0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Modul 4

Modul ini membahas tentang Analog to Digital Converter (ADC) yang digunakan dalam mikrokontroler untuk mengubah sinyal analog menjadi digital. Terdapat beberapa jenis ADC seperti Flash, Sigma-Delta, dan Successive Approximation (SAR) ADC, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan. Selain itu, modul ini juga mencakup pengaturan ADC pada mikrokontroler Atmega 328p dan memberikan instruksi untuk percobaan serta tugas terkait pemrograman dalam bahasa assembly.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Modul 4

Modul ini membahas tentang Analog to Digital Converter (ADC) yang digunakan dalam mikrokontroler untuk mengubah sinyal analog menjadi digital. Terdapat beberapa jenis ADC seperti Flash, Sigma-Delta, dan Successive Approximation (SAR) ADC, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan. Selain itu, modul ini juga mencakup pengaturan ADC pada mikrokontroler Atmega 328p dan memberikan instruksi untuk percobaan serta tugas terkait pemrograman dalam bahasa assembly.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL 4

TE2514018
Sistem Tertanam
MODUL 4
A/D Converter

1. Dasar Teori
Analog to Digital Converter (ADC) merupakan peripheral pada mikrokontroler yang
berfungsi untuk mengubah tegangan analog menjadi representasi digital. Umumnya ADC pada
mikrokontroler digunakan untuk antarmuka dengan divais-divais yang meghasilkan sinyal analog.
Dengan adanya peripheral ADC pada mikrokontroler, maka tidak diperlukan rangkaian tambahan
untuk mengkonversi sinyal analog, sehingga antarmuka dengan sistem analog dapat dilakukan
dengan sederhana.
Proses merubah besaran analog menjadi digital dapat dilakukan melalui 3 tahapan. Tahapan
pertama merupakan sampling. Proses sampling adalah mencuplik tegangan analog pada satu waktu.
Kemudian, tegangan analog yang dicuplik dikuantisasi dan dilakukan proses encoding sehingga
terbentuk besaran digital.
ADC memiliki beberapa jenis. Jenis ADC ditentukan oleh kompleksitas dari rangkaian dan
kecepatan waktu konversi. Flash ADC merupakan jenis ADC yang dapat mengkonversi tegangan
analog dalam satu waktu. Flash ADC terdiri atas banyak operational amplifier yang bekerja sebagai
komparator dan rangkaian kombinasional. Kelemahan dari ADC jenis ini adalah membutuhkan
jumlah komponen yang banyak seiring dengan pertambahan resolusi ADC. Skematik dari Flash
ADC dapat ditunjukkan melalui Gambar 1.

Gambar 1: Skematik rangkaian flash ADC

Sigma-Delta ADC merupakan jenis ADC yang lebih sederhana dibandingkan dengan flash
ADC. Sigma-Delta ADC memiliki komponen yang lebih sederhana. Kelemahan dari Sigma-Delta
ADC memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengkonversi tegangan analog menjadi representasi
digital. Selain itu, semakin tinggi resolusi ADC maka waktu konversi yang dibutuhkan lebih lama.
Skematik dari Sigma-Delta dapat ditunjukkan melalui Gambar 2.
Gambar 2: Skematik Sigma-Delta ADC

Gambar 3: Skematik SAR ADC

Successive Aproximation ADC (SAR ADC) merupakan jenis ADC yang banyak digunakan
dalam mikrokontroler. Skematik dari SAR ADC dapat ditunjukkan melalui Gambar 3. Prinsip kerja
dari SAR ADC mirip dengan Sigma-Delta ADC, tetapi memiliki skematik yang lebih sederhana.
Mikrokontroler Atmega 328p memiliki satu ADC. Tetapi jumlah pin pada mikrokontroler
Atmega 328p yang mampu mengakomodir sinyal analog adalah 6. Rangkaian multiplexer digunakan
untuk melewatkan 6 pin sinyal analog melalui satu peripheral ADC. Kanal yang akan dikonversi
dapat dipilih dengan mengkonfigurasi register ADCMUX dengan merubah bit ke-0 hingga bit ke-3
seperti yang ditunjukkan melalui Tabel 1. V REF digunakan untuk mengubah nilai digital menjadi
analog yang digunakan untuk membandingkan tegangan input dengan tegangan konversi. Tegangan
referensi dapat dikonfigurasi melalui bit ke-6 dan bit ke-7 pada register ADMUX.

Tabel 1. Pilihan kanal mikrokontroler


Tabel 2. Pilihan tegangan referensi

Peripheral ADC diaktifkan dengan memberikan nilai 1 pada bit ke-7 register ADCSRA.
Lama waktu konversi ADC dapat dikongfigurasi dengan mengatur prescaler melalui bit ke-0 sampai
bit ke-2 register ADCSRA. Untuk memulai konversi bit ADSC diberikan nilai 1. Konversi nilai
ADC dinyatakan selesai apabila bit ADIF bernilai 1. Hasil konversi disimpan di register ADLAR.

Tabel 3. Pilihan prescaler clock ADC

Percobaan 1: Penghasil Sinyal PWM


1. Buka program Microchip Studio, dan buatlah project menggunakan bahasa assembly.
2. Tulis program seperti berikut:
start:
ldi r16,0x00
out DDRC,r16
out PORTC,r16
ldi r16,0x87
sts ADCSRA,r16

loop:
ldi r16,0x43
sts ADMUX,r16
ldi r16,0xC7
sts ADCSRA,r16

wait:
lds r17,ADCSRA
andi r17,0x10
cpi r17,0x10
brne wait

lds r18,ADCL
lds r19,ADCH

ldi r16,0xff
out DDRB,r16
out DDRD,r16
ldi r16,0x00
out PORTB,r16
out PORTC,r16

mov r20,r18
andi r20,0x1f
mov r21,r19
lsl r21
lsl r21
mov r22,r18
lsr r22
lsr r22
lsr r22
lsr r22
lsr r22
or r21,r22
out PORTB, r21
out PORTD, r22
rjmp loop

3. Lakukan debug pada program yang tertulis pada instruksi no 2.


4. Amati register yang berubah, kemudian jelaskan PORT dan pin ke berapa berfungsi sebagai
apa!
5. Buatlah rangkaian seperti gambar di bawah ini dan sambungkan arduino dengan PC (Ganti
Resitor 0 ohm dengan potensiometer 10k)
6. kemudian upload program ke arduino uno denga melalukan build program (tekan tombol f7)
dan pilih menu Tools→avr_usb
7. Amati LED apabila potensiometer diputar
Tugas
1. Buatlah program dalam bahasa assembly untuk dimmer LED yang dapat diatur dari
potensiometer (ganti resistor 0 ohm dengan potensiometer 10k ohm).

Anda mungkin juga menyukai