Modul Ajar Deep Learning
Modul Ajar Deep Learning
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMA Negeri 17 Jakarta
Nama Penyusun : Enizar Rizki, [Link]
Mata Pelajaran : Prakarya dan Kewirausahaan
Kelas/Fase/Semester : X/E/2
Alokasi Waktu : 16 Pertemuan (32 JP)
Tahun Pelajaran : 2025 – 2026
Tema : Olahan Pangan Nabati & Hewani: Makanan Pembuka, Makanan
Utama, Makanan Penutup
Pendekatan : Deep Learning (Meaningful, Mindful, Joyful) + PjBL
F. DESAIAN PEMBELAJARAN
CP
Lingkun Pemanfa
(Capaian TP (Tujuan Praktik Topik Lintas
Unit gan atan Kemitraan
Pembelajar Pembelajaran) Pedagogis Pembelajaran Disiplin
Belajar Digital
an)
Eksplora Mengidenti Siswa dapat Observasi Makanan Biologi Dapur Foto/ Pedagang
si & fikasi mengamati langsung, pembuka, utama, (nilai sekolah, video lokal, ibu
Observa bahan bahan pangan, foto/video penutup; bahan gizi), kantin, bahan, rumah
si pangan mencatat , diskusi Kimia rumah, mind tangga,
CP
Lingkun Pemanfa
(Capaian TP (Tujuan Praktik Topik Lintas
Unit gan atan Kemitraan
Pembelajar Pembelajaran) Pedagogis Pembelajaran Disiplin
Belajar Digital
an)
nabati &
(reaksi map
hewani, informasi, dan
kelompok bahan), digital,
memahami menghubungk UMKM UMKM
, mind nabati & hewani Geografi aplikasi
karakteristi an dengan ide lokal makanan
map (asal kolabora
k & potensi produk awal
bahan) si
olahan
Brainstor Matemat Aplikasi
Merancang Siswa dapat
ming, ika design
produk membuat Konsep resep
tabel (perhitun Ruang packagin Guru,
olahan rencana makanan
Perenca rencana, gan kelas & g teman
sesuai produksi, pembuka/utama/
naan sketsa biaya), lab (Canva), sekelas,
karakteristi target pasar, penutup, target
Produksi packaging Seni prakary spreadsh konsultan
k bahan & resep, konsumen, biaya
, diskusi (desain a eet gizi
target branding, & harga jual
peer branding kalkulasi
konsumen estimasi biaya
review ) biaya
Menghasilk
Siswa dapat Praktik
an produk IPA
memproduksi masak Kamera/
olahan (reaksi Guru,
olahan berkelom Teknik HP
sesuai panas, Lab teman
pangan, pok, pengolahan untuk
rencana, pengawe prakary sekelas,
Produksi bekerja sama, plating nabati & hewani, dokumen
memperhat tan), a, dapur pihak
memastikan kreatif, higienitas, tasi,
ikan Seni sekolah kantin/U
kualitas & dokument plating aplikasi
kebersihan, (plating, MKM
estetika asi timer
keamanan, dekorasi)
produk video/foto
kerja sama
Evaluasi Mengevalu Siswa mampu Presentasi Analisis rasa, Matemat Kelas, Video Guru,
& asi produk merefleksikan kelompok tampilan, gizi, ika lab presentas teman
CP
Lingkun Pemanfa
(Capaian TP (Tujuan Praktik Topik Lintas
Unit gan atan Kemitraan
Pembelajar Pembelajaran) Pedagogis Pembelajaran Disiplin
Belajar Digital
an)
proses &
& proses,
hasil, (analisis
merefleksik , diskusi
mengidentifik biaya & prakary i,
an peer sekelas,
asi margin), a, ruang dokumen
Refleksi pengalama review, peluang usaha calon
kekuatan/kele Bahasa presenta refleksi
n, menilai jurnal konsumen
mahan, (presenta si digital
peluang refleksi
menyarankan si)
usaha
perbaikan
G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
UNIT 1: EKSPLORASI & OBSERVASI
Durasi: 3 Pertemuan × 2 JP
Produk Akhir: Food Explorer Portfolio (dokumentasi bahan + mind map/ide produk +
refleksi)
Pertemuan 1
Kegiatan Pembuka (Bermakna & Menggembirakan, 15–20 menit)
Ice breaking: “Food Explorer Quiz” → siswa menebak bahan makanan dari
gambar/video lucu atau teka-teki pangan.
Guru memperkenalkan proyek Food Explorer Portfolio, kaitkan dengan manfaat
belajar: menemukan bahan, peluang usaha, dan kreativitas dalam olahan pangan →
Meaningful.
Siswa dibagi kelompok, menetapkan peran (ketua, dokumentator, presenter, kreator
ide).
Kegiatan Inti (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi, 60–70 menit)
1. Memahami: Guru menjelaskan klasifikasi bahan pangan nabati & hewani, nilai gizi,
fungsi, serta potensi olahan.
Materi : Bahan pangan diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama berdasarkan
asalnya: nabati (tumbuhan) dan hewani (hewan). Pangan nabati mencakup serealia,
buah, sayur, kacang-kacangan, dan umbi, yang kaya serat dan vitamin. Pangan
hewani mencakup daging, ikan, telur, dan susu, yang merupakan sumber protein
tinggi dan lemak.
Klasifikasi Bahan Pangan Nabati
Bahan pangan nabati berasal dari tumbuhan dan sering kali memiliki tekstur lebih
keras karena kandungan selulosa.
Serealia (Biji-bijian): Padi, jagung, gandum, sorgum.
Umbi-umbian: Singkong, ubi jalar, kentang, talas.
Kacang-kacangan: Kacang tanah, kedelai, kacang hijau, almond.
Sayuran: Bayam, wortel, kangkung, kubis, tomat.
Buah-buahan: Mangga, pisang, pepaya, jeruk, apel.
Rempah-rempah & Bahan Penyegar: Jahe, kunyit, kopi, teh.
Klasifikasi Bahan Pangan Hewani
Bahan pangan hewani berasal dari hewan, umumnya bersifat lunak, dan mudah
rusak (perishable) dibandingkan pangan nabati.
Daging Merah & Unggas: Sapi, kambing, ayam, bebek.
Ikan & Hasil Perairan (Seafood): Ikan air tawar/laut, udang, cumi-cumi, kerang.
Telur: Telur ayam, telur bebek, telur puyuh.
Susu & Hasil Olahannya: Susu sapi, susu kambing, keju, yoghurt.
Perbedaan Utama
Bahan nabati umumnya tinggi karbohidrat dan serat, sedangkan bahan hewani
merupakan sumber protein, lemak, dan zat besi yang lebih tinggi. Penanganan
pascapanen pangan hewani memerlukan perhatian lebih ketat karena sifatnya yang
mudah terinfeksi bakteri.
2. Mengaplikasi:
o Setiap kelompok melakukan observasi mini di sekitar:
rumah/kantin/pasar/UMKM.
o Dokumentasi foto/video bahan + catatan karakteristik, asal, dan manfaat.
3. Merefleksi: Diskusi kelompok: bahan mana yang paling menarik, potensi olahannya,
tantangan saat observasi.
Kegiatan Penutup (10–15 menit)
Setiap kelompok menuliskan 1 hal baru yang paling mereka pelajari dan 1 hal yang
paling menyenangkan → guru menampilkan beberapa jawaban lucu/unik untuk
menumbuhkan motivasi.
Kesimpulan
Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
Salam penutup
Pertemuan 2
Kegiatan Pembuka (Bermakna & Menggembirakan, 15 menit)
Ice breaking: “Caption Kreatif” → guru menampilkan foto bahan makanan lucu, siswa
menulis caption kocak tapi relevan.
Tujuan pembelajaran pertemuan dijelaskan → Meaningful.
Kegiatan Inti (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi, 60–70 menit)
1. Memahami: Review hasil observasi & catatan bahan → diskusi karakteristik bahan,
kegunaan, tren konsumsi.
2. Mengaplikasi:
o Siswa membuat mind map / storyboard mini ide produk makanan pembuka,
utama, penutup dari bahan yang diamati.
3. Merefleksi: Kelompok diskusi: “Kenapa memilih bahan itu?”, “Bagaimana ide produk ini
bermanfaat bagi orang lain?”.
Kegiatan Penutup (10–15 menit)
Refleksi individu singkat: tulis 1 ide produk favorit dan 1 pengalaman seru dari observasi
hari ini.
Kesimpulan
Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
Salam penutup
Pertemuan 3
Kegiatan Pembuka (Bermakna & Menggembirakan, 15 menit)
Ice breaking: “Food Emoji Game” → siswa menebak bahan atau makanan dari emoji,
sambil guru mengaitkan nilai gizi → Meaningful + Fun.
Kegiatan Inti (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi, 60–70 menit)
1. Memahami: Analisis temuan bahan kelompok lain → bandingkan karakteristik & potensi
olahan.
2. Mengaplikasi: Kelompok menyelesaikan mind map/storyboard final ide produk, tentukan
bahan & kategori (pembuka/utama/penutup).
3. Merefleksi: Diskusi kelompok: apa yang sudah dipelajari, tantangan, dan hal baru yang
ditemukan.
Kegiatan Penutup (10–15 menit)
Guru meminta 1–2 siswa menceritakan pengalaman paling berkesan & lucu saat
eksplorasi.
Semua kelompok menyiapkan bahan & ide untuk Unit Perencanaan Produksi.
Pertemuan 2 dan 3 - Analisis SWOT Produk Olahan Pangan Nabati & Hewani (s.d tgl 27
Februari 2026)
Durasi: 1 pertemuan × 2 JP (~90 menit)
Produk Akhir: Analisis SWOT kelompok lengkap + catatan refleksi
Kegiatan Pembuka (15–20 menit) – Bermakna & Menggembirakan
Ice Breaking: “Strengths & Weaknesses Game”
1. Guru menampilkan beberapa foto produk makanan lucu/unik dari internet (misal
makanan pembuka/utama/penutup kreatif).
2. Siswa diminta menebak kelebihan & kekurangan produk tersebut dalam bentuk
cepat (1–2 kata saja).
Guru menjelaskan tujuan pertemuan:
“Hari ini kita akan belajar bagaimana menganalisis produk kita sendiri supaya
lebih siap dan menarik bagi konsumen. Analisis SWOT membantu kita melihat
kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman produk.”
Bermakna: siswa menyadari pentingnya evaluasi produk sebelum produksi →
meningkatkan kesiapan & peluang sukses.
Materi :
Analisis SWOT adalah alat perencanaan strategis untuk mengevaluasi Kekuatan
(Strengths), Kelemahan (Weaknesses), Peluang (Opportunities), dan Ancaman (Threats)
dalam suatu bisnis atau proyek. Metode ini membantu mengidentifikasi faktor internal
(kekuatan/kelemahan) dan eksternal (peluang/ancaman) untuk merancang strategi jangka
panjang, mengambil keputusan tepat sasaran, serta memaksimalkan keunggulan
kompetitif dibandingkan pesaing.
Berikut adalah breakdown elemen analisis SWOT:
Strengths (Kekuatan - Internal): Keunggulan unik, sumber daya, atau kapabilitas yang
dimiliki usaha dibandingkan kompetitor. Contoh: Brand kuat, tim solid, teknologi
canggih.
Weaknesses
(Kelemahan - Internal):
Masalah atau kekurangan internal yang menghambat kinerja. Contoh: Kurang modal,
kurangnya tenaga ahli, atau manajemen yang kurang efisien.
Opportunities (Peluang - Eksternal): Faktor luar yang bisa dimanfaatkan untuk
inovasi atau meningkatkan keuntungan. Contoh: Tren pasar meningkat, peraturan
pemerintah yang mendukung.
Threats (Ancaman - Eksternal): Hal-hal luar yang berpotensi merugikan bisnis.
Contoh: Pesaing baru, perubahan selera konsumen, atau krisis ekonomi.
Langkah-langkah Pembuatan SWOT:
1. Identifikasi: Membuat kuadran 2x2 dan mengumpulkan informasi untuk tiap
komponen.
2. Evaluasi: Menganalisis faktor internal dan eksternal.
3. Rumuskan Strategi: Mengembangkan strategi SO (menggunakan kekuatan untuk
mengambil peluang), WO (memperbaiki kelemahan dengan mengambil peluang), ST
(menggunakan kekuatan untuk menghindari ancaman), dan WT (meminimalkan
kelemahan dan menghindari ancaman).
2. Mengaplikasi:
o Kelompok menghitung biaya bahan & estimasi harga jual berdasarkan LKPD
yang diberikan.
o Catat potensi keuntungan & risiko (pertemuan ke 6)
3. Merefleksi: Diskusi: “Apakah harga jual sesuai target pasar & kompetitif?”
Penutup (10–15 menit)
Refleksi individu: “Satu hal baru yang aku pelajari tentang biaya & harga.”
Kesimpulan
Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
Salam penutup
Pertemuan 7 dan 8 – Branding & Packaging akhir maret/awal april s.d minggu kedua april
Pembuka (15 menit)
Ice breaking: “Logo Sprint” → desain logo mini & kreatif untuk produk masing-masing
kelompok → menyenangkan & membangkitkan semangat.
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Guru menjelaskan prinsip branding & packaging sederhana.
2. Mengaplikasi:
o Kelompok membuat sketsa logo, nama brand, warna & kemasan.
o Diskusi: “Apakah branding ini menarik & mudah diingat target konsumen?”
3. Merefleksi: Diskusi kelompok: “Bagaimana branding memengaruhi penjualan & kesan
konsumen?”
Penutup (10–15 menit)
Refleksi singkat: “Logo atau branding favorit kelompok & alasannya.”
Kesimpulan
Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
Salam penutup
UNIT 3: PRODUKSI
Durasi: 4 Pertemuan × 2 JP
Produk Akhir: Produk olahan pangan siap sajikan + dokumentasi lengkap
Pertemuan 1 – Persiapan & Pembagian Tugas 12-17 April
Pembuka (15–20 menit)
Ice breaking: “Cooking Dance” → lagu motivasi + gerakan mengocok / mengaduk
(simulasi) → menyenangkan & membangun semangat tim.
Inti (60–70 menit)
1. Memahami: Review rencana produk & teknik pengolahan.
2. Mengaplikasi: Persiapan bahan & alat, pembagian tugas anggota.
3. Merefleksi: Diskusi: “Apakah tim siap, ada potensi kendala apa?”
Penutup (10–15 menit)
Checklist kesiapan tim & refleksi singkat: “Perasaan tim sebelum produksi.”
Kesimpulan
Pemberian tugas untuk pembelajaran berikutnya.
Salam penutup
H. LKPD
i. Identifikasi Pangan
Tuliskan contoh makanan khas Indonesia!
No Nama Makanan Bahan Utama Nabati/Hewani
1
2
3
2. Ayam Goreng
Bahan:
500 gram ayam
3 siung bawang putih
1 sdt ketumbar
2 sdt garam
1L air
500 mL minyak
3. Kolak Pisang
Bahan:
5 buah pisang
200 ml santan
100 gram gula merah
1 lembar daun pandan
1L air
Daftar Bahan dan Biaya
No Nama Bahan Jumlah Harga Satuan Total Harga
1
2
3
Total Biaya Bahan Rp ______
v. Analisis Keuntungan
Jika semua porsi terjual:
Total pendapatan = harga jual × jumlah porsi
= Rp ____________________
Keuntungan = pendapatan – biaya produksi
= Rp ____________________
I. Assessmen Sumatif
1. Observasi dan Ekplorasi
Formatif
Penilaian pada kegiatan Pertemuan 1 adalah penilaian formatif, berupa penilaian LKPD 1 hasil
observasi dan eksplorasi. Rubrik penilaian pedoman penskoran kegiatan Observasi dan
Eksplorasi dapat dilihat di Panduan Umum.
Pengayaan
Memberikan tugas pengamatan produk olahan pangan nabati di luar jam pelajaran seperti
eksplorasi melalui buku, youtube atau media lainnya agar peserta didik memiliki wawasan
yang luas.
Refleksi
Peserta didik menyampaikan hal baik yang diperoleh selama pembelajaran.
Peserta didik menyampaikan kesimpulan dari pembelajaran
2. Produksi/Perencanaan
Susunlah rencana usaha dari produk pangan yang akan kalian ciptakan sehingga
usaha kalian dapat diterima oleh pasar dalam benuk laporan perencanaan
usaha/business plan
3. Produksi/Pembuatan
4. Refleksi/evaluasi
J. Lampiran
1. Eksplorasi dan Observasi
Jenis produk olahan pangan higienis Nusantara dari bahan nabati yang harus dipelajari disesuaikan dengan
konteks lokal dan juga berdasarkan kemampuan awal, baik berupa pengetahuan maupun keterampilan,
yang dimiliki peserta didik tentang produk olahan pangan higienis Nusantara dari bahan nabati. Proses
pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan: Pengolahan mengikuti alur elemen, yaitu observasi dan
eksplorasi, desain atau perencanaan, produksi, serta refleksi dan evaluasi. Proses pembelajaran yang
diutamakan berpusat pada peserta didik dengan menggunakan berbagai sumber informasi dan referensi
yang terdapat di daerah/wilayah setempat. Oleh karena itu, saat proses pembelajaran, perlu diperhatikan
dengan saksama siapa peserta didik yang telah memiliki kompetensi pengolahan pangan produk nabati.
Pembahasan produk pengolahan dimulai dengan pengemasan dan atau penyajian produk olahan pangan.
Hal ini dengan pertimbangan bahwa umumnya, konsumen tertarik pada produk olahan pangan dengan
melihat tampilannya terlebih dahulu, baik itu kemasannya dan atau penyajiannya. Kemudian, konsumen
akan mencoba merasakan produk olahan pangan dengan membelinya. Peserta didik diharapkan memiliki
keterampilan setelah belajar Prakarya dan Kewirausahaan: Pengolahan. Oleh sebab itu, praktik
pembelajaran hendaknya dilakukan di sekolah agar guru dapat menilai proses kerjanya. Hindari pembuatan
produk pengolahan dilakukan di luar kegiatan pembelajaran
1) Bahan Pangan Nabati
Bahan pangan nabati tentunya memiliki karakteristik yang berbeda satu dan lainnya. Berikut ini contoh
beberapa jenis bahan pangan nabati yang perlu dikenal dan dipahami oleh peserta didik.
A. Buah-buahan Buah merupakan bahan pangan nabati yang memiliki rasa enak dan menyegarkan
serta memiliki banyak nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Buah-buahan memiliki
kandungan serat yang tinggi, vitamin A, vitamin B, vitamin B1, vitamin B6, serta vitamin C (Kauna
Timothy, 2020). Beberapa jenis buah-buahan yang banyak ditemui di sekitar kita, yaitu pisang,
jeruk, apel, pepaya, dan masih banyak lagi.
B. Sayuran Sayuran merupakan salah satu bahan pangan nabati yang mengandung zat gizi yang
lengkap. Sayuran memiliki nutrisi seperti vitamin, mineral, serat, kalsium, zat besi, folat dan kalium.
Beberapa contoh sayuran, yaitu kangkung, selada, terong, kol, dan buncis.
C. Serealia Bahan pangan yang berasal dari biji-bijian dan berfungsi sebagai sumber makanan pokok
bagi manusia dinamakan serealia. Kandungan serealia berupa zat karbohidrat, kaya protein,
berserat tinggi, dan rendah lemak, juga mengandung vitamin E dan B. Contoh tanaman serealia
ialah beras, sorghum, barley, jagung, dan gandum.
D. Kacang-kacangan Kacang-kacangan termasuk hasil pangan biji yang berukuran lebih besar dari
kelompok serealia. Kandungan kacang-kacangan memiliki banyak serat, protein, lemak yang
menyehatkan, mineral, dan vitamin, terutama vitamin E. Contoh beberapa kacang-kacangan, yaitu
kacang tanah, kacang merah, kacang hijau, kacang kedelai, kacang mete, dan kacang almond.
E. Umbi-umbian Umbi-umbian merupakan sumber pangan yang memiliki kandungan utamanya
karbohidrat/pati, vitamin, protein, mineral, zat besi, fosfor kalsium, dan serat yang tinggi. Beberapa
contoh umbi-umbian adalah bengkoang, singkong, talas, ubi jalar, bawang, dan kentang.
Mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan: Pengolahan mengharapkan agar satuan pendidikan
mengembangkan materi berdasarkan konteks daerah-daerah yang ada di Nusantara dengan
memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar tempat tinggal peserta didik. Sebagai acuan, guru
dapat melihat daerah-daerah mana saja yang dapat dijadikan contoh sebagai motivasi peserta didik dalam
mengembangkan kearifan lokal. Kearifan lokal dari bahan pangan nabati dapat digali dan tentunya
menyesuaikan daerahnya. Misalnya, Desa Cilembu, Jawa Barat, menghasilkan umbi yang dinamakan ubi
Cilembu. Ubi cilembu sangat dikenal di lingkungan masyarakat Jawa Barat. Ubi khas Desa Cilembu ini
memiliki rasa yang unik: sangat manis seperti madu dan aromanya yang mirip mentega. Hal ini membuat
cita rasa tersendiri. Ubi ini hanya dapat tumbuh di tanah wilayah Desa Cilembu, Kabupaten Sumedang,
Jawa Barat. Ketika dicoba di tanam di wilayah lain, rasa madunya tidak akan keluar dan hanya memiliki cita
rasa seperti umbi biasa pada umumnya.
2) Teknik Pengolahan Bahan Pangan
Pengolahan produk olahan pangan higienis Nusantara dari bahan nabati ada yang menggunakan proses
pengawetan. Pengawetan makanan merupakan cara yang digunakan untuk membuat makanan memiliki
daya simpan yang lama dan mempertahankan sifat-sifat fisik dan kimia makanan.
Menurut Sulandari (2022), teknik pengawetan pangan nabati terdiri atas beberapa teknik yang perlu dikenal
dan dipahami oleh peserta didik. Berikut ini tiga teknik pengawetan pangan.
A. Pengawetan secara Fisika
Ada beberapa teknik pengawetan secara fisika.
1. Pemanasan
Pemanasan ialah pengawetan dengan cara memanaskan bahan atau produk pangan pada suhu
tertentu bergantung pada jenis produk yang akan diawetkan. Contoh, pengawetan pada bahan
pangan susu cukup menggunakan suhu 60-70 °C dengan waktu yang lebih lama sekitar 30 menit.
Hal itu karena susu memiliki protein yang mudah rusak dengan pemanasan pada suhu yang lebih
tinggi. Tujuan pemanasan ialah untuk menghilangkan mikroorganisme patogen di dalam bahan
atau produk pangan.
2. Pembekuan
Pembekuan ialah pengawetan bahan atau produk pangan dengan menurunkan temperaturnya
hingga di bawah titik beku air, contohnya sayuran frozen.
3. Pengalengan
Pengalengan ialah teknik pengawetan perpaduan kimia (penambahan bahan pengawet) dan fisika
(ruang hampa dalam kaleng). Pengalengan adalah satu proses dalam mengawetkan makanan
dalam wadah yang tertutup rapat dan disterilkan dengan suhu panas.
Teknik ini dilakukan agar bahan makanan bebas dari bakteri yang mengakibatkan kebusukan dan
untuk mempertahankan nilai gizi, cita rasa, dan daya tarik, contohnya manisan buah kaleng.
4. Pembuatan Acar
Pembuatan acar merupakan teknik pengawetan yang sering dilakukan pada sayur ataupun buah
dengan pemberian garam dan cuka. Tujuannya untuk memperpanjang masa simpan, contohnya
acar mentimun.
5. Pengentalan Pengentalan ialah pengawetan yang dilakukan untuk bahan cair, contohnya dodol.
6. Pengeringan
Pengeringan adalah pengawetan bahan pangan dengan cara mengurangi kadar air bahan untuk
mencegah pembusukan makanan akibat mikroorganisme. Teknik pengawetan ini dilakukan
dengan cara penjemuran dan pemanggangan menggunakan oven dan sering dilakukan untuk
bahan padat yang mengandung protein dan karbohidrat, contohnya keripik.
7. Pembuatan Tepung
Pembuatan tepung adalah teknik pengawetan yang diterapkan pada bahan karbohidrat dengan
perubahan bentuk menjadi bentuk bubuk/halus, contohnya tepung beras.
A. Pengawetan secara Biologis
Pengawetan secara biologis dilakukan dengan sistem peragian atau fermentasi dan dapat pula dengan
penambahan enzim, seperti papain (enzim dari buah pepeya) dan bromelin (enzim dari buah nanas)
B. Pengawetan secara Kimiawi
Pengawetan secara kimiawi ialah pengawetan dengan cara menggunakan bahan tambahan makanan
(BTM). Pemberian BTM diterapkan pada bahan cair nonminyak maupun mengandung minyak.
Penggunaan BTM harus sesuai dengan takarannya. Alangkah baiknya peserta didik pun diperkenalkan
dengan beberapa makanan khas daerah lain, mulai bahan dasar sampai cara pembuatannya.
Perhatikan Tabel 1.1 beberapa di antaranya produk nabati sebagai makanan khas daerah tertentu.
Instrumen Asesmen
Kriteria Ketuntasan Belum Muncul Muncul Terlihat pada
Muncul Sebagian Sebagian keseluruhan
(1) Kecil (2) Besar (3) kriteria (4)
1. Mengidentifikasi contoh √
produk olahan pangan khas
daerah dari bahan nabati
2. Menganalisis produk olahan √
pangan khas daerah dari
bahan nabati
2. Desain/Perencanaan
Langkah-Langkah Berwirausaha
Memulai bisnis usahakan dapat memberikan keuntungan bagi yang menjalankannya.
Mempelajari dan memahami cara-cara khusus yang harus dilakukan untuk mencapaikeberhasilan
memungkinkan kita untuk memulai berwirausaha produk makanan khas daerahdengan cara yang
benar. Di bawah ini merupakan langkah-langkah untuk memulai usaha.
Buatlah rencana bisnis dan strategi pemasaran serta petakan sumber daya keuangan.
Pilih struktur bisnis, urus izin usaha, dan daftarkan usaha kamu pada instansi terkaityang
tepat.
Tentukan usaha barang atau jasa yang diminati konsumen.
Buatlah jaringan kerja dengan produsen lain.
Carilah pasar yang [Link] bisnis usaha produk makanan khas daerah dapat
memberikan keuntungan cukup besar. Dengan mempelajari dan memahami cara-cara untuk
mencapai keberhasilan,memungkinkan kita untuk memulai mengolah produk makanan khas
daerah dengan cara yang benar.
Berikut ini adalah hal yang perlu diperhatikan saat membuatrencana bisnis pengolahan produk
non pangan.
a. Pemilihan Jenis Usaha
Tentukan jenis produk yang akan dipasarkan, contohnya sabun cuci cair. Sabun cuci cair yang
terbuat dari eco enzyme dan MES merupakan salah satu produk olahan non pangan yang
memiliki banyak manfaat dan juga ramah lingkungan. Mudah dibuat, wanginya harum, dan
harga terjangkau menjadi alasan mengapa produk ini diminati oleh banyak orang.
b. Nama Perusahaan
Perusahaan ini diberi nama CV. Bercahaya, dengan pendiri perusahaan terdiri atas 3 orangatau
lebih.
c. Lokasi perusahaan
Lokasi usaha ditentukan di daerah yang dekat dengan bahan baku, tidak jauh dari lokasirumah
pengelola, dan tidak terlalu jauh dari jangkauan pasar yang akan dituju. Tahap awal bisa
menggunakan salah satu ruangan di rumah atau menyewa rumah sekitar tempat tinggal.
d. Perizinan usaha
Izin usaha yang disiapkan, antara lain NPWP dari kantor pajak, akte notaris dari kantornotaris,
SIUP/TDP dari Dinas Perindustrian Kota/Kabupaten, dan izin PIRT dari DinasKesehatan
Kota/Kabupaten.
e. Sumber daya manusia
Sumber Daya Manusia (SDM) yang dipersiapkan terdiri atas 3 orang pendiri, yangmempunyai
tugas masing-masing sebagai:
penanggung jawab produksi
penanggung jawab pemasaran
penanggung jawab administrasi dan keuangan
f. Melakukan survei pasar
g. Memperhatikan aspek produksi
Hal-hal yang harus diperhatikan pada aspek produksi ialah bahan baku dan bahan tambahanyang
digunakan.
Peralatan yang digunakan
Jumlah tenaga kerja yang diperlukan
Hasil produksi
h. Aspek keuangan
Hal-hal yang harus diperhatikan pada aspek keuangan adalah seperti berikut.
Biaya variabel, seperti: pembelian bahan baku, membayar gaji, dan lain-lain
Biaya tetap,
Total biaya
Penerimaan kotor
Pendapatan bersih
Sumber Daya yang Dibutuhkan Dalam Usaha Produk Olahan Non Pangan
Suatu Produksi tidak akan berjalan tanpa adanya faktor-faktor Produksi atau sumber daya
[Link] produksi adalah setiap benda atau jasa yang digunakan untuk
menciptakan,menghasilkan, atau meningkatkan nilai guna suatu barang atau jasa. Faktor-faktor
produksi merupakan sumber daya ekonomi yang diperlukan untuk menghasilkan barang atau
jasaFaktor produksi dibedakan menjadi empat macam yaitu:
1. Faktor produksi Alam
Segala sesuatu yang tersedia di alam yang dapat dimanfaatkan manusia untuk
melaksanakanproduksi. Faktor produksi alam yang digunakan untuk usaha makanan tradisional
adalah:- Air- Tanah- Iklim dan Udara- Tumbuh-tumbuhan dan hewan.
2. Faktor produksi tenaga kerja
Segala kemampuan yang dimiliki manusia. baik jasmani maupun rohani yang digunakan
dalamproses produksi. Faktor produksi tenaga kerja yang digunakan pada usaha makanan
tradisional adalah :- Tenaga kerja jasmani meliputi tenaga kerja terdidik, tenaga kerja terlatih,
tenaga kerja tidakterdidik atau tidak terlatih- Tenaga kerja Rohanitenaga kerja rohani adalah
tenaga kerja yang lebih banyak menggunakan kemampuan intelektualdalam melakukan
aktivitasnya contohnya manager pemasaran.
3. Faktor produksi Modal
Setiap benda atau alat yang di gunakan untuk menghasilkan barang atau jasa ataupun
dapatdigunakan dalam proses produksi. Faktor produksi modal yang digunakan dalam usaha
makanandaerah adalah sebagai berikut :- Menurut wujudnya a) Modal barang b) Modal uang-
Menurut fungsinya a) Modal Perorangan b) Modal Masyarakat- Menurut sifatnya a) Modal tetap
b) Modal Lancar- Menurut bentuknya a) Modal nyata b) Modal tidak nyata- Menurut sumber
modalnya a) Modal sendiri b) Modal pinjaman
4. Faktor produksi Kewirausahaan
-Faktor produksi yang perlu dimiliki oleh seorang wirausahawan dalam menentukan faktor-
faktorproduksi. faktor ini sangat diperlukan untuk mengendalikan dan mengelola usaha
makanantradisional. Seorang wirausahawan harus memiliki keahlian sebagai berikut :a) Keahlian
memimpin (managerial skill)b) Keahlian teknologic) Keahlian organisasi
Membuat Desain Kemasan
Pada proses pembuatan desain kemasan, perlu diperhatikan pula tentang labeling. Pemberian
label produk dilakukan pada tahap akhir proses pengolahan pangan sebelum dipasarkan. Menurut
Fitri Rahmawati (2013), fungsi label sebuah produk pada kemasan, yaitu: sebagai identifikasi
produk, membantu mengenalkan merek produk, dan untuk memenuhi peraturan perundang-
undangan.
Pada label, sebaiknya tertera:
1) Nama produk
2) Nama dagang/merk
3) Komposisi produk
4) Berat/isi bersih produk
5) Nama dan alamat produsen
6) Nomor pendaftaran (pirt/md)
7) Tanggal/bulan dan tahun kadaluars
Agar perusahaan dapat memproduksi sebuah barang, perusahaan tentu membutuhkan bahan
baku. Dalam menentukan harga pokok produksi, bahan baku menjadi salah satu unsur yang perlu
dimasukkan kedalam hitungan. Terdapat empat jenis yang termasuk dalam biaya bahan baku,
diantaranya yaitu :
1. Jumlah bahan baku yang dibutuhkan, Modal untuk membeli bahan baku, Total bahan baku yang
tersisa setelah produksi, Mengakhiri kebutuhan terhadap persediaan bahan baku
Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja merupakan unsur yang sudah ditetapkan di awal melalui sistem upah atau gaji
yang diberikan kepada seluruh staff dalam perusahaan. Melalui sistem penggajian, perusahaan
dapat mengukur kebutuhan tenaga kerja untuk melakukan proses produksi. Sehingga, biaya ini
juga dapat dibebankan dalam perhitungan HPP.
Biaya Overhead
Untuk dapat menentukan harga suatu produk, perusahaan juga perlu memasukkan biaya
overhead pabrik dalam perhitungan HPP. beberapa contoh biaya yang termasuk dalam biaya
overhead yaitu pemeliharaan dan perbaikan peralatan, biaya pengadaan, biaya manajemen,
akuntansi dan juga biaya sumber daya yang dibutuhkan. Selain itu, beberapa hal seperti pajak
dan depresiasi peralatan dan pembangunan pabrik juga dapat diikutsertakan dalam unsur biaya
overhead.
Cara Menghitung HPP Perusahaan
Menghitung dan membuat laporan harga pokok produksi, tentu berbeda pada tiap industri.
Berikut beberapa langkah dalam menghitung harga pokok produksi perusahaan pada salah satu
industri, yaitu industri manufaktur :
1. Menghitung Seluruh Bahan Baku yang Digunakan
Perusahaan manufaktur membuat produk dari bahan mentah atau bahan
baku, setengah jadi, hingga menjadi barang jadi yang siap dikonsumsi.
Dalam hal ini, bahan baku dalam manufaktur menjadi modal utama dalam
menghitung HPP untuk pertama kalinya.
Berikut cara untuk menghitung seluruh bahan baku yang digunakan untuk
produksi:
Bahan Baku Terpakai = Saldo Awal Bahan Baku + Pembelian Bahan Baku –
Saldo Akhir Bahan Baku
Total Biaya Produksi = Bahan Baku Yang Digunakan + Biaya Tenaga Kerja
Langsung + Biaya Overhead Produksi
Pengertian Break Even Point – Untung dan rugi dalam suatu usaha merupakan sebuah pilihan,
Tentu saja, setiap perusahaan pasti menginginkan profit yang laba. Laba itu sendiri bisa dapat
diperoleh ketika jumlah pendapatan lebih besar dibandingkan dengan jumlah biaya yang
dikeluarkan. Namun, tidak menutup kemungkinan jika nanti hasilnya akan rugi, yang di mana
jumlah beban yang dikeluarkan lebih besar dari pendapatan yang diterima dalam periode
tertentu.
Oleh sebab itu, untuk menghindari kerugian tersebut, maka para pengusaha perlu mengenal
tentang Break Even Point atau yang lebih familiar didengar dengan BEP. Pada kesempatan kali
ini kita akan membahas lebih dalam tentang pengertian Break Even Point hingga fungsinya.
Break Even Point atau disingkat dengan BEP merupakan suatu titik impas dimana laba yang
didapatkan mempunyai nilai setara dengan yang diperlukan dalam sebuah usaha atau bisa disebut
dengan tidak mengalami kerugian. Dalam posisi tersebut, laba bernilai 0 (nol) berarti tidak
untung ataupun tidak rugi atau bagi orang awam banyak dikenal dengan nama balik modal.
Kondisi BEP ini bisa muncul apabila perusahaan Anda menggunakan biaya tetap dalam
operasionalnya, sedangkan volume penjualannya hanya cukup menutupi biaya tetap beserta
biaya variabel yang ada. Dengan begitu, untung-rugi perusahaan Anda akan berada dalam posisi
titik 0 (nol) dan jika pendapatan yang perusahaan Anda hasilkan lebih besar dari biaya tetap dan
biaya variabel, maka perusahaan Anda dinyatakan untung.
Pengertian Break Even Point (BEP) Menurut Para Ahli
1. Mulyadi
Menurut Mulyadi, BEP diartikan sebagai impas, yakni keadaan di mana usaha tidak
mendapatkan laba, tapi juga tidak menderita kerugian. Dengan kata lain, usaha tersebut
dikatakan impas apabila jumlah pendapatannya sama dengan jumlah biaya, atau jika laba
kontribusi digunakan untuk menutup biaya saja.
2. Harahap
Menurut Harahap, Break Even Point adalah kondisi atau kinerja perusahaan di mana tidak
adanya laba dan tidak mengalami kerugian. Dengan kata lain, semua biaya yang sudah
dikeluarkan bisa tertutup dari pendapatan suatu produk.
3. Purba
Menurut Purba, Break Even Point adalah hal yang berdasarkan suatu pernyataan yang seperti
berapa jumlah unit produksi yang seharusnya bisa dijual untuk menutup biaya yang sudah
dikeluarkan untuk menghasilkan produk.
4. Sigit
Menurut Sigit, BEP merupakan tingkat penjualan yang dibutuhkan sebagai penutup dari total
biaya operasional yang dikeluarkan. Menurutnya, BEP adalah laba sebelum adanya bunga dan
pajak atau earning before interest.
5. Rony
Menurut Rony, BEP adalah sarana dalam manajemen yang bertujuan untuk mengetahui titik
hasil penjualan apakah sama dengan biaya. Alhasil, perusahaan tidak mempunyai keuntungan
dan juga kerugian.
6. Herjanto
Menurut Herjanto, Break Even Point merupakan analisis yang mempunyai tujuan untuk
menemukan kurva dalam biaya dan pendapatan yang senilai. Jadi, tidak heran jika disebut
sebagai titik pulang pokok.
Fungsi Break Even Point (BEP)
Setelah mengetahui yang dimaksud dengan Break Even Point atau biasa disebut dengan BEP,
maka pembahasan selanjutnya adalah fungsi dari BEP itu sendiri.
Jika return of investment berfungsi sebagai Analisa atas efisiensi dari modal yang digunakan,
maka BEP memiliki fungsi untuk mengefisiensikan apa yang diproduksi guna mendapatkan
keuntungan yang optimal. Untuk lebih jelasnya berikut merupakan fungsi dari BEP antara lain:
1. Menentukan Besaran Volume Barang
BEP memiliki fungsi untuk menentukan besaran volume barang yang akan diproduksi. Setelah
dapat menentukan volume produksi, maka dengan BEP pengusaha bisa menentukan
memproyeksikan laba dari perusahaan.
2. Memudahkan Untuk Menentukan Langkah
Seorang Pebisnis atau pengusaha juga bisa menentukan langkah yang efisien untuk kedepannya.
Contohnya menentukan langkah untuk mengurangi beban yang dianggap tidak perlu dalam
kinerja pada perusahaan. Hal itu dapat dilakukan dengan membuat BEP terlebih dahulu.
3. Mengetahui Perubahan Nilai Keuntungan
Fungsi dari BEP berperan tinggi dalam mengetahui perubahan nilai keuntungan yang mungkin
saja terjadi jika terjadi suatu perubahan harga dari produk. Hal ini sebenarnya didapatkan dari
pengertian bahwa nilai BEP dan harga produk yang dijual berada dalam satu garis linear. Oleh
sebab itu, jika salah satu point dalam definisi tersebut tinggi, maka point lainnya yang berada
dalam garis tersebut juga akan tinggi.
Dasar-Dasar Break Even Point (BEP)
Seorang pengusaha bisa memahami dan mengetahui keuangan dalam periode tertentu atau
selanjutnya dengan melihat BEP dari hasil penjualan. Oleh sebab itu, sangat diperlukan
pemahaman mengenai konsep dasar dalam menentukan titik BEP ini. Berikut ini terdapat
beberapa macam dasar dari Break Even Point yang harus dipahami dan dimengerti:
1. Bahan utama dalam perhitungan BEP ini merupakan biaya tetap (fixed cost) dan biaya
variabel ( Variable cost )
2. Apabila muncul suatu perubahan selama produksi, maka tidak berpengaruh pada nilai biaya
tetap atau fixed cost dan tetap konstan.
3. Munculnya perubahan volume dari kapasitas produksi, tentu saja berpengaruh pada nilai
biaya variabel keseluruhannya.
4. Jika nilai jual barang tetap, maka selama analisis dilakukan tidak akan memunculkan
perubahan harga jual yang ditetapkan.
5. Jika dilihat dari perhitungan BEP, jumlah produk yang dihasilkan akan selalu dianggap
sudah habis terjual.
6. Menghitung BEP berlaku untuk satu produk, jika perusahaan melakukan produksi secara
massal, maka diperlukan persamaan hasil penjualan setiap produk.
Manfaat kedua dari menghitung BEP pada suatu perusahaan adalah pengusaha menjadi lebih
mudah dalam menentukan estimasi waktu untuk balik modal. Benar sekali, setiap pengusaha atau
pebisnis pastinya menginginkan untuk balik modal. Dengan menghitung BEP, maka pebisnis
bisa menghitung perputaran penjualan suatu produk, sehingga bisa mengetahui kapan waktu
untuk balik moda, entah itu dalam hitungan tahun atau bulan.
Dengan begitu, pengusaha atau pebisnis bisa menumbuhkan perusahaan. Bahkan, dengan BEP,
pebisnis bisa menjadi lebih mudah untuk menentukan kapan membutuhkan investor.
3. Profitabilitas dalam suatu bisnis
Manfaat yang ketiga dari Break Even Point adalah dapat meningkatkan profitabilitas dalam suatu
bisnis. Hal ini dapat terjadi karena dengan menghitung BEP, maka perusahaan menjadi lebih
mudah dalam melakukan analisa keuntungan. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa BEP dapat
mengurangi risiko terjadinya kerugian dari suatu perusahaan.
Jenis biaya yang angkanya tidak tetap atau bisa dibilang dengan bisa berubah, tergantung dari
tingkat produksi yang sedang dilakukan. Tingkat produksi dan biaya variabel akan selalu sama
dan berkaitan. Contoh dari variabel cost ini antara lain, bahan baku, beban listrik, air dan lain-
lain.
3. Harga Jual
Hal ini didapatkan dari semua biaya yang diperlukan dalam memproduksi suatu barang,
ditambah dengan keuntungan yang ingin didapatkan.
4. Pendapatan
Pendapatan atau penghasilan yang didapatkan dari seluruh penjualan produk atau jasa. Jumlah
pendapatan tersebut didapatkan berdasarkan harga jual dikali dengan jumlah produk yang
berhasil tembus dijual di pasaran.
5. Laba
Komponen pembentuk BEP yang terakhir tidak jauh dari nama keuntungan, cara menghitung
keuntungan atau laba ini dengan sisa penghasilan yang didapat dikurangi oleh biaya tetap (fixed
cost) dan biaya variabel (variable cost).
Faktor Peningkat Break Even Point (BEP)
1. Peningkatan Penjualan
Saat terjadinya peningkatan penjualan oleh konsumen, dapat diartikan sebagai permintaan yang
lebih tinggi. Untuk menanggapi hal tersebut, maka perusahaan tentu perlu meningkatkan
aktivitas produksinya. Pada akhirnya, BEP akan mengalami kenaikan untuk menutupi biaya
penambahan produksi tersebut.
2. Biaya Produksi Meningkat
Biaya produksi yang meningkat ini juga bisa menjadi beberapa faktor yang melonjakkan Break
Even Point. Hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri sebagai pebisnis saat permintaan produk
atau penjualan pelanggan tetap sama, namun biaya variabelnya saja yang meningkat. Tidak
hanya biaya produksi, BEP juga bisa meningkat akibat adanya kenaikan biaya sewa gedung, gaji
karyawan, ataupun biaya utilitas.
3. Perbaikan Peralatan
Faktor lainnya yang bisa meningkatkan BEP itu adalah perbaikan alat termasuk masalah pada
produksi. Saat hal itu terjadi, kenaikan BEP juga terjadi, itu semua karena jumlah target unit
yang tidak bisa diproduksi sesuai waktu yang telah ditentukan. Peralatan yang gagal beroperasi
atau menghasilkan produk yang gagal juga bisa berujung pada meningkatnya biaya operasional,
sehingga titik impasnya menjadi lebih tinggi.
Cara Mengurangi Break Even Point (BEP)
Agar bisnis anda dapat menghasilkan laba yang lebih tinggi, maka nilai BEP harus diturunkan.
Berikut ini adalah cara yang paling efektif untuk mengurangi nilai BEP antara lain:
1. Menaikkan Harga Produk
Langkah ini sebenarnya jarang sekali digunakan karena para pebisnis rata-rata takut kehilangan
customer-nya. Namun, untuk mengurangi nilai BEP untuk meningkatkan profitabilitas,
sebaiknya anda perlu mempertimbangkan lebih dalam mengenai menaikkan harga jual suatu
produk ini ke masyarakat luas.
2. Melakukan Outsourcing
Profitabilitas merupakan kemampuan pebisnis dalam menghasilkan profit dalam periode tertentu
dengan meningkatkan penjualan, aset dan modal tertentu. Profitabilitas ini dapat meningkat jika
pebisnis memilih untuk melakukan outsourcing yang mana cara ini dapat digunakan untuk
membantu dalam mengurangi biaya produksi ketika volume produksi meningkat.
Rumus dari BEP (Break Even Point)
Untuk menghitung nilai BEP ini anda bisa menggunakan dua rumus yang berbeda, yaitu
berdasarkan unit atau berdasarkan nominal. Rumus BEP unit ini akan membantu Anda untuk
mengetahui berapa banyak unit yang harus diproduksi untuk mencapai titik tengah atau titik
impas. Sedangkan, rumus BEP nominal ini yang akan membantu Anda untuk mengetahui berapa
banyak nilai penjualan yang dicapai untuk mencapai titik tengah atau titik impas.
Berikut Ini merupakan rumus BEP unit yang bisa Anda gunakan:
BEP = Total Biaya Tetap / (Harga Jual Produk per Unit – Biaya Variabel Unit Produk)
Sedangkan rumus BEP nominal adalah sebagai berikut:
BEP = Total Biaya Tetap / (1 – Biaya Variabel Unit Produk / Harga Jual Produk per Unit)
Cara Menghitung BEP (Break Even Point)
Setelah mengetahui kedua rumus BEP, maka selanjutnya cara menghitung BEP dengan
mengaplikasikan rumus-rumus tersebut kedalam data-data penjualan atau produksi anda. Agar
lebih jelasnya, berikut ini terdapat ilustrasi cara menghitung BEP yang sangat mudah untuk
dipahami.
Mimi memiliki bisnis kantin sekolah. Biaya tetap yang dibutuhkan oleh bisnisnya ialah sejumlah
Rp 10.000.000 per bulan. Biaya variabel per unit produknya adalah Rp 10.000. Sedangkan, harga
jual makanan tersebut adalah Rp 20.000. Maka, cara menghitung BEP bisnis Mimi adalah
sebagai berikut:
BEP Unit:
3. Produksi/Pembuatan
4. Refleksi dan Evaluasi