BAB II
TINJAIAN PUSTAKA
A. Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan
Menurut WHO kesehatan lingkungan merujuk pada semua faktor
fisik, kimia, dan biologi di luar manusia, beserta seluruh faktor yang saling
terkait yang 20 merubah perilaku. Kesehatan lingkungan mencakup upaya
penilaian dan pengendalian faktor-faktor lingkungan yang berpotensi dapat
mempengaruhi kesehatan. Sasarannya adalah mencegah penyakit dan
menciptakan lingkungan yang sehat dan kondusif. Oleh karenanya, seorang
praktisi kesehatan masyarakat harus mampu melakukan penilaian
(assessment) dan pengendalian faktor risiko kesehatan lingkungan. Dalam
melakukan penilaian terhadap kondisi kesehatan lingkungan, dikemabngkan
beberapa metode termasuk analisis risiko kesehatan lingkungan yang
diadaptasi dari berbagai negara lain yang telah menjadikannya sebagai tools
dalam perumusan kebijakan kesehatan lingkungan.
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) sebenarnya
dipergunakan pertama kali justru dalam bidang nuklir, bukannya di bidang
kimia seperti yang sering digunakan sekarang. Diawali dengan
ditemukannya kematian yang disebabkan oleh kanker dengan radiasi nuklir
yang diduga sebagai penyebabnya, pada tahun 1975 dilakukan analisis risiko
secara mendalam untuk menginvestigasinya. Teknik-teknik analisisnya
kemudian diadopsi oleh Food and Drug Administration Amerika Serikat.
[Link] selanjutnya menerbitkan pedoman tentang analisis risiko
karsinogen tahun 1986. Kini analisis risiko digunakan untuk berbagai bahaya
lingkungan, termasuk bahaya fisik dan biologis. Bahaya-bahaya fisik,
kimiawi dan biologis lingkungan bisa menimbulkan efek yang merugikan
kesehatan manusia dan kerusakan lingkungan. Kajian efek kesehatan dikenal
dengan Health Risk Assessment (HRA, analisis risiko kesehatan), sedangkan
kajian efek lingkungan disebut Ecological Risk Assessment (ERA).
HRA dibedakan dengan Health Impact Assessment (HIA, analisis
dampak kesehatan). Dampak lebih bersifat umum yang berarti bisa positif
atau negatif, sedangkan risiko adalah dampak yang negatif. HRA biasanya
digunakan untuk menilai atau menaksir risiko yang disebabkan oleh bahaya-
bahaya lingkungan dulu, kini dan akan datang, sedangkan HIA umumnya
merupakan bagian perencanaan suatu kegiatan atau pembangunan baru.
Meskipun penggunaannya berbeda, prosedur HRA dan HIA pada prinsipnya
adalah sama. Perbedaan utama HRA dengan HIA terletak pada
pemajanannya. Dalam HIA pemajanan yang sesungguhnya belum ada
(belum bisa diukur karena kegiatannya belum ada), sedangkan dalam HRA
pemajanan sudah ada (telah dan sedang berlangsung). Selanjutnya HIA
tumbuh dan berkembang secara lebih spesifik menjadi Environmental Health
Risk Assessment (EHRA) yang dialih bahasakan menjadi analisis risiko
kesehatan lingkungan (ARKL).
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI
No.876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman teknis Analisis Dampak
Kesehatan Lingkungan menyatakan bahwa ARKL merupakan suatu
pendekatan untuk mencermati potensi besarnya risiko yang dimulai dengan
mendeskripsikan masalah lingkungan yang telah dikenal dan melibatkan
penetapan risiko pada kesehatan manusia yang berkaitan dengan masalah
lingkungan yang bersangkutan. Bahasan ARKL dititik beratkan pada risk
agent berupa logam-logam berat yang memang banyak menimbulkan kasus
keracunan. Perlu dikemukakan bahwa umumnya risk agent (risiko
kesehatan) yang dibahas dalam ARKL meliputi 2 (dua) aspek yang
merugikan kesehatan manusia yaitu efek karsinogenik dan efek non
karsinogenik (Bapelkes Lemah Abang, 2009).
Dewasa ini dengan semakin banyaknya pembangunan, perubahan
lingkungan yang terjadi juga mempengaruhi aspek kesehatan masyarakat. 22
Analisis risiko kesehatan lingkungan sesuai dengan tantangan zaman, tidak
hanya untuk penilaian saja tetapi juga harus dapat mengakomodir
manajemen risiko. Mengacu pada Risk Assessment and Management
Handbook tahun 1996, analisis risiko mengenal dua istilah yaitu risk analysis
dan risk assessment. Risk analysis meliputi 3 komponen yaitu penelitian,
assesmen risiko (risk assessment) atau ARKL dan manajemen risiko. Di
dalam prosesnya, analisis risiko dapat diilustrasikan sebagai berikut :
1. Penelitian dimaksudkan untuk membangun hipotesis, mengukur,
mengamati dan merumuskan efek dari suatu bahaya ataupun agen risiko
di lingkungan terhadap tubuh manusia, baik yang dilakukan secara
laboratorium, maupun penelitian lapangan dengan maksud untuk
mengetahui efek, respon atau perubahan pada tubuh manusia terhadap
dosis, dan nilai referensi yang aman bagi tubuh dari agen risiko tersebut.
2. Asesmen risiko (risk assessment) atau ARKL dilakukan dengan maksud
untuk mengidentifikasi bahaya apa saja yang membahayakan, memahami
hubungan antara dosis agen risiko dan respon tubuh yang diketahui dari
berbagai penelitian, mengukur seberapa besar pajanan agen risiko
tersebut, dan menetapkan tingkat risiko dan efeknya pada populasi.
3. Manajemen risiko dilakukan bilamana perkiraan risiko menetapkan
tingkat risiko tidak aman atau tidak bisa diterima pada suatu populasi
tertentu melalui langkah-langkah pengembangan opsi regulasi, pemberian
rekomendasi teknis serta sosial ekonomi politis dan melakukan tindak
lanjut.
Secara operasional, pelaksanaan ARKL diharapkan tidak hanya terbatas
pada analisis atau penilaian risiko suatu agen risiko atau parameter tertentu di
lingkungan terhadap kesehatan masyarakat, namun juga dapat menyusun
skenario pengelolaannya.
B. Istilah , Definisi dan Terminologi dalam ARKL
Di dalam pelaksanaan ARKL dikenal banyak istilah dan terminologi
yang perlu didefinisikan dahulu agar didapat kesamaan persepsi. Mengacu
pada International Program on Chemical Safety (IPCS, 2004) Risk
Assessment Terminology di bawah ini dijelaskan definisi dari setiap istilah
yang umum digunakan dalam pelaksanaan ARKL.
1. Analisis : Pengujian terperinci dari sesuatu yang kompleks (rumit) dengan
maksud untuk memahami sifat dasarnya dan untuk menentukan
komponen/ciri-ciri dan sifat pentingnya .
2. Analisis risiko : Sebuah proses untuk mengendalikan situasi atau keadaan
dimana organisme, sistim, atau sub/populasi mungkin terpajan bahaya.
Proses risk analysis meliputi 3 komponen yaitu risk assessment,
manajemen risiko, dan komunikasi risiko.
3. Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) : Sebuah proses yang
dimaksudkan untuk menghitung atau memprakirakan risiko pada
kesehatan manusia, termasuk juga identifikasi terhadap keberadaan faktor
ketidakpastian, penelusuran pada pajanan tertentu, memperhitungkan
karakteristik yang melekat pada agen yang menjadi perhatian dan
karakteristik dari sasaran yang spesifik.
4. Analisis dosis respon (dose response assesment) : Analisis hubungan
antara jumlah total suatu agen yang diberikan, diterima, atau diserap oleh
suatu organisme sistim, atau sub/populasi dengan perubahan yang terjadi
pada 28 suatu organisme, sistem atau sub/populasi.
5. Analisis pajanan (exposure assesment) : Evaluasi pajanan agen dan
turunannya pada organisme sistim, atau sub/populasi. Analisis pajanan
merupakan langkah yang keempat dalam ARKL.
6. Agen (agent) : Zat, materi,atau makhluk dalam bentuk fisik, kimiawi atau
biologi yang kontak atau mengenai sasaran.
7. Bahaya (hazard) : Sifat yang melekat pada suatu agen atau situasi yang
berpotensi untuk menyebabkan dampak buruk ketika organisme, sistem
atau sub/ populasi terpajan agen tersebut.
8. Dampak buruk : perubahan pada morfologi, fisiologi , pertumbuhan
perkembangan, reproduksi, rentang hidup dari suatu organisme, sistem,
atau sub / populasi yang akan mengakibatkan gangguan pada kapasitas
fungsional ketidakmampuan dalam mengatasi stress (tekanan), atau
peningkatan kerentanan terhadap pengaruh-pengaruh lain.
9. Dosis : Jumlah total suatu agen yang diberikan, diterima atau diserap oleh
suatu organisme , sistem atau sub/populasi.
10. Dosis/konsentrasi referensi (RfD/ RfC) : Dosis/konsentrasi dari pajanan
harian agen risiko non karsinogenik yang diestimasi tidak menimbulkan
efek yang mengganggu walaupun pajanannya terjadi sepanjang hayat
(seumur hidup).
11. Dosis respon : Hubungan antara jumlah total suatu agen yang diberikan,
diterima, atau diserap oleh suatu organisme, sistim, atau sub/populasi dan
perubahan yang terjadi pada suatu organisme, sistim, atau sub/populasi
tersebut.
12. Efek : Perubahan keadaan atau dinamika suatu organisme, sistim atau
sub/populasi.
13. Ekses risiko kanker (excess cancer risk /ECR) : Besarnya risiko yang
dinyatakan dalam bilangan pecahan kelipatan pangkat ‘-10’ (eksponen)
tanpa satuan yang merupakan perhitungan perbandingan antara intake
dengan dosis/konsentrasi referensi dari suatu agen risiko karsinogenik
serta dapat juga diinterpretasikan sebagai dapat/tidak dapat diterimanya
suatu agen risiko terhadap organisme, sistim, atau sub/populasi dan
kelimpahan kasus kankernya (jumlah tambahan kasus kanker) dalam
satuan kasus populasi tertentu.
14. Identifikasi bahaya (hazard identification) : Identifikasi terhadap jenis dan
sifat serta kemampuan yang melekat pada suatu agen risiko yang dapat
menyebabkan dampak buruk organisme, sistim, atau sub/populasi.
Identifikasi bahaya merupakan langkah yang kedua dalam ARKL.
15. Intake non karsinogenik (Ink) : Banyaknya suatu materi (bahan) atau agen
risiko yang memiliki efek non kanker (tidak menyebabkan kanker)
padasebuah media lingkungan, yang masuk ke dalam tubuh manusia
setiap harinya yang dinyatakan dalam satuan mg/kg/hari.
16. Intake karsinogenik (Ik) : Banyaknya suatu materi (bahan) atau agen
risiko yang memiliki efek kanker (terbukti dapat menyebabkan kanker)
pada sebuah media lingkungan, yang masuk ke dalamtubuh manusia
setiap harinya yang dinyatakan dalam satuan mg/kg/hari.
17. Karakteristik risiko (risk characterization) : Perhitungan kualitatif, jika
memungkinkan secara kuantitatif, meliputi probabilitas terjadinya potensi
30 dampak buruk suatu agen pada organisme, sistim, atau sub/populasi,
beserta faktor ketidakpastiannya.
18. Konsentrasi (concentration) : Banyaknya suatu materi (bahan) atau agen
yang terlarut atau terkandung dalam satuan jumlah pada sebuah media.
19. Lowest Observed Adverse effect level (LOAEL) : Dosis terendah yang
secara statistik atau biologis (masih) memperlihatkan efek merugikan
pada hewan uji atau pada manusia.
20. No observed adverse effect level (NOAEL) : Dosis tertinggi suatu zat
pada studi toksisitas kronik atau subkronik yang secara statistik atau
biologis tidak memperlihatkan efek merugikan pada hewan uji atau pada
manusia.
21. Risiko (risk) : Kemungkinan atau kebolehjadian dari suatu dampak buruk
pada organisme, sistem, atau sub / populasi timbul akibat (disebabkan)
oleh terpajan suatu agen pada kondisi tertentu.
22. Risiko aman atau risiko yang dapat diterima (acceptable risk) : Istilah
dalam manajemen risiko yaitu dapat diterimanya risiko yang didasarkan
pada data ilmiah, faktor sosial, ekonomi, dan politik serta benefit dari
pajanan suatu agen.
23. Sloope factor (SF) : Dosis / konsentrasi dari pajanan harian agen risiko
karsinogenik yang diestimasi tidak menimbulkan efek yang mengganggu
atau tidak menyebabkan terjadinya kanker walaupun pajanannya terjadi
sepanjang hayat (seumur hidup).
24. Tingkat risiko (Risk Quotient/RQ) : Besarnya risiko yang dinyatakan
dalam angka tanpa satuan yang merupakan perhitungan perbandingan
antara intake dengan dosis / konsentrasi referensi dari suatu agen risiko
non 31 karsinogenik serta dapat juga diinterpretasikan sebagai aman/
tidak amannya suatu agen risiko terhadap organisme, sistem atau
sub/populasi.
C. Paradigma risk analysis
Paradigma risk analysis untuk kesehatan masyarakat pertama kali
dikemukakan tahun 1983 oleh US National Academic of Science untuk
menilai risiko kanker oleh bahan kimia di dalam makanan (NRC 1983).
Menurut paradig- ma ini, risk analysis terbagi dalam tiga langkah utama
yaitu penelitian (research), analisis risiko (risk assessment) dan manajemen
risiko.
Analisis risiko terbagi menjadi empat langkah yaitu (1) identifikasi
bahaya (hazard iden-tification), (2) analisis dosis-respon (dose-respone
assessment), (3) analisis pemajanan (exposure assessment) dan (4)
karakterisasi risiko (risk characterization) (Mukono 2002). Risk analysis
menggunakan sains, tek-nik, probabilitas dan statistik untuk memprakirakan
dan menilai besaran dan kemungkinan risko kesehatan dan lingkungan yang
akan terjadi sehingga semua pihak yang peduli menge- tahui cara
mengendalikan dan mengurangi risko tersebut (NRC 1983).
Pengelolaan risiko terdiri dari tiga unsur yaitu evaluasi risiko,
pengendalian emisi dan pemajanan dan pemantauan risiko. Ini berarti,
analisis risiko me-rupakan bagian risk analysis sedangkan manajemen risiko
bukan bagian analisis risiko tetapi kelanjutan dari analisis risiko. Supaya
tujuan pengelolaan risiko tercapai dengan baik maka pilihan-pilihan
manajemen risiko itu harus dikomunikasikan kepada pihak- pihak yang
berkepentingan. Langkah ini dikenal sebagai komunikasi risiko. Manajemen
dan komunikasi risiko bersifat spesifik yang bergantung pada karakteristik
risk agent, pola pemajanan, individu atau populasi yang terpajan, sosio-
demografi dan kelembagaan masyarakat dan pemerintah setempat.
Penelaahan International Programme on Chemical Safety (IPCS)
lebih mendalam mengenai metoda analisis risiko dan manajemen risiko
menyimpulkanbahwa langkah-langkah analisis risiko dan manajemen
risiko tidaklah lurus dan satu arah melainkan merupakan proses siklus
interaktif dan bahkan interative (berulang-ulang).
Manajemen risiko berinteraksi dan beriteratif dengan analisis risiko,
terutama di dalam perumusan masalah. Secara umum dapat dirumuskan
bahwa analisis risiko formal didahului oleh analisis risiko pendahuluan yang
biasanya bersifat subyektif dan informal. Pada tahap awal ini masyarakat
dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat lingkungan dan kesehatan bi-
asanya lebih peka daripada badan-badan otoritas negara. Namun, seringkali
kebanyakan masalah didasarkan pada persepsi dan opini yang tidak dapat
dirumuskan secara ilmiah. Misalnya bau yang berasaldari emisi suatu
industri bisa dirasakan oleh semua orang yang secara obyektif te- lah
mengganggu kenyamanan. Namun, risk agent apa yang menyebabkan bau
itu, hanya bisa dikenali oleh mereka yang terlatih, ber- pengalaman dalam
teknik-teknik analisis pencemaran udara dan mengetahui proses- proses
industrinya (WHO 2004).
Identifikasi
Bahaya
Identifikasi
Sumber
Analisis Analisis Dosis-
Pemajanan Respons
Karakteristik
Risiko
Manajemen
Risiko
Komunikasi
Risiko
Gambar 1. Analisis Risiko; Ruang lingkup langkah-langkah risk analysis.
Risk assess- ment hanya pada bagian kotak garis titik-titik
sedangkan risk management dan risk communication berada di
luar lingkup risk assessment (Louvar dan Louvar 1998).
Dalam perkembangan selanjutnya disadari bahwa interaksi tidak
hanya perlu dilakukan antara risk assessor dan risk manager tetapi harus
melibatkan semua pihak yang tertarik atau yang berkepent- ingan. Masalah
risiko, faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko dan persepsi tentang
risiko perlu dikomunikasikan secara transparan. Proses ini dikenal se bagai
komunikasi risiko.
Komunikasi risiko berperan untuk menjelaskan secara transparan
dan bertanggungjawab tentang proses dan hasil karakterisasi risiko serta
pilihan-pilihan manajemen risikonya kepa da pihak-pihak yang relevan
(WHO 2004). Berdasarkan paradigma risk analysis tersebut. WHO, 2004
kemudian merumuskan aturan umum bahwa analisis risiko perlu diawali
dengan analisis risiko penda- huluan yang bersifat subyektif dan informal.
Langkah ini dilakukan untuk memas tikan apakah suatu kasus memerlukan
ana lisis risiko secara formal atau tidak. Analisis risiko pendahuluan
merupakan transisi menuju analisis risiko formal, suatu proses iteratif yang
memudahkan persinggungankritis analisis risiko dengan manajemen risi ko.
Proses ini disebut sebagai perumusan masalah (WHO 2004).
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan masih jarang digunakan
dalam kajian dampak lingkungan terhadap kesehatan masyarakat.
Kebanyakan analisis dilakukan secara konservatif dengan studi
epidemiologi. Memang, selama berabad-abad studi epidemiologi telah
menjadi metoda investigasi penyakit infeksi di masyarakat (NRC 1983).
Boleh jadi sebagian akademisi dan praktisi kesehatan masyarakat
berpendapat bahwa epidemiologi merupakan satusatunya metoda kajian
dampak lingkungan terhadap kesehatan. Oleh karena itu bisa difahami jika
masih banyak salah persepsi dan pemertukaran studi Epidemiologi Kesehatan
Lingkungan (EKL) dengan ARKL. Sekurang- kurangnya ada enam ciri yang
mem bedakan EKL dan ARKL, yaitu (Rahman 2007):
1. Dalam ARKL, pajanan risk agent yang diterima setiap individu
dinyatakan sebagai intake atau asupan. Studi epidemiologi umumnya
tidak perlu memperhitungkan asupan individual ini;
2. Dalam ARKL, perhitungan asupan membutuhkan konsentrasi risk agent
di dalam media lingkungan tertentu, karakteristik antropometri (seperti
berat badan dan laju inhalasi atau pola konsumsi) dan pola aktivitas
waktu kontak dengan risk agent. Dalam EKL konsentrasi dibutuhkan
tetapi karakteristik antropometri dan pola aktivitas individu bukan
determinan utama dalam menetapkan besaran risiko;
3. Dalam ARKL, risiko kesehatan oleh pajanan setiap risk agent dibedakan
atas efek karsinogenik dan nonkarsinogenik dengan perhitungan yang
berbeda. Dalam EKL, teknik analisis efek kanker dan nonkanker pada
dasarnya sama;
4. Dalam EKL, efek kesehatan (kanker dan nonkanker) yang ditentukan
dengan berbagai pernyataan risiko (seperti odd ratio, relative risk atau
standardized mortality ratio) didapat dari populasi yang dipelajari. ARKL
tidak dimaksudkan untuk mencari indikasi atau menguji hubungan atau
pengaruh dampak ling kungan terhadap kesehatan (kejadian penyakit
yang berbasis lingkungan) melainkan untuk menghitung atau menaksir
risiko yang telah, sedang dan akan terjadi. Efek tersebut, yang dinyatakan
sebagai nilai kuantitatif dosis respon, harus sudah ditegakkan lebih
dahulu, yang didapat dari luar sumber- sumber populasi yang dipelajari,
bahkan dari studi-studi toksisitas uji hayati (bioassay) atau studi
keaktifan biologis risk agent;
5. Dalam ARKL, besaran risiko (dinyatakan sebagai RQ untuk non
karsinogenik dan ECR untuk karsino- genik) tidak dibaca sebagai
perbandingan lurus (directly proportional) melainkan sebagai probalitias.
Dalam EKL pernyataan risiko seperti OR, RRatau SMR dibaca sebagai
perbandingan lurus. Jadi misalnya, RQ = 2 tidak dibaca sama dengan
OR = 2;
6. Kuantitas risiko nonkarsinogenik dan karsinogenik digunakan untuk
merumuskan pengelolaan dan komunikasi risiko secara lebih spesifik.
ARKL menawarkan pengelolaan risiko secara kuantitatif seperti
penetapan baku mutu dan reduksi konsentrasi. Pengelolaan dan
komunikasi risiko bukan bagian integral studi EKL dan, jika ada, hanya
relevan untuk populasi yang dipelajari;
7. Epidemiologi Kesehatan Lingkungan umumnya dilakukan atas dasar
kejadian penyakit (disease oriented) atau kondisi lingkungan yang
spesifik (agent oriented), sedangkan Analisis Risiko Kesehatan
Lingkungan bersifat agent specific dan site specific. Analisis risiko
kesehatan lingkungan adalah proses perhitungan atau perkiraan risiko
pada suatu organisme sasaran, sistem atau (sub)populasi, termasuk
identifikasi ketidakpastian-ketidakpastian yang me- nyertainya, setelah
terpajan oleh agent tertentu, dengan memerhatikan karak- terisktik yang
melekat pada agent itu dan karakterisktik system sasaran yang spesifik.
Metode, teknik dan prosedur analisis risiko kesehatan lingkungan saat ini
dikembangkan dari Risk Analysis Paradigma yang terbagan pada
Gambar 1 (NRC 1983);
8. Dalam Public Health Assessment kedua studi tersebut dapat digabungkan
dengan tidak menghilangkan cirinya masing-masing. Analisis risiko
kesehatan lingkungan mampu meramal- kan besaran tingkat risiko secara
kuanti- tatif sedangkan epidemiologi kesehatan lingkungan dapat
membuktikan apakah prediksi itu sudah terbukti atau belum. Public
Health Assessment tidak saja memberikan estimasi numerik risiko
kesehatan melainkan juga perspektif kesehatan masyarakat dengan
memadu- kan analisis mengenai kondisi-kondisi pemajanan setempat,
data efek-efek kesehatan dan kepedulian masyarakat (NRC 1983).
D. Prinsip dasar ARKL
Secara garis besarnya analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL)
menurut National Research Council (NRC) terdiri dari empat tahap kajian,
yaitu : Identifikasi bahaya, Analisis pemajanan, Analisis dosis-respon, dan
Karakterisasi risiko (NRC 1983).
Langkah – langkah ini tidak harus dilakukan secara berurutan, kecuali
karak- terisasi risiko sebagai tahap terakhir. Karakterisasi risiko kesehatan
pada popu- lasi berisiko dinyatakan secara kuantitatif dengan
menggabungkan analisis dosis- respon dengan analisis pemajanan. Nilai
numerik estimasi risiko kesehatan kemudi- an digunakan untuk
merumuskan pilihan- pilihan manajemen risiko untuk mengen- dalikan
risiko tersebut. Selanjutnya opsi- opsi manajemen risiko itu dikomunikasi-
kan kepada pihak-pihak yang berkepent- ingan agar risiko potensial dapat
diketahui, diminimalkan atau dicegah (NRC 1983).
E. Metode, Teknik dan Prosedur ARKL
Kajian ARKL dimulai dengan memeriksa secara cermat apakah data
dan informasi berikut sudah tersedia (ATSDR 2005):
1. Jenis spesi kimia risk agent.
2. Dosis referensi untuk setiap jenis spesi kimia risk agent
3. Media lingkungan tempat risk agent berada (udara, air, tanah, pangan).
4. Konsentrasi risk agent dalam media lingkungan yang bersangkutan.
5. Jalur-jalur pemajanan risk agent (sesuai dengan media lingkungann- ya).
6. Populasi dan sub-sub populasi yang berisiko.
7. Gangguan kesehatan (gejala-gejala penyakit atau penyakit-penyakit)
yang berindikasikan sebagai efek pajanan risk agent yang merugikan
kesehatan pada semua segmen popu- lasi berisiko.
Jika sekurang-kurangnya data dan informasi 1 s/d 4 sudah tersedia,
ARKL sudah bisa dikerjakan. Ada dua kemung- kinan kajian ARKL yang
dapat dilakukan, yaitu (NRC 1983) :
1. Evaluasi di atas meja (Desktop Evalua- tion), selanjutnya disebut ARKL
Meja. Analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) meja dilakukan
untuk menghi tung estimasi risiko dengan segera tanpa harus
mengumpulkan data dan informasi baru dari lapangan. Evaluasi di atas
meja hanya membutuhkan konsentrasi risk agent dalam media
lingkungan bermasalah, dosis referensi risk agent dan nilai default faktor-
faktor antropometri pemajanan untuk menghitung asupan menurut
Persamaan (1).
2. Kajian lapangan (Field Study), selanjut- nya disebut ARKL Lengkap.
ARKL Lengkap pada dasarnya sama dengan evaluasi di atas meja namun
didasar- kan pada data lingkungan dan faktor- faktor pemajanan
antropometri sebenarnya yang didapat dari lapangan, bukan dengan
asumsi atau simulasi. Kajian ini membutuhkan data dan informasi
tentang jalur pemajanan dan populasi berisiko.
F. Langkah-Langkah ARKL
1. Identifikasi Bahaya
Identifikasi bahaya atau hazard identification adalah tahap awal
analisis risiko kesehatan lingkungan untuk mengenali risiko. Tahap ini
adalah suatu proses untuk menentukan bahan kimia yang berpengaruh
terhadap kesehatan manusia, misalnya kanker dan cacat lahir (Mukono,
2002).
Data identifikasi bahaya risk agent dari berbagai sumber
pencemaran dapat dirangkum dalam suatu tabel. Bila data awal tidak
tersedia, harus dilakukan pen- gukuran pendahuluan dengan sedikitnya 2
sampel yang mewakili konsentrasi risk agent paling tinggi dan paling
rendah. Se- lanjutnya dihitung Risk Quotient (RQ) un- tuk asupan
konsentrasi risk agent. Bila ternyata RQ > 1 berarti ada risiko potensial
dan perlu untuk dikendalikan. Sedangkan bila RQ ≤ 1 untuk sementara
pencemaran dinyatakan masih aman dan belum perlu dikendalikan
(Rahman 2007).
2. Analisis Pemajanan
Analisis pemajanan atau exposure assessment yang disebut juga
penilaian kontak, bertujuan untuk mengenali jalur- jalur pajanan risk
agent agar jumlah asupan yang diterima individu dalam populasi
berisiko bisa dihitung. Data dan infor- masi yang dibutuhkan untuk
menghitung asupan adalah semua variabel yang ter- dapat dalam
Persamaan berikut (ATSDR, 2005).
Keterangan :
I : Asupan (intake), mg/kg/hari
C : konsentrasi risk agent, mg/M3 untuk
me-
dium udara, mg/L untuk air
minum,
mg/kg untuk makanan atau pangan
R : laju asupan atau konsumsi, M3/jam
untuk inhalasi, L/hari untuk air minum,
g/hari
untuk makanan
t : waktu pajanan
E
f : frekwensi pajanan
E
D : durasi pajanan, tahun (real time atau
t proyeksi, 30 tahun untuk nilai default
resi-
densial)
W : Berat badan, kg
b
t : Periode waktu rata-rata (Dt x 365
a hari/tahun untuk zat nonkarsinogen, 70
v
g tahun x 365 hari/tahun untuk zat
karsino-
gen)
Waktu pajanan (tE) harus digali dengan cara menanyakan berapa
lama ke- biasaan responden sehari-hari berada di luar rumah seperti ke
pasar, mengantar dan menjemput anak sekolah dalam hitungan jam.
Demikian juga untuk frekuensi pajanan (fE), kebiasaan apa yang
dilakukan setiap tahun meninggalkan tempat mukim seperti pulang
kampung, mengajak anak berlibur ke rumah orang tua, rekreasi dan
sebagainya dalam hitungan hari. Untuk durasi pajanan (Dt), harus
diketahui berapa lama sesungguhnya (real time) responden berada di
tempat mukim sampai saat survey dilakukan dalam hitungan tahun.
Selain durasi pajanan lifetime, durasi pa- janan real time penting untuk
dikonfirmasi dengan studi epidemiologi kesehatan ling- kungan (EKL)
apakah estimasi risiko kesehatan sudah terindikasikan (ATSDR, 2005).
Konsentrasi risk agent dalam media lingkungan diperlakukan
menurut karak teristik statistiknya. Jika distribusi konsen trasi risk agent
normal, bisa digunakan nilai arithmetik meannya. Jika distri- businya
tidak normal, harus digunakan log normal atau mediannya. Normal
tidaknya distribusi konsentrasi risk agent bisa ditentukan dengan
menghitung coeffi- cience of variance (CoV), yaitu SD dibagi mean. Jika
CoV ≤ 20% distribusi dianggap normal dan karena itu dapat digunakan
nilai mean (NRC 1983). Sebelum nilai default nasional tersedia
berdasarkan hasil survey maka tE, fE dan Wb dapat dipakai sebagai nilai
numerik faktor antropometri pemajanan (Rahman, 2007).
3. Analisi Dosis-Respon
Analisis dosis-respon, disebut juga dose-response assessment atau
toxicity assessment, menetapkan nilai-nilai kuanti- tatif toksisitas risk
agent untuk setiap ben- tuk spesi kimianya. Toksisitas dinyatakan sebagai
dosis referensi (reference dose, RfD) untuk efek-efek nonkarsinogenik
dan Cancer Slope Factor (CSF) atau Cancer Unit Risk (CCR) untuk efek-
efek karsino- genik. Analisis dosis-respon merupakan tahap yang paling
menentukan karena ARKL hanya bisa dilakukan untuk risk agent yang
sudah ada dosis-responnya (US EPA, 1997).
Menurut IPCS, Reference dose ada- lah toksisitas kuantitatif
nonkarsinogenik, menyatakan estimasi dosis pajanan harian yang
diprakirakan tidak menimbulkan efek merugikan kesehatan meskipun
pajanan berlanjut sepanjang hayat (Rahman, 2007).
Dosis referensi dibedakan untuk pa- janan oral atau tertelan
(ingesi, untuk ma- kanan dan minuman) yang disebut RfD (saja) dan
untuk pajanan inhalasi (udara) yang disebut reference concentration
(RfC). Dalam analisis dosis-respon, dosis dinyatakan sebagai risk agent
yang terhir- up (inhaled), tertelan (ingested) atau terserap melalui kulit
(absorbed) per kg berat badan per hari (mg/kg/hari) (US EPA 1997).
Dosis yang digunakan untuk menetapkan RfD adalah yang
menyebab- kan efek paling rendah yang disebut NO- AEL (No Observed
Adverse Effect Level) atau LOAEL (Lowest Observed Adverse Effect
Level). NOAEL adalah dosis terting- gi suatu zat pada studi toksisitas
kronik atau subkronik yang secara statistik atau biologis tidak
menunjukkan efek merugikan pada hewan uji atau pada manusia
sedangkan LOAEL berarti dosis terendah yang (masih) menimbulkan
efek. Secara numerik NOAEL selalu lebih rendah da- ripada LOAEL.
RfD atau RfC diturunkan dari NOAEL atau LOAEL menurut persamaan
berikut ini (ATSDR, 2005) :
UF adalah uncertainty factor (faktor ketidakpastian) dengan nilai
UF1 = 10 untuk variasi sensitivitas dalam populasi manusia (10H,
human), UF2 = 10 untuk ekstrapolasi dari hewan ke manusia (10A,
animal), UF3 = 10 jika NOAEL diturunk- an dari uji subkronik, bukan
kronik, UF4 = 10 bila menggunakan LOAEL bukan NOAEL. MF adalah
modifying factor bernilai 1 s/d 10 untuk mengakomodasi kekurangan
atau kelemahan studi yang tidak tertampung UF. Penentuan nilai UF dan
MF tidak lepas dari subyektivitas. U n t u k menghindari subyektivitas,
tahun 2004 telah diajukan model dosis respon baru dengan memecah
UF menjadi ADUF (= 100,4 atau 2,5), AKUF (= 100,6 atau 4,0),
HDUF (=100,5 atau 3,2) dan HKUF (=100,5 atau 3,2)8 (ATSDR,
2005).
4. Karakteristik Risiko
Karakteristik risiko kesehatan dinya- takan sebagai Risk Quotient
(RQ, tingkat risiko) untuk efek-efek nonkarsinogenik dan Excess Cancer
Risk (ECR) untuk efek- efek karsinogenik . RQ dihitung dengan
membagi asupan nonkarsinogenik (Ink) risk agent dengan RfD atau
RfC-nya menurut persamaan (3) (ATSDR, 2005).
Baik Ink maupun RfD atau RfC ha- rus spesifik untuk bentuk
spesi kimia risk agent dan jalur pajanannya. Risiko kesehatan dinyatakan
ada dan perlu dikendalikan jika RQ > 1. Jika RQ ≤ 1, risi- ko tidak perlu
dikendalikan tetapi perlu dipertahankan agar nilai numerik RQ tidak
melebihi 1 (Rahman, 2007).
ECR dihitung dengan mengalikan CSF dengan asupan
karsinogenik risk agent (Ink) menurut persamaan. Harap di- perhatikan,
asupan karsinogenik dan non- karsinogenik tidak sama karena perbedaan
bobot waktu rata-ratanya (tavg) seperti dijelaskan dalam keterangan
rumus asupan (ATSDR 2005).
Baik CSF maupun Ink harus spesifik untuk bentuk spesi kimia
risk agent dan jalur pajanannya. Karena secara teoritis karsinogenisitas
tidak mempunyai ambang non threshold, maka risiko dinyatakan tidak
bisa diterima (unacceptable) bila E-6<ECR<E-4. Kisaran angka E-6 s/d
E-4 dipungut dari nilai default karsinoge nistas US-EPA (US EPA,
1997).
G. Manajemen Risiko
Berdasarkan karakterisasi risiko, dapat dirumuskan pilihan-pilihan
mana- jemen risiko untuk meminimalkan RQ dan ECR dengan
memanipulasi (mengubah) nilai faktor-faktor pemajanan yang tercakup
dalam Persamaan (1) sedemikian rupa sehingga asupan lebih kecil atau
sama dengan dosis referensi toksisitasnya. Pada dasarnya hanya ada dua
cara untuk menyamakan Ink dengan RfD atau RfC atau mengubah Ink
sedemikian rupa sehingga ECR tidak melebihi E-4, yaitu menurunkan
konsentrasi risk agent atau mengurangi waktu kontak. Ini berarti hanya
variabel-variabel Persamaan (1) tertentu saja yang bisa diubah-ubah nilainya
(Rahman, 2007). Berikut, penjelasan cara- cara manajemen risiko secara
lengkap.
1. Menurunkan konsentrasi risk agent bila pola dan waktu konsumsi tidak
dapat di ubah. Cara ini menggunakan prinsip RFC= Ink, maka persamaan
yang digunakan adalah :
2. Mengurangi pola (laju) asupan bila konsentrasi risk agent dan waktu
konsumsi tidak dapat diubah. Persamaan yang digunakan dalam
manajemen risiko cara ini adalah :
3. Mengurangi waktu kontak bila konsentrasi risk agent dan pola konsumsi
tidak dapat di ubah. Cara ini sering juga digunakan dalam strategi studi
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan. Persamaan yang digunakan disini
adalah :
4. Besar risiko (RQ)
RfC merupakan dosis acuan yang diperoleh dari kepustakaan (US
EPA, 2003).
DAFTAR PUSTAKA
ATSDR, 2005. "Public Health Assessment Guid- ance Manual."
http:// [Link]/hac/PHSManual/ [Link]. (accessed
Desember 16, 2011).
Bapelkes Lemah Abang, 2009. Buku Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan
Lingkungan, Bekasi.
Louvar, J.F., and B.D. Louvar, 1998. Health and Environmental Risk Analysis :
Fundamental with Application. New Jer- sey: Prentice Hall.
Mukono, 2002. Epidemiologi Lingkungan. Sura- baya: Airlangga University
Press.
NRC, 1983."Risk Assessment in The Federal Government : Managing The
Process."[Link] catalog/[Link]. (accessed Desember
16, 2011).
US EPA, 1997. Exposure factors Handbook. En vironmental Protection Agency.
WHO, 2004. Environmental Health Criteria XXX : Principles for Modelling,
Dose Response for The Risk Assess- ment of Chemicals. Jenewa:
IPCS.