BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Konsep DBD
Demam berdarah (DD) adalah penyakit akut yang disebabkan oleh
virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk, sedangkan demam berdarah
dengue (DHF) dikaitkan dengan tanda-tanda kebocoran plasma. Penyakit ini
terutama menyerang anak-anak yang rentan dan menyebabkan syok hingga
kematian. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), demam berdarah
dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk
Aedes yang terinfeksi salah satu dari empat jenis virus dengue. Manifestasi
klinisnya meliputi demam, mialgia, dan/atau arthralgia. leukopenia, ruam,
limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Pada demam
berdarah dengue terjadi sekresi plasma yang ditandai dengan
hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di
rongga tubuh.
Kasus demam berdarah di Indonesia pertama kali dilaporkan di
wilayah metropolitan Surabaya dan Jakarta. Pada bulan April 2010, jumlah
orang yang terinfeksi mencapai rekor tertinggi yaitu 3.130 orang, dengan tiga
kematian. Pada tahun 2011, jumlah kematian tertinggi tercatat pada bulan
Januari, yaitu delapan kematian dari total 4.050 orang yang terinfeksi. DKI
di Provinsi Jakarta mencatat 21.325 kasus demam berdarah dan 32 kematian
13
14
pada bulan Januari hingga Desember 2012 (Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia, 2013).
Perilaku masyarakat memegang peranan penting ketika angka kasus
demam berdarah dengue sedang tinggi. Aedes aegypti berkembang biak
lebih mudah jika dilakukan perilaku tidak sehat. Kebanyakan masyarakat
sudah mengetahui tentang Program 3M Plus Pembasmi Nyamuk
(Menutup, Mengubur, Menguras, Jangan Menggantung Pakaian
Sembarangan), namun belum melaksanakan program ini. Tentu saja hal ini
memudahkan nyamuk berkembang biak dan otomatis meningkatkan risiko
tertular demam berdarah. Program 3M Plus mencakup berbagai kegiatan,
antara lain pengendalian jentik nyamuk di tempat perkembangbiakan,
penggunaan lotion dan obat nyamuk bakar, kelambu, dan fogging.
Kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan dan praktik 3M
Plus berdampak signifikan dalam mengurangi penyebaran penyakit demam
berdarah (Debi, 2023).
Keberhasilan tindakan pengendalian jentik nyamuk Aedes aegypti
bergantung pada edukasi masyarakat. Pendidikan yang baik dan benar
dapat mempengaruhi perilaku masyarakat. Pendidikan media video
menyajikan materi edukasi dan memberikan pendidikan kesehatan melalui
tampilan video (Debi, 2023).
Sekolah merupakan tempat potensial penyebaran dan penularan
penyakit demam berdarah dengue (DBD). Peran strategis anak usia sekolah
sebagai bagian dari kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam upaya
pencegahan dan pengendalian DBD. Anak sekolah dapat mengikuti upaya
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) baik di sekolah maupun di rumah.
15
Edukasi gerakan PSN demam berdarah dengue pada anak sekolah
memerlukan media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan alat
penyampai pesan dan informasi dalam proses belajar mengajar sehingga
dapat meningkatkan perhatian, minat, dan keterampilan belajar siswa
(Umi, 2023).
Faktor perilaku dalam kegiatan pendidikan kesehatan DBD
diberikan sebagai intervensi pertama untuk meningkatkan pengetahuan
siswa. Siswa juga akan dilatih melakukan gerakan 3M yang baik dan benar
agar efektif mencegah penyebaran penyakit Aedes aegypti. Pengetahuan
sangat penting untuk pencegahan dan pengendalian demam berdarah di
lingkungan sekolah. Semakin banyak siswa mengetahui maka semakin
termotivasi pula mereka untuk melakukan aksi PSN. Sekolah perlu
memberikan pengetahuan tentang penyakit demam berdarah kepada
siswanya agar dapat berperan aktif dalam pencegahan penyakit demam
berdarah (Dwi, 2023).
2. Etiologi dan Transmisi Demam Berdarah Dengue (DBD)
DBD disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam kelompok
virus arthropoda bakterial (Arbovirus). Virus ini dikenal dengan famili
Flaviviridae dan mempunyai 4 serotipe yaitu: DEN 1, DEN 2 DEN 3 dan
DEN 4. Infeksi pada satu serotipe memberikan perlindungan yang
memadai terhadap serotipe lainnya (Faid, 2019)
1) Dengue 1 diisolasi oleh Sabin pada tahun 1994
2) Dengue 2 diisolasi oleh sabin pada tahun 1994
3) Dengue 3 diisolasi oleh olehshater
16
4) Dengue 4 diisolasi olehshater
Empat serotipe virus dengue telah ditemukan di beberapa wilayah
di Indonesia. Serotipe DEN 2 dan DEN 3 merupakan serotipe yang
dominan dan diperkirakan mempunyai banyak manifestasi klinis yang
parah. Serotipe DEN 3 merupakan serotipe virus yang dominan
menyebabkan kasus berat (Faid, 2019).
Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue. Di
Indonesia, vektor utama penyakit demam berdarah adalah nyamuk
Aedes aegypti betina. Menurut Candra (2010), ciri-ciri nyamuk
penyebab demam berdarah adalah:
1) Badannya kecil, warna hitam dengan bintik-bintik putih
2) Hidup di dalam dan sekitar rumah
3) Menggigit/menghisap darah pada siang hari
4) Senang hinggap pada pakaian yang bergantungan dan bertumpuk
di dalam kamar
5) Bersarang dan bertelur di genangan air jernih di dalam dan di
sekitar rumah bukan di got/comberan. Di dalam rumah: terdapat pada
bak mandi, tampayan, vas bunga, tempat minum burung, dan lain-
lain.
Jika seseorang terinfeksi virus dengue yang ditularkan oleh
nyamuk Aedes aegypti, maka virus dengue akan masuk bersama darah
yang dihisap oleh nyamuk tersebut. Di dalam tubuh virus nyamuk itu
akan berkembang biak dengan cara membelah diri dan menyebar ke
seluruh bagian tubuhnya. Sebagian besar virus akan berada dalam
kelenjar air liur nyamuk (proboscis)
17
menemukan kapiler darah, sebelum nyamuk menghisap darah maka
terlebih dahulu nyamuk akan mengeluarkan air liurnya agar darah yang
diisapnya tidak membeku (Candra, 2010). Virus dengue ditularkan
kepada orang lain bersamaan dengan air liur nyamuk Aedes aegypty
yang masuk saat nyamuk menghisap/menusukkan probosisnya untuk
menghisap darah.
Ada beberapa faktor penyebab dari tingginya Demam
Berdarah Dengue diantaranya adalah : kepadatan penduduk, perilaku
hidup bersih dan sehat kurang, pengetahuan dan pendidikan masyarakat
yang rendah, kurangnya hygienitas yang diterapkan dalam keluarga,
informasi dari rumah sakit yang terlambat, petugas kesehatan yang
kurang dan lintas sektor yang kurang. Berbagai cara juga telah
diupayakan oleh pelayanan kesehatan khusus baik dengan cara
penyuluhan masyarakat, pemberian abate pada tempat-tempat
penampungan air dan penyemprotan daerah yang diduga sarang
nyamuk.
Adapun faktor lainnya yang mempengaruhi terjadinya Demam
Berdarah Dengue(DBD) yaitu:
1) Suhu dan Kelembaban
Nyamuk merupakan hewan berdarah dingin dan siklus
hidupnya bergantung pada suhu lingkungan. Rata-rata nyamuk
membutuhkan suhu optimal untuk berkembang biak, 25-27 oC.
Suhu habitat nyamuk juga mempengaruhi pertumbuhan parasit
dalam tubuh vektor. Vektor ini memerlukan suhu yang rendah dan
suhu terendah untuk sporulasi dalam tubuh nyamuk adalah 16 oC,
sedangkan untuk P. falciparum adalah 19 oC untuk P. vivax dan P.
malariae (Mala, 2023).
18
Kelembaban adalah jumlah uap air di udara, biasanya
dinyatakan dalam persentase. Nyamuk bernapas melalui trakea yang
terdapat lubang pada dinding tubuh nyamuk (spirakel). Obat nyamuk
bakar terbuka tanpa mekanisme pengaturan, sehingga bila kelembapan
rendah otomatis akan menguap dari dalam tubuh nyamuk. Hal ini
menyebabkan cairan tubuh nyamuk mengering (Malla, 2023).
Nyamuk merupakan binatang bedarah dingin dan siklus
hidupnya bergantung pada suhu lingkungan. Rata-rata nyamuk
membutuhkan suhu optimum untuk berkembang biak 25-27 oC. Suhu
pada daerah tempat tinggal nyamuk juga mempengaruhi pertumbuhan
parasite di dalam tubuh vector. Vektor tersebut memerlukan suhu yang
rendah dan suhu terendah untuk mengalami siklus sporogonik di dalam
tubuh nyamuk adalah 16oC sedangkan [Link] adalah 19oC untuk
[Link] dan [Link] (Malla, 2023).
2) Curah Hujan
Curah hujan adalah ketinggian air hujan yang terkumpul pada
permukaan datar, tidak menyerap, tembus atau mengalir. Curah hujan
penting bagi kelangsungan hidup nyamuk Aedes aegypty karena hujan
mempengaruhi suhu dan kelembaban udara serta meningkatkan jumlah
tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypty (Mala, 2023).
3) Kecepatan Angin
Dapat mempengaruhi penerbangan dan penyebaran nyamuk.
Jika kecepatan angin 11-14 m/s atau 25-31 mil per jam, jalur nyamuk
akan terhalang. Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan
terbenam
19
menjadi faktor pendorong nyamuk beterbangan masuk atau keluar
rumah, serta menjadi salah satu faktor penentu terjadinya kontak langsung
antara manusia dengan nyamuk. Jangkauan nyamuk dapat terbatas
tergantung angin (Mala, 2023).
3. Epidemiologi
Hingga saat ini penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih
menjadi masalah kesehatan masyarakat dan endemik di Indonesia.
Penyakit ini dapat menyebabkan kejadian darurat (ECB) di beberapa
daerah endemis yang terjadi hampir setiap tahun pada musim hujan. Sejak
tahun 1952, infeksi virus dengue telah menimbulkan gejala klinis yang
parah, yaitu demam berdarah dengue (DBD) yang ditemukan di Manila,
Filipina. Kemudian mencapai Thailand, Vietnam, Malaysia bahkan
Indonesia.
Demam berdarah dengue sering terjadi pada anak-anak di bawah
usia 15 tahun, sekitar 50% penderita demam berdarah berusia antara 10
dan 15 tahun, yang merupakan bentuk demam berdarah yang paling umum
dibandingkan pada bayi dan orang dewasa. Nyamuk Aedes aegypti aktif
menggigit pada siang hari dengan dua puncak aktivitas yaitu pukul 08.00
hingga 12.00 dan pukul 15.00 hingga 17.00. Pada tahun 2010, jumlah
kasus DBD di Indonesia sebanyak 156.086 kasus dengan total kematian
sebanyak
1.358 orang, dengan Incident Rate (IR) per 100.000 Penduduk sebesar
65,7 dan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,87%. IR penyakit DBD
menurun dari tahun 2009 sebesar 68,22 per 100.000 penduduk. CFRnya
juga sedikit menurun, pada tahun 2009 DBD CFR sebesar 0,89%.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa antara tahun
20
1968 dan 2009, Indonesia
21
memiliki insiden demam berdarah tertinggi di Asia Tenggara. Secara
epidemiologis, pada kasus DBD, terdapat faktor yang mempengaruhi
timbulnya penyakit, yaitu agen penyebab, host, dan lingkungan. Hal ini
sangat berdampak terhadap angka kesakitan setiap individu baik secara
sosial, ekonomi, dan terutama perilaku masyarakat, meningkatnya
mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, dan masih adanya tempat
perkembangbiakan atau sarang nyamuk pembawa demam berdarah (Malla,
2023).
1) Agent (Virus dengue)
Agen penyebabnya adalah demam berdarah, yaitu virus dengue
yang masa inkubasinya tidak terlalu lama, yaitu. 3-7 hari, virus ini
berkembang di tubuh manusia. Di saat orang yang sakit menjadi
sumber penyebaran penyakit DBD.
2) Host
Penjamunya (Host) adalah orang yang rentan terhadap infeksi
virus dengue. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang
antara lain:
a) Umur
Usia merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
kerentanan terhadap infeksi virus dengue. Virus dengue dapat
menginfeksi semua kelompok umur, bahkan yang baru berumur
beberapa hari pun bisa tertular virus dengue, dimana virus dengue
sangat rentan menular pada anak-anak dan mulai terjadi epidemi
pada anak-anak. 1-5 tahun. Alasan awal terjadinya wabah demam
berdarah
22
adalah karena virus demam berdarah menyerang semua orang,
terutama anak-anak berusia antara 5 dan 9 tahun, dan sekitar 95%
kasus demam berdarah menyerang anak-anak di bawah usia 15
tahun.
b) Jenis Kelamin
Sejauh ini, perbedaan serangan DBD tidak ditemukan
berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin (gender), tidak ditemukan
perbedaan kerentanan antara laki-laki dan perempuan, meskipun
angka kematian tertinggi terdapat pada anak perempuan, namun
perbedaan angkanya tidak signifikan. Ada beberapa kasus di luar
negeri dimana anak laki-laki lebih mungkin terkena demam berdarah
dibandingkan anak perempuan.
3) Lingkungan (Environment)
Lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya penyakit demam
berdarah. Penyakit ini dapat menyebabkan infeksi virus dengue yang
tersebar luas di banyak negara tropis dan subtropis, sedangkan virus
dengue menyebabkan penyakit yang disebut demam lima hari atau
disebut juga demam rematik. Sementara itu, musim wabah demam
berdarah berlangsung beberapa minggu setelah musim hujan. Wabah
penyakit ini terjadi pada musim hujan dan erat kaitannya dengan
kelembaban udara pada musim hujan. Hal ini meningkatkan aktivitas
vektor yang menggigit manusia karena lingkungan mendukung selama
masa inkubasi (Widyanto, 2013). Demam berdarah dengue dapat
menyerang semua kelompok umur. Selama ini berdasarkan hasil
penelitian, demam berdarah lebih sering menyerang anak-anak. Menurut
23
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), DBD memiliki gejala yang mirip
dengan demam berdarah, namun DBD juga memiliki gejala lain seperti
nyeri/nyeri terus-menerus di perut, pendarahan dari hidung, mulut, gusi,
atau kulit memar. . Berdasarkan kriteria Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO), diperlukan dua kriteria untuk mendiagnosis infeksi virus
dengue, yaitu kriteria klinis dan kriteria laboratorium. Tujuan penggunaan
kriteria tersebut adalah untuk mengurangi kesalahan diagnosis
(misdiagnosis) atau diagnosis berlebihan (overdiagnosis). Kriteria
klinisnya adalah sebagai berikut:
1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus
menerus selama 2-7 hari kemudian turun secara berangsur-angsur.
Kadang disertai gejala yang tidak spesifik seperti anoreksia, lemah
nyeri pada punggung, tulang, persendian, dan kepala.
2. Terdapat manifestasi perdarahan, setidak-tidaknya uji bending positif
dan bentuk lain (Petekia, ekimosis, purpura, perdarahan mukosa,
epistaksis, perdarahan gus) Hematemesis melena, dan Hematuria.
3. Pembesaran hati (Hepatomegali).
4. Manifestasi syok/renjatan yang ditandai oleh nadi lemah, cepat disertai
tekanan nadi menurun, tekanan darah menurun (tekanan sistolik
menurun) disertai kulit yang terasa dingin dan lembab terutama pada
ujung hidung, jari, dan kaki, pasien menjadi gelisah, timbul sianosis
di sekitar mulut.
Menurut WHO, parameter laboratorium untuk diagnosis demam
berdarah adalah hemokonsentrasi dan trombositopenia. Tujuannya
untuk
24
menilai apakah terdapat hubungan erat antara jumlah trombosit dengan
kadar hematokrit pada pasien. Pada DBD, trombositopenia muncul pada
hari ke 3 dan menetap sepanjang perjalanan penyakit. Inilah sebabnya
mengapa tes darah sangat penting. Saat memantau penyakit, sering kali
ada kekhawatiran bahwa syok akan terjadi jika jumlah trombosit turun
terlalu rendah atau hematokrit meningkat terlalu tinggi.
4. Gejala dan Tanda DBD
Lebih dari 80% kasus demam berdarah dan mereka yang terinfeksi
virus demam berdarah menyebarkan penyakitnya secara perlahan, tanpa
gejala atau memiliki penyakit ringan. Secara umum, gejala-gejala tersebut
tampaknya disebabkan oleh infeksi virus dengue, yang biasanya terjadi
setelah masa inkubasi (masa virus berkembang dan menimbulkan gejala),
sekitar 3 hingga 8 hari setelah virus masuk ke dalam tubuh manusia.
Ketika sistem pertahanan tubuh kurang maka akan muncul gejala-gejala
yang terkesan ringan atau bahkan dapat menimbulkan beberapa gejala
sebagai berikut (Malla, 2023).
a) Demam yang terjadi selama terus menerus hingga suhu tubuh mencapai
40oC atau bahkan lebih. Tinggi suhu tubuh inilah yang membuat penderita
juga mengalami sakit kepala yang hebat.
b) Demam tidak dapat disembuhkan dengan obat penurun panas biasa.
c) Mual, muntah dan nafsu makan berkurang.
d) Nyeri sendi atau nyeri otot yang ditandai dengan pegal-pegal nyaris
seperti rematik.
e) Nyeri kepala dan sakit.
25
f) Nyeri atau rasa panas di belakang bola mata.
g) Wajah kemerahan.
h) Adanya konstipasi (sulit buang air besar) atau kadang-kadang justru
terjadi diare.
i) Bintik-bintik merah di lipatan tangan (bisa muncul, bisa tidak). Jika
bintik-bintik merah ini tidak muncul namun tanda-tanda lain seperti
yang telah disebutkan sebelumnya muncul, maka akan lebih baik bila
penderita tetap melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan bahwa
penderita memang benar-benar tidak terserang virus demam berdarah.
5. Penyebab Demam Berdarah Dengue
Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh
infeksi virus yang dapat menular ke manusia melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti, dan nyamuk Aedes aegypti dapat menularkan virus dengue
ke generasi berikutnya melalui indung telurnya. Virus dengue dapat
bersirkulasi dan berkontraksi di dalam tubuh penderita sehingga penderita
mengalami keadaan viremik dimana infeksi terjadi di dalam tubuh
penderita (Malla, 2023).
6. Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD)
Saat ini pemberantasan nyamuk Aedes aegypti merupakan cara
utama pemberantasan penyakit DBD, karena belum tersedia vaksin untuk
mencegahnya dan obat untuk memberantas virus tersebut. Pemberantasan
nyamuk merupakan upaya untuk mengurangi faktor risiko penularan
vektor dengan cara meminimalkan lingkungan perkembangbiakan vektor,
mengurangi kepadatan dan umur vektor, mengurangi penularan antara
26
vektor dan manusia, serta memutus rantai penularan penyakit. Pencegahan
ini merupakan pencegahan primer yaitu. mencoba mencegah terjadinya
penyakit atau tindakan terhadap kondisi kesehatan yang merugikan dan
tindakan terhadap kondisi kesehatan yang merugikan serta tindakan
perlindungan. 3M sendiri memiliki beberapa upaya preventif, yaitu:
1) Menguras tempat penampungan air atau bak mandi secara teratur
sekurang-kurangnya seminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke
dalamnya
2) Menutup rapat-rapat tempat penampungan air, setelah mengambil
airnya, agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak.
3) Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat
menampung air hujan; seperti kaleng bekas, plastik, bambu-bambu yang
terbuka, drum-drum bekas dll. Pencegahan ini diupayakan secara
sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan, kerusakan,
atau kerugian bagi seseorang atau masyarakat terhadap penyakit DBD
(Herafa, 2019). Beberapa upaya pencegahan lainnya:
a) Kelambu pada saat tidur di malam hari.
b) Jangan menumpuk atau menggantung baju terlalu lama.
c) Menggunakan lotion atau krim antinyamuk.
d) Melakukan fogging.
e) Pangkas dan bersihkan tanaman liar di pekarangan rumah.
f) Hias rumah dengan tanaman antinyamuk alami misalnya, tanaman
pengusisr nyamuk seperti serai wangi, bunga lavender, daun
peppermint, dan bunga geranium (tapak dara).
27
7. Teori perkembangan Anak
a. Fase Perkembangan Anak SD
Perkembangan berkaitan dengan kepribadian dan terpadu. Ini
mengacu pada proses dimana sikap dan perilaku seseorang atau kelompok
berubah selama pendewasaan. Siswa sekolah dasar usia 6-11 tahun berada
pada masa masa kanak-kanak madya (Megasari, 2013). Pada masa kanak-
kanak pertengahan, anak mempunyai keterampilan dasar seperti
berhitung, menulis dan membaca. Pada tahap perkembangan siswa
sekolah dasar dapat dilihat beberapa aspek dasar kepribadian anak yaitu
1) fisik-motorik, 2) kognitif, (3) sosio-emosional, 4) bahasa dan 5)
moralitas agama, dijelaskan dalam tahap perkembangan anak sebagai
berikut:
1) Fisik-motorik
Pertumbuhan fisik anak usia sekolah dasar ditandai dengan
tinggi badan, berat badan, dan kekuatan anak dibandingkan dengan
usia PAUD/TK, yang dinyatakan dalam perubahan tulang, otot, dan
motorik. Anak akan lebih aktif dan kuat ketika melakukan aktivitas
fisik seperti berlari, memanjat, melompat, berenang, dan aktivitas
luar ruangan lainnya. Aktivitas fisik ini dilakukan anak untuk
mengembangkan koordinasi umum, keterampilan motorik, stabilitas
tubuh dan akumulasi energi atau kebebasan bergerak secara
langsung. Perkembangan fisik siswa SD laki-laki dan perempuan
berbeda. Anak perempuan biasanya lebih ringan dan lebih pendek
dibandingkan anak laki-laki. Aspek perkembangan fisik-motorik ini
mempengaruhi aspek
28
perkembangan lainnya, misalnya kondisi fisik anak yang tidak normal,
seperti anak yang terlalu tinggi atau pendek, anak yang terlalu kurus
atau gemuk, mempengaruhi rasa percaya diri anak. anak. . Rasa
percaya diri berkaitan dengan emosi, kepribadian, dan kehidupan
sosial anak.
2) Kognisi
Salah satu aspek perkembangan kognitif adalah
perkembangan yang berkaitan dengan kemampuan kognitif anak, yang
mengacu pada proses mengingat, mengambil keputusan dan
memecahkan masalah, atau kemampuan berpikir anak. Anak sekolah
dasar mempunyai kemampuan berpikir yang unik. Cara berpikir
mereka berbeda dengan anak-anak prasekolah dan orang dewasa.
Cara mereka mengamati lingkungan dan mengatur dunia informasi
yang mereka terima juga berbeda dengan anak prasekolah dan orang
dewasa. Teori perkembangan Piaget adalah salah satu teori
perkembangan kognitif yang paling terkenal. Dalam teorinya, Piaget
menjelaskan bahwa anak sekolah dasar yang biasanya berusia antara
7 hingga 11 tahun berada pada tahap perkembangan kognitif
imajinatif yang ketiga, yaitu tahap tindakan konkrit. Pada tahap ini
anak dianggap mampu menalar secara logis tentang segala sesuatu
yang konkrit atau nyata, namun anak masih belum bisa menalar
tentang hal yang abstrak.
Anak usia sekolah dasar mengalami perkembangan kognitif
yang pesat. Anak mulai belajar membentuk konsep, melihat
hubungan dan memecahkan masalah dalam situasi tertentu (Slavin,
29
2011). Oleh karena itu, guru harus mampu menciptakan suasana
pembelajaran yang spesifik dimana anak berpikir logis dan dapat
memecahkan masalah.
3) Perkembangan sosio-emosional.
Fase ini ditandai dengan semakin cepatnya hubungan anak
dengan teman sebaya dan berkurangnya ketergantungan anak pada
keluarga. Pada tahap ini hubungan atau kontak sosial sudah lebih
baik dan efektif, sehingga anak lebih senang bermain dan berbicara
di lingkungan sosialnya. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan
bahwa teman sebaya memegang peranan penting dalam
perkembangan sosial anak, karena melalui teman sebaya anak dapat
belajar dan menerima informasi tentang dunia anak di luar keluarga
(Murni, 2017). Pada tahap ini juga terlihat anak sudah mulai
mengembangkan konsep diri sebagai anggota kelompok sosial di luar
keluarga. Hubungan sosial anak dewasa di luar keluarga mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan harga diri anak.
Ketidakpercayaan pada anak terjadi ketika anak tidak bisa
mengerjakan tugas yang sama seperti teman-temannya. Dalam
kegiatan pendidikan, peran guru sangat penting untuk
mengembangkan rasa percaya diri dan semangat bekerja anak sesuai
dengan kemampuan masing-masing anak.
4) Perkembangan bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi untuk interaksi sosial.
Perkembangan bahasa anak berkembang sejak awal sekolah dasar dan
30
mencapai kepenuhan pada akhir masa pubertas, pada akhir sekolah
dasar (7-8 tahun) perkembangan bahasa anak sangat pesat. Anak
memahami tata bahasa, walaupun terkadang menemui kesulitan dan
melakukan kesalahan, anak dapat mengubah atau memperbaikinya
sendiri. Anak-anak menjadi pendengar yang baik. Anak dapat
memperhatikan apa yang didengarnya kemudian dapat
merumuskannya kembali dalam urutan dan susunan yang logis (tepat
atau masuk akal). Anak mempunyai kemampuan memahami lebih dari
satu makna dan memperkaya kata dengan humor. Salah satu faktor
yang sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak sekolah
dasar adalah faktor lingkungan. Siswa sekolah dasar banyak belajar
dari orang-orang disekitarnya, terutama dari lingkungan keluarga
yang merupakan lingkungan terdekat anak. Oleh karena itu, sebaiknya
orang tua dan masyarakat menggunakan istilah-istilah bahasa di
sekitar anak dengan lebih selektif dan baik, karena pada dasarnya
bahasa anak dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya.
5) Perkembangan Moral Keagamaan
Pelajaran perkembangan moral anak terfokus pada
lingkungan keluarga dan lingkungan sosial yang lebih luas di luar
keluarga. Konsep pengembangan moral menjelaskan bahwa norma
dan nilai yang berlaku di lingkungan sosial siswa mempengaruhi
baik buruknya moral siswa (Trianingsih, 2016). Dalam perkembangan
anak usia dini, moralitas anak belum berkembang dengan cepat, hal
ini disebabkan karena perkembangan kognitif anak belum
memahami benar dan
31
salahnya perbuatannya, saat ini anak masih belum mengetahui apa
yang boleh dan tidak boleh dilakukan. apa yang salah. . yang tidak
diperbolehkan.
Berdasarkan periodisasi perkembangan Piaget, siswa sekolah
dasar kelas I, II, III, IV berada pada fase transisi yaitu dari era
realisme moral menuju transisi menuju otonomi moral. Akibat dari
masa peralihan tersebut maka terbentuklah perilaku moral anak pada
masa heteronom (sikap manusia yang bertindak hanya menurut
kaidah moral lahiriah, suatu perbuatan dikatakan baik hanya karena
sesuai dengan kaidah moral, dengan menggunakan asas
membolehkan sesuatu yang lain. daripada moral). sebuah hukum
yang menentukan apa yang harus dilakukan dalam bertindak, dan
emosi terlibat) dan terkadang saya menyukai perilaku anak yang
otonom (seseorang yang percaya diri dengan
keterampilan/kemampuannya). Berkenaan dengan perkembangan moral
anak, guru hendaknya mampu menanamkan moralitas pada anak
tanpa disadari oleh anak, sehingga mendorong kesadaran anak untuk
berbuat baik.
6) Tugas Perkembangan Anak SD
Havigurst mengatakan tugas perkembangan individu
merupakan tugas yang muncul pada periode tertentu dalam
kehidupan seseorang. Keberhasilan membawa kebahagiaan dan
memudahkan penyelesaian tugas-tugas berikutnya, dan kegagalan
menyebabkan seseorang kecewa dan sulit menyelesaikan tugas
perkembangan berikutnya (Megasari, 2013).
32
Anak usia 6 sampai 12 tahun pada hakikatnya menjalani tugas
perkembangan berupa keterampilan yang harus dikuasai siswa sekolah
dasar. Havigurst menjelaskan delapan tugas perkembangan anak
usia 6-12 tahun. Delapan tugas perkembangan tersebut adalah:
a) Belajar keterampilan fisik yang dibutuhkan dalam permainan.
Selama masa ini, anak-anak belajar menggunakan otot
mereka untuk mempelajari berbagai keterampilan. Itu sebabnya
otot dan tulang anak tumbuh dengan cepat. Mereka mempunyai
kebutuhan yang sangat tinggi terhadap aktivitas dan bermain.
Mereka bisa memainkan permainan dengan aturan tertentu.
Semakin tinggi nilai sekolah seorang anak, semakin jelas pula ciri-
ciri aturan main yang harus ia ikuti.
b) Pengembangan sikap terhadap diri sendiri sebagai individu yang
sedang berkembang.
Dalam tugas perkembangan ini anak akan memahami dan
mampu menjalani pola hidup sehat dengan belajar menjaga
kebersihan, kesehatan dan keselamatan diri dan lingkungannya,
sehingga mengetahui akibat yang akan diterimanya jika berperilaku
yang dapat membahayakan atau merugikan diri dan lingkungan
mereka.
c) Berkawan dengan teman sebaya.
Ketika anak masuk sekolah, ia harus berinteraksi sosial
dengan teman sebayanya. Anak usia sekolah dasar hendaknya dapat
33
berteman dengan orang di luar keluarga, terutama teman
sebayanya, sebagai bentuk interaksi sosial.
d) Belajar melakukan peranan sosial sebagai laki-laki dan wanita.
Pada usia 9-10 tahun, anak mulai memahami peran sesuai
dengan jenis kelaminnya. Anak perempuan bertingkah laku
seperti perempuan, sama seperti laki-laki. Saat ini, anak-anak
tertarik pada berbagai hal sesuai dengan jenis kelaminnya.
Misalnya, anak perempuan bermain boneka dengan anak
perempuan lain, dan anak laki-laki suka bermain bola dengan
teman laki-lakinya.
e) Belajar menguasai keterampilan dasar membaca, menulis, dan
berhitung
Saat ini, anak-anak sekolah dasar sudah bisa membaca,
menulis, dan mengerjakan matematika dasar. Karena
perkembangan kognitif dan biologis anak sudah matang untuk
bersekolah, anak dapat belajar di sekolah dan anak dapat
mengenal simbol-simbol sederhana.
f) Pengembangan konsep yang dibutuhkan dalam kehidupan anak.
Pada masa ini anak hendaknya mempunyai berbagai
konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti konsep
warna kosep jumlah konsep perbandingan dan konsep lainnya.
g) Pengembangan moral, nilai dan kata hati
Pada usia sekolah dasar, anak harus diajarkan untuk
mengendalikan perilakunya sesuai dengan nilai dan moral yang
34
berlaku. Anak harus mampu mengikuti aturan, bertanggung
jawab, dan menyadari perbedaan antara dirinya dan orang lain.
h) Mengembangkan sikap terhadap kelompok dan Lembaga-lembaga
sosial
Anak-anak belajar untuk menyadari kepemilikan mereka
terhadap keluarga dan komunitas sekolah. Anak harus belajar
menaati peraturan di keluarga dan di sekolah.
B. Landasan Teori
1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan
oleh virus Dengue yang termasuk dalam golongan arthropoda flavivirus
dalam famili Flaviviridae. Demam berdarah dengue menular melalui
gigitan nyamuk genus Aedes, khususnya nyamuk Aedes Aegypti atau
Aedes Albopictus. Demam berdarah dengue dapat terjadi sepanjang
tahun dan dapat menyerang semua kelompok umur. Penyakit ini
berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat itu sendiri
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006).
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut
yang disebabkan oleh empat serotipe virus dengue dan ditandai dengan
empat gejala klinis utama yaitu demam tinggi, fenomena hemoragik,
hematomegali dan tanda kegagalan peredaran darah hingga syok karena
keluar cairan (dengue shock syndrome) diakibatkan karena kebocoran
plasma yang dapat menyebabkan kematian (Mulyono, 2020).
35
2. Gambaran Klinis
Gejala klinis infeksi demam berdarah berkisar dari tanpa gejala
hingga gejala berat yang menyebabkan kematian. Kasus yang bergejala
dapat dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain penyakit demam tidak
berdiferensiasi (UF), demam berdarah (DD), demam berdarah dengue
(DBD), sindrom syok dengue (SRD), dan demam berdarah tidak biasa
(UD). Sebagian besar kasus merupakan penyakit demam yang tidak dapat
dibedakan, dengan demam berdarah, DBD, dan SRD yang mencakup
10% dari sebagian besar kasus dengan gejala (Nugraheni, 2023 et al.,
WHO, 1997). Pada hari pertama gejala infeksi dengue, beberapa pasien
mengalami fase akut demam non spesifik seperti sakit kepala, lemas,
mual, muntah, nyeri perut, dan terkadang kemerahan pada kulit (ruam).
Nyeri retroorbital, mialgia, dan arthralgia juga sering muncul pada
demam berdarah, namun DBD/SRD juga muncul dengan gejala-gejala
ini. Manifestasi darah yang umum pada infeksi dengue termasuk
petechiae dan beberapa gejala lain seperti epistaksis, perdarahan
gingiva, hematemesis, melena, hipermenore, hemoglobinuria, yang
dapat membantu mengidentifikasi beberapa pasien yang diduga
menderita demam berdarah di perawatan primer.
3. Penyebab dan Vektor Penularan DBD
Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan
oleh infeksi virus yang dapat menular ke manusia melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti, dan nyamuk Aedes aegypti dapat menularkan
virus dengue ke generasi berikutnya melalui indung telurnya. Virus
dengue
36
dapat bersirkulasi dan berkontraksi di dalam tubuh penderita sehingga
penderita mengalami keadaan viremik dimana infeksi terjadi di dalam
tubuh penderita (Nugraheni, 2023). Virus demam berdarah dibawa oleh
nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Virus penyebab demam
berdarah adalah flavivirus dan terdiri dari empat serotipe (tipe 1, 2, 3,
4). Demam berdarah tipe 3 adalah serotipe virus yang dominan dan
menyebabkan penyakit parah. Demam berdarah dengue ditularkan
melalui gigitan nyamuk Aedes yaitu Aedes aegypti, Aedes albopictus dan
Aedes scutellaris. Virus demam berdarah ditularkan melalui virus yang
masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk dan kemudian
beredar di aliran darah pada saat timbulnya gejala demam yang dikenal
dengan fase viremik. Ketika nyamuk yang tidak terinfeksi menghisap
darah seseorang dalam tahap viremik, virus tersebut masuk ke dalam
tubuh manusia dan berkembang biak selama 8-10 hari sebelum virus
siap menginfeksi orang lain. Lamanya waktu yang diperlukan untuk
inkubasi eksternal tergantung pada kondisi lingkungan, terutama suhu
lingkungan. Siklus penularan virus dengue dari manusia – nyamuk –
manusia dan sebagainya (Ekologi infeksi Dengue). Vektor adalah
hewan invertebrata yang menularkan suatu penyakit (agen penyebab) dari
satu inang ke inang lainnya. Vektor digolongkan menjadi dua yaitu
vektor mekanik dan invertebrata yang menularkan penyakit tanpa
patogen mengalami perubahan jalur, sedangkan pada vektor biologis
patogen mengalami perkembangbiakan atau pertumbuhan dari satu
tahap ke tahap lainnya. Aedes aegypti merupakan vektor penyebab
penyakit Demam Berdarah
37
Dengue (DBD). Meskipun demam berdarah dapat disebarkan oleh
nyamuk lain, misalnya nyamuk albopictus, peran mereka dalam
penyebaran penyakit ini sangat kecil. Vektor DBD hidup di daerah
tropis dan hidup di genangan air bersih seperti bak bekas air hujan atau
bak mandi yang jarang dikosongkan atau dibersihkan. Hal ini dapat
menyebabkan perkembangbiakan jentik nyamuk Ae. Aegypti di
lingkungan domestic.
Suhu dan pH air juga mempengaruhi perkembangan nyamuk yang
belum dewasa. Suhu air perkembangbiakan 25-32oC merupakan waktu
yang dibutuhkan Ae. Telur aegypti hingga menjadi nyamuk
membutuhkan waktu 8-15 hari dan suhu ini merupakan suhu optimal.
Apabila suhu air dibawah 24oC atau lebih rendah dari suhu optimal
maka waktu pertumbuhan dan perkembangan Ae. Aegypti lebih cepat
matang pada pH asam atau basa.
4. Pencegahan dan Pengendalian
Ada beberapa cara untuk mencegah, mengendalikan dan mengobati
penyakit DBD, yaitu:
1) Pencegahan
Upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue di sekolah untuk
meningkatkan pengetahuan anak antara lain dengan mengajarkan pola
hidup bersih dan sehat serta pencegahan Demam Berdarah Dengue
sejak dini.
Selain itu, pelatihan dapat dilakukan dengan menampilkan video
animasi tentang penyebaran penyakit DBD kepada siswa. Pelatihan
38
pencegahan penyakit demam berdarah dengan mendeteksi bentuk larva
Aedes sp berupa air yang ditampung dalam ember di habitat nyamuk
(Mubarak, M., 2022). Ada beberapa cara untuk mencegah penyakit
DBD, yaitu:
1. Mencegah nyamuk berkembang biak (Upayakan memberantas jentik;
Pemerintah Indonesia melalui Dinas Kesehatan telah
mensosialisasikan kepada masyarakat tentang upaya pengendalian
vector DBD yang dapat dilakukan secara mandiri baik di rumah
ataupun di sekolah,
2. Membersihkan tempat penampungan air dan menguras airnya,
3. Menanggulangi sarang nyamuk di lingkungan dengan mewujudkan
kebersihan lingkungan,
4. Menjaga diri dari gigitan nyamuk; Gunakan pakaian tetutup saat
berada di luar rumah, saat berada di dalam rumah tidur menggunakan
kelambu,
5. Menutup tempat penampungan air untuk kebutuhan sehari-hari
dalam bentuk ember, drum,
6. Memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang bekas.
Kegiatan 3M Plus yang merupakan bagian dari PSN diyakini efektif
mengendalikan demam berdarah. Pemberantasan sarang nyamuk dapat
dilakukan melalui pengelolaan lingkungan seperti pengendalian hayati,
pengendalian kimia dengan didukung partisipasi aktif masyarakat,
pemberantasan nyamuk merupakan upaya yang paling efektif dalam
pengendalian demam berdarah (Mubarak, 2022).
39
Pencegahan infeksi dengue lainnya terdiri dari pengendalian vector,
penyuluhan dan pemberian vaksinasi (Girsang, 2023).
a) Pengendalian vector
Sejak dari tahun 2016 KEMENKES RI mengeluarkan upaya
pencegahan demam berdarah untuk pengendalian vector yaitu PSN
3M PLUS. Hal ini diperbaharui Kembali pada tahun 2019,
pembaharuannya seperti memasang kawat, kasa pada jendela, gotong
royong membersikan lingkungan, memeriksa TPA, memperbaiki
saluran dan talang air yang tersumbat. PSN 3M PLUS dinilai sangat
efektif dalam pengendalian DBD, karena sasaran kegiatan ini adalah
tempat potensial perkembangbiakan nyamuk Aedes. Pengendalian
vector dapt dilakukan secara biologi,kimia dan fisik.
1) Pengendalian biologi
Pengendalian secara biologi dilakukan dengan
menggunakan mahluk hidup yang berperan sebagai
pathogen,parasite dan pemangsa. Pemberantasan jentik nyamuk
secara biologi dapat dilakukan dengan memelihara ikan pemakan
jentik sperti ikan cupang,gupi,gabus dan ikan sepat. Dan bisa
juga menanam tanaman pengusir nyamuk sperti bunga lavender,
kemangi ,sereh, mint dan rosemary.
2) Pengendalian secara kimia
Cara membrantas nyamuk Aedes aegypti dengan insektisida.
Pengendalian secara kimia yaitu melakukan penyemprotan cairan
40
pembasmi nyamuk,menaburkan bubuk abate pada penampungan
air yang susah dikuras.
3) Pengendalian secara fisik
Pengendalian secara fisik dapat dilakukan dengan
1) Menutup tempat penampungan air
2) Menguras tempat penampungan air
3) Mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air
hujan sperti kaleng, botol, baskom
4) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar
5) Mengubur sampah
6) Memasang kawat anti nyamuk
7) Menggunakan kelambu saat tidur
b) Penyuluhan
Penyuluhan tentang pemberantasan sarang nyamuk Demam
Berdaarah Dengue yang dilakukan oleh petugas Kesehatan yang
akan mempengaruhi pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam
melaksanakan PSN-DBD.
c) Vaksin dengue
Pemberian vaksin dengue harus diikuti dengan PSN-3M PLUS.
Menurut data WHO vaksin dengue hidup yang dilemahkan CYD-
TDV telah terbukti aman dalam uji klinis. Vaksin CYD-TDV
diindikasi untuk usia 9-45 tahun.
41
5. Pengendalian
Perilaku siswa untuk mencegah penyakit DBD dapat dibentuk sejak
dini dengan memberikan pendidikan kesehatan di sekolah sebagai landasan
perilaku siswa. Sekolah merupakan tempat edukasi kepada siswa tentang
potensi bahaya nyamuk di rumah, di sekolah, dan di lingkungan. Upaya
mewujudkan sekolah sehat bebas vektor harus diperkuat mengingat
semakin meningkatnya prevalensi penyakit menular seperti kudis,
dermatitis, diare, tipus, dan demam berdarah di kalangan siswa. Selain itu,
pengetahuan siswa mengenai demam berdarah dan pengendalian virus
dengue masih lemah (Widyantoro,2021). Upaya pengendalian penyakit
menular vektor merupakan tanggung jawab bersama antara kita,
pemerintah, dan masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan melakukan
kegiatan edukasi untuk memberantas nyamuk sebagai pembawa penyakit.
Pengendalian vektor terpadu dilaksanakan dengan kombinasi beberapa
metode pengendalian, dengan memperhatikan keamanan, rasionalitas,
efisiensi pelaksanaan dan keberlanjutan (Widyantoro, 2010). Cara
mengendalikan nyamuk yang efektif antara lain:
1) Menutup kontainer yang berisi air,
2) Mengeleminasi tempat perkembang biakan,
3) Mengaplikasikan permethrin pada kelambu,
4) Membersihkan selokan agar air dapat mengalir,
Metode pengendalian demam berdarah didasarkan pada ekologi,
efisiensi, dan ekonomi dalam menekan populasi vektor, termasuk paparan
42
nyamuk secara teratur, fogging, dan penggunaan larvasida (Widyantoro,
W, 2021).
Cara pengendalian hayati berikut ini ramah lingkungan dan menyasar
atau mengutamakan penyakit utama yang ditularkan oleh jenis nyamuk,
beberapa di antaranya adalah penggunaan ekstrak tumbuhan, Wolbachia spp,
larva ikan, insektisida bakteri, dan cephalopoda.
6. Pengetahuan
Pengetahuan berasal dari kata “Mengetahui”. Setelah individu
menentukan objek tertentu. Pendeteksi terjadi melalui manusia yang
terdeteksi yaitu, perasaan, penglihatan, pendengaran, dan penciuman, serta
rasa dan kontak Manusia. Informasi spesifik diperoleh melalui mata dan
telinga. Informasi dapat diperoleh secara normal atau dengan cara yang
teratur, khususnya melalui siklus instruktif. Pengetahuan merupakan ruang
vital bagi perkembangan aktivitas (Abdillah, 2022 et al; Budiharto, 2010).
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang (overt behaviour) (Fatimah, 2020).
Pengetahuan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi dalam
kejadian DBD, terutama kebiasaan hidup bersih dan kesadaran masyarakat
terhadap bahaya DBD (Fatimah,2020).
43
Pengetahuan yang mencakupi domain kognitif dapat dibagi menjadi
6 tingkatan yaitu mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis,
mensintesis, mengevaluasi (Siregar, 2019). Pengearuh pengetahuan tiap
individu terhadap kegiatan pencegahan penyakit DBD menjadi faktor
penting dalam rangka menurunkan angka insidensi dari DBD.
a) Tingkat Pengetahuan
Pengertian sebagaimana ditunjukkan oleh Budiharto (2010)
merupakan ranah kognitif yang mempunyai tingkatan, ialah :
1) Tahu
Tahu adalah tingkat informasi paling sedikit, misalnya meninjau item
tertentu atau meningkatkan.
2) Memahami
Memahami merupakan Aplikasi kapasitas untuk memahami secara
akurat tentang objek yang diketahui
3) Aplikasi
Aplikasi adalah kapasitas untuk memanfaatkan materi yang telah
dipelajari dalam keadaan yang sebenarnya.
4) Analisis
Analisis merupakan kapasitas untuk menggambarkan ilmu atau
artikel menjadi bagian-bagian yang belum dikembangkan secara sah.
5) Sintesis
Sintesis ialah kapasitas untuk menggabungkan bagian-bagian
menjadi struktur baru yang spesifik
44
6) Evaluasi
Evaluasi adalah kapasitas untuk membuat evaluasi item tertentu.
b) Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2010) et al; Abdillah., (2022) faktor
yang mempengaruhi pengetahuan antara lain yaitu:
1) Faktor pendidikan, semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang,
makan akan semakin mudah untuk menerima informasi tentang
obyek atau yang berkaitan dengan pengetahuan. Pengetahuan
umumnya dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan oleh
orang tua, guru, dan media masa. Pendidikan sangat erat kaitannya
dengan pengetahuan, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan
dasar manusia yang sangat diperlukan untuk pengembangan diri.
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin
mudah untuk menerima, serta mengembangkan pengetahuan dan
teknologi.
2) Faktor pekerjaan, pekerjaan seseorang sangat berpengaruh terhadap
proses mengakses informasi yang dibutuhkan terhadap suatu obyek.
3) Faktor pengalaman, pengalaman seseorang sangat mempengaruhi
pengetahuan, semakin banyak pengalaman seseorang tentang suatu
hal, maka akan semakin bertambah pula pengetahuan seseorang akan
hal tersebut. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan
wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang
ingin diukur dari subyek penelitian atau responden.
4) Keyakinan yang diperoleh oleh seseorang biasanya bisa didapat
secara turun temurun dan tidak dapat dibuktikan terlebih dahulu,
keyakinan
45
positif dan keyakinan negative dapat mempengaruhi pengetahuan
seseorang.
5) Sosial budaya, kebudayaan beserta kebiasaan dalam keluarga dapat
mempengaruhi pengetahuan, presepsi, dan sikap seseorang terhadap
sesuatu.
C. Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan wadah yang menjelaskan variabel-variabel
dan permasalahan pokok yang terlibat dalam suatu penelitian. Teori-teori ini
menjadi acuan untuk pembahasan lebih lanjut. Dengan cara ini, kerangka
teoritis tercipta di mana penelitian dapat dianggap benar (Arikunto,2018).
1. Konsep DBD
2. Etiologi dan Transmisi
DBD/DHF DBD
(Kemenkes RI, 2006 & 3. Epidemiologi
WHO, 1997) 4. Gejala dan Tanda DBD
5. Penyebab DBD
3M Plus (Mubarak, 2022)
Faktor-faktor yang
1. Mencegah nyamuk
Mempengaruhi Pengetahuan Pengetahuan (Budiharto, berkembang biak
2. Membersihkan tempat
Menurut Notoatmodjo (2010)
2010) penampungan air dan
menguras airnya
- Faktor pendidikan 3. Menanggulangi sarang
- Tahu
- Faktor pekerjaan nyamuk dengan
membersihkan lingkungan
- Faktor pengalaman - Memahami
4. Menjaga diri dari gigitan
- Faktor keyakinan - Aplikasi nyamuk
- Analisis 5. Menutup rapat
- Sosial budaya
- Sintesis penampungan air
- Evaluasi 6. Memanfaatkan atau
mendaur ulang barang
barang bekas
2.1 Kerangka Konsep Teori
(sumber : Mubarak, 2022; Girsang, J. C. P., 2023; Budiharto, 2010, Notoatmodjo, 2010)
Keterangan:
:
Diukur/diteliti
Tidak diukur :
46
Pengaruh :
47
D. Kerangka Konsep Penelitian
Menurut Notoatmodjo (2018), kerangka konsep adalah kerangka
hubungan antar konsep yang diukur atau diamati dalam suatu penelitian.
Kerangka konseptual harus mampu mengungkapkan hubungan antar variabel
yang diteliti.
Gambaran Pengetahuan Anak
Kelas 5 Dan 6 SD Tentang
Pencegahan Penyakit Demam
Berdarah Di SDN Alalak Tengah
1 Banjarmasin Tahun 2024
3M Plus (Mubarak, 2022)
1. Mencegah nyamuk
berkembang biak
2. Membersihkan tempat
penampungan air dan menguras Baik
airnya
3. Menanggulangi sarang nyamuk Cukup
dengan membersihkan
Kurang
lingkungan
4. Menjaga diri dari gigitan
nyamuk
5. Menutup rapat penampungan
air
6. Memanfaatkan atau mendaur
ulang barang barang bekas
2.2 Kerangka Konsep Penelitian
(sumber Mubarak, 2022; Notoatmodjo,
2018)
48