0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan36 halaman

Chapter 2

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, terutama menyerang anak-anak dan dapat menyebabkan kematian. Tingginya kasus DBD di Indonesia dipengaruhi oleh perilaku masyarakat, kepadatan penduduk, dan faktor lingkungan seperti suhu dan curah hujan. Edukasi dan kesadaran masyarakat, terutama di sekolah, sangat penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit ini.

Diunggah oleh

fina ayu andanie
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan36 halaman

Chapter 2

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, terutama menyerang anak-anak dan dapat menyebabkan kematian. Tingginya kasus DBD di Indonesia dipengaruhi oleh perilaku masyarakat, kepadatan penduduk, dan faktor lingkungan seperti suhu dan curah hujan. Edukasi dan kesadaran masyarakat, terutama di sekolah, sangat penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit ini.

Diunggah oleh

fina ayu andanie
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka
1. Konsep DBD
Demam berdarah (DD) adalah penyakit akut yang disebabkan oleh

virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk, sedangkan demam berdarah

dengue (DHF) dikaitkan dengan tanda-tanda kebocoran plasma. Penyakit ini

terutama menyerang anak-anak yang rentan dan menyebabkan syok hingga

kematian. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), demam berdarah

dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk

Aedes yang terinfeksi salah satu dari empat jenis virus dengue. Manifestasi

klinisnya meliputi demam, mialgia, dan/atau arthralgia. leukopenia, ruam,

limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Pada demam

berdarah dengue terjadi sekresi plasma yang ditandai dengan

hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di

rongga tubuh.

Kasus demam berdarah di Indonesia pertama kali dilaporkan di

wilayah metropolitan Surabaya dan Jakarta. Pada bulan April 2010, jumlah

orang yang terinfeksi mencapai rekor tertinggi yaitu 3.130 orang, dengan tiga

kematian. Pada tahun 2011, jumlah kematian tertinggi tercatat pada bulan

Januari, yaitu delapan kematian dari total 4.050 orang yang terinfeksi. DKI

di Provinsi Jakarta mencatat 21.325 kasus demam berdarah dan 32 kematian

13
14

pada bulan Januari hingga Desember 2012 (Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia, 2013).

Perilaku masyarakat memegang peranan penting ketika angka kasus

demam berdarah dengue sedang tinggi. Aedes aegypti berkembang biak

lebih mudah jika dilakukan perilaku tidak sehat. Kebanyakan masyarakat

sudah mengetahui tentang Program 3M Plus Pembasmi Nyamuk

(Menutup, Mengubur, Menguras, Jangan Menggantung Pakaian

Sembarangan), namun belum melaksanakan program ini. Tentu saja hal ini

memudahkan nyamuk berkembang biak dan otomatis meningkatkan risiko

tertular demam berdarah. Program 3M Plus mencakup berbagai kegiatan,

antara lain pengendalian jentik nyamuk di tempat perkembangbiakan,

penggunaan lotion dan obat nyamuk bakar, kelambu, dan fogging.

Kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan dan praktik 3M

Plus berdampak signifikan dalam mengurangi penyebaran penyakit demam

berdarah (Debi, 2023).

Keberhasilan tindakan pengendalian jentik nyamuk Aedes aegypti

bergantung pada edukasi masyarakat. Pendidikan yang baik dan benar

dapat mempengaruhi perilaku masyarakat. Pendidikan media video

menyajikan materi edukasi dan memberikan pendidikan kesehatan melalui

tampilan video (Debi, 2023).

Sekolah merupakan tempat potensial penyebaran dan penularan

penyakit demam berdarah dengue (DBD). Peran strategis anak usia sekolah

sebagai bagian dari kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam upaya

pencegahan dan pengendalian DBD. Anak sekolah dapat mengikuti upaya

pemberantasan sarang nyamuk (PSN) baik di sekolah maupun di rumah.


15

Edukasi gerakan PSN demam berdarah dengue pada anak sekolah

memerlukan media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan alat

penyampai pesan dan informasi dalam proses belajar mengajar sehingga

dapat meningkatkan perhatian, minat, dan keterampilan belajar siswa

(Umi, 2023).

Faktor perilaku dalam kegiatan pendidikan kesehatan DBD

diberikan sebagai intervensi pertama untuk meningkatkan pengetahuan

siswa. Siswa juga akan dilatih melakukan gerakan 3M yang baik dan benar

agar efektif mencegah penyebaran penyakit Aedes aegypti. Pengetahuan

sangat penting untuk pencegahan dan pengendalian demam berdarah di

lingkungan sekolah. Semakin banyak siswa mengetahui maka semakin

termotivasi pula mereka untuk melakukan aksi PSN. Sekolah perlu

memberikan pengetahuan tentang penyakit demam berdarah kepada

siswanya agar dapat berperan aktif dalam pencegahan penyakit demam

berdarah (Dwi, 2023).

2. Etiologi dan Transmisi Demam Berdarah Dengue (DBD)

DBD disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam kelompok

virus arthropoda bakterial (Arbovirus). Virus ini dikenal dengan famili

Flaviviridae dan mempunyai 4 serotipe yaitu: DEN 1, DEN 2 DEN 3 dan

DEN 4. Infeksi pada satu serotipe memberikan perlindungan yang

memadai terhadap serotipe lainnya (Faid, 2019)

1) Dengue 1 diisolasi oleh Sabin pada tahun 1994

2) Dengue 2 diisolasi oleh sabin pada tahun 1994

3) Dengue 3 diisolasi oleh olehshater


16

4) Dengue 4 diisolasi olehshater

Empat serotipe virus dengue telah ditemukan di beberapa wilayah

di Indonesia. Serotipe DEN 2 dan DEN 3 merupakan serotipe yang

dominan dan diperkirakan mempunyai banyak manifestasi klinis yang

parah. Serotipe DEN 3 merupakan serotipe virus yang dominan

menyebabkan kasus berat (Faid, 2019).

Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue. Di

Indonesia, vektor utama penyakit demam berdarah adalah nyamuk

Aedes aegypti betina. Menurut Candra (2010), ciri-ciri nyamuk

penyebab demam berdarah adalah:

1) Badannya kecil, warna hitam dengan bintik-bintik putih

2) Hidup di dalam dan sekitar rumah

3) Menggigit/menghisap darah pada siang hari

4) Senang hinggap pada pakaian yang bergantungan dan bertumpuk

di dalam kamar

5) Bersarang dan bertelur di genangan air jernih di dalam dan di

sekitar rumah bukan di got/comberan. Di dalam rumah: terdapat pada

bak mandi, tampayan, vas bunga, tempat minum burung, dan lain-

lain.

Jika seseorang terinfeksi virus dengue yang ditularkan oleh

nyamuk Aedes aegypti, maka virus dengue akan masuk bersama darah

yang dihisap oleh nyamuk tersebut. Di dalam tubuh virus nyamuk itu

akan berkembang biak dengan cara membelah diri dan menyebar ke

seluruh bagian tubuhnya. Sebagian besar virus akan berada dalam

kelenjar air liur nyamuk (proboscis)


17

menemukan kapiler darah, sebelum nyamuk menghisap darah maka

terlebih dahulu nyamuk akan mengeluarkan air liurnya agar darah yang

diisapnya tidak membeku (Candra, 2010). Virus dengue ditularkan

kepada orang lain bersamaan dengan air liur nyamuk Aedes aegypty

yang masuk saat nyamuk menghisap/menusukkan probosisnya untuk

menghisap darah.

Ada beberapa faktor penyebab dari tingginya Demam

Berdarah Dengue diantaranya adalah : kepadatan penduduk, perilaku

hidup bersih dan sehat kurang, pengetahuan dan pendidikan masyarakat

yang rendah, kurangnya hygienitas yang diterapkan dalam keluarga,

informasi dari rumah sakit yang terlambat, petugas kesehatan yang

kurang dan lintas sektor yang kurang. Berbagai cara juga telah

diupayakan oleh pelayanan kesehatan khusus baik dengan cara

penyuluhan masyarakat, pemberian abate pada tempat-tempat

penampungan air dan penyemprotan daerah yang diduga sarang

nyamuk.

Adapun faktor lainnya yang mempengaruhi terjadinya Demam

Berdarah Dengue(DBD) yaitu:

1) Suhu dan Kelembaban

Nyamuk merupakan hewan berdarah dingin dan siklus

hidupnya bergantung pada suhu lingkungan. Rata-rata nyamuk

membutuhkan suhu optimal untuk berkembang biak, 25-27 oC.

Suhu habitat nyamuk juga mempengaruhi pertumbuhan parasit

dalam tubuh vektor. Vektor ini memerlukan suhu yang rendah dan

suhu terendah untuk sporulasi dalam tubuh nyamuk adalah 16 oC,

sedangkan untuk P. falciparum adalah 19 oC untuk P. vivax dan P.

malariae (Mala, 2023).


18

Kelembaban adalah jumlah uap air di udara, biasanya

dinyatakan dalam persentase. Nyamuk bernapas melalui trakea yang

terdapat lubang pada dinding tubuh nyamuk (spirakel). Obat nyamuk

bakar terbuka tanpa mekanisme pengaturan, sehingga bila kelembapan

rendah otomatis akan menguap dari dalam tubuh nyamuk. Hal ini

menyebabkan cairan tubuh nyamuk mengering (Malla, 2023).

Nyamuk merupakan binatang bedarah dingin dan siklus

hidupnya bergantung pada suhu lingkungan. Rata-rata nyamuk

membutuhkan suhu optimum untuk berkembang biak 25-27 oC. Suhu

pada daerah tempat tinggal nyamuk juga mempengaruhi pertumbuhan

parasite di dalam tubuh vector. Vektor tersebut memerlukan suhu yang

rendah dan suhu terendah untuk mengalami siklus sporogonik di dalam

tubuh nyamuk adalah 16oC sedangkan [Link] adalah 19oC untuk

[Link] dan [Link] (Malla, 2023).

2) Curah Hujan

Curah hujan adalah ketinggian air hujan yang terkumpul pada

permukaan datar, tidak menyerap, tembus atau mengalir. Curah hujan

penting bagi kelangsungan hidup nyamuk Aedes aegypty karena hujan

mempengaruhi suhu dan kelembaban udara serta meningkatkan jumlah

tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypty (Mala, 2023).

3) Kecepatan Angin

Dapat mempengaruhi penerbangan dan penyebaran nyamuk.

Jika kecepatan angin 11-14 m/s atau 25-31 mil per jam, jalur nyamuk

akan terhalang. Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan

terbenam
19

menjadi faktor pendorong nyamuk beterbangan masuk atau keluar

rumah, serta menjadi salah satu faktor penentu terjadinya kontak langsung

antara manusia dengan nyamuk. Jangkauan nyamuk dapat terbatas

tergantung angin (Mala, 2023).

3. Epidemiologi

Hingga saat ini penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih

menjadi masalah kesehatan masyarakat dan endemik di Indonesia.

Penyakit ini dapat menyebabkan kejadian darurat (ECB) di beberapa

daerah endemis yang terjadi hampir setiap tahun pada musim hujan. Sejak

tahun 1952, infeksi virus dengue telah menimbulkan gejala klinis yang

parah, yaitu demam berdarah dengue (DBD) yang ditemukan di Manila,

Filipina. Kemudian mencapai Thailand, Vietnam, Malaysia bahkan

Indonesia.

Demam berdarah dengue sering terjadi pada anak-anak di bawah

usia 15 tahun, sekitar 50% penderita demam berdarah berusia antara 10

dan 15 tahun, yang merupakan bentuk demam berdarah yang paling umum

dibandingkan pada bayi dan orang dewasa. Nyamuk Aedes aegypti aktif

menggigit pada siang hari dengan dua puncak aktivitas yaitu pukul 08.00

hingga 12.00 dan pukul 15.00 hingga 17.00. Pada tahun 2010, jumlah

kasus DBD di Indonesia sebanyak 156.086 kasus dengan total kematian

sebanyak

1.358 orang, dengan Incident Rate (IR) per 100.000 Penduduk sebesar

65,7 dan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,87%. IR penyakit DBD

menurun dari tahun 2009 sebesar 68,22 per 100.000 penduduk. CFRnya

juga sedikit menurun, pada tahun 2009 DBD CFR sebesar 0,89%.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa antara tahun


20

1968 dan 2009, Indonesia


21

memiliki insiden demam berdarah tertinggi di Asia Tenggara. Secara

epidemiologis, pada kasus DBD, terdapat faktor yang mempengaruhi

timbulnya penyakit, yaitu agen penyebab, host, dan lingkungan. Hal ini

sangat berdampak terhadap angka kesakitan setiap individu baik secara

sosial, ekonomi, dan terutama perilaku masyarakat, meningkatnya

mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, dan masih adanya tempat

perkembangbiakan atau sarang nyamuk pembawa demam berdarah (Malla,

2023).

1) Agent (Virus dengue)

Agen penyebabnya adalah demam berdarah, yaitu virus dengue

yang masa inkubasinya tidak terlalu lama, yaitu. 3-7 hari, virus ini

berkembang di tubuh manusia. Di saat orang yang sakit menjadi

sumber penyebaran penyakit DBD.

2) Host

Penjamunya (Host) adalah orang yang rentan terhadap infeksi

virus dengue. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang

antara lain:

a) Umur

Usia merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

kerentanan terhadap infeksi virus dengue. Virus dengue dapat

menginfeksi semua kelompok umur, bahkan yang baru berumur

beberapa hari pun bisa tertular virus dengue, dimana virus dengue

sangat rentan menular pada anak-anak dan mulai terjadi epidemi

pada anak-anak. 1-5 tahun. Alasan awal terjadinya wabah demam

berdarah
22

adalah karena virus demam berdarah menyerang semua orang,

terutama anak-anak berusia antara 5 dan 9 tahun, dan sekitar 95%

kasus demam berdarah menyerang anak-anak di bawah usia 15

tahun.

b) Jenis Kelamin

Sejauh ini, perbedaan serangan DBD tidak ditemukan

berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin (gender), tidak ditemukan

perbedaan kerentanan antara laki-laki dan perempuan, meskipun

angka kematian tertinggi terdapat pada anak perempuan, namun

perbedaan angkanya tidak signifikan. Ada beberapa kasus di luar

negeri dimana anak laki-laki lebih mungkin terkena demam berdarah

dibandingkan anak perempuan.

3) Lingkungan (Environment)

Lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya penyakit demam

berdarah. Penyakit ini dapat menyebabkan infeksi virus dengue yang

tersebar luas di banyak negara tropis dan subtropis, sedangkan virus

dengue menyebabkan penyakit yang disebut demam lima hari atau

disebut juga demam rematik. Sementara itu, musim wabah demam

berdarah berlangsung beberapa minggu setelah musim hujan. Wabah

penyakit ini terjadi pada musim hujan dan erat kaitannya dengan

kelembaban udara pada musim hujan. Hal ini meningkatkan aktivitas

vektor yang menggigit manusia karena lingkungan mendukung selama

masa inkubasi (Widyanto, 2013). Demam berdarah dengue dapat

menyerang semua kelompok umur. Selama ini berdasarkan hasil

penelitian, demam berdarah lebih sering menyerang anak-anak. Menurut


23

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), DBD memiliki gejala yang mirip

dengan demam berdarah, namun DBD juga memiliki gejala lain seperti

nyeri/nyeri terus-menerus di perut, pendarahan dari hidung, mulut, gusi,

atau kulit memar. . Berdasarkan kriteria Organisasi Kesehatan Dunia

(WHO), diperlukan dua kriteria untuk mendiagnosis infeksi virus

dengue, yaitu kriteria klinis dan kriteria laboratorium. Tujuan penggunaan

kriteria tersebut adalah untuk mengurangi kesalahan diagnosis

(misdiagnosis) atau diagnosis berlebihan (overdiagnosis). Kriteria

klinisnya adalah sebagai berikut:

1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus

menerus selama 2-7 hari kemudian turun secara berangsur-angsur.

Kadang disertai gejala yang tidak spesifik seperti anoreksia, lemah

nyeri pada punggung, tulang, persendian, dan kepala.

2. Terdapat manifestasi perdarahan, setidak-tidaknya uji bending positif

dan bentuk lain (Petekia, ekimosis, purpura, perdarahan mukosa,

epistaksis, perdarahan gus) Hematemesis melena, dan Hematuria.

3. Pembesaran hati (Hepatomegali).

4. Manifestasi syok/renjatan yang ditandai oleh nadi lemah, cepat disertai

tekanan nadi menurun, tekanan darah menurun (tekanan sistolik

menurun) disertai kulit yang terasa dingin dan lembab terutama pada

ujung hidung, jari, dan kaki, pasien menjadi gelisah, timbul sianosis

di sekitar mulut.

Menurut WHO, parameter laboratorium untuk diagnosis demam

berdarah adalah hemokonsentrasi dan trombositopenia. Tujuannya

untuk
24

menilai apakah terdapat hubungan erat antara jumlah trombosit dengan

kadar hematokrit pada pasien. Pada DBD, trombositopenia muncul pada

hari ke 3 dan menetap sepanjang perjalanan penyakit. Inilah sebabnya

mengapa tes darah sangat penting. Saat memantau penyakit, sering kali

ada kekhawatiran bahwa syok akan terjadi jika jumlah trombosit turun

terlalu rendah atau hematokrit meningkat terlalu tinggi.

4. Gejala dan Tanda DBD

Lebih dari 80% kasus demam berdarah dan mereka yang terinfeksi

virus demam berdarah menyebarkan penyakitnya secara perlahan, tanpa

gejala atau memiliki penyakit ringan. Secara umum, gejala-gejala tersebut

tampaknya disebabkan oleh infeksi virus dengue, yang biasanya terjadi

setelah masa inkubasi (masa virus berkembang dan menimbulkan gejala),

sekitar 3 hingga 8 hari setelah virus masuk ke dalam tubuh manusia.

Ketika sistem pertahanan tubuh kurang maka akan muncul gejala-gejala

yang terkesan ringan atau bahkan dapat menimbulkan beberapa gejala

sebagai berikut (Malla, 2023).

a) Demam yang terjadi selama terus menerus hingga suhu tubuh mencapai

40oC atau bahkan lebih. Tinggi suhu tubuh inilah yang membuat penderita

juga mengalami sakit kepala yang hebat.

b) Demam tidak dapat disembuhkan dengan obat penurun panas biasa.

c) Mual, muntah dan nafsu makan berkurang.

d) Nyeri sendi atau nyeri otot yang ditandai dengan pegal-pegal nyaris

seperti rematik.

e) Nyeri kepala dan sakit.


25

f) Nyeri atau rasa panas di belakang bola mata.

g) Wajah kemerahan.

h) Adanya konstipasi (sulit buang air besar) atau kadang-kadang justru

terjadi diare.

i) Bintik-bintik merah di lipatan tangan (bisa muncul, bisa tidak). Jika

bintik-bintik merah ini tidak muncul namun tanda-tanda lain seperti

yang telah disebutkan sebelumnya muncul, maka akan lebih baik bila

penderita tetap melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan bahwa

penderita memang benar-benar tidak terserang virus demam berdarah.

5. Penyebab Demam Berdarah Dengue

Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh

infeksi virus yang dapat menular ke manusia melalui gigitan nyamuk

Aedes aegypti, dan nyamuk Aedes aegypti dapat menularkan virus dengue

ke generasi berikutnya melalui indung telurnya. Virus dengue dapat

bersirkulasi dan berkontraksi di dalam tubuh penderita sehingga penderita

mengalami keadaan viremik dimana infeksi terjadi di dalam tubuh

penderita (Malla, 2023).

6. Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD)

Saat ini pemberantasan nyamuk Aedes aegypti merupakan cara

utama pemberantasan penyakit DBD, karena belum tersedia vaksin untuk

mencegahnya dan obat untuk memberantas virus tersebut. Pemberantasan

nyamuk merupakan upaya untuk mengurangi faktor risiko penularan

vektor dengan cara meminimalkan lingkungan perkembangbiakan vektor,

mengurangi kepadatan dan umur vektor, mengurangi penularan antara


26

vektor dan manusia, serta memutus rantai penularan penyakit. Pencegahan

ini merupakan pencegahan primer yaitu. mencoba mencegah terjadinya

penyakit atau tindakan terhadap kondisi kesehatan yang merugikan dan

tindakan terhadap kondisi kesehatan yang merugikan serta tindakan

perlindungan. 3M sendiri memiliki beberapa upaya preventif, yaitu:

1) Menguras tempat penampungan air atau bak mandi secara teratur

sekurang-kurangnya seminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke

dalamnya

2) Menutup rapat-rapat tempat penampungan air, setelah mengambil

airnya, agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak.

3) Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat

menampung air hujan; seperti kaleng bekas, plastik, bambu-bambu yang

terbuka, drum-drum bekas dll. Pencegahan ini diupayakan secara

sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan, kerusakan,

atau kerugian bagi seseorang atau masyarakat terhadap penyakit DBD

(Herafa, 2019). Beberapa upaya pencegahan lainnya:

a) Kelambu pada saat tidur di malam hari.

b) Jangan menumpuk atau menggantung baju terlalu lama.

c) Menggunakan lotion atau krim antinyamuk.

d) Melakukan fogging.

e) Pangkas dan bersihkan tanaman liar di pekarangan rumah.

f) Hias rumah dengan tanaman antinyamuk alami misalnya, tanaman

pengusisr nyamuk seperti serai wangi, bunga lavender, daun

peppermint, dan bunga geranium (tapak dara).


27

7. Teori perkembangan Anak

a. Fase Perkembangan Anak SD

Perkembangan berkaitan dengan kepribadian dan terpadu. Ini

mengacu pada proses dimana sikap dan perilaku seseorang atau kelompok

berubah selama pendewasaan. Siswa sekolah dasar usia 6-11 tahun berada

pada masa masa kanak-kanak madya (Megasari, 2013). Pada masa kanak-

kanak pertengahan, anak mempunyai keterampilan dasar seperti

berhitung, menulis dan membaca. Pada tahap perkembangan siswa

sekolah dasar dapat dilihat beberapa aspek dasar kepribadian anak yaitu

1) fisik-motorik, 2) kognitif, (3) sosio-emosional, 4) bahasa dan 5)

moralitas agama, dijelaskan dalam tahap perkembangan anak sebagai

berikut:

1) Fisik-motorik

Pertumbuhan fisik anak usia sekolah dasar ditandai dengan

tinggi badan, berat badan, dan kekuatan anak dibandingkan dengan

usia PAUD/TK, yang dinyatakan dalam perubahan tulang, otot, dan

motorik. Anak akan lebih aktif dan kuat ketika melakukan aktivitas

fisik seperti berlari, memanjat, melompat, berenang, dan aktivitas

luar ruangan lainnya. Aktivitas fisik ini dilakukan anak untuk

mengembangkan koordinasi umum, keterampilan motorik, stabilitas

tubuh dan akumulasi energi atau kebebasan bergerak secara

langsung. Perkembangan fisik siswa SD laki-laki dan perempuan

berbeda. Anak perempuan biasanya lebih ringan dan lebih pendek

dibandingkan anak laki-laki. Aspek perkembangan fisik-motorik ini

mempengaruhi aspek
28

perkembangan lainnya, misalnya kondisi fisik anak yang tidak normal,

seperti anak yang terlalu tinggi atau pendek, anak yang terlalu kurus

atau gemuk, mempengaruhi rasa percaya diri anak. anak. . Rasa

percaya diri berkaitan dengan emosi, kepribadian, dan kehidupan

sosial anak.

2) Kognisi

Salah satu aspek perkembangan kognitif adalah

perkembangan yang berkaitan dengan kemampuan kognitif anak, yang

mengacu pada proses mengingat, mengambil keputusan dan

memecahkan masalah, atau kemampuan berpikir anak. Anak sekolah

dasar mempunyai kemampuan berpikir yang unik. Cara berpikir

mereka berbeda dengan anak-anak prasekolah dan orang dewasa.

Cara mereka mengamati lingkungan dan mengatur dunia informasi

yang mereka terima juga berbeda dengan anak prasekolah dan orang

dewasa. Teori perkembangan Piaget adalah salah satu teori

perkembangan kognitif yang paling terkenal. Dalam teorinya, Piaget

menjelaskan bahwa anak sekolah dasar yang biasanya berusia antara

7 hingga 11 tahun berada pada tahap perkembangan kognitif

imajinatif yang ketiga, yaitu tahap tindakan konkrit. Pada tahap ini

anak dianggap mampu menalar secara logis tentang segala sesuatu

yang konkrit atau nyata, namun anak masih belum bisa menalar

tentang hal yang abstrak.

Anak usia sekolah dasar mengalami perkembangan kognitif

yang pesat. Anak mulai belajar membentuk konsep, melihat

hubungan dan memecahkan masalah dalam situasi tertentu (Slavin,


29

2011). Oleh karena itu, guru harus mampu menciptakan suasana

pembelajaran yang spesifik dimana anak berpikir logis dan dapat

memecahkan masalah.

3) Perkembangan sosio-emosional.

Fase ini ditandai dengan semakin cepatnya hubungan anak

dengan teman sebaya dan berkurangnya ketergantungan anak pada

keluarga. Pada tahap ini hubungan atau kontak sosial sudah lebih

baik dan efektif, sehingga anak lebih senang bermain dan berbicara

di lingkungan sosialnya. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan

bahwa teman sebaya memegang peranan penting dalam

perkembangan sosial anak, karena melalui teman sebaya anak dapat

belajar dan menerima informasi tentang dunia anak di luar keluarga

(Murni, 2017). Pada tahap ini juga terlihat anak sudah mulai

mengembangkan konsep diri sebagai anggota kelompok sosial di luar

keluarga. Hubungan sosial anak dewasa di luar keluarga mempunyai

pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan harga diri anak.

Ketidakpercayaan pada anak terjadi ketika anak tidak bisa

mengerjakan tugas yang sama seperti teman-temannya. Dalam

kegiatan pendidikan, peran guru sangat penting untuk

mengembangkan rasa percaya diri dan semangat bekerja anak sesuai

dengan kemampuan masing-masing anak.

4) Perkembangan bahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi untuk interaksi sosial.

Perkembangan bahasa anak berkembang sejak awal sekolah dasar dan


30

mencapai kepenuhan pada akhir masa pubertas, pada akhir sekolah

dasar (7-8 tahun) perkembangan bahasa anak sangat pesat. Anak

memahami tata bahasa, walaupun terkadang menemui kesulitan dan

melakukan kesalahan, anak dapat mengubah atau memperbaikinya

sendiri. Anak-anak menjadi pendengar yang baik. Anak dapat

memperhatikan apa yang didengarnya kemudian dapat

merumuskannya kembali dalam urutan dan susunan yang logis (tepat

atau masuk akal). Anak mempunyai kemampuan memahami lebih dari

satu makna dan memperkaya kata dengan humor. Salah satu faktor

yang sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak sekolah

dasar adalah faktor lingkungan. Siswa sekolah dasar banyak belajar

dari orang-orang disekitarnya, terutama dari lingkungan keluarga

yang merupakan lingkungan terdekat anak. Oleh karena itu, sebaiknya

orang tua dan masyarakat menggunakan istilah-istilah bahasa di

sekitar anak dengan lebih selektif dan baik, karena pada dasarnya

bahasa anak dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya.

5) Perkembangan Moral Keagamaan

Pelajaran perkembangan moral anak terfokus pada

lingkungan keluarga dan lingkungan sosial yang lebih luas di luar

keluarga. Konsep pengembangan moral menjelaskan bahwa norma

dan nilai yang berlaku di lingkungan sosial siswa mempengaruhi

baik buruknya moral siswa (Trianingsih, 2016). Dalam perkembangan

anak usia dini, moralitas anak belum berkembang dengan cepat, hal

ini disebabkan karena perkembangan kognitif anak belum

memahami benar dan


31

salahnya perbuatannya, saat ini anak masih belum mengetahui apa

yang boleh dan tidak boleh dilakukan. apa yang salah. . yang tidak

diperbolehkan.

Berdasarkan periodisasi perkembangan Piaget, siswa sekolah

dasar kelas I, II, III, IV berada pada fase transisi yaitu dari era

realisme moral menuju transisi menuju otonomi moral. Akibat dari

masa peralihan tersebut maka terbentuklah perilaku moral anak pada

masa heteronom (sikap manusia yang bertindak hanya menurut

kaidah moral lahiriah, suatu perbuatan dikatakan baik hanya karena

sesuai dengan kaidah moral, dengan menggunakan asas

membolehkan sesuatu yang lain. daripada moral). sebuah hukum

yang menentukan apa yang harus dilakukan dalam bertindak, dan

emosi terlibat) dan terkadang saya menyukai perilaku anak yang

otonom (seseorang yang percaya diri dengan

keterampilan/kemampuannya). Berkenaan dengan perkembangan moral

anak, guru hendaknya mampu menanamkan moralitas pada anak

tanpa disadari oleh anak, sehingga mendorong kesadaran anak untuk

berbuat baik.

6) Tugas Perkembangan Anak SD

Havigurst mengatakan tugas perkembangan individu

merupakan tugas yang muncul pada periode tertentu dalam

kehidupan seseorang. Keberhasilan membawa kebahagiaan dan

memudahkan penyelesaian tugas-tugas berikutnya, dan kegagalan

menyebabkan seseorang kecewa dan sulit menyelesaikan tugas

perkembangan berikutnya (Megasari, 2013).


32

Anak usia 6 sampai 12 tahun pada hakikatnya menjalani tugas

perkembangan berupa keterampilan yang harus dikuasai siswa sekolah

dasar. Havigurst menjelaskan delapan tugas perkembangan anak

usia 6-12 tahun. Delapan tugas perkembangan tersebut adalah:

a) Belajar keterampilan fisik yang dibutuhkan dalam permainan.

Selama masa ini, anak-anak belajar menggunakan otot

mereka untuk mempelajari berbagai keterampilan. Itu sebabnya

otot dan tulang anak tumbuh dengan cepat. Mereka mempunyai

kebutuhan yang sangat tinggi terhadap aktivitas dan bermain.

Mereka bisa memainkan permainan dengan aturan tertentu.

Semakin tinggi nilai sekolah seorang anak, semakin jelas pula ciri-

ciri aturan main yang harus ia ikuti.

b) Pengembangan sikap terhadap diri sendiri sebagai individu yang

sedang berkembang.

Dalam tugas perkembangan ini anak akan memahami dan

mampu menjalani pola hidup sehat dengan belajar menjaga

kebersihan, kesehatan dan keselamatan diri dan lingkungannya,

sehingga mengetahui akibat yang akan diterimanya jika berperilaku

yang dapat membahayakan atau merugikan diri dan lingkungan

mereka.

c) Berkawan dengan teman sebaya.

Ketika anak masuk sekolah, ia harus berinteraksi sosial

dengan teman sebayanya. Anak usia sekolah dasar hendaknya dapat


33

berteman dengan orang di luar keluarga, terutama teman

sebayanya, sebagai bentuk interaksi sosial.

d) Belajar melakukan peranan sosial sebagai laki-laki dan wanita.

Pada usia 9-10 tahun, anak mulai memahami peran sesuai

dengan jenis kelaminnya. Anak perempuan bertingkah laku

seperti perempuan, sama seperti laki-laki. Saat ini, anak-anak

tertarik pada berbagai hal sesuai dengan jenis kelaminnya.

Misalnya, anak perempuan bermain boneka dengan anak

perempuan lain, dan anak laki-laki suka bermain bola dengan

teman laki-lakinya.

e) Belajar menguasai keterampilan dasar membaca, menulis, dan

berhitung

Saat ini, anak-anak sekolah dasar sudah bisa membaca,

menulis, dan mengerjakan matematika dasar. Karena

perkembangan kognitif dan biologis anak sudah matang untuk

bersekolah, anak dapat belajar di sekolah dan anak dapat

mengenal simbol-simbol sederhana.

f) Pengembangan konsep yang dibutuhkan dalam kehidupan anak.

Pada masa ini anak hendaknya mempunyai berbagai

konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti konsep

warna kosep jumlah konsep perbandingan dan konsep lainnya.

g) Pengembangan moral, nilai dan kata hati

Pada usia sekolah dasar, anak harus diajarkan untuk

mengendalikan perilakunya sesuai dengan nilai dan moral yang


34

berlaku. Anak harus mampu mengikuti aturan, bertanggung

jawab, dan menyadari perbedaan antara dirinya dan orang lain.

h) Mengembangkan sikap terhadap kelompok dan Lembaga-lembaga

sosial

Anak-anak belajar untuk menyadari kepemilikan mereka

terhadap keluarga dan komunitas sekolah. Anak harus belajar

menaati peraturan di keluarga dan di sekolah.

B. Landasan Teori
1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan

oleh virus Dengue yang termasuk dalam golongan arthropoda flavivirus

dalam famili Flaviviridae. Demam berdarah dengue menular melalui

gigitan nyamuk genus Aedes, khususnya nyamuk Aedes Aegypti atau

Aedes Albopictus. Demam berdarah dengue dapat terjadi sepanjang

tahun dan dapat menyerang semua kelompok umur. Penyakit ini

berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat itu sendiri

(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006).

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut

yang disebabkan oleh empat serotipe virus dengue dan ditandai dengan

empat gejala klinis utama yaitu demam tinggi, fenomena hemoragik,

hematomegali dan tanda kegagalan peredaran darah hingga syok karena

keluar cairan (dengue shock syndrome) diakibatkan karena kebocoran

plasma yang dapat menyebabkan kematian (Mulyono, 2020).


35

2. Gambaran Klinis

Gejala klinis infeksi demam berdarah berkisar dari tanpa gejala

hingga gejala berat yang menyebabkan kematian. Kasus yang bergejala

dapat dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain penyakit demam tidak

berdiferensiasi (UF), demam berdarah (DD), demam berdarah dengue

(DBD), sindrom syok dengue (SRD), dan demam berdarah tidak biasa

(UD). Sebagian besar kasus merupakan penyakit demam yang tidak dapat

dibedakan, dengan demam berdarah, DBD, dan SRD yang mencakup

10% dari sebagian besar kasus dengan gejala (Nugraheni, 2023 et al.,

WHO, 1997). Pada hari pertama gejala infeksi dengue, beberapa pasien

mengalami fase akut demam non spesifik seperti sakit kepala, lemas,

mual, muntah, nyeri perut, dan terkadang kemerahan pada kulit (ruam).

Nyeri retroorbital, mialgia, dan arthralgia juga sering muncul pada

demam berdarah, namun DBD/SRD juga muncul dengan gejala-gejala

ini. Manifestasi darah yang umum pada infeksi dengue termasuk

petechiae dan beberapa gejala lain seperti epistaksis, perdarahan

gingiva, hematemesis, melena, hipermenore, hemoglobinuria, yang

dapat membantu mengidentifikasi beberapa pasien yang diduga

menderita demam berdarah di perawatan primer.

3. Penyebab dan Vektor Penularan DBD

Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan

oleh infeksi virus yang dapat menular ke manusia melalui gigitan

nyamuk Aedes aegypti, dan nyamuk Aedes aegypti dapat menularkan

virus dengue ke generasi berikutnya melalui indung telurnya. Virus

dengue
36

dapat bersirkulasi dan berkontraksi di dalam tubuh penderita sehingga

penderita mengalami keadaan viremik dimana infeksi terjadi di dalam

tubuh penderita (Nugraheni, 2023). Virus demam berdarah dibawa oleh

nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Virus penyebab demam

berdarah adalah flavivirus dan terdiri dari empat serotipe (tipe 1, 2, 3,

4). Demam berdarah tipe 3 adalah serotipe virus yang dominan dan

menyebabkan penyakit parah. Demam berdarah dengue ditularkan

melalui gigitan nyamuk Aedes yaitu Aedes aegypti, Aedes albopictus dan

Aedes scutellaris. Virus demam berdarah ditularkan melalui virus yang

masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk dan kemudian

beredar di aliran darah pada saat timbulnya gejala demam yang dikenal

dengan fase viremik. Ketika nyamuk yang tidak terinfeksi menghisap

darah seseorang dalam tahap viremik, virus tersebut masuk ke dalam

tubuh manusia dan berkembang biak selama 8-10 hari sebelum virus

siap menginfeksi orang lain. Lamanya waktu yang diperlukan untuk

inkubasi eksternal tergantung pada kondisi lingkungan, terutama suhu

lingkungan. Siklus penularan virus dengue dari manusia – nyamuk –

manusia dan sebagainya (Ekologi infeksi Dengue). Vektor adalah

hewan invertebrata yang menularkan suatu penyakit (agen penyebab) dari

satu inang ke inang lainnya. Vektor digolongkan menjadi dua yaitu

vektor mekanik dan invertebrata yang menularkan penyakit tanpa

patogen mengalami perubahan jalur, sedangkan pada vektor biologis

patogen mengalami perkembangbiakan atau pertumbuhan dari satu

tahap ke tahap lainnya. Aedes aegypti merupakan vektor penyebab

penyakit Demam Berdarah


37

Dengue (DBD). Meskipun demam berdarah dapat disebarkan oleh

nyamuk lain, misalnya nyamuk albopictus, peran mereka dalam

penyebaran penyakit ini sangat kecil. Vektor DBD hidup di daerah

tropis dan hidup di genangan air bersih seperti bak bekas air hujan atau

bak mandi yang jarang dikosongkan atau dibersihkan. Hal ini dapat

menyebabkan perkembangbiakan jentik nyamuk Ae. Aegypti di

lingkungan domestic.

Suhu dan pH air juga mempengaruhi perkembangan nyamuk yang

belum dewasa. Suhu air perkembangbiakan 25-32oC merupakan waktu

yang dibutuhkan Ae. Telur aegypti hingga menjadi nyamuk

membutuhkan waktu 8-15 hari dan suhu ini merupakan suhu optimal.

Apabila suhu air dibawah 24oC atau lebih rendah dari suhu optimal

maka waktu pertumbuhan dan perkembangan Ae. Aegypti lebih cepat

matang pada pH asam atau basa.

4. Pencegahan dan Pengendalian

Ada beberapa cara untuk mencegah, mengendalikan dan mengobati

penyakit DBD, yaitu:

1) Pencegahan

Upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue di sekolah untuk

meningkatkan pengetahuan anak antara lain dengan mengajarkan pola

hidup bersih dan sehat serta pencegahan Demam Berdarah Dengue

sejak dini.

Selain itu, pelatihan dapat dilakukan dengan menampilkan video

animasi tentang penyebaran penyakit DBD kepada siswa. Pelatihan


38

pencegahan penyakit demam berdarah dengan mendeteksi bentuk larva

Aedes sp berupa air yang ditampung dalam ember di habitat nyamuk

(Mubarak, M., 2022). Ada beberapa cara untuk mencegah penyakit

DBD, yaitu:

1. Mencegah nyamuk berkembang biak (Upayakan memberantas jentik;

Pemerintah Indonesia melalui Dinas Kesehatan telah

mensosialisasikan kepada masyarakat tentang upaya pengendalian

vector DBD yang dapat dilakukan secara mandiri baik di rumah

ataupun di sekolah,

2. Membersihkan tempat penampungan air dan menguras airnya,

3. Menanggulangi sarang nyamuk di lingkungan dengan mewujudkan

kebersihan lingkungan,

4. Menjaga diri dari gigitan nyamuk; Gunakan pakaian tetutup saat

berada di luar rumah, saat berada di dalam rumah tidur menggunakan

kelambu,

5. Menutup tempat penampungan air untuk kebutuhan sehari-hari

dalam bentuk ember, drum,

6. Memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang bekas.

Kegiatan 3M Plus yang merupakan bagian dari PSN diyakini efektif

mengendalikan demam berdarah. Pemberantasan sarang nyamuk dapat

dilakukan melalui pengelolaan lingkungan seperti pengendalian hayati,

pengendalian kimia dengan didukung partisipasi aktif masyarakat,

pemberantasan nyamuk merupakan upaya yang paling efektif dalam

pengendalian demam berdarah (Mubarak, 2022).


39

Pencegahan infeksi dengue lainnya terdiri dari pengendalian vector,

penyuluhan dan pemberian vaksinasi (Girsang, 2023).

a) Pengendalian vector

Sejak dari tahun 2016 KEMENKES RI mengeluarkan upaya

pencegahan demam berdarah untuk pengendalian vector yaitu PSN

3M PLUS. Hal ini diperbaharui Kembali pada tahun 2019,

pembaharuannya seperti memasang kawat, kasa pada jendela, gotong

royong membersikan lingkungan, memeriksa TPA, memperbaiki

saluran dan talang air yang tersumbat. PSN 3M PLUS dinilai sangat

efektif dalam pengendalian DBD, karena sasaran kegiatan ini adalah

tempat potensial perkembangbiakan nyamuk Aedes. Pengendalian

vector dapt dilakukan secara biologi,kimia dan fisik.

1) Pengendalian biologi

Pengendalian secara biologi dilakukan dengan

menggunakan mahluk hidup yang berperan sebagai

pathogen,parasite dan pemangsa. Pemberantasan jentik nyamuk

secara biologi dapat dilakukan dengan memelihara ikan pemakan

jentik sperti ikan cupang,gupi,gabus dan ikan sepat. Dan bisa

juga menanam tanaman pengusir nyamuk sperti bunga lavender,

kemangi ,sereh, mint dan rosemary.

2) Pengendalian secara kimia

Cara membrantas nyamuk Aedes aegypti dengan insektisida.

Pengendalian secara kimia yaitu melakukan penyemprotan cairan


40

pembasmi nyamuk,menaburkan bubuk abate pada penampungan

air yang susah dikuras.

3) Pengendalian secara fisik

Pengendalian secara fisik dapat dilakukan dengan

1) Menutup tempat penampungan air

2) Menguras tempat penampungan air

3) Mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air

hujan sperti kaleng, botol, baskom

4) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar

5) Mengubur sampah

6) Memasang kawat anti nyamuk

7) Menggunakan kelambu saat tidur

b) Penyuluhan

Penyuluhan tentang pemberantasan sarang nyamuk Demam

Berdaarah Dengue yang dilakukan oleh petugas Kesehatan yang

akan mempengaruhi pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam

melaksanakan PSN-DBD.

c) Vaksin dengue

Pemberian vaksin dengue harus diikuti dengan PSN-3M PLUS.

Menurut data WHO vaksin dengue hidup yang dilemahkan CYD-

TDV telah terbukti aman dalam uji klinis. Vaksin CYD-TDV

diindikasi untuk usia 9-45 tahun.


41

5. Pengendalian

Perilaku siswa untuk mencegah penyakit DBD dapat dibentuk sejak

dini dengan memberikan pendidikan kesehatan di sekolah sebagai landasan

perilaku siswa. Sekolah merupakan tempat edukasi kepada siswa tentang

potensi bahaya nyamuk di rumah, di sekolah, dan di lingkungan. Upaya

mewujudkan sekolah sehat bebas vektor harus diperkuat mengingat

semakin meningkatnya prevalensi penyakit menular seperti kudis,

dermatitis, diare, tipus, dan demam berdarah di kalangan siswa. Selain itu,

pengetahuan siswa mengenai demam berdarah dan pengendalian virus

dengue masih lemah (Widyantoro,2021). Upaya pengendalian penyakit

menular vektor merupakan tanggung jawab bersama antara kita,

pemerintah, dan masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan melakukan

kegiatan edukasi untuk memberantas nyamuk sebagai pembawa penyakit.

Pengendalian vektor terpadu dilaksanakan dengan kombinasi beberapa

metode pengendalian, dengan memperhatikan keamanan, rasionalitas,

efisiensi pelaksanaan dan keberlanjutan (Widyantoro, 2010). Cara

mengendalikan nyamuk yang efektif antara lain:

1) Menutup kontainer yang berisi air,

2) Mengeleminasi tempat perkembang biakan,

3) Mengaplikasikan permethrin pada kelambu,

4) Membersihkan selokan agar air dapat mengalir,

Metode pengendalian demam berdarah didasarkan pada ekologi,

efisiensi, dan ekonomi dalam menekan populasi vektor, termasuk paparan


42

nyamuk secara teratur, fogging, dan penggunaan larvasida (Widyantoro,

W, 2021).

Cara pengendalian hayati berikut ini ramah lingkungan dan menyasar

atau mengutamakan penyakit utama yang ditularkan oleh jenis nyamuk,

beberapa di antaranya adalah penggunaan ekstrak tumbuhan, Wolbachia spp,

larva ikan, insektisida bakteri, dan cephalopoda.

6. Pengetahuan

Pengetahuan berasal dari kata “Mengetahui”. Setelah individu

menentukan objek tertentu. Pendeteksi terjadi melalui manusia yang

terdeteksi yaitu, perasaan, penglihatan, pendengaran, dan penciuman, serta

rasa dan kontak Manusia. Informasi spesifik diperoleh melalui mata dan

telinga. Informasi dapat diperoleh secara normal atau dengan cara yang

teratur, khususnya melalui siklus instruktif. Pengetahuan merupakan ruang

vital bagi perkembangan aktivitas (Abdillah, 2022 et al; Budiharto, 2010).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan

terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,

pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan

manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif

merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan

seseorang (overt behaviour) (Fatimah, 2020).

Pengetahuan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi dalam

kejadian DBD, terutama kebiasaan hidup bersih dan kesadaran masyarakat

terhadap bahaya DBD (Fatimah,2020).


43

Pengetahuan yang mencakupi domain kognitif dapat dibagi menjadi

6 tingkatan yaitu mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis,

mensintesis, mengevaluasi (Siregar, 2019). Pengearuh pengetahuan tiap

individu terhadap kegiatan pencegahan penyakit DBD menjadi faktor

penting dalam rangka menurunkan angka insidensi dari DBD.

a) Tingkat Pengetahuan

Pengertian sebagaimana ditunjukkan oleh Budiharto (2010)

merupakan ranah kognitif yang mempunyai tingkatan, ialah :

1) Tahu

Tahu adalah tingkat informasi paling sedikit, misalnya meninjau item

tertentu atau meningkatkan.

2) Memahami

Memahami merupakan Aplikasi kapasitas untuk memahami secara

akurat tentang objek yang diketahui

3) Aplikasi

Aplikasi adalah kapasitas untuk memanfaatkan materi yang telah

dipelajari dalam keadaan yang sebenarnya.

4) Analisis

Analisis merupakan kapasitas untuk menggambarkan ilmu atau

artikel menjadi bagian-bagian yang belum dikembangkan secara sah.

5) Sintesis

Sintesis ialah kapasitas untuk menggabungkan bagian-bagian

menjadi struktur baru yang spesifik


44

6) Evaluasi

Evaluasi adalah kapasitas untuk membuat evaluasi item tertentu.

b) Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010) et al; Abdillah., (2022) faktor

yang mempengaruhi pengetahuan antara lain yaitu:

1) Faktor pendidikan, semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang,

makan akan semakin mudah untuk menerima informasi tentang

obyek atau yang berkaitan dengan pengetahuan. Pengetahuan

umumnya dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan oleh

orang tua, guru, dan media masa. Pendidikan sangat erat kaitannya

dengan pengetahuan, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan

dasar manusia yang sangat diperlukan untuk pengembangan diri.

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin

mudah untuk menerima, serta mengembangkan pengetahuan dan

teknologi.

2) Faktor pekerjaan, pekerjaan seseorang sangat berpengaruh terhadap

proses mengakses informasi yang dibutuhkan terhadap suatu obyek.

3) Faktor pengalaman, pengalaman seseorang sangat mempengaruhi

pengetahuan, semakin banyak pengalaman seseorang tentang suatu

hal, maka akan semakin bertambah pula pengetahuan seseorang akan

hal tersebut. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang

ingin diukur dari subyek penelitian atau responden.

4) Keyakinan yang diperoleh oleh seseorang biasanya bisa didapat

secara turun temurun dan tidak dapat dibuktikan terlebih dahulu,

keyakinan
45

positif dan keyakinan negative dapat mempengaruhi pengetahuan

seseorang.

5) Sosial budaya, kebudayaan beserta kebiasaan dalam keluarga dapat

mempengaruhi pengetahuan, presepsi, dan sikap seseorang terhadap

sesuatu.

C. Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan wadah yang menjelaskan variabel-variabel

dan permasalahan pokok yang terlibat dalam suatu penelitian. Teori-teori ini

menjadi acuan untuk pembahasan lebih lanjut. Dengan cara ini, kerangka

teoritis tercipta di mana penelitian dapat dianggap benar (Arikunto,2018).


1. Konsep DBD
2. Etiologi dan Transmisi
DBD/DHF DBD
(Kemenkes RI, 2006 & 3. Epidemiologi
WHO, 1997) 4. Gejala dan Tanda DBD
5. Penyebab DBD

3M Plus (Mubarak, 2022)


Faktor-faktor yang
1. Mencegah nyamuk
Mempengaruhi Pengetahuan Pengetahuan (Budiharto, berkembang biak
2. Membersihkan tempat
Menurut Notoatmodjo (2010)
2010) penampungan air dan
menguras airnya
- Faktor pendidikan 3. Menanggulangi sarang
- Tahu
- Faktor pekerjaan nyamuk dengan
membersihkan lingkungan
- Faktor pengalaman - Memahami
4. Menjaga diri dari gigitan
- Faktor keyakinan - Aplikasi nyamuk
- Analisis 5. Menutup rapat
- Sosial budaya
- Sintesis penampungan air
- Evaluasi 6. Memanfaatkan atau
mendaur ulang barang
barang bekas
2.1 Kerangka Konsep Teori
(sumber : Mubarak, 2022; Girsang, J. C. P., 2023; Budiharto, 2010, Notoatmodjo, 2010)

Keterangan:

:
Diukur/diteliti

Tidak diukur :
46

Pengaruh :
47

D. Kerangka Konsep Penelitian


Menurut Notoatmodjo (2018), kerangka konsep adalah kerangka

hubungan antar konsep yang diukur atau diamati dalam suatu penelitian.

Kerangka konseptual harus mampu mengungkapkan hubungan antar variabel

yang diteliti.
Gambaran Pengetahuan Anak
Kelas 5 Dan 6 SD Tentang
Pencegahan Penyakit Demam
Berdarah Di SDN Alalak Tengah
1 Banjarmasin Tahun 2024

3M Plus (Mubarak, 2022)

1. Mencegah nyamuk
berkembang biak
2. Membersihkan tempat
penampungan air dan menguras Baik
airnya
3. Menanggulangi sarang nyamuk Cukup
dengan membersihkan
Kurang
lingkungan
4. Menjaga diri dari gigitan
nyamuk
5. Menutup rapat penampungan
air
6. Memanfaatkan atau mendaur
ulang barang barang bekas

2.2 Kerangka Konsep Penelitian

(sumber Mubarak, 2022; Notoatmodjo,

2018)
48

Anda mungkin juga menyukai