BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Infeksi Menular Seksual (IMS)
A.1 Pengertian
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah berbagai infeksi yang dapat
menular dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan seksual dengan
pasangan yang sudah tertular sehingga menyebabkan infeksi pada alat
reproduksi laki-laki dan wanita, baik melalui mulut (oral), hubungan seks
senggama (vaginal) ataupun lewat dubur (anal). Beberapa IMS dapat
menyebar melalui kontak seksual kulit ke kulit. Organisme yang
menyebabkan IMS klamidia, gonore, hepatitis B, HIV, HPV, HSV-2 dan
sifilis-juga dapat ditularkan ke ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan.
Seseorang dapat memiliki IMS tanpa gejala yang jelas dari penyakit. Oleh
karena itu, istilah infeksi menular seksual adalah istilah yang lebih luas dari
penyakit menular seksual/sexual transmitted disease (STD), sehingga pada
tahun 1998 istilah STD ,ulai berubah menjadi STI (sexual transmitted
infection) agar dapat menjangkau penderita asimtomatik (9)
A.2 Epidemiologi Infeksi Menular Seksual
Penyakit kelamin ( veneral diseases) sudah lama dikenal dan beberapa
diantaranya sangat popular di Indonesia yaitu sifilis dan gonore. Dengan
semakin majunya ilmu pengetahuan, seiring dengan perkembangan peradaban
6
7
masyarakat, banyak ditemukan penyakit-penyakit baru, sehingga istilah
tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi Sexually Transmitted Diseases
(STD) atau Penyakit Menular Seksual (PMS) (10)
Perubahan istilah tersebut memberikan dampak terhadap spectrum PMS
yang semakin luas karena selain penyakit-penyakit yang termasuk dalam
kelompok penyakit kelamin (VD) yaitu sifilis, gojnore, ulkus mole,
limfogranuloma venereum dan granuloma inguinale juga termasuk urethritis
non gonore (UNG), kondilomata akuminata, herpes genitalis, kandidosis,
trikomoniasis, bacterial vaginosis, hepatitis, moluskom kontagiosum, scabies,
pedikolosis dan lain-lain.
A.3 Faktor-Faktor yang Berpengaruh
Perubahan pola distribusi maupun pola prilaku penyakit tersebut diatas
tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu:
1. Faktor dasar
a. Adanya penularan penyakit
b. Berganti-ganti pasangan seksual
2. Faktor medis
a. Gejala klinis pada wanita dan homoseksual yang asimtomatis
b. Pengobatan modern
c. Pengobatan yang mudah, murah, cepat dan efektif, sehingga risiko
rewistensi tinggi, dan bila salahgunakan akan meningkatkan risiko
penyebaran infeksi.
8
3. Alat kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) dan pil KB hanya vermanfaat
bagi pencegahan kehamilan saja, berbeda dengan kondom yang juga
dapat digunakan sebagai alat pengcegahan terhadap penularan IMS.
4. Faktor sosial
a. Mobilitas penduduk
b. Prositusi
c. Waktu yang santai
d. Kebebasan individu
e. Ketidaktahuan
Selain faktor-faktor tersebut diatas masih ada beberapa faktor lain
yang mempengaruhi perbedaan prevalensi (10)
A.4 Gejala – Gejala IMS
IMS sering kali tidak menampakkan gejala, terutama pada wanita. Namun
ada pula IMS yang menunjukkan gejala gejala umum sebagai berikut: (11)
1. Keluarnya cairan dari vagina, penis atau dubur yang berbeda dari
biasanya. Pada wanita, terjadi peningkatan keputihan. Warnanya bisa
menjadi lebih putih, kekuningan, kehijauhan, atau kemerah mudaan.
Keputihan bisa memiliki bau yang tidak sedap dan berlendir.
2. Rasa perih, nyeri atau panas saat kencing atau setelah kencing, atau
menjadi sering kencing.
3. Adanya luka terbuka, luka basah disekitar kemaluan atau sekitar mulut
(nyeri ataupun tidak).
9
4. Tumbuh seperti jengger ayam atau kutil di sekitar alat kelamin, tonjolan
kecil-kecil atau lecet disekitar alat kelamin.
5. Gatal-gatal di sekitar alat kelamin.
6. Terjadinya pembengkakan kelenjar limfa yang terdapat lipatan paha.
7. Pada pria, kantung pelir menjadi bengkak, kemerahan, dan nyeri.
8. Pada wanita, sakit perut bagian bawah yang kambuhan (tetapi tidak ada
hubungannya dengan haid), vagina bengkak dan kemerahan, pendarahan
diluar seks.
9. Mengeluarkan darah setelah berhubungan seks, dan
10. Secara uamum merasa tidak enak badan, lemah, kulit menguning, nyeri
sekujur tubuh, atau demam.
IMS Tidak Dapat Dicegah Dengan:
1. Meminum minuman berakohol seperti bird an lain-lainnya.
2. Meminum antibiotic seperti supertetra, penisilin dan lain-lain, sebelum
atau sesudah berhubungan seks, tidak ada satu obat pun yang ampuh
untuk membunuh semua jenis kuman IMS secara bersamaan. Semakin
sering meminum obat-obatan secara sembarangan, akan semakin
menyulitkan penyembuhan IMS karena kumannya menjadi kebal terhadap
obat.
3. Mendapatkan suntikan antibiotic secara teratur, pencegahan penyakit
hanya dapat dilakukan oleh antibiotic di dalam tubuh.
4. Memilih pasangan seks berdasarkan penampilan luar (misalnya, yang
berkulit putih dan bersih) atau berdasarkan usia (misalnya, yang masih
10
muda), anak kecilpun dapat terkena dan menghidap bibit IMS, karena
penyakit tidak membeda-bedakan usia dan tidak pandang bulu.
5. Membersihkan atau mencuci alat kelamin bagian luar (dengan cuka, air
soda, alcohol, air jahe, dan lain-lain) dan bagian dalam ( dengan odol,
betadine, atau jamu) segera setelah berhubungan seks (11).
A.5 Penularan IMS
Penularan IMS dapat melalui hubungan seks yang tidak aman, yaitu;
1. Hubungan seks lewat liang senggama tanpa kondom ( zakar masuk ke
vagina atau liang senggama)
2. Hubungan seks lewat dubur tanpa kondom ( zakar masuk ke dubur)
3. Seks oral (zakar dimasukkan ke mulut tanpa zakar di tutupin kondom)
Penularan IMS juga dapat terjadi dengan cara lain, yaitu, Melalui darah:
1. Trafunsi darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV
2. Saling tukar jam suntik akan terinfeksi.
3. Tertusuk jam suntik yang tidak steril secara sengaja atau tidak sengaja.
4. Menindik telinga atau tato dengan jarum yang tidak steril.
5. Penggunaan pisau cukur secara bersama-sama ( khususnya jika terluka
dan menyisakan darah pada alat)
6. Dari ibu hamil kepada bayi: bisa terjadi saat hamil, saat melahirkan, dan
saat menyusui (11)
11
A.6 Jenis- Jenis Infeksi Menular Seksual
1. Gonorrhoe
a. Definisi
Gonorrhoe adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
Neisseria gonorrhoeae yang bersifat diplococcus. Neisseria
gonorrhoeae dapat memasukin selaput lender yang utuh dan
berkembang biak intra dan subepitel.
b. Gejala
Pria: pada koitus maka ejakulat yang mengandung gonococcus
berhubungan dengan vulva, vagina dan portio. Gonococcus dapat
memasuki muara urethra, saluran bartholini, canalis cervikalis dan
rectum
Wanita: pada wanita biasanya tidak sanggup memasuki selaput
lendir epitel gepeng berlapis banyak dari vulva dan vagina. Hanya
anak-anak, pada wanita tua dan dalam kehamilan dapat menimbulkan
vaginitis dan vulvitis.
2. HIV/AIDS
a. Definisi
HIV/AIDS adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus,
yaitu virus yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency
Syndrome). AIDS adalah tahap lanjut dari infeksi HIV yang
menyebabkan beberapa infeksi lainnya. Virus akan memburuk
12
system kekebalan tubuh, dan penderita HIV/AIDS akan berakhir
dengan kematian dalam waktu 5-10 menit kemudian jika tanpa
pengobatan yang cukup. Penyakit ini merupakan IMS yang
disebabkan infeksi virus HIV (12)
b. Gejala
Riwayat alamiah infeksi HIV dari tahap awal hingga tahap akhir
AIDS tergantung pada kekebalan dan kondisi individu, yang
memerlukan waktu 2-15 tahun. Orang yang hidup dengan HIV
umumnya tidak menyadari tentang status HIV mereka tanpa tes HIV
karena mereka terlihat sehat dan setelah beberapa minggu terinfeksi,
mereka mungkin mengalami tanda-tanda dan gejala atau hanya
penyakit seperti demam, sakit kepala, ruam atau sakit tenggorokan.
3. Ulkus Mole
a. Definisi
Ulkus mole adalah penyakit akut yang disebabkan oleh bacillus H.
Ducreyi. Penyakit ini ditularkan secara langsung melalui hubungan
seks.
b. Gejala
Gejala klinis muncul 1-5 hari sesudah infeksi, ditandai lesi
pertama berupa bercak atau benjolan kecil yang segera berubah jadi
benjolan berisi nanah lalu pecah menjadi tukak yang bersifat:
a) Ganda (multiple)
13
b) Lunak
c) Sangat nyeri tekan
d) Kotor dan mudah berdarah
e) Menggaung ditepi ulkus
f) Merah dikulit sekitar ulkus
Adanya ulkus dapat diikuti oleh pembesaran kelenjar limfa disalah
satu lipat paha pada 30 persen disertai radang akut. Kelenjar
kemudian melunak dan pecah membentuk sinus yang nyeri disertai
badan panas (13)
4. Sifilis
a. Definisi
Sifilis adalah penyakit kelamin mengerikan yang disebabkan oleh
bakteri spiroseta, trepomena palladium. Penyakit yang menginfeksi
daerah kelamin, bibir, mulut, atau anus baik pria maupun wanita.
Sifilis adalah penyakit seksual yang sangat menular, dan
penularannya tersebut didapat dari kontak seksual dengan individu
yang terinfeksi sifilis, selama proses kehamilan dari ibu kebayinya,
prilaku penyimpang (homoseksual), bergonta-ganti pasangan seksual,
dan individu yang terinfeksi HIV.
b. Gejala
Gejala atau tanda sifilis meliputi luka kecil, bulat dan sakit
pada kelamin, anus dan mulut, serta menyebabkan ruam pada
14
tubuh, terutama pada telapak tangan atau kaki. Pembengkakan
pada kelenjar getah bening di dekatnya kadang-kadang terjadi.
Banyak penderita tidak menyadari gejalanya selama bertahun-
tahun, karena gejala ini bisa datang dan pergi. Dalam tahap atau
stadium yang parah, sifilis dapat menyebabkan kerusakan otak,
saraf, mata, jantung, pembuluh darah, hati, tulang, sendi (14)
5. Klamidia
a. Definisi
Klamidia atau chanydia adalah penyakit menular seksual yang
disebabkan oleh bakteri, yang disebut chlamydia trachomatis.
Penyakit tersebut menginfeksi pria maupun wanita malalui hubungan
seksual yang terinfeksi bakteri tersebut. Penyakit tersebut mempunyai
gejala ringan, bahkan tidak disadari oleh si penderitanya,dan
komplikasi serius dapat menyebabkan kerukan permanen serta
infertilitas.
b. Gejala
Gejala klamidia meliputi keputihan yang abdormal, terasa nyeri
seperti terbakar saat berkemih, terasa nyeri perut bagian bawah perut,
nyeri pungung bawah, mual, demam, sakit ketika berhubungan
seksual dan lain-lain. Pada pria, gejalanya adalah cairan yang
berlebihan pada penis, perasaan terbakar dan gatal pada sekitar
15
pembukaan penis. Cara terbaik untuk menghindari bakteri
chalamydia adalah menjauhkan (14)
6. Herpes Genitalis
a. Definisi
Herpes merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus
herpes yang ditandai dengan rasa gatal dan sakit disekitar alat
kelamin. Penyakit herpes genital merupakan salah satu jenis herpes
yang umum terjadi dan termasuk penyakit menular yang perlu
diwaspadai penularannya. (15)
b. Gejala
a) Muncul retakan kemerahan di sekitar alat kelamin tanpa rasa
sakit, rasa gatal, ataupun kesemutan.
b) Muncul rasa gatal atau kesemutan disekitar alat kelamin atau
anus.
c) Muncul gelombang kecil yang melepuh dan menyebabkan luka
menyakitkan di sekitar alat kelamin, bokong, paha atau anus.
d) Muncul rasa sakit saat buang air kecil terutama terjadi pada
wanita.
e) Sekit kepala dan sakit pungungg.
f) Gejala mirip flu seperti demam, lelah, dan pembengkakan
kelenjar getah bening.
16
7. Trichomoniasis
a. Definisi
Trichomoniasis adalah salah satu jenis penyakit menular seksual
yang disebabkan oleh infeksi parasite trichomonas vaginalis.
Trachomonaas vaginalis kelenjar paraurethral (16)
Penyebab adanya trichomoniasis adalah hidupnya parasite pada
trichomonas vaginalis hingga menimbulkan infeksi parasite jenis ini
tersebar melalui hubungan seksual dengan seseorang yang telah
terjangkit. Faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang terserang
trichomoniasis, adalah:
a) PSK (Pekerjs Seks Komersial).
b) Orang yang pernah terjangkit.
c) Tidak memakai alat pelindung saat berhubungan seksual.
d) Gaya hidup dengan seringnya berganti pasangan
b. Gejala
Seorang wanita yang positif menderita trichomoniasis akan
memiliki gejala-gejala yang mirip dengan penderita vaginitis, yaitu:
a) Rasa gatal area vulva.
b) Bau busuk di area genitalia.
c) Iritasi dalam vagina
d) Iritasi sekitar introitus vagina.
e) Beberapa pasien asimptomatik
f) Nyeri saat berhubungan seksual.
17
g) Pendarahan pasca senggama
h) Nyeri perut bagian bawah
i) Keputihan yang banyak, berwarna pucathingga keputihan
berwarna hijau dan berbusa pada seseorang yang telah kronis.
A.7 Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular
Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular dilakukan dengan cara
memutuskan rantai penularan. Hal itu dapat dilakukan dengan cara
menghentikan kontak agent penyakit dengan pejamu. Faktor pencegahan
penularan penyakit menitikberatkan pada penanggulangan faktor resiko
penyakit seperti lingkungan dan perilaku. Sanitasi lingkungan yang tidak
higienis mempermudah penularan penyakit.
Perilaku seseorang merupakan akumulasi pengetahuan dan sikap terhadap
kesehatan seperti, sumber air minum yang bersih tidak cukup bagi seseorang
untuk terbebas dari penyakit akan tetapi tangan yang digunakan untuk minum
atau makan harus bersih. Selain tangan, peralatan makan juga harus terbebas
dari kontaminasi. Sumber air minum, peralatan, dan tangan sudah bersih,
perilaku untuk merebus air sampai medidih tetap diperlukan untuk menjamin
sterilitas. Sebagian besar status kesehatan masyarakat sangat ditentukan oleh
faktor lingkungan dan perilaku. Faktor pelayanan kesehatan dan keturunan
(herediter) hanya menyumbang sedikit bagi status kesehatan masyarakat (17)
Menurut penelitian Martha dkk (2022) pendidikan kesehatan tentang IMS
penting untuk remaja mengetahui dan meningkatkan pengetahuan tentang
18
cara menjaga kesehatan reproduksi dan mengetahui penyakit-penyakit yang
terjadi jika tidak menjaga kesehatan repeoduksi (18)
B. Remaja
B.1 Infeksi Menular Seksual Pada Remaja
Pada masa remaja adalah masa yang rentang kehidupan terjadinya
reproduksi. Adanya perubahan remaja dengan mulai merasakan dorongan
seksual serta menunjukan ketertarikan dengan lawan jenis. Akibat hal
tersebut remaja sudah mulai mencoba-coba dalam hal seksualitas. Tindakan
remaja dalam seksual menyimpang, yang sering dilakukan remaja ialah onani,
mastrubasi petting dan berhubungan seksual. Akibat perilaku remaja dapat
membawa dampak yang merugikan bagi remaja itu sendiri seperti tertular
Infeksi Menular Seksual, HIV dan AIDS, kehamilan diluar nikah, aborsi,
gangguan secara fisik, sosial maupun psikologi (19)
Menurut penelitian solehati dkk (2019) permasalahan kesehatan
reproduksi remaja berhubungan dengan informasi yaitu media, remaja
memakai media massa sebagai sumber informasi seksual, karena memberikan
gambaran kebutuhan seksual remaja (20)
Menurut penelitian Ayu (2021) pengalaman-pengalaman yang diperoleh
dari orang lain dapat menjadikan pengetahuan, permasalahan pada remaja
terkait reproduksi remaja yaitu perilaku seks bebas masalah kehamilan yang
terjadi pada remaja diluar nikah dan terkenanya Infeksi Menular Seksual (21)
19
Menurut penelitian Purwanti (2022) orang tua berperan penting untuk
memberikan masukan kepada remaja tentang pendidikan seks dan
pencegahan seks agar menghindari terjadinya kehamilan diluar nikah (22)
B.2 Pengertian Remaja
Remaja (adolescence) merupakan masa transisi atau peralihan dari masa
anak-anak menuju masa dewasa yang ditandai adanya perubhan fisik, psikis
dan psikososial. Istilah adolescence atau berasal dari kata latin yang
berarti”tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”, sehingga memiliki arti yang
luas, meliputi kemantangan mental, emosional, sosial, dan fisik (23)
B.3 Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
Pada tahap ini remaja berada pada rentang usia 11-12 tahun. Masa remaja
ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu periode perubahan seorang anak
menjadi dewasa muda. Pertumbuhan biologis yang terjadi selama masa
pubertas mencangkup pemantangan seksual, peningkatan berat badan dan
tinggi badan, pemadatan masa tulang, dan perubahan komposisi tubuh (24)
Usia pubertas, lamanya dan waktu terjadinya pubertas sangat bervariasi
antar individu sehingga tampilan fisik remaja pada usia kronologis yang sama
mempunyai rentang variasi yang luas. Variasi ini secara langsung memberi
efek pada kebutuhan nutrisi remaja. Remaja laki-laki 14 tahun yang telah
mengalami pertumbuhan cepat dan perkembangan otot akan membutuhkan
energi dan nutrisi yang berbeda dengan remaja laki-laki usia 14 tahun yang
20
belum memasuki pubertas. Oleh karena itu, kematangan seksual dapat
digunakan untuk memeriksa pertumbuhan dan perkembangan biologis dan
kebutuhan nutrisi setiap remaja dari pada menggunakan umur kronologi (24)
B.4 Klasifikasi Remaja
Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah
diantaranya 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya
dibedakan atas tiga, yaitu:
1. Masa remaja awal (12-15 tahun)
Ditandai dengan munculnya ketidakstabilan keadaan perasaan dan
emosi. Yang pada umumnya sesekali bergairah dalam bekerja tiba-tiba
saja berhenti lesu, kegembiraan yang berlebihan kemudian bertukar rasa
sedih yang sangat, rasa percaya diri berganti ragu-ragu, dan tidaktentuan
menentukan cita-cita.
Status remaja awal yang membingungkan denga perlakuan orang tua
terhadap dirinya yang masih terkadang mengganggap seperti kanak-
kanak. Namun ketika sifat kekanak-kanakan muncul akan mendapatkan
teguran dan perlakuan sebagai orang dewasa (25)
Banyak masalah yang dihadapi oleh remaja. Hal ini dipicu oleh
emosionalitas yang kurang mampu menerima pendapat dari orang lain.
Yang ditandai dengan munculnya perasaan yang menganggap mereka
merasa lebih mampu dari pada orang tua.
21
2. Masa remaja pertengahan (15-18 tahun)
Pada usia ini pengumulan remaja biasanya berkaitan dengan
penerimaan lingkungan teman-temannya terhadap dirinya ini. Apakah
teman-temannya bisa menerimanya sebagai seseorang yang masuk dalam
kelompok mereka. Ini sering kali menjadi dilemma buat orang tua, karena
dakalanya kelompok anak akan memaksakan seorang anak melakukan
hal-hal yang tidak disetujui oleh orang tua. Orang tua harus berhati-hati
dalam merespon hal ini, ada kalanya orang tua terlalu terburu-buru
memisahkan anak dari lingkungannya sehingga anak ini tidak pernah
benar-benar bergumul dengan tantangan yang ada di depannya atau ada
anak yang justru kebalikannya terjun masuk kedalam kelompoknya dan
menanggalkan nilai-nilai supaya teman-teman bisa menerimanya.
a. Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri
b. Adanya keinginan untuk berkencan atau tertarik pada lawan jenis.
c. Timbul perasaan cinta yang mendalam
d. Mampu berpikir abstrak (berkhayal) makin berkembang berkhayal
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual (25)
3. Masa remaja akhir (18-21 tahun)
Pada masa ini proses penyempurnaan pertumbuhan fisik dan
berkembangan psikis. Serta titandai dengan stabilitas mulai timbul dan
meningkat aspek psikis. Mulai menunjukan kemantapan dan tidak
berubah pendirian.
22
Perasaan lebih tenang. Karena sudah tidak lagi menampakkam strom
and stress, sehingga lebih tenang. Tetapi monks, knoers, dan haditono
membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja
10-12 tahun, masa remaja awal 12-15 tahun, masa remaja pertengahan 15-
18 tahun, dan masa remaja akhir 18-21 tahun.
C. Pengetahuan
C.1 Pengetahuan Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual
Pengetahuan yang baik pada remaja dapat mencegah terjadinya Infeksi
Menular Seksual. Berpengetahuan cukup membuat remaja bertanggung jawab
dalam berperilaku dan dapat melindungi dirinya sendiri dari Infeksi Menular
Seksual. Dalam pengetahuan seksual remaja (faktor predisposing) akan
menimbulkan implikasi perilaku negative seperti kehamilan tidak diinginkan
dan Infeksi Menular Seksual. Untuk awal pencegahan dengan meningkatkan
pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dengan materi
komunikasi, informasi serta edukasi (KIE) yang tegas tentang dampak
perilaku seksual (26)
C.2 Pengertian Remaja
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Tanpa mengetahui
seseorang tidak mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan
menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi.
23
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah faktor
internal: faktor dari dalam diri sendiri, misalnya intelegasi, minat, kondisi
fisik. Fator eksternal: faktor dari luar diri, misalnya keluarga, masyarakat,
daran. Dan faktor pendekatan belajar : faktor upaya belajar, misalnya strategi
dan metode dalam pembelajaran (27)
Ada enam tingkatan domain pengetahuan, yaitu:
1. Tahu (Know). Tahu diartikan sebagai mengingat kembali ( recall)
terhadap suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Memahami (comprehension). Suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan
materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi. Diartikan sebagai memapuan untuk menggunakan materi yang
telah di pelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.
4. Analis. Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi suatu objek
ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur
organisasi dan ada kaitannya dengan yang lain.
5. Sintesis. Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru.
6. Evaluasi. Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi/objek.
Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk
tindakan seseorang. Dalam perilaku seseorang tentang kesehatan ada 3 faktor
yaitu:
24
1. Faktor predesposisi (predisposissing factor)
2. Adalah suatu keadaan yang dapat mempermudah dalam mempengaruhi
individu untuk berperilaku yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,
kepercayaan, nilai-nilai, faktor demografi seperti status ekonomi, umur,
jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman. Pengetahuan merupakan
hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap
suatu objek tertentu.
3. Faktor pendukung (enabling factor)
4. Berkaitan dengan lingkungan fisik, tersedianya sarana dan fasilitas
kesehatan misalnya puskesmas, obat-obatan dan lain-lain.
5. Faktor pendorong (reinforcing factor)
6. Terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas yang
lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat seperti
tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain (28)
C.3 Mengapa Remaja Perlu Mendapatkan Pengetahuan tentang Penyakit
Menular Seksual ?
Remaja belum cukup memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang
pemeliharaan kesehatan reproduksi. Angka penularan penyakit menular
seksual yang cukup tinggi adalah salah satu buktinya. Data dari UNEPA dan
WHO menunjukkan, 1 dari 20 remaja tertular PMS setiap tahunnya. Setengah
kasus infeksi HIV baru berusia di bawah 25 tahun. Beberapa faktor
penyebabnya adalah:
25
1. Minimnya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang
komprehensif
2. Kontrol keluarga dan masyrakat yang semakin rendah
3. Semakin terbukannya akses informasi mengenai seksualitas termasuk
pornografi dari media atau internet yang mempermudah remaja untuk
mengakses dan memanfaatkannya secara tidak benar
4. Tingkat permisifitas (serba boleh) dari hubungan antara laki-laki dengan
perempuan yang melonggar
5. Perasaan dirinya tidak terjangkit penyakit apapun
6. Kebutuhan untuk mencoba hal-hal baru
7. Nilai-nilai cinta atau hubungan lawan jenis yang disalahgunakan
8. Kurangnya pemahaman remaja akan akibat dari perilaku seks tidak aman
yang dilakukannya
9. Semakin banyaknya tempat pelacuran baik yang terlokalisir ataupun tidak
10. Mitos-mitos yang berkembang di masyarakat tentang perilaku seksual dan
dampaknya
11. Tidak sedikit masyarakat yang masih belum bisa menerima kehadiran
pendidikan seksualitas bagi keluarga, sehingga anak remaja cenderung
untuk mencari informasi kepada teman atau media yang justru tidak
mendidik.
26
C.4 Kriteria Tingkat Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan
diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu:
1. Baik : hasil presentasi 76%-100%
2. Cukup : hasil presentasi 56%-75%
3. Kurang : hasil presentasi >56%
D. Sikap (Attitude)
D.1 Sikap Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual
Sikap yang baik pada remaja dengan menghindari perbuatan seksual,
adanya sikap yang baik dapat melindungi remaja dari Infeksi Menular
Seksual. Sikap terhadap Infeksi Menular Seksual dengan tidak mendekati
pergaulan bebas dan seks bebas. Dalam sikap seksual berisiko salah satu
masalah kesehatan reproduksi pada remaja saat ini. Sikap dan perilaku tidak
bertangung jawab dapat menimbulkan macam-macam masalah kesehatan (29)
Menurut penelitian Thobias dkk (2020) hasil penelitian sikap menunjukkan
responden memiliki sikap yang baik dengan memeriksakan kesehatannya dan
mengikuti perintah dokter yang merawatnya dan mau menjauhi semua resiko
penyebab penyakit kelamin juga bersedia membagikan informasi tentang
Infeksi Menular Seksual kepada remaja lainnya (30)
Menurut penelitian Nurhabiba (2021) orang yang mempunyai tingkat
pengetahuan yang baik dapat memiliki sikap dan perilaku yang baik, sehingga
27
dapat mengurangi terkena IMS, sikap dapat membuat seseorang menjahui
(31)
sesuatu dengan sikap yang positif
Menurut penelitian Rosita dkk (2022) melakukan kegiatan positif dengan
meningkatkan pengetahuan tentang IMS dan pendidikan kesehatan dalam
pencegahan IMS dengan berperan aktif konseling disekolah (32)
Menurut penelitian suryanti dan susmita (2021) dampak perilaku seks
bebas buruk bagi kesehatan mereka seperti tertular penyakit dan kehamilan
diluar nikah (33)
D.2 Pengertian Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. (Allport,1945 dalam Randi, 2013 dan
Notoatmojo, 2005) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen
pokok:
1. Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3. Kencenderungan untuk bertindak (tend to behave)
4. Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan.
5. Menerima (receiving). Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan
memerhatikan stimulus yang diberikan (objek)
6. Merespons (responding). Memberikan jawaban apabila ditanya,
mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu
indikasi dari sikap
28
7. Menghargai (valuing). Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga
8. Bertangung jawab (responsible). Bertanggung jawab atas segala sesuatu
yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling
tinggi (27)
29
E. Kerangka Teori
Menurut Lawrence Green (dalam Notoamodjo, 2010) perilaku dibuat oleh
tiga faktor utama yaitu faktor predisposisi seperti pengetahuan dan
keterampilan, faktor pendukung seperti fasilitas baik sarana maupun
prasarana, faktor penguat seperti kelompok panutan dan perilaku petugas
kesehatan. Adapun kerangka teori dari penelitian ini adalah:
FAKTOR PREDISPOSISI
[Link]
2. SIKAP
FAKTOR PENDUKUNG
INFEKSI
MENULAR REMAJA
SEKSUAL PETUGAS
KESEHATAN
FAKTOR PENDORONG
KELUARGA
Gambar 2.1 Kerangka Teori
Tindakan pencegahan Infeksi Menular Seksual tergantung pada faktor
predisposisi: pengetahuan dan sikap faktor pendukung: petugas kesehatan.
Contohnya, memberikan penyuluhan kepada remaja tentang Infeksi Menular
Seksual. Faktor pendorong: keluarga. Keluarga berperan penting untuk
30
menanamkan nilai-nilai agama sejak dini, memberikan dorongan kesehatan
seksual terhadap remaja.
F. Kerangka Konsep
Berikut ini, digambarkan kerangka konsep penelitian tentang Gambaran
Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual di Deli
Serdang Tahun 2023.
PENGETAHUAN IMS
SIKAP IMS
Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian