BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengelasan SMAW telah digunakan sejak abad ke-19 dan tetap menjadi
metode pengelasan yang populer hingga saat ini. Metode ini dikembangkan untuk
menghadapi kebutuhan industri yang kompleks seperti produksi kapal konstruksi
jembatan fabrikasi baja dan berbagai aplikasi industri [Link] satu
keunggulan utama pengelasan SMAW adalah kesederhanaan dan fleksibilitasnya.
Proses ini relatif mudah dipelajari dan tidak memerlukan peralatan yang mahal
atau rumit. Elektroda yang digunakan dalam SMAW memiliki fluks yang meleleh
saat dipanaskan memberikan perlindungan dari udara dan kontaminan atmosfer
lainnya. Akibatnya pengelasan SMAW bisa dilakukan di lingkungan terbuka
tanpa memerlukan gudang inert gas.
Keunggulan lainnya adalah fleksibilitas pengelasan SMAW dalam
mengelas berbagai jenis logam termasuk baja karbon baja tahan karat baja nirkarat
besi tuang dan banyak lagi. Ini menjadikannya pilihan yang ideal untuk berbagai
proyek konstruksi dan perbaikan,Namun ada beberapa keterbatasan dari
pengelasan SMAW. Proses ini memiliki kecepatan pengelasan yang relatif lambat
dan tidak cocok untuk pengelasan logam-tipis dan tipis karena cenderung
meninggalkan penempaan yang lebih besar dan panas yang berlebihan. Selain itu
kemampuan mengelas SMAW juga terbatas pada posisi pengelasan yang terbatas
seperti pengelasan horizontal atau vertikal.
1
2
Meskipun keterbatasan ini pengelasan SMAW tetap menjadi salah satu
metode pengelasan yang paling sering digunakan di berbagai industri. Dengan
melibatkan penggunaan elektroda berlapis yang dilapisi dengan fluks SMAW
dapat menghasilkan pengelasan yang kuat tahan lama dan dapat diandalkan untuk
berbagai aplikasi. Keandalannya selama bertahun-tahun telah membuktikan nilai
pentingnya dalam menciptakan struktur peralatan dan produk berkualitas tinggi.
Baja karbon rendah SS400 adalah salah satu jenis baja struktural yang
sering digunakan dalam berbagai aplikasi manufaktur dan kontruksi. Baja SS400
memiliki karakteristik utama yaitu kekuatan tarik yang tinggi ketangguhan yang
baik dan kekuatan lentur yang baik. Baja ini tergolong dalam kategori baja karbon
rendah dengan kandungan karbon kurang dari 0.25%.Salah satu permasalahan
yang dihadapin adalah memastikan keseimbangan antara kekuatan tarik dan
kekerasan materia. Baja karbon rendah SS400 sering digunakan dalam aplikasi
yang membutuhkan kekuatan tarik yang tinggi namun resiko kekerasan yang
tinggi juga dapat menyebabkan retakan atau patah pada material.
Pada penelitian ini penulis menggunakan material Baja karbon rendah
SS400 dengan menggunakan 2 polaritas arus pengelasan baik DCEP (Direct
Current Elektroda Positif) dan DCEN (Direct Current Elektroda Negatif) yang
bertujuan untuk mengetahui perbandingan ketangguhan pada sambungan material
las setelah dilakukan pengelasan dengan menggunakan arus 100A, juga
menggunakan elektroda E6013 dengan ukuran elektroda 2,6m. Penggunaan
polaritas pengelasan DCEP (Direct Current Elektroda Positif) dan DCEN (Direct
Current Elektroda Negatif) sangat mempengaruhi pada ketangguhan sambungan
3
[Link] karena itu, peneliti tertarik untuk mengangkat judul “ Perbandingan
Polaritas DCEP (Direct Current Elektroda Positif) dan DCEN (Direct Current
Elektroda Negatif) Dengan Elektroda E6013 Terhadap Kekuatan Tarik”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini asalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perbandingan polaritas DCEP (Direct Current Elektroda
Positif) dan DCEN (Direct Current Elektroda Negatif) dengan arus
100A terhadap pengujian tarik pada Elektroda E6013?
2. Apakah terdapat perbandingan signifikat dalam pengujian tarik antara
penggunaan polaritas DCEP (Direct Current Elektroda Positif) dan
DCEN (Direct Current Elektroda Negatif) dengan arus 100A pada
Elektroda E6013?
1.3 Batasan Masalah
Dalam permasalahan penelitian ini penulis memberikan batasan masalah
agar menghindari terjadinya pembahasan yang terlalu jauh dan menyimpang dari
pokok pembahasan, adapun batasan masalah sebagai berikut:
1. Material yang digunakan penelitian adalah Baja karbon rendah SS400
dengan ketebalan 5mm.
2. Material yang akan di las menggunakan elektroda E6013 dengan kuat
arus 100A.
4
3. Pengelasan akan dilakukan dengan pengelasan SMAW (Shielded
Metal Arc Welding).
4. Uji tarik dilakukan dengan mesin uji tarik.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kekuatan uji tarik dengan perbandingan polaritas
DCEP (Direct Current Elektroda Positif) dan DCEN (Direct Current
Elektroda Negatif) pada material Baja karbon rendah SS400.
2. Untuk mengetahui kekuatan uji tarik pada sambungan las dengan
Elektroda E6013 dengan arus 100A pada Baja karbon rendahSS400.
3. Untuk mengetahui seberapa pengaruhnya polaritas DCEP (Direct
Current Elektroda Positif) dan DCEN (Direct Current Elektroda
Negatif) dengan Elektroda E6013 pada arus 100A pada sambungan las.
1.5 Manfaat Penelitian
Sebagai peran nyata dalam pengembangan teknologi khususnya
pengelasan, maka penulis berharap dapat mengambil manfaat dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Untuk menambah ilmu pengetahuan di bidang pengelasan, khususnya
bagi penulis.
2. Sebagai literatur pada penelitian yang sejenisnya dalam rangka
pengembangan teknologi khususnya bidang pengelasan.
5
3. Sebagai informasi penting guna meningkatkan ilmu pengetahuan bagi
peneliti dalam bidang pengujian bahan, kekuatan las dan bahan teknik.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengelasan
Pengelasan adalah proses menyambung dua atau lebih benda logam
dengan menggunakan panas yang tinggi untuk melelehkan logam dasar dan
menambahkan bahan pengisi (logam atau non-logam) yang mengisi celah antara
kedua benda tersebut. Tujuan dari pengelasan adalah untuk menciptakan
sambungan yang kokoh dan permanen antara benda-benda logam tersebut.
Pengelasan biasanya dilakukan dengan menggunakan sumber panas seperti api
gas listrik atau sinar laser. Proses ini melibatkan pemanasan logam dasar hingga
mencapai titik lebur atau titik plastisitasnya sehingga logam tersebut menjadi cair
atau dapat diformulasikan[5].
Selama proses pengelasan bahan pengisi biasanya ditambahkan ke celah
antara dua benda logam yang akan disambung. Bahan pengisi ini dapat berupa
kawat las elektroda las atau bahan lain yang memiliki sifat fisik dan kimia yang
sesuai dengan logam dasar yang akan disambung. Pada akhirnya logam dasar dan
bahan pengisi yang meleleh akan mendingin dan membentuk sambungan baru
yang kuat. Proses ini menghasilkan sambungan logam yang memiliki kekuatan
mekanik yang tinggi dan tahan terhadap beban panas dan tekanan.
Pengelasan digunakan dalam berbagai industri dan aplikasi mulai dari
fabrikasi dan konstruksi logam hingga pembuatan kendaraan peralatan industri
6
7
dan instalasi pipa. Metode pengelasan yang digunakan dapat beragam tergantung
pada jenis logam ketebalan logam dan kebutuhan spesifik dari proyek atau
aplikasi tertentu, Selama proses pengelasan beberapa elemen utama yang terlibat
antara lain:
1. Sumber Panas: Sumber panas yang umum digunakan adalah busur listrik
gas atau laser. Ini digunakan untuk memanaskan material logam hingga
titik lelehnya.
2. Elektroda atau Bahan Pengisi: Dalam beberapa metode pengelasan seperti
pengelasan listrik atau pengelasan busur listrik elektroda digunakan untuk
menghasilkan panas dan melapisi area sambungan dengan bahan pengisi.
Bahan pengisi memberikan tambahan logam yang diperlukan untuk
membentuk sambungan yang kuat.
3. Gas Pelindung: Dalam beberapa jenis pengelasan seperti pengelasan TIG
(Tungsten Inert Gas) atau MIG (Metal Inert Gas gas pelindung digunakan
untuk melindungi daerah sambungan.
Berikut adalah beberapa jenis pengelasan yang umum digunakan:
1. Pengelasan Listrik (Electric Arc Welding): Ini adalah metode pengelasan
yang paling umum digunakan. Pengelasan busur listrik melibatkan
penggunaan panas tinggi yang dihasilkan oleh arus listrik yang dilewatkan
melalui elektroda memanaskan dan mencairkan logam dalam proses
pengelasan. Metode ini dapat dibagi lagi menjadi sub-kategori seperti
pengelasan busur terproteksi (Shielded Metal Arc Welding/SMAW
pengelasan busur gas terproteksi (Gas Metal Arc Welding/GMAW dan
8
pengelasan busur terproteksi gas reaktif (Gas Tungsten Arc
Welding/GTAW).
2. Pengelasan Gas (Gas Welding): Metode ini melibatkan penggunaan panas
yang dihasilkan oleh nyala api gas dan oksigen untuk mencairkan logam
yang akan disambungkan. Pengelasan gas sering digunakan untuk
pengelasan pipa perbaikan kecil dan konstruksi logam tipis.
3. Pengelasan Tungku (Forge Welding): Metode ini melibatkan pemanasan
logam secara langsung di dalam tungku atau peleburan dan penyambungan
logam tersebut pada suhu tinggi. Hal ini memungkinkan logam untuk
mencapai suhu leleh yang diperlukan untuk penggabungan dan dapat
dilakukan baik dengan tangan atau dengan alat khusus.
4. Pengelasan Percikan (Spot Welding): Metode ini digunakan untuk
menyambungkan bagian logam tertentu dengan membuat titik titik
pengelasan yang kuat menggunakan arus tinggi. Spot welding biasanya
digunakan dalam industri otomotif untuk menyambungkan panel-panel
bodi kendaraan.
5. Pengelasan Geser (Friction Welding): Metode ini melibatkan gesekan dan
tekanan yang melahirkan panas antara dua logam yang akan
disambungkan dan kemudian menghasilkan penyambungan dengan
melarutkan dan mencampurkan logam secara terlokalisasi. Pengelasan
geser umumnya digunakan dalam industri otomotif penerbangan dan
manufaktur logam lainnya. Inilah beberapa macam pengelasan umum yang
sering digunakan dalam berbagai aplikasi industri. Setiap teknik
9
pengelasan memiliki kelebihan dan kelemahan serta membutuhkan
keterampilan khusus dan pengetahuan tentang logam yang akan
disambungkan untuk mencapai hasil pengelasan yang berkualitas.
2.2. Klasifikasi Cara Pengelasan.
Sampai pada waktu ini banyak sekali cara-cara yang digunakan dalam
bidang las, ini disebabkan karena belum adanya kesepakatan dalam hal tersebut.
Secara konvensional cara-cara tersebut pada waktu ini dapat dibagi dalam dua
golongan, yaitu klasifikasi berdasarkan cara kerja dan klasifikasi berdasarkan
energi yang digunakan. Klasifikasi pertama membagi las dalam kelompok las cair,
las tekan, las patri. Sedangkan klasifikasi yang kedua membedakan adanya
kelompok-kelompok seperti las listrik, las kimia, las mekanik dan seterusnya[3].
Berdasarkan klasifikasi cara kerja pengelasan dapat dibagi dalam tiga kelas
utama yaitu :
1. Pengelasan cair (welding) adalah proses penyambunag sebuah logam
dimana untuk menyambungkan logam pertama-tama dipanasi sampai
logam tersebut mencair, mencairnya logam tersebut diakibatkan dari panas
yang berasal dari busur listrik.
2. Pengelasan tekan (grazing) adalah proses penyambungan sebuah logam
dimana logam tersebut pertama-tama dipanaskan lalu setelah logam
tersebut mencari kemudian diberikan tekanan hingga kedua logam tersebut
menyatu.
10
3. Pematrian (soldering) adalah proses penyambungan sebuah logam dimana
logam pada sambunganya diberi logam yang mempunyai titik cair yang
lebih rendah dari logam yang akan disambung, sehingga logam induk yang
akan di sambung tidak mencair.
Diantara kedua cara klasifikasi tersebut di atas, kelihatannya klasifikasi
berdasarkan cara kerja lebih banyak digunakan, karena itu pengklasifikasian yang
diterangkan berdasarkan pada cara kerja dapat dilihat pada gambar:
Gambar 2.1 Klasifikasi Pengelasan
Sumber : Wiryosumarto, Harsono dan Okumura, T. 2000. Teknologi Pengelasan Logam.
Jakarta:Pradnya Paramita.
11
2.3. Las SMAW (Shielded Metal Arc Welding)
Pengertian las SMAW (Shielded Metal Arc Welding) adalah salah satu
metode penyambungan logam yang menggunakan elektroda berlapis yang
dilindungi oleh fluks. Metode ini juga dikenal dengan sebutan las busur manual
atau las busur [Link] las SMAW elektroda digunakan sebagai material
pengisi dan konduktor arus listrik. Arus listrik dialirkan melalui elektroda
menciptakan busur listrik yang sangat panas antara ujung elektroda dan logam
yang akan disambungkan. Panas yang dihasilkan oleh busur ini melelehkan
elektroda logam dasar dan fluks yang melapisi elektroda.
Fluks pada elektroda berfungsi untuk melindungi daerah las dari
lingkungan oksidasi menghilangkan kontaminan dari permukaan logam dan
memberikan tambahan elemen kimia yang dapat meningkatkan kekuatan dan sifat
mekanik sambungan. Ketika fluks meleleh ia membentuk lapisan perlindungan
yang berfungsi mengurangi oksidasi mencegah serpihan logam terlepas dan
membantu membentuk sambungan yang kuat.
Proses las SMAW sering digunakan dalam industri konstruksi perbaikan
dan fabrikasi logam. Metode ini sangat fleksibel dan dapat digunakan untuk
menyambung berbagai jenis logam termasuk baja karbon baja tahan karat besi cor
dan paduan [Link] las SMAW relatif mudah dilakukan dan tidak
memerlukan peralatan yang rumit diperlukan keahlian dan pengalaman untuk
menghasilkan sambungan yang berkualitas. Operator las harus memperhatikan
kecepatan las sudut elektroda dan ketebalan material yang akan dilas untuk
mencapai hasil [Link] keseluruhan las SMAW adalah metode yang umum
12
digunakan untuk menyambung logam terutama dalam situasi di mana akses
terbatas atau lingkungan yang sulit
Gambar 2.2 Pengelasan SMAW (Shielded Metal Arc Welding)
2.4. Elektroda
Elektroda las SMAW terdiri dari dua komponen utama yaitu inti logam
dan lapisan fluks. Inti logam terbuat dari material yang akan digabungkan
sedangkan lapisan fluks berfungsi untuk melindungi busur las dari udara dan gas
atmosfer yang berpengaruh pada proses pengelasan. Lapisan fluks pada elektroda
SMAW juga berperan dalam membersihkan permukaan benda kerja menghasilkan
gas pelindung serta mengatur peleburan logam.
Lapisan fluks pada elektroda SMAW memiliki beberapa fungsi penting.
Pertama fluks bertindak sebagai agen pelindung yang melindungi busur las dan
titik pengelasan dari udara dan gas atmosfer yang dapat menyebabkan
kontaminasi dan cacat pada sambungan las. Selain itu lapisan fluks juga berperan
dalam membersihkan permukaan benda kerja dari oksida dan kotoran yang dapat
13
mengganggu kualitas pengelasan. Fluks juga dapat menghasilkan gas pelindung
yang membantu mengurangi kontaminasi dan mempengaruhi kondisi lingkungan
di sekitar titik pengelasan.
Pemilihan jenis elektroda las SMAW yang tepat sangat penting dalam
mencapai hasil pengelasan yang baik. Faktor seperti jenis material ketebalan
material kondisi lingkungan dan kekuatan yang diinginkan akan mempengaruhi
pilihan elektroda yang sesuai. Setiap jenis elektroda memiliki karakteristik yang
berbeda dalam hal penetrasi kekuatan kecepatan las dan kualitas akhir sambungan
las. Oleh karena itu operator pengelasan perlu memahami karakteristik elektroda
yang digunakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Pengelasan dengan elektroda las SMAW memiliki kelebihan dan
kelemahan. Kelebihan utama adalah kesederhanaan proses keserbagunaan dalam
berbagai kondisi lingkungan dan kemampuan untuk mengelas material dengan
ketebalan yang bervariasi. Namun kekurangan utama adalah produktivitas yang
lebih rendah dibandingkan dengan metode pengelasan lain yang lebih otomatis
serta perlunya keahlian operator pengelasan yang baik untuk menghasilkan
sambungan las yang berkualitas.
Secara keseluruhan elektroda las SMAW adalah salah satu jenis elektroda
las yang umum digunakan dalam proses pengelasan SMAW. Dengan pemilihan
elektroda yang tepat dan perhatian terhadap kondisi lingkungan dan persyaratan
pengelasan elektroda las SMAW dapat memberikan sambungan las yang kuat
dengan kualitas yang baik
14
Gambar 2.3 Kawat Las Elektroda
2.5. Klasifikasi Elektroda dan Fluks.
1. Klasifikasi Elektroda
Elektroda baja lunak dan baja paduan rendah untuk las busur listrik menurut
klasifikasi AWS (American Welding Socienty) dinyatakan dengan tanda
EXXXX yang artinya sebagai berikut:
AWS EXXXX-X
Gambar 2.4 Arti dan Simbol Elektroda
AWS : American Welding Society
EXXXX : E adalah sebuah elektroda
E60 : 60 adalah kekuatan tarik elektroda
E601X : 1 adalah posisi pengelasan
E601X : digit yang terakhir adalah kode untuk jenis fluk coating yang
Digunakan.
15
E6010 : 0 Adalah Cellulose-Sodium
E6011 : 1 Adalah Cellulose-Pottasium
E6012 : 2 Adalah Titania-Sodium
E6013 : 3 Adalah Titania-Pottasium
E6014 : 4 Adalah Iron Powder-Titania
E6015 : 5 Adalah Hidrogen Lime-Sodium
E6016 : 6 Adalah Low Hidrogen Lime-Sodium
E6017 : 7 Adalah Iron Oxcid Plus-Iron Powder
E6018 : 8 Adalah Low Hidrogen Lime-Iron Powder.
EXXXX-15 : 15 Adalah Lapisannya mengandung CaO dan TiO2
EXXXX-16 : 16 Adalah Lapisannya mengandung TiO dan K2O
EXXXX-17 : 17 Adalah Lapisannya mengandung CaO,TiO2, K2O, SiO, O
SiO2.
Tabel 2.1 Spesifikasi Elektroda Baja Lunak (AWS A5.1 64T)
Kualifikasi Kekuatan Kekuatan
Posisi Jenis Listrik Perpanjangan
AWS- Jenis Fluks Pengelasan * **
Tarik Luluh
(%)
ASTM (Mpa) (Mpa)
E6010 High Cellulose F,V,OH,H DC(+) 510 530 27
E6013 High Tytania F,V,OH,H AC/DC(+) 510 450 25
E6019 Llmeenit F,V,OH,H AC/DC(+) 460 410 32
E7016 Low Hidrogen F,V,OH,H AC/DC(+) 570 500 32
Iron
E7018 Powder/Low F,V,OH,H AC/DC(+) 560 500 31
Hidrogen
Iron
E7024 H-S,F AC/DC(+) 540 480 29
Powder/Tytania
Catatan *: Arti Simbol F=Datar, V=Vertikal,OH=Atas
Kepala,H=Horizontal,H-S=Las sudut horizontal
*: Arti Simbol; (+) Polaritas Balik,(-) Polaritas Lurus,
(+) Polaritas Ganda.
16
Hubungan diameter elektroda dengan arus pengelasan menurut dapat dilihat pada
tabel di bawah ini [13]:
Tabel 2.2 Hubungan diameter elektroda dengan Arus pengelasan
Diameter elektroda (mm) Arus (Ampere)
1,5 20-40
2.0 30-60
2,6 40-80
3,2 70-120
4,0 120-170
5,0 140-230
2. Fluksi
Fluksi merupakan pembungkus elektroda yang sangat diperlukan untuk
meningkatkan mutu sambungan karna fluksi bersifat melindungi metal cair dari
udara bebas serta menstabilkan busur. Terdapat 2 macam fluksi sesuai dengan
pembuatannya :
1. Fused Fluksi
Fused Fluksi adalah terbuat dari campuran butir-butir meterial seperti
mangan,kapur,boxit,kwarsa dan fluorpa didalan suatu tungku
[Link] terak yang terbentuk akan diubah ke dalam bentuk fluksi
dengan cara :
17
1. Dituangkan disuatu cetakan dalam bentuk beberapa lapis/susunan yang
tebal kemudian dipecahkan serta disaring sesuai dengan ukuran butiran
yang diiinginkan.
2. Dari kondisi panas dituangkan ke dalam air, sehingga timbul percikan
percikan yang kemudian di saring sesuai keinginannya. Metode ini lebih
efisien, tetapi kualitas fluksi yang dihasilkan mengandung hidrogen yang
cukup tinggi yang memerlukan proses lebih lanjut untuk mengurangi
kadar hidrogen.
2. Bonded Fluksi
Bonded Fluksi ini merupakan terbuat dari pabrik dengan jalan
mencampur butiran-butiran material yang ukurannya jauh lebih halus
seperti mineral, ferroalloy,water glass sebagai pengikat dalam suatu
pengaduk (mixer) yang khusu. Campuran tersebut kemudian akan
dikeringkan dalam suatu pengering yang berputar pada temperatur 6000-
8000 ºC.
2.6. Parameter pengelasan.
Kestabilan dari busur api yang terjadi pada saat pengelasan merupakan
masalah yang paling banyak terjadi dalam proses pengelasan dengan las SMAW
oleh karena itu kombinasi dari arus listrik (I) yang dipergunakan dan tegangan (V)
harus benar-benar sesuai dengan spesifikasi kawat elektroda dan fluksi yang
dipakai[5].
18
Parameter pengelasan yang harus diperhatikan dalam proses pengelasan
adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh dari arus lisrik (I)
Setiap kenaikan arus listrik yang dipergunakan pada saat pengelasan akan
meningkatkan penetrasi serya memperbesar kuantiti lasnya. Penetrasi akan
meningkat 2 mm per 100A dan kuantiti las meningkat juga 1,5 Kg/jam per
100A.
2. Pengaruh dari tegangan listrik (V)
Setiap peningkatan tegangan listrik (V) yang dipergunakan pada proses
pengelasan akan semangkin memperbesar jarak antara tepi elektroda dengan
material yang akan dilas, sehingga busur api yang terbentuk akan menyebar
dan mengurangi penetrasi pada meterial las. Komsumsi fluksi yang
dipergunakan akan meningkat 10% pada setiap kenaikan 1 V tegang.
3. Pengaruh kecepatan pengelasan.
Jika kecepatan awal pengelasan dimulai pada kecepatan 40cm/menit setiap
pertambahan kecepatan akan membuat bentuk jalur las yang kecil (Welding
Bead), penetrasi, lebar serta kedalaman las pada benda kerja akan berkurang.
Tetapi jika kecepatan pengelasannya berkurang dibawah 40cm/menit cairan
las yang terjadi dibawah busur api las akan menyebar serta penetrasi yang
dangkal.
4. Pengaruh Polaritas Arus DCEP dan DCEN.
1. Polaritas DCEP (Direct Current Elektroda Positif)
19
Busur listrik bergerak dari material dasar ke elektrode dan tumbukan
elektron berada di elektrode yang berakibat 2/3 panas berada di elektroda dan 1/3
panas berada di material dasar. Polaritas DCEP menghasilkan pencairan elektroda
lebih banyak sehingga hasil las mempunyai penetrasi dangkal[12].
Gambar 2.5 Polaritas DCEP
2. Polaritas DCEN (Direct Current Elektroda Negatif).
Busur listrik pada pengelasan stick welding bergerak dari elektrode ke
material dasar sehingga tumbukan elektron berada di material dasar yang
berakibat 2/3 panas berada di material dasar dan 1/3 panas berada di elektroda.
Pada polaritas DCEN menghasilkan pencairan material dasar lebih banyak
dibanding elektrodanya sehingga hasil las mempunyai penetrasi yang dalam[12].
20
Gambar 2.6 Polaritas DCEN
2.7. Baja Karbon
Baja karbon adalah sejenis material konstruksi yang terbuat dari besi dengan
penambahan karbon sebagai elemen paduan utama. Penggunaan karbon dalam
baja memberikan kekuatan dan kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
baja biasa. Landasan teori tentang baja karbon berkaitan dengan komposisi
properti mekanik dan berbagai jenis yang tersedia.
Baja karbon memiliki kadar karbon yang berbeda-beda yang memberikan
pengaruh signifikan terhadap sifat-sifatnya. Umumnya baja karbon memiliki
kadar karbon kurang dari 2%. Komposisi lain yang umum di dalam baja karbon
mencakup unsur-unsur seperti Si, Mn, P, S dan Cu. Baja karbon dengan kadar
karbon yang lebih tinggi cenderung memiliki kekerasan dan kekuatan tarik yang
lebih tinggi tetapi memiliki nilai keuletan yang lebih rendah (Wiryosumarto
2004). Baja karbon dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :
1. Baja Karbon Rendah (Low Carbon Steel):
Baja karbon rendah memiliki kadar karbon yang relatif rendah yaitu kurang
dari 02%. Jenis baja ini umumnya memiliki kekuatan tarik yang lebih rendah
tetapi keuletan yang baik. Baja karbon rendah digunakan dalam aplikasi yang
membutuhkan keuletan tinggi seperti pelat peralatan otomotif dan tangki bahan
bakar.
21
Gambar 2.7 Contoh Baja Karbon Rendah
2. Baja Karbon Menengah (Medium Carbon Steel):
Baja karbon menengah memiliki kadar karbon antara 0,2% hingga 0,6%. Jenis
baja ini memiliki kombinasi yang baik antara kekuatan tarik dan keuletan. Baja
karbon menengah sering digunakan dalam aplikasi yang membutuhkan kekerasan
dan kekuatan yang tinggi seperti roda gigi dan poros.
Gambar 2.8 Contoh Baja Karbon Menengah
3. Baja Karbon Tinggi (High Carbon Steel):
22
Baja karbon tinggi memiliki kadar karbon antara 060% hingga 1,4%. Baja
karbon tinggi memiliki kekerasan dan kekuatan tarik yang sangat tinggi tetapi
keuletan yang rendah. Jenis baja ini sering digunakan dalam pembuatan Mata bor
dan Tap.
Gambar 2.9 Contoh Baja Karbon Tinggi
2.8. Baja SS400
Baja SS400 merupakan baja karbon rendah dengan sedikit kandungan silikon.
Beberapa hasil penelitian menemukan bahwa kandungan silikonnya antara 0.06%
dan 0.037%.
2.8.1 Unsur Kimia dan sifat mekanik Baja SS400
Berikut ini merupakan tabel komposisi kimia dan sifat mekanik yang terdapat
pada baja SS400[8].
Tabel 2.3 Komposisi kimia Baja SS400
C Si Mn P S Ni Cr Fe
0.20 0.09 0.53 0.01 0.04 0.03 0.03 Balance
Tabel 2.4 Sifat Mekanik Baja SS400
Nama Kekuatan Luluh min. Kekuatan Perpanjangan min. %
23
(Mpa) Tarik
Ketebalan Ketebalan (Mpa) Ketebalan Ketebalan Ketebalan
< 16 mm ≥ 16 mm <5mm 5-16mm ≥16mm
SS400 245 235 400-510 21 17 21
2.9. Pengujian Tarik
Proses pengujian tarik bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik benda uji.
Pengujian tarik untuk kekuatan tarik didaerah las dimaksudkan untuk mengetahui
apakah kekuatan las mempunyai nilai yang sama. Lebih rendah atau lebih tinggi
dari kelompok raw ,aterials. Pengujian tarik untuk kualitas kekuatan tarik untuk
mengetahui berapa nilai kekuatannya dan dimanakah letak putusnya suatu
sambungan las. Pembebadan tarik adalah pembebanan yang diberikan pada benda
dengan memberikan gaya tarik berlawanan arah pada salah satu ujung benda[10].
Penarikan gaya terhadap beban akan mengakibatkan terjadinya deformasi
pada beban uji adalah proses pergeseran butiran kristal logam yang
mengakibatkan lemahnya gaya elektromagnetik setiap atom logam sehingga
terlepas sambungan las tersebut oleh penarikan gaya maksimum. Pada pengujian
tarik beban diberikan secara kontinu dan pelan-pelan bertambah besar, bersamaan
dengan itu dilakukan pengamatan untuk mengetahui panjang nya benda uji dan
hasil kurva tegangan regangan.
Dalam sambungan las sifat tarik berhubungan dengan sifat logam jenis induk,
jenis elektroda yang digunakan, sifat dari daerah HAZ,sifat logam las dan sifat
24
dinamik dari sambungan las berhubungan erat dengan geometri dan distribusi
tegangan dalam sambungan.
Gambar 2.10 Standar Spesimen Pengujian Tarik
Penguji batang tersebut dibebani dengan kenaikan beban sedikit demi
sedikit hingga batang uji patah. Supaya dapat mengetahui kekuatan tarik dengan
bentuk kurva tegangan - regangan teknik, seperti pada gambar dibawah berikut :
Gambar 2.11 Kurva Tegangan Regangan
25
Tegangan yang digunakan pada kurva adalah tegangan membusur rata-rata
dari pengujian tarik. Tarik maksimum dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :
σt = .............................................................(1)
Keterangan :
Pmaks = Gaya yang bekerja/beban maksimal (kg)
Ao = Luas Penampang (Cm2)
σt = Tegangan Tarik (kg/cm2)
Regangan yang digunakan untuk kurva tegangan regangan teknik adalah
regangan linier rata-rata diperoleh dengan cara membagi perpanjangan yang
dihasilkan setelah pengujian dilakukan dengan panjang awal. Dapat dituliskan
sebagai berikut :
e= .................................................................(2)
Keterangan :
e = Besar regangan
Li = Panjang Beban Uji Akhir (mm)
Lo = Panjang Beban Uji Awal (mm)
26
Pada tegangan regangan yang dihasilkan, dapat diketahui nilai modulus
elastisitas. Persamaannya dituliskan dalam persamaan sebagai berikut.
E = .......................................................................(3)
Keterangan :
E = Besar Modus Elastisitas (kg/cm2)
e = Regangan
σ = Tegangan (kg/cm2)
Dari kurva uji tarik yang diperoleh dari hasil pengujian akan didapatkan
beberapa sifat mekanik yang dimilik oleh benda uji, sifat-sifat tersebut anara lain :
2.9.1 Kekuatan Tarik (Tensile Strenght)
Kekuatan tarik atau kekuatan maksimum (Ultimate Tensile Strenght)
adalah beban maksimum dibagi luas penampang lintang awal benda uji.
σu = .............................................................(4)
Keterangan :
σu = Kuat Tarik
Pmaks = Beban Maksimal (kg)
Ao = Luas Penampang Mulai Dari Penampang Batang (mm2).
2.9.2 Kekuatan Luluh (Yeild Strenght)
Kekuatan luluh merupakan titik yang menunjukan perubahan dari
deformasi elastis ke deformasi plastis. Rumus kekuatan luluh dituliskan seperti
persamaan sebagai berikut :
27
Ys = ...................................................................(5)
Keterangan :
Ys = Besarnya Tegangan Luluh (kg/mm2)
Py = Besarnya Beban Titik Yield (kg)
Ao = Luas Penampang (mm2)
2.9.3 Keuletan
Keuletan adalah kemampuan suatu bahan sewaktu menahan beban pada
saat diberikan penetrasi dan akan kembali ke bentu semula. Secara umum
keuletan dilakukan untuk memenuhi kepentingan tiga buah hal.
1. Menunjukan elogasi dimana suatu logam dapat berdeformasi tanpa terjadi
patah dalam suatu proses suatu pembentukan logam,misalnya pengerolan
dan ekstrasi.
2. Untuk memberi petunjuk secara umum kepada perancang mengenai
kemampuan logam untuk mengalir secara plastik sebelum patah.
3. Sebagai petunjuk adanya perubahan permukaan kemurnian atau kondisi
pengolahan.
2.8.4 Modulus Elastisitas
Modulus Elastisitas adalah ukuran kekuatan suatu bahan akan ke
elastisitasnya. Modulus elastisitas ditentukan oleh gaya ikat antar atom, karena
gaya-gaya ini tidak dapat dirubah tanpa terjadi perubahan mendasar pada sifat
bahannya. Sifat ini hanya sedikit dapat berubah oleh adanya penambahan
28
paduan,perlakuan panas,atau pengerjaan dingin. Secara matematis persamaan
modulus elastisitas dapat ditulis sebagai berikut :
Mo = ...................................................................(6)
Keterangan :
σ = Tegangan
e = Regangan
2.8.5 Kelentingan (resilience)
Kelentingan adalah kemampuan suatu bahan untuk menyerap energi pada
deformasi secara elastis dan kembali ke bentuk awal apabila bebannya
dihilangkan.
µo .σ.e ..................................................................(7)
2.8.6 Ketangguhan
Ketangguhan adalah meninjau luas keseluruhan daerah dibawah kurva
tegangan regangan. Luas ini menunjukan jumlah energi tiap satuan volume yang
dapat dikenakan pada bahan tanpa mengakibatkan pecah. Ketangguhan adalah
perbandingan antara kekuatan dan keuletan. Dapat dituliskan sebagai berikut :
Ut = .e ..................................................(8)
Keterangan :
Ut = Modulus ketangguhan
σy = Tegangan Sebenarnya (kN/mm2)
29
e = Regangan (%)
σt maks = Tegangan maksimal (kN/mm2)