0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan42 halaman

Modul Ajar Deep Learning

Modul ajar ini ditujukan untuk siswa kelas X SMA dalam mata pelajaran Prakarya, fokus pada pengolahan bahan pangan nabati dan hewani. Menggunakan pendekatan Deep Learning, modul ini mencakup eksplorasi, perencanaan, produksi, serta evaluasi produk olahan, dengan tujuan mengembangkan keterampilan kritis, kreatif, kolaboratif, dan mandiri. Siswa diharapkan dapat merancang dan memproduksi hidangan yang inovatif serta mempresentasikan hasilnya secara efektif.

Diunggah oleh

sidik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan42 halaman

Modul Ajar Deep Learning

Modul ajar ini ditujukan untuk siswa kelas X SMA dalam mata pelajaran Prakarya, fokus pada pengolahan bahan pangan nabati dan hewani. Menggunakan pendekatan Deep Learning, modul ini mencakup eksplorasi, perencanaan, produksi, serta evaluasi produk olahan, dengan tujuan mengembangkan keterampilan kritis, kreatif, kolaboratif, dan mandiri. Siswa diharapkan dapat merancang dan memproduksi hidangan yang inovatif serta mempresentasikan hasilnya secara efektif.

Diunggah oleh

sidik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL AJAR DEEP LEARNING

MATA PELAJARAN : PRAKARYA – PENGOLAHAN


BAHAN PANGAN NABATI & HEWANI

A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMA Negeri 17 Jakarta
Nama Penyusun : Enizar Rizki, [Link]
Mata Pelajaran : Prakarya dan Kewirausahaan
Kelas/Fase/Semester : X/E/2
Alokasi Waktu : 16 Pertemuan (32 JP)
Tahun Pelajaran : 2025 – 2026
Tema : Olahan Pangan Nabati & Hewani: Makanan Pembuka, Makanan
Utama, Makanan Penutup
Pendekatan : Deep Learning (Meaningful, Mindful, Joyful) + PjBL

B. IDENTIFIKASI KESIAPAN BELAJAR MURID


1. Pengetahuan Awal
 Siswa SMA kelas X umumnya sudah memahami konsep dasar bahan pangan
(nabati dan hewani) dari mata pelajaran IPA/Prakarya.
 Beberapa sudah pernah membuat makanan sederhana, tetapi kemampuan
memasak dan mengolah bahan secara kreatif bervariasi.
 Siswa memiliki pengetahuan dasar tentang kebersihan, keamanan pangan, dan
resep sederhana.
2. Minat
 Gen Z cenderung tertarik pada kegiatan visual, kreatif, dan interaktif.
 Mereka menyukai tantangan singkat, eksperimen, digital content, dan kolaborasi.
 Banyak yang memiliki minat pada tren kuliner, dekorasi makanan, dan food
photography.
3. Latar Belakang
 Tingkat kemampuan teknis berbeda-beda: beberapa siswa mahir dalam
memasak/eksperimen bahan, sebagian lain baru belajar atau cenderung pasif.
 Akses ke bahan pangan di rumah bervariasi; beberapa siswa memiliki
keterbatasan dalam alat dan bahan.
 Penggunaan teknologi tinggi; Gen Z terbiasa dengan digital tools, aplikasi desain,
dan media sosial.
4. Kebutuhan Belajar
 Memerlukan panduan jelas untuk setiap langkah produksi, tetapi juga ruang untuk
kreativitas.
 Membutuhkan aktivitas interaktif dan bermakna agar belajar tidak monoton.
 Perlu pendekatan yang menyenangkan namun mendalam, sesuai prinsip deep
learning:
o Meaningful Learning → mengaitkan materi dengan pengalaman nyata.
o Mindful Learning → refleksi & kesadaran diri.
o Joyful Learning → belajar dengan fun, kreatif, dan kolaboratif.
 Memerlukan alat untuk dokumentasi agar dapat menjadi portfolio nyata.
 Membutuhkan feedback yang membangun baik dari guru maupun teman sekelas.

C. Karakteristik Mata Pelajaran PKWU – Olahan Pangan Nabati & Hewani


Aspek Deskripsi
- Pengetahuan konseptual: mengenal bahan nabati dan hewani, teknik
pengolahan, resep, estimasi biaya, branding, SWOT.
Jenis Pengetahuan - Pengetahuan prosedural: langkah-langkah produksi, cara plating,
yang Akan Dicapai proses evaluasi, penilaian produk.
- Pengetahuan metakognitif: refleksi proses, evaluasi diri, pemecahan
masalah dalam produksi dan perencanaan produk.
Relevansi dengan - Mengaitkan teori dengan aktivitas sehari-hari seperti memasak,
Kehidupan Siswa memilih bahan, merencanakan makanan di rumah.
- Mengembangkan keterampilan hidup (life skill): bekerja dalam tim,
Aspek Deskripsi
membuat keputusan, manajemen waktu dan anggaran.
- Mendorong kreativitas dan inovasi yang dapat diaplikasikan di
media sosial atau kegiatan kewirausahaan di sekolah.
- Dasar: memahami bahan dan resep sederhana.
- Menengah: merencanakan produk, estimasi biaya, branding.
Tingkat Kesulitan
- Mahir: produksi kompleks (makanan utama & penutup), evaluasi
SWOT, menyusun portfolio interaktif.
1. Eksplorasi & Observasi: pengenalan bahan, observasi, ide
kreatif.
2. Perencanaan Produk: resep, target konsumen, estimasi biaya,
Struktur Materi
branding, analisis SWOT.
3. Produksi: praktik pengolahan, plating, teamwork.
4. Evaluasi & Refleksi: review produk, presentasi, revisi, portfolio.
Integrasi Nilai & - Kewargaan: Eksplorasi & Observasi: menghargai pendapat teman
Karakter Dimensi saat diskusi ide bahan dan resep; belajar mendengarkan dan
Profil Lulusan berkolaborasi. Perencanaan Produk: berbagi tugas tim secara adil;
mengakui kontribusi teman; mengatasi konflik sederhana saat
memilih ide produk. Produksi: kerja tim, saling membantu saat
memasak, menghargai hasil kerja teman. Evaluasi & Refleksi:
memberikan feedback konstruktif, mendukung teman lain, berbagi
pengalaman belajar.
- Keimanan dan Ketakwaan pada Tuhan YME: Bersyukur atas bahan
pangan dan hasil produksi. Jujur dalam pencatatan bahan, resep, dan
evaluasi. Peduli sesama: misal berbagi hasil masakan dengan
keluarga, teman, atau kegiatan sosial sekolah. Menghormati etika
produksi pangan (kebersihan, halal, aman).
- Kreativitas: Menghasilkan ide produk baru, menarik, dan relevan
dengan kehidupan nyata. Mengaplikasikan teknik plating dan desain
packaging unik. Mengubah ide sederhana menjadi produk yang
Aspek Deskripsi
estetik dan inovatif.
- Penalaran Kritis : Mengevaluasi bahan, resep, dan proses produksi.
Menganalisis kelebihan & kelemahan produk. Membuat keputusan
terkait resep, plating, atau target konsumen.
- Kemandirian : Mengatur tugas individu secara mandiri.
Menyelesaikan tugas sesuai peran tanpa tergantung teman.
Merefleksi hasil kerja pribadi sebelum penilaian.
- Kolaborasi : Bekerja sama dengan teman saat perencanaan dan
produksi. Menghargai kontribusi setiap anggota tim. Mendiskusikan
ide, berbagi tugas, dan menyelesaikan konflik secara positif.
- Kesehatan : Mempraktikkan kebersihan dan keamanan pangan.
Menjaga lingkungan kerja tetap higienis. Memahami gizi & manfaat
bahan pangan untuk kesehatan.
- Komunikasi: Menyampaikan ide dan instruksi dengan jelas di tim.
Presentasi produk kepada teman/guru. Memberikan & menerima
masukan secara sopan dan efektif.

D. DIMENSI PROFIL LULUSAN


a. Bernalar Kritis: Peserta didik mampu menganalisis karakteristik bahan pangan
olahan pangan nabati dan hewani menjadi hidangan pembuka, utama dan penutup
dengan prinsip higienis dan kelayakan pasar produk olahan.
b. Kreativitas : Peserta didik mampu merancang dan menghasilkan produk olahan
pangan nabati dan hewani menjadi hidangan pembuka, utama dan penutup yang
inovatif dan memiliki nilai jual.
c. Kolaborasi : Peserta didik mampu bekerja sama dalam tim untuk melakukan
seluruh tahapan projek pengolahan pangan nabati dan hewani menjadi hidangan
pembuka, utama dan penutup.
d. Kemandirian : Peserta didik memiliki inisiatif dan tanggungjawab dalam
merencanakan, memproduksi dan mempromosikan produk olahan pangan nabati
dan hewani menjadi hidangan pembuka, utama dan penutup.
e. Komunikasi : Peserta didik mampu mempresentasikan ide produk, proses
pembuatan dan strategi pemasaran secara jelas dan meyakinkan.

E. PENDEKATAN DEEP LEARNING


Unit Meaningful Mindful Joyful
Hubungkan bahan pangan Menikmati hunting
Eksplorasi & Sadar pada asal bahan
dengan nilai gizi, budaya & bahan & membuat
Observasi & dampak proses
peluang usaha dokumentasi kreatif
Menghubungkan rencana Sadar dengan Bersenang-senang bikin
Perencanaan dengan target pasar & peluang keputusan bahan, nama brand & sketsa
nyata resep, branding packaging
Fokus pada
Kreativitas plating,
Mengerti proses produksi & kebersihan,
Produksi foto/video produk, kerja
teknik pengolahan keamanan, pembagian
sama tim
tugas
Sadar peran, Refleksi kreatif,
Evaluasi &
Memaknai pengalaman & hasil kesalahan, dan proses presentasi, feedback
Refleksi
belajar teman, reward mini

F. DESAIAN PEMBELAJARAN
CP
Lingkun Pemanfa
(Capaian TP (Tujuan Praktik Topik Lintas
Unit gan atan Kemitraan
Pembelajar Pembelajaran) Pedagogis Pembelajaran Disiplin
Belajar Digital
an)
Eksplora Mengidenti Siswa dapat Observasi Makanan Biologi Dapur Foto/ Pedagang
si & fikasi mengamati langsung, pembuka, utama, (nilai sekolah, video lokal, ibu
Observa bahan bahan pangan, foto/video penutup; bahan gizi), kantin, bahan, rumah
si pangan mencatat , diskusi Kimia rumah, mind tangga,
CP
Lingkun Pemanfa
(Capaian TP (Tujuan Praktik Topik Lintas
Unit gan atan Kemitraan
Pembelajar Pembelajaran) Pedagogis Pembelajaran Disiplin
Belajar Digital
an)
nabati &
(reaksi map
hewani, informasi, dan
kelompok bahan), digital,
memahami menghubungk UMKM UMKM
, mind nabati & hewani Geografi aplikasi
karakteristi an dengan ide lokal makanan
map (asal kolabora
k & potensi produk awal
bahan) si
olahan
Brainstor Matemat Aplikasi
Merancang Siswa dapat
ming, ika design
produk membuat Konsep resep
tabel (perhitun Ruang packagin Guru,
olahan rencana makanan
Perenca rencana, gan kelas & g teman
sesuai produksi, pembuka/utama/
naan sketsa biaya), lab (Canva), sekelas,
karakteristi target pasar, penutup, target
Produksi packaging Seni prakary spreadsh konsultan
k bahan & resep, konsumen, biaya
, diskusi (desain a eet gizi
target branding, & harga jual
peer branding kalkulasi
konsumen estimasi biaya
review ) biaya
Menghasilk
Siswa dapat Praktik
an produk IPA
memproduksi masak Kamera/
olahan (reaksi Guru,
olahan berkelom Teknik HP
sesuai panas, Lab teman
pangan, pok, pengolahan untuk
rencana, pengawe prakary sekelas,
Produksi bekerja sama, plating nabati & hewani, dokumen
memperhat tan), a, dapur pihak
memastikan kreatif, higienitas, tasi,
ikan Seni sekolah kantin/U
kualitas & dokument plating aplikasi
kebersihan, (plating, MKM
estetika asi timer
keamanan, dekorasi)
produk video/foto
kerja sama
Evaluasi Mengevalu Siswa mampu Presentasi Analisis rasa, Matemat Kelas, Video Guru,
& asi produk merefleksikan kelompok tampilan, gizi, ika lab presentas teman
CP
Lingkun Pemanfa
(Capaian TP (Tujuan Praktik Topik Lintas
Unit gan atan Kemitraan
Pembelajar Pembelajaran) Pedagogis Pembelajaran Disiplin
Belajar Digital
an)
proses &
& proses,
hasil, (analisis
merefleksik , diskusi
mengidentifik biaya & prakary i,
an peer sekelas,
asi margin), a, ruang dokumen
Refleksi pengalama review, peluang usaha calon
kekuatan/kele Bahasa presenta refleksi
n, menilai jurnal konsumen
mahan, (presenta si digital
peluang refleksi
menyarankan si)
usaha
perbaikan

G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
UNIT 1: EKSPLORASI & OBSERVASI
Durasi: 3 Pertemuan × 2 JP
Produk Akhir: Food Explorer Portfolio (dokumentasi bahan + mind map/ide produk +
refleksi)
Pertemuan 1
Kegiatan Pembuka (Bermakna & Menggembirakan, 15–20 menit)
 Ice breaking: “Food Explorer Quiz” → siswa menebak bahan makanan dari
gambar/video lucu atau teka-teki pangan.
 Guru memperkenalkan proyek Food Explorer Portfolio, kaitkan dengan manfaat
belajar: menemukan bahan, peluang usaha, dan kreativitas dalam olahan pangan →
Meaningful.
 Siswa dibagi kelompok, menetapkan peran (ketua, dokumentator, presenter, kreator
ide).
Kegiatan Inti (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi, 60–70 menit)
1. Memahami: Guru menjelaskan klasifikasi bahan pangan nabati & hewani, nilai gizi,
fungsi, serta potensi olahan.
Materi : Bahan pangan diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama berdasarkan
asalnya: nabati (tumbuhan) dan hewani (hewan). Pangan nabati mencakup serealia,
buah, sayur, kacang-kacangan, dan umbi, yang kaya serat dan vitamin. Pangan
hewani mencakup daging, ikan, telur, dan susu, yang merupakan sumber protein
tinggi dan lemak.
Klasifikasi Bahan Pangan Nabati
Bahan pangan nabati berasal dari tumbuhan dan sering kali memiliki tekstur lebih
keras karena kandungan selulosa.
 Serealia (Biji-bijian): Padi, jagung, gandum, sorgum.
 Umbi-umbian: Singkong, ubi jalar, kentang, talas.
 Kacang-kacangan: Kacang tanah, kedelai, kacang hijau, almond.
 Sayuran: Bayam, wortel, kangkung, kubis, tomat.
 Buah-buahan: Mangga, pisang, pepaya, jeruk, apel.
 Rempah-rempah & Bahan Penyegar: Jahe, kunyit, kopi, teh.
Klasifikasi Bahan Pangan Hewani
Bahan pangan hewani berasal dari hewan, umumnya bersifat lunak, dan mudah
rusak (perishable) dibandingkan pangan nabati.
 Daging Merah & Unggas: Sapi, kambing, ayam, bebek.
 Ikan & Hasil Perairan (Seafood): Ikan air tawar/laut, udang, cumi-cumi, kerang.
 Telur: Telur ayam, telur bebek, telur puyuh.
 Susu & Hasil Olahannya: Susu sapi, susu kambing, keju, yoghurt.
Perbedaan Utama
Bahan nabati umumnya tinggi karbohidrat dan serat, sedangkan bahan hewani
merupakan sumber protein, lemak, dan zat besi yang lebih tinggi. Penanganan
pascapanen pangan hewani memerlukan perhatian lebih ketat karena sifatnya yang
mudah terinfeksi bakteri.
2. Mengaplikasi:
o Setiap kelompok melakukan observasi mini di sekitar:
rumah/kantin/pasar/UMKM.
o Dokumentasi foto/video bahan + catatan karakteristik, asal, dan manfaat.
3. Merefleksi: Diskusi kelompok: bahan mana yang paling menarik, potensi olahannya,
tantangan saat observasi.
Kegiatan Penutup (10–15 menit)
 Setiap kelompok menuliskan 1 hal baru yang paling mereka pelajari dan 1 hal yang
paling menyenangkan → guru menampilkan beberapa jawaban lucu/unik untuk
menumbuhkan motivasi.
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup

Pertemuan 2
Kegiatan Pembuka (Bermakna & Menggembirakan, 15 menit)
 Ice breaking: “Caption Kreatif” → guru menampilkan foto bahan makanan lucu, siswa
menulis caption kocak tapi relevan.
 Tujuan pembelajaran pertemuan dijelaskan → Meaningful.
Kegiatan Inti (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi, 60–70 menit)
1. Memahami: Review hasil observasi & catatan bahan → diskusi karakteristik bahan,
kegunaan, tren konsumsi.
2. Mengaplikasi:
o Siswa membuat mind map / storyboard mini ide produk makanan pembuka,
utama, penutup dari bahan yang diamati.
3. Merefleksi: Kelompok diskusi: “Kenapa memilih bahan itu?”, “Bagaimana ide produk ini
bermanfaat bagi orang lain?”.
Kegiatan Penutup (10–15 menit)
 Refleksi individu singkat: tulis 1 ide produk favorit dan 1 pengalaman seru dari observasi
hari ini.
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup
Pertemuan 3
Kegiatan Pembuka (Bermakna & Menggembirakan, 15 menit)
 Ice breaking: “Food Emoji Game” → siswa menebak bahan atau makanan dari emoji,
sambil guru mengaitkan nilai gizi → Meaningful + Fun.
Kegiatan Inti (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi, 60–70 menit)
1. Memahami: Analisis temuan bahan kelompok lain → bandingkan karakteristik & potensi
olahan.
2. Mengaplikasi: Kelompok menyelesaikan mind map/storyboard final ide produk, tentukan
bahan & kategori (pembuka/utama/penutup).
3. Merefleksi: Diskusi kelompok: apa yang sudah dipelajari, tantangan, dan hal baru yang
ditemukan.
Kegiatan Penutup (10–15 menit)
 Guru meminta 1–2 siswa menceritakan pengalaman paling berkesan & lucu saat
eksplorasi.
 Semua kelompok menyiapkan bahan & ide untuk Unit Perencanaan Produksi.

UNIT 2 – PERENCANAAN PRODUKSI (5 PERTEMUAN × 2 JP)


Produk Akhir: Rencana produksi final lengkap (resep, bahan, estimasi biaya, branding)
Pertemuan 1 – Ide Produk & Brainstorming Target Konsumen
Pembuka (15–20 menit)
 Ice breaking: “Food Brainstorm Challenge” → guru menampilkan bahan acak, siswa
kelompok membuat ide kreatif makanan pembuka/utama/penutup.
 Penjelasan tujuan unit → Meaningful: hubungkan ide produk dengan kebutuhan
konsumen nyata.
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Diskusi konsep target pasar & tren pangan saat ini.
2. Mengaplikasi: Kelompok menyusun daftar ide produk awal & target konsumen.
3. Merefleksi: Diskusi kelompok: “Kenapa memilih bahan ini & target konsumen ini?”
Penutup (10–15 menit)
 Refleksi singkat: “Satu hal menarik dari brainstorming & satu hal yang ingin dicoba
pertemuan berikut.”
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup

Pertemuan 2 dan 3 - Analisis SWOT Produk Olahan Pangan Nabati & Hewani (s.d tgl 27
Februari 2026)
Durasi: 1 pertemuan × 2 JP (~90 menit)
Produk Akhir: Analisis SWOT kelompok lengkap + catatan refleksi
Kegiatan Pembuka (15–20 menit) – Bermakna & Menggembirakan
 Ice Breaking: “Strengths & Weaknesses Game”
1. Guru menampilkan beberapa foto produk makanan lucu/unik dari internet (misal
makanan pembuka/utama/penutup kreatif).
2. Siswa diminta menebak kelebihan & kekurangan produk tersebut dalam bentuk
cepat (1–2 kata saja).
 Guru menjelaskan tujuan pertemuan:
“Hari ini kita akan belajar bagaimana menganalisis produk kita sendiri supaya
lebih siap dan menarik bagi konsumen. Analisis SWOT membantu kita melihat
kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman produk.”
 Bermakna: siswa menyadari pentingnya evaluasi produk sebelum produksi →
meningkatkan kesiapan & peluang sukses.
 Materi :
Analisis SWOT adalah alat perencanaan strategis untuk mengevaluasi Kekuatan
(Strengths), Kelemahan (Weaknesses), Peluang (Opportunities), dan Ancaman (Threats)
dalam suatu bisnis atau proyek. Metode ini membantu mengidentifikasi faktor internal
(kekuatan/kelemahan) dan eksternal (peluang/ancaman) untuk merancang strategi jangka
panjang, mengambil keputusan tepat sasaran, serta memaksimalkan keunggulan
kompetitif dibandingkan pesaing.
Berikut adalah breakdown elemen analisis SWOT:
 Strengths (Kekuatan - Internal): Keunggulan unik, sumber daya, atau kapabilitas yang
dimiliki usaha dibandingkan kompetitor. Contoh: Brand kuat, tim solid, teknologi
canggih.
 Weaknesses
(Kelemahan - Internal):
Masalah atau kekurangan internal yang menghambat kinerja. Contoh: Kurang modal,
kurangnya tenaga ahli, atau manajemen yang kurang efisien.
 Opportunities (Peluang - Eksternal): Faktor luar yang bisa dimanfaatkan untuk
inovasi atau meningkatkan keuntungan. Contoh: Tren pasar meningkat, peraturan
pemerintah yang mendukung.
 Threats (Ancaman - Eksternal): Hal-hal luar yang berpotensi merugikan bisnis.
Contoh: Pesaing baru, perubahan selera konsumen, atau krisis ekonomi.
Langkah-langkah Pembuatan SWOT:
1. Identifikasi: Membuat kuadran 2x2 dan mengumpulkan informasi untuk tiap
komponen.
2. Evaluasi: Menganalisis faktor internal dan eksternal.
3. Rumuskan Strategi: Mengembangkan strategi SO (menggunakan kekuatan untuk
mengambil peluang), WO (memperbaiki kelemahan dengan mengambil peluang), ST
(menggunakan kekuatan untuk menghindari ancaman), dan WT (meminimalkan
kelemahan dan menghindari ancaman).

Kegiatan Inti (60–65 menit) – Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi


1. Memahami (15 menit)
o Guru menjelaskan konsep SWOT:
 S – Strengths (Kekuatan): apa keunggulan produk kita?
 W – Weaknesses (Kelemahan): apa yang perlu diperbaiki?
 O – Opportunities (Peluang): peluang pasar atau tren apa yang bisa
dimanfaatkan?
 T – Threats (Ancaman): apa tantangan atau pesaing yang harus
diperhatikan?
o Guru memberi contoh sederhana dari makanan pembuka/utama/penutup yang
familiar.
2. Mengaplikasi (30 menit)
o Setiap kelompok membuat Analisis SWOT produk mereka sendiri menggunakan
template digital atau kertas:
 Identifikasi Strengths & Weaknesses → terkait bahan, rasa, kemasan,
harga, target konsumen.
 Identifikasi Opportunities & Threats → tren pangan, kompetitor, peluang
pemasaran, musim/agenda tertentu (misal Ramadhan).
o Diskusi kelompok: bagaimana kekuatan dapat dimaksimalkan, dan kelemahan
dapat diperbaiki sebelum produksi.
3. Merefleksi (15–20 menit)
o Setiap kelompok menulis:
 Hal paling mengejutkan yang ditemukan dari SWOT.
 Satu langkah konkret untuk memperkuat produk sebelum produksi.
o Guru memfasilitasi sharing: beberapa kelompok membagikan insight mereka →
membangun pemahaman lintas kelompok.
Kegiatan Penutup (5–10 menit)
 Guru menekankan pentingnya SWOT sebagai alat evaluasi sebelum produksi →
Meaningful Learning.
 Refleksi singkat individu:
o “Satu hal yang paling berguna dari analisis SWOT hari ini.”
o “Satu hal menyenangkan dari bekerja sama dengan kelompok dalam analisis ini.”
→ Joyful Learning
 Siswa menyimpan Analisis SWOT sebagai bagian dari portfolio perencanaan produk.
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup

Pertemuan 4 – Penyusunan Resep Awal & Penentuan Bahan minggu 1 maret


Pembuka (15 menit)
 Ice breaking: “Emoji Recipe” → tulis bahan favorit dalam emoji → anggota lain
menebak → menyenangkan & meaningful.
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Guru menjelaskan teknik dasar olahan nabati & hewani.
2. Mengaplikasi:
o Susun resep awal: bahan, takaran, metode pengolahan.
o Pilih bahan utama untuk makanan pembuka/utama/penutup.
3. Merefleksi: Diskusi: “Apakah bahan ini sesuai dengan target konsumen & mudah
dijangkau?”
Penutup (10–15 menit)
 Refleksi kelompok: “Tantangan terbesar memilih bahan & resep hari ini.”
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup

Pertemuan 5 dan 6 – Estimasi Biaya, Harga Jual, dan BEP


Pembuka (15 menit)
 Berdoa
 Absensi kehadiran siswa
 Menginformasikan tujuan pembelajaran : menganalisis biaya produksi dan harga jual
 Mengingatkan kesepakatan kelas
 Ice breaking: “Money Game” → tebak biaya bahan dari gambar → menyenangkan &
edukatif → Meaningful
 Pertanyaan pemantik : Mengapa usaha makanan/minuman bisa gagal? Bagaimana
menentukan biaya produksi dengan tepat?
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Guru membahas cara menghitung estimasi biaya, harga jual, dan margin
keuntungan sederhana.
Materi:
Analisis biaya produksi adalah evaluasi menyeluruh terhadap semua pengeluaran—bahan
baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik—untuk menghasilkan barang/jasa.
Tujuannya adalah menetapkan harga pokok produksi, memaksimalkan profitabilitas, dan
mendukung pengambilan keputusan strategis. Komponen utama meliputi biaya tetap
(tetap/bulan) dan variabel (berubah sesuai volume produksi).
Berikut adalah analisis mendetail mengenai biaya produksi:
1. Komponen Biaya Produksi
Biaya produksi terdiri dari tiga elemen utama:
 Biaya Bahan Baku (Raw Material Cost): Biaya pembelian bahan mentah yang
digunakan secara langsung dalam proses produksi.
 Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost): Gaji atau upah yang dibayarkan
kepada pekerja yang terlibat langsung dalam pembuatan produk.
 Biaya Overhead Pabrik (Factory Overhead Cost): Biaya tidak langsung yang
diperlukan untuk menunjang proses produksi, seperti listrik, air, bahan penolong, dan
penyusutan mesin.
2. Klasifikasi Biaya
 Biaya Variabel (Variable Cost): Biaya yang jumlahnya berubah sebanding dengan
volume produksi (misal: bahan baku).
 Biaya Tetap (Fixed Cost): Biaya yang jumlahnya relatif konstan, tidak dipengaruhi
volume produksi (misal: sewa gedung, gaji karyawan tetap).
3. Metode Perhitungan Biaya
Terdapat dua metode utama yang umum digunakan dalam analisis ini:
 Full Costing: Menghitung total biaya produksi dengan memasukkan seluruh komponen biaya
produksi, baik variabel maupun tetap.
 Variable Costing: Hanya menghitung biaya produksi yang berperilaku variabel (bahan baku,
tenaga kerja langsung, overhead variabel).
4. Cara Menghitung Biaya Produksi
Formula dasar biaya produksi adalah:

Total biaya produksi = BBB + BTK + BO


5. Pentingnya Analisis Biaya Produksi
 Penetapan Harga Jual: Membantu menentukan harga yang tepat agar produk bersaing namun
tetap menguntungkan.
 Pengendalian Biaya (Cost Control): Mengidentifikasi pemborosan dalam proses produksi.
 Pengambilan Keputusan: Memutuskan apakah akan melanjutkan produksi atau memberhentikan
produk tertentu.
 Perhitungan Laba/Rugi: Menentukan tingkat keuntungan per unit produk.
6. Faktor yang Memengaruhi Biaya Produksi
Beberapa faktor yang memengaruhi besar kecilnya biaya produksi antara lain harga bahan baku,
upah tenaga kerja, tingkat teknologi yang digunakan, serta skala produksi.

2. Mengaplikasi:
o Kelompok menghitung biaya bahan & estimasi harga jual berdasarkan LKPD
yang diberikan.
o Catat potensi keuntungan & risiko (pertemuan ke 6)
3. Merefleksi: Diskusi: “Apakah harga jual sesuai target pasar & kompetitif?”
Penutup (10–15 menit)
 Refleksi individu: “Satu hal baru yang aku pelajari tentang biaya & harga.”
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup

Pertemuan 7 dan 8 – Branding & Packaging akhir maret/awal april s.d minggu kedua april
Pembuka (15 menit)
 Ice breaking: “Logo Sprint” → desain logo mini & kreatif untuk produk masing-masing
kelompok → menyenangkan & membangkitkan semangat.
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Guru menjelaskan prinsip branding & packaging sederhana.
2. Mengaplikasi:
o Kelompok membuat sketsa logo, nama brand, warna & kemasan.
o Diskusi: “Apakah branding ini menarik & mudah diingat target konsumen?”
3. Merefleksi: Diskusi kelompok: “Bagaimana branding memengaruhi penjualan & kesan
konsumen?”
Penutup (10–15 menit)
 Refleksi singkat: “Logo atau branding favorit kelompok & alasannya.”
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup
UNIT 3: PRODUKSI
Durasi: 4 Pertemuan × 2 JP
Produk Akhir: Produk olahan pangan siap sajikan + dokumentasi lengkap
Pertemuan 1 – Persiapan & Pembagian Tugas 12-17 April
Pembuka (15–20 menit)
 Ice breaking: “Cooking Dance” → lagu motivasi + gerakan mengocok / mengaduk
(simulasi) → menyenangkan & membangun semangat tim.
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Review rencana produk & teknik pengolahan.
2. Mengaplikasi: Persiapan bahan & alat, pembagian tugas anggota.
3. Merefleksi: Diskusi: “Apakah tim siap, ada potensi kendala apa?”
Penutup (10–15 menit)
 Checklist kesiapan tim & refleksi singkat: “Perasaan tim sebelum produksi.”
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup

Pertemuan 2 – Produksi Makanan Pembuka 20 – 24 April


Pembuka (15 menit)
 Ice breaking: “Fun Safety Quiz” → tebak langkah aman & higienis dalam bentuk kuis
cepat → Meaningful & menyenangkan
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Guru menegaskan prosedur & teknik produksi.
2. Mengaplikasi: Produksi makanan pembuka → kerja sama tim, dokumentasi foto/video.
3. Merefleksi: Kelompok menilai proses & kesulitan.
Penutup (10–15 menit)
 Catatan refleksi kelompok: “Hal paling seru & tantangan terbesar saat produksi.”
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup
Pertemuan 3 – Produksi Makanan Utama
Pembuka (15 menit)
 Ice breaking: “Taste Predictor” → tebak rasa / kombinasi bahan sebelum dicoba → seru
& edukatif
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Review teknik & bahan utama.
2. Mengaplikasi: Produksi makanan utama → plating kreatif, dokumentasi.
3. Merefleksi: Diskusi: “Apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki.”
Penutup (10–15 menit)
 Refleksi kelompok & foto produk.
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup

Pertemuan 4 – Produksi Makanan Penutup & Dokumentasi


Pembuka (15 menit)
 Ice breaking: “Dessert Emoji Game” → tebak makanan penutup dari emoji lucu → fun &
menggembirakan
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Review rencana makanan penutup & teknik plating.
2. Mengaplikasi: Produksi makanan penutup, dokumentasi lengkap seluruh proyek.
3. Merefleksi: Kelompok menilai estetika, rasa, kreativitas.
Penutup (10–15 menit)
 Refleksi akhir: “Hal paling menyenangkan & pelajaran berharga dari produksi.”
 Siapkan portfolio proyek final.
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup

UNIT 4: EVALUASI & REFLEKSI


Durasi: 3 Pertemuan × 2 JP
Produk Akhir: Portfolio proyek final + catatan refleksi individu
Pertemuan 1 – Presentasi Produk & Penilaian
Pembuka (15 menit)
 Ice breaking: “Cheer for Others” → tiap kelompok memberi semangat pada kelompok
lain dengan shout-out lucu → meningkatkan motivasi.
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Review kriteria penilaian (rasa, tampilan, gizi, inovasi).
2. Mengaplikasi: Presentasi produk & peer review, guru memberikan feedback.
3. Merefleksi: Diskusi: “Apa yang membuat produk kelompok ini unik?”
Penutup (10–15 menit)
 Refleksi individu: “Hal paling berkesan dari presentasi hari ini.”
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup

Pertemuan 2 – Refleksi Individu & Diskusi Kelas


Pembuka (15 menit)
 Ice breaking: “Emoji Mood Share” → tulis perasaan tentang proyek menggunakan emoji
→ menyenangkan & relevan
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Siswa meninjau kembali portfolio & feedback.
2. Mengaplikasi: Diskusi kelas: identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang perbaikan.
3. Merefleksi: Jurnal refleksi individu: pelajaran & pengalaman penting.
Penutup (10–15 menit)
 Guru menyimpulkan pembelajaran & motivasi untuk proyek selanjutnya.
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup

Pertemuan 3 – Revisi Portfolio & Dokumentasi Akhir


Pembuka (15 menit)
 Ice breaking: “Portfolio Parade” → tiap kelompok menampilkan cuplikan portfolio lucu /
kreatif → membangun rasa puas & antusias
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Review feedback peer & guru.
2. Mengaplikasi: Revisi portfolio final → dokumentasi foto/video, mind map, resep,
branding.
3. Merefleksi: Diskusi kelompok: “Apa yang akan kami lakukan berbeda di proyek
berikutnya?”
Penutup (10–15 menit)
 Presentasi singkat portfolio final & refleksi keseluruhan.
 Kesimpulan
 Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
 Salam penutup

H. LKPD
i. Identifikasi Pangan
Tuliskan contoh makanan khas Indonesia!
No Nama Makanan Bahan Utama Nabati/Hewani
1
2
3

ii. Pengelompokan Menu


Jenis Hidangan Contoh Makanan
Makanan Utama
Makanan Inti/Lauk
Makanan Penutup

iii. Perencanaan Menu


Buat satu paket menu:
 Makanan utama: ____________________
 Makanan inti/lauk: ____________________
 Makanan penutup: ____________________
 Minuman (opsional): ____________________

iv. Analisis Biaya Produksi


Pilih salah satu menu untuk dianalisis.
1. Nasi Goreng
Bahan:
 2 piring nasi putih
 2 siung bawang putih
 3 siung bawang merah
 1 butir telur
 2 sdm kecap manis
 ½ sdt garam
 2 sdm minyak goreng

2. Ayam Goreng
Bahan:
 500 gram ayam
 3 siung bawang putih
 1 sdt ketumbar
 2 sdt garam
 1L air
 500 mL minyak
3. Kolak Pisang
Bahan:
 5 buah pisang
 200 ml santan
 100 gram gula merah
 1 lembar daun pandan
 1L air
Daftar Bahan dan Biaya
No Nama Bahan Jumlah Harga Satuan Total Harga
1
2
3
Total Biaya Bahan Rp ______

Biaya Tambahan (Tulis perkiraan)


Jenis Biaya Jumlah
Gas/Listrik
Kemasan
Lain-lain
Total Biaya Tambahan Rp ______

 Total Biaya Produksi


Total biaya produksi = Biaya bahan + biaya tambahan = Rp ____________________
 Jumlah Produksi
Jumlah porsi yang dihasilkan: ______ porsi
 Biaya per Porsi
Biaya per porsi = Total biaya ÷ jumlah porsi = Rp ____________________
 Menentukan Harga Jual
Tambahkan keuntungan (misalnya 20–30%)
Harga jual per porsi = Biaya per porsi + keuntungan = Rp ____________________

v. Analisis Keuntungan
Jika semua porsi terjual:
 Total pendapatan = harga jual × jumlah porsi
= Rp ____________________
 Keuntungan = pendapatan – biaya produksi
= Rp ____________________

I. Assessmen Sumatif
1. Observasi dan Ekplorasi
 Formatif
Penilaian pada kegiatan Pertemuan 1 adalah penilaian formatif, berupa penilaian LKPD 1 hasil
observasi dan eksplorasi. Rubrik penilaian pedoman penskoran kegiatan Observasi dan
Eksplorasi dapat dilihat di Panduan Umum.
 Pengayaan
Memberikan tugas pengamatan produk olahan pangan nabati di luar jam pelajaran seperti
eksplorasi melalui buku, youtube atau media lainnya agar peserta didik memiliki wawasan
yang luas.
 Refleksi
Peserta didik menyampaikan hal baik yang diperoleh selama pembelajaran.
Peserta didik menyampaikan kesimpulan dari pembelajaran
2. Produksi/Perencanaan
Susunlah rencana usaha dari produk pangan yang akan kalian ciptakan sehingga
usaha kalian dapat diterima oleh pasar dalam benuk laporan perencanaan
usaha/business plan
3. Produksi/Pembuatan
4. Refleksi/evaluasi

J. Lampiran
1. Eksplorasi dan Observasi
Jenis produk olahan pangan higienis Nusantara dari bahan nabati yang harus dipelajari disesuaikan dengan
konteks lokal dan juga berdasarkan kemampuan awal, baik berupa pengetahuan maupun keterampilan,
yang dimiliki peserta didik tentang produk olahan pangan higienis Nusantara dari bahan nabati. Proses
pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan: Pengolahan mengikuti alur elemen, yaitu observasi dan
eksplorasi, desain atau perencanaan, produksi, serta refleksi dan evaluasi. Proses pembelajaran yang
diutamakan berpusat pada peserta didik dengan menggunakan berbagai sumber informasi dan referensi
yang terdapat di daerah/wilayah setempat. Oleh karena itu, saat proses pembelajaran, perlu diperhatikan
dengan saksama siapa peserta didik yang telah memiliki kompetensi pengolahan pangan produk nabati.
Pembahasan produk pengolahan dimulai dengan pengemasan dan atau penyajian produk olahan pangan.
Hal ini dengan pertimbangan bahwa umumnya, konsumen tertarik pada produk olahan pangan dengan
melihat tampilannya terlebih dahulu, baik itu kemasannya dan atau penyajiannya. Kemudian, konsumen
akan mencoba merasakan produk olahan pangan dengan membelinya. Peserta didik diharapkan memiliki
keterampilan setelah belajar Prakarya dan Kewirausahaan: Pengolahan. Oleh sebab itu, praktik
pembelajaran hendaknya dilakukan di sekolah agar guru dapat menilai proses kerjanya. Hindari pembuatan
produk pengolahan dilakukan di luar kegiatan pembelajaran
1) Bahan Pangan Nabati
Bahan pangan nabati tentunya memiliki karakteristik yang berbeda satu dan lainnya. Berikut ini contoh
beberapa jenis bahan pangan nabati yang perlu dikenal dan dipahami oleh peserta didik.
A. Buah-buahan Buah merupakan bahan pangan nabati yang memiliki rasa enak dan menyegarkan
serta memiliki banyak nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Buah-buahan memiliki
kandungan serat yang tinggi, vitamin A, vitamin B, vitamin B1, vitamin B6, serta vitamin C (Kauna
Timothy, 2020). Beberapa jenis buah-buahan yang banyak ditemui di sekitar kita, yaitu pisang,
jeruk, apel, pepaya, dan masih banyak lagi.
B. Sayuran Sayuran merupakan salah satu bahan pangan nabati yang mengandung zat gizi yang
lengkap. Sayuran memiliki nutrisi seperti vitamin, mineral, serat, kalsium, zat besi, folat dan kalium.
Beberapa contoh sayuran, yaitu kangkung, selada, terong, kol, dan buncis.
C. Serealia Bahan pangan yang berasal dari biji-bijian dan berfungsi sebagai sumber makanan pokok
bagi manusia dinamakan serealia. Kandungan serealia berupa zat karbohidrat, kaya protein,
berserat tinggi, dan rendah lemak, juga mengandung vitamin E dan B. Contoh tanaman serealia
ialah beras, sorghum, barley, jagung, dan gandum.
D. Kacang-kacangan Kacang-kacangan termasuk hasil pangan biji yang berukuran lebih besar dari
kelompok serealia. Kandungan kacang-kacangan memiliki banyak serat, protein, lemak yang
menyehatkan, mineral, dan vitamin, terutama vitamin E. Contoh beberapa kacang-kacangan, yaitu
kacang tanah, kacang merah, kacang hijau, kacang kedelai, kacang mete, dan kacang almond.
E. Umbi-umbian Umbi-umbian merupakan sumber pangan yang memiliki kandungan utamanya
karbohidrat/pati, vitamin, protein, mineral, zat besi, fosfor kalsium, dan serat yang tinggi. Beberapa
contoh umbi-umbian adalah bengkoang, singkong, talas, ubi jalar, bawang, dan kentang.
Mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan: Pengolahan mengharapkan agar satuan pendidikan
mengembangkan materi berdasarkan konteks daerah-daerah yang ada di Nusantara dengan
memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar tempat tinggal peserta didik. Sebagai acuan, guru
dapat melihat daerah-daerah mana saja yang dapat dijadikan contoh sebagai motivasi peserta didik dalam
mengembangkan kearifan lokal. Kearifan lokal dari bahan pangan nabati dapat digali dan tentunya
menyesuaikan daerahnya. Misalnya, Desa Cilembu, Jawa Barat, menghasilkan umbi yang dinamakan ubi
Cilembu. Ubi cilembu sangat dikenal di lingkungan masyarakat Jawa Barat. Ubi khas Desa Cilembu ini
memiliki rasa yang unik: sangat manis seperti madu dan aromanya yang mirip mentega. Hal ini membuat
cita rasa tersendiri. Ubi ini hanya dapat tumbuh di tanah wilayah Desa Cilembu, Kabupaten Sumedang,
Jawa Barat. Ketika dicoba di tanam di wilayah lain, rasa madunya tidak akan keluar dan hanya memiliki cita
rasa seperti umbi biasa pada umumnya.
2) Teknik Pengolahan Bahan Pangan
Pengolahan produk olahan pangan higienis Nusantara dari bahan nabati ada yang menggunakan proses
pengawetan. Pengawetan makanan merupakan cara yang digunakan untuk membuat makanan memiliki
daya simpan yang lama dan mempertahankan sifat-sifat fisik dan kimia makanan.
Menurut Sulandari (2022), teknik pengawetan pangan nabati terdiri atas beberapa teknik yang perlu dikenal
dan dipahami oleh peserta didik. Berikut ini tiga teknik pengawetan pangan.
A. Pengawetan secara Fisika
Ada beberapa teknik pengawetan secara fisika.
1. Pemanasan
Pemanasan ialah pengawetan dengan cara memanaskan bahan atau produk pangan pada suhu
tertentu bergantung pada jenis produk yang akan diawetkan. Contoh, pengawetan pada bahan
pangan susu cukup menggunakan suhu 60-70 °C dengan waktu yang lebih lama sekitar 30 menit.
Hal itu karena susu memiliki protein yang mudah rusak dengan pemanasan pada suhu yang lebih
tinggi. Tujuan pemanasan ialah untuk menghilangkan mikroorganisme patogen di dalam bahan
atau produk pangan.
2. Pembekuan
Pembekuan ialah pengawetan bahan atau produk pangan dengan menurunkan temperaturnya
hingga di bawah titik beku air, contohnya sayuran frozen.
3. Pengalengan
Pengalengan ialah teknik pengawetan perpaduan kimia (penambahan bahan pengawet) dan fisika
(ruang hampa dalam kaleng). Pengalengan adalah satu proses dalam mengawetkan makanan
dalam wadah yang tertutup rapat dan disterilkan dengan suhu panas.
Teknik ini dilakukan agar bahan makanan bebas dari bakteri yang mengakibatkan kebusukan dan
untuk mempertahankan nilai gizi, cita rasa, dan daya tarik, contohnya manisan buah kaleng.
4. Pembuatan Acar
Pembuatan acar merupakan teknik pengawetan yang sering dilakukan pada sayur ataupun buah
dengan pemberian garam dan cuka. Tujuannya untuk memperpanjang masa simpan, contohnya
acar mentimun.
5. Pengentalan Pengentalan ialah pengawetan yang dilakukan untuk bahan cair, contohnya dodol.

6. Pengeringan
Pengeringan adalah pengawetan bahan pangan dengan cara mengurangi kadar air bahan untuk
mencegah pembusukan makanan akibat mikroorganisme. Teknik pengawetan ini dilakukan
dengan cara penjemuran dan pemanggangan menggunakan oven dan sering dilakukan untuk
bahan padat yang mengandung protein dan karbohidrat, contohnya keripik.
7. Pembuatan Tepung
Pembuatan tepung adalah teknik pengawetan yang diterapkan pada bahan karbohidrat dengan
perubahan bentuk menjadi bentuk bubuk/halus, contohnya tepung beras.
A. Pengawetan secara Biologis
Pengawetan secara biologis dilakukan dengan sistem peragian atau fermentasi dan dapat pula dengan
penambahan enzim, seperti papain (enzim dari buah pepeya) dan bromelin (enzim dari buah nanas)
B. Pengawetan secara Kimiawi
Pengawetan secara kimiawi ialah pengawetan dengan cara menggunakan bahan tambahan makanan
(BTM). Pemberian BTM diterapkan pada bahan cair nonminyak maupun mengandung minyak.
Penggunaan BTM harus sesuai dengan takarannya. Alangkah baiknya peserta didik pun diperkenalkan
dengan beberapa makanan khas daerah lain, mulai bahan dasar sampai cara pembuatannya.
Perhatikan Tabel 1.1 beberapa di antaranya produk nabati sebagai makanan khas daerah tertentu.
 Instrumen Asesmen
Kriteria Ketuntasan Belum Muncul Muncul Terlihat pada
Muncul Sebagian Sebagian keseluruhan
(1) Kecil (2) Besar (3) kriteria (4)
1. Mengidentifikasi contoh √
produk olahan pangan khas
daerah dari bahan nabati
2. Menganalisis produk olahan √
pangan khas daerah dari
bahan nabati

2. Desain/Perencanaan
Langkah-Langkah Berwirausaha
Memulai bisnis usahakan dapat memberikan keuntungan bagi yang menjalankannya.
Mempelajari dan memahami cara-cara khusus yang harus dilakukan untuk mencapaikeberhasilan
memungkinkan kita untuk memulai berwirausaha produk makanan khas daerahdengan cara yang
benar. Di bawah ini merupakan langkah-langkah untuk memulai usaha.
 Buatlah rencana bisnis dan strategi pemasaran serta petakan sumber daya keuangan.
 Pilih struktur bisnis, urus izin usaha, dan daftarkan usaha kamu pada instansi terkaityang
tepat.
 Tentukan usaha barang atau jasa yang diminati konsumen.
 Buatlah jaringan kerja dengan produsen lain.
 Carilah pasar yang [Link] bisnis usaha produk makanan khas daerah dapat
memberikan keuntungan cukup besar. Dengan mempelajari dan memahami cara-cara untuk
mencapai keberhasilan,memungkinkan kita untuk memulai mengolah produk makanan khas
daerah dengan cara yang benar.
Berikut ini adalah hal yang perlu diperhatikan saat membuatrencana bisnis pengolahan produk
non pangan.
a. Pemilihan Jenis Usaha
Tentukan jenis produk yang akan dipasarkan, contohnya sabun cuci cair. Sabun cuci cair yang
terbuat dari eco enzyme dan MES merupakan salah satu produk olahan non pangan yang
memiliki banyak manfaat dan juga ramah lingkungan. Mudah dibuat, wanginya harum, dan
harga terjangkau menjadi alasan mengapa produk ini diminati oleh banyak orang.
b. Nama Perusahaan
Perusahaan ini diberi nama CV. Bercahaya, dengan pendiri perusahaan terdiri atas 3 orangatau
lebih.
c. Lokasi perusahaan
Lokasi usaha ditentukan di daerah yang dekat dengan bahan baku, tidak jauh dari lokasirumah
pengelola, dan tidak terlalu jauh dari jangkauan pasar yang akan dituju. Tahap awal bisa
menggunakan salah satu ruangan di rumah atau menyewa rumah sekitar tempat tinggal.
d. Perizinan usaha
Izin usaha yang disiapkan, antara lain NPWP dari kantor pajak, akte notaris dari kantornotaris,
SIUP/TDP dari Dinas Perindustrian Kota/Kabupaten, dan izin PIRT dari DinasKesehatan
Kota/Kabupaten.
e. Sumber daya manusia
Sumber Daya Manusia (SDM) yang dipersiapkan terdiri atas 3 orang pendiri, yangmempunyai
tugas masing-masing sebagai:
 penanggung jawab produksi
 penanggung jawab pemasaran
 penanggung jawab administrasi dan keuangan
f. Melakukan survei pasar
g. Memperhatikan aspek produksi
Hal-hal yang harus diperhatikan pada aspek produksi ialah bahan baku dan bahan tambahanyang
digunakan.
 Peralatan yang digunakan
 Jumlah tenaga kerja yang diperlukan
 Hasil produksi
h. Aspek keuangan
Hal-hal yang harus diperhatikan pada aspek keuangan adalah seperti berikut.
 Biaya variabel, seperti: pembelian bahan baku, membayar gaji, dan lain-lain
 Biaya tetap,
 Total biaya
 Penerimaan kotor
 Pendapatan bersih

Sumber Daya yang Dibutuhkan Dalam Usaha Produk Olahan Non Pangan
Suatu Produksi tidak akan berjalan tanpa adanya faktor-faktor Produksi atau sumber daya
[Link] produksi adalah setiap benda atau jasa yang digunakan untuk
menciptakan,menghasilkan, atau meningkatkan nilai guna suatu barang atau jasa. Faktor-faktor
produksi merupakan sumber daya ekonomi yang diperlukan untuk menghasilkan barang atau
jasaFaktor produksi dibedakan menjadi empat macam yaitu:
1. Faktor produksi Alam
Segala sesuatu yang tersedia di alam yang dapat dimanfaatkan manusia untuk
melaksanakanproduksi. Faktor produksi alam yang digunakan untuk usaha makanan tradisional
adalah:- Air- Tanah- Iklim dan Udara- Tumbuh-tumbuhan dan hewan.
2. Faktor produksi tenaga kerja
Segala kemampuan yang dimiliki manusia. baik jasmani maupun rohani yang digunakan
dalamproses produksi. Faktor produksi tenaga kerja yang digunakan pada usaha makanan
tradisional adalah :- Tenaga kerja jasmani meliputi tenaga kerja terdidik, tenaga kerja terlatih,
tenaga kerja tidakterdidik atau tidak terlatih- Tenaga kerja Rohanitenaga kerja rohani adalah
tenaga kerja yang lebih banyak menggunakan kemampuan intelektualdalam melakukan
aktivitasnya contohnya manager pemasaran.
3. Faktor produksi Modal
Setiap benda atau alat yang di gunakan untuk menghasilkan barang atau jasa ataupun
dapatdigunakan dalam proses produksi. Faktor produksi modal yang digunakan dalam usaha
makanandaerah adalah sebagai berikut :- Menurut wujudnya a) Modal barang b) Modal uang-
Menurut fungsinya a) Modal Perorangan b) Modal Masyarakat- Menurut sifatnya a) Modal tetap
b) Modal Lancar- Menurut bentuknya a) Modal nyata b) Modal tidak nyata- Menurut sumber
modalnya a) Modal sendiri b) Modal pinjaman
4. Faktor produksi Kewirausahaan
-Faktor produksi yang perlu dimiliki oleh seorang wirausahawan dalam menentukan faktor-
faktorproduksi. faktor ini sangat diperlukan untuk mengendalikan dan mengelola usaha
makanantradisional. Seorang wirausahawan harus memiliki keahlian sebagai berikut :a) Keahlian
memimpin (managerial skill)b) Keahlian teknologic) Keahlian organisasi
Membuat Desain Kemasan
Pada proses pembuatan desain kemasan, perlu diperhatikan pula tentang labeling. Pemberian
label produk dilakukan pada tahap akhir proses pengolahan pangan sebelum dipasarkan. Menurut
Fitri Rahmawati (2013), fungsi label sebuah produk pada kemasan, yaitu: sebagai identifikasi
produk, membantu mengenalkan merek produk, dan untuk memenuhi peraturan perundang-
undangan.
Pada label, sebaiknya tertera:
1) Nama produk
2) Nama dagang/merk
3) Komposisi produk
4) Berat/isi bersih produk
5) Nama dan alamat produsen
6) Nomor pendaftaran (pirt/md)
7) Tanggal/bulan dan tahun kadaluars

Membuat Desain Produk


Pada desain produk olahan pangan dari bahan nabati, kita dapat memilih makanan/minuman
khas daerah tertentu ataupun sesuai dengan kearifan lokal setempat. Salah satu proses
pengawetan produk olahan pangan higienis Nusantara dari bahan nabati ialah dodol. Dodol
merupakan makanan khas Indonesia yang hampir dimiliki oleh setiap daerah. Bahan dasar dodol
dari tepung beras, ketan, santan, dan gula merah. Dodol memiliki rasa manis yang legit. Teknik
pengawetan dalam pembuatan dodol merupakan teknik pengawetan alami, dengan proses
pengentalan dan penambahan gula. Kemiripan dodol di setiap daerah ini terdapat pada warna dan
teksturnya yang kental. Adapun perbedaannya pada ciri khas berupa bahan pembungkus dodol,
perisa rasa lainnya, serta penamaan yang berbeda, dapat dilihat pada tabel berikut;
Makanan khas Nusantara banyak yang menggunakan daun sebagai kemasan/pembungkusnya
baik daun pisang, daun jagung maupun daun yang lainnya. Makanan yang dibungkus dengan
daun memiliki kelebihan, yaitu aroma makanan tersebut menjadi lebih wangi dan bebas bahan
kimia, seperti plastik. Pembungkus makanan dari daun pisang ini pun memiliki beragam bentuk
dengan namanya masingmasing. Namun, saat ini, kemasan khas tersebut banyak dikemas ulang
menggunakan kemasan yang lebih modern sehingga lebih unik dan menarik. Pada proses
pembuatan desain produk dan kemasan, diperlukan perencanaan yang matang, Tujuan
perencanaan tentunya ialah untuk mencapai sesuatu yang diinginkan dengan mengikuti langkah-
langkah yang tepat. Kegiatan perencanaan meliputi hal-hal berikut:
1) Identifikasi kebutuhan produk (menganalisis kebutuhan pengolahan produk pangan
berdasarkan kondisi lingkungan sekitar atau kelas/kelompok/keluarga sebagai ide/ gagasan
perencanaan produk pengolahan pangan.
2) Ide gagasan (merancang atau membuat rencana pembuatan produk pengolahan pangan khas
Nusantara dan kemasannya sesuai dengan hasil identifikasi kebutuhan).
Menurut Fitri Rahmawati (2013), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan
kemasan yang baik, yaitu seperti berikut.
1) Kemasan harus dapat melindungi produk/isi dengan baik.
2) Mudah dibuka dan mudah ditutup serta mudah dibawa.
3) Bentuk dan ukuran menarik sesuai kebutuhan produk.
4) Labeling harus jelas dan komplit.
5) Bahan kemasan harus ramah lingkungan. Bahan-bahan yang sering dijadikan kemasan seperti
berikut.
a. Kemasan Berbahan Logam
Kemasan logam (kaleng) merupakan kemasan yang dapat melindungi produk dari sinar
matahari, uap air, dan oksigen sehingga meminimalisir terjadinya kebusukan.
b. Kemasan Berbahan Kaca
Kemasan kaca tahan terhadap produk yang sifatnya asam dan basa serta tidak dapat
bereaksi dengan bahan yang dikemas. Namun, kemasan berbahan kaca mudah pecah jika
terkena benturan dan lebih berat dibandingkan dengan bahan lainnya seperti logam,
plastik atau kertas.
c. Kemasan Berbahan Plastik
Plastik memiliki beberapa jenis, tidak semua jenis plastik dapat digunakan sebagai bahan
kemasan produk makanan dan minuman. Hal ini dikarenakan ada beberapa jenis plastik
yang mengandung zat kimia sehingga dapat merusak kesehatan manusia. Plastik ini
memiliki bahan yang ringan, relatif mudah didapat, dengan masa simpan relatif singkat.
d. Kemasan Berbahan Kertas/Karton
Kemasan kertas dan karton banyak digunakan untuk kotak karton lipat (kkl) dan kotak
karton gelombang (KKG) mudah dicetak, serta gelas karton yang sekali pakai. Kelebihan
kemasan ini ramah lingkungan.

Langkah-langkah Perencanaan Usaha


5 langkah dalam perencanaan usaha
yakni analisis pasar, mencariinformasi harga sarana produksi, menghitung biaya produksi,
menghidung pendapatan, danmenghiung hasil usaha. Berikut ulasannya:
1. Analisis pasar
Analisis pasar adalah suatu penganalisasisan atau penyelenggaran untuk mempelajari
berbagaimasalah pasar. Analisis pasar dilakukan setelah produk sudah ditentukan, dan
menejemen sudahsiapkan , maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengadakan
analisa pasar. Maksudnyaagar ketika produk peternakan yang kita usahakan sudah berproduksi
dengan baik dan manajemenyang dilakukan sudah benar maka kita tidak akan bingung mau di
kemanakan produk yang telah [Link] usaha perusahaan dapat ditentukan oleh
ketepatan strategi pemasaran yang diterapkannya dengan dasar memeperhatikan situasi dan
kondisi dari analisis pasarnya. Denganmelakukan analisis pasar maka dapat diketahui berapa
kebutuhan telur, suplier telur pada saat ini,harga telur maupun tata niaga telur. Besarnya pasar
dapat di tentukan oleh besarnya permintaandan penawaran terhadap barang atau jasa yang di
butuhkan para konsumen. Sedangkan mengenairuang lingkup pasar, biasanya mencakup luasnya
pasar, misalnya luas pasar menurut geografis,pendidikan para konsumen, profesi para konsumen,
tingkat umur para konsumen, dan lainsebagainya. Dengan melakukan analisis pasar maka dapat
diktahui.
2. Mencari informasi harga sarana produksi
Informasi harga yang utama harus diketahui oleh seorang pengusaha agribisnis unggas
peteluradalah harga : kandang, pakan, pullet, obat, vitamin, peralatan dll
3. Menghitung biaya produksi
Biaya produksi dapat dibedakan dua yaitu biaya investasi atau biaya tetap dan biaya variabel
ataubiaya tidak tetap
 Biaya investasi
adalah biaya yang pada umumnya dikeluarkan pada awal kegiatan proyekdalam jumlah yang
cukup besar. Biaya investasi atau biaya tetap (Fix cost) adalah biayauntuk investasi yang tidak
habis pakai. Komponen biaya tetap terdiri dari tanah, bangunanyang terdiri atas kandang, gudang
pakan dan gudang peralatan serta peralatan (tempatpakan doc, tempat pakan, tempat
minum, pemanas, tabung, selang gas, drum plastik, handsprayer /semprotan gendong , ember
plastik, timbangan salter, timbangan duduk, sekop,kereta dorong , sumur air, pompa air, tower
air, jaringan air dan jalan.
 Menghitung biaya variabel/ tidak tetap
: Biaya tidak tetap atau sering disebut variable costmerupakan biaya yang habis pakai dan bisa
berubah-ubah tergantung jumlah [Link] biaya tidak tetap terdiri dari pakan starter,
pakan grower dan pakan layer, vaksin,obat-obatan, vitamin, doc, desinfektan, sekam, gas LPG,
listrik, tenaga kerja , air minum dan pemasaran.
Harga Pokok Produksi
Harga pokok penjualan (HPP) merupakan salah satu unsur penting dalam laporan keuangan
suatu perusahaan. Istilah ini kerap digunakan sebagai acuan dalam penentuan harga jual produk
melalui perhitungan dari biaya produksi.
Dengan menghitung harga pokok penjualan (HPP), perusahaan dapat mengetahui hasil laba atau
rugi. Perhitungan HPP yang tepat berpengaruh pada keakuratan laba yang diraih perusahaan.
Untuk mendapatkan perhitungan HPP yang tepat, rasional, dan wajar, perusahaan perlu
mengenali faktor yang menentukannya, baru kemudian melakukan perhitungan dengan rumus
tertentu.
Harga Pokok Penjualan atau HPP dapat dipahami sebagai suatu jumlah pengeluaran dan beban
yang dikeluarkan secara langsung maupun tidak langsung oleh perusahaan dalam rangka
menghasilkan produk atau jasa.
Pengertian lain dari HPP menurut prinsip akuntansi yaitu jumlah pengeluaran dan beban yang
diperkenankan, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menghasilkan barang atau
jasa di dalam kondisi dan tempat di mana barang itu dapat dijual atau digunakan.
Yang perlu menjadi catatan adalah biaya yang tidak langsung berhubungan dengan produk tidak
bisa dimasukkan ke dalam harga pokok penjualan. Oleh karena itu, perhitungan ini dibuat agar
perusahaan mengetahui rincian biaya dari suatu produk. Karena hal ini berkaitan dengan
keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan.
Tujuan Menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) bagi Perusahaan
1. Menentukan Harga Jual Produk
Jika perusahaan tidak mengetahui berapa total nilai harga pokok produksi, maka perusahaan
akan sulit dalam menghitung dan menentukan harga jual produk.
Oleh karena itu, perusahaan harus mengetahui apa saja komponen serta biaya dalam proses
produksi sebagai tahapan awal untuk menentukan harga jual agar mendapatkan keuntungan.
2. Pemantauan Biaya Produksi Secara Riil
Selanjutnya, biaya produksi yang telah direncanakan akan dimonitor dan
dianalisis, apakah sudah terealisasi sesuai dengan rencana atau masih ada
lebih/kurang?

Jika terjadi selisih, perusahaan dapat mencari tahu penyebabnya agar


kedepannya dapat membuat keputusan lebih baik dalam kegiatan produksi.

3. Perhitungan Laba Rugi Secara Periodik


Tujuan dari mengetahui berapa nilai harga pokok produksi adalah untuk
memastikan apakah kegiatan produksi dan pemasaran dalam periode
tersebut mampu menghasilkan keuntungan atau malah menimbulkan
kerugian untuk perusahaan. Hal ini akan melibatkan informasi laba rugi
bruto dari perusahaan.

4. Menentukan Harga Pokok Persediaan Produk Jadi


Perusahaan harus bisa menyajikan data terkait harga pokok persediaan
produk jadi dan harga pokok produksi di mana biaya tersebut akan melekat
pada produk jadi yang belum terjual pada tanggal neraca disajikan (masuk
dalam variabel harga pokok persediaan produk dalam proses).

Unsur Penting dalam Menghitung Harga Pokok Produksi


Unsur-unsur yang harus diperhitungkan dalam penentuan harga pokok produk ada tiga. Yaitu,
biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan yang terakhir adalah biaya overhead
pabrik atau perusahaan. Ini dia penjelasan tentang ketiganya :
Biaya Bahan Baku Langsung

Agar perusahaan dapat memproduksi sebuah barang, perusahaan tentu membutuhkan bahan
baku. Dalam menentukan harga pokok produksi, bahan baku menjadi salah satu unsur yang perlu
dimasukkan kedalam hitungan. Terdapat empat jenis yang termasuk dalam biaya bahan baku,
diantaranya yaitu :
1. Jumlah bahan baku yang dibutuhkan, Modal untuk membeli bahan baku, Total bahan baku yang
tersisa setelah produksi, Mengakhiri kebutuhan terhadap persediaan bahan baku
Biaya Tenaga Kerja

Biaya tenaga kerja merupakan unsur yang sudah ditetapkan di awal melalui sistem upah atau gaji
yang diberikan kepada seluruh staff dalam perusahaan. Melalui sistem penggajian, perusahaan
dapat mengukur kebutuhan tenaga kerja untuk melakukan proses produksi. Sehingga, biaya ini
juga dapat dibebankan dalam perhitungan HPP.
Biaya Overhead

Untuk dapat menentukan harga suatu produk, perusahaan juga perlu memasukkan biaya
overhead pabrik dalam perhitungan HPP. beberapa contoh biaya yang termasuk dalam biaya
overhead yaitu pemeliharaan dan perbaikan peralatan, biaya pengadaan, biaya manajemen,
akuntansi dan juga biaya sumber daya yang dibutuhkan. Selain itu, beberapa hal seperti pajak
dan depresiasi peralatan dan pembangunan pabrik juga dapat diikutsertakan dalam unsur biaya
overhead.
Cara Menghitung HPP Perusahaan
Menghitung dan membuat laporan harga pokok produksi, tentu berbeda pada tiap industri.
Berikut beberapa langkah dalam menghitung harga pokok produksi perusahaan pada salah satu
industri, yaitu industri manufaktur :
1. Menghitung Seluruh Bahan Baku yang Digunakan
Perusahaan manufaktur membuat produk dari bahan mentah atau bahan
baku, setengah jadi, hingga menjadi barang jadi yang siap dikonsumsi.
Dalam hal ini, bahan baku dalam manufaktur menjadi modal utama dalam
menghitung HPP untuk pertama kalinya.

Jika perusahaan bergerak di industri manufaktur, maka perusahaan harus


terlebih dulu menentukan berapa banyak bahan baku yang akan digunakan
untuk memproduksi suatu barang. Untuk menentukannya, Anda dapat
melihat dari berapa banyak bahan baku yang masih tersisa di akhir periode,
setelah saldo awal periode. Kemudian ditambah pembelian yang ada selama
periode tersebut berlangsung.

Berikut cara untuk menghitung seluruh bahan baku yang digunakan untuk
produksi:

Bahan Baku Terpakai = Saldo Awal Bahan Baku + Pembelian Bahan Baku –
Saldo Akhir Bahan Baku

2. Menghitung Biaya Produksi Lainnya


Selain bahan baku, perusahaan manufaktur juga harus menghitung biaya
produksi lainnya yang berpengaruh terhadap proses produksi barang.
Contohnya dari bahan mentah hingga menjadi barang jadi, selain bahan
baku utama.
Biaya-biaya tersebut diantaranya adalah biaya tenaga kerja langsung dan
biaya overhead seperti biaya bahan baku yang bersifat tidak pokok seperti
biaya listrik, biaya reparasi, biaya pemeliharaan, dan sebagainya.

3. Menghitung Total Biaya Produksi


Salah satu poin yang membedakan perhitungan HPP perusahaan manufaktur
dan perusahaan pada industri lain yaitu mengetahui total biaya produksi.
Total biaya produksi merupakan sebagian biaya yang dikeluarkan saat
barang telah masuk ke dalam proses produksi dan biaya yang dikeluarkan
untuk produksi barang tersebut.

Untuk mendapatkan perhitungan perhitungan total biaya produksi yaitu


dengan mengetahui perhitungan bahan baku barang yang diproses pada awal
periode produksi. Kemudian ditambahkan dengan bahan baku bahan baku
tidak pokok seperti tenaga kerja langsung dan overhead.

Setelah menghitung total yang disebutkan diatas, kemudian perusahaan perlu


menguranginya dengan barang yang masih tersisa di gudang pada akhir
periode. Secara sederhana, rumus menghitung biaya produksi lainnya adalah
sebagai berikut:

Total Biaya Produksi = Bahan Baku Yang Digunakan + Biaya Tenaga Kerja
Langsung + Biaya Overhead Produksi

4. Menghitung Harga Pokok Produksi


Di bawah ini adalah rumus yang bisa digunakan oleh perusahaan untuk
menghitung harga pokok produksi :

Harga Pokok Produksi = Total Biaya Produksi + Persediaan Barang Dalam


Proses Produksi Awal – Persediaan Barang Dalam Proses Produksi Akhir

5 Alasan Penting Kenapa HPP Wajib dihitung oleh Perusahaan


Harga Pokok Produksi (HPP) perlu dihitung oleh bisnis karena memiliki beberapa manfaat
penting, antara lain:
1. Penentuan Harga Jual yang Optimal
Menghitung HPP adalah langkah awal yang penting dalam menetapkan harga jual yang
menguntungkan.
Dengan mengetahui biaya produksi yang tepat, perusahaan dapat menetapkan harga jual yang
memadai untuk mendapatkan keuntungan yang diinginkan.
2. Perencanaan dan Pengendalian Biaya
Menghitung HPP membantu perusahaan dalam merencanakan dan mengendalikan biaya
produksi.
Dengan memahami komponen-komponen biaya produksi, perusahaan dapat mengidentifikasi
area-area di mana pengeluaran dapat dioptimalkan atau dikurangi.
3. Penetapan Kebijakan Produksi
Pengetahuan tentang HPP memungkinkan perusahaan untuk membuat keputusan strategis terkait
kebijakan produksi, termasuk pemilihan metode produksi yang paling efisien dan alokasi sumber
daya yang tepat.
4. Evaluasi Kinerja Keuangan
Dengan membandingkan HPP dengan pendapatan penjualan, perusahaan dapat mengevaluasi
efisiensi operasional dan profitabilitas bisnisnya.
5. Pengambilan Keputusan Investasi
Ketika perusahaan mempertimbangkan untuk memperluas fasilitas produksi atau
menginvestasikan dalam peralatan baru, pemahaman tentang biaya produksi menjadi krusial
untuk mengevaluasi kelayakan investasi tersebut.
Dengan demikian, menghitung HPP adalah langkah yang krusial dalam manajemen keuangan
dan operasional perusahaan.
Lakukan penghitungan Harga Pokok Produksi dengan mudah pakai Accurate Online,
Manfaatkan Fitur Otomasi guna hasilkan penghitungan akurat dalam sekejap!
Menentukan harga pokok produksi membantu perusahaan untuk membuat keputusan yang lebih
baik, mengoptimalkan kinerja operasional, dan mencapai tujuan keuangan.
Lantas, Kapan Perhitungan HPP Perlu Dilakukan?
Perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dapat dilakukan oleh perusahaan pada beberapa titik
penting dalam siklus operasional mereka, seperti:
1. Pada Tahap Perencanaan Produk Baru
Saat perusahaan merencanakan peluncuran produk atau layanan baru, perhitungan HPP
diperlukan untuk memperkirakan biaya produksi dan menentukan harga jual yang memadai.
2. Sebelum Penetapan Harga Jual
Sebelum menetapkan harga jual, perusahaan perlu menghitung HPP untuk memastikan bahwa
harga yang ditetapkan mencakup biaya produksi dan memberikan keuntungan.
3. Secara Berkala untuk Evaluasi Kinerja Keuangan
Perusahaan perlu secara teratur mengevaluasi kinerja keuangan mereka, dan perhitungan HPP
membantu dalam memantau efisiensi operasional dan profitabilitas.
4. Saat Perubahan Signifikan dalam Biaya Produksi
Jika terjadi kenaikan harga bahan baku atau biaya tenaga kerja, perusahaan perlu menghitung
kembali HPP untuk menyesuaikan strategi harga dan pengelolaan biaya.
5. Sebelum Pengambilan Keputusan Investasi
Keputusan investasi besar seperti ekspansi fasilitas produksi atau investasi dalam teknologi baru,
perhitungan HPP diperlukan untuk mengevaluasi kelayakan investasi dan potensi pengembalian
investasi.
6. Proses Pengendalian Biaya Produksi
Untuk pengendalian biaya produksi secara efektif, perusahaan perlu terus memantau dan
menghitung HPP untuk mengidentifikasi area-area di mana pengeluaran dapat dioptimalkan atau
dikurangi.
Dengan demikian, perhitungan HPP merupakan bagian integral dari manajemen keuangan dan
operasional perusahaan.
Dilakukan pada titik-titik tersebut, perhitungan HPP membantu perusahaan dalam membuat
keputusan yang lebih baik, mengelola risiko, dan mencapai tujuan keuangan yang ditetapkan.
Menghitung pendapatan
Pendapatan dari usaha budidaya unggas petelur adalah telur, unggas afkir yaitu baik unggas-
unggasyang tidak produktif dari hasil culling pada periode produksi maupun unggas culling
karena masaproduksinya sudah berakhir serta kotoran (pupuk kandang). Jadi jumlah pendapatan
adalahpendapatan dari total dari jumlah telur yang diproduksi ditambah pendapatan dari
penjualan unggasafkir dan penjualan pupuk kandang.
Menghitung hasil usaha
Hasil usaha dapat dihitung setelah diketahui total dari pendapatan dan biaya. Suatu usaha
dikatakanuntung apabila pendapatan lebih besar daripada biaya produksi.

Pengertian Break Even Point – Untung dan rugi dalam suatu usaha merupakan sebuah pilihan,
Tentu saja, setiap perusahaan pasti menginginkan profit yang laba. Laba itu sendiri bisa dapat
diperoleh ketika jumlah pendapatan lebih besar dibandingkan dengan jumlah biaya yang
dikeluarkan. Namun, tidak menutup kemungkinan jika nanti hasilnya akan rugi, yang di mana
jumlah beban yang dikeluarkan lebih besar dari pendapatan yang diterima dalam periode
tertentu.
Oleh sebab itu, untuk menghindari kerugian tersebut, maka para pengusaha perlu mengenal
tentang Break Even Point atau yang lebih familiar didengar dengan BEP. Pada kesempatan kali
ini kita akan membahas lebih dalam tentang pengertian Break Even Point hingga fungsinya.
Break Even Point atau disingkat dengan BEP merupakan suatu titik impas dimana laba yang
didapatkan mempunyai nilai setara dengan yang diperlukan dalam sebuah usaha atau bisa disebut
dengan tidak mengalami kerugian. Dalam posisi tersebut, laba bernilai 0 (nol) berarti tidak
untung ataupun tidak rugi atau bagi orang awam banyak dikenal dengan nama balik modal.
Kondisi BEP ini bisa muncul apabila perusahaan Anda menggunakan biaya tetap dalam
operasionalnya, sedangkan volume penjualannya hanya cukup menutupi biaya tetap beserta
biaya variabel yang ada. Dengan begitu, untung-rugi perusahaan Anda akan berada dalam posisi
titik 0 (nol) dan jika pendapatan yang perusahaan Anda hasilkan lebih besar dari biaya tetap dan
biaya variabel, maka perusahaan Anda dinyatakan untung.
Pengertian Break Even Point (BEP) Menurut Para Ahli
1. Mulyadi

Menurut Mulyadi, BEP diartikan sebagai impas, yakni keadaan di mana usaha tidak
mendapatkan laba, tapi juga tidak menderita kerugian. Dengan kata lain, usaha tersebut
dikatakan impas apabila jumlah pendapatannya sama dengan jumlah biaya, atau jika laba
kontribusi digunakan untuk menutup biaya saja.
2. Harahap

Menurut Harahap, Break Even Point adalah kondisi atau kinerja perusahaan di mana tidak
adanya laba dan tidak mengalami kerugian. Dengan kata lain, semua biaya yang sudah
dikeluarkan bisa tertutup dari pendapatan suatu produk.
3. Purba
Menurut Purba, Break Even Point adalah hal yang berdasarkan suatu pernyataan yang seperti
berapa jumlah unit produksi yang seharusnya bisa dijual untuk menutup biaya yang sudah
dikeluarkan untuk menghasilkan produk.
4. Sigit

Menurut Sigit, BEP merupakan tingkat penjualan yang dibutuhkan sebagai penutup dari total
biaya operasional yang dikeluarkan. Menurutnya, BEP adalah laba sebelum adanya bunga dan
pajak atau earning before interest.
5. Rony

Menurut Rony, BEP adalah sarana dalam manajemen yang bertujuan untuk mengetahui titik
hasil penjualan apakah sama dengan biaya. Alhasil, perusahaan tidak mempunyai keuntungan
dan juga kerugian.
6. Herjanto

Menurut Herjanto, Break Even Point merupakan analisis yang mempunyai tujuan untuk
menemukan kurva dalam biaya dan pendapatan yang senilai. Jadi, tidak heran jika disebut
sebagai titik pulang pokok.
Fungsi Break Even Point (BEP)
Setelah mengetahui yang dimaksud dengan Break Even Point atau biasa disebut dengan BEP,
maka pembahasan selanjutnya adalah fungsi dari BEP itu sendiri.
Jika return of investment berfungsi sebagai Analisa atas efisiensi dari modal yang digunakan,
maka BEP memiliki fungsi untuk mengefisiensikan apa yang diproduksi guna mendapatkan
keuntungan yang optimal. Untuk lebih jelasnya berikut merupakan fungsi dari BEP antara lain:
1. Menentukan Besaran Volume Barang

BEP memiliki fungsi untuk menentukan besaran volume barang yang akan diproduksi. Setelah
dapat menentukan volume produksi, maka dengan BEP pengusaha bisa menentukan
memproyeksikan laba dari perusahaan.
2. Memudahkan Untuk Menentukan Langkah

Seorang Pebisnis atau pengusaha juga bisa menentukan langkah yang efisien untuk kedepannya.
Contohnya menentukan langkah untuk mengurangi beban yang dianggap tidak perlu dalam
kinerja pada perusahaan. Hal itu dapat dilakukan dengan membuat BEP terlebih dahulu.
3. Mengetahui Perubahan Nilai Keuntungan

Fungsi dari BEP berperan tinggi dalam mengetahui perubahan nilai keuntungan yang mungkin
saja terjadi jika terjadi suatu perubahan harga dari produk. Hal ini sebenarnya didapatkan dari
pengertian bahwa nilai BEP dan harga produk yang dijual berada dalam satu garis linear. Oleh
sebab itu, jika salah satu point dalam definisi tersebut tinggi, maka point lainnya yang berada
dalam garis tersebut juga akan tinggi.
Dasar-Dasar Break Even Point (BEP)
Seorang pengusaha bisa memahami dan mengetahui keuangan dalam periode tertentu atau
selanjutnya dengan melihat BEP dari hasil penjualan. Oleh sebab itu, sangat diperlukan
pemahaman mengenai konsep dasar dalam menentukan titik BEP ini. Berikut ini terdapat
beberapa macam dasar dari Break Even Point yang harus dipahami dan dimengerti:
1. Bahan utama dalam perhitungan BEP ini merupakan biaya tetap (fixed cost) dan biaya
variabel ( Variable cost )
2. Apabila muncul suatu perubahan selama produksi, maka tidak berpengaruh pada nilai biaya
tetap atau fixed cost dan tetap konstan.
3. Munculnya perubahan volume dari kapasitas produksi, tentu saja berpengaruh pada nilai
biaya variabel keseluruhannya.
4. Jika nilai jual barang tetap, maka selama analisis dilakukan tidak akan memunculkan
perubahan harga jual yang ditetapkan.
5. Jika dilihat dari perhitungan BEP, jumlah produk yang dihasilkan akan selalu dianggap
sudah habis terjual.
6. Menghitung BEP berlaku untuk satu produk, jika perusahaan melakukan produksi secara
massal, maka diperlukan persamaan hasil penjualan setiap produk.

Manfaat dari Break Even Point


1. Membantu perusahaan/pebisnis untuk mengambil langkah yang lebih efisien
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa BEP merupakan salah satu cara untuk
menghitung apakah suatu produk yang dijual bisa menguntungkan perusahaan atau tidak. Oleh
sebab itu, dengan menghitung BEP, maka perusahaan akan menjadi lebih mudah dalam
menentukan langkah apa yang harus dilakukan agar perusahaan menjadi lebih berkembang dan
maju.
Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi perusahaan akan lebih mudah untuk ditingkatkan. Oleh
sebab itu, sudah seharusnya bagi pengusaha untuk selalu menggunakan BEP dalam menghitung
suatu barang produksi.
2. Dapat membuat estimasi waktu balik modal

Manfaat kedua dari menghitung BEP pada suatu perusahaan adalah pengusaha menjadi lebih
mudah dalam menentukan estimasi waktu untuk balik modal. Benar sekali, setiap pengusaha atau
pebisnis pastinya menginginkan untuk balik modal. Dengan menghitung BEP, maka pebisnis
bisa menghitung perputaran penjualan suatu produk, sehingga bisa mengetahui kapan waktu
untuk balik moda, entah itu dalam hitungan tahun atau bulan.
Dengan begitu, pengusaha atau pebisnis bisa menumbuhkan perusahaan. Bahkan, dengan BEP,
pebisnis bisa menjadi lebih mudah untuk menentukan kapan membutuhkan investor.
3. Profitabilitas dalam suatu bisnis

Manfaat yang ketiga dari Break Even Point adalah dapat meningkatkan profitabilitas dalam suatu
bisnis. Hal ini dapat terjadi karena dengan menghitung BEP, maka perusahaan menjadi lebih
mudah dalam melakukan analisa keuntungan. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa BEP dapat
mengurangi risiko terjadinya kerugian dari suatu perusahaan.

Komponen yang Membentuk Break Even Point


1. Biaya Tetap/Fixed Cost
Jenis biaya yang tidak berubah atau statis dengan kenaikan atau penurunan jumlah barang atau
jasa yang diproduksi atau bahasa gampangnya bisa diartikan sebagai biaya yang harus dihitung
meskipun saat itu bisnisnya sedang mengalami penurunan dalam penjualan atau tidak
memproduksi sesuatu.
2. Biaya Variabel

Jenis biaya yang angkanya tidak tetap atau bisa dibilang dengan bisa berubah, tergantung dari
tingkat produksi yang sedang dilakukan. Tingkat produksi dan biaya variabel akan selalu sama
dan berkaitan. Contoh dari variabel cost ini antara lain, bahan baku, beban listrik, air dan lain-
lain.
3. Harga Jual

Hal ini didapatkan dari semua biaya yang diperlukan dalam memproduksi suatu barang,
ditambah dengan keuntungan yang ingin didapatkan.
4. Pendapatan

Pendapatan atau penghasilan yang didapatkan dari seluruh penjualan produk atau jasa. Jumlah
pendapatan tersebut didapatkan berdasarkan harga jual dikali dengan jumlah produk yang
berhasil tembus dijual di pasaran.
5. Laba

Komponen pembentuk BEP yang terakhir tidak jauh dari nama keuntungan, cara menghitung
keuntungan atau laba ini dengan sisa penghasilan yang didapat dikurangi oleh biaya tetap (fixed
cost) dan biaya variabel (variable cost).
Faktor Peningkat Break Even Point (BEP)
1. Peningkatan Penjualan

Saat terjadinya peningkatan penjualan oleh konsumen, dapat diartikan sebagai permintaan yang
lebih tinggi. Untuk menanggapi hal tersebut, maka perusahaan tentu perlu meningkatkan
aktivitas produksinya. Pada akhirnya, BEP akan mengalami kenaikan untuk menutupi biaya
penambahan produksi tersebut.
2. Biaya Produksi Meningkat

Biaya produksi yang meningkat ini juga bisa menjadi beberapa faktor yang melonjakkan Break
Even Point. Hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri sebagai pebisnis saat permintaan produk
atau penjualan pelanggan tetap sama, namun biaya variabelnya saja yang meningkat. Tidak
hanya biaya produksi, BEP juga bisa meningkat akibat adanya kenaikan biaya sewa gedung, gaji
karyawan, ataupun biaya utilitas.
3. Perbaikan Peralatan

Faktor lainnya yang bisa meningkatkan BEP itu adalah perbaikan alat termasuk masalah pada
produksi. Saat hal itu terjadi, kenaikan BEP juga terjadi, itu semua karena jumlah target unit
yang tidak bisa diproduksi sesuai waktu yang telah ditentukan. Peralatan yang gagal beroperasi
atau menghasilkan produk yang gagal juga bisa berujung pada meningkatnya biaya operasional,
sehingga titik impasnya menjadi lebih tinggi.
Cara Mengurangi Break Even Point (BEP)
Agar bisnis anda dapat menghasilkan laba yang lebih tinggi, maka nilai BEP harus diturunkan.
Berikut ini adalah cara yang paling efektif untuk mengurangi nilai BEP antara lain:
1. Menaikkan Harga Produk

Langkah ini sebenarnya jarang sekali digunakan karena para pebisnis rata-rata takut kehilangan
customer-nya. Namun, untuk mengurangi nilai BEP untuk meningkatkan profitabilitas,
sebaiknya anda perlu mempertimbangkan lebih dalam mengenai menaikkan harga jual suatu
produk ini ke masyarakat luas.
2. Melakukan Outsourcing

Profitabilitas merupakan kemampuan pebisnis dalam menghasilkan profit dalam periode tertentu
dengan meningkatkan penjualan, aset dan modal tertentu. Profitabilitas ini dapat meningkat jika
pebisnis memilih untuk melakukan outsourcing yang mana cara ini dapat digunakan untuk
membantu dalam mengurangi biaya produksi ketika volume produksi meningkat.
Rumus dari BEP (Break Even Point)
Untuk menghitung nilai BEP ini anda bisa menggunakan dua rumus yang berbeda, yaitu
berdasarkan unit atau berdasarkan nominal. Rumus BEP unit ini akan membantu Anda untuk
mengetahui berapa banyak unit yang harus diproduksi untuk mencapai titik tengah atau titik
impas. Sedangkan, rumus BEP nominal ini yang akan membantu Anda untuk mengetahui berapa
banyak nilai penjualan yang dicapai untuk mencapai titik tengah atau titik impas.
Berikut Ini merupakan rumus BEP unit yang bisa Anda gunakan:
BEP = Total Biaya Tetap / (Harga Jual Produk per Unit – Biaya Variabel Unit Produk)
Sedangkan rumus BEP nominal adalah sebagai berikut:
BEP = Total Biaya Tetap / (1 – Biaya Variabel Unit Produk / Harga Jual Produk per Unit)
Cara Menghitung BEP (Break Even Point)
Setelah mengetahui kedua rumus BEP, maka selanjutnya cara menghitung BEP dengan
mengaplikasikan rumus-rumus tersebut kedalam data-data penjualan atau produksi anda. Agar
lebih jelasnya, berikut ini terdapat ilustrasi cara menghitung BEP yang sangat mudah untuk
dipahami.
Mimi memiliki bisnis kantin sekolah. Biaya tetap yang dibutuhkan oleh bisnisnya ialah sejumlah
Rp 10.000.000 per bulan. Biaya variabel per unit produknya adalah Rp 10.000. Sedangkan, harga
jual makanan tersebut adalah Rp 20.000. Maka, cara menghitung BEP bisnis Mimi adalah
sebagai berikut:
BEP Unit:

BEP = 10.000.000 / (20.000-10.000) = 10.000.000 / 10.000 = 1.000 unit


Ilustrasi diatas mengartikan untuk mencapai titik impas di mana bisnis Mimi tidak akan
mengalami kerugian jika Mimi harus memproduksi sekitar 1.000 pax makanan dalam satu bulan.
BEP Nominal:

BEP = 10.000.000 / (1-10.000 / 20.000) = 10.000.000 / (1- 0.5) = 10.000.000 / 0.5


BEP = 20.000.000
Arti dari ilustrasi diatas adalah agar bisnis kantin Mimi mampu mencapai titik impas dengan
melakukan penjualan senilai Rp 20.000.000,00 setiap bulannya.
Instrumen Asesmen
Kriteria Ketuntasan Belum Muncul Muncul Terlihat pada
Muncul Sebagian Sebagian keseluruhan
(1) Kecil (2) Besar (3) kriteria (4)
1. Membuat perencanaan √
produk olahan pangan
berbahan nabati
2. Menuliskan langkah
pembuatan produk olahan √
p a n g a n berbahan nabati
3. Menghitung harga jual
produk olahan pangan
berbahan nabati √
4. Membuat proposal produk
o l a h a n p a n g a n berbahan
nabati √

3. Produksi/Pembuatan
4. Refleksi dan Evaluasi

Anda mungkin juga menyukai