Upaya Peningkatan Kerja Sama Tim melalui Intervensi Organization Development
pada Coffee Shop di Bandung
Ridha Nur Septiany1, Ken Azhar2, Laila Intan Permata Sari3
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya peningkatan kerja sama tim melalui
intervensi Organization Development pada coffee shop di Bandung. Fokus penelitian
diarahkan pada kondisi kerja sama tim, hambatan yang memengaruhi efektivitas kerja sama,
serta bentuk intervensi yang relevan untuk memperkuat koordinasi kerja dalam operasional
harian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Lokasi
penelitian dilakukan pada salah satu coffee shop di Bandung yang dipilih karena aktivitas
pelayanannya sangat bergantung pada koordinasi antarkaryawan. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data
menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kerja sama tim pada coffee shop telah terbentuk dalam pelaksanaan tugas
sehari-hari, tetapi belum berjalan secara optimal. Hambatan yang ditemukan meliputi
komunikasi internal yang belum konsisten, pembagian beban kerja yang belum seimbang,
hubungan interpersonal yang masih perlu diperkuat, serta koordinasi operasional yang masih
bergantung pada situasi. Untuk menjawab kondisi tersebut, intervensi Organization
Development yang dinilai relevan meliputi pelatihan komunikasi kerja, pelatihan koordinasi
pelayanan, team building, briefing rutin, dan evaluasi kerja tim secara berkala. Intervensi
tersebut dipandang mampu membantu karyawan memahami peran kerja, meningkatkan
kualitas komunikasi, memperkuat hubungan antaranggota tim, dan membangun pola kerja
sama yang lebih terarah. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi
Organization Development berperan penting dalam mendukung peningkatan kerja sama tim
pada coffee shop, sehingga dapat menunjang efektivitas operasional dan kualitas pelayanan
kepada pelanggan.
Kata Kunci: kerja sama tim, organization development, intervensi organisasi, team building,
coffee shop
Latar Belakang
Perkembangan usaha coffee shop di Kota Bandung menunjukkan bahwa bisnis ini tidak
lagi dipandang sekadar sebagai tempat menjual minuman, tetapi telah menjadi bagian dari gaya
hidup, ruang interaksi sosial, dan arena persaingan layanan yang semakin dinamis. Dalam
konteks Bandung, tren café-hopping memperlihatkan bahwa konsumen cenderung aktif
membandingkan pengalaman yang mereka peroleh dari satu kedai ke kedai lain. Kondisi ini
membuat coffee shop tidak cukup hanya mengandalkan produk dan suasana tempat, melainkan
juga perlu menjaga kualitas interaksi layanan yang diberikan oleh tim kerja di dalamnya.
Penelitian Aulia dan Wiyono (2023) menunjukkan bahwa tren café-hopping di Kota Bandung
mencerminkan persaingan yang tinggi dalam industri kedai kopi, sementara Ahmad dan Tantra
(2025) menegaskan bahwa kualitas pelayanan pada coffee shop di Bandung berpengaruh
signifikan terhadap kepuasan pelanggan dan loyalitas mereka. Artinya, keberhasilan coffee
shop sangat berkaitan dengan bagaimana organisasi di dalamnya mampu menghadirkan
layanan yang konsisten melalui kerja tim yang efektif.
Pada praktiknya, pelayanan di coffee shop bersifat sangat bergantung pada koordinasi
antarkaryawan. Proses pelayanan tidak dijalankan oleh satu orang saja, melainkan melibatkan
rangkaian kerja yang saling terhubung, mulai dari penerimaan pesanan, pembuatan minuman,
penyajian, hingga penanganan keluhan pelanggan. Karena itu, persoalan kecil seperti
miskomunikasi antarshift, ketidakjelasan pembagian peran, lambatnya respons, atau kurangnya
saling bantu dalam jam sibuk dapat langsung memengaruhi pengalaman pelanggan. Jung, Lee,
dan Lim (2023) menjelaskan bahwa kerja sama tim yang berhasil sangat dipengaruhi oleh
kualitas hubungan interpersonal antaranggotanya, dan hubungan tersebut berdampak pada
performa tim. Temuan ini penting karena karakter kerja di coffee shop juga berada dalam
rumpun layanan hospitality yang menuntut koordinasi cepat, komunikasi terbuka, dan
sensitivitas terhadap kebutuhan pelanggan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama dalam coffee shop tidak selalu
terletak pada aspek teknis operasional, tetapi juga pada dinamika organisasi di level tim. Di
sinilah intervensi Organization Development (OD) menjadi relevan. Dalam praktik OD,
intervensi tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki struktur atau prosedur kerja, tetapi juga
untuk mengembangkan pola hubungan, komunikasi, serta efektivitas kerja kolektif. Perwira
dan Widarnandana (2022) menyebutkan bahwa team building intervention merupakan salah
satu bentuk intervensi yang paling populer dalam praktik pengembangan organisasi, meskipun
hasilnya dapat berbeda-beda apabila tidak dibangun di atas kerangka yang jelas. Temuan ini
memberi isyarat bahwa upaya peningkatan kerja sama tim perlu dirancang secara sadar,
sistematis, dan sesuai dengan masalah nyata yang dihadapi organisasi, bukan sekadar dilakukan
sebagai kegiatan seremonial.
Salah satu bentuk intervensi OD yang cukup dekat dengan kebutuhan operasional coffee
shop adalah pelatihan dan team building. Kedua pendekatan ini penting karena kerja sama tim
tidak tumbuh secara otomatis hanya karena individu bekerja dalam tempat yang sama. Dewi
dan Haerdany (2026) menunjukkan bahwa kerja sama tim memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja, tetapi pelatihan team building jangka pendek belum tentu langsung
menghasilkan perubahan kolektif yang terinternalisasi. Temuan tersebut justru memperlihatkan
bahwa pengembangan tim perlu dipahami sebagai proses yang berkelanjutan. Dengan kata lain,
apabila sebuah coffee shop dihadapkan pada masalah koordinasi, komunikasi, atau
kekompakan kerja, maka intervensi OD menjadi relevan untuk membantu organisasi
membangun pola kerja yang lebih sehat dan lebih efektif. Dalam konteks layanan, perubahan
ini penting karena kualitas hubungan antarkaryawan akan sangat menentukan kelancaran
proses pelayanan kepada pelanggan.
Selain itu, keterkaitan antara kondisi internal karyawan dan hasil layanan kepada
pelanggan juga telah diperlihatkan dalam penelitian Son, Kim, dan Kim (2021) pada industri
coffee shop. Penelitian tersebut menemukan bahwa lingkungan kerja yang baik dan pelatihan
yang berhubungan dengan layanan dapat membentuk service climate yang positif bagi
karyawan, dan pada akhirnya berhubungan dengan kepuasan pelanggan. Temuan ini
menegaskan bahwa kualitas pelayanan tidak lahir secara tiba-tiba di hadapan konsumen,
melainkan dibentuk terlebih dahulu dari proses internal organisasi. Sejalan dengan itu, Yang,
Luu, dan Qian (2022) menunjukkan bahwa budaya pengembangan dalam organisasi hospitality
berhubungan positif dengan inovasi layanan di tingkat tim. Berdasarkan uraian tersebut, dapat
dipahami bahwa coffee shop di Bandung memerlukan perhatian bukan hanya pada aspek
pemasaran dan produk, tetapi juga pada pengembangan organisasi, khususnya upaya
meningkatkan kerja sama tim melalui intervensi OD. Oleh sebab itu, penelitian ini penting
dilakukan untuk memahami bagaimana intervensi Organization Development dapat menjadi
upaya yang tepat dalam memperkuat kerja sama tim pada coffee shop di Bandung.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pendekatan ini
dipilih karena penelitian berfokus pada pemahaman mendalam mengenai kerja sama tim serta
upaya peningkatannya melalui intervensi Organization Development pada coffee shop di
Bandung.
Lokasi penelitian dilakukan pada salah satu coffee shop di Bandung. Nama objek
penelitian tidak dicantumkan untuk menjaga kerahasiaan identitas, namun karakteristik umum
objek tetap dijelaskan sesuai kebutuhan penelitian. Subjek penelitian terdiri atas pemilik atau
manajer serta beberapa karyawan yang terlibat langsung dalam operasional coffee shop.
Informan dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan dan pengetahuan mereka terhadap
masalah yang diteliti.
Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan
untuk melihat langsung pola kerja sama tim dalam kegiatan operasional. Wawancara digunakan
untuk menggali informasi mengenai kondisi kerja sama tim, hambatan yang dihadapi, dan
bentuk intervensi yang diperlukan. Dokumentasi dipakai sebagai data pendukung penelitian.
Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Keabsahan data dijaga dengan triangulasi sumber dan triangulasi teknik agar data yang
diperoleh lebih akurat dan dapat dipercaya.
Hasil dan Pembahasan
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah salah satu coffee shop di Kota Bandung yang bergerak
di bidang usaha makanan dan minuman. Coffee shop ini dipilih sebagai lokasi penelitian karena
aktivitas operasionalnya sangat bergantung pada kerja sama antaranggota tim, terutama dalam
proses pelayanan kepada pelanggan. Dalam kegiatan sehari-hari, coffee shop tidak hanya
menuntut keterampilan teknis dalam menyiapkan produk, tetapi juga membutuhkan koordinasi
yang baik antarpegawai agar pelayanan dapat berjalan lancar, cepat, dan sesuai harapan
pelanggan.
Sebagai usaha yang berorientasi pada pelayanan, coffee shop ini melibatkan beberapa
karyawan yang menjalankan tugas yang saling berkaitan. Pembagian kerja pada umumnya
mencakup bagian kasir, barista, pelayanan pelanggan, serta bagian pendukung operasional
lainnya. Masing-masing peran memiliki tanggung jawab yang berbeda, namun pelaksanaannya
tetap memerlukan komunikasi dan kerja sama yang konsisten. Ketika salah satu bagian tidak
berjalan dengan baik, kondisi tersebut dapat memengaruhi kelancaran pelayanan secara
keseluruhan.
Dalam pelaksanaan operasional, coffee shop ini menerapkan pola kerja yang menuntut
interaksi langsung antarpegawai, baik pada saat menerima pesanan, menyiapkan minuman,
menyajikan produk, maupun menangani kebutuhan pelanggan di area pelayanan. Situasi kerja
seperti ini menunjukkan bahwa keberhasilan operasional tidak hanya ditentukan oleh
kemampuan individu, tetapi juga oleh kemampuan tim dalam membangun koordinasi, saling
membantu, dan menyesuaikan diri dengan dinamika kerja yang berlangsung, terutama pada
jam-jam ramai.
Pemilihan coffee shop sebagai objek penelitian juga didasarkan pada adanya karakteristik
organisasi yang sesuai dengan fokus penelitian, yaitu pentingnya kerja sama tim dalam
mendukung efektivitas pelayanan. Di sisi lain, lingkungan kerja pada coffee shop sering
menghadirkan tantangan tersendiri, seperti tingginya intensitas interaksi, pembagian tugas
yang harus berjalan cepat, serta kebutuhan untuk menjaga konsistensi layanan. Kondisi tersebut
menjadikan coffee shop sebagai objek yang relevan untuk mengkaji upaya peningkatan kerja
sama tim melalui intervensi Organization Development.
B. Kondisi Kerja Sama Tim pada Coffee Shop
Kerja sama tim pada coffee shop menjadi unsur yang sangat penting karena seluruh proses
pelayanan berjalan melalui keterhubungan antarperan di dalam organisasi. Aktivitas
operasional tidak hanya bertumpu pada satu karyawan, tetapi berlangsung melalui rangkaian
kerja yang saling berkaitan, mulai dari menerima pesanan, menyiapkan minuman, menyajikan
produk, hingga merespons kebutuhan pelanggan di area pelayanan. Dalam kondisi seperti ini,
kelancaran pelayanan sangat dipengaruhi oleh kemampuan anggota tim untuk saling
berkoordinasi, berkomunikasi, dan memahami tanggung jawab masing-masing. Pada coffee
shop yang menjadi objek penelitian, kerja sama tim telah tampak dalam pelaksanaan tugas
sehari-hari, terutama saat karyawan harus bekerja secara bersamaan dalam menghadapi ritme
pelayanan yang berubah-ubah.
Berdasarkan pengamatan pada aktivitas operasional, kerja sama tim terlihat dalam
pembagian tugas yang dilakukan menurut fungsi kerja. Karyawan yang bertugas sebagai kasir
berperan menerima pesanan dan melakukan transaksi, sementara barista menyiapkan minuman
sesuai pesanan, dan karyawan lain membantu pelayanan di area pelanggan maupun mendukung
kebersihan dan kerapian ruang kerja. Pola seperti ini menunjukkan bahwa setiap anggota tim
memiliki posisi yang berbeda, tetapi tetap bergantung satu sama lain. Pada saat kondisi
pelayanan masih normal, koordinasi antarkaryawan cenderung berjalan cukup baik karena alur
kerja masih dapat dikendalikan dan komunikasi masih berlangsung secara langsung.
Namun, kerja sama tim pada coffee shop ini belum sepenuhnya berjalan secara optimal.
Dalam situasi tertentu, terutama pada jam ramai, mulai terlihat adanya hambatan dalam
koordinasi kerja. Beberapa bentuk hambatan yang muncul antara lain keterlambatan
penyampaian informasi, kurang cepatnya respons antaranggota tim, serta pembagian tugas
yang kadang belum berjalan secara seimbang. Kondisi tersebut membuat ritme pelayanan
menjadi kurang stabil. Dalam beberapa keadaan, ada anggota tim yang harus menangani
beberapa pekerjaan sekaligus, sedangkan anggota lain belum sepenuhnya menyesuaikan diri
terhadap kebutuhan operasional yang sedang meningkat. Situasi ini menunjukkan bahwa kerja
sama tim sebenarnya sudah terbentuk, tetapi masih memerlukan penguatan agar setiap anggota
dapat bekerja secara lebih selaras.
Selain itu, kondisi kerja sama tim juga dipengaruhi oleh pola komunikasi yang
berkembang dalam lingkungan kerja. Komunikasi antaranggota tim pada dasarnya sudah
terjadi dalam bentuk arahan langsung, pemberian informasi pesanan, maupun koordinasi saat
pelayanan berlangsung. Akan tetapi, komunikasi yang masih bersifat spontan dan situasional
kadang menyebabkan informasi tidak tersampaikan secara utuh. Dalam organisasi pelayanan
seperti coffee shop, komunikasi yang kurang terstruktur dapat menimbulkan kesalahpahaman
kecil yang pada akhirnya memengaruhi kelancaran kerja tim. Penelitian mengenai karyawan
hospitality di Portugal menunjukkan bahwa kepuasan terhadap komunikasi internal dan
dukungan organisasi berhubungan dengan kondisi kerja karyawan, termasuk bagaimana
mereka memandang lingkungan kerjanya secara positif (Ferreira et al., 2023). Temuan ini
memperlihatkan bahwa komunikasi internal bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi
juga berhubungan dengan kualitas relasi kerja di dalam organisasi.
Di sisi lain, hubungan antaranggota tim pada coffee shop ini memperlihatkan adanya
kebutuhan untuk membangun saling pengertian yang lebih kuat. Dalam pekerjaan yang
menuntut kecepatan, anggota tim tidak cukup hanya memahami tugas masing-masing, tetapi
juga perlu memiliki kepekaan terhadap kondisi rekan kerja, terutama ketika tekanan
operasional meningkat. Penelitian Jung, Lee, dan Lim (2023) pada industri hospitality
menjelaskan bahwa empati memiliki peran penting dalam membentuk hubungan interpersonal
di dalam tim, dan hubungan semacam itu berdampak pada keberhasilan teamwork. Dalam
konteks coffee shop, temuan ini relevan karena kerja sama yang baik tidak hanya ditentukan
oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh kemampuan anggota tim untuk saling memahami dan
menyesuaikan diri dalam situasi kerja yang dinamis.
Kondisi kerja sama tim yang belum sepenuhnya stabil juga dapat dilihat dari bagaimana
pelayanan kepada pelanggan sangat dipengaruhi oleh suasana kerja di internal organisasi.
Ketika komunikasi berjalan lancar dan anggota tim saling mendukung, pelayanan cenderung
lebih cepat, tertib, dan konsisten. Sebaliknya, ketika koordinasi melemah, dampaknya dapat
langsung terlihat pada kualitas layanan yang diterima pelanggan. Studi pada industri coffee
shop menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang baik dan pelatihan yang berkaitan dengan
pelayanan dapat membentuk service climate yang positif, dan kondisi tersebut berhubungan
dengan kepuasan pelanggan (Son, Kim, & Kim, 2021). Temuan ini menunjukkan bahwa
kualitas kerja sama tim pada coffee shop sesungguhnya tidak berdiri sendiri, melainkan
berkaitan erat dengan kualitas pelayanan yang dihasilkan organisasi.
Apabila dilihat secara umum, kondisi kerja sama tim pada coffee shop yang diteliti dapat
dikatakan telah terbentuk secara fungsional, tetapi belum berkembang secara optimal sebagai
kekuatan organisasi. Tim sudah bekerja bersama dalam menjalankan operasional, namun pola
kerja sama yang ada masih cenderung bergantung pada kebiasaan kerja harian dan belum
sepenuhnya didukung oleh penguatan yang sistematis. Hal ini terlihat dari masih adanya
hambatan dalam komunikasi, penyesuaian peran, dan respons kolektif pada saat beban kerja
meningkat. Dengan demikian, kondisi kerja sama tim pada coffee shop ini menunjukkan
adanya potensi yang baik, tetapi juga memperlihatkan kebutuhan akan intervensi yang dapat
memperkuat koordinasi, memperjelas peran, dan menumbuhkan kekompakan kerja secara
lebih berkelanjutan.
Temuan mengenai kondisi kerja sama tim pada coffee shop di Bandung menunjukkan
bahwa kerja sama di dalam organisasi pelayanan bersifat sangat dinamis dan sangat
dipengaruhi oleh kualitas interaksi antarkaryawan. Tim pada coffee shop bukan sekadar
kumpulan individu yang bekerja dalam satu ruang, melainkan unit kerja yang saling bergantung
dalam menjalankan pelayanan. Karena itu, ketika salah satu unsur dalam koordinasi melemah,
dampaknya dapat langsung dirasakan pada ritme kerja dan kualitas layanan. Hasil ini sejalan
dengan meta-analisis tentang mekanisme teamwork pada tim layanan yang menunjukkan
bahwa organisasi perlu memberi perhatian pada pelatihan teamwork dan aktivitas team
building untuk mendorong kolaborasi, membangun kepercayaan, memperkuat ikatan
interpersonal, dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dalam tim layanan (Pinho
et al., 2023).
Dari sudut pandang Organization Development, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa
persoalan kerja sama tim tidak cukup dipahami sebagai persoalan individu, tetapi perlu dilihat
sebagai bagian dari dinamika organisasi. Hambatan komunikasi, kurang meratanya pembagian
beban kerja, dan lemahnya respons kolektif pada jam sibuk menunjukkan bahwa organisasi
memerlukan intervensi yang tidak hanya berfokus pada teknis pekerjaan, tetapi juga pada
penguatan hubungan kerja dan pola koordinasi. Dalam konteks ini, intervensi seperti pelatihan
komunikasi kerja, briefing rutin, dan team building menjadi relevan karena dapat membantu
anggota tim memahami peran masing-masing sekaligus membangun pola interaksi yang lebih
sehat.
Pembahasan ini juga didukung oleh penelitian tentang internal service quality di sektor
hospitality yang menekankan bahwa kualitas layanan internal antarkaryawan penting dalam
lingkungan kerja yang penuh tekanan dan sering melibatkan pekerja muda atau belum
berpengalaman, karena dukungan dari rekan kerja dan atasan memengaruhi kelancaran
pekerjaan sehari-hari (Kim & Baker, 2021). Pada coffee shop, kondisi semacam ini sangat
mungkin muncul karena pekerjaan berlangsung cepat, berbasis layanan langsung, dan
menuntut respons yang hampir seketika. Oleh karena itu, kerja sama tim yang kuat tidak lahir
dengan sendirinya, melainkan perlu dibangun melalui proses pengembangan yang sadar dan
berkelanjutan.
Dengan demikian, kondisi kerja sama tim pada coffee shop di Bandung dapat dipahami
sebagai situasi yang sudah menunjukkan adanya kolaborasi dasar, tetapi masih membutuhkan
penguatan melalui intervensi OD. Secara teoritis, hasil ini menegaskan bahwa kerja sama tim
yang efektif ditopang oleh komunikasi internal yang baik, hubungan interpersonal yang positif,
dukungan organisasi, dan pengembangan tim yang terarah. Secara praktis, temuan ini
menunjukkan bahwa upaya peningkatan kerja sama tim pada coffee shop perlu diarahkan pada
pembentukan pola komunikasi yang lebih jelas, pembiasaan koordinasi yang konsisten, serta
pelaksanaan intervensi seperti pelatihan dan team building agar tim dapat bekerja lebih kompak
dalam mendukung kualitas pelayanan.
C. Hambatan dalam Kerja Sama Tim
Kerja sama tim pada coffee shop pada dasarnya sudah terbentuk melalui pembagian tugas
dan interaksi kerja sehari-hari, tetapi dalam pelaksanaannya masih ditemukan sejumlah
hambatan yang memengaruhi kelancaran koordinasi. Hambatan ini tidak selalu muncul dalam
bentuk konflik terbuka, melainkan lebih sering tampak dalam situasi operasional seperti
keterlambatan respons, informasi yang tidak tersampaikan secara utuh, serta kurangnya
penyesuaian antaranggota tim saat beban kerja meningkat. Dalam konteks coffee shop,
hambatan semacam ini menjadi penting karena setiap proses pelayanan berlangsung cepat dan
saling bergantung, sehingga gangguan kecil dalam kerja sama dapat langsung memengaruhi
ritme kerja tim.
Salah satu hambatan yang cukup menonjol adalah komunikasi internal yang belum
konsisten. Dalam operasional harian, komunikasi antaranggota tim sering berlangsung secara
spontan sesuai kebutuhan sesaat. Pola ini memang membantu pekerjaan berjalan cepat, tetapi
pada saat yang sama dapat menimbulkan kesalahpahaman apabila informasi tidak disampaikan
secara lengkap. Perubahan pesanan, prioritas pelayanan, atau kebutuhan bantuan di area
tertentu kadang tidak segera dipahami oleh seluruh anggota tim. Akibatnya, koordinasi menjadi
kurang efektif dan pekerjaan tertentu dapat menumpuk pada satu orang. Dalam lingkungan
hospitality, kepuasan terhadap komunikasi internal terbukti berkaitan dengan persepsi
dukungan organisasi dan kondisi kerja karyawan, yang berarti lemahnya komunikasi dapat
memengaruhi kualitas hubungan kerja di dalam organisasi (Ferreira et al., 2023).
Hambatan berikutnya adalah belum meratanya pembagian beban kerja. Pada kondisi
tertentu, terutama ketika jumlah pelanggan meningkat, ada anggota tim yang harus menangani
beberapa tugas sekaligus, sementara anggota lain belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan
kebutuhan operasional saat itu. Situasi ini tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kemauan
untuk membantu, tetapi sering muncul karena belum adanya pola koordinasi yang cukup jelas
mengenai siapa yang harus mengambil peran tambahan ketika ritme kerja berubah. Dalam
jangka pendek kondisi ini dapat membuat pelayanan menjadi lambat, sedangkan dalam jangka
lebih panjang dapat memunculkan rasa tidak seimbang dalam tim.
Selain itu, hubungan interpersonal antaranggota tim juga masih memerlukan penguatan.
Dalam pekerjaan yang berbasis pelayanan, interaksi antarkaryawan bukan hanya berkaitan
dengan tugas, tetapi juga dengan kepekaan sosial, saling memahami, dan kemampuan
membaca situasi kerja rekan satu tim. Ketika hubungan interpersonal belum terbangun dengan
kuat, anggota tim cenderung bekerja berdasarkan perannya masing-masing tanpa cukup peka
terhadap kebutuhan tim secara keseluruhan. Penelitian Jung, Lee, dan Lim (2023)
menunjukkan bahwa empati berperan penting dalam membentuk hubungan interpersonal dan
keberhasilan teamwork di industri hospitality. Temuan ini memperlihatkan bahwa hambatan
kerja sama tim tidak hanya bersumber dari aspek teknis, tetapi juga dari kualitas relasi
antaranggota tim.
Hambatan lain yang tidak kalah penting adalah kurangnya penguatan kerja sama secara
terstruktur dari pimpinan atau pengelola. Dalam banyak usaha layanan skala kecil, pola kerja
tim sering berkembang secara alami berdasarkan kebiasaan harian. Meskipun cara ini dapat
berjalan dalam situasi normal, pendekatan tersebut sering belum cukup untuk membangun
kerja sama yang kuat dan stabil, terutama ketika tim menghadapi tekanan operasional.
Ketiadaan briefing yang rutin, evaluasi kerja tim, atau arahan yang jelas mengenai standar
koordinasi dapat membuat anggota tim bekerja dengan pemahaman yang berbeda-beda. Dalam
kajian tentang hambatan teamwork, peran pemimpin disebut sangat menentukan karena
pemimpin berpengaruh besar dalam membentuk norma kolaborasi dan mendorong perilaku
kerja sama di dalam tim.
Di samping itu, kondisi kerja di coffee shop yang menuntut kecepatan juga berpotensi
menimbulkan tekanan kerja yang memengaruhi kualitas interaksi tim. Ketika beban kerja
meningkat, perhatian anggota tim cenderung terfokus pada penyelesaian tugas masing-masing.
Dalam situasi seperti ini, ruang untuk saling membantu atau berkoordinasi bisa menjadi lebih
sempit. Akibatnya, kerja sama tim yang seharusnya bersifat kolektif justru berubah menjadi
kerja individual yang berjalan berdampingan. Pada lingkungan kerja hospitality, kualitas
layanan internal antarkaryawan dipengaruhi oleh dukungan rekan kerja, kejelasan hubungan
kerja, dan orientasi internal organisasi. Jika unsur-unsur ini lemah, maka kerja sama tim akan
lebih mudah terganggu, khususnya dalam situasi kerja yang padat dan menekan (Kim & Baker,
2021).
Secara keseluruhan, hambatan dalam kerja sama tim pada coffee shop ini dapat dilihat
pada beberapa aspek utama, yaitu komunikasi yang belum sepenuhnya efektif, pembagian
beban kerja yang belum seimbang, hubungan interpersonal yang masih perlu diperkuat, serta
kurangnya penguatan koordinasi secara sistematis. Hambatan-hambatan tersebut menunjukkan
bahwa persoalan kerja sama tim bukan hanya soal kemampuan individu dalam menyelesaikan
tugas, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana organisasi membentuk pola komunikasi,
dukungan, dan kebiasaan kerja bersama di dalam tim.
Temuan mengenai hambatan kerja sama tim pada coffee shop di Bandung menunjukkan
bahwa masalah utama tidak terletak semata-mata pada kurangnya tenaga kerja atau tingginya
beban operasional, tetapi juga pada dinamika organisasi yang belum sepenuhnya mendukung
kolaborasi. Dari perspektif Organization Development, hambatan semacam ini perlu dipahami
sebagai gejala bahwa organisasi membutuhkan penguatan pada level hubungan kerja,
komunikasi internal, dan pembentukan norma tim. Dengan kata lain, kerja sama tim yang
belum optimal bukan hanya akibat dari tekanan kerja, tetapi juga akibat dari belum
terbentuknya sistem interaksi yang cukup kuat untuk menopang aktivitas pelayanan.
Hambatan komunikasi yang ditemukan dalam penelitian ini sejalan dengan pandangan
bahwa komunikasi internal berperan penting dalam membangun hubungan yang sehat antara
karyawan dan organisasi. Ferreira et al. (2023) menunjukkan bahwa kepuasan terhadap
komunikasi internal berhubungan dengan dukungan organisasi yang dirasakan karyawan dan
kepuasan kerja mereka. Dalam konteks coffee shop, hal ini berarti bahwa komunikasi yang
tidak jelas atau tidak konsisten bukan sekadar menghambat aliran informasi, tetapi juga dapat
melemahkan rasa saling terhubung di antara anggota tim. Ketika komunikasi internal belum
berjalan baik, kerja sama tim cenderung menjadi reaktif dan bergantung pada situasi, bukan
tumbuh sebagai pola kerja yang stabil.
Sementara itu, hambatan pada hubungan interpersonal menunjukkan bahwa teamwork
membutuhkan lebih dari sekadar pembagian tugas formal. Jung, Lee, dan Lim (2023)
menegaskan bahwa empati berpengaruh terhadap hubungan interpersonal dan pada akhirnya
terhadap performa tim dalam industri hospitality. Temuan ini relevan dengan kondisi coffee
shop, karena lingkungan kerja yang cepat dan padat justru menuntut anggota tim untuk
memiliki sensitivitas terhadap kondisi rekan kerjanya. Apabila hubungan interpersonal lemah,
maka bantuan antartim, penyesuaian peran, dan respons kolektif terhadap tekanan kerja akan
sulit terbentuk.
Selain itu, hambatan berupa belum kuatnya arahan dan pembiasaan kerja sama dari
pimpinan memperlihatkan bahwa kerja sama tim perlu dibentuk secara sadar. Literatur tentang
teamwork barriers menempatkan pemimpin sebagai aktor penting dalam membangun norma
kolaboratif, karena tanpa dorongan dan arahan yang jelas, anggota tim cenderung kembali
bekerja secara individual atau hanya berfokus pada tugas rutin masing-masing. Dalam usaha
seperti coffee shop, penguatan dari pimpinan dapat dilakukan melalui briefing singkat,
penegasan peran, evaluasi pelayanan, dan pembiasaan saling membantu dalam operasional.
Dengan demikian, hambatan dalam kerja sama tim pada coffee shop di Bandung dapat
dipahami sebagai kombinasi antara masalah komunikasi, relasi interpersonal, pembagian
peran, dan dukungan organisasi. Secara teoritis, hasil ini menegaskan bahwa teamwork yang
efektif menuntut komunikasi internal yang baik, empati antarkaryawan, layanan internal yang
sehat, dan kepemimpinan yang mendorong kolaborasi. Secara praktis, temuan ini menguatkan
perlunya intervensi OD seperti pelatihan komunikasi kerja, penguatan koordinasi operasional,
dan team building agar hambatan-hambatan tersebut tidak terus berulang dalam aktivitas
pelayanan sehari-hari.
D. Bentuk Intervensi Organization Development
Berdasarkan kondisi kerja sama tim dan hambatan yang ditemukan pada coffee shop di
Bandung, bentuk intervensi Organization Development yang relevan untuk diterapkan adalah
intervensi yang berfokus pada penguatan hubungan kerja, komunikasi internal, dan koordinasi
operasional. Dalam konteks usaha coffee shop, intervensi OD tidak harus diwujudkan dalam
program yang besar dan rumit, tetapi dapat dimulai dari langkah-langkah yang sesuai dengan
kebutuhan organisasi, terutama yang berkaitan dengan pelatihan, team building, briefing rutin,
dan evaluasi kerja tim. Intervensi semacam ini penting karena persoalan utama yang muncul
bukan hanya terletak pada teknis pelayanan, melainkan juga pada cara anggota tim bekerja
bersama dalam situasi kerja yang dinamis.
Bentuk intervensi pertama yang relevan adalah pelatihan komunikasi kerja. Pelatihan ini
diperlukan untuk membantu karyawan memahami pentingnya penyampaian informasi yang
jelas, singkat, dan tepat selama proses operasional berlangsung. Pada coffee shop, komunikasi
kerja memegang peranan penting karena alur pelayanan berjalan cepat dan sangat bergantung
pada ketepatan informasi antaranggota tim. Melalui pelatihan komunikasi, karyawan dapat
dibiasakan untuk menyampaikan pesanan, perubahan prioritas, dan kebutuhan bantuan secara
lebih terstruktur, sehingga risiko kesalahpahaman dalam operasional dapat dikurangi.
Penelitian pada sektor hospitality menunjukkan bahwa kepuasan terhadap komunikasi internal
berhubungan dengan dukungan organisasi yang dirasakan karyawan dan kepuasan kerja
mereka, sehingga perbaikan komunikasi internal menjadi langkah penting dalam memperkuat
hubungan kerja di dalam organisasi (Ferreira et al., 2023).
Bentuk intervensi kedua adalah pelatihan koordinasi pelayanan. Intervensi ini diarahkan
untuk memperjelas pembagian peran, alur kerja, dan pola saling membantu dalam situasi
operasional yang berbeda, terutama pada jam sibuk. Pelatihan semacam ini tidak hanya
mengajarkan tugas masing-masing, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa pelayanan
adalah hasil kerja kolektif. Pada coffee shop, pelatihan koordinasi dapat dilakukan melalui
simulasi operasional, latihan pembagian tugas pada kondisi ramai, dan pembiasaan respons
cepat terhadap kebutuhan tim. Pelatihan dan pengembangan dalam industri hospitality terbukti
berhubungan positif dengan performa kerja, khususnya ketika didukung oleh komitmen
organisasi yang baik, sehingga intervensi pelatihan menjadi relevan untuk memperkuat
efektivitas kerja tim dalam layanan langsung (Karatepe et al., 2023).
Intervensi ketiga yang sangat penting adalah team building. Intervensi ini dibutuhkan
karena kerja sama tim tidak cukup dibangun hanya melalui pembagian tugas formal, tetapi juga
memerlukan hubungan interpersonal yang positif antaranggota tim. Team building dapat
dilakukan melalui kegiatan refleksi tim, diskusi bersama mengenai hambatan kerja, permainan
kolaboratif sederhana, maupun forum evaluasi yang memberi ruang bagi anggota tim untuk
saling memahami peran dan kesulitannya. Dalam lingkungan kerja seperti coffee shop, team
building berguna untuk menumbuhkan rasa saling percaya, memperkuat kepekaan terhadap
rekan kerja, dan mendorong tumbuhnya kebiasaan saling membantu. Penelitian di industri
hospitality menunjukkan bahwa empati memiliki peran penting dalam membentuk hubungan
interpersonal dan keberhasilan teamwork, sehingga intervensi yang menguatkan kedekatan dan
saling pengertian antarkaryawan menjadi sangat relevan (Jung, Lee, & Lim, 2023).
Bentuk intervensi berikutnya adalah briefing rutin sebelum dan sesudah operasional.
Meskipun terlihat sederhana, briefing merupakan intervensi OD yang penting karena dapat
menjadi ruang untuk menyamakan persepsi, menjelaskan target pelayanan, membagi peran,
dan mengevaluasi hambatan yang muncul selama bekerja. Dalam coffee shop, briefing singkat
sebelum operasional dapat membantu tim memahami pembagian tugas hari itu, sedangkan
briefing setelah operasional dapat digunakan untuk meninjau kendala dan mencari solusi
bersama. Intervensi ini bermanfaat karena menciptakan pola komunikasi yang lebih teratur dan
mengurangi kecenderungan anggota tim bekerja secara terpisah. Literatur tentang efektivitas
tim menegaskan bahwa dukungan kepemimpinan, visi bersama, dan refleksi sosial memiliki
hubungan positif dengan performa tim, sehingga briefing rutin dapat dipahami sebagai
mekanisme sederhana untuk membangun unsur-unsur tersebut dalam organisasi kerja sehari-
hari (Barbosa et al., 2021).
Selain itu, intervensi OD yang juga relevan adalah evaluasi kerja tim secara berkala.
Evaluasi ini diperlukan agar organisasi tidak hanya menyadari adanya masalah, tetapi juga
memiliki kesempatan untuk meninjau perkembangan kerja sama tim dari waktu ke waktu.
Evaluasi dapat dilakukan dalam bentuk diskusi singkat antara pengelola dan karyawan
mengenai kelancaran koordinasi, pembagian beban kerja, serta kualitas interaksi antartim.
Dengan adanya evaluasi berkala, organisasi dapat lebih cepat mengenali pola hambatan yang
berulang dan menentukan tindak lanjut yang sesuai. Dalam konteks layanan hospitality,
kualitas layanan internal antarkaryawan dipengaruhi oleh dukungan rekan kerja, atasan, dan
sistem kerja yang mendukung, sehingga evaluasi berkala dapat membantu menjaga kualitas
hubungan kerja dalam tim (Kim & Baker, 2021).
Secara keseluruhan, bentuk intervensi OD yang relevan pada coffee shop di Bandung
meliputi pelatihan komunikasi kerja, pelatihan koordinasi pelayanan, team building, briefing
rutin, dan evaluasi kerja tim secara berkala. Kelima bentuk intervensi ini saling berkaitan dan
tidak seharusnya dipahami sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Pelatihan membantu
memperjelas kemampuan dan peran kerja, team building memperkuat hubungan interpersonal,
briefing menjaga keselarasan operasional, sedangkan evaluasi berkala membantu organisasi
memelihara perubahan yang telah dibangun. Dengan demikian, intervensi OD pada coffee shop
perlu diarahkan pada pembentukan pola kerja sama yang lebih sadar, terarah, dan
berkelanjutan.
Bentuk intervensi OD yang dirumuskan pada penelitian ini menunjukkan bahwa
peningkatan kerja sama tim pada coffee shop tidak cukup dilakukan hanya dengan menambah
aturan kerja atau menuntut karyawan bekerja lebih cepat. Permasalahan kerja sama tim perlu
dijawab melalui intervensi yang menyentuh aspek hubungan kerja, komunikasi,
kepemimpinan, dan pembelajaran bersama. Dari sudut pandang Organization Development,
intervensi semacam ini penting karena perubahan organisasi yang efektif tidak hanya berfokus
pada hasil akhir, tetapi juga pada proses sosial yang membentuk perilaku kerja di dalam tim.
Pelatihan komunikasi kerja dan pelatihan koordinasi pelayanan dapat dipahami sebagai
upaya memperkuat fondasi kerja tim pada level operasional. Dalam organisasi layanan seperti
coffee shop, kelancaran kerja sangat dipengaruhi oleh seberapa jelas informasi disampaikan
dan seberapa cepat anggota tim merespons kebutuhan bersama. Temuan Ferreira et al. (2023)
memperlihatkan bahwa komunikasi internal yang baik berkaitan dengan dukungan organisasi
dan kepuasan kerja, sehingga intervensi pelatihan komunikasi tidak hanya membantu aspek
teknis, tetapi juga dapat memperkuat kualitas hubungan karyawan dengan lingkungan
kerjanya.
Sementara itu, team building menjadi intervensi yang penting karena hambatan kerja sama
tim pada coffee shop tidak sepenuhnya bersifat teknis. Sebagian hambatan justru muncul dari
lemahnya saling pengertian, kurangnya kepekaan terhadap beban kerja rekan, dan belum
kuatnya rasa kebersamaan dalam tim. Hasil penelitian Jung, Lee, dan Lim (2023) memperkuat
pandangan bahwa empati dan hubungan interpersonal merupakan unsur penting dalam
keberhasilan teamwork di industri hospitality. Berdasarkan hal tersebut, team building pada
coffee shop tidak hanya dipahami sebagai kegiatan kebersamaan, tetapi sebagai upaya
membangun kepercayaan, saling memahami, dan kesiapan untuk bekerja secara kolaboratif di
bawah tekanan layanan.
Briefing rutin dan evaluasi kerja tim secara berkala juga memiliki posisi penting karena
keduanya membantu organisasi menjaga kesinambungan perubahan. Intervensi OD sering kali
tidak berhasil apabila hanya dilakukan sekali tanpa tindak lanjut. Dengan briefing dan evaluasi,
organisasi memiliki ruang untuk memperbaiki koordinasi dari hari ke hari dan membangun
kebiasaan reflektif dalam tim. Hal ini sejalan dengan temuan tentang performa tim yang
menunjukkan pentingnya dukungan kepemimpinan, visi bersama, dan refleksi sosial dalam
meningkatkan efektivitas kerja tim (Barbosa et al., 2021).
Dengan demikian, bentuk intervensi OD yang relevan pada coffee shop di Bandung dapat
dipahami sebagai kombinasi antara intervensi yang bersifat pengembangan keterampilan dan
intervensi yang memperkuat hubungan sosial dalam organisasi. Secara teoritis, hasil ini
menegaskan bahwa kerja sama tim yang efektif dibangun melalui komunikasi internal yang
sehat, penguatan layanan internal, kepemimpinan yang mendukung, dan hubungan
interpersonal yang positif. Secara praktis, hal ini berarti bahwa coffee shop membutuhkan
intervensi OD yang sederhana tetapi konsisten, agar kerja sama tim tidak hanya muncul ketika
operasional sedang lancar, tetapi tetap bertahan saat organisasi menghadapi tekanan kerja yang
tinggi.
E. Upaya Peningkatan Kerja Sama Tim melalui Intervensi OD
Upaya peningkatan kerja sama tim pada coffee shop di Bandung perlu diarahkan pada
pembentukan pola kerja yang lebih terkoordinasi, komunikatif, dan saling mendukung.
Berdasarkan kondisi lapangan yang menunjukkan masih adanya hambatan dalam komunikasi,
pembagian beban kerja, serta hubungan interpersonal antarkaryawan, maka intervensi
Organization Development menjadi langkah yang relevan untuk memperkuat kualitas kerja
sama tim. Dalam konteks ini, intervensi OD tidak dipahami sebatas perubahan teknis kerja,
tetapi sebagai proses pengembangan organisasi yang membantu anggota tim bekerja lebih
selaras dalam mencapai tujuan pelayanan.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kualitas komunikasi kerja di
antara anggota tim. Pada coffee shop, komunikasi memiliki posisi yang sangat penting karena
setiap proses pelayanan berlangsung cepat dan memerlukan respons yang tepat. Oleh sebab itu,
intervensi OD dapat diarahkan pada pembiasaan komunikasi yang lebih jelas, ringkas, dan
langsung pada kebutuhan operasional. Upaya ini dapat dilakukan melalui pelatihan komunikasi
kerja, penyamaan istilah operasional, serta kebiasaan menyampaikan informasi secara terbuka
pada saat pelayanan berlangsung. Penelitian Ferreira et al. (2023) menunjukkan bahwa
kepuasan terhadap komunikasi internal berhubungan dengan perceived organizational support
dan job satisfaction pada karyawan hospitality. Temuan ini menunjukkan bahwa perbaikan
komunikasi internal bukan hanya membantu alur kerja, tetapi juga memperkuat kualitas
hubungan karyawan dengan organisasi.
Upaya berikutnya adalah memperjelas koordinasi dan pembagian peran kerja dalam
operasional harian. Pada kondisi coffee shop yang bergerak cepat, kerja sama tim akan lebih
mudah terbangun apabila setiap anggota memahami tugas utamanya sekaligus mengetahui
kapan harus membantu rekan kerja yang lain. Dalam hal ini, intervensi OD dapat dilakukan
melalui briefing singkat sebelum operasional, simulasi pembagian tugas pada jam ramai, dan
evaluasi setelah pelayanan selesai. Langkah tersebut penting agar kerja sama tim tidak hanya
bergantung pada kebiasaan spontan, melainkan berkembang menjadi pola kerja yang lebih
sadar dan terarah. Penelitian tentang pelatihan dan pengembangan pada karyawan hotel
menunjukkan bahwa training and development berhubungan positif dengan work performance,
terutama ketika organisasi mendukung proses pengembangan karyawan secara konsisten.
Selain itu, peningkatan kerja sama tim juga perlu dilakukan melalui penguatan hubungan
interpersonal antaranggota tim. Dalam pekerjaan berbasis layanan seperti coffee shop,
hubungan kerja yang baik akan memudahkan karyawan untuk saling membantu, memahami
tekanan kerja rekan, dan menyesuaikan diri dengan dinamika operasional. Intervensi OD dalam
bentuk team building dapat digunakan untuk membangun rasa saling percaya, memperkuat
kedekatan antaranggota tim, dan menumbuhkan empati dalam kerja sama. Kegiatan ini tidak
harus selalu formal, tetapi dapat dilakukan melalui diskusi tim, refleksi bersama, atau aktivitas
sederhana yang mendorong interaksi positif. Penelitian Jung, Lee, dan Lim (2023) menjelaskan
bahwa empati memiliki peran penting dalam membentuk hubungan interpersonal yang pada
akhirnya mendukung keberhasilan teamwork di industri hospitality. Dalam konteks coffee
shop, temuan ini menunjukkan bahwa kerja sama tim akan lebih kuat ketika anggota tim tidak
hanya memahami tugas, tetapi juga memahami satu sama lain.
Upaya lain yang tidak kalah penting adalah membangun dukungan organisasi melalui
peran pimpinan atau pengelola. Dalam usaha seperti coffee shop, pimpinan memiliki posisi
yang penting dalam membentuk kebiasaan kerja tim. Ketika pimpinan aktif memberi arahan,
menciptakan ruang komunikasi, dan mendorong budaya saling membantu, anggota tim akan
lebih mudah membangun pola kerja sama yang sehat. Sebaliknya, jika kerja sama tim dibiarkan
tumbuh tanpa arah, maka koordinasi akan cenderung berjalan tidak stabil dan bergantung pada
situasi. Karena itu, intervensi OD juga perlu menempatkan pimpinan sebagai bagian dari proses
perubahan, bukan hanya sebagai pengawas operasional. Dalam kajian hospitality, kualitas
dukungan internal dari organisasi dan atasan berhubungan dengan orientasi layanan internal
karyawan, yang pada akhirnya memengaruhi kelancaran kerja sehari-hari.
Selanjutnya, upaya peningkatan kerja sama tim perlu dilakukan secara berkelanjutan,
bukan hanya melalui intervensi sesaat. Pelatihan, team building, briefing, dan evaluasi akan
lebih efektif apabila dilakukan secara rutin dan disesuaikan dengan kebutuhan nyata organisasi.
Dalam praktik OD, perubahan perilaku kerja membutuhkan proses pembiasaan yang terus
diperkuat melalui interaksi dan refleksi bersama. Oleh karena itu, coffee shop perlu menjadikan
peningkatan kerja sama tim sebagai bagian dari budaya kerja, bukan semata-mata sebagai
respons sementara terhadap masalah pelayanan. Dengan pendekatan semacam ini, kerja sama
tim tidak hanya terlihat ketika kondisi kerja sedang stabil, tetapi juga tetap terjaga ketika
organisasi menghadapi tekanan operasional yang tinggi.
Temuan mengenai upaya peningkatan kerja sama tim melalui intervensi OD menunjukkan
bahwa perbaikan kerja tim pada coffee shop tidak dapat dilakukan secara parsial. Kerja sama
tim yang efektif membutuhkan penguatan pada beberapa unsur sekaligus, yaitu komunikasi
internal, kejelasan koordinasi, hubungan interpersonal, dan dukungan organisasi. Dari
perspektif Organization Development, hal ini menegaskan bahwa perubahan yang diharapkan
tidak cukup dicapai hanya dengan menuntut karyawan bekerja lebih disiplin, tetapi perlu
dibangun melalui proses pengembangan yang menyentuh cara anggota tim berinteraksi dan
bekerja bersama.
Peningkatan komunikasi kerja menjadi dasar penting dalam intervensi OD karena
komunikasi merupakan penghubung utama dalam operasional layanan. Hasil Ferreira et al.
(2023) memperlihatkan bahwa internal communication berperan dalam memperkuat dukungan
organisasi yang dirasakan karyawan dan kepuasan kerja mereka. Dalam konteks coffee shop,
hasil ini menjelaskan bahwa komunikasi yang lebih baik tidak hanya akan memperlancar
penyampaian informasi, tetapi juga membantu membangun rasa saling terhubung di dalam tim.
Dengan demikian, intervensi komunikasi kerja dapat dipahami sebagai fondasi awal untuk
memperkuat kerja sama tim.
Di sisi lain, pelatihan dan penguatan koordinasi operasional menunjukkan bahwa kerja
sama tim perlu dibentuk melalui pembelajaran yang terarah. Penelitian tentang training and
development pada karyawan hotel menunjukkan adanya hubungan positif antara
pengembangan karyawan dan work performance. Temuan ini relevan untuk coffee shop karena
lingkungan kerjanya sama-sama menuntut kecepatan, ketepatan, dan konsistensi layanan.
Dengan adanya pelatihan dan pembiasaan koordinasi, anggota tim tidak hanya bekerja
berdasarkan kebiasaan, tetapi memiliki kerangka kerja yang lebih jelas dalam menjalankan
pelayanan bersama.
Sementara itu, team building menjadi elemen penting karena kualitas kerja sama tim tidak
hanya ditentukan oleh kejelasan tugas, tetapi juga oleh kualitas hubungan antarindividu. Jung,
Lee, dan Lim (2023) menegaskan bahwa empati berkontribusi terhadap hubungan
interpersonal dan keberhasilan teamwork di industri hospitality. Dalam penelitian ini, hal
tersebut memperkuat pemahaman bahwa peningkatan kerja sama tim pada coffee shop perlu
menyentuh sisi relasional, bukan hanya sisi teknis. Ketika anggota tim memiliki rasa saling
percaya dan saling memahami, mereka akan lebih siap bekerja secara kolektif dalam
menghadapi tekanan pelayanan.
Dengan demikian, upaya peningkatan kerja sama tim melalui intervensi OD pada coffee
shop di Bandung dapat dipahami sebagai proses penguatan organisasi yang melibatkan
pembiasaan komunikasi yang sehat, kejelasan koordinasi kerja, pengembangan hubungan
interpersonal, dan dukungan pimpinan yang konsisten. Secara teoritis, hasil ini menegaskan
bahwa teamwork yang efektif dibangun melalui interaksi sosial yang terarah dan didukung oleh
sistem kerja internal yang baik. Secara praktis, temuan ini menunjukkan bahwa coffee shop
memerlukan intervensi OD yang sederhana tetapi berkelanjutan agar kerja sama tim dapat
berkembang menjadi kekuatan utama dalam mendukung kualitas pelayanan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kerja sama tim pada coffee shop
di Bandung telah terbentuk dalam pelaksanaan operasional sehari-hari, tetapi belum berjalan
secara optimal. Hal ini terlihat dari masih adanya hambatan dalam komunikasi internal,
pembagian beban kerja yang belum seimbang, hubungan interpersonal yang belum sepenuhnya
kuat, serta koordinasi kerja yang masih bergantung pada situasi. Kondisi tersebut menunjukkan
bahwa keberhasilan pelayanan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga
oleh kemampuan tim dalam bekerja secara selaras dan saling mendukung.
Bentuk intervensi Organization Development yang relevan untuk meningkatkan kerja
sama tim pada coffee shop meliputi pelatihan komunikasi kerja, pelatihan koordinasi
pelayanan, team building, briefing rutin, dan evaluasi kerja tim secara berkala. Intervensi
tersebut penting karena dapat membantu memperjelas peran kerja, memperkuat hubungan
antaranggota tim, membangun pola komunikasi yang lebih efektif, serta mendorong
terciptanya kebiasaan kerja sama yang lebih konsisten dalam operasional harian.
Upaya peningkatan kerja sama tim melalui intervensi OD pada coffee shop di Bandung
pada dasarnya diarahkan pada penguatan aspek teknis dan relasional secara bersamaan. Dengan
adanya komunikasi yang lebih baik, koordinasi yang lebih jelas, dukungan pimpinan, serta
hubungan interpersonal yang lebih positif, kerja sama tim dapat berkembang menjadi lebih
efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, intervensi Organization Development dapat
dipahami sebagai langkah yang relevan dalam mendukung terciptanya tim kerja yang lebih
kompak, adaptif, dan mampu menunjang kualitas pelayanan pada coffee shop.
DAFTAR PUSTAKA
Duarte, A. P., & Silva, V. H. (2023). Satisfaction with internal communication and hospitality
employees’ turnover intention: Exploring the mediating role of organizational support
and job satisfaction. Administrative Sciences, 13(10), Article 216.
[Link]
Hosen, S., Hamzah, S. R., Ismail, I. A., Alias, S. N., Aziz, M. F. A., & Rahman, M. M. (2023).
Training & development, career development, and organizational commitment as the
predictor of work performance. Heliyon, 10(1), Article e23903.
[Link]
Jung, H. J., Lee, S. H., & Lim, S. E. (2023). Enhancing teamwork in the hospitality industry:
The importance of empathy. International Journal of Hospitality Management, 114,
Article 103557. [Link]
Son, J. H., Kim, J. H., & Kim, G. J. (2021). Does employee satisfaction influence customer
satisfaction? Assessing coffee shops through the service profit chain model.
International Journal of Hospitality Management, 94, Article 102866.
[Link]
Wu, X., Wang, J., & Ling, Q. (2021). Managing internal service quality in hotels:
Determinants and implications. Tourism Management, 86, Article 104329.
[Link]