1.
Model Project Based Learning
a. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan sebuah langkah – langkah atau
prosedur pembelajaran yang telah tergambar dari awal hingga akhir
pembelajaran. Model pembelajaran merupakan cara yang dilakukan oleh
pendidik selama proses pembelajaran, di mana model pembelajaran ini ada
berbagai macam menyesuaikan dengan kebutuhan materi. maka dari itu sudah
menjadi keharusan bagi seorang pendidik dapat memilih dan menerapkan suatu
model pembelajaran yang lebih efektif dan efisien sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai, karena keterampilan guru dalam memilih
model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran merupakan faktor
penting dalam proses pembelajaran.
b. Model Project Based Learning
Model pembelajaran project based learning (PjBL) merupakan
model pembelajaran yang berpusat kepada siswa dalam rangka membangun
dan mengaplikasikan konsep dari proyek yang dihasilkan dengan
mengeksplorasi dan memecahkan isu – isu yang ada di dunia nyata secara
mandiri (Afriana, 2015. hlm 4). Fokus utama dalam pembelajaran project
based learning adalah isu – isu nyata, kerja kelompok, umpan balik, diskusi
dan laporan akhir. Peran pendidik dalam model ini bukanlah sebagai seseorang
yang paling paham mengenai materi pembelajaran, akan tetapi berperan
sebagai fasilitator selama proses pembelajaran dengan menyajikan sebuah
masalah, mengajukan pertanyaan – pertanyaan terkait dengan tema atau topik
yang diangkat, serta memotivasi dan memantau perkembangan proyek yang
dilaksanakan oleh peserta didik. Model pembelajaran ini mendorong peserta
didik untuk lebih berpikir kritis dan aktif terlibat selama proses pembelajaran
baik secara pribadi maupun berkelompok. Zubaidah (dalam Dinda & Sukma,
2021. hlm 45) berpendapat bahwa model pembelajaran project based learning
merupakan model pembelajaran yang ideal dalam memenuhi tujuan pendidikan
abad ke-21, karena selama proses pembelajaran melibatkan kemampuan 4C,
yaitu critical thinking, communication, collaboration, creativity (Berpikir
kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas).
c. Tujuan Project Based Learning
Project based learning mempusatkan peserta didik pada proses
pembelajaran, hal ini bertujuan supaya peserta didik bisa mandiri dalam
mengaplikasikan pengalaman – pengalaman belajarnya pada sebuah proyek.
Model pembelajaran ini bertujuan untuk menemukan pemecahan masalah,
disamping itu juga agar peserta didik mempelajari konsep cara pemecahan
masalah dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis (Muniarti, 2016, hlm.
379) Peserta didik ditempatkan pada pusat proses pembelajaran sehingga
peserta didik bisa terlibat secara lebih aktif dalam mencari jalan keluar suatu
masalah, memberikan alternatif – alternatif solusi, dan mengimplementasikan
pengetahuan yang mereka miliki dalam konteks yang relevan. Secara garis
besar tujuan penerapan model pembelajaran ini untuk mengasah serta
memberikan kebiasaan pada siswa dalam melakukan kegiatan berpikir kritis
untuk menyelesaikan permasalahan yang diterima (Anggraini & Wulandari,
2021, hlm. 295).
Tujuan PjBL dalam konteks sekolah menengah kejuruan juga
mengajarkan peserta didik dalam mengaplikasikan kompetensi – kompetensi
yang mereka pelajari dalam sebuah proyek yang relevan dengan jurusan
mereka. Peserta didik juga diajarkan bagaimana mengelola tanggung jawab dan
kemandirian terhadap proyek yang telah diberikan layaknya pekerja
professional. Selain melatih peserta didik untuk berpikir kritis dalam
penyelesaian masalah, penerapan metode ini juga bertujuan dalam
mengembangkan kreativitas, keterampilan, melatih kerja tim, melatih percaya
diri, dan melalui proyek yang nyata dapat memberikan pembelajaran yang
bermakna bagi peserta didik.
Berdasarkan pada uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara
garis besar penerapan model project based learning yaitu melatih peserta didik
untuk menjadi lebih kritis dalam memecahkan suatu masalah. Tujuan model
pembelajaran ini juga bisa bervariasi tergantung dengan konteks dan mata
pelajaran, akan tetapi secara umum model ini dirancang untuk memberikan
pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual untuk peserta didik.
d. Prinsip – Prinsip Model Project Based Learning
Pembelajaran berbasis proyek didasarkan pada sejumlah prinsip –
prinsip yang membimbing desain dan pelaksanaan pengalaman pembelajaran.
Made Wena (2013, hlm. 145 – 146) dan Thomas (2000, hlm. 3 - 4)
merumuskan prinsip – prinsip tersebut menjadi lima prinsip pembelajaran
berbasis proyek, yaitu:
1) Prinsip Sentralistis
Prinsip sentralitis menekankan bahwa project based learning adalah
pusat strategi pembelajaran dan esensi dari kurikulum, dimana peserta didik
mengalami dan mempelajari konsep inti suatu disiplin melalui proyek.
2) Prinsip Pendorong
Proyek yang diberikan harus bisa menggugah peserta didik untuk
menumbuhkan kemandirian dalam menyelesaikan tugas atau proyek, dalam
kata lain permasalahan yang diberikan pada siswa harus menjadi motivasi
eksternal untuk belajar.
3) Prinsip investigasi konstruktif
Proses mencapai tujuan pembelajaran mengandung kegiatan inkuiri
(pencarian), membangun sebuah konsep, dan resolusi. Investigasi memuat
perancangan, pengambilan keputusan, menemukan masalah, memecahkan
masalah, discovery (penemuan) dan pembentukan model.
4) Prinsip otonomi
Pusat proses pembelajaran ada pada peserta didik, peserta didik secara
mandiri bebas menentukan pilihan mereka sendiri, oleh karena itu proyek
tidak berpusat pada guru, aturan – aturan dalam bentuk teks, atau paket tugas.
Peserta didik mengerjakan proyek dengan pengawasan minimum tetapi tetap
bertanggung jawab atas proyeknya, sedangkan guru hanya berperan sebagai
fasilitator dan mendorong kemandirian peserta didik.
5) Prinsip realitas
Proyek yang dikerjakan peserta didik adalah proyek yang nyata, ada
fisiknya. Topik, tugas, peran yang dimainkan siswa, konteks lokasi proyek
dikerjakan, hasil produk merupakan tantangan kehidupan nyata dan otentik
serta pemecahan dari isu – isu atau masalah yang diangkat memiliki potensi
untuk diimplementasikan di kehidupan nyata.
e. Prosedur Pelaksanaan Project Based Learning dalam Pembelajaran Seni
Lukis
Pembelajaran project based learning yang menekankan pada
pembelajaran melalui proyek nyata telah digunakan di berbagai tingkat
pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dengan tujuan
memberikan pengalaman belajar yang mendalam, praktis, dan kontekstual
kepada siswa. Project based learning dalam pelaksanaanya memiliki langkah –
langkah (sintak) tersendiri yang menjadi ciri khasnya. Sintaks project based
learning sebagaimana dirumuskan oleh the George Lucas Educational
Foundation (2005) dalam Yulianto, Fatchan, & Astina (2017, hlm. 449)
menjelaskan ada enam langkah – langkah dalam model pembelajaran project
based learning, langkah – langkah ini tentunya memiliki kegiatan yang
berbeda – beda tergantung dengan mata pelajarannya. Langkah – langkah
tersebut bila dirumuskan dalam konteks pembelajaran seni lukis adalah sebagai
berikut:
1) Menentukan pertanyaan dasar (Start with Essential Question)
Pembelajaran dimulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
penting yang dapat menginspirasi siswa untuk menyelesaikan suatu tugas atau
melakukan suatu kegiatan. Pendidik dalam tahap ini juga mempertimbangkan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, semisal tujuannya adalah untuk
memahami dan mengaplikasikan teknik lukis tertentu. Pendidik juga harus
mempertimbangkan konteks proyek, apakah proyek individu atau kelompok,
proyek apa yang akan dibuat dan sejauh mana tingkat kesulitannya.
Pertanyaan yang dirumuskan merupakan hal – hal yang pokok dan
relevan dengan mata pelajaran seni lukis, bisa terkait dengan tema, teknik,
karakteristik media, maupun gaya visual seni lukis.
2) Membuat desain proyek (Design Project)
Peserta didik dilibatkan secara aktif dalam merencanakan proyek secara
kolaboratif dengan guru. Pada tahap ini siswa bisa melakukan riset melalui
studi pustaka, wawancara dengan seniman, berkunjung ke galeri seni,
melakukan eksplorasi visual, atau melakukan kegiatan lain guna menjawab
pertanyaan pokok kemudian dirumuskan ke dalam rancangan awal atau
jawaban sementara terhadap proyek.
Selain melakukan riset peserta didik juga bisa melakukan identifikasi
alat dan material yang akan digunakan untuk membuat proyek sepeti penyiapan
kanvas, cat, kuas, pallet maupun alat – alat lukis lainnya sesuai rencana peserta
didik kemudian merumuskan langkah – langkah konkretnya, seperti teknik,
media, pendekatan visual seperti apa yang akan digunakan peserta didik.
3) Menyusun penjadwalan (Create a Schedule)
Pendidik dan peserta didik secara kolaboratif menyusun penjadwalan
kegiatan dalam penyelesaian proyek. Aktivitas ini meliputi, membuat jadwal
proyek, menentukan batas akhir proyek, mengarahkan siswa agar
merencanakan cara yang baru, memberikan bimbingan pada siswa yang
menggunakan cara yang tidak relevan dengan proyek, dan meminta alasan
pada siswa mengenai pemilihan waktu. Penjadwalan yang telah dibuat haruslah
disepakati secara bersama – sama, hal ini demi memudahkan guru untuk
memonitor perkembangan proyek siswa.
4) Memonitor perkembangan proyek (Monitoring)
Pendidik sebagai fasilitator bertanggung jawab dalam memantau,
membimbing, dan memotivasi siswa pada penyelesaian proyek. Tugas
pendidik dalam memantau progress tidak hanya pada tahap ini saja tetapi mulai
memantau dan membimbing dari awal perencanaan proyek hingga penilaian.
Pendidik dalam memantau perkembangan siswa dapat membuat sebuah rubrik
yang dapat merekam keseluruhan kegiatan yang penting.
Peserta didik pada tahap ini mulai melukis berdasarkan rancangan yang
telah mereka buat, disini merupakan proses kreatif dari peserta didik. Proses ini
mencakup pembuatan sketsa, pewarnaan, hingga finishing.
5) Penilaian hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan dalam rangka membantu pendidik untuk mengukur
ketercapaian tujuan pembelajaran, mengevaluasi progress, memberikan umpan
balik terkait dengan tingkat pemahaman siswa, dan membantu pendidik dalam
menyusun strategi pembelajaran yang akan datang.
Proyek seni lukis yang telah dibuat peserta bisa dipresentasikan ke depan
kelas untuk dilakukan penilaian, selain melakukan presentasi peserta didik juga
bisa melaksanakan kegiatan pameran di sekolah atau mengikuti kegiatan
pameran yang ada di komunitas.
6) Evaluasi pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir proyek yang telah dijalankan pendidik dan peserta didik
melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran dan hasil proyek yang telah
dilaksanakan. Proses refleksi ini dilakukan baik secara individu ataupun
kelompok. Refleksi ini ditujukan supaya bisa menjadi landasan peserta didik
dalam berkarya pada materi selanjutnya supaya bisa menghasilkan karya yang
lebih baik.
Berdasarkan pada uraian di atas dapat disimpulkan bahwa PjBL
memiliki enam langkah – langkah yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Langkah – langkah ini biasanya melebur pada inti kegiatan
pembelajaran dan bentuk kegiatannya variatif tergantung dengan subjek
pelajaran, pada konteks penelitian ini telah disesuaikan dengan pembelajaran
seni lukis.
f. Kelebihan dan Kekurangan Project Based Learning
Model, metode, strategi pastilah memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing – masing, begitu pula dengan model project based
learning. Project based learning pada penerapannya memiliki cukup banyak
kelebihan, diantaranya adalah proyek – proyek yang diberikan dapat
memotivasi siswa untuk terus belajar, keterampilan dalam mencari dan
mengolah informasi meningkat, kemampuan untuk berkolaborasi meningkat,
hal ini sejalan dengan pemikiran Moursund (Dalam Putranti, 2014. Hlm 16 –
17) tentang manfaat Project based learning yaitu :
1) Meningkatkan motivasi belajar peserta didik
2) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik
3) Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengelola sumber belajar
4) Meningkatkan kolaborasi antar peserta didik
5) Meningkatkan kemampuan pengorganisasian proyek, alokasi waktu,
kelengkapan sumber, dan lain – lain dalam menyelesaikan proyek.
Penerapan project based learning juga memiliki kekurangan, proyek –
proyek yang ditugaskan kepada siswa seringkali menghabiskan waktu yang
cukup lama, memerlukan biaya yang tidak sedikit, kelas yang cenderung tidak
kondusif bila tidak dikelola dengan baik, lebih lengkapnya Widiasworo (2016,
hlm. 189) menjelaskan kekurangan model project based learning sebagai
berikut:
1) Banyak guru yang merasa nyaman dengan kelas secara tradisional, dimana
peran guru masih menjadi pusat pembelajaran
2) Biaya yang dikeluarkan bisa bertambah dengan adanya proyek
3) Semakin kompleks suatu permasalahan yang diangkat, semakin lama juga
penyelesaiannya
4) Tingkatan pemahaman peserta didik yang berbeda – beda bisa menyebabkan
adanya ketertinggalan pembelajaran
5) Bisa dipastikan ada peserta didik yang pasif dalam proses pembelajaran
6) Jika pembelajaran dilaksanakan secara berkelompok dengan pembahasan
berbeda, maka peserta didik dikhawatirkan tidak menguasai materi secara
keseluruhan.
2. Seni Lukis
a. Pengertian Seni Lukis
Seni lukis merupakan wujud dari seni visual yang melibatkan
penciptaan gambar atau lukisan pada permukaan dua atau tiga dimensi dengan
menggunakan berbagai macam media, seperti cat akrilik, cat minyak, cat air,
pastel, krayon dan sebagainya. Myers (dalam Candra & Muhajir, 2016, hlm.
405) berpendapat bahwa seni lukis merupakan proses membubuhkan cat diatas
permukaan datar. Pendapat lain tentang seni lukis adalah bahwa dewasa ini
muncul digital painting atau lukisan digital, sehingga seni lukis bertolak dari
makna lukisan merupakan bagian dari seni rupa dua dimensi yang diciptakan
dari sapuan warna secara tradisional (Salam et al, 2020, hlm. 58).
Berdasarkan pendapat di atas seni lukis dapat diartikan sebagai
aktivitas seseorang dalam mengungkapkan ekspresi pada bidang dua dimensi
baik secara tradisional maupun digital. Seni lukis secara umum juga bisa
digolongkan berdasarkan media yang digunakan seperti seni lukis cat minyak,
seni lukis mixed media, seni lukis cat air, dan seni lukis akrilik. Kegiatan
melukis ini dilakukan dengan mengolah unsur visual seni rupa yaitu titik, garis,
bidang, ruang, tekstur, dan warna.
b. Komponen Pembentuk Seni Lukis
Seni lukis sebagai karya seni visual memiliki komponen dalam
pembentukan karyanya. Seni lukis memiliki komponen yang saling berkaitan
dan sulit dipisahkan, Sunaryo dan Sumartono (dalam Noresy, Murtiyoso,
Mujiyono, 2016, hlm. 28) menjelaskan bahwa seni lukis memiliki tiga
komponen yaitu pokok lukisan atau tema (Subject matter), bentuk (form), dan
isi (Content), penjelasan mengenai ketiga komponen tersebut adalah sebagai
berikut :
1) Tema (Subject matter)
Subject matter adalah suatu tema atau topik yang diangkat oleh pelukis
sebagai fokus utama atau subjek dalam karya lukisnya. Tema pada sebuah
lukisan juga bisa disebut dengan unsur non – fisik, unsur non – fisik ini tidak
selalu mudah untuk diidentifikasi terlebih lagi jika disampaikan oleh seniman
secara tersamar (Salam et al, 2020, hlm. 26). Subject matter pada sebuah
lukisan bisa berupa non representatif atau abstrak, serta bisa diangkat dari citra
kehidupan sehari – hari, contohnya alam benda atau biasa disebut still life,
potret, peristiwa dalam hidup manusia (percintaan, kehidupan, kelahiran,
kematian, dll.), bangunan atau ruangan, landscape, peristiwa bersejarah, mitos,
atau ajaran agama tertentu.
2) Bentuk (form)
Bentuk merupakan aspek fisik pada sebuah lukisan. Bentuk pada
dasarnya merupakan pengorganisasian unsur – unsur seni rupa sehingga
tercipta karya seni lukis.
a) Garis
Garis pada dasarnya adalah rentetan dari titik – titik yang saling
berimpitan. Raut garis secara umum bisa dibedakan menjadi garis lurus,
lengkung, atau patah – patah (zig – zag), berdasarkan dari ukuran sebuah garis,
raut garis juga bisa dibedakan menjadi dua, yaitu garis tebal dan garis tipis
(Salam et al, 2020, hlm. 18).
Garis menempati posisi yang fundamental dalam mewujudkan ekspresi
seniman ke dalam sebuah lukisan karena setiap garis memiliki karakteristik
atau simbol tertentu yang dapat mewakili ekspresi seniman, serta setiap
seniman memiliki kekuatan dan penekanan garis yang berbeda - beda. Garis
dalam seni lukis bisa diaplikasikan untuk membuat tekstur, kontur,
memberikan kesan gerak pada sebuah lukisan atau ritme (Rythm).
b) Bidang (shape)
Bidang merupakan elemen pokok dalam seni rupa yang terbentuk dari
perpotongan dari garis – garis atau yang ujungnya saling bertemu. Bidang
memiliki bentuk dan jenis yang banyak, namun secara umum bidang dapat
dibedakan menjadi bidang geometris dan bidang organis. Bidang geometris
merupakan bidang – bidang yang dapat diukur luasnya atau bentuknya
beraturan, sedangkan bidang organis merupakan bidang yang wujudnya
menyerupai tiruan alam, wujudnya banyak sekali dan cenderung tidak
beraturan.
c) Warna
Warna merupakan elemen pokok lain dalam seni rupa. Pembentukan
warna terjadi karena adanya pantulan cahaya di atas sebuah benda dengan
intensitas berbeda sehingga menciptakan banyak warna. Warna dalam seni
lukis juga menempati posisi fundamental kerena setiap warna memiliki sifat
dan makna simbolik yang berbeda – beda. Definisi warna menurut Toekio
(1983) dalam Kristianto (2007, Hlm. 12) warna terbentuk karena pigment cat
memiliki daya pantul dan daya serap terhadap berkas cahaya tertentu.
Warna dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok warna seperti warna
primer, sekunder, tersier, warna pastel, analog, monokrom, dan warna
komplementer. Warna dalam seni lukis dapat memberikan kontras,
keharmonisan, dan keserasian pada suatu objek.
d) Tekstur
Tekstur merupakan nilai raba suatu permukaan benda, secara umum
tekstur dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu tekstur nyata dan tekstur semu.
Sulistyo (2005, hlm. 118) mendefinisikan tekstur sebagai sifat – sifat dari
permukaan bidang atau kualitas suatu permukaan. Tekstur semu merupakan
permukaan suatu bidang yang terlihat kasar, namun ketika diraba terasa halus,
atau ilusif. Tekstur nyata, sesuai namanya kesan halus, kasar, lunak, tajam, dsb.
pada suatu bidang sesuai dengan sensasinya ketika diraba.
e) Gelap terang (Value)
Value atau gelap terang bisa diartikan sebagai perbedaan tingkat
pencahayaan pada suatu warna sehingga memberikan kesan gelap terang,
semakin tinggi intensitas cahaya pada suatu warna maka warna akan menjadi
semakin cerah atau bahkan menjadi putih, sedangkan semakin minim intensitas
cahaya pada suatu warna maka warna akan menjadi semakin gelap atau
menjadi hitam.
Uraian di atas sejalan dengan pendapat Bastomi (1992) dalam Kristianto
(2007, hlm. 14) value bisa diartikan sebagai warna – warna yang memberikan
kesan gelap terang atau gejala warna da;am perbandingan hitam atau putih.
Nilai gelap terang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan kedalaman (depth),
volume, massa benda, komposisi, dan lain sebagainya.
f) Komposisi Seni
Komposisi seni merupakan penyusunan unsur – unsur rupa, berhasil atau
tidaknya sebuah karya lukis ditentukan dari penyusunan unsur – unsurnya
sehingga mampu menciptakan suasana yang diinginkan seniman (Sulistyo,
2005, hlm. 98). Penyusunan unsur – unsur tersebut merujuk pada prinsip –
prinsip penyusunan seni rupa yaitu proporsi, harmoni, keseimbangan, irama,
kontras, pusat perhatian, dan kesatuan.
3) Isi
Isi bisa disebut juga dengan arti atau, suasana (mood), atau pengalaman
penghayat. Suasana dapat diamati dan dirasakan berkat hasil dari
pengorganisasian unsur – unsur fisik serta citra visual yang ditampilkan (Salam
et al, 2020, hal. 28). Ketika melihat seni lukis terkadang seseorang terbawa
suasana seperti merasa takut, kagum, sedih, prihatin, erotis, dan lain
sebagainya. Ketika suasana, maksud, atau tujuan dari karya lukis bisa
dimengerti oleh penghayatnya maka isi dari lukisan tersebut bisa tersampaikan.
c. Teknik Melukis
Teknik melukis dapat diartikan sebagai metode atau cara yang
digunakan oleh seniman dalam menciptakan karya gambar maupun lukisan.
Teknik melukis umumnya merupakan pemanfaatan dari karakteristik media
atau material yang digunakan dalam mencipatakan karya seni lukis. Secara
umum teknik melukis digolongkan menjadi teknik lukis basah dan teknik lukis
kering, akan tetapi ada juga teknik menempel atau kolase (collage).
1) Teknik Lukis Kering
Teknik melukis Kering merupakan teknik melukis dengan
memanfaatkan material atau medium yang bersifat kering dan tidak perlu
diencerkan menggunakan air atau minyak. Penggunaan teknik kering bisa
menggunakan satu media atau campuran berbagai media kering. Macam –
macam teknik kering diantaranya adalah teknik arsir, dusel, dan pointilis.
a) Teknik Arsir (Hatching)
Teknik arsir merupakan teknik untuk menciptakan kesan bentuk,
gelap terang, maupun tekstur pada karya seni lukis. Teknik arsir dilakukan
dengan cara membuat goresan – goresan dengan ketebalan yang berbeda –
beda dalam membentuk objek tiga dimensi sesuai yang diinginkan (Bellina,
2018, hlm. 17
b) Teknik Dusel
Teknik dusel hampir mirip dengan teknik arsir, yaitu menciptakan
kesan tiga dimensi pada sebuah objek, perbedaannya adalah pada teknik
dusel pensil atau goresan yang dihasilkan cenderung lebih lembut atau soft,
kemudian hasil goresan biasanya diusap menggunakan tisu, kain, atau paper
stump sehingga kesan gelap terang yang ditimbulkan lebih lembut.
c) Pointilis
teknik pointilis adalah teknik melukis dengan cara membuat kesan
tiga dimensi suatu objek dengan titik – titik sesuai arah gelap terang,
semakin gelap suatu objek semakin padat titik – titiknya dan semakin terang
suatu objek maka titik – titiknya akan semakin renggang.
Teknik melukis kering dalam pengaplikasiannya dapat menggunakan
material – material atau media lukis seperti pensil, arang (Charcoal), pastel,
ballpoint, atau pensil warna.
2) Teknik Lukis Basah
Teknik lukis basah merupakan teknik melukis dengan menggunakan
media yang harus diberi pengencer atau medium pengikat terlebih dahulu.
Teknik lukis basah dibagi menjadi dua teknik yaitu teknik aquarell atau
transparan dan teknik plakat atau opaque.
a) Teknik Aquarelle (transparan)
Teknik aquarelle adalah istilah untuk teknik melukis dengan
menggunakan intensitas air yang tinggi sehingga warna cat menjadi tidak
pekat atau transparan dan lapisan warna yang dihasilkan lebih lembut.
Teknik Teknik transparan merupakan teknik melukis menggunakan cat
dengan karakteristik cat yang lebih cair dan dengan sapuan kuas tipis dan
ringan (Zuliati, 2023, hlm. 85).
b) Teknik Opaque (Plakat)
Teknik plakat dalam pengaplikasiannya menggunakan pengencer atau
pengikat yang lebih sedikit daripada teknik aquarelle, sehingga permukaan
medium bisa tertutup seluruhnya. Teknik opaque atau plakat yaitu teknik
melukis menggunakan dengan karakteristik sapuan warna yang tebal dan
karakteristik cat yang kental sehingga menghasilkan warna yang pekat dan
padat (Thomas, 2015, hlm. 81).
3) Kolase (Collage)
Teknik kolase adalah teknik menempelkan material tertentu pada suatu
benda seni sehingga dapat menjadi kombinasi perpaduan karya seni. Material
yang dimaksud adalah material selain cat minyak atau akrilik, dapat berupa
material alami seperti tanah, serbuk gergaji, ranting, jerami atau material
anorganik atau limbah seperti plastik, limbah kain, kaca, maupun logam.
Dinda, Nadia Ulfa & Sukma, Elfia. (2021). Analisis Langkah – Langkah Model
Project Based Learning (PjBL) pada Pembelajaran Tematik Terpadu di
Sekolah Dasar Menurut Pandangan Para Ahli (Studi Literatur). Journal
of Basic Education Studies, Vol 4 (2).
Kristianto, Darmawan. (2007). Studi Tentang Karya Seni Lukis Realis Karya Agus
Wiryawan Periode 2001 – 2003. LPPM Universitas Sebelas Maret
Muniarti, Erni. (2016). Penerapan Metode Project Based Learning dalam
Pembelajaran. Diakses melalui:
[Link]
[Link]. 28 Oktober 2023
Salam, S., Sukarman, B., Hasnawati., & Muhaimin. 2020. Pengetahuan Dasar
Seni Rupa.
Sulistyo, E. T. (2005). Kaji Dini Pendidikan Seni. Surakarta: Lembaga
Pengembangan Pendidikan (LPP) dan UPT Penerbitan dan Percetakan
UNS (UNS Press) Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Thomas, J. W. (2000). A Review of Project Based Learning. California: The
Autodesk Foundation.
Thomas, N.R. (2015). Eksplorasi Pasir Sebagai Teknik City Scape Lukisan.
Jurnal Eskpresi Seni Vol. 17(1). Hal 71 – 82.
Wena, Made. (2013). Strategi pembelajaran inovatif kontenporer: suatu tinjauan
konseptual operasional. Jakarta: Bumi Aksara. hlm. 145-146
Widiasworo, E. (2016). Strategi Dan Metode Mengajar Siswa Diluar Kelas
(Outdoor Leaning) Secara Aktif, Kreatif, Inspiratif, Dan Komunikatif.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group.
Yulianto, A., Fatchan, A., & Astina. (2017). Penerapan Model Pembelajaran
Project Based Learning Berbasis Lesson Study untuk Meningkatkan
Keaktifan Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan
Pengembangan, Vol 2 (3).
Zuliati. (2023). Eksplorasi Ragam Teknik Cat Air. Sanggitarupa Vol. 3 (1).
Prawira, N. G & Tarjo, Enday. (2017). Belajar dan Pembelajaran Seni Rupa.
Bandung: Sarana Tutorial Nuraini Sejahtera.