0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan30 halaman

Sop Radiologi

Dokumen ini menjelaskan prosedur pemeriksaan radiologi untuk berbagai bagian tubuh, termasuk Os Manus, Wrist Joint, Antebrachi, Elbow Joint, Os Humerus, Shoulder Joint, dan Os Clavicula. Setiap prosedur mencakup pengertian, tujuan, kebijakan, dan langkah-langkah spesifik untuk pelaksanaan pemeriksaan. Semua pemeriksaan dilakukan oleh radiographer dan dibaca oleh spesialis radiologi untuk memastikan akurasi hasil.

Diunggah oleh

pkumayong k3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan30 halaman

Sop Radiologi

Dokumen ini menjelaskan prosedur pemeriksaan radiologi untuk berbagai bagian tubuh, termasuk Os Manus, Wrist Joint, Antebrachi, Elbow Joint, Os Humerus, Shoulder Joint, dan Os Clavicula. Setiap prosedur mencakup pengertian, tujuan, kebijakan, dan langkah-langkah spesifik untuk pelaksanaan pemeriksaan. Semua pemeriksaan dilakukan oleh radiographer dan dibaca oleh spesialis radiologi untuk memastikan akurasi hasil.

Diunggah oleh

pkumayong k3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMERIKSAAN OSSA MANUS

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
Tanggal terbit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….

dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Os Manus adalah pemeriksaan radiologi untuk menilai


kelainan pada Os Manus.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Ossa manus, agar


menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

1. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh


spesialis radiologi

Prosedur A. Postero Postero Anterior

1. Pasien duduk di samping meja pemeriksaan

2. Tangan (manus) di letakkan lateral di atas kaset

3. Telapak tangan menempel kaset

4. Jari –jari lurus

a. Ukuran Film : 18 x 24 atau 24 x 30 cm

b. FFD : 90 – 100 cm

c. CP : Metacarpophalangeal joint digiti III

d. Faktor Eksposi : 40 KV 4 mAs

B. Oblik Postero Anterior

1. Pasien duduk menyamping di ujung meja pemeriksaan

2. Tangan di letakkan lateral di atas kaset

3. Diputar eksorotasi 45° terhadap kaset

4. Jari-jari diatur renggang

1
5. Ujung-ujung jari menempel kaset

a) Ukuran Film : 18 x 24 atau 24 x 30 cm

b) FFD : 90 cm

c) CP : Metacarpophalangeal joint digiti III

d) Faktor Eksposisi : 40 KV 4 mAs

6. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke


ruang rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya.

Unit Terkait Instalasi Radiologi

2
PEMERIKSAAN WRIST JOINT

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
Tanggal terbit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….

dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Wrist Joint adalah pemeriksaan radiologi untuk menilai


kelainan pada Wrist Joint.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Wrist Joint, agar


menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 2. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

3. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Anterio Posterior

1. Pasien duduk di samping meja pemeriksaan

2. Lengan diletakkan diatas meja pemeriksaan dengan posisi


supine

3. Wrist joint diatur true postero anterior di tengah-tengah kaset

4. Kaset horizontal di atas meja pemeriksaan

a) Ukuran Film : 18 x 24 cm

b) FFD : 90 – 100 cm

a) CP : titik tengah antara prosesus styloideus


dan prosesus styloideus ulna tepi
dorsal

b) Faktor Eksposisi : 40 KV 4 mAs

B. Posisi Lateral

1. Pasien duduk menyamping di ujung meja pemeriksaan

2. Sendi siku fleksi 90° lengan bawah dan tangan diletakkan


lateral di atas meja pemeriksaan dengan tepi ulna menempel
3
meja pemeriksaan

3. Wrist joint diatur true lateral di tengah-tengah kaset

4. Kaset horizontal di atas meja pemeriksaan

a) Ukuran Film : 18 x 24 cm

b) FFD : 90-100 cm

c) CP : Prosesus styloideus radius

d) Faktor Eksposisi : 50 KV 4 mAs

5. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang


rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya.

Unit Terkait Instalasi Radiologi

4
PEMERIKSAAN ANTEBRACHI

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Antebrachi adalah pemeriksaan radiologi untuk menilai


kelainan pada Antebrachi

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Antebrachi, agar


menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Posterio Anterior

1. Pasien duduk di samping meja pemeriksaan, bagian lengan


yang difoto diatur terlentang pada film.

2. Lengan bawah terlentang, pergelangan tangan dan sendi siku


masuk film.

3. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm

b) FFD : 90 - 100 cm

c) CP : pada pertengahan lengan bawah

d) Faktor Eksposisi : 40 KV 6 mAs

B. Posisi Lateral

1. Pasien duduk menyamping di ujung meja pemeriksaan, tepi


tangan diatur agar os ulna dekat dengan kaset.

2. Siku diatur 90°, posisi sendi bahu dan kaset horizontal di atas
meja pemeriksaan.

3. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm

b) FFD : 90 - 100 cm

5
c) CP : pertengahan antebrachi tepi radialis

d) Faktor Eksposi : 40 KV 6 mAs

4. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang


rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya.

Unit Terkait Instalasi Radiologi

6
PEMERIKSAAN ELBOW JOINT

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Antebrachi adalah pemeriksaan radiologi untuk menilai


kelainan pada Elbow Joint

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Elbow Joint, agar


menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Antero Posterior

1. Pasien duduk di samping meja pemeriksaan, bagian lengan


yang difoto diatur terlentang pada film.

2. Elbow joint ekstensi penuh dan diposisikan diatas kaset

3. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm dibagi 2

b) FFD : 90 - 100 cm

c) CP : 2.5 cm caudal dari titik tengah epicondylus


lateral dan medialis

d) Faktor Eksposi : 46 KV 6 mAs

B. Posisi Lateral

1. Pasien duduk menyamping di ujung meja pemeriksaan, tepi


tangan yang difoto diatur terlentang pada kaset.

2. Elbow joint difleksikan ± 90º, antebrachi dan manus


diposisikan lateral dengan tepi ulnaris menempel meja
pemeriksaan.

3. Elbow joint diatur true lateral ditengah-tengah kaset.

7
4. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm dibagi 2

b) FFD : 90 - 100 cm

c) CP : epicondylus lateral

d) Faktor Eksposisi : 46 KV 6 mAs

5. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang


rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya.

Unit Terkait Instalasi Radiologi

8
PEMERIKSAAN OS HUMERUS

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Os Humerus adalah pemeriksaan radiology untuk


menilai kelainan pada Os Humerus.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Os Humerus,,


agar menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Anterio Posterior

1. Pasien supine atau erect

2. Os Humerus dan antebrachi lurus, sewdikit abduksi

3. Telapak tangan menghadap ke anterior

4. Os Humerus memanjang pada pertengahan kaset.

Batas atas : Shoulder Joint

Batas bawah : Elbow Joint

5. a) Ukuran Film : 24 x 40 cm

a) FFD : 90 – 100 cm

b) CR : Vertical jika pasien supine

Horisontal jika pasien erect

Arah sinar tegak lurus kaset

c) CP : pertengahan os humerus

d) Eksposisi : 46 KV , 6 mAs

B. Posisi Lateral

1. Posisi pasien supine atau erect.

9
2. Dari posisi AP, tangan diendorotasikan sehingga telapak
tangan menghadap ke posterior

3. Elbow joint agak fleksi

4. Ukuran kaset : 24 x 30 cm

5. a) FFD : 90 – 100 cm

b) CR : Vertical jika pasien supine

Horisontal jika pasien erect

Arah sinar tegak lurus kaset

c) CP : pertengahan Os Humerus

d) Eksposisi : 46 KV , 6 mAs

6. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang


rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya.

Unit Terkait Instalasi Radiologi

10
PEMERIKSAAN SHOULDER JOINT

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Shoulder Joint adalah pemeriksaan radiology untuk


menilai kelainan pada Shoulder Joint.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Shoulder Joint,


agar menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Anterio Posterior

1. Pasien supine atau erect

2. Os Humerus dan antebrachi lurus, sedikit abduksi

3. Telapak tangan menghadap ke anterior

4. Shoulder Joint pada pertengahan kaset.

5. a) Ukuran Film : 24 x 40 cm

b) FFD : 90 – 100 cm

c) CR : Vertical jika pasien supine

Horisontal jika pasien erect

Arah sinar tegak lurus kaset

e) CP : pertengahan shoulder Joint

f) Eksposisi : 46 KV , 6 mAs

B. Posisi Lateral

1. Posisi pasien supine atau erect.

2. Dari posisi AP, lengan diendorotasikan sehingga capit

11
humerus ikut endorotasi.

3. Ukuran kaset : 24 x 30 cm

4. a) FFD : 90 – 100 cm

b) CR : Vertical jika pasien supine

Horisontal jika pasien erect

Arah sinar tegak lurus kaset

c) CP : pertengahan Os Humerus

d) Eksposisi : 46 KV , 6 mAs

5. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang


rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya.

Unit Terkait Instalasi Radiologi

12
PEMERIKSAAN OS CLAVICULA

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Os Clavicula adalah pemeriksaan radiology untuk


menilai kelainan pada Os Clavicula

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Os Clavicula,


agar menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Anterio Posterior


1. Pasien supine atau erect dengan posisi AP

2. Kaset diletakkan dibelakang pasien.

3. Os Clavicula yang akan diperiksa diposisikan dipertengahan


kaset

4. a) Ukuran Film : 30 x 40 cm

b) FFD : 90 - 100 cm

c) CR : 10º ke arah cranial

d) CP : pertengahan os clavicula

e) Eksposisi : 40 KV , 6,4 mAs

5. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang


rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya.

Unit Terkait Instalasi Radiologi

13
PEMERIKSAAN OSSA PEDIS

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Os Pedis adalah pemeriksaan radiology untuk menilai


kelainan pada Os Pedis.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Os Pedis, agar


menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Anterio Posterior

1. Pasien duduk atau supine

2. Genu fleksi, telapak kaki diletakkan diatas kaset yang


horizontal pada meja pemeriksaan.

3. Tungkai yang difoto diatur agar tidak condong ke medial atau


ke lateral, sedangkan tungkai yang tidak difoto lurus.

4. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm

b) FFD : 90-100 cm

c) CR : vertical tegak lurus film

d) CP : basis metatarsal III

e) Eksposisi : 43 KV 6.3 mAs

B. Posisi Medio Lateral

1. Posisi pasien semi supine atau duduk.

2. Telapak kaki yang difoto diletakkan diatas kaset dengan posisi


true lateral, sisi lateral menempel pada kaset.

14
3. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm

b) FFD : 90 - 100 cm

c) CR : vertical tegak lurus film

d) CP : pada navicular-cuneiform region

e) Faktor Eksposi : 40 – 45 KV 6.3 mAs

C. Posisi Antero Posterior Obliq

1. Posisi pasien semi prone atau duduk diatas meja pemeriksaan

2. Genu fleksi, telapak kaki diletakkan diatas kaset yang


horizontal pada meja pemeriksaan.

3. Telapak kaki yang difoto diendorotasi ± 30º

4. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm

b) FFD : 90 cm

c) CR : vertical tegak lurus film

d) CP : pada navicular-cuneiform region

e) Faktor Eksposisi : 43 KV 6.3 mAs

4. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang


rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya

Unit Terkait Instalasi Radiologi

15
PEMERIKSAAN OS CALCANEUS

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Os Calcaneus adalah pemeriksaan radiology untuk


menilai kelainan pada Os Calcaneus.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Os Calcaneus,


agar menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Medio Lateral

1. Posisi pasien semi supine atau duduk.

2. Os Calcaneus yang difoto diletakkan diatas kaset dengan posisi


true lateral, sisi lateral menempel pada kaset.

3. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm

b) FFD : 90 - 100 cm

c) CR : vertical tegak lurus film

d) CP : pada pertengahan Os Calcaneus

e) Faktor Eksposi : 43 KV 6.3 mAs

B. Posisi Axial

1. Pasien duduk diatas meja pemeriksaan

2. Kedua tangan disamping tubuh menyangga berat badan.

3. Os calcaneus yang akan diperiksa diletakkan true AP diatas


kaset

16
4. a) FFD : 90 - 100 cm

b) CR : 10º cranial

c) CP : pertengahan Os calcaneus

d) Eksposisi : 40 KV , 4 mAs

5. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang


rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya

Unit Terkait Instalasi Radiologi

17
PEMERIKSAAN ANKLE JOINT

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Ankle Joint adalah pemeriksaan radiology untuk menilai


kelainan pada Ankle Joint

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Ankle Joint, agar


menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Anterio Posterior

1. Pasien supine atau sitting diatas meja pemeriksaan dengan


kedua tungkai lurus

2. Telapak kaki vertical, tumit menempel kaset.

3. Ankle joint diatur true AP dengan malleolus medialis dan


lateralis berjarak sama dengan kaset.

4. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm

b) FFD : 90 - 100 cm

c) CR : vertical tegak lurus film

d) CP : pertengahan kedua malleolus pada tepi


anterior ankle joint

e) Eksposisi : 40 KV , 6 mAs

B. Posisi Lateral ( medio lateralis)

1. Pasien semi prone atau duduk diatas meja pemeriksaan

2. Tungkai yang difoto diatur true lateral, tungkai yang lain


diletakkan di belakang tungkai yang difoto

18
3. Ankle joint true lateral ( medio lateralis)

4. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm

b) FFD : 90 cm

c) CR : vertical tegak lurus film

d) CP : pertengahan malleolus medialis

e) Eksposisi : 40 KV , 6.3 mAs

5. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang


rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya

Unit Terkait Instalasi Radiologi

19
PEMERIKSAAN KNEE JOINT

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Knee Joint adalah pemeriksaan radiology untuk menilai


kelainan pada Knee Joint.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Knee Joint, agar


menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Anterio Posterior

1. Pasien supine atau duduk diatas meja pemeriksaan

2. Knee Joint yang akan difoto diletakkan true AP dengan cara


mengatur condylus lateral dan medial berjarak sama.

3. Knee Joint diletakkan di pertengahan kaset.

4. a) Ukuran Film : 30 x 40 cm

b) FFD : 90 - 100 cm

c) CR : vertical tegak lurus film

d) CP : pertengahan kedua condylus, 1 cm dibawah


apex patella

e) Eksposisi : 46 KV , 6.3 mAs

B. Posisi Lateral (medio lateral)

1. Pasien semi prone

2. Tungkai dari tungkai yang difoto diatur lateral didepan tungkai

3. Tungkai yang lain, knee joint fleksi diletakkan posterior kaki


yang akan difoto.

4. Knee Joint yang difoto fleksi sedikit untuk memudahkan


pengaturan true lateral, dengan cara mengatur condylus

20
medialis.

5. Knee Joint diletakkan pada pertengahan kaset

6. a) FFD : 90 - 100 cm

b) CR : vertical tegak lurus film

c) CP : condylus medialis

d) Eksposisi : 46 KV , 6.3 mAs

7. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang


rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya

Unit Terkait Instalasi Radiologi

21
PEMERIKSAAN OS FEMUR

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Os Femur adalah pemeriksaan radiology untuk menilai


kelainan pada Os Femur.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Os Femur, agar


menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Anterio Posterior

1. Pasien tidur terlentang di meja pemeriksaan kedua tungkai


lurus.

2. Tungkai atas yang akan difoto diatur sejajar meja pemeriksaan,


SIAS kanan dan kiri berjarak sama terhadap meja
pemeriksaan.

3. Lutut diatur lurus sehingga condylus lateralis dan medialis


berjarak sama terhadap meja pemeriksaan.

4. a) Ukuran Film : 30 x 40 cm

b) FFD : 90 cm

c) CR : vertical tegak lurus film

d) CP : titik bidik pada pertengahan tulang


paha

e) Eksposisi : 50 KV, 8 mAs

B. Posisi Lateral

1. Pasien tidur miring di atas meja pemeriksaan dengan tepi yang


akan difoto menempel kaset

2. Lutut sedikit ditekuk persendian kaki diganjal spon dan di atas

22
tungkai bawah diletakkan sand bag untuk imobilisasi

3. Lutut yang tidak difoto, fleksi dan rotasi ke arah mediolateral

4. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm

b) FFD : 90 cm

c) CR : vertical tegak lurus film

d) CP : pertengahan os femur

e) Faktor Eksposisi : 50 KV, 8 mAs

5. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang rawat


inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis radiologi dan
diberikan pasien pada hari berikutnya

Unit Terkait Instalasi Radiologi

23
PEMERIKSAAN PELVIS

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Pelvis adalah pemeriksaan radiology untuk menilai


kelainan pada Pelvis.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Pelvis


menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Anterio Posterior

1. Pasien supine di atas meja pemeriksaan, dengan mid sagital


plane tubuh tepat di tengah meja pemeriksaan dan kaset.

2. Kedua tangan diletakkan diatas dada, kedua kaki diekstensikan


sejajar dengan tubuh sehingga pelvis tidak berotasi.

3. a) Ukuran Film : 35x 35 cm dengan Grid

b) FFD : 90 - 100 cm

c) CR : vertikal tegak lurus film

d) CP : 5 cm inferior ASIS

e) Eksposisi : 80 KV 20 mAs

4. Pemeriksaan selesai, pasien pulang atau kembali ke ruang


rawat inap, radiograf dibacakan kepada dokter spesialis
radiologi dan diberikan pasien pada hari berikutnya

Unit Terkait Instalasi Radiologi

24
PEMERIKSAAN CRANIUM

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Pemeriksaan Cranium adalah pemeriksaan radiology untuk menilai


kelainan pada Cranium.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Cranium, agar


menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh


radiographer

2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh


spesialis radiologi

Prosedur A. Posisi Anterio Posterior

1. Pasien supine di atas meja pemeriksaan,


dengan mid sagital plane tubuh tepat di tengah meja
pemeriksaan.

2. Kepala ditundukkan sehingga orbito meatal


line (OML) tegak lurus dengan meja pemeriksaan, tidak ada
torsi (miring)

3. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm
dengan grid

b) FFD : 90 – 100 cm

c) CR : tegak lurus film

d) CP : Glabella

e) Eksposisi : 80 KV

20 mAs

B. Posisi Lateral Kanan

1. Pasien semi prone di atas meja pemeriksaan, sisi kanan dekat


film, tangan kana nada di belakang tubuh, kaki kiri menekuk di

25
atas kaki kanan

2. Kepala dirotasikan ke arah kanan, sehingga MSP kepala


parallel dengan bidang film. Untuk menjaga agar bagian
kepala belakang tidak terpotong, maka dagu ditarik ke dalam.

3. a) Ukuran Film : 24 x 30 cm dengan grid

b) FFD : 90 – 100 cm

c) CR : vertical tegak lurus kaset

d) CP : sell tursica

e) Eksposisi : 80 KV

20 mAs

Unit Terkait Instalasi Radiologi

26
PEMERIKSAAN THORAX

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….

dr. Hj. Titik Sumarni


Pengertian Pemeriksaan Thorax adalah pemeriksaan radiology untuk menilai
kelainan pada Thorax.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan Thorax, agar


menghasilkan pemeriksaan radiografi yang benar, sehingga dapat
terhindar dari kesalahan prosedur.

Kebijakan 1. Pemeriksaan X-Ray tanpa kontras dilaksanakan oleh radiographer


2. Pembacaan foto atau ekspertise dilakukan oleh spesialis radiologi

Prosedur A. Postero Anterior

1. Pasien berdiri membelakangi Tube Rontgent, menghadap


standar kaset. Kaset di depan dada.

2. Tangan bertolak pinggang dengan punggung tangan menempel


pinggang, bahu didorong ke depan

3. Apex dan sinus Phrenicus Costalis tidak terpotong, MSP pada


pertengahan kaset

B. AP Pasien Supine

1. Pasien tidur terlentang di atas brangkart

2. Tangan lurus di samping tubuh

3. Apex dan Sinus Phrenicus Costalis tidak terpotong. MSP pada


pertengahan kaset

27
C. AP Pasien Duduk

1. Pasien duduk pada kursi roda/brangkart

2. Tangan lurus di samping tubuh

3. Apex dan Sinus Phrenicus Costalis tidak terpotong. MSP pada


pertengahan kaset

D. Lateral

1. Pasien berdiri menghadap samping pada sisi yang diperiksa

2. Sisi yang diperiksa menempel kaset

3. Kedua tangan ke atas, siku ditekuk dengan lengan bawah


menjepit kepala

4. Apex dan Sinus Phrenicus Costalis tidak terpotong

5. a) Ukuran Film : AP & PA 30 x 35 cm, Lateral 30x40 cm

b) FFD : 150 cm

c) CP : tegak lurus kaset menuju Thorakal IV

d) Grid : (+)

e) Eksposisi : AP/PA : 54 KV , 6.4 mAs

Pada saat pasien inspirasi penuh

Unit Terkait Instalasi Radiologi

28
PERSIAPAN BAGI PASIEN UNTUK PEMERIKSAAN USG DI
INSTALASI RADIOLOGI

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU ………. ………. ……….
MUHAMMADIYAH
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR
Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Agar organ tubuh yang akan diperiksa dapat terlihat lebih jelas, maka
pada pemeriksaan USG trtentu, pasien perlu persiapan untuk
pemeriksaan tersebut.

Tujuan Sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan USG

Kebijakan Pemeriksaan USG di Inst. Radiology dilakukan oleh dokter spesialis


radiologi

Prosedur 1. Untuk USG abdomen pasien puasa ± 6 jam sebelum pemeriksaan

2. Untuk hal-hal tertentu diperlukan diet rendah lemak 2-3 hari

3. Untuk USG ginjal pasien minum air putih yang banyak sehingga
bagian Blass agak penuh. Untuk yang memakai kateter, di klem ±
2 jam

Unit Terkait  Instalasi Radiologi

 Ruang Rawat Inap

 Instalasi Rawat Jalan

29
PROTEKSI RADIASI

No. Dokumen No. Revisi Halaman


RS PKU
MUHAMMADIYAH ………. ………. ……….
MAYONG
Ditetapkan
Direktur RS PKU Muhammadiyah
STANDAR Tanggal terbit
OPERASIONAL
PROSEDUR ……….
dr. Hj. Titik Sumarni

Pengertian Proteksi radiasi adalah upaya yang dilakukan oleh petugas radiasi agar
dalam melaksanakan tugasnya dapat menekan dosis radiasi serendah
mungkin.

Tujuan Sebagai pedoman petugas radiasi agar dalam melaksnakan tugasnya


selalu ingat prinsip dasar proteksi radiasi.

Kebijakan Petugas radiasi selalu memakai film badge.

Prosedur 1. Petugas radiasi selalu memakai film badge

2. Semua ruangan X-Ray dilapisi dengan Pb atau tembok yang


ketebalan setara dengan Pb 2 mm dan ada lampu merah sebagai
petanda

3. Setiap pesawat dilengkapi dengan kalimator, untuk menghindari


radiasi yang tidak perlu

4. Pemeriksaan kesehatan rutin minimal : setahun sekali

5. Izin pemakaian sumber radiasi diperpanjang setiap dua tahun


sekali

6. Petugas dalam melaksanakan tugasnya, ingat prinsip dasar


proteksi radiasi

Unit Terkait  Instalasi Radiologi

 Tim medis

30

Anda mungkin juga menyukai