0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan54 halaman

Final Proposal

Dokumen ini adalah proposal tesis yang mengeksplorasi pengalaman perawat dalam merawat luka kronis melalui perawatan di rumah di daerah pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami tantangan dan strategi yang dihadapi perawat serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi pasien dengan luka kronis. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif untuk menggali makna pengalaman perawat dalam konteks tersebut.

Diunggah oleh

yeniariindahwati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan54 halaman

Final Proposal

Dokumen ini adalah proposal tesis yang mengeksplorasi pengalaman perawat dalam merawat luka kronis melalui perawatan di rumah di daerah pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami tantangan dan strategi yang dihadapi perawat serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi pasien dengan luka kronis. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif untuk menggali makna pengalaman perawat dalam konteks tersebut.

Diunggah oleh

yeniariindahwati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGALAMAN PERAWAT DALAM MERAWAT LUKA KRONIS

MELALUI PERAWATAN DIRUMAH DI DAERAH PEDESAAN

Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Magister pada


program studi Magister Keperawatan.

PROPOSAL TESIS

Oleh:
Harsah Bahtiar Zainudin
242320102001
\

KEMETERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN
JEMBER
2024
2

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...............................................................................................................2
BAB 1. PENDAHULUAN.........................................................................................1
1.1 Latar Belakang...........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................4
1.3 Batasan Penelitian......................................................................................4
1.4 Tujuan Penelitian.......................................................................................4
1.5 Manfaat Penelitian.....................................................................................5
1.6 Keterbaruan Penelitian...............................................................................6
BAB 2. TINJAUAN TEORI......................................................................................7
2.1 Kajian Literatur..........................................................................................7
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN................................................................16
3.1 Desain Penelitian.....................................................................................16
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena bertujuan untuk
mengeksplorasi dan memahami secara mendalam arti dan makna pengalaman
perawat dalam melakukan asuhan keperawatan luka kronis melalui perawatan
dirumah di daerah pedesaan............................................................................16
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian...................................................................16
3.3 Partisipan.................................................................................................16
3.4 Instrumen.................................................................................................17
b. Catatan lapangan (field note)...................................................................18
c. Alat perekam suara (voice recorder).......................................................19
d. Persetujuan penelitian..............................................................................19
3.5 Metode pengumpulan data.......................................................................19
3.5.1 Tahap Persiapan.....................................................................................20
Setelah selesai seminar proposal dan disetujui pembimbing, serta
mendapatkan surat pengantar penelitian dari prodi Fakultas Keperawatan
Universitas Jember untuk permohonan izin etik dan permohonan izin
penelitian, peneliti akan mengajukan permohonan uji etik ke LP2M
Universitas Jember, sebagai langkah awal sebelum melakukan pengumpulan
data. 20
3.5.2 Tahap Perekrutan Partisipan..................................................................20
3.5.3 Tahap Pelaksanaan................................................................................20
b. Fase kerja.................................................................................................20
c. Tahap Terminasi......................................................................................21
3.6 Analisi Data.............................................................................................21
e. Metode Analisis.......................................Error! Bookmark not defined.
3

3.8 Keabsahan Data (Trustworthiness)...........................................................24


3.9 Etika Penelitian........................................................................................27
Etika penelitian merupakan bagian krusial dari proses ilmiah yang bertujuan
untuk memastikan bahwa penelitian dijalankan secara etis dan penuh
tanggung jawab. Dengan tantangan yang terus berevolusi di berbagai disiplin
ilmu, peneliti dan institusi memiliki tanggung jawab untuk senantiasa
memperbarui dan memperteguh komitmen mereka pada prinsip-prinsip etika
penelitian.........................................................................................................27
a. Alur Penelitian.........................................................................................29
Lampiran...................................................................................................................36
Evidence for person-centred care in chronic wound care: A systematic review
and recommendations for practice(Georgina Gethin, 2020)................................38
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawatan luka yang terstandarisasi merupakan elemen krusial dalam
pelayanan kesehatan untuk menjamin konsistensi, keamanan, kualitas, efisiensi,
dan penerapan praktik berbasis bukti. Perawatan luka hingga saat ini masih
memiliki standar yang bervariasi, karena keterbatasan edukasi klinis terstruktur
dalam perawatan luka, perbedaan lingkungan praktik klinis, variasi akses terhadap
teknologi perawatan terkini, demografi, status sosio-ekonomi pasien, dan
perbedaan regulasi dan praktik regional (Sen, 2024). Jika dibandingkan dengan
spesialisasi keperawatan lainnya, perawatan luka merupakan bidang keahlian yang
relatif baru dan sedang berkembang yang menghadirkan tantangan unik bagi
perawat dalam hal memperluas basis pengetahuan mereka dan membangun
keterampilan dalam perawatan luka berbasis bukti (Msallam, 2022).
Perawat luka di rumah memainkan peran penting dalam penanganan berbagai
jenis luka kronis meliputi ulkus vena, ulkus arteri, ulkus diabetikum, dan luka
tekan ( Huang et al., 2023 ). Perawatan luka di rumah memainkan peran penting
dalam penanganan berbagai jenis luka kronis, karena memiliki beberapa dampak
seperti kenyamanan, pengurangan risiko infeksi nosokomial, dan peningkatan
kualitas hidup (Huang et al., 2023) . Dalam perawatan di rumah, perawat
memegang peran penting dalam memberikan perawatan luka yang komprehensif,
meliputi pembersihan luka, penggantian balutan, pemantauan tanda tanda infeksi,
dan edukasi pasien (Renata Batas, 2019) . Peran perawat melampaui aspek klinis
dan mencakup dukungan psikologis dan edukasi bagi pasien dan keluarga,
memberdayakan mereka untuk berpartisipasi aktif dalam proses penyembuhan
(Huang et al., 2023) . Perawatan kesehatan di rumah terbukti efektif dalam
meningkatkan berbagai aspek kesehatan keluarga, termasuk fisik, psikososial,
efikasi diri, fungsi sosial keluarga, dan kualitas hidup, yang menunjukkan potensi
intervensi keperawatan di rumah dapat memberikan dampak positif yang
signifikan (Susanto et al., 2023)

1
2

Penyakit kronis adalah penyebab utama kematian dan disabilitas di dunia


(Susanto et al., 2022). Luka kronis secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup
dan menimbulkan beban keuangan yang besar pada sistem perawatan Kesehatan
(Benjamin et al., 2023) . Proses penyembuhan luka kronis seringkali melebihi
waktu tiga bulan, dan dapat mengakibatkan penurunan kualitas hidup, amputasi,
bahkan kematian (Barrett et al., 2009). Sementara itu, prevalensi luka kronis terus
meningkat seiring dengan bertambahnya populasi lansia dan peningkatan penyakit
kronis. Diabetes Mellitus (DM) merupakan faktor risiko utama luka kronis
(Nair et al., 2024)
, dan penyakit vascular (Hadzhiev et al., 2023) . Pravelensi DM
mencapai 10,8% dan berisiko amputasi 15-46 kali lebih tinggi dibandingkan
penderita non DM, dimana angka kematian pasca amputasi sebesar 15,89% dan
penderita (WHO, 2024). DM menyumbang angka 25-90% penyebab terjadinya
amputasi. Indonesia memiliki jumlah penderita diabetes dewasa (usia 20-79
tahun) tertinggi kelima di dunia dengan jumlah penderita Diabetes yakni sebanyak
20,4 juta. (International Diabetes Federation, 2025) . Di provinsi Jawa Timur,
sekitar 2,6% dari penduduk usia 15 tahun ke atas mengidap diabetes melitus.
Pelayanan kesehatan bagi penderita diabetes melitus di 38 kabupaten/kota di Jawa
Timur telah mencapai 867.257 kasus, dan khususnya di Lumajang sebesar 24.703
pasien (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2022).
Perawat yang kompeten dalam perawatan luka di rumah harus memiliki
pengetahuan yang mendalam tentang berbagai jenis luka, teknik perawatan luka,
manajemen nyeri, dan pencegahan infeksi, serta keterampilan komunikasi dan
edukasi yang efektif untuk memberdayakan pasien dan pengasuh
(Huang et al., 2023)
. Perawatan luka kaki diabetik di rumah yang tidak memadai dapat
menyebabkan penyembuhan luka tertunda, meningkatkan risiko komplikasi
infeksi dan amputasi (Seidel et al., 2020) . Keterbatasan sumber daya dan
pengetahuan dalam perawatan di rumah dapat menghambat penerapan teknik
perawatan luka yang optimal dan berpotensi menyebabkan peningkatan beban
luka secara keseluruhan (Sen, 2021) . Pemantauan yang tidak memadai dan
kurangnya intervensi profesional tepat waktu dapat menyebabkan hasil yang
merugikan bagi pasien ( Seidel et al., 2020 ). Infeksi merupakan risiko signifikan
3

pada perawatan luka di rumah, terutama jika teknik aseptik tidak dipatuhi dengan
benar (Meah et al., 2015). Pasien dan caregiver harus diedukasi tentang tanda dan
gejala komplikasi luka, seperti peningkatan nyeri, kemerahan, bengkak, atau
keluarnya cairan, untuk memastikan intervensi tepat waktu dan mencegah
perkembangan kondisi yang lebih serius (Meah et al., 2015)
Penelitian ini akan menggali lebih dalam pengalaman dan tantangan yang
dihadapi perawat luka dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien
dengan luka kronis. Desktipsi secara kualitatif untuk menggali arti dan makna
perawat dalam asuhan keperawatan luka diperlukan pemahaman fenomena secara
mendalam, Sehingga diharapkan dapat teridentifikasi faktor yang mempengaruhi
kualitas perawatan luka kronis di daerah pedesaan dan meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan bagi pasien dengan luka kronis..
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian adalah mengeksplorasi Bagaimanakah
pengalaman perawat dalam melakukan asuhan perawatan luka kronis melalui
perawatan di rumah daerah pedesaan?
1.3 Batasan Penelitian
Untuk memfokuskan kajian penelitian fenomena tentang pengalaman perawat
perawatan luka kronis melalui perawatan dirumah di daerah pedesaan, maka
berikut beberapa batasan yang diterapkan dalam penelitian ini:
1. Penelitian ini memfokuskan pada perawat yang memiliki pengalaman
merawat luka kronis melalui perawatan dirumah
2. Penelitian ini memfokuskan pada perawat yang melakukan perawatan luka
kronis dan telah memiliki SIPP Mandiri, dan memiliki praktek mandiri di
daerah pedesaan
3. Penelitian ini memfokuskan pada asuhan keperawatan luka kronis kaki
diabetes di rumah di daerah pedesaan
4

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan umum peneltian ini adalah untuk mengeksplorasi arti dan
makna pengalaman perawat merawat luka kronis melalui perawatan dirumah
di daerah pedesaan
1.4.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah
1. Mendekripsikan luka kaki diabetes yang dirawat perawat melalui
perawatan di rumah di daerah pedesaan
2. Mendeskripsikan asuhan keperawatan luka kronis melalui
perawatan luka di rumah di daerah pedesaan
3. Mengidentifikasi hambatan yang dihadapi perawat dalam merawat
luka kronis melalui perawatan dirumah di daerah Pedesaan.
4. Mengidentifikasi strategi perawat dalam merawat luka kronis
melalui perawatan dirumah di daerah Pedesaan.
5. Mengidentifikasi kompetensi perawat dalam merawat luka kronis
melalui perawatan dirumah di daerah Pedesaan
6. Menganalisis layanan perawatan di rumah dalam perawatan luka
kronis di pedesaan
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat bagi perawat luka
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi sehingga
memiliki strategi dalam mengatasi hambatan melalui perawatan di rumah di
daerah pedesaan
1.5.2 Manfaat bagi Masyarakat di Rural Area
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan tersedianya layanan perawata
luka kronis di rumah yang lebih berkualitas, aksesibilitas dan terjangkau dengan
adanya standarisasi layanan.
1.5.3 Manfaat bagi Pelayanan Keperawatan
Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran, arahan, dan data dasar
untuk dijadikan acuan dalam penerapan standart asuhan keperawatan dan layanan
5

perawatan di rumah seperti standart penentuan tarif perawatan, standart


layanan/tindakan, standart alat /bahan perawatan, dan strategi mengembangkan
pelayanan perawatan luka kronis di rumah di daerah pedesaan dengan
keterbatasan sumber daya, aksesibilitas pasien.
1.5.4 Manfaat bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
pengembangan layanan rural health yang berdasarkan kajian perawatan dan
kesehatan dalam menyediakan layanan luka kronis di komunitas berbasis
evidence-based practice (EBP), sehingga hasil perawatan luka menjadi lebih
efektif.
1.5.5 Manfaat bagi Kebijakan Kesehatan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi bagi pengambil
kebijakan dalam pengembangan standart praktek dan layanan perawatan luka di
rumah.
1.6 Keterbaruan Penelitian
Pencarian sumber ilmiah untuk keterbaruan penelitian menggunakan tiga
database yakni Google Scholar, PubMed, dan Science Direct dengan kurun waktu
10 tahun terakhir. Kata kunci dan keaslianan penelitian yang digunakan pada tiga
database tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.1 dan Tabel 1.2 (terlampir). Penelitian
terdahulu yang didapat hanya berupa literatur review pengalaman perawat dalam
merawat luka Kronis.
Keterbaruan dari penelitian saat ini lebih menekankan pada mengeskplorasi
arti dan makna pengalaman perawat merawat luka kronis melalui perawatan
dirumah di daerah Pedesaan. Fokus kajian riset ditekankan pada bagaimana
perawat yang melakukan praktek mandiri keperawatan di derah pedesaan
memberikan pelayanan perawatan di rumah untuk merawat luka kronis dengan
berbagai tantangan, hambatan dan karakteristik lingkungan rural yang sangat
bervariasi yang memungkinkan mempengaruhi proses penyembuhan luka.
Untuk itu, pengalaman perawat dalam melakukan perawatan luka di rumah
pada daerah pedesaan merupakan fenomena yang unique dari aspek model
konseptual keperawatan, baik dari aspek manusia, lingkungan, kesehatan dan
6

keperawatan. Oleh karena itu, perlu dieksplorasi secara menyeluruh dari


fenomena tersebut melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
BAB 2. TINJAUAN TEORI

2.1 Kajian Literatur


2.1.1 Perawatan kesehatan
Perawatan kesehatan meliputi berbagai layanan yang bertujuan untuk
menjaga, meningkatkan, dan memulihkan kondisi kesehatan individu. Konsep ini
mencakup upaya preventif, promotif, kuratif, hingga rehabilitatif, yang secara
holistik memperhatikan kebutuhan fisik, emosional, dan sosial pasien
(Dhar et al., 2020)
. Preventif berfokus pada pencegahan penyakit melalui vaksinasi, edukasi,
dan pemeriksaan rutin. Promotif menitikberatkan pada promosi kesehatan dan
kesejahteraan melalui program kampanye kesehatan. Layanan kuratif bertujuan
mengobati penyakit atau kondisi medis, termasuk perawatan luka kronis.
Sementara itu, layanan rehabilitatif membantu pasien memulihkan fungsi tubuh
dan kualitas hidup pasca-penyakit atau cedera melalui terapi fisik dan dukungan
psikososial .
Perawatan kesehatan yang efektif untuk luka kronis membutuhkan
pendekatan holistik yang tidak hanya berfokus pada penyembuhan fisik, tetapi
juga mempertimbangkan dampak psikososial yang ditimbulkan.
Kapp et al. (2018)
menyoroti bahwa luka kronis dapat secara signifikan mempengaruhi
kualitas hidup individu, termasuk keterbatasan fisik, beban emosional, dan
disrupsi kehidupan sosial. Oleh karena itu, penting bagi perawat untuk memahami
dan merespon kebutuhan pasien secara menyeluruh, tidak hanya sebatas aspek
lokal pada luka.
Fearns et al. (2017). menekankan pentingnya menempatkan pasien sebagai
focus pusat dalam perawatan luka kronis. Pendekatan yang berpusat pada pasien
mendorong kolaborasi dan komunikasi yang efektif antara pasien dan tenaga
Kesehatan dengan melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan dan
merencanakan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka,
diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan pasien, mempercepat proses
penyembuhan, dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.
Lebih lanjut, Olsson et al. (2019) menyoroti beban humanistik dan ekonomi yang

7
8

ditimbulkan oleh luka kronis. Luka kronis tidak hanya menimbulkan rasa sakit
dan ketidaknyamanan fisik, tetapi juga dapat menyebabkan kecemasan, depresi,
dan isolasi sosial. Selain itu, biaya perawatan luka kronis yang tinggi dapat
menjadi beban finansial bagi pasien dan sistem kesehatan. Oleh karena itu,
diperlukan strategi perawatan yang komprehensif dan efektif untuk
meminimalkan dampak negatif luka kronis dan meningkatkan kualitas hidup
pasien.
Konsep perawatan luka kronis modern juga menekankan pentingnya
pendekatan holistik dan berbasis bukti. Dissemond et al. (2024) memperkenalkan
konsep M.O.I.S.T. (Moisture, Oxygen, Infection control, Support, Temperature)
sebagai panduan dalam terapi lokal luka kronis. Konsep ini mengintegrasikan
berbagai aspek penting dalam perawatan luka, seperti menjaga kelembaban luka
yang optimal, mencegah infeksi, dan mendukung proses penyembuhan alami
tubuh. Dengan menerapkan konsep M.O.I.S.T. dan mempertimbangkan faktor-
faktor individual pasien, diharapkan dapat meningkatkan efektivitas perawatan
luka kronis dan meminimalkan dampak negatifnya.
2.1.2 Konsep perawatan luka kronis
Manajemen luka kronis yang efektif membutuhkan pendekatan holistik.
Prinsip-prinsip utama dalam manajemen luka kronis meliputi:
1. Pengkajian Luka yang Komprehensif
Langkah awal yang penting adalah melakukan pengkajian luka yang
menyeluruh, antara lain yakni:
a. Riwayat Luka
Mengkaji etiologi luka, durasi, riwayat perawatan sebelumnya, dan adanya
faktor komorbid
b. Pemeriksaan Fisik Luka
Mengkaji lokasi, ukuran, kedalaman, jenis jaringan pada dasar luka, tanda-
tanda infeksi, dan kondisi kulit sekitar
c. Evaluasi Faktor Risiko
Mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat penyembuhan luka,
seperti diabetes, penyakit vaskular, malnutrisi, dan imunosupresi
9

2. Debridemen
Pengangkatan jaringan nekrotik atau jaringan mati sangat penting untuk
mempersiapkan dasar luka dan mendukung proses penyembuhan. Debridemen
dapat dilakukan secara enzimatik, dengan balutan, pisau bedah, atau
teknik hidrosurgery.
3. Pengendalian Infeksi
Penggunaan antiseptik (seperti perak, iodin) dan/atau antibiotik (topikal atau
sistemik) dilakukan jika terdapat tanda-tanda infeksi pada luka kronis
4. Pengelolaan Tekanan dan Off-loading
Untuk luka akibat tekanan (pressure ulcers) atau ulkus diabetik, mengurangi
tekanan pada area luka sangat penting, misalnya dengan reposisi pasien secara
berkala atau penggunaan alat bantu seperti kasur khusus dan orthosis
5. Balutan Luka yang Tepat
Pemilihan balutan disesuaikan dengan kondisi luka, seperti tingkat eksudat,
fragilitas kulit, dan perkembangan jaringan granulasi setelah debridemen.
Balutan yang menjaga kelembapan luka dapat mempercepat penyembuhan.
6. Kompresi
Untuk ulkus vena, kompresi dengan perban atau stocking khusus sangat
dianjurkan untuk mengurangi hipertensi vena dan mempercepat penyembuhan
7. Manajemen Penyakit Dasar dan Nutrisi
Pengelolaan penyakit penyerta seperti diabetes, kontrol berat badan, dan
dukungan nutrisi juga sangat penting dalam mendukung proses penyembuhan
luka kronis
8. Pendekatan Multidisiplin dan Edukasi Pasien
Keterlibatan tim multidisiplin dan edukasi pasien tentang perawatan mandiri
serta pencegahan kekambuhan luka sangat dianjurkan
9. Terapi Lanjutan
Pada kasus tertentu, dapat digunakan terapi lanjutan seperti skin substitute
(kulit buatan), growth factor, stem cell, negative pressure wound therapy,
dan lain-lain
10

Prinsip-prinsip ini dapat disesuaikan dengan jenis luka kronis dan kondisi
pasien secara individual untuk mencapai hasil penyembuhan yang optimal
(Falanga et al., 2022)

10. Standart operasional prosedur perawatan luka kronis


a. Mengidentifikasi kebutuhan akan perawatan luka
Instruksi kerja :
1) Identifikasi tingkat nyeri berhubungan dengan luka dan
penggantian balutan
2) Identifikasi Resiko/tanda-tanda infeksi pada luka
3) Kaji kondisi luka
4) Identifikasi proses penyembuhan.
5) Identifikasi Jenis perawatan yang diperlukan (oklusif, non oklusif,
non ordhering, basah-kering, pengobatan).
6) Identifikasi kabutuhan fasilitas seperti balutan (bandage)
b. Mempersiapkan klien/pasien yang akan menerima perawatan luka
Instruksi kerja :
1) Jelaskan tujuan dan prosedur
2) Jelaskan rasa nyeri yang mungkin dialami
3) Jelaskan cara-cara untuk menurunkan rasa nyeri disaat penggantian
balutan
c. Mempersiapkan alat dan bahan
Instruksi kerja :
1) Identifikasi daftar alat kebutuhan perawatan sesuai standar.
2) Tentukan jenis bahan dan obat atau order antiseptik sesuai order
3) Identifikasi fungsi dan kegunaan alat
4) Periksa kondisi peralatan dan siap pakai.
5) Identifikasi kemungkinan bahaya kecelakaan kerja
6) Jaga aspek steril dengan ketat.
d. Melakukan tindakan merawat luka
Instruksi kerja :
11

1) Cuci tangan 6langkah sebelum Tindakan


2) Jaga ketat prinsip sterilitas ketat saat ganti balutan .
3) Gunakan APD sesuai dengan indikasi
4) Lakukan Penggantian balutan lama dengan teknik yang benar
5) Lakukan pengkajian pada luka
6) Lakukan pencucian luka dengan tehnik dan jenis cairan sesuai
indikasi luka
7) Lakukan debridemen jika diperlukan
8) Keringkan area sekitar luka
9) Beri topical terapi sesuai kondisi luka
10) Pilih dan gunakan balutan primer dan sekunder sesuai kondisi luka
11) Aplikasikan balutan primer dan sekunder dengan tehnik yang benar
12) Rapikan alat dan pasien
13) Cuci tangan 6 langkah setelah tindakan
e. Melakukan evaluasi
Instruksi kerja : Evaluasi terjadinya granulasi jaringan dan penyembuhan
f. Melakukan dokumentasi respon pasien dan tindakan yang dilakukan
Instruksi kerja :
1) Catat semua hasil pengkajian
2) Catat respon klien/pasien seperti granulasi kulit, tidak ada
drainase/normal drainase atau sebaliknya
3) Catat tindakan keperawatan luka dan rencana perawatan
selanjutnya (Eriksson et al., 2022 ; Caroline Dowsett, 2021 ;
(European Wound Management Association (EWMA), 2008) ;
(Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, 2023) ;
(Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), 2021)
2.1.3 Kesehatan rural area
Konsep kesehatan di rural area merupakan isu kompleks yang dipengaruhi
oleh berbagai faktor, mulai dari aksesibilitas layanan kesehatan hingga persepsi
masyarakat terhadap kesehatan itu sendiri. Beberapa penelitian telah
12

mengeksplorasi berbagai dimensi konsep ini, memberikan pemahaman yang lebih


holistik tentang kesehatan di wilayah pedesaan.
Akses terhadap layanan kesehatan primer menjadi sorotan utama dalam
penelitian Franco et al. (2021) . Melalui tinjauan literatur integratif, menganalisis
akses, organisasi, dan tenaga kerja kesehatan di daerah rural. Penelitian ini
menunjukkan bahwa keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan primer
merupakan tantangan signifikan di wilayah pedesaan. Hal ini diperparah oleh
distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata dan organisasi sistem kesehatan
yang belum optimal.
Weinhold & Gurtner (2014) menambahkan perspektif lain dengan
menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan kekurangan layanan kesehatan di
daerah rural. Mereka menyoroti faktor-faktor seperti demografi, geografis, dan
ekonomi yang berkontribusi pada kesenjangan kesehatan antara wilayah urban
dan rural. Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman yang mendalam tentang
konteks lokal sangat penting dalam merancang solusi yang efektif untuk
mengatasi kekurangan layanan kesehatan di daerah pedesaan.
Tidak hanya faktor eksternal, persepsi masyarakat terhadap kesehatan juga
memegang peranan penting. Tang et al. (2021) menganalisis konsep kesehatan
yang dirasakan oleh orang dewasa di pedesaan Cina. Mereka menemukan bahwa
persepsi kesehatan dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan lingkungan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa program kesehatan di daerah rural perlu
memperhatikan faktor-faktor tersebut agar efektif dan berkelanjutan.
2.1.4 Praktek homecare di rural
Perawat home care di daerah pedesaan menghadapi tantangan dan peluang
unik dalam memberikan perawatan yang efektif. Ohta et al. (2020)
mengungkapkan bahwa perawat home care di pedesaan Jepang menghadapi
tantangan dalam memberikan perawatan yang berkesinambungan karena faktor
geografis, sosial, dan budaya yang kompleks. Studi ini menekankan pentingnya
pemahaman mendalam tentang konteks lokal dan kebutuhan spesifik pasien di
daerah pedesaan.
13

Levine et al. (2021) meneliti persepsi masyarakat pedesaan terhadap


perawatan akut di rumah. Hasilnya menunjukkan adanya minat dan optimisme
yang signifikan terhadap layanan ini, meskipun terdapat beberapa hambatan yang
perlu diatasi. Desai et al. (2024) menunjukkan bahwa perawatan di rumah
setingkat rumah sakit untuk pasien dewasa di daerah pedesaan memungkinkan,
dengan menekankan pentingnya adaptasi model perkotaan agar sesuai dengan
kondisi pedesaan. Studi ini juga menyoroti pentingnya teknologi, alur kerja klinis
dan operasional yang kuat, serta koordinasi perawatan yang baik.
Duarte et al. (2023) menekankan peran penting kunjungan rumah dalam
perawatan primer di daerah pedesaan. Studi ini menyoroti tuntutan spesifik yang
dihadapi perawat dalam memberikan perawatan di rumah, termasuk kebutuhan
untuk menyesuaikan intervensi dengan konteks sosial dan budaya masyarakat
pedesaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa perawat home care perlu memiliki
pengetahuan luas tentang sumber daya komunitas dan mampu berkolaborasi
secara efektif dengan tenaga kesehatan lain.
Tantangan lain yang dihadapi perawat home care di daerah pedesaan
adalah kurangnya infrastruktur, termasuk akses internet yang terbatas
(Levine et al., 2021)
. Hal ini dapat menghambat penggunaan teknologi telehealth dan sistem
informasi kesehatan yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas perawatan.
Selain itu, perawat juga perlu memiliki keterampilan dalam mengelola persediaan
obat-obatan dan peralatan medis yang terbatas.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, perawat home care di daerah
pedesaan memiliki peran penting dalam meningkatkan akses terhadap pelayanan
kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Mereka bertindak sebagai
jembatan antara sistem perawatan kesehatan formal dan masyarakat pedesaan,
memberikan perawatan yang holistik dan berpusat pada pasien. Ohta et al. (2020)
menunjukkan bahwa perawat home care dapat memberdayakan pasien dan
keluarga untuk berpartisipasi aktif dalam perawatan mereka sendiri melalui
edukasi dan konseling.
2.1.5 Perawatan luka kronis di pedesaan
14

Perawatan luka kronis di daerah pedesaan menjadi tantangan tersendiri,


terutama karena keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis
yang memadai. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengeksplorasi
pendekatan yang efektif dalam menangani masalah ini.
Frykberg & Banks (2015) mengidentifikasi beberapa tantangan utama
dalam perawatan luka kronis, termasuk akses yang terbatas ke layanan kesehatan,
kurangnya tenaga medis terlatih, dan biaya perawatan yang tinggi. Tantangan-
tantangan ini semakin terasa di daerah pedesaan, di mana aksesibilitas dan
ketersediaan sumber daya menjadi kendala utama. Bouldin et al. (2015)
menunjukkan bahwa veteran yang tinggal di daerah pedesaan memiliki akses yang
lebih rendah ke perawatan luka yang berkualitas dibandingkan dengan mereka
yang tinggal di perkotaan. Hal ini berdampak pada hasil perawatan, di mana
penyembuhan luka lebih lambat dan risiko komplikasi lebih tinggi pada pasien di
daerah pedesaan. Untuk mengatasi tantangan ini, pendekatan berbasis komunitas
menjadi solusi yang menjanjikan. Toppino et al. (2022) melakukan penelitian di
Pantai Gading dan menemukan bahwa perawatan luka berbasis komunitas efektif
dalam meningkatkan penyembuhan luka dan mengurangi komplikasi pada pasien
di daerah pedesaan. Model ini melibatkan pelatihan dan pemberdayaan anggota
masyarakat untuk memberikan perawatan luka dasar, sehingga meningkatkan
aksesibilitas dan keterjangkauan layanan.
Wadagni et al. (2024) menekankan pentingnya pendekatan terpadu dalam
perawatan luka berbasis komunitas. Studi mereka di Benin dan Pantai Gading
menunjukkan bahwa integrasi perawatan luka dengan program kesehatan lainnya,
seperti pengendalian infeksi dan promosi kesehatan, dapat meningkatkan
efektivitas dan keberlanjutan program. Kolaborasi antara tenaga kesehatan
profesional, kader kesehatan, dan anggota masyarakat juga menjadi kunci
keberhasilan program ini.
Perawat memiliki peran penting dalam perawatan luka berbasis komunitas.
Dhar et al. (2020) menunjukkan bahwa perawatan luka yang dipimpin oleh
perawat di komunitas efektif dalam meningkatkan hasil dan pengalaman pasien.
Perawat dapat memberikan edukasi, dukungan, dan pemantauan yang
15

berkelanjutan kepada pasien dan keluarga, sehingga meningkatkan kepatuhan dan


kemandirian dalam perawatan luka.
Monaro et al. (2021) menggunakan Model Konservasi Levine untuk
menganalisis perawatan luka kronis di berbagai lingkungan, termasuk klinik luka,
perawatan komunitas, dan panti jompo. Model ini menekankan pentingnya
mempertahankan energi, integritas struktural, integritas personal, dan integritas
sosial pasien dalam proses perawatan. Pendekatan holistik ini relevan diterapkan
dalam konteks perawatan luka di daerah pedesaan, di mana faktor sosial,
ekonomi, dan budaya dapat mempengaruhi proses penyembuhan.
2.1.6 Kualitatif dengan fenomenologi deskripsi
Pendekatan fenomenologi bertujuan untuk mengeksplorasi dan
mendeskripsikan makna pengalaman hidup (lived experience) individu atau
sekelompok orang mengenai suatu fenomena. Pendekatan ini menekankan pada
"kembali ke hal-hal itu sendiri" dengan mengesampingkan asumsi atau
interpretasi peneliti untuk memahami esensi dari pengalaman tersebut
(Shorey & Ng, 2022)
. Dalam konteks keperawatan, pendekatan ini memungkinkan peneliti
untuk menggali lebih dalam pengalaman pasien dan tenaga kesehatan, yang dapat
meningkatkan kualitas perawatan holistik.
Chang (2023) menggunakan pendekatan fenomenografi untuk memahami
bagaimana perawat luka berpengalaman mempersepsikan dan mengalami
manajemen luka tekan. Temuan dalam penelitian ini menekankan pentingnya
pengalaman klinis dan pemahaman kontekstual dalam perawatan luka, melampaui
sekadar penerapan pengetahuan teoretis, dan menyarankan perlunya
mengintegrasikan pengetahuan praktis ini ke dalam program pendidikan
keperawatan untuk meningkatkan kompetensi perawat dan keselamatan pasien.
16

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan fenomenologi deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena bertujuan
untuk mengeksplorasi dan memahami secara mendalam arti dan makna
pengalaman perawat dalam melakukan asuhan keperawatan luka kronis melalui
perawatan dirumah di daerah pedesaan.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Kabupaten Lumajang. Peneliti
menanyakan lokasi yang dapat memberi rasa nyaman pada partisipan saat
melaksanakan wawancara
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2025
yang diawali dengan pengambilan studi pendahuluan pada bulan Maret 2025,
analisa data pada bulan Juli 2025. Wawancara dilaksanakan secara tatap muka
dengan jadwal sesuai kesepakatan dengan partisipan.
3.3 Partisipan
Partisipan adalah individu yang berpartisipasi dalam studi untuk
memberikan data atau informasi yang relevan dengan topik penelitian. Partisipan
memainkan peran penting dalam memberikan wawasan mendalam dan perspektif
yang kaya yang tidak dapat diperoleh melalui metode penelitian kuantitatif
(Bonisteel et al., 2021). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang
melakukan perawatan luka berbasis homecare pada pasien dengan luka kronis di
Kabupaten Lumajang. Penarikan jumlah partisipan dapat dihentikan ketika data
yang dikumpulkan telah mencapai saturasi. Saturasi data tercapai ketika data
tambahan yang diperoleh tidak lagi memberikan informasi baru yang
relevan (Hennink & Kaiser, 2022).
Penelitian kualitatif sejenis terkait perawat yang merawat pasien dengan
Malignan Fungating Wound di rumah sakit distrik di Taiwan Selatan,
17

mengeksplorasi fenomena kedalam 15 partisipan (Tam et al., 2024) .


Chang (2023)
, dalam penelitiannya mengidentifikasi bagaimana perawat luka yang
berpengalaman memahami apa yang harus dilakukan dalam penanganan luka
tekan tersaturasi melalui 20 perawat luka. Dengan mempertimbangkan kemiripan
dengan kedua penelitian tersebut, penelitian ini menggunakan rentang 10 hingga
30 partisipan, yang dianggap cukup untuk mencapai kesaturasian data. Apabila
data yang diambil tentang perawat homecare yang memiliki pengalaman merawat
pasien dengan luka kronis di pedesaan di Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa
Timur sudah lengkap dan tidak ditemukan data baru berdasarkan masalah dan
tujuan penelitian maka jumlah partisipan tidak ditambah lagi
Untuk memperoleh hasil penelitian yang homogen, penentuan partisipan
penelitian akan diambil dengan menggunakan pendekatan purposive pada subyek
akan dilakukan dengan kriteria inklusi sebagai berikut:
1. Perawat yang telah bekerja minimal 3 tahun sebagai perawat homecare.
Pemilihan lama pengalaman kerja ini didasarkan pada teori Benner, yang
menyatakan bahwa tiga tahun pertama pengalaman kerja merupakan periode
adaptasi terhadap tugas dan peningkatan efisiensi dalam pemecahan masalah
(Lee & Chang, 2023)
2. Perawat yang memiliki pengalaman merawat pasien dengan luka kronis
minimal jumlah pasien yang telah ditangani adalah 5 pasien.
3. Perawat yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini.
Pendekatan snowball juga digunakan untuk merekrut partisipan atau
mengumpulkan informasi dengan cara memanfaatkan jaringan sosial atau
referensi dari partisipan yang sudah ada.
3.4 Instrumen
Peneliti tidak menggunakan kuisioner dalam penelitian ini. Peneliti akan
mengumpulkan data sendiri tanpa asisten penelitian. Peneliti akan melakukan
wawancara langsung dengan partisipan sehingga dalam penelitian ini peneliti
sebagai alat ukur penelitian atau instrument penelitian yang utama. Dalam
penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode
wawancara mendalam atau indeep interview oleh peneliti dengan maksud agar
18

partisipan mampu mengungkapkan atau menceritakan secara jelas dan


menyeluruh terkait dengan pengalaman perawat dalam merawat luka kronis
melalui perawatan dirumah di daerah pedesaan yang pernah mereka alami.
Wawancara dilakukan dengan semi terstruktur menggunakan pertanyaan
terbuka dengan menggunakan pedoman wawancara. Pelaksanaan wawancara
dilakukan selama 45-60 menit melalui tatap muka (Susanto et al., 2017).
1. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara semi terstruktur dan mendalam dimana pertanyaan
dikembangkan dari hasil kajian partisipan melalui kuisioner awal dan teori.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Al-Mutairi et al. (2024) . Penanganan
luka kompleks yang efektif memerlukan pendekatan multidisiplin yang
mempertimbangkan aspek fisiologis dan psikologis dari perawatan pasien.
Tam et al. (2024) Perawat menghadapi tantangan dalam merawat pasien
demensia dengan luka kaki kronis, menyoroti perlunya intervensi baru untuk
mengatasi masalah ini. Adapun dalam penelitian ini, peneliti akan
menggunakan pertanyaan pembuka yaitu 1) Bagaimana dan berdasarkan apa
Anda menilai luka kronis selama melalui perawatan dirumah di daerah
pedesaan?; 2) Bagaimana dan berdasarkan apa Anda mengobati luka kronis
melalui perawatan di rumah di daerah pedesaan ini?
Sebagai langkah awal, peneliti akan melakukan wawancara pendahuluan
terhadap sampel yang nantinya tidak akan menjadi partisipan, kemudian hasil
wawancara akan dikonsultasikan dengan pembimbing penelitian. Setelah itu,
jika sudah dirasa mampu melakukan wawancara atas persetujuan
pembimbing, maka peneliti akan mulai melakukan pengumpulan data dari
partisipan
2. Catatan lapangan (field note)
Catatan lapangan digunakan sebagai salah satu teknik pengumpulan data
dalam penelitian ini untuk memperkuat data hasil wawancara mendalam.
Catatan ini merupakan hasil observasi langsung peneliti terhadap proses
perawat dalam memberikan asuhan keperawatan luka kronis di rumah pada
masyarakat wilayah pedesaan.
19

Fokus utama dalam catatan lapangan adalah mendokumentasikan secara rinci


proses perawatan luka yang dilakukan oleh partisipan, termasuk tahapan-
tahapan tindakan keperawatan, teknik yang digunakan, pemanfaatan bahan
atau alat, serta interaksi antara perawat dan pasien selama tindakan
berlangsung. Selain itu, catatan ini juga mencakup respons nonverbal
partisipan, kondisi lingkungan tempat perawatan dilakukan, dan faktor-faktor
eksternal yang memengaruhi jalannya perawatan.
Peneliti juga mencatat suasana sebelum dan sesudah tindakan keperawatan,
ekspresi, sikap partisipan, serta kata-kata kunci yang muncul selama
observasi. Semua catatan ini kemudian dikonsultasikan dan divalidasi
bersama dosen pembimbing untuk memastikan akurasi dan keterkaitan
dengan tujuan penelitian.
3. Alat perekam suara (voice recorder)
Pada saat wawancara, peneliti akan merekam aktivitas wawancara dengan
perekam suara atau voice recorder yang disepakati dengan partisipan. Apabila
partisipan menolak direkam, maka partisipan tersebut tidak bisa menjadi
partisipan lagi. Sebelum memulai wawancara, peneliti memastikan bahwa
alat perekam berfungsi dengan baik, seperti kondisi, kualitas suara yang
didapatkan, fungsi tombol alat perekam dan lain sebagainya. Peneliti akan
mengumpulkan semua informasi yang diberikan partisipan saat melakukan
wawancara sesuai dengan hasil rekaman yang didapatkan selama wawancara
4. Persetujuan penelitian
Persetujuan penelitian sudah dilakukan saat celon partisipan bersedia menjadi
partisipan. Kemudian sebagai informed consent pastisipan diberikan
penjelasan tentang penelitian yang akan dilakukan, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, waktu penelitian, rahasia penelitian, resiko dan keuntungan yang
mungkin didapatkan. Jika partisipan sudah memahami isi informed consent,
maka partisipan diminta kesediannya untuk menandatangani lembar informed
consent sebagai bentuk legal persetujuan menjadi partisipan penelitian.
20

1.1. Metode pengumpulan data


3.5.1 Tahap Persiapan
Setelah selesai seminar proposal dan disetujui pembimbing, serta
mendapatkan surat pengantar penelitian dari prodi Fakultas Keperawatan
Universitas Jember untuk permohonan izin etik dan permohonan izin penelitian,
peneliti akan mengajukan permohonan uji etik ke LP2M Universitas Jember,
sebagai langkah awal sebelum melakukan pengumpulan data.
3.5.2 Tahap Perekrutan Partisipan
Perekrutan partisipan pertama akan dilakukan di Kabupaten Lumajang.
Pada tahap ini peneliti akan melihat calon partisipan di data DPD PPNI
Kabupaten Lumajang. Peneliti akan melakukan pendekatan dan membina
hubungan saling percaya dengan calon partisipan.
3.5.3 Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan peneliti melakukan wawancara dengan 3 fase yaitu :
1. Fase orientasi
Peneliti memperkenalkan diri kepada partisipan dan menjelaskan tentang
tujuan dan manfaat penelitian. peneliti juga menjelaskan tentang proses
wawancara, hak dan kewajiban selama dilakukan wawancara dan
menjelaskan untuk dilakukan perekaman selama wawancara dan meminta
izinnya. Setelah setuju dengan penjelasan dari peneliti, partisipan
menandatangani lembar persetujuan penelitian dan mulai melakukan
wawancara sesuai kesepakatan yang telah dibuat bersama partisipan
2. Fase kerja
Wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara semi-
terstruktur untuk menggali pengalaman dan persepsi perawat terkait
perawatan luka berbasis homecare pada pasien luka kronis. Peneliti
meletakkan perekam suara didekat partisipan agar suara partisipan dapat
terekam dengan jelas. Selama proses wawancara berlangsung, peneliti juga
akan memperhatikan kondisi lingkungan yang nyaman,tenang, dan
melindungi privasi partisipan. Wawancara akan dilakukan antara 60-90
menit, tergantung kondisi partisipan dan lingkungan. Peneliti akan
21

mencatat respon non-verbal partisipan serta kata kunci yang ditemukan


selama wawancara. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung
kondisi lapangan dan aktivitas perawat dalam memberikan layanan asuhan
keperawatan pada luka kronis melalui perawatan di rumah di daerah
pedesaan.
3. Tahap Terminasi
Peneliti menghentikan wawancara ketika semua pertanyaan penelitian
sudah terjawab oleh partisipan. Kemudian peneliti melakukan transkrip
verbatim yakni menerjemahkan data yang didapatkan dari partisipan
selama proses wawancara baik dari rekaman wawancara maupun dari
catatan lapangan (field note), proses transkrip dilakukan sendiri oleh
peneliti dan dilakukan sesegera mungkin setelah wawancara satu
partisipan selesai.
Peneliti melakukan konfirmasi dan verifikasi terhadap hasil wawancara
terhadap partisipan, di sini partisipan bisa diminta untuk membacanya dan
juga ada yang diceritakan secara singkat oleh peneliti sehingga mengenali
yang ditulis adalah pengalaman dan ungkapannya sendiri dari partisipan.
Setelah itu peneliti akan menyampaikan kepada partisipan bahwa proses
wawancara sudah selesai, dan peneliti melanjutkan mmebuat laporan
penelitian. Semua data yang diperoleh dari partisipan akan disimpan dalam
satu file pada satu folder yang hanya diketahui oleh peneliti dan
pembimbing.
1.2. Analisi Data
Data yang didapatkan kemudian akan dilakukan analisis data dengan enam
tahapan, yaitu: mentranskrip data, menghasilkan kode awal, mencari tema,
mennjau Kembali tema, mendefinisikan dan menetapkan tema, dan menuliskan
laporan (Nurtanti et al., 2020; R Endro Sulistyono et al., 2020 ;
(Susanto & Widayati, 2018
; Sulistyono et al., 2019) . Adapun tahapan dalam proses analisis
data ini sebagai berikut :
22

Gambar 1: Proses analisis data

1) Mentranskip data
Pada fase ini peneliti mendengarkan rekaman wawancara dan melakukan
pencatatan/ transkrip data hasil wawancara dalam bentuk tulisan,
kemudian membacanya secara berulang kali dan membuat ringkasan,
mencatat atau memberikan tanda pada kalimat yang memunculkan ide
sebagai kata kunci untuk proses coding selanjutnya memasukkan dalam
aplikasi NVIVO 12.
2) Menghasilkan kode awal
Peneliti mengidentifikasi arti dari beberapa kata kunci yang didapatkan
melalui aplikasi NVIVO 12. Peneliti akan melakukan pengkodingan awal
dari setiap transkip wawancara dan mulai menghasilkan daftar awal kode
dari ide-ide yang menarik yang berhubungan dengan tujuan penelitian.
3) Mencari tema.
Pada fase ini semua data penelitian akan diberi kode dan dikumpulkan
kemudian peneliti mengkaji kualitas tema yang dihasilkan. Setelah itu baru
melakukan analisa keterkaitan tema dengan keseluruhan data dengan
23

mengeksplorasi hubungan tema-tema tersebut secara keseluruhan dengan


pertanyaan penelitian.
4) Meninjau kembali tema
Peneliti akan melakukan analisa pada satu set tema walaupun tema ini
belum tema yang sebenarnya untuk mengecek kualitas dari tema tersebut
dengan mengecek kembali apakah sudah sesuai dengan data yang diberi
kode. Kemudian melakukan analisa keterkaitan tema dengan keseluruhan
set data dan melibatkan pembimbing utama dan pembimbing anggota
untuk menyempurnakan tema. Hal ini dilakukan untuk keabsahan data dan
menemukan kembali jika ada tema baru yang mungkin muncul atau tema
yang dihasilkan telah menggambarkan seluruh cerita partisipan.
5) Mendefinisikan dan menetapkan tema.
Pada fase ini peneliti akan menentukan intisari dari setiap tema yang
ditetapkan untuk dilakukan analisa. Peneliti mendefinisikan atau
memberikan arti atau makna setiap tema yang dihasilkan bersama
pembimbing.
6) Menulis laporan
Peneliti menulis seluruh cerita pengalaman partisipan yang didapat untuk
meyakinkan pembaca dan validitas. Tahap ini dilakukan jika tema yang
ditemukan sudah disepakati dengan pembimbing sebagai bahan laporan
penelitian dengan membahas masing-masing tema yang dihasilkan.
Peneliti menuliskan analisa tema-tema dan membandingkan dengan teori
atau penelitian sebelumnya.
3.8 Keabsahan Data (Trustworthiness)
Keabsahan data dalam penelitian kualitatif ini sangatlah penting untuk
menilai kualitas data atau hasil penelitian, menggambarkan kepercayaan,
keautentikan, dan kebenaran data. Adapun keabsahan data dalam penelitian ini
meliputi :
1. Kredibilitas
Peneliti akan mencatat secara detail setiap informasi yang disampaikan
oleh perawat terkait pengalaman mereka dalam merawat luka kronis,
24

termasuk jenis perawatan yang diberikan, tantangan yang dihadapi, dan


hasil yang dicapai. Setelah wawancara, peneliti akan mengulang dan
mengklarifikasi poin-poin penting tersebut dengan perawat untuk
memastikan pemahaman yang tepat dan menghindari kesalahan
interpretasi
Selama wawancara, peneliti akan mengamati ekspresi wajah, bahasa
tubuh, dan nada suara perawat untuk memahami emosi dan makna yang
mendalam di balik cerita mereka tentang perawatan luka kaki diabetes.
Observasi ini juga mencakup perhatian pada petunjuk non-verbal yang
mungkin mengindikasikan kesulitan atau keberhasilan dalam praktik
perawatan
Setelah transkripsi wawancara selesai, peneliti akan membaca dan
menganalisis data secara berulang untuk mengidentifikasi pola dan tema
yang muncul terkait perawatan luka kaki diabetes. Proses ini melibatkan
pembandingan dan pengelompokan data untuk memastikan konsistensi
dan akurasi interpretasi
Peneliti akan mendiskusikan temuan awal dan tema yang muncul dengan
pembimbing tesis dan/atau ahli penelitian kualitatif. Diskusi ini bertujuan
untuk mendapatkan masukan dan validasi terhadap interpretasi data, serta
memastikan bahwa analisis dilakukan secara rigorus dan sesuai dengan
prinsip-prinsip penelitian kualitatif.
2. Transferabilitas
Transferability atau keteralihan adalah suatu bentuk validitas eksternal
yang menunjukkan derajat ketepatan sehingga hasil penelitian dapat
diterapkan kepada orang lain pada situasi yang sama
(Helen J. Streubert, 2003)
. Transferabilitas dalam penelitian ini berarti sejauh mana temuan
tentang pengalaman perawat dalam merawat luka kronis melalui
perawatan di rumah di daerah pedesaan dapat diterapkan atau relevan
dengan situasi perawatan serupa di komunitas pedesaan lainnya atau
konteks yang relevan. Peneliti akan secara sengaja memilih partisipan
(perawat) dengan karakteristik yang beragam, mencakup:
25

a. Usia
Perawat dari berbagai kelompok usia untuk melihat perbedaan
pengalaman.

b. Lama pengalaman bekerja


Pengalaman perawat yang berbeda akan memberikan banyak
informasi.
c. Pendidikan dan pelatihan yang diikuti
Latar belakang pendidikan yang berbeda dapat mempengaruhi
pendekatan perawatan.
Dengan memaksimalkan variasi ini, peneliti bertujuan untuk
mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang pengalaman
perawat. Peneliti akan menyajikan deskripsi yang sangat rinci dan
mendalam tentang:
a. Karakteristik komunitas pedesaan (misalnya, akses ke fasilitas
kesehatan, kondisi geografis, budaya lokal).
b. Karakteristik partisipan (misalnya, latar belakang pendidikan,
pengalaman kerja, peran dalam komunitas).
c. Detail konteks perawatan (misalnya, jenis luka, metode perawatan
yang digunakan, tantangan yang dihadapi perawat).
d. Pengalaman perawat dalam merawat luka kronis akan terdeskripsikan
melalui penyajian studi kasus dari tiap partisipan, sehingga
memberikan gambaran yang mendalam mengenai bagaimana cara
tiap perawat menangani pasien
Transkrip verbatim dan laporan penelitian yang detail dilakukan oleh
Peneliti dengan membuat transkrip verbatim dari semua wawancara dan
menyajikan data dan temuan penelitian dalam laporan yang detail dan
jelas, termasuk kutipan langsung dari partisipan untuk memungkinkan
pembaca untuk mengikuti alur pemikiran peneliti dan menilai validitas
interpretasi.
26

Pada tahap akhir peneliti akan menghubungkan dengan penelitian


sebelumnya. Peneliti akan mengidentifikasi dan menganalisis penelitian
lain yang relevan tentang perawatan luka kaki diabetes atau perawatan
kesehatan di komunitas pedesaan. Membandingkan temuan penelitian ini
dengan temuan penelitian sebelumnya, mengidentifikasi persamaan dan
perbedaan.
3. Dependabilitas Data
Dependabilitas data disini adalah bagaimana hasil data secara konsisten
digunakan kembali untuk penelitian yang sama, instrumen yang sama dan
data yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah data obyektif dan netral,
akan menarik kesimpulan yang sama. Untuk hal ini maka peneliti aka
melakukan konsultasu secara berulang dengan pembimbing dalam semua
proses penelitian, sejak pengumpulan data, verbatim, analisis tematik, dan
penulisan laporan untuk mengurangi subyektifitas dan asumsi dari peneliti.
4. Konfirmabilitas
Konfirmabilitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan refleksi hasil
penelitian dengan jurnal terkait, melakukan konsultasi dengan
pembimbing tesis untuk kesesuaian data, dan melakukan konfirmasi
dengan partisipan untuk kesesuaian informasi. Informasi yang didapat dan
dituliskan sesuai dengan informasi yang dinyatakan partisipan. Selain itu
konfirmabilitas peneliti dapat dicapai apabila informasi yang dicatat sesuai
dengan yang telah dinyatakan informan. Peneliti akan selalu melibatkan
pembimbing dalam semua proses penelitian untuk meminimalkan
terjadinya bias data
27

3.9 Etika Penelitian


Etika penelitian merupakan bagian krusial dari proses ilmiah yang
bertujuan untuk memastikan bahwa penelitian dijalankan secara etis dan penuh
tanggung jawab. Dengan tantangan yang terus berevolusi di berbagai disiplin
ilmu, peneliti dan institusi memiliki tanggung jawab untuk senantiasa
memperbarui dan memperteguh komitmen mereka pada prinsip-prinsip etika
penelitian.
Pengumpulan data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan wawancara
semi terstruktu dan mendalam pada semua partisipan. Pengalaman perawat yang
dieksplorasi secara mendalam pada penelitian ini mungkin dapat memberikan
ketidaknyamanan psikologis selama wawancara karena terungkapnya data pribadi
partisipan. Selama proses wawancara juga memungkinkan partisipan untuk
mengalami beban pikiran bertambah, tekanan psikologis, kelelahan fisik maupun
psikis, dan hal lain yang tidak diinginkan. Masalah etik seperti ini sebisa mungkin
dihindari dan diantisipasi oleh peneliti sebelum penelitian itu dimulai dengan
memberikan penjelasan yang mudah dipahami.
Untuk meminimalkan terjadinya isu etik seperti diatas, izin etik akan
peneliti ajukan sebelum penelitian sebagai legalitas penelitian dan informed
concent diberikan kepada partisipan untuk menjaga privasi dan kenyamanan
partisipan, serta kelancaran proses penelitian. Peneliti berharap penelitian ini tidak
memberikan dampak yang tidak diharapkan bagi partisipan maupun peneliti.
1. Prinsip Autonomi
Peneliti menerapkan prinsip autonomi melalui persetujuan yang
diinformasikan kepada partisipan. Setiap partisipan berhak menyetujui atau
menolak untuk menjadi partisipan dalam penelitian ini secara sukarela.
Sebagai bukti persetujuan maka peneliti akan menyiapkan lembar persetujuan
untuk menjadi partisipan penelitian yang nantinya akan ditandatangani oleh
partisipan.
Peneliti juga memberikan kebebasan kepada partisipan untuk memilih tempat
dan waktu wawancara, selama kenyamanan dan privasi selama wawancara
28

terpenuhi. Setelah sepakat waktu dan tempat, baru dilakukan proses


pengumpulan data.
2. Prinsip Beneficence
Peneliti menerapkan prinsip beneficience dengan memenuhi seluruh hak-hak
partisipan. Peneliti memperhatikan manfaat penelitian, meminimalkan risiko
bagi partisipan, menghindari bahaya, menghindari eksploitasi berlebihan, dan
menghindari ketidaknyamanan partisipan. Pada penelitian ini tidak ada
tindakan intervensi terhadap partisipan baik invasif maupun non invasif, untuk
menghindari potensi bahaya secara fisik. Peneliti juga meminimalisir resiko
gangguan psikologis partisipan selama wawancara dengan menetapkan waktu
wawancara sesuai kesepakatan, tidak memaksakan kehendak, dan
memperhatikan kesiapan partisipan secara keseluruhan. Peneliti juga
menerapkan bina hubungan saling percaya dan manajemen stress serta
menciptakan suasana senyaman mungkin bagi partisipan sebelum, selama dan
setelah proses pengambilan data. Partisipan berhak untuk tidak menjawab
pertanyaan yang dirasa sensitif dan tidak ada hubungannya dengan tujuan
penelitian serta mengganggu privasi pasien. Selain itu peneliti tidak berhak
mengarahkan jawaban atau menginterupsi partisipan sesuai keinginan peneliti.
3. Prinsip Confidentiality
Peneliti tidak mencantumkan nama partisipan sebagai bentuk menjaga
kerahasiaan data, peneliti hanya mencantumkan inisial code pada lembar
informed consent, biodata, maupun hasil wawancara. Peneliti menyampaikan
kepada partisipan bahwa kerahasiaan data partisipan akan dijamin oleh
peneliti dan peneliti tidak akan menyebarluaskan informasi apapun kepada
pihak lain mengenai partisipan. Kemudian peneliti memastikan bahwa data
yang peneliti dapatkan dari partisipan hanya dapat diakses oleh peneliti saja.
4. Prinsip Justice
Peneliti akan berlaku adil atau tidak membeda-bedakan partisipan selama
kegiatan penelitian berlangsung, seperti tidak membedakan latar belakang
partisipan baik ras, agama, pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya. Peneliti
29

memastikan bahwa setiap partisipan mendapat perlakuan yang sama sesua


dengan etika penelitian.
30

a. Alur Penelitian
Perencanaan Studi Penelitian Mengembangkan Strategi
Pengumpulan Data
a. Mengidentifikasi masalah
Gambar
penelitian (Buat Rumusan f. Memutuskan jenis data apa yang
Masalah) akan dikumpulkan dan
b. Melakukan Tinjauan Literatur bagaimana mengumpulkannya
(Cari dan Tambahkan Tinjauan (data sekunder atau primer dan
Pustaka/teori) cara pengumpulan data)
c. Mengembangkan Pendekatan g. Memutuskan dari siapa (berasal
Keseluruhan (Pilih Pendekatan dari siapa? siapa
apa yang cocok digunakan, lalu narasumbernya?)
dikembangkan sesuai masalah h. Menetapkan bagaimana
teori yang ada) meningkatkan kepercayaan
d. Memilih dan mendapatkan izin (bagaimana caranya menentukan
masuk ke situs penelitian (cari, keabsahan / kebenaran data)
pilih dan dapatkan izin masuk
untuk akses jurnal)
e. Mengembangkan metode untuk
melindungi peserta (Pikirkan cara
bagaimana menjaga kerahasiaan
dan keamanan partisipan yang
akan digunakan dalam penelitian)

Menyebarluaskan Temuan Pengumpulan dan Analisis Data


i. Mengumpulkan data
a. Mengkomunikasikan temuan dari j. Mengatur dan menganalisis data
sebuah penelitian (hasil k. Mengevaluasi data: membuat
penelitian) modifikasi pada strategi
b. Memanfaatkan atau membuat pengumpulan data, jika perlu
rekomendasi untuk membantu l. Mengevaluasi data: menentukan
pemanfaatan temuan dalam apakah ketidaklengkapan /
praktik dan penelitian masa ketidakvalidan data
depan membutuhkan verifikasi
31

Gambar 2 : Alur Penelitian Kualitatif (sumber : (Denise Polit & Cheryl Beck, 2020)
32

Lampiran 1
PEDOMAN WAWANCRA
JUDUL PENELITIAN :
PENGALAMAN PERAWAT MERAWAT LUKA KRONIS MELALUI
PERAWATAN DIRUMAH DI DAERAH PEDESAAN

Pernyataan terbuka dari peneliti untuk memulai dilakukannya wawancara dengan


partisipan : saya sangat tertarik dengan pengalaman bapak/ ibu setelah dalam
menjalankan praktek perawatan di daerah pedesaan, dalam hal ini terkait
pengalaman perawatan luka kronis melalui perawatan dirumah. Saya ingin
berdiskusi dengan bapak/ibu dengan harapan pengalaman bapak/ibu menjadi
tambahan pengetahuan yang berharga di kemudian hari untuk para Perawat yang
menjalankan praktek mandiri keperawatan di daerah pedesaan.
Pertanyaan yang digunakan untuk memandu wawancara dengan partisipan,
diantaranya :
1. Bisa Bapak/Ibu ceritakan secara umum bagaimana pengalaman Bapak/Ibu
dalam merawat luka kronis di rumah pasien, khususnya di wilayah
pedesaan?
2. Dapatkah Anda menjelaskan jenis luka kaki diabetes yang sering Anda
temui dalam perawatan di rumah di daerah pedesaan?
3. Apa saja hambatan yang Anda hadapi saat merawat luka kronis di rumah
pasien di daerah pedesaan?
4. Strategi apa yang Anda gunakan untuk mengatasi tantangan dalam
merawat luka kronis di rumah?
5. Kompetensi apa yang Anda anggap penting dalam merawat luka kronis di
rumah?
6. Bagaimana Anda menilai efektivitas layanan perawatan di rumah untuk
luka kronis di daerah pedesaan?
Pada akhir diskusi/ wawancara, peneliti menyampaikan ucapan terimakasih
atas keikutsertaan partisipan dalam penelitian ini.
33

Lampiran 2
LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN SOP PERAWATAN LUKA
KRONIS

Nama Pasien : …………………. No. RM : ………………….


Tanggal : ………………….
Nama Observer : ………………….
Partisipan : ………………….
Diagnosis : ………………….
Keterangan:
 Ya (Y): Dilakukan sesuai SOP
 Tidak (T): Tidak dilakukan sesuai SOP
 Tidak Dilakukan (TD): Tidak dilakukan karena tidak diperlukan dalam
kasus ini
 Berikan catatan (di kolom paling kanan) jika ada hal-hal yang perlu
diperhatikan atau ada penyimpangan dari SOP
No. Aspek yang Diobservasi Y T TD Catatan Lapangan
A. Persiapan
1. Identifikasi pasien dan penjelasan
prosedur

2. Cuci tangan 6 langkah sebelum


tindakan

3. Persiapan alat dan bahan yang steril


dan non-steril

4. Penggunaan APD (sarung tangan,


masker, apron, kacamata pelindung)

5. Pengaturan posisi pasien

B. Pelaksanaan
6. Pembukaan balutan lama dengan
teknik yang benar

7. Pengkajian luka
8. Pembersihan luka dengan cairan
pencuci luka yang sesuai

9. Debridement (jika diperlukan)

10. Pengeringan area sekitar luka


34

11. Pemberian terapi topikal (sesuai


kondisi luka)
12. Pemilihan balutan primer sesuai
dengan kondisi luka
13. Aplikasi balutan primer dan sekunder
dengan teknik yang benar
14. Merapikan alat dan pasien

15. Cuci tangan 6 langkah setelah


tindakan
C. Pendokumentasian

16. Pencatatan tindakan, kondisi luka,


balutan, dan respon pasien
17. Rencana perawatan selanjutnya

Kesimpulan:
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
Observer,

(...........................................)
35

PENJELASAN PENELITIAN

Nama Peneliti : Harsah Bahtiar Zainudin


NPM : 242320102001

Peneliti memohon kepada bapak/ibu untuk ikut berpartisipasi dalam penelitian.


Peneliti dalam penelitian ini merupakan mahasiswa Program Studi Magister
Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Jember bermaksud
mengadakan penelitian dengan judul “Pengalaman Perawat Merawat Luka Kronis
Melalui Perawatan Dirumah Di Daerah Pedesaan”. Dengan ini saya sampaikan
beberapa penjelasan terkait dengan pelaksanaan penelitian :
1. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi tentang pengalaman perawat
merawat luka kronis melalui perawatan dirumah di daerah pedesaan.
2. Manfaat penelitian ini secara umum adalah memberikan gambaran
mengenai pengalaman perawat merawat luka kronis melalui perawatan
dirumah di daerah pedesaan.
3. Selanjutnya Bapak/Ibu sebagai partisipan akan diwawancara selama
kurang lebih 60-90 menit sesuai kesepakatan yang telah dibuat bersama.
4. Selama wawancara, Bapak/Ibu diharapkan dapat menyampaikan informasi
secara terbuka, bebas, lengkap dan tanpa adanya paksaan dari orang lain.
5. Penelitian ini tidak akan menyebabkan adanya cedera fisik dan kerugian
materi, karena tidak dilakukan tindakan secara fisik pada Bapak/Ibu.
6. Selama proses wawancara, Bapak/ibu dapat berhenti sejenak bila merasa
tidak nyaman secara fisik maupun psikologis. Peneliti akan menawarkan
bantuan untuk mengatasi ketidaknyamanan tersebut.
7. Bapak/Ibu berhak untuk melanjutkan wawancara atau berhenti tanpa
adanya suatu paksaan dan sanksi apapun.
8. Selama wawancara, peneliti meminta ijin Bapak/Ibu untuk merekam
proses wawancara. Peneliti menggunakan alat bantu berupa perekam suara
yang akan dihidupkan ketika wawancara berlangsung.
36

9. Semua data Bapak/Ibu, termasuk rekaman dan catatan yang berhubungan


dengan Bapak/Ibu sebagai partisipan akan terjaga kerahasiannya dan
hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Peneliti akan
menggunakan kode atau inisial tanpa mencantumkan nama Bapak/Ibu.
10. Jika ada informasi yang kurang jelas, Bapak/Ibu dapat mengajukan
pertanyaan pada saya, Harsah Bahtiar Zainudin sebagai peneliti utama
dalam penelitian ini dengan nomor kontak berikut ; Harsah Bahtiar
Zainudin (085608720333).
Demikian deskripsi penelitian ini dibuat dengan tujuan dapat memberikan
informasi yang jelas kepada partisipan. Saya sampaikan terimakasih atas
kesediaan bapak/ibu menjadi partisipan dalam penelitian saya dan
kerjasamanya selama proses penelitian berlangsung.
Peneliti

Harsah Bahtiar Zainudin


37

Lampiran 3
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI PARTISIPAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama :
Umur :
Pendidikan :
Alamat :
No. Telp/HP :
Lama bekerja :
Pelatihan yang diikuti :
Kode Partisipan :

Setelah membaca informasi dan mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang


tujuan, manfaat dan prosedur wawancara dalam penelitian ini, saya telah
memahami penjelasan tersebut dan saya mengetahui bahwa saya mempunyai hak
untuk berhenti berpartisipasi jika suatu saat saya merasa keberatan atau ada hal
yang membuat saya tidak nyaman dan tidak dapat meneruskannya. Maka dengan
ini saya memutuskan secara sukarela tanpa adanya suatu paksaan dari pihak mana
pun, bersedia menjadi partisipan dalam penelitian ini. Demikian pernyataan ini
saya buat, untuk dapat digunakan dengan sebagaimana mestinya.
……………….., 2025
Partisipan Penelitian

(……....…………….)
Lampiran
Tabel 1.1 Kata kunci pencarian literatur
Databased Keyword
Google Scholar Wound Care AND Chronic Wounds AND Home Care
AND Rural Areas
PubMed Wound Care AND Chronic Wounds AND Home Care
AND Rural Areas
Science Direct Wound Care AND Chronic Wounds AND Home Care
AND Rural Areas

Tabel 1.2 Keaslian Penelitian


No. Judul dan penulis Metode (desain, sampel, variabel, instrument, Hasil Penelitian
analisis)
1. Perspectives on improving D: Penelitian kualitatif dengan pendekatan AHW memiliki pengalaman yang bervariasi
wound care for Aboriginal yarning circle (lingkaran diskusi) dalam perawatan luka, sebagian besar bekerja di
health workers in rural and S: 18 partisipan yang terdiri dari Aboriginal bawah bimbingan dokter atau perawat. Mereka
remote communities in Health Workers (AHW), Aboriginal Health sering merawat luka kronis, terutama ulkus
Queensland (King et al., 2024) Practitioners (AHP), dan perawat yang bekerja di diabetik,
empat Aboriginal Medical Services (AMS) di Hambatan dalam Memberikan Perawatan Luka:
daerah rural dan remote Queensland, Australia a. Kurangnya dokumentasi dan komunikasi
V : Pengalaman AHW dalam merawat luka. antar penyedia layanan kesehatan.
Pengetahuan dan keterampilan AHW dalam b. Kurangnya pelatihan formal dan
perawatan luka. Hambatan dan pendukung dalam pengembangan profesional bagi AHW dalam
memberikan perawatan luka perawatan luka.
I: Yarning circle (lingkaran diskusi) yang c. Model pelayanan yang belum terintegrasi dan
difasilitasi oleh dua peneliti Aborigin. efektif.
A: Analisis konten konvensional untuk d. Tingginya biaya produk perawatan luka.
mengidentifikasi tema-tema dari transkrip Pendukung dalam Memberikan Perawatan Luka:

38
39

diskusi. a. Bimbingan dan dukungan dari perawat yang


lebih berpengalaman.
b. Strategi belajar mandiri dan berbagi
pengetahuan antar sesama AHW.
2 Challenges faced in D: Studi percontohan Hasil penelitian menunjukkan bahwa
implementation of a telehealth S: 41 pasien dengan luka kronis di Midwest, implementasi sistem perawatan luka kronis
enabled chronic wound care Australia Barat berbasis telehealth di Midwest, Australia Barat
system (Barrett et al., 2009) V : Jumlah pasien yang terdaftar di setiap Lokasi; menghadapi beberapa tantangan. Meskipun
Jumlah penyedia layanan kesehatan yang dilatih perangkat lunak telah diinstal di 12 lokasi, hanya
dalam penggunaan perangkat lunak di setiap 2 lokasi yang berhasil mengintegrasikannya ke
Lokasi; Penggunaan sistem pencitraan dan dalam praktik rutin. Faktor utama yang
pelaporan luka elektronik bersama (AMWIS); menghambat implementasi adalah tingginya
Layanan konsultasi luka jarak jauh pergantian staf, penundaan instalasi perangkat
I: Wawancara dengan fasilitas layanan kesehatan, lunak, dan kurangnya waktu yang dialokasikan
catatan pertemuan harian, dan data penggunaan untuk pelatihan dan penggunaan sistem. Lokasi
AMWIS yang berhasil menerapkan sistem memiliki
A: Peneliti mengidentifikasi faktor-faktor yang karakteristik seperti stabilitas tenaga kerja, fokus
berkontribusi pada keberhasilan atau kegagalan pada perawatan luka, dan dukungan TI yang
implementasi sistem perawatan luka kronis memadai. Penelitian ini menyoroti pentingnya
berbasis telehealth sumber daya manusia yang stabil, dukungan
manajemen, dan integrasi sistem yang efisien
untuk keberhasilan implementasi telehealth
dalam perawatan luka kronis
3. Evidence for person-centred D: Tinjauan sistematis Tinjauan sistematis ini mengidentifikasi 18
care in chronic wound care: A S: 3149 pasien dengan luka kronis dari sembilan artikel penelitian yang melibatkan 3149 pasien
systematic review and negara dengan luka kronis dari sembilan negara. Studi-
recommendations for V: Pengetahuan pasien, perilaku perawatan diri, studi tersebut mencakup intervensi pendidikan
practice nyeri, penyembuhan luka profesional perawatan kesehatan, edukasi pasien,
(Georgina Gethin, 2020)
I: Peneliti mencari enam database untuk makalah dan telemedicine, baik untuk pencegahan maupun
teks lengkap dari 2009–2019 diterbitkan di jurnal pengobatan luka kronis. Hasilnya menunjukkan
peer-review tanpa batasan bahasa. bahwa perawatan yang berpusat pada pasien
40

A: Data dikumpulkan dari berbagai studi memberikan dampak positif pada peningkatan
penelitian yang termasuk dalam tinjauan pengetahuan pasien, mengurangi rasa sakit, dan
sistematis meningkatkan perilaku perawatan diri. Namun,
hanya sedikit studi yang mengevaluasi
dampaknya terhadap penyembuhan luka dan
biaya penerapannya. Secara keseluruhan,
perawatan yang berpusat pada orang dalam
manajemen luka kronis menunjukkan potensi
dalam meningkatkan hasil seperti kepuasan
pasien dan kualitas hidup, tetapi diperlukan
penelitian lebih lanjut dengan fokus pada
pengukuran obyektif penyembuhan luka untuk
memperkuat bukti efektivitasnya.
4. Home visits in primary care: D: Studi cross-sectional Studi cross-sectional ini bertujuan untuk meneliti
contents and organisation in S: Lebih dari 4000 kunjungan rumah dari sekitar konten dan organisasi kunjungan rumah dalam
daily practice. Study protocol of 300 dokter praktik keluarga di Saxony, Jerman perawatan primer di Jerman. Data akan
a cross-sectional study V: Karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, dikumpulkan dari lebih 4000 kunjungan rumah
(Voigt et al., 2016)
kondisi penyakit, dll.); Karakteristik dokter (usia, yang dilakukan oleh sekitar 300 dokter praktik
jenis kelamin, pengalaman, dll.); Karakteristik keluarga di Saxony. Analisis data akan
kunjungan rumah (alasan kunjungan, tindakan mengungkapkan alasan umum kunjungan rumah,
yang dilakukan, durasi, dll.) tindakan medis yang dilakukan, dan layanan yang
I: Lembar dokumentasi semi-terstruktur, diberikan selama kunjungan. Penelitian ini juga
kuesioner untuk dokter dan asisten medis, data akan menganalisis variasi kunjungan rumah
statistik public berdasarkan karakteristik pasien, dokter, dan
A: Analisis deskriptif dilakukan dengan wilayah. Hasil studi ini diharapkan dapat
menggunakan memberikan informasi tentang beban kerja
metode non-parametrik, misalnya χ2 kunjungan rumah, delegasi tugas antar staf
-tes, praktik, dan cara memastikan perawatan medis
Uji Kruskal-Wallis, uji Mann-Whitney-U untuk yang memadai untuk pasien yang terikat di
mendeskripsikan data rumah, terutama dalam menghadapi populasi
mengenai isi kunjungan rumah dan alasan umum yang menua. Temuan ini diharapkan dapat
41

dan hasil pertemuan tergantung pada beberapa menjadi dasar untuk pengambilan keputusan
faktor yang mempengaruhi (yaitu wilayah, situasi terkait organisasi perawatan rawat jalan bagi
perumahan, tingkat perawatan). pasien yang membutuhkan perawatan di rumah.
Persyaratan waktu kunjungan rumah akan
dianalisis pada
model regresi multivariat yang mengintegrasikan
banyak
faktor yang mempengaruhi. Regresi logistik akan
dilakukan untuk mengetahui prediktor delegasi
(non-).
Mengenai struktur cluster data yang diharapkan
pada berbagai tingkat analisis (jenis kunjungan
rumah, situasi perumahan, wilayah), analisis
subkelompok dan analisis bertingkat
akan diperlukan

5. D: Survei prevalensi retrospektif Enterobacteriaceae adalah patogen yang paling


S: 100 kultur urin, 102 kultur luka, dan 102 kultur umum diisolasi dari kultur urin dan darah.
darah yang diperoleh dari pasien yang dirawat di Resistensi yang signifikan terhadap kuinolon,
fasilitas perawatan tersier di Karnataka, India. aminoglikosida, karbapenem, dan sefalosporin
V: Resistensi antimikroba pada patogen yang dicatat di antara patogen yang diisolasi dari
diisolasi dari kultur urin, darah, dan luka. semua kultur. Secara khusus, tingkat resistensi
I: Identifikasi bakteri dan pengujian kerentanan yang tinggi (>45%) terhadap kuinolon, penisilin,
antimikroba (AST) dilakukan pada semua isolat dan sefalosporin terbukti di antara ketiga jenis
menggunakan sistem otomatis penuh VITEK 2 kultur. Di antara patogen darah dan urin, terdapat
(BioMérieux, Marcy-l'Étoile, Prancis) yang tingkat resistensi yang tinggi (>25%) terhadap
menggunakan kartu AST berdasarkan platform aminoglikosida dan karbapenem. Upaya untuk
konsentrasi penghambatan minimum mikrodilusi membendung tingkat AMR di India perlu fokus
kaldu sesuai dengan tolok ukur yang ditetapkan pada populasi pedesaan. Upaya tersebut perlu
oleh Clinical and Laboratory Standards Institute mengkarakterisasi praktik pemberian resep
(CLSI) di Amerika Serikat. antimikroba yang berlebihan, perilaku pencarian
42

A: Semua kasus dipastikan dengan tinjauan perawatan kesehatan, dan penggunaan


grafik. antimikroba di bidang pertanian di daerah
pedesaan
6 Protecting the Rights of D: Studi kualitatif Artikel ini menyoroti pentingnya perlindungan
Leprosy Affected People in S: Tidak disebutkan secara spesifik dalam artikel. hak-hak LAPs di komunitas pedesaan Jember.
Rural Community of Jember, Namun, artikel membahas tentang orang yang Beberapa masalah yang dihadapi oleh LAPs
Indonesia (Susanto, 2020) terkena kusta (LAPs) di komunitas pedesaan meliputi lesi kulit, disabilitas, stigma sosial,
Jember. manajemen medis yang terputus, dan layanan
V: Masalah yang dihadapi LAPs: lesi kulit, kesehatan yang tidak terjangkau. Upaya untuk
disabilitas, stigma sosial, manajemen medis yang meningkatkan kualitas hidup LAPs meliputi
terputus, dan layanan kesehatan yang tidak peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat,
terjangkau; Faktor yang memengaruhi masalah perawatan luka dan disabilitas, dukungan sosial,
LAPs: karakteristik LAPs, ketersediaan sumber pendidikan kesehatan dalam mengurangi stigma
daya perawatan kesehatan, dan diskriminasi; masyarakat, dan pengobatan berkelanjutan.
Upaya untuk meningkatkan kualitas hidup LAPs: Artikel ini menekankan perlunya program
peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, promosi dan perlindungan untuk melindungi hak-
perawatan luka dan disabilitas, dukungan sosial, hak LAPs dan meningkatkan partisipasi keluarga
pendidikan kesehatan dalam mengurangi stigma dan masyarakat dalam tindakan pencegahan dan
masyarakat, dan pengobatan berkelanjutan. perawatan.
I: Studi dokumen.
A: Analisis data kualitatif dilakukan dengan
pendekatan tematik atau grounded theory
7 Community-based intervention D: Studi retrospektif kohort Intervensi berbasis komunitas dari program
of chronic disease management S: 577 peserta dari Posbindu-PTM di 7 manajemen penyakit kronis (PMPK) melalui
program in rural areas of puskesmas di daerah pedesaan Indonesia pada Posbindu-PTM yang dilakukan oleh petugas
Indonesia tahun 2019 kesehatan masyarakat (PKM) efektif dalam
(Susanto et al., 2022b)
V: Karakteristik peserta (usia, jenis kelamin, mengendalikan PTM di daerah pedesaan
etnis); Riwayat penyakit saat ini (diabetes Indonesia. Indeks massa tubuh (IMT), lingkar
melitus, hipertensi, hiperkolesterolemia); Gaya perut, tekanan darah, kadar gula darah, dan
hidup (merokok, konsumsi sayuran, olahraga kolesterol total terkontrol di antara peserta yang
fisik teratur, konsumsi alkohol); Pengukuran secara teratur mengunjungi Posbindu-PTM.
43

indikator kesehatan spesifik peserta (tinggi badan, Selain itu, tingkat kelangsungan hidup di antara
berat badan, lingkar perut, tekanan darah, kadar peserta yang kelebihan berat badan, memiliki
gula darah, kolesterol total); Kunjungan rutin ke kelebihan berat badan perut, dan memiliki
Posbindu-PTM (kunjungan rutin selama 12 hipertensi, diabetes melitus, dan
bulan) hiperkolesterolemia juga meningkat di antara
I: Wawancara peserta yang secara teratur mengunjungi
Pengukuran (tinggi badan, berat badan, lingkar Posbindu-PTM dibandingkan dengan mereka
perut, tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol yang tidak berkunjung secara teratur. Program ini
total); Rekam medis (sebagai bentuk laporan dapat dikembangkan lebih lanjut dalam
kegiatan bulanan setiap bulan pertama, bulan ke- melakukan PMPK di masyarakat dengan
6, dan bulan ke-12) keterlibatan aktif PKM sehingga masyarakat
A: Uji Chi-square (untuk mengukur perbedaan menjadi aktif berpartisipasi dalam kegiatan
karakteristik peserta, gaya hidup, riwayat Posbindu-PTM secara teratur.
penyakit saat ini, dan perbedaan antara indikator
kesehatan spesifik peserta); Uji Kaplan-Meier
(untuk memprediksi tingkat kelangsungan hidup
pasien yang secara teratur mengunjungi
Posbindu-PTM)

8 Prospects for the application of D: literature review Home care efektif dalam meningkatkan kualitas
home care in chronic S: Sampel yang dibahas dalam artikel ini adalah hidup pasien dengan luka kronis.
wound management pasien dengan luka kronis, khususnya di negara- Home care dapat mengurangi persepsi nyeri dan
(Sun et al., 2023) negara yang telah menerapkan layanan home stres pasien.
care seperti Inggris, Norwegia, dan negara- Home care dapat meningkatkan self-efficacy dan
negara Uni Eropa pengetahuan pasien dalam manajemen luka.
V: Variabel Independen: Layanan home care Home care dapat menghemat sumber daya medis
dalam manajemen luka kronis. Variabel dan mempercepat perputaran tempat tidur di
Dependen (Efektivitas layanan home care, rumah sakit.
Kualitas hidup pasien, Tingkat kepuasan pasien, Home care lebih hemat biaya dibandingkan
Efisiensi penggunaan sumber daya medis, Lama perawatan di rumah sakit.
rawat inap, Ukuran luka, Tingkat komplikasi, Home care memiliki potensi untuk meningkatkan
44

Jumlah penggantian balutan, Biaya pengobatan) aksesibilitas pelayanan kesehatan, terutama di


I: Parameter yang diukur dalam penelitian- daerah pedesaan
penelitian yang dirujuk dalam artikel ini meliputi:
Persepsi nyeri dan stres pasien, Tingkat self-
efficacy pasien dalam manajemen luka,
Pengetahuan pasien tentang manajemen luka,
Keterampilan perawat dalam perawatan luka,
Aksesibilitas dan ketersediaan layanan home
care, Biaya perawatan home care
A: Review article ini melakukan analisis
deskriptif dan komparatif terhadap data dan
informasi yang dikumpulkan dari berbagai
sumber
9 Prevalence of chronic wounds D: Meta-analisis studi observasional Meta-analisis memperkirakan total prevalensi
in the general population: S: Tujuh belas studi yang melaporkan prevalensi luka kronis sebesar 1,67 per 1000 penduduk.
Systematic review and meta- luka kronis pada orang dewasa Analisis subkelompok berdasarkan jenis luka
analysis of observational V: Variabel hasil utama: prevalensi luka kronis; menunjukkan prevalensi gabungan sebesar 2,21
studies (Martinengo, 2018) variabel prediktor: usia rata-rata pasien dan tahun per 1000 penduduk untuk penelitian yang
penelitian melaporkan ulkus dengan lebih dari satu etiologi.
I: Prevalensi gabungan luka kronis; prevalensi Meta-analisis dari penelitian yang melaporkan
luka kronis berdasarkan jenis luka (luka dengan prevalensi ulkus kaki menghitung prevalensi
beberapa etiologi dan ulkus kaki) sebesar 1,51 per 1000 penduduk.
A: Meta-analisis efek acak, analisis
subkelompok, meta-regresi univariat dan
multivariat
10 Chronic wound prevalence and D: Analisis retrospektif Penelitian ini menemukan bahwa prevalensi luka
the associated cost of treatment S: Penerima manfaat Medicare yang mengalami kronis meningkat dari 14,5% pada tahun 2014
in Medicare beneficiaries: episode perawatan untuk berbagai jenis luka menjadi 16,4% pada tahun 2019. Peningkatan
changes between 2014 and kronis dan infeksi terbesar diamati pada penerima manfaat Medicare
2019 (Carter et al., 2023) V: Jenis luka, pengeluaran Medicare, jenis berusia <65 tahun. Perubahan terbesar dalam hal
layanan, prevalensi prevalensi adalah peningkatan ulkus arteri (0,4%
45

I: Perubahan pengeluaran terkait luka kronis menjadi 0,8%), gangguan kulit (2,6% menjadi
antara tahun 2014 dan 2019 secara total, menurut 5,3%), dan penurunan luka traumatis (2,7%
jenis luka, dan jenis layanan; perubahan menjadi 1,6%).
prevalensi berbagai jenis luka antara tahun yang Pengeluaran untuk perawatan luka menurun
sama secara keseluruhan dan berdasarkan secara substansial antara tahun 2014 dan 2019,
kelompok demografis tertentu terlepas dari metode yang digunakan. Sebagian
A: Statistik deskriptif, penghitungan biaya besar penurunan terjadi pada biaya rawat jalan
perawatan luka, dan prevalensi luka rumah sakit, sementara terjadi peningkatan
pengeluaran untuk penyedia Bagian B (yang
mencakup layanan dokter). Ulkus vena dan
infeksi terkait adalah satu-satunya jenis luka yang
mengalami peningkatan pengeluaran.
11 Survey on Prevalence and D: Survei tatap muka Populasi penelitian berusia di atas 60 tahun
Impact of Chronic Non-Healing S: 300 pasien yang datang di berbagai klinik luka (74%) dan lebih banyak laki-laki (74%).
Wounds among Patients V: Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, Sebagian besar responden menganggur (90%)
Attending Various Wound riwayat sosial, gaya hidup dan kebiasaan makan, dan termasuk dalam kategori berpenghasilan
Clinics Around Trivandrum pola aspek klinis yang berbeda (riwayat keluarga rendah (90%). Responden berasal dari daerah
City (S Nair et al., 2024) diabetes, pengobatan diabetes, penyebab luka, pedesaan (70%) dan tinggal dalam keluarga inti
lokasi luka, pengobatan & manajemen) (97%).
I: Prevalensi luka kronis yang tidak kunjung Gaya hidup yang tidak banyak bergerak lazim
sembuh terjadi pada 90% responden, dengan 68%
A: Statistik deskriptif, bagan dan grafik, mengalami obesitas. Kebiasaan makan
interpretasi data menunjukkan preferensi terhadap makanan non-
vegetarian (90%). Konsumsi alkohol dilaporkan
oleh 20% responden laki-laki, dan 60% laki-laki
adalah perokok.
Diabetes muncul sebagai penyebab signifikan
dari luka kronis, dengan 90% responden memiliki
riwayat keluarga diabetes dan 70% saat ini
sedang menjalani pengobatan diabetes. Mayoritas
luka kronis terkait dengan diabetes (75%). Lokasi
46

luka pada tungkai pria (74%)


Hampir semua responden (100%) menggunakan
beberapa antibiotik untuk perawatan luka, dan
sebagian besar (57%) telah mencoba pendekatan
pengobatan alternatif. Rawat inap untuk
perawatan luka kronis sering terjadi (80%), dan
pemanfaatan tes serologi terkait luka rendah
(3%).
DAFTAR PUSTAKA

Al-Mutairi, H. H., Al-Mansour, H. S., Al-Mutairi, M. S., Al-Muraibid, N., Al-Dajani,


N. N., Al-Otaibi, S. M., Al-Otaibi, S. S., Al Shamri, A. M., Aldhafeeri, M. M. M.,
Alobaida, H. A. A., Almalky, A. N. J., Almuteri, N. A. H., Alasamari, S. M., &
Alasmari, S. M. (2024). Complex Wound Management: Nursing Intervention
Protocols-An Updated Review. Journal of Ecohumanism, 3(8), 2921–2936.
[Link]
Barrett, M., Larson, A., Carville, K., & Ellis, I. (2009). Challenges faced in
implementation of a telehealth enabled chronic wound care system.
[Link]
Benjamin, S., Bhatii, Dr. R., Akhtar Rana, Dr. N., Aslam, S., & Nyaroo, T. (2023).
UNIQUE NURSING METHODS FOR THE CARE OF PERMANENT
WOUNDS IN AUTOINFLAMMATORY OR AUTOIMMUNE
PATHOLOGIES. Journal of Population Therapeutics & Clinical Pharmacology,
1629–1651. [Link]
Bonisteel, I., Shulman, R., Newhook, L. A., Guttmann, A., Smith, S., & Chafe, R.
(2021). Reconceptualizing Recruitment in Qualitative Research. International
Journal of Qualitative Methods, 20. [Link]
Bouldin, E. D., Taylor, L. L., Littman, A. J., Karavan, M., Rice, K., & Reiber, G. E.
(2015). Chronic Lower Limb Wound Outcomes Among Rural and Urban
Veterans. Journal of Rural Health, 31(4), 410–420.
[Link]
Caroline Dowsett, K. B. C. H. M. R. B. A. G. T. K. D. K. M. R. L. de M. J. L. L.-M.
K.-C. M. T. S. H. V. and M. B. (2021). The Wound Care Pathway – an evidence-
based and step-by-step approach towards wound healing. Wounds International,
Vol 12 Issue 3.
Carter, M. J., DaVanzo, J., Haught, R., Nusgart, M., Cartwright, D., & Fife, C. E.
(2023). Chronic wound prevalence and the associated cost of treatment in
Medicare beneficiaries: changes between 2014 and 2019. Journal of Medical
Economics, 26(1), 894–901. [Link]
Denise Polit, & Cheryl Beck. (2020). Essentials of Nursing Research.
Desai, M. P. , Ross, J. B. , Blitzer, S. , Como, N. , Horton, D. J. , Ostergar, J. ,
Hernández, C. , &, & Levine, D. M. (2024). Hospital-Level Care at Home for
Acutely Ill Adults in Rural Settings: Proof of Concept. Home Healthcare Now,
21–30. [Link]
Dhar, A., Needham, J., Gibb, M., & Coyne, E. (2020). The outcomes and experience of
people receiving community-based nurse-led wound care: A systematic review. In
Journal of Clinical Nursing (Vol. 29, Issues 15–16, pp. 2820–2833). Blackwell
Publishing Ltd. [Link]
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. (2022). Profil Kesehatan 2021 Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Dissemond, J., Chadwick, P., Weir, D., Alves, P., Isoherranen, K., Lázaro Martínez, J.
L., Swanson, T., Gledhill, A., & Malone, M. (2024). M.O.I.S.T. Concept for the
Local Therapy of Chronic Wounds: An International Update. In International

47
48

Journal of Lower Extremity Wounds. SAGE Publications Inc.


[Link]
Duarte, B. A. R., Leite, T. C. P., Félix, T. R., De Oliveira Santana, M. A., & Giuliani,
C. D. (2023). Home visits in rural areas: demands in primary care. Rural and
Remote Health, 23 1, 8118. [Link]
Eriksson, E., Liu, P. Y., Schultz, G. S., Martins‐Green, M. M., Tanaka, R., Weir, D.,
Gould, L. J., Armstrong, D. G., Gibbons, G. W., Wolcott, R., Olutoye, O. O.,
Kirsner, R. S., & Gurtner, G. C. (2022). Chronic wounds: Treatment consensus.
Wound Repair and Regeneration, 30(2), 156–171.
[Link]
European Wound Management Association (EWMA). (2008). Position document:
Hard-to-heal wounds: A holistic approach. MEDICAL EDUCATION
PARTNERSHIP.
Falanga, V., Isseroff, R. R., Soulika, A. M., Romanelli, M., Margolis, D., Kapp, S.,
Granick, M., & Harding, K. (2022). Chronic wounds. Nature Reviews Disease
Primers, 8(1), 50. [Link]
Fearns, N., Heller-Murphy, S., Kelly, J., & Harbour, J. (2017). Placing the patient at
the centre of chronic wound care: A qualitative evidence synthesis. In Journal of
Tissue Viability (Vol. 26, Issue 4, pp. 254–259). Tissue Viability Society.
[Link]
Franco, C. M., Lima, J. G., & Giovanella, L. (2021). Primary healthcare in rural areas:
Access, organization, and health workforce in an integrative literature review. In
Cadernos de Saude Publica (Vol. 37, Issue 7). Fundacao Oswaldo Cruz.
[Link]
Frykberg, R. G., & Banks, J. (2015). Challenges in the Treatment of Chronic Wounds.
Advances in Wound Care, 4(9), 560–582.
[Link]
Georgina Gethin. (2020). Evidence for person-centred care in chronic wound care: A
systematic review and recommendations for practice (Vol. 245).
[Link]
Hadzhiev, E., Govedarski, V., Zahariev, T., & Nachev, G. (2023). BEHAVIOUR IN
CHRONIC WOUNDS OF VASCULAR ORIGIN. Comptes Rendus de
L’Academie Bulgare Des Sciences, 76(11), 1768–1773.
[Link]
Helen J. Streubert, H. J. S. S. H. S. S. D. R. C. (2003). Qualitative Research in
Nursing: Advancing the Humanistic Imperative (3rd ed.). Lippincott Williams &
Wilkins.
Hennink, M., & Kaiser, B. N. (2022). Sample sizes for saturation in qualitative
research: A systematic review of empirical tests. Social Science & Medicine, 292,
114523. [Link]
Huang, Y., Hu, J., Xie, T., Jiang, Z., Ding, W., Mao, B., & Hou, L. (2023). Effects of
home-based chronic wound care training for patients and caregivers: A systematic
review. In International Wound Journal (Vol. 20, Issue 9, pp. 3802–3820). John
Wiley and Sons Inc. [Link]
International Diabetes Federation. (2025). IDF Diabetes Atlas.
[Link]
49

Kapp, S., Miller, C., & Santamaria, N. (2018). The quality of life of people who have
chronic wounds and who self-treat. Journal of Clinical Nursing, 27(1–2), 182–
192. [Link]
Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri
Ketenagakerjaan Nomor 247 Tahun 2023 tentang Penetapan Standar Kompetensi
Kerja Nasional Indonesia Kategori Aktivitas JasaLain Golongan Pokok Aktivitas
Jasa Perorangan Lainnya Golongan Aktivitas Jasa Perorangan Untuk
Kebugaran Bukan Olahraga Bidang Wellness.
King, H. J., Whiteside, E. J., Ward, R., Kauter, K., Byrne, M., Horner, V., Nutter, H.,
& Lea, J. (2024). Perspectives on improving wound care for Aboriginal health
workers in rural and remote communities in Queensland, Australia. BMC Health
Services Research, 24(1). [Link]
Lee, Y. N., & Chang, S. O. (2023). How experienced wound care nurses conceptualize
what to do in pressure injury management. BMC Nursing, 22(1).
[Link]
Levine, D. M. , Desai, M. P. , Ross, J. , Como, N. , & Anne Gill, E. (2021). Rural
Perceptions of Acute Care at Home: A Qualitative Analysis. The Journal of Rural
Health : Official Journal of the American Rural Health Association and the
National Rural Health Care Association, 353–361.
[Link]
Martinengo, L. O. M. B. R. S. M. U. Z. S. A. C. J. J. K. (2018). Prevalence of chronic
wounds in the general population: Systematic review and meta-analysis of
observational studies.
[Link]
Meah, Y. S., Gliatto, P. M., Ko, F. C., & Skovran, D. (2015). Wound care in home-
based settings. In Geriatric Home-Based Medical Care: Principles and Practice
(pp. 195–236). Springer International Publishing. [Link]
319-23365-9_10
Mohammed Sameer Abu Msallam. (2022). KNOWLEDGE AND PRACTICE OF
NURSES REGARDING WOUND CARE.
Monaro, S. , Pinkova, J. , Ko, N. , Stromsmoe, N. , & Gullick, J. (2021). Chronic
wound care delivery in wound clinics, community nursing and residential aged
care settings: A qualitative analysis using Levine’s Conservation Model. Journal
of Clinical Nursing, 1295–1311.
Nurtanti, S., Handayani, S., Ratnasari, N., Husna, P., & Susanto, T. (2020).
Characteristics, causality, and suicidal behavior: a qualitative study of family
members with suicide history in Wonogiri, Indonesia. Frontiers of Nursing, 7,
169–178. [Link]
Ohta, R., Ryu, Y., Katsube, T., & Sano, C. (2020). Rural homecare nurses’ challenges
in providing seamless patient care in rural Japan. International Journal of
Environmental Research and Public Health, 17(24), 1–11.
[Link]
Olsson, M., Järbrink, K., Divakar, U., Bajpai, R., Upton, Z., Schmidtchen, A., & Car, J.
(2019). The humanistic and economic burden of chronic wounds: A systematic
review. In Wound Repair and Regeneration (Vol. 27, Issue 1, pp. 114–125).
Blackwell Publishing Inc. [Link]
50

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2021). Pedoman standar prosedur


operasional keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.
R Endro Sulistyono, Susanto, T., & Tristiana, R. D. (2020). Patients Experience and
Perception in Preventing Tuberculosis Transmission in Rural Areas: A Qualitative
Research. Jurnal Keperawatan Padjadjaran. [Link]
Renata Batas. (2019). Community nursing care for chronic wounds: a case study of
optimal home treatment of a venous leg ulcer. Gastrointestinal Nursing.
S Nair, A., S, J., & Sukesh, K. (2024). Survey on Prevalence and Impact of Chronic
Non-Healing Wounds among Patients Attending Various Wound Clinics Around
Trivandrum City. International Journal of Science and Healthcare Research,
9(2), 323–332. [Link]
Seidel, D., Storck, M., Lawall, H., Wozniak, G., Mauckner, P., Hochlenert, D., Wetzel-
Roth, W., Sondern, K., Hahn, M., Rothenaicher, G., Krönert, T., Zink, K., &
Neugebauer, E. (2020). Negative pressure wound therapy compared with standard
moist wound care on diabetic foot ulcers in real-life clinical practice: Results of
the German DiaFu-RCT. BMJ Open, 10(3). [Link]
2018-026345
Sen, C. K. (2021). Human Wound and Its Burden: Updated 2020 Compendium of
Estimates. In Advances in Wound Care (Vol. 10, Issue 5, pp. 281–292). Mary Ann
Liebert Inc. [Link]
Sen, C. K. (2024). Standardized Wound Care: Patchwork Practices? In Advances in
Wound Care. Mary Ann Liebert Inc. [Link]
Shorey, S., & Ng, E. D. (2022). Examining characteristics of descriptive
phenomenological nursing studies: A scoping review. In Journal of Advanced
Nursing (Vol. 78, Issue 7, pp. 1968–1979). John Wiley and Sons Inc.
[Link]
Sulistyono, R. E., Susanto, T., & Tristiana, R. D. (2019). Barriers in Tuberculosis
Treatment in Rural Areas (Tengger, Osing and Pandalungan) in Indonesia Based
on Public Health Center Professional Workers Perspectives: a Qualitative
Research. Jurnal Ners, 14(1), 62–68. [Link]
Sun, Y., Ge, Y., Ruan, S., & Luo, H. (2023). Prospects for the application of home care
in chronic wound management. Journal of Family Medicine and Primary Care,
12(3), 422–425. [Link]
Susanto, T. (2020). Protecting the Rights of Leprosy Affected People in Rural
Community of Jember, Indonesia. In Indian J Lepr (Vol. 2020).
[Link]
Susanto, T., Dewi, I., & Rahmawati, I. (2017). The experiences of people affected by
leprosy who participated in self-care groups in the community: A qualitative
study.
Susanto, T., Kumboyono, Kusuma, I. F., Purwandhono, A., & Sahar, J. (2022a).
Community-based intervention of chronic disease management program in rural
areas of Indonesia. Frontiers of Nursing, 9(2), 187–195.
[Link]
Susanto, T., Kumboyono, Kusuma, I. F., Purwandhono, A., & Sahar, J. (2022b).
Community-based intervention of chronic disease management program in rural
51

areas of Indonesia. Frontiers of Nursing, 9(2), 187–195.


[Link]
Susanto, T., & Widayati, N. (2018). Quality of life of elderly tobacco farmers in the
perspective of agricultural nursing: a qualitative study. Working with Older
People, 22(3), 166–177. [Link]
Susanto, T., Yunanto, R. A., Septiyono, E. A., & Deviantony, F. (2023). Home Health
Care During Physical Distancing Affects Physical and Psychosocial Aspects, Self-
Efficacy, Family Function, and Quality of Life of Families in Indonesia. Nurse
Media Journal of Nursing, 13(3), 330–341.
[Link]
Tam, S. H., Lai, W.-S., Kao, C.-Y., & Fang, S.-Y. (2024). Maintain Professionalism
Nurses Experiences in Caring for Patients with Malignant Fungating Wounds in
Taiwan. Journal of Pain and Symptom Management, 68(1), 69-77.e1.
[Link]
Tang, Y., Ye, J., Yang, L., Ran, L., & Wu, J. (2021). Concept analysis of perceived
health from the perspective of rural adults in China. International Journal of
Nursing Knowledge. [Link]
Toppino, S., Koffi, D. Y., Kone, B. V., N’krumah, R. T. A. S., Coulibaly, I. D.,
Tobian, F., Pluschke, G., Stojkovic, M., Bonfoh, B., & Junghanss, T. (2022).
Community-based wound management in a rural setting of Côte d’Ivoire. PLoS
Neglected Tropical Diseases, 16(10).
[Link]
Voigt, K., Bojanowski, S., Taché, S., Voigt, R., Bergmann, A., & Voigt@uniklinikum,
K. (2016). Home visits in primary care: contents and organisation in daily
practice. Study protocol of a cross-sectional study. BMJ Open, 6, 8209.
[Link]
Wadagni, A. C. A., Yao, T. A. K., Diez, G., Balle, F. H., Koffi, A. P., Aoulou, P.,
Zahiri, M. H., Djossou, P., Barogui, Y. T., Assé, H., Houezo, J. G., Sopoh, G. E.,
Nichter, M., & Johnson, R. C. (2024). Community based integrated wound care:
Results of a pilot formative research conducted in Benin and Côte d’Ivoire, West
Africa. PLOS Global Public Health, 4(2 February).
[Link]
Weinhold, I., & Gurtner, S. (2014). Understanding shortages of sufficient health care in
rural areas. Health Policy, 118(2), 201–214.
[Link]
WHO. (2024, November 14). Diabetes. Https://[Link]/News-Room/Fact-
Sheets/Detail/Diabetes.

Anda mungkin juga menyukai