0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan32 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pernikahan dini, termasuk definisi, tujuan, manfaat, dan kesiapan yang diperlukan untuk menikah. Usia ideal untuk menikah menurut undang-undang dan faktor-faktor yang menyebabkan pernikahan usia dini juga dijelaskan. Selain itu, dokumen ini menyoroti pentingnya kematangan fisik, mental, dan sosial dalam menentukan waktu yang tepat untuk menikah.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan32 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas pernikahan dini, termasuk definisi, tujuan, manfaat, dan kesiapan yang diperlukan untuk menikah. Usia ideal untuk menikah menurut undang-undang dan faktor-faktor yang menyebabkan pernikahan usia dini juga dijelaskan. Selain itu, dokumen ini menyoroti pentingnya kematangan fisik, mental, dan sosial dalam menentukan waktu yang tepat untuk menikah.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pernikahan Dini

1. Pengertian

Menurut Sarwono dalam Desiyanti (2015) pernikahan usia dini

yaitu suatu ikatan yang dilakukan oleh seseorang yang masih dalam

usia muda atau pubertas. Pernikahan usia dini adalah pernikahan yang

dilakukan oleh seorang laki-laki dan seorang wanita, yang umur

keduanya masih dibawah umur minimum yang diatur oleh undang-

undang (Rohmah, 2013).

Pernikahan dibawah umur atau dikenal dengan pernikahan dini

adalah pernikahan yang seharusnya tidak dilaksanakan karena belum

adanya kesiapan baik secara jasmani dan rohani untuk dapat

melaksanakan pernikahan atau pernikahan dini merupakan sebuah

ikatan dua insan lawan jenis antara seorang wanita dan seorang laki-

laki yang berada pasa masa remaja untuk hidup bersama dalam satu

ikatan keluarga (Dian, 2014).

Pernikahan usia dini (early mariage) merupakan suatu

pernikahan formal atau tidak formal yang dilakukan dibawah usia 18

tahun (UNICEF, 2014). Seseorang yang telah melakukan ikatan lahir

batin antara pria dengan wanita sebagai seorang suami istri dengan

tujuan membentuk keluarga, baik yang dilakukan secara hukum

maupun secara adat/kepercayaan dapat dikatakan pula sebagai


pernikahan. Apabila suatu pernikahan tersebut dilakukan oleh

seseorang yang memiliki umur yang relatif muda maka hal itu dapat

dikatakan dengan pernikahan dini.

2. Tujuan Pernikahan

Pernikahan juga mempunyai tujuan seperti yang dikemukakaan oleh

Zakiyah Darajat dkk (2014), yaitu :

a. Untuk memenuhi penyempurnaan agama karena pernikahan

adalah perintah yang harus dilaksanakan oleh orang yang

beragama,

b. Untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam menyalurkan

syahwatnya dan berbagi kasih saying anatara dua manusia,

c. Untuk mendapatkan seorang keturunan dlaam meneruskan

keluarga

d. Untuk menjaga diri dari kejahatan misalnya terjindar dari

penyakit HIV,

e. Kelima, yaitu untuk menumbuhkan kesungguhan dalam

bertanggung jawab pada setiap hak serta kewajiban,

f. Adanya pernikahan dapat membentuk masyarakat yang tentram

dan saling menyayangi,

g. Pernikahan bertujuan untuk menata keluarga, hal tersebut

dikarenakan kelurga merupakan salah satu unsur pendidikan

yang paling utama dalam membangun pendidikan informal


pertama oleh seorang anak, segala perilaku yang dilakukan

orang tua akan selalu diadobsi atau dicontoh oleh anaknya.

Dalam pernikahan juga terdapat hikmah suatu pernikahan yang

dijalani yaitu : salah satu jalan untuk membuat anak-anak menjadi

lebih mulia dan memperbanyak anak, dalam menikah juga akan

menimbulkan naluri kebapakan dan keibuan akan tumbuh saling

melengkapi dalam kehidupan dengan anak-anak dan dapat

menumbuhkan perasaan ramah, cinta dan kasih sayang, dapat

menimbulkan kesadaran tanggung jawab sebagai istri sehingga

menimbulkan sikap rajin dan bersungguh-sungguh dalam mendalami

bakat yang dimiliki, dalam diri suami juga menimbulkan sikap rela

berkorban dan pekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Terdapat Menurut sulaiman Al – Mufarraj (2014),

mengemukakan bahwa ada 15 tujuan pernikahan, yaitu : sebagai

ibadah, untuk iffah atau menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang,

menyempurnakan agama, menikah merupakan sunah utusan Allah,

melahirkan anak yang dapat mendoakan orang tuanya, menjaga

masyarakat dari keburukan, runtuhnya moral, dan perzinaan, legalitas

untuk melakukan hubungan intim, menciptakan tanggung jawab bagi

suami dalam memimpin rumah tangga, memberi nafkah keluarga dan

membantu istri di rumah, mempertemukan tali keluarga yang berbeda

sehingga memperkokoh tali kekeluargaan, saling mengenal dan

menyayangi, menjadikan ketenangan dan kecintaan dalam jiwa suami


dan istri, sebagai pilar untuk membangun rumah tangga sesuai

keyakinan.

3. Manfaat Pernikahan

Dalam sebuah pernikahan ada manfaat yang dapat dirasakan

oleh setiap pasangan yang menikah. Manfaat pernikah yang di

kemukakan menurut Indriyani,(2014) sebagai berikut : manfaat

pernikahan menurut hukum perdata yaitu sebuah ikatan pernikahan

yang dapat mengasilkan keturunan yang sah dari sepasang suami istri

dan sah menjadi seorang ibu dan ayahdalam suatu keluarga yang

terbentuk. Manfaat pernikahan yang kedua menurut undang-undang

pernikah berdasarkan peraturan yang terkandung dalam undang –

undang no 1 tahun 1974 yang berkaitan dengan perkawinan pada bab

1 pasal 1 menetapkam jika sebuah perkawinan merupakan suatu

ikatan yang terjadi secara lahir dan batin antara dua orang yaitu

seorang pria dengan seorang wanita yang memiliki status sebagai

suami istri yang memiliki tujuan sama dalam membangun kebagian

bersama melalui keluarga. Adapun rumah tangga yang bahagia dan

kekal merupakan tujuan bagi setiap individu dan merupakan

kewajiban dalam menjalankan perintah dari Tuhannya. Berdasarkan

dengan pasal 2 ayat 1 dalam peraturan perundang-undangan sebuah

perkawinan merupakan proses yang dilegalkan atau disahkan

berdasarkan dengan masing-masing hukum agama atau kepercayaan.


4. Kesiapan Pernikahan

Menurut (Asmuji, 2014 ), dalam melangsungkan sebuah

pernikahan setiap individu yang akan menikah harus mempunyai

kesiapan fisik, mental maupun batin dan beberapa hal yang tidak

kalah penting yang harus diperhatikan sebagai berikut:

a. kesiapan ilmu adalah salah satu bagian yang penting dalam

melakukan pernikahan misalnya kesiapan terkait dengan

pemahaman hukum fiqih yang didalamnya berkaitan dengan

hukum pernikahan baik sebelum atau nikah, kesiapan ilmu

merupakan bagian yang sangat penting untuk dipertimbangkan

dalam mempersipkan pernikahan. Selain itu juga, kesiapan

materi untuk pelaksanaan pernikahan terbagi menjadi dua hal

diantaraya adalah, harta yang digunakan untuk mahar atau mas

kawin dan harta atau materi yang disiapkan untuk nafkah yang

diberikan suami kepada istri dalam memenuhi segala kebutuhan

sehari – hari yang secara langsung menjadi tugas dan tanggung

jawab dari suami pada istrinya.

b. Kesiapan pernikahan yang harus diperhatikan selanjutnya adalah

kesiapan fisik seperti : pemeriksaan kesehatan pranikah

merupakan pemeriksaan kesehatan pranikah sangat penting

karena untuk mendeteksi adanya penyakit bawaan atau

keturunan seperti thalassemia, hemofhilia, buta warna. Sehingga

calon pengantin dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan


bertanggung jawab. Persiapan gizi pranikah merupakan salah

satu cara untuk menanggulangan KEK yaitu seorang remaja atau

calon pengantin wanita dengan KEK apabila tidak mendapatkan

perbaikan gizi akan beresiko melahirkan dengan berat badan

bayi rendah (Asmuji, 2014).

c. Dalam mempersiapkan psikis dan psikososial untuk menikah

merupakan hal yang sangat penting karena setiap pasangan yang

baru menikah akan mengalami proses adaptasi setelah menikah.

Pasangan pengantin baru akan mengalami perubahan dalam

kehidupan, perempuan akan menjadi istri dan pria akan menjadi

suami yang akan menjadi pemimpin keluarga dan akan menjadi

ayah dan ibu. Dalam menjalani perubahan status dan peran

masing-masing individu sebagai proses awal adaptasi pasti akan

mengalami berbagai hal konflik atau masalah yang timbul antara

lain dapat mencukupi kebutuhan keluarga, tidak dapat

memenuhi kebutuhan atau keinginan pasangan, selain itu juga

tidak pandain dalam bergaul bersama masyarakat di lingkungan

tempat tinggalnya akan menjadikan suatu permasalahan

tersendiri bagi suatu rumah tangga, selanjutnya hal yang dapat

memicu munculnya konflik adalah kurangnya mendapatkan

sebuah kepuasan biologis dalam hubungan seks, kemudian

kurangnya cinta kasih sayang yang disurahkan anatar pasangan,


serta tidak mampu melepaskan diri dari ikatan masa lampau

atau pengalaman yang tidak menyenangkan, Asmuji, 2014).

d. Dalam pernikahan memerlukan kedewasaan melakukan

kelangsungan pernikahan, kedewasaan ada dua yaitu : dewasa

secara fisik adalah sesorang dikatakan matang secara fisik

apabila berhasil atau mampu dalam memberikan seoarang

keturunan didalam rumah tangga. Masa awal dikatakan desawa

adalah saat masa akil baliq. Selanjutnya dewasa secara mental

adalah seseorang dikatan dewasa secara mental apabila telah

mampu mengendalikan fikiran, emosi, dan kemauan secara

selaras dan seimbang dan mampu mengahadpi persoalan hidup

(Diyan, 2014).

5. Usia Dini

Usia dini pada usia remaja menurut WHO yaitu dengan

memakai batasan umur 10-20 tahun sebagai usia dini. Sedangkan

menurut Undang-Undang Perlindungan Anak bab 1 pasal 1 ayat (1)

bahwa yang dimaksud dengan usia dini adalah seseorang yang belum

berusia 18 (delapan belas) tahun, batasan tersebut diatas menegaskan

bahwa anak usia dini adalah bagian dari usia remaja. Sementara itu

menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) batasan

usia remaja adalah 10 - 21 tahun. Remaja adalah suatu masa dimana

individu dalam proses pertumbuhannya terutama fisiknya yang telah


mencapai kematangan, dengan batasan usia berada pada usia 11-24

tahun dan belum menikah (Sarwono dalam Purba, 2013).

6. Batasan Usia Ideal Untuk Menikah

Batasan usia yang diizinkan dalam pernikahan menurut UU

Perkawinan dalam pasal 7 ayat (1) yaitu, jika pihak pria sudah

mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun, dan pihak wanita sudah

mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Jika ada penyimpangan

terhadap pasal 7 ayat (1) ini, dapat meminta dispensasi kepada

Pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak

pria maupun wanita (pasal 7 ayat 2).

Menurut Departemen Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan

Anak dan Keluaraga Berencna (DPPPAKB) usia ideal untuk menikah

adalah usia 21 (dua puluh satu) tahun pada perempuan dan 25 (dua

puluh lima) tahun pada laki-laki.

Tidak ada ukuran yang pasti untuk menentukan usia yang paling

baik dalam melangsungkan pernikahan, namun untuk menentukan

usia yang ideal dalam pernikahan dapat dikemukakan beberapa hal

sebagai bahan pertimbanagan (Purba, 2013) yaitu:

a. Kematangan Fisiologis atau Kejasmanian

Keadaan kejasmanian yang cukup matang dan sehat

diperlukan dalam melakukan tugas sebagai akibat pernikahan.


b. Kematangan Psikologis

Banyak hal yang timbul dalam pernikahan yang

membutuhkan pemecahan masalahnya dari segi kematangan

psikologisya. Adanya kebijaksanaan dalam keluarga menuntut

kematangan psikologis dan segi-segi atau masalah-masalah yang

lain. Menurut Walgito (2013), dalam pernikahan dituntut adanya

kematangan emosi agar seseorang dapat menjalankan

pernikahan dengan baik. Beberapa tanda kematangan emosi

adalah mempunyai tanggung jawab, memiliki toleransi yang

baik, dan dapat menerima keadaan dirinya maupun keadaan

orang lain seperti apa adanya kematangan ini pada umumnya

dapat dicapai setelah umur 21 tahun.

c. Kematangan Sosial, Khususnya Sosial–Ekonomi

Kematangan sosial, khususnya sosial-ekonomi diperlukan

dalam pernikahan karena hal ini merupakan penyangga dalam

memutar roda keluarga akibat pernikahan. Umur yang masih

muda, pada umumnya belum mempunyai pegangan dalam hal

sosial-psikologi, padahal kalau seseorang telah memasuki

pernikahan, maka keluarga tersebut harus dapat berdiri sendiri

untuk kelangsungan keluarga bergantung itu, tidak bergantung

kepada pihak lain termasuk orang lain.


d. Tinjauan Masa Depan atau Jangka ke Depan

Umumnya keluarga menghendaki adanya keturunan, yang

dapat melangsungkan keturunan keluarga, disamping itu umur

manusia terbatas, pada suatu waktu akan mengalami kematian.

Sejauh mungkin diusahakan bila orang tua telah lanjut usia,

anak-anaknya telah dapat berdiri sendiri, tidak lagi menjadi

beban orang tuanya, oleh karena itu pandangan kedepan perlu

dipertimbangkan dalam pernikahan.

e. Perbedaan Antara Perkembangan Pria dan Wanita

Perkembangan antara pria dan wanita tidaklah sama,

artinya kematangan pada wanita tidak akan sama jatuhnya

dengan pria, seorang wanita yang umumnya sama dengan

seorang pria, tidak berarti kematangan segi psikologisnya juga

sama. Sesuai dengan segi perkembangan, pada umumnya wanita

lebih dahulu mencapai kematangan dari pada pria.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut dan

mengingat bahwa peranan suami dalam memberikan pengarahan

lebih menonjol pada umur yang sebaiknya untuk

melangsungkan pernikahan pada wanita umur 23-24 tahun,

sedangkan untuk pria umur 26-27 tahun, pada rentan umur

tersebut pada umumnya telah mencapai kematangan

kejasmanian, psikologis, dan dalam keadaaan normal pria umur

sekitar 26-27 tahun telah mempunyai sumber penghasilan untuk


menghidupi keluarga sebagai akibat pernikahan tersebut

(Walgito, 2013).

7. Faktor-Faktor Peneyebab Pernikahan Usia Dini

Menurut (Noorkasiani, 2014) faktor-faktor yang menyebabkan

terjadinya pernikahan usia dini di Indonesia adalah:

a. Faktor individu

1) Perkembangan fisik, mental, dan sosial yang dialami

seseorang. Makin cepat perkembangan tersebut dialami,

makin cepat pula berlangsungnya pernikahan sehingga

mendorong terjadinya pernikahan pada usia dini.

2) Pengetahuan

Seorang wanita yang mempunyai pengetahuan

tentang resproduksi yang baik pasti akan lebih

mempertimbangkan tentang hal usia pernikahannya,

karena mereka mengetahui apa saja akibat dari

pernikahan usia dini terhadap kesehatan reproduksinya.

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia,

atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera

yang dimilikinya. Pada waktu penginderaan sampai

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi

oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.

Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui

indera pendengaran dan indera penglihatan.


Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai

intensitas yang berbeda-beda. Secara garis besar dibagi

dalam 6 tingkatan pengetahuan yaitu:

(1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai recall (menggali) memori

yang telah ada sebelumnya setelah mengamati

sesuatu.

(2) Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu objek

tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi

orang tersebut harus dapat menginterpretasikan

secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.

(3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah

memahami objek yang dimaksud dapat

menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang

dketahui tersebut pada situasi yang lain.

(4) Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk

menjabarkan dan/atau memisahkan, kemudian

mencari hubungan antara komponen-komponen

yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang

diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu


sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila

orang tersebut telah dapat membedakan, atau

memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram

(bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.

(5) Sintesis (syntesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang

untuk merangkum atau meletakkan dalam satu

hubungan yang logis dari komponen-komponen

pengetahuan yang dimiliki.

(6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang

untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap

suatu objek tertentu. Penilaian ini didasarkan pada

suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-

norma yang berlaku di masyarakat.

Pengukuran Pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi

materi yang ingin diukur dan subyek penelitian atau

responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita

ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-

tingkat tersebut.
Menurut Arikunto (2014) penentuan tingkat

pengetahuan responden dibagi dalam 3 kategori, yaitu

baik, cukup, dan kurang. Kriterianya sebagai berikut :

(1) Baik : bila subjek mampu menjawab dengan benar

76%-100% dari seluruh pertanyaan.

(2) Cukup : bila dubjek mampu menjawab dengan

benar 56%-75% dari seluruh pertanyaan.

(3) Kurang : bila subjek mampu menjawab dengan

benar < 56% dari seluruh pertanyaan.

3) Tingkat pendidikan, makin rendah tingkat pendidikan,

makin mendorong berlangsungnya pernikahaan usia dini.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar

peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,

serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,

bangsa dan negara.

Pendidikan secara umum dapat didefenisikan adalah

suatu usaha pembelajaran yang direncanakan untuk

mempengaruhi individu ataupun kelompok sehingga mau

melaksanakan tindakan-tindakan untuk menghadapi

masalah-masalah dan meningkatkan kesehatannya.


Berkaitan dengan defenisi tersebut, maka pendidikan

dibedakan atas tiga jenis yaitu pendidikan formal,

pendidikan informal, dan pendidikan nonformal.

Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang

terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan

anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah,

dan pendidikan tinggi. Pendidikan formal terdiri dari

pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal

berstatus swasta.

Semakin muda usia menikah, maka semakin rendah

tingkat pendidikan yang dicapai oleh seorang anak.

Pernikahan anak seringkali menyebabkan anak tidak lagi

bersekolah, karena kini ia mempunyai tanggungjawab

baru, yaitu sebagai istri dan sebagai calon ibu, atau kepala

keluarga dan calon ayah, yang lebih banyak berperan

mengurus rumah tangga dan anak yang akan hadir. Pola

lainnya yaitu karena biaya pendidikan yang tak terjangkau,

anak berhenti sekolah dan kemudian dinikahkan untuk

mengalihkan beban tanggungjawab orangtua menghidupi

anak tersebut kepada pasangannya (UNICEF, 2013). Dari

berbagai penelitian didapatkan bahwa terdapat korelasi

antara tingkat pendidikan yang rendah dan usia saat

menikah.
Remaja khususnya wanita mempunyai kesempatan

yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal

dan pekerjaan yang pada akhirnya mempengaruhi

kemampuan pengambilan keputusan dari pemberdayaan

meraka untuk menunda perkawinan. Peran pendidikan

anak-anak sangat mempunyai peran yang besar. Jika

seorang anak putus sekolah pada usia wajib sekolah,

kemudian mengisi waktu dengan bekerja. Saat ini anak

tersebut sudah merasa cukup mandiri, sehingga merasa

mampu untuk menghidupi diri sendiri.

Hal yang sama juga jika anak yang putus sekolah

tersebut mengganggur. Dalam keadaan kekosongan waktu

tanpa bekerja membuat mereka akhirnya melakukan hal-

hal yang tidak produktif. Salah satunya adalah menjalin

hubungan dengan lawan jenis, yang jika diluar kontrol

membuat kehamilan di luar nikah.

Disini, dirasa betul makna wajib belajar 9 tahun.

Jika asumsi kita anak masuk sekolah pada usia 6 tahun,

maka saat wajib belajar 9 tahun terlewati, anak tersebut

sudah berusia 15 tahun. Di harapkan dengan wajib belajar

9 tahun (syukur jika di kemudian hari bertambah menjadi

12 tahun), maka akan punyadampak yang cukup signifikan

terhadap laju angka pernikahan dini.


Menurut Umar Tirtarahardja dan La Sulo (2013)

klasifikasi pendidikan meliputi :

a) Pendidikan dasar

Pendidikan dasar diselenggarakan untuk

memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk

hidup dalam masyarakat berupa pengembangan

sikap, pengetahuan dan keterampilan. Disamping itu

juga berfungsi mempersiapkan peserta didik yang

memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan

menengah.

b) Pendidikan menengah

Pendidikan menengah yang lamanya tiga

tahun sesudah pendidikan dasar, diselenggarakan di

SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) atau satuan

pendidikan yang sederajat.

c) Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan

pendidikan menengah, yang diselenggarakan untuk

menyiapkan peserta didik menjadi anggota

masyarakat yang memiliki kemampuan adademik

dan profesional yang dapat menerapkan,

mengembangkan dan menciptakan ilmu

pengetahuan, teknologi dan kesenian.


4) Sikap dan hubungan dengan orang tua. Pernikahan usia

dini dapat berlangsung karena adanya sikap patuh dan atau

menentang yang dilakukan remaja terhadap perintah orang

tua. Hubungan dengan orang tua menentukan terjadinya

pernikahan usia dini. Dalam kehidupan sehari-hari sering

ditemukan pernikahan pada remaja karena ingin

melepaskan diri dari pengaruh lingkungan orang tua.

5) Sebagai jalan keluar untuk lari dari berbagai kesulitan

yang dihadapi, termasuk kesulitan ekonomi. Tidak jarang

ditemukan pernikahan yang berlangsung dalam usia sangat

muda, diantaranya disebabkan karena remaja

menginginkan status ekonomi yang lebih tinggi.

b. Faktor keluarga

Peran orang tua dalam menentukan pernikahan anak-anak

mereka dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:

1) Sosial ekonomi keluarga

Ekonomi keluarga yang rendah tidak cukup

menjamin kelanjutan pendidikan anak sehingga apabila

seorang anak perempuan telah menamatkan pendidikan

dasar dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan

tinggi, ia hanya tinggal di rumah.

Terjadi pada masyarakat yang tergolong menengah

ke bawah. Biasanya berawal dari ketidakmampuan mereka


melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih

tinggi. Terkadang mereka hanya bisa melanjutkan sampai

sekolah menengah saja atau bahkan tidak bias mengenyam

sedikitpun kenikmatan pendidikan, sehingga menikah

merupakan sebuah solusi dari kesulitan yang mereka

hadapi. Terutama bagi perempuan, dimana kondisi

ekonomi yang sulit, para orang tua lebih memilih

mengantarkan putri mereka untuk menikah, karena paling

tidak sedikit banyak beban mereka yang akan berkurang.

Tetapi berbeda dengan anak laki-laki yang mempunyai

peran dalam kehidupan berumah tangga sangatlah besar.

Sehingga bagi kaum adam minimal harus mempunyai

keterampilan terlebih dahulu sebagai modal awal

membangun rumah tangga mereka. Bagai sebuah keluarga

yang miskin, pernikahan usia dini dapat menyelamatkan

masalah sosial ekonomi keluarga.

Akibat beban ekonomi yang dialami, orang tua

mempunyai keinginan untuk menikahkan anak gadisnya.

Pernikahan tersebut akan memperoleh dua keuntungan,

yaitu tanggung jawab terhadap anak gadisnya menjadi

tanggung jawab suami atau keluarga suami dan adanya

tambahan tenaga kerja di keluarga, yaitu menantu yang

dengan sukarela membantu keluarga istrinya.


Motif ekonomi, harapan tercapainya keamanan

sosial dan finansial setelah menikah menyebabkan banyak

orangtua menyetujui pernikahan usia dini (UNICEF,

2013). Secara umum, pernikahan anak lebih sering

dijumpai di kalangan keluarga miskin, meskipun terjadi

pula di kalangan keluarga ekonomi atas. Di banyak

negara, pernikahan anak seringkali terkait dengan

kemiskinan. Sayangnya, pernikahan gadis ini juga

menikah dengan dengan pria berstatus ekonomi tak jauh

berbeda, sehingga menimbulkan kemiskinan baru.

2) Tingkat pendidikan keluarga

Makin rendah tingkat pendidikan keluarga, makin

sering ditemukan pernikahan diusia dini. Peran tingkat

pendidikan berhubungan erat dengan pemahaman keluarga

tentang kehidupan berkeluarga.

Sebagian yang berpendidikan dasar atau menengah

lebih cenderung untuk dinikahkan oleh orang tuanya,

dibandingkan dengan yang berpendidikan tinggi, dalam

kekosongan waktu tanpa pekerjaan membuat mereka

akhirnya melakukan hal-hal yang tidak produktif, salah

satunya adalah menjalin hubungan dengan lawan jenis,

yang jika diluar kontrol membuat kehamilan diluar

nikah.
3) Kepercayaan dan atau adat istiadat yang berlaku dalam

keluarga

Kepercayaan dan adat istiadat yang berlaku dalam

keluarga juga menentukan terjadinya pernikahan usia dini.

Sering ditemukan orang tua menikahkan anak mereka

dalam usia yang sangat muda karena keinginan untuk

meningkatkan status sosial keluarga, mempererat

hubungan antar keluarga, dan atau untuk menjaga garis

keturunan keluarga.

4) Kemampuan yang dimiliki keluarga dalam menghadapi

masalah remaja

Jika keluarga kurang memiliki pilihan dalam

menghadapi atau mengatasi masalah remaja, (misal: anak

gadisnya melakukan perbuatan zina), anak gadis tersebut

dinikahkan sebagai jalan keluarnya. Tindakan ini

dilakukan untuk menghadapi rasa malu atau rasa bersalah.

c. Faktor masyarakat lingkungan

1) Adat istiadat (budaya)

Terdapat anggapan di berbagai daerah di Indonesia

bahwa anak gadis yang telah dewasa, tetapi belum

berkeluarga, akan dipandang “aib” bagi keluarganya.

Upaya orang tua untuk mengatasi hal tersebut ialah


menikahkan anak gadis yang dimilikinya secepat mungkin

sehingga mendorong terjadinya pernikahan usia dini.

Budaya berasal dari sangskerta (buddhayah) yaitu

bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi”atau “akal”

semua hal-hal yang berkaitan dengan akal. Kebudayaan

merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya

terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian,

moral, kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai

anggota masyarakat.

Faktor budaya bisa jadi merupakan salah satu

penyebab pernikahan dini. Usia layak menikah menurut

budaya dikaitkan dengan datangnya haid pertama bagi

wanita. Dengan demikian banyak remaja yang belum

layak menikah, terpaksa menikah karena desakan budaya.

Faktor budaya juga turut mengambil andil yang

cukup besar, karena kebudayaan ini diturunkan dan sudah

mengakar layaknya kepercayaan. Dalam budaya setempat

mempercayai apabila anak perempuannya tidak segera

menikah, itu akan memalukan keluarga karena dianggap

tidak laku dalam lingkungannya. Atau jika ada orang yang

secara finansial dianggap sangat mampu dan meminang

anak mereka, dengan tidak memandang usia atau status

pernikahan, kebanyakan orang tua menerima pinangan


tersebut karena beranggapan masa depan sang anak akan

lebih cerah, dan tentu saja ia diharapkan bisa mengurangi

beban sang orang tua. Tak lepas dari hal tersebut, tentu

saja banyak dampak yang tidak terpikir oleh mereka

sebelumnya.

Menurut beberapa penelitian, perkawinan usia muda

terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan

perawan tua sehingga segera dikawinkan. Orang tua

menganggap bahwa perkawinan dalam usia muda

mempunyai suatu faktor pematangan. Dibalik motivasi

orang tua yang ingin sekali untuk segera mengawinkan

anak-anaknya ialah demi melepaskan mereka dari

tanggung jawab atas perilaku kejahatan dan kenakalan

anaknya.

Terdapat hubungan yang signifikan antara sosial

budaya terhadap menikah usia muda, ada kecenderungan

pengaruh budaya masyarakat menyebab menikah usia

muda. Keberadaan budaya lokal memberi pengaruh

terhadap pelaksanaan menikah usia muda, sehingga

masyarakat tidak memberikan pandangan negatif terhadap

pasangan yang melangsungkan pernikahan meskipun pada

usia yang masih remaja. Hal ini yang menyebabkan kaum

pemuka adat tidak merniliki kemampuan untuk dapat


mengatur sistem budaya yang mengikat bagi warganya

dalam melangsungkan perkawinan karena batasan tentang

seseorang yang dikatakan dewasa masih belum jelas.

Menurut beberapa penelitian menyatakan bahwa

menikah merupakan kodrat manusia, dan sebagian

masyarakat juga meyakini bahwa pada wanita sejak mulai

mentsruasi beranggapan kesiapan wanita untuk

berketurunan dan tidak bertentangan dengan norma agama

tertentu, agama islam yang mereka anut.

Budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat

seperti anggapan negatif terhadap perawan tua terkesan

tidak laku jika tidak menikah melebihi usia 18 tahun atau

kebiasaan masyarakat yang menikah di usia sekitar 14-16

tahun, menikah pada kisaran usia ini dianggap sebagai

suatu kebanggaan, hal inilah menjadi faktor yang

mendorong tingginya jumlah perkawinan muda. Sebagian

orang tua berharap mendapat bantuan dari anak setelah

menikah karena rendahnya ekonomi keluarga. Faktor yang

mempengaruhi median usia kawin pertama perempuan

diantaranya adalah faktor sosial, ekonomi, budaya dan

tempat tinggal (desa/kota).


2) Pandangan dan kepercayaan

Pandangan dan kepercayaan yang salah pada

masyarakat dapat pula mendorong terjadinya pernikahan

di usia dini. Contoh pandangan yang salah dan dipercayai

oleh masyarakat, yaitu anggapan bahwa kedewasaan

seseorang dinilai dari status penikahan, status janda lebih

baik daripada perawan tua dan kejantanan seseorang

dinilai dari seringnya melakukan pernikahan. Interpretasi

yang salah terhadap ajaran agama juga dapat

menyebabkan terjadinya pernikahan usia dini, misalnya

sebagian besar masyarakat juga pemuka agama

menganggap bahwa akil baliq ialah ketika seorang anak

mendapatkan haid pertama, berarti anak wanita tersebut

dapat dinikahkan, padahal akil baliq sesungguhnya terjadi

setelah seorang anak wanita melampaui masa remaja.

3) Penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan

Sering ditemukan pernikahan usia dini karena

beberapa pemuka masyarakat tertentu menyalahgunakan

wewenang atau kekuasaan yang dimilikinya, yaitu dengan

mempergunakan kedudukannya untuk nikah lagi dan lebih

memilih menikahi wanita yang masih muda, bukan dengan

wanita yang telah berusia lanjut.


4) Tingkat pendidikan masyarakat

Pernikahan usia dini dipengaruhi pula oleh tingkat

pendidikan masyarakat secara keseluruhan. Masyarakat

yang tingkat pendidikannya amat rendah cenderung

menikahkan anaknya dalam usia yang masih muda.

5) Tingkat ekonomi masyarakat

Masyarakat yang tingkat ekonominya kurang

memuaskan, sering memilih pernikahan sebagai jalan

keluar dalam mengatasi kesulitan ekonomi.

6) Tingkat kesehatan penduduk

Jika suatu daerah memiliki tingkat kesehatan yang

belum memuaskan dengan masih tingginya angka

kematian, sering pula ditemukan pernikahan usia dini di

daerah tersebut.

7) Perubahan nilai

Akibat pengaruh modernisasi, terjadi perubahan

nilai, yaitu semakin bebasnya hubungan antara pria dan

wanita.

8) Peraturan perundang-undangan

Peran peraturan perundang-undangan dalam

pernikahan usia dini cukup besar. Jika peraturan

perundang-undangan masih membenarkan pernikahan usia

dini, akan terus ditemukan pernikahan usia dini.


8. Dampak Pernikahan Usia Dini

Dampak yang terjadi akibat pernikahan usia dini menurut

(Kumalasari, 2013) yaitu:

a. Kesehatan perempuan

1) Alat reproduksi belum siap menerima kehamilan sehingga

dapat menimbulkan berbagai komplikasi

2) Kehamilan dini dan kurang terpenuhinya gizi bagi dirinya

sendiri

3) Resiko anemia dan meningkatnya angka kejadian depresi

4) Beresiko pada kematian usia dini

5) Meningkatkan angka kematian ibu (AKI)

6) Studi epidemiologi kanker serviks: resiko meningkat lebih

dari 10 kali bila jumlah mitra seks 6/ lebih atau bila

berhubungan seks pertama dibawah uais 15 tahun

7) Semakin muda perempuan memiliki anak pertama,

semakin rentan terkena serviks

8) Resiko terkena penyakit menular seksual

9) Kehilangan kesempatan mengembangkan diri

b. Kualitas anak

1) Bayi berat lahir rendah (BBLR) sangat tinggi, adanya

kebutuhan nutrisi yang harus lebih banyak untuk

kehamilannya dan kebutuhan pertumbuhan ibu sendiri.


2) Bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu yang berusia dibawah

18 tahun rata-rata lebih kecil dan bayi dengan BBLR

memiliki kemungkinan 5-30 kali lebih tinggi untuk

meninggal.

c. Keharmonisan keluarga dan perceraian

1) Banyaknya pernikahan usia muda berbanding lurus

dengan tingginya angka perceraian

2) Ego remaja yang masih tinggi

3) Banyaknya kasus perceraian merupakan dampak dari

mudanya usia pasangan bercerai ketika memutuskan untuk

menikah

4) Perselingkuhan

5) Ketidakcocokan hubungan dengan orang tua maupun

mertua

6) Psikologis yang belum matang, sehingga cenderung labil

dan emosional

7) Kurang mampu untuk bersosialisasi dan adaptasi

9. Pencegahan Pernikahan Usia Dini

Cara menghindari pernikahan usia dini menurut Teguh

Firmansyah (2016) memiliki 3 cara, yaitu:

a. Pendidikan Agama

Pendidikan agama adalah cara awal dalam pencegahan

pernikahan usia dini. Hal tersebut dengan memperbanyak


beribadah dan mengetahui batas umur menikah dalam agama

Islam.

b. Didikan Orangtua

Didikan orangtua mengutamakan persoalan pribadi anak.

Misal anak putri, selain sekolah juga mengisi waktu dengan cara

mengajarkannya memasak. Sementara untuk anak laki-laki,

tambahannya orangtua mengarahkannya dengan cara membantu

orangtuanya, semisal pergi ke sawah.

c. Menjauhi Pergaulan Negatif

Menjauhi pergaulan negatif, ini sangat perlu dijauhi oleh

seorang anak, sebab pergaulan seperti itu sangat menyesatkan

bagi seorang anak di bawah umur.

Sedangkan menurut Dokter Internsip Puskesmas Aikmel dalam

Duta SMART (2016) solusi dalam pencegahan pernikahan usia dini

adalah :

a. Pendidikan

Supaya dapat menata dan merencanakan masa depan yang

lebih cerah.

b. Bekerja

Jika orangtua tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya

karena faktor ekonomi, lebih baik anak diarahkan ke kegiatan

positif seperti bekerja.


B. Kerangka Teori

Kerangka teori adalah rangkuman dari penjabaran teori yang sudah

diuraikan sebelumnya dalam bentuk naratif, untuk memberikan batasan

tentang teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan

(Hidayat, A.A. 2014). Adapun kerangka teori sebagai berikut :

Pernikahan Dini

Faktor individu Faktor keluarga Faktor masyarakat


lingkungan
1. Perkembangan fisik, 1. Sosial ekonomi
mental, dan sosial keluarga 1. Faktor masyarakat
2. Pengetahuan 2. Tingkat pendidikan lingkungan
3. Tingkat pendidikan keluarga 2. Adat istiadat (budaya)
4. Sikap dan hubungan 3. Kepercayaan dan 3. Pandangan dan
dengan orang tua atau adat istiadat kepercayaan
5. Sebagai jalan keluar yang berlaku dalam 4. Penyalahgunaan
untuk lari dari keluarga wewenang atau
berbagai kesulitan 4. Kemampuan yang kekuasaan
yang dihadapi, dimiliki keluarga 5. Tingkat pendidikan
termasuk kesulitan dalam menghadapi masyarakat
ekonomi. masalah remaja 6. Tingkat ekonomi
masyarakat
7. Tingkat kesehatan
penduduk
8. Perubahan nilai
9. Peraturan perundang-
undangan
Gambar 2.1 Kerangka teori sumber :
C. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan Justifikasi ilmiah terhadap topik yang

dipilih sesuai dengan identifikasi masalah. Kerangka konsep harus didukung

landasan teori yang kuat serta di tunjang oleh informasi yang bersumber

pada berbagai laporan ilmiah, hasil penelitian ,jurnal penelitian, dan lain –

lain (Hidayat, 2014). Adapun kerangka konsepnya sebagai berikut :

1. Pengetahuan
2. Pendidikan
3. Pekerjaan
KEK
4. Umur
5. Paritas
6. Jarak kelahiran

Gambar 2.2 : Kerangka Konsep


D. Hipotesis penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara penelitian, patokan duga, atau

dalil sementara yang kebenaranya akan di buktikan dalam penelitian

(Notoatmojo, 2012). Hipotesis dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Ada hubungan pengetahuan terhadap Kekurangan Energi Kronik

(KEK) pada ibu hamil di Puskesmas Penana’e Kota Bima Tahun

2021.

2. Ada hubungan pendidikan terhadap Kekurangan Energi Kronik

(KEK) pada ibu hamil di Puskesmas Penana’e Kota Bima Tahun

2021.

3. Ada hubungan pekerjaan terhadap Kekurangan Energi Kronik (KEK)

pada ibu hamil di Puskesmas Penana’e Kota Bima Tahun 2021.

4. Ada hubungan umur terhadap Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada

ibu hamil di Puskesmas Penana’e Kota Bima Tahun 2021.

5. Ada hubungan paritas terhadap Kekurangan Energi Kronik (KEK)

pada ibu hamil di Puskesmas Penana’e Kota Bima Tahun 2021.

6. Ada hubungan jarak kelahiran terhadap Kekurangan Energi Kronik

(KEK) pada ibu hamil di Puskesmas Penana’e Kota Bima Tahun

2021.

Anda mungkin juga menyukai