0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Chapter 1

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit arbovirus yang semakin meningkat di Indonesia, terutama di daerah perkotaan, dengan lebih dari 100 juta infeksi setiap tahun. Penyebaran DBD dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan perubahan iklim, serta kurangnya edukasi kesehatan di kalangan anak-anak yang rentan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan anak kelas 5 dan 6 SD tentang pencegahan DBD di SDN Alalak Tengah 1 Banjarmasin pada tahun 2024.

Diunggah oleh

fina ayu andanie
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Chapter 1

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit arbovirus yang semakin meningkat di Indonesia, terutama di daerah perkotaan, dengan lebih dari 100 juta infeksi setiap tahun. Penyebaran DBD dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan perubahan iklim, serta kurangnya edukasi kesehatan di kalangan anak-anak yang rentan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan anak kelas 5 dan 6 SD tentang pencegahan DBD di SDN Alalak Tengah 1 Banjarmasin pada tahun 2024.

Diunggah oleh

fina ayu andanie
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu jenis

penyakit arbovirus yang berbahaya hampir di seluruh negara di dunia,

terutama negara dengan iklim panas seperti Indonesia. Demam berdarah

dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue

yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes

Albopictu yang dominan hidup di wilayah tropis dan subtropis seperti

Indonesia (Sumiati, 2018).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah orang yang

terkena demam berdarah dengue (DBD) telah meningkat selama 50 tahun

terakhir. Demam berdarah dapat menyerang orang-orang yang tinggal di

daerah tropis dan subtropis, terutama di daerah perkotaan, dan lebih dari 100

juta orang tertular penyakit ini setiap tahunnya, termasuk 500.000 orang

yang terinfeksi, dan sekitar 30.000 kematian terjadi pada anak-anak yang

lebih tua. DBD telah menjadi virus endemik yang menyerang 100 negara

termasuk negara-negara Asia. Faktor terpenting yang berkontribusi

terhadap penyebaran demam berdarah di seluruh dunia adalah perubahan

lingkungan. Epidemi demam berdarah saat ini semakin meningkat di

seluruh dunia, terutama di negara-negara Asia Tenggara. (Yuliasi et al.,

2023).

1
2

Indonesia yang terletak di wilayah tropis merupakan tempat

berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, dan kasus demam berdarah

semakin meningkat setiap menjadi negara dengan jumlah kasus DBD

tertinggi di Asia Tenggara. Meningkatnya tahunnya. Menurut data WHO,

sejak tahun 1968 hingga 2009, Indonesia selalu menjadi negara dengan

jumlah kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Meningkatnya kepadatan

penduduk dan mobilitas menyebabkan bertambahnya wilayah sebaran dan

jumlah kasus penyakit demam berdarah di Indonesia, sehingga penyakit

demam berdarah menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang

utama hingga saat ini (Anggraini, 2022 et al., Kementerian Kesehatan,

2017). Tujuan Program Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah

Dengue adalah memutus rantai penularan untuk mencegah penyebaran

penyakit, kematian dan penyebaran kasus. Upaya yang dilakukan untuk

mencegah kematian melalui deteksi dini kasus, pemberitahuan cepat dan

tatalaksana kasus (Masnariyan,2023). Perubahan pemanasan iklim (Global

Warming) pada komponen lingkungan mempengaruhi spesies kelompok

ekosistem dan penyebaran vector penyakit dan virus. Iklim

dapat mempengaruhi penyakit menular karena patogen (virus, bakteri atau

parasit lainnya) dan vektor (serangga atau hewan pengerat) sensitif terhadap

suhu, kelembaban dan kondisi lingkungan lainnya.

Cuaca dan iklim mempengaruhi penyakit yang berbeda dengan

cara yang berbeda. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti Demam

Berdarah Dengue (DBD) berhubungan dengan kondisi cuaca panas. Banyak


3

yang menduga, wabah demam berdarah yang terjadi hampir di seluruh

wilayah Indonesia setiap tahunnya erat kaitannya dengan fenomena cuaca

di Asia Tenggara.

Laju penyebaran virus diperkirakan semakin cepat seiring

dengan pergantian musim yang disertai hujan dan suhu udara yang

tinggi. Selain itu, perubahan gaya hidup meningkatkan populasi

[Link] barang-barang non-biodegradable seperti plastik

sangat tinggi sehingga plastik menjadi komposisi sampah terbesar

saat ini, sehingga dapat menjadi reservoir atau penampungan air hujan

dimana vektor dapat berkembang biak ((Masnariyan, 2023).

Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) yang dilaporkan

ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meningkat dari 2,4 juta pada

tahun 2010 menjadi 4,2 juta pada tahun 2019. Pada tahun 2020, kasus

demam berdarah dengue terus meningkat di beberapa negara Asia,

termasuk Filipina, telah dilaporkan. jumlah kasus DBD tertinggi

sebanyak 420.000 kasus, Vietnam 320.000 kasus, Malaysia 131.000

kasus, Indonesia 102.303 kasus, dan Bangladesh 101.000 kasus.

Indonesia menduduki peringkat ke- 4 dari 48 negara di Asia dengan

jumlah kasus DBD tertinggi (WHO, 2020). Pada tahun 2021, WHO

memperkirakan akan terdapat sekitar 100-400 juta kasus demam berdarah

di seluruh dunia setiap tahunnya. Asia memiliki jumlah penyakit demam

berdarah tertinggi, yaitu 70% per tahun. Demam berdarah diketahui

menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian di Asia Tenggara,

dengan 57% dari seluruh kasus demam berdarah di Asia Tenggara terjadi

di Indonesia (Masnariyan, 2023).


4

Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah utama

di Indonesia. Meski angka kematiannya kurang dari 1/100, namun jumlah

dan sebaran kasusnya semakin meningkat (Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia, 2014). Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue

dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Penyakit demam berdarah

menular ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi virus

Dengue (Masnariyan, 2023). DBD (Aedes aegypti dan Aedes albopictus)

banyak ditemukan di Penyakit demam berdarah menular ke manusia melalui

gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi virus Dengue (Masnariyan, 2023).

DBD (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) banyak ditemukan

di pemukiman baik di dalam maupun di luar rumah (Kementerian

Kesehatan, 2016). Nyamuk Ae. aegypti lebih sering ditemukan bersarang

pada wadah air buatan antara lain: bak mandi, ember, vas bunga, tempat

makan burung, kaleng bekas, ban bekas, dan lain-lain. di dalam rumah,

meskipun juga ditemukan di luar rumah di perkotaan; sedangkan Ae.

albopictus lebih sering ditemukan di tempat penampungan air alami di

luar rumah, seperti kapak daun, lubang pohon, potongan bambu, dll,

terutama di pinggiran kota dan pedesaan, tetapi juga ditemukan di tempat

penampungan air buatan di dalam dan di luar rumah (Kementerian

Kesehatan, 2010).

Gejala Demam Berdarah Dengue dapat muncul antara 3-14 hari

gejala awal dapat ditandai dengan demam biasa yang terjadi secara tiba-

tiba dan sering disertai sakit kepala dan juga nyeri pada bagian sendi dan

juga ruam kemerahan. Demam dengue dapat terjadi dalam tiga tahap yaitu

demam kritis, pemulihan. Pada tahap pertama seseorang yang terkena


5

demam dengue biasanya akan mengalami demam tinggi suhu badan

mencapai 40o C dan disertai sakit kepala fase ini biasanya terjadi 2 sampai

7 hari dan di sertai ruam kemerahan pada bagian kulit. Selanjutnya pada

hri ke 4 sampai 7 ruam akan tampak seperti campak bintik-bintik merah

kecil dan jika ditekan tidak akan hilang, demam juga akan cenderung

berhenti dan akan terjadi lagi selama satu atau dua hari kemudian,namun

hal tersebut berbeda-beda pada masing-masing orang yang terkena demam

dengue (Masnarivan, 2023).

Nyamuk Aedes betina menghisap darah manusia pada siang

hari, nyamuk aktif mulai pukul 08.00-10.00 dan pukul 15.00-17.00.

Nyamuk betina menghisap darah yang digunakan untuk mematangkan

telur. Anak- anak merupakan kelompok umur yang paling rentan terkena

penyakit DBD. Saat ini, anak-anak sekolah dasar yang bermain di

lingkungan sekolah sangat berpeluang besar terkena gigitan nyamuk

betina Aedes aegypti yang menular. Oleh karena itu, lingkungan sekolah

dasar harus bebas dari vektor penyebar penyakit DBD. Anak-anak lebih

rentan terkena demam berdarah dibandingkan orang dewasa. Ada

beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi virus dengue pada

anak, salah satunya adalah kebersihan yang kurang dan lemahnya imunitas

anak. Selain itu, kondisi lingkungan yang buruk dan sempitnya perumahan

meningkatkan risiko demam berdarah pada anak. Faktor penyebab lainnya

adalah lingkungan yang buruk seperti genangan air yang ditampung dalam

tangki dan kegagalan melakukan 3M (mengosongkan, menguras dan

mendaur ulang/mendaur ulang barang bekas) yang juga merupakan faktor

risiko penyakit demam


6

berdarah (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 92 Tahun 1994

mengatur pengendalian penyakit demam berdarah yang fokus pada

pencegahan melalui Gerakan Pemberantasan Kelambu (PSN). Pada tahun

2015 diselenggarakan gerakan 1 rumah 1 jumat dengan pendekatan

pemberdayaan masyarakat untuk menurunkan angka dan kematian

penderita DBD melalui kegiatan budidaya terapan yaitu PSN 3M Plus.

Indikator keberhasilan PSN ditentukan oleh angka bebas jentik (ABJ)

karena ini merupakan upaya pencegahan DBD yang pertama (Anggraini,

2022).

Hari Demam Berdarah Dengue (DBD) diperingati setiap

tanggal 22 April. Informasi data dari Kepala Dinkes Kota Banjarmasin

menyatakan bahwa seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut telah

melaporkan kasus demam berdarah. Menyatakan demam berdarah

meningkat tahun ini karena tingginya jumlah kasus, dengan lebih dari 600

orang terinfeksi. Faktanya, enam orang meninggal karena demam

berdarah, jelasnya. Hanya dalam waktu empat bulan, jumlah kasus DBD

di Kalsel tahun ini sebanyak 4.444 kasus, hampir sama dengan 764 kasus

pada tahun 2022. Jumlah korban tewas adalah 6 orang.

Berdasarkan informasi data dari Dinkes Kalimantan Selatan,

Kota Banjarmasin, kasus DBD di Kalimantan Selatan tahun 2023

menunjukkan Kabupaten Banjar terdapat 166 kasus, Kota Banjarbaru 108

kasus, Kabupaten Hulu Sungai Utara 76 kasus, Hulu Sungai Tengah,

Tanah Laut 68 kasus, Kota Banjarmasin 53 orang dan 76 orang. Saat itu,

Kabupaten
7

Hulu Sungai Selatan berjumlah 44 kasus, Tanah Bumbu 35 kasus,

Kotabaru 29 kasus, Barito Kuala 21 kasus, Balangan 15 kasus, Tapin 7

kasus, dan

Balangan 3 kasus.

Peneliti melakukan studi pendahuluan ke Dinkes Kota

Banjarmasin, peneliti mendapatkan informasi secara langsung dari hasil

data yang dikumpulkan, bahwa ada 1 orang anak yang pernah meninggal

karena kasus demam berdarah di SDN Alalak Tengah 1 sekitar 6 bulan

sebelum penelitian dilakukan di sekolah tersebut. Pada saat peneili datang

ke sekolah secara langsung dan melakukan wawancara kepada Kepala

Sekolah dan Guru wali kelas, mereka mengatakan tidak pernah ada dari

pihak petugas kesehatan yang memberikan penyuluhan atau pendidikan

kesehatan sebelumnya terkait penyakit demam berdarah dengue. Kepala

Sekolah dan guru mengatakan, bahwa petugas kesehatan hanya datang

dalam 3 bulan sekali hanya untuk memberikan suntik vaksin dan vitamin

saja kepada anak-anak di sekolah.

Hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan peneliti pada

tanggal 13 Oktober 2023, mendapatkan data dari salah satu dari tim

pendataan di Dinas Kesehatan, total terdapat 55 kasus DBD di kota

Banjarmasin dari bulan Januari hingga September, 3 kasus meninggal

pada anak usia 6-10 tahun. Setiap tahunnya, Puskesmas menjadi pihak

pertama yang melakukan asesmen kasus DBD. Untuk SD wilayah kerja

Puskesmas Alalak Tengah terjadi 1 kasus DBD pada akhir bulan Juli di

SDN 1 Alalak Tengah Banjarmasin. Setelah itu, pihak puskesmas

mengusulkan kepada dinas kesehatan untuk melakukan penyemprotan

(fogging) ke rumah
8

masing-masing warga dan juga sekolah. Sedangkan, hasil studi

pendahuluan yang dilakukan di SDN 1 Alalak Tengah Banjarmasin pada

tanggal 27 Oktober 2023 dan dari total siwa (i) yang berjumlah 54 orang

pada saat wawancara terhadap 5 orang siswa diketahui sebanyak 3 orang

siswa belum mengetahui tentang DBD, mulai dari Pengertian Demam

Berdarah Dengue, Penyebab, Tanda dan Gejala, Pencegahan dan

Pengobatan/Penanganannya. Sedangkan, 2 orang lainnya hanya mengetahui

pengertian tentang demam berdarah, dan penyebab bahwa DBD disebabkan

oleh gigitan nyamuk aedes aegypti. Siswa (i) belum pernah mendapat

pendidikan kesehatan demam berdarah. Menurut Guru wali kelas 6 pihak

puskesmas sering datang untuk melakukan imunisasi, akan tetapi belum

pernah memberikan penyuluhan edukasi atau sosialisasi terkait

pengetahuan tentang DBD. Dari pihak sekolah, siswa sering dilatih untuk

menjaga kebersihan, misalnya: membuang sampah pada tempatnya, tidak

membuang sisa makanan di laci belajar untuk mencegah

perkembangbiakan nyamuk. Sekolah menyelenggarakan kegiatan Jumat

Bersih dan sekolah mempunyai organisasi atau perkumpulan khusus yaitu

Bersatu Bersih dan Aman. Tugas setiap kelas adalah membersihkan kelas

atau lingkungan luar sekolah pada hari Jumat. Jika terdapat genangan air

pada kaleng atau pot bunga bekas, segera keluarkan untuk mencegah

berkembang biaknya jentik nyamuk.

Selain program Bersatu Bersih dan Aman, motto sekolah

adalah program LISA buatan sekolah, atau Lihatlah Sampahnya, Buang.

Letak sekolah berada di tepi sungai, pada musim hujan air naik

kemudian
9

sekolah tergenang sungai di depan sekolah, maka diadakanlah kegiatan

sosial rutin setiap minggunya untuk menghindari bahaya lain seperti anak

terpeleset saat bermain karena lumut. Minimnya informasi mengenai

penyakit DBD dapat menyebabkan angka kejadian kasus DBD di masa yang

akan datang semakin meningkat. Dampaknya menimbulkan akibat yang

semakin serius bagi tubuh anak, dengan adanya kebocoran plasma darah

dan gejala yang terlihat seperti pembengkakan, sesak, dan pendarahan

spontan di beberapa bagian tubuh. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka

peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan Anak Kelas

5 Dan 6 SD Tentang Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Di SDN Alalak

Tengah 1 Banjarmasin Tahun 2024”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Gambaran

Pengetahuan Anak Kelas 5 Dan 6 SD Tentang Pencegahan Penyakit

Demam Berdarah Di SDN Alalak Tengah 1 Banjarmasin Tahun 2024?”

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini mengidentifikasi Gambaran Pengetahuan

Anak Kelas 5 Dan 6 SD Tentang Pencegahan Penyakit Demam Berdarah

Di SDN Alalak Tengah 1 Banjarmasin Tahun 2024.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoriris

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan

dan menambah acuan terutama pada ilmu Keperawatan tentang


10

pencegahan DBD pada anak dan pengetahuan edukasi kesehatan dalam

mendeteksi DBD.

2. Manfaat Praktis

a) Bagi Tenaga Kesehatan

Penelitian ini diharapkan dapat sebagai acuan bagi tenaga

kesehatan lainnya terutama bagi perawat untuk

mengembangkan metode edukasi atau penyuluhan untuk

meningkatkan pengetahuan siswa(i) dalam mengikuti proses

penelitian pencegahan penyakit DBD ini.

b) Bagi SDN Alalak Tengah 1 Banjarmasin

Dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa/I

di SDN Alalak Tengah 1 Banjarmasin untuk meningkatkan

pengatahuan dan wawasan tentang penyakit Demam Berdarah

Dengue, an dapat merubah perilaku dan kebiasaan yang beresiko

tentang penyakit Demam Berdarah Dengue.

c) Bagi Mahasiswa

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memfasilitasi

mahasiswa Ilmu Keperawatan terkait penyuluhan kesehatan mulai

dari metode, cara penularan, cara pencegahan, perkembangan anak,

serta pendidikan kesehatan penyakit DBD.

d) Bagi peneliti

Sebagai salah satu sarana menambah wawasan, ilmu

pengetahuan dan keterampilan dalam mengaplikasikan ilmu

pengetahuan yang didapat selama kuliah. Mengetahui masalah


11

kesehatan lingkungan yang ada di SDN Alalak Tengah 1

Banjarmasin.

e) Bagi Penelitian Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data

rujukan bagi penelitian yang akan datang tentang pengetahuan

pencegahan penyakit demam berdarah dengue.

E. Keaslian Penelitian
Penelitian yang berjudul “Gambaran Pengetahuan Anak Kelas 5

Dan 6 SD Tentang Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Di SDN Alalak

Tengah 1 Banjarmasin Tahun 2024” Belum pernah dilakukan.

Sebelumnya terdapat beberapa penelitian tentang edukasi antara lain :

Tabel 1. 1 Keaslian Penelitian


No Judul Penelitian dan Tahun Nama Peneliti Metode dan Hasil Perbedaan dan
Persamaan
Penelitian

1 Gambaran Karakteristik Martina Malla, Hasil penelitian didapatkan Persamaan:


Demam Berdarah Pada Anak Yenny Djeni Randa, bahwa hasil kejadian tertinggi
Demam bedarah
di RS Umum Daerah Andi Rahmat Bahri pada usia >6 tahun
Makassau Kota Parepare - <14 dengan frekuensi Perbedaan:
(52,78%) yang paling tinggi
Karakteristik,
didapatkan pada jenis
jumlah responden
kelamin laki-laki dengan
yang berbeda,
frekuensi pasien anak
sampel yang
(61,11%). Pada pendidikan
digunakan, tempat
pasien anak tertinggi SD
penelitian yang berbeda.
dengan frekuensi (50%).
Karakteristik didapatkan
angka tertinggi (77,78%).
12

No Judul Penelitian dan Tahun Nama Metode dan Hasil Perbedaan dan
Peneliti
Persamaan Penelitian

Hubungan Pengetahuan Ruminem, Rita Penelitiam ini merupakan jenis Persamaan:


Puspita
2 Dengan Sikap Siswa Dalam Sari, Siti Sapariyah Cross Sectional. Sampel pada Pengetahuan,
Pencegahan Penyakit Demam penelitian adalah seluruh Siswa pencegahan demam
Berdarah Dengue (DBD) di Kelas VI di SD Negeri No. 15 berdarah
SD Negeri No. 015 Kecamatan Samarinda Ulu yang Perbedaan:
Kecamatan Samarinda Ulu berjumlah 48 responden. Data Hubungan, jumlah
hasil penelitian dianalisis secara responden yang
univariat dan bivariat. Penelitian berbeda, sampel
ini menunjukkan bahwa Yang
pengetahuan siswa tentang digunakan, tempat
penyakit DBD mayoritas kategori penelitian yang
Cukup berbeda
sebanyak 37 (77,1%). Sikap siswa
dalam pencegahan penyakit DBD
sebagian besar sikap positif
sebanyak
3 Gambaran Perilaku Menguras Delantin Monlisa, Jenis penelitian ini kuantitatif Persamaan:
Bak Dalam Pencegahan Antonius Yogi deskriptif. Jumlah populasi 171 Pengetahuan,
Pratama
Penyakit DBD di Dusun responden dengan sampel 43. Alat pencegahan demam
Blimbing, Girisekar, ukur dengan kuisioner yang di uji berdarahpencegahan
Panggang, Gunung Kidul valid dengan r tabel sebesar penyakit DBD
0,3916 dan nilai reliabel 0,89 dan Perbedaan:
dianalisis secara univariat. Hasil perilaku, jumlah
menunjukkan 24 responden responden yang
berperilaku baik (55,8%), berbeda, sampel
berperilaku cukup (41,9%), dan 1 Yang
berperilaku kurang (2,3%). digunakan, tempat
penelitian yang
berbeda.
12

Anda mungkin juga menyukai