100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
14 tayangan19 halaman

Ebook TradingPlan

Dokumen ini menjelaskan tentang trading, termasuk jenis-jenisnya seperti forex, saham, binary, dan bitcoin, serta strategi analisis seperti candlestick, price action, dan support-resistance. Selain itu, dibahas juga tentang pentingnya volume dan indikator dalam trading untuk membantu pengambilan keputusan. Risiko tinggi terkait trading diimbangi dengan potensi keuntungan besar, sehingga pemahaman yang baik tentang metode dan analisis sangat diperlukan.

Diunggah oleh

nobkenzo81
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
14 tayangan19 halaman

Ebook TradingPlan

Dokumen ini menjelaskan tentang trading, termasuk jenis-jenisnya seperti forex, saham, binary, dan bitcoin, serta strategi analisis seperti candlestick, price action, dan support-resistance. Selain itu, dibahas juga tentang pentingnya volume dan indikator dalam trading untuk membantu pengambilan keputusan. Risiko tinggi terkait trading diimbangi dengan potensi keuntungan besar, sehingga pemahaman yang baik tentang metode dan analisis sangat diperlukan.

Diunggah oleh

nobkenzo81
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKE YOUR

OWN
TRADING PLAN
Apa itu TRADING ?
Pada dasarnya, Trading adalah salah satu kegiatan yang dilakukan di pasar uang.
Kegiatan ini lebih dari sekedar suatu proses jual beli barang ataupun jasa. Tujuan utama
dari diadakannya kegiatan ekonomi ini adalah untuk melakukan kegiatan jual beli dalam
kurun waktu yang singkat dan mendapatkan nilai profit yang terbesar.
Lantas, bagaimana cara melakukan Trading ? Apakah kegiatan ini memiliki risiko tinggi?
Dalam kesempatan kali ini, mari kita bahas jawaban dari pertanyaan tersebut bersama.
Didalam dunia trading ada beberapa jenis trade yang popular saat ini, yaitu

1. Trading Forex
Trading forex adalah perdagangan kurs mata uang asing. Seperti yang kita
ketahui, nilai mata uang asing selalu naik-turun setiap beberapa waktu tertentu.
Untuk melakukan trading jenis forex, kamu bisa melakukan penukaran uang
di money changer secara langsung maupun online dengan mendeposit sejumlah
uang terlebih dahulu. Keuntungan yang didapatkan dari trading forex tergantung
nilai pertukaran mata uang asing dengan mata uang yang kita inginkan.
2. Trading Saham
Hati-hati, jangan sampai tertukar antara trading saham dan investasi saham.
Keduanya memang mengandung kata saham, akan tetapi konsepnya
berbeda. Investopedia bahkan menyebut keduanya adalah hal yang sangat berbeda.
Trading saham adalah aktivitas jual beli saham dalam jangka waktu tertentu,
biasanya cukup singkat. Sementara itu, investasi saham bisa disimpulkan sebagai
aktivitas “menabung” untuk memperoleh keuntungan dari pembelian saham
untuk jangka yang panjang.
3. Trading Binary
Sama seperti trading lainnya, aktivitas trading binary pun tak lepas dari jual beli.
Namun, trading ini dianggap sangat berisiko meskipun bisa juga menghasilkan
keuntungan yang besar. Sering kali, trading binary adalah penipuan. Biasanya,
trading jenis ini ditemukan pada transaksi judi pacuan kuda atau pertandingan
bola. Untuk melakukan trading ini, kita harus menentukan target dan
mempertaruhkan sejumlah uang. Jika target tercapai, akan ada keuntungan
besar yang didapat. Akan tetapi, jika meleset, kamu akan mengalami kerugian.
4. Trading Bitcoin
Sejak munculnya beberapa waktu silam, trading bitcoin adalah salah satu
alternatif trading terbaru. Objek dalam trading jenis ini tentu saja bitcoin.
Pembelian bitcoin dapat dilakukan dengan mata uang rupiah. Jangan khawatir,
untuk bisa melakukan trading bitcoin, kita tidak selalu butuh modal yang besar.
Yang penting, cermat memantau kenaikan dan turunnya harga bitcoin agar dapat
melakukan keputusan yang tepat.
Keuntungan Trading ialah mendapatkan profit yang sangat besar, namun sebanding
dengan keuntungannya resikonyapun besar
Apa itu CandleStick ?
Candlestick adalah sebuah metode diagram kuno dari negeri sakura yang tingkat
akurasinya tidak perlu diragukan lagi. Teknik charting ini sudah digunakan sejak lama,
bahkan semakin populer di kalangan trader saat ini.

Jika diperhatikan, candlestik akan merefleksikan dempak sentimen investor terhadap


harga sekuritas. Biasanya, analis seperti ini dilakukan untuk menentukan waktu yang
tepat untuk masuk dan keluar trading.

Metode ini merupakan strategi cerdas untuk memperdagangkan beberapa ases


finansial, sebut saja saham, cryptocurrency, dan valuta asing. Namun perlu diingat
bahwa penggunaan candlestick memang termasuk ke dalam kategori metode analisa
dikresional.

Artinya, analisis ini mengandalkan intuisi subjektif dari trader untuk memahami
berbagai pola. Pola-pola yang ada pada chart akan dieksekusi melalui trading yang
aktual. Metode ini akan menghasilkan profit yang konsisten jika dibarengi dengan
pengalaman dan jam terbang yang tinggi.

Perlu diingat dalam penggunaan Candlestick Pattern kita tidak boleh terpaku dalam
bentuk”nya saja, namun kita juga harus mengerti proses dibalik terbentuknya
candlestick tersebut.

*Tidak disarankan untuk menggunakan cheatsheet candlestick sebelum anda


mengetahui proses terbentuknya candlestick tersebut*
Price Action
Price action adalah pergerakan harga sekuritas yang diplot dari waktu ke waktu.
Pergerakan ini menjadi dasar bagi segala analisis teknis saham, komoditi, dan aset
lainnya. Para trader jangka pendek banyak yang hanya bergantung kepada price action
dan formasi tren harga yang diekstrapolasi dari price action tersebut. Hal ini berfungsi
sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Price action sangat sering
diigunakan oleh Day Trader yang ingin mendapatkan profit tinggi setiap harinya.

Analisis teknis merupakan turunan dari price action karena ini digunakan harga-harga
sebelumnya dalam kalkulasi yang dijadikan sebagai pertimbangan trading . Bisa
dikatakan bahwa price action adalah metode analisis informasi harga pasar untuk
mengidentifikasi kesempatan entry and exit trade . Pada dasarnya, price
action menganalisis perilaku pergerakan tren harga di jangka pendek, menengah, dan
panjang. Akan tetapi, dalam trading juga melihat harga secara langsung seperti yang
tertera dalam bentuk grafik candlestick.

Cara Penggunaan Price action pada Cryptocurrency

Harga aset kripto seringkali seperti pegas, di mana jika Anda mendorong pegas
tersebut, yang akan terjadi adalah pegas tersebut kembali ke tempat asal. Hal ini karena
Anda tidak akan bisa memberikan dorongan lagi jika sudah mencapai titik te rtentu.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, price action bisa mengidentifikasi tren
pergerakan harga. Ada dua tren yang akan Anda temui jika Anda menganalisis data
harga pasar aset kripto.

1. Uptrend : setiap titik rendah baru akan selalu lebih tinggi daripada titik rendah
sebelumnya. Contohnya, Bitcoin (BTC) masih berada di uptrend jangka panjang
karena meskipun pernah ada di angka 20 ribu dolar AS, titik rendah sebelumnya
adalah seribu dolar AS dan diikuti dengan titik rendah tiga ribu dolar AS.
2. Downtrend : setiap titik atas terbaru akan selalu lebih rendah dari pada titik atas
sebelumnya.

Kedua tren ini adalah dasar yang bisa Anda temukan di teknis analisis dasar. Akan tetapi,
penting untuk dipahami bahwa price action adalah pergerakan harga sekuritas yang
diplot dari waktu ke waktu berfungsi karena para trader membuat keputusan
strategi trading berdasarkan pandangan mereka terhadap pasar aset kripto itu sendiri.

Price Action biasa digunakan untuk melihat pergerakan market yang telah terjadi
dimasa lalu, setelah itu mencoba untuk menggunakannya kembali pada market yang
sedang berjalan secara realtime.
Support & Resistance (SnR)
Support adalah zona atau level dimana terdapat kecenderungan harga kembali nai k,
karena kecenderungan dari para pembeli(Bearish/Sell) yang lebih banyak daripada
penjual(Bullish/Buy) atau Demand(Permintaan) lebih banyak dari Supply(Ketersediaan).
Support juga bisa disebut level dimana level tersebut bisa menghambat harga akan
turun lebih rendah karena harga sudah jenuh untuk turun(Oversold). Garis Support
dibentuk dengan cara menarik Horizontal dari titik terendah yang sudah terjadi.

Resistance adalah zona atau level dimana terdapat kecenderungan harga kembali turun,
karena kecenderungan dari para penjual(Bullish/Buy) yang lebih banyak daripada
pembeli(Bearish/Sell), Supply(Ketersediaan) lebih banyak dari Demand(Permintaan).
Resistance juga level dimana level tersebut bisa dipastikan menghambat harga akan
naik lebih tinggi lagi karena harga sudah mencapai jenuh untuk Naik(Overbought). Garis
Resistance dibentuk dengan cara menarik Horizontal dari titik tertinggi pada puncak
yang sudah terjadi.

Resistance Become Support (RBS)


RBS terjadi ketika garis teratas/resistance mangalami breakout yang umumnya telah
melewati 2x retest, sebelum akhirnya terbreakout. Resistance yang telah terbreakout
akan menjadi support baru untuk pergerakan selanjutnya(Uptrend).

Resistance  Breakout  Support


Breakout ->

Breakout ->

Support Become Resistance (SBR)


SBR terjadi ketika garis terbawah/support mangalami breakout yang umumnya telah
melewati 2x retest, sebelum akhirnya terbreakout. Support yang telah terbreakout akan
menjadi resistance baru untuk pergerakan selanjutnya(Downtrend).
Support  Breakout  Resistance
Volume
Volume adalah jumlah aset/saham yang telah diperdagangkan dalam periode waktu
tertentu. Misal dalam satu hari terdapat aksi jual-beli sebanyak 5 juta lembar saham.
Maka itulah besar volume pada hari itu.

Jika besok jumlah volume menjadi 6 juta maka bisa dikatakan volumenya meningkat.
Sebaliknya, jika besok volumenya hanya 3 juta maka bisa dikatakan volumenya
menurun.

Menganalisa Volume dari sebuah asset juga tidak kalah penting, karena dengan kita
mengetahui volumenya maka kita dapat dengan mudah memprediksi pergerakan asset
tersebut selanjutnya.

Uptrend
Uptrend adalah kondisi di mana harga suatu asset cenderung mengalami kenaikan dari
waktu ke waktu jika dilihat berdasarkan garis lurus yang ditarik dari titik terendahnya.
Istilah uptrend memiliki makna yang sama dengan bullish. Asset yang sedang uptrend,
harus memiliki sederetan peak (puncak) dan through (lembah) yang semakin
meningkat.

Jumlah puncak dan lembahnya tidak boleh hanya satu saja, minimal harus ada dua
puncak dan dua lembah yang mana keduanya bergerak menuju arah yang lebih tinggi
dari sebelumnya. Sinyal uptrend dapat dikatakan semakin kuat apabila
jumlah peak dan through yang membentuk tren naik juga semakin banyak.
Downtrend
Downtrend memiliki ciri yang sama dengan uptrend tapi dalam arah yang
berlawanan. Downtrend adalah kondisi di mana harga saham cenderung turun
berdasarkan garis lurus yang ditarik dari titik tertingginya. Peak dan through dalam
grafik saham terbentuk lebih rendah dari sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, grafik
mungkin akan bergerak zigzag, seperti tren naik, tetapi arah utamanya menuju
penurunan.

Sideways
Tren sideways adalah kondisi di mana harga saham bergerak secara horizontal dan
terjadi ketika kekuatan supply dan demand hampir sama. Meskipun harganya bergerak
cenderung datar, tren ini tetap memiliki deretan puncak dan lembah yang dangkal. Jika
dilihat melalui candlestick, maka lilinnya akan berbentuk pendek.
Tren sideways biasanya terjadi selama periode konsolidasi sebelum akhirnya
melanjutkan tren sebelumnya atau berbalik ke tren baru,
bisa uptrend maupun downtrend.

Untuk mendapatkan keuntungan dari sideways, biasanya trader akan mencari


konfirmasi breakout atau breakdown dalam bentuk indikator teknikal maupun pola
grafik saham. Selain itu pergerakan dari harga sideways itu sendiri dapat dimanfaatkan
oleh trader dengan strategi yang digunakan.

Pada saat tren sideways, trader cenderung fokus untuk mengidentifikasi saluran harga
dengan tren menyamping. Jika harga telah rebound dari level support dan resistance ,
trader akan mencoba membeli pada saat harga mendekati level support dan menjual
saat harga mendekati level resistance . Untuk meminimalisir kerugian jika
terjadi breakout, cut loss ditempatkan tepat di atas atau bawah kedua level tersebut.

Breakout & False Breakout


Breakout adalah Tembusan, dalam market Crypto Breakout terjadi apabila harga atau
candle menembus harga Support atau Resistance dan terus bergerak kearah yang
sama.

Breakout akan terkonfirmasi apabila 3 candle selanjutnya begitu kuat untuk


membawanya tembus dan melanjutkan trend. Jika Anda ingin entry ke market dengan
menunggu harga breakout sebaiknya menunggu 3 candle selanjutnya, atau Anda bisa
yakin apabila Candle selanjutnya adalah candle Bullish atau Bearish yang panjang
dengan volume dan momentum yang baik.

*Berpikir dan telitilah terlebih dahulu volume dari candle tersebut sebelum anda
mengambil keputusan untuk entry kedalam market, agar mencegah anda menjadi
sangkuters*
Contoh Breakout Downtrend to Uptrend

Contoh Breakout Uptrend to Downtrend

False Breakout adalah Tembusan palsu. False Breakout terjadi ketika harga menembus
tingkat tertentu namun harga segera kembali ke dalam daerah tingkat yang di tembus
sebelumnya. Hal ini terjadi karena kurangnya volume dari candle yang membreakout
support atau resistance dan berakhir pembalikan di candle selanjutnya.
Kita bisa lihat pada gambar diatas terdapat sumbu yang mencoba untuk membreakout
support namun tidak dapat tertembus karena volume bearish/sell tidak mampu
melawan volume bullish/buy yang terus meningkat.

Didalam chart diatas kita dapat melihat 2 candle bearish/sell yang telah menembus
support. Namun ini belum dapat dikonfirmasi breakout, dikarenakan untuk
mengonfirmasi suatu market dikatakan breakout, ialah ketika terdapat 3 candle dengan
volume yang cukup besar dapat menembus support atau resistance dengan sempurna
(masuk kedalam zona aman).

“Cara menghindari false breakout :Tunggu hingga harga menyentuh kembali tingkat
yang baru saja ditembusnya atau tunggu harga menjauh ke posisi yang cukup aman.”
Indicators
Apa itu indikator trading? Indikator dalam trading adalah perhitungan matematis, yang
digunakan sebagai garis pada grafik harga dan dapat membantu traders
mengidentifikasi sinyal dan tren pasar. Indikator utama adalah sinyal perkiraan yang
memprediksi pergerakan harga di masa depan, sementara indikator yang tertinggal
melihat tren masa lalu dan menunjukkan momentum.

Karena ada begitu banyak yang harus dianalisis pada grafik harga, indikator membantu
menyederhanakannya. Inilah sebabnya indikator perlu dipelajari ole h traders pemula.
Traders pemula biasanya mencoba menemukan indikator yang akan menentukan trend
dan pembalikan trend bagi mereka, bukannya mempelajari cara mengidentifikasi tren
pada grafik harga. Trading berbasis indikator bergantung pada indikator untuk
menganalisis harga dan memberikan sinyal perdagangan. Banyak indikator digunakan
untuk membaca sinyal perdagangan tertentu yang mengingatkan traders bahwa
sekarang adalah waktu untuk melakukan trading.

Dalam trading terdapat berbagai macam indicator yang bisa digunakan untuk trading.
Namun ada beberapa indicator yang disarankan/cocok digunakan oleh trader pemula.
Perlu diingat sebelum anda mempelajari indicator alangkah baiknya untuk mempelajari
price action terlebih dahulu. Oke, berikut ini adalah indicator yang sering digunakan oleh
trader.

1. Moving Average(MA)
2. Bollingers Bands
3. MACD
4. Relative Strenght Index(RSI)

Sebenarnya masih ada banyak indicator yang digunakan untuk trading, namun menurut
saya sendiri kelima indicator ini sudah lebih dari cukup untuk trader pemula. Saya akan
menjelaskan dari yang termudah yakni Moving Average(MA) hingga Relative Strenght
Index(RSI).

Indicator Moving Average


Moving Average adalah indikator yang menghitung harga rata-rata suatu aset dalam
periode waktu tertentu, kemudian menghubungkannya dalam bentuk garis. Nilai rata-
rata bisa berasal dari harga pembukaan ( open), penutupan (close ), tertinggi (high),
terendah (low), ataupun pertengahan (median). Moving Average adalah bagian dari
indikator lagging . Artinya, metode ini berlandaskan peristiwa sebelumnya dan
menerangkan informasi mengenai data riwayat pasar. Kegunaannya bukan sebagai alat
prediksi, melainkan memberi konfirmasi.
Sementara itu, pilihan kerangka waktu bisa disesuaikan dengan kebutuhan trader.
Misalnya, periode 5 (1 minggu), 20 (1 bulan), 60 (3 bulan), ataupun 120 (6 bulan). Makin
panjang periode yang dipakai, makin lambat pula pergerakan garis ( lagging )
dibandingkan harga.

Moving Average terbagi menjadi 3 namun saya hanya menjelaskan yang sederhana dulu.

Simple Moving Average (SMA) SMA dihitung dengan rumus Moving Average dasar, yaitu
nilai rata-rata pergerakan harga dalam periode tertentu. SMA merupakan jenis Moving
Average paling sederhana dan paling banyak dimanfaatkan oleh trader, khususnya
SMA-200 Day. SMA-200 Day digunakan oleh berbagai institusi keuangan dan bank-bank
besar sebagai acuan tren jangka panjang, karena Bounce dan Breakout dari SMA-200
Day dianggap sangat signifikan untuk mengetahui tren harga.
Cara menggunakan SMA :

Pair/berpasangan/sejajar

Pada grafik di atas, kita sudah memasang tiga SMA yang berbeda pada grafik 1-jam
USD/CHF. Seperti yang Anda lihat, semakin lama periode SMA, maka semakin tertinggal
harga. Perhatikan bagaimana SMA 62 berada jauh dari harga saa t ini dari 30 dan SMA 5.
Hal ini karena SMA 62 ialah periode yang cukup lama. Semakin lama periode yang Anda
gunakan untuk SMA, maka akan semakin lambat untuk mengikuti pergerakan harga.
SMA pada grafik ini menunjukkan keseluruhan kegiatan pasar pada waktu saat ini/yang
sedang terjadi. Di sini, kita bisa melihat bahwa pair(3 SMA) ini sedang tren. Tak hanya
melihat harga pasar saat ini, moving average bisa memberikan pandangan yang lebih
luas lagi, dan sekarang kita dapat mengukur arah umum harga pada masa d epan.
Dengan menggunakan SMA, kita bisa mengetahui apakah pair sedang tren naik, tren
turun, atau masih baru mulai. Ada satu kelemahan simple moving average, yaitu mereka
rentan terhadap lonjakan harga. Pada saat itu terjadi, maka dapat memberikan kita
sinyal palsu (fake signal). Kita mungkin berpikir bahwa tren baru yang masih dapat
berkembang, tetapi dalam kenyataannya, tidak ada yang berubah.
Indicator Bollinger Bands
Bollinger bands adalah indikator volatilitas. Indikator ini terdiri dari moving
average sederhana, dan 2 garis di plot pada 2 standar deviasi di kedua sisi garis rata-
rata bergerak pusat. Garis luar membentuk band. Sederhananya, ketika band itu sempit,
pasar sepi. Ketika band ini lebar pasarnya ramai

Upper Band Middle Band

Lower Band

Indikator ini terdiri atas tiga garis yang bergerak mengikuti pergerakan harga,
diantaranya adalah upper band, middle band, dan lower band. Band sebelah atas
dinamakan upper bollinger band dan band sebelah bawah dinamakan lower bollinger
band. Sedangkan middle band adalah moving average yang merupakan dasar bagi
perhitungan upper band dan lower band. Biasanya, middle band yang digunakan
adalah simple moving average .

Menentukan posisi saat pasar sedang Sideways


Saat pasar cenderung sideways, maka open position (entry) bisa dilakukan ketika harga
telah melewati (menembus) garis SMA-20 dengan target pada level band terdekat,
maka trader bisa membaca indikator bollinger bands sebagai berikut ini.

o Jika harga menembus level SMA-20 ke arah atas, maka entry dilakukan
saat candle ditutup di atas SMA-20 dengan target close position (exit) ketika
harga mencapai upper band.
o Jika harga menembus level SMA-20 ke arah bawah, maka entry dilakukan
saat candle ditutup di bawah SMA-20 dengan target close position (exit) ketika
harga mencapai lower band.

Menentukan posisi saat pasar sedang trending

Selain bisa digunakan untuk trading forex saat pasar dalam kondisi sideways, indikator
bollinger bands juga bisa digunakan saat pasar dalam kondisi trending , namun dengan
beberapa aturan.

o Kondisi uptrend terjadi bila harga telah melewati (menembus) upper band dan
harga penutupan berada di luar band. Kondisi downtrend terjadi bila harga
melewati lower band dan ditutup di luar band.
o Sebagai konfirmasi, bisa ditentukan dari formasi bar berikutnya. Apabila formasi
bar berikutnya benar-benar di luar band, maka tren telah terbentuk. Selain itu,
perhatian juga bahwa pada kondisi trending , kedua band cenderung bergerak
melebar.

Indicator MACD
Indikator ini diperkenalkan pertama kali oleh Gerald Appeal pada tahun 1979. Dalam
waktu singkat, indikator MACD mendapat respon yang baik dari berbagai kalangan
karena dinilai sederhana dan fleksibel.
Secara umum, indikator MACD juga digunakan untuk:

1. Mengukur kekuatan tren yang sedang terjadi.


2. Menentukan posisi open kapan buy dan kapan sell.
3. Mengukur momentum pasar.
4. Mengetahui kondisi overbought atau oversold.

Bagi kebanyakan trader, trading menggunakan indikator MACD merupakan salah satu
indikator teknikal paling populer yang banyak diandalkan. Dibandingkan indikator lain,
MACD memang tergolong multifungsi, sehingga bisa diandalkan sebagai alat bantu
dalam beberapa jenis strategi trading.

Penggunaan indikator MACD ditandai adanya dua garis EMA (Exponential Moving
Average) berperiode 12 (fast length) dan periode 26 (slow length). Pada chart dapat
dilihat bahwa garis EMA fast length memberi gambaran garis yang lebih detail daripada
garis slow length karena periodenya yang lebih kecil. Biasanya, ruang yang terbentuk
dari dua garis EMA menunjukkan besarnya volume pada histogram. Semakin lebar jarak
yang diciptakan dari dua garis EMA, maka volume pada histogram juga l ebih lebar,
begitupun baliknya.
Jika EMA-12 dan EMA-26 tepat berpotongan (cross), maka :

1. Jika EMA-12 berada di atas EMA-26, nilai MACD positif dan area MACD berada di
atas nol, maka sedang terjadi uptrend.
2. Jika EMA-12 berada di bawah EMA-26, nilai MACD negatif dan area MACD ada di
bawah nol, maka sedang terjadi downtrend.
3. Jika EMA-12 memotong EMA-26, garis sinyal MACD bergerak dari negatif ke
positif, maka trader bisa open posisi "buy".
4. Jika EMA-26 memotong EMA-12, garis sinyal MACD bergerak dari positif ke
negatif, maka trader bisa open posisi “sell”.

Berikut ini adalah cara membaca indicator MACD sesuai dengan fungsi yang diinginkan
trader:

1. Sebagai Penunjuk Arah Trend

Fungsi indikator MACD yang paling utama adalah untuk menunjukkan arah tren dan
momentum pasar. Ketika tren harga sedang naik (uptrend), area MACD berada di zona
positif atau di atas level 0. Sebaliknya, ketika tren harga sedang turun (downtrend), area
MACD berada di zona negatif atau di bawah level 0.
2. Sebagai Penunjuk Entry
Banyak trader juga menggunakan kombinasi indikator MACD dengan Exponential
Moving Average (EMA) untuk mendapatkan konfirmasi entry yang lebih baik. Trader bisa
juga menentukan posisi "buy" atau "sell" dari konfirmasi MACD dan EMA. Untuk buy,
kedua garis EMA harus saling berpotongan (EMA-12 memotong EMA-26) dari bawah ke
atas. Sebaliknya, kedua garis EMA harus saling berpotongan (EMA-26 memotong EMA-
12) dari atas ke bawah jika trader ingin membuka posisi sell.

3. Sebagai Pengukur Momentum


Momentum dapat diketahui dari bentukan batang-batang yang ada di dalam histogram.
Ketika tren baru terbentuk dalam pasar, area MACD pada histogram tampil pendek-
pendek namun semakin membesar. Puncak tren terjadi ketika kekuatan pasar terisi
penuh dan ditandai oleh batang histogram MACD yang tampil paling panjang. Sedangkan
tanda momentum pasar mulai melemah dapat dilihat dari panjang batang yang semakin
memendek pada histogram. Ketika pasar bersiap untuk beralih posisi, area MACD mulai
melandai dan tampak semakin mengecil. Pada akhirnya, pola histogram akan
mengulang siklus yang sama di area berlawanan.
4. Sebagai Oscillator
Pada dasarnya, fungsi ini masih berkaitan dengan kemampuan MACD sebagai pengukur
momentum. Hal ini karena trader masih harus membaca histogram untuk mengetahui
kondisi overbought atau oversold. Mudah saja, trader menggunakan puncak area MACD
di area positif sebagai overbought, serta menggunakan puncak area MACD di area
negative sebagai oversold.

Indicator Relative Strenght Index (RSI)


RSI (Relative Strength Index) adalah indikator teknikal yang mengukur besarnya
perubahan harga dalam periode tertentu untuk menganalisa apakah kondisi di pasar
sudah mencapai jenuh jual (oversold) atau jenuh beli (overbought). Indikator RSI
terutama digunakan untuk mengidentifikasi level oversold dan overbought sebuah aset
investasi, tetapi juga dapat dipakai sebagai penanda munculnya peluang trading. RSI
termasuk indikator teknikal tipe Oscillator yang bersifat leading (mendahului
pergerakan harga).

Nilai indikator RSI akan selalu berfluktuasi antara 0 hingga 100. Umumnya, trader
membaca indikator RSI dengan pedoman:

1. Nilai RSI sebesar 70 atau lebih dari itu, berarti suatu aset telah mengalami jenuh jual
(overbought), sehingga bisa jadi nantinya harga akan berbalik turun atau terkoreksi
(waktunya sell).
2. Nilai RSI sebesar 30 atau lebih rendah lagi, berarti suatu aset te lah mengalami jenuh
beli (oversold), sehingga bisa jadi nantinya harga akan berbalik naik (waktunya buy).
Namun, pergerakan harga tidaklah mutlak sesuai dengan pedoman tersebut. Sinyal
tipu-tipu (false buy/sell signal) bisa sering muncul. Oleh karena itu, penggunaan
indikator RSI sebaiknya didampingi dengan indikator teknikal lain untuk mengonfirmasi
sinyal yang muncul. Alternatif lainnya, trader dapat menerapkan strategi berbeda dalam
membaca indikator RSI.

Alternatif Cara Trading Menggunakan RSI Yang Lebih Akurat


1. Setting Indikator RSI Menggunakan Nilai Ekstrim
Dalam upaya menghindari sinyal aspal dari indikator RSI, sebagian trader menggunakan
nilai ekstrim sebagai basis penilaian kondisi overbought dan oversold. Contohnya
dengan menggunakan nilai di atas 80 sebagai acuan overbought, serta nilai di bawah 20
sebagai acuan oversold. Kelemahannya, dengan default RSI (14), pergerakan di pasar
forex cukup jarang mencapai level-level ekstrim RSI tersebut. Jadi, trader takkan sering
menemui peluang trading yang dapat dimanfaatkan berdasarkan identifikasi kondisi
overbought dan oversold. Solusinya, jangan gunakan default periode RSI (14), melainkan
lebih rendah dari itu, misalnya periode 7.

Sell Signal

Buy Signal

Anda mungkin juga menyukai