PENANGANAN KASUS GHTR
No. Dokumen :
SOP
No. Revisi :
TanggalTerbit :
PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU
DINAS KESEHATAN
JL. JAMRUD NO.06 DESA DIRGAHAYU TELP (0518) 21188,21986
KOTABARU 72116
Pengertian Rabies adalah penyak tinfeksi akut system saraf pusat (ensefalitis) yang
disebabkan oleh virus rabies yang termasuk genus Lyssa-virus, family
Rhabdoviridae dan menginfeksi manusia, terutama melalui gigitan hewan
yang terinfeksi (anjing, monyet, kucing, serigala, kelelawar).
Tujuan Agar petugas dapat menegakkan diagnosis rabies,melakukan penanganan
pertama rabies dan melakukan pencegahan rabies.
Kebijakan
Referensi KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
HK.02.02/MENKES/514/2015
Prosedur a. Petugas memanggil pasien yang telah dilakukan pemeriksaan tanda-
tanda vital oleh perawat,
b. Petugas melakukan anamnesa pada pasien:
Terdapat riwayat tergigit, tercakar atau kontak dengan anjing, kucing,
atau binatang lainnya yang:
1. Positif rabies (hasil pemeriksaan otak hewan tersangka).
2. Mati dalam waktu 10 hari sejak menggigit bukan dibunuh).
3. Tak dapat diobservasi setelah menggigit (dibunuh, lari, dansebagainya).
4. Tersangka rabies (hewan berubah sifat, malas makan, dan lain-lain).
Stadium Rabies:
Terdapat berupa demam, malaise, mual dan rasa nyeri di tenggorokan
selama beberapa hari( stadium prodormal).
Penderita merasa nyeri, merasa panas disertai
kesemutanpadatempatbekaslukakemudiandisusuldengangejalacemas,
danreaksi yang berlebihanterhadaprangsangsensoris (stadium
sensoris).
Tonus otot dan aktivitas simpatis menjadi meninggi dan gejala
hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi, dan pupil dilatasi, khas
muncul fobia seperti hidrofobia. Kontraksi otot faring dan otot
pernapasan dapat ditimbulkan oleh rangsangan sensoris misalnya
dengan meniupkan udara kemuka penderita. Pada stadium ini dapat
terjadi apneu, sianosis, konvulsan, dan takikardia. Tindak tanduk
penderita tidak rasional kadang maniak di sertai dengan responsif.
Gejala eksitasi terus berlangsung sampai penderita meninggal (stadium
eksitasi).
Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium sebelumnya,
namun kadang ditemukan pasien yang tidak menunjukkan gejala
eksitasi melainkan paresis otot yang terjadi secara progresif karena
gangguan pada medulla spinalis (stadium paralisis).
c. Petugas melakukan pemeriksaan fisik meliputi
1. Pada saat pemeriksaan, luka gigitan mungkin sudah sembuh bahkan
mungkin telah dilupakan.
[Link] pemeriksaan dapat ditemukan gatal dan parestesia pada luka
bekas gigitan yang sudah sembuh (50%), mioedema (menetap selama
perjalanan penyakit).
3. Jika sudah terjadi disfungsi batang otak maka terdapat: hiperventilasi,
hipoksia, hipersalivasi, kejang, disfungsi sarafotonom, sindroma
abnormalitas ADH, paralitik / paralisis flaksid.
4. Pada stadium lanjut dapat berakibat kematian.
5. Tanda patognomonis
6. Encephalitis Rabies: agitasi, kesadaran fluktuatif, demam tinggi yang
persisten, nyeri pada faring terkadang seperti rasa tercekik
(inspiratorisspasme), hipersalivasi, kejang, hidrofobia dan aerofobia.
d. Diagnosis ditegakkan denga nriwayat gigitan (+) dan hewan yang
menggigit mati dalam 1 minggu.
Gejala fase awal tidak khas: gejala flu, malaise, anoreksia, kadang
ditemukan parestesia pada daerah gigitan.
Gejala lanjutan: agitasi, kesadaran fluktuatif, demam tinggi yang
persisten, nyeri pada faring terkadang seperti rasa tercekik
(inspiratorisspasme), hipersalivasi, kejang, hidrofobia dan aerofobia.
Dengan takipneu.
e. Petugas melakukan penatalaksanaan:
Fase awal: Luka gigitan harus segera dicuci dengan air sabun
(detergen) 5-10 menit kemudian dibilas dengan air bersih, dilakukan
debridement dan diberikan desinfektan seperti alkohol 40-70% atau
povidoniodin. Jika terkena selaput lender seperti mata, hidung atau
mulut, maka cucilah kawasan tersebut dengan air lebih lama;
Petugas melakukan penilaian derajat luka untuk menentukan indikasi
pemberian VAR;
Jika diperlukan pemberian SAR dan penanganan lebih lanjut maka
akan dirujuk ke Faskes yang mempunyai Dokter Spesialis Syaraf.
f. Petugas melakukan konseling kepada keluarga pasien:
1. Keluarga ikut membantu dalam hal penderita rabies yang sudah
menunjukan gejala rabies untuk segera dibawa untuk penanganan
segera ke fasilitas kesehatan. Pada pasien yang digigit hewan
tersangka rabies, keluarga harus menyarankan pasien untuk vaksinasi.
2. Laporkan kasus rabies ke dinas kesehatan setempat.
g. Petugas mencuci tangan sebelum dan setelah tindakan .
h. Petugas menulis hasil pemeriksaan fisik, diagnosis, menandatangani
rekam medis, serta melengkapi lembar surat rujukan pada pasien yang
sudah menunjukkan gejala rabies.
Diagram Alir
Petugas melakukan anamnesa, cuci
Petugas memanggil pasien tangan, pemeriksaan fisik secara
lengkap, kemudian cuci tangan
setelah pemeriksaan
Petugas melakukan:
Perawatan luka Petugas menegakkan diagnosa
Penilaian derajat luka untu berdasar pemeriksaan yang telah
menentuan indikasi pemberian dilakukan
VAR
Rujuk untuk pemberian SAR
Penderita rabies yang sudah Petugas menulis pada RM
menunjukkan gejala rabies
dirujuk ke fasilitas pelayanan
kesehatan sekunder yang
memiliki dokters pesialis saraf.
Ditetapkan ; di Kotabaru Kepala Dinas Kesehatan
Tanggal ; Kabupaten Kotabaru,
Erwin Simanjuntak, SKM, [Link]
NIP. 19681028 198903 1 010