DIMENSI SALURAN RENCANA
1. Intensitas curah hujan rencana
Jika data curah hujan rencana R sudah diketahui, maka data selanjutnya yang diperlukan untuk
merencanakan dimensi saluran adalah luas kawasan tampungan hujan, panjang saluran dan
kemiringan memanjang lapangan.
Semua data ini didapatkan dari hasil pengukuran lapangan.
Kemiringan memanjang didapatkan dari perbedaan elevasi kawasaan bagian hulu dan bagian hilirnya.
Rumus untukmenentukan kemiringan memanjang adalah :
H
S
L
S = kemiringan memanjang
H = Beda tinggi elevasi kawasan di bagian hulu dan hilir
L = panjang saluran
Jika panjang saluran dan kemiringan memanjangnya sudah diketahui,maka waktu konsentrasinya bisa
ditentukan dengan rumus waktu konsentrasi, misal menggunakan rumus Kirpick :
0,87 . L2
tc = (2.4)
1000 . S
t c = waktu konsentrasi dalam jam,
L = panjang saluran dari hulu sampai keoutletnya dalam km,
S = kemiringan rata-rata saluran dalam m/m.
Selanjutnya dari curah hujan rencana R dapat dihitung intensitas curah hujan rencana, misal dengan
rumus Mononobe
2/3
R 24 24
I
24 t
I = intensitas curah hujan rencana (mm/jam)
t = lamanya hujan (jam)
Debit aliran Qp = 0,002778 . C .I . A
2. Dimensi Saluran Drainase.
Sepanjang memungkinkan harus diusahakan saluran drainase umumnya berupa
saluran tanah, karena biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan saluran pasangan.
Penampang saluran yang paling umum digunakan adalah berpenampang trapesium yang
ekonomis.
Ada beberapa parameter hitungan yang dapat dipedomani untuk merencanakan dimensi
saluran, seperti berikut:
- Perbandingan lebar dasar saluran dan kedalaman aliran ( n’ = b/h )
- Koeffisien kekasaran saluran ( k )
- kemiringan tanggul sisi saluran ( 1 : m )
- kecepatan pengaliran ( V )
Dimensi saluran dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Debit aliran :
Kecepatan aliran : Rumus Strickler : V k . R 2/3 . I1/ 2
1
V .R 2/3 . I1 / 2
Rumus Manning : n
Rumus Chezy : V c .R1/2 . I1 / 2
T
w
1
y
m
b
Q = debit rencana, m3dt.
V = kecepatan pengaliran, m/dt.
A = luas penampang basah saluran, m
b = lebar dasar saluran
h = kedalaman aliran
T = lebar atas saluran atau lebar muka air
W = tinggi jagaan (tanggul)
k = koeffisien kekasaran Strickler.
n = koeffisien Manning
c = koeffisien Chezy
P = keliling basah penampang saluran
R = A/P = jari-jari hidrolis penampang saluran
I = kemiringan memanjang dasar saluran (rencana).
Untuk merencanakan dimensi saluran, ada beberapa parameter perhitungan yang dapat
dipedomani, yang ditentukan berdasarkan debit saluran, seperti tabel berikut ini :
Tabel 4.1. Parameter perhitungan untuk dimensi saluran
Q ( m /dt) m n’ k = 1/n
0.15 - 0.30 1.0 1.0 35
0.30 - 0.50 1.0 1.0 – 1.2 35
0.50 - 0.75 1.0 1.2 – 1.3 35
0.75 - 1.00 1.0 1.3 – 1.5 35
1.00 - 1.50 1.0 1.5 – 1.8 40
K = koefisien kekasaran Strickler
1.50 - 3.00 1.5 1.8 – 2.3 40 m = kemiringan talud
3.00 - 4.50 1.5 2.3 – 2.7 40 n’ = b/h
b = lebar dasar saluran
h = kedalaman air.
4.50 - 5.00 1.5 2.7 – 2.9 40
5.00 - 6.00 1.5 2.9 – 3.1 42.5
6.00 - 7.50 1.5 3.1 – 3.5 42.5
7.50 - 9.00 1.5 3.5 – 3.7 42.5
9.00 - 10.00 1.5 3.7 – 3.9 42.5
10.00 - 11.00 2.0 3.9 – 4.2 45
11.00 - 15.00 2.0 4.2 – 4.9 45
15.00 - 25.00 2.0 4.9 – 6.5 45
25.00 - 40.00 2.0 6.5 – 9.6 45
Kecepatan aliran yang diizinkan (m/det)
Pasir halus 0,45
Pasir berlumpur 0,50
Pasir lempung padat 0,75
Lempung Kepasiran 0,50
Lanau Aluvial 0,60
Kerikil halus 0,75
Rumput dipotong pendek 1,00
Lempung kokoh 0,75
Lempung padat 1,10
Kerikil kasar 1,20
Kerikil halus 0,80
Lempung keras 1,10
Kerikil kasar 1,20
Batu beronjal 1,50
Batu-batu besar 1,50
Pasangan batu 1,50
Beton 1 1,50
Beton bertulang 1,50
3. Hitungan dimensi saluran :
Ada beberapa metode perhitungan dimensi saluran :
a. Dengan perbandingan lebar dasar (b) dan kedalaman aliran (h)
Data hitungan : debit aliran (Q); koefisien kekasaran saluran (k, n); perbandingan
kemiringan tanggul (m); n’ = b / h; dan kemiringan saluran (I).
A (b + m . h ) . h b = n’ . h
A h 2.( n 'm) 1
y
m
P b 2.h. 1 m2
b
P h.(n 2 1 m2 )
A
R
P
h dan b dihitung dengan cara coba – banding.
Langkah perhitungan :
Andaikan kedalaman air h = ho
2/3
h o 2 (n m)
Hitunglah kecepatan yang sesuai (Vo) Vo k . I1 / 2
h . n 2 1 m 2
o
Q
Hitunglah luas basah yang diperlukan (Ao) A 0
V0
Ao
Dari Ao, hitung kedalaman air yang baru (h1) h1
nm
Bandingkan h1 dengan ho :
Jika h1 - ho < 0,005 --→ maka hl = h rencana
Jika h1- ho > 0,005 --→ maka ambillah h1 sebagai kedalaman air andaian yang baru
dan hitunglah kembali prosedur tersebut sampai h 1 - ho < 0,005.
Hitunglah lebar dasar saluran : b = n . hrencana
b. Dengan analisis matematis, lebar dasar (b) ditetapkan dan kedalaman aliran (h) dihitung.
Data hitungan : debit aliran (Q); koefisien kekasaran saluran (k, n); perbandingan
kemiringan tanggul (m); dan kemiringan saluran (I).
Q A.V
A (b + m . h ) . h
1
V . R 2/3. I1/2 1
n y
m
A
R b
P
P b 2.h. 1 m2
Q 1
V . R 2/3. I1/2
A n
2/3
Q 1 (b + m. h) . h
. . I1/2
(b + m . h ) . h n
b 2.h. 1 m 2
Harga h dicoba-coba sampai didapat nilai persamaan kiri = nilai persamaan kanan
c. Dengan cara tabelaris, lebar dasar (b) ditetapkan dan kedalaman aliran (h) dihitung.
Data hitungan : debit aliran (Q); koefisien kekasaran saluran (k, n); perbandingan
kemiringan tanggul (m); dan kemiringan saluran (I).
Q A.V
A (b + m . h ) . h
1
V . R 2/3. I1/2 1
n y
m
b
A 1
h A (b+m.h).h P b 2.h. 1 m2 R V . R 2/3. I1/ 2 Q A .V
P n
d. Dengan factor penampang A.R 2/3 , lebar dasar (b) ditetapkan dan kedalaman aliran (h)
dihitung.
Data hitungan : debit aliran (Q); koefisien kekasaran saluran (k, n); perbandingan
kemiringan tanggul (m); dan kemiringan saluran (I).
Q A.V
1
V . R 2/3. I1/2
n
1
1 y
Q A. . R 2/3. I1/ 2 m
n
b
n.Q
A . R 2/3
I
Nilai A.R 2/3 dapat dihitung
Selanjutnya dengan tabelaris dicoba harga h sampai didapat harga A.R 2/3 sama dengan
A.R 2/3 hitung
A
h A (b+m.h).h R A.R 2/3
P b 2.h. 1 m2 P
Untuk saluran drainase dipakai : Kecepatan minimum (V) = 0.25 m/dt
Lebar dasar minimum (b) = 0.30 m
Tinggi jagaan (F), tergantung dari debit
Tabe 4.3 Hubungan Q dan F tinggi jagaan
Debit Aliran Q ( m3/dt) Tinggi Jagaan F (m)
0.0 - 0.30 0.30
0.30 - 0.50 0.40
0.50 -1.50 0.50
1.50 - 15.00 0.60
15.00 - 25.00 0.75
>25.00 1.00
Contoh : Saluran Ruas BK1 – BK2 Q = 2013 ltr/dt
Berdasarkan debit, dari tabel 4.1 diperoleh harga n’ , m dan k dan tabel 4.1a diperoleh nilai
kecepatan minimum (Vmin).Kemiringan rencana diperoleh dari hasil pengukuran profil
memanjang
Q Vmin
Ruas saluran 3
m n’ = b/h k I
(m /dt) (m /dt)
Ruas BK1 – BK2 2,013 1,5 2 40 0,50 0,00025
Langkah perhitungan :
Andaikan kedalaman air h = ho = 1,00 m
1
Hitunglah kecepatan yang sesuai (Vo) y
m
2/3 b
2/3
h o 2 (n m) 12 (2 1,5)
40 .
Vo k .
1/ 2
I 0,0025 1 / 2 =1,461 m/dt
h . n 2 1 m 2 1. 2 2 1 1,5 2
o
Q 2,013
Hitunglah luas basah vang diperlukan (Ao) A 0 = 1,378 m2
V0 1,461
Dari Ao, hitung kedalaman air yang baru (h1)
Ao 1,378
h1 = 0,6274 m
nm 2 1,5
Bandingkan h1 dengan ho :
Jika h1 - ho < 0,005 --→ maka hl = h rencana
h1 - ho = 0,6274 - 1 = -0,3726 > 0,005 ulangi hitungan
Ambil h1 sebagai kedalaman air andaian (ho) yang baru, dan hitunglah kembali prosedur
tersebut sampai h 1 - ho < 0,005.
Hitungan dilakukan secara tabelaris, berikut :
2/3
Q
h o 2 (n m) A0 Ao
1/ 2 h1
ho Vo k . I V0 nm h1 - ho
h . n 2 1 m 2
o
1 1,4610 1,378 0,6274 -0,3726
0,627 1,0708 1,880 0,7329 0,1055
0,733 1,1876 1,695 0,6959 -0,0370
0,696 1,1473 1,754 0,7080 0,0121
0,708 1,1606 1,734 0,7040 -0,0041
0,704 1,1562 1,741 0,7053 0,0014
0,705 1,1577 1,739 0,70485 -0,0005
0,70485 1,1572 1,740 0,70500 0,0002
Jadi : hrencana = h1 = 0,70485 m ~ 0,705 m
Lebar dasar saluran : b = n . hrencana = 2 x 0,705 = 1,41 m
b. Dengan analisis matematis, lebar dasar (b) ditetapkan dan kedalaman aliran (h) dihitung.
Data hitungan :
Q Vmin
Ruas saluran 3
m b (m) k I
(m /dt) (m /dt)
Ruas BK1 – BK2 2,013 1,5 2,00 40 0,50 0,0025
1
k 40
n
1
Q A. . R 2/3. I1/ 2
n
Q 1
. R 2/ 3. I1/ 2 1
y
A n m
A (b + m . h ) . h b
P b 2.h. 1 m2
2/3
Q 1
.
(b + m. h) . h . I1/2
(b + m . h ) . h n 2
b 2.h. 1 m
2/3
2,013
40 . (2,00 + 1,5. h) . h
. 0,00251/2
(2,00 + 1,5 . h ) . h
2,00 2.h. 1 1,52
2/3
2,013
2 .
(2,00 + 1,5. h) . h
(2,00 + 1,5 . h ) . h
2,00 2.h. 1 1,52
Harga h dicoba-coba sampai didapat nilai persamaan kiri = nilai persamaan kanan
2/3
( 2,00 + 1,5. h) . h
2 .
2,013
h (2,00 + 1,5 . h ) . h
2 , 00 2.h. 11, 52
Selisih
1,00 0,5751 1,1070 -0,5318
1,10 0,5014 3,1827 -2,6814
0,80 0,7863 2,3578 -1,5715
0,60 1,1569 1,8227 -0,6658
0,50 1,4640 1,5579 -0,0939
0,48 1,5418 1,5050 0,0368
0,486 1,5178 1,5209 -0,0031
0,485 1,5217 1,5183 0,0035
0,4855 1,5197 0,0002
Dengan h = 0,4855 m 1,5197 = 1,5196 selisihnya = 0,0002 < 0,005, cukup sampai 3 digit
Jadi dimensi saluran b = 2,00m ; h = 0,4855m ; m = 1,5 ; I = 0,0025
Dari contoh soal sebelumnya :
Contoh 2.11
Suatu DAS terdiri-dari beberapa Sub-DAS dengan karakteristik seperti tertera pada Gambar
dibawah. Curah hujan rencana dengan periode ulang ulang 25-tahunan R 25 = 100 mm. Untuk
kawasan 1 dengan luas tampungan hujan (A1) = 40 ha, panjang salurannya 250 m dan kemiringan
memanjangnya 0,002. Koeffisien tutupan lahan ( C ) = 0,25.
Hitung dimensi salurannya.
Penyelesaian :
intensitas curah hujan rencana, dengan rumus Mononobe :
2/3 2/3
R 24 24 100 24
I
24 t 24 t
0,87 . L2
t dihitung dengan rumus Kirpick : tc =
1000 . S
0,87 . 250 2
Dengan L = 250 m dan S = 0,002, Maka t c = = 0,027 jam atau 1,63 menit
1000 . 0,002
2/3
100 24
Intensitas hujan I = 385,2 mm/jam
24 0,027
Debit aliran Qp = 0,002778 . C .I . A = 0,002778 . 0,25 . 385,2 . 40 = 10,70 m3/detik
Dimensi saluran :
Dengan L = 250 m dan S = 0,002
Konstruksi pasangan batu, n (Manning) = 0,0025
Direncanakan saluran penampang trapesium dengan m = 0,5 dan n’ = b/h = 1
Langkah perhitungan :
Andaikan kedalaman air h = ho = 1,00 m
1
y
m
b
Hitunglah kecepatan yang sesuai (Vo)
2/3
2/3
h o 2 (n m) 12 (1 0,5)
Vo k . I1 / 2 40 . 0,002 1 / 2 =1,226 m/dt
h . n 2 1 m 2 1.1 2 1 0,52
o
Q 10,70
Hitunglah luas basah yang diperlukan (Ao) A0 = 1,848 m2
V0 5,79
Dari Ao, hitung kedalaman air yang baru (h1)
Ao 1,848
h1 = 1,11 m
nm 1 0,5
Bandingkan h1 dengan ho
Jika h1 - ho < 0,005 --→ maka hl = h rencana
h1 - ho = 1,11 – 1 = 0,11 > 0,005 ulangi hitungan
Ambil h1 sebagai kedalaman air andaian (ho) yang baru, dan hitunglah kembali prosedur tersebut
sampai h 1 - ho < 0,005.
2/3
ho
h o 2 (n m)
Vo k . I1 / 2 Q Ao h1 - ho
h . n 2 1 m 2 A0 h1
o
V0 nm
1,00 1,421 7,528 2,240 1,240
2,240 2,433 4,397 1,712 -0,528
1,712 2,034 5,260 1,873 0,161
1,873 2,159 4,955 1,818 -0,055
1,818 2,117 5,055 1,836 0,018
1,836 2,131 5,021 1,830 -0,006
1,830 2,126 5,033 1,832 0,002
1,832 2,128 5,029 1,831 -0,001
1,831 2,127 5,030 1,831 0,000
Jadi dimensi saluran rencana : h = 1,831 ≅ 1,85m
b = h = 1,85 m
m = 0,5
S = 0,002