasi, informasi serta edukasi (KIE) yang tegas tentang dampak

perilaku seksual (26)

C.2 Pengertian Remaja

Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Tanpa mengetahui

seseorang tidak mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan

menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi.


23

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah faktor

internal: faktor dari dalam diri sendiri, misalnya intelegasi, minat, kondisi

fisik. Fator eksternal: faktor dari luar diri, misalnya keluarga, masyarakat,

daran. Dan faktor pendekatan belajar : faktor upaya belajar, misalnya strategi

dan metode dalam pembelajaran (27)

Ada enam tingkatan domain pengetahuan, yaitu:

1. Tahu (Know). Tahu diartikan sebagai mengingat kembali ( recall)

terhadap suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

2. Memahami (comprehension). Suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan

materi tersebut secara benar.

3. Aplikasi. Diartikan sebagai memapuan untuk menggunakan materi yang

telah di pelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.

4. Analis. Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi suatu objek

ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur

organisasi dan ada kaitannya dengan yang lain.

5. Sintesis. Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru.

6. Evaluasi. Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi/objek.

Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk

tindakan seseorang. Dalam perilaku seseorang tentang kesehatan ada 3 faktor

yaitu:
24

1. Faktor predesposisi (predisposissing factor)

2. Adalah suatu keadaan yang dapat mempermudah dalam mempengaruhi

individu untuk berperilaku yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,

kepercayaan, nilai-nilai, faktor demografi seperti status ekonomi, umur,

jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman. Pengetahuan merupakan

hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap

suatu objek tertentu.

3. Faktor pendukung (enabling factor)

4. Berkaitan dengan lingkungan fisik, tersedianya sarana dan fasilitas

kesehatan misalnya puskesmas, obat-obatan dan lain-lain.

5. Faktor pendorong (reinforcing factor)

6. Terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas yang

lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat seperti

tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain (28)

C.3 Mengapa Remaja Perlu Mendapatkan Pengetahuan tentang Penyakit

Menular Seksual ?

Remaja belum cukup memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang

pemeliharaan kesehatan reproduksi. Angka penularan penyakit menular

seksual yang cukup tinggi adalah salah satu buktinya. Data dari UNEPA dan

WHO menunjukkan, 1 dari 20 remaja tertular PMS setiap tahunnya. Setengah

kasus infeksi HIV baru berusia di bawah 25 tahun. Beberapa faktor

penyebabnya adalah:
25

1. Minimnya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang

komprehensif

2. Kontrol keluarga dan masyrakat yang semakin rendah

3. Semakin terbukannya akses informasi mengenai seksualitas termasuk

pornografi dari media atau internet yang mempermudah remaja untuk

mengakses dan memanfaatkannya secara tidak benar

4. Tingkat permisifitas (serba boleh) dari hubungan antara laki-laki dengan

perempuan yang melonggar

5. Perasaan dirinya tidak terjangkit penyakit apapun

6. Kebutuhan untuk mencoba hal-hal baru

7. Nilai-nilai cinta atau hubungan lawan jenis yang disalahgunakan

8. Kurangnya pemahaman remaja akan akibat dari perilaku seks tidak aman

yang dilakukannya

9. Semakin banyaknya tempat pelacuran baik yang terlokalisir ataupun tidak

10. Mitos-mitos yang berkembang di masyarakat tentang perilaku seksual dan

dampaknya

11. Tidak sedikit masyarakat yang masih belum bisa menerima kehadiran

pendidikan seksualitas bagi keluarga, sehingga anak remaja cenderung

untuk mencari informasi kepada teman atau media yang justru tidak

mendidik.
26

C.4 Kriteria Tingkat Pengetahuan

Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan

diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu:

1. Baik : hasil presentasi 76%-100%

2. Cukup : hasil presentasi 56%-75%

3. Kurang : hasil presentasi >56%

D. Sikap (Attitude)

D.1 Sikap Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual

Sikap yang baik pada remaja dengan menghindari perbuatan seksual,

adanya sikap yang baik dapat melindungi remaja dari Infeksi Menular

Seksual. Sikap terhadap Infeksi Menular Seksual dengan tidak mendekati

pergaulan bebas dan seks bebas. Dalam sikap seksual berisiko salah satu

masalah kesehatan reproduksi pada remaja saat ini. Sikap dan perilaku tidak

bertangung jawab dapat menimbulkan macam-macam masalah kesehatan (29)

Menurut penelitian Thobias dkk (2020) hasil penelitian sikap menunjukkan

responden memiliki sikap yang baik dengan memeriksakan kesehatannya dan

mengikuti perintah dokter yang merawatnya dan mau menjauhi semua resiko

penyebab penyakit kelamin juga bersedia membagikan informasi tentang

Infeksi Menular Seksual kepada remaja lainnya (30)

Menurut penelitian Nurhabiba (2021) orang yang mempunyai tingkat

pengetahuan yang baik dapat memiliki sikap dan perilaku yang baik, sehingga
27

dapat mengurangi terkena IMS, sikap dapat membuat seseorang menjahui


(31)
sesuatu dengan sikap yang positif

Menurut penelitian Rosita dkk (2022) melakukan kegiatan positif dengan

meningkatkan pengetahuan tentang IMS dan pendidikan kesehatan dalam

pencegahan IMS dengan berperan aktif konseling disekolah (32)

Menurut penelitian suryanti dan susmita (2021) dampak perilaku seks

bebas buruk bagi kesehatan mereka seperti tertular penyakit dan kehamilan

diluar nikah (33)

D.2 Pengertian Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang

terhadap suatu stimulus atau objek. (Allport,1945 dalam Randi, 2013 dan

Notoatmojo, 2005) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen

pokok:

1. Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek.

2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

3. Kencenderungan untuk bertindak (tend to behave)

4. Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan.

5. Menerima (receiving). Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan

memerhatikan stimulus yang diberikan (objek)

6. Merespons (responding). Memberikan jawaban apabila ditanya,

mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu

indikasi dari sikap


28

7. Menghargai (valuing). Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau

mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga

8. Bertangung jawab (responsible). Bertanggung jawab atas segala sesuatu

yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling

tinggi (27)
29

E. Kerangka Teori

Menurut Lawrence Green (dalam Notoamodjo, 2010) perilaku dibuat oleh

tiga faktor utama yaitu faktor predisposisi seperti pengetahuan dan

keterampilan, faktor pendukung seperti fasilitas baik sarana maupun

prasarana, faktor penguat seperti kelompok panutan dan perilaku petugas

kesehatan. Adapun kerangka teori dari penelitian ini adalah:

FAKTOR PREDISPOSISI

[Link]

2. SIKAP

FAKTOR PENDUKUNG
INFEKSI
MENULAR REMAJA
SEKSUAL PETUGAS
KESEHATAN

FAKTOR PENDORONG

KELUARGA

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Tindakan pencegahan Infeksi Menular Seksual tergantung pada faktor

predisposisi: pengetahuan dan sikap faktor pendukung: petugas kesehatan.

Contohnya, memberikan penyuluhan kepada remaja tentang Infeksi Menular

Seksual. Faktor pendorong: keluarga. Keluarga berperan penting untuk


30

menanamkan nilai-nilai agama sejak dini, memberikan dorongan kesehatan

seksual terhadap remaja.

F. Kerangka Konsep

Berikut ini, digambarkan kerangka konsep penelitian tentang Gambaran

Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual di Deli

Serdang Tahun 2023.

PENGETAHUAN IMS

SIKAP IMS

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

Anda mungkin juga menyukai