Electrical System
Electrical System
Dengan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
kesempatan dan kemampuan kepada kami, sehingga buku pegangan “Electrical
System” untuk junior mekanik & calon mekanik bisa tersusun.
Harapan kami semoga buku ini bisa bermanfaat bagi junior mekanik & calon mekanik
dalam mengikuti training Sistem Elektrik dan memudahkan dalam memahami cara
perawatan komponen sistem elektrik yang benar sesuai dengan prosedur serta
peraturan keselamatan kerja. Dengan demikian bisa diaplikasikan dengan baik setelah
berada di lapangan nanti.
Seperti pepatah mengatakan, ”Tiada Gading Yang Tak Retak”, dengan kerendahan hati
maka kami menyadari bahwa buku ini masih kurang sempurna. Untuk itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca, demi kesempurnaan
buku pegangan di waktu yang akan datang.
Akhirnya penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga terselesaikannya buku ini
Desember 2023
Team Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
PERISTILAHAN / GLOSSARY
BAB I. PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1
A. Deskripsi....................................................................................................................... 1
B. Prasyarat ...................................................................................................................... 1
C. Petunjuk Penggunaan Modul ........................................................................................ 1
D. Tujuan Akhir ................................................................................................................. 2
E. Kompetensi................................................................................................................... 3
F. Referensi ....................................................................................................................... 3
BAB II. PEMBELAJARAN .................................................................................................... 4
A. Rencana Belajar Peserta .............................................................................................. 4
B. Kegiatan Belajar Peserta .......... ................................................................................... 5
Kegiatan Belajar 1. Prinsip Dasar Listrik ....................................................................... 6
Teori Elektron........................................................................................................... 6
Besaran Listrik ....................................................................................................... 8
Hukum OHM .......................................................................................................... 10
Arus Searah dan Arus Bolak balik .......................................................................... 10
Tenaga Listrik ........................................................................................................ 11
Rangkuman Materi 1 ......................................... ........................................................... 13
Kegiatan Belajar 2. Komponen dan Rangkaian Listrik ................................................ 14
Komponen Electric ................................................................................................. 15
Rangkaian Electric ................................................................................................. 44
Rangkuman Materi 2 ....................................... ........................................................... 51
Kegiatan Belajar 3. Prinsip Dasar Kemagnetan .......................................................... 53
Magnet ................................................................................................................... 54
Rangkuman Materi 3 ................................................................................................... 6 5
Kegiatan Belajar 4. System Electric .......................................................................... 66
Starting System.................................................................................................... 67
Charging System.................................................................................................. 73
Preheating System ............................................................................................... 79
Rangkuman Materi 4 ................................................................................................ 84
Kegiatan Belajar 5. Symbol dan Wiring Diagram . .................................................. 85
Symbol dan Wiring Diagram .............................................................................. 86
Alternating Current (Arus Bolak-balik) : Arus yang mengalir dengan polaritas yang selalu
berubah-ubah. Dimana masing-masing terminalnya polaritas yang selalu bergantian.
Armature : Bagian dari starting motor yang dapat berputar dan mengeluarkan arus listrik.
Avometer (Multi Tester) : alat ukur yang multi guna untuk mengukur ampere, volt dan ohm.
Battery : Alat perubah energi kimia menjadi energi listrik untuk menyediakan listrik bagi
sistem kelistrikan pada unit.
Battery Relay Switch : Komponen starting system yang digunakan untuk memutuskan atau
menghubungkan negatif battery dengan body/chasis dan positif battery dengan starting
motor.
Charging System : Suatu sistem yang digunakan untuk mengembalikan kondisi battery
agar selalu siap digunakan.
Circuit Breaker : Suatu alat yang digunakan untuk mencegah kerusakan kerusakan
komponen-komponen dan kabel-kabel pada preheating system (sistem pemanasan
awal) yang dikarenakan arus berlebihan (short circuit).
Diode : Suatu komponen elektronika yang mempunyai dua kutub yaitu anoda dan katoda.
Dioda terdiri dari gabungan material N dan material P.
Direct Current (Arus Searah) : Arus yang mengalir dalam arah yang tetap (konstan).
Dimana masing-masing terminal selalu tetap polaritasnya.
Electromagnet adalah medan magnet yang ditimbulkan oleh adanya aliran arus listrik pada
sebuah konduktor atau coil.
Glow Plug : Alat pemanas yang dengan komponen-komponen lain akan memanaskan
udara untuk pembakaran pada engine.
Konduktor : Bahan yang atom–atomnya mempunyai jumlah elektron lebih kecil dari 4 pada
lintasan (kulit) terluar.
Preheating System : Suatu sistem yang digunakan untuk memanaskan udara yang akan
masuk ke ruang bakar dengan tujuan mempermudah menghidupkan engine pada
waktu udara sekeliling engine masih dingin.
Resistor Non Linier : Resistor yang harganya berubah-ubah (tidak sesuai dengan hukum
ohm), tetapi merupakan fungsi dari temperatur, tegangan dan cahaya yang jatuh
terserap.
Resistor Tetap : Resistor yang sengaja dibuat dengan harga resistansi (ohm= Ω) tertentu.
ELECTRICAL SYSTEM
Resistor Variable : Resistor yang mempunyai terminal tetap dan terminal tidak tetap yang
dapat digeser sepanjang elemen resistor tersebut.
Safety Relay : Komponen starting system yang digunakan sebagai relay (penghubung)
antara starting switch dan starting motor selain fungsi lainnya.
Self Discharge : Suatu battery yang mengalami kehilangan muatan listrik yang tersimpan
tanpa pemakaian melalui rangkaian luar.
Self Induction (Induksi Diri) : Gaya gerak listrik yang berbalik dengan arah aliran arus pada
lilitan ketika switch dibuka (off) dari kondisi tertutup (on).
Semi Konduktor : Sedangkan bahan atom–atomnya mempunyai 4 elektron pada lintasan
(kulit) terluar.
Starting Motor : Komponen starting system yang digunakan untuk menghidupkan engine
dengan prinsip merubah energi listrik menjadi energi mekanis.
Starting System : Sustu sistem yang bertujuan untuk menghidupkan suatu engine atau unit.
Komponen utama dalam sistem ini adalah starting switch, battery relay switch, starting
motor dan safety relay.
Thermistor : Resistor yang mempunyai koeffisien temperatur yang sangat tinggi, dimana
dengan adanya perubahan temperatur, resistansinya juga akan berubah.
Thermistor NTC : Resistor dengan koefiisien temperatur negatif yang sangat tinggi. Dimana
ketika temperatur naik maka harga resistansi turun.
Thermistor PTC : Resistor dengan temperatur positif yang sangat tinggi. Dimana ketika
temperatur naik maka harga resistansi naik.
Transistor adalah suatu komponen elektronika yang dibuat dengan penggabungan dari
material P dan N. yang disisipkan suatu lapisan tipis P atau N. Komponen ini berfungsi
sebagai electric switch dan sebagai penguat.
Transistor NPN : Transistor yang pembuatannya terdiri dari dua buah lapisan N yang
disisipkan ditengahnya satu lapisan tipis P.
Transistor PNP : Transistor yang pembuatannya terdiri dari dua buah lapisan P yang
disisipkan ditengahnya satu lapisan tipis N.
Trimmer : Potensiometer dengan bahan dasar karbon yang biasanya dipasang pada PCB
dimana dibutuhkan suatu pengkalibrasian.
Wirewound Potentiometer : Potentiometer yang terbuat dari lilitan kawat yang berbentuk
lingkaran.
Zener diode : sebuah diode yang dirancang khusus untuk menghantarkan arus reverse
tanpa merusaknya.
ELECTRICAL SYSTEM
PENDAHULUAN
A. Deskripsi
Modul electrical system membahas tentang pengetahuan dasar electrical yang harus
dimiliki oleh seorang calon mekanik khususnya mekanik di bidang alat berat. Tujuan dari
modul ini adalah agar mekanik memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam membentuk
kompetensi mengetahui nama komponen, lokasi, fungsi, cara kerja, system dan simple
troubleshooting electrical system
Modul ini terdiri dari 5 kegiatan belajar meliputi :
1. Prinsip dasar electric
2. Komponen dan rangkaian listrik
3. Prinsip dasar kemagnetan
4. Wiring dan connection diagram
5. System electric
B. Prasyarat
Sebelum memulai modul ini, anda harus sudah menyelesaikan modul-modul yang harus
dipelajari lebih awal sesuai dengan peta kedudukan modul.
ELECTRICAL SYSTEM
6) Setelah selesai praktek, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula.
d. Jika belum menguasai tingkat materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan
belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada instruktur yang bersangkutan.
2. Peran instruktur antara lain
a. Membantu peserta dalam merencanakan proses belajar.
b. Membimbing peserta melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap
belajar.
c. Membantu peserta dalam memahami konsep dan praktek baru dan menjawab
pertanyaan peserta mengenai proses belajar peserta.
d. Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang
diperlukan untuk belajar.
e. Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
f. Merencanakan mentor/ pendamping (among) dari tempat kerja untuk membantu jika
diperlukan (peserta OJT/experience).
g. Merencanakan proses penilaian dan menyiapkan perangkatnya.
h. Melakasanakan penilaian.
i. Menjelaskan kepada siswa tentang sikap pengetahuan dan keterampilan dari suatu
kompetensi yang perlu untuk dibenahi dan merundingkan rencana pembelajaran
selanjutnya,
j. Mencatat pencapaian kemajuan siswa.
D. Tujuan Akhir
Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini peserta
diharapkan “Mampu mendeskripsikan komponen, lokasi, fungsi, cara kerja dan
electrical system dengan tepat dan benar”.
E. Kompetensi
Modul ini membantu peserta dalam membentuk kompetensi mengetahui nama, lokasi,
fungsi, cara kerja dan electrical sistem dengan tepat dan benar.
Pokok Pemelajaran
Elemen Kriteria Unjuk Lingkup
Kompetensi Kerja Bahasan Pengetahuan Ketrampilan Sikap
1. Mengetahui Prinsip dasar 1. Teori electron • Memahami - Mengikuti
prinsip dasar listrik dapat 2. Besaran teori electron, pembelajaran
listrik diketahui listrik besaran listrik, sesuai dengan
3. Hukum ohm prosedur
4. Arus searah hukum ohm,
- m emperhatikan
dan arus bolak arus searah faktor-faktor
balik dan arus bolak keselamatan
5. Tenaga listrik balik dan kerja dan
memahami lingkungan
tenaga listrik
ELECTRICAL SYSTEM
2. Mengetahui Komponen 1. Kompone • Mengetahui dan • Dapat melakukan Sda
komponen dan electric memahami perawatan
dan rangkaian rangkaian 2. Rangkaian
listrik electric komponen pada battery
listrik dapat
diketahui elektrik • Dapat melakukan
• Memahami pembacaan dan
rangkaian – pengukuran kode
rangjaian dari komponen
elektrik elektrik
Kriteria Kelulusan
Kehadiran minimal 90% dari total hari pelatihan.
Evaluasi akhir :
a. Nilai minimal test teori : 70
b. Nilai minimal test praktek : 70.
Pemberian Sertifikat
Sertifikat akan diberikan kepada siswa yang memenuhi kriteria kelulusan.
Surat keterangan akan diberikan kepada siswa yang memenuhi syarat kehadiran minimal
tetapi tidak memenuhi syarat minimal nilai kelulusan.
F. Referensi
ELECTRICAL SYSTEM
BAB I
PEMBELAJARAN
3. Prinsip dasar
kemagnetan
4. Wiring dan
connection
system
5. System electric
ELECTRICAL SYSTEM
B. Kegiatan Belajar Peserta Diklat
KEGIATAN BELAJAR I
Tujuan Kegiatan Belajar 1
Prinsip Dasar Listrik
Ranah
Elemen Kegiatan Kompetensi
Indikator Keberhasilan
Kompetensi Pembelajaran
P K S
Dapat menjelaskan teori dari
Teori Elektron
elektron
Dapat menjelaskan besaran
Besaran Listrik
Prinsip Dasar listrik
Elektrik Hukum Ohm Dapat menjelaskan hukum
Ohm
Arus searah dan Dapat menjelaskan prisnip
arus bolak balik arus searah dan arus bolak
balik
Tenaga Listrik Dapat menjelaskan tenaga
listrik
ELECTRICAL SYSTEM
Uraian Materi Kegiatan Belajar 1
Teori Elektron
Atom tersusun atas proton, neutron dan elektron. Proton dan neutron terdapat dalam inti
atom, sedangkan elektron selalu bergerak mengelilingi inti atom. Menurut Bohr, dalam
mengelilingi inti atom, elektron berada pada kulit-kulit (lintasan) tertentu.
Elektron adalah bagian terkecil dari suatu atom, lihat gambar berikut ini :
ELECTRICAL SYSTEM
Dengan demikian alumunium dan tembaga adalah bahan konduktor karena memiliki jumlah
elektron terluar kurang dari 4, sedangkan silicon adalah bahan semiconductor karena
memiliki jumlah elektron terluar sama dengan 4.
ELECTRICAL SYSTEM
Uraian Materi Kegiatan Belajar 1
Besaran Listrik
A. Arus ( I )
Ketika dua konduktor (A) dan (B) diisi muatan positif dan negatif yang dihubungkan dengan
kawat penghantar (C). Elektron-elektron bebas yang berada pada konduktor (B) akan
ditarik oleh konduktor (A) melalui kawat penghantar (C). Hal ini akan menyebabkan
terjadinya arus elektron dari konduktor (B) yang bermuatan negatif ke konduktor (A) yang
bermuatan positif. Pergerakan elekton inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya arus
listrik dari konduktor (A) yang bermuatan positif ke konduktor (B) yang bermuatan negatif.
Arus adalah jumlah muatan listrik yang mengalir melalui suatu titik tertentu selama satu
detik.
Satuan arus listrik adalah coloumb perdetik atau “ Ampere “ ( A ).
ELECTRICAL SYSTEM
B. Tegangan ( V )
Tegangan adalah gaya yang mengakibatkan terjadinya arus listrik. Terjadinya tegangan
akibat beda / selisih potensial dan dikatakan ada tegangan ( voltage ). Arus listrik akan
mengalir dari tegangan tinggi ke tegangan yang lebih rendah.
Satuan tegangan listrik disebut “ Volt “ dan disimbolkan “ V “.
Ketika elektron bebas berjalan melalui sebuah logam, elektron-elektron itu melambung
melawan molekul, yang akan memperlambat kecepatan jalannya. Perlambatan
kecepatan ini merupakan hambatan yang umumnya disebut dengan “Electric
Resistance“ atau “Resistance“ ( hambatan ).
Satuan dari hambatan adalah ohm dan diberi simbol (Ω). Hambatan suatu penghantar
dikatakan 1 Ω bila besarnya hambatan tersebut menyebabkan mengalirnya arus sebesar
satu ampere, bila pada kedua ujung kawat penghantar tersebut dihubungkan
dengan sumber tegangan sebesar satu volt (pada temperatur konstan). Adapun harga
hambatan pada sebuah penghantar dipengaruhi oleh bahan pengantar, luas
penampang penghantar, serta temperatur. Besarnya harga hambatan dapat dihitung
dengan rumus:
Keterangan :
R = Hambatan ( ohm ).
ρ = Tahanan jenis ( ohm meter ).
L = Panjang kawat ( meter ).
A = Luas penampang kawat ( m2 ).
ELECTRICAL SYSTEM
Uraian Materi Kegiatan Belajar 1
Hukum OHM
Arus ( I ) yang mengalir melalu dua titik “ a “ dan “ b “ dalam suatu konduktor ( kawat
penghantar ) adalah berbanding lurus dengan tegangannya dan berbanding terbalik dengan
hambatannya ( R ).
Keterangan :
I = Arus yang mengalir ( Ampere ).
V = Tegangan ( Volt ).
R = Hambatan ( Ohm ).
10
ELECTRICAL SYSTEM
B. Arus Bolak - balik ( Alternating Current )
Arus bolak - balik ( AC ) adalah arus yang mengalir dengan polaritas yang selalu berubah-
ubah. Dimana masing-masing terminalnya memiliki polaritas yang selalu bergantian.
Contohnya Alternator, PLN.
Satuan tenaga listrik dinyatakan dengan Watt, yaitu jumlah dari usaha listrik yang dihasilkan
atau dihilangkan adalah ditetapkan sesuai dengan usaha yang digunakan dalam periode waktu
satu detik. Satuan tenaga listrik adalah “watt“ disingkat W. Satu (1) watt menunjukkan tenaga
yang membutuhkan arus listrik sebesar 1 A , pada tegangan 1 V dalam setiap detik.
11
ELECTRICAL SYSTEM
Sebuah DC generator ( G ) menghasilkan tegangan V melewati beban R ( Ω ) untuk
menghasilkan arus I ( Ampere ) melalui beban R, maka tenaga ( P ) :
Keterangan :
Tenaga listrik adalah jumlah dari kemampuan kerja listrik dalam setiap satuan waktu (detik).
Jumlah tenaga listrik diartikan salah satu jumlah usaha listrik yang dihasilkan atau ditetapkan
dalam periode tertentu.
Satuan energi listrik adalah watt detik disingkat dengan ( WS ) atau joule ( J ) jika jumlah
pengukuran besar satuan yang digunakan (Wh) Watt – jam.
PANAS JOULE.
Joule menemukan bahwa tenaga listrik yang dipakai dalam sebuah hambatan berubah
semuanya menjadi panas. Penemuan ini disebut “Hukum Joule“ Panas yang dihasilkan
berasal dari aliran listrik dalam sebuah hambatan dan disebut “ Panas Joule “ dan 1 ( WS ) =
1 joule.
12
ELECTRICAL SYSTEM
Rangkuman Materi 1
13
ELECTRICAL SYSTEM
KEGIATAN BELAJAR II
Tujuan Kegiatan Belajar 2
14
ELECTRICAL SYSTEM
Uraian Materi Kegiatan Belajar 2
Komponen Electric
A. BATTERY / ACCU
Battery merupakan sumber energi listrik utama dalam unit. Proses kerja battery adalah
sebuah reaksi kimia antara dua buah plat timbal yang berbeda sifat kimia dan terendam
dalam larutan elektrolit. Berdasarkan kondisi operasional di unit maka fungsi battery adalah
sebagai berikut:
Pada saat engine off berfungsi untuk menyediakan arus listrik untuk lampu dan
accesoris lainnya;
Pada saat engine start battery berfungsi untuk mensuplay arus ke starting motor dan
sistem electric control engine;
Pada saat engine running pada saat ini kebutuhan arus listrik sepenuhnya telah
disuplay dari charging system. battery bisa dikatakan hanya berfungsi untuk penstabil
tegangan atau filter sehingga komponen-komponen yang sangat sensitive terhadap
kenaikan dan penurunan tegangan seperti controller akan aman;
1. Konstruksi.
Battery dapat dibedakan berdasarkan kontruksi dan tipenya yaitu :
Konstruksi compound.
Konstruksi Solid.
a. Konstruksi compound.
Battery ini sel-selnya berdiri sendiri-sendiri dan antara sel yang satu dengan
yang lain dihubungkan dengan lead bar ( connector ) di luar case, seperti pada
gambar berikut ini :
15
ELECTRICAL SYSTEM
b. Konstruksi Solid.
Battery ini antara sel yang satu dengan yang alin dihubungkan dengan lead bar
di dalam case. Terminal yang kelihatan hanya dua buah hasil hubungan seri
dari sel-selnya seperti gambar berikut ini.
2. Tipe Battery.
Battery menurut tipenya ada 2 macam yaitu :
a. Battery tipe basah ( Wet Type )
Terdiri dari elemen - elemen yang telah diisi penuh dengan muatan listrik ( full
charged ) dan dalam penyimpanannya telah diisi dengan elektrolit. Battery ini tidak
bisa dipertahankan tetap dalam kondisi full charge. Sehingga harus diisi (charge)
secara periodik. Selama battery tidak digunakan dalam penyimpanan, akan terjadi
reaksi kimia secara lambat yang menyebabkan berkurangnya kapasitas battery,
reaksi ini disebut “ Self Discharge “.
b. Tipe Kering ( Dry Type )
Battery tipe kering ( Dry Type ) terdiri dari plate - plate ( postif & negatif ) yang telah
diisi penuh dengan muatan listrik, tapi dalam penyimpanannya tidak diisi dengan
elektrolit. Jadi keluar dari pabrik dalam kondisi kering.
Battery dry tipe ini pada dasarnya sama seperti dengan battery tipe basah (Wet
Type). Elemen - elemen battery ini diisi secara khusus dengan cara memberikan
arus DC pada plat yang direndamkan ke dalam larutan elektrolit lemah. Setelah
plat - plat itu terisi penuh dengan muatan listrik, kemudian di angkat dari larutan
elektrolit kemudian dicuci dengan air dan dikeringkan. Kemudian plat -plat tersebut
diassembling dalam case battery.
ELECTRICAL SYSTEM
Sehingga bila battery tersebut akan dipakai, cukup diisi elektrolit dan langsung bisa digunakan
tanpa charge kembali. Cara pengisian elektrolit dapat dilihat pada gambar berikut ini :
3. Vent Plug.
Vent plug terpasang pada tutup di setiap sel. Fungsi tutup itu adalah untuk
mencegah masuknya debu dan kotoran ke dalam sel. Fungsi yang lebih penting lagi
adalah agar tersedia saluran (lubang) untuk melepas gas yang timbul saat charging ke
udara bebas. Untuk membebaskan gas dan memungkinkan terbentuknya lagi asam
sulfat yang terkandung dalam uap asam yang terbentuk pada saat pengisian battery
(lihat bentuk saluran vent plug ).Membiarkan tutup sel itu tetap terbuka menyebabkan
kotornya sekitar lubang oleh arena adanya uap asam.
ELECTRICAL SYSTEM
Berat jenis akan turun pada saat battery dipakai ( discharge ). Pada kondisi standard
(20° Celsius ), bila berat jenis elektrolit turun mencapai 1.20, maka battery harus diisi
kembali ( charging ). Bila jumlah elektrolit di dalam battery berkurang, maka harus
ditambah dengan air aki ( air suling ).
6. Larutan Elektrolit.
Hasil campuran 36 % Asam sulfat dan 64 % air akan menghasilkan elektrolit yang
berat jenisnya 1.270 pada 80º F ( 27ºC ). Larutan elektrolit ini terdiri dari pencampuran
antara Asam Sulfat (H2SO4) yang berat jenisnya 1,835 dan air ( H2O ) yang berat
jenisnya 1 dengan komposisi tertentui seperti gambar berikut ini :
7. Pengetesan Battery.
Kondisi dari sebuah battery yang ditunjukkan oleh berat jenis larutan
elektrolitnya. Salah satu cara yang paling sederhana dan lebih dipercaya adalah
dengan mengukur berat jenis dari larutan elektrolit.
Alat untuk mengukur berat jenis elektrolit disebut “ Hydrometer “ dan dilengkapi dengan
thermometer elektrolit.
18
ELECTRICAL SYSTEM
8. Perawatan Battery
Salah satu faktor agar suatu battery dapat mencapai umur sesuai pabrik maka di dalam
menggunakan battery perlu diperhatikan hal - hal berikut ini :
a) Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam Discharging.
• Periksa kabel - kabel penghubung. Jika rusak, ganti yang baru.
• Bersihkan terminal battery dan terminal kabel dengan sikat kawat dan bubuhkan
sedikit gemuk / vaselin, kemudian kencangkan hubungan kabel kabelnya.
• Pemakaian arus battery untuk 6 volt tidak boleh lebih dari 2x kapasitasnya,
sedangkan untuk 12 volt tidak boleh lebih dari 3x kapasitasnya, karena dapat
memperpendek umur dari battery.
• Pembebanan battery tidak boleh melebihi batas terminal voltage (final terminal
voltage) yang diijinkan. Untuk tiap sel final terminal voltagenya 1,75 volt.
• Tutup battery terutama vent plugnya tidak boleh tersumbat, karena bisa
menyebabkan battery meledak.
• Bila air battery kurang, harus ditambah dengan air suling.
b) Hal - hal yang perlu diperhatikan pada saat Recharging.
• Sebelum Recharging harus diperiksa jumlah elektrolit dalam battery. Bila kurang
tambahkan air suling.
• Jangan sekali - kali menambahkan larutan asam sulfat (H2SO4), karena akan
mengakibatkan berat jenis elektrolit terlalu tinggi, yang akan mengurangi umur
battery dan tidak memungkinkan untuk mengukur keadaan muatan listrik battery
melalui berat jenis.
• Kencangkan kabel - kabel penghubung, sebab bila kabel kendor akan terjadi
loncatan bunga api.
• Gas yang terjadi pada proses recharging harus segera dibebaskan ( Perhatikan
vent plugnya atau buka tutup jika perlu ).
• Bila memakai battery charger, harus ada fan untuk membuang gas - gas yang
terjadi dan harus dicegah supaya tidak terjadi bunga api yang bisa menyebabkan
kebakaran.
• Arus pengisian dianjurkan sebagai berikut :
Untuk fast charging : 40 - 70 Ampere.
Untuk slow charging : Kurang lebih 7 % dari AH - nya.
Saat pengisian, Temperatur Elektrolit tidak boleh melebihi 55 °C.
c) Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat penyimpanan battery.
• Battery yang tidak dipakai harus disimpan di tempat yang kering, sejuk dan tidak
kena sinar matahari langsung, karena bisa mempercepat reaksi kimia (self
discharge).
• Battery yang diterima lebih dahulu sebaiknya didahulukan pemakaiannya.
19
ELECTRICAL SYSTEM
• Pada waktu dikeluarkan dari kemasan, periksalah dengan teliti apakah ada
kerusakan luar. Jika ada kerusakan perbaiki.
• Untuk battery tipe basah, perlu adanya pengisian secara periodik, yaitu minimal
sebulan sekali. Untuk menjaga agar battery tetap full charge dan tidak cepat
rusak.
9. Penyebab Kerusakan Battery
Semua battery mempunyai umur tertentu, tetapi terdapat beberapa hal yang akan
memperpendek umur battery diantaranya adalah :
a. Electrolyte level
Level electrolyte yang rendah akan merusak active material yang ada di
dalam pelat battery dan menyebabkan pembentukan asam sulfat sehingga akan
menurunkan reaksi kimia [Link] level yang rendah antara lain :
• Rumah battery yang pecah
• Perawatan yang jelek terutma tidak dilakukannya penambhan air pda saat
dibutuhkan.
• Terjadi overcharging pada battery sehingga penguapan meningkat yang pada
akhirnya electrolyte akan berkurang.
Level air battery yang terlalu banyak juga tidak bagus karena akan
mencairkan electrolyte (menurunkan berat jenis) dan suatu saat akan tumpah keluar
melalui vent hole sehingga menimbulkan korosi pada terminal.
b. Over charging
Over charging bisa terjadi saat di unit atau pada saat di charge dengan
charger. Over charging akan menyebabkan penguapan yang tinggi dan kenaikan
panas pada batter. Penguapan yang berlebih akan melrutkan active material dari
battery serta kebutuhan penambahan air akan bertambah. Peningkatan suhu yang
berlebih akan menimbulkan oksidasi pada pelat dan membuat pelat battery
bergelombang.
c. Under charging
Kerusakan sistem pengisian pada unit biasanya menjadikan battery undercharging.
Undercharging akan membuat asam sulfat dari pelat battery akan mengeras dan
sulit untuk dikembalikan ke posisi semula,selain itu juga akan membuat electrolyte
battery mudah membeku. Battery yang dalam kondisi undercharge tidak dapat
digunakan untuk men-start engine.
d. Corrosion
Tumpahnya electrolyte dn kondensasi dari proses penguapn akan menyebabkan
korosi pada terminal, connentor dan bahan – bahan logam dari bracket
battery. Korosi akn menyebabkan kenaikan tahanan sehingga akan mengurangi
tegangan yang dialirkan serta efektifitas charging system.
20
ELECTRICAL SYSTEM
e. Cycling
Proses charging dan discharging yang terjadi secara berulang akan menyebabkan
active material dari pelat positif battery [Link] bahan aktif plat posisi
baterai yang lepas dari platnya akan menurunkan kapasitas battery dan pada
akhirnya akan mengurangi umur battery.
f. Temperature
Kenaikan temperatur dari battery bisa disebabkan karena battery mengalami
overcharge atau karena engine mengalami overhead. Kenaikan suhu tersebut akan
mempercepat umur battery. Temperature yang terlalu rendah juga akan
menyebabkan electrolyte battery menjadi mudah membeku. Pada suhu 0 F sebuah
battery dengan kondisi full charge hanya mampu mengirimkan arus sebesar
setengah atau bahkan kurang dibandingkan dengan pada kondisi normal. Pada saat
yang sama ( 0 F ) atau - 17,8 C, engine yang dalam kondisi dingin membutuhkan
tenaga dua kali lebih banyak jika dibandingkan dengan kondisi normal. Electrolyte
dalam kondisi full charge beru dapat membeku pada suhu – 60 F atau di bawahnya,
sedangkan apabila dalam kondisi tidak bermuatan sama sekali akan lebih mudah
membeku yaitu pada suhu 17,8 F
g. Vibration
Battery harus diikat sekencang mungkin supaya tidak bisa bergerak dari
[Link] dari battery akan menyebabkan lepasnya konektor, retak pada
casenya dan kerusakan pada komponen dalam battery
h. Kekencangan Terminal
Kekencangan terminal battery perlu diperhatikan secara [Link] yang
kendor akan mengakibatkan koneksi yang tidak [Link] konektor tersebut
kendor pada saat dibutuhkan arus yang besar maka akan mengakibatkan bunga api
sehingga pada akhirnya akan merusak konektor dan terminal battery itu sendiri.
Pemilihan konektor yang terlalu besar dibandingkan dengan terminal battery
sehingga kekencangan sebuah konektor dapaksakan dengan menambah pelat dan
sebagainya akan mengakibatkan penyaluran arus menjadi jelek. Akibatnya adalah
sama yaitu munsul bunga api pada saat digunakan menstart engine
B. CIRCUIT BREAKER.
Fungsi circuit breaker adalah untuk mencegah kerusakan komponen - komponen dan
kabel - kabel pada sistem elekrik yang dikarenakan arus berlebihan (short circuit). Circuit
breaker dapat digunakan berulang kali.
21
ELECTRICAL SYSTEM
Gambar 2. 15 Konstruksi Circuit breaker
C. FUSE
Fungsi fuse juga untuk mencegah kerusakan komponen - komponen dan kabel - kabel
pada sistem elektrik yang dikarenakan arus berlebihan (short circuit). Namun hanya dapat
digunakan sekali saja, jika rusak langsung diganti.
D. SWITCH
Switch berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan satu hubungan kabel dangan
kabel yang lain.
Beberapa contoh switch adalah : toogle switch dan push button switch.
22
ELECTRICAL SYSTEM
Gambar 2. 17 Toogle switch
E. RESISTOR
Resistor merupakan salah satu komponen dasar yang paling sering dipakai dalam
rangkaian - rangkaian listrik. Dalam rangkaian, diperlukan resistor dengan harga yang
tepat agar rangkaian dapat berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.
Resistor dapat digolongkan menjadi 3 ( tiga ) jenis :
1. Resistor tetap.
Carbon resistor
Wirewound resistor
2. Resistor variabel
Wirewound potentiometer
Carbon potentiometer
Trimmer potentiometer (TRIMPOT)
3. Resistor non linier
23
ELECTRICAL SYSTEM
1. Resistor Tetap.
Resistor tetap adalah resistor yang sengaja dibuat dengan harga resistansi (ohm = Ω)
tertentu. Namun demikian, selain harga resistansinya, yang perlu diketahui adalah power
ratingnya. Resistor tersedia dengan harga resistansi yang cukup banyak, mulai dari
beberapa ohm sampai dengan beberapa mega ohm. Adapun power ratingnya mulai
dari 0.1 watt sampai dengan beberapa ratus watt.
Power rating adalah hal yang diperlukan agar resistor dapat bekerja tanpa panas yang
berlebihan karena bisa merusak resistor itu sendiri.
Tabel berikut ini dapat dipergunakan untuk menentukan harga resistansi sebuah
resistor 4 band
ELECTRICAL SYSTEM
Contoh :
Resistor 5 band
25
ELECTRICAL SYSTEM
b. Wirewound resistor
Testing Resistor
Dalam pengetesan sebuah resistor,
resistor dikatakan baik apabila saat
diukur, terbaca nilai tahanan yang tidak
melebihi range toleransinya. Contoh :
sebuah resistor 2000 Ω ± 5% (sesuai
warna cincin pada badan resistor)
dikatakan baik apabila saat diukur,
terbaca nilai tahanan antara 1900 s/d
2100 Ω .
2. Resistor Variabel
.
ELECTRICAL SYSTEM
Ada 2 jenis resistor variabel yang biasa digunakan diantaranya ialah :
a. Potentiometer
1) Wirewound Potentiometer
Potentiometer ini terbuat dari lilitan kawat yang berbentuk lingkaran.
Sebuah lengan yang digeser - geser dibuat berhubungan dengan elemen resistor
yang bisa digeser yang akan menghasilkan harga resistansi berbeda.
27
ELECTRICAL SYSTEM
b. Trimmer potentiometer (TRIMPOT)
Resistor variable ini mempunyai terminal tetap dan terminal tidak tetap yang dapat
digeser sepanjang elemen resistor tersebut Potensio jenis ini biasanya dipasang
pada PCB dimana dibutuhkan suatu pengkalibrasian. Bahan yang digunakan adalah
karbon. Contoh berbagai macam bentuk trimer adalah sebagai berikut :
28
ELECTRICAL SYSTEM
• Ukur salah satu ujung kaki (ujung
kanan atau kiri) dengan kaki
tengah dari potentiometer. Kemudian
putar shaft dari awal hingga akhir
putaran, maka disaat yang
bersamaan pembacaan pada ohm
meter harus dari 0 Ω hingga 10K Ω
atau dari 10KΩ hingga 0 Ω.
29
ELECTRICAL SYSTEM
Gambar 2. 28 Hubungan resistansi dan temperatur pada thermistor NTC
2) Thermistor PTC
Thermistor PTC merupakan resistor dengan temperatur positif yang sangat
tinggi. Thermistor jenis ini pada umumnya dibuat dari Ba Ti O3. Skala
resistansinya berubah mulai dari beberepa ratus ohm pada temperatur 75º dan
beberapa kilo ohm pada temperatur 150ºC.
Berikut ini adalah contoh diagram resistansi dengan temperatur untuk
thermistor PTC.
30
ELECTRICAL SYSTEM
b. Voltage Dependent Resistor (VDR)
Voltage Dependent Resistor merupakan resistor yang perubahan
resistansinya tergantung pada tegangan.
31
ELECTRICAL SYSTEM
Gambar 2. 32 Pengetesan LDR
F. CAPASITOR
Kapasitor atau Kondensator adalah suatu komponen elektronika yang mempunyai sifat -
sifat :
Dapat menyimpan muatan listrik.
Dapat menahan arus searah ( DC ).
Dapat melewatkan arus bolak - balik ( AC ).
Dalam pemakaian, kapasitor dapat diisi muatan dan dikosongkan kembali yang
sangat tergantung pada sirkuit yang memakainya.
1. Kontruksi
Kapasitor berdasarkan polaritsnya dibagi menjadi 2, yaitu: Non Polar (mika,
mylar, keramik, kertas, polyster) dan Polar (Electrolit kondensator ; Tantalum).
Pada gambar berikut ini diperlihatkan bahwa kapasitor terbuat dari 2 (dua) buah plat.
Plat konduktor tersebuit dibuat sejajar dan dipisahkan oleh bahan dielektrika.
32
ELECTRICAL SYSTEM
Gambar 2. 34 Konstruksi dasar kapasitor.
33
ELECTRICAL SYSTEM
Adapun yang dimaksud dengan permitivitas ( Er ) adalah suatu konstanta pembanding
antara permitivitas suatu bahan dielektrika dengan permitivitas ruang hampa udara.
Adapun fungsi bahan dielektrika tersebut adalah untuk :
Memisahkan kedua plat secara mekanis sehingga jaraknya sangat dekat
tetapi bersinggungan.
Memperbesar kemampuan kedua plat dalam menerima tegangan.
Memperbesar nilai kapasitansi.
b. Discharge :
Elektron - elektron yang terkumpul pada salah satu plat akan bergerak untuk
mengisi elektron yang hilang pada plat yang lainnya.
34
ELECTRICAL SYSTEM
3. Kapasitas Kapasitor.
Yang dimaksud dengan kapasitor adalah kemampuan suatu kapasitor di dalam
menyimpan muatan listrik. Pada dasarnya kapasitas kapasitor tergantung dari
beberapa faktor, yaitu :
Bahan dielektrika yang digunakan.
Jarak antara kedua plat konduktor.
Luas penampang plat konduktor.
Dengan demikian, pada bahan dielektrika yang sama, bila luas penampang plat makin
besar, berarti makin besar kemampuan kapasitor menyimpan muatan listrik.
Sebaliknya bila jarak antara kedua plat semakin jauh maka kapasitas kapasitor akan
semakin kecil.
Pada saat switch S dihubungkan ke posisi 1, maka arus akan mengalir dari battery,
switch S, hambatan R dan capasitor C. Perbedaannya potensial pada kapasitor
akan mulai naik bersamaan dengan menurunnya arus, sedemikian rupa sehingga
saat perbedaan potensial pada kapasitor maksimum, arus akan berhenti.
Didalam penyelidikan, ternyata waktu yang diperlukan untuk pengisian kapasitor
tergantung dari besarnya kapasitansi capasitor dan hambatan yang dipasang secara
serie dengan kapasitasnya.
35
ELECTRICAL SYSTEM
Rangkaian kapasitor serie
Pada contoh gambar diatas, maka:
1/Ct = 1/C1 + 1/C2
= 1/1000 + 1/1000
= 2/1000
Ct = 1000/2 = 500 µF
Hubungan parallel
Pada hubungan parallel adalah: harga total dari kapasitansi pengganti dari beberapa
kapasitor diperoleh dengan cara sama seperti memperoleh tahanan total pada
rangkaian serie.
5. Testing Capasitor
Pada pengetesan capasitor baik non polar maupun polar. Gunakan Range untuk
mengukur kapasitas dari capasitor yang kita ukur.
36
ELECTRICAL SYSTEM
Contoh:
1. Sebuah capasitor non polar (mika)
bertuliskan dibadannya 104 (10 x
104 nF), dikatakan baik apabila saat
dilakukan pengukuran, terbaca pada
display avo meter 100 nF.
G. SEMI CONDUCTOR
Keuntungan penggunaan semi conductor
Kecil dan ringan.
Tegangan operasi rendah.
Mempunyai effisiensi yang tinggi dengan konsumsi tenaga yang rendah.
Tahan lama.
Tahan terhadap goncangan.
Kebisingan suara rendah.
37
ELECTRICAL SYSTEM
1. Material Semi Konduktor
Bahan semi konduktor yang banyak dipergunakan dalam pembuatan komponen semi
konduktor adalah silikon (Si) dan Germanium (Ge). Pada umumnya Si dipergunakan
untuk komponen dengan kapasitas besar, sedangkan Ge untuk kapasitas kecil
karena Ge mempunyai sifat lebih buruk dari Si.
ELECTRICAL SYSTEM
38
ELECTRICAL SYSTEM
Bentuk - bentuk Diode.
Berikut ini contoh bentuk - bentuk diode pada umumnya.
b. Zener Diode.
Zener diode adalah sebuah diode yang dirancang khusus untuk menghantarkan
arus reverse tanpa merusaknya. Simbol dan contoh karakter Zener diode dapat
dilihat pada gambar berikut ini :
Contoh :
sebuah dioda zener 6.1 V tidak mengalirkan arus bila reverse bias voltage lebih
rendah dari 6.1 volt. Tetapi bila reverse bias voltage menjadi 6.1 volt atau
lebih, maka zener diode mengalirkan arus reverse.
39
ELECTRICAL SYSTEM
Testing Diode Zener
Dalam pengetesan dioda zener ,bisa kita rangkai seperti gambar dibawah
ini. Maka dioda zener dikatakan baik apabila pada voltmeter terukur
voltage sebesar 6.1 Volt.
POWER
POWER SUPPLY SUPPLY
(7.5 V)
100 Ω100 Ω
6.1V6.1V
VOLTMETER
VOLTMETER
c. Transistor
1) Transistor PNP.
Dalam pembuatan transistor PNP adalah dua buah lapisan P yang
disisipkan ditengahnya suatu lapisan tipis N.
40
ELECTRICAL SYSTEM
Gambar 2. 52 Konstruksi dan simbol transistor PNP.
41
ELECTRICAL SYSTEM
2) Transistor NPN.
Di dalam pembuatan transisitor NPN, diantara dua buah lapisan N
disisipkan satu lapisan tipis P. Dengan demikian konstruksi dasar transistor
NPN dan simbolnya dapat digambarkan sebagai berikut :
3) Karakteristik NPN.
Dalam keadaan kerja normal, transistor harus diberi polaritas sebagai berikut :
Pertemuan emitter base diberi polaritas dalam arah maju.
Pertemuan base collector diberi polaritas dalam arah mundur.
42
ELECTRICAL SYSTEM
Gambar 2. 56 Dasar polaritas transistor.
43
ELECTRICAL SYSTEM
Uraian Materi Kegiatan Pembelajaran 2
Rangkaian Electric
A. RANGKAIAN SERI
1. Tegangan (voltage)
Tegangan kalau diseri akan berlaku rumus :
Keterangan :
Vt = V1 + V2 + V3 + ….. Vn
Vt = Voltage total seri
V1 .. Vn = Voltage masing–masing resistor
2. Hambatan (Resistansi)
Hambatan dirangkaikan seri akan berlaku rumus :
Keterangan :
Rt = R1 + R2 + R3 + ….. Rn
Rt = Hambatan total seri
Rt .. Rn = Hambatan masing–masing resistor
3. A r u s
Arus listrik yang mengalir dalam rangkaian seri dirumuskan dengan
Keterangan :
It = I1 = I2 = I3 = ….. In
It = Arus total
I1 .. In = Arus masing–masing yang mengalir
pada rangkaian
44
ELECTRICAL SYSTEM
B. RANGKAIAN PARALEL
1. Tegangan (voltage)
Tegangan sumber dirangkai parallel berlaku rumus :
Dimana :
Vt = Tegangan total paralel
V1 .. Vn = Tegangan masing-masing resistor
2. Hambatan (resistansi)
Hambatan dirangkaikan secara paralel akan berlaku rumus :
Dimana :
Rt = Hambatan total paralel
R1 .. Rn = Hambatan masing-masing
resistor
3. Arus
Arus listrik yang mengalir dalam rangkaian paralel dirumuskan dengan :
Dimana :
It = I1 + I2 + I3 …. In It = Arus total paralel
I1 .. In = Arus yang masing-masing
rangkaian
45
ELECTRICAL SYSTEM
C. RANGKAIAN SERI - PARALEL
1. Tegangan (voltage)
Tegangan sumber dirangkai seri-paralel berlaku rumus :
Keterangan :
VRp = V2 + V3
Vt = Tegangan total seri-paralel
Vt = V1 + VRp
VRp = Tegangan pengganti paralel
2. Hambatan (resistansi)
Hambatan dirangkaikan secara seri-parallel akan berlaku rumus :
Keterangan :
Rt = Hambatan total seri-paralel
R1 .. Rn = Hambatan masing-masing resistor
3. A r u s
Arus listrik yang mengalir dalam rangkaian seri-paralel dirumuskan dengan :
Keterangan :
It = Arus total paralel.
I1 .. In = Arus yang masing-masing rangkaian.
46
ELECTRICAL SYSTEM
D. CONTOH SOAL RANGKAIAN
1. Dari rangkaian seri berikut :
Diketahui :
Sebuah sumber 12 volt dihubungkan seri dengan dua buah lampu masing–masing 24
W/12V dan 12 W/12V.
Hitung :
a. Arus total (It) ?
b. Voltage drop (Vd1 dan Vd2)?
c. Power (P1 dan P2) ?
Jawab :
Lampu 1
Arus yang diminta : IL1 = WL1/VL1 = 24/12 = 2 [A]
Hambatan lampu 1 : RL1 = VL1/IL1 = 12/2 = 6 [Ω]
Lampu 2 :
Arus yang diminta : IL2 = WL2/VL2 = 12/12 = 1 [A]
Hambatan lampu 2 : RL2 = VL2/IL2 = 12/1 = 12 [Ω]
Rt = RL1 + RL2 = 6 + 12 = 18 [Ω]
Besarnya voltage drop pada hambatan yang dihubungkan seri adalah tergantung
besarnya arus yang mengalir dan besarnya hambatannya.
Power P1 dan P2 adalah :
P1 = ( It )2 x RL1 P2 = ( It )2 x RL1
= ( 0.66 )2 x 6 = ( 0.66 )2 x 12
= 2,6 Watt = 5,2 Watt
47
ELECTRICAL SYSTEM
2. Dari rangkaian paralel berikut :
Diketahui :
Sebuah sumber 12 volt dihubungkan paralel dengan dua buah lampu masing–masing 24 W/12 V
dan 12 W/12 V.
Hitung :
a. Arus total (It) ?
b. Arus (IL1 dan IL2) ?
c. Power (P1 dan P2) ?
Jawab :
Lampu 1 :
Arus yang diminta : IL1 = WL1 /VL1 = 24/12 = 2 [A]
Habatan lampu 1 : RL1 = VL1 /IL1 = 12/2 = 6 [Ω]
Lampu 2 :
Arus yang diminta : IL2 = WL2 /VL2 = 12/12 = 1 [A]
Hambatan lampu 2 : RL2 = VL2 /IL2 = 12/1 = 12 [Ω]
1/Rt = 1/6 +1/12 = 2/12 + 1/12 = 3/12
Rt = 12/3 = 4 [Ω]
a. It = Vt/ Rt = 12/4 = 3 [A]
b. IL1 = It x R2 / (R1+R2) IL2 = It x R1 / (R1+R2)
IL1 = 3 x 12/18 = 2 [A]
IL2 = 3 x 6/18 = 1 [A]
c. Tenaga pada :
Lampu 1 : Lampu 2 :
2 P2 2
P1 = ( IL2 ) = ( IL2 ) x R2
x R1 2 2
=2 x6 = 1 x 12
P1 = 24 [W] P2 = 12 [W]
48
ELECTRICAL SYSTEM
3. Dari rangkaian seri-paralel berikut :
Diketahui :
Sebuah sumber 12 volt dihubungkan dengan 3 buah lampu, dan dirangkai
seperti gambar di atas.
Hitung :
a. Arus total (It) ?
b. Arus (IL1, IL2, dan IL3) ?
c. Voltage drop (Vd1, Vd2 dan Vd3) ?
d. Power ( P1, P2, dan P3)?
Jawab :
Lampu 1 :
Arus yang diminta : IL1 = WL1 /VL1 = 12/12 = 1 [A]
Hambatan lampu 1 : RL1 = VL1 /IL1 = 12/1 = 12 [Ω]
Lampu 2 :
Arus yang diminta : IL2 = WL2/VL2 = 24/12 = 2 [A]
Hambatan lampu 2 : RL2 = VL2/IL2 = 12/2 = 6 [Ω]
Lampu 3 :
Arus yang diminta : IL3 = WL3/VL3 = 24/12 = 2 [A]
Hambatan lampu 3 : RL3 = VL3/IL3 = 12/2 = 6 [Ω]
1/R2,3 = 1/6 + 1/6 = 2/6
R2,3 = 6/2 = 3 [Ω]
Rt = R1 + R2,3 = 12 + 3 = 15 [Ω]
a. It = Vt/Rt = 12/15 = 0,8 [A]
b. IL1 = It x R2 / (R1+R2) IL2 = It x R1 / (R1+R2)
I2 = 0.8 x 6/12 = 0,4 [A]
I3 = 0.8 x 6/12 = 0,4 [A]
49
ELECTRICAL SYSTEM
c. Voltage drop pada R1 :
Vd1 = It x R1 = 0,8 x 12 = 9,6 [V]
Vd2,3 = It x R2,3 = 0,8 x 3 = 2,4 [V]
d. Tenaga yang diserap :
Lampu 1 : Lampu 2 : Lampu 3 :
P1=(IL1)2 x R1 P2 =(IL2)2 x R2 P3 = (IL3)2 x R3
=0.82 x 12 =0.42 x 6 =0.42 x 6
= 7.68 (W) = 0.96 (W) = 0.96 (W)
50
ELECTRICAL SYSTEM
Rangkuman Materi 2
1. Battery merupakan sumber energi listrik utama dalam unit. Proses kerja battery adalah
sebuah reaksi kimia antara dua buah plat timbal yang berbeda sifat kimia dan terendam
dalam larutan elektrolit;
2. Vent plug terpasang pada tutup di setiap sel. Fungsi tutup itu adalah untuk mencegah
masuknya debu dan kotoran ke dalam sel. Fungsi yang lebih penting lagi adalah agar
tersedia saluran (lubang) untuk melepas gas yang timbul saat charging ke udara bebas.
3. Standard berat jenis ( specific gravity ) elektrolit battery pada temperature standard ( 20°
Celsius ) adalah 1.280;
4. Apabila temperature larutan elektrolit berubah, maka standard berat jenis dapat dicari
dengan rumus: S20 = St + 0.0007 ( t-20 )
5. Hasil campuran 36 % Asam sulfat dan 64 % air akan menghasilkan elektrolit yang berat
jenisnya 1.270 pada 80º F ( 27ºC ).
6. Fungsi circuit breaker adalah untuk mencegah kerusakan komponen - komponen dan kabel
-kabel pada sistem elekrik yang dikarenakan arus berlebihan (short circuit). Circuit
breaker dapat digunakan berulang kali.
7. Fungsi fuse juga untuk mencegah kerusakan komponen - komponen dan kabel - kabel
pada sistem elektrik yang dikarenakan arus berlebihan (short circuit). Namun hanya dapat
digunakan sekali saja, jika rusak langsung diganti.
8. Switch berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan satu hubungan kabel dangan
kabel yang lain;
9. Resistor merupakan salah satu komponen dasar yang paling sering dipakai dalam
rangkaian - rangkaian listrik. Dalam rangkaian, diperlukan resistor dengan harga yang tepat
agar rangkaian dapat berfungsi sesuai dengan yang diharapkan
10. Resistor dapat digolongkan menjadi 3 ( tiga ) jenis :
a. Resistor tetap
b. carbon resistor
c. wirewound resistor
d. Resistor variabel
wirewound potentiometer
carbon potentiometer
trimmer potentiometer (TRIMPOT)
e. Resistor non linier
11. Kapasitor atau Kondensator adalah suatu komponen elektronika yang mempunyai sifat -
sifat :
Dapat menyimpan muatan listrik.
Dapat menahan arus searah ( DC ).
Dapat melewatkan arus bolak - balik ( AC ).
51
ELECTRICAL SYSTEM
12. Yang dimaksud dengan kapasitor adalah kemampuan suatu kapasitor di dalam
menyimpan muatan listrik;
13. Diode adalah suatu komponen elektronika yang mempunyai dua kutub yaitu Anode (A)
dan Cathode (K);
14. Zener diode adalah sebuah diode yang dirancang khusus untuk menghantarkan arus
reverse tanpa merusaknya.
15. Transistor adalah suatu komponen elektronika yang juga merupakan pertemuan
(junction) material P dan N. Dalam pembuatannya, diantara material P atau N disisipkan
suatu lapisan tipis P atau N. Dengan demikian terdapat dua kemungkinan jenis transistor
yaitu PNP atau NPN.
16. Ada tiga jenis rangkaian dasar listrik.
Rangkaian seri
Rangkaian parallel
Rangkaian seri paralel
52
ELECTRICAL SYSTEM
KEGIATAN BELAJAR III
Tujuan Kegiatan Belajar 3
Prinsip Dasar Kemagnetan
Ranah
Elemen Kegiatan
Indikator Keberhasilan Kompetensi
Kompetensi Pembelajaran
P K S
Prinsip Dasar Dapat menjelaskan prinsip dasar
Magnet
Kemagnetan dari kemagnetan
53
ELECTRICAL SYSTEM
Uraian Materi Kegiatan Belajar 3
Magnet
A. MAGNET
1. Defenisi Magnet
Magnet adalah sebuah benda logam yang mempunyai sifat menarik benda- benda
besi, magnet terdiri atas 2 macam yaitu :
Magnet Alam adalah magnet yang secara alami dapat diperoleh dari alam
Magnet Buatan adalah besi dibuat menjadi magnet dengan cara tertentu.
Bila magnet tersebut mampu menyimpan kemagnetannya dengan baik (dalam waktu yang
lama) maka disebut permanen magnet. Sedangkan bila magnet tersebut hanya mampu
menyimpan kemagnetannya sementara saja atau kemagnetannya segera hilang bila yang
menyebabkan besi itu jadi magnet dihilangkan, maka magnet buatan ini disebut dengan
remanen magnet.
54
ELECTRICAL SYSTEM
b. Kutub - kutub yang senama akan saling tolak - menolak, sedangkan kutub kutub
yang tidak senama akan saling tarik menarik.
55
ELECTRICAL SYSTEM
B. ELECTROMAGNET
1. Pengertian Electromagnet
Electromagnet adalah medan magnet yang ditimbulkan oleh adanya aliran arus listrik
pada sebuah konduktor atau coil.
b. Arah medan magnet yang timbul tergantung dari arah arus yang melewati konduktor
tersebut. Arah medan magnet akan terbalik, bila arah arus yang melewati konduktor
tersebut berbalik.
56
ELECTRICAL SYSTEM
c. Makin besar arus yang mengalir, makin besar medan magnet yang timbul.
d. Bila gulungan(coil) dialiri arus listrik, maka pada gulungan(coil) tersebut akan timbul
medan magnet.
e. Bila arah gulungan atau arah arus listrik berubah, maka arah medan magnet yang
timbul juga akan berbalik.
57
ELECTRICAL SYSTEM
f. Untuk memperbesar medan magnet dapat dilakukan :
Memperbesar arus yang mengalir.
Menambahkan inti besi ke dalam gulungan (coil).
Memperbanyak jumlah gulungan (coil).
Ketika switch dibuka ( off ) dengan tiba - tiba hilang dan medan magnet akan turun
tiba-tiba yang menyebabkan berbaliknya gaya gerak listrik, gaya gerak listrik yang
berbalik akan aliran arus pada lilitan dicegah agar tidak turun (tetap ada) dan
disebut Induksi diri (self Induction ).
58
ELECTRICAL SYSTEM
Adapun tegangan yang terjadi pun akan berbalik seperti diperlihatkan pada
gambar berikut ini.
Di dalam percobaan seperti pada gambar berikut ini, ketika switch dihubungkan
dengan battery 6 volt, lampu tidak menyala. Tetapi jika switch dibuka dengan tiba -
tiba lampu akan menyala sesaat. Makin cepat switch dilepas, makin terang nyala
lampu tersebut. Hal ini membuktikan bahwa ada induksi diri di dalam lilitan tersebut.
P S
59
ELECTRICAL SYSTEM
4. Transformator.
Pada gambar berikut ini diperlihatkan bahwa primary coil yang dihubungkan serie
dengan battery dan switch, maka ketika switch digerak gerakkan ON dan OFF lampu
akan menyala.
Sedangkan bila primary coil dihubungkan dengan sumber AC, lampu akan menyala.
Hal ini disebabkan perubahan arus bolak -balik berubah secara periodik dengan
frequency yang sama besar. Induksi medan magnet ini menjadikan gaya gerak listrik di
secondary coil berlangsung terus - menerus. Inilah yang merupakan prinsip dasar
sebuah transformer.
Pada umumnya transformer dibuat dalam bentuk seperti pada gambar berikut ini,
dimana ketebalan plat core pada umumnya 0.35 mm.
Adapun hubungan antara tegangan dan arus di primary coil dan secondary coil adalah
60
ELECTRICAL SYSTEM
C. PRINSIP MOTOR LISTRIK
1. Kaidah Tangan Kiri Fleming
Bila sebuah konduktor diletakkan kutub N dan S dari magnet tapal kuda dan
konduktor dialiri arus, maka konduktor akan terlempar keluar dari kutub-kutub magnet
tersebut.
Peristiwa ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 3. 18 Arah gaya gerak magnet dan kaidah tangan kiri Fleming
61
ELECTRICAL SYSTEM
3. Prinsip Kerja Motor
Diantara dua buah N dan S terdapat sebuah konduktor yang berujung di C1 dan C2
(setengah cincin tembaga yang disebut commutator). Dua buah sikat arang (brush) B1
dan B2 yang berhubungan dengan commutator memungkinkan arus mengalir ke
konduktor. Bagian yang dapat berputar ini disebut dengan armature.
Konduktor yang terletak didekat kutub S akan bergerak ke kanan dan konduktor yang
terletak didekat kutub N akan bergerak ke kiri. Gabungan dari gerak tersebut akan
memutar armature searah jarum jam (sesuai dengan Kaidah Tangan Kiri
Fleming). Bila arah arus pada konduktor tersebut di balik maka putaran armature akan
berbalik
62
ELECTRICAL SYSTEM
Medan magnet didalam lilitan akan berubah yang mengakibatkan gaya gerak listrik
sehingga arus akan mengalir. Hal ini disebut dengan Induksi electro magnet.
3. Prinsip generator.
Generator adalah sebuah alat yang merubah garis - garis gaya magnet yang
memotong lilitanl menjadi tenaga listrik. Prinsip dasar dari keduanya ini adalah sama,
namun dengan konstruksi yang berbeda.
Perbedaan konstruksi inilah yang pada akhirnya generator dibagi atas dua jenis yaitu
:
AC (Alternating Current) generator (alternator).
DC (Direct Current) generator (dinamo).
4. Alternator.
Pada alternator ditandai dengan tidak adanya magnet tetap, dengan demikian
alternator harus diberikan arus listrik awal agar tercipta medan magnet.
Bagian yang berputar pada alternator disebut rotor coil atau field coil yang sekalligus
sebagai pembangkit medan magnet bila coil tersebut dialiri arus. Sedangkan bagian
yang diam disebut Stator coil atau armature coil. Armature coil inilah yang kemudian
akan mengeluarkan arus listrik bila field coil berputar.
63
ELECTRICAL SYSTEM
Flux yang melalui stator coil akan berubah perlahan - lahan seperti berikut :
Ketika rotor diputar searah jarum jam maka induksi gaya gerak listrik akan maksimum
pada 90º dan 270º dan minimum pada 180º dan 360º, dengan demikian arus listrik
selalu berbeda polaritas setiap 180 derajat. Polaritas yang demikian ini disebut
dengan arus bolak balik (alternating current)
5. DC generator ( Dynamo ).
Pada DC generator ditandai dengan adanya magnet tetap. Dimana magnet tetap ini
diam sedangkan armature coilnya berputar didalam magnet tersebut. Akibatnya
terjadilah pemotongan garis gaya magnet oleh armature coil akan ada arus listrik.
Pada shaft armature terdapat comutator.
Adanya cincin ini menyebabkan arus yang berbalik polaritasnya selalu diarahkan ke
tempat yang sama. Dengan demikian biarpun pada armature coil terjadi polaritas bolak
balik,tetapi keluarannya setelah melewati comutator memiliki polaritas yang selalu
tetap. Arus yang polaritasnya tetap ini dinamakan arus searah.
64
ELECTRICAL SYSTEM
Rangkuman Materi 3
1. Magnet adalah sebuah benda logam yang mempunyai sifat menarik benda-benda besi
2. Pada sebuah magnet selalu memiliki dua buah kutub yang dinamakan kutub utara (N
pole) dan kutub selatan (S pole)
3. Kutub - kutub yang senama akan saling tolak - menolak, sedangkan kutub kutub
yang tidak senama akan saling tarik menarik.
4. Kemagnetan yang terkuat terdapat pada ujung – ujung magnet.
5. Magnet mempunyai garis-garis gaya magnet
a. Diluar magnet mengarah ke kutub utara (N pole) ke kutub selatan.
b. Sedangkan di dalam magnet mengarah dari kutub selatan (S pole) ke kutub
utara (N pole).
6. Electromagnet adalah medan magnet yang ditimbulkan oleh adanya aliran arus
listrik pada sebuah konduktor atau coil.
7. Untuk memperbesar medan magnet dapat dilakukan :
Memperbesar arus yang mengalir.
Menambahkan inti besi ke dalam gulungan (coil).
Memperbanyak jumlah gulungan (coil).
8. Bila sebuah konduktor digerak gerakan memotong garis gaya magnet maka pada
konduktor akan mengalir arus listrik Medan magnet didalam lilitan akan berubah
yang mengakibatkan gaya gerak listrik sehingga arus akan mengalir. Hal ini disebut
dengan Induksi Electro Magnet
9. Bila sebuah konduktor diletakkan kutub N dan S dari magnet tapal kuda dan
konduktor dialiri arus, maka konduktor akan terlempar keluar dari kutub-kutub
magnet tersebut
10. Generator adalah sebuah alat yang merubah garis - garis gaya magnet yang
memotong lilitanl menjadi tenaga listrik.
65
ELECTRICAL SYSTEM
KEGIATAN BELAJAR IV
Tujuan Kegiatan Belajar 4
System Electric
Ranah
Elemen Kegiatan
Indikator Keberhasilan Kompetensi
Kompetensi Pembelajaran
P K S
Dapat menjelaskan tentang
Starting system cara kerja dari starting
system
Dapat menjelaskan tentang
System electric
Charging system cara kerja dari charging
system
Dapat menjelaskan tentang
Preheating system cara kerja dari preheating
system
66
ELECTRICAL SYSTEM
Kegiatan Materi Kegiatan Belajar 4
Starting System
A. DEFINISI
Starting system adalah suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang digunakan
untuk menghidupkan engine. Komponen - komponen utama yang termasuk dalam starting
system ini adalah :
1. Battery.
2. Starting switch.
3. Battery relay switch.
4. Starting motor.
5. Safety relay.
67
ELECTRICAL SYSTEM
Adapun konstruksi dan hubungan masing - masing terminalnya adalah sebagai berikut
2. Battery Relay.
Fungsi battery relay adalah untuk :
Memutuskan ataupun menghubungkan negatif battery dengan body/
chasis (negative battery relay).
Memutuskan ataupun menghubungkan positif battery dengan starting
motor (positive battery relay).
Keterangan :
1. Case 4. Cover
2. Terminal 5. Plate
3. Base 6. Sub switch
ELECTRICAL SYSTEM
a. Negative Battery Relay
Prinsip kerja negative battery relay adalah sebagai berikut :
Pada saat starting switch posisi ON, maka jalannya arus adalah :
BR D2 C ─b
C menjadi magnet
Bila engine sudah hidup dan tegangan pengisian battery mencapai 28–29 volt,
arus dari Alternator ke :
R D3 Sub switch C ─b
Dengan demikian, jika engine hidup kemudian starting switch di OFF kan, maka
P1-P2 dan sub switch tidak terbuka secara mengejut hingga tegangan dari
alternator turun menjadi 9 volt.
Fungsi dari dioda pada battery rellay new model adalah :
D1 yang dihubungkan parallel dengan coil C adalah sebagai fly wheel dioda
yang digunakan untuk mengalirkan tegangan yang timbul pada coil C
ketika sirkuit ground terputus (megatasi efek induksi diri)
D2 untuk mencegah terbaliknya polaritas terminal BR dan - b
D3 untuk mencegah arus menuju alternator ketika sub switch terhubung. b.
Positive Battery Relay
69
ELECTRICAL SYSTEM
Battery relay ini menghubungkan terminal positive battery dengan starting motor
3. Starting Motor
Fungsi dari starting motor adalah untuk memutar engine saat start awal
menghidupkan engine dengan prinsip merubah energi listrik menjadi energi mekanis.
a. Konstruksi starting motor
Ada beberapa konstruksi starting motor yang umum dipakai di alat berat antara
lain :
Starting motor without reduction
Starting motor with reduction
70
ELECTRICAL SYSTEM
b. Prinsip kerja starting motor
adalah sebagai berikut :
Kemagnetan yang terjadi mampu melawan spring (4), menarik plunger (3)
sehingga terminal B-M berhubungan. Saat terminal B-M berhubungan, pull in coil
(2) tidak bekerja, sedangkan hold in coil (1) bekerja untuk mempertahankan
agar terminal B-M tetap berhubungan.
Dengan adanya mekanisme shift lever, saat plunger bergerak maka pinion
gear akan bergerak maju dan mesh dengan ring gear fly wheel. Sedangkan pada
field coil, timbul medan magnet yg lebih kuat sehingga saat armature
mendapat arus listrik maka akan dapat bergerak berputar (kopel) untuk memutar
engine.
4. Safety Relay
a. Fungsi relay
Fungsi dari safety relay adalah (penghubung) antara starting switch dan
starting motor, juga berfungsi untuk :
1) Memutus dan memghubungkan terminal B dan C pada starting motor;
2) Mencegah mengalirnya arus ke starting motor jika starting switch diputar
ke posisi START sementara engine sudah hidup;
3) Secara otomatis memutus arus ke starting motor sehingga starting motor lepas
(disengaged) dari fly wheel (setelah engine hidup) sementara starting switch
masih posisi START.
71
ELECTRICAL SYSTEM
b. Konstruksi semi konduktor safet relay new model
S
B
E
ELECTRICAL SYSTEM
Maka jalannya arus listrik adalah sebagai berikut :
a. Alternator
Konstruksi dan prinsip kerja alternator jenis ini dapat di jelaskan sebagai berikut :
73
ELECTRICAL SYSTEM
Gambar 6. 14 Wiring alternator
74
ELECTRICAL SYSTEM
b. Semi Conductor Regulator
Fungsi semi conductor regulator adalah untuk mengontrol arus penguat ke field coil
(rotor coil) sehingga didapatkan tegangan yang dihasilkan alternator antara 27,5 -
29, 5 volt.
Prinsip kerja regulator adalah sebagai berikut :
1) Bila starting switch posisi ON, maka arus listrik dari battery akan mengalir ke
rotor coil. Jalannya arus penguat adalah :
R Base
T1 arus listrik melalui collector Emmitor E
2) Setelah rotor coil menjadi magnet dan alternator diputar oleh engine, maka dari
alternator akan menghasilkan tegangan.
3) Bila output voltage dari alternator masih kecil ,maka arus yang keluar dari
alternator akan memperkuat medan magnet pada rotor coil, sehingga output voltage
dari alternator naik. Out put voltage dari alternator adalah sebanding dengan
putaran dan kekuatan medan magnetnya.
4) Saat tegangan mencapai 29,5 volt maka voltage drop di V3 akan menyebabkan
zener diode mendapat reverse voltage sehingga T2 akan ON dan T1 akan OFF.
Dengan demikian arus penguat ke rotor coil tidak mendapat ground dan
kemagnetan akan berkurang sehingga tegangan yang dihasilkan alternator akan
turun.
75
ELECTRICAL SYSTEM
Gambar 6. 17 Tegangan reverse voltage pada diode zener
5) Bila out put voltage turun mencapai 27,5 volt, maka T2 akan OFF dan T1 kembali
ON (bekerja) dan field coil mendapat arus penguat kembali dan out put voltage
alternator naik kembali.
6) Kejadian tersebut diatas berulang - ulang sehingga regulating voltage 27,5 volt- 29,5
volt.
76
ELECTRICAL SYSTEM
Gambar 6. 18 Komponen utama brushless alternator
Gambar 6. 19 Darlington
77
ELECTRICAL SYSTEM
Dengan menggunakan Darlington maka, untuk mendapatkan arus output yang besar
hanya membutuhkan arus input yang kecil. Bisa dilihat pada perhitungan sperti dibawah
ini :
Bila switch ON, Tr1 ON dengan demikian akan ada arus B-E Tr2, Sehingga Tr2
akan ON.
Jadi : IB2 = IB1 + IC1
Misal hfe Tr1 = Tr2 = 20
hfe = Nilai penguatan (berarti penguatan yang terjadi 20 kali)
Bila :
IB1 = 1 mA IC1 = 20 mA
Berarti : IB2 = IB1 + IC1
= 1 +20
= 21 mA
Dengan demikian : IC2 = 21 x 20
= 420 mA
Testing :
Dengan memberikan sumber tegangan 24 Vdc ke terminal B(+) dan terminal E (-),
kemudian dengan menggunakan volt meter, hubungkan test pin merah ke terminal R
dan test pin hitam ke terminal E. Alternator assy dikatakan baik apabila terbaca sekitar
2 s/d 6 Vdc, saat pulley diputar dengan kecepatan tinggi, pada volt meter harus
terbaca tegangan antara 27 s/d 29,5 Vdc.
78
ELECTRICAL SYSTEM
Uraian Materi Kegiatan Belajar 4
Preheating System
A. PREHEATING SYSTEM
Fungsi sistem pemanasan awal adalah suatu sistem untuk memanaskan udara yang
akan masuk ke ruang bakar dengan tujuan mempermudah menghidupkan engine pada
waktu udara sekeliling engine masih dingin.
Pada produk - produk Komatsu terdapat beberapa jenis sistem pemanasan awal yaitu :
Sistem pemanasan awal dengan Glow Plug ( di bahas pada materi )
Sistem pemanasan awal dengan Ribbon Heater. ( di bahas pada materi )
Sistem pemanasan awal dengan Thermostat. ( tidak di bahas )
Sistem pemanasan awal dengan APS ( Auto Priming System )- ( tidak di bahas ).
79
ELECTRICAL SYSTEM
Glow plug adalah sebuah alat pemanas yang dengan komponen – komponen lain
akan memanaskan udara untuk didalam ruang bakar muka sehingga
mempermudah pembakaran pada pembakaran engine.
80
ELECTRICAL SYSTEM
Prinsip kerja sistem pemanasan awal dengan glow plug adalah sebagai berikut :
a. Starting switch diposisikan HEAT dan heater Switch ON, maka jalannya arus listrik
adalah :
Karena glow plug yang dipakai 6 volt, maka resistor R1 dan R2 berfungsi untuk
menurunkan tegangan battery sehingga tegangan yang masuk glow plug 6 volt.
b. Starting switch posisi START dan heater switch ON, maka jalannya arus adalah :
Saat START starting motor memerlukan arus yang besar sehingga resistor yang
dilewati hanya R2 saja.
81
ELECTRICAL SYSTEM
Hubungan komponen dan prinsip kerja sistem pemanasan awal dengan ribbon heater
adalah sebagai berikut :
82
ELECTRICAL SYSTEM
Gambar 6. 26 Konstruksi Ribbon Heater
Testing :
Dengan memberikan sumber tegangan 24 Vdc ke terminal seperti gambar diatas,
maka beberapa detik kemudian heater haruslah menghasilkan panas pada heater
elemennya.
83
ELECTRICAL SYSTEM
Rangkuman Materi 4
1. Starting system adalah suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang
digunakan untuk menghidupkan engine
a. Fungsi starting switch adalah untuk memutuskan ataupun menghubungkan
komponen-komponen dalam starting sistem ;
b. Fungsi battery relay adalah untuk memutuskan ataupun menghubungkan negatif
battery dengan body/chasis (negative battery relay). Dan memutuskan ataupun
menghubungkan positif battery dengan starting motor (positive battery relay);
c. Fungsi dari starting motor adalah untuk memutar engine saat start awal
menghidupkan engine dengan prinsip merubah energi listrik menjadi energi mekanis;
2. Charging System adalah suatu system yang berfungsi mengisi battery agar full
charge. Hal ini disebabkan kapasitas battery tidak mungkin digunakan secara terus-
menerus. Charging System adalah suatu system yang berfungsi mengisi battery
agar full charge;
a. Fungsi semi conductor regulator adalah untuk mengontrol arus penguat ke field coil
(rotor coil) sehingga didapatkan tegangan yang dihasilkan alternator antara 27,5 -
29,5 volt;
b. Dengan menggunakan Darlington maka, untuk mendapatkan arus output yang besar
hanya membutuhkan arus input yang kecil;
3. Fungsi sistem pemanasan awal adalah Suatu sistem untuk memanaskan udara yang
akan masuk ke ruang bakar dengan tujuan mempermudah menghidupkan engine
pada waktu udara sekeliling engine masih dingin;
84
ELECTRICAL SYSTEM
KEGIATAN BELAJAR V
Tujuan Kegiatan Belajar 5
Simbol dan Wiring Diagram
Ranah
Elemen Kegiatan
Indikator Keberhasilan Kompetensi
Kompetensi Pembelajaran
P K S
Dapat menjelaskan simbol
Simbol dan a. Simbol –
kabel dan membaca wiring
Wiring diagram simbol kabel
diagram elektrik pada unit
elektrik b. Wiring
diagram
85
ELECTRICAL SYSTEM
Uraian Materi Kegiatan Belajar 5
Simbol dan Wiring Diagram
A. Simbol
Simbol Kabel
Simbol kabel pada suatu wiring diagram pada umumnya menyatakan ketebalan dan warna kabel.
Contoh:
0.85 BW
warna kabel: hitam dengan garis putih.
nominal number: 0.85
86
ELECTRICAL SYSTEM
Tabel dibawah menunjukkan klasifikasi kabel berdasarkan kode dan warna.
87
ELECTRICAL SYSTEM
B. Wiring Diagram
Electrical Wiring Diagram D60/65A,P-8:
88
ELECTRICAL SYSTEM
Electrical Circuit Diagram D60/65A,P-8:
89
ELECTRICAL SYSTEM
Electrical Circuit Diagram D155A-2:
90
ELECTRICAL SYSTEM
Connector Position Drawing D85ESS-2:
91
ELECTRICAL SYSTEM
92
ELECTRICAL SYSTEM
BAB III
PENUTUP
Modul Electrical System ini termasuk kedalam salah satu materi dalam pelatihan Basic
Mechanic Course (BMC). Peserta diharapkan tidak langsung mengambil materi pelatihan
seperti Preventive Maintenance Unit, Component Overhaul dan Remove Install Component
pada unit.
Akhir kata, semoga modul ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
93
ELECTRICAL SYSTEM