0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Untuk Menyerap Emisi CO Kendaraan Bermotor Di Surabaya (Studi Kasus: Koridor Jalan Tandes Hingga Benowo)

Dokumen ini menganalisis kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) di Surabaya untuk menyerap emisi CO2 dari kendaraan bermotor di koridor Jalan Tandes hingga Benowo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 248 kg CO2 dihasilkan per jam pada jam puncak, sementara RTH yang ada hanya mampu menyerap 39,87 kg CO2, sehingga diperlukan tambahan 1,60 hektare lahan RTH. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan perangkat lunak Mobilev untuk menghitung emisi dan kebutuhan RTH.

Diunggah oleh

Afrizal Ma'arif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Untuk Menyerap Emisi CO Kendaraan Bermotor Di Surabaya (Studi Kasus: Koridor Jalan Tandes Hingga Benowo)

Dokumen ini menganalisis kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) di Surabaya untuk menyerap emisi CO2 dari kendaraan bermotor di koridor Jalan Tandes hingga Benowo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 248 kg CO2 dihasilkan per jam pada jam puncak, sementara RTH yang ada hanya mampu menyerap 39,87 kg CO2, sehingga diperlukan tambahan 1,60 hektare lahan RTH. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan perangkat lunak Mobilev untuk menghitung emisi dan kebutuhan RTH.

Diunggah oleh

Afrizal Ma'arif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No.

2, (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D216

Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Untuk


Menyerap Emisi CO2 Kendaraan Bermotor Di
Surabaya (Studi Kasus: Koridor Jalan Tandes
Hingga Benowo)
$IUL]DO 0D¶DULI dan Rulli Pratiwi Setiawan
Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: [Link]@[Link]

Abstrak² Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki fungsi krusial HC, CH4, SO2, NO2 dan partikulat. Dari beberapa zat pencemar
dalam kehidupan di perkotaan, yaitu sebagai pembersih udara yang udara tersebut, gas karbon dioksida merupakan gas yang
sangat efektif, terutama untuk menyerap emisi CO2 dari kendaraan jumlahnya paling banyak dihasilkan. Sebagai perbandingan,
bermotor. Surabaya sebagai kota niaga memiliki arus pergerakan dalam pembakaran satu liter bahan bakar bensin, dihasilkan
orang barang dan jasa yang tinggi, salah satunya di koridor Jalan
0,71 gram CH4. Sedangkan dalam kondisi yang sama, dalam
Tandes ± Benowo. Jalan ini seringkali ramai dipadati oleh berbagai
jenis kendaraan bermotor pada jam sibuk. Padatnya kendaraan pembakaran satu liter bahan bakar bensin, dihasilkan 2.597,86
bermotor ini menimbulkan akumulasi emisi CO2 yang besar di gram CO2. Perbedaan gas CH4 dan CO2 amatlah signifikan,
lokasi studi. Emisi CO2 dalam jumlah besar ini menimbulkan dimana gas CO2 merupakan polutan yang paling banyak
banyak kerugian bagi manusia dan lingkungan. Sebuah solusi dihasilkan oleh kendaraan bermotor [2]. Gas karbon dioksida
diperlukan agar permasalahan yang ditimbulkan oleh emisi CO2 merupakan salah satu polutan yang membawa dampak buruk
kendaraan bermotor ini dapat diatasi dengan baik. Studi ini bagi lingkungan apabila konsentrasinya terlalu tinggi di udara.
bertujuan untuk menganalisis kebutuhan penyediaan RTH guna Karbon dioksida adalah salah satu gas rumah kaca yang
menyerap emisi CO2 kendaraan bermotor di kawasan studi Untuk
berpengaruh terhadap terjadinya pemanasan global.
mencapai tujuan tersebut, terdapat beberapa sasaran yang perlu
dicapai yaitu; menghitung jumlah Lalu Lintas Harian Rata-Rata Kota Surabaya sebagai ibukota Provinsi Jawa Timur,
(LHR) di koridor studi. Selanjutnya setelah diketahui jumlah LHR, merupakan sebuah kota niaga yang penting. Peran Surabaya
dilakukan perhitugan emisi CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan yang strategis dalam bidang perniagaan ini berdampak pada
bermotor dengan bantuan perangkat lunak Mobilev. Setelah tingginya arus pergerakan barang dan orang di Surabaya, salah
diketahui timbulan emisi CO2 kendaraan bermotor yang dihasilkan, satunya di koridor Tandes ± Benowo. Koridor Jalan Tandes
selanjutnya dihitung kebutuhan penyediaan RTH untuk menyerap hingga Benowo merupakan salah satu akses utama dari kawasan
emisi CO2 kendaraan bermotor di kawasan studi. Berdasarkan hasil Surabaya Barat menuju pusat kota dan sebaliknya. Oleh
perhitungan, terdapat 248,00 kg CO2 dihasilkan oleh kendaraan
karenanya bermacam jenis kendaraan mulai dari kendaraan
bermotor per jam-nya pada jam puncak. Dengan timbulan emisi
CO2 sedemikian rupa, RTH publik eksisting di kawasan studi dapat kecil hingga berat turut memadati koridor ini hingga
menyerap sebesar 39,87 kg CO2. Untuk menyerap sisa emisi CO2 menyebabkan kemacetan lalu lintas, terutama pada jam puncak
yang ada, diperlukan penyediaan 1,60 hektare lahan untuk RTH [3]. Kemacetan di koridor jalan ini tentunya menyumbang
baru. polusi udara dalam jumlah yang tidak sedikit, utamanya gas
Kata Kunci²Ruang terbuka hijau, CO2, kendaraan bermotor, karbon dioksida. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya,
vegetasi polutan udara terutama gas karbon dioksida banyak
menimbulkan dampak negatif diantaranya menyebabkan
I. PENDAHULUAN kualitas udara kota yang kurang baik, menimbulkan berbagai
penyakit bagi kesehatan terutama pada organ pernapasan,
UANG terbuka hijau (RTH) adalah area memanjang/jalur
R dan atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat
terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh
menyebabkan pemanasan kawasan serta lebih jauh lagi turut
berkontribusi dalam pemanasan global. Maka dari itu,
diperlukan sebuah upaya untuk menyerap gas CO2 dari
tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Ruang
kendaraan bermotor agar dampak buruk dari gas CO2 dapat
terbuka hijau memberikan manfaat langsung yaitu
diminimalisasi.
membentuk keindahan dan kenyamanan dan manfaat tidak
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini berupaya untuk
langsung yaitu pembersih udara yang sangat efektif, salah
menganalisa kebutuhan penyediaan ruang terbuka hijau (RTH)
satunya dalam membersihkan udara di kawasan perkotaan dari
minimal untuk menyerap emisi karbon dioksida yang dihasilkan
polusi kendaraan bermotor [1].
oleh kendaraan bermotor di koridor Jalan Tandes hingga
Pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor
Benowo Kota Surabaya.
menghasilkan beberapa zat pencemar udara seperti; CO2, CO,
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D217

II. METODE PENELITIAN Tabel 1


Hasil Perhitungan Traffic Counting di Koridor Tandes - Benowo
Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah Mobil Bis Truk Truk
Bagian Jalan Motor
pendekatan rasionalistik, yaitu pendekatan penelitian yang Kecil Besar
I
bersumber pada fakta empiri dan didukung teori. Metode (1500 meter)
analisa dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif
(Arah
(perhitungan matematis). Metode kuantitatif dengan Benowo)
463 3069 8 6 0
menggunakan perhitungan matematis digunakan untuk (Arah Kota) 627 7642 12 20 0
mengetahui jumlah emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh
Total 1090 10711 20 26 0
kendaraan bermotor (perhitungan ini dibantu oleh perangkat
lunak Mobilev; Road Traffic Exhaust Emission Calculation
Total kendaraan pada ruas jalan Bagian I = 11847 kendaraan
Model). Kemudian, metode kuantitatif juga digunakan untuk
menghitung kebutuhan RTH minimal untuk menyerap emisi
karbon dioksida tersebut. Truk
Mobil Motor Bis Truk
Metode pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan Bagian Jalan
Kecil Besar
II
dua cara, yaitu; survei primer dan survei sekunder/instansional. (6600 meter)
Survei primer digunakan untuk menghitung Lalu Lintas Harian
Rata-Rata (LHR) di lokasi studi dengan menggunakan traffic (Arah Tandes) 467 2735 8 6 0
counting. Kegiatan traffic counting dilaksanakan mengambil (Arah Kota) 524 6548 0 15 0
pada hari kerja (kamis) pada jam puncak (pukul 06.00 ± 07.00
Total 991 9283 8 21 0
pagi). Sedangkan survei sekunder digunakan untuk memperoleh
data seputar RTH di wilayah studi, yang berasal dari instansi Total kendaraan pada ruas jalan Bagian II = 10303 kendaraan
pemerintah, seperti misalnya; Badan Perencanaan dan
Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya dan Dinas Kebersihan
dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya. Sumber: Survei Primer, 2016

III. HASIL DAN DISKUSI Berdasarkan hasil traffic counting, jenis kendaraan yang
paling banyak melewati wilayah studi adalah berturut-turut;
A. Menghitung Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) di sepeda motor, mobil, truk kecil, bis dan truk besar. Data jumlah
Koridor Jalan Tandes Hingga Benowo kendaraan ini kemudian akan digunakan sebagai bahan dalam
Untuk mengetahui jumlah emisi CO2 yang ada di koridor menghitung emisi CO2 kendaraan bermotor di wilayah studi.
studi, perlu dilakukan perhitungan jumlah kendaraan terlebih
dahulu. Perhitungan jumlah kendaraan ini nantinya akan B. Menghitung Emisi Gas CO2 yang Dihasilkan Oleh
digunakan menjadi salah satu bahan dalam menghitung emisi Kendaraan Bermotor di Koridor Tandes - Benowo
CO2 di wilayah studi.
Setelah diketahui hasil traffic counting di wilayah studi, data
Pelaksanaan perhitungan jumlah kendaraan di wilayah studi
tersebut (tabel 1) digunakan dalam perhitungan emisi CO2
menggunakan metode traffic counting. Survei traffic counting
kendaraan bermotor. Proses perhitungan ini dibantu oleh
dilakukan mengambil pada jam puncak supaya beban emisi
yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor adalah beban emisi perangkat lunak Mobilev; Road Traffic Exhaust Emission
yang maksimal. Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Calculation Model. Perangkat lunak ini merupakan piranti yang
Kota Surabaya pada tahun 2015, jam puncak di koridor Tandes dirancang untuk menghitung emisi kendaraan bermotor. Dalam
hingga Benowo adalah pada hari kerja (weekdays), pada pukul melakukan proses perhitungan, Mobilev memerlukan beberapa
06.00 ± 07.00 pagi, dimana jam sibuk ini merupakan waktu bagi input data, diantaranya;
siswa yang berangkat ke sekolah dan pegawai yang akan 1) Jumlah kendaraan bermotor (LHR)
berangkat ke kantor. 2) Faktor emisi kendaraan bermotor
Dalam pelaksanaan traffic counting, koridor Tandes hingga 3) Jenis dan konsumsi bahan bakar
Benowo yang total panjangnya adalah 8100 meter dibagi 4) Kategori jalan
menjadi 2 bagian, yaitu Ruas Jalan Bagian I sepanjang 1500 5) Posisi jalan
meter dan Ruas Jalan Bagian II seoanjang 6600 meter. 6) Jumlah arah pada jalan
Pembagian ruas jalan dilakukan sedemikian rupa dikarenakan 7) Jumlah lajur
terdapat persimpangan Manukan yang memiliki dampak 8) Panjang jalan
signifikan terhadap arus keluar masuk kendaraan pada koridor 9) Kemiringan jalan [4].
Tandes ± Benowo Surabaya. Hasil survei traffic counting dapat Data-data ini diperoleh dari pelaksanaan survei traffic
dilihat pada tabel 1. counting dan pengamatan karakteristik jalan di koridor Tandes
hingga Benowo Surabaya. Hasil perhitungan emisi karbon
dioksida kendaraan bermotor menggunakan perangkat lunak
Mobilev di koridor Jalan Tandes hingga Benowo Surabaya
dapat dilihat pada tabel 2
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D218

Tabel 2 didapat dari perhitungan traffic counting pada jam puncak


Hasil Perhitungan Emisi CO2 Menggunakan Mobilev; Road Traffic Exhaust
Emission Calculation Model
(peak hour). Hasil perhitungan emisi CO2 total ini akan
Jumlah Jumlah Emisi digunakan sebagai bahan dalam menghitung kebutuhan
Jenis
Bagian Jalan Kendaraan CO2 penyediaan RTH di wilayah studi. Untuk lebih jelasnya, dapat
Kendaraan
(Unit) (gram/km*jam) dilihat pada Gambar 1
Mobil
1090 7552,65

Truk Kecil C. Menganalisis Kebutuhan Penyediaan RTH di Koridor


26 229,90 Tandes Hingga Benowo Surabaya
Bagian Jalan I
(Panjang 1500 Bis Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pada Koridor Tandes
meter) 20 966,11 hingga Benowo, dihasilkan 248,00 kg CO2 dari kendaraan
bermotor per jamnya pada saat jam puncak. Dengan jumlah CO2
Sepeda Motor yang sedemikian rupa ini perlu dihitung kebutuhan minimal
10711 25717,36
penyediaan RTH untuk menyerap emisi CO2 tersebut. Untuk
Total 11847 Unit 34466,02 gram menghitung kemampuan serapan RTH terhadap CO2, dapat
dilakukan dengan cara mengalikan luas tutupan vegetasi dengan
Mobil
991 6877,01 laju serapan vegetasi terhadap CO2.
Laju serapan vegetasi dalam menyerap gas karbon dioksida
Truk Kecil bermacam-macam. Hutan yang mempunyai berbagai macam
21 181,95
Bagian Jalan II tipe tutupan vegetasi memiliki daya serap terhadap karbon
(Panjang 6600 Bis dioksida yang berbeda. Tipe penutupan vegetasi tersebut
meter) 8 395,76 berupa pohon, semak belukar, padang rumput dan sawah [5].
Daya serap berbagai macam tipe vegetasi terhadap karbon
Sepeda Motor dioksida dapat dilihat pada tabel 4.
9283 22287,59

Total 10303 Unit 29742,31 gram Tabel 4


Sumber: Hasil Analisa, 2016 Daya Serap CO2 Berdasarkan Jenis Tutupan Vegetasi
Daya Serap Daya Serap terhadap
Dari perhitungan menggunakan Mobilev pada tabel 2, Tipe Penutupan terhadap gas CO2 gas CO2
(kg/ha/jam) (ton/ha/tahun)
didapat hasil bahwa jumlah emisi CO2 yang dihasilkan adalah Pohon 129,92 569,07
sebesar 34466,02 gram pada ruas jalan Bagian I dan 29742,31 Semak Belukar 12,56 55
gram pada ruas jalan Bagian II. Namun hasil perhitungan ini Padang Rumput 2,74 12
masih dalam tahap perhitungan timbulan emisi CO2 Sawah 2,74 12
Sumber: Prasetyo dalam Tinambunan (2006)
per-kilometernya (belum mencakup seluruh panjang ruas jalan).
Maka dari itu, untuk mendapatkan hasil timbulan emisi CO2 dari
Berdasarkan tabel 4, diketahui bahwa jenis tutupan vegetasi
kendaraan bermotor di sepanjang ruas wilayah studi, perlu
dengan kemampuan penyerapan terhadap CO2 paling besar
dilakukan perkalian antara jumlah emisi CO2 per-kilometernya
adalah pohon, kemudian diikuti oleh semak belukar, padang
dengan total panjang ruas jalan yang diteliti. Untuk
rumput dan sawah.
memudahkan perhitungan, panjang jalan dikonversikan terlebih
Kondisi RTH publik eksisting di sekitar koridor Tandes
dahulu kedalam satuan kilometer (km) dan jumlah emisi CO2
hingga Benowo saat ini terdapat dua taman publik, yaitu Taman
dikonversikan terlebih dahulu kedalam satuan kilogram (kg).
Cahaya dan Taman Pakal. Vegetasi-vegetasi berupa pepohonan
Tabel 3
dan tanaman hias pada kedua taman ini memberikan fungsi
Perhitungan Total Emisi CO2 di Kendaraan Bermotor Sepanjang Ruas Jalan ekologis berupa penyerapan terhadap CO2 kendaraan bermotor.
Panjang Emisi CO2 Emisi Total Untuk mengetahui kemampuan serapan terhadap CO2
Bagian Jalan
Jalan (km) (kg/km*jam) (kg/jam) kendaraan bermotor dari kedua taman publik tersebut, perlu
dilakukan perhitungan untuk mengetahui luasan tutupan
Bagian Jalan I 1,5 34,47 51,70
vegetasi berupa pohon dan tanaman hiasnya. Berdasarkan hasil
analisa menggunakan tools ³/LVW´ SDGD $XWR&$' GLGDSDWNDQ
Bagian Jalan II 6,6 29,74 196,30 hasil proporsi perbandingan antara tutupan vegetasi berupa
pepohonan dan tanaman hias. Kemudian dari kedua jenis
Total 8,1 64,21 248,00
tutupan vegetasi ini dihitung kemampuannya dalam menyerap
Sumber: Hasil Analisa, 2016
emisi CO2 kendaraan bermotor yang ada, dimana 1 hektar
pohon dapat menyerap 129,92 kg CO2 per jamnya dan 1 hektar
Berdasarkan hasil perhitungan di tabel 3, didapat hasil bahwa
tanaman hias dapat menyerap 12,56 kg CO2 per jamnya. Hasil
total emisi yang ditimbulkan di sepanjang ruas Jalan
perhitungan mengenai kemampuan tutupan vegetasi dalam
Tandes-Benowo (sepanjang 8,1 km) adalah 248,00 kg per satu menyerap CO2 pada kedua taman publik yang ada dapat dilihat
jamnya. Emisi sebesar 248,00 kg merupakan emisi maksimum pada tabel 5
pada koridor Jalan Tandes-Benowo dikarenakan hasil ini
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D219

Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 5, kedua taman


Gambar 1 Peta Hasil Perhitungan Emisi CO2 Kendaraan Bermotor
Sumber: Hasil Analisa, 2016
publik eksisting memiliki kemampuan untuk menyerap gas
karbon dioksida yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor
sebesar 39,87 kg per jamnya.
Total emisi CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor di
Tabel 5 koridor Tandes hingga Benowo adalah 248,00 kg per jamnya.
Total Kemampuan Penyerapan CO2 dari Taman Cahaya dan Taman Pakal
Sedangkan taman publik eksisting yang ada hanya mampu
Taman Cahaya
Luas Total Kemampuan menyerap emisi CO2 sebesar 39,87 kg per jamnya, sehingga
Jenis Tutupan terdapat sisa sebesar 208,13 kg CO2 yang belum mampu
Taman Cahaya Luas (ha) Penyerapan
Vegetasi
(ha) (kg/jam) terserap oleh RTH publik eksisting. Maka dari itu, diperlukan
Tutupan penambahan RTH baru agar total emisi karbon dioksida yang
0,230 29,88
Pepohonan
0,46
Tutupan ada di wilayah studi dapat terserap secara optimal.
0,061 0,77 Diperlukan perhitungan untuk memperkirakan kebutuhan
Tanaman Hias
minimal RTH yang harus disediakan untuk menyerap sisa
208,13 kg CO2 yang ada. Perhitungan mengenai kebutuhan
Taman Pakal
Luas Total Kemampuan
minimal penyediaan RTH baru dapat dilihat pada tabel 6.
Jenis Tutupan
Taman Cahaya Luas (ha) Penyerapan
Vegetasi Tabel 6
(ha) (kg/jam)
Kebutuhan RTH Baru Untuk Menyerap Emisi CO2 Kendaraan Bermotor di
Tutupan
0,07 9,09 Koridor Tandes - Benowo
Pepohonan
0,12 Emisi CO2 Total Emisi CO2 (kg)
Tutupan
0,01 0,13 Total emisi CO2
Tanaman Hias 248,00
dihasilkan
*dikurangi
Total Kemampuan Penyerapan dari Kedua Taman Kemampuan penyerapan
39,87 39,87
(kg/jam) CO2 oleh RTH eksisting
Sisa 208,13
Sumber: Hasil Analisa, 2016
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D220

Kebutuhan Penambahan RTH Baru UCAPAN TERIMA KASIH


Standar Daya Serap Kebutuhan
Total SisaEmisi CO2 (kg/jam) Terhadap CO2 Penambahan Penulis A.M. mengucapkan terimakasih banyak kepada Ibu
(kg/ha/jam) RTH Baru Rulli Pratiwi Setiawan, ST., MSc. yang telah membimbing
208,13 129,92 1,60 hektar penulis hingga akhirnya penelitian ini dapat terselesaikan.
Sumber: Hasil Analisa, 2016 Selain itu, penulis juga ingin mengucapkan terimakasih pada
Yayasan Karya Salemba Empat dan PT Pembangunan Jaya
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 6, dari sisa sebesar
yang telah memberi beasiswa kepada penulis selama kuliah,
208,13 kg emisi CO2 kendaraan bermotor yang belum terserap
sehingga kegiatan perkuliahan penulis dapat terselesaikan
oleh RTH publik eksisting, dibutuhkan penambahan 1,60 hektar
dengan baik.
RTH baru di sekitar koridor Jalan Tandes - Benowo.

IV. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki fungsi penting dalam
[1] Kementerian Pekerjaan Umum. 2008. Peraturan Menteri Pekerjaan
kehidupan di perkotaan, yaitu untuk menyerap emisi CO2 dari Umum Nomor 5 Tahun 2008 : Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan
kendaraan bermotor. Surabaya sebagai kota niaga memiliki arus RTH di Kawasan Perkotaan.. Jakarta : Kementerian PU
pergerakan orang barang dan jasa yang tinggi, salah satunya di [2] IPCC. 2005. Greenhouse Gas Inventory Reference Manual. London :
IPCC WGI Technical Support Unit, Hardley Center, Meteorology Office
koridor Jalan Tandes ± Benowo yang merupakan salah satu [3] Rini, T. S., ³ Kebijakan Sistem Transportasi Kota Surabaya Dalam
akses utama dari Surabaya barat ke pusat kota dan sebaliknya Rangka Pengendalian Pencemaran Udara Area Transportasi ´ Jurnal
sehingga seringkali jalan ini ramai dipadati oleh berbagai jenis Rekayasa Perencanaan, Vol. 1 (2005, Feb.) 13-14.
[4] Tim Kerja Inventarisasi Emisi. 2013. Panduan Mobilev 3.0; Road Traffic
kendaraan bermotor. Lalu lalang kendaraan bermotor ini Exhaust Emission Calculation Model. Solo: Tim Kerja Inventarisasi
menimbulkan akumulasi emisi CO2 yang tinggi dan Emisi.
menyebabkan berbagai kerugian baik bagi kesehatan manusia [5] Tinambunan, R. 2006. Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau di Kota
maupun lingkungan. Maka dari itu, studi ini memiliki tujuan Pekanbaru. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

untuk menganalisis kebutuhan penyediaan RTH guna menyerap


emisi CO2 kendaraan bermotor di kawasan studi. Setelah
dilakukan proses analisa dan pembahasan, adapun kesimpulan
dari hasil studi ini adalah;
A. Berdasarkan survei traffic counting pada jam puncak,
jumlah LHR di koridor studi adalah 11847 kendaraan pada
ruas jalan bagian I dan 10303 kendaraan pada ruas jalan
bagian II. Ruas jalan bagian I dan II memiliki panjang
masing-masing 1500 m dan 6600 m. Total seluruh ruas jalan
yang diteliti adalah 8100 m.
B. Berdasarkan perhitungan menggunakan software Mobilev,
jumlah emisi CO2 total yang dihasilkan oleh kendaraan yang
melintasi koridor Tandes-Benowo adalah sebesar 248,00 kg
per-jam (pada jam puncaknya).
C. Berdasarkan perhitungan, dua taman publik eksisting;
Taman Cahaya dan Taman Pakal di koridor Tandes ±
Benowo mampu menyerap sebesar 39,87 kg CO2 per
jamnya. Terdapat sisa 208,13 kg CO2 dari kendaraan
bermotor yang belum bisa terserap oleh taman eksisting dan
maka dari itu diperlukan penambahan RTH baru.
D. Dari 208,13 kg CO2 yang belum terserap, dibutuhkan
penambahan 1,60 hektar RTH baru di koridor studi.
Kedepannya, diperlukan identifikasi lahan-lahan potensial
diutamakan lahan milik Pemerintah Kota Surabaya- yang ada di
sekitar koridor Jalan Tandes hingga Benowo untuk
pengembangan RTH baru. Dengan adanya penambahan RTH
baru tersebut, diharapkan emisi CO2 kendaraan bermotor yang
dihasilkan dapat terserap secara lebih optimal.

Anda mungkin juga menyukai