Argumentative Text
Argumentative text adalah jenis teks yang digunakan untuk menyampaikan pendapat atau
pandangan terhadap suatu isu, lengkap dengan alasan dan bukti pendukung. Tujuannya,
untuk meyakinkan pembaca agar setuju dengan sudut pandang penulis. Biasanya, teks ini
disusun dengan logika yang kuat dan bahasa yang persuasif.
Dalam Bahasa Inggris, argumentative text is a type of writing that presents arguments about both
sides of an issue, but usually supports one side more strongly. Jadi, meskipun bisa memuat dua
sisi pandangan, penulis akan lebih banyak menyoroti argumen yang mendukung posisinya.
Dalam pembuatannya, argumentative text tidak boleh asal beropini loh, tetapi harus disusun
berdasarkan argumen yang masuk akal dan dapat diterima akal sehat.
Purpose of Argumentative Text (Tujuan Teks Argumen)
Secara umum, argumentative text memiliki beberapa tujuan utama, di antaranya:
1. Menyampaikan pendapat
Teks ini juga bertujuan untuk menyampaikan opini atau pandangan penulis tentang suatu topik
atau masalah yang sedang dibahas.
2. Meyakinkan pembaca
Tujuan utama dari argumentative text adalah membuat pembaca percaya atau setuju dengan
pendapat penulis. Oleh karena itu, penulis harus memberikan alasan dan bukti yang kuat agar
pendapatnya bisa diterima.
3. Melatih berpikir kritis
Saat menulis teks ini, penulis belajar untuk menilai argumen mana yang benar-benar kuat dan
yang lemah, sehingga bisa berpikir lebih logis dan rasional.
4. Menyeimbangkan pandangan
Walaupun penulis mendukung satu sisi, ia juga bisa beropini terkait pandangan lawan, agar
tulisannya terlihat lebih adil dan dipercaya.
5. Mengajak pembaca berpikir lebih dalam
Argumentative text dengan penjelasan yang logis dan jelas dapat membuat pembaca berpikir
ulang tentang pendapat mereka sendiri.
6. Mengembangkan kemampuan berbahasa
Karena menggunakan bahasa formal dan kalimat yang terstruktur, teks ini bisa membantu siswa
meningkatkan kemampuan menulis dalam Bahasa Inggris.
Structure of Argumentative Text (Struktur Teks Argumen)
Nah guys, kalau kita mau menulis argumentative text yang baik, kita harus tahu dulu nih strukt
ur dasarnya. Struktur ini disebut juga generic structure of argumentative text. Tujuannya supaya
tulisan kita terarah, logis, dan mudah dipahami oleh pembaca.
1. Introduction (Pendahuluan)
Bagian introduction dalam argumentative text berfungsi sebagai pembuka
yang memperkenalkan topik serta memberikan sedikit latar belakang atau konteks
mengenai isu yang akan dibahas. Penulis bisa memulainya dengan kalimat pembuka yang
menarik, kemudian menjelaskan gambaran umum tentang permasalahan yang akan dibahas. Di
akhir paragraf, penulis harus menyertakan thesis statement, yaitu pernyataan utama yang
menunjukkan pendapat penulis terhadap isu tersebut, apakah mendukung, menolak, atau
memiliki pandangan tertentu.
Dengan demikian, bagian introduction tidak hanya menjadi pengantar, tetapi juga memberikan
dasar yang kuat bagi pembaca untuk memahami argumen yang akan dikembangkan pada bagian
selanjutnya.
Contoh:
In today’s digital era, social media has become an essential part of our daily lives. However,
many people believe it has more negative effects on teenagers than positive ones. This essay
argues that social media brings more harm than good to young people.
(Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan kita. Namun,
banyak orang percaya bahwa dampaknya terhadap remaja lebih banyak negatif daripada positif.
Tulisan ini berpendapat bahwa media sosial lebih banyak membawa dampak buruk bagi remaja.)
2. Arguments for (Argumen yang Mendukung)
Kalau bagian ini, merupakan inti dari argumentative text, karena berisi alasan dan bukti yang
mendukung pendapat penulis. Penulis bisa menjelaskan mengapa ia setuju atau tidak setuju
terhadap suatu isu dengan cara menyajikan argumen yang logis, disertai data, contoh, atau fakta
yang relevan.
Biasanya, bagian ini terdiri dari dua atau lebih paragraf, dan setiap paragraf membahas satu
alasan utama yang kemudian diperkuat dengan penjelasan atau bukti pendukung. Fungsinya,
untuk mendukung thesis statement yang telah disampaikan di awal, serta meyakinkan pembaca
melalui pernyataan yang masuk akal, didukung fakta yang dapat dipercaya.
Contoh:
Firstly, social media often causes cyberbullying, which negatively affects teenagers’ mental
health. Secondly, teenagers spend too much time online, leading to lower productivity and poor
academic performance.
(Pertama, media sosial sering menyebabkan perundungan daring yang berdampak buruk pada
kesehatan mental remaja. Kedua, remaja menghabiskan terlalu banyak waktu online, yang
menurunkan produktivitas dan prestasi belajar.)
3. Arguments againts (Argumen yang Menentang/Kontra)
Dalam bagian arguments against atau counter-argument, penulis mengakui adanya pandangan
lain yang berlawanan dengan pendapatnya, lalu menjelaskan secara logis mengapa
pandangan tersebut kurang tepat, lemah, atau tidak sekuat argumennya sendiri.
Dengan cara ini, penulis dapat menunjukkan bahwa ia memahami isu dari berbagai sisi, tidak
berpihak secara buta, dan tetap mampu mempertahankan argumennya dengan alasan yang kuat.
Selain itu, bagian ini juga membuat tulisan menjadi lebih seimbang, kredibel, dan meyakinkan di
mata pembaca.
Contoh:
Some people argue that social media helps teenagers stay connected and express themselves
freely. While this may be true, excessive use can still lead to serious problems such as addiction
and social isolation.
(Beberapa orang berpendapat bahwa media sosial membantu remaja tetap terhubung dan
mengekspresikan diri dengan bebas. Meskipun hal ini benar, penggunaan yang berlebihan tetap
dapat menimbulkan masalah serius seperti kecanduan dan isolasi sosial.)
4. Conclusion (Kesimpulan/Penegasan Ulang)
Pada bagian ini, penulis biasanya merangkum kembali argumen-argumen utama yang telah
disampaikan sebelumnya tanpa menambahkan ide baru, agar tulisan tetap fokus dan konsisten.
Selain itu, penulis sering kali menambahkan saran untuk meninggalkan kesan mendalam bagi
pembaca.
Contoh:
In conclusion, although social media has some benefits, its negative impact on teenagers’ mental
health and productivity is far greater. Therefore, teenagers should limit their use of social media
to maintain a healthy balance in life.
(Kesimpulannya, meskipun media sosial memiliki beberapa manfaat, dampak negatifnya
terhadap kesehatan mental dan produktivitas remaja jauh lebih besar. Oleh karena itu, remaja
sebaiknya membatasi penggunaan media sosial agar hidupnya lebih seimbang.)
Language Features of Argumentative Text (Kaidah Kebahasaan Teks
Argumen)
Dalam Bahasa Inggris, language features of argumentative text terdiri dari beberapa
ciri yang harus dipahami, berikut penjelasannya:
1. Menggunakan Simple Present Tense
Argumentative text umumnya menggunakan simple present tense, karena membahas fakta,
opini, atau isu yang masih berlaku sampai sekarang.
Contoh:
Social media causes anxiety among teenagers. (Media sosial menyebabkan kecemasan di
kalangan remaja.)
2. Menggunakan Modal Verbs
Teks argumentatif juga sering menggunakan modal verbs, seperti should, must, can,
might, atau could untuk menunjukkan saran, kewajiban, kemungkinan, atau penegasan
terhadap suatu pendapat. Modal verbs membuat argumen terdengar lebih persuasif dan sopan,
terutama saat menyampaikan pendapat atau rekomendasi.
Contoh:
Governments should regulate online content more strictly. (Pemerintah seharusnya mengatur
konten online dengan lebih ketat.)
3. Menggunakan Connective Words (Kata Penghubung)
Agar teks tersusun dengan baik, argumentative text harus menggunakan connective words. Kata
penghubung ini membantu menghubungkan satu argumen dengan argumen lainnya,
sehingga tulisan terasa runtut dan mudah diikuti pembaca.
Beberapa kata penghubung yang sering digunakan antara lain:
Untuk menambah pernyataan/argumen: Firstly, Secondly, Moreover, In addition, Furthermore.
Untuk menyatakan pendapat yang berlawanan: However, On the other hand, Although, In contrast.
Untuk menyimpulkan: Therefore, Thus, In conclusion, To sum up.
Contoh:
Social media can be useful for communication. However, it also increases the risk of
cyberbullying. (Media sosial bisa berguna untuk berkomunikasi. Namun, juga meningkatkan
risiko perundungan daring.)
4. Menggunakan Opinion Verbs (Kata Kerja Opini)
Ciri khas lain dari argumentative text adalah penggunaan kata kerja yang menunjukkan opini,
seperti believe, think, argue, claim, suggest, state, dan agree/disagree. Kata-kata ini juga
menandakan kalau teks yang dibuat merupakan pendapat pribadi penulis.
Contoh:
Many experts argue that social media has more disadvantages than benefits. (Banyak ahli
berpendapat bahwa media sosial memiliki lebih banyak kerugian daripada manfaat.)
5. Menggunakan Kalimat Formal dan Kompleks
Karena argumentative text berisi opini terhadap suatu isu, jadi gaya bahasanya harus formal dan
terstruktur. Itu sebabnya penulis sering menggunakan kalimat kompleks
(compound atau complex sentences), kadang juga menggunakan kalimat pasif untuk membuat
tulisan terlihat lebih profesional.
Contoh:
It is believed that social media contributes to poor self-esteem among young people. (Dipercaya
bahwa media sosial berkontribusi terhadap rendahnya rasa percaya diri di kalangan anak muda.)